Tabula Rasa

Mas Rida Sobana pernah berkata satu kalimat “Realrich kota yang memenuhi parameter teori urban desain yang baik itu ada di Singapore.” Ia berkata ketika saya waktu itu mau berangkat sekolah untuk belajar Urban Desain. Ia adalah satu orang yang membimbing saya dulu waktu saya masih bekerja di Singapura di DP Architect, meskipun banyak orang lain yang berbicara “ngapain kamu kesana ? kerjanya kan seperti di pabrik ?” Untuk saya, persepsi – persepsi tersebut apalagi dari orang lain bukan masalah besar, yang terpenting masih ada hal yang terus dipelajari, dan saya membuktikan bahwa saya belajar sangat banyak dan bangga pernah ada belajar dari Mas Rida dan teman -teman yang lain. [1]

Beberapa hari yang lalu saya ke Singapore, dengan Laurensia dan Miracle. Dari perjalanan kami ke daerah Jurong sampai ke pusat kota kemudian ke daerah Pulau Sentosa. Daerah – Daerah ini dikelilingi dengan sabuk MRT, BUS dari barat, selatan, utara dan ke timur. Kota ini tidak banyak berubah dari beberapa tahun terakhir, tetap konsisten untuk menjadi lebih baik. Di daerah retensi air di Jurong dikelilingi oleh Singapore Zoo, Jurong Bird Park, River Park Safari, Night Safari membentuk sabuk yang mengelilingi tempat tersebut yang merupakan tempat binatang dan tumbuhan ditata untuk orang- orang yang datang untuk belajar pentingnya menjaga kehidupan. Dulu waktu saya tinggal di Singapore, setiap bulan setidaknya satu kali berkunjung ke tempat ini, hanya untuk melihat alam, binatang dan foto – foto. Kami sekeluarga suka dengan binatang, karena dari binatang kita belajar cinta tanpa berbalas.

Satu hari setelahnya, saya memandang satu hotel yang didesain oleh Woha Architect, salah satu biro arsitek terbaik di Singapore tempat dimana sahabat saya Agit pernah kerja disana. Hotel itu dibungkus lempeng logam berwarna merah, saya melihat detail – detailnya yang rapih yang sebenarnya umum saja. Namun direncanakan beberapa tahap desain sebelumnya dengan integrasi bak tanaman, sistem pengairan, dan arsitektur yang memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi. Programnya dibagi beberapa tipe dengan program utama hotel. Beberapa tahun yang lalu, saya sempat ke karya Woha St. Mary Church. Karya tersebut memiliki axis dan parti yang jelas dengan sekuensial narrative yang konsisten, juga memiliki detail yang terselesaikan dengan apik, sisi transparan menhadap ke ruang terbuka.[2]

Dari Infrastruktur kota Singapore dan karya – karya arsitektur yang kami kunjungi, ada keseriusan dan konsistensi yang terlihat biasa – biasa saja namun memiliki kualitas detail yang sangat baik dan membutuhkan pemahaman arsitektur yang menyeluruh, kerja pintar dan keras untuk bisa menghasilkan karya – karya tersebut untuk menghasilkan detail yang berkualitas termasuk pengembangan kota di bawah tanah, sebuah pameran yang diadakan di URA mengenai bagaimana pentingnya melakukan prosedur pemetaan kondisi tanah, dan memanfaatkan ruang – ruang di bawah tanah dengan memanfaatkan teknologi pengeboran yang dipadukan dengan penataan jaringan dan preservasi, konservasi air. Saya sebagai arsitek merasa perlu kembali belajar tentang arti konsistensi dan kerja keras. Di balik tentunya tetap bangga dengan bumi Indonesia dan kekayaan arsitektur nusantaranya. Dari sini saya belajar tentang Tabula Rasa : (dari bahasa Latin kertas kosong) yang berarti bahwa seorang manusia lahir dengan kosong dan seluruh sumber pengetahuan diperoleh sedikit demi sedikit melalui pengalaman dan persepsi alat indranya terhadap dunia di luar dirinya.
Dari sini saya belajar, setiap kali kita mengalami kondisi Tabula Rasa, disitulah Tuhan mengetuk hati kita, Realrich, kamu harus belajar lagi dengan lebih serius.

Catatan :

[1] Teori mengenai urban desain memiliki banyak aspek, baca buku yang membahas ini terutama yang menjelaskan keterkaitan teori dan praktek. Ada 6 buku : Urban Design reader, yang disusun oleh Elizabeth Macdonald, MichaelLarice, Urban Design: A Typology of Procedures yang disusun oleh Jon Lang, 3 buku mengenai kota dari Alexander Cuthbert, 3 buah buku Form of cities, Understanding Cities: Method in Urban Design, The Form of Cities: Political Economy and Urban Design, dan Designing Cities: Critical Readings in Urban Design. Urban Accuputure yang ditulis oleh Jaime Lerner.

[2] Limin Hee, Davisi Boontharm dan Erwin Viray menjelaskan bahwa Singapore memliki cara penataan yang berbeda, menunjukkan resistensi terhadap paradigm atau cara pandang yang modern, seperti yang ditulis oleh Kenneth Frampton didalam towards a critical regionalism:six points of Architectureal Resistance in the Anti Aesthetic : Essays on Postmodern Culture. Resistensi itu berbuah sebuah paradigm yang dinamakan tropical Vernacular yang dulunya dikenal sebagai anti kolonial, anti tradisional, anti international style menjadi tropical vernacular yang baru, hal ini dibahas di dalam buku Future Asian Space (hee, Booontharm, dan Viray).

Would you like to comment?

Leave a Reply