Kategori
blog

70 Tahun Pendidikan Arsitektur Indonesia – Suara dari Jiwa – Jiwa yang Tidak Kenal Lelah

Saya mengawali judul materi kali ini dengan sebuah judul “Melihat 70 tahun pendidikan arsitektur di Indonesia Suara dari jiwa – jiwa yang tidak kenal lelah.”Saya lulus di tahun 2005, mulai masuk ITB di tahun 2000. Pada waktu saya belajar arsitektur di tingkat dua, saya ingat oleh pak Eko Purwono diajak untuk mensketsa bangunan yang didesain oleh Henri Maclaine Pont, ada perasaan berbeda, yaitu penggunaan materialnya lokal, konstruksinya yang jujur, dan ada rekayasa teknik untuk mengaktualisasikan bentuk bentang lebar. Dari situ saya mulai jatuh cinta dengan arsitektur dan tidak pernah berpikir berhenti memikirkan arsitektur satu hari pun. Pertemuan dengan pak Eko Purwono dan Henri Maclaine Pont menjadi penting.

.
Pertemuan saya kemudian dengan Pak Baskoro Tedjo, Pak Ridwan Kamil dan dosen – dosen lain di tingkat setelahnya menjanjikan sebuah lompatan selanjutnya, saya ingat, beliau berkata

“kamu bisa, buat lebih baik lagi”

dan saya ingat itulah sebuah kekuatan yang mendorong membuat saya terpacu untuk ikut menyemangati teman – teman yang lebih muda. Saya ingat untuk tidak pernah lelah untuk lebih baik lagi. dan hal itulah yang mendasari judul kali ini, yang membuat saya membagikan kuesioner ke anak – anak muda dan semua orang lain testimonial mengenai pendidikan kita, hanya karena saya ingin tahu apa sih yang dipikirkan orang lain soal kondisi pendidikan kita sekarang. Teman saya yang berasal dari Serawak bernama Wendy Teo, memberikan masukan kepada saya untuk terus semangat pantang menyerah mewujudkan suatu hal yang kita anggap ideal. Ia berkata,

“If you want to stand for something and you’re someone, if you don’t stand for anything then you’re no one.”


Saya melihat posisi ini dari sudut pandang saya sebagai praktisi di praktik kami RAW Architecture ke dalam 3 buah posisi, yang pertama adalah saya melihat pentingnya wacana untuk mengkonstruksi hal yang lebih positif . Saya membayangkan imajinasi – imajinasi apa yang terjadi setelah pemaparan ini.

Materi dari 4 pemateri menyajikan 3 hal yang yaitu mengenai isu setting, ritual, dan memory. Pemaparan ini sebenarnya adalah sebuah reaksi utnuk melihat tegangan yang ada antara ITB sebagai pihak yang merayakan ulangtahun dan melihat bahwa desain berbasis inovasi dan ilmu pengetahuan ini menjadi penting dan kritis untuk masa kini. Sebelum pak Adhi Moersid meninggal saya menginterview pak Adhi, dan melihat bagaimana dahulu ketiadaan pengajar, bagamana pada saat itu mengejar ketertinggalan yang menjadikan pengajaran masuk ke ranah teknis. Hal tersebut menyisakan gap atau celah yang dibahas juga oleh Aswin Indraprastha bagaimana menutup gap tersebut. ada dua hal untuk melihat gap tersebut, gap sebagai sebuah hal yang mengkhawatirkan ataukah gap tersebut adalah sebuah berkat. Di dalam presentasi kedua, presentasi Donny Koerniawan memaparkan bagaimana aktor – aktor yang terlibat di keilmuan perlu untuk merendahkan hatinya untuk merajut antar bidang keilmuan, bahasa beliau adalah menyerahkan axioma keilmuannya untuk bersatu membentuk ilmu baru.
.
Presentasi ketiga dari Sonny Sutanto mungkin justru menampar lagi posisi mendesain, titik inovasi dari sudut pandang ekonomi, yakni ketika produksi sudah begitu murah dimana posisi ide, saya ingat di sesi omah library, Rizal Muslimin membahas hal ini dimana manusia perlu terus berinovasi untuk bisa mereposisi dirinya dari replikasi dan representasi komputasi dari bahasa mesin. Di presentasi ketiga Gusti Ngurah Antaryana menyajikan sebuah potensi akan sebuah hal yang sudah pernah ada, dan sekarang ekosistem yang merdeka ada di depan mata, lalu apa reaksi kita ? pertanyaan ini terus berkelindan di kepala saya ketika mendengarkan 4 pemaparan material ini. Saya pikir mungkin jalan keluarnya ada di ritual yang dijalankan, atau mudahnya eksekusi apa yang akan menjembatani tataran teoritis dan eksekusi atau metode yang dilakukan di dunia nyata yang tidak abstrak. Sebagai contoh di dalam pandemi ini justru kami di studio menjalankan praktik melalui gambar tangan, karena tatarannya adalah konsepsi, perspektif juga dilakukan dengan gambar tangan lalu sampai ada komitmen baru ditransfer ke tools, jadi ada strategi yang perlu dilakukan.
.

Saya teringat dengan sebuah provokasi yang digagas oleh Marina Abramovic. Selama pertunjukan Abramovic dengan sengaja menjadi pasif, mengubah dirinya menjadi benda hidup demi seni. Dia memutuskan bahwa dia akan berdiri dengan tenang di galeri selama enam jam, di mana penonton diundang untuk menggunakan salah satu dari 72 objek di atas meja di ruangan itu untuk berinteraksi dengannya. Benda-benda itu berkisar dari bulu, kue coklat, minyak zaitun dan mawar, hingga pisau, gunting, pistol, beberapa peluru dan rantai. Instruksi di atas tabel berbunyi: Kinerja. Akulah objeknya. Selama periode ini saya bertanggung jawab penuh. Durasi: 6 jam. Selama enam jam, dia menyerahkan hidup dan tubuhnya sepenuhnya ke tangan orang asing, mengubah dirinya menjadi objek untuk digunakan, seperti yang diinginkan. Selama waktu ini dia setuju untuk tetap pasif, dan tidak responsif sampai eksperimen selesai. Abramovic memutuskan bahwa dia akan mengamati dengan tenang dan lemas. Untuk penonton, tidak ada konsekuensi langsung. Menurutmu, apa yang terjadi ?

Ia berakhir di dalam kondisi setengah telanjang, terluka.

Hal ini sebenarnya memunculkan tingkatan interpretasi selanjutnya dari sebuah pemikiran yang tidak hanya cantik, saya berintepretasi bahwa pemikiran yang menutup gab tersebut membutuhkan sebuah pemikiran yang tidak hanya ekspresif dan perlu untuk menggelontorkan wacana yang diskursif, dari sini saya pikir wacana untuk bertindak aktif dan tidak pasif akan penting, bagaimana yang pasif akan ditelanjangi, tidak berdaya, dan menunjukkan derasnya informasi dan kemajuan memungkinkan terjadinya ketelanjangan tubuh kita.

Di dalam bertindak aktif ada 3 hal yang bisa dipikirkan seperti, yang pertama adalah Setting yang bisa didefinisikan sebagai Kondisi sebelum wacana tersebut digulirkan yang melibatkan proses pembacaan relevansi terhadap problematika yang terjadi (Konteks)
Ritual yang bisa didefinisikan sebagai tindakan – tindakan untuk mengaktualisasikan wacana tersebut yang melibatkan proses aksi – reaksi (praksis). Di dalam proses ini sebenarnya terlibat lebih jauh ranah – ranah keilmuan. Memory yang bisa didefinisikan sebagai Hasil dari Wacana yang sudah menjadi milik publik yang ditandai akan pergeseran/pendalaman/penolakan akibat proses dari aksi reaksi yang muncul dengan repetitif. IAI sebagai asosiasi profesi pun dibentuk dengan sebuah setting, dengan melihat konteks apa yang terjadi disaat itu , dimana di tahun 1960 an ada instruksi dari pemerintah untuk membentuk gabungan perusahaan untuk menunaikan tugas membangun. Hal ini kemudian dilanjutkan dengan konferensi seperti mungkin yang sedang kita lakukan sekarang, dan disitulah ada sebuah wacana ketidakpuasan, bahwa kedudukan perencanaan dan perancangan tidaklah sama dan tidak juga setara dengan pelaksanaan, ada harga diri yang dipertaruhkan yang berbeda dengan bisnis komersial yan gkeberhasilannya diukur dengan besarnya laba. Lalu pada waktu itu Ir. Soehartono susilo dan Friederich Silaban meneruskan pemikiran yang radikal (ketidakpuasan) tersebut dengan menggalang para arsitek muda dan mengadakan pertemuan – pertemuan lanjutan, di tahun 1959 dihadiri oleh 21 orang, dan selanjutnya di jalan wastukancana di rumah Lim Bwan Tjie, dan akhirnya di tahun 1959 tersebut muncullah Ikatan Arsitek Indonesia.
.
Hal ini adalah hasil dari sebuah kegelisahan, muncul dari yang muda, ada integrasi dari sistem dan di luar sistem, dan mereka memiliki energi / sumberdaya untuk berpikir lebih dari kebutuhan sehari – hari.
.
Salah satu konteks yang saya rasakan adalah bagaimana akses terhadap industri software berlisensi misal, kalau menggunakan gambar tangan itu masih gratis, namun apabila melihat dokumen autocad harga 1521 USD, sketchup 649 USD, 3dsmax 1620 USD, REvit 2425USD, Rhino 995 USD ) total satu tahun pertama dibutuhkan kira – kira 110 juta. sedangkan untuk standarisasi gaji di Indonesia, dengan 4,5 -6 jt misal untuk anak – anak yang baru lulus kira – kira sisa gaji hanya 34 juta, setelah dipotong dengan kebutuhan sehari hari. Apabila misal gaji sekitar 10 juta, baru bisa mengakses setelah 2 tahun menabung, dan setelah beli software tidak ada uang tabungan lagi. Lalu pertanyaannya bagaimana kita menjembatani hal ini. Saya ingat china memiliki software cadnya sendiri, dan pertanyaannya bagaimana hal ini bisa dibantu utuk dijembatani ? inilah konteks kita yang menjadi setting, lalu apa wacana yang perlu digelontorkan ? mungkin share resources menjadi penting, pembuatan platform yang menembus batas.
Jadi apabila kita sudah merasakan sebuah setting dan wacana, lalu apa ritualnya ? mungkin yang penting adalah kecepatan yang menjadi kuncinya, untk merangkul elemen yang tidak hanya ceklist, berbicara antar relasi, antar wilayah, merangkum ulang relasi – relasi yang bhineka. Acara ini adalah permulaan. titik yang penting adalah merangkul yang muda, integrasi sistem, gelisah, dan memiliki energi lebih.

.
Saya berkaca ke lingkungan praktik dan perpustakaan kecil kami di omah library. Kami di omah library, saya berusaha sekeras mungkin untuk membentuk iklim ekosistem literasi yang baik dengan membantu penulis – penulis, mempermudah jalan, menyambung rasa antar generasi, antar librarian, pemateri, antar peserta, dari situ diharapkan bisa ada sebuah ekosistem yang mengayomi, kolaborasi, keguyuban, kerendahan hati untuk berbagi. Saya pikir yang penting adalah bagaimana teori, wacana, kritisme yang terjadi di dalam diskusi kita kali ini bisa berbuah inspirasi yang akan mewarnai lingkup praktik ataupun akademik yang mempengaruhi suasana belajar – mengajar untuk membentuk pribadi yang rendah hati dan mau selalu belajar membentuk budaya ajar mengajar yang diskursif, sebuah proses yang membuka jalan.

Perjalanan Ki Ageng Suryomentaram bisa diibaratkan sebagai analogi perjalanan Pendidikan arsitektur di Indonesia. Kondisi perkuliahan arsitektur yang hanya fokus pada kemampuan teknis seperti penanaman tugas dan tanggung jawab, etika berprofesi, estetika, budaya, dan sosial, membuat arsitek akan mengalami titik dimana ia akan mengalami kegelisahan mendalam terhadap jiwanya. Keprofesian ini akan menjadi membosankan karena berjarak dengan realitas sendiri dan menjadi pengetahuan normatif saja.

Saya berbicara mengenai refleksi di acara diskusi pendidikan arsitektur.
menit 2.58 – 3.08
Kategori
blog

Serendipity after Sketches and Regrets

Saya ingat dulu pertama mengadakan acara di taman samping rumah orang tua saya, ada 60 orang, saya ingat mereka mempersiapkan acara dengan riang gembira hanya ingin mendengar satu kuliah dari Mas Barani. Beberapa saat kemudian bersama David Hutama, kami menggagas kuliah seri Omah pertama, saya mengusulkan ide How to Think Like an Architect. Acara pertama lancar, kedua lancar, ketiga lancar, keempat hadir hanya 10 orang, acara kelima sukses hadir hanya 3 orang, bahkan saya perlu meminta staff saya di studio untuk datang. Hal ini kontras dengan 5 tahun kemudian acara webinar yang bisa sampai mengundang ratusan orang. Pertanyaannya, apakah meledaknya partisipan itu yang dicari ? mungkin itu barometernya. Seperti ketika orang bertanya, berapa jumlah orang di studio kamu ? yang sebenarnya untuk mengukur barometer pendapatan, kapabilitas studio juga. Satu saat saya disadarkan oleh paman saya.

“Terus gali apa yang kamu cari, passion, keluarga, ilmu dan jangan terlena dengan harta, publikasi, ataupun tahta.”

Meskipun terlihat riuh rendah, dunia ini sepi kawanku, bagaimana bisa berkontemplasi begitu dunia begitu riuh. Mata – mata saling melihat, kuping – kuping terus mendengar. Inilah Lawang Kala (pintu waktu) yang baru, kita sudah memasuki jaman baru. Dan herannya saya baru sadar, kok ya baru sadar. Untung ada paman saya mengingatkan,

Saya baru menyadari saya rindu akan kehangatan kawan – kawan yang dulu saya rasakan ketika menghabiskan waktu di Goldiers Green, Hampsted Heath dan juga saat – saat yang berkesan adalah saat saya dan Laurensia berkunjung ke negara Finlandia salah satu negara yang memiliiki ekosistem desain mengandalkan bermain – main di dalam fase mendidik anak, hal ini di dasarkan common sense bahwa ada relasi yang patut untuk dijaga, relasi akan mimpi.

Di dalam 5000 teman maksimal yang ada di Facebook, berapa orang teman kamu sesungguhnya ? dan beribu atau berjuta orang yang mengikutimu di Instagram, berapa yang benar – benar perhatian kepadamu. Saya pikir salah satu tujuannya adalah sisi bisnis, atau memperkenalkan diri untuk menggapai eksistensi. Selain ada juga yang bertujuan untuk bersilahturahmi dengan sahabat lama, tertawa, bersenda gurau dimana lingkaran masih kecil. Di saat – saat ini, saya mempertanyakan, apa masih berguna presensi social media kita ? Jadi seberapa mau saya mengubah hidup saya ? Baru hari ini saya bertemu dengan Airin Efferin dan Setiadi Sopandi, dan mereka bercerita tentang proses pembuatan buku Sketches and Regrets. Saya melihat kekuatan proses, memberi dan menerima, tanpa melupakan jejak jiwa. Menariknya hal ini yang saya lihat langka, menjadi personal sekaligus professional. Cerita Airin dan Setiadi Sopandi adalah cerita mengenai sepatu orang lain, dimensi efek arsitektur terhadap kehidupan orang lain, bukan hanya ajang promosi diri. Di karya tulisnya ada kejujuran yang menohok belakang kepala saya untuk bisa terus berefleksi bahwa relasi menjadi penting.

btw, ini IG Live pertama Omah Library yang sebenarnya masih pemula.
Photo by Mathias P.R. Reding on Pexels.com

Setelah itu saya memposting dua postingan di facebook satu untuk berterima kasih akan acara Design United dengan beberapa kawan lain termasuk Anna Herringer, Wendy Teo dan lainnya, setelah itu ada lagi postingan untuk Airin dan Cung. Setelah itu ada permintaan memasukkan email dan password, saya refresh screen facebook saya error, email saya berubah, password saya berubah, beberapa permintaan teman terkirim untuk orang – orang yang saya tidak ketahui, saya mengirim email ke facebook untuk mendeaktifasi acc facebook saya. Anggap saja ini jalan semesta, ha ha ha, toh sudah lama saya malas untuk mengupdate facebook, sambil nungguin recovery, ada – ada aja, lucu sekali dunia ini.

.

Miracle sedang main game yang dikirimkan oleh Miss Atika di sekolah.

HP saya ambil dan saya memanggil sahabat lama saya,

“Bro, apa kabar?”

di satu sisi ia terdengar setengah tertawa dan saya pun tertawa kembali.

“eh kampret katanya, lo kemana aja”

Disitulah kita tertawa tergelak – gelak sambil bernostalgia, atau tepatnya bernostalgila, sambil di sebelah saya, anak saya Miraclerich yang berusia 5 tahun sedang membuka game Mobile Legend dan terdengarlah suara

“Enemy Defeated !”

“anak umur 5 tahun ini ^^ iso2ne”

Kategori
lecture

Design United’s first Design Conference

We are uber-excited to be hosting Design United’s first Design Conference on the 15th of November with talented designers & artists.
We will explore examples of small yet meaningful design efforts and their potential for lasting impact.

We are joined by Ar. Anna Heringer of Anna Heringer Architecture-Germany, Ar. Jan Glasmeier of Simple Architecture-Thailand, Ar. Khondaker Hasibul Kabir of Co.Creation.Architects-Bangladesh, Ar. Wendy Teo of Borneo Art Collective-Malaysia, Ar. Goy Zhenru of Goy Architects-Singapore, Ar. Realrich Sjarief of RAW Architecture-Indonesia, Compartment S4-India along with amazing designers, Dhiraj Manandhar of Manankaala Design Studio-Nepal and Ayaka Yamashita of
EDAYA-Philippine.

The session is moderated by young architects and architecture students: Vaissnavi Shukl, Tejaswini Krishna, Huzefah Haroon, Amrit Phull, Vrinda Kanvinde, Ayush Gangwal, Chinar Balsaraf and Priyanka Shelke.

When: 9AM onwards, Saturday, 15 November 2020
Registration: http://www.clayworks.space/webinars

#designlovers#designconversation#designinspiration#designunited#claymunity#clayworksspaces#clayworkswebinar#createatclayworks#workspaceasanexperience

Kategori
lecture

Reflection of the City

1.20.00 – Photography for Architecture or Architecture for Photography ?

Di dalam acara bincang – bincang yang diadakan oleh Jayaboard ini, dengan judul “Reflection of the City”. Saya akan melanjutkan pembahasan fotografi dan desain dari dua kawan saya @mariowibowo_ dan @ryansalim mengenai Arsitektur ke dalam dualisme keadaan yaitu representasi, provokasi di dalam pembentukan sebuah wacana reflektif.
.
Seperti misalnya pandemik ini di arsitektur ini mencerminkan situasi yang sangat kontras, di satu pihak adalah realitas bencana dan di satu pihak membuka celah untuk berinovasi. Keadaan – keadaan ini kemudian dibingkai oleh sang pembawa cerita, salah satunya fotografer, arsitek, dan desainer kemudian membuat karyanya menjadi sebuah jalan cerita yang maha dahsyat soal kemungkinan positif di masa depan. Hal ini ditujukan untuk membingkai realitas pandemi yang ada, ataupun malah timbul fenomena untuk menutup realitas yang ada sebagai sebuah utopia yang kemudian bisa membuat momen untuk kita merefleksikan diri mengenai kekuatan sebuah citra.
.
Photography dan arsitektur merupakan dua dunia yang saling berkaitan. Arsitektur memiliki unsur seni dalam proses perancangan sebuah desain bangunan, dimana konsep bangunan tersebut akan menghasilkan nilai estetika tersendiri dalam setiap komponen desainnya. Sama hal-nya dengan dunia Photography, memadukan teknis pencahayaan dengan sebuah wujud fisik mengandung nilai seni tersendiri bagi penikmatnya. Jayaboard memberikan wadah untuk membentuk komunitas inspiratif bagi penikmat dunia arsitektur maupun photography dalam webinar Connecting Minds, Explore The Possibilities: Reflection of The City.

Jayaboard berkolaborasi dengan Mario Wibowo (Mario Wibowo Photography), Ryan Salim (Erreluce Lighting Consultant) dan Realrich Sjarief (RAW Architecture) akan membahas tips & trick hingga trend dalam dunia Architecture Photography dan pentingnya Photography dalam dunia arsitektur.
.
Rabu, 11 November 2020, Pk. 19.00 WIB (Zoom Webinar)
.
Lihat lanjutnya di ac @jayaboard_ig daftar di : http://bit.ly/connexrcsm

Kategori
juror

International Student Competition in ARchitectural Design and Construction of Bamboo 2020

Thank you Gede Mahaputra untuk inisiasi dan undangannya, juga untuk seluruh panitia dari Universitas Warmadewa.

Dua sayembara untuk mengakhiri tahun 2020 dari Prodi Arsitektur Universitas Warmadewa dan HMA Sanatanadharma. Himpunan Mahasiswa, menyelenggarakan sayembara nasional dengan tema Pasar Tradisional di masa dan setelah pandemi Covid-19. Pemenang akan mendapatkan reward dan piagam penghargaan Sedangkan dari Prodi, bekerjasama dengan Nansha Birdpark dan South China University, menyelenggarakan kompetisi internasional desain dan konstruksi bambu. Pemenang akan mendapatkan hadiah, piagam serta 2 tim pemenang berkesempatan untuk mewujudkan karyanya di Nansha Birdpark, China. Silakan melihat poster untuk detail, pendaftaran, serta pemasukan karya.

Kategori
lecture

The Sketch of Your Client Algorithm

Arsitek dan klien dimulai dari sebuah hubungan timbal balik. Lalu bagaimana memulai sebuah hubungan jangka panjang dengan klien. Apa saja yang harus dilakukan, judul yang dipilih oleh panitia cukup menantang. Pertanyaan – pertanyaan seperti ada ngga sih karakter yang membentui satu klien ke klien satu lagi, tipe perusahaan misal, atau klien personal, atau bangunan publik ? Apa saja yang perlu dilakukan, apa yang perlu dijaga, dan apa yang perlu dihindari. Perhitungan atau formula – formula apa saja yang bisa dijadikan parameter yang bisa disepakati. Mungkin dari sinilah kecocokan akan bisa terjalin dan arsitekturnya pun bisa unik dan bisa saling “memberi” juga “menerima” di dalam algoritma yang kontributif.
.
Ini saya bantuin panitia, semoga sukses ya panitia acaranya. 🙏
.
Seminar Arsitektur “The Sketch of Your Client Algorithm”
🗓 4 November 2020, 17:00 – 18:30 WIB
Via Zoom
.
👉🏻 Pesan E-TICKET DISINI: loket.com/event/seminar-arsitektur
Atau klik link di bio kami!
FREE ADMISSION
TIKET TERBATAS!
Terbuka untuk umum
Instagram : @im.a.go
.
#UMN #Pameran #Virtual #FSD #DKV #VBD #ID #Branding #Interaction #Film #Animasi #Arsitektur #RealrichSjarief #Seminar #Talkshow #Screening #BedahKarya #tugasakhir

Kategori
blog

70 tahun Pendidikan Arsitektur di Indonesia

Terima kasih untuk SAPPK ITB yang sudah mengundang saya untuk menjadi penanggap di dalam acara “70 tahun Pendidikan Arsitektur di Indonesia”

Terima kasih untuk SAPPK ITB yang sudah mengundang saya untuk menjadi penanggap di dalam acara “70 tahun Pendidikan Arsitektur di Indonesia”

Dalam rangkaian acara Peringatan 70 tahun Pendidikan Arsitektur di Indonesia, Program Studi Arsitektur, SAPPK menyelenggarakan acara diskusi panel bertajuk: Menuju Desain Berbasis Pengetahuan dan Inovasi (Towards Knowledge-based and Innovative Design) secara daring pada Sabtu, 31 Oktober 2020.

Acara ini diikuti oleh sekitar 150 peserta yang berasal dari kalangan akademisi, profesional, dan mahasiswa dan menampilkan empat pembicara dan empat penanggap yakni:

Para Pembicara:

  1. Aswin Indraprastha, PhD dari Program Studi Arsitektur ITB
  2. Eng Moch. Donny Koerniawan dari Program Studi Arsitektur ITB
  3. Sonny Sutanto, IAI dari profesional
  4. I Gusti Ngurah Antaryama dari Program Studi Arsitektur ITS

Para Penanggap:

  1. Harris Kuncoro dari InPlace Design, USA
  2. Hari Sungkari dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
  3. Realrich Sjarief dari RAW Architecture
  4. Sammaria Simanjuntak, sutradara film.

Moderator: Dr.- Ing Hmasari Hanan, MAE.

Acara ini membuka kembali diskusi tentang disrupsi teknologi dalam proses desain arsitektur dan pendidikan arsitektur, kompetensi lulusan arsitektur dan peluang-peluang baru sebagai akibat perkembangan industri 4.0.

Link acara 70 tahun pendidikan arsitektur di Indonesia: https://www.70thpai.com