130512 Jakarta, “Satu – satunya sumber energi yang tak terbatas adalah kasih” 

Ada cerita mengenai orang – orang di surga dan di neraka. Orang – orang tersebut hanya bisa makan melalui sendok sepanjang 1 meter kurang lebih, orang- orang di surga nampak bahagia, fisiknya segar bugar, lain halnya dengan orang – orang di neraka, kurus, kering kerontang. Ternyata, orang – orang di surga makan dengan saling menyuapi orang lain, namun orang – orang yang di neraka, makan untuk dirinya sendiri, ia tidak pernah puas, ia tidak bisa makan, karena sendok tersebut terlalu panjang. Romo berkata, kita bisa melihat orang dari pribadi – pribadinya. fisiknya, apakah ia menjadi terang bagi orang lain atau sebaliknya, membawa kegelapan tanpa batas, kehampaan.

Menyuapi orang lain adalah sebuah sikap, dan cara pandang dalam hidup. Hal ini akan membantu kita dalam menapaki cita dan cinta. Diri ini ingat suatu waktu berpacaran pertama kali dengan istri tercinta, Laurensia. Keinginan pertama adalah, mendengarkan, mengerti pribadinya, kemudian memberikan pengalaman yang terbaik, diri ini menjemput malam hari, diri ini ingat saya hanya punya waktu 2 minggu, sebelum bertolak kembali ke Inggris pada waktu itu. Diri ini putuskan, biarlah ini jadi minggu terbaik yang diri ini berikan untuk Laurensia. Dalam rentang sesaat,di tengah – tengah minggu diri ini beranjak ke Singapore , untuk sekedar berkunjung ke teman – teman karena janji lama untuk bertegur sapa dengan mereka, dan kemudian diri ini merasakan rasa kangen yang luar biasa dengan wanita terbaikku, dan rasa sayang itu mulai ada. Setiap tarikan garis memiliki titik pertamanya, sebuah titik, sama seperti cinta, ia juga dimulai dari titik, titik yang dimulai dari sendok sepanjang 1 meter.  Kemudian disinilah saya dengan wanita yang kucintai, Laurensia.

Teknik dalam mengolah ruang bisa dipelajari melalui belajar dan belajar untuk menempa diri, mengasah sensitifitas, seperti sendok sepanjang 1 meter yang kita berikan kepada orang lain, bagaimana kebolehan kita dipergunakan untuk membantu sesama. Puluhan ribu jam, dengan jam – jam yang panjang yang sudah dijalani sampai  umur 31 ini. Laurensia sendiri akan berulang tahun di bulan ini. Kami berdua, tidak punya keinginan macam – macam, hanya ingin hidup yang sederhana dan cukup. Sendok sepanjang 1 meter, adalah satu sudut pandang untuk melihat dari sisi orang lain.

Bian Poen menulis, ” dalam waktu singkat… kita…dapat merubah nilai – nilai… dimana kekuasaan diubah menjadi keadilan, kejayaan diubah menjadi kedamaian, kebanggaan diubah menjadi kerendahan hati.

Maukah kita melakukan hal itu, jika ya, maka arsitektur dapat menjadi rahmat.(Bian Poen). Dalam satu sudut pandang, mendengarkan orang lain bukan memperjuangkan ego kita, mendengarkan kata hati bukan emosi hati,  mendengarkan alam dengan segala keindahannya adalah satu rahmat yang luar biasa, kemudian kebahagiaan itu datang begitu saja. Inilah arsitektur yang lain, arsitektur kehidupan. Diri ini belajar untuk menjadi manusia dengan segala potensinya dan lebih – lebih keterbatasannya.

Diri ini merasa bahwa dalam hidup kita yang singkat ini, diri ini tidak pernah berpikir macam – macam, hanya menggunakan apa yang terbaik yang diri ini bisa, segala talenta, segala kekayaan, segala hubungan baik untuk menyebarkan kasih. Dan diri ini punya mimpi untuk itu.

Mulai dari hari ini mulailah dengan mengucapkan kata – kata aku cinta padamu, apabila di dalam hati tidak ada kasih, maka tidaklah mungkin ia akan berbuat baik dan menyebarkan kasih apapun sukunya, apapun bangsanya, tidak peduli ia sobat atau saudaramu. semua orang sama.

mencintailah atau hilang begitu saja.

x1