Filsafat Arsitektur

Tirta tampak terbata – bata menjelaskan apa itu Genius Loci di dalam satu presentasi di OMAH. Saya tahu memang pembahasan buku dari Christian Nobert Schulz ini tidaklah mudah karena begitu banyak istilah – istilah yang berserakan di dalam buku tersebut, kakinya pun kadang – kadang diangkat sampai sebagian memenuhi screen, pada dasarnya, ia gugup. Sampai kesimpulan akhir ia pun masih mencoba mengerti apa itu Genius Loci. Siapa yang tidak bisa menghargai kerja keras seperti itu, ia mempersiapkan materi sampai pagi, jungkir balik dalam berusaha memahami signifikansi dalam runtunan signifikansi materi yang disebut foci. Runtunan definisi tentang phenomenology, struktur phenomenology, dan semangat phenomenology dibedah di dalam 3 tema besar natural man – made dan dikembalikan lagi ke realitas apa yang disebut place, dan pesan untuk ke depannya seperti apa. “Pemaknaan tanda – tanda yang terjadi di sekitar kita.” Tirta menutup presentasinya dengan baik. Presentasi kali ini adalah mengenai signifikansi dan interpretasi. Yang tadinya terbata – bata, akan semakin fasih dan menguasai kemudian menjadi mumpuni, seperti yang saya lihat di dalam presentasi tersebut, ia mengulang kata – kata dan kalimat – kalimat yang terlihat sama, namun semakin diucapkan, semakin bisa kita mengerti maksudnya apa, dan ditutup dengan baik.

Saya sering menggunakan kata interpretasi karena disitulah menurut saya yang terpenting adalah penilaian orang lain terhadap karya kita. Kenapa begitu, karena dari situlah penilaian orang lain akan menimbulkan keinginan kita untuk selalu belajar. Kondisi ini menjadi penting untuk mengasah kemampuan menjadi arsitek yang lebih mumpuni. Di dalam paviliun Indonesia, Sunyata. Saya melihat sebuah posisi dari tawaran terhadap ruang kosong yang unik dalam hadirnya bentuk pavilion meskipun hal yang ditawarkan hal yang biasa saja, sebuah void atau ruang kosong yang dimanapun ada. Namun pertanyaannya apa bedanya, apa uniknya, dan untuk apa ? signifikansinya apa ? Bentuk paviliun yang menyerupai tenda tersebut sangatlah menyentuh hati, tegas dan sederhana di dalam ruang yang memiliki tekstur kasar. Saya kemudian bertanya – tanya mengenai level abstraksi yang dialami oleh kurator – kuratornya sehingga bisa mendapatkan bentuk tersebut yang sederhana, karena arsitektur itu tidak sederhana, science itu sederhana, pemahaman arsitektur yang masuk ke dalam ranah seni itu sendiri tidak sederhana. Sama seperti Tirta yang sedang mengalami kompleksitas dalam menembus materi Genius Loci.

Penyederhanaan itu masuk ke ranah rasional dimana kekuatan pikiran dan tangan menjadi satu hal yang utama. di dalam ruang atap Casa Mila disitulah terdapat pameran tetap yang berisi maket mengenai kurva catenary terbalik yang digagas oleh Gaudi ditambah dengan benda – benda alam seperti tanduk banteng, fosil, dan sebagainya. dari situlah alam memiliki caranya sendiri untuk mengajarkan kita sebagai arsitek untuk bisa berkreasi. Namun Gaudi mengalami perjalanan panjang, begitu banyak kesedihan, dan kegetiran termasuk juga kebahagiaan tentunya ketika karyanya dibangun.Sama seperti ada orang yang bilang hidup itu sederhana, ada yang bilang hidup itu tidak sederhana, semua parameter itu merajut dengan kompleks untuk bisa dimaknai. Resiko yang tinggi adalah ciri satu karya yang orisinil dibanding karya yang asal jadi. Begitu ditanya seberapa bagus seberapa baik karya arsitektur mungkin pertanyaan Richard Sennet bisa dijadikan sebuah perenungan yang kritis, dibalik semua gegap gempita karya arsitektur yang kita sudah ataupun sedang ataupun akan kita buat, untuk melihat kualitasnya, saya menanyakan ke diri saya sendiri, saya belajar apa ?

Would you like to comment?

Leave a Reply