35 di Telok Naga, di alfa dan omega. Hidup ini hidupmu.

London, 22 Hester Road, 7 tahun yang lalu. “Pikirkan organisasi ide yang lebih teratur, percayalah pada intuisimu, dan susun ulang ide – ide tersebut apabila sedang menghadapi permasalahan, jangan takut.” Norman Foster pernah berkata di dalam satu sesi review desain sembari melanjutkan untuk memberikan saran – saran pengembangan desain. Pada waktu itu hujan turun dengan deras, dan waktu sudah menunjukkan 11 malam, Norman sudah berumur 80 tahun. Dari ribuan proyek yang sudah ia desain, Norman sudah mendesain 20 airport, namun hanya 4 yang terbangun, dari persentase 8 kompetisi desain yang dimenangkan, hanya 1 yang terbangun, dari bahkan dari fee desain yang terbayarkan hanya 1 dari 4 proyek yang terbangun. Ia tidak hanya mendesain bangunan, namun membantu mencari uang untuk proyek tersebut. Setelah Sesi review desain selesai, dan saya pun pulang ke daerah Angel. Malam hari London terlihat cantik, dengan taman – taman dan jalan – jalan yang membingkai vista. Bau minyak atsiri tercium, baunya manis.

“Pak sekolah ini harus selesai di bulan Januari.” Bu Lisa berkata satu saat di dalam rapat mingguan untuk konstruksi sekolah Alfa Omega. Pada waktu itu rapat berjalan dari jam 4 sore sampai jam 7.30 malam, rapat kali ini berjalan lebih lama, dengan pembahasan masterplan dan desain sekolah yang akan dibangun dalam jangka waktu hitungan hari. Berulang – ulang, pertanyaan saya lontarkan untuk mengklarifikasi karena 4 bulan masa konstruksi tepatnya. Rapat selesai jam 9.00 malam dan waktu berlalu di dalam perjalanan pulang. Pada saat itu hujan deras menerpa, seluruh Tangerang sampai Jakarta terkena hujan lebat, bau minyak atsiri tercium, baunya manis. Saya senang untuk selalu bertemu dengan bu Lisa. Ia dan timnya memiliki visi yang besar dan ditujukan untuk orang lain, pikiran mereka penuh dengan visi, namun realistis, setinggi langit, dan sehangat tanah, penuh perhitungan dengan mimpi – mimpi yang indah.

Laurensia menelpon. “Yang kamu dimana ?” “Diri ini menjawab 30 menit lagi sampai.” Laurensia sudah menunggu untuk makan malam bersama, “Kamu makan dulu saja ya, ajak anak – anak ke Puri, jangan nunggu aku akan terlambat. ” Diri ini berkata.

Miracle sudah berumur 8 bulan, ia sudah bisa merangkak dengan lincah, mulai mencoba belajar berjalan, meski terkadang terjatuh di lantai kayu ruangan tidur kami. Ia menangis pada saat terjatuh, ia merangkak dan mencoba kembali berdiri. Ruangan tidur kami hanya berukuran 4 x 4 m untuk diisi kami bertiga, ada dua buah ranjang disitu, satu ranjang miracle dan satu ranjang kami. Eckel kami memanggilnya, sudah belajar juga untuk tidur sendiri. Ia akan bangun jam 12 malam untuk meminta susu, untuk kemudian tidur lagi. Rumah kami hanya memiliki satu buah kamar tidur yang dihubungkan dengan satu ruang keluarga berukuran 4 x 6 m, ruangan ini tidak lebih, tidak kurang diri ini percaya bahwa ini cukup. Saya menulis kalimat – kalimat ini di saat – saat saya berumur 35 tahun dengan rambut putih yang mulai tumbuh, ciuman pembuka dari istri dan anak di awal hari, dan dua buah telur, satu mangkuk apel, bedanya sudah tidak ada lagi teh manis di pagi hari, hanya ada air putih saja, kami sudah mulai menjaga makanan. Ada banyak kenangan yang muncul setiap tahunnya, makanan tidak berubah, saya pikir sikap pun tidak berubah, saya ingin yang biasa – biasa dan sederhana saja.

Banyak sekali masalah muncul di lokasi proyek Bu Lisa seperti tidak adanya jalan akses, banjir karena ketinggian lahan ada di bawah permukaan jalan, dan lokasi tidak memiliki listrik dan air. Untuk mengangkut bahan bangunan menjadi problem lain karena jauhnya jarak dari akses mobil, sehingga bahan bangunan harus dipanggul dengan jarak lebih dari 200 m dari ujung jalan. Konstruksinya dibuat dengan sistem bongkar pasang dengan melakukan perhitungan memakai bahan material yang ringan dengan kombinasi material struktur baja, beton, bata, bambu, nipah dengan ketinggian 2.1 m diatas permukaan tanah dimana air hujan bisa mencapai ketinggian 1.0 – 1.2 m dari ketinggian tanah semula. Satu persatu masalah diselesaikan, sekolah mulai terbentuk dan besok adalah hari permulaan anak – anak bersekolah.

Laurensia menelpon lagi “Anak – anak sudah nungguin ya di Pizza Hut, sekarang sudah jam 8 malam”. Di malam hari kira – kira jam 8 malam, Laurensia menelpon, “Yang kamu dimana” saya menjawab “masih di Telok Naga, ini masih sama bu Lisa sama Pak Ferry, masih diskusi untuk persiapan pindahan sekolah ke tempat yang baru” jawab saya, Pada waktu itu saya dengan pak Djatmiko, pak Andung, baru menyisir jalan baru yang berlokasi 1 km dari proyek sedang dibangun, dan Laras menunggu di bedeng di depan proyek, dan ali ada di lapangan. Diri ini pun baru teringat sudah cukup malam, dan dibutuhkan waktu 1 jam lebih untuk ke arah Puri Indah. Saya sendiri kadang perlu diingatkan kalau hari ini hari ulang tahun saya.

Di Puri anak – anak, tim studio sudah berkumpul. Terima kasih untuk semuanya, Tuhan dirimu memberikan cinta dari Laurensia and Miracle, seluruh orang yang ada di lingkaran terdekat, sehari – hari bertemu, dua hari, ataupun baru bertemu.

Note :
[1] Deyan Sujic, Norman Foster A Life in Architecture
[2] Bu Lisa, Pak Sugih, Pak Jimmy, Pak Iskander, bu Yohana, Pak Ferry, Bu Eunike, Pak Rendy, dan banyak sekali orang silih berganti masuk untuk berdiskusi dan berkenalan kira – kira 2 tahun yang lalu. Tidak ada hadiah yang paling membahagiakan selain melihat sekolah ini berjalan di tanggal 17 Januari besok.
[3] Dan untuk seluruh anggota tim ditengah dukungan dari tim alfa omega. seluruh anggota yang besar jumlahnya, dan besar sekali dukungannya, tenaga yang dicurahkan dari bermacam – macam orang, bermacam – macam sifat, latar belakang, You are the best!

Would you like to comment?

Leave a Reply