Rumah ini milik seorang dokter, dan suaminya seorang pembalap mobil. Mereka orang-orang yang sangat sibuk, mereka ingin menggunakan rumahnya hanya untuk istirahat saja. Jadi kami membuat komposisi yang membuat mereka bisa beristirahat.
Ekspresi rumah ini simple, seperti bangunan melengkung untuk menahan cahaya dan udara yang biasanya dilakukan oleh kerang. Lengkungan-lengkungan itu mebentuk bentuk yang natural, didepannya terdapat pagar perforated steel melayang. Disisi yang membentuk tower sebelah kanan, terdapat area service tempat thanky air.
Masuk kedalam rumah, disebalah kiri rumah ini terdapat foyer dan dua bedroom, disebelah kanan terdapat satu guest bedroom, melihat ke belakang terlihat view blong dengan taman kecil, diatas ada terdapat master bedroom dan terdapat dua bathroom diatas dan dibawah.
Client dari rumah ini merupakan teman SD saya, suaminya seorang pianis dan busnisman, istrinya ibu rumah tangga. Mereka merawat orang tua yang ikut tinggal bersama mereka dirumah ini. Massa dari rumah ini maju mundur dengan kantilever yang lumayan panjang.
Program ruang dirumah ini ditata berdasarkan fengsui, kamar orang tua diletakkan didepan supaya bisa melihat anaknya, dan posisi kamar anaknya harus dibelakang. Mereka mempunyai anak tiga orang anak, salah satu anaknya juga harus dekat dengan orang tuanya, sehingga didesain ruang yang terkoneksi oleh ruang walking closet yang tersambung membentuk lorong.
Pintu masuk rumah ini berbentuk bulat untuk membuat statement. Lewat kanan tangga ada pintu masuk lagi ke lantai dua. Rumah ini memiliki satu swimming pool diatas, dibawahnya ruangnya blong, diatas garasi ada tempat untuk workshop dan ada living room dengan background adalah kolam renang. Disebalah kanan belakang ada satu bathdroom untuk orang tua yang disatukna dengan lift dan gym, jadi semua ruang menghadap ke kolam renang dan lantai paling atasnya adalah tempat untuk rooftop.
Desain galeri nasional ini terinspirasi indahnya langit dan hangatnya bumi, dengan intensi senafas dengan bangunan pusaka yang ada di tengah kompleks area Galeri Nasional Indonesia. Bangunan pusaka ini dibingkai dengan galeri yang merupakan representasi dari bumi dengan ekspresi tanaman, dan dilatarbelakangi langit yang adalah gedung perkantoran / administrasi dari bangunan nasional. Lobby diletakkan di gedung pusaka dimana keluar masuk pengunjung harus melalui gedung ini dengan menempatkan jembatan [skybridge] yang menghubungkan gedung galeri dengan gedung pusaka. Plaza penerima ditempatkan di sisi barat Galeri Nasional Indonesia membuka pedestrian masuk ke sisi sungai ciliiwung, disini konsep art plaza ditempatkan sepanjang axis barat – timur yang dilengkapi dengan art store di sisi utara dan selatan.
Perancangan Galeri Nasional ini didasarkan pada intensi untuk menjaga citra dari bangunan heritage dimana lebar muka lahan yang kecil yakni sebesar 70 m dibandingkan dengan lebar bangunan pusaka yakni sebesar 22 m. Oleh karea itu intervensi desain yang dipilih yaitu landsekap sebagai arsitektur sisi museum yang mengapit bangunan heritage. Konektifitas dipertahankan dengan akses publik dari monas [jalur bawah tanah] ke art shop yang terdapat pada ruang tengah galeri. Di dalam masterplan, isu keterhubungan ini berlanjut ke sisi sungai ciliwung sehingga memungkinkan adanya aktifitas seni di samping sungai. Secara umum pembangunan masterplan terbagi 2 tahap, tahap pertama berfokus pada bagian utama yaitu area galeri nasional. Pada tahap pertama diasumsikan pembebasan lahan masih dalam proses, sehingga pembangunan difokuskan pada pengembangan galeri nasional saja. Tahap pertama dapat berjalan secara mandiri yaitu sebagai fungsi pokok dari galeri nasional . tahap kedua dilakukan pada engembangan berikutnya saat pembebasan lahan sudah terlaksana. Pada tahap kedua, pembangunan dilakukan sebagai pendukung fasilitas galeri. Gedung konvensi, auditorium, dan hotel diletakkan di sisi utara dengan eksposure ke arah monas dan stasiun gambir.Massa bangunan secara umum, merespon 2 aksis utama. Aksis monumen nasional dan bangunan eksisting galeri nasional yang terhubung dengan stasiun gambir. Axis terhadap monas direalisasikan dengan jalur bawah tanah. Bagian depan dan belakang galeri nasional merupakan plaza terbuka yang dibhubungkan sebagai respon terhadap kawasan monas [depan] dan sungai ciliwung[belakang].
Secara umum Galeri Nasional Indonesia ini menggambarkan kesederhanaan arsitektur Indonesia yang selaras dengan alam tempat bersatunya bumi dan langit.
Galeri Nasional Indonesia#6
Bumi bertemu Langit
Principal Architect: Realrich Sjarief
Team Member : Happy Marfianta, Apriani Sarashayu, Septrio Effendi, Tatyana Kusumo, Miftahuddin Nurdayat, Maria Vania, Muhammad Iqbal Zuchri, Christiandy Pradangga, Donald Aditya, dan Mukhamad Ilham
Karya ini dipublikasikan pada bookgazine Archinesia volume 4. Cross-Border Architecture