Selamat Pagi Mas Anas !

Dear Mas Anas,

Apa kabar ? sudah lama kita tidak bertegur sapa, setidaknya mungkin ada 3 – 4 bulan ya. Saya gelisah, saya pikir saya mentok, dan situasi berjalan tidak menarik, bosan, begitu – begitu saja lihat kondisi wacana proses arsitektur di Jakarta ini begini – begini saja, normatif, sosial, dan minim inovasi, dan keberanian untuk berkarya. Bukannya saya tidak tertarik dengan pameran arsitektur yang sedemikian menjamur disini, ada pameran Silaban, pameran tanah airku yang menarik – menarik, bagus – bagus namun saya pikir tantangan akan hasil karya arsitektur yang fresh itu seperti Godot yang tidak datang – datang.

Begitulah, mungkin saya melihat kita lebih senang merayakan apa yang sudah ada daripada membuat hal yang baru, berbicara mengenai masa lalu daripada masa depan. Disini saya rasakan relasi itu lebih diutamakan, puja – puji dilantunkan dengan asas pamrih, lo gw puji, lo puji gue kemudian bisnis gw lancar, proyek gw lancar, masuk buku dan selesai. Satu hal yang semakin jarang saya temui, kesederhanaan. Mungkin saya ngga punya banyak teman, yang saya cari itu tantangan mas Anas, dan tempat untuk bisa memberikan refleksi dan inspirasi supaya hidup ini semakin bisa digunakan untuk melayani lebih baik lagi. tapi saya ketemu orang luar biasa sebulan yang lalu, namanya Tan Chiang Ay !

Apa kabar wastu miruda ? saya kangen tulisan – tulisannya yang menohok, https://wastumiruda.wordpress.com/2015/09/08/wastu-miruda-07-waktu-arsitektur/ yang memberikan pelajaran mengenai m e n g h a y a t i, seperti yang mas anas bilang kemarin sore waktu kita diskusi sama Rifandi dan Bangkit. Menurut saya, menghayati adalah permulaan dari kecintaan dan kemudian pemahaman akan lahir dengan sendirinya, badan akan mengikuti dan pikiran akan mengikuti seiring dengan meningkatnya pengertian akan ilmu pengetahuan. Bahwa Hayat itu adalah kehidupan, ada semangat (spirit) kehidupan bergerak di dasar lautan, bergelora, subtil, entah apapun ombak yang di permukaan lautan yang terus bergerak. Banting dia kalau karyanya biasa – biasa saja, tapi omongannya luarbiasa, banting dia, Puji dia kalau ia punya niat yang mau untuk berkembang dan punya karakter yang kuat ! maka kita punya harapan, setidaknya ngga akan bosan !

Saya beberapa bulan kemarin, memfokuskan diri ke beberapa proyek yang memang fast track, juga ke kastil bambu yang jadi extension the guild. jadi menghilang beberapa saat, nanti akan saya kirimkan catatan perjalanan ya. Sekarang saya mau cerita tentang Tan Chiang Ay. kira – kira sebulan yang lalu, saya bertemu dengan Tan Chiang Ay, karakternya kuat terlihat, organisasi tutur bicaranya matang, karyanya bernas. Ia bisa meniupkan karya kedalam kehidupan untuk mengatur kehidupan lebih baik dalam organisasi desain yang matang semakin – lama semakin reduktif dan kemudian hilang yang tersisa adalah karakternya yang semakin lama semakin matang. Saya bertemu dia pagi – pagi sebelum ia bertemu kliennya bersama anak – anak Omah. Kata – kata yang di lantunkannya tepat, berguna dan menjadi evaluasi saya dalam berkarya. Dia bilang ia sendiri adalah pribadi yang observant, jadi ia lebih dahulu tahu dibanding orang lain, oleh karena itu kalau ia ditanya ia bisa tau jawabannya. Selama beberapa puluh tahun ini nama beliau sudah sangat terkenal di kalangan klien, klien – klien mau menunggu sampai setengah tahun untuk bisa didesainkan beliau, ia melewati batas kaya dan miskin, ia berbicara mengenai karya saja dan kemudian karakternya lantang terlihat. Disinilah ia adalah sebuah pribadi yang terus belajar dengan karakternya yang semakin lama semakin tajam dan karya – karya tersebut adalah cercahan karakter yang berserakan yang terkadang ia puas terkadang ia kecewa ataupun terkadang biasa – biasa saja.

Saya kemudian berpikir untuk membuat tribute untuk beliau, bukunya sedang kita susun, sebagai ucapan terima kasih sudah diberikan momen pertemuan dan kesempatan anak – anak omah untuk melihat karyanya. Apa yang bisa menahan ketika api itu mulai dinyalakan oleh orang tua yang observant itu, saya angkat topi !

kira – kira beberapa kali saya ditanya oleh anak – anak Omah. “Kak ada yang kurang di omah ! disini acaranya bagus – bagus, orangnya pinter – pinter tapi kenapa ngga banyak yang mau datang, liat saja acara anabata, rabun senja, dsb ” lalu saya bertanya “lalu menurut kamu gimana ? ” mereka melanjutkan (ini bukan satu orang saja yang bertanya, namun beberapa orang di kesempatan yang berbeda beda dimana saya selu menjawab “menurut kamu bagaimana ?” mereka lalu menjawab dengan ” sosial media kak, dengan line, dengan instagram, bikin video, ajak orang – orang, buat publikasi yang kreatif” saya kemudian tersenyum dan bangga dengan antusiasme untuk mereka supaya berbagi.

Saya kemudian menjawab :

“Omah ini dimulai dengan semangat yang sama untuk berbagi, kalau kamu rasa itu adalah hal yang kamu mau lakukan, silahkan lakukan. Kita tidak berkompetisi, kita sedang berbagi, ada yang memang menginginkan sebuah gerakan untuk menjadi semakin besar dan populis dan saya pikir itu wajar. Saya memfokuskan diri ke kalian – kalian yang 5 tahun lagi akan punya karya sendiri – sendiri yang unik – unik. Saya tidak apa – apa kalau memang tidak ada yang datang ke omah, hanya ada saya, bangkit, rifandi, greg, rezki, ya kita – kita saja. Belajar menjadi lebih baik tidak membutuhkan jumlah yang banyak, kita perlu kualitas untuk memahami bukan gemerlap untuk menjadi lebih dikenal, ataupun bisa lebih bisa mempengaruhi orang lain, itu bukan misi Omah. Saya sendiri belajar di OMAH dan menggunakan semua yang saya pelajari dalam praktek sehari – hari. Apa kamu belajar banyak disini ? ” ia pun menjawab “iya kak.” lalu saya jawab “nah itu sudah membuat saya senang, dan omah pun sudah berhasil.”

Nah sekarang kita masuk ke agenda yang akan kita luncurkan

Kira – kira setengah tahun yang lalu, saya dihubungi oleh Stanley untuk mengisi mata kuliah pilihan di UPH, kemudian saya berpikir untuk memberikan pedagogi dimana tulisan dan arsitektur menjadi lekat. Bahasa tulisan, dan bahasa desain menjadi satu penghayatan yang utuh. Sejarah dan inovasi teknologi banungan menjadi bahasa desain. Pemahaman arsitektur akan lebih menyeluruh. Oleh karena itu saya memiliki ide untuk memberikan mata kuliah, architecture grammar, sebuah penelusuran tentang pedagogi cara berbahasa. Hasil tugas – tugas mereka dijadikan ada sekitar 40 buah buku dan bukunya cukup baik.

Tiga bulan yang lalu, Pak Ferry, kepala jurusan Arsitektur UPH yang baru menggantikan Stanley dan Anis menawarkan untuk memberikan mata kuliah keprofesian. Saya kemudian berdiskusi dengan beberapa dosen dan pejabat – pejabat IAI untuk mengetahui silabus yang diharapkan IAI. Kemudian saya berpikir, kuliah keprofesian ini haruslah menarik betul, penuh dengan ledakan yang menghubungkan inisasi awal karir orang – orang yang cinta akan arsitektur, entah akan menjadi arsitek atau tidak. Ini adalah awal dari mengerti kehidupan seorang yang cinta akan arsitektur yang kemudian, semoga – moga saja banyak yang ingin menjadi seorang arsitek.

Dan kemudian, ide untuk membuat tugas besar muncul ketika 1 bulan lalu, antusias mahasiswa begitu besar, ide dan energi mereka mengalir, tulisan mereka semakin menyentuh hati dan saya semakin bergelora, semakin antusias untuk memberikan mereka yang terbaik yang kita punya. Setiap kali kuliah dimulai adalah saat dimana saya belajar dengan segar kembali. Kuliah itu diadakan di hari Rabu pagi jam 9 – 11. Saya pikir inilah saat terbaik yang saya punya untuk kembali belajar dan introspeksi teori dan praktik arsitektur keseluruhan, menyadari saya sendiri bukan apa – apa.

Nah ada 10 kolase tentang apa yang akan dipamerkan nanti, saya perjelas dibawah. Tugas pertama, adalah tentang kemauan mereka 20 tahun kedepan mereka ingin seperti apa. Buku ini adalah dimensional mind, bagaimana mengorganisasikan conventional dan original mind.
Tugas kedua sampai tugas ke 9 adalah bagaimana mereka belajar dalam memahami conventional mind. Tugas pertama adalah bagaimana memahami original mind. Tugas ke 10 adalah keberanian untuk memberikan janji ke diri sendiri bahwa saya bisa, saya mau, dan saya berani, semua bergerak (semesta bergerak) ke arahku.

“Masters and those who display a high level of creative energy are simply people who manage to retain a sizeable portion of their childhood spirit despite the pressures and demands of adulthood.” The memory of what fascinates us is called original mind. The memory looked at the world more directly – not through words and received ideas. it was flexible and receptive to new information. The other memory is the called conventional mind which is the memory to make a living and conform to society. Greene extended his proposition that masters not only retain the spirit of the original mind, but they add to it their years of apprenticeship and an ability to focus deeply on problems or ideas. This leads to high-level creativity. We shall call this dimensional mind. The conventional mind is passive but the dimensional mind is active, transforming everything it digests into something new and original, creating instead of consuming.[1]”

Kemudian semesta ini juga bergerak ke Mas Anas dan ke Rifandi dan ke Bangkit. Dan saya ada ide untuk launching buku 60 buah itu, bukan demi saya tapi demi mereka. Inilah wujud dari pelampiasan saya akan minimnya wacana arsitektur, saatnya ktia buat dengan benih – benih, akar – akar yang masih muda dan mereka adalah harapan kita dengan keunikan karaktek anak – anak ini. Mas anas saya minta usulan judul ya dan catatan kuratorial ya.

Kita adalah hanya penghubung sebuah pintu yang menghantarkan mereka untuk menemukan diri mereka sendiri, membuka pintu tersebut, bukan menutup, kemudian angin semilir – semilir kemudian masuk, cahaya matahari kemudian masuk, dan kemudian godot akan datang dia akan bilang, “selamat pagi mas Anas, terima kasih.” saya ngga percaya godot itu ga dateng- dateng, kita datengin aja kalau begitu ha ha ha !

[1] Robert Greene, Mastery

Would you like to comment?

Leave a Reply