tulisan oleh Fernisia Richtia W review untuk Rumah Tanpa Pintu

Anis, panggilannya. Saya pribadi mengenalnya semenjak pertama kali me-review hasil karyanya di akhir 2010. Ia menulis tulisan yang menurut saya sangat menarik dan sarat makna, pertanyaan, refleksi bagi kita semua untuk pameran rumah tanpa pintu . Saya posting kembali tulisannya di blog dot workshop, Realrich. silahkan dinikmati dibawah :

Judulnya adalah rumah tanpa pintu. Batasan kata “pintu” sendiri diterangkan secara sangat harafiah sebagai pintu,benda yang setiap hari kita temukan, kita buka,tutup, lewati, ketuk, dobrak, dsb.

Pertanyaannya. Apa ya, salahnya si pintu hingga ia perlu ditiadakan?

(Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud untuk membedah tiap karya dalam pameran tersebut, tidak juga bertujuan memberi penilaian.Tulisan ini muncul karena tergelitik oleh soal tema dari pameran ini sndiri).

Pintu dalam artian yang dijelaskan sebelumnya pastilah sejak entah kapan ditemukannya memiliki fungsi, sehingga ia dapat muncul bahkan eksis digunakan terus hingga sekarang. Lalu, ada angin apa hingga tiba-tiba keberadaannya menjadi dipersoalkan?

Dari 11 karya,bnyak yang kemudian mendefinisikan pintu sebagai penghalang, pembatas. Bagi saya pribadi, pintu cenderung malah adalah penghubung. Bagaimana tidak? Yang membedakan pintu dr dinding adalah kemampuannya dibuka, bukan kemampuannya ditutup. Maka ia menjadi berentitas ketika ia sedang dibuka. Inilah funfsi pintu, yaitu sebagai akses. Pintu bukan tentang privasi, namun adalah akses menuju ruang berikut, yang biasanya menjadi lebih privat akibat adanya jarak yang lebih jauh untuk ditempuh dan munculnya usaha yang lebih besar untuk mencapainya. Jadi, pintu pertama-tama adalah penghubung.

Dan lagi2, pertanyaannya masih tetap sm, lalu apa salah si pintu sehingga ia,sebagai penghubung, perlu dihilangkan?

Sejujurnya saya sangat setuju dengan pemikiran tentang betapa konyolnya rumah yang didesain harus tanpa pintu. Saya  melihat justru digunakannya kesempatan berpameran ini sebagai suatu kesempatan bermain malah menjadi menarik. Ini tentang karya skematik, bukan berbicara tentang produk. Salah satunya adalah Rumah Dinding. Karya ini hanya berbicara tentang kemungkinan eksplorasi yang lebih jauh bagaimana menggantikan pintu,elemen akses menuju ruang yang lebih privat, dengan 2 variabel,yaitu jarak dan jumlah belokan. Karya ini menjadi karya kritik terhadap pernyataan tema pameran ini.

Secara lebih nyata, tema pameran ini juga dipertanyakan oleh DOT workshop. Rumah tanpa pintu? Apakah sudah pernah ada sebelumnya? Jawabannya : ya. Dan jawaban tersebut ternyata ditemukan di area distopia kota, bukan di area “seakan-akan utopia”. Di sini ketiadaan pintu menjadi suatu keterpaksaan jika bukan karena ketidakperluan. Rumah tanpa pintu dipaparkan oleh DOT workshop dalam sebuah dokumentasi dan gagasan desain untuk konteks sejenis. Ketiadaan pintu hanya dapat diwujudkan ketika tidak ada sekuriti yang diperlukan, juga ketika toleransi akan privasi dianggap dapat dicapai dengan bantuan alam (gelap ketika malam membuat visibilitas menjadi hilang sehingga terbentuklah privasi). Yang jelas karya ini menceritakan bahwa rumah tanpa pintu hanya terjadi dalam konteksnya, sehingga di luar konteks tersebut tidak perlulah kita sibuk memikirkan desain rumah -yang bisa dan perlu pintu- tanpa pintu.

Pameran ini sebagai sebuah karya yang memancing pertanyaan, pemikiran dan eksplorasi bagi saya sudah cukup berhasil. Dan alangkah lebih baik jika pernytaan, pemikiran dan eksplorasi yang dihasilkan juga diarahkan ke arah yang benar oleh kurator, bukan semata2 diceburkan ke definisi bebas yang dapat menjadi kurang tepat arti dan gunanya.Bagaimanapun juga pameran adalah karya seni yang harus punya intensi, bukan sekedar mau dan kerennya apa.

Sekali lagi.. selamat, bagi kurator 🙂

Fernisia Richtia [mahasiswa tingkat 4 UPH]

Would you like to comment?

Leave a Reply