Akar Langit

Satu teman membaca garis tangan ini di depannya, ia kemudian bergumam, “berat, perjalanan ke depan akanlah berat, suatu saat akan bisa mencapai mimpi tapi jalannya tidak akan mudah.” Satu saat itu adalah satu saat sore – sore di Bandung dimana diri ini pun berkata dalam hati, baiklah kalau begitu, mau bagaimana lagi.

 

IMG_0970

Berpetak – petak sawah terbentang begitu indahnya lengkap dengan arsitektur rumah – rumah yang terbuat dari bata. Sekelebat siluet semak semak itu berlalu dalam perjalanan ke Pekalogan sebegitu cepatnya, suara derap kereta terdengar jelas dengan pintu yang terbuka dan tertutup dengan hilir mudik orang yang lalu lalang dalam perjalanan kali ini. Badan ini terasa penat sekali, capai dengan perjalanan kemarin  yang baru dilakukan ke daerah Bedugul, Bali. Ritual bangun pagi – pagi  dan tidur malam – malam  seakan – akan menjadi makanan sehari – hari setelah beberapa tahun berpraktek di ibukota ini. “Semua tindakan yang dilakukan dengan hati, pasti akan menghasilkan.” satu teman terbaikku mengingatkan lagi diri ini satu saat ketika rasa capai ini menerpa. Sembari menelan ludah, diri ini teringat beberapa saat yang lalu, diri ini ada di persimpangan. Satu persimpangan pernah ada dahulu per satu tahun pengalaman, per dua tahun pengalaman dan kini di tiga tahun pengalaman, dalam total hampir satu dekade pengalaman persimpangan itu datang kembali.

Pertanyaannya selalu untuk apa ? untuk siapa ? kita berjuang, berkarir dalam hidup ini. Apakah untuk hidup sendiri yang lebih baik ? Apabila dikaitkan ke jawaban yang terjujur, tentu saja iya seperti itu yang terjadi. Namun apa hanya itu ? Diri ini sudah berkeluarga selama 2 tahun dari 25 september 2012. Selama ini kami masih berdua, belum juga dikaruniai anak, meski istri sudah sempat mengandung beberapa kali, namun kesempatan untuk mendapatkan buah hati belum terbuka jalannya. Ada yang bilang, mungkin itu karena diri ini yang terlalu capai bekerja ataupun karena Toxoplasma yang titernya masih positif, ataupun kelainan darah yang ada ataupun mungkin saja memang belum jodohnya kami mendapatkan momongan.

Dalam setiap perjalanan hidup, diri ini berpikir bahwa setiap orang memiliki garis tangannya garis kegembiraan dan garis kesedihan. Saya percaya kami juga punya garis tangan kegembiraan dan kesedihan kami sendiri. Kami percaya memang jalan inilah yang akan membentuk kami. Di balik seluruh duka yang ada, masih ada suka yang bisa kami nikmati bersama, dibalik sepinya hari – hari tanpa kehadiran anak yang kami dambakan, masih saja ada keramaian yang ditimbulkan dari keluarga, adik – adik firma ataupun klinik yang kita jalani setiap hari dengan pasien yang datang dan pergi. Lambat laun diri ini berjanji bahwa kami akan punya banyak anak, banyak orang yang bisa diperhatikan, tua dan muda, dengan keunikannya masing – masing. Hidup yang sebentar ini di dunia terlalu sedikit untuk bisa disia – siakan. Uban ini mulai nampak, perut ini mulai membesar, dan lalupun Chairil Anwar kemudian menyahuti, diriku ingin hidup seribu tahun lagi.

Pengabdian pada semesta, satu kalimat itu berarti menyingkirkan kemauan, nafsu, keinginan diri pribadi untuk kepentingan yang labih luas. Memberikan hidup kepada semesta berarti bersiap untuk memberikan waktu terutama untuk orang lain. Asalkan masih bisa hidup kita sudah perlu bersyukur. Diri ini menarik nafas, mungkin itulah arti mengakar. Memiliki tujuan dalam berbuat. Satu persimpangan ini, seakan – akan membuat satu batas yang jelas, antara diri dan orang lain. Dari sejuta inspirasi yang diberikan oleh Pak Tata Soemardi akan keinginannya untuk membagikan waktu terhadap anak – anak didiknya, saya mendapatkan contoh. Untuk itulah generasi selanjutnya harus bisa berbuat lebih baik lagi. Dari setiap kesempatan yang ada, pecahkan, dan raih kesempatan itu.

Langit ini pun membiru, menjanjikan satu impian, memperlihatkan satu batas yang sebenarnya tidak berbatas. Hanya persepsi manusia yang bisa menghentikan. Setelah mengabdi pada semesta, kemudian apa ? Semesta itu tidak berbatas, Tuhan pun tidak berbatas, ini adalah satu perjalanan penuh dosa untuk mencari Tuhan yang dimana dia, apakah ada di titik suka cita atau kah titik duka cita. Namun mungkin Tuhan sudah menyediakan jalan untuk kita jalani, dengan usaha kita masing – masing, garis tangan kita masing – masing. Kalaupun memang garis tangan itu sedemikian beratnya, saatnya kita jalani dengan puji syukur. Melihat dua puluh orang dari segala penjuru tanah air dan luar negeri untuk ikut belajar disini, diri ini merasakan keceriaan, kebahagiaan, merasakan kehidupan. Mungkin semesta akan menjawab dengan segala kemungkinan yang baru, sebuah pengabdian untuk yang muda.

Diri ini berharap banyak semoga hidup akan semakin baik untuk dijalani, mengabdi kepada semesta sehingga mungkin permintaan Laurensia bisa terjawab yang membuat diri ini menangis dalam ritual bangun pagi dan tidur malam. Laurensia berkata “Ya Tuhan, kalau boleh pinjamkan satu saja malaikat pembawa kebahagiaanmu, tidak banyak – banyak, untuk menemani hidup kami berdua.” Diri ini pun tersenyum, dan percaya bahwa suatu saat nanti akan tiba. Dalam hati diri ini bersyukur untuk bisa mendapatkan istri terbaik di dunia. Terima kasih Tuhan.

 

 

Harapan

Ya Tuhan. jangan berikan cobaan yang lebih berat dari apa yang bisa diterima untuk keluarga kecilku. Semoga semua apa yang kulakukan di dunia ini bisa memberikan kebahagiaan untuk orang – orang, terutama untuk orang yang disayangi.

 

Empati

Jakarta 16 Maret 2014

“Someone secretly bury a berry in the side road and when a small sprout grows, the secret code is the passport, to the forest a wonderful journey will begin – Joe Hisaishi”

DSCN0716

Di awal tahun 2014 di bumi pertiwi ini, mengenai arsitektur, dunia yang semakin hiruk pikuk, responsif, dinamis dengan informasi yang begitu banyaknya membuat diri ini berpikir apakah diskursus yang terjadi dalam hati yang pribadi, tempat perenungan untuk berbuat, mendesain masih terjadi dengan dalam atau sungguh – sungguh sekarang ini, di masa yang serba cepat ini ? Loncatan – loncatan inovasi arsitektur menjadi suatu gerakan politis dimana kedalamannya dipertanyakan sehingga kejujuran pun lebih lebih lagi dicari – cari begitu gencarnya dengan provokasi yang gencar di berbagai media informasi. Lucunya ada yang menjawabnya dengan pertanyaan retoris yang menimbulkan kesan sinis, kurang berempati dengan generalisasi berlebihan, juga penuh alasan sebab akibat. Saya pikir hal tersebut tidak akan menimbulkan empati yang mendalam dari manusia lain, namun ironilah yang muncul akibat salah membaca pesan ataupun menyesatkan logika. Saya pun ingin ikut menuangkan pendapat.

Kita sebagai arsitek perlu berbuat inovasi terhadap disiplin ilmu kita yang terdiri dari berbagai macam olah ruang, olah rasa. Olah ruang ini tidaklah seseksi gerakan politis, atau ideologi berlebihan seperti yang dicari oleh orang – orang filsuf, namun akan memberikan kenyamanan pada pengguna, berfokuslah kepada klien anda, apa kebutuhannya, luangkan waktu untuk merenungkannya dan jawablah, renungkanlah lagi, dan jujurlah pada diri sendiri. Arsitek adalah profesi yang melayani dengan empati. Dari situlah ia akan dihargai dengan dasarnya yang kuat, fondasinya yang matang seperti bangunan yang kuat diterpa kemajuan jaman dengan kepiawaian yang teruji [sense of mastery].

Perumusan teori mengenai kebutuhan manusia ini sudah bertumpuk banyaknya, hanya saja solusi yang kreatif dari arsitek untuk memecahkan masalah kebutuhan ini yang ditunggu tunggu dengan berbagai kompleksitas bangunan yang dirancang dengan isu – isu pemakaian bangunan dengan performa yang sebaik – baiknya. Kultur budaya manusia ini akan berubah lebih baik ketika olah ruang memang memiliki maksud yang baik, memiliki nilai guna, memiliki inovasi yang mencerahkan dengan kebolehan desain yang lebih baik dari masa sebelumnya. Dan semoga saja bentuknya seksi dan mengundang decak kagum sesama kita, disinilah olah rasa itu mulai muncul, rasa yang disukai sesama, terkadang rasa itu bisa angkuh, sombong, ataupun rendah hati ataupun sederhana, itu adalah hasil proses panjang berpraktek, dan itu sah – sah saja ditengah anggapan miring orang lain yang terkadang merupakan gerakan politis yang berdasarkan emosi tanpa empati. Sehingga yang muncul adalah cita rasa yang otentik [Authenticity] dari pribadi arsitek itu sendiri.

Ketika kepiawaian itu sudah teruji kemudian pembuktian empati ini pada dasarnya adalah pembuktian untuk membuka diri terhadap etika yang terdalam dari pribadi arsitek. Yang kalau – kalau pembacaan arsitek ini sudah sedemikian dalam, dicaplah ia sebagai sang radikal ataupun sang konservatif secara sendirinya, pembawa angin perubahan dan ketentraman arsitektur yang lebih baik.

Lalu lambat laun mungkin profesi arsitek akan semakin dihargai dengan sendirinya sebagai salah satu penentu peradaban jaman.

Keyakinan, empati yang lebih luas

Di tengah – tengah gerakan politis diatas. Saya mempertanyakan keyakinan yang semu ? Satu saat diri ini bertemu satu kawan lama, untuk mengingat masa – masa lalu, bahwa manusia itu berubah. Ada satu orang teman yang sudah berubah keyakinannya akan jaman yang sudah berubah, ada juga teman yang sudah semakin matang dengan kehidupannya dan keyakinan hidupnya. Mengenai keyakinan, diri ini sendiri masih mencari arti kehidupan yang hakiki tanpa menghakimi, yang terbaik yang bisa diberikan untuk sesama ini. Diri ini tidak pernah sekalipun berkata diri ini seorang katolik, ataupun katolik yang pernah membantu jemaat kristen untuk melakukan perjamuan, ataupun membantu panti asuhan muslim yang membutuhkan, ataupun membantu teman – teman Budha ataupun Hindu. Keyakinan itu ada untuk memperbaiki kehidupan manusia, namun relativitas yang ada inilah yang membuat pemahaman dan persepsi setiap orang tidak sama. Banyak juga pribadi – pribadi yang memanfaatkan agama demi dirinya sendiri.

Diri ini dibesarkan di universitas yang majemuk, plural, dengan romantisme kegiatan berhimpun yang heterogen dengan keyakinan, ideologi, pemikiran yang berbeda – beda. Namun saya ingat orang – orang yang didalamnya adalah para pemimpi yang ideal, mendambakan hidup bersama yang lebih baik. Dalam canda, senda gurau, justru saya menemukan cinta kasih, Tuhan itu di dalam diri teman – teman yang muslim, Adalah Adi namanya, Xenia namanya, ataupun Yulia namanya, ketiga orang berjilbab  ditambah teman – teman lain yang musim yang teguh untuk melakukan sholat 5 waktu juga mengajarkan arti persaudaraan yang tulus dan begitu dalam membekas, dalam teman – teman kristen yang tulus melakukan perjamuan ketika jumlah mereka hanya kurang dari 7 orang saja mengajarkan semangat tulus memuji Tuhan, ataupun teman – teman Hindu yang teguh setiap pagi berangkat ke pura untuk berdoa dan mendoakan semesta yang lebih baik sebelum memulai pekerjaan mereka, ataupun cinta kasih tulus tanpa pamrih yang ditujukan oleh orang – orang budha dengan merawat viharanya dan menahan dirinya. Mereka mengajarkan perbuatan cinta kasih yang tulus untuk sesama.

Saya mendoakan selalu teman – teman masa lalu – masa depan, teman – teman terkasih untuk bisa teguh menyebarkan tindakan cinta kasih kepada sesama.

derich

 

2013 menuju 2014

01 January 2014 “A new year is unfolding–like a blossom with petals curled tightly concealing the beauty within. 
- Unknown”

Roseto - Big Family

Roseto – Big Family

2014 sudah akan menampakkan wujudnya, 2013 sudah akan menjadi masa lalu. Lalu apa yang akan terjadi di rentang waktu yang ada dimana masa depan akan muncul tanpa diminta. Waktu memang menjadi satu hal yang paling berharga dimana orang – orang akan berjuang untuk mendapatkan waktunya sendiri, meminta waktu untuk dirinya, emosinya, harga dirinya yang menanti untuk dituangkan dalam catatan sehari – hari.

Mengenai masa depan, kita tidak akan pernah tahu. Terkadang diri ini juga tidak pasti mengenai masa depan. Malam tahun baru ini dihabiskan untuk menikmati waktu bersama keluarga, kami tidak pergi kemana – mana, hanya di ibu kota Jakarta ini, Laurensia membantu sehari – harinya di liburan ini untuk menyelesaikan pekerjaan – pekerjaan administrasi yang belum selesai, sementara diri ini meluangkan waktu untuk menata, membereskan kantor, membereskan komputer – komputer kantor, server, ya singkatnya bersih – bersih. Pernah ada satu orang bertanya, “kenapa sih ngga pakai office boy, atau IT kantor ?” Diri ini juga berpikir mungkin ada baiknya ide tersebut, mungkin sebabnya karena belum ada orang saja yang melamar, atau diri ini berpikir kantor arsitek saya ini masih kecil, hanya berisi 15 orang saja dengan 7 orang anak – anak magang yang datang dan pergi. Beruntung kantor sekarang sudah memiliki sopir dan tenaga administrasi sekarang yang sudah sedemikian baiknya membantu urusan ini. Mungkin diri ini masih berpikir secara tradisional bahwa membersihkan meja kantor adalah tugas kita sendiri, juga meja – meja lain yang masih kotor cuma dibutuhkan 2 tangan, 2 kaki, 1 kepala untuk mengambil ember, lap dan kemudian bersih – bersih. Diri ini percaya semua hal – hal besar dimulai dari hal yang sederhana, 2 tangan , 2 kaki, dan 1 kepala.  Kamipun masih bisa tertawa waktu ditanya “Kalian ngga kemana – mana liburan ?” ini saat – saat yang kritis, jawab kami. Dari Laurensia diri ini belajar untuk hidup sederhana, kami masih bukan apa – apa.

Di 2013  diri ini bersyukur untuk mendapatkan dukungan yang semakin dalam dari Laurensia, istri yang terbaik. Setiap langkah dan nafas  menjadi ringan dengan naik dan turunnya hidup. Ia membantu diri ini untuk menjalankan kehidupan sehari – hari, menyiapkan makan pagi, makan siang bersama, dan kemudian makan malam. Ia juga mengingatkan saat – saat penting dimana harus beristirahat, berdoa, ataupun sampai hal – hal yang sederhana seperti jangan mandi terlalu malam. Sama seperti ketika diri ini terkapar tidak berdaya karena kecapaian bekerja di perpindahan tahun baru kemarin. Dunia luar terkadang penuh hingar bingar sehingga menyilaukan mata, dunia yang kita jalani sehari – hari ini yang membentuk cerita hidup ini seutuhnya, dunia yang penuh dukungan orang- orang yang tersayang.

Arsitektur dengan dimensinya yang terukur, memiliki rasa yang penting dalam pengalaman sekuensial yang dialami penggunanya. Pengalaman ini adalah satu usaha untuk menikmati ruang yang kompleks, indah dengan cahaya, suara alam, dan berguna sesuai hakikinya. Satu karya lansekap di kota Singa itu ada begitu indahnya, suatu nuansa lansekap dari berbagai belahan dunia, kumpulan koleksi yang ada untuk dinikmati di daerah tropis. Ini tidaklah mungkin tanpa solusi radiant cooling sebagai pendingin ruangan dimana jarak atap ke lantai yang begitu tinggi. Disini teknologi dan integrasi dengan disiplin lain menjadi satu kelebihan. Arsitektur itu muncul dari pertanyaan – pertanyaan mengenai bagaimana mencipta ruang yang lebih baik untuk penggunanya, dan lebih tinggi lagi lebih baik untuk alamnya. Mungkin semua dimulai dari pertanyaan apakah bisa lebih baik daripada masa kini.

Teman terbaikku pernah berpesan tidak perlu takut jangan pernah takut jatuh, orang yang takut jatuh adalah orang yang ada di atas. Orang yang ada dibawah adalah orang yang paling bahagia, ia selalu menatap ke atas. Diri ini merasakan hangatnya tanah kemudian menengok ke atas, langit itu begitu biru, 2014 sudah datang.

“Yang kamu sudah baikan hari ini ?” Laurensia bertanya, diri ini menjawab “sudah, terima kasih ya sayang, Happy New Year.”

withSweetheart4_resize past

Kyoto

#2 Etika

130301 Jakarta “How well you live comes down to how much you love. The heart is wiser than the head. Trust it. Follow it
table

Satu teman dosen dari Singapore berkata,”In order to succeed you have to kill your father.”

Diri ini terdiam mendengarnya, kemudian sambungnya lagi  “termasuk juga hal itu terjadi anak saya, ia selalu membantah saya, kita tidak cocok, selalu tidak sejalan dengan saya, anak saya adalah seorang pengacara”, ia sampai berkata, “ayo tanya apa yang saya tidak tahu.” anak itu kasar dan kami selalu berargumentasi untuk saling mengalahkan, untuk menentukan siapa yang benar – siapa yang nomor satu. Ini masalah antar ayah-anak. Diri ini berpikir betapa kompetitifnya hidup orang ini ?

Kompetisi memang mewarnai hidup kita, namun apakah harus sekeras itu ? atau apakah itu jalan yang terbaik menjalaninya ? Mungkin bagaimana generativitas atau cara pandang yang positif perlu diri ini renungi, diri ini ingat Post dan Neimark menulis “Beri ia ikan dan ia akan makan hari ini; ajari orang itu menangkap ikan dan dia akan makan seumur hidup.” Saat kita merawat orang lain agar hidup mereka berkembang dalam berbagai cara yang misterius dan tidak terduga, kita menyampaikan cinta kasih. Cinta kasih mungkin salah satu hal yang dilupakan di atas, seharusnya pandangan – pandangan di atas tersebut tidak perlu terjadi.

Hari itu  sore – sore, diri ini tidak menyangka saat itu diri ini mendapatkan banyak sekali pelajaran mengenai membangun hubungan antar – manusia. Sepulang diri ini dari perjalanan luar kota. Satu teman terbaikku menelepon, “Pak Rich, koq project kita sudah ada di internet ya, berbeda dengan yang kita obrolkan, padahal kita belum publish project ini, mohon ini dilihat ya.” Diri ini kemudian mengkontak beberapa orang yang merupakan alumni dan relasi – relasi kantor untuk melihat hal ini, dan meminta mereka untuk membantu menyelesaikan hal ini.

Ada satu orang menyebarkan informasi tersebut dalam website pribadinya, tanpa ijin. Diri ini terus terang terhenyak dengan hal ini dan tersadar bahwa internet adalah sebuah medan informasi yang tanpa batas, dimana juga terdapat nilai – nilai apa yang bisa dilakukan apa yang tidak bisa dilakukan.

Saya berpikir dengan seluruh kecepatan informasi yang ada, kita perlu berhati – hati dalam menghargai sesama, etika perlu dibangun di masa yang serba cepat ini. Social media, Facebook, Twitter, WordPress, dsb. Dengan segala kecepatan informasi yang ditawarkan sebenarnya merupakan satu ruang bersama, sebuah rumah – rumah yang adakalanya ia diijinkan untuk masuk dan adakalanya juga ia tidak diijinkan untuk masuk. Disini ruang publik diibaratkan  seperti sebuah persimpangan jalan yang dilalui orang – orang dengan billboard besar di samping – sampingnya. Informasi yang ditawarkan tentu banyak orang yang membaca di bill board tersebut. Masalahnya adalah sering orang tidak menyadari ini. Bahwa social media adalah ruang publik yang juga memiliki etika penyampaian informasi. Dalam ruang publik ini pun kita memiliki tanggung jawab.

“Facebook’s News Feed an Epic Fail ? Former employee Katherine Losse : The day we launched News Feed felt, without exaggeration, like a minor Vietnam… Email after email of the thousands we received that day told graphically of the betrayal and evisceration the users felt…

Technology is the perfect alibi. Facebook doesn’t hurt people : people hurt people . This is true. But as Facebook makes it possible to do things faster, more efficiently, more cheaply, it makes it possible to hurt people faster, more efficiently, with less cost to themselves. It removes any sense of direct responsibility for our behavior, for how what we do makes others feel. With Facebook, you can act and be seen acting without ever having to look anyone who is watching you in the eye, or look at them at all. The boys Kings, 2012 [taken from Billionaire Boy, Mark Zuckerberg in his own words, 'Hacker. Dropout. CEO']

Melihat satu kejadian ini kebelakang, diri ini berpikir mengenai hubungan antar-manusia bahwa seseorang yang berkerja secara penuh waktu di dalam  satu ikatan kerja, adalah pribadi yang belajar dan berkerja dengan permintaan, ia berkerja dalam satu tim besar dan kecil yang terikat dengan norma – norma yang terdapat didalamnya. Ia juga terikat dengan nilai untuk menjaga nama baik, kelanggengan hubungan dengan etika terbaik untuk membina hubungan yang selama – lamanya.  Adapun terkait dengan hal – hal norma – norma, perlu meminta ijin untuk menampilkan dalam ruang publik. Diri ini pun bersikap demikin dengan seluruh orang tempat diri ini mengikat hubungan perkerjaan dengan atasan juga dengan bawahan, orang – orang yang memberikan kepercayaan dan dengan rekan sejawat.

“Etika adalah seni memperhatikan hak – hak dan perasaan orang lain,… pengorbanan yang kita lakukan demi hidup bersama, demi perjalanan kita bersama orang lain, dan dari cinta dan respek akan konsep bahwa memang ada orang lain. “Stephen Post, dan Jill Neimark.

Pikiran ini melayang mengenai hubungan manusia dengan manusia, Dulu diri ini harus mempersiapkan presentasi untuk acara lomba desain sekitar 9 tahun yang lalu, sesaat sebelum wisuda. Diri ini ingat bagaimana belajar memakai dasi, memakai lengan panjang, meminjam sabuk kepunyaan bapak. Diri ini ingat bagaimana juri berkata, “Melihat penampilan kamu, saya jadi pingin muntah, seperti professor, .” Generalisasi pun terjadi, Diri ini hanya terdiam, tersenyum, dan kemudian mencoba mempresentasikan karya sebaik mungkin. Diri ini ingat bagaimana bertemu kembali dengan arsitek tersebut, kemudian berbincang – bincang, setelah kita mengenal lebih dalam, rasa suka bertambah, dan rasa tidak suka pun berkurang. Diri ini pun merasa dekat dengan arsitek tersebut. Tidak ada ketidakcocokan apabila kita bisa berkomunikasi dengan baik. Merasa dekat, berbicara dengan tulus, dan berkomunikasi selayaknya keluarga.

Diri ini juga teringat akan satu film yang disukai, “Forest Gump”. Forest Gump adalah seorang  pekerja keras namun memiliki etika yang tinggi dalam kehidupannya, sikapnya terhadap keluarga dan teman – teman yang dicintainya. Ia berkerja keras untuk itu dan akhirnya mendapatkan apa yang ia inginkan, cinta, keyakinan, kemudian menjaganya sepenuh hati. Diri ini pun merenungi arti dalam menjalani hidup ini. 

Pikiran melayang ke satu saat dimana, teman terbaikku bercerita mengenai keadaan di kantornya, salah satu kantor terbaik. Bagaimana wakilnya di kantor cabang mengerjakan pekerjaan – pekerjaan pribadi mereka menggunakan fasilitas kantor tanpa sepengetahuannya, kemudian memiliki proyek bayangan, proyek ilegal,  kemudian terciptalah sistem kantor di dalam kantor tanpa sepengetahuan dengan staff – staff kantor berkerja untuk wakil kantor tersebut. Diri ini berpikir bagaimana itu bisa terjadi ? Sebenarnya Diri ini tahu bagaimana kabar burung sudah tersebar di luar kantornya, mengenai tingkah laku wakilnya itu. Kabar ini tercium ke relasi – relasi terdekatnya, teman – teman seprofesi, dan sahabat yang terkadang merangkap sebagai klien, sementara diri ini membantu mengingatkan sahabatku supaya hal – hal baik yang terjadi dalam ketidakpedulian pihak – pihak lain pada etika.

Di satu saat diri ini bertemu dengan seorang teman dengan 40 tahun pengalaman, Ia berkata bahwa dalam hidup ini untuk kaya ada 3 hal. Menjadi Kaya, kaya yang pertama, adalah kaya akan relasi,tidak boleh sombong.  kaya yang kedua adalah kaya akan ilmu pengetahuan, tidak boleh berhenti belajar, yang ketiga kaya akan iman, terus berdoa dan bersyukur akan nikmat karunia yang diberikan. Intensi dari membangun etika adalah membangun ketiga kekayaan ini. Kaya relasi, kaya pengetahuan, dan kaya akan niat baik.

Seketika diri ini ingat, Pelajaran mengenai etika  tidak disangka – sangka muncul ketika Laurensia dan diri ini berkunjung ke Shirakawa Go, satu perkampungan tradisional Jepang. Kami Menginap disana untuk satu malam. Diri ini ingat waktu itu salju turun, dan koper ini pun sudah tidak bisa ditarik lagi, rodanya membeku. Diri ini juga ingat laurensia dan saya berjalan setengah kilometer untuk ke Ryokan, satu penginapan tradisional. Saat itu suhu udara sudah minus dibawah o derajat celcius. Diri ini ingat bagaimana kekhawatiran akan istri, kondisinya yang sedang mengandung. Satu hal yang membuat diri ini merasa bersalah membuatnya berjalan capai. :(

Kami sudah ditunggu pemilik rumah, dipersilahkan masuk, diberikan handuk, kemudian dipertunjukkan letak kamar tidur kami. Rumah itu berisi tiga kamar tidur, kebetulan 2 kamar tidur lainnya diisi oleh 2 keluarga Jepang. Diri ini ingat gendang di perut sudah mulai ditabuh, sembari kami menghangatkan badan, kami menunggu makan malam.

Saat – saat yang ditunggu – tunggu adalah makan malam, perut kami yang sudah lapar. Kami disuguhi hidangan Kaiseki, hidangan satu set menu khas Jepang. Ada satu orang di keluarga Jepang di sebelah meja kami membantu kami, karena kami tidak mengerti bagaimana cara makan hidangan ini, sang anak membantu menghidangkan teh kepada Laurensia, dan diri ini, Kemudian sang anak menghidangkan teh tersebut ke ayahnya sendiri, dan ia meletakkan poci tersebut.

Kemudian Giliran ayahnya, menuangkan teh untuk anaknya. Kejadian itu berlangsung berulang – ulang pada keluarga yang lain, mereka saling menuangkan teh untuk yang lain begitu gelasnya kosong, namun tidak untuk mereka sendiri.

Diri ini bertanya – tanya kenapa sang anak tidak mengambil untuk dirinya sendiri ? …

Diri ini baru tersadar begitu diajarkan mengenai tata cara makan malam, dalam budaya Jepang. Ternyata  cara kita makan, menghindari untuk mengambil minuman kita sendiri adalah filosofi bagaimana kita bisa mementingkan kepentingan orang lain, selain diri kita sendiri, hidangkan untuk orang lain lalu letakkan, biarkan orang lain yang menghidangkan untuk kita. Cara makan ini mengajarkan kita mengenai filosofi “respecting others” menghargai orang lain. 

“The Japanese consider it an important part of hospitality to keep their guest’ glasses full, bu it is thought to be impolite to fill your own. Instead, you must wait for others to notice that your glass is empty so they can fill it for you.” Ayame

Diri ini juga berpikir mengenai tradisi timur, tradisi orang Indonesia, Jawa, yang memulai kebiasaan dengan memanggil nama “ayah makan, ibu makan, kakak makan.” Diri ini kemudian menyadari, bahwa mungkin etika adalah satu aspek yang sangat penting dalam kita bersikap, mewarnai hidup  kita dengan sesama. Sama seperti secara tidak sengaja mendapatkan dua patung kura – kura, yang diri namakan Galih dan Ratna, yang diri ini dapat dari Ubud, yang melambangkan hormat, etika, terhadap orang yang lebih tua, sesama. Sebagai pralambang etika yang luhur.

Diri ini ingat satu kalimat dari Julian dalam suratnya kepada Jonathan dalam satu perenungan panjang dalam perhentian 3 bulan ini untuk mengajarkan diri ini untuk lebih bertanggung jawab, lebih beretika,

Live with kindness… how we treat someone defines how we treat everyone, including ourselves. If we disrespect another , we disrespect ourselves. If we are mistrusful of others, we are distrustful of ourselves… with every person we engage in everything we do, we must be kinder than expected, more generous than anticipated, more positive than we thought possible. Every moment in front of another human being is an opportunity to express our highest values and to influence some one with our humanity. We can make the world better, one person at a time. :) 

Puji Tuhan semoga diri ini mendapatkan kesempatan untuk belajar lebih banyak lagi. Terima kasih Tuhan :) Semangat !!!!

 

bernie

Batu itu namanya Bernie

130312 , “Go as far as you can see. When you get there you’ll be able to see farther.”- Thomas Carlyle

20130312-214027.jpg

Bali, Kerobokan. Hari ini terik, Mataku perih, sudah beberapa hari ini, diri ini tidur larut malam. Setiap minggu juga diri ini berpergian untuk melihat pekerjaan yang ada di Jakarta ataupun di Luar pulau Jawa. Diri ini baru saja pulang dari Bali untuk mengecek satu pekerjaan di daerah Bali utara, di daerah Kerobokan bersama Edhie. Laurensia ikut menemani dalam perjalanan yang cukup panjang 3 jam dari kota Denpasar.

Hari ini hari sabtu. diri ini Mataku ingin terpejam, untuk beristirahat lebih lama, diri ini ingat ada pekerjaan yang harus dikirim hari ini diriku bergumam dalam hati, setelah itu aku bisa tidur dengan nyenyak. Seluruh kerja keras di minggu – minggu kemarin dipusatkan pada minggu ini. Aku kemudian berpikir, ya mungkin kerja keras ini bisa berbuah dengan baik. Diri ini terbayang pantai yang indah di belakang halaman kami, dan apabila beruntung kami bisa ke daerah Ubud dengan jajaran galeri – galeri seninya yang menanti untuk dijelajahi.

20130312-215512.jpg

“…Bali is one of the few cultures with origins in one of the great ancient cultures which is still alive.” Arthur Erickson

Diri ini ingat Bali dengan segala kepercayaan yang dianutnya,  filosofi hidupnya, dan simbolisme yang ditunjukan dalam keseharian orang – orang di dalamnya. Setiap pagi orang Bali yang beragama Hindu, memulai harinya dengan berdoa, meletakkan persembahan kepada semesta, untuk menghargai alam semesta ini, sewaktu siang berdoa kembali, dan menutup hari juga dengan berdoa. Diri ini berpikir diri ini belajar banyak sekali dari tradisi ini setiap harinya. Sama seperti simbol patung kura – kura yang diri ini bawa dari Bali yang berarti menghargai orang yang lebih tua sebagai filosofi dari menjalani hidup ini sepenuhnya.

Diri ini berpikir mengenai apa saja yang sudah terjadi belakangan ini, banyak tawaran muncul untuk mengembangkan diri sebaik – baiknya, sebesar – besarnya. Namun diri ini merenung dan berkaca, sebesar apa sebaiknya kita tumbuh. Dan seberapa cepat kita tumbuh. Diri ini pikir ini membutuhkan proses, tidak instan, namun orang tidak pernah tahu seberapa cepatnya kita perlu tumbuh, pertanyaan berikutnya, lalu bagaimana ?

“Jadilah pohon yang rindang”, kata om William, yang buahnya lezat bisa dinikmati siapapun.  “untuk ke bintang kamu harus mengalami kerja keras yang luar biasa dan juga menjadi pohon yang memiliki tajuk yang lebar.”

Diri ini kemudian merenungi bahwa perbuatan kita sehari – hari adalah memberikan buah untuk orang lain. Buah untuk istri, untuk keluarga, buah untuk teman – teman terbaik yang sudah atau belum kita kenal sekalipun. Diri ini ingat bahkan di usianya yang sudah senja. 90 tahun,  Tante Lily, istri almarhum om William masih menyempatkan diri untuk datang di pernikahan kami, katanya opa Laurensia adalah teman sepermainan beliau. Diri ini belajar dari cara beliau menghargai sesama, baginya hubungan itu penting sekali, hubungan yang tulus, dengan niat yang tulus. Bukan hubungan atas dasar untung rugi belaka. Diri ini mendapatkan satu mentor terbaik untuk menjalani hidup. Bagaimana menjalani hidup yang tumbuh perlahan – lahan.

20130312-213901.jpg

 

akanaka3

IMG_1237

IMG_1242

“Only one who devotes himself to a cause with his whole strength and soul can be a true master. For this reason mastery demands all of a person.” Albert Einstein

Diri ini berkata pada satu teman terbaikku, Pak seorang arsitek akan mumpuni di umur 50 tahun mungkin, dengan segala pengetahuan yang dia miliki. “Apa artinya waktu, ingat Rich, selalu berikan yang terbaik.” Diri ini kemudian teringat pada ikat kepala yang diri ini selalu terikat di tas yang biasa kubawa – bawa setiap hari, dulu diri ini memanggul pagoda pertanda musim panen bersama teman – teman di Jepang, ikat kepala itu sebagai penanda semangat yang tiada pernah padam. Kami memanggul pagoda itu bersama – sama, ada 20 orang sampai 30 orang. Diri ini tertawa mengingat peristiwa itu. Mungkin Tuhan punya rencananya sendiri untuk kita semua.

Pelajaran terbaik pun datang tidak disangka – sangka justru dari teman terbaikku, Edhie. Saya punya hadiah untuk kamu, ia berujar, ia mengeluarkan satu buah batu, dengan cat warna – warni, batu itu memiliki mata, hidung, mulut, dan baju.

bernie

Ini hasil dari lukisan anak – anak cacat, ayah dari Danny yang memiliki yayasan anak – anak ini. Ibaratnya apabila dibiarkan batu itu seperti semula, ia tidak berarti. Apabila ia di cat, dihias, memiliki makna ia akan berarti, sama seperti batu ini. Diri ini berpikir kita dalam hidup ini, menjalani, hidup yang terbaik, berikan yang terbaik, pada akhirnya semua yang kita lakukan ini bukanlah untuk diri kita, namun untuk sesama. Hal ini akan menjadi mulia, apa adanya. Batu ini diri ini namakan Bernie, penanda bagaimana kita bisa berbagi kepada sesama dengan sebaik – baiknya.

Lucunya hari demi hari, diri ini selalu membawa batu ini kemana – mana, seperti kemarin diri ini dihentikan di airport, karena membawa sebuah batu, “Pak disini dilarang membawa batu.” Diri ini pun tersenyum, ia pun keheranan melihat Bernie, Kemudian setelah dijelaskan apa arti batu ini kemudian petugas bandara pun mengerti. “lain kali batunya  dimasukkan koper ya pak.” petugas itu pun tersenyum. Memang kasih yang tulus, membuat dunia ini jauh lebih berarti, melalui hal yang sangat sederhana.

Diri ini pun menutup tulisan ini dengan puji syukur akan pelajaran yang terbaik di perempatan tahun 2013 ini. Semoga banyak hal semakin baik terjadi, yang terjadi, terjadilah.

“Love is the essence of life; love touches all of our relationship even with stranger. Love never leaves us. It clings to people who believe, and to those who don’t”

IMG_2329

Cerita di tahun keenam. Pelajaran sesungguhnya

130120 “Trust in dreams, for in them is hidden the gate to eternity, Khalil Gibran ” 

IMG_2426

Bandung, Diri ini merenung sejenak. Tahun ini, tahun yang penuh kebahagiaan, sekaligus menyimpan cerita kesedihannya. Malam itu serasa sendu,sunyi, sepi. Wanita terbaikku sudah tidur di sampingku, dan pikiran ini terbang melayang untuk memaknai apa yang sudah ada sekarang di tahun 2012 ini …

Ada rasa ketidakpastian dalam karir selama 1 tahun terakhir ini, ketidak pastian dalam masa depan, dengan sejuta alasannya. Masih belia, masih muda, ketidak pastian antar-rentang usia. Rantai ketika sedang berputar dalam ketidakpastiannya. Hal – hal yang penuh ketidakpastian terus terjadi, bagaimana sulitnya mengatur kantor yang terkadang masih balita perlu perhatian untuk mencapai kualitas terbaik, bagaimana belajar untuk menerima hasil kerja keras yang sudah dilakukan, hilang begitu saja, dan juga bagaimana meniti, membuat mimpi kita menjadi kenyataan, tidak semudah yang dikira. Diri ini berpikir inilah harga yang harus dibayar untuk sebuah proses menjadi. Untuk menjadi yang terbaik, kita hanya perlu melakukan yang lebih baik, satu persatu. Kata teman terbaikku, semua kerja keras dimulai dari titik, ia ada untuk menjadi garis, sehingga mimpi itu bisa menjadi nyata.

Mengenai hidup bersama, diri ini sudah menikah dengan Laurensia selama 1 tahun, sejak September yang lalu. Dan kami merayakan ulang tahun pernikahan kami yang pertama dengan makan malam sederhana. Kami sendiri bisa makan segala sesuatunya, tidak rewel, dan kehidupan rumah tangga dilakukan dengan biasa – biasa saja. Kesibukkan Laurensia masih sama, masih berpraktek dari sore sampai jam 21.00 , baru pulang jam 21.30, baru kami makan malam. Terkadang ia pergi pagi apabila ada pasien di klinik di dekat rumah kami. Kebersamaan kami didapatkan pada saat – saat malam hari, saat – saat yang teduh. Pada hari sabtu dan minggu terkadang ia menemani ke proyek, apabila pekerjaan meminta waktu kami. Ia pun tidak pernah berkeluh resah, hanya meminta waktu yang lebih, waktu untuk kami bersama, saat – saat terindah dalam hidup. Ucapannya yang selalu mengingatkan ketika sudah saatnya beristirahat, ajakannya untuk makan bersama di saat – saat diri ini lupa waktu dengan segala kesibukan yang ada, adalah penyejuk dalam satu tahun terakhir ini. Terkadang ia bertanya mengenai konstruksi pondasi dangkal ataupun dalam, atau kekakuan balok kantilever sebagai pelindung dari matahari ataupun penahan fungsi balkon diatasnya. Mungkin ada yang sama dengan teori dokter gigi yang dipelajarinya. Terkadang diri ini tersenyum melihat sifat ingin tahunya, juga keingintahuan dirinya terhadap rumah impian kami berdua, kemauannya untuk mengecat pink kamarnya, Wanita ini istri terbaik didunia dan saya pria beruntung bisa bersamanya. 

Kesedihan yang amat dalam terjadi ketika kami kehilangan Cherry dalam kehidupan kami, dalam usianya yang masih muda 7 bulan. Laurensia dan diri ini kehilangan Cherry tanpa sebab yang pasti, derai tangis pun terjadi, linangan air mata, rasa sayang yang sudah ada. Semua yang indah dalam hidup bisa hilang dengan begitu saja, kehilangan memang satu proses yang tidak menyenangkan.  Diri ini lihat bahwa semua ini memang sudah pada jalan yang terbaik, pelajaran untuk menghargai nafas yang diberikan, dan pelajaran mengenai kehidupan yang luar biasa indahnya dalam kebahagiaan dan kesedihan yang ada. Mungkin ini memang pelajaran yang harus dijalani ole kami berdua.

Ada berita gembira, ada kado natal terbaik di tahun ini, setelah kehilangan anak kami, Laurensia hamil lagi, saat ini usia bayi kami baru 1 bulan. Saya menjanjikan waktu yang terbaik untuk keluarga kami mulai saat – saat ini. Dalam 1 minggu terakhir ini, diri ini bangun lebih pagi dari biasanya, jam 5 pagi, terkadang diri ini bangun jam 4 pagi, untuk meluangkan waktu untuk berdoa, menulis, dan menyelesaikan pekerjaan yang baiknya diselesaikan. Jam 7.30 pagi, Laurensia sudah mengetuk pintu untuk kita menghabiskan waktu bersama, mengingatkan untuk makan, bersantai, ataukah sekedar jalan – jalan keliling daerah sekitar. Kami menemukan bubur kesukaan kami di pinggir jalan di satu trotoar. Dari saat – saat ini  mata seakan – akan dibukakan, udara segar yang kita hirup, matahari pagi yang kita rasakan,  badan yang kita punyai, momen – momen yang berharga dengan orang – orang yang kita sayangi. Kita belajar untuk menghargai dan mencintai hidup sebaik – baiknya.

Diri ini ingat jari jemari ini memainkan piano yang dimiliki satu teman rumahku di Elia Mews, daerah Angel di London. Pada waktu itu sore – sore, udara sejuk, tenang, diri ini duduk, dan di sebelahku Laurensia, menyanyikan satu bait lagu :

Disetiap langkahku

Ku kan slalu memikirkan dirimu

Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu …

Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku

IMG_2329

Dedaunan mulai rontok satu demi satu menyisakan dahan yang memang begitu saja ia tegak berdiri, angin dingin menerpa. Setiap musimnya daerah – daerah di kota ini ada begitu cantiknya, setiap musim berganti, berganti pula tekstur kehidupannya. Tangan ini memang tidaklah pernah sempurna memainkan lagu ini, saya pun tertawa dalam kesunyian yang ada,  diri ini seperti menemukan satu pasangan sehati sejiwa dalam mengarungi lagu ini. Dan 4 tahun kemudian disinilah aku. Diriku sungguh bersyukur di tahun 2012 ini dengan kebahagiaan dan kesedihannya. Semoga dirimu juga bisa merasakan yang sama, sama seperti diriku yang mulai merasakan cinta yang sesungguhnya.

“One day with life and heart is more than time enough to find a world.” James Lowell

IMG_2513

SAM_1203- upload

Kumpulan mimpi

121114 Belitung “If you can look into the seeds of time, and say which grain will grow and which will not, speak then unto me.” William Shakespeare 

Belitung, Diri ini melihat hamparan pasir putih yang menghampar indah sekali, dengan batu – batu alam yang menjulang dengan ketinggian luar biasa , sekitar 12meter,  memang Belitung terkenal sebagai pantai dengan air yang jernih, dasar air yang begitu jernih bisa terlihat jelas, dan landsekap yang begitu indah dengan bebatuan granit yang tersebar di pantai – pantainya. Diri ini kemudian melihat hutan yang ada, sungai yang berkelok – kelok kecil membelah hutan yang kemudian berakhir di muara kecil. Bebatuan yang ditengah hutan pun memiliki karakternya yang sedikit hitam, dengan teksturnya yang dingin lembab karena rimbunnya pepohonan.diri ini kemudian melangkahkan kaki di titik puncak bebatuan, mencoba mengukur, 11 meter kali 30 meter, cukup lebar, untuk lokasi terbaik adanya tempat menjalin cinta, sebuah kapel untuk menikah. Melihat kebawah, diri ini bisa menikmati karunia Tuhan yang sangat indah, sebuah jalinan yang sangat indah. segala bentuk yang diciptakan alam itu indah rupanya, dari jalinan batu alam, bentuknya yang wajar dan tidak dibuat – buat, bintang laut, rumput laut, pasir yang putih, dan tumpukan kayu yang hadir begitu saja. Suasana ini begitu sunyi. Diri ini seakan terbius dalam alam yang mengajak berjabat tangan begitu eratnya.
Diri ini teringat pada waktu itu, diri ini diajak untuk ke satu daerah di pulau Bali, daerah yang sunyi senyap.
Saya ingat kita berlima pergi ke daerah yang terpencil di Ubud, satu daerah yang memiliki satu bukit, lembah, dengan air terjun, juga mata air yang menjadi pusat kegiatan agama sekitarnya. Diri ini ingat suasana teduh, pepagian dengan suasana orang berdoa, kehidupan di Bali memang menyejukkan dengan auranya yang berbeda. Saya ingat dulu kita ber 5, saya sendiri adalah arsitek yang menemani paman – paman saya, untuk melihat – lihat sekitar, memberikan pandangan. Mereka pria dengan umur 60 – 70 an tahun. Mereka menyebut kelompok mereka satu konsorsium. Berteman bersama, berbisnis bersama, tertawa bersama.
Pikiran ini melayang ke satu saat dahulu sewaktu masih kuliah di Sydney. Pada waktu itu diri ini ingat seringnya pergi untuk ke satu teman terbaikku. Diri ini ingat bahwa diri ini punya sepeda, satu sepeda yang sederhana buatan china yang kubeli di toko sepeda di pojokkan perempatan. Untungnya saat itu sedang sale, jadi sepeda itu bisa dibeli cukup murah hanya 75 dollar. Ongkos naik bis satu kali jalan adalah 2 dollar, dengan waktu menunggu yang cukup lama.
Karena sepeda itu, diri ini bisa berkunjung terkadang 3 hari sekali ke tempat teman terbaikku untuk sekedar mengobrol, atau bermain Wii, untuk mengunjunginya, diri ini mengayuh sepeda terkadang melewati perumahan yang senyap di daerah kensington, melewati gereja gothic.  Kita mengobrol sesaat terkadang, pada saat itu kita tidak mempunyai pekerjaan yang baik, temanku ini adalah  adalah seorang tukang pos, sedangkan diri ini juga sama, tidak mempunyai pekerjaan yang layak, asisten dosen dengan bayaran kecil, atau asisten arsitek dengan pekerjaan jarak jauh, antar negara, dengan jam kerja yang panjang. Kami berdua memimpikan pekerjaan yang baik bagi hidup kami. Seperti biasa diri ini bercerita mengenai mimpi – mimpi yang sungguh tidak terbayangkan, dan dia memberikan masukan – masukkan mengenai bagaimana menata mimpi itu dan bersikap dalam perusahaan.
Terkadang diri ini bercerita mengenai kesibukkan di kuliah dan kita akhirnya akan tertawa – tawa sambil makan malam, ia yang memasak, teman terbaikku ini pintarnya luar biasa dalam memasak. Saya rasa kita juga sedang membentuk kelompok kecil juga. Ada juga teman dari Bangladesh, seseoran yang menemani bermimpi, ia dengan mimpinya di Dhaka dan diri ini dengan mimpinya di Indonesia, dengan tempat kami biasa minum kopi di satu pojok kafe kecil di satu hook di Kensington. Ada lagi teman – teman dari China, teman untuk mengerjakan tugas bersama – sama. Terkadang diri ini juga ikut berbahasa China, yang asal saja keluar dari mulut, apapun itu, yang penting nyambung, dalam benakku. Atau pertemanan yang terjadi begitu saja dengan professor terbaik disini, mengajarkan, membuka cakrawala berpikir.  Sydney dengan segala keunikannya, begitu banyaknya orang yang baru disana dengan segala pengharapannya untuk hidup lebih baik.
Diri ini terhenyak, di saat itu, di satu rapat, setelah presentasi satu pembesar dari Jepang berkata, “selamat bergabung di konsorsium kami, ” setelah itu kami pun pergi makan bersama, tertawa bersama, bermimpi bersama, bersama – sama untuk berharap penghidupan yang lebih baik. Diri ini belajar dari Alan M Weber, bahwa ada 4 hal yang diperlukan untuk menjalani karir yang baik, 4 C : change, connection, conversation and ccommunity. semua pengalaman ini untuk membentuk satu dukungan, jalinan pertemanan.
“Manusia itu makhluk ciptaan Tuhan yang hampir sempurna, ia tidak terbatas.” Satu teman terbaikku bergumam, “yang sempurna adalah Tuhan itu sendiri.” oleh karena itu pembatas kita hanyalah rasa takut kita. Diri ini berpikir itu benar apa adanya. Ketakutan – ketakutan selalu menghantui kita setiap saat, ketakutan akan kehilangan kasih sayang, kehilangan kepercayaan, kehilangan identitas. Diri ini berpikir mengenai kala – kala sulit, dimana darimana harus dicari biaya untuk menghidupi kantor desain yang baru berdiri. Setiap bulan, setiap minggu, menghitung, apakah masih bisa, keragu – raguan menerpa dimana kepercayaan pun harus terus menerus dibuktikan.  Keragu- raguan itu memang selalu muncul mewarnai hidup kita.
Dimanakah ujungnya ?
Kesunyian ini terpecah pada satu saat, “Saya dulu jualan bubur di Monas.” celoteh satu orang ydi depanku . “saya juga pernah jualan durian di depan RCTI, saya ke Lampung waktu itu bawa mobil pick up, kemudian pulangnya saya angkut durian untuk dijual, perjalanan hidup saya panjang, namun saya tidak pernah takut, Tuhan menciptakan kita hampir sempurna, menurut citranya. Dan dulu juga pernah jualan kayu industri, tapi yang lucu jualan bubur di monas, paling gampang, tinggal nasi dikasih air, sama beli ayam dan bumbu – bumbunya, untung dulu belum punya istri ” Ia pun tertawa lepas, saya pun ikut tertawa, dari kerutan wajahnya, diri ini tahu bahwa pengalamannya  banyak makan asam garam kehidupan. Sekarang ia adalah satu orang yang ternama menjadi CEO untuk berbagai jenis industri plastik, karet, perkebunan, industri alumunium. Dan ia tangkas untuk membuat mesin sendiri, dengan sistem yang dirancangnya belajar dari negara Jerman dengan industrinya.  Asam Garam yang didapatkan, kami pun tertawa lepas keringat yang dikurasnya, dan resiko – resiko yang dilakukannya membuatnya seperti sekarang ini. Menurut saya, benar adanya, semua orang berusaha dengan keringatnya sendiri, dalam keragu-raguannya sendiri, dalam keterbatasannya ia mencoba untuk hampir sempurna dalam usaha – usahanya.
“Saya punya mimpi Pak Realrich, tolong dibantu wujudkan ya” ia pun menyambung. diri ini pun tersenyum, Diri ini bertanggung jawab untuk tidak mengecawakannya.
Diri ini berpikir pada satu waktu, adik terbaikku, mengeluh dengan kontribusinya yang tidak banyak, belum maksimal ia berkata. Diri ini tersenyum mengingat ini,  bahwa sesungguhnya bukan seberapa besar dirimu mencetak skor untuk tim atau untuk dirimu sendiri,namun bagaimana seluruh waktu, obrolan singkat, perhatian, curahan hati akan berarti begitu besar, seperti dukungannya  ke kinerja tim. “your contribution would be measured not in how many points you scored but in all the ways you contributed to the team winning. ” Aku belajar untuk ada untuk sesama, dari orang – orang sekitar kita, kita mendapatkan satu kekuatan yang tidak terlihat. Ini magis, aura, keyakinan, kekuatan yang mewarnai kehidupan kita sehari – hari, yang saling menjaga kita dalam jalinan yang luar biasa indahnya. Ini yang saya pikir adanya satu inersia, satu orang bertemu orang lain, bertemu orang lain lagi, dan bertemu orang lain lagi. Tumbuh bersama – sama. Dalam berkerja pun demikian, diri ini juga punya mimpi, orang lain juga punya mimpi,  kita mencari orang – orang yang tumbuh bersama – sama, tidak instan.  Dalam berteman pun seperti itu, kita mencari orang – orang yang juga tumbuh bersama – sama, memaklumi kesalahan, tertawa dalam ketidak sempurnaan, dan saling bertumbuh dalam dukungan.
Begitu pun berkeluarga, kita mencari orang yang tumbuh bersama – sama. seperti Laurensia, Diri ini yang menantikan buah hati kami untuk tumbuh bersama – sama kami. Semoga cepat diberi, didoakan ya :-)
20121113-084303.jpg

Lahir atau Dibentuk ?

Bangkok 11 November 2012, “It matters not what someone is born, but what they grow to be.” J.K. Rowling

Bangkok, Turbulensi tengah menerpa pesawat ini. Pilot baru saja selesai berbicara. Kulihat kumpulan awan tebal di kiri kanan, sesembari sinar matahari masuk diantara sela – sela awan tersebut. ” Saudara-saudaraku, tantangan hidup ini kita hadapi bagaikan seekor rajawali, ia menghadapi tantangan hidup, tembuslah awan itu. ” Satu orang teman terbaikku bercerita dalam khotbahnya suatu saat di pagi yang sendu di goldiers green. Dari minggu ke minggu ada saja yang baru dalam khotbahnya, yang mengisi saat – saat teduh, menciptakan jeda dalam kungkungan waktu sepanjang minggu di sela – sela orang yang datang dan pergi. Saya ingat jumlah kami kira -kira 10 sampai 15 orang. Saya sendiri adalah seorang katolik, ikut membantu teman-teman terbaik dalam kebaktian agama protestan. Bagi saya, agama adalah urusan kita dengan yang kita yakini, Dia yang kita yakini. Tidak ada yang lebih baik, setiap orang punya keyakinannya tersendiri.

Oleh karena itu, tidak apa2 diri ini ikut membantu dalam acara kebaktian, dengan lagu2 yang kita siapkan, menyanyi, bermain gitar, bermain piano, semua dilakukan. Memang lagu – lagu itu begitu indahnya, kadang – kadang saking semangatnya orang2 bisa berlompatan menghayati kebaktian itu. Sama seperti kegiatan buka puasa yang diri ini juga jalani dengan rekan – rekan muslim, semua sama, untuk mengerti orang lain. Yang diri ini ingat makanan yang begitu enaknya sudah menanti di akhir kebaktian, ada soto ayam. Diri ini begitu menikmati jalinan pertemanan yang terjadi di saat itu, “saya mendapatkan komunitas saya.

Yang diri ini tidak mengerti adalah begitu mudahnya sekarang ini kerap terjadi, kerusuhan, kejahatan, dimana begitu mudahnya sakit menyakiti itu terjadi. Mungkin memang sifat manusia yang begitu negatifnya mudah menyakiti orang lain termasuk orang – orang terdekat kita. Dalam sinusoidal hidup, ada kalanya kita di atas ada kalanya kita di bawah, sama seperti saat – saat diri ini pulang dari Australia, untuk mencari pekerjaan, semua ingin maju ke arah yang lebih baik. Begitu pun dengan orang – orang yang ada di sekitar kita. Atau saat – saat diri ini yang sedang ada di Bangkok hanya untuk meluangkan waktu untuk berkerja lebih baik.

Adik terbaikku pernah bertanya,” kak arsitek itu lahir atau dibentuk ? “. Diri ini berpikir Ada orang yang sudah sedemikian lancarnya dilahirkan menjadi seseorang yang diberi talenta rasa, dan rasa seni yang tinggi. Bersyukurlah apabila sudah mendapatkan talenta itu. Namun ada juga yang tidak beruntung, yang perlu kita lakukan adalah belajar bagaimana caranya membentuk diri. Diri ini percaya bahwa setiap orang membentuk dirinya sendiri, sewajar – wajarnya.

Pertanyaannya apakah bakat itu penting ? Apakah kemampuan itu penting ? Ya kita melatih diri kita untuk menjadi mampu di profesi kita masing – masing, dengan berkerja keras. Warren buffet berkata ” ada 3 hal yang terpenting yang tidak diajarkan di Harvard bussiness school, yaitu, menulis, berbicara dan berkomunikasi.” Ada yang berpikir bahwa “saya akan memperkerjakan orang – orang terbaik dari orang – orang terbaik.” Hal tersebut sama berlakunya di perusahaan – perusahaan ternama di dunia. Bagaimana kita menghitung kapabilitas kita dibanding orang lain. 3 hal yang dikatakan Warren Buffett tersebut adalah hal yang berkaitan dengan kapabilitas. Kita seringkali tidak bisa memilih, kita itu dipilih, kita hanya bisa berusaha namun bukanlah kita yang menentukan untuk memulai proses pembentukan kita.

” bayangkan apabila anda semua adalah saham yang akan dibeli oleh orang lain , dari 10 orang dengan kualitas sama, 10 lulusan dengan kualitas sama,bagaimana anda bisa memastikan untuk bisa dipilih ?” Buffet melanjutkan.

Diri ini mendapatkan jawaban justru dari teman – teman terbaikku, kita tidak akan memilih orang yang terpintar, karena kepintarannya sudah cukup, bisa dicari orang yang lebih pintar, dan banyak orang lebih pintar lagi. Ada beberapa hal yang pada akhirnya Kita akan memilih orang – orang dengan karakter yang kita sukai, seseorang yang murah hati, jujur, yang bisa berkerja sama dengan orang lain. Kita akan menghindari orang – orang dengan ego yang berlebih, seenaknya, tidak jujur, tidak memiliki etika, dan ketidakmauan untuk berkerja menjadi satu tim. Semua sebenarnya kita mencari seseorang yang bisa tumbuh bersama.

Diri ini teringat, bagaimana diri ini ditertawakan dengan pekerjaan membuat maket di kantor di Inggris, ditertawakan karena begitu mudahnya mengambil pekerjaan yang bukan tanggung jawab, ditertawakan karena lembur tidak tidur semalam suntuk untuk melakukan tanggung jawab bersama, dimana yang lain sudah beristirahat menghindari tanggung jawab tim. Seolah – olah itu menjadi makanan sehari – hari. Pernah suatu saat diri ini marah sekali, keluar begitu saja ke satu pojok taman untuk melampiaskan kekesalan yang ada. Saya bukan bahan tertawaan. Sambil diri menghentakkan kaki dengan keras.

Pada puncaknya, diri ini kembali juga ditertawakan karena saya berasal dari satu universitas yang tidak dikenal di negara yang sedang berkembang dengan gelar bachelor, S 1 dimana yang lainnya adalah sarjana s2 dari universitas terkenal di seluruh dunia, harvard, princeton, AA, berkeley. Itu terjadi pada saat pemilihan orang yang akan menjadi wakil grup desain di Inggris.

Diri ini punya beberapa teman terbaik, teman berkerja bersama – sama. Mereka juga teman yang bersama2 ditertawakan, membuat maket, ataupun kerja sampai subuh sudah menjadi makanan sehari – hari.

Saya teringat kami satu kelompok begitu mencintai pekerjaan kami, juga dengan wanita terbaik kami masing – masing. kami biasa berjalan bersama, sampai pada akhirnya persahabatan seumur hidup. Saya rasa ini yang terjadi. Diri ini teringat girang luar biasa karena terpilih menjadi wakil grup desain hanya untuk berbicara sejenak dengan Norman Foster, sepertinya waktu memberikan ujiannya dan kemudian memberikan kesempatannya. Diri ini juga ingat pada akhirnya diri ini berkerja, dipindahkan ke salahsatu tim terbaik, dengan prinsipal terbaik, pada akhirnya hal – hal tersebut yang menjadi cerita terbaik dalam fase hidup yang membekas di kantor di sebelah sungai Thames.

Teman – teman terbaikku sekarang sudah menjadi pimpinan biro di tempat mereka berada sekarang, di negaranya masing – masing, ada yang di Spanyol, Hongkong, Korea, Australia, Malaysia, London, Jepang, China, ada yang menjadi dosen juga, ada yang menetap di Inggris menjadi pimpinan grup desain. Namun apabila kita bertemu, kita akan pergi ke satu tempat di daerah leicester square, meminum kopi atau memesan dim sum dan kita akan tergelak – gelak mengingat peristiwa – peristiwa pada waktu itu, membuat maket bersama – sama, lembur suntuk bersama – sama. Kita semua beranjak dengan romansa waktu yang baru, dimensi yang baru, dengan memori yang lama.

Diri ini belajar bahwa Karakter dalam kata lain adalah hal yang terpenting, bukan siapa anda, gelar anda, atau baiknya cv ataupun resume anda. Dan kemudian pembentukan diri itu kemudian dimulai begitu saja. Bukan siapa anda, namun apa yang kita lakukan akan membentuk kita, dari situ kita akan dibentuk sewajar – wajarnya.

Pada akhirnya kita memiliki orang-orang baik yang menjaga kita setiap saat. .Diri ini masih tetap membuat maket dengan anak-anak kantor, berkerja sampai subuh terkadang dengan anak-anak kantor. Semua masih sama. Hanya saja, kenangan – kenangan ini membekas dan semakin dalam teringat.

Baru saja diri ini berkenalan dengan satu professor dari Bangladesh, ia datang dari negaranya untuk ikut seminar di Bangkok, kami bertukar cerita, sehingga ada saja chemistry di antara kami. Ia adalah seorang insinyur teknik sipil, baru saja kita berbincang – bincang mengenai perjalanan ke Dhaka, ibukota Bangladesh, diri ini pernah berjanji kepada satu teman terbaik di Bangladesh untuk berkunjung ke negaranya ke Dhaka. Ya mungkin ini jalinan pertemanan yang baru, mungkin saja ada peristiwa – peristiwa yang menanti, kejutan – kejutannya seperti Tuhan sudah mempersiapkan semua sebegitu indahnya. Dan, diri ini kemudian teringat bahwa harus ke airport, kembali ke Jakarta, sayonara Bangkok.  :)

20121103-122735.jpg

Tumbuh perlahan – lahan

Lembang 3 November 2012

“The only way to be happy is to love. Unless you love, your life will flash by.” Mrs. O’Brien

Pagi ini diriku ada dalam satu perjalanan ke Bandung, kota yang memiliki aura menyejukkan, sabtu ini diri ini bisa rileks sejenak dari kesibukan yang menerpa 5 hari kemarin. Hari ini udara sedikit berkabut dan sejuk, matahari seakan – akan menyembunyikan dirinya dibalik gugusan awan tebal yang menyelimuti perjalanan kami.’ Sambil diri ini tertawa membayangkan saat saat kecil kami.

Diri ini berpikir, sebenarnya ada satu sisi dalam diri yang menyukai hal yang sama berulang – ulang, ingin itu – itu saja, baju itu – itu saja, melakukan yang itu – itu saja. Aku dilahirkan di Surabaya, dengan 4 orang bersaudara, kami lelaki semua. Saya pikir saya yang paling jelek diantara saudara – saudara kami.

Ayah adalah seorang kontraktor bangunan, ia insinyur sipil, dan ibu sendiri adalah seorang ibu rumah tangga. Aku ingat dulu diri ini tinggal di daerah Dukuh Kupang, daerah perumahan yang sepi di gang 13, kami punya pohon mangga yang sering kuambil mangga mudanya untuk sekedar dimakan dengan kecap manis di genteng rumah keluarga kami. Merasakan panasnya talang seng ketika diinjak di terik matahari, ataupun menggergaji triplek menjadi pedang kayu menjadi satu perkenalan dengan arsitektur. Di gang ini aku belajar berbicara , menyapa, bergaul anak – anak yang lain, dengan tetangga, tegur sapa dengan tetangga sering dilakukan, pada waktu itu diri ini ingat, permainan yang populer adalah bermain sepatu roda.

This slideshow requires JavaScript.

Pada waktu itu akumasih berusia 9 tahun, saat itu adalah saat dimana diri ini ada di satu lingkungan yang baru, Jakarta, bertemu dengan teman -teman yang baru. Diri ini ingat, dengan logat bahasa masih khas suroboyo, medok, sama sekali tidak tahu dengan budaya kota yang berbeda, budaya pergaulan yang berbeda. Saya heran kenapa kalau guru bertanya, kenapa saya yang selalu tunjuk tangan, padahal di Surabaya dulu, kami berlomba – lomba untuk tunjuk tangan, sampai pak Martin satu guruIPA kami bosen melihat diri ini tunjuk tangan. Aku juga ingat ada beberapa orang yagn mengusili terus menerus sampai membuat tidak tahan. Mungkin mereka tertawa juga melihat satu makhluk aneh yang baru, aku waktu itu kelas 4.

[laurensia adalah orang yang mengusiliku ketika aku ada di kelas 4 SD, Tuhan memang punya kejutannya yang tidak pernah diduga]

Atau saat – saat dimana diri ini, sedang senang – senangnya berolahraga tennis meja, dan hampir sebagian besar waktu dihabiskan untuk berlatih sehingga nilai – nilai pelajaran menjadi turun. Ada satu kesenangan yang baru. Atau saat – saat penuh tanda tanya mengapa diri ini selalu jalan – jalan ke satu gedung untuk memotretnya terus menerus setiap pulang berkerja di hari jumat sewaktu ada di Singapore dan London dengan orang – orang yang berbeda – beda, atau saat – saat bermain bulu tangkis dengan teman satu SMA yang dilakukan terus menerus.

Semudah ke satu tempat yang sama terus menerus, melakukan hal yang sama terus menerus, seperti tukang kayu yang belajar menggergaji, tukang batu yang belajar untuk memplester satu permukaan, atau seorang pandai besi yang belajar untuk menempa satu karya. Mereka melakukannya terus menerus, tanpa henti, sampai kamu menjadi tinta, kamu menjadi kertas, semua menyatu dalam nafas, dalam jiwa. Diri ini ingat kehati – hatian wanita terbaikku ketika berkerja, satu bersatu gigi itu dibersihkannya, diobatinya, ada teori – teori yang dijalaninya, seminar – seminar yang diikutinya. Semua pelajaran , latihan itu memerlukan waktu hanya untuk menjadi lebih mampu.

Memang pengalaman – pengalaman di tempat yang baru akan selalu menjanjikan pengalaman yang tak ternilai, berhadapan dengan orang – orang baru, wajah – wajah baru, budaya – budaya baru.

Kayu kelapa terbaik ada di daerah Menado, Sulawesi, karena ia tumbuh secara perlahan – lahan, bukan hibrida, bukan dikatalisasi. Seperti juga kayu bengkirai yang habitatnya ada di Kalimantai atau sama dengan damar laut yang berasal dari Sumatra. atau kayu jati Belanda yang memang tumbuh perlahan – lahan. Seratnya keras, matang, tua, karena teksturnya yang padat, rayap pun enggan menghampiri. Memang di jaman yang kompetisinya sedemikian tingginya menuntut kita selalu untuk berpikir lebih kritis, lebih cepat, lebih dan selalu lebih baik.

Kemudian diri ini teringat pesan dari pak Tisna Sanjaya, untuk tumbuh perlahan – lahan, seperti pohon, berakar kuat, bertajuk rindang, menjanjikan kehidupan untuk makhluk yang diteduhinya melalui alam yang memberikan air, sinar matahari, dan mineral yang didapatnya. Mungkin dalam kehidupan ini kita semampu kita perlu untuk meneduhi seteduh – teduhnya dengan perbuatan, perkataan, dan pikiran kita.

Hari ini diri ini tenggelam dalam romantisme kegiatan berulang – ulang yang itu – itu saja, dan memang inilah yang kunikmati, beserta Laurensia, Keluarga, dan teman – teman terbaikku yang ditemui sepanjang hari..

“Help each other. Love everyone. Every leaf. Every ray of light..”

laurensiacherry

Perjalanan hidup di tahun kedua, angka 30

The woods are lovely, bright and shallow. But I have beautiful promises to keep, and miles to go before I sleep and I don’t want to sleep until I die. Realrich [taken from frost's poem]

Hongkong, Mengenai Cinta… Dalam perjalanan satu tahun ini, tidak disangka sudah satu tahun diri ini hidup berdua dengan wanita terbaikku, ya usia pernikahan kami sudah 1 tahun umurnya. Kami menikah tanggal 25 September 2011. Di kala – kala kesibukkan yang semakin menerpa, waktu yang semakin menuntut, kami belajar untuk menyelipkan waktu2 untuk terus menghargai kebersamaan kami.

Pada waktu itu Diri ini sedang terjebak macet, terik matahari menerpa di balik siluet jembantan2 beton yang meneduhi, kira2 suhu terik 33 derajat celcius, kota Jakarta memang sedang menunjukkan wajahnya yang problematik dengan transportasi kota yang tidak terencana. Baru saja kemarin sampai pagi di kantor membereskan beberapa dokumen arsitektur yang harus diperiksa satu persatu. Untunglah hari ini diri ini bisa rileks memejamkan mata sejenak dimobil, puji Tuhan ada pak misnu, seorang sopir yang memang sudah seperti keluarga sendiri. Diri ini menghitung sudah 3 jam terjebak kemacetan ini, . Rutinitas yang ada baru – baru ini sungguh cukup menguras tenaga. Ya hidup seperti biasa, diri ini bergumam dalam hati. Seperti biasa diri ini membuat daftar pekerjaan yang harus dikerjakan oleh staff kantor, bedanya anak – anak kantor berkembang lebih banyak dari satu tahun yang lalu sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk berdiskusi satu persatu. Lebih siang terkadang rapat – rapat pembahasan pekerjaan pun menunggu, pembahasan rapat tersebut bisa berlangsung sampai larut malam guna memutuskan keputusan – keputusan desain pada saat itu juga. Mata ini perih ingin menutup pada saat itu, aku lupa pada waktu itu aku belum makan.

Kemudian secara rutin pada hari sabtu diri ini berkeliling untuk melihat proyek – proyek yang sedang dibangun, mengawasi satu persatu detail pekerjaan yang ada. Teringat satu perkataan teman terbaikku.

“Dalam membuat sesuatu harus berhati – hati, apalagi sekarang kamu ada di satu industri. Jagalah nama dan prestasi. “

ya oleh karena itulah, standar kualitas memang harus dijaga untuk konsultan desain yang belum berusia 2 tahun ini. Diri ini berpikir memang masa – masa sekarang adalah masa pembuktian. Sederhananya memang proses seperti ini perlu untuk menjadi dan membentuk kapasitas, sewajar – wajarnya. Diri ini bersyukur diingatkan oleh orang – orang terbaik untuk terus menjaga kepercayaan yang diberikan dalam hal – hal kecil maupun besar.

Siang itu satu waktu telpon berbunyi salah satu teman terbaikku memanggil untuk datang ke kantornya untuk dikenalkan pada saudaranya, perbincangan kami mengalir begitu saja, mungkin ada chemistry yang baik, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata2, yaitu rasa. Maklum sudah 2 tahun ini kita tidak bertemu, waktu – waktu kita memang semakin padat, ia sebagai seorang developer terkenal dan diri ini sendiri yang sibuk dengan pekerjaan –pekerjaan di kantor. Di sela – sela waktu yang semakin mengukung. Diri ini merasa bahwa memang benar jika akhirnya banyak orang berkata, semakin kita dewasa lingkaran pertemanan kita akan semakin berkurang.

Kira – kira beberapa jam kita berbicara sampai lupa waktu, sampai beberapa gelas minuman sudah habis. Seusai ngobrol teman terbaikku ini pun menanyakan di drop off bilangan Jendral Sudirman. Realrich kamu naik apa, saya bilang naik taxi, karena memang pada waktu itu. Wanita terbaikku membutuhkan kendaraan untuk pergi ke klinik, maka diri ini memutuskan naik taxi saja. “O mau ikut saya ? “dia menawarkan, “kemana ya pak, ” dia pun menyebutkan jalur kendaraan yang tidak satu arah dengan diri ini.Diri ini melihat jam yang sudah mulai larut, namun saya sangat senang sekali ngobrol dengan satu bapak ini, diri ini mengiyakan, oke deh satu jalur, saya bilang. Dalam hati diri ini berkata, “Oke kita pun bisa mengobrol 1 jam lagi di perjalanan.”

“Pak Rich, saya punya project. “demikian dia menyambung akhir pembicaraan kami seketika akan menurunkan saya di trotoar di persimpangan Harmoni, kamu akan saya ajak ya hari rabu depan ke tempat project ini. Sepertinya ini cocok dengan kamu.” diri ini pun terkejut tanpa disangka, project tersebut adalah project yang luar biasa menariknya, memang peristiwa ini mengajarkan arti untuk berbagi dengan orang lain hanya dengan membagi waktu, dan kemudian ia akan membagikan kesempatan – kesempatannya, tanpa disangka – sangka.

Diri ini merenungi waktu dan kesempatan muncul dalam waktunya tersendiri , semua ini seperti terjadi begitu saja.

Diri ini berpikir, kita ini hidup sesuai kebutuhan kita, ada orang yang membutuhkan kasih sayang, ia akan mencari kasih sayang tersebut, ada orang yang membutuhkan materi, ia akan mulai berkerja dan mulai mendapatkan materi. Orang mendapatkan kepuasan karena kebutuhannya terpenuhi…. Waktuku, waktu kita, waktu bersama.

Kehidupan Kampus

2 bulan yang lalu di malam yang dingin di Kiara payung di satu bukit dimana bintang2 terlihat membentang di langit, ada bintang biduk, pengarah jalan para nelayan.Saya ingat dimana pelantikan anggota baru Gunadharma kemarin, dimana semua berlomba – lomba untuk datang ke acara pelantikan ini, ada satu orang yang sudah lulus 10 tahun yang lalu. Ada beberapa yang sudah lulus 5 tahun yang lalu. Untuk apa mereka datang ?

“Hentakkan kakimu sekuat tenaga, begitu engkau melangkah engkau akan dilihat dari bagaimana engkau bertindak terhadap orang sekitarmu diri ini mengingat, totalitas .Engkau, apa hanya engkau ?” teriakku lantang

Diri ini bertanya kepada dua orang peserta di depanku. Mereka bilang demi sebuah kebersamaan. Memang demi sebuah kebersamaan, kita ditempa untuk menghargai kebersamaan, himpunan itu apa ? Sebuah kebersamaan, dimana2 kita selalu bersama – sama dengan orang lain, belajar berhimpun itu pada hakikatnya adalah belajar bersama – sama. Diriku berpikir mengenai misteri mengenai hubungan manusia antar manusia, sebuah nilai yang tak terukur antara rasional manusia yang memiliki nilai individualis tinggi. Ada yang menghitungnya dengan nominal uang yang tinggi, ada juga yang menghitungnya dengan sejumlah tempat yang ia datangi, ada yang menghitungnya dengan prestasi dan pekerjaan yang ia banggakan. Apa yang membuat dirimu bahagia ? Datang ke pelantikan anggota baru Gunadharma seakan – akan mengingat lagi saat – saat yang lampau, berulang kembali, saat – saat yang enerjik, dan tawa yang membahana bersama – sama teman – teman satu angkatan, satu himpunan. Waktu Menjanjikan betapa berbahagianya bisa menikmati saat – saat di Gunadharma.

Best Office in the World

Kantor di dunia mulai menunjukkan kehidupannya, siklus yang silih berganti cukup cepat. Orang – orang datang dan pergi, proyek proyek datang dan pergi. Banyak orang yang belajar, datang dan pergi, mulai ada adik2 yang tinggal lebih lama, datang dan pergi itu pilihan hidup, yang terpenting bekerja untuk belajar, mengekspresikan diri dan menabung.

Diri ini sering terlibat dalam perbincangan dengan beberapa orang mengenai arsitektur, archi tecton ( seni membangun). Ada satu fenomena yang mengherankan, banyak orang bertanya – tanya mengenai jati diri “arsitektur Indonesia”. Mungkin beberapa kali dalam berdiskusi hal ini selalu ada. Pertanyaan seperti ini jarang diri ini temui sepanjang perjalanan karir di beberapa tempat terbaik,

Apa sih jati diri arsitektur morroco, jepang, australia, inggris, bandung,jakarta,Indonesia? Pertanyaan yang sulit. Perlu digali lagi kenapa ini dipertanyakan. Perlu pembahasan dr sudut pandang tertentu, ada satu benang merah dari negara2 ini yang akhirnya mensintesiskan apa yang sudah ada sekarang. Lalu apa ? Untuk apa kita bertanya ?

Mungkin kita ada dalam satu budaya yang hilang, terus menerus bertanya, tanpa tahu jawabannya, terus menerus memprovokasi, dan bingung dibuat oleh pertanyaannya. Oleh karena itu kita mempertanyakannya, Pertanyaannya adalah melalui apa kita mencari ? satu hal yang pasti, bahwa setiap jaman memiliki tandanya tersendiri melalui inovasi teknologi, sistem bangunan, ketersediaan material, dan segala proses sosial, budaya, politis, ekonomi yang melatar belakangi satu karya. Yang diri ini tahu pasti, karya arsitektur indonesia adalah karya terbangun yang ada di Indonesia, oleh karena itu Arsitekturnya arsitektur Indonesia.Mungkin kita sudah kesulitan untuk memilah apa yang perlu dilestarikan, apa yang tidak, keahlian konstruksi mana yang perlu dilestarikan mana yang tidak. Gabungan 2 pendekatan empiris dan rational perlu dilakukan. Menurut saya perlu adanya pendokumentasian hal2 yang menjadi unggulan. Point saya ada di sejarah, dan inovasi di konstruksi, sistem, pendekatan desain supaya menjadi nilai guna, toh arsitektur perlu dikembalikan ke definisinya, seni membangun, membangun yang lebih baik.

Frederich Silaban sependapat dengan saya menurutnya ” tidaklah perlu dicari-cari arsitektur indonesia yang identik dengan bentuk – bentuk tertentu, yang perlu ditransfer adalah nafasnya jiwanya”.

Arsitektur Indonesia itu ada di dalam nafas desain kita, taksu kalau professor yuswadi bilang, ada di tradisi berbuat kita, tunjukkan melalui desain anda, kebolehan anda, inovasi anda, efisiensi anda, estetika anda, sewajar – wajarnya. Dengan melalui desain terbaik di bumi Indonesia, karya terbaik arsitektur Indonesia akan muncul. Diri ini pun masih belajar untuk ini, dalam hati diri ini berdoa supaya bisa berkesempatan untuk belajar.

Pelajaran terbaik,… kejujuran,cinta, integritas

Pada waktu itu siang – siang di hari sabtu, diri ini baru saja pulang dari workshop kantor di daerah Meruya untuk mengawasi tukang – tukang yang berkerja memperbaiki rumah pak Misnu, diri ini menggerakkan tukang2 untuk memperbaiki tempat tinggalnya .

“Kak saya ingin bicara”. Adik di depanku ini adalah orang yang biasanya mengurusi menemani dalam pekerjaan sehari2, iabercerita tentang sistem yang tidak berjalan, dan ada orang – orang yang sulit diajak kerja sama.

“Pak saya ingin bicara.” Paman di depanku ini adalah orang yang biasanya mengkordinasi workshop, pribadi yang menganggukkan kepala ketika diri ini mendorong satu keinginan untuk mencoba sesuatu yang tidak biasa” dalam ketertegunannya, ia bercerita mengenai masalah rumahnya, rumahnya yang digadaikan, dan pinjaman2nya ke tetangganya.

“Kak saya ingin bicara.” Ada juga orang yang baru saja menyapa di lembar facebook, berkenalan lalu becerita ia sedang dalam masalah dengan dosen2nya, penulisan thesisnya, ataupun meminta referensi – refensi yang diri ini juga tidak mengetahui dari mana harus mencari.”

“Pak saya ingin bicara.” Entah kenapa mahasiswa ini punya banyak kendala berhadapan dengan tugas2nya yang tidak terselesaikan dengan baik.

Kemudian diri ini menerawang ke satu peristiwa saat berbicara dengan salah satu orang yang menjadi klien di kantor, “Rich, dalam kepercayaan terhadap kami kepadamu, sebenarnya ini merupakan satu cerminan dari kebutuhan dan kesanggupan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, ibaratnya kami perlu jasa kamu dan kami meletakkan kepercayaan kami.” diri ini kemudian berpikir bahwa pada hakikatnya ini tidak hanya mengenai hak dan kewajiban, bahwa dimanapun kita berada, hak kita minta dan kewajiban kita lakukan. Kemudian ternyata ini tidak semudah yang dikira, sistem yang dijalankan terkadang tidak berjalan secara ideal. semua pihak hanya perlu menjalankan hak dan kewajibannya, terkadang hak tidak diberikan dan kewajiban terlalu besar, ada juga hak yang sudah diberikan dan kewajiban tidak ditunaikan, selalu saja ada ketidak sempurnaan dibalik keinginan kita yang selalu mengejar kesempurnaan.

Dimana diri ini berpikir inilah hubungan manusia antarmanusia yang tidak pernah sempurna. lalu beralihkan pandangan ke satu orang adik didepanku, dimana ia bercerita mengenai keadaan yang ada. Dalam hati diri ini bersyukur sekali dikaruniai, diberikan orang – orang yang selalu mengingatkan, Laurensia, Keluarga, orang2 di depanku, ataupun pribadi sehari2 yang diri ini jumpai ini merupakan pemberian titipan Tuhan akan pengingat yang selalu mengingatkan akan langkah – langkah dalam kehidupan ini untuk membagi kebaikan dengan sesama.

termasuk adanya Laurensia, Keluarga, Adik – adik, mahasiswa, dan orang – orang yang diri ini selalu temui sepanjang hari sepanjang waktu. Berkat tidak ternilai ini hadir secara tidak terduga, satu persatu.hidup di dunia ini untuk berbagi, seperti kata guru terbaikku, mas emil diri ini memanggilnya bahwa hidup ini untuk berbagi, diri ini belajar banyak sekali dari beliau, melalui sikap hidupnya.

Laurensia + Cherry

Laurensia sudah pulih dari operasi terakhirnya, diri ini merasa senang sekali, ia sudah mulai pulih seperti sediakala, rutinitas praktik dokterpun sudah dijalaninya dengan teratur. Memang kenangan akan kehilangan Cherry masih terkenang begitu saja, sulit untuk bisa dilupakan. Kita mengingat setelah bulan agustus, bulan september mulai menunjukkan wajahnya, daun – daun kembali menghijau di pekarangan rumah kami di Bandung setelah musim panas yang terik. Bandung memang menyejukkan, .

Ya Laurensia dan diri ini akhirnya punya satu rumah di Bandung, dititik terindah yang kita berdua bisa sediakan untuk Cherry. Laurensia dan diri ini sangat menantikan kehadiran cherry kembali. Di bukit ini, cherry bs berlari – lari untuk menikmati alam bersama – adik2 dengan kantor terbaik didunia, dan desa terbaik didunia. Diri ini dilanda satu mimpi yang indah, mimpi dimana anak – anak bisa tertawa, mimpi dimana studio terbaik di dunia, tempat terbaik di dunia akan muncul. Laurensia mungkin akan membuka tempat praktiknya untuk warga – warga sekitar, diri ini akan berbagi mata air akan ada bagi masyarakat sekitar. Sebuah roseto, a place where the outside rule does not apply, where happiness, perfection in imperfection might happen, the best design might happen, the best place of people within. Mengingat apa yang sudah terjadi satu tahun ini, ada kebahagiaan dan ada juga kesedihan,Semoga hidup ke depan akan semakin baik, teduh, dan indah untuk dijalani.

Mungkin 3 bulan kedepan akan ada lagi kejutan2 terbaik, seperti Laurensia berkata.

“Life is like a piano, the white keys represent happiness and the black show sadness. But as you go through life’s journey, remember that the black keys also create music.”

“Yang tehnya sudah siap, ayo diminum supaya tidak dingin.” selalu Laurensia memanggil mengingatkan. Puji Tuhan. Diri ini pun jatuh cinta lagi di tahun kedua pernikahan kami.

laurensia2

Our short trip – back to our memorable time

this is travel log, time with laurensia, showing our trip to England. I was thinking 3 years ago we visited some of the places like cambridge, St. Ives, Penrith, Bath. It was very memorable for us. The ordinary stuffs like meeting new people, visitting new places indeed was such a beautiful journey for us.We met our best friends, Jefferson Barnes, Kuncara and fam, Alvin and fam, Melur,lot of  new friends !

We love travelling because not only gives us time for being together but also it’s the moment for looking lot of good people, beautiful places, and another camariderie. like what Nikki Giovanni said that “We love because it’s the only true adventure.”

adventure … I think that we are still making our adventure, till the very end time.

So still that I think , collect your images, you stories, your own butterfly collections…

with your family, and your loved one.

IMG_2515

Cherry

Hope is the thing with feathers that perches in the soul and sings the tune without the words and never stops at all…

Hari itu hari Jumat malam jam 23.30. setelah diri ini berdoa untuk bayi kami, aku pun tersenyum, karena ia begitu cantik, ingin kubawa bayi ini  ke Laurensia. Namun petugas sudah akan membawanya pergi untuk memandikannya. Rambutnya ikal, hidungnya mancung, perawakannya mungil,jemarinya lentik dan kulitnya putih bersih. Kukecup keningnya, dan setelah itu diriku pun bergegas untuk menunggu di depan ruang operasi, pintu kamar operasi pun belum terbuka. Diri ini sudah menunggu 1 jam namun operasi belum juga selesai.

Diri ini akui bahwa momen – momen menunggu saat ini tidaklah menyenangkan, aku yang selalu berpikir mengenai bagaimana dokter melakukan operasi terhadap Laurensia, bagaimana ia dibius sampai tidak sadar. Dan bayangan – bayangan yang terbersit mengenai apa saja yang dilakukan dokter di dalam ruang operasi. Ya Tuhan semoga ia baik – baik saja. Untungnya dokter yang menangani Laurensia adalah dokter terbaik di kalangannya, dokter yang cekatan, muda dan masih keluarga dekat, jadi diri ini menyerahkan sepenuhnya kepada tangan terampil dokter yang menanganinya. Dokter Cindy namanya, di rumah sakit Pluit.

Akhirnya satu perawat keluar “Ibu sedang dijahit pak, sudah selesai operasinya, sekarang dokter sedang menunggu kondisi ibu stabil” Satu perawat pun keluar untuk menenangkan. Setelah itu Laurensia pun didorong di atas tempat tidurnya keluar dari kamar operasi, hati ini pun gembira luar biasa. Doa ini terkabul, ia baik – baik saja. Syukurlah. Diri ini berterima kasih luar biasa terhadap dokter yang membantu proses operasi Laurensia termasuk suster dan asisten yang menanganinya.

Satu malam itu aku bisa menghargai kebersamaan kami yang luar biasa di kamar rawat inap rumah sakit. Laurensia pun sudah mulai sadar sepenuhnya dan diri ini pun sangat bersyukur.

3 hari yang lalu, …

Pagi itu hari rabu. Diri ini ingat, masa kehamilan Laurensia sudah 7 bulan, dalam hati yang terdalam, rasa takut selalu ada. Kehamilan adalah proses yang indah dan juga beresiko bagi ibu dan anaknya kata dokter. Dan dalam hati ku selalu berdoa Semoga kehamilan Laurensia baik – baik saja dan tidak ada masalah. Maklum kami belum pernah mengalami ini. Satu pengalaman pertama dalam seumur hidup kami. Ini kehamilan pertama. Pada kehamilan 3 bulan pertama dokter mendiagnosa bayi kami perempuan. Setiap saat aku mendoakan supaya bayi ini bisa menjadi berkat untuk sesama, seperti kebahagiaan yang dibawakannya ke keluarga kami dalam kehamilan Laurensia.

Seperti satu hari biasa, hari itu adalah hari rabu dan diri ini harus berangkat untuk mengajar , rutinitas pun dijalani dengan kesibukan kami berdua yang padat. Diri ini sendiri baru pulang mengajar di Karawaci, baru saja mengobrol bersama rekan – rekan dosen disitu dan juga mahasiswa yang ada di studio arsitektur. Kemudian Diri ini mampir sebentar ke kantor memberikan beberapa masukan terhadap desain yang sedang dikerjakan. Laurensia pun akhirnya masuk ke kantor untuk mengingatkan karena hari sudah malam dan kami punya janji untuk bertemu dengan dokter, untuk cek kehamilan 7 bulan.  Kami pun bergegas ke satu rumah sakit di bilangan Jakarta Pusat. Pak Misnu, sopir keluarga pun sudah menunggu.

3 hari yang lalu Wanita terbaikku menanyakan kepada diriku mengapa bayi kami di dalam kandungan tidak seaktif biasanya. Aku  menjawab untuk menenangkan istri, tidak apa – apa mungkin ini wajar, kita kan akan ketemu dokter sebentar lagi. Pada waktu itu sekitar jam 9.45 malam dan kami baru masuk ke ruang tunggu setelah lama menunggu, urutan terakhir setelah 1 setengah jam lebih menunggu. Pada waktu itu kami bisa melihat detak jantung bayi kami berdua, ada yang berkedip – kedip di layar USG, rasa khawatir pun menjadi pupus. Ini anaknya baik – baik saja, kata dokter mengiyakan, ketika Laurensia bertanya.

3 hari kemudian

Nama Anak kami adalah Cherry, bagi kami dia adalah satu malaikat yang akan mewarnai orang – orang sekitarnya dengan kasih sayang. Memberikan kebahagiaan setiap saat pada saat ia ada sama seperti ia memberikan kebahagiaan dalam waktunya yang sebentar di dunia ini.

Tidak ada yang bisa membayangkan ketika 3 hari kemudian, pada hari jumat pagi. Cherry  meninggal. Ia didiagnosa kehabisan air ketuban, dan Cherry terlambat dikeluarkan oleh karena itu ia meninggal. Tidak ada yang percaya bagaimana ini terjadi dan mengapa ini bisa terjadi pada keluarga kami meski ada beberapa puluh argumentasi dan hipotesa mengapa ia tidak ada, tidak ada gunanya mempersalahkan siapa – siapa. Memang sudah jalannya seperti ini.

Pikiran ini pun kembali ke hari jumat malam pukul 23.30.  ketika diri ini sedang menunggu operasi Laurensia untuk mengeluarkan Cherry dari kandungan. Operasi Caesar yang dipimpin dokter Cindy.

Satu berkat ini datang 7 bulan yang lalu, dan kemudian begitu mudahnya ia pergi, satu kebahagiaan ini pergi begitu saja di hari ini. Di bulan ke 7 kehamilan Laurensia. Kami diajar mengenai arti kehilangan dalam kehidupan.

Aku berdoa sepenuh hati, kupeluk Cherry dengan derai tangisan, kesedihan yang tidak tertahankan. Anakku begitu cepat engkau pergi, papa dan mama sudah punya begitu banyak mimpi yang indah bersamamu, sayang sekali Tuhan punya rencana lain terhadapmu nak.

Hanya kurang dari 1 hari,diri ini bisa menyentuh memeluk Cherry untuk pertama kali dan terakhir kalinya namun kini ia pergi. Aku pun merasakannya ketika abu itu ditebarkan di laut, Ia melindungi perbuatan, pikiran, dan perkataan kami berdua dalam cinta kasih terhadap sesama. Hari Jumat pada saat itu adalah hari yang penuh dengan kesedihan, kehilangan dimana kami kehilangan Cherry. Diri ini tidak bisa membohongi siapapun untuk mencoba tegar dan belajar dari kehilangan ini. Namun aku percaya, ia ada di sekitar Laurensia dan diri ini untuk menjaga derap langkah kami.

Diri ini pun tersenyum ketika dalam satu hari setelah operasi, Laurensia sudah pulih kembali , ia sudah mulai bisa berjalan seperti biasa, kemauannya kuat untuk bangkit. Aku berbisik dalam hati. Cherry terima kasih sudah jaga mama.  Satu minggu setelahnya, satu teman dari orang tua kami, berbisik. Pada waktu itu, pagi – pagi setelah dimandikan, Cherry ada di rumah duka. Ia melihat Cherry ada di samping kami. Teman dari orang tua kami itu berbisik, ia sudah menjadi malaikat pelindung keluarga.

scotland together

Cerita di tahun kelima – Pelajaran terbaik

For last year’s words belong to last year’s language andnd next year’s words await another voice…And to make an end is to make a beginning. TS Eliot

Diri ini akan membagi – bagi cerita ini menjadi beberapa cerita kecil, sebagai refleksi kehidupan yang begitu indah untuk dijalani, dan menyimpan banyak hal untuk dipelajari.

Malam ini …

Malam ini sunyi sepi, waktu tertera pukul 10. 30 malam, baru saat ini aku bisa menarik nafas untuk melegakan diri dari segala macam aktifitas yang ada di kota Jakarta ini, hari ini hari terakhir tanggal 31, bulan Desember, tahun 2011.

kira – kira sudah 3 bulan berlalu sejak diri ini hidup berdua dengan wanitaku. Diri ini tidak sendiri lagi, kami sudah bersama, dari masa penantian yang terasa sungguh lama, beberapa tahun hubungan jarak jauh yang terasa tak menentu dari perjalanan diri kami berdua antara London, Sydney, Seoul, dan Jepang. Di saat itu waktu – waktu seakan – akan bermain dengan ritmenya sendiri, ia berkata ada perjumpaan ada juga perpisahan, penuh dengan masa penantian antara 2 musim dan 4 musim Negara yang berbeda.

Lalu aku teringat beberapa bulan yang lalu mungkin 2 bulan yang lalu, diri kembali ke London hingga perjalanan ke bagian utara scotlandia. Angin yang meniup perlahan – lahan dengan temperatur yang mulai memasuki musim gugur dimana daun – daun sudah berubah menjadi kuning kemerahan. Oleh karena itu mungkin jalanan di kota Durham menjadi begitu Indah dalam horizon kota medieval yang lengkap oleh menara gereja yang juga merupakan salah satu gereja terbesar di Inggris. Diri ini berdua – dua juga berjalan – jalan ke kota York yang sangat memukau dengan peninggalan – peninggalan bersejarahnya, ilmu pengetahuan yang ada di setiap pojok – pojok kota meninggalkan torehannya dengan buku – buku yang menurut penduduk setempat buku biasa. Namun, itu buku – buku langka.

Masa lalu …

Ada kalanya pikiran ini teringat ketika saat kedua bertemu dengan wanita terbaikku, Laurensia, saat itu kita sedang duduk berdua di tepi pantai St. Ives, salah satu pantai terindah di Inggris bagian selatan. Inggris saat itu sedang dalam cuaca terbaiknya, musim panas dimana suhu 20 derajat ada pada rentang waktu 2 bulan dalam satu tahun. Diri ini duduk di atas bebatuan karang bersama wanita terbaikku. Kami bercerita keseharian kami masing – masing, cerita mengenai jaman sekolah dahulu. Jaman SD SMP SMA Ataupun bagaimana hidupnya sehari – hari di klinik. Aku ingin sekali lebih mengenalnya. Kami tertawa dalam canda dan obrolan, aku menengok keatas ada burung – burung pantai mengelilingi kami. Laurensia dan diri ini kemudian mendaki puncak yang tingginya 50 meter, St. Ives memang indah, ia memliki pantai, namun juga bukit yang sangat indah. Di puncak bukit itu ada mercusuar dimana kita bisa melihat ujung terakhir sisi selatan dari pulau Inggris. Namun Waktu berkata lain, ada perjumpaan ada juga perpisahan. Tawa itu disambut oleh airmata tidak lama pada saat perpisahan itu kembali tiba.

Ada kalanya diri ini teringat untuk pertama kalinya menangis untuk sebuah perpisahan. Hati ini menangis ketika ia pergi.

Aku masih ingat perbedaan waktu kami adalah 8 jam, GMT +8 dengan GMT 00. Wanitaku terbangun jam 4 pagi untuk kita bertemu. Jam 4 pagi berarti di London adalah jam 10 malam, berarti kami punya waktu 2 jam sebab wanitaku akan bersiap – siap untuk pergi ke daerah pinggir Bogor karena ia harus menunaikan masa baktinya ke Negara sebagai bagian dari tugas.

Di Inggris, tergantung tempat kerja, rata – rata orang akan menghabiskan waktu untuk pergi ke tempat kerja selama 45 menit untuk berdesak – desakan di kereta daerah central London ataupun memilih bus dengan jarak yang lebih jauh. Begitupun diri ini, aku biasa bangun pukul 7, untuk kemudian selama 1 jam pergi ke kantor, 1 jam kubutuhkan untuk perjalanan karena jarak kantor dan rumah yang cukup jauh.

Rutinitas itu ada ketika pada saat diri ini berangkat kerja ia akan pulang kerja, pada saat aku mulai berkerja, itulah saat ia tidur. Pada saat diri ini makan siang, itulah saat ia bangun kembali,

Ada kalanya aku akan memanggil dengan telefon selularku di saat – saat makan siang, memanggil dengan telepon skype, telepon yang dibeli di daerah regent street karena paket nya yang murah, layanan itulah yang paling ekonomis, biaya untuk menelpon ke Jakarta luar biasa mahalnya, dan juga kebalikannya. 10 pound untuk satu kali panggilan selama 30 menit. 10 pound identik dengan 2 kali makan siang pada waktu itu.

Hampir setiap siang diri ini akan tertidur di taman Battersea di terik matahari yang merupakan cuaca yang terbaik di bulan July saat itu dengan mengobrol selama 30 menit setiap harinya di musim panas sesambil menikmati makan siang. Diri ini sangat merindukan suara wanita terbaikku,

“yang kamu sudah makan ?, makan apa ?”

kami akan membicarakan kembali soal keseharian, rutinitas yang menyenangkan sehari – harinya.

Ada kalanya waktu aku pulang ke kantor itulah saatnya wanitaku tidur. aku akan pergi makan malam, atau sekedar memasak untuk teman terbaikku di apartment, Jefferson namanya, masakan kesukaannya adalah sambal goreng hati dengan nasi biryani, selain sayuran dengan cah saus tiram tentunya. Pada waktu Jam 12 malam waktu London, aku menghabiskan beberapa saat untuk berkerja sesaat selama beberapa jam lagi, aku akan tidur jam 3 – 4 pagi seperti biasa. Diri ini biasa tidur cukup malam hanya karena itulah, wanita terbaikku sudah bangun dari tidurnya.

Aku teringat sering kali diri ini berangkat ke kantor dalam kondisi kurang tidur, dan berpacu dengan dateline yang keras. Seringkali juga perbedaan waktu menyebabkan, terbalik – baliknya waktu tidur hanya untuk bertemu sesaat. Hal ini berlanjut terus selama beberapa tahun kita bersama, aku hanya bisa menahan diri untuk tidak bersedih dalam penantian dalam perjumpaan, ketika kita terpisah. Senyum pun ada ketika kita berbicara sehari – hari dalam jarak yang mengukung..

Diri ini mengerti hal ini tidak mudah bagi kami berdua, namun kenangan – demi kenangan itupun terasa begitu indah. Diri ini merasa Satu tahap demi satu tahap sudah berlalu, seperti langkah dalam hidup ini, masa lalu meninggalkan kenangan yang manis dengan suka dan dukanya.

Ketika cincin itu saling dipasangkan dan janji pernikahan selesai diucapkan. Aku melihat wanita yang disampingku, dan aku tersenyum, dan bersyukur untuk kesabaran satu orang Laurensia yang terbaik di dunia, dengan kenangan yang terindah yang pernah diri ini dapatkan.
 

Kehamilan pertama …

Saat – saat yang terbahagia tentunya ketika mengetahui bahwa Laurensia hamil. Puji Tuhan, diri ini melompat kegirangan, diri ini akan menjadi ayah. Waktu seakan – akan terhenti dalam keheningan dan kesukacitaan. Aku sungguh mengucap syukur atas berkat yang diberikan.

Dari dokter, kita mengetahui bahwa usia kandungan laurensia sudah 1 bulan, kemudian 2 bulan, kemudian 3 bulan. Janin tersebut sudah memiliki jantung, tangan, kaki, luar biasa. Aku setiap hari berdoa supaya anak ini akan menjadi anak luar biasa dengan sifat baiknya untuk sesama. Laurensia berkata “yang aku senang seakan – akan ada yang hidup di badanku, meskipun aku pusing dan mual sehari – harinya, namun aku tidak sabar untuk melihat si baby setiap bulannya.” Pada saat itu aku teringat Laurensia muntah hampir setiap harinya, berat badannya pun turun. Wanita yang selalu bersyukur inilah yang aku yakin akan menjadi ibu terbaik bagi bayi ini. Tidak banyak orang seberuntung diri ini untuk memilikinya.

Diri ini berpikir Ayah dengan segala usahanya menempa dirinya sebagai tulang punggung keluarga, namun lebih luar biasa para Ibu dengan segala suka dan dukanya menempa dirinya dengan kasih yang luar biasa melalui proses kehamilan dan kelahiran.

Rutinitas

Ada kalanya aku bangun jam 6 – 7 pagi setiap harinya, untuk makan pagi bersama, mulai berkerja untuk mempersiapkan pekerjaan bagi staff kantor yang datang biasa sedikit siang. Kami akan makan siang setiap harinya, untuk kemudian terkadang aku menghabiskan waktu satu hari di kampus untuk sekedar bertemu dengan mahasiswa, untuk tutor singkat ataupun untuk memberikan kuliah, atau asistensi di studio arsitektur. Malam – malam kira – kira pukul 7 aku akan selesai dengan rutinitas pekerjaan ataupun rutinitas mengajar, dimana terkadang diri ini harus berkerja ekstra sampai tengah malam. Terkadang seperti saat – saat dahulu diri ini harus menahan kantuk untuk berkerja sampai jam 3 – 4 pagi atau tidak tidur sama sekali.

Secara rutin aku akan makan malam bersama setelah laurensia pulang dari klinik. Terkadang aku hanya tinggal di rumah bersama laurensia di hari sabtu dan minggu untuk menikmati kebersamaan di sekitar rumah.

Atau terkadang waktu yang tidak banyak dan kita juga pergi ke tempat yang itu – itu lagi, kegiatan yang sama lagi. Namun semua rutinitas yang terjadi begitu indah, sekali dijalani, ingin diulangi, terus menerus. Hidup ini terasa sangat menyenangkan.

Kantor terbaik di dunia …

Kira – kira setahun yang lalu di bulan November, firma DOT dibentuk. Suatu waktu diri ini ingat dalam perjalanan pulang dari Foster and Partners, bersama teman terbaikku, Albert namanya, kita bersenda gurau mengenai nama satu studio arsitek, studio arsitek yang baru, nama DOT pun muncul. Diri ini sendiri juga seringkali tidak menyangka firma arsitek ini bisa bertahan dan sedikit menorehkan prestasi sampai sekarang.

Seperti biasa kantor adalah satu tempat untuk berkerja, adakalanya ia dipisahkan dari kehidupan pribadi orang – perorangannya. Ada kalanya juga ia menjadi ajang pertarungan, kompetisi, pertaruhan karir, tempat eksistensi diri. Diri ini selalu merasakan dimana lingkungan kerja seperti ini, sejauh diri ini melangkah dalam perjalanan dari Singapore, London, Sydney, Jepang, Korea, ataupun di tanah air. Rata – rata diri ini berkerja 12 jam di kantor, ataupun kadang- kadang 16 jam di masa – masa dahulu. Dari kondisi yang ada, mimpi pun mulai ada untuk membuat kantor terbaik di dunia.

Apalah artinya sebuah nama, DOT hanya sebuah titik. Ada kalanya diri ini berkaca kebelakang. Bagaimana kita merintis firma ini dengan orang – orang terbaik. Mulai dari hanya 2 orang, kemudian berkembang menjadi 3 orang, kemudian tengah tahun kita sudah memiliki 6 orang, dan sekarang ada 12 orang di DOT Workshop, seluruhnya orang – orang terbaik dan paling kreatif dengan passion yang sangat luar biasa. Tidak banyak firma yang memiliki keberuntungan dengan adanya orang – orang ini di dalamnya, yang saya tahu Foster and Partners salah satunya, oleh karena itu ia bisa berkembang menjadi 1500 orang dengan tidak mengorbankan ide – ide yang brilian.

Adakalanya diri ini tertawa – tawa dengan segala ide – ide yang kreatif di DOT, saat – saat di kantor menjadi salah satu saat yang terbaik dalam rutinitas yang ada. Di dalam satu tahun terakhir ini, DOT sudah mengerjakan hampir 80 pekerjaan, memenangkan 6 penghargaan desain, berkerja sama dengan developer – developer di Indonesia, mengerjakan beberapa project di Mexico. Kantor berkembang pesat dari 2 menjadi 12 orang. Kantor yang tadinya hanya berupa tempat kosong, menjadi tempat yang diri ini sendiri cintai dengan passion yang ada di dalamnya.

Melihat kebelakang diri ini serasa –tidak percaya dengan segala yang ada, Diri ini hanya bisa mengucap syukur atas segala yang ada, dengan penuh kerendahan hati diri ini mengucapkan terima kasih atas segala perjuangan DOT atas kecintaannya akan profesi yang diri ini juga cintai.


Resolusi Tahun Baru … hidup ini hidup biasa

Untuk menutup cerita di tahun kelima, diri ini akan membagi pengalaman yang tidak terduga, dengan pelajaran terbaik yang justru datang dari seorang supir taxi.

Supir taxi ini mengantarkan Laurensia dan diri ini dengan biaya hanya 50 pound dari kota London ke Stansted yang berjarak 1.5 jam – 2 jam perjalanan. Biasanya, taxi akan mencharge 80 pound. Namun hari itu terasa berbeda. Kami berbicara mengobrol panjang lebar, ia bercerita dirinya yang asal Saudi Arabia, ia adalah seorang muslim. Ia berkata,

Realrich, sekarang banyak orang membunuh orang lain mengatas namakan agama, namun mereka hanya lapar, Agama pun menjadi pelarian. Oleh karena itu setiap kali kami bisa makan sesuatu, kami akan berkata alhamdulilah, mengucap syukur, bersyukurlah karena pada hari ini kamu masih bisa makan.
Dan jangan lupa, berikan sedikit hakmu untuk orang miskin, bagi kamu mungkin itu tidak berarti namun bagi mereka itu akan sangat berarti. Ada dalam perjalanan hidupmu dimana semua menjadi sangat tidak pasti dan timbul keragu – raguan seperti yang dialami oleh banyak orang. Pada saat itu tiba, berderma lah, dan berdoalah, maka jalan akan ditunjukkan kepadamu. Dan itu akan membuka matamu, dan engkau akan menjadi cahaya bagi orang lain.
 
Dan untuk kekasihmu, jagalah ia, di masa – masa pertama, kalian akan saling menyesuaikan diri, yang terpenting adalah istrimu, [pada saat itu Laurensia tertidur disampingku], apapun yang diperbuat orang lain, apapun keragu – raguan yang muncul dalam hidup, jagalah istrimu, karena hidupmu akan terberkati dan hadiah yang terindah dari Tuhan yakni anak – anak akan tiba pada saatnya dimana kebahagiaan tidak bisa terukur dari uang semata.

Aku seakan – akan bermain – main dengan resiko dalam pikiran dan perbuatan, karir dan pekerjaan, masa lalu – masa depan, puisi masa lalu, dan tantangan masa depan. Pelajaran terbaik seakan – akan muncul begitu saja, tanpa terduga. Ku yakin Tuhan mengirimkan orang – orang terbaiknya untuk saling bertemu.

Diri ini seakan – akan bernostalgia dengan romansa, romansa yang menggebu – gebu di dalam hatiku, romansa dalam keseharian, romansa dalam tutur kata, sikap, dan perbuatan. Aku belajar untuk mencintai seumur hidupku, demi Laurensia. Wanita terbaikku. Aku belajar menghargai waktu, belajar menghargai kebersamaan.

Puji Syukur kuhaturkan akan tahun yang luar biasa dengan berkat yang berlimpah, hadiah natal yang sangat indah, kebersamaan dengan laurensia dan calon bayi merupakan berkat yang tidak ternilai,

Di akhir perbincangan kami, dia pun berkata,

“hey Realrich, do you know that good people meet good people, so don’t worry about life. Just do your best.”

pada waktu itu Aku pun tersenyum, dan bersyukur, saat itu Laurensia pun bangun, dan

aku menatapnya dan jatuh cinta lagi untuk kesekian kalinya.

wedding

Our wedding :)

This week, I have been really busy day by day for sorting what needs to be done for our marriage. today I’m so grateful because I’ve just finished designing website for laurensia. Visit the link www. real-laurensia.com if you have time to see it. I’ve been learning how to make this last week. even though not perfect enough, have a look and give us comment, we will be very happy. Other part is, I’m really busy sorting the invitation for our marriage and putting together pictures for our ceremony, writing the label by label inviting friends, family who are like brothers and sisters to me.

just really tired, probably it’s time to go to bed, tomorrow morning at 6.00 am have to accompany laurensia to doctor for check up.

best,

landak2

Landak atau rubah ?

Jim Collins wrote wonderful text, hopefully this will colour your vacation happy holiday …

“Apakah anda termasuk landak atau rubah ?

dalam karangannya yang terkenal”The Hedgehog and the Fox”, Isaiah Berlin membagi dunia menjadi landak dan rubah, berdasarkan pada dongeng yunani kuno, “Rubah mengetahui banyak hal, tetapi landak mengetahui satu hal yang besar.” Rubah adalah makhluk yang cerdik dan licik, mampu menyusun banyak sekali strategi yang kompleks untuk menyelinap dan menyerang landak. Selama berhari – hari rubah mengelilingi sarang landak, menunggu saat yang tepat untuk menerkam. Cepat, rapi, cantik, kakinya cekatan, dan ahli rubah tampak sepertinya pasti menang. Landak, sebaliknya, adalah makhluk yang lebih tidak rapi, tampak seperti perpaduan genetis antara porcupine (semacam landak) dan armadillo kecil.

Landak berjalan dengan badan bergoyang – goyang, melewatkan hari – harinya yang sederhana, mencari makan siang dan memelihara rumahnya.
Rubah dengan cerdik menunggu dalam keheningan pada waktunya di jalan setapak. Landak memikirkan urusannya sendiri, mengeluyur langsung ke jalur rubah. “Aha, aku mendapatkanmu sekarang!” pikir rubah. Dia melompat keluar, berlari, secepat kilat. Landak kecil mencium bahaya, mengangkat kepala dan berpikir, “mulai lagi, apakah ia pernah belajar?” menggulungkan diri dengan sempurna menjadi seperti bola kecil, landak menjadi seperti bola dengan duri tajam , ke semua arah. Sang rubah, sedang melompat ke arah mangsanya, melihat pertahanan landak dan mengentikan serangan. Mundur kembali ke dalam hutan, rubah mulai memikirkan serangan baru. Setiap hari, beberapa versi dari pertempuran antara landak dan rubah ini terjadi, dan walaupun rubah menjadi semakin cerdik, landak selalu menang.

Baca lebih lanjut

photo (2)

berbuat dengan hati dan etika, satu tulisan untuk Laurensia

Michael kamu, anak muda jaman sekarang, berbisnis, tanpa etika, tanpa nilai …

Kalimat ini terlontar dari nada bicara diri ini  yang meninggi di suatu malam jam 11 di minggu pertama di bulan agustus tahun ini. Klinik gigi laurensia sedang ada masalah.

Ibaratnya…

ada seorang tukang mie, ia merintis dari awal, di daerah yang kosong tanpa ada tukang mie sedikitpun. Ia mengurus ijin dengan preman setempat kemudian meracik mie khas buatannya sendiri. Resep diolahnya dari pengalaman bertahun – tahun dengan keringat dan resiko. Setelah beberapa tahun, lapak mie itu menuntut untuk diperbesar ia pun menambah orang dan menambah stok bahan dasar mienya tanpa mengurangi kualitasnya. Namanya pun mulai tersebar kemana – mana dan klinik itu pun semakin ramai. Ia pun bersyukur, sama seperti tukang mie tersebut laurensia pun bersyukur.

Lapak mie semakin besar, permintaan pun bertambah, kemudian tukang mie tersebut memutuskan untuk mendidik satu anak muda. Ia tertarik mendidiknya karena kejujuran anak muda ini. Setidaknya tukang mie tersebut mendapatkan impresi tersebut dari anak muda ini.  Beberapa bulan berlangsung seperti biasa, anak muda ini semakin ahli dan tukang mie tersebut bangga dengan anak muda ini. Ia pun dididik bagaimana berhubungan dengan preman – preman setempat. Namun suatu waktu tukang mie tersebut memutuskan untuk membuka cabang baru, anak muda ini menolak untuk ditempatkan di cabang yang baru. Tanpa disangka – sangka anak muda ini mendapatkan investor kemudian mencoba menggusur tukang mie tersebut dengan melobi preman lapangan parkir tempat tukang mie tersebut berada. Ada satu pertanyaan

“kenapa harus menggusur tukang mie tersebut ? bukan di tempat lain.“  ada 1000 tempat baru di seluruh kota ini… kenapa harus di lapak ini.

Ahh ini saya berpikir, mungkin karena peluh keringat yang dihindarinya, resiko yang diminimalkannya, uang yang jadi prioritasnya dan hubungannya dengan tukang mie tersebut yang tidak lagi dianggap penting. Saya kita anak muda tersebut hilang arah.

Saya rasa ini sama seperti diri ini membuka biro konsultan arsitek pertama kali. Dulu diri ini pernah berkerja di Urbane selama satu tahun kemudian selama hanya 3 bulan menjadi kembali untuk membantu disana. Diri ini juga pernah berkerja di DP Architect Singapore, tempat satu perusahaan tersebut banyak mendesain mall – mallnya di Indonesia. Diri ini juga pernah berkerja untuk Norman Foster di inggris.

Saya sendiri pernah merasakan pedihnya mencari – cari pekerjaan semasa pulang dari luar negeri, ataupun masa2 selepas keluar dari Urbane beberapa bulan kemarin. Laurensia menemani untuk ke bogor pada suatu ketika, dimasa itu proyek yang ditangani di kantor hanya hitungan 1 sampai 3 jari dengan keuntungan yang sangat rendah, saya sendiri tidak digaji pada waktu itu malah berhutang kesana kemari. Dari bogor kita tidak mendapatkan apa – apa. Kita menghubungi relasi – relasi berpuluh – puluh kali dan kita juga tidak mendapatkan apa – apa. Dengan pengalaman berkerja dari Bandung, Jakarta, Singapore, Inggris, australia tidak pernah diajarkan bagaimana mulai membuka usaha. Dan semua berbuah nol.

Pencerahan datang justru dari teman – teman lama dan developer2 lama yang bertemu mendadak di jalan, tidak memiliki kepentingan apa – apa. Satu demi satu relasi bisnis terbentuk melalui good will dan good quality sampai dengan 100 lebih  pekerjaan ditangani dari titik nol dalam jangka waktu  kurang dari 10 bulan sejak awal terbentuk.  Melihat perjalanan dari titik nol tidak pernah saya mendatangi klien – klien dari perusahaan tempat saya berkerja dahulu untuk menggusur pekerjaan urbane, dp architect ataupun foster and partners. Saya percaya setiap orang sudah ada rejekinya, sudah ada hubungannya tersendiri, dan memiliki caranya tersendiri. Wajib hukumnya ketika bertemu satu pekerjaan, kita bertanya, apakah sudah ada arsiteknya ? sama seperti dokter, yang memiliki kode etik, harus menghormati dan menghargai kolega kita sendiri berdasar satu kode etik yang sama. apabila sudah memiliki arsitek, selesaikan dulu perjanjian anda dengan arsitek sebelumnya, baru kita bicara kerja sama. Sebaiknya tidak pernah sedikitpun kita berbisnis tanpa etika. Hubungan dengan perusahan – perusahaan tempat kita bekerja dahulu pun berlangsung dengan baik. Baca lebih lanjut

DOT

to re-inventing and start working hard

the office is really busy at the moment, we’ve got numeruous commissions from several clients. They have been supporting the office so far. But in terms of architecture, I was thinking our design should be fresh. it refers to idea. yes, the idea should be fresh. what is fresh, fresh is innovations, dare to change, dare to lose, dare to invest. I was thinking about the the rational of Murcutt’s idea of responding the climate to architecture, one that shouldn’t be missed that is the inspiring space within. I think every people deserved for a great place to do anything in any circumstances. And I think it’s our obligation, to rethink, to inspire people not only by words but also fundamentally by real works.

we are working on two resort at Bali at the moment. If we look at Bali, the place has deep culture laid among the people.  Even though we are now in the present colored by rationalism and modernism which has generic quality, and faceless culture, in Bali we feel the spirit of the place which make we love the place, and the culture preserved.

we just won 1st prize of limited competition office of Bank Indonesia at Mataram. Working with such creative people in the office creates the incredible happens.

photo (1)

di Gunadharma awal titik pertama

“Pak, si *** susah diatur, anaknya keras kepala, kordinasi pekerjaan tidak jalan ditangan dia, bapak tidak tau sih bagaimana kerja bersama dia.” Celoteh satu mahasiswa tempat diri ini mengajar kepada satu dosennya, teman sejawat saya. Diri ini tersenyum sesembari menimpali celotehan anak tersebut.

Seraya menarik nafas panjang, pikiran ini terbawa dan teringat celotehan yang sama mungkin 10 tahun yang lalu di saat saya masih menjadi mahasiswa, celotehan yang selalu sama, setiap tahun berulang selama 5 tahun diri ini ada di kampus gajah. Ya, pada waktu itu diri ini sangat menikmati berkerja bersama demi sebuah idealisme komunal yang kadang kala diri ini sulit mengerti apa ujungnya. Paragrafnya sama, cerita yang ditulis sama, hanya tempatnya berbeda, diri ini rasa ini kejadian berulang yang selalu terjadi di dunia kemahasiswaan. Pada waktu itu untuk menjadi anggota himpunan kita harus melewati orientasi mahasiwa yang lamanya kira – kira hampir satu tahun atau dua semester ajaran.

Saya kemudian teringat tepatnya di bulan Agustus, diri ini bertemu sekumpulan senior berjas biru, mengenakan emblem gajah duduk dengan tulisan Ikatan Mahasiswa Arsitektur Gunadharma Institut Teknologi Bandung [IMAG ITB] . Hari itu siang terang, kita dikumpulkan berbaris sejumlah total delapan puluh empat orang satu angkatan. Saya kemudian berpikir ini awal yang manis di kampus Gajah di kota bandung yang relatif dingin untuk saya yang matanya sipit yang lahir di surabaya yang dikenal panas kotanya dan perangainya.

Setelah menjadi anggota himpunan, angkatan kami dicap angkatan gagal dengan adanya pro kontra dengan sistem kaderisasi kekerasan dan non kekerasan. Karena ini, satu persatu teman mahasiswa menghilang untuk sibuk di kegiatan akademis, kira – kira dalam kepanitiaan tinggal tersisa 10 orang, tidak lebih. Saya pribadi waktu itu selalu bertugas sebagai anggota tim logistik, job desknya adalah angkut – angkut. Seringkali setelah acara wisuda selesai, semua pulang, dan hanya tertinggal 3 orang untuk membereskan berpuluh – puluh kursi yang jumlahnya cukup banyak, panel – panel yang cukup berat mungkin sejumlah beberapa puluh papan triplek, dan dilanjutkan dengan membereskan ruang himpunan yang hancur lebur berantakan seusai acara.

Ada cerita lagi pada waktu itu selepas pelantikan anggota baru, membuat acara sosial. Acaranya waktu itu adalah mengajar panti asuhan bala keselamatan di jalan padjajaran, Salvation army. Ada kira – kira hampir 9 orang yang ikut serta meski pada akhirnya hanya tersisa 3 orang ditambah satu orang lagi dari jurusan lain. Ya diri ini menjadi sadar memang di saat – saat terakhir itulah memang orang  akan semakin sedikit dan komitmen kita pun diuji. Namun ada hal baik yang didapat, pada waktu itu kegiatan kami menjadi cukup terkenal karena militansinya dan semangatnya, kita mengajar 2 kali satu minggu disela – sela liburan semester pendek.

Karena kami menjadi dikenal, kami pun mengenal senior – senior kami. Diri ini ingat berkenalan satu senior yang kemampuan teknis komputernya terbaik satu himpunan, setiap kali bertemu, kita bertukar senyum, lain kali ketemu diajarkan kemampuan teknis komputer secara langsung hanya karena dia tahu mengenai kegiatan bakti sosial tersebut. Kali lain bertemu senior yang lain yang mengajarkan manual rendering, dan kali lain bertemu senior –senior lain untuk mengajak bersosialisasi dengan band – band atau sekedar nongkrong main capsa, sampai diri ini ingat,… waktu itu kuliah nomor ke sekian, himpunanlah yang nomor satu. Kedekatan dengan senior, teman – teman seangkatan dan junior menjadi nomor satu. Proyek – proyek berdatangan kalau tidak salah puncak kegilaan ini membuat 7 proyek simultan bersamaan yang berjalan bersamaan dengan semester ganjil pada waktu itu. Ada proyek  rendering, drafting, buat maket, magang di konsultan grafis, konsultan rendering, dan konsultan arsitek. Pada waktu itu saya sehari – hari  bangun jam 7 pagi, kuliah sampai jam 12 siang , kerja di laboratorium sampai jam 6 malam kemudian, makan malam, kerja proyek dengan senior, dan jam satu pagi sudah ditunggu untuk mulai berkerja di konsultan rendering berkerja sampai jam 3 malam. Work aholic orang – orang menjuluk… Badan ini kurus sekali, diri ini ingat berat diri ini hanya 55 kilogram untuk tinggi badan 175 cm. Uang yang didapat lumayan bisa untuk dibagikan ke junior dan ada yang bisa dibelikan alat – alat gambar atau buku arsitektur . Buku yang dibelikan dari hasil magang dengan pak Baskoro Tedjo pun masih ada sampai sekarang.

Sebagai tim di saat – saat terakhir, “logistik” Di tahun kedua diri ini naik pangkat namun yang dilakukannya tetap sama. Di tahun ketiga diri ini naik pangkat lagi , namun pada akhirnya pekerjaan tetap sama. Menjadi anggota konseptor di awal kepanitiaan dan menjadi tim saat – saat terakhir di seluruh kepanitiaan, angkut – angkut, beres – beres, bersih – bersih. saya berpikir, ada apa dengan yang namanya ikatan, semua tempat menjanjikan kita bersama sebagai keluarga, saling bantu membantu, namun apa ini yang dinamakan ikatan. Selalu ada di saat – saat terakhir menjadi sebuah kebiasaan dalam kepanitiaan kemahasiswaan IMA G, hanya karena tidak ada orang yang mau. Kegiatan IMA Gunadharma pun sedang padat – padatnya, dan seperti biasa saat – saat terakhir orang pun hilang. Hilang di saat Ujian tengah semester, hilang di saat ujian akhir semester, hilang di saat pengumpulan tugas, proyeksi mimpi yang ditanamkan pengurus – pengurus pun hilang ditelan beban akademis, yang tersisa disaat – saat terakhir orang pun tidak terlalu banyak.  Akumulasi dari itu saya mendapatkan nilai E untuk perancangan. Satu nilai yang terendah dalam satu angkatan.

Ada satu cerita bahwa diri ini punya obsesi untuk membuat merenovasi ruang himpunan dengan mengecatnya. Pada hari pertama hari kamis waktu itu orang yang terkumpul untuk mengerok cat ruang himpunan ada 30 orang, hari jumat terkumpul 10 orang, dan hari sabtu tidak ada orang. Diri ini menunggu jam 8 pagi, waktu yang menunjukkan bahwa seharusnya ada yang datang untuk membantu. Diri ini  punya beberapa KP dilantai dan dua kaleng cat dari pak Suryamanto, dosen teknik bangunan arsitektur ITB. Diri ini menarik nafas untuk kemudian secara apatis, menjadi tim di saat – saat terakhir, mengecat ruang himpunan, dimulai dari mengeroknya, ada satu orang yang datang kemudian, namanya adi indra pada waktu itu, ia datang namun pergi, ia ingin mengumpulkan sampah satu itb untuk menjaga kebersihan kampus, pribadi yang menginspirasi.

Singkat kata diri ini mulai mengecat dengan roll satu persatu satu bidang, kemudian ada satu dosen, namanya pak eko purwono, dia pernah menjadi dosen pembimbing saya pada waktu tingkat dua.

“Rich, kamu ngapain ?”

“ngecat ruang himpunan pak”

“temen – temen kamu kemana ?”

diri ini diam.

“ngga worth it rich kamu ada di himpunan”’

beliau nadanya meninggi,

“iya pak”

saya pun melanjutkan kegiatan cat mengecat tanpa  memikirkan perkataan beliau lebih lanjut. Hanya saja diri ini tersenyum setelah itu,  saya kenal lebih dekat dengan beliau, dan beliau suatu saat menawarkan proyek. Dari situ satu dosen ke dosen yang lain menawarkan proyek, dan meminta jadi asisten mereka. saya bersyukur, satu titik peristiwa mengantarkan ke peristiwa lain. O iya kejadian ini terjadi setelah diri ini mendapatkan nilai E untuk studio perancangan. Dari situ diri ini belajar merancang dari orang – orang terbaik bukan dari dunia akademis saja, pak baskoro, pak hanson, pak eko purwono, pak agus, pak suryamanto, pak ridwan kamil, pak hidayat amir. Mereka mengajarkan semua ilmu mereka dengan hati. Dari situ tertanam pondasi yang sangat baik dalam memahami fungsi ruang, sekuensial, pemaknaan bentuk, dan metode pencarian bentuk. Saya mengerti bahwa merancang bisa dipelajari, dan itu bermulai dari masalah – masalah di himpunan. Kita tidak bisa mengatur apa intensi orang lain, tapi kita bisa berkaca pada diri sendiri.

Mengingat pengalaman di ruang himpunan yang kecil mungil itu dengan segala suka duka nya, menjanjikan pengalaman termanis bersama teman – teman, senior dan junior yang terbawa sampai sekarang. Segala pengalaman yang membuat kita bercucur air mata berubah menjadi jenaka, dan manis segala pengalaman manis teringat semakin manis.

Pengalaman berarsitektur, berinteraksi dengan manusia, pembentukan karakter yang membawa diri ini berarsitektur semuanya, dimanapun, kapanpun, mengajarkan hal yang sama  sama. Pengalaman menjadi anggota tim panitia yang tinggal sampai saat – saat terakhir seperti di himpunan dan pada waktu kita berkerja itu sama, dari bekerja di Bandung sama, dari berkerja di Singapura sama keadaannya, dari berkerja di Inggris juga sama, dari Australia apalagi, dari Korea sama juga, dari Jepang sama juga, dan akhirnya berlabuh kembali di DOT Workshop selalu sama, memiliki bara api semangat sangat menyenangkan. teman – teman yang menginspirasi senior – senior diatas, junior – junior dibawah, ataupun teman – teman seangkatan yang menginspirasi.

Saya kembali teringat kira – kira di tingkat tiga hanya setelah mendapat nilai E, dan menegaskan komitmen ke himpunan dengan menuntaskan kepanitiaan kaderisasi, satu teman terbaik menuliskan di buku agenda, namanya xenia, wanita ini adalah ketua tim materi yang mengketuai tim materi untuk merumuskan kaderisasi 2002, dan saya masih mengingatnya sampai sekarang, ia menulis dengan huruf italic miring

“reach the sky, coz eve if you fall down you will be still among the stars.”

Saya tentunya berhutang banyak sekali pada IMA G dan kangen sekali untuk kembali hanya untuk merasakan aura kemahasiswaan yang ada didalamnya.., mengingat kan saya pribadi untuk selalu melakukan refleksi, perjalanan hidup… dan kembali berintrospeksi. sama seperti ajakan untuk menghadiri pelantikan kemarin membuat saya kembali teringat kenangan di kampus dulu.

336992_10150519460871240_693261239_10477739_610431705_o

I hope this is Great Roseto

We have several activities in the office and celebrate every moments whatever it is. That moments make our life valuable, that’s what we live for. what do you think

Valentine 2010 : Celebrate love

Love Everywhere, Everytime – Entertain people with music

You know me so well – music is for all people

Meeting with bahasa sunda

Pecha Kucha at Bandung Organised by Deddy Wahjudi and crews

the learning curve – credentials

RAW Architecture 2014

RAW Architecture 2014

I’m writing this as a compliment for all of the efforts given by all of the most talented assistants, internship, seniors at my office who assist me in past projects. They were the people at the design firm that leaving the firm which I named R A W [Real Architecture Workshop] Architecture.

“People come and go”. People learn and practice. People known and make camaraderie.

They will go to the new place, it’s a journey to the unknown. Not everybody does that, one people might stay and live with the office, enrich the office to bloom even bigger but some people would choose to go because their particular personal reason or their future career. Some people will work in Singapore, Thailand, Hongkong, Malaysia, or Indonesia, or even United States, United Kingdom, Europe, wherever we work, it’s one adventure,  it’s priceless.

To be honest I couldn’t let everybody go, the memory of all of the people collaborate is always a treasure. I really hope that this office can grow bigger as the pure intention is to give the best place for live, work, and play for the staff inside whatever your background is.The intention is to get the best person collaborate here and they are the best. It’s a roseto.

That’s why some people said I always said not about one single person in one architect firm but the best asset of the firm  is the people.

It makes me contemplate on what’s the meaning of the office then ? while it can’t provide the long lasting learning of the staffs here, people might go anyway ? or probably it’s a journey of every person in this universe might call. At the end my firm is just a place for learning. I hope it’s the best learning place in the world for you all where it stays humble, stay passionate like a fresh students, and stay connected like what the dots mean. An absurd place like what we believe in einstein’s quote.

Thank you for your best effort which is not only done for me but for yourself. Please stay connected, hope we can work together again. I’m sad but life must go on, go and break the leg :) Let me know if someday you need my help.

My Dream Team, spread your wings :

Meirisa Trinkawati, Elvira Sandjaya, Satria Putra, Dicke Nazzary Akbar Lubis, Tika Novis, Primaldy Perdana, Anastasia Widyaningsih, Silvanus Prima, Lia Kurniadewi, Morian Saspriatnadi, Indra Dwinugraha, David Wibowo, Suryanaga, Bayu Prayudhi, Tony Hartanto, Refano Citra, Bismo Prakoso, Andhang Trihamdhani, Rudiyanto, Soraya Khaerunisa, Emmy Ulfah, Randy Ramadhan, Maria Vania, Christiandy Pradangga, Donald Epiphanius, Apriani Kurnia Sarashayu.

Intern : Indria Nidya Fatmala Warganegara, Winda Herliana Januar, Iduy Abdullah, Vincent Edson,  Endy, Liana Sastro, William Sutanto, Gery Dwi Samudra, Andhika Putra Perdana,  Giovanni Libels, Hardianto Agung Nugroho,  Amanda Gracia,  Devina Cinthya Pratiwi, Galih Adityas, Okta Lieftiani, Cornellia Debrina, Haryo Ruriandi, Harry Kevin, Lioner Octo Gurusinga, Gavin Gunawan, Fransiska Yuanita.

sketch board : on going on workshop, process to be content

The secret is … ? , catatan singkat #1

Diri ini teringat betapa sudah beberapa puluh anak – anak yang ada di DOT Workshop, dari dahulu hingga sekarang menemani malam – malam pembuktian yang panjang dan jam – jam workshop yang melelahkan. Saya seringkali menanyakan apa saja yang akan membuat orang- orang terbaik untuk tinggal di DOT Workshop.  Professor Danisworo membisikkan suatu waktu di acara archiworx, “Realrich, arsitek itu dasarnya adalah makhluk yang independen. “Pada saat itu pak Danis bercerita mengenai pengalamannya pada waktu membentuk Encona dan PDW dan dikelilingi oleh orang –orang terbaiknya yang datang dan pergi.

Pada waktu itu diri ini diselimuti pertanyaan kira – kira apa yang membentuk biro arsitek ini seharusnya. Budaya apa ? berpikir melalui kepala ini tidak keluar juga ? merasakan dengan hati juga tidak ada hasilnya ? menurut saya cerita ini justru muncul dengan adanya satu pencarian, refleksi mengenai apa sih rahasianya. Apa sih rahasia yang terbaik untuk meracik satu studio desain, selain tentu saja pengetahuan membuat ruang penuh filosofi, dan functionally beautiful dengan dimensi akan aktivitas dan performance yang terbaik dari aktifitas tersebut. Salah satu kunci bertanyalah pada batu bata, sensitiflah pada material, begitu catatan Kahn dalam intonasinya secara filosofis.

Pada bulan ini Maret 2012, seluruh pegawai kantor berjumlah 18 orang. Tidak termasuk dengan tukang – tukang kayu ataupun tukang listrik, tukang batu yang digaji perharian.  Sangat kontras dari dua tahun yang lalu yang kita baru berjumlah 2 orang. Pada saat ini baiknya kita merenungkan sejenak apa cerita dibalik layar dari studio kecil ini. Diri ini mencoba berhitung secara total kira – kiraada 180 pekerjaan dalam satu tahun setengah ini. Sebuah angka yang terjadi dalam waktu yang tidak singkat membutuhkan beribu – ribu jam untuk bisa menyelesaikannya. Pekerjaan ada yang datang dan ada yang pergi, begitupun dengan tim yang selalu berubah. Dinamis lincah bergerak seperti awan membawa kesedihan dan kegembiraan di langit yang biru.

Aku teringat betapa diri ini harus berterima kasih sedalam – dalamnya kepada para designer yang ada di kantor ini. Dari kenakalan – kenakalan yang akhirnya membuahkan video klip singkat mengenai satu dan dua lagu yang sedang ngetrend pada saat itu, dengan orang- orang jenaka seperti wiwid, imal, Silvanus, Lia, Morian, dan Dicke dengan K – pop alirannya. Ataupun David dengan keisengannya yang fenomenal memasukkan tokoh doraemon kedalam salah satu desain bangunan yang sedang dikerjakannya ataupun masa ospek di kantor yang dijalaninya dengan hukuman membuka dan memimpin rapat dengan bahasa jawa timuran.

Herannya, Surya dan David yang asal Surabaya ini, seringkali datang pada waktu sabtu atau minggu, mungkin saja kantor sudah menjadi rumah kedua bagi mereka yang anak perantau, jauh – jauh datang dari kampung halaman hanya untuk membuka mata dengan suasana Jakarta yang membisingkan. Banyak dari anak – anak di kantor adalah perantauan yang hidup nomaden, berpindah – pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Di dalam hati diri ini tersenyum apabila tempat ini bisa menjadi rumah kedua mereka.

Yang memukau juga kesediaan anak – anak kantor untuk selalu membuka diri akan pertanyaan, apakah ada yang lebih baik ?, Hal seperti ini sangat sulit untuk dilakukan bagi seorang designer. Diskusi demi diskusi dilakukan dengan jenaka, lontaran – lontaran celetukan yang menghidupkan suasana studio seakan – akan membuat design progress dan design produk yang fresh from the oven. Dari sketsa ke workshop. Adalagi tim sayap kiri dengan Adit, Randy, Hamu yang siap mengacau suasana dengan berceloteh atau berkomentar tentang teman – temannya yang pada akhirnya akan membuat riuh rendah di kantor, yang terkadang suaranya sampai ke jalan raya depan kantor, untungnya ibu saya adalah ketua RT di neighbourhood, jadi keributan ini bisa dimaklumi oleh tetangga . Memang berguna hal – hal seperti ini. He he…

Tim sayap kiri ini salah satunya adalah tipe yang disukai wanita dengan pesonanya celetuk anak – anak yang lain, yang satu adalah pemancing suasana, dan yang satu adalah arsitek melankolis dengan kemampuan lapangan yang luar biasa tajamnya. Sayang sang Jendral Workshop, Indra namanya, sudah keluar kota, keluar kantor maksudnya, kalau tidak tim sayap kiri ini akan semakin piawai dalam membuat keributan terutama kalau si jenderal baru saja memakan kambing yang membuat dirinya high.

Kita juga memiliki beberapa tipe rapat yang spontan saja dilakukan, sejak jaman wiwid, Imal, Sil, Toni, Morian, Lia, Bayu, . Dari rapat di hari valentine, rapat dengan bahasa sunda, ataupun berguling – guling di pantai Anyer. Mereka semua orang – orang terbaik yang fenomenal yang sekarang sudah terbang keluar kantor, keluar pulau, keluar kota ataupun keluar negeri.

tim sayap kanan juga tidak ketinggalan dengan passionnya yang tekun menerus, satu persatu dengan hati – hati seluruh project dikerjakannya. Andhang, Raras, Emmy, Maria, meski dengan mata merah menahan kantuk seringkali, dan stress menarik garis yang tidak kunjung selesai untuk menuruti kemauan saya yang selalu meminta hal yang lebih baik dan lebih baik lagi, dateline yang menerpa setiap minggunya dengan masih sempat – sempatnya tertawa dalam penat yang diri ini tahu terkadang sulit mengusirnya.

Dan lagi terkadang Kita terkejut – kejut Andhang bisa muncul tidak terduga di hari – hari libur dan datang di hari kerja membawa foto – foto yang luarbiasa mengenai karya – karya kantor.

Ini semua Outstanding, tim terbaik di dunia sudah mulai menampakkan batang hidungnya, saya tidak pernah melihat tim selengkap ini.

Belum lagi mas bambang yang dikenal sebagai magical man dan Mas Rudi Yanto yang dipanggil mas padahal ialah yang termuda, mewarnai keteknikan tim studio yang terlalu fluid dan melayang diatas awan. Awan itu pada akhirnya harus turun dan membumi, dari merekalah sentuhan itu tajam. Ada lagi menurut saya yang harus disebut dengan kredit yang luar biasa, tim – tim awal studio seperti Meirisa, wiwid, Reinard, Refano,  Sapta, Meilani, Bismo, Lia, Toni, dan anak – anak yang melakukan internship di Studio ini dalam gelak tawanya sendiri. Total kami sudah memenangkan dua digit kompetisi nasional sejak terbentuknya, dan dua digit project yang akan terbangun di tahun ini.

Setiap studio desain tentu saja memiliki kekuatan ide yang spesial di setiap langkah – langkahnya. Dengan pendekatan empiricism atau rationalismnya. Ide bisa dicari – cari dimana – mana, termasuk dengan menatap alam pun kita bisa mendapatkan ide yang tak terhingga banyaknya. Gabungan antara art dan teknik itulah yang membentuk arsitektur kata Ruskin.  Herannya diri ini merasakan mengenai gairah dan kekuatan penghargaan di arsitektur. Saling menghargai di dalam tim studio adalah satu harta yang priceless.

Diri ini tidak tahu apa yang ada di dalam kantor ini, kesedihan ketika satu persatu anak kantor ini pergi juga kegembiraan begitu ada yang bergabung menjadi keluarga. Namun salah satu asset yang paling berharga dalam >O+ Workshop adalah pada saat kita tertawa bersama – sama karena satu hal yang biasa – biasa saja.

Ada juga satu anak, Lisa namanya,  yang gemar untuk berceloteh untuk mengomentari teman – temannya,di siang bolong ataupun di saat – saat malam – malam lembur, ia  membantu untuk menimbulkan celoteh yang lain, yang pada akhirnya ia menjadi pusat perhatian untuk dicelotehi. Sehingga ia mendapatkan title celoteh Lisa untuk sesi celotehnya untuk menjadi satu superstar di warga perkampungan >O+

Ada juga yang tidak mau memperkenalkan kekasih hatinya kepada anak – anak kantor dan diakhiri dengan anak tersebut dikejar – kejar sampai ia lari terbirit – birit begitu kekasihnya datang membawa helm dan meminta kekasihnya menunggu 200 meter jauhnya dari kantor di satu pos satpam. Ada – ada saja kelakuan anak – anak ini.

Dan saya pun baru menyadarinya ternyata selama ini harta studio yang paling berharga adalah kebahagiaan dalam tawa. Ketika kita tertawa,

The secret is the laughter… oleh karena itu mungkin besok kita akan canangkan bagaimana motto kanto Gaul Asik Cool Professional bisa lebih melekat tentunya untuk membentuk kantor arsitek terbaik di dunia dengan passion terbaik di dunia. Mulai Besok banyak – banya tertawalah dikantor, karena itulah rahasia utamanya …

[RS]

diri ini kemudian juga teringat akan bingkisan kalimat yang diberikan IP.

Pak Realrich Sjarief and DOT’s family members
Simple dream, simple act, great impact
In DOT Workshop I learn
Work in family
Work with care
Work with fun
Work with laugh
Work in good mood
Work with love
It’s not office
It’s home
It’s not duty
It’s a pleasure
Then,
Attitude
Responsibility
Respect
Dicipline
Will be created by itself
It’s pleasure and honor to meet these amazing and creative family
IP

membuat diri ini bersyukur akan adanya tempat ini

1st Prize Galeri Nasional Indonesia

Bumi bertemu Langit

Bumi bertemu Langit

Desain galeri nasional ini terinspirasi indahnya langit dan hangatnya bumi, dengan intensi senafas dengan bangunan pusaka yang ada di tengah kompleks area Galeri Nasional Indonesia. Bangunan pusaka ini dibingkai dengan galeri yang merupakan representasi dari bumi dengan ekspresi tanaman, dan dilatarbelakangi langit yang adalah gedung perkantoran / administrasi dari bangunan nasional. Lobby diletakkan di gedung pusaka dimana keluar masuk pengunjung harus melalui gedung ini dengan menempatkan jembatan [skybridge] yang menghubungkan gedung galeri dengan gedung pusaka. Plaza penerima ditempatkan di sisi barat Galeri Nasional Indonesia membuka pedestrian masuk ke sisi sungai ciliiwung, disini konsep art plaza ditempatkan sepanjang axis barat – timur yang dilengkapi dengan art store di sisi utara dan selatan.

Slide9 Slide13Slide7 Slide5

Perancangan Galeri Nasional ini didasarkan pada intensi untuk menjaga citra dari bangunan heritage dimana lebar muka lahan yang kecil yakni sebesar 70 m dibandingkan dengan lebar bangunan pusaka yakni sebesar 22 m. Oleh karea itu intervensi desain yang dipilih yaitu landsekap sebagai arsitektur sisi museum yang mengapit bangunan heritage. Konektifitas dipertahankan dengan akses publik dari monas [jalur bawah tanah] ke art shop yang terdapat pada ruang tengah galeri. Di dalam masterplan, isu keterhubungan ini berlanjut ke sisi sungai ciliwung sehingga memungkinkan adanya aktifitas seni di samping sungai. Secara umum pembangunan masterplan terbagi 2 tahap, tahap pertama berfokus pada bagian utama yaitu area galeri nasional. Pada tahap pertama diasumsikan pembebasan lahan masih dalam proses, sehingga pembangunan difokuskan pada pengembangan galeri nasional saja. Tahap pertama dapat berjalan secara mandiri yaitu sebagai fungsi pokok dari galeri nasional . tahap kedua dilakukan pada engembangan berikutnya saat pembebasan lahan sudah terlaksana. Pada tahap kedua, pembangunan dilakukan sebagai pendukung fasilitas galeri. Gedung konvensi, auditorium, dan hotel diletakkan di sisi utara dengan eksposure ke arah monas dan stasiun gambir.Massa bangunan secara umum, merespon 2 aksis utama. Aksis monumen nasional dan bangunan eksisting galeri nasional yang terhubung dengan stasiun gambir. Axis terhadap monas direalisasikan dengan jalur bawah tanah. Bagian depan dan belakang galeri nasional merupakan plaza terbuka yang dibhubungkan sebagai respon terhadap kawasan monas [depan] dan sungai ciliwung[belakang].

Secara umum Galeri Nasional Indonesia ini menggambarkan kesederhanaan arsitektur Indonesia yang selaras dengan alam tempat bersatunya bumi dan langit.

Principal Architect: Realrich Sjarief

Team Member : Happy Marfianta, Apriani Sarashayu, Septrio Effendi, Tatyana Kusumo, Miftahuddin Nurdayat, Maria Vania, Muhammad Iqbal Zuchri, Christiandy Pradangga, Donald Aditya,  dan Mukhamad Ilham

Karya ini dipublikasikan pada bookgazine Archinesia volume 4. Cross-Border Architecture

Resolusi Tahun baru 2010

Glenn Van Ekeren “tawarkan pundak anda untuk disandari”

Artikel dibawah ini sangat menarik, untuk oase di tengah – tengah kesibukan yang menghampiri. terkadang memang kita membutuhkan dorongan, terutama dari orang – orang terbaik di sekitar anda :)

” Tidak banyak yang lebih dahsyat di dunia ini selain dorongan yang positif. Sebuah senyum. Sepatah kata tentang optimisme dan pengharapan. Sebuah ungkapan “kamu bisa” ketika kesulitan sedang melanda. ” Richard M. Devos

Olimpiade 1992 di Barcelona, Spanyol menampilkan banyak hal yang sangat menakjubkan bagi para pengamatnya. Tayangan ulang salah satu pertandingan atletik selalu hidup dalam kenangan saya. Atlet Derek Redmon dari inggris memiliki hasrat seumur hidup untuk memenangkan medali emas dalam lomba 400 meter. Peluangnya untuk meraih mimpi itu meningkat ketika letusan pistol menandai dimulainya babak semifinal di barcelona. Redmon berlari dengan baik sekali, dan garis finish sudah di depan mata ketika ia berbelok di ujung yang jauh dari penonton. Tiba – tiba musibah itu datang. Ia merasakan nyeri yang dahsyat sekali di bagian belakang kakinya. Ia tersungkur di lintasan, muka terlebih dahulu, dan mengalami cedera pada otot hamstring sebelah kanan.

Berikut ini laporan tentang kejadian itu yang ditulis oleh Sports illustrated:

Sewaktu para petugas medis menghampirinya, Redmond berjuang untuk berdiri sendiri. “itu naluri hewani,”
katanya belakangan. Ia melompat – lompat dengan sebelah kakinya dalam upaya mati – matian untuk menyelesaikan lomba. Ketika ia tiba di lintasan lurus menjelang finish, seorang lelaki tinggi besar mengenakan T – Shirt keluar dari barisan penonton, menyingkirkan seorang petugas keamanan yang mengahalangi, langsung berlari mendekati Redmond dan memeluknya. Orang itu Jim Redmond, ayah Derek. ” Kamu tidak harus melakukan ini,” katanya kepada putranya yang terisak. “Aku harus, ” sahut Derek. “Kalau begitu,” kata jim,” kita menuju ke finish bersama – sama.”

Mereka berlari bersama – sama. Kendari harus bersikeras dengan petugas keamanan, sambil kadang – kadang membiarkan kepala anaknya bersandar pada pundaknya, mereka tidak meninggalkan lintasan menuju ke garis finish. Para penonton ternganga, kemudian bangkit dan bersorak sorai dengan keharuan yang mendalam.

Sungguh pemandangan yang dramatis! Derek Redmond gagal mendapatkan medali emas, tetapi ia meninggalkan Barcelona dengan sebuah kenangan sangat indah tentang seorang ayah yang segera meninggalkan bangku penonton untuk ikut menanggung penderitaan yang dialami oleh sang putra. Bersama – sama mereka akhirnya sampai ke garis finish.

Tidak ada orang hidup yang belum pernah mengalami kekecewaan ketika harapannya tidak tercapai. Kenyataan tidak selalu terwujud seperti yang kita rencanakan dalam upaya meraih cita – cita kita. Hambatan – hambatan tidak diharapkan, kejadian – kejadian tidak terduga, atau situasi di luar kendali dapat membuyarkan semangat kita. Betapa cepat lunturnya pengharapan kita ketika tiba – tiba kita menemui kegagalan, rasa malu dan celaan.

Sebuah ungkapan yang membesarkan hari ketika kita sedang mengalami kegagalan lebih berharga daripada hujan pujian sehabis mengalami keberhasilan. Orison Swett Marder berkata, ” Tidak ada obat seperti harapan, tidak ada insentif begitu besar, tidak ada obat kuat seperkasa ungkapan harapan bahwa esok segalanya akan lebih baik.” Anda dapat menjadi pembagi harapan yang akan membebaskan seseorang dari beban masa sekarang dan mengantarnya ke kemungkinan – kemungkinan dimasa mendatang.

Memahami betapa cepat momentum yang dapat ditimbulkan oleh suatu musibah mendadak dapat meningkatkan kepekaan kita terhadap perasaan orang lain ketika kekecewaan merusak peraihan mimpi – mimpi mereka. Ada saat seperti itulah orang memerlukan seseorang yang peduli kepada mereka dan bersedia meluangkan waktu untuk menemani mereka. Tunjukkan kepada mereka bahwa anda menyertai dan menemani mereka. Tawarkan pundak anda untuk mereka sandari ketika mereka kelelahan atau menahan nyeri. Mereka mungkin tidak mencapai tingkat keberhasilan yang diharapkan, tetapi mereka tidak pernah pernah melupakan orang yang mengangkat mereka ketika sedang jatuh. dan itu sangat layak untuk dilakukan

ya memang kita setiap orang memerlukan orang – orang terdekat kita untuk selalu mendukung segala jalan yang kita tempuh. Dan aku bersyukur dan beruntung bahwa aku memiliki orang – orang terdekat yang selalu mendukung segala langkah ini.

sketch board : on going on workshop, process to be content

Ciptakan Perubahan Dalam Hidup Sesama, one writing from Glenn Van Ekeren

Tidak Berbuat apapun bagi sesama berarti tidak berbuat apapun bagi diri sendiri. Kita harus dengan sengaja bersikap ramah dan murah hati kecuali bila kita ingin menyia – nyiakan bagian terbaik dari keberadaan kita. Hati yang direlakan berkarya akan mendapatkan kepenuhan dalam kebahagiaan. Inilah rahasia dari kehidupan di bawah permukaan Kita berbuat yang terbaik bagi diri sendiri dengan berbuat sesuatu bagi orang lain. Horace Mann

Pada suatu masa, Tanah persia pernah diperintah oleh seorang syeh bijaksana dan sangat dicintai rakyatnya. Syeh ini peduli sekali kepada rakyatnya dan keinginannya hanya berbuat yang terbaik bagi mereka. Rakyat Persia tahu bahwa syeh mereka mau menangani masalah – masalah mereka secara pribadi dan memahami pengaruh keputusan – keputusannya bagi hidup mereka. Secara berkala ia menyamar dan berkeliling ke jalan – jalan, mencoba menyaksikan hidup melalui cara pandang mereka.

Pada suatu hari ia menyamar sebagai seorang penduduk desa yang miskin lalu pergi ke tempat pemandian umum. Di sana banyak orang yang sedang menikmati saat – saat santai sambil bersosialisasi. Air di pemandian itu dihangatkan dengan api dari sebuah tungku di gudang bawah tanah, dan di situ ada seorang laki – laki yang bertanggung jawab mengusahakan agar tingkat kehangatan air di pemandian tetap nyaman. Syeh sengaja pergi ke ruang bawah tanah untuk menjenguk lelaki yang tanpa kenal lelah menunggui api.

Kedua orang itu makan bersama dan syeh berhasil menjalin persahabatan dengan lelaki yang kesepian itu. Hampir setiap hari sampai berminggu – minggu, penguasa negeri tersebut berkunjung ke tempat kerja sang penunggu api. Dalam waktu singkat orang asing itu menjadi terbiasa dengan sang tamu karena seringnya ia datang ke situ. Belum pernah ada orang lain yang menunjukkan perhatian atau kepedulian semacam itu kepadanya.

Pada suatu hari sang syeh menyingkapkan jati – dirinya yang sebenarnya . Ini sebuah langkah yang berisiko, sebab ia takut orang tadi akan meminta hadiah atau pemberian istimewa darinya. Namun diluar dugaan, teman baru sanga pemimpin itu hanya memandang ke dalam matanya sambil berkata, “Yang Mulia bersedia meninggalkan kenyamanan istana dan kemuliaan yang mulia untuk duduk menemani saya di ruangan gelap yang seperti penjara bawah tanah ini. Yang Mulia bersedia makan makanan saya yang tidak lezat dan dengan tulus menunjukkan kepedulian atas hidup yang saya jalani. Kepada orang lain Yang Mulia mungkin telah menganugerahkan uang atau barang berharga, tetapi kepada saya Yang Mulia telah memberikan yang terbaik, Yang Mulia telah memberikan diri Yang Mulia sendiri.

Selama ribuan tahun, orang telah mencoba menggali apa saja yang mendasari hubungan antar manusia. Dengan semua falsafah , teori, dan spekulasi itu, hanya satu prinsip yang tampaknya tampil  paling menonjol. Prinsip itu bukan barang baru sama sekali. Sesungguhnyalah, prinsip itu hampir sama tuanya dengan sejarah sendiri. Prinsip itu telah diajarkan di Persia lebih dari tiga ribu tahun yang lalu oleh para pendeta Zoroaster kepada para pemuja api yang percaya kepada mereka. Konfusius menekankan prinsip ini di Cina dua puluh empat abad yang lampau. Di lembah Han hidup para pengikut Taoisme. Pemimpin mereka, Lao – Tzu mengajarkan prinsip yang sama dengan sungguh – sungguh. Lima ratus tahun sebelum Masehi, Buddha mengajarkannya kepada murid – muridnya di tepi sungai suci Gangga, Naskah – naskah Hinduisme mengangkat prinsip yang sama lebih dari seribu lima ratus tahun sebelum masehi. Sembilan belas abad yang alalu, Yesus mengajarkan prinsip yang juga sama kepada murid – murid dan pengikutnya. Ia meringkasnya dalam satu ungkapan:”Perbuatlah kepada orang lain apapun yang engkau ingin orang lain perbuat kepadamu.”

Sikap tidak mementingkan diri sendiri yang memungkinkan kita memberikan diri kepada orang lain barangkali tidak akan menjadi pelajaran yang diutamakan dalam pendidikan di sekolah – sekolah masa kini. Kendatipun kita hidup dari apa yang kita dapatkan, ganjaran yang sejati kita peroleh dari apa yang kita berikan. Anda tidak akan menikmati hari – hari yang memuaskan, bahkan meskipun Anda mungkin tergolong sukses menurut tolak ukur yang berlaku di masyarakaat, kecuali bila Anda telah berbuat sesuatu bagi seseorang yang tidak akan pernah mampu membalas perbuatan baik Anda.

Ditengah hiruk pikuk kegiatan dalam dunia yang sangat kompetitif ini, luangkan waktu dalam beberapa hari mendatang untu merenungkan pemikiran Harold Kushner : ” Tujuan hidup ini bukan untuk menang. Kita hidup agar berkembang dan saling berbagi. Anda akan mendapatkan kepuasan lebih banyak dari kebahagiaan yang Anda datangkan ke dalam hidup orang lain daripada yang akan Anda dapatkan ketika Anda mengungguli dan mengalahkan mereka.

Saya berpikir bahwa tulisan dari Glenn ini akan mewarnai kehidupan kita untuk saling berbagi dan menghargai sesama, sama seperti diri ini yang masih jauh dari sempurna untuk menjalai kehidupan yang menciptakan perubahan dalam hidup sesama.

“Jika Anda ingin orang lain menghormati Anda, Anda harus menunjukkan hormat Anda kepada mereka… Setiap orang ingin merasakan bahwa ia diperhitungkan, bahwa ia penting bagi orang lain. Pada umumnya, orang akan memberikan kasih sayang mereka, rasa hormat mereka dan perhatian mereka kepada orang yang memenuhi kebutuhan tersebut dalam dirinya.

Kepedulian kepada orang lain umumnya mencerminkan kepercayaan kepada diri sendiri dan kepercayaan kepada orang lain” Ari Kiev

Ketika menengok ke masa silam, Anda akan menemukan bahwa saat – saat ketika Anda merasakan hidup dalam kepenuhan adalah saat – saat ketika Anda telah berbuat sesuatu dalam semangat kasih. Henry Drummond.

Selamat menikmati hari Minggu terbaik dalam hidup anda, God Bless You All.

P10108799

Resolusi Tahun baru 2010

Keinginan dan kenyataan, 08 January 2010, Bali

Di akhir tahun ini aku berpikir mengenai apa yang sudah terjadi di tahun 2009 dan apa yang ingin diraih di 2010. Ada orang – orang yang punya mimpi , cita – cita, dan resolusi tahun baru, ada juga yang menganggap ini hal yang biasa – biasa saja, dan berjuang sehari – harinya. Namun kita semua selalu mengharapkan hidup yang lebih baik di tahun yang baru ini, tahun 2010. Apa arti 2010 ini ? Apa mimpimu ?

 

Kehidupan

Pikiran ini melayang ke rencana di bulan Maret tahun depan, sekolahku akan berakhir, gelar akan diraih. Orang – orang banyak yang menanyakan di akhir tahun ini. Untuk kemana langkah ini akan dilangkahkan setelah selesai kuliah master ? Ingin bekerja dimana ? Menetap dimana ? Apa akan kembali berkerja di london lagi ? Atau ke Abu Dhabi ? Atau ke singapore ? Atau tetap di Sydney ? Atau pulang ke Indonesia ? Apa rencana jangka pendek ? Apa rencana jangka panjang ?

Pikiran ini melayang, kemana angin membawa, aku pergi, rasanya hidup ini memang tidak pernah pasti,

Terkadang Angin itu tidak diharapkan, membawa kesialan orang bilang, membawa bencana. Terkadang angin itu tenang, dan diharap2kan oleh semua orang. seperti kita mengharapkan sirkulasi udara silang dalam desain rumah tinggal maupun bioclimatic tower. Dimana udara bergerak dari tekanan yang tinggi ke tekanan yang rendah, dari temperatur yang dingin ke panas.

Aku berbincang – bincang terakhir dengan salah satu arsitek senior dengan 40 tahun pengalaman, ia berkata, “Rich, bagi saya apapun yang terjadi dalam hidup, saya tidak takut, karena itulah hidup, mencari jawaban dari masalah yang ada.”

tambahkan dengan bersyukur dan berdoa.

Ada satu cerita dimana keponakanku akan menjalani operasi besar dan membutuhkan darah , saat itu aku baru saja pulang dari Sydney untuk keperluan perkerjaan dan Pengalaman pertama menjadi donor darah sungguh berkesan. Aku melihat – lihat sekitar di daerah PMI jl Keramat, banyak orang hilir mudik, orang tua yang berada di sampingku berkata, “ini bukan apa – apa kalau malam lebih ramai lagi”.

Mereka semua sibuk mencari darah untuk sanak keluarganya yang membutuhkan. Aku belajar bahwa darah maksimal yang bisa diambil dari tubuh manusia adalah 450 cc dan untuk 3 bulan baru bisa mendonor kembali. Aku juga baru tahu bahwa ada penghargaan pula untuk orang – orang yang sudah mendonorkan darahnya selama 100 kali untuk diberikan piagam penghargaan dan kesempatan bertemu presiden RI.

Sedemikian besarnya arti darah untuk orang lain. Senyum ini pun muncul melihat satu paragraf di kartu merah donor darah, “darah anda berarti bagi sesama.” berbagi kehidupan melalui darah. Tuhan, Semoga keponakan ku bisa kembali sehat seperti semula.

Bersyukur akan kehadiran orang tua

Dalam liburan natal dan Tahun baru ini, aku sempat untuk berbincang – bincang dengan ayahku. Aku mendapatkan banyak hal dari berdiskusi dengan beliau. Beliau adalah tempat aku bertanya, dalam hal – hal besar maupun hal – hal kecil di masa depan maupun pengalamannya di masa lalu. Terkadang nada bicara bisa meninggi namun terkadang biasa – biasa saja. Aku selalu berpendapat sebelumnya bahwa berjalan – jalan melihat sekitar akan menajamkan empati kita terhadap lingkungan dan orang lain. Namun

Ada sebuah cerita,

Andrew was always kind and thoughtful to his grandparents. He talked to them. Asked them questions. Listened to their experiences. These were four elderly people from two sections, of Italy, born at the start of the twentieth century, when people traveled by hose and cart, with no electric light, no radio, when diseases that have long since been eradicated were killers and family members an neighbors never made it past the first few grades in school and news from outside the village reached them by word of mouth… Andrew grew up listening to the people around him and continues that practice to this day. There’s saying that you broaden your horizons through travel, but if you are curious enough to listen to other people

, you can broaden your horizons without leaving your backyard.” – Larry king

Dari keseharian yang biasa – biasa saja, kita pun bisa mendapatkan hal yang sama. Orang tua itu sendiri adalah harta paling berharga dari keluarga. Di negara Jepang, Toyota bisa maju di industri otomotif karena menjaga orang – orang senior untuk saling berbagi terhadap anak – anak buah yang junior sampai usia 75 tahun. Jadi teknologi dan ilmu pengetahuan yang sudah dipelajari bisa terus ditingkatkan sehingga era fabrikasi dan penggunaan robot bisa dilakukan secara kontinu. apakah kita bisa belajar dari toyota ?

Bersyukur untuk masalah

Di awal 2010 ini, aku percaya keoptimisan itu harus diciptakan, optimis akan menghasilkan sikap yang baik dan kesempatan… di tahun yang baru ini semoga kita semua bisa diberikan kesempatan untuk selalu berkarya.

Ketika aku melihat kebelakang kubersyukur

akan Tuhan yang memberikan seluruh hal yang sungguh indah untuk dijalani

akan nafas yang diberikan setiap waktu untuk membuat hidup itu ada,

akan air, akan alam dan peradaban arsitektur yang menarik untuk di amati

akan orang tua, keluarga, gadis yang kucintai dan teman – teman ada

akan kehidupan yang cukup,

akan pekerjaan,

akan ketidaknyamanan,

akan resiko dalam hidup, dan

akan masalah yang ada,

karena itu semua yang membuat resolusi di tahun 2010 ini

melihat diri untuk lebih bersyukur dengan apa yang sudah ada

dan berusaha lagi dengan segala kesempatan yang ditemui.

Aku bersyukur dikaruniai orang – orang yang sungguh berbakat di sekitar seperti dua orang arsitek muda berbakat yang baru saja kutemui 2 bulan kemarin dan satu orang arsitek berbakat, ku berkerja bersama selama satu tahun belakangan ini, untuk bisa berdiskusi, berkarya, dan berbuat bersama untuk keseharian perkerjaan. Mungkin di bulan – bulan kedepan cerita yang lebih menarik akan muncul.

Seberapa jauh perjalanan anda dalam hidup ini bergantung pada apakah anda bersikap lembut kepada yang lebih muda, bersikap kasih kepada yang lebih tua, bersimpati kepada yang harus berjuang lebih keras dan bertenggang rasa kepada yang lemah dan yang kuat, karena suatu hari dalam hidup ini, anda akan menjadi salah satu diantaranya “ George Washington Carver

Semoga beberapa bulan ke depan, hidup akan semakin baik dan semakin berwarna untuk dijalani.

Realrich

1

Jepang dan sebuah pelajaran tentang rasa

Kyoto, 091128 , Japan, a country with endless story about culture, history, and nature.

Tinggalkan pikiran – pikiran dunia, merunduklah. Dengarlah suara teko air teh yang mendidih, dengarlah suara alam, burung – burung yang berkicau, suara air yang menetes, suara kaki orang yang berjalan, alam sesungguhnya berbicara, rasakan kesempurnaan dalam ketidak sempurnaan, mata ini menatap ke arah huruf kaligrafi jepang yang ada di depanku, kemudian wanita di depan ku berkata, prinsip ini melandasi budaya Jepang pada upacara minum teh, yaitu Simple dan Rustic.

Tak heran semua yang ada di Jepang terlihat begitu sederhana dalam kesehariannya meskipun jejak – jejak modernisasinya juga terasa dimana – mana. Konstruksi Detail – detail kuil yang terbawa dari jaman dinasti Tang China, berubah menjadi sederhana dan tampil apa adanya.dengan warna – warna alam. Berbeda dengan China yang menggunakan warna – warna cerah untuk kuil – kuilnya. Di Kyoto, kuil2 dijaga kelestariannya, di jaga kesempurnaannya setiap 30 tahun, mereka tetap berbicara dengan alamnya dengan kondisi yang terbaik untuk anak cucu mereka untuk melestarikan budaya.

Musim gugur, di bulan november, saat yang sangat indah dimana pepohonan mulai menunjukkan warna-warninya. Gingko dengan warna kekuning-keemasannya, Mapple degan warna merah kekuningannya, maupun Sakura yang berwarna kecoklatan. Berjalan – jalan ke 4 kota yang berbeda, Tokyo, Nagoya, Kyoto, Osaka. Tokyo, Nagoya, Osaka dengan densitas yang sangat tinggi. Karya maestro – maestro designer Jepang yang bertaburang antara kota2 ini menjadikan kota ini menarik sebagai objek arsitektural ataupun relasinya denga tata ruang kota. Juga Kyoto, kota yang sangat indah dengan kuil2 shinto dan buddha, menunjukkan transisi dari artifisial ke alam.

pikiran ini beralih ke satu saat di studio NIT [Nagoya institute of Technology] ‘Hey apa yang kalian berdua lakukan, tanyaku, kepada kedua orang teman jepang yang ada di tim desain, mereka terlibat dalam debat yang cukup lama, saat itu sudah jam 5 pagi di studio workshop, satu bernama yuki, satu lagi bernama Ban, mereka masih berdiskusi tentang desain di saat sepagi ini sedangkan besok adalah waktu untuk presentasi jam 1 siang.. Aku juga baru tahu ternyata mereka sudah beberapa hari ini tidur hanya 1 ataupun 2 jam di studio workshop. Saat itu Teman – teman dari Australia pun sudah pulang.Bagi mereka berkerja sepagi ini di luar persepsi, dua dunia yang sungguh berbeda. Satu mengejar kesempurnaan dan satu mengejar kenyamanan..

Setelah kita berdiskusi sampai jam 6 pagi, 3 jam setelah itu mereka menyelesaikan gambar dan siap untuk presentasi.

Frank llyod Wright mendapatkan inspirasinya bentuk arsitekturnya pun dari jepang, cara ia bermain dengan bidang – bidang horisontal, Pola atap, proporsi massa dengan mengambil prinsip planning beaux art Perancis. Jepang sendiri secara jelas memamerkan budayanya pada saat World Columbian Exposition 1893, semenjak itu arsitektur jepang mulai menginspirasi banyak arsitek amerika dan dunia pada waktu itu. Diri ini terinspirasi oleh karya wright di imperial hotel dan school of free spirit, dimana ia bermain dengan planning split level untuk menghasilkan ruang – ruang yang mengalir dengan permainan bukaan dari permainan yang terlihat sangat sederhana namun sangat cerdik. Pola – pola detail artikulatif yang terus berulang yang konsisten dari tampak besar ke tampak kecil selebar 1 – 3 cm yang saling berbicara satu sama lain. Gedung imperial hotel ini hanya lobby yang tersisa, kamar – kamar dan ruang makan sudah dihancurkan. Saat itu aku bertanya kepada kyoko, salah satu mahasiswa jepang, kenapa dihancurkan ? Satu sebabnya, adalah gempa yang menyebabkan bangunan ini rusak parah, pertanyaan kedua , kenapa tidak direstorasi ? Kyoko pun menjawab, terlalu mahal. Aku pun tersenyum, diri ini kembali teringat pada Jon Lang, satu kata yang harus kita ingat, affordance. Seberapa terjangkau satu karya bagi satu negara, satu kota, satu komunitas, satu keluarga, orang per orang.

Desain juga bersentuhan dengan affordance meskipun ia adalah karya sebuah maestro arsitek.

Dari Jepang aku belajar lebih mencintai budaya, alam dan kesungguhan untuk berkarya. Dari totalitas yang ada, belajar untuk mengembangkan rasio dan rasa, pikiran dan perbuatan untuk menghasilkan karya terbaik. Di balik rasio yang kudapat dari Australia, aku mendapatkan pelajaran rasa dari Jepang, negara yang cantik, dan indah dalam keseharian.

dan 3 bulan lagi aku akan menyelesaikan studi di Australia, pertanyaan menarik ketika aku bepikir kemana aku akan melangkah selanjutnya… aku percaya 3 bulan ini adalah bulan yang paling kutunggu – tunggu…

Dan Aku pun berkata kepada teman – teman di Jepang, 2 tahun lagi aku akan kembali ke Jepang, karena pelajaran ini masih belum selesai , dengan wanita terbaikku...

last Photo taken by Vite-best friend of mine
CIMG3433

Kerja Keras

170909, Sydney.. 4 am ” Far and away the best prize that life offers is the chance to work hard. Theodore Roosevelt (1858 – 1919)CIMG3433

 
Mata ini terasa sakit, ingin untuk menutup, lidah ini terasa kelu, mungkin aku hanya butuh memejamkan mata sejenak.

Tanganku kembali menulis satu paragraf demi satu paragraf. Sekarang sudah jam 4 pagi, baru saja satu pekerjaan dari Indonesia selesai dikerjakan, di antara pekerjaan – pekerjaan yang masih menunggu dan artikel – artikel tugas kuliah yang tertumpuk di kasur. Aku bergumam, besok mungkin aku harus ke perpustakaan dan semua ini harus selesai. Aku tertunduk lesu, duduk di depan meja gambar, dan terdiam saja. Tenagaku benar – benar terkuras, lembar demi lembar sketsa bertebaran di lantai, kamar studio ini sudah seperti kapal pecah. Kalau diingat – ingat sudah beberapa  minggu ini keadaan sudah seperti ini, selebih lagi beberapa hari terakhir ini dimana dateline berdatangan. Untungnya beberapa minggu terakhir ini sudah ada rantangan yang datang setiap harinya, membantu untuk hidup lebih teratur. Senyum ini mulai muncul.

Kerja keras …

Aku ingat sering teman terbaikku bertanya, untuk apa kamu bekerja sekeras ini, untuk uang dan kebanggaan ? Aku pun terdiam. Aku belajar dari tahun-tahunku bekerja dulu meskipun semua orang selalu berlomba – lomba naik promosi ke jabatan yang lebih tinggi, kita terkadang juga berlomba – lomba untuk menolak tanggung jawab lebih. Orang berlomba – lomba untuk tidak bekerja keras meskipun mereka juga ingin hidup sempurna..ada kalanya di masa kaderisasi di Bandung, ketika aku sudah menjadi alumni , aku hanya mengamati bagaimana tingkah laku para senior dan junior… aku selalu teringat kejadian yang selalu berulang selama 9 tahun terakhir, menyuruh – nyuruh, memaki – maki, mengumpat, mencaci maki ketidak sempurnaan orang lain. Dunia ini tidak sempurna diantara bayang – bayang manusia yang tidak sempurna yang mencaci ketidaksempurnaan … Aku ingat pada waktu aku bekerja dulu, biasanya hanya 10 % orang – orang yang tinggal di studio workshop, bekerja di akhir minggu untuk hanya sekedar menyempurnakan pekerjaan, menyelesaikan gambar atau berkorespondensi dengan klien melalui email… dari bekerja kita mendapat uang dan kebanggaan. Semua orang butuh uang dan kebanggaan, uang untuk makan, dan kebanggaan akan profesi yang dicintai. Namun itu bukan segalanya. kalau dunia sesempit itu, kita tidak butuh kerja keras. lalu untuk apa?going to village

setiap minggu wanita terbaikku selalu berangkat ke kliniknya, termasuk hari sabtu pagi.

Dari hari senin sampai kamis ia harus ke puskesmas, dari pagi jam 6 pagi sampai jam 9 malam. juga hari jumat dan sabtu. Terkadang kemudian kita bercerita hal – hal yang biasa, namun selalu membuat hal – hal yang biasa menjadi luar biasa dengan tertawa. Ternyata kita masih bisa tersenyum dibalik kesibukan yang luar biasa.

Pikiran ini melayang ke liburan satu minggu kemarin yang baru terlewat, aku bangun lebih pagi dari biasa, dan tidur lebih malam dari biasa.

bondi

Ada kalanya bersama teman – teman kampus ku pergi ke pantai yang hanya 30 menit jauhnya dari daerah ku tinggal . Pantai dimana langit begitu biru dan aku bisa menatap horizon untuk sekedar duduk dan menikmati alam, atau bermain lempar frisbee tanpa aturan yang jelas. Setelah itu ada kalanya diri ini bersepeda untuk hanya ke perpustakaan atau toko buku bekas untuk mencari buku – buku murah, membaca, dari satu pojok ke pojok yang lain. ya buku,

Buku itu yang bisa membuat kita menjadi mengerti akan mimpi, pendapat, dan sejarah ilmu pengetahuan. Semoga masih banyak anak yang ingin menjadi astronot, ilmuwan, sastrawan, arkeolog demi ilmu pengetahuan, demi penemuan yang baru. Keseluruhan sistem kehidupan yang berbasiskan bisnis dan perputaran uang belaka, sungguh membuat miris kehidupan anak2. Semoga saja anak – anak tidak berhenti untuk bermimpi untuk ilmu pengetahuan. Semoga tidak lebih banyak anak – anak yang duduk di depan tv dan menonton sinetron yang hanya berisi karakter sampah, mimpi sampah dan euforia sampah tanpa ilmu pengetahuan.

3 tahun yang lalu Aku teringat akan perkataan teman terbaikku, sore – sore Bandung yang rintik2. Waktu itu hanya seminggu sebelum aku berangkat ke London. Rich, semoga suatu saat nanti, kamu bisa sekolah dan mengerti apa kamu dapat dari sekolah lagi.

Pada saat ini aku berpikir mengenai mimpi, kerja keras, dan proses untuk menjadi tahu.

Aku bersekolah demi menjadi tahu, dan aku bekerja untuk menjadi tahu,. Mencoba sempurna untuk tau apa itu ketidaksempurnaan. Dengan bekerja sekeras mungkin, berpikir sekeras mungkin mungkin pada akhirnya nanti, anak – anakku sendiri akan melihatku, seperti aku melihat ayahku bekerja keras bagaimana Aku sungguh bangga akan ayahku yang selalu berusaha dengan kerja keras. Ia selalu tersenyum, mengingatkan untuk terus berusaha meski keadaan tidak berpihak kepadanya di keadaan yang sulit.  Aku sangat bersyukur aku bisa melewati minggu – minggu ini untuk selalu belajar menikmati hidup dengan kerja keras. aku pun tersenyum kembali dan saatnya aku bekerja lebih keras lagi.

akhir kata Selamat Lebaran saudara – saudara muslim, selamat idul fitri, semoga diberikan berkat berlimpah dan bisa berkumpul menikmati kebersamaan dengan keluarga. mari kita kerja lebih keras lagi untuk merubah hidup menjadi lebih baik. Rich

He Lives In You

Ingonyama nengw’ enamabala [Here is a lion and a tiger]

Night, And the spirit of life, Calling,..Mamela [Listen]
And a voice,With the fear of a child, Answers..

Wait, There’s no mountain too great
Hear the words and have faith
He lives in you, He lives in me
He watches over, Everything we see
Into the water, Into the truth
In your reflection
He lives in you

Terima Kasih Tuhan, kau telah memberikan orang – orang yang luar biasa untuk mendampingi hidup ini :)
DSC00230

Perhentian sesaat di Seoul, Korea

Incheon, Korea 020809

“Nothing is as simple as we hope it will be.” Jim Horning

DSC00230Free your mind like butterfly flying

Jari ini menari – nari, seiring dengan pikiran ini yang tidak kunjung berhenti untuk berpikir. Tanpa disadari Tubuh ini terasa penat, total perjalanan ke Korea berlangsung selama 36 jam, berada di dalam pesawat dalam perjalanan Jakarta, Perth, Sydney, Singapore,Korea – Incheon. Perjalanan yang penat namun memberikan waktu untuk kembali berpikir.

Cuaca kali ini sedang kurang bersahabat, terlihat dari jendela pesawat. Kemudian aku teringat akan sebuah cerita pada saat masa kecil dulu. Waktu itu guru agama kami memberikan sebuah soal, ada 10 orang di dalam pesawat, pesawat sedang mengalami kerusakan dan hanya bisa menyelamatkan 5 orang, siapakah yang anda pilih ?

Di antara 10 orang tersebut ada yang berprofesi sebagai dokter yang bisa menyelamatkan ribuan nyawa,ada pula politisi yang dalam misi perdamaian Negara – negara yang sedang berperang, ada lagi misionaris yang akan mencerahkan orang – orang untuk berbuat baik, selain beberapa orang luar biasa, ada juga orang yang biasa – biasa saja, ada ibu rumah tangga , ada anak kecil, ada juga bapak yang berprofesi sebagai arsitek, tukang kayu, ahli computer.

Aku hanya bisa menghela nafas, apabila Tuhan menginginkan 10 orang itu untuk selamat ia akan selamat, apabila 10 orang akan meninggal ia pun akan meninggal. Hanya terkadang kita dihadapkan pada pilihan sulit yang tidak hanya menentukan diri ini sendiri namun juga orang lain.

Semoga ketika nanti dihadapkan pada pilihan sulit, akan tahu kemanakah aku harus memilih. Ahh aku sadar, pikiran ini melantur saja,

Guncangan pesawat semakin keras, memang cuaca semakin tidak menentu, mungkin ini sisi negatif terbang di malam hari, kumpulan awan dari laut yang relatif dingin di malam hari mengakibatkan guncangan perbedaan tekanan dari pesawat. Aku duga sekarang sudah berada di pertengahan jalan dari pulau Jawa dan benua Australia.

Pengolahan parti dan porche adalah satu teori bentuk arsitektur yang terbaik yang didapat selama satu tahun terakhir ini. Sensitifitas  itu ternyata tidak berasal dari hati, namun dari kayanya ilmu pengetahuan. Dari tidak tahu menjadi tahu. Ingat juga apa kata Jon Lang,  “kalian harus tahu apa yang kalian bicarakan, terlalu banyak ide – ide generic akan kalian kenal, dan kembali pergunakan, ide itu bisa berasal dari orang lain ataupun ide yang sudah bersifat generic, namun ingat, ide itu harus punya konteks”. Konteks terhadap angin, matahari, kelembapan, suhu, kenyamanan manusia, dan konteks terhadap program.DSC00187
Un Studio, the galleria, satu koridor setelah itu

Di Korea aku bertemu teman – teman lama juga teman – teman baru. Aku ingat malam itu kita duduk ber 4 untuk hanya sekedar minum kopi..,  kita pun saling tertawa ketika membicarakan cinta, hidup, kejadian – kejadian lucu selama ini. Dan Arsitektur pun dibicarakan.. aku baru sadar kalau mereka adalah orang – orang yang pernah berkerja di OMA, BIG, Snohetta, dan Foster + Partners  dari New York , Pennsylvania, London sampai Copenhagen. Kita kemudian Saling bercerita bagaimana kerasnya jam bekerja, mengalami banyak hal positif, belajar banyak hal dari tempat – tempat terbaik dan akhirnya ada kerinduan untuk pulang ke Seoul. Kita ber 4 pun terdiam, .. mereka bertiga sudah ada  di  korea, dan melihat bahwa mereka bersyukur sekali atas hidup mereka sekarang. Kemudian kita pun tertawa, menertawakan kenapa kita bisa bertemu disana,mereka sendiri pun sudah lama tidak bertemu satu sama lain.

setelah itu kita beranjak melihat studio mereka,

studio itu berukuran kecil hanya 2.5 meter kali 6 meter, didalamnya ada mesin pemotong maket, ada tempat tidur satu buah, ada shower box transparan, lantainya pun dari karpet dengan pemanas ruangan dibawahnya, sepanjang sisi 6 meter terdapat meja panjang dengan puluhan maket dan puluhan kertas sketsa, ada 2 laptop disitu. Dari Sketsa, maket yang bertumpukan satu sama lain ada, studio mereka, project2 mereka yang dimulai dari awal .  Mereka tidak hanya tergantung dari nama besar portfolio mereka ketika pernah bekerja di biro – biro luar biasa. Mereka melangkah maju, dari bawah, tanpa henti, mereka terus berlari.

Aku menyadari aku bertemu orang – orang yang luar biasa, Dong wook, Katy, Jang hee, kutunggu beberapa tahun lagi kalian menjadi arsitek – arsitek muda terbaik korea. Kuyakin saatnya akan tiba.

DSC00224Laurensia pegang yang kencang, saatnya kita berlari lebih cepat lagi, melihat teman2 di Korea..Apa yang menanti, usaha, doa, usaha, doa, berlari lagi Laurensia.. Tarik nafas lagi, satu semester ke depan mulai berjalan lagi.

Saat ini juga aku teringat akan keluargaku dan Laurensia yang ada di Jakarta, masa depan, apa yang ingin kulakukan untuk tahun – tahun mendatang, diri ini berpikir mengenai banyak rencana untuk hidup, karir, pencapaian, Laurensia, ia biasa membantu aku untuk berdiskusi, menenangkan untuk mengambil keputusan secara pasti. Di setiap Negara sekarang sedang menghadapi masa – masa yang sangat sulit, Indonesia, Australia, Singapore, United Kingdom, tempat – tempat terbaik. Masa depan masih belum jelas terlihat untuk kemana aku melangkah.  Biasanya aku menggunakan 200 % dari tenaga ku, maka ini saatnya berlari lebih kencang lagi, lebih kencang, lebih kencang. Apabila waktu ini hanya 24 jam, aku percaya aku bisa dengan doa dan usaha,

tiba2 teringat quote dari salah satu teman terbaikku dulu, ia menuliskan kalimat ini

“look up, reach the sky coz eventhough you fall down you will still be between the stars .”  berlariiiii, menengokkk ke atasssss

DSC00234DSC00200DSC00231

Live a Life That Matters

June 02, 2009, Sydney

” If there is anything I would like to be remembered for it is that I helped people understand that leadership is helping other people grow and succeed. To repeat myself, leadership is not just about you. It’s about them.” – Jack Welch

New York Times bestselling author Mark Albion’s 3-minute animated movie Based on Mark’s book, More Than Money. “The Good Life”

Ready or not, some day it will all come to an end. There will be no more sunrises, no minutes, hours, or days. All the things you collected, whether treasured or forgotten, will pass to someone else.

Your wealth, fame and temporal power will shrivel to irrelevance. It will not matter what you owned or what you were owed. Your grudges, resentments, frustrations and jealousies will finally disappear.

So too, your hopes, ambitions, plans and to-do lists will expire.

The wins and losses that once seemed so important will fade away. It won’t matter where you came from or what side of the tracks you lived on at the end. It won’t matter whether you were beautiful or brilliant. Even your gender and skin color will be irrelevant.

So what will matter? How will the value of your days be measured?

What will matter is not what you bought, but what you built; not what you got, but what you gave. What will matter is not your success, but your significance. What will matter is about what you learned as well as what you taught.

What will matter is every act of integrity, compassion, courage or sacrifice that enriched, empowered or encouraged others to emulate your example.What will matter is not your competence, but your character.What will matter is not how many people you knew, but how many felt good when they were around you and how you served them.

What will matter is not your memories, but the memories that live in those who loved you.What will matter is how long you will be remembered, by whom and for what. Living a life that matters doesn’t happen by accident. It’s not a matter of circumstance but of choice.-coach bay

Choose to live a life that matters. – Michael Josephson

This was so old story to be told to. It show a principle how we deal with the most important thing in our life.  Choose one that can make you satisfied, pick that, smile. It is in your heart, Rich.

harbour

Hidupku hidup satu kali

18 Mei 2009, Sydney

“The greatest pleasure in life is doing what people say you cannot do.” Walter Bagehot (1826 – 1877)

 

sydney

Sudah kira – kira setengah tahun, diri ini urung untuk menulis, entah kenapa pikiran ini melayang terus tanpa bisa berhenti untuk kemudian bernafas.

Apa karena derap waktu Jakarta dan London yang berubah menjadi begitu cepat ? atau diri ini yang memang berasumsi kalau waktu ini tidak bisa dihentikan. Baru saat ini, badan ini duduk dan mulai menulis, satu kata demi satu kata mulai mengalir…

Apa yang bisa diuraikan di tulisan 6 bulan terakhir ini. kalau ada kata – kata yang terpenting, itu adalah obsesi, kebanggaan, dan harapan.

Aku masih ingat kira – kira 3 minggu yang lalu, dengan suara keras salah satu guru terbaikku berkata “You have to be proud of yourself”. Ini lah kalimat yang selalu terngiang – ngiang dalam kupingku setiap hari. Dalam kesendirian di negeri ini. Apa yang sebenarnya kucari disini. Apakah ini hanya obsesi untuk mencoba hal yang baru. Satu tahun di bandung, satu tahun di Singapore, hampir 2 tahun di London, dan sekarang di Sydney. Apa yang sebenarnya aku cari ? ini yang selalu jadi pertanyaan setiap orang ketika bertemu. Obsesi apa lagi ini. *….

Apa yang kamu cari ? Apa yang aku cari ? salah satu temanku kembali bertanya di satu pagi. Ada dua kata, Kesempatan dan persiapan.

Pikiran ini melayang pada saat itu , pagi – pagi di hotel Copthorne London. Jam 8 pagi, pada saat itu cuaca sedang dalam musim dingin. Kita bisa melihat orang kemana- mana menggunakan coat panjang, sayangnya salju jarang turun di London, sejauh ini hanya 3 sampai 7 hari dalam 1 tahun. Pagi – pagi itu aku termenung, dan terdiam, satu detik, satu menit, satu jam berlalu… kemudian aku berjalan kaki ke gereja di dekat Hotel Copthorne, hanya sekitar 1 blok , 200 meter jauhnya. Aku berdoa, dan kembali terdiam.

Kemudian aku tersadar. Ya apakah yang aku ambil. Diantara 2 jalan yang tersedia… bertanya, apa yang sebenarnya aku inginkan. Pertanyaan ini pun sudah pernah kulontarkan ke diriku sendiri. Pilihan pertama menawarkan kesempatan yang tiada duanya, segala kebanggaan, jabatan dan uang berlimpah, pilihan kedua adalah impianku dari dulu untuk kembali bersekolah.

“Kita melompat ke masa 2 tahun sebelumnya ketika aku baru saja pulang bekerja dari Singapore. Pada waktu itu surat resign sudah kukirimkan. Euphoria kebebasan dan masa – masa resign yang kembali teringat. Dimana diri ini kembali bebas untuk terbang. Masa – masa yang terbaik dalam hidupku.”

Pagi itu aku telah selesai berdoa, waktu itu, aku berkata pada diriku sendiri. Untuk kali ini, aku akan melakukan, apa yang ingin aku lakukan… aku masih muda, sekarang atau tidak sama sekali.

Chairil Anwar dahulu berpuisi, “Kalau sampai waktuku, Ku mau tak seorang kan merayu, Tidak juga kau, Tak perlu sedu sedan itu, Aku ini binatang jalang. Dari kumpulannya terbuang. Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan aku akan lebih tidak perduli.

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Di sela – sela perhentian di Indonesia, pikiran ini selalu berkecamuk,. Kulihat dari berbagai peristiwa Begitu mudahnya orang menikam dan menerjang orang lain dengan tertawa. Ada kalanya orang berkata – kata berbusa – busa tanpa ada perbuatan. Ada kalanya politik negeri bingung itu begitu bingung Aku berkeyakinan Hidup itu berisi dari perbuatan dengan kata2 yang dipuisikan dari perbuatan – perbuatan Oleh perbuatan – perbuatan itulah hidup kita menjadi bermakna.

Pada waktu itu aku membuka arsip – arsip ku, kutemukan lukisan yue min jun. yang berjudul bayoneting.

Disini semua orang berwajah sama, menusuk orang di bawahnya dengan bayoneting yang tidak tampak, semua orang tertawa, semua orang berwajah sama, mereka tertawa, mereka berwajah sama.

yueminjun

Inilah realitas hidup, aku sadar. Tanganku ini memegang bayonet yang tidak terlihat. Mukaku ini selalu tersenyum dan berwajah sama. Setiap orang akan mempunyai muka yang sama. Inilah kutukan peradaban egois yang bermuka manis. Pada waktu itu aku tertegun, pikiran ini melayang,ini konyol.

Ada saatnya aku kembali ke bandung, dikala perhentian beberapa waktu yang lalu di Indonesia. Kota kecil Bandung menempati peringkat pertama dalam buruknya pelayanan publik, di Bandung semua orang sudah menyerah dengan tata kotanya yang amburadul namun, ia meninggalkan kenangan yang membekas, kemahasiwaan yang dinamis, cuaca yang  menyenangkan, jajanan yang luar biasa enaknya, dan kenangan akan masa lalu di kota kembang ini . Kupandang Jejak jejak langkah ini, aku tersadar aku ada di titik nol kembali, melihat jajaran pepohonan dari kawasan atas Bandung. Tempat aku dulu menghabiskan waktu di hari sabtu atau minggu. Aku bersyukur karena aku bisa membuat pilihan, untuk kembali kesini. Tuhan apabila Kau berikan aku jalan, aku ingin selalu berharap untuk bisa selalu berkarya untuk orang – orang yang kucintai dan untuk itu kita butuh rencana. Pada akhirnya hidup itu pertemuan antara kesempatan dan persiapan. Aku kembali lagi berlari, untuk mengejar impian yang masih tak nampak.

Aku pun terbangun kembali di saat satu hari menjelang keberangkatan ke negeri yang baru. Harapan itu selalu ada, Terkadang waktu itu sedemikian sempit hanya menyisakan ruang sedikit ruang untuk bernafas.saat ini aku sangat bersyukur, di sela – sela kesibukan bersekolah. Pekerjaan terus berdatangan, hasil dari perlombaan – perlombaan yang cukup untuk menyambung hidup 3 bulan kemarin. Pekerjaan yang dilakukan dari jarak jauh, kebersamaan dengan wanitaku, menyambung kembali komunikasi melalui email. Sungguh memang semua sudah direncanakan dengan apik. Aku tidak pernah percaya akan kebetulan, yang kupercaya adalah kekuatan doa dan usaha.

Jari – jariku kuletakkan di tuts piano, denting – denting piano mulai terdengar memainkan lagu tembang alit yang memang bagiku sungguh sulit untuk bisa diselesaikan, partiturnya pun sudah kudapat kira – kira 2 tahun yang lalu namun itu belum juga selesai.  Lagu ini mengalir, seperti hidup itu mengalir, setiap kali memainkan lagu ini, nafas kita berirama untuk senada. Inilah jalan yang kutempuh. Aku memasuki kembali aura pulau jawa dan Kalimantan yang menghipnotis, saat itu waktu terasa begitu lambat sehingga bulan februari pun kembali datang untuk kembali lagi mulai dari awal di kota yang baru.

Disela – sela aku mengetik ini, ketel uap sudah mulai berbunyi, pesan dari wanita terbaikku sudah mulai muncul, ketika itupun sup ayam sudah siap. Dan aku akan berkata. Inilah saat yang terbaik dalam hidupku. “Sayang tunggu sebentar ya aku masih ngetik.”

Yue Min Jun, sayangnya muka ini bukan muka tertawa yang sama. Mukaku ini milikku.

Mei 2009.

Realrich

harbour

2826415-The_River_Cam_surrounds_the_town_of_Cambridge-Cambridge

Langkah Melangkah…

6 January 2008, Angel, London

Memang benar keadaan disini memang luar biasa menariknya, untuk dipelajari, dan dipahami..

2826415-The_River_Cam_surrounds_the_town_of_Cambridge-Cambridge
Sudah 6 bulan disini, di kota yang baru , dimana matahari terkadang ada disini hanya untuk mengedipkan mata dan kemudian bersembunyi kembali.

Sudah ½ tahun disini , setiap hari waktu berpacu dengan rutinitas yang lama – lama terlihat semakin nampak. Semua terasa begitu lambat dalam kenangan namun terlalu cepat ketika ada dalam langkah – langkah. Dimensi yang berbeda di kota yang berbeda. Cerita berbeda di tempat yang baru. Dimulai dengan saat – saat pertama datang dan ketidak tahuan kemana langkah ini mengarah.

Ini seperti masa2 sebelum setengah tahun pertama. Ada suatu cerita ketika 7 bulan setengah yang lalu, aku ditanyakan oleh salah satu teman terbaikku. “Apa mimpimu kedepan teman ? “… Ku terdiam mengenai apa jawaban yang mungkin bisa dilontarkan untuk menjawab. Saat itu ku hanya bisa menjawab, “ku butuh hidup baik dan sederhana … tidak kekurangan apa pun, dan biarkan segalanya mengalir dengan usaha yang terbaik ”. Kemudian ia menjelaskan mengenai jalan hidupnya, bagaimana menetapkan tujuan, dan hal- hal yang dia lakukan untuk mencapai mimpinya, hal – hal yang teknis dan mendasar yang dipersiapkan. Sesuatu yang dipikirkan dan tidak hanya seperti kemana air mengalir. Kita semua butuh sebuah pencapaian, bukankah semua sama, kita butuh sesuatu yang nyata, bukan hanya angan – angan.. semua itu bisa digenggam teman.

Suatu waktu disini dimulai dari kebimbangan yang ada ketika tiada siapa – siapa untuk mencari tempat tinggal, dan jalan yang sangat baik pun dibukakan, , membantu untuk melewati saat – saat yang sulit disini, dimana jarak tempuh dari tempat kerja hampir 2 jam perjalanan, pola makan yang belom sesuai, kantong yang mulai menipis, jam kerja yang semakin lama semakin tidak menentu. Ada juga saat – saat dimana sampai tidak ada baju lagi untuk dipakai, karena jarangnya pulang kerumah dan tiadanya waktu untuk sekedar mencuci, karena kesibukan kerja yang memang tidak bisa ditunda, seketika terkadang saat pulang kerumah , canda tawa dari anak2, sungguh menghibur. Thanks ya Mas Ari Mbak Lia, for your hospitality.

Disini iterasi design yang pernah dialami kembali terjadi, bahkan inilah ujian terbaik yang pernah dijalani.. berminggu2 tanpa henti, … sesekali kita menghirup nafas, seketika itu tarikan itu kembali muncul untuk kembali ke tekanan yang semakin lama semakin meninggi seperti menarik lagi untuk tenggelam ke dasar,… ada pelajaran baru disini, pengolahan berbagai macam diagram. Beberapa isu yang penting seperti isu2 yang sedang trend di dunia ini, green design, efficiency, monumentality… pengolahan diagram2, terkadang kita berbicara mengenai sistem yang kita sendiri tidak tahu dimana kita berpijak, ada dimana kita ?

dulu, seringnya berkata – kata tanpa mensistematiskan apa yang mau dipikirkan, dan disampaikan. Seolah- olah kita terlihat dalam kemauan bereksistensi saja. Berdiskusi dengan lulusan – lulusan arsitek dari tempat – tempat terbaik, seolah – olah kembali menampar, apakah benar cara – cara untuk berdesain yang selama ini diyakini. Penekanan pada diagram dan kejelasan bentuk benar2 nyata terlihat, berdasarkan keobjektifitasan. Pentingnya bagan dan matrix – matrix yang tidak hanya sebagai alat kosmetik belaka, itulah jiwa yang akan mengarahkan proses desain kearah yang lebih melesat jauh. Ya lompatan – lompatan design iterasi itu akan kembali ke pentingnya strukturisasi diagram dimana lompatan design yang lebih tinggi dan terarah. Tidak hanya seperti itu, namun bisa lebih tajam lagi.Ketika panah sudah ditarik dan dibidikkan dengan sekuat tenaga maka panahnya akan melesat jauh untuk menghujam dengan tajam di sasaran yang dicapai.

Dahulu prinsip arsitektur ada di alam khayalan dan perasaan, disini arsitektur adalah design, bisnis, dan subjektifitas dalam objektifitas Tarik satu garis lengkung mengarah ke atas dalam wajah, dan coba tersenyum..

Ada cerita dimana saat – saat kehilangan dompet, ya semua kartu – kartu yang penting ada disitu. Saat itu kudalam keterburu2an dalam perjalanan ke kantor. Kuterburu – buru turun dari bus, dan kemudian sesaat kemudian tersadar namun sudah terlambat. Telpon berdering di keesokan harinya dan itu dari perusahaan bus, mereka menemukan dompet itu, tidak kurang suatu apapun. Ketika seorang pegawai bank mendengarkan cerita yang baru saja terjadi, ia seketika berkata, di kota ini, ternyata banyak orang yang baik, di London hal seperti ini tidak pernah terjadi…. Saat sudah larut malam kuputuskan untuk pulang, di bus station, ada seorang ibu – ibu, ia berasal dari Jamaika. Seketika kita tenggelam dalam perbincangan yang menarik mengenai kejadian – kejadian yang ada di hari ini, dan betapa kita harus berhati – hati di kota ini , di akhir perbicangan itu, ibu tersebut berkata, tidak ada yang kebetulan di setiap saat dalam hidupmu, kita bertemu disini tidak karena kebetulan namun karena jalan yang diatur bagimu, OlehNya… “Rich aku dan kamu ada disini untuk sebuah tujuan, aku akan menjagamu. Dan kemudian, kita kemudian tertawa tergelak – gelak, di akhir perbincangan, ternyata kita baru menyadari bahwa rumahnya hanya berbeda 1 blok dari ku, sementara bus station kantor tempat kita bermula itu sekitar 1 jam dari sini, seakan – akan mendapatkan satu lagi teman baru. ya ku percaya atau tidak bahwa tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini , semua ini hadir untuk suatu tujuan tertentu. Kejadian ini mengingatkan bahwa ku selalu dalam lindunganNya.

Seperti salah satu perkataan teman terbaikku, semua akan indah pada waktunya… Kubaru menyadari akan arti 1 hari ke depan., … hanya 1 hari ke depan di masa lalu, hanya 1 hari kedepan dalam satu tahun ke depan, …

Pernah suatu ketika seorang teman, bertanya tentang kebimbangan dalam dirinya untuk jalan hidup yang ia tempuh.. kuyakin bahwa sampai nanti kebimbangan demi kebimbangan selalu datang.. semua hanya menyisakan cara kita bersikap terhadap keadaan ini. Kurasakan bahwa tempat kita berada sekarang adalah angan – angan dari 1 hari kedepan dahulu . Itulah buah dari tindakan – tindakan kecil yang dilakukan dimana 1 hari ke depan dimulai dari pola pikir yang sangat sederhana. Keinginan untuk maju akan membuahkan kemajuan.. Keoptimisan tinggi. Optimis dalam pikiran dan tindakan. Di sini, kebiasaan berbagi yang tetap dilakukan di tengah keegoisan yang ada seakan menjadi langka, , …

Ada satu cerita ketika kita duduk2 di kantor, satu orang berasal dari Malaysia, satu orang dari Hongkong, Satu orang dari Spanyol, dan kita saling bercerita satu sama lain mengenai kampung halaman, dan membuka situs google earth, satu persatu menceritakan Negara asal kita. Orang Spanyol menceritakan mengenai bagaimana hangatnya pribadi orang2 di Negara asalnya, orang hongkong dan Malaysia pun menyambut dengan serentak menceritakan bagaimana lingkungan rumah tinggal mereka dan kondisi keluarga mereka sehari – hari , pikiran ini kembali menerawang, apa yang kucari di tempat asalku. Keluarga, teman – teman, satu persatu detik . menit , jam tidak akan pernah kembali. Dimana kita ada sekarang kuyakin kita semua sedang mengejar tujuan kita masing – masing.

Kuteringat perkataan seorang kawan “ Ingat teman hidup itu harus seperti rajawali, mengepakkan sayap, jangan lah menjadi seekor anak ayam , rajawali akan senang untuk tantangan, dan akan menjalani tantangan itu sendiri tanpa dipaksa. Ia akan senang akan badai yang ada di depannya, mengitarinya dan kemudian menembus badai itu.” Satu persatu rintangan yang dilompati untuk melewati area ketidaknyamanan akan mendatangkan beribu rintangan yang lebih tinggi… Kehangatan yang selama ini hilang, perlahan – lahan mulai Nampak kembali…Detak jantung yang semakin teratur menyesuaikan pikiran dengan keadaan yang ada, …. detak itu semakin cepat terkadang, … nafas itu semakin pelan terkadang. Horizon

Ku belajar dari teman terbaikku, untuk mengatur nafas itu mengatur derap hidup kita. Satu Hari ke depan, … berbuat yang terbaik untuk hal – hal yang kecil dalam hidup kita. Satu hari ke depan untuk selalu berpikir positif. Dan satu hari ke depan untuk selalu merenungkan diri dalam doa. Satu saat ini menyebabkan diri ini kembali terdiam,… untuk berpikir kembali..

Baru saja 7 hari kemarin, kita masuk ke tahun yang baru 2008, terkadang di detik – detik itu, waktu terasa sangat cepat terkadang, sangat lambat terkadang,…, Semoga tahun 2008 ini, semua keadaan akan semakin baik untuk kita semua, dimanapun kita berada… Sesungguhnya masih tidak percaya untuk ada di tempat seperti ini, sesekali terpenjam ketika dalam suatu siang duduk bersama teman – teman kantor, bercerita mengenai kisah kisah dimasa dahulu di pinggir sungai. Ada juga suatu sore ketika sedang berjalan – jalan di koridor kantor yang sering Nampak di sebuah buku di pojok perpustakaan dulu. Memang benar keadaan disini memang luar biasa menariknya, untuk dipelajari, dan dipahami..;)

hongkong

Mimpi pemimpi

22 July 2007, Bali

“Hiduplah seperti pohon, tumbuh perlahan – lahan dan tidak tergesa – gesa” Tisna Sanjaya

hongkongDi hari – hari terakhir di Singapore, akhirnya ada kesempatan  juga untuk Melihat Hongkong, berkesempatan juga jalan2 ke kota ini , bersama Iyok, Koes . Melihat, menyentuh, merasakan karya2 terbaik yang ada di sini. Thanks Arie, Dowel, Anis for your hospitality.

“Diri yang pemimpi “ saat menuju 2 tahunan kemarin. Banyak pelajaran yang terjadi, mengenai karir, hidup, cinta dan harapan. tiap2 peristiwa mempunyai arti tersendiri. Kembali ke  perkataan pak Tisna untuk tetap “ hidup tidak tergesa – gesa“.  Keinginan  ada karena diri sendiri, tidak untuk dipaksakan dengan tergesa – gesa. Mimpi untuk lepas dari kemapanan yang sudah ada, mimpi untuk melawan arus dan mimpi untuk menjadi diri sendiri. Teringat buku yang dulu dibaca mengenai bagaimana menjalani hidup ini sebaik – baiknya jadilah ikan salmon yang sehat  yang selalu menjadi arus bagi dirinya, dan lincah dalam melawan ataupun mengikuti arus”. Perjuangan pengambilan dan menjalani keputusan itu pun sangat sulit sekaligus. Akhirnya proses Resign selesai, sayap kembali terkepak, untuk berlari dan terbang. Keputusan untuk melepaskan apa yang dicintai dan kembali ke mimpi yang ada. 1 tahun yang terbaik di DP architect , 1 tahun yang terbaik di Urbane Indonesia. 3 Bulan yang terbaik untuk berhenti sesaat

Perjalanan pun tiba di angka 15  hari setelah waktu resign.Hari – hari tanpa pekerjaan tetap. Suatu waktu ku bertemu dengan orang2, disitu disimpulkan bahwa kenapa melepaskan pekerjaan tanpa mengetahui apa yang ada di depan kita, itu memang benar.. untuk apa, perkataan itu dipikirkan selama beberapa lama. Apa yang dikerjakan pada saat – saat tanpa pekerjaan seperti ini? Perhitungan matematis seperti gaji yang nol, dan defisit tabungan yang terus menerus. Ada kalanya ingin kembali ke saat – saat terdahulu, dimana semua masih terpegang dan hidup itu terasa sangat pasti. Bekerja itu seperti peningkatan intelegensia, ketika kita meningkatkan intelegensia terlalu berlebih, sekarang saatnya bagamaina situasi yang kosong mengingatkan untuk selalu mawas diri.

Suatu ketika, tertegun, saat itu jam 7 pagi di kamar, Jakarta, merenungi diri ini. :) mau kemana diri ini. Flashback  pikiran, tiba2 terlihat keluarga, kehidupan , teman, kampus lagi. Terlalu banyak keraguan yang ada, semua harus dilepaskan perlahan – lahan untuk bisa melecut maju. Ya kenangan demi kenangan itu selalu ada, sejak pertama kali 6 tahun yang lalu memasuki dunia arsitektur, sampai sekarang. Flashback itu terasa begitu cepat. Aku merasa ini titik yang terbawah dimana memang tidak punya apa2 untuk diperjuangkan. Tanpa disadari ternyata ku percaya dengan kekuatan keinginan dan doa, begitu kita hidup dengan penuh tujuan 200  dari 100 persen , jalan akan terbuka. Dengan  kekuatan doa, jalan yang itu akan selalu dibukakan. Tiada logika memang.

Ada beberapa cerita berharga dari sepanjang perjalanan transisi yang menarik ini :)

Ada suatu cerita, pada saat projek desain toko di Banjarmasin. Ku bertemu dengan om tua yang akan mengurus neon sign bersama ayah juga, mereka, orang2 dengan 40 tahun pengalaman berdua bercerita dan bercerita. Mereka berkata bahwa kita harus mensyukuri apa yang kita dapat, hidup untuk selalu puas akan hasil yang sudah diberikan, melihat apa yang dipunyai. Yang sulit itu apabila kita mau untuk mensyukuri apa adanya. Apabila kita ingin selalu ke atas, kemanakah ujungnya ? Ingat bahwa Di atas langit masih ada langit ? ada waktu juga sekonyong2 oma yang baru saja datang dari kota samarinda, di hari yang lain, memberikan wejangan, kamu sekarang sudah maunya apa ?

Kemudian, Suatu waktu diajak juga ke tempat ajeb2 yang eksotis penuh dengan wewangian rokok, lampu warna – warni dan desain lekuk2 yang sensual. Suara2 itu sungguh menghipnotis, ada kalanya 10 menit kita terdiam hanya untuk mendengar suara ajeb2 yang sebenarnya berorder jelas penuh dengan ketukan yang berdebam. Sejauh melihat aktifitas yang ada disana, mereka semua tertawa penuh makna, minum bersama penuh makna, terkadang meliuk – liukkan tubuhnya seraya mengangkat tangannya lurus keatas. Satu hal yang pasti mata – mata mereka adalah mata kesepian.

Suatu sore di kantor IAI perbincangan pun dimulai dengan salah satu arsitek senior, angkatan 64, nama beliau sering didengungkan ketika ada penjurian sayembara arsitektur,  beliau bercerita mengenai bagaimana dahulu beliau berkarya hingga sekarang. Ku bertanya pula, “pak worth it ngga sih jadi arsitek “ hehe , beliau pun menjawab sambil menatap dengan pasti” veeeeeryyy, ini sebuah berkah bagi saya “. Sambil tersenyum .Kita kemudian ngobrol2 gimana kehidupan arsitek yang selalu penuh lembur dan jam malam2 memang sulit namun ya itulah arsitek. Beliau berpesan “masyarakat kita biasa hidup tidak jujur, disini, semua seperti berpura – pura, kita tidak bisa bangkit kalau kita tetap tidak jujur.. untuk menjadi arsitek kamu harus punya nama, untuk bisa berbuat “ Ketika penutupan perbincangan, ku bertanya,”masih lembur ngga pak dikantor ?” beliau pun menjawab, saya sudah 14 hari ngga pulang nih, ya gimana ya arsitek ya seperti ini, [waw] ketika sampai ke lobby Jakarta Design Center, beliau pun menepuk pundakku dan dijemput oleh sopir nya naik mobil slk sport compressor, terlihat beliau sangat menikmati hidupnya… sampai ketemu lagi ya pak!

apa yang kita pikirkan apa yang kita inginkan itulah yang kita tuju, memulai perjalanan, Berbicara melalui hati dengan usaha dan doa.

Mengenai hidup dan pencarian tujuan dalam hidup.. harga yang dibayar untuk sebuah impian itu  mahal. Kehilangan kemapanan, kehilangan teman terbaik, kehilangan komitmen. Kehilangan dan kehilangan. Tidak semudah yang terbayangkan. Seorang teman yang sangat baik, pernah berkata untuk segala kemapanan yang telah dia raih, di berkata “ dibalik semua prestasi yang saya capai, saya berjuang keras dan mengorbankan banyak hal untuk itu, dan saya berhak untuk itu rich, ada nada kekecewaan di raut mukanya, seakan2 dunia ini tidak berpihak kepadanya..” salah Seorang teman lain yang sangat baik pernah menulis “Rich, remember to protect your dream and don’t let anyone take it away from you , not even yourself !“, setelah mimpi itu kita jalani, apa yang ada di ujungnya ? …cabang jalan yang penuh gegap gempita?… ataukah  cabang jalan berbatu2 yang bahkan ada durinya?…. Kenapa selalu ada cabang2 jalan yang harus kita tempuh?…. aku bertanya, Kubersyukur karena ku masih bisa memilih cabang mana yang akan kupilih. Tetap berbuat dan Tetap berkaca..Kubersyukur untuk sadar bahwa semua pekerjaan itu harus bisa disyukuri. Ngeluangin waktu buat keluarga, dan Tuhan, disaat2 di seperti ini, rasanya seperti mendapat berkah yang tiada ternilai. I pray for You… impian sejak lama di Foster and Partners. Kesempatan itu datang. Ada medan yang baru di depan, menunggu untuk dijajaki. :)

Pada akhirnya teringat kembali pada satu titik perhentian di Hongkong yang membuat diri tertegun sampai sekarang, banyaknya unjuk rasa, bentrok antar keyakinan, protes dari pengikut dari salah satu sekte disana, benar2 membuat miris, suatu waktu internet pun dibuka utnuk memuaskan rasa penasaran, browsing – demi browsing dilakukan, “Organ Harvesting Camp ?”. Dunia ini sudah terbalik memang, penderitaan benar2 merinding. Kuatnya suatu keyakinan dan pertentangan paham dalam pikiran memang benar2 mengerikan. Batas antar benar dan salah sudah kosong. benar menjadi salah yang salah menjadi benar. Prinsip – isme yang menistakan kasih benar2 membuat tertegun.Ada suatu cerita ketika berjalan2 ke Bali di sebuah gudang , ada orang yang bernama pak Made, beliau menceritakan, ia bertemu dengan anand khrisna yang berkata “ jika ada sebuah hal  yang membenarkan membunuh dan menyakiti sesama akan menerima kebahagiaan sejati, itu omong kosong, saya akan terima dicari2 untuk dibunuh untuk melawan hal itu “  tertegun memang, sudah bukan saatnya kita hidup di dalam dunia yang egosentris dan mementingkan diri sendiri. Dunia ini semakin lama akan semakin gila dengan tekanan dan pemikirannya yang sekuler. Untuk keyakinanku, kakakku pernah mengingatkan tentang perkataan seorang romo, Vertical itu bagaimana kita dengan yang diatas, hubungan dengan Tuhan itu sendiri. Horizontal itu bagaimana kamu berbuat terhadap sesama, siapapun dia, apapun keyakinannya, apapun penyakitnya, apapun keadaannya, berbuatlah untuk sesama. Kita hidup di dunia yang hampa akan kasih. Kita hidup untuk menyebarkan kasih… :) selesailah petualangan 3 bulan transisi kemarin, sekarang jam kembali berputar cepat setelah dibekukan Aura pulau Jawa dan Kalimantan yang sungguh menghipnotis…

Suatu waktu ku dalam liburan ke Bali dan Banjarmasin,
berkeliling dari tempat satu ke tempat yang lain.
Duduk berdiri dan duduk kemudian diam
Hembusan nafas dari alam itu begitu terasa.
Kita bernafas,
alam pun bernafas,
menciptakan ritme – ritme kehidupan Fibonacci yang lain.
Ritme – ritme itu membuat monumentalisme tersendiri.
Benar kata teman terbaikku,
untuk pertama kalinya kulihat langit Bali itu begitu biru

back stage

Perspektif 4 titik

06 01 2007, Singapore

“di Backstage ada semangat untuk salah, ada juga semangat untuk belajar, apalagi semangat untuk mencoba benar ,…terkadang mungkin kita lupa dengan ini.”

back stageSuatu waktu di tanggal 22 Desember, melintas di kawasan Little india, Bugis, dalam perjalanan ke tekka mall. Opera Cina

Tidak terasa 1 tahun 3/4 bulan selepas bebasnya diri dari kukungan akademik untuk kembali masuk ke tantangan yang lebih bergolak. Tepat di angka 3/4 zona aman sudah mulai merasuk di diri, menenangkan hati, kenyamanan, rasa aman yang membuat kita bisa mulai berbuat, zona sekitar mulai masuk ‘tuk mendukung segala jalan, angka 1/4 adalah saat dimana diri masih tersesat dalam suasana, angka 1/2 adalah saat diri bebas dari ketersesatan dan kebingungan, angka 3/4 adalah saat diri mulai menjadi petunjuk bagi sekitar kita, hal ini kembali berulang kembali dalam kukungan tahun kedua,zona aman dan zona keadaan adalah 2 hal yang dominan di dalam angka 3/4. sekali lagi 3/4 itu datang di tahun kedua, di awal tahun 2007 ini …

Keadaan ini seperti perspektif 1 titik hilang,Dari Jauh untuk kearah satu titik fokus, melaju terus,dari besar ke kecil, kita diajak untuk melangkah terus meski tiada keinginan untuk melangkah, keadaan perspektif yang kita alami, mengajak untuk demikian, … suatu waktu adakalanya, disaat dorongan garis2 pengarah perspektif itu begitu menekan, kita harus berhenti , disaat itu, perspektif 2 titik muncul, kita melihat kekiri dan ke kanan, melihat ujung2 pandangan yang berbeda, garis – garis yang perspektif 2 titik, dimana kita mulai merasa empati dari sekitar yang menyebabkan 2 titik itu ada, untuk menoleh ke kiri dan ke kanan, mulai ada pertimbangan untuk melangkah. kemudian kita bisa berjalan lagi, tentu saja di perspektif 1 titik lagi… suatu waktu ada kalanya kita behenti kembali, ingin merasakan perspektif yang lebih dalam lagi, saat itu ada keinginan untuk melihat keatas dan ke bawah, untuk mulai berintrospeksi diri, saatnya perspektif 3 titik muncul, mulai merasakan ketinggian, posisi diri dimana kita berada, distorsi2 yang ada,di saat kita mau untuk berhenti dan berfikir, …

Perspektif 4 titik akan muncul apabila kita mau mereview kebelakang untuk mengingat dan belajar dari masa lalu, kurasa 4 dimensi itu mulai ada dalam diri kita, dimana kita bukan lagi merasakan bentuk dari perspektif itu sendiri, namun arti makna sudah merasuk dalam jiwa-jiwa yang terus bergerak dalam hidup kita.

Ada sebuah cerita, suatu waktu, ketika menunggu antrian makanan, tiba2 tersentak juga, melihat ada seorang ibu yang mengambil gerakan untuk tidak mau menunggu, serobot kiri dan kanan, memaksa tuk menggeleng2kan kepala, suatu waktu juga ada kejadian menunggu barang yang diinginkan selama 3 bulan ini, sampe ke depan toko, ternyata barang itu habis, setelah itu, dengan kekecewaan mengambil taxi untuk menuju orchad, dikala itu, cuaca hujan deras, terpaksa ditemani seorang teman sangat baik Menunggu di depan sebuah toko, tidak disangka disana apa yang diinginkan bisa kecapai, barang itu ada, hidup ini penuh dengan misteri, mungkin benar kalo segalanya akan berbalik kembali ke kita. Menunggu dan menunggu terkadang ini adalah pekerjaan yang paling tidak diharapkan dan ditunggu adalah sesuatu yang dinantikan. Suatu waktu ada juga akhirnya sampai juga di satu persimpangan hidup, dimana proses menunggu dan ditunggu itu ada, menunggu mengharapkan perasaan sabar, dan ditunggu melibatkan ketidaksabaran, ini masih menjadi suatu misteri, menunggu dan ditunggu, kebiasaan kita seharusnya lengkap untuk menunggu. Kesabaran itulah yang harusnya membuahkan kebenaran yang sepastinya. mungkin kita biasa ditunggu, sama seperti semua orang yang pada ingin hidup seenaknya, seperti juga dalam sebuah cerita selalu ada kata selesai, memulai dan kemudian bersambung, di satu saat menguasai segalanya, kehilangan segalanya dan memulai kembali yang baru. mungkin juga apabila kita sudah kehilangan sesatu yang menunggu kita, barulah kita sadar arti kehilangan…

akhir – akhir ini Kata buktikan seolah – olah sudah menjadi makanan yang tidak berujung, entah kenapa, rasa kenikmatan untuk pembuktian itu terletak pada proses, benar – benar menyenangkan, buktikan !pembuktian terhadap diri sendiri, kita seolah – olah terkukung dengan batasan2 mind set kita sendiri, saat kita melompat lagi, ada mind set lagi, melompat lagi kita mendapatkan mindset baru, pembuktian itu ada ketika kita berhasil melompati batasan mindset diri, memang tidak akan pernah habis, semua tergantung pada anda sendiri, apakah diri kita seorang petarung atau pencari keamanan.. pada saat kita berkata, rintangan ada di diri, saatnya menarik nafas dan merasakan kita pasti bisa. sekitar 1 minggu sebelum tulisan ini ada, mindset masih berbeda,. ketika itu kerinduan untuk berekspressi demikian adanya, rindu akan impian yang tidak mungkin, ingin membuat segala kemungkinan dari ketidakmungkinan. perbandingan diri kita yang sekarang dengan masa lalu itulah mind set kita. terkadang ku merasakan, bahwa kubutuh 1 1/4 tahun lagi untuk melengkapi segalanya, Project – project yang bergelimang untuk dihadapi, teman – teman yang senafas, semua itu seakan menjadi obat tersendiri bagi kukungan pekerjaan dan deadline yang terusmenerus. Di kala ini ku sadar, it is not bout your job dude, it is bout your life, cara kita mengerjakan sesuatu, berpikir terhadap sesuatu itu lah yang menempa. justru sekarang berbeda, ketika mengolah apa yang ada dan berhenti bermimpi itu membuat segalanya menjadi luar biasa,… menjadi begitu Rich, kaya bgt!… *tergelak-gelak

Ada juga, Suatu waktu di tanggal 22 Desember, melintas di kawasan Little india, Bugis, dalam perjalanan ke tekka mall, dalam kesendirian malam, terlihat satu panggung, disitu ada warna merah, dihias dengan rumbai2 emas, dan hijau tosca, merahnya pun merah menyala bak layaknya kertas ang pau, kemudian terdengar suara gong dipukul terus menerus dengan ritme suara yang konstan, sesaat juga terkadang terdengar suara gemerincing, dan suara biola yang digesek, dari jauh hanya nampak kelebat merah kuning dengan gerakan tari, ternyata itu adalah panggung tari, panggung teater cina. pengunjungnya tidak terlalu ramai, hanya orang2 yang sudah tua, menyimak bahasadengan alunan musik nan tinggi dan terkadang cukup untuk menusuk tajam telinga. kuamati gerakan tariannya, mimik muka orang2 tua yang menonton, orang2 tua disitu begitu menikmatinya. entah apa ceritanya, apa bahasanya, bergumam sejenak kemudian bersuara melengking nan tinggi, semua hingar bingar dan mereka para tua – tua yang menonton sungguh menikmati tari dan teater yang ada. Yang paling menarik justru ditemukan bukan di depan panggungnya, tapi di daerah belakang. Daerah belakang ini sungguh berbeda, lebih redup, remang2, suasana pun tampil dengan tidak dibuat – buat. Inilah dapur panggung sesungguhnya. Disini terlihat semangat untuk tampil, apalagi kemauan untuk tampil, ada di satu pojok canda tawa penari2 yang berbisik2 dengan pupur putih dan gincu merah, bertopi barongsai emas, jikalau kita melihat dari arah bawah, pandangan akan terbingkai oleh 1 orang penggesek biola dan 1 orang peniup trompet, vista terbentuk dibentuk tepat di tengah mereka, benar – benar , disini sungguh berbeda dengan suasana panggung, muram dan kotor namun penuh dengan semangat yang berapi – api. ada kalanya kesalahan kecil diperbuat oleh salah satu penari, dan yang lain pun tertawa kecil dengan gerakan menutup mulut, tentu saja di back stage. sesuatu yang salah pun bisa menjadi bahan kelucuan disini, Alhasil disini kita bisa belajar mengenai semangat di dalam backstage ini, elemen yang terpenting namun sering dilupakan, panggung seringkali menyilaukan dengan hingar bingarnya, merah kuningnya, namun terkadang, semangat backstage ini sendiri adalah jiwa dari panggung tersebut, semua ini sama seperti dunia kerja, maupun apapun yang ada di hidup kita, back stage itu hati, jiwa dan proses, dapur dari pikiran kita …panggung itu hanya pemanis dan pupur kiasan, yang terkadang menipu. di Backstage ada semangat untuk salah, ada juga semangat untuk belajar, apalagi semangat untuk mencoba benar ,…terkadang mungkin kita lupa dengan ini.

semangat backstage inilah yang akan menjadi bahan pemikiran untuk kompetisi design yang akan datang, semangat untuk tampil, dalam ekspresi, dalam kebingungan ini, semoga 3 bulan ke depan, hidup sudah mulai menunjukkan kemana
arah seharusnya kita melangkah ,…

louis kahn

Rantai Ketika

September 3, 2006, Singapore

“Ketika ”berbeda dengan dimensi sebelum dan sesudah, ia ada di antara awang – awang masa kini dan masa lalu, “ketika” berbicara mengenai saat sesudah aksi diberikan, ketika, seperti pada suatu ketika,

louis kahn

Louis kahn dan Peter Zumthor lah idola bulan ini.Adalah benar apabila semuanya ada dalam keteraturan sendiri, seperti, temukanlah aturan alam semesta maka kamu akan mengerti segalanya, mengenai keindahan bentuk dan proporsi terbaik.

Sulit untuk menyelami dimensi keindahan yang ada, yang kutahu hanya ada sedikit orang dari banyak orang yang mampu bergulat dengannya dan belajar darinya, semua akan kebingungan ketika berbicara tentang ruang dan keindahan, adalah baik untuk mencoba selesaikan semuanya perlahan – lahan dan tidak tergesa – gesa. Tenggelamlah dalam iterasi desain, dan rasakan jiwanya. meskipun gestalt dari setiap proporsi itu lah yang akan menentukan dari keindahan itu, kita membutuhkan sesuatu yang lain, jiwa harus dikeluarkan, tirai harus di dibuka, lewati batasannya, kuyakin bahwa kerja keras itulah yang menyebabkan jiwa itu mulai nampak nyata. Seringsekali kutanyakan masa – masa lalu kepada jiwa2 yang masih polos, jiwa kalian dimana , apa kemauanmu, karena seringkali karya terbaik akan muncul dari sentuhan personal manusiannya. It is about your soul, bukan tentang perhitungan AB AB. Karena kita hidup bukan dari perhitungan.

Suatu waktu ketika ku dalam liburan ke Jakarta, Kusadar ketika pada satu saat kuberpapasan dengan seorang tua renta, yang kepalanya hanya bisa tertunduk lesu tidak bertenaga, terkulai lemas tidak berdaya, seperti penyakit yang akan pasti menerpa,hingga mata ini mulai terpejam, kutanyakan pada diriku, dan kutanya lagi mengapa rentang waktu itu tidak pernah bisa direnggangkan, memang pada saatnya kata ketika itu akan datang, masa itu akan tiba, dimana semuanya akan renta. Bergantung hanya pada dirinya sendiri. Waktu kembali dan kata ketika mulai muncul. Suatu waktu juga Kuterhenyak sekali ketika tangan itu mulai membaca garis – garis tanganku, ia berkata, hati – hati akan penyakitmu, seakan – akan ganjalan besar yang tidak pernah kutakutkan, aku selalu berpikiran bahwa hidup ini terlalu sayang untuk disia – siakan, berbagi, menikmati, berekspresi, ku tidak peduli kurenggangkan badan ini, kutarik sampai ke batas maksimal,

Kuterkaget – kaget, melihat wajah yang lain yang terkejut, dan berkata kapan istirahat itu pernah kau pikirkan, kau hebat sekali, dibalik pujian itu kuserasa ditampar, batas memang harus selalu direnggangkan. sekarang ku sadar bahwa, tubuh harus dihargai, mencoba bertatap diri, dan menghargai diri, mulai dari diri sendiri dulu, baru ke sesama. Yah mari kita mulai program 3 bulan kedepan, 65 kg J Mungkin kali ini kuterlalu berlebihan dalam merenggangkan batasan diri, 2 sayembara besar dan pekerjaan kantor yang semakin menantang, tubuh ini hanya 1, jika selama ini selalu kurenggangkan batasan itu, baru kali inilah sadar, bahwa kita memang punya batasan.

Seringkali kita tidak sadar akan arti ketika, ‘ketika’ itu ada di dalam dimensi waktu yang selalu mengukung langkah dan jejak tangan kita. ‘Ketika’ berbicara mengenai waktu, dimana segala sesuatu tidak akan pernah diperkirakan, detik dan menit tidak akan pernah cukup. seperti waktu jeda yang sebentar di antara kesibukan yang merintang.., waktu pun tidakkan pernah cukup. Pada akhirnya seperti kata si bayi kentang, pada waktu kita mendaki gunung, pertama kali kita akan merasakan keengganan dan keluhan dalam memulai, setelah semuanya selesai kenangan itu akan terasa begitu indah, mengerjakan sesuatu dan memikul tanggung jawab itu seperti membangun sebuah dam, setiap pekerjaan itu selesai dam akan bertambah besar, terkadang air dari beban tanggung jawab itu meluap keluar, seketika itulah terjadi letupan – letupan=p, apabila dam itu tidak mampu menampung air lagi, ia akan hancur, saat itulah kita masuk ke rumah sakit :))

kuingin memperbesar damku hingga ke batas horizon, sehingga mampu kunikmati setiap kenangan yang ada, nanti.

Louis I. Kahn Conversation with Students Princeton press publication

louis-kahn

In the realm of the incredible stands the marvel of the emergence of the column Out the wall grew the column. The wall did well for man. In its thickness and its strength, it protected him against destruction. But soon, the will to look out made man make a hole in the wall and the wall was very pained and said what are you doing to me?

I protected you I made you fell secure- and now you put a hole through me!” and man said “but I will look out, I see wonderful things and I want to look out. ‘And the wall still felt very sad. Later man didn’t just hack a hole through the wall but made a discerning opening, one trimmed with fine stone and he put a lintel over the opening and soon the wall felt pretty well The order o making wall brought about an order wall making which included the opening, then came the column which was an automatic kind of order making that which was opening and that which was not opening. A rhythm of openings was then decided by the wall itself which was the no longer wall, but a series of columns and openings. Such realizations come out of nothing in nature. They come out of a mysterious kind of sense that man has to express those wonders of the soul which demand expression

The reason for living is to express To express hate To express love To express integrity and ability.. All intangible things The mind is the soul. And the brain is the instrument from which we derive our singularity and from which we gather attitude. A story of Gogol could be a story of the mountain. The child and the serpent it could be chosen this way, nature doesn’t choose, it simply unravels its laws and everything is designed by the circumstantial interplay where man chooses art involves choice, and everything that man does, he does in art. In everything that nature makes Nature records how it was made In the rock is a record of the rock In man is a record of how he was made When we are conscious of this we have a sense of the laws of the universe. Some can reconstruct the laws of the universe from just knowing a blade of grass. Others have to learn many, many things before they can sense what is necessary to discover that order which is the universe. The inspiration to learn comes from the way we live; Through our conscious being we sense the role of nature that made us. Our institutions of learning stem from the inspiration to learn, which a sense of how we were made is. But the institutions of learning primarily have to do with expressing. Even the inspiration to live serves to learn to express. The institution of religion stems from the inspiration to question, which arises from how we were made.

I know no greater service an architect can make as a professional man than to sense that every building must serve an institution of man Whether the institution of government, Of home, of learning, Or of health, Or recreation

Sketch Lampu chakra

Thinking of the games

3 July 2006, Singapore

Suatu kalimat ‘ Belajar dari kekalahan, ..sama seperti permainan akan hidup …

Sketch Lampu chakra
Credit to : Liza Susanto, Budhi Hermawan

Ada menang ada juga kalah, mungkin saat2 mengalami kegagalan itulah justru saat yang terbaik, saat dimana kita bisa mensyukuri segalanya. sadar akan kesalahan. sama ketika kuterlempar dalam sinusoidal terbawah di tahun 2002, terimbas oleh cepatnya waktu kerjaan – kerjaan dan kegilaan yang mengalir di tingkat 3, akhirnya dapet nilai E untuk studio perancangan, akhirnya dikeplak juga buat sadar, syukur ada saat2 itu , lagi,   masa menjadi gila, belajar untuk menahan diri. Setiap kita ada di bawah itulah biasanya kita bisa mengingat node hidup kita… seperti kita mengingat bahwa setiap 20 m harus ada node, setiap 8 meter harus ada gab … 20 meter dan 8 meter itulah saat terbawah kita.

dibalik itu,

juga akhirnya kalah juga di negeri ini, raffles hospital, hp dan tempat tidur jadi temen akrab selama 2 hari ini, terkapar di atas dunlopillo, terkapar dan terlentang bebas. Seperti sebuah permainan. Terjerumus dalam sbuah pertandingan bergrafik sinusoidal. Secepat secepatnya kamu ke atas, kamu pasti akan kebawah juga.

Hanya bedanya saat ini ku sedang di titik atas, kutenggelam dalam euforia kegembiraan , Berpacu dalam ide – ide dan pembaharuan untuk lingkungan yang lebih baik. Dimulai dari sms mendadak, Dapet juga juara 2 dari sayembara lampu kota, cukupppppp buat menggemukkan diri =p.  Berkat liza dan budhi, satu dengan sukarela mewujudkan desain dengan intuisinya dari model yang rough, dan satu lagi untuk mewujudkan desain dari mulai desain presentasi urusan kecil2 sampai ke tangan panitia dengan selamat.Terima kasih ya

Thinking of the games we played.
Remembered the good old days.
Thinking of how we all cheated
That way, we never got defeated.

 

Marbles, cans, slippers, balls.
These things, we used them all.
Seldom watched TV, seldom sat down.
We ran and jumped, without a frown.

 

Now, we are supposed to know better.
In arrogance, we think we are greater.
I am reminding you how we can be wrong.
Because back then, we were always strong.

 

Now we are puny, dependent and weak.
Watching ourselves turn into freaks.
This is not a pretty sight to behold.
You must listen, you need to be told.

 

Let us go back to the games we played.
Let us recover from what has been frayed.
It is not too late for us to be free.
We will see the sun again, this I decree.

Games – Yar Bolucim

peace

the 13 th post

03 May 2006, Singapore

The World is moving so fast, here, beginning all the learning Process with quoting from a pen’s pall that always starts all of the paragraph by word ‘hmmpff..

peacePeace to the world

The Process to find the objectivity is already beginning. The fingers that always dance just stop to mesmerize. Right now, is it right path? And how to the life our life? Do we just have to start from the beginning? Until Now, I enjoy live, and questioning the entire question, now I think is the time to answer.

From this place I learn the best essential study that I haven’t got before. Just keep in mind that everything happened in your life will be your best thing you ever had. Prepare your sketch book. Learn again from beginning, after the very high speed in the last year. Completing the puzzle before the proficiency deadline occurs. Here I learn to do, have an initiative, get through the best life. Just today, with happily of finding euphoria, I have just found a new teacher, a place to learn for one year. We don’t have to start from beginning; we just go through the way and find the answer. I finally found that it’s very difficult to prevent the word ‘I, using word ‘I for the others, then everyone will smile to you.

In the loneliness in this new city, I enjoy the architecture steps that lay here, the light, the shadow, the form and the untaught of the dream architecture. Live your life lively, enjoy the life .I have got the inspiration from a book titled ‘1000 places to visit before you die’, I realize that the time is not long enough, to enjoy and learn, so ….what to do next

For this speed and speedy time, vanished with the cheering on 4 am, when the dream was starting to make its own ending title. The sound was from a little girl that always waked me up for one full week on the last week. The Girl is my niece, very cute. When I remember those sounds, its make me smile and breathe again facing the reality. That was really helpful; make my mind rest up although often hearted so loud in my ear.

The original poem (for the hispanoparlantes): Lo Fatal

How fortunate the tree that is scarcely aware,…

and more so the hard stone because it no longer feels,…

since there is no greater pain than the pain of living,…

nor deeper sorrow than conscious life. …

Being, and knowing nothing, and being without a true course,

and the fear of having been, and a future terror…

And the certain dread of being dead tomorrow, …

and suffering because of life, and because of shadow, and because of

what we don’t know and scarcely suspect, …

and the flesh that tempts with its fresh-picked bunches, …

and the tomb that awaits with its funeral bouquets,…

and not knowing where we are going,..

nor from where we have come….!

 

 

 


CB063407

menggenggam kesempatan

26 March 2006, Bandung, Indonesia

CB063407

Grab your opportunity

Kesempatan dan masalah itu seperti peruntungan,

ada kalanya sekeras – kerasnya kita berusaha,

kesempatan dan masalah tidak kunjung datang,

datang tiba – tiba, tidak menentu kapan, dimana, bagaimana

sama waktu hujan turun..

Ada yang meneduh..

ada yang jalan terus, [memang semuanya akan kembali dengan seberapa derasnya hujan itu turun]

kalo kita mau jalan..

kemudian [ada yang bilang wah tunggu saja sebentar lagi ajah mas, pasti hujannya akan reda]

kemudian ada yang membalas [siapa tau ujannya makin deres]

kuputuskan saat itu juga, tutup kuping, langsung gas, hadapi hujan.

mungkin ini juga peruntungan, namun yang paling utama tidak ada yang paling pasti, namanya juga hidup.

Hujan atau masalah atau peruntungan yah cuman bisa dibatasin sama waktu, kapan itu turun.

Mungkin ga ada yang namanya masalah tanpa melangkah maju

tapi ..

Mungkin juga ga ada yang namanya kesempatan tanpa melangkah maju

siapa yang tau ?

kita cuma bisa maju melangkah, menghadapi hidup. tidak ada yang namanya mungkin.

 

jam 3 siang di cigadung : dari duduk2 sore nunggu hujan tapi eeh ga jadi, musti masuk kantor..maju terus!!

smile073

satu Tahun

Jumat 030306, 12 bulan – Genap, Bandung, Indonesia

smile073

Dari pengalaman lama, ada sesuatu yang baru untuk dipelajari. Menanti untuk dimulai, dari pengalaman itu sudah berbuah kembali, namun untuk dipetik, masih harus terus berpikir apakah itu sudah pantas diambil. Ataukah memang aku masih harus terus memulai. Ada orang yang bilang ” begitu kita juga jatuh cinta pada sesuatu, justru kita
harus melepaskannya, hanya dengan sikap seperti itu kita akan terus meningkatkan diri. Seperti pada waktu masa mahasiswa dimana kegilaan beraktivitas masih menerpa, pada akhirnya waktu harus berjalan menyadarkan, tongkat estafet itu harus diberikan pada generasi berikutnya. Alasannya ada sesuatu yang lebih menantang untuk di hadapi bukan hanya dengan alasan masa – masanya sudah selesai.

kubersyukur bahwa kesadaran itu datang tepat pada waktunya.Kutetapkan hati bahwa masih terlalu dini untuk menetapkan pilihan hidup. Jalan ini ada di persimpangan. Aku percaya bahwa Inovasi diri dimulai dari diri dan ketetapan pilihan. ada sesuatu yang lebih menantang untuk di hadapi. Satu konsekuensi nya ” seperti Kata pak Tisna Sanjaya, jadilah pohon, tumbuh tidak tergesa – gesa. Tetap tumbuh dengan satu catatan : tidak tergesa – gesa. Filosofi pohon ini menarik untuk diterapkan.

Catatan dari arsitektur, ketika suatu waktu dimensi cahaya ke dalam bentuk dimulai dirasa, sesuatu yang baru ketika cahaya mulai masuk ke dalam bentuk, bayangan mulai menampakkan diri. Mulai ada proporsi, mulai ada bentuk, mulai ada kedalaman. Bayang – bayang yang mulai tercipta dari tekstur frontal di depan kita, mulai di bawah kita, mulai di atas kita. Mulai saling menimpa, menjadikan suatu alasan dari bentuk itu supaya ada.Pada akhirnya kita sendiri yang mereka bentuk itu sendiri supaya bayangan itu ada.Satu lagi kesalahan yang tidak akan terulang. Kesalahan mencipta bayangan yang tidak disengaja.

Dalam hati ku terus berharap
Semoga 3 Bulan ke depan,
Hidup akan semakin menantang
untuk dihadapi …

tentunya

untuk dipelajari

1 tahun di Urbane Indonesia.