Ad Hominem

“Apa yang pernah bapak – bapak kerjakan selama ini sebagai arsitek untuk membantu orang banyak ?” Mahasiswa di depan saya ini bertanya dengan mengulas fakta – fakta terlebih dahulu bahwa arsitek ia nilai tidak banyak memberikan manfaat bagi orang banyak. Pada saat itu kami ada di sesi tanya jawab dan memberikan seminar. Saya tertegun mendengar pertanyaan ini.

Pertanyaan itu adalah ad hominem. Ad hominem adalah argumentasi yang digunakan untuk membalas argumen dengan berdasar kepada praduga tanpa fakta, alasan dan tidak logis, terkadang ad hominem menyerang personal orang yang ditanya, dibanding untuk melihat kompleksitas masalahnya.

Kembali ke pertanyaan di paragraf pertama diatas.”Apa yang pernah bapak – bapak kerjakan selama ini sebagai arsitek untuk membantu orang banyak ?” Pikiran ini coba saya jernihkan, tanpa perlu merajut pretensi apa – apa, dengan semangat positif yang bertujuan untuk menjalin komunikasi, saya menjawab “Hidup ini bukan hanya hitam dan putih, hitam dan putih itu terlalu sederhana untuk memaknai hidup yang begitu indah untuk dijalani dengan semangat positivisme, sebenarnya saya bisa menjawab anda. Saya juga punya hak untuk tidak menjawab anda, karena argumen yang anda berikan berdasarkan presumsi bahwa arsitek – arsitek ini tidak melakukan apa – apa, dan saya akan bertanya balik, apa yang anda sudah lakukan untuk membantu orang banyak ?” Dengan membalikkan presumsi tadi, presumsi tersebut coba diklarifikasi bahwa apakah halĀ  tersebut benar atau tidak, dan apa sudut pandang yang diberikan ?

Saya pun memberikan argumen, arsitek – arsitek sudah membantu masyarakat dengan memberikan pekerjaan sebagai perwakilan klien dalam proses desain dan konstruksi di dalam rentang waktu beberapa tahun terakhir dengan gaji yang pantas diatas umr dan diatas rata – rata, dan bangunan – bangunan tersebut sudah berdiri dan terlibat di dalam beribu – ribu keputusan dalam proses desain dan konstruksi. Arsitek disini, bertanggung jawab terhadap orang – orang yang terlibat, engineer, klien, teknisi, konstraktor, manajemen proyek dan begitu banyak lagi pihak yang ada didalam proyek desain atau konstruksi , dan sebagian dari kami tidak pernah bertanya apa yang orang lain sudah lakukan, namun apa yang akan saya kerjakan, dan mencarikan pekerjaan untuk orang – orang disekitar kami. Anda masih muda bisa banyak berkembang dimana setiap hari kita semua memberikan banyak kegunaan untuk orang lain, tanpa perlu berpretensi utuk menduga – duga, menakar – nakar apa yang orang lain berikan, apa yang kamu berikan, apa yang saya berikan, begitu anda ingin berkontribusi itulah cukup.

Disini ada dua kriteria seorang pribadi di dalam mencapai apa yang disebut Suwung. Yang pertama, berbuat dan berpikir tanpa pretensi, tanpa dendam, tanpa menduga – duga, tanpa ambisi menjadi pribadi yang netral. Yang kedua, berkontribusi untuk orang lain. Itulah 2 dari 3 hal untuk mencapai Suwung. Setelah acara, saya mendatangi pemuda tersebut dan memuji keberaniannya dalam berpendapat, saya menaruh harapan besar kepada anak ini. Dan tersenyumlah dia, semua cair dalam semangat kebersamaan. Saya mengucap maaf apabila ada kata – kata saya yang menyinggung karena kalimat tersebut muncul di hadapan orang banyak.

[1]Laknat! Pak Bambang Sugiharto berkata didalam kuliah filsafatnya di Universitas Parahyangan. Bagi orang – orang yang meminta kepastian jaman ini akan terdengar laknat, namun bagi orang – orang yang mencari jawaban akan berbagai pertanyaan, dengan melihat kompleksitasnya, jaman ini akan semakin bijaksana dari jaman – jaman terdahulu. Itulah yang terjadi apabila sebelum bertanya, penanya punya praduga dan ngotot.

Would you like to comment?

Leave a Reply