Bermain Layang – layang

Kemarin saya sedang selesai makan pagi menunggu course dari OMAH. Anak – anak kecil datang, menghampiri, menagih “om layang – layangnya mana ?” Saya ingat kira – kira satu bulan yang lalu ketika puasa, saya pernah menjanjikan untuk membelikan layang – layang supaya mereka bisa bermain. Gara – gara kesibukan, saya jarang bertemu mereka.

“Ayo kita beli sekarang ?” saya pada waktu itu ada di lokasi benteng yang tingginya kira – kira 3 m dari jalan utama, pada waktu itu Greg sedang lewat baru datang untuk mempersiapkan course. saya bilang “Greg ada uang ngga,”

“Dek layang – layangnya kalau kita beli itu berapa harganya ? ” mereka jawab ” 2000 , sambil berebutan, gue yang pegang uangnya, gue yang pegang uangnya ” saya bilang sama greg, Greg tolong dikasih 10000 itu ada 4 orang, sisanya lebihin satu buat mereka. Uang pun diberikan oleh Greg. kemudian saya meninggalkan mereka. Kemudian saya terbersit untuk ikut bersama mereka membeli layangan, “eh tunggu” “saya mau ikut.” Kemudian saya dan istri saya ikut ke toko layangan berjalan kaki, melewati jalan setapak selebar 2 m masuk ke gang 1 m, akhirnya tiba ke pembuat layangan, kakek dan nenek penjual layangan, mereka menjual benangnya juga.

Saya tanya ke kakek penjual “Kong harga nya berapa ?”
kakek itu menjawab “1000 pak”

dalam hati saya “asem nih anak – anak, gw diboongin”

Setelah itu saya dan istri saya belikan 20 buah layang – layang dan 5 benang.
saya mulai tanya latar belakang mereka.
satu orang namanya ojon masih TK, satu orang namanya Dillah kelas 1 SD, satu orang namanya Lehan kelas 1 SD, dan satu orang namanya Jasmin kelas 2 SD.

Lehan melapor, om ini si Dillah omongnya jorok sama kotor, saya tanya lo ngomong apa sama anak – anak lain ? ini om dia ngomongnya bang*at dan a*nj*ng sehari – hari. saya bilang eh lo ngapain ngomong jorok begitu lo sekolah ngga ? Mending ngomong “kucing” lebih keren. Mereka pun tertawa,

setelah itu saya bilang ke mereka “eh elo bilang itu terima kasih sama engkong sama nenek, sama semuanya. Ramai – ramai mereka bilang terima kasih.

Setelah selesai membelikan layangan kita berjalan kaki melewat gerombolan anak – anak lain, saya tanya ke si ojon “eh ini temen lo bukan ?”

“bukan om dia mah cemen, duduknya ajak kaya orang lagi sunatan” saya bilang ke mereka, eh lo kurang ajar, sana sapa anak – anak itu, kasih tanda metal sana sapa.

Kita kemudian berjalan 50 meter lagi, dan melewati satu gerombolan anak yang lain, saya tanya lagi ke si ojon “eh ini temen lo bukan ?” “bukan om mereka anak jahat, kemarin ngajakin tawuran,” Waduh” dalam hati saya.

Kemudian saya pulang ke kantor, mereka pun pergi. 20 menit kemudian, saya sedang ada di dalam rumah, bibi memanggil, anak – anak itu datang lagi.

“Om tolong naikkin layang – layangnya ”
Oo oke, saya kemudian pergi bersama mereka ke taman di dekat rumah. Sudah lama sekali saya tidak main layang – layang kira – kira sudah 20 tahun lebih. Saya coba menaikkan layang- layang tersebut, bisa naik sampai 15 m kemudian turun lagi, kita pun tertawa – tawa berlari – lari menaikkan layang – layang, bergantian satu sama
Lain. Ketika berlari menaikkan layang – layang, terkadang layang layang tersebut berputar – putar.

Anak – anak ini adalah harapan kita, mereka hanya perlu teman, cara pandang, dan layang – layang hanyalah sebuah alat dan kehadiran kita untuk menemani mereka dengan bermain – main karena sesungguhnya kita juga perlu bermain – main dan menjadi seperti anak kecil kembali.

Would you like to comment?

Leave a Reply