Anugerah Terbaik

Desember 14, 2014 § Tinggalkan komentar

Baku, Azarbaijan. City of Winds. “The wind represent the force of change, the matter of change is nothing compare to the matter of love”

My lovely wife :)

My lovely wife :)

Laurensia mengatakan bahwa kami sedang mendapatkan anugerah yang terindah dari Tuhan. Saya berpikir bagaimana bisa ia bisa sedemikian sabarnya menghadapi apa yang sudah terjadi. Laurensia, satu orang yang merupakan anugrah yang terbaik yang diri ini temui, dari titik pertemuan kembali dirinya sejak diri ini ada di London sampai sekarang ini. Kami sudah beberapa kali mengalami kesedihan, janin tidak berkembang selama waktu yang singkat ataupun yang paling lama hamil selama 7 bulan di masa kehamilan pertama. Kehamilan kedua dan ketiga, juga tidak memiliki waktu yang lama, dimana kami harus menerima kenyataan, janin tidak berkembang. Kami bertanya – tanya dan ke beberapa dokter kandungan, dan beberapa dokter ahli penyakit dalam yang semuanya memiliki niat yang baik untuk membantu. Ada yang mempermasalahkan toxoplasma yang masih positif IGMnya, meskipun sedikit. Sampai tes terhadap aviditas terhadap toxoplasma dilakukan, karena nilainya yang tinggi, diketahui bahwa infeksi ini sudah berjalan lama dan dokter tidak mempermasalahkan ini, dengan memberikan obat Pyrimethamine ataupun spiramycin sebelum kehamilan, ataupun dimasa kehamilan yang terus mengkonsumsi spiramycin selama beberapa saat untuk kemudian memiliki masa rehat tidak meminum obat untuk kemudian meneruskannya semasa kehamilan. Ataupun kami juga melakukan tes DNA yang dilakukan, berkali – kali tes darah untuk melihat apakah permasalahannya ada di toxo plasma, hanya untuk mengetahui dari ilmu pengetahuan, apa yang bisa dilakukan untuk menghindari kejadian yang berulang. Tepatnya sekitar setengah tahun yang lalu, Dokter Raditya menyarankan kami untuk ke dokter spesialis darah, Dr. Djumhana di rumah sakit Pelni. Dokter melakukan serangkaian tes darah, ana profile, dan beberapa parameter yang cukup rumit yang sulit untuk dimengerti. Ternyata diketahui adanya auto imune, hal yang jarang sekali dimiliki oleh orang kebanyakan. kelainan itu adalah SLE [Systemic Lupus Erythematosus],dimana tubuh menganggap organ, sistem saraf sebagai ancaman sehinga menyebabkan peradangan. SLE tidak bisa diprediksi kapan akan menyerang tubuh dimana penderitanya adalah sebagian besar wanita berusia 15 sampai 35 tahun. Kami tidak pernah bermimpi untuk mendapatkan cobaan seperti ini. Untungnya ia, sangat sabar dan bisa menerima keadaan ini. Kemudian, ia mencoba untuk mencoba pengobatan dari dokter seperti Lameson yang diminum 3 kali satu hari untuk menurunkan kekentalan darah. Didiagnosa bahwa kekentalan darah yang menyebabkan calon bayi kami tidak berkembang. Dalam penantian hari – hari panjang, mengenai datangnya si kecil dan penantian kondisi kesehatan yang membaik, kebahagiaan itu muncul satu persatu, dari hal – hal yang sederhana. Sesampai buah pikiran kami bercita – cita ingin memiliki anak sebanyak – banyaknya, orang tua sebanyak – banyaknya pula dalam rentang hidup yang tidak lama. Sebuah dedikasi untuk orang lain. Dari situlah diri ini merasakan kekuatan yang tidak terlihat, sebuah perasaan kasih sayang, bahwa memang dedikasi yang ada di dalam kehidupan kami adalah untuk melayani orang lain, menyebarkan kasih sayang.

Dan dengan cerita ini, semoga SLE yang ada di pribadi setiap – setiap orang bisa cepat untuk disadari dan kemudian diberikan cara untuk menanggulanginya, semoga apa yang kita hadapi, tidak perlu untuk dihadapi oleh orang lain. Kondisi Laurensia sudah jauh membaik, dan indikasi kekentalan darah semakin stabil. Mungkin sudah saatnya kita berharap kembali mengenai kehadiran si kecil. Apapun yang terjadi, satu wanita, yang terbaik dan tetap terbaik. Apabila Laurensia menganggap Lupus ini adalah anugerah yang terbaik yang didapat dalam hidup ini, maka saya sampai kapanpun, menganggap Laurensia adalah anugerah yang terbaik yang pernah didapat dalam hidup ini. Dalam perjalanan diri ini ke Baku Azarbaijan, diri ini baru mengetahui bahwa Laurensia tidak bisa tidur dengan tenang selama diri ini 5 hari di luar negeri. Dalam hati, diri ini merasa sedih karena berangkat meninggalkan dirinya, namun dalam hati pula, diri ini merasakan kebahagiaan untuk bisa dicintai dan mencintai sepenuh hati dalam saat pulang nanti. Bahwa tidak banyak lelaki bisa dirindukan seperti itu, dan bagaimana diri ini juga amat merindukannya.

Diri ini pun menarik nafas saat satu teman mengingatkan harus kembali melakukan pekerjaan di negeri angin ini, dan mungkin ini semua punya satu maksud yang masih saja belum bisa diri ini mengerti, apa ujungnya, apa tujuannya, dan mengapa ini semua bisa terjadi. Puji Tuhan, terima kasih atas seluruh rahmatmu untuk wanita terbaikku, berilah ia kebahagiaan sesungguhnya, diri ini hanya bisa berharap.

Spiritual Dreams

Desember 9, 2014 § Tinggalkan komentar

Where did you throw away your dreams?
When did you forget your love?
No more tears will come from these eyes

I ‘ve heard this such a beautiful song and lyric titled Fujimoto’s Theme. The song was written in collaboration between veteran Ghibli composer Joe Hisaishi, with lyrics by the film’s supervisor Katsuya Kondō and director Hayao Miyazaki. My interpretation was the song is about the spiritual dreams, and full filing love in this life.  It’s like looking at Bernini’s work, mondrian’s painting, or hearing earth by down to earth manner.

Fujimoto’s Theme

Where did you throw away your dreams?
When did you forget your love?
No more tears will come from these eyes
The people living in pain
Atop this exhausted planet
Have forgotten all about that thing called “hope”
The city overflows with Gods
Who will not guide you
Where can I return?
If I hurt someone
I don’t want to be seen by anybody
So I go far away, alone
The ocean changes that vastness
The sky becomes too heavy to bear
And everything, everything changes
Women are capricious
And men do nothing but hurt
Closing their hearts off every time they fall in love
The city overflows with Gods
Who will not guide you
Where can I return?
Unlike women, the coral
Is beautiful and yet so ephemeral
And that’s why I want to protect it so
The ocean that envelops everything
Is a mother who forgives all
And that’s why I return to it, alone

Understanding Tools of Design and Production in Architecture

Desember 5, 2014 § Tinggalkan komentar

My friend, David Hutama will share his thought in understanding tools of design and production in architecture in OMAH, summer pavilion, here is the notes that I wrote for him for his publication :

“A man who works with his hands is a laborer; a man who works with his hands and his brain is a craftsman; but a man who works with his hands and his brain and his heart is an artist.”
― Louis Nizer

Screen Shot 2014-12-05 at 7.55.41 AM

For the second time we are gladly to inform you that David Hutama will share lecture about Understanding tools of design and production in architecture. There were times when architecture studio was so full of drafting tables to draw conceptual, schematic, or even working drawing by hand which took much time on its evolution to find what we called efficiency. Nowadays, the invention of CAD, Modelling software took over the line of production in Architecture firm. The changes was established by the need of time efficiency, costing efficiency, or even ease of transferring information between one person to another person or architect to builder or architect to other consultant which always involving techniques of creating architectural drawing or even nowadays architectural model [BIM]

An architectural drawing or architect’s drawing is a technical drawing of a building that falls within the definition of architecture. Architectural drawings are used by architects and others for a number of purposes: to develop a design idea to communicate ideas and concepts, to convince clients of the merits of a design, or even in the next stage to enable a building contractor to construct it, as a record of the completed work, and at the end to make a record of a building that already exists.

Architectural drawing become important because is consists of key information, such as the definition of space, all of the set of conventions, units of measurement and scales, annotation and cross referencing with material information or standard of construction. which described in floor plan, section, elevation. All of these information, now could be condensed in one architectural model [BIM = Building Information Model] which then creates minimum deviation in construction.

We invited students and fresh graduates for our mini lecture series or brown bag.
It’s all about sharing Tools of Design and Production in Architecture. It’s all discussing the possible answer of :
1) What is and How history of Design and Production in Architecture evolve ?
2) What is needed for preparing a good architecture drawing or model information ?
3) How to establish bridge of information between architect – other consultant – builder ?
4) Why tools of design and production is important ? or what is the ethic to maintain good architecture drawing ?
David Hutama is chair department of UPH School of Design. After receiving his bachelor degree from Parahyangan University in the year 2000, he went to Toyohashi University of Technology, Japan, to pursue his master degree in History and Theory of Architecture. In 2005 he join Department of Architecture in Universitas Pelita Harapan. David was part of the steering committee team for Jakarta Architecture Biennale 2009 and Art Director for Rubber Wood Architecture Exhibition in 2010. In 2012 he worked as the curator of Place.Making Exhibition, an exhibition of Department of Architecture UPH at Dia.Lo.Gue Exhibition, Kemang. Together with Avianti Armand and Robin Hartanto co-edited ‘Home: a Studio Talk’, published by UPH Press. He was curator of Indonesia Pavilion in Venice Biennale 2014

This lecture series is a collaboration between UPH School of Design and RAW to provide long life learning process between Architects, Lecturer, fresh graduates, or even people who has interest in Architecture.. The discussion will be held at RAW Office at 9.30 am on 6th December 2014 . The introduction will be followed by open discussion among participants.

Kindly make your reservation to tatyana@raw.co.id or rofianisa@raw.co.id as soon as possible (seats are limited for 25 people) Thanks and see you !

Calf, Farmer, and Swallow to Slaughter House – One lesson in year of 9th 2014

November 4, 2014 § Tinggalkan komentar

“I like the thought that what we are to do on this earth is embellish it for its greater beauty, so that oncoming generations can look back to the shapes we leave here and get the same thrill that I get in looking back at theirs – at the Parthenon, at Chartres Cathedral.” –  Philip Johnson

Vocal : Juliana Pramesti Kumalasari Guitar : Ariyo Widiatmoko Recorded at Bajink Studi Video Clip : Belle Nuit Studio ( Yudha and Kabul ) Lighting and dekoration : Ari and iok ( Titus Vianey ) Location : In the Garage at Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia

He, I recognised Phillipe Johnson,an architect, Scholar with big glasses who truly easy satisfied being small and enjoyed being at the centre of architecture history. He was under rated by some architect because he couldn’t draw. In his figure, we could see multiple layers which rippled modern architecture and call for discussion. He enjoyed on discussion with young architects like Frank Gehry and Peter Eisenman in his glass house he would encounter perspective which later he saw in another work, and he will encounter it again with another work making one proposition to another proposition. “Mind” was his playground, he often said architect (he is) is a “whore”, I might put “whore” in more positive way that every architect has an obligation to serve society, has also an obligation to form discourse of object in architecture history. I think Philip is like a father or centre or magnet of architecture modern history which he showed examples by encountering many modern works, and culminated it in his own way of thinking, if he thought that architect is a whore,then he was just so humble in knowing our problem as human, he was like elgar with soeil d amour, or sometimes who mimicking Mozart, Bach, Or Chopin when he played his own rhythm. Screen Shot 2014-11-09 at 1.36.59 AM That day was one morning while i was doing teleconference with people in studio ,reviewing studio’s work while we were in Paris at 4 a.m in the morning. While it was 10 a.m in Jakarta. I was so exhausted from our trip to Seville, Spain and we had not recovered yet. In just one serendipity we discussed about the story of Donna the calf which also was discussed on our trip in Bilbao. Donna is a calf who is in a cage in a farmer’s carriage going to a slaughterhouse.He was sad, in prison by his will to be freed. The farmer said ” why are you so sad ?” Donna said “i want to be free like swallow who fly above me, who has free will and laugh, but now i am in prison.” And the farmer continued to share his wisdom about his free will but the carriage is still going to slaugther house.

“Donna Donna”

On a wagon bound for market there’s a calf with a mournful eye. High above him there’s a swallow, winging swiftly through the sky.

How the winds are laughing, they laugh with all their might.Laugh and laugh the whole day through, and half the summer’s night.Donna, Donna, Donna, Donna; Donna, Donna, Donna, Don.Donna, Donna, Donna, Donna; Donna, Donna, Donna, Don.“Stop complaining!” said the farmer, “Who told you a calf to be? Why don’t you have wings to fly with, like the swallow so proud and free?”

Calves are easily bound and slaughtered, never knowing the reason why. But whoever treasures freedom, like the swallow has learned to fly.

I remember My body my mind wondering in one conversation with my wife two days ago In one serendipity she gasped and told me IMG_2231 “Love (my name), The calf might represent our body an animal who has desire, instinct to fly free like swallow but it is in prison in body in a way to slaughterhouse which slaughterhouse is a symbol of time, which all of us will face soon or later, the judgement day in this world. Meanwhile the swallow is a symbol of spiritual conscience or probably heaven or hope which we always dream of or wanted to be” And the next questions are, Who the farmer in the song is ?

Probably the farmer is evil inside our heart, or God or even Just someone important to us, who told us spirit of life… Who is swallow anyway, probably everyone with free will or heaven, or just dream or something which is our purpose…. Who is the calf anyway, probably like wise someone in weakness, in prison by his own will,desire to be freed in time to the slaugther house.. And spontanioulsly i asked the people in the studio in front of screen in teleconference, who is the cattle do you think in our studio ? They kept silence and guessing that some of them is the cattle, Suddenly in serendipity I typed in screen which came up with serendipity answer that i have not had in my mind before. It is just the way of Hermeneutics works. The leader is just a calf who dreams free, who wants heaven for everybody, everyone of us are still learning to be leader, so do I. but that’s life. Philip was right.

so dream like child, no burden, free like swallow, it’s in our head, think that the heart has its own way to face world. Sunlight comes in, my eyes open. Welcome back dream, long time no see spirit. Thank you so much.

IMG_2089

To Architect with Blue Eyes

November 4, 2014 § Tinggalkan komentar

140930 Barcelona “Learning from Gaudi is like praying to the Almighty who need devotion of our best energy knowing the most important of all.”

IMG_2578.JPG
If Norman Foster is truly a master of fundamental then Gehry is truly a master of deconstructivist. If Scarpa is truly a master on making orchestra of human’s rigidity rational mind then Gaudi is a noble man who has genius of nature in his genius of free workmanship in unlimited geometry in mimicking nature. If you are the player of the mind then he is the body of desire then we are creating spirit to fly on, together forming special relationship between human to human or if you are gifted enough forming relation with nature or even if you are brave enough you will be linked with such spiritual force forming relation with God or someone you feel great of or whosoever who has size of heart like an elephant.

While sky is unlimited, we would be touched by Gaudi to stop talking bullshit by his study and devotion in architecture and life. We are lucky enough If Gehry does not point his hand to us, raising his middle finger when he said that 90 percent architecture work is piece of shit. Die graciously, live like a king with an act of noble man like Gaudi, who is a king on himself, an architect of blue eyes. He who did his work on temple of Sagrada Familia, La pedrera, Casa Baltio, or even his park and complex design park gueil, while in 1914, dropped all his other project except Sagrada Familia that he wanted to focus on. That was even made me curious about what he did. I read some if books about him by foundation, publishers, church, his family background, some brochure, even books contains drawing of his work to search for what force driving him were.

There were stories when Gaudi was in prison when he had fight with police when he was forbid when he went to enter the church to do his ritual, praying every morning.

Then he was in prison, he would be freed if he put 50 pence as bail out then he sent messager to bishop to bring 75. He gave 25 to the people who was a fruit seller who had trouble arguing with police. He had been there for several day accompanying him.

Then the fruit seller asked Gaudi about his address, he wanted to pay him back. Gaudi answered “I don’t ask payback when i give charity.” He inspired us with such determination of pure heart or at least he tried with his spirit inside his body, we are same man who has mind, body, and spirit. In his soul we have an example.

In another one story, finaly I have my answer of what I am looking for when Gaudi set the his attitude in such noble way when he was asked or pushed by numbers of people who wanted to continue the construction of Sagrada Familia.

“When will you finished the holy temple of Sagrada Familia?”

He answered
“I have time, my Client is in no hurry.”

In my heart, I cried, then asked myself about the devotion in this life. I have learnt so much from Antonio Gaudi’s work, and even more by learning about his devotion in life which brings ever more question about our spiritual journey in this world

IMG_2526.JPG

IMG_2531.JPG

IMG_2524.JPG

Encountering Master

November 3, 2014 § Tinggalkan komentar

Bilbao, Spain 141030

” …When the building is finished,…I worry that it is some kind of bizarre thing… I want to crawl under the blankets. When i saw Bilbao for the first time, I said,” oh my God, what have I done to these people?” I think that is a problem, but for better or worse, that is who I am.” – Frank Gehry

In one bright afternoon at the edge of nervion river. My mind is wondering, i worked for Norman Foster in foster and partners few years ago And had Learnt much from him and his firm. He is truly master in neo Modernist approach, a god of life, an apollo. That was stated by Chris Abel. I was sure that it is truly a must do principle of doing architecture, I still believe I learned so much from the past experience. He is still one hero and master of fundamentals that i love most who like what Oscar Niemeyer said about him.

Few days ago, in one rainy day i just arrived in Paris, commuting from Bastil to Rambuteau. I went to Gehry’s exhibition by serendipity in Pompidou Center Paris, a building which was designed by Renzo Piano and Richard Rogers. I saw models by gehry
And partners stunned me. It was so beautiful. It was Like Van Gogh’s or Bernini’s or Affandi’s masterpiece. It opens into new possibilities, movement, New ideas, free form, unlimited line. It is almost perfect, And then i determined to see his work. A man who was stated by Chris Abel as Dionysus, god of pleasure.

I just love this man, Gehry, his building, persona and ideas. … found that despite all of he pre assumption that (he was insensitive, he did not listen to his client, the building was not thinking about urban setting, he was driven by his ego trip).

After i finish read several of his books, publicatons, his catalogue, his interview with Barbara Isenberg or even his lecture’s video during our trip in this few days in Europe. I found that He is such humble, down to earth man who is very smart, very sensitive, and ideas driven which sometimes is failed to grabbed by other people.

… found that gugenheim responded beautifully by the axial opening from city axis to river. The pond designed as extension of the river creating architecture manipation so the shape looked as dancing on the water bringing reflection of the solid.

IMG_2714-1.JPG

The atrium acts as breathing space creating a void before entering multi solid gallery. The sun light coming pass flower or fish or whatever people name the skylight bringing warmth which lighten space. Sometimes it might remind us who are same human under the same sun who challenge our origin. The shape perhaps was comin by free flow creativity reminded about gaudi’s, altoo’s, corbusier’s curvy line (Ronchamp) He took it into another level by introducing thereshold of such total curvy lines in creating architecture.

How can we measure this man ? When some design project he did it for minimum fee or even for free. Thats life when some of our life, we should dedicate it for others.

Feeling emphatic for this man of honour in architecture manipulation and the way of doing architecture as profession or as in his life. That’s why we can call him master, or deconstructivist master or whoever you like :) who deconstructs profession, design as usual bringing future human creativity into such spiritual adventure.

Before I could collect thoughts about what went right, I just burst into tears.

IMG_2747.JPG

IMG_2878.JPG

IMG_2879.JPG

Menengok keluar

Oktober 5, 2014 § Tinggalkan komentar

“Negeri – negeri asia lainnya jauh lebih maju daripada Indonesia pada masa – masa sebelum perang dunia ke II. India telah dimahkotai hadiah nobel karena cerpen – cerpen Tagore. Singapure dan Malaya, serta Vietnam (ingat saja pada Perre Do – Din), tapi di masa sebelum perang dunia II itu, Indonesia baru menyumbangkan Hikayat Kancil, surat – surat Kartini, dan karya Multatuli yang notabene adalah pengarang Belanda.” [1]

Lalu bagaimana mengenai arsitektur Indonesia, apakah kita lebih maju ? Apakah kita kehilangan pondasi dalam berinovasi, sibuk melihat masa lalu, tanpa menatap masa depan. Lalu, pertanyaannya apakah kita sedang berarsitektur ke arah yang lebih baik ? lalu apakah nilai – nilai yang berpusat pada kebenaran itu semakin kuat mengakar dalam budaya berarsitektur kita, empati yang mendalam akan alam dan manusianya. Ataukah, kita terbutakan dalam keegoisan diri sendiri, dalam arsitektur itu tercerminkan jati diri satu karya, apakah ia pongah, apakah ia jujur, apakah ia sederhana, ataukah ia hanya bergelimang dalam kebombastisan materialistis. Arsitektur perlu untuk menjadi pencerahan, jawaban akan nilai – nilai kebaikan, kepuasan akan hidup yang lebih baik, mengajarkan menjadi manusia yang lebih baik, yang tadinya sombong menjadi lebih rendah hati, yang tadinya tidak menghargai alam, menjadi menghargai alam, itulah hakikat hidup kita yang sebentar ini, apalagi dengan profesi sebagai arsitek.

[1] Kutipan dari tulisan Pramodeya Ananta Toer dalam “Yang Harus Dibabat dan Harus Dibangun”, yang tulisannya ditampilkan dalam the wisdom of Pramodya Ananta Toer,disadur oleh Tofik Pram pp 45

House for Ferdi and Joice-Weaving Brick

Oktober 5, 2014 § Tinggalkan komentar

I met Ferdi and Joice, our client a year ago. They were couple with full of optimism, having ideal that their house will be compact, small and comfortable for them, 3 bedrooms mixed with small office for their small graphic design home atelier in 150 square meter piece of land [10 x 15 m] . That moment was the process of long architectural sketches.

IMG_1949

The design for the house consisted of several layer introducing series of weaving brick technique to provide sense of privacy in the facade which face east. I discovered that ready or customized roster would be solution for the wall. But the question was, could it be even more efficient, or could we make another solution, which was unique, which was also honest, showing masonry expression. The stacking or manipulation techniques or even I called it weaving technique was tricky because it did need to be efficient in material making and construction which means that the material need to be ready and that would not be special customized. I thought that the material would be light weight brick, the reason was simple, First, because the module was the biggest module 20 x 60 compared to red brick, and second, because it was easy to manipulate because the character was brittle. The brick was cut into 3 pieces, so we can have another module of 20 x 20, then by stacking the brick, leaving 5 cm gab we get sense of privacy leaving air circulation. The simple solution was better than using customized roster or even ready roster in term of efficiency.

The Question of Good Tropical House ? Why and What ?

September 27, 2014 § Tinggalkan komentar

Tropical house was defined by location of house which was in tropical monsoon climate. Tropical monsoon climate is a condition of area which has temperature 18 degree celcius in every month of the whole year [1]. In Indonesia, The tropical climate is classified in we tropical monsoon climate which means In some instances, up to (and sometimes in excess of) 1,000 mm of precipitation is observed per month for two or more consecutive months. By understanding the context of tropical monsoon climate, we could understand why and what good tropical house is needed, basically it’s for far more creating energy efficient, far more comfortable space for living, far more improving quality of architecture of house in tropical monsoon climate, far more improving understanding of people that by having good design, we are doing far more sustainable practice.

Then, The question is what is the intervention, or design technique which is needed for tropical house. The question brought forward the discussion of criteria, condition of what’s good and how to achieve those conditions.

[1] McKnight, Tom L; Hess, Darrel (2000). “Climate Zones and Types: The Köppen System”. Physical Geography: A Landscape Appreciation. Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall. pg. 208.

Sharing By David Hutama Critics in Architecture

September 20, 2014 § Tinggalkan komentar

My Friend, David Hutama shared his presentation about critics in architecture on 20th september in RAW studio. I’m very happy to have him to show the core of critics for evaluating architecture which will be a feedback process to create better solution, decision, especially for public building. The critics in architecture from his presentation divided by 4 general classification of way of criticizing by writing such as Critics by Historical approach, Formal approach, Ambiance[atmopherical] approach, Alignment[keberpihakan] approach [which he might not agree because in every approach there should be allignment which we should choose] the example : Jane Jacobs. lecture series - davud hutama-1 copy here is the explanation which i wrote for his presentation in RAW summer pavilion : RAW collaborated with UPH School of Design to provide long life learning process between Architects, Lecturer, fresh graduates, or even people who has interest in Architecture by establishing lecture series. The first lecture is about Working Ideas by Critics in Architecture “He has a right to criticize, who has a heart to help.” ― Abraham Lincoln David Hutama will share lecture about working Ideas by critics in architecture. There were times when architecture changed because of paradigm breakdown just by nature of human, technology and civilisation. It established by success and failure. Critic which is a Greek derivation of the word κριτής (krités), meaning a person who offers reasoned judgment or analysis, value judgment, interpretation or observation. Critic has the position to move public opinion because of his or her credibility, reputation, depth of analysis. Critics become complex because there are various skill which is needed such as history, precedents, or understanding elements of architecture which then judge one work in process creating excellence in working architecture. We invited students and fresh graduates for our mini lecture series or brown bag. It’s all about sharing working ideas by critics in architecture. It’s all discussing the possible answer of : 1) What or How is the core of critics in architecture ? 2) What is needed for preparing good critics to evaluate architecture/ design performance ? 3) What or How is the to establish opinion in architecture given by the reality ? 4) Why the critic is important ? or what is the ethic to maintain critical opinion ? David Hutama is chair department of UPH School of Design. After receiving his bachelor degree from Parahyangan University in the year 2000, he went to Toyohashi University of Technology, Japan, to pursue his master degree in History and Theory of Architecture. In 2005 he join Department of Architecture in Universitas Pelita Harapan. David was part of the steering committee team for Jakarta Architecture Biennale 2009 and Art Director for Rubber Wood Architecture Exhibition in 2010. In 2012 he worked as the curator of Place.Making Exhibition, an exhibition of Department of Architecture UPH at Dia.Lo.Gue Exhibition, Kemang. Together with Avianti Armand and Robin Hartanto co-edited ‘Home: a Studio Talk’, published by UPH Press. He was curator of Indonesia Pavilion in Venice Biennale 2014 The discussion will be held at RAW Office at 9.30 am on 20th September 2014 . The introduction will be followed by open discussion among participants. Kindly make your reservation to tatyana@raw.co.id or ilham@raw.co.id as soon as possible (seats are limited for 30 people) Thanks and see you !   visit the link here

Bali – Canggu, Uluwatu, Ubud, Denpasar Trip

September 1, 2014 § Tinggalkan komentar

I just came back from Bali, beautiful island for site visiting. Hopefully, it will be very beautiful project.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tropical Layered Home – Sun Shade

Juli 17, 2014 § Tinggalkan komentar

IMG_1053

Akar Langit

Juni 30, 2014 § Tinggalkan komentar

Teman terbaik membaca garis tangan, ia bergumam, “berat, perjalanan ke depan akanlah berat, suatu saat akan bisa mencapai mimpi tapi jalannya tidak akan mudah.” Satu saat itu adalah satu saat sore – sore di Bandung. “baiklah kalau begitu, mau bagaimana lagi.”

IMG_0970

Berpetak – petak sawah terbentang begitu indahnya lengkap dengan arsitektur rumah – rumah yang terbuat dari bata. Sekelebat siluet semak semak itu berlalu dalam perjalanan ke Pekalongan sebegitu cepatnya, suara derap kereta terdengar jelas dengan pintu yang terbuka dan tertutup dengan hilir mudik orang yang lalu lalang dalam perjalanan kali ini. Badan ini terasa penat sekali, capai dengan perjalanan kemarin  yang baru dilakukan ke daerah Bedugul, Bali. Ritual bangun pagi – pagi  dan tidur malam – malam  seakan – akan menjadi makanan sehari – hari setelah beberapa tahun berpraktek di ibukota ini. “Semua tindakan yang dilakukan dengan hati, pasti akan menghasilkan.” satu teman terbaikku mengingatkan lagi diri ini satu saat ketika rasa capai ini menerpa. Teringat beberapa saat yang lalu, satu persimpangan pernah ada dahulu per satu tahun pengalaman, per dua tahun pengalaman dan kini di tiga tahun pengalaman, dalam hampir satu dekade pengalaman persimpangan itu datang kembali.

Pertanyaannya selalu untuk apa ? untuk siapa ? berjuang, berkarir dalam hidup ini. Apakah untuk hidup yang lebih baik ? Apabila dikaitkan ke jawaban yang terjujur, tentu saja iya seperti itu yang terjadi.

Selama 2 tahun dari 25 september 2012, kami masih berdua, belum juga dikaruniai anak, meski istri sudah sempat mengandung beberapa kali, namun kesempatan untuk mendapatkan buah hati belum terbuka jalannya. Ada yang bilang, mungkin itu karena diri ini yang terlalu capai bekerja ataupun karena Toxoplasma yang titernya masih positif, ataupun kelainan darah yang ada ataupun mungkin saja memang belum jodohnya kami mendapatkan momongan.

Dalam setiap perjalanan hidup, diri ini berpikir bahwa setiap orang memiliki garis tangannya garis kegembiraan dan garis kesedihan. Di balik sepinya hari – hari tanpa kehadiran anak yang kami dambakan, masih saja ada keramaian yang ditimbulkan dari keluarga, adik – adik firma ataupun klinik yang dijalani setiap hari dengan pasien yang datang dan pergi. Lambat laun janji pun diucapkan bahwa akan punya banyak anak, banyak orang yang bisa diperhatikan, tua dan muda, dengan keunikannya masing – masing. Hidup yang sebentar ini di dunia terlalu sedikit untuk bisa disia – siakan. Uban ini mulai nampak, perut ini mulai membesar, dan lalupun Chairil Anwar kemudian menyahuti, ingin hidup seribu tahun lagi.

Pengabdian pada semesta, satu kalimat itu berarti menyingkirkan kemauan, nafsu, keinginan diri pribadi untuk kepentingan yang lebih luas. Memberikan hidup kepada semesta berarti bersiap untuk memberikan waktu terutama untuk orang lain. Asalkan masih bisa hidup kita sudah perlu bersyukur, mungkin itulah arti mengakar, memiliki tujuan dalam berbuat. Satu persimpangan ini, seakan – akan membuat satu batas yang jelas, antara diri dan orang lain. Dari sejuta inspirasi yang diberikan oleh Pak Tata Soemardi akan keinginannya untuk membagikan waktu terhadap anak – anak didiknya, saya mendapatkan contoh. Untuk itulah generasi selanjutnya harus bisa berbuat lebih baik lagi. Dari setiap kesempatan yang ada, pecahkan, dan raih kesempatan itu.

Langit ini pun membiru, menjanjikan satu impian, memperlihatkan satu batas yang sebenarnya tidak berbatas. Hanya persepsi manusia yang bisa menghentikan. Setelah mengabdi pada semesta, kemudian apa ? Semesta itu tidak berbatas, Tuhan pun tidak berbatas, ini adalah satu perjalanan penuh dosa untuk mencari Tuhan yang dimana dia, apakah ada di titik suka cita atau kah titik duka cita. Namun mungkin Tuhan sudah menyediakan jalan untuk kita jalani, dengan usaha kita masing – masing, garis tangan kita masing – masing. Kalaupun memang garis tangan itu sedemikian beratnya, saatnya kita jalani dengan puji syukur. Melihat dua puluh orang dari segala penjuru tanah air dan luar negeri untuk ikut belajar , merasakan keceriaan, kebahagiaan, merasakan kehidupan. Mungkin semesta akan menjawab dengan segala kemungkinan yang baru, sebuah pengabdian untuk yang muda.

Semoga hidup akan semakin baik untuk dijalani, mengabdi kepada semesta sehingga mungkin permintaan Laurensia bisa terjawab yang membuat diri ini menangis dalam ritual bangun pagi dan tidur malam. Laurensia berkata “Ya Tuhan, kalau boleh pinjamkan satu saja malaikat pembawa kebahagiaanmu, tidak banyak – banyak, untuk menemani hidup kami berdua.” Bibir pun tersenyum simpul, dan percaya bahwa suatu saat nanti akan tibadan kemudian bersyukur untuk bisa mendapatkan istri terbaik di dunia. Terima kasih Tuhan.

Harapan

Juni 6, 2014 § Tinggalkan komentar

Ya Tuhan. jangan berikan cobaan yang lebih berat dari apa yang bisa diterima untuk keluarga kecilku. Semoga semua apa yang kulakukan di dunia ini bisa memberikan kebahagiaan untuk orang – orang, terutama untuk orang yang disayangi.

 

Titik Baru

April 1, 2014 § Tinggalkan komentar

Satu adik saya memberikan gambar dan memberikan sebuah buku. Ia menggambar muka ini di atas kertas, saya tersenyum melihatnya, mirip gambarnya dengan alis yang tebal, rambut yang pendek, kacamata, hidung, mulut.   Ia orang yang pendiam, jarang berbicara lantang. Namun ia selalu berusaha menemukan hal yang terbaik dalam setiap momentum hidupnya untuk menjadi orang yang lebih baik. Baru senin kemarin diri ini mengumumkan bahwa sudah tidak ada acara perpisahan lagi karena sejujurnya, diri ini sudah tidak sanggup untuk bersedih setiap ada yang keluar dari kantor untuk bersekolah ataupun melanjutkan petualangannya di dunia ini. Bagi saya, semua yang berkerja bersama adalah keluarga saya sendiri, siapapun dia, apapun latar belakangnya.

IMG_0002ia menulis pesan yang membuat diri ini larut dalam kesedihan, membuat diri ini menyadari kembali rantai waktu bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan.IMG_0003

Screen Shot 2014-07-11 at 3.38.50 PM

IMG_0004

Tetesan air mata mengalir, kesedihan datang tak disangka – sangka, Saya akan kehilangan, kehilangan pribadinya, kehilangan kehadirannya, kehilangan keceriaannya, namun saya yakin awan kebahagiaan akan muncul dimana masa depan yang cerah untuk adik saya ini akan selalu saya doakan, semua akan berjalan lebih baik. Setiap rentang waktu memiliki catatan perjalanannya sendiri.  Orang pergi, dan kemudian orang datang, meninggalkan memorinya, catatannya, saat-saatnya sendiri. Tidak banyak orang yang bisa meninggalkan kenangan yang mendalam di perjalanannya namun Adik saya ini sungguh memberikan kenangan yang manis dalam perjalanannya, dan saya benar – benar bersyukur untuk itu, dan semoga kita bisa bertemu lagi, dalam rantai waktu ketika yang ada. Terima kasih Raras.

Empati

Maret 16, 2014 § Tinggalkan komentar

Jakarta 16 Maret 2014

“Someone secretly bury a berry in the side road and when a small sprout grows, the secret code is the passport, to the forest a wonderful journey will begin – Joe Hisaishi”

DSCN0716

Di awal tahun 2014 di bumi pertiwi ini, mengenai arsitektur, dunia yang semakin hiruk pikuk, responsif, dinamis dengan informasi yang begitu banyaknya membuat diri ini berpikir apakah diskursus yang terjadi dalam hati yang pribadi, tempat perenungan untuk berbuat, mendesain masih terjadi dengan dalam atau sungguh – sungguh sekarang ini, di masa yang serba cepat ini ? Loncatan – loncatan inovasi arsitektur menjadi suatu gerakan politis dimana kedalamannya dipertanyakan sehingga kejujuran pun lebih lebih lagi dicari – cari begitu gencarnya dengan provokasi yang gencar di berbagai media informasi. Lucunya ada yang menjawabnya dengan pertanyaan retoris yang menimbulkan kesan sinis, kurang berempati dengan generalisasi berlebihan, juga penuh alasan sebab akibat. Saya pikir hal tersebut tidak akan menimbulkan empati yang mendalam dari manusia lain, namun ironilah yang muncul akibat salah membaca pesan ataupun menyesatkan logika. Saya pun ingin ikut menuangkan pendapat.

Kita sebagai arsitek perlu berbuat inovasi terhadap disiplin ilmu kita yang terdiri dari berbagai macam olah ruang, olah rasa. Olah ruang ini tidaklah seseksi gerakan politis, atau ideologi berlebihan seperti yang dicari oleh orang – orang filsuf, namun akan memberikan kenyamanan pada pengguna, berfokuslah kepada klien anda, apa kebutuhannya, luangkan waktu untuk merenungkannya dan jawablah, renungkanlah lagi, dan jujurlah pada diri sendiri. Arsitek adalah profesi yang melayani dengan empati. Dari situlah ia akan dihargai dengan dasarnya yang kuat, fondasinya yang matang seperti bangunan yang kuat diterpa kemajuan jaman dengan kepiawaian yang teruji [sense of mastery].

Perumusan teori mengenai kebutuhan manusia ini sudah bertumpuk banyaknya, hanya saja solusi yang kreatif dari arsitek untuk memecahkan masalah kebutuhan ini yang ditunggu tunggu dengan berbagai kompleksitas bangunan yang dirancang dengan isu – isu pemakaian bangunan dengan performa yang sebaik – baiknya. Kultur budaya manusia ini akan berubah lebih baik ketika olah ruang memang memiliki maksud yang baik, memiliki nilai guna, memiliki inovasi yang mencerahkan dengan kebolehan desain yang lebih baik dari masa sebelumnya. Dan semoga saja bentuknya seksi dan mengundang decak kagum sesama kita, disinilah olah rasa itu mulai muncul, rasa yang disukai sesama, terkadang rasa itu bisa angkuh, sombong, ataupun rendah hati ataupun sederhana, itu adalah hasil proses panjang berpraktek, dan itu sah – sah saja ditengah anggapan miring orang lain yang terkadang merupakan gerakan politis yang berdasarkan emosi tanpa empati. Sehingga yang muncul adalah cita rasa yang otentik [Authenticity] dari pribadi arsitek itu sendiri.

Ketika kepiawaian itu sudah teruji kemudian pembuktian empati ini pada dasarnya adalah pembuktian untuk membuka diri terhadap etika yang terdalam dari pribadi arsitek. Yang kalau – kalau pembacaan arsitek ini sudah sedemikian dalam, dicaplah ia sebagai sang radikal ataupun sang konservatif secara sendirinya, pembawa angin perubahan dan ketentraman arsitektur yang lebih baik.

Lalu lambat laun mungkin profesi arsitek akan semakin dihargai dengan sendirinya sebagai salah satu penentu peradaban jaman.

Keyakinan, empati yang lebih luas

Di tengah – tengah gerakan politis diatas. Saya mempertanyakan keyakinan yang semu ? Satu saat diri ini bertemu satu kawan lama, untuk mengingat masa – masa lalu, bahwa manusia itu berubah. Ada satu orang teman yang sudah berubah keyakinannya akan jaman yang sudah berubah, ada juga teman yang sudah semakin matang dengan kehidupannya dan keyakinan hidupnya. Mengenai keyakinan, diri ini sendiri masih mencari arti kehidupan yang hakiki tanpa menghakimi, yang terbaik yang bisa diberikan untuk sesama ini. Diri ini tidak pernah sekalipun berkata diri ini seorang katolik, ataupun katolik yang pernah membantu jemaat kristen untuk melakukan perjamuan, ataupun membantu panti asuhan muslim yang membutuhkan, ataupun membantu teman – teman Budha ataupun Hindu. Keyakinan itu ada untuk memperbaiki kehidupan manusia, namun relativitas yang ada inilah yang membuat pemahaman dan persepsi setiap orang tidak sama. Banyak juga pribadi – pribadi yang memanfaatkan agama demi dirinya sendiri.

Diri ini dibesarkan di universitas yang majemuk, plural, dengan romantisme kegiatan berhimpun yang heterogen dengan keyakinan, ideologi, pemikiran yang berbeda – beda. Namun saya ingat orang – orang yang didalamnya adalah para pemimpi yang ideal, mendambakan hidup bersama yang lebih baik. Dalam canda, senda gurau, justru saya menemukan cinta kasih, Tuhan itu di dalam diri teman – teman yang muslim, Adalah Adi namanya, Xenia namanya, ataupun Yulia namanya, ketiga orang berjilbab  ditambah teman – teman lain yang musim yang teguh untuk melakukan sholat 5 waktu juga mengajarkan arti persaudaraan yang tulus dan begitu dalam membekas, dalam teman – teman kristen yang tulus melakukan perjamuan ketika jumlah mereka hanya kurang dari 7 orang saja mengajarkan semangat tulus memuji Tuhan, ataupun teman – teman Hindu yang teguh setiap pagi berangkat ke pura untuk berdoa dan mendoakan semesta yang lebih baik sebelum memulai pekerjaan mereka, ataupun cinta kasih tulus tanpa pamrih yang ditujukan oleh orang – orang budha dengan merawat viharanya dan menahan dirinya. Mereka mengajarkan perbuatan cinta kasih yang tulus untuk sesama.

Saya mendoakan selalu teman – teman masa lalu – masa depan, teman – teman terkasih untuk bisa teguh menyebarkan tindakan cinta kasih kepada sesama.

derich

 

2013 menuju 2014

Januari 1, 2014 § Tinggalkan komentar

01 January 2014 “A new year is unfolding–like a blossom with petals curled tightly concealing the beauty within. 
- Unknown”

Roseto - Big Family

Roseto – Big Family

2014 sudah akan menampakkan wujudnya, 2013 sudah akan menjadi masa lalu. Lalu apa yang akan terjadi di rentang waktu yang ada dimana masa depan akan muncul tanpa diminta. Waktu memang menjadi satu hal yang paling berharga dimana orang – orang akan berjuang untuk mendapatkan waktunya sendiri, meminta waktu untuk dirinya, emosinya, harga dirinya yang menanti untuk dituangkan dalam catatan sehari – hari.

Mengenai masa depan, kita tidak akan pernah tahu. Terkadang diri ini juga tidak pasti mengenai masa depan. Malam tahun baru ini dihabiskan untuk menikmati waktu bersama keluarga, kami tidak pergi kemana – mana, hanya di ibu kota Jakarta ini, Laurensia membantu sehari – harinya di liburan ini untuk menyelesaikan pekerjaan – pekerjaan administrasi yang belum selesai, sementara diri ini meluangkan waktu untuk menata, membereskan kantor, membereskan komputer – komputer kantor, server, ya singkatnya bersih – bersih. Pernah ada satu orang bertanya, “kenapa sih ngga pakai office boy, atau IT kantor ?” Diri ini juga berpikir mungkin ada baiknya ide tersebut, mungkin sebabnya karena belum ada orang saja yang melamar, atau diri ini berpikir kantor arsitek saya ini masih kecil, hanya berisi 15 orang saja dengan 7 orang anak – anak magang yang datang dan pergi. Beruntung kantor sekarang sudah memiliki sopir dan tenaga administrasi sekarang yang sudah sedemikian baiknya membantu urusan ini. Mungkin diri ini masih berpikir secara tradisional bahwa membersihkan meja kantor adalah tugas kita sendiri, juga meja – meja lain yang masih kotor cuma dibutuhkan 2 tangan, 2 kaki, 1 kepala untuk mengambil ember, lap dan kemudian bersih – bersih. Diri ini percaya semua hal – hal besar dimulai dari hal yang sederhana, 2 tangan , 2 kaki, dan 1 kepala.  Kamipun masih bisa tertawa waktu ditanya “Kalian ngga kemana – mana liburan ?” ini saat – saat yang kritis, jawab kami. Dari Laurensia diri ini belajar untuk hidup sederhana, kami masih bukan apa – apa.

Di 2013  diri ini bersyukur untuk mendapatkan dukungan yang semakin dalam dari Laurensia, istri yang terbaik. Setiap langkah dan nafas  menjadi ringan dengan naik dan turunnya hidup. Ia membantu diri ini untuk menjalankan kehidupan sehari – hari, menyiapkan makan pagi, makan siang bersama, dan kemudian makan malam. Ia juga mengingatkan saat – saat penting dimana harus beristirahat, berdoa, ataupun sampai hal – hal yang sederhana seperti jangan mandi terlalu malam. Sama seperti ketika diri ini terkapar tidak berdaya karena kecapaian bekerja di perpindahan tahun baru kemarin. Dunia luar terkadang penuh hingar bingar sehingga menyilaukan mata, dunia yang kita jalani sehari – hari ini yang membentuk cerita hidup ini seutuhnya, dunia yang penuh dukungan orang- orang yang tersayang.

Arsitektur dengan dimensinya yang terukur, memiliki rasa yang penting dalam pengalaman sekuensial yang dialami penggunanya. Pengalaman ini adalah satu usaha untuk menikmati ruang yang kompleks, indah dengan cahaya, suara alam, dan berguna sesuai hakikinya. Satu karya lansekap di kota Singa itu ada begitu indahnya, suatu nuansa lansekap dari berbagai belahan dunia, kumpulan koleksi yang ada untuk dinikmati di daerah tropis. Ini tidaklah mungkin tanpa solusi radiant cooling sebagai pendingin ruangan dimana jarak atap ke lantai yang begitu tinggi. Disini teknologi dan integrasi dengan disiplin lain menjadi satu kelebihan. Arsitektur itu muncul dari pertanyaan – pertanyaan mengenai bagaimana mencipta ruang yang lebih baik untuk penggunanya, dan lebih tinggi lagi lebih baik untuk alamnya. Mungkin semua dimulai dari pertanyaan apakah bisa lebih baik daripada masa kini.

Teman terbaikku pernah berpesan tidak perlu takut jangan pernah takut jatuh, orang yang takut jatuh adalah orang yang ada di atas. Orang yang ada dibawah adalah orang yang paling bahagia, ia selalu menatap ke atas. Diri ini merasakan hangatnya tanah kemudian menengok ke atas, langit itu begitu biru, 2014 sudah datang.

“Yang kamu sudah baikan hari ini ?” Laurensia bertanya, diri ini menjawab “sudah, terima kasih ya sayang, Happy New Year.”

withSweetheart4_resize past

#2 Etika

Maret 25, 2013 § 3 Komentar

130301 Jakarta “How well you live comes down to how much you love. The heart is wiser than the head. Trust it. Follow it
table

Satu teman berkata,”In order to succeed you have to kill your father.”

kemudian sambungnya lagi  “termasuk juga hal itu terjadi anak saya, ia selalu membantah saya, kita tidak cocok, selalu tidak sejalan dengan saya, anak saya adalah seorang pengacara”, ia sampai berkata, “ayo tanya apa yang saya tidak tahu.” anak itu kasar dan kami selalu berargumentasi untuk saling mengalahkan, untuk menentukan siapa yang benar – siapa yang nomor satu. Ini masalah antar ayah-anak.

Betapa kompetitifnya hidup orang ini ? Kompetisi memang mewarnai hidup kita, namun apakah harus sekeras itu ? atau apakah itu jalan yang terbaik menjalaninya ? Mungkin bagaimana generativitas atau cara pandang yang positif perlu direnungi, Post dan Neimark menulis “Beri ia ikan dan ia akan makan hari ini; ajari orang itu menangkap ikan dan dia akan makan seumur hidup.” Saat kita merawat orang lain agar hidup mereka berkembang dalam berbagai cara yang misterius dan tidak terduga, kita menyampaikan cinta kasih. Cinta kasih mungkin salah satu hal yang dilupakan di atas, seharusnya pandangan – pandangan di atas tersebut tidak perlu terjadi. Hari itu  sore – sore, satu teman menelpon menelepon, “Pak, kok project kita sudah ada di internet ya, berbeda dengan yang kita obrolkan, padahal kita belum publish project ini, mohon ini dilihat ya.” kemudian Diri ini  mengkontak beberapa orang yang merupakan alumni dan relasi – relasi kantor untuk melihat hal ini, dan meminta mereka untuk membantu menyelesaikan hal ini. Ternyata Ada satu orang menyebarkan informasi tersebut dalam website pribadinya, tanpa ijin. Diri ini terus terang terhenyak dengan hal ini dan tersadar bahwa internet adalah sebuah medan informasi yang tanpa batas, dimana juga terdapat nilai – nilai apa yang bisa dilakukan apa yang tidak bisa dilakukan.

Saya berpikir dengan seluruh kecepatan informasi yang ada, kita perlu berhati – hati dalam menghargai sesama, etika perlu dibangun di masa yang serba cepat ini. Social media, Facebook, Twitter, WordPress, dsb. Dengan segala kecepatan informasi yang ditawarkan sebenarnya merupakan satu ruang bersama, sebuah rumah – rumah yang adakalanya ia diijinkan untuk masuk dan adakalanya juga ia tidak diijinkan untuk masuk. Disini ruang publik diibaratkan  seperti sebuah persimpangan jalan yang dilalui orang – orang dengan billboard besar di samping – sampingnya. Informasi yang ditawarkan tentu banyak orang yang membaca di bill board tersebut. Masalahnya adalah sering orang tidak menyadari ini. Bahwa social media adalah ruang publik yang juga memiliki etika penyampaian informasi. Dalam ruang publik ini pun kita memiliki tanggung jawab.

“Facebook’s News Feed an Epic Fail ? Former employee Katherine Losse : The day we launched News Feed felt, without exaggeration, like a minor Vietnam… Email after email of the thousands we received that day told graphically of the betrayal and evisceration the users felt… Technology is the perfect alibi. Facebook doesn’t hurt people : people hurt people . This is true. But as Facebook makes it possible to do things faster, more efficiently, more cheaply, it makes it possible to hurt people faster, more efficiently, with less cost to themselves. It removes any sense of direct responsibility for our behavior, for how what we do makes others feel. With Facebook, you can act and be seen acting without ever having to look anyone who is watching you in the eye, or look at them at all. The boys Kings, 2012 [taken from Billionaire Boy, Mark Zuckerberg in his own words, ‘Hacker. Dropout. CEO’]

Melihat satu kejadian ini kebelakang, berpikir mengenai hubungan antar-manusia bahwa seseorang yang berkerja secara penuh waktu di dalam  satu ikatan kerja, adalah pribadi yang belajar dan berkerja dengan permintaan, ia berkerja dalam satu tim besar dan kecil yang terikat dengan norma – norma yang terdapat didalamnya. Ia juga terikat dengan nilai untuk menjaga nama baik, kelanggengan hubungan dengan etika terbaik untuk membina hubungan yang selama – lamanya.  Adapun terkait dengan hal – hal norma – norma, perlu meminta ijin untuk menampilkan dalam ruang publik. Diri ini pun bersikap demikin dengan seluruh orang tempat diri ini mengikat hubungan perkerjaan dengan atasan juga dengan bawahan, orang – orang yang memberikan kepercayaan dan dengan rekan sejawat.

“Etika adalah seni memperhatikan hak – hak dan perasaan orang lain,… pengorbanan yang kita lakukan demi hidup bersama, demi perjalanan kita bersama orang lain, dan dari cinta dan respek akan konsep bahwa memang ada orang lain. “Stephen Post, dan Jill Neimark.

Pikiran ini melayang mengenai hubungan manusia dengan manusia, Dulu harus mempersiapkan presentasi untuk acara lomba desain sekitar 9 tahun yang lalu, sesaat sebelum wisuda. Ingat bagaimana belajar memakai dasi, memakai lengan panjang, meminjam sabuk kepunyaan bapak. Ingat bagaimana juri berkata, “Melihat penampilan kamu, saya jadi pingin muntah, seperti professor, .” Generalisasi pun terjadi, Diri ini hanya terdiam, tersenyum, dan kemudian mencoba mempresentasikan karya sebaik mungkin. Diri ini ingat bagaimana bertemu kembali dengan juri tersebut, kemudian berbincang – bincang, setelah kita mengenal lebih dalam, rasa suka bertambah, dan rasa tidak suka pun berkurang. Diri ini pun merasa dekat dengan juri tersebut. Tidak ada ketidakcocokan apabila kita bisa berkomunikasi dengan baik. Merasa dekat, berbicara dengan tulus, dan berkomunikasi selayaknya keluarga.

Diri ini juga teringat akan satu film yang disukai, “Forest Gump”. Forest Gump adalah seorang  pekerja keras namun memiliki etika yang tinggi dalam kehidupannya, sikapnya terhadap keluarga dan teman – teman yang dicintainya. Ia berkerja keras untuk itu dan akhirnya mendapatkan apa yang ia inginkan, cinta, keyakinan, kemudian menjaganya sepenuh hati. Diri ini pun merenungi arti dalam menjalani hidup ini. 

 satu teman terbaik bercerita mengenai keadaan di kantornya, salah satu kantor terbaik. Bagaimana wakilnya di kantor cabang mengerjakan pekerjaan – pekerjaan pribadi mereka menggunakan fasilitas kantor tanpa sepengetahuannya, kemudian memiliki proyek bayangan, proyek ilegal,  kemudian terciptalah sistem kantor di dalam kantor tanpa sepengetahuan dengan staff – staff kantor berkerja untuk wakil kantor tersebut. Diri ini berpikir bagaimana itu bisa terjadi ? Kabar ini tercium ke relasi – relasi terdekatnya, teman – teman seprofesi, dan sahabat yang terkadang merangkap sebagai klien, sementara kita membantu mengingatkan sahabatku supaya hal – hal baik yang terjadi dalam ketidakpedulian pihak – pihak lain pada etika.

Di satu saat satu teman terbaik berkata  bahwa dalam hidup ini untuk kaya ada 3 hal. Menjadi Kaya, kaya yang pertama, adalah kaya akan relasi,tidak boleh sombong.  kaya yang kedua adalah kaya akan ilmu pengetahuan, tidak boleh berhenti belajar, yang ketiga kaya akan iman, terus berdoa dan bersyukur akan nikmat karunia yang diberikan. Intensi dari membangun etika adalah membangun ketiga kekayaan ini. Kaya relasi, kaya pengetahuan, dan kaya akan niat baik. Seketika diri ini ingat,

Pelajaran mengenai etika  tidak disangka – sangka muncul ketika berkunjung ke Shirakawa Go, satu perkampungan tradisional Jepang untuk menginap disana untuk satu malam. Diri ini ingat waktu itu salju turun, dan koper ini pun sudah tidak bisa ditarik lagi, rodanya membeku. Kita berjalan setengah kilometer untuk ke Ryokan, satu penginapan tradisional. Saat itu suhu udara sudah minus dibawah o derajat celcius. Diri ini ingat bagaimana kekhawatiran akan istri, kondisinya yang sedang mengandung. Satu hal yang membuat diri ini merasa bersalah membuatnya berjalan capai. :(

Kami sudah ditunggu pemilik rumah, dipersilahkan masuk, diberikan handuk, kemudian dipertunjukkan letak kamar tidur kami. Rumah itu berisi tiga kamar tidur, kebetulan 2 kamar tidur lainnya diisi oleh 2 keluarga Jepang. Diri ini ingat gendang di perut sudah mulai ditabuh, sembari kami menghangatkan badan, kami menunggu makan malam. Saat – saat yang ditunggu – tunggu adalah makan malam, perut kami yang sudah lapar. Kami disuguhi hidangan Kaiseki, hidangan satu set menu khas Jepang. Ada satu orang di keluarga Jepang di sebelah meja kami membantu kami, karena kami tidak mengerti bagaimana cara makan hidangan ini, sang anak membantu menghidangkan teh kepada Laurensia, dan diri ini, Kemudian sang anak menghidangkan teh tersebut ke ayahnya sendiri, dan ia meletakkan poci tersebut. Kemudian Giliran ayahnya, menuangkan teh untuk anaknya. Kejadian itu berlangsung berulang – ulang pada keluarga yang lain, mereka saling menuangkan teh untuk yang lain begitu gelasnya kosong, namun tidak untuk mereka sendiri.

Diri ini bertanya – tanya kenapa sang anak tidak mengambil untuk dirinya sendiri ? … begitu diajarkan mengenai tata cara makan malam, dalam budaya Jepang. Ternyata  cara kita makan, menghindari untuk mengambil minuman kita sendiri adalah filosofi bagaimana kita bisa mementingkan kepentingan orang lain, selain diri kita sendiri, hidangkan untuk orang lain lalu letakkan, biarkan orang lain yang menghidangkan untuk kita. Cara makan ini mengajarkan kita mengenai filosofi “respecting others” menghargai orang lain. 

“The Japanese consider it an important part of hospitality to keep their guest’ glasses full, bu it is thought to be impolite to fill your own. Instead, you must wait for others to notice that your glass is empty so they can fill it for you.” Ayame

Diri ini juga berpikir mengenai tradisi timur, tradisi orang Indonesia, Jawa, yang memulai kebiasaan dengan memanggil nama “ayah makan, ibu makan, kakak makan.” bahwa mungkin etika adalah satu aspek yang sangat penting dalam kita bersikap, mewarnai hidup  kita dengan sesama.

Satu kalimat dari Julian dalam suratnya kepada Jonathan dalam buku yang ditulis Robin sharma, The monk who sold his ferrari,  dalam satu perenungan panjang dalam perhentian 3 bulan ini untuk mengajarkan diri ini untuk lebih bertanggung jawab, lebih beretika,

Live with kindness… how we treat someone defines how we treat everyone, including ourselves. If we disrespect another , we disrespect ourselves. If we are mistrusful of others, we are distrustful of ourselves… with every person we engage in everything we do, we must be kinder than expected, more generous than anticipated, more positive than we thought possible. Every moment in front of another human being is an opportunity to express our highest values and to influence some one with our humanity. We can make the world better, one person at a time. :) 

Puji Tuhan semoga kita semua mendapatkan kesempatan untuk belajar lebih banyak lagi. Terima kasih Tuhan :) Semoga hidup akan semakin baik untuk kita jalani.

 

Batu itu namanya Bernie

Maret 13, 2013 § Tinggalkan komentar

130312 , “Go as far as you can see. When you get there you’ll be able to see farther.”- Thomas Carlyle

20130312-214027.jpg

Bali, Kerobokan. Hari ini terik, Mataku perih, sudah beberapa hari ini, diri ini tidur larut malam. Setiap minggu juga diri ini berpergian untuk melihat pekerjaan yang ada di Jakarta ataupun di Luar pulau Jawa. Diri ini baru saja pulang dari Bali untuk mengecek satu pekerjaan di daerah Bali utara, di daerah Kerobokan bersama Edhie. Laurensia ikut menemani dalam perjalanan yang cukup panjang 3 jam dari kota Denpasar.

Hari ini hari sabtu. diri ini Mataku ingin terpejam, untuk beristirahat lebih lama, diri ini ingat ada pekerjaan yang harus dikirim hari ini diriku bergumam dalam hati, setelah itu aku bisa tidur dengan nyenyak. Seluruh kerja keras di minggu – minggu kemarin dipusatkan pada minggu ini. Aku kemudian berpikir, ya mungkin kerja keras ini bisa berbuah dengan baik. Diri ini terbayang pantai yang indah di belakang halaman kami, dan apabila beruntung kami bisa ke daerah Ubud dengan jajaran galeri – galeri seninya yang menanti untuk dijelajahi.

20130312-215512.jpg

“…Bali is one of the few cultures with origins in one of the great ancient cultures which is still alive.” Arthur Erickson

Diri ini ingat Bali dengan segala kepercayaan yang dianutnya,  filosofi hidupnya, dan simbolisme yang ditunjukan dalam keseharian orang – orang di dalamnya. Setiap pagi orang Bali yang beragama Hindu, memulai harinya dengan berdoa, meletakkan persembahan kepada semesta, untuk menghargai alam semesta ini, sewaktu siang berdoa kembali, dan menutup hari juga dengan berdoa. Diri ini berpikir diri ini belajar banyak sekali dari tradisi ini setiap harinya. Sama seperti simbol patung kura – kura yang diri ini bawa dari Bali yang berarti menghargai orang yang lebih tua sebagai filosofi dari menjalani hidup ini sepenuhnya.

Diri ini berpikir mengenai apa saja yang sudah terjadi belakangan ini, banyak tawaran muncul untuk mengembangkan diri sebaik – baiknya, sebesar – besarnya. Namun diri ini merenung dan berkaca, sebesar apa sebaiknya kita tumbuh. Dan seberapa cepat kita tumbuh. Diri ini pikir ini membutuhkan proses, tidak instan, namun orang tidak pernah tahu seberapa cepatnya kita perlu tumbuh, pertanyaan berikutnya, lalu bagaimana ?

“Jadilah pohon yang rindang”, kata om William, yang buahnya lezat bisa dinikmati siapapun.  “untuk ke bintang kamu harus mengalami kerja keras yang luar biasa dan juga menjadi pohon yang memiliki tajuk yang lebar.”

Diri ini kemudian merenungi bahwa perbuatan kita sehari – hari adalah memberikan buah untuk orang lain. Buah untuk istri, untuk keluarga, buah untuk teman – teman terbaik yang sudah atau belum kita kenal sekalipun. Diri ini ingat bahkan di usianya yang sudah senja. 90 tahun,  Tante Lily, istri almarhum om William masih menyempatkan diri untuk datang di pernikahan kami, katanya opa Laurensia adalah teman sepermainan beliau. Diri ini belajar dari cara beliau menghargai sesama, baginya hubungan itu penting sekali, hubungan yang tulus, dengan niat yang tulus. Bukan hubungan atas dasar untung rugi belaka. Diri ini mendapatkan satu mentor terbaik untuk menjalani hidup. Bagaimana menjalani hidup yang tumbuh perlahan – lahan.

20130312-213901.jpg

 

akanaka3

IMG_1237

IMG_1242

“Only one who devotes himself to a cause with his whole strength and soul can be a true master. For this reason mastery demands all of a person.” Albert Einstein

Diri ini berkata pada satu teman terbaikku, Pak seorang arsitek akan mumpuni di umur 50 tahun mungkin, dengan segala pengetahuan yang dia miliki. “Apa artinya waktu, ingat Rich, selalu berikan yang terbaik.” Diri ini kemudian teringat pada ikat kepala yang diri ini selalu terikat di tas yang biasa kubawa – bawa setiap hari, dulu diri ini memanggul pagoda pertanda musim panen bersama teman – teman di Jepang, ikat kepala itu sebagai penanda semangat yang tiada pernah padam. Kami memanggul pagoda itu bersama – sama, ada 20 orang sampai 30 orang. Diri ini tertawa mengingat peristiwa itu. Mungkin Tuhan punya rencananya sendiri untuk kita semua.

Pelajaran terbaik pun datang tidak disangka – sangka justru dari teman terbaikku, Edhie. Saya punya hadiah untuk kamu, ia berujar, ia mengeluarkan satu buah batu, dengan cat warna – warni, batu itu memiliki mata, hidung, mulut, dan baju.

bernie

Ini hasil dari lukisan anak – anak cacat, ayah dari Danny yang memiliki yayasan anak – anak ini. Ibaratnya apabila dibiarkan batu itu seperti semula, ia tidak berarti. Apabila ia di cat, dihias, memiliki makna ia akan berarti, sama seperti batu ini. Diri ini berpikir kita dalam hidup ini, menjalani, hidup yang terbaik, berikan yang terbaik, pada akhirnya semua yang kita lakukan ini bukanlah untuk diri kita, namun untuk sesama. Hal ini akan menjadi mulia, apa adanya. Batu ini diri ini namakan Bernie, penanda bagaimana kita bisa berbagi kepada sesama dengan sebaik – baiknya.

Lucunya hari demi hari, diri ini selalu membawa batu ini kemana – mana, seperti kemarin diri ini dihentikan di airport, karena membawa sebuah batu, “Pak disini dilarang membawa batu.” Diri ini pun tersenyum, ia pun keheranan melihat Bernie, Kemudian setelah dijelaskan apa arti batu ini kemudian petugas bandara pun mengerti. “lain kali batunya  dimasukkan koper ya pak.” petugas itu pun tersenyum. Memang kasih yang tulus, membuat dunia ini jauh lebih berarti, melalui hal yang sangat sederhana.

Diri ini pun menutup tulisan ini dengan puji syukur akan pelajaran yang terbaik di perempatan tahun 2013 ini. Semoga banyak hal semakin baik terjadi, yang terjadi, terjadilah.

“Love is the essence of life; love touches all of our relationship even with stranger. Love never leaves us. It clings to people who believe, and to those who don’t”

Cerita di tahun keenam. Pelajaran sesungguhnya

Januari 1, 2013 § 5 Komentar

130120 “Trust in dreams, for in them is hidden the gate to eternity, Khalil Gibran ” 

IMG_2426

Bandung, Diri ini merenung sejenak. Tahun ini, tahun yang penuh kebahagiaan, sekaligus menyimpan cerita kesedihannya. Malam itu serasa sendu,sunyi, sepi. Wanita terbaikku sudah tidur di sampingku, dan pikiran ini terbang melayang untuk memaknai apa yang sudah ada sekarang di tahun 2012 ini …

Ada rasa ketidakpastian dalam karir selama 1 tahun terakhir ini, ketidak pastian dalam masa depan, dengan sejuta alasannya. Masih belia, masih muda, ketidak pastian antar-rentang usia. Rantai ketika sedang berputar dalam ketidakpastiannya. Hal – hal yang penuh ketidakpastian terus terjadi, bagaimana sulitnya mengatur kantor yang terkadang masih balita perlu perhatian untuk mencapai kualitas terbaik, bagaimana belajar untuk menerima hasil kerja keras yang sudah dilakukan, hilang begitu saja, dan juga bagaimana meniti, membuat mimpi kita menjadi kenyataan, tidak semudah yang dikira. Diri ini berpikir inilah harga yang harus dibayar untuk sebuah proses menjadi. Untuk menjadi yang terbaik, kita hanya perlu melakukan yang lebih baik, satu persatu. Kata teman terbaikku, semua kerja keras dimulai dari titik, ia ada untuk menjadi garis, sehingga mimpi itu bisa menjadi nyata.

Mengenai hidup bersama, diri ini sudah menikah dengan Laurensia selama 1 tahun, sejak September yang lalu. Dan kami merayakan ulang tahun pernikahan kami yang pertama dengan makan malam sederhana. Kami sendiri bisa makan segala sesuatunya, tidak rewel, dan kehidupan rumah tangga dilakukan dengan biasa – biasa saja. Kesibukkan Laurensia masih sama, masih berpraktek dari sore sampai jam 21.00 , baru pulang jam 21.30, baru kami makan malam. Terkadang ia pergi pagi apabila ada pasien di klinik di dekat rumah kami. Kebersamaan kami didapatkan pada saat – saat malam hari, saat – saat yang teduh. Pada hari sabtu dan minggu terkadang ia menemani ke proyek, apabila pekerjaan meminta waktu kami. Ia pun tidak pernah berkeluh resah, hanya meminta waktu yang lebih, waktu untuk kami bersama, saat – saat terindah dalam hidup. Ucapannya yang selalu mengingatkan ketika sudah saatnya beristirahat, ajakannya untuk makan bersama di saat – saat diri ini lupa waktu dengan segala kesibukan yang ada, adalah penyejuk dalam satu tahun terakhir ini. Terkadang ia bertanya mengenai konstruksi pondasi dangkal ataupun dalam, atau kekakuan balok kantilever sebagai pelindung dari matahari ataupun penahan fungsi balkon diatasnya. Mungkin ada yang sama dengan teori dokter gigi yang dipelajarinya. Terkadang diri ini tersenyum melihat sifat ingin tahunya, juga keingintahuan dirinya terhadap rumah impian kami berdua, kemauannya untuk mengecat pink kamarnya, Wanita ini istri terbaik didunia dan saya pria beruntung bisa bersamanya. 

Kesedihan yang amat dalam terjadi ketika kami kehilangan Cherry dalam kehidupan kami, dalam usianya yang masih muda 7 bulan. Laurensia dan diri ini kehilangan Cherry tanpa sebab yang pasti, derai tangis pun terjadi, linangan air mata, rasa sayang yang sudah ada. Semua yang indah dalam hidup bisa hilang dengan begitu saja, kehilangan memang satu proses yang tidak menyenangkan.  Diri ini lihat bahwa semua ini memang sudah pada jalan yang terbaik, pelajaran untuk menghargai nafas yang diberikan, dan pelajaran mengenai kehidupan yang luar biasa indahnya dalam kebahagiaan dan kesedihan yang ada. Mungkin ini memang pelajaran yang harus dijalani ole kami berdua.

Ada berita gembira, ada kado natal terbaik di tahun ini, setelah kehilangan anak kami, Laurensia hamil lagi, saat ini usia bayi kami baru 1 bulan. Saya menjanjikan waktu yang terbaik untuk keluarga kami mulai saat – saat ini. Dalam 1 minggu terakhir ini, diri ini bangun lebih pagi dari biasanya, jam 5 pagi, terkadang diri ini bangun jam 4 pagi, untuk meluangkan waktu untuk berdoa, menulis, dan menyelesaikan pekerjaan yang baiknya diselesaikan. Jam 7.30 pagi, Laurensia sudah mengetuk pintu untuk kita menghabiskan waktu bersama, mengingatkan untuk makan, bersantai, ataukah sekedar jalan – jalan keliling daerah sekitar. Kami menemukan bubur kesukaan kami di pinggir jalan di satu trotoar. Dari saat – saat ini  mata seakan – akan dibukakan, udara segar yang kita hirup, matahari pagi yang kita rasakan,  badan yang kita punyai, momen – momen yang berharga dengan orang – orang yang kita sayangi. Kita belajar untuk menghargai dan mencintai hidup sebaik – baiknya.

Diri ini ingat jari jemari ini memainkan piano yang dimiliki satu teman rumahku di Elia Mews, daerah Angel di London. Pada waktu itu sore – sore, udara sejuk, tenang, diri ini duduk, dan di sebelahku Laurensia, menyanyikan satu bait lagu :

Disetiap langkahku

Ku kan slalu memikirkan dirimu

Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu …

Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku

IMG_2329

Dedaunan mulai rontok satu demi satu menyisakan dahan yang memang begitu saja ia tegak berdiri, angin dingin menerpa. Setiap musimnya daerah – daerah di kota ini ada begitu cantiknya, setiap musim berganti, berganti pula tekstur kehidupannya. Tangan ini memang tidaklah pernah sempurna memainkan lagu ini, saya pun tertawa dalam kesunyian yang ada,  diri ini seperti menemukan satu pasangan sehati sejiwa dalam mengarungi lagu ini. Dan 4 tahun kemudian disinilah aku. Diriku sungguh bersyukur di tahun 2012 ini dengan kebahagiaan dan kesedihannya. Semoga dirimu juga bisa merasakan yang sama, sama seperti diriku yang mulai merasakan cinta yang sesungguhnya.

“One day with life and heart is more than time enough to find a world.” James Lowell

IMG_2513

Kumpulan mimpi

November 17, 2012 § Tinggalkan komentar

121114 Belitung “If you can look into the seeds of time, and say which grain will grow and which will not, speak then unto me.” William Shakespeare 

Belitung, Diri ini melihat hamparan pasir putih yang menghampar indah sekali, dengan batu – batu alam yang menjulang dengan ketinggian luar biasa , sekitar 12meter,  memang Belitung terkenal sebagai pantai dengan air yang jernih, dasar air yang begitu jernih bisa terlihat jelas, dan landsekap yang begitu indah dengan bebatuan granit yang tersebar di pantai – pantainya. Diri ini kemudian melihat hutan yang ada, sungai yang berkelok – kelok kecil membelah hutan yang kemudian berakhir di muara kecil. Bebatuan yang ditengah hutan pun memiliki karakternya yang sedikit hitam, dengan teksturnya yang dingin lembab karena rimbunnya pepohonan.diri ini kemudian melangkahkan kaki di titik puncak bebatuan, mencoba mengukur, 11 meter kali 30 meter, cukup lebar, untuk lokasi terbaik adanya tempat menjalin cinta, sebuah kapel untuk menikah. Melihat kebawah, diri ini bisa menikmati karunia Tuhan yang sangat indah, sebuah jalinan yang sangat indah. segala bentuk yang diciptakan alam itu indah rupanya, dari jalinan batu alam, bentuknya yang wajar dan tidak dibuat – buat, bintang laut, rumput laut, pasir yang putih, dan tumpukan kayu yang hadir begitu saja. Suasana ini begitu sunyi. Diri ini seakan terbius dalam alam yang mengajak berjabat tangan begitu eratnya.
Diri ini teringat pada waktu itu, diri ini diajak untuk ke satu daerah di pulau Bali, daerah yang sunyi senyap.
Saya ingat kita berlima pergi ke daerah yang terpencil di Ubud, satu daerah yang memiliki satu bukit, lembah, dengan air terjun, juga mata air yang menjadi pusat kegiatan agama sekitarnya. Diri ini ingat suasana teduh, pepagian dengan suasana orang berdoa, kehidupan di Bali memang menyejukkan dengan auranya yang berbeda. Saya ingat dulu kita ber 5, saya sendiri adalah arsitek yang menemani paman – paman saya, untuk melihat – lihat sekitar, memberikan pandangan. Mereka pria dengan umur 60 – 70 an tahun. Mereka menyebut kelompok mereka satu konsorsium. Berteman bersama, berbisnis bersama, tertawa bersama.
Pikiran ini melayang ke satu saat dahulu sewaktu masih kuliah di Sydney. Pada waktu itu diri ini ingat seringnya pergi untuk ke satu teman terbaikku. Diri ini ingat bahwa diri ini punya sepeda, satu sepeda yang sederhana buatan china yang kubeli di toko sepeda di pojokkan perempatan. Untungnya saat itu sedang sale, jadi sepeda itu bisa dibeli cukup murah hanya 75 dollar. Ongkos naik bis satu kali jalan adalah 2 dollar, dengan waktu menunggu yang cukup lama.
Karena sepeda itu, diri ini bisa berkunjung terkadang 3 hari sekali ke tempat teman terbaikku untuk sekedar mengobrol, atau bermain Wii, untuk mengunjunginya, diri ini mengayuh sepeda terkadang melewati perumahan yang senyap di daerah kensington, melewati gereja gothic.  Kita mengobrol sesaat terkadang, pada saat itu kita tidak mempunyai pekerjaan yang baik, temanku ini adalah  adalah seorang tukang pos, sedangkan diri ini juga sama, tidak mempunyai pekerjaan yang layak, asisten dosen dengan bayaran kecil, atau asisten arsitek dengan pekerjaan jarak jauh, antar negara, dengan jam kerja yang panjang. Kami berdua memimpikan pekerjaan yang baik bagi hidup kami. Seperti biasa diri ini bercerita mengenai mimpi – mimpi yang sungguh tidak terbayangkan, dan dia memberikan masukan – masukkan mengenai bagaimana menata mimpi itu dan bersikap dalam perusahaan.
Terkadang diri ini bercerita mengenai kesibukkan di kuliah dan kita akhirnya akan tertawa – tawa sambil makan malam, ia yang memasak, teman terbaikku ini pintarnya luar biasa dalam memasak. Saya rasa kita juga sedang membentuk kelompok kecil juga. Ada juga teman dari Bangladesh, seseoran yang menemani bermimpi, ia dengan mimpinya di Dhaka dan diri ini dengan mimpinya di Indonesia, dengan tempat kami biasa minum kopi di satu pojok kafe kecil di satu hook di Kensington. Ada lagi teman – teman dari China, teman untuk mengerjakan tugas bersama – sama. Terkadang diri ini juga ikut berbahasa China, yang asal saja keluar dari mulut, apapun itu, yang penting nyambung, dalam benakku. Atau pertemanan yang terjadi begitu saja dengan professor terbaik disini, mengajarkan, membuka cakrawala berpikir.  Sydney dengan segala keunikannya, begitu banyaknya orang yang baru disana dengan segala pengharapannya untuk hidup lebih baik.
Diri ini terhenyak, di saat itu, di satu rapat, setelah presentasi satu pembesar dari Jepang berkata, “selamat bergabung di konsorsium kami, ” setelah itu kami pun pergi makan bersama, tertawa bersama, bermimpi bersama, bersama – sama untuk berharap penghidupan yang lebih baik. Diri ini belajar dari Alan M Weber, bahwa ada 4 hal yang diperlukan untuk menjalani karir yang baik, 4 C : change, connection, conversation and ccommunity. semua pengalaman ini untuk membentuk satu dukungan, jalinan pertemanan.
“Manusia itu makhluk ciptaan Tuhan yang hampir sempurna, ia tidak terbatas.” Satu teman terbaikku bergumam, “yang sempurna adalah Tuhan itu sendiri.” oleh karena itu pembatas kita hanyalah rasa takut kita. Diri ini berpikir itu benar apa adanya. Ketakutan – ketakutan selalu menghantui kita setiap saat, ketakutan akan kehilangan kasih sayang, kehilangan kepercayaan, kehilangan identitas. Diri ini berpikir mengenai kala – kala sulit, dimana darimana harus dicari biaya untuk menghidupi kantor desain yang baru berdiri. Setiap bulan, setiap minggu, menghitung, apakah masih bisa, keragu – raguan menerpa dimana kepercayaan pun harus terus menerus dibuktikan.  Keragu- raguan itu memang selalu muncul mewarnai hidup kita.
Dimanakah ujungnya ?
Kesunyian ini terpecah pada satu saat, “Saya dulu jualan bubur di Monas.” celoteh satu orang ydi depanku . “saya juga pernah jualan durian di depan RCTI, saya ke Lampung waktu itu bawa mobil pick up, kemudian pulangnya saya angkut durian untuk dijual, perjalanan hidup saya panjang, namun saya tidak pernah takut, Tuhan menciptakan kita hampir sempurna, menurut citranya. Dan dulu juga pernah jualan kayu industri, tapi yang lucu jualan bubur di monas, paling gampang, tinggal nasi dikasih air, sama beli ayam dan bumbu – bumbunya, untung dulu belum punya istri ” Ia pun tertawa lepas, saya pun ikut tertawa, dari kerutan wajahnya, diri ini tahu bahwa pengalamannya  banyak makan asam garam kehidupan. Sekarang ia adalah satu orang yang ternama menjadi CEO untuk berbagai jenis industri plastik, karet, perkebunan, industri alumunium. Dan ia tangkas untuk membuat mesin sendiri, dengan sistem yang dirancangnya belajar dari negara Jerman dengan industrinya.  Asam Garam yang didapatkan, kami pun tertawa lepas keringat yang dikurasnya, dan resiko – resiko yang dilakukannya membuatnya seperti sekarang ini. Menurut saya, benar adanya, semua orang berusaha dengan keringatnya sendiri, dalam keragu-raguannya sendiri, dalam keterbatasannya ia mencoba untuk hampir sempurna dalam usaha – usahanya.
“Saya punya mimpi Pak Realrich, tolong dibantu wujudkan ya” ia pun menyambung. diri ini pun tersenyum, Diri ini bertanggung jawab untuk tidak mengecawakannya.
Diri ini berpikir pada satu waktu, adik terbaikku, mengeluh dengan kontribusinya yang tidak banyak, belum maksimal ia berkata. Diri ini tersenyum mengingat ini,  bahwa sesungguhnya bukan seberapa besar dirimu mencetak skor untuk tim atau untuk dirimu sendiri,namun bagaimana seluruh waktu, obrolan singkat, perhatian, curahan hati akan berarti begitu besar, seperti dukungannya  ke kinerja tim. “your contribution would be measured not in how many points you scored but in all the ways you contributed to the team winning. ” Aku belajar untuk ada untuk sesama, dari orang – orang sekitar kita, kita mendapatkan satu kekuatan yang tidak terlihat. Ini magis, aura, keyakinan, kekuatan yang mewarnai kehidupan kita sehari – hari, yang saling menjaga kita dalam jalinan yang luar biasa indahnya. Ini yang saya pikir adanya satu inersia, satu orang bertemu orang lain, bertemu orang lain lagi, dan bertemu orang lain lagi. Tumbuh bersama – sama. Dalam berkerja pun demikian, diri ini juga punya mimpi, orang lain juga punya mimpi,  kita mencari orang – orang yang tumbuh bersama – sama, tidak instan.  Dalam berteman pun seperti itu, kita mencari orang – orang yang juga tumbuh bersama – sama, memaklumi kesalahan, tertawa dalam ketidak sempurnaan, dan saling bertumbuh dalam dukungan.
Begitu pun berkeluarga, kita mencari orang yang tumbuh bersama – sama. seperti Laurensia, Diri ini yang menantikan buah hati kami untuk tumbuh bersama – sama kami. Semoga cepat diberi, didoakan ya :-)

Lahir atau Dibentuk ?

November 13, 2012 § Tinggalkan komentar

Bangkok 11 November 2012, “It matters not what someone is born, but what they grow to be.” J.K. Rowling

Bangkok, Turbulensi tengah menerpa pesawat ini. Pilot baru saja selesai berbicara. Kulihat kumpulan awan tebal di kiri kanan, sesembari sinar matahari masuk diantara sela – sela awan tersebut. ” Saudara-saudaraku, tantangan hidup ini kita hadapi bagaikan seekor rajawali, ia menghadapi tantangan hidup, tembuslah awan itu. ” Satu orang teman terbaikku bercerita dalam khotbahnya suatu saat di pagi yang sendu di goldiers green. Dari minggu ke minggu ada saja yang baru dalam khotbahnya, yang mengisi saat – saat teduh, menciptakan jeda dalam kungkungan waktu sepanjang minggu di sela – sela orang yang datang dan pergi. Saya ingat jumlah kami kira -kira 10 sampai 15 orang. Saya sendiri adalah seorang katolik, ikut membantu teman-teman terbaik dalam kebaktian agama protestan. Bagi saya, agama adalah urusan kita dengan yang kita yakini, Dia yang kita yakini. Tidak ada yang lebih baik, setiap orang punya keyakinannya tersendiri.

Oleh karena itu, tidak apa2 diri ini ikut membantu dalam acara kebaktian, dengan lagu2 yang kita siapkan, menyanyi, bermain gitar, bermain piano, semua dilakukan. Memang lagu – lagu itu begitu indahnya, kadang – kadang saking semangatnya orang2 bisa berlompatan menghayati kebaktian itu. Sama seperti kegiatan buka puasa yang diri ini juga jalani dengan rekan – rekan muslim, semua sama, untuk mengerti orang lain. Yang diri ini ingat makanan yang begitu enaknya sudah menanti di akhir kebaktian, ada soto ayam. Diri ini begitu menikmati jalinan pertemanan yang terjadi di saat itu, “saya mendapatkan komunitas saya.

Yang diri ini tidak mengerti adalah begitu mudahnya sekarang ini kerap terjadi, kerusuhan, kejahatan, dimana begitu mudahnya sakit menyakiti itu terjadi. Mungkin memang sifat manusia yang begitu negatifnya mudah menyakiti orang lain termasuk orang – orang terdekat kita. Dalam sinusoidal hidup, ada kalanya kita di atas ada kalanya kita di bawah, sama seperti saat – saat diri ini pulang dari Australia, untuk mencari pekerjaan, semua ingin maju ke arah yang lebih baik. Begitu pun dengan orang – orang yang ada di sekitar kita. Atau saat – saat diri ini yang sedang ada di Bangkok hanya untuk meluangkan waktu untuk berkerja lebih baik.

Adik terbaikku pernah bertanya,” kak arsitek itu lahir atau dibentuk ? “. Diri ini berpikir Ada orang yang sudah sedemikian lancarnya dilahirkan menjadi seseorang yang diberi talenta rasa, dan rasa seni yang tinggi. Bersyukurlah apabila sudah mendapatkan talenta itu. Namun ada juga yang tidak beruntung, yang perlu kita lakukan adalah belajar bagaimana caranya membentuk diri. Diri ini percaya bahwa setiap orang membentuk dirinya sendiri, sewajar – wajarnya.

Pertanyaannya apakah bakat itu penting ? Apakah kemampuan itu penting ? Ya kita melatih diri kita untuk menjadi mampu di profesi kita masing – masing, dengan berkerja keras. Warren buffet berkata ” ada 3 hal yang terpenting yang tidak diajarkan di Harvard bussiness school, yaitu, menulis, berbicara dan berkomunikasi.” Ada yang berpikir bahwa “saya akan memperkerjakan orang – orang terbaik dari orang – orang terbaik.” Hal tersebut sama berlakunya di perusahaan – perusahaan ternama di dunia. Bagaimana kita menghitung kapabilitas kita dibanding orang lain. 3 hal yang dikatakan Warren Buffett tersebut adalah hal yang berkaitan dengan kapabilitas. Kita seringkali tidak bisa memilih, kita itu dipilih, kita hanya bisa berusaha namun bukanlah kita yang menentukan untuk memulai proses pembentukan kita.

” bayangkan apabila anda semua adalah saham yang akan dibeli oleh orang lain , dari 10 orang dengan kualitas sama, 10 lulusan dengan kualitas sama,bagaimana anda bisa memastikan untuk bisa dipilih ?” Buffet melanjutkan.

Diri ini mendapatkan jawaban justru dari teman – teman terbaikku, kita tidak akan memilih orang yang terpintar, karena kepintarannya sudah cukup, bisa dicari orang yang lebih pintar, dan banyak orang lebih pintar lagi. Ada beberapa hal yang pada akhirnya Kita akan memilih orang – orang dengan karakter yang kita sukai, seseorang yang murah hati, jujur, yang bisa berkerja sama dengan orang lain. Kita akan menghindari orang – orang dengan ego yang berlebih, seenaknya, tidak jujur, tidak memiliki etika, dan ketidakmauan untuk berkerja menjadi satu tim. Semua sebenarnya kita mencari seseorang yang bisa tumbuh bersama.

Diri ini teringat, bagaimana diri ini ditertawakan dengan pekerjaan membuat maket di kantor di Inggris, ditertawakan karena begitu mudahnya mengambil pekerjaan yang bukan tanggung jawab, ditertawakan karena lembur tidak tidur semalam suntuk untuk melakukan tanggung jawab bersama, dimana yang lain sudah beristirahat menghindari tanggung jawab tim. Seolah – olah itu menjadi makanan sehari – hari. Pernah suatu saat diri ini marah sekali, keluar begitu saja ke satu pojok taman untuk melampiaskan kekesalan yang ada. Saya bukan bahan tertawaan. Sambil diri menghentakkan kaki dengan keras.

Pada puncaknya, diri ini kembali juga ditertawakan karena saya berasal dari satu universitas yang tidak dikenal di negara yang sedang berkembang dengan gelar bachelor, S 1 dimana yang lainnya adalah sarjana s2 dari universitas terkenal di seluruh dunia, harvard, princeton, AA, berkeley. Itu terjadi pada saat pemilihan orang yang akan menjadi wakil grup desain di Inggris.

Diri ini punya beberapa teman terbaik, teman berkerja bersama – sama. Mereka juga teman yang bersama2 ditertawakan, membuat maket, ataupun kerja sampai subuh sudah menjadi makanan sehari – hari.

Saya teringat kami satu kelompok begitu mencintai pekerjaan kami, juga dengan wanita terbaik kami masing – masing. kami biasa berjalan bersama, sampai pada akhirnya persahabatan seumur hidup. Saya rasa ini yang terjadi. Diri ini teringat girang luar biasa karena terpilih menjadi wakil grup desain hanya untuk berbicara sejenak dengan Norman Foster, sepertinya waktu memberikan ujiannya dan kemudian memberikan kesempatannya. Diri ini juga ingat pada akhirnya diri ini berkerja, dipindahkan ke salahsatu tim terbaik, dengan prinsipal terbaik, pada akhirnya hal – hal tersebut yang menjadi cerita terbaik dalam fase hidup yang membekas di kantor di sebelah sungai Thames.

Teman – teman terbaikku sekarang sudah menjadi pimpinan biro di tempat mereka berada sekarang, di negaranya masing – masing, ada yang di Spanyol, Hongkong, Korea, Australia, Malaysia, London, Jepang, China, ada yang menjadi dosen juga, ada yang menetap di Inggris menjadi pimpinan grup desain. Namun apabila kita bertemu, kita akan pergi ke satu tempat di daerah leicester square, meminum kopi atau memesan dim sum dan kita akan tergelak – gelak mengingat peristiwa – peristiwa pada waktu itu, membuat maket bersama – sama, lembur suntuk bersama – sama. Kita semua beranjak dengan romansa waktu yang baru, dimensi yang baru, dengan memori yang lama.

Diri ini belajar bahwa Karakter dalam kata lain adalah hal yang terpenting, bukan siapa anda, gelar anda, atau baiknya cv ataupun resume anda. Dan kemudian pembentukan diri itu kemudian dimulai begitu saja. Bukan siapa anda, namun apa yang kita lakukan akan membentuk kita, dari situ kita akan dibentuk sewajar – wajarnya.

Pada akhirnya kita memiliki orang-orang baik yang menjaga kita setiap saat. .Diri ini masih tetap membuat maket dengan anak-anak kantor, berkerja sampai subuh terkadang dengan anak-anak kantor. Semua masih sama. Hanya saja, kenangan – kenangan ini membekas dan semakin dalam teringat.

Baru saja diri ini berkenalan dengan satu professor dari Bangladesh, ia datang dari negaranya untuk ikut seminar di Bangkok, kami bertukar cerita, sehingga ada saja chemistry di antara kami. Ia adalah seorang insinyur teknik sipil, baru saja kita berbincang – bincang mengenai perjalanan ke Dhaka, ibukota Bangladesh, diri ini pernah berjanji kepada satu teman terbaik di Bangladesh untuk berkunjung ke negaranya ke Dhaka. Ya mungkin ini jalinan pertemanan yang baru, mungkin saja ada peristiwa – peristiwa yang menanti, kejutan – kejutannya seperti Tuhan sudah mempersiapkan semua sebegitu indahnya. Dan, diri ini kemudian teringat bahwa harus ke airport, kembali ke Jakarta, sayonara Bangkok.  :)

Tumbuh perlahan – lahan

November 3, 2012 § Tinggalkan komentar

Lembang 3 November 2012

“The only way to be happy is to love. Unless you love, your life will flash by.” Mrs. O’Brien

Pagi ini diriku ada dalam satu perjalanan ke Bandung, kota yang memiliki aura menyejukkan, sabtu ini diri ini bisa rileks sejenak dari kesibukan yang menerpa 5 hari kemarin. Hari ini udara sedikit berkabut dan sejuk, matahari seakan – akan menyembunyikan dirinya dibalik gugusan awan tebal yang menyelimuti perjalanan kami.’ Sambil diri ini tertawa membayangkan saat saat kecil kami.

Diri ini berpikir, sebenarnya ada satu sisi dalam diri yang menyukai hal yang sama berulang – ulang, ingin itu – itu saja, baju itu – itu saja, melakukan yang itu – itu saja. Aku dilahirkan di Surabaya, dengan 4 orang bersaudara, kami lelaki semua. Saya pikir saya yang paling jelek diantara saudara – saudara kami.

Ayah adalah seorang kontraktor bangunan, ia insinyur sipil, dan ibu sendiri adalah seorang ibu rumah tangga. Aku ingat dulu diri ini tinggal di daerah Dukuh Kupang, daerah perumahan yang sepi di gang 13, kami punya pohon mangga yang sering kuambil mangga mudanya untuk sekedar dimakan dengan kecap manis di genteng rumah keluarga kami. Merasakan panasnya talang seng ketika diinjak di terik matahari, ataupun menggergaji triplek menjadi pedang kayu menjadi satu perkenalan dengan arsitektur. Di gang ini aku belajar berbicara , menyapa, bergaul anak – anak yang lain, dengan tetangga, tegur sapa dengan tetangga sering dilakukan, pada waktu itu diri ini ingat, permainan yang populer adalah bermain sepatu roda.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Pada waktu itu akumasih berusia 9 tahun, saat itu adalah saat dimana diri ini ada di satu lingkungan yang baru, Jakarta, bertemu dengan teman -teman yang baru. Diri ini ingat, dengan logat bahasa masih khas suroboyo, medok, sama sekali tidak tahu dengan budaya kota yang berbeda, budaya pergaulan yang berbeda. Saya heran kenapa kalau guru bertanya, kenapa saya yang selalu tunjuk tangan, padahal di Surabaya dulu, kami berlomba – lomba untuk tunjuk tangan, sampai pak Martin satu guruIPA kami bosen melihat diri ini tunjuk tangan. Aku juga ingat ada beberapa orang yagn mengusili terus menerus sampai membuat tidak tahan. Mungkin mereka tertawa juga melihat satu makhluk aneh yang baru, aku waktu itu kelas 4.

[laurensia adalah orang yang mengusiliku ketika aku ada di kelas 4 SD, Tuhan memang punya kejutannya yang tidak pernah diduga]

Atau saat – saat dimana diri ini, sedang senang – senangnya berolahraga tennis meja, dan hampir sebagian besar waktu dihabiskan untuk berlatih sehingga nilai – nilai pelajaran menjadi turun. Ada satu kesenangan yang baru. Atau saat – saat penuh tanda tanya mengapa diri ini selalu jalan – jalan ke satu gedung untuk memotretnya terus menerus setiap pulang berkerja di hari jumat sewaktu ada di Singapore dan London dengan orang – orang yang berbeda – beda, atau saat – saat bermain bulu tangkis dengan teman satu SMA yang dilakukan terus menerus.

Semudah ke satu tempat yang sama terus menerus, melakukan hal yang sama terus menerus, seperti tukang kayu yang belajar menggergaji, tukang batu yang belajar untuk memplester satu permukaan, atau seorang pandai besi yang belajar untuk menempa satu karya. Mereka melakukannya terus menerus, tanpa henti, sampai kamu menjadi tinta, kamu menjadi kertas, semua menyatu dalam nafas, dalam jiwa. Diri ini ingat kehati – hatian wanita terbaikku ketika berkerja, satu bersatu gigi itu dibersihkannya, diobatinya, ada teori – teori yang dijalaninya, seminar – seminar yang diikutinya. Semua pelajaran , latihan itu memerlukan waktu hanya untuk menjadi lebih mampu.

Memang pengalaman – pengalaman di tempat yang baru akan selalu menjanjikan pengalaman yang tak ternilai, berhadapan dengan orang – orang baru, wajah – wajah baru, budaya – budaya baru.

Kayu kelapa terbaik ada di daerah Menado, Sulawesi, karena ia tumbuh secara perlahan – lahan, bukan hibrida, bukan dikatalisasi. Seperti juga kayu bengkirai yang habitatnya ada di Kalimantai atau sama dengan damar laut yang berasal dari Sumatra. atau kayu jati Belanda yang memang tumbuh perlahan – lahan. Seratnya keras, matang, tua, karena teksturnya yang padat, rayap pun enggan menghampiri. Memang di jaman yang kompetisinya sedemikian tingginya menuntut kita selalu untuk berpikir lebih kritis, lebih cepat, lebih dan selalu lebih baik.

Kemudian diri ini teringat pesan dari pak Tisna Sanjaya, untuk tumbuh perlahan – lahan, seperti pohon, berakar kuat, bertajuk rindang, menjanjikan kehidupan untuk makhluk yang diteduhinya melalui alam yang memberikan air, sinar matahari, dan mineral yang didapatnya. Mungkin dalam kehidupan ini kita semampu kita perlu untuk meneduhi seteduh – teduhnya dengan perbuatan, perkataan, dan pikiran kita.

Hari ini diri ini tenggelam dalam romantisme kegiatan berulang – ulang yang itu – itu saja, dan memang inilah yang kunikmati, beserta Laurensia, Keluarga, dan teman – teman terbaikku yang ditemui sepanjang hari..

“Help each other. Love everyone. Every leaf. Every ray of light..”

Perjalanan hidup di tahun kedua, angka 30

Oktober 26, 2012 § Tinggalkan komentar

The woods are lovely, bright and shallow. But I have beautiful promises to keep, and miles to go before I sleep and I don’t want to sleep until I die. Realrich [taken from frost’s poem]

Hongkong, Mengenai Cinta… Dalam perjalanan satu tahun ini, tidak disangka sudah satu tahun diri ini hidup berdua dengan wanita terbaikku, ya usia pernikahan kami sudah 1 tahun umurnya. Kami menikah tanggal 25 September 2011. Di kala – kala kesibukkan yang semakin menerpa, waktu yang semakin menuntut, kami belajar untuk menyelipkan waktu2 untuk terus menghargai kebersamaan kami.

Pada waktu itu Diri ini sedang terjebak macet, terik matahari menerpa di balik siluet jembantan2 beton yang meneduhi, kira2 suhu terik 33 derajat celcius, kota Jakarta memang sedang menunjukkan wajahnya yang problematik dengan transportasi kota yang tidak terencana. Baru saja kemarin sampai pagi di kantor membereskan beberapa dokumen arsitektur yang harus diperiksa satu persatu. Untunglah hari ini diri ini bisa rileks memejamkan mata sejenak dimobil, puji Tuhan ada pak misnu, seorang sopir yang memang sudah seperti keluarga sendiri. Diri ini menghitung sudah 3 jam terjebak kemacetan ini, . Rutinitas yang ada baru – baru ini sungguh cukup menguras tenaga. Ya hidup seperti biasa, diri ini bergumam dalam hati. Seperti biasa diri ini membuat daftar pekerjaan yang harus dikerjakan oleh staff kantor, bedanya anak – anak kantor berkembang lebih banyak dari satu tahun yang lalu sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk berdiskusi satu persatu. Lebih siang terkadang rapat – rapat pembahasan pekerjaan pun menunggu, pembahasan rapat tersebut bisa berlangsung sampai larut malam guna memutuskan keputusan – keputusan desain pada saat itu juga. Mata ini perih ingin menutup pada saat itu, aku lupa pada waktu itu aku belum makan.

Kemudian secara rutin pada hari sabtu diri ini berkeliling untuk melihat proyek – proyek yang sedang dibangun, mengawasi satu persatu detail pekerjaan yang ada. Teringat satu perkataan teman terbaikku.

“Dalam membuat sesuatu harus berhati – hati, apalagi sekarang kamu ada di satu industri. Jagalah nama dan prestasi. “

ya oleh karena itulah, standar kualitas memang harus dijaga untuk konsultan desain yang belum berusia 2 tahun ini. Diri ini berpikir memang masa – masa sekarang adalah masa pembuktian. Sederhananya memang proses seperti ini perlu untuk menjadi dan membentuk kapasitas, sewajar – wajarnya. Diri ini bersyukur diingatkan oleh orang – orang terbaik untuk terus menjaga kepercayaan yang diberikan dalam hal – hal kecil maupun besar.

Siang itu satu waktu telpon berbunyi salah satu teman terbaikku memanggil untuk datang ke kantornya untuk dikenalkan pada saudaranya, perbincangan kami mengalir begitu saja, mungkin ada chemistry yang baik, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata2, yaitu rasa. Maklum sudah 2 tahun ini kita tidak bertemu, waktu – waktu kita memang semakin padat, ia sebagai seorang developer terkenal dan diri ini sendiri yang sibuk dengan pekerjaan –pekerjaan di kantor. Di sela – sela waktu yang semakin mengukung. Diri ini merasa bahwa memang benar jika akhirnya banyak orang berkata, semakin kita dewasa lingkaran pertemanan kita akan semakin berkurang.

Kira – kira beberapa jam kita berbicara sampai lupa waktu, sampai beberapa gelas minuman sudah habis. Seusai ngobrol teman terbaikku ini pun menanyakan di drop off bilangan Jendral Sudirman. Realrich kamu naik apa, saya bilang naik taxi, karena memang pada waktu itu. Wanita terbaikku membutuhkan kendaraan untuk pergi ke klinik, maka diri ini memutuskan naik taxi saja. “O mau ikut saya ? “dia menawarkan, “kemana ya pak, ” dia pun menyebutkan jalur kendaraan yang tidak satu arah dengan diri ini.Diri ini melihat jam yang sudah mulai larut, namun saya sangat senang sekali ngobrol dengan satu bapak ini, diri ini mengiyakan, oke deh satu jalur, saya bilang. Dalam hati diri ini berkata, “Oke kita pun bisa mengobrol 1 jam lagi di perjalanan.”

“Pak Rich, saya punya project. “demikian dia menyambung akhir pembicaraan kami seketika akan menurunkan saya di trotoar di persimpangan Harmoni, kamu akan saya ajak ya hari rabu depan ke tempat project ini. Sepertinya ini cocok dengan kamu.” diri ini pun terkejut tanpa disangka, project tersebut adalah project yang luar biasa menariknya, memang peristiwa ini mengajarkan arti untuk berbagi dengan orang lain hanya dengan membagi waktu, dan kemudian ia akan membagikan kesempatan – kesempatannya, tanpa disangka – sangka.

Diri ini merenungi waktu dan kesempatan muncul dalam waktunya tersendiri , semua ini seperti terjadi begitu saja.

Diri ini berpikir, kita ini hidup sesuai kebutuhan kita, ada orang yang membutuhkan kasih sayang, ia akan mencari kasih sayang tersebut, ada orang yang membutuhkan materi, ia akan mulai berkerja dan mulai mendapatkan materi. Orang mendapatkan kepuasan karena kebutuhannya terpenuhi…. Waktuku, waktu kita, waktu bersama.

Kehidupan Kampus

2 bulan yang lalu di malam yang dingin di Kiara payung di satu bukit dimana bintang2 terlihat membentang di langit, ada bintang biduk, pengarah jalan para nelayan.Saya ingat dimana pelantikan anggota baru Gunadharma kemarin, dimana semua berlomba – lomba untuk datang ke acara pelantikan ini, ada satu orang yang sudah lulus 10 tahun yang lalu. Ada beberapa yang sudah lulus 5 tahun yang lalu. Untuk apa mereka datang ?

“Hentakkan kakimu sekuat tenaga, begitu engkau melangkah engkau akan dilihat dari bagaimana engkau bertindak terhadap orang sekitarmu diri ini mengingat, totalitas .Engkau, apa hanya engkau ?” teriakku lantang

Diri ini bertanya kepada dua orang peserta di depanku. Mereka bilang demi sebuah kebersamaan. Memang demi sebuah kebersamaan, kita ditempa untuk menghargai kebersamaan, himpunan itu apa ? Sebuah kebersamaan, dimana2 kita selalu bersama – sama dengan orang lain, belajar berhimpun itu pada hakikatnya adalah belajar bersama – sama. Diriku berpikir mengenai misteri mengenai hubungan manusia antar manusia, sebuah nilai yang tak terukur antara rasional manusia yang memiliki nilai individualis tinggi. Ada yang menghitungnya dengan nominal uang yang tinggi, ada juga yang menghitungnya dengan sejumlah tempat yang ia datangi, ada yang menghitungnya dengan prestasi dan pekerjaan yang ia banggakan. Apa yang membuat dirimu bahagia ? Datang ke pelantikan anggota baru Gunadharma seakan – akan mengingat lagi saat – saat yang lampau, berulang kembali, saat – saat yang enerjik, dan tawa yang membahana bersama – sama teman – teman satu angkatan, satu himpunan. Waktu Menjanjikan betapa berbahagianya bisa menikmati saat – saat di Gunadharma.

Best Office in the World

Kantor di dunia mulai menunjukkan kehidupannya, siklus yang silih berganti cukup cepat. Orang – orang datang dan pergi, proyek proyek datang dan pergi. Banyak orang yang belajar, datang dan pergi, mulai ada adik2 yang tinggal lebih lama, datang dan pergi itu pilihan hidup, yang terpenting bekerja untuk belajar, mengekspresikan diri dan menabung.

Diri ini sering terlibat dalam perbincangan dengan beberapa orang mengenai arsitektur, archi tecton ( seni membangun). Ada satu fenomena yang mengherankan, banyak orang bertanya – tanya mengenai jati diri “arsitektur Indonesia”. Mungkin beberapa kali dalam berdiskusi hal ini selalu ada. Pertanyaan seperti ini jarang diri ini temui sepanjang perjalanan karir di beberapa tempat terbaik,

Apa sih jati diri arsitektur morroco, jepang, australia, inggris, bandung,jakarta,Indonesia? Pertanyaan yang sulit. Perlu digali lagi kenapa ini dipertanyakan. Perlu pembahasan dr sudut pandang tertentu, ada satu benang merah dari negara2 ini yang akhirnya mensintesiskan apa yang sudah ada sekarang. Lalu apa ? Untuk apa kita bertanya ?

Mungkin kita ada dalam satu budaya yang hilang, terus menerus bertanya, tanpa tahu jawabannya, terus menerus memprovokasi, dan bingung dibuat oleh pertanyaannya. Oleh karena itu kita mempertanyakannya, Pertanyaannya adalah melalui apa kita mencari ? satu hal yang pasti, bahwa setiap jaman memiliki tandanya tersendiri melalui inovasi teknologi, sistem bangunan, ketersediaan material, dan segala proses sosial, budaya, politis, ekonomi yang melatar belakangi satu karya. Yang diri ini tahu pasti, karya arsitektur indonesia adalah karya terbangun yang ada di Indonesia, oleh karena itu Arsitekturnya arsitektur Indonesia.Mungkin kita sudah kesulitan untuk memilah apa yang perlu dilestarikan, apa yang tidak, keahlian konstruksi mana yang perlu dilestarikan mana yang tidak. Gabungan 2 pendekatan empiris dan rational perlu dilakukan. Menurut saya perlu adanya pendokumentasian hal2 yang menjadi unggulan. Point saya ada di sejarah, dan inovasi di konstruksi, sistem, pendekatan desain supaya menjadi nilai guna, toh arsitektur perlu dikembalikan ke definisinya, seni membangun, membangun yang lebih baik.

Frederich Silaban sependapat dengan saya menurutnya ” tidaklah perlu dicari-cari arsitektur indonesia yang identik dengan bentuk – bentuk tertentu, yang perlu ditransfer adalah nafasnya jiwanya”.

Arsitektur Indonesia itu ada di dalam nafas desain kita, taksu kalau professor yuswadi bilang, ada di tradisi berbuat kita, tunjukkan melalui desain anda, kebolehan anda, inovasi anda, efisiensi anda, estetika anda, sewajar – wajarnya. Dengan melalui desain terbaik di bumi Indonesia, karya terbaik arsitektur Indonesia akan muncul. Diri ini pun masih belajar untuk ini, dalam hati diri ini berdoa supaya bisa berkesempatan untuk belajar.

Pelajaran terbaik,… kejujuran,cinta, integritas

Pada waktu itu siang – siang di hari sabtu, diri ini baru saja pulang dari workshop kantor di daerah Meruya untuk mengawasi tukang – tukang yang berkerja memperbaiki rumah pak Misnu, diri ini menggerakkan tukang2 untuk memperbaiki tempat tinggalnya .

“Kak saya ingin bicara”. Adik di depanku ini adalah orang yang biasanya mengurusi menemani dalam pekerjaan sehari2, iabercerita tentang sistem yang tidak berjalan, dan ada orang – orang yang sulit diajak kerja sama.

“Pak saya ingin bicara.” Paman di depanku ini adalah orang yang biasanya mengkordinasi workshop, pribadi yang menganggukkan kepala ketika diri ini mendorong satu keinginan untuk mencoba sesuatu yang tidak biasa” dalam ketertegunannya, ia bercerita mengenai masalah rumahnya, rumahnya yang digadaikan, dan pinjaman2nya ke tetangganya.

“Kak saya ingin bicara.” Ada juga orang yang baru saja menyapa di lembar facebook, berkenalan lalu becerita ia sedang dalam masalah dengan dosen2nya, penulisan thesisnya, ataupun meminta referensi – refensi yang diri ini juga tidak mengetahui dari mana harus mencari.”

“Pak saya ingin bicara.” Entah kenapa mahasiswa ini punya banyak kendala berhadapan dengan tugas2nya yang tidak terselesaikan dengan baik.

Kemudian diri ini menerawang ke satu peristiwa saat berbicara dengan salah satu orang yang menjadi klien di kantor, “Rich, dalam kepercayaan terhadap kami kepadamu, sebenarnya ini merupakan satu cerminan dari kebutuhan dan kesanggupan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, ibaratnya kami perlu jasa kamu dan kami meletakkan kepercayaan kami.” diri ini kemudian berpikir bahwa pada hakikatnya ini tidak hanya mengenai hak dan kewajiban, bahwa dimanapun kita berada, hak kita minta dan kewajiban kita lakukan. Kemudian ternyata ini tidak semudah yang dikira, sistem yang dijalankan terkadang tidak berjalan secara ideal. semua pihak hanya perlu menjalankan hak dan kewajibannya, terkadang hak tidak diberikan dan kewajiban terlalu besar, ada juga hak yang sudah diberikan dan kewajiban tidak ditunaikan, selalu saja ada ketidak sempurnaan dibalik keinginan kita yang selalu mengejar kesempurnaan.

Dimana diri ini berpikir inilah hubungan manusia antarmanusia yang tidak pernah sempurna. lalu beralihkan pandangan ke satu orang adik didepanku, dimana ia bercerita mengenai keadaan yang ada. Dalam hati diri ini bersyukur sekali dikaruniai, diberikan orang – orang yang selalu mengingatkan, Laurensia, Keluarga, orang2 di depanku, ataupun pribadi sehari2 yang diri ini jumpai ini merupakan pemberian titipan Tuhan akan pengingat yang selalu mengingatkan akan langkah – langkah dalam kehidupan ini untuk membagi kebaikan dengan sesama.

termasuk adanya Laurensia, Keluarga, Adik – adik, mahasiswa, dan orang – orang yang diri ini selalu temui sepanjang hari sepanjang waktu. Berkat tidak ternilai ini hadir secara tidak terduga, satu persatu.hidup di dunia ini untuk berbagi, seperti kata guru terbaikku, mas emil diri ini memanggilnya bahwa hidup ini untuk berbagi, diri ini belajar banyak sekali dari beliau, melalui sikap hidupnya.

Laurensia + Cherry

Laurensia sudah pulih dari operasi terakhirnya, diri ini merasa senang sekali, ia sudah mulai pulih seperti sediakala, rutinitas praktik dokterpun sudah dijalaninya dengan teratur. Memang kenangan akan kehilangan Cherry masih terkenang begitu saja, sulit untuk bisa dilupakan. Kita mengingat setelah bulan agustus, bulan september mulai menunjukkan wajahnya, daun – daun kembali menghijau di pekarangan rumah kami di Bandung setelah musim panas yang terik. Bandung memang menyejukkan, .

Ya Laurensia dan diri ini akhirnya punya satu rumah di Bandung, dititik terindah yang kita berdua bisa sediakan untuk Cherry. Laurensia dan diri ini sangat menantikan kehadiran cherry kembali. Di bukit ini, cherry bs berlari – lari untuk menikmati alam bersama – adik2 dengan kantor terbaik didunia, dan desa terbaik didunia. Diri ini dilanda satu mimpi yang indah, mimpi dimana anak – anak bisa tertawa, mimpi dimana studio terbaik di dunia, tempat terbaik di dunia akan muncul. Laurensia mungkin akan membuka tempat praktiknya untuk warga – warga sekitar, diri ini akan berbagi mata air akan ada bagi masyarakat sekitar. Sebuah roseto, a place where the outside rule does not apply, where happiness, perfection in imperfection might happen, the best design might happen, the best place of people within. Mengingat apa yang sudah terjadi satu tahun ini, ada kebahagiaan dan ada juga kesedihan,Semoga hidup ke depan akan semakin baik, teduh, dan indah untuk dijalani.

Mungkin 3 bulan kedepan akan ada lagi kejutan2 terbaik, seperti Laurensia berkata.

“Life is like a piano, the white keys represent happiness and the black show sadness. But as you go through life’s journey, remember that the black keys also create music.”

“Yang tehnya sudah siap, ayo diminum supaya tidak dingin.” selalu Laurensia memanggil mengingatkan. Puji Tuhan. Diri ini pun jatuh cinta lagi di tahun kedua pernikahan kami.

Our short trip – back to our memorable time

Agustus 18, 2012 § Tinggalkan komentar

this is travel log, time with laurensia, showing our trip to England. I was thinking 3 years ago we visited some of the places like cambridge, St. Ives, Penrith, Bath. It was very memorable for us. The ordinary stuffs like meeting new people, visitting new places indeed was such a beautiful journey for us.We met our best friends, Jefferson Barnes, Kuncara and fam, Alvin and fam, Melur,lot of  new friends !

We love travelling because not only gives us time for being together but also it’s the moment for looking lot of good people, beautiful places, and another camariderie. like what Nikki Giovanni said that “We love because it’s the only true adventure.”

adventure … I think that we are still making our adventure, till the very end time.

So still that I think , collect your images, you stories, your own butterfly collections…

with your family, and your loved one.

Cherry

Juli 24, 2012 § 1 Komentar

Hope is the thing with feathers that perches in the soul and sings the tune without the words and never stops at all…

Hari itu hari Jumat malam jam 23.30. setelah diri ini berdoa untuk bayi kami, aku pun tersenyum, karena ia begitu cantik, ingin kubawa bayi ini  ke Laurensia. Namun petugas sudah akan membawanya pergi untuk memandikannya. Rambutnya ikal, hidungnya mancung, perawakannya mungil,jemarinya lentik dan kulitnya putih bersih. Kukecup keningnya, dan setelah itu diriku pun bergegas untuk menunggu di depan ruang operasi, pintu kamar operasi pun belum terbuka. Diri ini sudah menunggu 1 jam namun operasi belum juga selesai.

Diri ini akui bahwa momen – momen menunggu saat ini tidaklah menyenangkan, aku yang selalu berpikir mengenai bagaimana dokter melakukan operasi terhadap Laurensia, bagaimana ia dibius sampai tidak sadar. Dan bayangan – bayangan yang terbersit mengenai apa saja yang dilakukan dokter di dalam ruang operasi. Ya Tuhan semoga ia baik – baik saja. Untungnya dokter yang menangani Laurensia adalah dokter terbaik di kalangannya, dokter yang cekatan, muda dan masih keluarga dekat, jadi diri ini menyerahkan sepenuhnya kepada tangan terampil dokter yang menanganinya. Dokter Cindy namanya, di rumah sakit Pluit.

Akhirnya satu perawat keluar “Ibu sedang dijahit pak, sudah selesai operasinya, sekarang dokter sedang menunggu kondisi ibu stabil” Satu perawat pun keluar untuk menenangkan. Setelah itu Laurensia pun didorong di atas tempat tidurnya keluar dari kamar operasi, hati ini pun gembira luar biasa. Doa ini terkabul, ia baik – baik saja. Syukurlah. Diri ini berterima kasih luar biasa terhadap dokter yang membantu proses operasi Laurensia termasuk suster dan asisten yang menanganinya.

Satu malam itu aku bisa menghargai kebersamaan kami yang luar biasa di kamar rawat inap rumah sakit. Laurensia pun sudah mulai sadar sepenuhnya dan diri ini pun sangat bersyukur.

3 hari yang lalu, …

Pagi itu hari rabu. Diri ini ingat, masa kehamilan Laurensia sudah 7 bulan, dalam hati yang terdalam, rasa takut selalu ada. Kehamilan adalah proses yang indah dan juga beresiko bagi ibu dan anaknya kata dokter. Dan dalam hati ku selalu berdoa Semoga kehamilan Laurensia baik – baik saja dan tidak ada masalah. Maklum kami belum pernah mengalami ini. Satu pengalaman pertama dalam seumur hidup kami. Ini kehamilan pertama. Pada kehamilan 3 bulan pertama dokter mendiagnosa bayi kami perempuan. Setiap saat aku mendoakan supaya bayi ini bisa menjadi berkat untuk sesama, seperti kebahagiaan yang dibawakannya ke keluarga kami dalam kehamilan Laurensia.

Seperti satu hari biasa, hari itu adalah hari rabu dan diri ini harus berangkat untuk mengajar , rutinitas pun dijalani dengan kesibukan kami berdua yang padat. Diri ini sendiri baru pulang mengajar di Karawaci, baru saja mengobrol bersama rekan – rekan dosen disitu dan juga mahasiswa yang ada di studio arsitektur. Kemudian Diri ini mampir sebentar ke kantor memberikan beberapa masukan terhadap desain yang sedang dikerjakan. Laurensia pun akhirnya masuk ke kantor untuk mengingatkan karena hari sudah malam dan kami punya janji untuk bertemu dengan dokter, untuk cek kehamilan 7 bulan.  Kami pun bergegas ke satu rumah sakit di bilangan Jakarta Pusat. Pak Misnu, sopir keluarga pun sudah menunggu.

3 hari yang lalu Wanita terbaikku menanyakan kepada diriku mengapa bayi kami di dalam kandungan tidak seaktif biasanya. Aku  menjawab untuk menenangkan istri, tidak apa – apa mungkin ini wajar, kita kan akan ketemu dokter sebentar lagi. Pada waktu itu sekitar jam 9.45 malam dan kami baru masuk ke ruang tunggu setelah lama menunggu, urutan terakhir setelah 1 setengah jam lebih menunggu. Pada waktu itu kami bisa melihat detak jantung bayi kami berdua, ada yang berkedip – kedip di layar USG, rasa khawatir pun menjadi pupus. Ini anaknya baik – baik saja, kata dokter mengiyakan, ketika Laurensia bertanya.

3 hari kemudian

Nama Anak kami adalah Cherry, bagi kami dia adalah satu malaikat yang akan mewarnai orang – orang sekitarnya dengan kasih sayang. Memberikan kebahagiaan setiap saat pada saat ia ada sama seperti ia memberikan kebahagiaan dalam waktunya yang sebentar di dunia ini.

Tidak ada yang bisa membayangkan ketika 3 hari kemudian, pada hari jumat pagi. Cherry  meninggal. Ia didiagnosa kehabisan air ketuban, dan Cherry terlambat dikeluarkan oleh karena itu ia meninggal. Tidak ada yang percaya bagaimana ini terjadi dan mengapa ini bisa terjadi pada keluarga kami meski ada beberapa puluh argumentasi dan hipotesa mengapa ia tidak ada, tidak ada gunanya mempersalahkan siapa – siapa. Memang sudah jalannya seperti ini.

Pikiran ini pun kembali ke hari jumat malam pukul 23.30.  ketika diri ini sedang menunggu operasi Laurensia untuk mengeluarkan Cherry dari kandungan. Operasi Caesar yang dipimpin dokter Cindy.

Satu berkat ini datang 7 bulan yang lalu, dan kemudian begitu mudahnya ia pergi, satu kebahagiaan ini pergi begitu saja di hari ini. Di bulan ke 7 kehamilan Laurensia. Kami diajar mengenai arti kehilangan dalam kehidupan.

Aku berdoa sepenuh hati, kupeluk Cherry dengan derai tangisan, kesedihan yang tidak tertahankan. Anakku begitu cepat engkau pergi, papa dan mama sudah punya begitu banyak mimpi yang indah bersamamu, sayang sekali Tuhan punya rencana lain terhadapmu nak.

Hanya kurang dari 1 hari,diri ini bisa menyentuh memeluk Cherry untuk pertama kali dan terakhir kalinya namun kini ia pergi. Aku pun merasakannya ketika abu itu ditebarkan di laut, Ia melindungi perbuatan, pikiran, dan perkataan kami berdua dalam cinta kasih terhadap sesama. Hari Jumat pada saat itu adalah hari yang penuh dengan kesedihan, kehilangan dimana kami kehilangan Cherry. Diri ini tidak bisa membohongi siapapun untuk mencoba tegar dan belajar dari kehilangan ini. Namun aku percaya, ia ada di sekitar Laurensia dan diri ini untuk menjaga derap langkah kami.

Diri ini pun tersenyum ketika dalam satu hari setelah operasi, Laurensia sudah pulih kembali , ia sudah mulai bisa berjalan seperti biasa, kemauannya kuat untuk bangkit. Aku berbisik dalam hati. Cherry terima kasih sudah jaga mama.  Satu minggu setelahnya, satu teman dari orang tua kami, berbisik. Pada waktu itu, pagi – pagi setelah dimandikan, Cherry ada di rumah duka. Ia melihat Cherry ada di samping kami. Teman dari orang tua kami itu berbisik, ia sudah menjadi malaikat pelindung keluarga.

Cerita di tahun kelima – Pelajaran terbaik

Juli 6, 2012 § 4 Komentar

For last year’s words belong to last year’s language andnd next year’s words await another voice…And to make an end is to make a beginning. TS Eliot

Diri ini akan membagi – bagi cerita ini menjadi beberapa cerita kecil, sebagai refleksi kehidupan yang begitu indah untuk dijalani, dan menyimpan banyak hal untuk dipelajari.

Malam ini …

Malam ini sunyi sepi, waktu tertera pukul 10. 30 malam, baru saat ini aku bisa menarik nafas untuk melegakan diri dari segala macam aktifitas yang ada di kota Jakarta ini, hari ini hari terakhir tanggal 31, bulan Desember, tahun 2011.

kira – kira sudah 3 bulan berlalu sejak diri ini hidup berdua dengan wanitaku. Diri ini tidak sendiri lagi, kami sudah bersama, dari masa penantian yang terasa sungguh lama, beberapa tahun hubungan jarak jauh yang terasa tak menentu dari perjalanan diri kami berdua antara London, Sydney, Seoul, dan Jepang. Di saat itu waktu – waktu seakan – akan bermain dengan ritmenya sendiri, ia berkata ada perjumpaan ada juga perpisahan, penuh dengan masa penantian antara 2 musim dan 4 musim Negara yang berbeda.

Lalu aku teringat beberapa bulan yang lalu mungkin 2 bulan yang lalu, diri kembali ke London hingga perjalanan ke bagian utara scotlandia. Angin yang meniup perlahan – lahan dengan temperatur yang mulai memasuki musim gugur dimana daun – daun sudah berubah menjadi kuning kemerahan. Oleh karena itu mungkin jalanan di kota Durham menjadi begitu Indah dalam horizon kota medieval yang lengkap oleh menara gereja yang juga merupakan salah satu gereja terbesar di Inggris. Diri ini berdua – dua juga berjalan – jalan ke kota York yang sangat memukau dengan peninggalan – peninggalan bersejarahnya, ilmu pengetahuan yang ada di setiap pojok – pojok kota meninggalkan torehannya dengan buku – buku yang menurut penduduk setempat buku biasa. Namun, itu buku – buku langka.

Masa lalu …

Ada kalanya pikiran ini teringat ketika saat kedua bertemu dengan wanita terbaikku, Laurensia, saat itu kita sedang duduk berdua di tepi pantai St. Ives, salah satu pantai terindah di Inggris bagian selatan. Inggris saat itu sedang dalam cuaca terbaiknya, musim panas dimana suhu 20 derajat ada pada rentang waktu 2 bulan dalam satu tahun. Diri ini duduk di atas bebatuan karang bersama wanita terbaikku. Kami bercerita keseharian kami masing – masing, cerita mengenai jaman sekolah dahulu. Jaman SD SMP SMA Ataupun bagaimana hidupnya sehari – hari di klinik. Aku ingin sekali lebih mengenalnya. Kami tertawa dalam canda dan obrolan, aku menengok keatas ada burung – burung pantai mengelilingi kami. Laurensia dan diri ini kemudian mendaki puncak yang tingginya 50 meter, St. Ives memang indah, ia memliki pantai, namun juga bukit yang sangat indah. Di puncak bukit itu ada mercusuar dimana kita bisa melihat ujung terakhir sisi selatan dari pulau Inggris. Namun Waktu berkata lain, ada perjumpaan ada juga perpisahan. Tawa itu disambut oleh airmata tidak lama pada saat perpisahan itu kembali tiba.

Ada kalanya diri ini teringat untuk pertama kalinya menangis untuk sebuah perpisahan. Hati ini menangis ketika ia pergi.

Aku masih ingat perbedaan waktu kami adalah 8 jam, GMT +8 dengan GMT 00. Wanitaku terbangun jam 4 pagi untuk kita bertemu. Jam 4 pagi berarti di London adalah jam 10 malam, berarti kami punya waktu 2 jam sebab wanitaku akan bersiap – siap untuk pergi ke daerah pinggir Bogor karena ia harus menunaikan masa baktinya ke Negara sebagai bagian dari tugas.

Di Inggris, tergantung tempat kerja, rata – rata orang akan menghabiskan waktu untuk pergi ke tempat kerja selama 45 menit untuk berdesak – desakan di kereta daerah central London ataupun memilih bus dengan jarak yang lebih jauh. Begitupun diri ini, aku biasa bangun pukul 7, untuk kemudian selama 1 jam pergi ke kantor, 1 jam kubutuhkan untuk perjalanan karena jarak kantor dan rumah yang cukup jauh.

Rutinitas itu ada ketika pada saat diri ini berangkat kerja ia akan pulang kerja, pada saat aku mulai berkerja, itulah saat ia tidur. Pada saat diri ini makan siang, itulah saat ia bangun kembali,

Ada kalanya aku akan memanggil dengan telefon selularku di saat – saat makan siang, memanggil dengan telepon skype, telepon yang dibeli di daerah regent street karena paket nya yang murah, layanan itulah yang paling ekonomis, biaya untuk menelpon ke Jakarta luar biasa mahalnya, dan juga kebalikannya. 10 pound untuk satu kali panggilan selama 30 menit. 10 pound identik dengan 2 kali makan siang pada waktu itu.

Hampir setiap siang diri ini akan tertidur di taman Battersea di terik matahari yang merupakan cuaca yang terbaik di bulan July saat itu dengan mengobrol selama 30 menit setiap harinya di musim panas sesambil menikmati makan siang. Diri ini sangat merindukan suara wanita terbaikku,

“yang kamu sudah makan ?, makan apa ?”

kami akan membicarakan kembali soal keseharian, rutinitas yang menyenangkan sehari – harinya.

Ada kalanya waktu aku pulang ke kantor itulah saatnya wanitaku tidur. aku akan pergi makan malam, atau sekedar memasak untuk teman terbaikku di apartment, Jefferson namanya, masakan kesukaannya adalah sambal goreng hati dengan nasi biryani, selain sayuran dengan cah saus tiram tentunya. Pada waktu Jam 12 malam waktu London, aku menghabiskan beberapa saat untuk berkerja sesaat selama beberapa jam lagi, aku akan tidur jam 3 – 4 pagi seperti biasa. Diri ini biasa tidur cukup malam hanya karena itulah, wanita terbaikku sudah bangun dari tidurnya.

Aku teringat sering kali diri ini berangkat ke kantor dalam kondisi kurang tidur, dan berpacu dengan dateline yang keras. Seringkali juga perbedaan waktu menyebabkan, terbalik – baliknya waktu tidur hanya untuk bertemu sesaat. Hal ini berlanjut terus selama beberapa tahun kita bersama, aku hanya bisa menahan diri untuk tidak bersedih dalam penantian dalam perjumpaan, ketika kita terpisah. Senyum pun ada ketika kita berbicara sehari – hari dalam jarak yang mengukung..

Diri ini mengerti hal ini tidak mudah bagi kami berdua, namun kenangan – demi kenangan itupun terasa begitu indah. Diri ini merasa Satu tahap demi satu tahap sudah berlalu, seperti langkah dalam hidup ini, masa lalu meninggalkan kenangan yang manis dengan suka dan dukanya.

Ketika cincin itu saling dipasangkan dan janji pernikahan selesai diucapkan. Aku melihat wanita yang disampingku, dan aku tersenyum, dan bersyukur untuk kesabaran satu orang Laurensia yang terbaik di dunia, dengan kenangan yang terindah yang pernah diri ini dapatkan.
 

Kehamilan pertama …

Saat – saat yang terbahagia tentunya ketika mengetahui bahwa Laurensia hamil. Puji Tuhan, diri ini melompat kegirangan, diri ini akan menjadi ayah. Waktu seakan – akan terhenti dalam keheningan dan kesukacitaan. Aku sungguh mengucap syukur atas berkat yang diberikan.

Dari dokter, kita mengetahui bahwa usia kandungan laurensia sudah 1 bulan, kemudian 2 bulan, kemudian 3 bulan. Janin tersebut sudah memiliki jantung, tangan, kaki, luar biasa. Aku setiap hari berdoa supaya anak ini akan menjadi anak luar biasa dengan sifat baiknya untuk sesama. Laurensia berkata “yang aku senang seakan – akan ada yang hidup di badanku, meskipun aku pusing dan mual sehari – harinya, namun aku tidak sabar untuk melihat si baby setiap bulannya.” Pada saat itu aku teringat Laurensia muntah hampir setiap harinya, berat badannya pun turun. Wanita yang selalu bersyukur inilah yang aku yakin akan menjadi ibu terbaik bagi bayi ini. Tidak banyak orang seberuntung diri ini untuk memilikinya.

Diri ini berpikir Ayah dengan segala usahanya menempa dirinya sebagai tulang punggung keluarga, namun lebih luar biasa para Ibu dengan segala suka dan dukanya menempa dirinya dengan kasih yang luar biasa melalui proses kehamilan dan kelahiran.

Rutinitas

Ada kalanya aku bangun jam 6 – 7 pagi setiap harinya, untuk makan pagi bersama, mulai berkerja untuk mempersiapkan pekerjaan bagi staff kantor yang datang biasa sedikit siang. Kami akan makan siang setiap harinya, untuk kemudian terkadang aku menghabiskan waktu satu hari di kampus untuk sekedar bertemu dengan mahasiswa, untuk tutor singkat ataupun untuk memberikan kuliah, atau asistensi di studio arsitektur. Malam – malam kira – kira pukul 7 aku akan selesai dengan rutinitas pekerjaan ataupun rutinitas mengajar, dimana terkadang diri ini harus berkerja ekstra sampai tengah malam. Terkadang seperti saat – saat dahulu diri ini harus menahan kantuk untuk berkerja sampai jam 3 – 4 pagi atau tidak tidur sama sekali.

Secara rutin aku akan makan malam bersama setelah laurensia pulang dari klinik. Terkadang aku hanya tinggal di rumah bersama laurensia di hari sabtu dan minggu untuk menikmati kebersamaan di sekitar rumah.

Atau terkadang waktu yang tidak banyak dan kita juga pergi ke tempat yang itu – itu lagi, kegiatan yang sama lagi. Namun semua rutinitas yang terjadi begitu indah, sekali dijalani, ingin diulangi, terus menerus. Hidup ini terasa sangat menyenangkan.

Kantor terbaik di dunia …

Kira – kira setahun yang lalu di bulan November, firma DOT dibentuk. Suatu waktu diri ini ingat dalam perjalanan pulang dari Foster and Partners, bersama teman terbaikku, Albert namanya, kita bersenda gurau mengenai nama satu studio arsitek, studio arsitek yang baru, nama DOT pun muncul. Diri ini sendiri juga seringkali tidak menyangka firma arsitek ini bisa bertahan dan sedikit menorehkan prestasi sampai sekarang.

Seperti biasa kantor adalah satu tempat untuk berkerja, adakalanya ia dipisahkan dari kehidupan pribadi orang – perorangannya. Ada kalanya juga ia menjadi ajang pertarungan, kompetisi, pertaruhan karir, tempat eksistensi diri. Diri ini selalu merasakan dimana lingkungan kerja seperti ini, sejauh diri ini melangkah dalam perjalanan dari Singapore, London, Sydney, Jepang, Korea, ataupun di tanah air. Rata – rata diri ini berkerja 12 jam di kantor, ataupun kadang- kadang 16 jam di masa – masa dahulu. Dari kondisi yang ada, mimpi pun mulai ada untuk membuat kantor terbaik di dunia.

Apalah artinya sebuah nama, DOT hanya sebuah titik. Ada kalanya diri ini berkaca kebelakang. Bagaimana kita merintis firma ini dengan orang – orang terbaik. Mulai dari hanya 2 orang, kemudian berkembang menjadi 3 orang, kemudian tengah tahun kita sudah memiliki 6 orang, dan sekarang ada 12 orang di DOT Workshop, seluruhnya orang – orang terbaik dan paling kreatif dengan passion yang sangat luar biasa. Tidak banyak firma yang memiliki keberuntungan dengan adanya orang – orang ini di dalamnya, yang saya tahu Foster and Partners salah satunya, oleh karena itu ia bisa berkembang menjadi 1500 orang dengan tidak mengorbankan ide – ide yang brilian.

Adakalanya diri ini tertawa – tawa dengan segala ide – ide yang kreatif di DOT, saat – saat di kantor menjadi salah satu saat yang terbaik dalam rutinitas yang ada. Di dalam satu tahun terakhir ini, DOT sudah mengerjakan hampir 80 pekerjaan, memenangkan 6 penghargaan desain, berkerja sama dengan developer – developer di Indonesia, mengerjakan beberapa project di Mexico. Kantor berkembang pesat dari 2 menjadi 12 orang. Kantor yang tadinya hanya berupa tempat kosong, menjadi tempat yang diri ini sendiri cintai dengan passion yang ada di dalamnya.

Melihat kebelakang diri ini serasa –tidak percaya dengan segala yang ada, Diri ini hanya bisa mengucap syukur atas segala yang ada, dengan penuh kerendahan hati diri ini mengucapkan terima kasih atas segala perjuangan DOT atas kecintaannya akan profesi yang diri ini juga cintai.


Resolusi Tahun Baru … hidup ini hidup biasa

Untuk menutup cerita di tahun kelima, diri ini akan membagi pengalaman yang tidak terduga, dengan pelajaran terbaik yang justru datang dari seorang supir taxi.

Supir taxi ini mengantarkan Laurensia dan diri ini dengan biaya hanya 50 pound dari kota London ke Stansted yang berjarak 1.5 jam – 2 jam perjalanan. Biasanya, taxi akan mencharge 80 pound. Namun hari itu terasa berbeda. Kami berbicara mengobrol panjang lebar, ia bercerita dirinya yang asal Saudi Arabia, ia adalah seorang muslim. Ia berkata,

Realrich, sekarang banyak orang membunuh orang lain mengatas namakan agama, namun mereka hanya lapar, Agama pun menjadi pelarian. Oleh karena itu setiap kali kami bisa makan sesuatu, kami akan berkata alhamdulilah, mengucap syukur, bersyukurlah karena pada hari ini kamu masih bisa makan.
Dan jangan lupa, berikan sedikit hakmu untuk orang miskin, bagi kamu mungkin itu tidak berarti namun bagi mereka itu akan sangat berarti. Ada dalam perjalanan hidupmu dimana semua menjadi sangat tidak pasti dan timbul keragu – raguan seperti yang dialami oleh banyak orang. Pada saat itu tiba, berderma lah, dan berdoalah, maka jalan akan ditunjukkan kepadamu. Dan itu akan membuka matamu, dan engkau akan menjadi cahaya bagi orang lain.
 
Dan untuk kekasihmu, jagalah ia, di masa – masa pertama, kalian akan saling menyesuaikan diri, yang terpenting adalah istrimu, [pada saat itu Laurensia tertidur disampingku], apapun yang diperbuat orang lain, apapun keragu – raguan yang muncul dalam hidup, jagalah istrimu, karena hidupmu akan terberkati dan hadiah yang terindah dari Tuhan yakni anak – anak akan tiba pada saatnya dimana kebahagiaan tidak bisa terukur dari uang semata.

Aku seakan – akan bermain – main dengan resiko dalam pikiran dan perbuatan, karir dan pekerjaan, masa lalu – masa depan, puisi masa lalu, dan tantangan masa depan. Pelajaran terbaik seakan – akan muncul begitu saja, tanpa terduga. Ku yakin Tuhan mengirimkan orang – orang terbaiknya untuk saling bertemu.

Diri ini seakan – akan bernostalgia dengan romansa, romansa yang menggebu – gebu di dalam hatiku, romansa dalam keseharian, romansa dalam tutur kata, sikap, dan perbuatan. Aku belajar untuk mencintai seumur hidupku, demi Laurensia. Wanita terbaikku. Aku belajar menghargai waktu, belajar menghargai kebersamaan.

Puji Syukur kuhaturkan akan tahun yang luar biasa dengan berkat yang berlimpah, hadiah natal yang sangat indah, kebersamaan dengan laurensia dan calon bayi merupakan berkat yang tidak ternilai,

Di akhir perbincangan kami, dia pun berkata,

“hey Realrich, do you know that good people meet good people, so don’t worry about life. Just do your best.”

pada waktu itu Aku pun tersenyum, dan bersyukur, saat itu Laurensia pun bangun, dan

aku menatapnya dan jatuh cinta lagi untuk kesekian kalinya.

3rd Prize of Unpad Central Library and Dekanat Building

September 3, 2011 § Tinggalkan komentar

will be updated

1st Prize Lombok Epicentrum Square

September 3, 2011 § Tinggalkan komentar

will be updated

Our wedding :)

September 2, 2011 § 2 Komentar

This week, I have been really busy day by day for sorting what needs to be done for our marriage. today I’m so grateful because I’ve just finished designing website for laurensia. Visit the link www. real-laurensia.com if you have time to see it. I’ve been learning how to make this last week. even though not perfect enough, have a look and give us comment, we will be very happy. Other part is, I’m really busy sorting the invitation for our marriage and putting together pictures for our ceremony, writing the label by label inviting friends, family who are like brothers and sisters to me.

just really tired, probably it’s time to go to bed, tomorrow morning at 6.00 am have to accompany laurensia to doctor for check up.

best,

Landak atau rubah ?

Agustus 27, 2011 § 5 Komentar

Jim Collins wrote wonderful text, hopefully this will colour your vacation happy holiday …

“Apakah anda termasuk landak atau rubah ?

dalam karangannya yang terkenal”The Hedgehog and the Fox”, Isaiah Berlin membagi dunia menjadi landak dan rubah, berdasarkan pada dongeng yunani kuno, “Rubah mengetahui banyak hal, tetapi landak mengetahui satu hal yang besar.” Rubah adalah makhluk yang cerdik dan licik, mampu menyusun banyak sekali strategi yang kompleks untuk menyelinap dan menyerang landak. Selama berhari – hari rubah mengelilingi sarang landak, menunggu saat yang tepat untuk menerkam. Cepat, rapi, cantik, kakinya cekatan, dan ahli rubah tampak sepertinya pasti menang. Landak, sebaliknya, adalah makhluk yang lebih tidak rapi, tampak seperti perpaduan genetis antara porcupine (semacam landak) dan armadillo kecil.

Landak berjalan dengan badan bergoyang – goyang, melewatkan hari – harinya yang sederhana, mencari makan siang dan memelihara rumahnya.
Rubah dengan cerdik menunggu dalam keheningan pada waktunya di jalan setapak. Landak memikirkan urusannya sendiri, mengeluyur langsung ke jalur rubah. “Aha, aku mendapatkanmu sekarang!” pikir rubah. Dia melompat keluar, berlari, secepat kilat. Landak kecil mencium bahaya, mengangkat kepala dan berpikir, “mulai lagi, apakah ia pernah belajar?” menggulungkan diri dengan sempurna menjadi seperti bola kecil, landak menjadi seperti bola dengan duri tajam , ke semua arah. Sang rubah, sedang melompat ke arah mangsanya, melihat pertahanan landak dan mengentikan serangan. Mundur kembali ke dalam hutan, rubah mulai memikirkan serangan baru. Setiap hari, beberapa versi dari pertempuran antara landak dan rubah ini terjadi, dan walaupun rubah menjadi semakin cerdik, landak selalu menang.

« Read the rest of this entry »

berbuat dengan hati dan etika, satu tulisan untuk Laurensia

Agustus 19, 2011 § 5 Komentar

Michael kamu, anak muda jaman sekarang, berbisnis, tanpa etika, tanpa nilai …

Kalimat ini terlontar dari nada bicara diri ini  yang meninggi di suatu malam jam 11 di minggu pertama di bulan agustus tahun ini. Klinik gigi laurensia sedang ada masalah.

Ibaratnya…

ada seorang tukang mie, ia merintis dari awal, di daerah yang kosong tanpa ada tukang mie sedikitpun. Ia mengurus ijin dengan preman setempat kemudian meracik mie khas buatannya sendiri. Resep diolahnya dari pengalaman bertahun – tahun dengan keringat dan resiko. Setelah beberapa tahun, lapak mie itu menuntut untuk diperbesar ia pun menambah orang dan menambah stok bahan dasar mienya tanpa mengurangi kualitasnya. Namanya pun mulai tersebar kemana – mana dan klinik itu pun semakin ramai. Ia pun bersyukur, sama seperti tukang mie tersebut laurensia pun bersyukur.

Lapak mie semakin besar, permintaan pun bertambah, kemudian tukang mie tersebut memutuskan untuk mendidik satu anak muda. Ia tertarik mendidiknya karena kejujuran anak muda ini. Setidaknya tukang mie tersebut mendapatkan impresi tersebut dari anak muda ini.  Beberapa bulan berlangsung seperti biasa, anak muda ini semakin ahli dan tukang mie tersebut bangga dengan anak muda ini. Ia pun dididik bagaimana berhubungan dengan preman – preman setempat. Namun suatu waktu tukang mie tersebut memutuskan untuk membuka cabang baru, anak muda ini menolak untuk ditempatkan di cabang yang baru. Tanpa disangka – sangka anak muda ini mendapatkan investor kemudian mencoba menggusur tukang mie tersebut dengan melobi preman lapangan parkir tempat tukang mie tersebut berada. Ada satu pertanyaan

“kenapa harus menggusur tukang mie tersebut ? bukan di tempat lain.“  ada 1000 tempat baru di seluruh kota ini… kenapa harus di lapak ini.

Ahh ini saya berpikir, mungkin karena peluh keringat yang dihindarinya, resiko yang diminimalkannya, uang yang jadi prioritasnya dan hubungannya dengan tukang mie tersebut yang tidak lagi dianggap penting. Saya kita anak muda tersebut hilang arah.

Saya rasa ini sama seperti diri ini membuka biro konsultan arsitek pertama kali. Dulu diri ini pernah berkerja di Urbane selama satu tahun kemudian selama hanya 3 bulan menjadi kembali untuk membantu disana. Diri ini juga pernah berkerja di DP Architect Singapore, tempat satu perusahaan tersebut banyak mendesain mall – mallnya di Indonesia. Diri ini juga pernah berkerja untuk Norman Foster di inggris.

Saya sendiri pernah merasakan pedihnya mencari – cari pekerjaan semasa pulang dari luar negeri, ataupun masa2 selepas keluar dari Urbane beberapa bulan kemarin. Laurensia menemani untuk ke bogor pada suatu ketika, dimasa itu proyek yang ditangani di kantor hanya hitungan 1 sampai 3 jari dengan keuntungan yang sangat rendah, saya sendiri tidak digaji pada waktu itu malah berhutang kesana kemari. Dari bogor kita tidak mendapatkan apa – apa. Kita menghubungi relasi – relasi berpuluh – puluh kali dan kita juga tidak mendapatkan apa – apa. Dengan pengalaman berkerja dari Bandung, Jakarta, Singapore, Inggris, australia tidak pernah diajarkan bagaimana mulai membuka usaha. Dan semua berbuah nol.

Pencerahan datang justru dari teman – teman lama dan developer2 lama yang bertemu mendadak di jalan, tidak memiliki kepentingan apa – apa. Satu demi satu relasi bisnis terbentuk melalui good will dan good quality sampai dengan 100 lebih  pekerjaan ditangani dari titik nol dalam jangka waktu  kurang dari 10 bulan sejak awal terbentuk.  Melihat perjalanan dari titik nol tidak pernah saya mendatangi klien – klien dari perusahaan tempat saya berkerja dahulu untuk menggusur pekerjaan urbane, dp architect ataupun foster and partners. Saya percaya setiap orang sudah ada rejekinya, sudah ada hubungannya tersendiri, dan memiliki caranya tersendiri. Wajib hukumnya ketika bertemu satu pekerjaan, kita bertanya, apakah sudah ada arsiteknya ? sama seperti dokter, yang memiliki kode etik, harus menghormati dan menghargai kolega kita sendiri berdasar satu kode etik yang sama. apabila sudah memiliki arsitek, selesaikan dulu perjanjian anda dengan arsitek sebelumnya, baru kita bicara kerja sama. Sebaiknya tidak pernah sedikitpun kita berbisnis tanpa etika. Hubungan dengan perusahan – perusahaan tempat kita bekerja dahulu pun berlangsung dengan baik. « Read the rest of this entry »

to re-inventing and start working hard

Juli 29, 2011 § Tinggalkan komentar

the office is really busy at the moment, we’ve got numeruous commissions from several clients. They have been supporting the office so far. But in terms of architecture, I was thinking our design should be fresh. it refers to idea. yes, the idea should be fresh. what is fresh, fresh is innovations, dare to change, dare to lose, dare to invest. I was thinking about the the rational of Murcutt’s idea of responding the climate to architecture, one that shouldn’t be missed that is the inspiring space within. I think every people deserved for a great place to do anything in any circumstances. And I think it’s our obligation, to rethink, to inspire people not only by words but also fundamentally by real works.

we are working on two resort at Bali at the moment. If we look at Bali, the place has deep culture laid among the people.  Even though we are now in the present colored by rationalism and modernism which has generic quality, and faceless culture, in Bali we feel the spirit of the place which make we love the place, and the culture preserved.

we just won 1st prize of limited competition office of Bank Indonesia at Mataram. Working with such creative people in the office creates the incredible happens.

di Gunadharma awal titik pertama

Juli 25, 2011 § 5 Komentar

“Pak, si *** susah diatur, anaknya keras kepala, kordinasi pekerjaan tidak jalan ditangan dia, bapak tidak tau sih bagaimana kerja bersama dia.” Celoteh satu mahasiswa tempat diri ini mengajar kepada satu dosennya, teman sejawat saya. Diri ini tersenyum sesembari menimpali celotehan anak tersebut.

Seraya menarik nafas panjang, pikiran ini terbawa dan teringat celotehan yang sama mungkin 10 tahun yang lalu di saat saya masih menjadi mahasiswa, celotehan yang selalu sama, setiap tahun berulang selama 5 tahun diri ini ada di kampus gajah. Ya, pada waktu itu diri ini sangat menikmati berkerja bersama demi sebuah idealisme komunal yang kadang kala diri ini sulit mengerti apa ujungnya. Paragrafnya sama, cerita yang ditulis sama, hanya tempatnya berbeda, diri ini rasa ini kejadian berulang yang selalu terjadi di dunia kemahasiswaan. Pada waktu itu untuk menjadi anggota himpunan kita harus melewati orientasi mahasiwa yang lamanya kira – kira hampir satu tahun atau dua semester ajaran.

Saya kemudian teringat tepatnya di bulan Agustus, diri ini bertemu sekumpulan senior berjas biru, mengenakan emblem gajah duduk dengan tulisan Ikatan Mahasiswa Arsitektur Gunadharma Institut Teknologi Bandung [IMAG ITB] . Hari itu siang terang, kita dikumpulkan berbaris sejumlah total delapan puluh empat orang satu angkatan. Saya kemudian berpikir ini awal yang manis di kampus Gajah di kota bandung yang relatif dingin untuk saya yang matanya sipit yang lahir di surabaya yang dikenal panas kotanya dan perangainya.

Setelah menjadi anggota himpunan, angkatan kami dicap angkatan gagal dengan adanya pro kontra dengan sistem kaderisasi kekerasan dan non kekerasan. Karena ini, satu persatu teman mahasiswa menghilang untuk sibuk di kegiatan akademis, kira – kira dalam kepanitiaan tinggal tersisa 10 orang, tidak lebih. Saya pribadi waktu itu selalu bertugas sebagai anggota tim logistik, job desknya adalah angkut – angkut. Seringkali setelah acara wisuda selesai, semua pulang, dan hanya tertinggal 3 orang untuk membereskan berpuluh – puluh kursi yang jumlahnya cukup banyak, panel – panel yang cukup berat mungkin sejumlah beberapa puluh papan triplek, dan dilanjutkan dengan membereskan ruang himpunan yang hancur lebur berantakan seusai acara.

Ada cerita lagi pada waktu itu selepas pelantikan anggota baru, membuat acara sosial. Acaranya waktu itu adalah mengajar panti asuhan bala keselamatan di jalan padjajaran, Salvation army. Ada kira – kira hampir 9 orang yang ikut serta meski pada akhirnya hanya tersisa 3 orang ditambah satu orang lagi dari jurusan lain. Ya diri ini menjadi sadar memang di saat – saat terakhir itulah memang orang  akan semakin sedikit dan komitmen kita pun diuji. Namun ada hal baik yang didapat, pada waktu itu kegiatan kami menjadi cukup terkenal karena militansinya dan semangatnya, kita mengajar 2 kali satu minggu disela – sela liburan semester pendek.

Karena kami menjadi dikenal, kami pun mengenal senior – senior kami. Diri ini ingat berkenalan satu senior yang kemampuan teknis komputernya terbaik satu himpunan, setiap kali bertemu, kita bertukar senyum, lain kali ketemu diajarkan kemampuan teknis komputer secara langsung hanya karena dia tahu mengenai kegiatan bakti sosial tersebut. Kali lain bertemu senior yang lain yang mengajarkan manual rendering, dan kali lain bertemu senior –senior lain untuk mengajak bersosialisasi dengan band – band atau sekedar nongkrong main capsa, sampai diri ini ingat,… waktu itu kuliah nomor ke sekian, himpunanlah yang nomor satu. Kedekatan dengan senior, teman – teman seangkatan dan junior menjadi nomor satu. Proyek – proyek berdatangan kalau tidak salah puncak kegilaan ini membuat 7 proyek simultan bersamaan yang berjalan bersamaan dengan semester ganjil pada waktu itu. Ada proyek  rendering, drafting, buat maket, magang di konsultan grafis, konsultan rendering, dan konsultan arsitek. Pada waktu itu saya sehari – hari  bangun jam 7 pagi, kuliah sampai jam 12 siang , kerja di laboratorium sampai jam 6 malam kemudian, makan malam, kerja proyek dengan senior, dan jam satu pagi sudah ditunggu untuk mulai berkerja di konsultan rendering berkerja sampai jam 3 malam. Work aholic orang – orang menjuluk… Badan ini kurus sekali, diri ini ingat berat diri ini hanya 55 kilogram untuk tinggi badan 175 cm. Uang yang didapat lumayan bisa untuk dibagikan ke junior dan ada yang bisa dibelikan alat – alat gambar atau buku arsitektur . Buku yang dibelikan dari hasil magang dengan pak Baskoro Tedjo pun masih ada sampai sekarang.

Sebagai tim di saat – saat terakhir, “logistik” Di tahun kedua diri ini naik pangkat namun yang dilakukannya tetap sama. Di tahun ketiga diri ini naik pangkat lagi , namun pada akhirnya pekerjaan tetap sama. Menjadi anggota konseptor di awal kepanitiaan dan menjadi tim saat – saat terakhir di seluruh kepanitiaan, angkut – angkut, beres – beres, bersih – bersih. saya berpikir, ada apa dengan yang namanya ikatan, semua tempat menjanjikan kita bersama sebagai keluarga, saling bantu membantu, namun apa ini yang dinamakan ikatan. Selalu ada di saat – saat terakhir menjadi sebuah kebiasaan dalam kepanitiaan kemahasiswaan IMA G, hanya karena tidak ada orang yang mau. Kegiatan IMA Gunadharma pun sedang padat – padatnya, dan seperti biasa saat – saat terakhir orang pun hilang. Hilang di saat Ujian tengah semester, hilang di saat ujian akhir semester, hilang di saat pengumpulan tugas, proyeksi mimpi yang ditanamkan pengurus – pengurus pun hilang ditelan beban akademis, yang tersisa disaat – saat terakhir orang pun tidak terlalu banyak.  Akumulasi dari itu saya mendapatkan nilai E untuk perancangan. Satu nilai yang terendah dalam satu angkatan.

Ada satu cerita bahwa diri ini punya obsesi untuk membuat merenovasi ruang himpunan dengan mengecatnya. Pada hari pertama hari kamis waktu itu orang yang terkumpul untuk mengerok cat ruang himpunan ada 30 orang, hari jumat terkumpul 10 orang, dan hari sabtu tidak ada orang. Diri ini menunggu jam 8 pagi, waktu yang menunjukkan bahwa seharusnya ada yang datang untuk membantu. Diri ini  punya beberapa KP dilantai dan dua kaleng cat dari pak Suryamanto, dosen teknik bangunan arsitektur ITB. Diri ini menarik nafas untuk kemudian secara apatis, menjadi tim di saat – saat terakhir, mengecat ruang himpunan, dimulai dari mengeroknya, ada satu orang yang datang kemudian, namanya adi indra pada waktu itu, ia datang namun pergi, ia ingin mengumpulkan sampah satu itb untuk menjaga kebersihan kampus, pribadi yang menginspirasi.

Singkat kata diri ini mulai mengecat dengan roll satu persatu satu bidang, kemudian ada satu dosen, namanya pak eko purwono, dia pernah menjadi dosen pembimbing saya pada waktu tingkat dua.

“Rich, kamu ngapain ?”

“ngecat ruang himpunan pak”

“temen – temen kamu kemana ?”

diri ini diam.

“ngga worth it rich kamu ada di himpunan”’

beliau nadanya meninggi,

“iya pak”

saya pun melanjutkan kegiatan cat mengecat tanpa  memikirkan perkataan beliau lebih lanjut. Hanya saja diri ini tersenyum setelah itu,  saya kenal lebih dekat dengan beliau, dan beliau suatu saat menawarkan proyek. Dari situ satu dosen ke dosen yang lain menawarkan proyek, dan meminta jadi asisten mereka. saya bersyukur, satu titik peristiwa mengantarkan ke peristiwa lain. O iya kejadian ini terjadi setelah diri ini mendapatkan nilai E untuk studio perancangan. Dari situ diri ini belajar merancang dari orang – orang terbaik bukan dari dunia akademis saja, pak baskoro, pak hanson, pak eko purwono, pak agus, pak suryamanto, pak ridwan kamil, pak hidayat amir. Mereka mengajarkan semua ilmu mereka dengan hati. Dari situ tertanam pondasi yang sangat baik dalam memahami fungsi ruang, sekuensial, pemaknaan bentuk, dan metode pencarian bentuk. Saya mengerti bahwa merancang bisa dipelajari, dan itu bermulai dari masalah – masalah di himpunan. Kita tidak bisa mengatur apa intensi orang lain, tapi kita bisa berkaca pada diri sendiri.

Mengingat pengalaman di ruang himpunan yang kecil mungil itu dengan segala suka duka nya, menjanjikan pengalaman termanis bersama teman – teman, senior dan junior yang terbawa sampai sekarang. Segala pengalaman yang membuat kita bercucur air mata berubah menjadi jenaka, dan manis segala pengalaman manis teringat semakin manis.

Pengalaman berarsitektur, berinteraksi dengan manusia, pembentukan karakter yang membawa diri ini berarsitektur semuanya, dimanapun, kapanpun, mengajarkan hal yang sama  sama. Pengalaman menjadi anggota tim panitia yang tinggal sampai saat – saat terakhir seperti di himpunan dan pada waktu kita berkerja itu sama, dari bekerja di Bandung sama, dari berkerja di Singapura sama keadaannya, dari berkerja di Inggris juga sama, dari Australia apalagi, dari Korea sama juga, dari Jepang sama juga, dan akhirnya berlabuh kembali di DOT Workshop selalu sama, memiliki bara api semangat sangat menyenangkan. teman – teman yang menginspirasi senior – senior diatas, junior – junior dibawah, ataupun teman – teman seangkatan yang menginspirasi.

Saya kembali teringat kira – kira di tingkat tiga hanya setelah mendapat nilai E, dan menegaskan komitmen ke himpunan dengan menuntaskan kepanitiaan kaderisasi, satu teman terbaik menuliskan di buku agenda, namanya xenia, wanita ini adalah ketua tim materi yang mengketuai tim materi untuk merumuskan kaderisasi 2002, dan saya masih mengingatnya sampai sekarang, ia menulis dengan huruf italic miring

“reach the sky, coz eve if you fall down you will be still among the stars.”

Saya tentunya berhutang banyak sekali pada IMA G dan kangen sekali untuk kembali hanya untuk merasakan aura kemahasiswaan yang ada didalamnya.., mengingat kan saya pribadi untuk selalu melakukan refleksi, perjalanan hidup… dan kembali berintrospeksi. sama seperti ajakan untuk menghadiri pelantikan kemarin membuat saya kembali teringat kenangan di kampus dulu.

I love her

Juli 11, 2011 § Tinggalkan komentar

this is my domain, let me express my feeling…I love HER.

our marriage is on 25th September, hardly can’t wait for the big day…

a girl’s hope

Juni 25, 2011 § Tinggalkan komentar

This is beautiful movie clip showing a dream that everybody should look in their life. how about you ?

watch it twice so you can enjoy it fully  and have a good weekend

I hope this is Great Roseto

Juni 8, 2011 § Tinggalkan komentar

We have several activities in the office and celebrate every moments whatever it is. That moments make our life valuable, that’s what we live for. what do you think

Valentine 2010 : Celebrate love

Love Everywhere, Everytime – Entertain people with music

You know me so well – music is for all people

Meeting with bahasa sunda

Pecha Kucha at Bandung Organised by Deddy Wahjudi and crews

the learning curve – credentials

Mei 30, 2011 § Tinggalkan komentar

RAW Architecture 2014

RAW Architecture 2014

I’m writing this as a compliment for all of the efforts given by all of the most talented assistants, internship, seniors at my office who assist me in past projects. They were the people at the design firm that leaving the firm which I named R A W [Real Architecture Workshop] Architecture.

“People come and go”. People learn and practice. People known and make camaraderie.

They will go to the new place, it’s a journey to the unknown. Not everybody does that, one people might stay and live with the office, enrich the office to bloom even bigger but some people would choose to go because their particular personal reason or their future career. Some people will work in Singapore, Thailand, Hongkong, Malaysia, or Indonesia, or even United States, United Kingdom, Europe, wherever we work, it’s one adventure,  it’s priceless.

To be honest I couldn’t let everybody go, the memory of all of the people collaborate is always a treasure. I really hope that this office can grow bigger as the pure intention is to give the best place for live, work, and play for the staff inside whatever your background is.The intention is to get the best person collaborate here and they are the best. It’s a roseto.

That’s why some people said I always said not about one single person in one architect firm but the best asset of the firm  is the people.

It makes me contemplate on what’s the meaning of the office then ? while it can’t provide the long lasting learning of the staffs here, people might go anyway ? or probably it’s a journey of every person in this universe might call. At the end my firm is just a place for learning. I hope it’s the best learning place in the world for you all where it stays humble, stay passionate like a fresh students, and stay connected like what the dots mean. An absurd place like what we believe in einstein’s quote.

Thank you for your best effort which is not only done for me but for yourself. Please stay connected, hope we can work together again. I’m sad but life must go on, go and break the leg :) Let me know if someday you need my help.

My Dream Team, spread your wings :

Meirisa Trinkawati, Elvira Sandjaya, Satria Putra, Dicke Nazzary Akbar Lubis, Tika Novis, Primaldy Perdana, Anastasia Widyaningsih, Silvanus Prima, Lia Kurniadewi, Morian Saspriatnadi, Indra Dwinugraha, David Wibowo, Suryanaga, Bayu Prayudhi, Tony Hartanto, Refano Citra, Bismo Prakoso, Andhang Trihamdhani, Rudiyanto, Soraya Khaerunisa, Emmy Ulfah, Randy Ramadhan, Maria Vania, Christiandy Pradangga, Donald Epiphanius, Apriani Kurnia Sarashayu.

Intern : Indria Nidya Fatmala Warganegara, Winda Herliana Januar, Iduy Abdullah, Vincent Edson,  Endy, Liana Sastro, William Sutanto, Gery Dwi Samudra, Andhika Putra Perdana,  Giovanni Libels, Hardianto Agung Nugroho,  Amanda Gracia,  Devina Cinthya Pratiwi, Galih Adityas, Okta Lieftiani, Cornellia Debrina, Haryo Ruriandi, Harry Kevin, Lioner Octo Gurusinga, Gavin Gunawan, Fransiska Yuanita.

The secret is … ? , catatan singkat #1

Maret 25, 2011 § 6 Komentar

Diri ini teringat betapa sudah beberapa puluh anak – anak yang ada di DOT Workshop, dari dahulu hingga sekarang menemani malam – malam pembuktian yang panjang dan jam – jam workshop yang melelahkan. Saya seringkali menanyakan apa saja yang akan membuat orang- orang terbaik untuk tinggal di DOT Workshop.  Professor Danisworo membisikkan suatu waktu di acara archiworx, “Realrich, arsitek itu dasarnya adalah makhluk yang independen. “Pada saat itu pak Danis bercerita mengenai pengalamannya pada waktu membentuk Encona dan PDW dan dikelilingi oleh orang –orang terbaiknya yang datang dan pergi.

Pada waktu itu diri ini diselimuti pertanyaan kira – kira apa yang membentuk biro arsitek ini seharusnya. Budaya apa ? berpikir melalui kepala ini tidak keluar juga ? merasakan dengan hati juga tidak ada hasilnya ? menurut saya cerita ini justru muncul dengan adanya satu pencarian, refleksi mengenai apa sih rahasianya. Apa sih rahasia yang terbaik untuk meracik satu studio desain, selain tentu saja pengetahuan membuat ruang penuh filosofi, dan functionally beautiful dengan dimensi akan aktivitas dan performance yang terbaik dari aktifitas tersebut. Salah satu kunci bertanyalah pada batu bata, sensitiflah pada material, begitu catatan Kahn dalam intonasinya secara filosofis.

Pada bulan ini Maret 2012, seluruh pegawai kantor berjumlah 18 orang. Tidak termasuk dengan tukang – tukang kayu ataupun tukang listrik, tukang batu yang digaji perharian.  Sangat kontras dari dua tahun yang lalu yang kita baru berjumlah 2 orang. Pada saat ini baiknya kita merenungkan sejenak apa cerita dibalik layar dari studio kecil ini. Diri ini mencoba berhitung secara total kira – kiraada 180 pekerjaan dalam satu tahun setengah ini. Sebuah angka yang terjadi dalam waktu yang tidak singkat membutuhkan beribu – ribu jam untuk bisa menyelesaikannya. Pekerjaan ada yang datang dan ada yang pergi, begitupun dengan tim yang selalu berubah. Dinamis lincah bergerak seperti awan membawa kesedihan dan kegembiraan di langit yang biru.

Aku teringat betapa diri ini harus berterima kasih sedalam – dalamnya kepada para designer yang ada di kantor ini. Dari kenakalan – kenakalan yang akhirnya membuahkan video klip singkat mengenai satu dan dua lagu yang sedang ngetrend pada saat itu, dengan orang- orang jenaka seperti wiwid, imal, Silvanus, Lia, Morian, dan Dicke dengan K – pop alirannya. Ataupun David dengan keisengannya yang fenomenal memasukkan tokoh doraemon kedalam salah satu desain bangunan yang sedang dikerjakannya ataupun masa ospek di kantor yang dijalaninya dengan hukuman membuka dan memimpin rapat dengan bahasa jawa timuran.

Herannya, Surya dan David yang asal Surabaya ini, seringkali datang pada waktu sabtu atau minggu, mungkin saja kantor sudah menjadi rumah kedua bagi mereka yang anak perantau, jauh – jauh datang dari kampung halaman hanya untuk membuka mata dengan suasana Jakarta yang membisingkan. Banyak dari anak – anak di kantor adalah perantauan yang hidup nomaden, berpindah – pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Di dalam hati diri ini tersenyum apabila tempat ini bisa menjadi rumah kedua mereka.

Yang memukau juga kesediaan anak – anak kantor untuk selalu membuka diri akan pertanyaan, apakah ada yang lebih baik ?, Hal seperti ini sangat sulit untuk dilakukan bagi seorang designer. Diskusi demi diskusi dilakukan dengan jenaka, lontaran – lontaran celetukan yang menghidupkan suasana studio seakan – akan membuat design progress dan design produk yang fresh from the oven. Dari sketsa ke workshop. Adalagi tim sayap kiri dengan Adit, Randy, Hamu yang siap mengacau suasana dengan berceloteh atau berkomentar tentang teman – temannya yang pada akhirnya akan membuat riuh rendah di kantor, yang terkadang suaranya sampai ke jalan raya depan kantor, untungnya ibu saya adalah ketua RT di neighbourhood, jadi keributan ini bisa dimaklumi oleh tetangga . Memang berguna hal – hal seperti ini. He he…

Tim sayap kiri ini salah satunya adalah tipe yang disukai wanita dengan pesonanya celetuk anak – anak yang lain, yang satu adalah pemancing suasana, dan yang satu adalah arsitek melankolis dengan kemampuan lapangan yang luar biasa tajamnya. Sayang sang Jendral Workshop, Indra namanya, sudah keluar kota, keluar kantor maksudnya, kalau tidak tim sayap kiri ini akan semakin piawai dalam membuat keributan terutama kalau si jenderal baru saja memakan kambing yang membuat dirinya high.

Kita juga memiliki beberapa tipe rapat yang spontan saja dilakukan, sejak jaman wiwid, Imal, Sil, Toni, Morian, Lia, Bayu, . Dari rapat di hari valentine, rapat dengan bahasa sunda, ataupun berguling – guling di pantai Anyer. Mereka semua orang – orang terbaik yang fenomenal yang sekarang sudah terbang keluar kantor, keluar pulau, keluar kota ataupun keluar negeri.

tim sayap kanan juga tidak ketinggalan dengan passionnya yang tekun menerus, satu persatu dengan hati – hati seluruh project dikerjakannya. Andhang, Raras, Emmy, Maria, meski dengan mata merah menahan kantuk seringkali, dan stress menarik garis yang tidak kunjung selesai untuk menuruti kemauan saya yang selalu meminta hal yang lebih baik dan lebih baik lagi, dateline yang menerpa setiap minggunya dengan masih sempat – sempatnya tertawa dalam penat yang diri ini tahu terkadang sulit mengusirnya.

Dan lagi terkadang Kita terkejut – kejut Andhang bisa muncul tidak terduga di hari – hari libur dan datang di hari kerja membawa foto – foto yang luarbiasa mengenai karya – karya kantor.

Ini semua Outstanding, tim terbaik di dunia sudah mulai menampakkan batang hidungnya, saya tidak pernah melihat tim selengkap ini.

Belum lagi mas bambang yang dikenal sebagai magical man dan Mas Rudi Yanto yang dipanggil mas padahal ialah yang termuda, mewarnai keteknikan tim studio yang terlalu fluid dan melayang diatas awan. Awan itu pada akhirnya harus turun dan membumi, dari merekalah sentuhan itu tajam. Ada lagi menurut saya yang harus disebut dengan kredit yang luar biasa, tim – tim awal studio seperti Meirisa, wiwid, Reinard, Refano,  Sapta, Meilani, Bismo, Lia, Toni, dan anak – anak yang melakukan internship di Studio ini dalam gelak tawanya sendiri. Total kami sudah memenangkan dua digit kompetisi nasional sejak terbentuknya, dan dua digit project yang akan terbangun di tahun ini.

Setiap studio desain tentu saja memiliki kekuatan ide yang spesial di setiap langkah – langkahnya. Dengan pendekatan empiricism atau rationalismnya. Ide bisa dicari – cari dimana – mana, termasuk dengan menatap alam pun kita bisa mendapatkan ide yang tak terhingga banyaknya. Gabungan antara art dan teknik itulah yang membentuk arsitektur kata Ruskin.  Herannya diri ini merasakan mengenai gairah dan kekuatan penghargaan di arsitektur. Saling menghargai di dalam tim studio adalah satu harta yang priceless.

Diri ini tidak tahu apa yang ada di dalam kantor ini, kesedihan ketika satu persatu anak kantor ini pergi juga kegembiraan begitu ada yang bergabung menjadi keluarga. Namun salah satu asset yang paling berharga dalam >O+ Workshop adalah pada saat kita tertawa bersama – sama karena satu hal yang biasa – biasa saja.

Ada juga satu anak, Lisa namanya,  yang gemar untuk berceloteh untuk mengomentari teman – temannya,di siang bolong ataupun di saat – saat malam – malam lembur, ia  membantu untuk menimbulkan celoteh yang lain, yang pada akhirnya ia menjadi pusat perhatian untuk dicelotehi. Sehingga ia mendapatkan title celoteh Lisa untuk sesi celotehnya untuk menjadi satu superstar di warga perkampungan >O+

Ada juga yang tidak mau memperkenalkan kekasih hatinya kepada anak – anak kantor dan diakhiri dengan anak tersebut dikejar – kejar sampai ia lari terbirit – birit begitu kekasihnya datang membawa helm dan meminta kekasihnya menunggu 200 meter jauhnya dari kantor di satu pos satpam. Ada – ada saja kelakuan anak – anak ini.

Dan saya pun baru menyadarinya ternyata selama ini harta studio yang paling berharga adalah kebahagiaan dalam tawa. Ketika kita tertawa,

The secret is the laughter… oleh karena itu mungkin besok kita akan canangkan bagaimana motto kanto Gaul Asik Cool Professional bisa lebih melekat tentunya untuk membentuk kantor arsitek terbaik di dunia dengan passion terbaik di dunia. Mulai Besok banyak – banya tertawalah dikantor, karena itulah rahasia utamanya …

[RS]

diri ini kemudian juga teringat akan bingkisan kalimat yang diberikan IP.

Pak Realrich Sjarief and DOT’s family members
Simple dream, simple act, great impact
In DOT Workshop I learn
Work in family
Work with care
Work with fun
Work with laugh
Work in good mood
Work with love
It’s not office
It’s home
It’s not duty
It’s a pleasure
Then,
Attitude
Responsibility
Respect
Dicipline
Will be created by itself
It’s pleasure and honor to meet these amazing and creative family
IP

membuat diri ini bersyukur akan adanya tempat ini

1st Prize Galeri Nasional Indonesia

November 21, 2010 § 1 Komentar

Bumi bertemu Langit

Bumi bertemu Langit

Desain galeri nasional ini terinspirasi indahnya langit dan hangatnya bumi, dengan intensi senafas dengan bangunan pusaka yang ada di tengah kompleks area Galeri Nasional Indonesia. Bangunan pusaka ini dibingkai dengan galeri yang merupakan representasi dari bumi dengan ekspresi tanaman, dan dilatarbelakangi langit yang adalah gedung perkantoran / administrasi dari bangunan nasional. Lobby diletakkan di gedung pusaka dimana keluar masuk pengunjung harus melalui gedung ini dengan menempatkan jembatan [skybridge] yang menghubungkan gedung galeri dengan gedung pusaka. Plaza penerima ditempatkan di sisi barat Galeri Nasional Indonesia membuka pedestrian masuk ke sisi sungai ciliiwung, disini konsep art plaza ditempatkan sepanjang axis barat – timur yang dilengkapi dengan art store di sisi utara dan selatan.

Slide9 Slide13Slide7 Slide5

Perancangan Galeri Nasional ini didasarkan pada intensi untuk menjaga citra dari bangunan heritage dimana lebar muka lahan yang kecil yakni sebesar 70 m dibandingkan dengan lebar bangunan pusaka yakni sebesar 22 m. Oleh karea itu intervensi desain yang dipilih yaitu landsekap sebagai arsitektur sisi museum yang mengapit bangunan heritage. Konektifitas dipertahankan dengan akses publik dari monas [jalur bawah tanah] ke art shop yang terdapat pada ruang tengah galeri. Di dalam masterplan, isu keterhubungan ini berlanjut ke sisi sungai ciliwung sehingga memungkinkan adanya aktifitas seni di samping sungai. Secara umum pembangunan masterplan terbagi 2 tahap, tahap pertama berfokus pada bagian utama yaitu area galeri nasional. Pada tahap pertama diasumsikan pembebasan lahan masih dalam proses, sehingga pembangunan difokuskan pada pengembangan galeri nasional saja. Tahap pertama dapat berjalan secara mandiri yaitu sebagai fungsi pokok dari galeri nasional . tahap kedua dilakukan pada engembangan berikutnya saat pembebasan lahan sudah terlaksana. Pada tahap kedua, pembangunan dilakukan sebagai pendukung fasilitas galeri. Gedung konvensi, auditorium, dan hotel diletakkan di sisi utara dengan eksposure ke arah monas dan stasiun gambir.Massa bangunan secara umum, merespon 2 aksis utama. Aksis monumen nasional dan bangunan eksisting galeri nasional yang terhubung dengan stasiun gambir. Axis terhadap monas direalisasikan dengan jalur bawah tanah. Bagian depan dan belakang galeri nasional merupakan plaza terbuka yang dibhubungkan sebagai respon terhadap kawasan monas [depan] dan sungai ciliwung[belakang].

Secara umum Galeri Nasional Indonesia ini menggambarkan kesederhanaan arsitektur Indonesia yang selaras dengan alam tempat bersatunya bumi dan langit.

Principal Architect: Realrich Sjarief

Team Member : Happy Marfianta, Apriani Sarashayu, Septrio Effendi, Tatyana Kusumo, Miftahuddin Nurdayat, Maria Vania, Muhammad Iqbal Zuchri, Christiandy Pradangga, Donald Aditya,  dan Mukhamad Ilham

Karya ini dipublikasikan pada bookgazine Archinesia volume 4. Cross-Border Architecture

Diproteksi: Rationalist City

November 15, 2010 Masukkan kata sandi Anda untuk melihat komentar.

Konten ini diproteksi dengan kata sandi. Untuk melihatnya cukup masukkan kata sandi Anda di bawah ini:

Diproteksi: Garden City – Ebenezer Howard

November 15, 2010 Masukkan kata sandi Anda untuk melihat komentar.

Konten ini diproteksi dengan kata sandi. Untuk melihatnya cukup masukkan kata sandi Anda di bawah ini:

Glenn Van Ekeren “tawarkan pundak anda untuk disandari”

September 20, 2010 § 2 Komentar

Artikel dibawah ini sangat menarik, untuk oase di tengah – tengah kesibukan yang menghampiri. terkadang memang kita membutuhkan dorongan, terutama dari orang – orang terbaik di sekitar anda :)

” Tidak banyak yang lebih dahsyat di dunia ini selain dorongan yang positif. Sebuah senyum. Sepatah kata tentang optimisme dan pengharapan. Sebuah ungkapan “kamu bisa” ketika kesulitan sedang melanda. ” Richard M. Devos

Olimpiade 1992 di Barcelona, Spanyol menampilkan banyak hal yang sangat menakjubkan bagi para pengamatnya. Tayangan ulang salah satu pertandingan atletik selalu hidup dalam kenangan saya. Atlet Derek Redmon dari inggris memiliki hasrat seumur hidup untuk memenangkan medali emas dalam lomba 400 meter. Peluangnya untuk meraih mimpi itu meningkat ketika letusan pistol menandai dimulainya babak semifinal di barcelona. Redmon berlari dengan baik sekali, dan garis finish sudah di depan mata ketika ia berbelok di ujung yang jauh dari penonton. Tiba – tiba musibah itu datang. Ia merasakan nyeri yang dahsyat sekali di bagian belakang kakinya. Ia tersungkur di lintasan, muka terlebih dahulu, dan mengalami cedera pada otot hamstring sebelah kanan.

Berikut ini laporan tentang kejadian itu yang ditulis oleh Sports illustrated:

Sewaktu para petugas medis menghampirinya, Redmond berjuang untuk berdiri sendiri. “itu naluri hewani,”
katanya belakangan. Ia melompat – lompat dengan sebelah kakinya dalam upaya mati – matian untuk menyelesaikan lomba. Ketika ia tiba di lintasan lurus menjelang finish, seorang lelaki tinggi besar mengenakan T – Shirt keluar dari barisan penonton, menyingkirkan seorang petugas keamanan yang mengahalangi, langsung berlari mendekati Redmond dan memeluknya. Orang itu Jim Redmond, ayah Derek. ” Kamu tidak harus melakukan ini,” katanya kepada putranya yang terisak. “Aku harus, ” sahut Derek. “Kalau begitu,” kata jim,” kita menuju ke finish bersama – sama.”

Mereka berlari bersama – sama. Kendari harus bersikeras dengan petugas keamanan, sambil kadang – kadang membiarkan kepala anaknya bersandar pada pundaknya, mereka tidak meninggalkan lintasan menuju ke garis finish. Para penonton ternganga, kemudian bangkit dan bersorak sorai dengan keharuan yang mendalam.

Sungguh pemandangan yang dramatis! Derek Redmond gagal mendapatkan medali emas, tetapi ia meninggalkan Barcelona dengan sebuah kenangan sangat indah tentang seorang ayah yang segera meninggalkan bangku penonton untuk ikut menanggung penderitaan yang dialami oleh sang putra. Bersama – sama mereka akhirnya sampai ke garis finish.

Tidak ada orang hidup yang belum pernah mengalami kekecewaan ketika harapannya tidak tercapai. Kenyataan tidak selalu terwujud seperti yang kita rencanakan dalam upaya meraih cita – cita kita. Hambatan – hambatan tidak diharapkan, kejadian – kejadian tidak terduga, atau situasi di luar kendali dapat membuyarkan semangat kita. Betapa cepat lunturnya pengharapan kita ketika tiba – tiba kita menemui kegagalan, rasa malu dan celaan.

Sebuah ungkapan yang membesarkan hari ketika kita sedang mengalami kegagalan lebih berharga daripada hujan pujian sehabis mengalami keberhasilan. Orison Swett Marder berkata, ” Tidak ada obat seperti harapan, tidak ada insentif begitu besar, tidak ada obat kuat seperkasa ungkapan harapan bahwa esok segalanya akan lebih baik.” Anda dapat menjadi pembagi harapan yang akan membebaskan seseorang dari beban masa sekarang dan mengantarnya ke kemungkinan – kemungkinan dimasa mendatang.

Memahami betapa cepat momentum yang dapat ditimbulkan oleh suatu musibah mendadak dapat meningkatkan kepekaan kita terhadap perasaan orang lain ketika kekecewaan merusak peraihan mimpi – mimpi mereka. Ada saat seperti itulah orang memerlukan seseorang yang peduli kepada mereka dan bersedia meluangkan waktu untuk menemani mereka. Tunjukkan kepada mereka bahwa anda menyertai dan menemani mereka. Tawarkan pundak anda untuk mereka sandari ketika mereka kelelahan atau menahan nyeri. Mereka mungkin tidak mencapai tingkat keberhasilan yang diharapkan, tetapi mereka tidak pernah pernah melupakan orang yang mengangkat mereka ketika sedang jatuh. dan itu sangat layak untuk dilakukan

ya memang kita setiap orang memerlukan orang – orang terdekat kita untuk selalu mendukung segala jalan yang kita tempuh. Dan aku bersyukur dan beruntung bahwa aku memiliki orang – orang terdekat yang selalu mendukung segala langkah ini.

Ciptakan Perubahan Dalam Hidup Sesama, one writing from Glenn Van Ekeren

Juli 20, 2010 § Tinggalkan komentar

Tidak Berbuat apapun bagi sesama berarti tidak berbuat apapun bagi diri sendiri. Kita harus dengan sengaja bersikap ramah dan murah hati kecuali bila kita ingin menyia – nyiakan bagian terbaik dari keberadaan kita. Hati yang direlakan berkarya akan mendapatkan kepenuhan dalam kebahagiaan. Inilah rahasia dari kehidupan di bawah permukaan Kita berbuat yang terbaik bagi diri sendiri dengan berbuat sesuatu bagi orang lain. Horace Mann

Pada suatu masa, Tanah persia pernah diperintah oleh seorang syeh bijaksana dan sangat dicintai rakyatnya. Syeh ini peduli sekali kepada rakyatnya dan keinginannya hanya berbuat yang terbaik bagi mereka. Rakyat Persia tahu bahwa syeh mereka mau menangani masalah – masalah mereka secara pribadi dan memahami pengaruh keputusan – keputusannya bagi hidup mereka. Secara berkala ia menyamar dan berkeliling ke jalan – jalan, mencoba menyaksikan hidup melalui cara pandang mereka.

Pada suatu hari ia menyamar sebagai seorang penduduk desa yang miskin lalu pergi ke tempat pemandian umum. Di sana banyak orang yang sedang menikmati saat – saat santai sambil bersosialisasi. Air di pemandian itu dihangatkan dengan api dari sebuah tungku di gudang bawah tanah, dan di situ ada seorang laki – laki yang bertanggung jawab mengusahakan agar tingkat kehangatan air di pemandian tetap nyaman. Syeh sengaja pergi ke ruang bawah tanah untuk menjenguk lelaki yang tanpa kenal lelah menunggui api.

Kedua orang itu makan bersama dan syeh berhasil menjalin persahabatan dengan lelaki yang kesepian itu. Hampir setiap hari sampai berminggu – minggu, penguasa negeri tersebut berkunjung ke tempat kerja sang penunggu api. Dalam waktu singkat orang asing itu menjadi terbiasa dengan sang tamu karena seringnya ia datang ke situ. Belum pernah ada orang lain yang menunjukkan perhatian atau kepedulian semacam itu kepadanya.

Pada suatu hari sang syeh menyingkapkan jati – dirinya yang sebenarnya . Ini sebuah langkah yang berisiko, sebab ia takut orang tadi akan meminta hadiah atau pemberian istimewa darinya. Namun diluar dugaan, teman baru sanga pemimpin itu hanya memandang ke dalam matanya sambil berkata, “Yang Mulia bersedia meninggalkan kenyamanan istana dan kemuliaan yang mulia untuk duduk menemani saya di ruangan gelap yang seperti penjara bawah tanah ini. Yang Mulia bersedia makan makanan saya yang tidak lezat dan dengan tulus menunjukkan kepedulian atas hidup yang saya jalani. Kepada orang lain Yang Mulia mungkin telah menganugerahkan uang atau barang berharga, tetapi kepada saya Yang Mulia telah memberikan yang terbaik, Yang Mulia telah memberikan diri Yang Mulia sendiri.

Selama ribuan tahun, orang telah mencoba menggali apa saja yang mendasari hubungan antar manusia. Dengan semua falsafah , teori, dan spekulasi itu, hanya satu prinsip yang tampaknya tampil  paling menonjol. Prinsip itu bukan barang baru sama sekali. Sesungguhnyalah, prinsip itu hampir sama tuanya dengan sejarah sendiri. Prinsip itu telah diajarkan di Persia lebih dari tiga ribu tahun yang lalu oleh para pendeta Zoroaster kepada para pemuja api yang percaya kepada mereka. Konfusius menekankan prinsip ini di Cina dua puluh empat abad yang lampau. Di lembah Han hidup para pengikut Taoisme. Pemimpin mereka, Lao – Tzu mengajarkan prinsip yang sama dengan sungguh – sungguh. Lima ratus tahun sebelum Masehi, Buddha mengajarkannya kepada murid – muridnya di tepi sungai suci Gangga, Naskah – naskah Hinduisme mengangkat prinsip yang sama lebih dari seribu lima ratus tahun sebelum masehi. Sembilan belas abad yang alalu, Yesus mengajarkan prinsip yang juga sama kepada murid – murid dan pengikutnya. Ia meringkasnya dalam satu ungkapan:”Perbuatlah kepada orang lain apapun yang engkau ingin orang lain perbuat kepadamu.”

Sikap tidak mementingkan diri sendiri yang memungkinkan kita memberikan diri kepada orang lain barangkali tidak akan menjadi pelajaran yang diutamakan dalam pendidikan di sekolah – sekolah masa kini. Kendatipun kita hidup dari apa yang kita dapatkan, ganjaran yang sejati kita peroleh dari apa yang kita berikan. Anda tidak akan menikmati hari – hari yang memuaskan, bahkan meskipun Anda mungkin tergolong sukses menurut tolak ukur yang berlaku di masyarakaat, kecuali bila Anda telah berbuat sesuatu bagi seseorang yang tidak akan pernah mampu membalas perbuatan baik Anda.

Ditengah hiruk pikuk kegiatan dalam dunia yang sangat kompetitif ini, luangkan waktu dalam beberapa hari mendatang untu merenungkan pemikiran Harold Kushner : ” Tujuan hidup ini bukan untuk menang. Kita hidup agar berkembang dan saling berbagi. Anda akan mendapatkan kepuasan lebih banyak dari kebahagiaan yang Anda datangkan ke dalam hidup orang lain daripada yang akan Anda dapatkan ketika Anda mengungguli dan mengalahkan mereka.

Saya berpikir bahwa tulisan dari Glenn ini akan mewarnai kehidupan kita untuk saling berbagi dan menghargai sesama, sama seperti diri ini yang masih jauh dari sempurna untuk menjalai kehidupan yang menciptakan perubahan dalam hidup sesama.

“Jika Anda ingin orang lain menghormati Anda, Anda harus menunjukkan hormat Anda kepada mereka… Setiap orang ingin merasakan bahwa ia diperhitungkan, bahwa ia penting bagi orang lain. Pada umumnya, orang akan memberikan kasih sayang mereka, rasa hormat mereka dan perhatian mereka kepada orang yang memenuhi kebutuhan tersebut dalam dirinya.

Kepedulian kepada orang lain umumnya mencerminkan kepercayaan kepada diri sendiri dan kepercayaan kepada orang lain” Ari Kiev

Ketika menengok ke masa silam, Anda akan menemukan bahwa saat – saat ketika Anda merasakan hidup dalam kepenuhan adalah saat – saat ketika Anda telah berbuat sesuatu dalam semangat kasih. Henry Drummond.

Selamat menikmati hari Minggu terbaik dalam hidup anda, God Bless You All.

Resolusi Tahun baru 2010

Januari 15, 2010 § 4 Komentar

Keinginan dan kenyataan, 08 January 2010, Bali

Di akhir tahun ini aku berpikir mengenai apa yang sudah terjadi di tahun 2009 dan apa yang ingin diraih di 2010. Ada orang – orang yang punya mimpi , cita – cita, dan resolusi tahun baru, ada juga yang menganggap ini hal yang biasa – biasa saja, dan berjuang sehari – harinya. Namun kita semua selalu mengharapkan hidup yang lebih baik di tahun yang baru ini, tahun 2010. Apa arti 2010 ini ? Apa mimpimu ?

 

Kehidupan

Pikiran ini melayang ke rencana di bulan Maret tahun depan, sekolahku akan berakhir, gelar akan diraih. Orang – orang banyak yang menanyakan di akhir tahun ini. Untuk kemana langkah ini akan dilangkahkan setelah selesai kuliah master ? Ingin bekerja dimana ? Menetap dimana ? Apa akan kembali berkerja di london lagi ? Atau ke Abu Dhabi ? Atau ke singapore ? Atau tetap di Sydney ? Atau pulang ke Indonesia ? Apa rencana jangka pendek ? Apa rencana jangka panjang ?

Pikiran ini melayang, kemana angin membawa, aku pergi, rasanya hidup ini memang tidak pernah pasti,

Terkadang Angin itu tidak diharapkan, membawa kesialan orang bilang, membawa bencana. Terkadang angin itu tenang, dan diharap2kan oleh semua orang. seperti kita mengharapkan sirkulasi udara silang dalam desain rumah tinggal maupun bioclimatic tower. Dimana udara bergerak dari tekanan yang tinggi ke tekanan yang rendah, dari temperatur yang dingin ke panas.

Aku berbincang – bincang terakhir dengan salah satu arsitek senior dengan 40 tahun pengalaman, ia berkata, “Rich, bagi saya apapun yang terjadi dalam hidup, saya tidak takut, karena itulah hidup, mencari jawaban dari masalah yang ada.”

tambahkan dengan bersyukur dan berdoa.

Ada satu cerita dimana keponakanku akan menjalani operasi besar dan membutuhkan darah , saat itu aku baru saja pulang dari Sydney untuk keperluan perkerjaan dan Pengalaman pertama menjadi donor darah sungguh berkesan. Aku melihat – lihat sekitar di daerah PMI jl Keramat, banyak orang hilir mudik, orang tua yang berada di sampingku berkata, “ini bukan apa – apa kalau malam lebih ramai lagi”.

Mereka semua sibuk mencari darah untuk sanak keluarganya yang membutuhkan. Aku belajar bahwa darah maksimal yang bisa diambil dari tubuh manusia adalah 450 cc dan untuk 3 bulan baru bisa mendonor kembali. Aku juga baru tahu bahwa ada penghargaan pula untuk orang – orang yang sudah mendonorkan darahnya selama 100 kali untuk diberikan piagam penghargaan dan kesempatan bertemu presiden RI.

Sedemikian besarnya arti darah untuk orang lain. Senyum ini pun muncul melihat satu paragraf di kartu merah donor darah, “darah anda berarti bagi sesama.” berbagi kehidupan melalui darah. Tuhan, Semoga keponakan ku bisa kembali sehat seperti semula.

Bersyukur akan kehadiran orang tua

Dalam liburan natal dan Tahun baru ini, aku sempat untuk berbincang – bincang dengan ayahku. Aku mendapatkan banyak hal dari berdiskusi dengan beliau. Beliau adalah tempat aku bertanya, dalam hal – hal besar maupun hal – hal kecil di masa depan maupun pengalamannya di masa lalu. Terkadang nada bicara bisa meninggi namun terkadang biasa – biasa saja. Aku selalu berpendapat sebelumnya bahwa berjalan – jalan melihat sekitar akan menajamkan empati kita terhadap lingkungan dan orang lain. Namun

Ada sebuah cerita,

Andrew was always kind and thoughtful to his grandparents. He talked to them. Asked them questions. Listened to their experiences. These were four elderly people from two sections, of Italy, born at the start of the twentieth century, when people traveled by hose and cart, with no electric light, no radio, when diseases that have long since been eradicated were killers and family members an neighbors never made it past the first few grades in school and news from outside the village reached them by word of mouth… Andrew grew up listening to the people around him and continues that practice to this day. There’s saying that you broaden your horizons through travel, but if you are curious enough to listen to other people

, you can broaden your horizons without leaving your backyard.” – Larry king

Dari keseharian yang biasa – biasa saja, kita pun bisa mendapatkan hal yang sama. Orang tua itu sendiri adalah harta paling berharga dari keluarga. Di negara Jepang, Toyota bisa maju di industri otomotif karena menjaga orang – orang senior untuk saling berbagi terhadap anak – anak buah yang junior sampai usia 75 tahun. Jadi teknologi dan ilmu pengetahuan yang sudah dipelajari bisa terus ditingkatkan sehingga era fabrikasi dan penggunaan robot bisa dilakukan secara kontinu. apakah kita bisa belajar dari toyota ?

Bersyukur untuk masalah

Di awal 2010 ini, aku percaya keoptimisan itu harus diciptakan, optimis akan menghasilkan sikap yang baik dan kesempatan… di tahun yang baru ini semoga kita semua bisa diberikan kesempatan untuk selalu berkarya.

Ketika aku melihat kebelakang kubersyukur

akan Tuhan yang memberikan seluruh hal yang sungguh indah untuk dijalani

akan nafas yang diberikan setiap waktu untuk membuat hidup itu ada,

akan air, akan alam dan peradaban arsitektur yang menarik untuk di amati

akan orang tua, keluarga, gadis yang kucintai dan teman – teman ada

akan kehidupan yang cukup,

akan pekerjaan,

akan ketidaknyamanan,

akan resiko dalam hidup, dan

akan masalah yang ada,

karena itu semua yang membuat resolusi di tahun 2010 ini

melihat diri untuk lebih bersyukur dengan apa yang sudah ada

dan berusaha lagi dengan segala kesempatan yang ditemui.

Aku bersyukur dikaruniai orang – orang yang sungguh berbakat di sekitar seperti dua orang arsitek muda berbakat yang baru saja kutemui 2 bulan kemarin dan satu orang arsitek berbakat, ku berkerja bersama selama satu tahun belakangan ini, untuk bisa berdiskusi, berkarya, dan berbuat bersama untuk keseharian perkerjaan. Mungkin di bulan – bulan kedepan cerita yang lebih menarik akan muncul.

Seberapa jauh perjalanan anda dalam hidup ini bergantung pada apakah anda bersikap lembut kepada yang lebih muda, bersikap kasih kepada yang lebih tua, bersimpati kepada yang harus berjuang lebih keras dan bertenggang rasa kepada yang lemah dan yang kuat, karena suatu hari dalam hidup ini, anda akan menjadi salah satu diantaranya “ George Washington Carver

Semoga beberapa bulan ke depan, hidup akan semakin baik dan semakin berwarna untuk dijalani.

Realrich

Jepang dan sebuah pelajaran tentang rasa

Desember 3, 2009 § 2 Komentar

Kyoto, 091128 , Japan, a country with endless story about culture, history, and nature.

Tinggalkan pikiran – pikiran dunia, merunduklah. Dengarlah suara teko air teh yang mendidih, dengarlah suara alam, burung – burung yang berkicau, suara air yang menetes, suara kaki orang yang berjalan, alam sesungguhnya berbicara, rasakan kesempurnaan dalam ketidak sempurnaan, mata ini menatap ke arah huruf kaligrafi jepang yang ada di depanku, kemudian wanita di depan ku berkata, prinsip ini melandasi budaya Jepang pada upacara minum teh, yaitu Simple dan Rustic.

Tak heran semua yang ada di Jepang terlihat begitu sederhana dalam kesehariannya meskipun jejak – jejak modernisasinya juga terasa dimana – mana. Konstruksi Detail – detail kuil yang terbawa dari jaman dinasti Tang China, berubah menjadi sederhana dan tampil apa adanya.dengan warna – warna alam. Berbeda dengan China yang menggunakan warna – warna cerah untuk kuil – kuilnya. Di Kyoto, kuil2 dijaga kelestariannya, di jaga kesempurnaannya setiap 30 tahun, mereka tetap berbicara dengan alamnya dengan kondisi yang terbaik untuk anak cucu mereka untuk melestarikan budaya.

Musim gugur, di bulan november, saat yang sangat indah dimana pepohonan mulai menunjukkan warna-warninya. Gingko dengan warna kekuning-keemasannya, Mapple degan warna merah kekuningannya, maupun Sakura yang berwarna kecoklatan. Berjalan – jalan ke 4 kota yang berbeda, Tokyo, Nagoya, Kyoto, Osaka. Tokyo, Nagoya, Osaka dengan densitas yang sangat tinggi. Karya maestro – maestro designer Jepang yang bertaburang antara kota2 ini menjadikan kota ini menarik sebagai objek arsitektural ataupun relasinya denga tata ruang kota. Juga Kyoto, kota yang sangat indah dengan kuil2 shinto dan buddha, menunjukkan transisi dari artifisial ke alam.

pikiran ini beralih ke satu saat di studio NIT [Nagoya institute of Technology] ‘Hey apa yang kalian berdua lakukan, tanyaku, kepada kedua orang teman jepang yang ada di tim desain, mereka terlibat dalam debat yang cukup lama, saat itu sudah jam 5 pagi di studio workshop, satu bernama yuki, satu lagi bernama Ban, mereka masih berdiskusi tentang desain di saat sepagi ini sedangkan besok adalah waktu untuk presentasi jam 1 siang.. Aku juga baru tahu ternyata mereka sudah beberapa hari ini tidur hanya 1 ataupun 2 jam di studio workshop. Saat itu Teman – teman dari Australia pun sudah pulang.Bagi mereka berkerja sepagi ini di luar persepsi, dua dunia yang sungguh berbeda. Satu mengejar kesempurnaan dan satu mengejar kenyamanan..

Setelah kita berdiskusi sampai jam 6 pagi, 3 jam setelah itu mereka menyelesaikan gambar dan siap untuk presentasi.

Frank llyod Wright mendapatkan inspirasinya bentuk arsitekturnya pun dari jepang, cara ia bermain dengan bidang – bidang horisontal, Pola atap, proporsi massa dengan mengambil prinsip planning beaux art Perancis. Jepang sendiri secara jelas memamerkan budayanya pada saat World Columbian Exposition 1893, semenjak itu arsitektur jepang mulai menginspirasi banyak arsitek amerika dan dunia pada waktu itu. Diri ini terinspirasi oleh karya wright di imperial hotel dan school of free spirit, dimana ia bermain dengan planning split level untuk menghasilkan ruang – ruang yang mengalir dengan permainan bukaan dari permainan yang terlihat sangat sederhana namun sangat cerdik. Pola – pola detail artikulatif yang terus berulang yang konsisten dari tampak besar ke tampak kecil selebar 1 – 3 cm yang saling berbicara satu sama lain. Gedung imperial hotel ini hanya lobby yang tersisa, kamar – kamar dan ruang makan sudah dihancurkan. Saat itu aku bertanya kepada kyoko, salah satu mahasiswa jepang, kenapa dihancurkan ? Satu sebabnya, adalah gempa yang menyebabkan bangunan ini rusak parah, pertanyaan kedua , kenapa tidak direstorasi ? Kyoko pun menjawab, terlalu mahal. Aku pun tersenyum, diri ini kembali teringat pada Jon Lang, satu kata yang harus kita ingat, affordance. Seberapa terjangkau satu karya bagi satu negara, satu kota, satu komunitas, satu keluarga, orang per orang.

Desain juga bersentuhan dengan affordance meskipun ia adalah karya sebuah maestro arsitek.

Dari Jepang aku belajar lebih mencintai budaya, alam dan kesungguhan untuk berkarya. Dari totalitas yang ada, belajar untuk mengembangkan rasio dan rasa, pikiran dan perbuatan untuk menghasilkan karya terbaik. Di balik rasio yang kudapat dari Australia, aku mendapatkan pelajaran rasa dari Jepang, negara yang cantik, dan indah dalam keseharian.

dan 3 bulan lagi aku akan menyelesaikan studi di Australia, pertanyaan menarik ketika aku bepikir kemana aku akan melangkah selanjutnya… aku percaya 3 bulan ini adalah bulan yang paling kutunggu – tunggu…

Dan Aku pun berkata kepada teman – teman di Jepang, 2 tahun lagi aku akan kembali ke Jepang, karena pelajaran ini masih belum selesai , dengan wanita terbaikku...

last Photo taken by Vite-best friend of mine

Kerja Keras

September 20, 2009 § 9 Komentar

170909, Sydney.. 4 am ” Far and away the best prize that life offers is the chance to work hard. Theodore Roosevelt (1858 – 1919)CIMG3433

 
Mata ini terasa sakit, ingin untuk menutup, lidah ini terasa kelu, mungkin aku hanya butuh memejamkan mata sejenak.

Tanganku kembali menulis satu paragraf demi satu paragraf. Sekarang sudah jam 4 pagi, baru saja satu pekerjaan dari Indonesia selesai dikerjakan, di antara pekerjaan – pekerjaan yang masih menunggu dan artikel – artikel tugas kuliah yang tertumpuk di kasur. Aku bergumam, besok mungkin aku harus ke perpustakaan dan semua ini harus selesai. Aku tertunduk lesu, duduk di depan meja gambar, dan terdiam saja. Tenagaku benar – benar terkuras, lembar demi lembar sketsa bertebaran di lantai, kamar studio ini sudah seperti kapal pecah. Kalau diingat – ingat sudah beberapa  minggu ini keadaan sudah seperti ini, selebih lagi beberapa hari terakhir ini dimana dateline berdatangan. Untungnya beberapa minggu terakhir ini sudah ada rantangan yang datang setiap harinya, membantu untuk hidup lebih teratur. Senyum ini mulai muncul.

Kerja keras …

Aku ingat sering teman terbaikku bertanya, untuk apa kamu bekerja sekeras ini, untuk uang dan kebanggaan ? Aku pun terdiam. Aku belajar dari tahun-tahunku bekerja dulu meskipun semua orang selalu berlomba – lomba naik promosi ke jabatan yang lebih tinggi, kita terkadang juga berlomba – lomba untuk menolak tanggung jawab lebih. Orang berlomba – lomba untuk tidak bekerja keras meskipun mereka juga ingin hidup sempurna..ada kalanya di masa kaderisasi di Bandung, ketika aku sudah menjadi alumni , aku hanya mengamati bagaimana tingkah laku para senior dan junior… aku selalu teringat kejadian yang selalu berulang selama 9 tahun terakhir, menyuruh – nyuruh, memaki – maki, mengumpat, mencaci maki ketidak sempurnaan orang lain. Dunia ini tidak sempurna diantara bayang – bayang manusia yang tidak sempurna yang mencaci ketidaksempurnaan … Aku ingat pada waktu aku bekerja dulu, biasanya hanya 10 % orang – orang yang tinggal di studio workshop, bekerja di akhir minggu untuk hanya sekedar menyempurnakan pekerjaan, menyelesaikan gambar atau berkorespondensi dengan klien melalui email… dari bekerja kita mendapat uang dan kebanggaan. Semua orang butuh uang dan kebanggaan, uang untuk makan, dan kebanggaan akan profesi yang dicintai. Namun itu bukan segalanya. kalau dunia sesempit itu, kita tidak butuh kerja keras. lalu untuk apa?going to village

setiap minggu wanita terbaikku selalu berangkat ke kliniknya, termasuk hari sabtu pagi.

Dari hari senin sampai kamis ia harus ke puskesmas, dari pagi jam 6 pagi sampai jam 9 malam. juga hari jumat dan sabtu. Terkadang kemudian kita bercerita hal – hal yang biasa, namun selalu membuat hal – hal yang biasa menjadi luar biasa dengan tertawa. Ternyata kita masih bisa tersenyum dibalik kesibukan yang luar biasa.

Pikiran ini melayang ke liburan satu minggu kemarin yang baru terlewat, aku bangun lebih pagi dari biasa, dan tidur lebih malam dari biasa.

bondi

Ada kalanya bersama teman – teman kampus ku pergi ke pantai yang hanya 30 menit jauhnya dari daerah ku tinggal . Pantai dimana langit begitu biru dan aku bisa menatap horizon untuk sekedar duduk dan menikmati alam, atau bermain lempar frisbee tanpa aturan yang jelas. Setelah itu ada kalanya diri ini bersepeda untuk hanya ke perpustakaan atau toko buku bekas untuk mencari buku – buku murah, membaca, dari satu pojok ke pojok yang lain. ya buku,

Buku itu yang bisa membuat kita menjadi mengerti akan mimpi, pendapat, dan sejarah ilmu pengetahuan. Semoga masih banyak anak yang ingin menjadi astronot, ilmuwan, sastrawan, arkeolog demi ilmu pengetahuan, demi penemuan yang baru. Keseluruhan sistem kehidupan yang berbasiskan bisnis dan perputaran uang belaka, sungguh membuat miris kehidupan anak2. Semoga saja anak – anak tidak berhenti untuk bermimpi untuk ilmu pengetahuan. Semoga tidak lebih banyak anak – anak yang duduk di depan tv dan menonton sinetron yang hanya berisi karakter sampah, mimpi sampah dan euforia sampah tanpa ilmu pengetahuan.

3 tahun yang lalu Aku teringat akan perkataan teman terbaikku, sore – sore Bandung yang rintik2. Waktu itu hanya seminggu sebelum aku berangkat ke London. Rich, semoga suatu saat nanti, kamu bisa sekolah dan mengerti apa kamu dapat dari sekolah lagi.

Pada saat ini aku berpikir mengenai mimpi, kerja keras, dan proses untuk menjadi tahu.

Aku bersekolah demi menjadi tahu, dan aku bekerja untuk menjadi tahu,. Mencoba sempurna untuk tau apa itu ketidaksempurnaan. Dengan bekerja sekeras mungkin, berpikir sekeras mungkin mungkin pada akhirnya nanti, anak – anakku sendiri akan melihatku, seperti aku melihat ayahku bekerja keras bagaimana Aku sungguh bangga akan ayahku yang selalu berusaha dengan kerja keras. Ia selalu tersenyum, mengingatkan untuk terus berusaha meski keadaan tidak berpihak kepadanya di keadaan yang sulit.  Aku sangat bersyukur aku bisa melewati minggu – minggu ini untuk selalu belajar menikmati hidup dengan kerja keras. aku pun tersenyum kembali dan saatnya aku bekerja lebih keras lagi.

akhir kata Selamat Lebaran saudara – saudara muslim, selamat idul fitri, semoga diberikan berkat berlimpah dan bisa berkumpul menikmati kebersamaan dengan keluarga. mari kita kerja lebih keras lagi untuk merubah hidup menjadi lebih baik. Rich

He Lives In You

Ingonyama nengw’ enamabala [Here is a lion and a tiger]

Night, And the spirit of life, Calling,..Mamela [Listen]
And a voice,With the fear of a child, Answers..

Wait, There’s no mountain too great
Hear the words and have faith
He lives in you, He lives in me
He watches over, Everything we see
Into the water, Into the truth
In your reflection
He lives in you

Terima Kasih Tuhan, kau telah memberikan orang – orang yang luar biasa untuk mendampingi hidup ini :)

Perhentian sesaat di Seoul, Korea

Agustus 7, 2009 § Tinggalkan komentar

Incheon, Korea 020809

“Nothing is as simple as we hope it will be.” Jim Horning

DSC00230Free your mind like butterfly flying

Jari ini menari – nari, seiring dengan pikiran ini yang tidak kunjung berhenti untuk berpikir. Tanpa disadari Tubuh ini terasa penat, total perjalanan ke Korea berlangsung selama 36 jam, berada di dalam pesawat dalam perjalanan Jakarta, Perth, Sydney, Singapore,Korea – Incheon. Perjalanan yang penat namun memberikan waktu untuk kembali berpikir.

Cuaca kali ini sedang kurang bersahabat, terlihat dari jendela pesawat. Kemudian aku teringat akan sebuah cerita pada saat masa kecil dulu. Waktu itu guru agama kami memberikan sebuah soal, ada 10 orang di dalam pesawat, pesawat sedang mengalami kerusakan dan hanya bisa menyelamatkan 5 orang, siapakah yang anda pilih ?

Di antara 10 orang tersebut ada yang berprofesi sebagai dokter yang bisa menyelamatkan ribuan nyawa,ada pula politisi yang dalam misi perdamaian Negara – negara yang sedang berperang, ada lagi misionaris yang akan mencerahkan orang – orang untuk berbuat baik, selain beberapa orang luar biasa, ada juga orang yang biasa – biasa saja, ada ibu rumah tangga , ada anak kecil, ada juga bapak yang berprofesi sebagai arsitek, tukang kayu, ahli computer.

Aku hanya bisa menghela nafas, apabila Tuhan menginginkan 10 orang itu untuk selamat ia akan selamat, apabila 10 orang akan meninggal ia pun akan meninggal. Hanya terkadang kita dihadapkan pada pilihan sulit yang tidak hanya menentukan diri ini sendiri namun juga orang lain.

Semoga ketika nanti dihadapkan pada pilihan sulit, akan tahu kemanakah aku harus memilih. Ahh aku sadar, pikiran ini melantur saja,

Guncangan pesawat semakin keras, memang cuaca semakin tidak menentu, mungkin ini sisi negatif terbang di malam hari, kumpulan awan dari laut yang relatif dingin di malam hari mengakibatkan guncangan perbedaan tekanan dari pesawat. Aku duga sekarang sudah berada di pertengahan jalan dari pulau Jawa dan benua Australia.

Pengolahan parti dan porche adalah satu teori bentuk arsitektur yang terbaik yang didapat selama satu tahun terakhir ini. Sensitifitas  itu ternyata tidak berasal dari hati, namun dari kayanya ilmu pengetahuan. Dari tidak tahu menjadi tahu. Ingat juga apa kata Jon Lang,  “kalian harus tahu apa yang kalian bicarakan, terlalu banyak ide – ide generic akan kalian kenal, dan kembali pergunakan, ide itu bisa berasal dari orang lain ataupun ide yang sudah bersifat generic, namun ingat, ide itu harus punya konteks”. Konteks terhadap angin, matahari, kelembapan, suhu, kenyamanan manusia, dan konteks terhadap program.DSC00187
Un Studio, the galleria, satu koridor setelah itu

Di Korea aku bertemu teman – teman lama juga teman – teman baru. Aku ingat malam itu kita duduk ber 4 untuk hanya sekedar minum kopi..,  kita pun saling tertawa ketika membicarakan cinta, hidup, kejadian – kejadian lucu selama ini. Dan Arsitektur pun dibicarakan.. aku baru sadar kalau mereka adalah orang – orang yang pernah berkerja di OMA, BIG, Snohetta, dan Foster + Partners  dari New York , Pennsylvania, London sampai Copenhagen. Kita kemudian Saling bercerita bagaimana kerasnya jam bekerja, mengalami banyak hal positif, belajar banyak hal dari tempat – tempat terbaik dan akhirnya ada kerinduan untuk pulang ke Seoul. Kita ber 4 pun terdiam, .. mereka bertiga sudah ada  di  korea, dan melihat bahwa mereka bersyukur sekali atas hidup mereka sekarang. Kemudian kita pun tertawa, menertawakan kenapa kita bisa bertemu disana,mereka sendiri pun sudah lama tidak bertemu satu sama lain.

setelah itu kita beranjak melihat studio mereka,

studio itu berukuran kecil hanya 2.5 meter kali 6 meter, didalamnya ada mesin pemotong maket, ada tempat tidur satu buah, ada shower box transparan, lantainya pun dari karpet dengan pemanas ruangan dibawahnya, sepanjang sisi 6 meter terdapat meja panjang dengan puluhan maket dan puluhan kertas sketsa, ada 2 laptop disitu. Dari Sketsa, maket yang bertumpukan satu sama lain ada, studio mereka, project2 mereka yang dimulai dari awal .  Mereka tidak hanya tergantung dari nama besar portfolio mereka ketika pernah bekerja di biro – biro luar biasa. Mereka melangkah maju, dari bawah, tanpa henti, mereka terus berlari.

Aku menyadari aku bertemu orang – orang yang luar biasa, Dong wook, Katy, Jang hee, kutunggu beberapa tahun lagi kalian menjadi arsitek – arsitek muda terbaik korea. Kuyakin saatnya akan tiba.

DSC00224Laurensia pegang yang kencang, saatnya kita berlari lebih cepat lagi, melihat teman2 di Korea..Apa yang menanti, usaha, doa, usaha, doa, berlari lagi Laurensia.. Tarik nafas lagi, satu semester ke depan mulai berjalan lagi.

Saat ini juga aku teringat akan keluargaku dan Laurensia yang ada di Jakarta, masa depan, apa yang ingin kulakukan untuk tahun – tahun mendatang, diri ini berpikir mengenai banyak rencana untuk hidup, karir, pencapaian, Laurensia, ia biasa membantu aku untuk berdiskusi, menenangkan untuk mengambil keputusan secara pasti. Di setiap Negara sekarang sedang menghadapi masa – masa yang sangat sulit, Indonesia, Australia, Singapore, United Kingdom, tempat – tempat terbaik. Masa depan masih belum jelas terlihat untuk kemana aku melangkah.  Biasanya aku menggunakan 200 % dari tenaga ku, maka ini saatnya berlari lebih kencang lagi, lebih kencang, lebih kencang. Apabila waktu ini hanya 24 jam, aku percaya aku bisa dengan doa dan usaha,

tiba2 teringat quote dari salah satu teman terbaikku dulu, ia menuliskan kalimat ini

“look up, reach the sky coz eventhough you fall down you will still be between the stars .”  berlariiiii, menengokkk ke atasssss

DSC00234DSC00200DSC00231

Live a Life That Matters

Juni 1, 2009 § 2 Komentar

June 02, 2009, Sydney

” If there is anything I would like to be remembered for it is that I helped people understand that leadership is helping other people grow and succeed. To repeat myself, leadership is not just about you. It’s about them.” – Jack Welch

New York Times bestselling author Mark Albion’s 3-minute animated movie Based on Mark’s book, More Than Money. “The Good Life”

Ready or not, some day it will all come to an end. There will be no more sunrises, no minutes, hours, or days. All the things you collected, whether treasured or forgotten, will pass to someone else.

Your wealth, fame and temporal power will shrivel to irrelevance. It will not matter what you owned or what you were owed. Your grudges, resentments, frustrations and jealousies will finally disappear.

So too, your hopes, ambitions, plans and to-do lists will expire.

The wins and losses that once seemed so important will fade away. It won’t matter where you came from or what side of the tracks you lived on at the end. It won’t matter whether you were beautiful or brilliant. Even your gender and skin color will be irrelevant.

So what will matter? How will the value of your days be measured?

What will matter is not what you bought, but what you built; not what you got, but what you gave. What will matter is not your success, but your significance. What will matter is about what you learned as well as what you taught.

What will matter is every act of integrity, compassion, courage or sacrifice that enriched, empowered or encouraged others to emulate your example.What will matter is not your competence, but your character.What will matter is not how many people you knew, but how many felt good when they were around you and how you served them.

What will matter is not your memories, but the memories that live in those who loved you.What will matter is how long you will be remembered, by whom and for what. Living a life that matters doesn’t happen by accident. It’s not a matter of circumstance but of choice.-coach bay

Choose to live a life that matters. – Michael Josephson

This was so old story to be told to. It show a principle how we deal with the most important thing in our life.  Choose one that can make you satisfied, pick that, smile. It is in your heart, Rich.

Hidupku hidup satu kali

Mei 17, 2009 § 8 Komentar

18 Mei 2009, Sydney

“The greatest pleasure in life is doing what people say you cannot do.” Walter Bagehot (1826 – 1877)

 

sydney

Sudah kira – kira setengah tahun, diri ini urung untuk menulis, entah kenapa pikiran ini melayang terus tanpa bisa berhenti untuk kemudian bernafas.

Apa karena derap waktu Jakarta dan London yang berubah menjadi begitu cepat ? atau diri ini yang memang berasumsi kalau waktu ini tidak bisa dihentikan. Baru saat ini, badan ini duduk dan mulai menulis, satu kata demi satu kata mulai mengalir…

Apa yang bisa diuraikan di tulisan 6 bulan terakhir ini. kalau ada kata – kata yang terpenting, itu adalah obsesi, kebanggaan, dan harapan.

Aku masih ingat kira – kira 3 minggu yang lalu, dengan suara keras salah satu guru terbaikku berkata “You have to be proud of yourself”. Ini lah kalimat yang selalu terngiang – ngiang dalam kupingku setiap hari. Dalam kesendirian di negeri ini. Apa yang sebenarnya kucari disini. Apakah ini hanya obsesi untuk mencoba hal yang baru. Satu tahun di bandung, satu tahun di Singapore, hampir 2 tahun di London, dan sekarang di Sydney. Apa yang sebenarnya aku cari ? ini yang selalu jadi pertanyaan setiap orang ketika bertemu. Obsesi apa lagi ini. *….

Apa yang kamu cari ? Apa yang aku cari ? salah satu temanku kembali bertanya di satu pagi. Ada dua kata, Kesempatan dan persiapan.

Pikiran ini melayang pada saat itu , pagi – pagi di hotel Copthorne London. Jam 8 pagi, pada saat itu cuaca sedang dalam musim dingin. Kita bisa melihat orang kemana- mana menggunakan coat panjang, sayangnya salju jarang turun di London, sejauh ini hanya 3 sampai 7 hari dalam 1 tahun. Pagi – pagi itu aku termenung, dan terdiam, satu detik, satu menit, satu jam berlalu… kemudian aku berjalan kaki ke gereja di dekat Hotel Copthorne, hanya sekitar 1 blok , 200 meter jauhnya. Aku berdoa, dan kembali terdiam.

Kemudian aku tersadar. Ya apakah yang aku ambil. Diantara 2 jalan yang tersedia… bertanya, apa yang sebenarnya aku inginkan. Pertanyaan ini pun sudah pernah kulontarkan ke diriku sendiri. Pilihan pertama menawarkan kesempatan yang tiada duanya, segala kebanggaan, jabatan dan uang berlimpah, pilihan kedua adalah impianku dari dulu untuk kembali bersekolah.

“Kita melompat ke masa 2 tahun sebelumnya ketika aku baru saja pulang bekerja dari Singapore. Pada waktu itu surat resign sudah kukirimkan. Euphoria kebebasan dan masa – masa resign yang kembali teringat. Dimana diri ini kembali bebas untuk terbang. Masa – masa yang terbaik dalam hidupku.”

Pagi itu aku telah selesai berdoa, waktu itu, aku berkata pada diriku sendiri. Untuk kali ini, aku akan melakukan, apa yang ingin aku lakukan… aku masih muda, sekarang atau tidak sama sekali.

Chairil Anwar dahulu berpuisi, “Kalau sampai waktuku, Ku mau tak seorang kan merayu, Tidak juga kau, Tak perlu sedu sedan itu, Aku ini binatang jalang. Dari kumpulannya terbuang. Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan aku akan lebih tidak perduli.

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Di sela – sela perhentian di Indonesia, pikiran ini selalu berkecamuk,. Kulihat dari berbagai peristiwa Begitu mudahnya orang menikam dan menerjang orang lain dengan tertawa. Ada kalanya orang berkata – kata berbusa – busa tanpa ada perbuatan. Ada kalanya politik negeri bingung itu begitu bingung Aku berkeyakinan Hidup itu berisi dari perbuatan dengan kata2 yang dipuisikan dari perbuatan – perbuatan Oleh perbuatan – perbuatan itulah hidup kita menjadi bermakna.

Pada waktu itu aku membuka arsip – arsip ku, kutemukan lukisan yue min jun. yang berjudul bayoneting.

Disini semua orang berwajah sama, menusuk orang di bawahnya dengan bayoneting yang tidak tampak, semua orang tertawa, semua orang berwajah sama, mereka tertawa, mereka berwajah sama.

yueminjun

Inilah realitas hidup, aku sadar. Tanganku ini memegang bayonet yang tidak terlihat. Mukaku ini selalu tersenyum dan berwajah sama. Setiap orang akan mempunyai muka yang sama. Inilah kutukan peradaban egois yang bermuka manis. Pada waktu itu aku tertegun, pikiran ini melayang,ini konyol.

Ada saatnya aku kembali ke bandung, dikala perhentian beberapa waktu yang lalu di Indonesia. Kota kecil Bandung menempati peringkat pertama dalam buruknya pelayanan publik, di Bandung semua orang sudah menyerah dengan tata kotanya yang amburadul namun, ia meninggalkan kenangan yang membekas, kemahasiwaan yang dinamis, cuaca yang  menyenangkan, jajanan yang luar biasa enaknya, dan kenangan akan masa lalu di kota kembang ini . Kupandang Jejak jejak langkah ini, aku tersadar aku ada di titik nol kembali, melihat jajaran pepohonan dari kawasan atas Bandung. Tempat aku dulu menghabiskan waktu di hari sabtu atau minggu. Aku bersyukur karena aku bisa membuat pilihan, untuk kembali kesini. Tuhan apabila Kau berikan aku jalan, aku ingin selalu berharap untuk bisa selalu berkarya untuk orang – orang yang kucintai dan untuk itu kita butuh rencana. Pada akhirnya hidup itu pertemuan antara kesempatan dan persiapan. Aku kembali lagi berlari, untuk mengejar impian yang masih tak nampak.

Aku pun terbangun kembali di saat satu hari menjelang keberangkatan ke negeri yang baru. Harapan itu selalu ada, Terkadang waktu itu sedemikian sempit hanya menyisakan ruang sedikit ruang untuk bernafas.saat ini aku sangat bersyukur, di sela – sela kesibukan bersekolah. Pekerjaan terus berdatangan, hasil dari perlombaan – perlombaan yang cukup untuk menyambung hidup 3 bulan kemarin. Pekerjaan yang dilakukan dari jarak jauh, kebersamaan dengan wanitaku, menyambung kembali komunikasi melalui email. Sungguh memang semua sudah direncanakan dengan apik. Aku tidak pernah percaya akan kebetulan, yang kupercaya adalah kekuatan doa dan usaha.

Jari – jariku kuletakkan di tuts piano, denting – denting piano mulai terdengar memainkan lagu tembang alit yang memang bagiku sungguh sulit untuk bisa diselesaikan, partiturnya pun sudah kudapat kira – kira 2 tahun yang lalu namun itu belum juga selesai.  Lagu ini mengalir, seperti hidup itu mengalir, setiap kali memainkan lagu ini, nafas kita berirama untuk senada. Inilah jalan yang kutempuh. Aku memasuki kembali aura pulau jawa dan Kalimantan yang menghipnotis, saat itu waktu terasa begitu lambat sehingga bulan februari pun kembali datang untuk kembali lagi mulai dari awal di kota yang baru.

Disela – sela aku mengetik ini, ketel uap sudah mulai berbunyi, pesan dari wanita terbaikku sudah mulai muncul, ketika itupun sup ayam sudah siap. Dan aku akan berkata. Inilah saat yang terbaik dalam hidupku. “Sayang tunggu sebentar ya aku masih ngetik.”

Yue Min Jun, sayangnya muka ini bukan muka tertawa yang sama. Mukaku ini milikku.

Mei 2009.

Realrich

harbour

Where Am I?

You are currently browsing the 1 . The Stories category at My Mayonnaise Jar.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 44 pengikut lainnya.