Chesa Bamboo

“Pak kita sudah pesen baju untuk tim bambu” Kalimat itu dilontarkan pak Amud dalam diskusi di Desa Buniwangi Bandung. Biasanya saya memberikan satu set baju untuk tim lapangan yang bekerja namun selama ini baju tersebut baru saya berikan hanya ke kepala tukang karena kesulitan untuk menjaga tim sampai ke tingkat tukang dan kenek. Hal itu saya lakukan untuk menjaga kekompakan, dan saya tidak pernah ada kepala tukang yang memberikan ide demi kebersamaan tersebut. Baju tersebut akan membuat tim ini menjadi luar biasa keren, kompak dan sang pemimpin percaya diri dengan kekompakan timnya. Nelihat tukang – tukang ini bekerja dengan kompak dan keren, membuat saya menjadi bersemangat kembali, bahwa ini akan menjadi hal yang luar biasa dalam hidup kami.

Kira – kira setahun yang lalu, Alfa Omega selesai dibangun. Di balik kepiawaian ninja – ninja bambu yang saya banggakan ini, banyak cerita bagaimana cerita pertemuan pertama saya dengan Pak Amud kepala tukangnya di tempat pak Rokhmat di Salembaran Raya di sela – sela kesulitan untuk mengkonstruksi bangunan di rawa – rawa. Bangunan selesai dikonstruksi dengan baik dan setiap proyek selesai adalah kebahagiaan untuk pemilik proyek dan sebaliknya tekanan untuk para tukang, karena pertanyaannya, “Setelah ini kita kemana pak ?” Menurut saya profesi arsitek itu sederhana, namun jawabannya seringkali berputar – putar seperti gasing ^^.

Setiap hari adalah sebuah kesempatan untuk mendesain satu bentuk yang lekat dengan kerajinan anyaman, lengkungan dan tumpukan. Kira – kira sebulan yang lalu rumah bambu selesai dibangun, saya kasih nama iseng – iseng, kastil bambu, karena jumlah lantai cukup banyak. Ini adalah satu karya hasil komposisi yang terinspirasi dengan “Howl Moving Castle” komposisi karya Hayao Miyazaki, ditambah literasi karya yang serius banget tentang arsitektur nusantara, bukunya judulnya “Rekonstruksi arsitektur Jawa” karyanya Josef Prijotomo, repertoarnya seperti mendengarkan karya Nobuyuki Tsujii, yaitu Elegy for the victims of the earthquake and tsunami yang karyanya keren banget ! Kastil bambu ini adalah karya penuh cinta untuk orang – orang terdekat saya.

Setelah bangunan tersebut jadi, istri saya bilang, “yang, aku ngga mau tinggal di rumah bambu” Hal ini mungkin disebabkan karena bambu sulit sekali untuk dikontrol mengenai dimensinya yang tidak sama, untuk memberikan kepresisian 99% akan mengurangi potensinya bahwa ia adalah material alam yang radial tubular yang tidak sama 100% berbeda dengan kayu yang bisa diserut, dipotong supaya presisi.

Saya berulang kali bilang, “Kita sebaiknya ke Bandung.” Istri saya mungkin bingung kenapa saya berulang kali bilang demikian. namun seperti kata sejuta orang, kalimat kerennya ” teman ngga pernah meninggalkan, teman akan selalu memperjuangkan, demi nasi di perut, keluarga di rumah, dan tangan dan isi kepala yang tidak pernah berhenti berpikir”

lalu tuttttt !!! kalau katanya dokter, kalau habis operasi harus kentut, abis itu boleh makan. ^^ semua lalu ketawa, ha ha ha… becanda ya ^^