Kategori
blog

Filosofi Donat di tahun 39

“Yang, besok ulang tahun mau dibuatin apa ?” Laurensia bertanya, 

Saya tidak punya ekspektasi apa – apa untuk ulang tahun kali ini. Saya menyadari sudah diberikan begitu banyak berkat dari Tuhan di masa krisis karena pandemi ini dan saya selalu berdoa supaya kawan – kawan dilindungi selalu kesehatannya dan jangan lupa memakai masker. Berkat – berkat di masa pandemi ini mewujud pada kenangan – kenangan yang membekas berupa kedekatan kami sekeluarga. Seperti ketika Laurensia mempersiapkan donat pada hari ini. Kemarin ia bercerita bahwa Miracle ingin makan donat dan ia ingin mengajarkan Acle (panggilan sayang miracle) membuat donat bersama, hal yang sederhana.

Titik kali ini adalah titik ulang tahun yang ke tiga puluh sembilan, dan Laurensia sudah mempersiapkan bahan – bahan tepung, telur, dan topping, seperti mendesain proses persiapan ini yang paling penting yaitu mempersiapkan adonan, dan menikmati momen proses pembuatannya. [1]

Kemarin Laurensia bercerita bahwa Miracle ingin makan donat dan ia ingin mengajarkan Acle (panggilan sayang miracle) membuat donat. Donat memiliki bentuk seperti lingkaran, garis yang memutar saling menjaga dan menerus.

“Papa, jangan lihat kesini, we are making surprise for you, close your eyes.”

kata Acle sambil membawa bantal sambil menutupi mata saya. Saat – saat sederhana seperti ini membuat saya bersyukur, dengan bagaimana Acle dan Laurensia ingin membuat sesuatu untuk saya, perhatian – perhatian kecil seperti ini adalah hadiah yang tidak ternilai untuk apa yang saya dapatkan di hari ulang tahun ini. Salah satu hal yang tidak ternilai adalah keluarga termasuk Acle, Heaven, dan Laurensia di dalamnya. Kami sibuk mengisi hari – hari dengan rutinitas pagi dimulai dengan doa, makan pagi bersama, bekerja, makan siang bersama, kerja/istirahat siang, makan malam dan istirahat. Hal yang kami tanamkan ke keluarga adalah respek untuk orang – orang di sekitar kami. Respek menjadi penting, dimulai respek kepada diri sendiri, sebuah bentuk self criticism.

Dulu ayah saya di waktu memimpin konstruksi, memperkenalkan proses slametan, sebuah proses syukur yang ada di dalam akhir sebuah proses yang kritikal, kalau di dalam pembangunan rumah hal ini dilakukan sebelum bangunan dibangun, dan sesudah proses tutup atap. Hal ini adalah sebuah proses yang wajar dan manusiawi. [2]

Prinsip slamet ini menjadi relevan di masa Covid dimana, sebagai manusia kita harus menahan diri. Ada beberapa cerita lucu tetapi juga sedih, juga mengenai mandor – mandor di sekitar saya yang kehilangan orang – orang terbaiknya karena flow proyek terputus karena COVID. Mereka setengah menggerutu, orang saya diambil orang pak, ada proyek baru disana. Sudah capai – capai melatih lalu mereka pergi. Kira – kira ada dua kelompok di tim kami yang kehilangan anak didik mereka. Terkadang mereka menggerutu, saya terus berpikir kenapa orang – orang terbaik mereka pergi ya ? apakah ada faktor kepemimpinan, ataukah tantangan, selain faktor ekonomi? Saya memiliki hipotesa – hipotesa soal ini. Hal ini wajar terjadi dimana – mana, dan wajar setiap orang ingin tumbuh dan berkembang [3]

Besoknya saya mengajak bicara mereka soal ketiga hal ini, dan hal ini juga saya alami di studio bahwa untuk maju setiap lingkungan membutuhkan evaluasi dan regenerasi. Seperti pohon besar yang tumbuh yang membutuhkan regenerasi, memang perlu dipotong ataupun terpotong karena keadaan supaya pohon – pohon kecil di sekitarnya bisa tumbuh. Dengan memaklumi hal ini, melihat apa yang terjadi di sekitar pengrajin memang ada dua tipe pembelajar bangunan, tipe yang pertama adalah tipe pengrajin, disini sifat patronisasinya dominan yang diperlihatkan, dengan keahlian – keahlian yang melibatkan teknik bereksperimen dan memiliki struktur seperti pohon besar. Tipe kedua adalah tipe pekerja yang melibatkan teknik yang sudah ada / repetitif mengikuti apa yang menjadi standar baku, di kelompok ini patronisasinya bisa jadi berubah menjadi sebuah platform terbuka berbentuk rhizoma dimana ada transparansi, dengan syarat yang masuk di dalam lingkungan kerja mereka adalah orang – orang yang memang sudah ahli. Keduanya memiliki perbedaan cara bekerja, berkordinasi, transfer ilmu, dan membagi ekonomi. Meskipun demikian ada banyak hal yang menjadi rahasia masing – masing, biarlah itu menjadi urusan kantong sendiri – sendiri.

Seperti satu saat Abidin Kusno yang menulis buku Melawan Waktu memulai dengan tulisan yang merupakan suatu bentuk melawan waktu itu sendiri, Perlawanan itu bisa diibaratkan melalukan negosiasi waktu, dan bagaimana beliau mengisi kehidupan yang sementara ini dengan mencoba merubah keadaan dengan diskursus arsitektural. Bahwa perubahan itu wajar, hal ini adalah sebuah proses dari titik, menuju garis.

Perlawanan waktu ini bisa diibaratkan juga seperti orang yang melalui perjalanan menghitung mundur, dan identik juga dengan proses kelahiran – kematian, kejadian ulang tahun, setiap tahun berulang – ulang, dengan rambut yang semakin memutih, teman – teman yang datang, tinggal, pergi silih berganti, keluarga besar dan anak yang semakin besar. Ulang berulang adalah sebuah rutinitas yang menjadi kebiasaan dan karakter, sederhananya proses hidup, apa yang kamu ulangi itulah karaktermu. Proses pembentukan karakter ini akan membentuk Gift Society. Sebuah lingkaran yang saling memberi yang dimulai dari diri sendiri, self criticism, respek kepada orang lain, dan mengulang – ngulangnya sehingga menjadi karakter yang dimulai dari lingkaran keluarga dan diri sendiri.

Hal – hal inilah yang membuat kadang saya membanting setir, kanan – kiri, gas dan rem, keluar-masuk di dalam menulis buku, keluar-masuk ke penelitian, keluar-masuk dari proses disertasi, keluar-masuk ke kelompok praktik, keluar-masuk dari kelompok belajar, ataupun apapun yang terkait hubungan antar-personal, bahwa pada dasarnya mempertanyakan apa sih yang layak untuk dilakukan untuk waktu yang sedemikian terbatasnya.

“Papa I want to be like you”… Miracle menghampiri saya satu saat ketika saya sedang bekerja di ruang kerja yang berbatasan dengan kamar tidur kami. Untuk masuk ke ruang kerja itu harus melewati pintu putar berupa lemari yang bisa berputar dimana ia mengintip dibalik sela – sela pintu putar tersebut.

“Hei, kamu ngapain ?” kata saya, “come here” saya membiasakan berbicara dua bahasa dengan Miracle. Saya memangku dia untuk memperlihatkan apa yang sedang saya kerjakan, dan berbagi bagaimana memencet tombol keyboard ataupun berinteraksi dengan layar sentuh. Saya melanjutkan “You will be better than papa, we are proud of you.” Dari lingkaran terkecil kami berupa donut, saya menarik nafas semoga semesta memberkati kita semua, dan memberikan rasa slamet, sehingga kehidupan kita, saya doakan menjadi lebih bersahaja, menenangkan, damai dan tenteram.

Di usia ke 39 ini, saya belajar untuk lebih memberi kepada orang lain, tidak untuk dibalas kebaikannya namun karena memang sudah sepantasnya kita memberi. Berbuat tidak untuk dilihat, bernyanyi tidak untuk didengar, berdansa tanpa mengharap tepuk tangan, bertindak tanpa mengharap hadiah.

“Papa please don’t work today, where are you going ?” Miracle mengintip dibalik pintu, karena melihat saya turun tangga.

“Sebentar I will come back in a few minutes.” (ada beberapa tukang sudah menunggu, pak ini detailnya bagaimana.) “Is there someone below ?” Miracle bertanya, saya menjawab, “sebentar ya, sabar few minutes.” Miracle berteriak, “Semangat pa”

Hadiah dari Tuhan untuk saya di umur 39 ini, Laurensia, Miracle, Heaven yang memberikan filosofi donat. Seperti Filosofi Donat bahwa setiap orang memiliki keteduhan di lingkaran terkecilnya. Tidak ada yang manusia yang ditakdirkan menjadi titik yang sendiri. Ada lingkaran membentuk donat yang saling merajut, dari titik, kemudian menjadi garis untuk menjadi lingkaran yang saling menjaga.

Kembali ke pertanyaan pertama,”Yang, besok ulang tahun mau dibuatin apa ?” Laurensia bertanya.

Saya menjawab “Donat ^^”

Terima kasih Tuhan, Terima kasih Tuhan, Terima kasih Tuhan untuk memberikan Laurensia, Miracle, dan Heaven yang sudah membentuk donat keluarga kecil kami juga beserta kawan – kawan tempat kami berkarya bersama. Tuhan memberkati.

[1] Proses persiapan adalah proses pertama di dalam studi mengenai kreativitas, hal ini digagas oleh Wallace di dalam buku Art of Thought dengan tahapan preparation, incubation, illumination, verification.

[2] Inspirasi : Satu kawan saya mengingatkan ketika kita berdiskusi soal arsitektur untuk menghargai soal kekuatan berproses dan jalan masih panjang, “Terkadang kita lupa untuk bersyukur dibalik seluruh proses yang ada.” Saya teringat juga suatu waktu, Wastumiruda (saya menyebutnya Kungkang pemabuk yang bijaksana) atau mas Anas yang bercerita tentang hakikat respek terhadap diri sendiri ini. “KAS ( Ki Ageng Suryomentaram) itu seperti Bima dlm cerita Dewa Ruci…Bima yg benar2 ada…Ya dia mencari kebenaran gk ke mana2. Ya dari dirinya sendiri. Betul. Kan ceritanya perjalanan jauh, tp itu hanya kiasan. Justru diri sendiri ini yg sebenarnya sangat jauh. Krn orang sering lupa, sibuk meniru orang lain. Jika kamu menghadap ke utara, apa yg paling jauh di utara sana ? Ya punggungmu, karena bumi ini bulat. Lawan terkuat sebetulnya ya diri sendiri. Kalo dari sloki (tahap kemabukkan) ya sloki ke 10: dasa buta (nama tingkatan kemabukkan terakhir) … mati. Balik nol lagi. Maka di Jawa yg utama adalah Slamet (selamat), bukan bener (benar).

[3] lihat cuplikan youtube untuk melihat relasi craftmen dimana hal ini sedang distudi oleh Yasmin Aryani, nanti akan saya bagikan cerita proses kami bertemu Yasmin lebih lanjut. Link youtube : https://www.youtube.com/watch?v=cySldJBIlqA&t=52s, hal ini dibahas di dalam postingan https://real-rich.org/2020/08/22/hidup-bersama-sama-arsitektur-yang-rahayu/

[4] foto – foto diambil oleh Jeffri Hardianto (Pepen) dari House of Photographers.

lingkaran contoh lingkaran donat di bidang musik yang dibentuk oleh Gita Gutawa dan Erwin Gutawa yang menaruh cita di tangan anak – anak muda Indonesia.