Kategori
blog

Phantom of Architecture

Bu Titin mengkontak saya untuk mengisi kuliah di Universitas Tarumanagara, bagian sejarah dan pemugaran. Saya menggunakan literasi untuk mengkontekstualkan apa yang sedang saya baca, mengerti dan berguna untuk praktik dan refleksi. Sejarah berguna sebagai kompas dan referensi kreatifitas di dalam berkarya.

Saya menulis prolog di bawah untuk acara kuliah tersebut.

“Architecture is sometimes interpreted as buildings or space in between, or body of theory. It’s a phantom, an unseen object of something apparent to sense but with no substantial existence. The Phantom actually greets and haunts us as traditions and technology. The sharing in here will focus on the paradoxes that creates bricolages of Architecture Fantasy in post modern era. It’s a way to use history for re-contextualizing the practice to be grounded or being radical to open unlimited possibilities of ideas.”

Saya terinspirasi dari bayangan yang dibentuk oleh matahari. Setiap orang di dalam melangkah akan menghasilkan jejak dan bayangan. Sejarah sendiri adalah bayang – bayang yang terus ada ketika melangkah. seakang – akan kita semua di dalam hidup ada di dalam perjalanan untuk menemukan matahari kita sendiri, berteduh dari bayang – bayang pepohonan, ataupun melindungi anak – anak kita dengan bayang – bayang. Saya akan memulai kuliah dengan kejadian – kejadian traumatis yang mempengaruhi arsitektur, bagaimana menarik diri untuk merekonsiliasikan trauma tersebut menjadikan lompatan untuk majunya peradaban, dan hal itu ditandai oleh arsitektur. Dibalik seluruh bayangan yang diciptakan dari trauma masa lalu, potensi untuk membuka kemungkinan baru masih terbentang dan hal tersebut bisa dimulai dari satu hal yang sederhana yaitu jujur kepada diri sendiri.

Phantom of Architecture

15 April 14:00, on thursday.

Kategori
research

Arsitektur Berkelanjutan

Wacana arsitektur berkelanjutan menjadi penting mengingat semakin tingginya degradasi lingkungan yang terjadi sebagai akibat dari manusia. Upaya-upaya meminimalkan dampak lingkungan ini disadari oleh banyak arsitek, yang dirumuskan sebagai kesadaran bersama-sama yang menjadi sebuah kesepakatan global. Arsitektur berkelanjutan disini dibahas dari lima titik kesadaran, yaitu pertama : kesadaran akan diri sendiri, kedua : kesadaran akan lingkungan sekitar, ketiga : kesadaran akan material, keempat : kesadaran akan strategi desain, dan ditutup di titik awal kelima yaitu : refleksi. Setiap titik awal tersebut diturunkan ke dalam 14 strategi arsitektur berkelanjutan dan akan dibahas satu demi satu.

Dalam Brundtland Commission (1980), pengembangan keberlanjutan didefinisikan sebagai “sebuah pengembangan untuk memenuhi kebutuhan masa sekarang dengan tidak mengorbankan kebutuhan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.“ Tindak dan laku kita akan memiliki pengaruh di masa depan, dan tentu arsitektur memiliki peran yang signifikan. Untuk itu, perlu memupuk kesadaran akan diri sendiri, lingkungan, bahan material, strategi desain, dan tidak lupa dengan refleksi yang merajut semua hal itu dalam sebuah kesadaran yang kolektif.
Marie-Helene Contal dalam pengantarnya di buku Sustainable Design 7 mengatakan bahwa persoalan yang dihadapi semakin kompleks, seperti krisis ekologis, pengembangan yang tidak berkesadaran, ekonomi, dan ketimpangan sosial. Contal menggarisbawahi tentang pemberdayaan, yaitu sebuah proses di mana masyarakat sosial yang menghadapi persoalan yang sama akan memiliki kesadaraan dan sarana untuk dapat ikut berpartisipasi sehingga keberlanjutan menjadi persoalan kolektif yang memerlukan kontribusi dari segala pihak.
Terdapat 5 titik awal arsitektur berkelanjutan yaitu (1) kesadaran diri, (2) kesadaran lingkungan, (3) kesadaran material, (4) strategi desain, dan (5) refleksi.

I hope that in the 21st century the largest accomplishment of art will be to restore the earth.

Ian Mcharg, Design with Nature (1969)

Sebelum kita bahas bersama-sama, mari kita pertanyakan pada diri kita sendiri, “siapa aku?”

Arsitektur Berkelanjutan | Gelombang Kesadaran Lingkungan

Kesadaran Lingkungan dan Sebab Akibatnya terhadap Arsitektur Berkelanjutan

Cara hidup manusia berkaitan erat dengan lingkungannya dan berpotensi besar mempengaruhi/merubah ekosistem bumi. Dengan memahami isu sosial – ekonomi – lingkungan masa lampau dan kaitannya dengan apa yang terjadi di masa kini kita bisa mempelajari hubungan sebab-akibat dalam mengonstruksikan arsitektur berkelanjutan. Keberlanjutannya tidak hanya tentang bangunan secara individual melainkan juga hubungan sebab akibat dengan lingkungan, kondisi sosial dan ekonomi.

Kehidupan manusia telah menyaksikan berbagai perubahan iklim dan lingkungan yang diakibatkan oleh berbagai hal. Menurut Alison Knight, terdapat tiga gelombang kesadaran yang mengantarkan kita menuju ke era berkelanjutan, yakni:
(1) 1960-1967, munculnya buku Silent Spring tentang bahaya racun pestisida.
(2) 1987, tentang “Our Common Future” dan Brundtland Report, puncak penelitian tentang keberlanjutan dan identifikasi jangka panjang kehidupan Bumi.
(3) 1980-1990, tentang kesadaran konsumerisme dengan kebocoran gas di Bhopal dan tragedi di Chernobyl, terminologi eco-design muncul disini.

Era keberlanjutan sendiri mulai popular sejak tahun 1960, ketika banyak bangunan mulai terputus dengan konteks lingkungan dan menimbulkan masalah sosial. Gerakan environmentalism pun muncul, salah satunya dipengaruhi oleh buku Silent Spring (Rachel Carson, 1962), menunjukkan perubahan drastis rantai ekosistem akibat pestisida sintesis. Dalam arsitektur & planning, buku Design with Nature (McHarg, 1969) lantas menawarkan konsep integrasi desain dan perencanaan dengan karakter dari sebuah ekosistem dan lansekap.

Revolusi Industri dan Gothic Revival
Masa ini ditandai dengan sebuah revolusi Romantik dan ketertarikan pada literatur Abad Pertengahan. Selain itu penulis seperti John Ruskin dalam buku Seven Lamps of Architecture (1849) dan Stones of Venice (1853) sangat menjunjung tinggi kualitas craftsmanship dari bangunan Gotik, menyebabkan munculnya sebuah style arsitektur yang disebut Gothic Revival (1750-1900).

Kota Barok & Gerakan City Beautiful Batasan antara seni, arsitektur, dan lansekap makin pudar. Gerakan Barok menyebar dari Italia ke negara lain di Eropa dan Amerika Latin, menciptakan penataan negara baru dengan prinsip geometris dan berpusat pada monarki. Perancangan tata kota yang terpengaruh oleh hal ini disebut City Beautiful. Gerakannya mulai terbentuk di Amerika Serikat, dari Municipal Arts movement dan World’s Columbian Exposition di Chicago di tahun 1893 dan berkembang di 1900-an.
Valley Section
Gambar potongan oleh Patrick Geddes pada tahun 1909 menjadi titik balik cara berpikir desain/intervensi manusia pada alam. Geddes menunjukkan adanya keanekaragaman lingkungan yang berkorelasi dengan perbedaan cara hidup manusia. Poinnya adalah ekosistem manusia adalah bagian dari ekosistem lingkungan tempat tinggalnya. Hal ini membongkar dikotomi antara peradaban dengan alam.

Modern Empiris
Terdapat 2 pemikiran: (1) konsep urban seperti pembentukan ruang terbuka dan pengalaman ruang publik (Jane Jacobs, Christopher Alexander, dll.); (2) teori pembentuk kota baru dengan gerakan Garden City, mengatasi masalah kota industri melalui desentralisasi. Contoh konsep perancangan Garden City yaitu Broadacre City oleh Frank Lloyd Wright (1958), kawasan kota berkelanjutan dengan pembangunan horizontal berkepadatan penduduk rendah, mudah akses layanan/komoditas apapun dalam radius 150 mil melalui jalan darat/udara.
Modern Rasional / International Style
Memiliki cara pandang yang memperhatikan sistem sosial futuristik di dalam bentuk ideal geometris. Tokoh-tokoh dengan pemikiran ini kemudian berkumpul dan membentuk CIAM (1944), melahirkan kota-kota baru di akhir abad ke-20. Salah satunya adalah The Radiant City oleh Le Corbusier, pembangunan vertikal dikelilingi ruangan hijau, perumahan harus sesuai dengan ukuran keluarga, bukan posisi ekonomi. Proyek-proyek gerakan ini meliputi renovasi kota masal dan pembangunan sosial housing dalam waktu cepat.

Postmodernism
Terputusnya bangunan dengan konteks lingkungan menimbulkan masalah sosial. Jane Jacobs mengkritik dalam buku The Death and Life of Great American Cities (1961). Gerakan environmentalism mulai muncul, salah satunya dipengaruhi oleh buku Silent Spring (1962) yang ditulis Rachel Carson, menunjukkan perubahan drastis rantai ekosistem akibat pestisida sintesis. Dalam arsitektur & planning, Ian L. McHarg melalui buku Design with Nature (1969), menawarkan konsep integrasi desain dan planning dengan karakter dari sebuah ekosistem dan lanskap.

Gerakan pembangunan berkelanjutan kemudian berkembang dengan kemunculan: (1) New Urbanism, diprakarsai oleh Andres Duany, menentang perluasan pinggiran kota dan disinvestasi perkotaan, yang kemudian melahirkan gerakan sustainable architecture & sustainable urbanism; (2) Landscape Urbanism dimana kota dipandang sebagai sebuah lansekap dan segala intervensi harus mempertimbangkan aspek pembangunan termasuk un-building, removal, dan erasure. Contohnya pada restorasi Cheonggyecheon, Korea Selatan; Central Park, Manhattan; dan Water Square, Netherland.

New Urbanism muncul tahun 1993, mendukung kota yang didesain dengan mementingkan kehidupan sosial manusia; menolak sistem yang mempertajam kesenjangan ras & pendapatan, urban sprawl, kerusakan lingkungan & ekosistemnya; dan menjaga integrasi kultur sosial dengan lingkungan binaan. Pola mixed-use, kota-kota yang ramah pejalan kaki, transit oriented development, pemukiman terjangkau, dan area publik semakin populer. Hal ini melahirkan gerakan sustainable architecture dan sustainable urbanism. Andres Duany adalah adalah seorang arsitek Amerika, perencana kota dan pendiri Kongres untuk New Urbanism. Bersama partnernya mendirikan Duany Plater-Zyberk & Company (DPZ). Mereka menentang perluasan pinggiran kota dan disinvestasi perkotaan. Beberapa proyeknya terkenalnya adalah Seaside, Florida dan Kentlands, Maryland.
Landscape Urbanism Dipengaruhi oleh keadaan kota-kota post-industrialisasi di tahun 1990-an, yang menyebabkan pengaruh signifikan pada lanskap yang diciptakan, yang memiliki pola produksi dan konsumsi yang khas dengan terjadinya sprawl. Pola ini menciptakan sebuah ekologi industri dan agrikultur yang berskala nasional dengan menggunakan gambar-gambar lanskap buatan. Landscape Urbanism melihat kota sebagai sebuah lanskap, dan intervensi yang dilakukan pun mempertimbangkan aspek-aspek yang tidak hanya membangun tetapi juga un-building, removal, dan erasure. Beberapa contoh praktik landscape urbanism adalah (1) Cheonggyecheon, Korea Selatan, restorasi saluran pembuangan (sewer) yang dijadikan taman ekologi kota Seoul; (2) Central Park, Manhattan yang memusatkan area terbuka hijau dan konservasi air di tengah kota; dan (3) Water square, Netherland yang membuat strategi water retention di lokasi urban.

Dengan mengupas masa lampau dan merelasikannya dengan masa kini, kita bisa memahami dampak apa yang sudah dan kemungkinannya dihasilkan oleh arsitektur kita terhadap keberlangsungan lingkungan masa kini dan mendatang.

Kesadaran Material dan Bahan

Diskursus tentang material dimulai dari pola pikir “working detail” yang dibahas oleh Michael Cadwell mengenai seluk-beluk sambungan detail-detail yang interpretatif namun ternyata justru membangun sensibilitas puitis terhadap penciptaan pengalaman ruang yang mampu merangsang kepekaan manusia. Juhani Palasma juga menyatakan bahwa arsitektur mengartikulasi pengalaman manusia dengan meningkatkan sensibilitas indera. Sedangkan Kenneth Frampton mengartikulasikan terminologi tektonika dengan menjelaskan bagaimana perancang mengembangkan berbagai percobaan untuk menemukan sistem konstruksi yang lebih optimal, estetika, dengan teknologi bangunan yang transformatif.

Michael Cadwell menggali seluk-beluk sambungan detail-detail yang interpretatif dimana terdapat detail-detail ‘aneh’ namun justru membangun sensibilitas puitis terhadap penciptaan pengalaman ruang yang merangsang kepekaan manusia. Hal ini diyakinkan kembali oleh kepekaan taktilitas yang dirasakan oleh kulit. Menurut Juhani Palasmaa, kulit disebut sebagai organ tertua manusia. Sedangkan arsitektur juga mengartikulasi pengalaman kita dengan meningkatkan sensibilitas indera yang kita tangkap terhadap kenyataan dengan diri sendiri. Melalui kulit, kita dapat melihat dan merasakan seperti meraba bata yang kasar hingga merasakan gerah dan sejuknya suatu ruangan.
Kenneth Frampton membawa terminologi tektonika dari akarnya dan menjelaskan bagaimana para craftsman mengembangkannya sepanjang berbagai percobaan untuk menemukan suatu sistem konstruksi yang optimal, guna menyelesaikan tantangan-tantangan perjalanan dari peran perancang di lingkungan binaannya, serta mendorong pekerjaan lintas disiplin yang lebih beragam.
YB Mangunwijaya menulis buku “Pasal-pasal Penghantar Fisika Bangunan” di tahun 1980. Mangunwijaya memberikan diskursus terkait fungsi detail, kaitannya dengan iklim, budaya, dan fungsi bangunan. Kemudian, tiga puluh dua tahun berikutnya, diskursus tentang kesadaran material kembali diperbincangkan dengan keikutsertaan Indonesia di Venice Biennale Architettura 2014 dengan tema “Ketukangan: Kesadaran Material” dimana para kurator yaitu Avianti Armand, Achmad D Tardiyana, Setiadi Sopandi, David Hutama dan Robin Hartanto mencoba menarik bentang 100 tahun arsitektur di Indonesia dengan benang merah berupa material bangunan. Wacana ini menggarisbawahi keterkaitan yang konstruktif antara arsitek, tukang, dan material yang digunakannya; membahas enam eksposisi material yang banyak digunakan di Indonesia seperti kayu, batu, bata, baja, beton, dan bambu.

Sedangkan di Indonesia, diskursus material digagas Y. B Mangunwijaya yang mengkaitkan fungsi detail dengan iklim, budaya, dan fungsi bangunan. 32 tahun setelahnya, diskursus material kembali diperbincangkan melalui Paviliun Indonesia di Venice Biennale Architettura 2014 yang mengangkat tema “Ketukangan: Kesadaran Material”.

Plowright telah merumuskan bahwa terdapat tiga buah kerangka proses pemecahan masalah dalam lingkup desain yaitu pattern (form) dalam arsitektur adalah sebagai penataan, organisasi, dan permainan komposisi pola sehingga ini bersifat rasional karena membatasi pertimbangan arsitektur terhadap hal-hal formal sebagai bentuk ideal, forces (context) dimana kerangka ini terbentuk berdasarkan prinsip rasionalisme yang dipertajam dengan pengamatan konteks, dan concept (conceptualization) dimana kerangka konseptual bekerja melalui perangkat abstrak seperti metafora, analogi, pertanyaan, dan ide intuitif.
Terdapat 2 cabang dalam kerangka pattern (form), yaitu:

Bentuk platonik mewujud dalam objek geometri dasar lingkaran, segitiga, dan kotak. Penggunaan bentuk ini adalah mencapai kualitas formal yang diserap dari bentuk platonik agar dapat dibentuk dengan cepat. Dari segi efisiensi, bentuk platonik menghindari pemborosan ruang, lebih ekonomis, dan mengurangi material waste.

Lengkungan (parabolik/ catenary) Bentuk lengkung parabolik adalah konsekuensi matematis dari pertemuan dua buah titik menjadi kurva, begitu pula dengan lengkung catenary yang diperoleh dengan membiarkan gravitasi membentuk kurva dari sebuah tali. Lengkungan digunakan dalam desain karena tiga alasan, yakni kualitas natural, ekspresif, serta karakter informal ketika bentuk platonik tidak dapat menyelesaikan suatu desain.
Terdapat pula 3 metode dalam kerangka forces (context), yaitu:

Daya tradisional digunakan ketika situasi proyek bersinggungan dengan masyarakat (lokal) dengan cara-cara bekerja yang asli (tradisional) masih dilakukan dan padat karya adalah solusi yang paling relevan dalam menanggapi konteks.

Daya industrial dilakukan ketika tersedia akses manufaktur di suatu proyek. Metode ini ditempuh ketika proyeksi jangka panjang menghasilkan perhitungan biaya tenaga kerja padat karya lebih tinggi dari biaya sistem manufaktur yang tersedia di suatu proyek.

Daya adaptasi dilakukan ketika kedua aspek tersedia dimana keduanya dapat dilakukan secara paralel di suatu proyek. Apabila didukung oleh manajemen yang baik untuk menangani kedua jenis aset konstruksi.
Kerangka concept (conceptualization) memiliki 2 cabang, yaitu:

Cave (gua) merujuk pada bentuk alami yang berasal dari hasil reduksi masa. Pendekatan cave berfokus pada diskusi mendalam antara klien dengan arsitek. Melalui analisa diskusi, arsitek dapat menemukan potensi solusi yang muncul dari benak seorang klien dan dirinya sendiri. Hasil dari konsep ini memperoleh form utama desain sebagai konsekuensi kepribadian, yang diikuti oleh fungsi arsitektural (Function follows form).

Nest (sarang) merupakan pendekatan untuk mengeksekusi desain dimana konstruksi ditangani melalui hal yang paling dasar, yakni program dan struktur, kemudian material hingga detail. Sehingga hasilnya adalah bentuk yang merupakan konsekuensi langsung dari fungsi arsitektural (Form follows function).

Plowright merumuskan tiga buah kerangka proses pemecahan masalah dalam lingkup desain yaitu pattern (form) yang merupakan penataan, organisasi, dan permainan komposisi pola sehingga kerangka bersifat rasional karena membatasi pertimbangan arsitektur terhadap hal-hal formal sebagai bentuk ideal. Forces (context) dimana kerangka terbentuk berdasarkan prinsip rasionalisme yang dipertajam dengan pengamatan konteks. Concept (conceptualization) melalui perangkat abstrak seperti metafora, analogi, hingga ide intuitif.

Tiga buah kerangka proses pemecahan masalah dalam lingkup desain

Melalui kesadaran material akan potensinya, arsitektur dapat berperan bagi diskursus keberlanjutan manusia dan lingkungan di dalam tataran detail, konstruksi dan teknologi bangunan yang transformatif dari jaman ke jaman.

Dengan kata lain, melalui pemahaman terhadap prinsip material dengan menumbuhkan kesadaran akan potensinya, arsitektur dapat berperan bagi keberlanjutan manusia dan lingkungan. Jadi, mari kita bersama – sama menumbuhkan kesadaran akan potensi material yang ada di sekitar kita

Material | Memahami Karakter Material

Memahami material, dimulai dengan menggali prinsip – prinsipnya melalui kajian sejarah, jenis – jenis atau turunannya, nilai konduktivitas termal, hingga emisi gas rumah kaca yang dihasilkan.

Beton adalah material batu buatan dari campuran semen, air, dan agregat (krikil, pasir). Berikut kronologi sejarahnya:
12.000 SM – mortar (adonan perekat) dari kapur.
200 SM – opus caementitium (beton roma): mortar pozzolana (abu vulkanik) dan agregrat batuan, keramik, dan puing-puing bata.
1824 – semen Portland dari kapur hidraulik (Inggris) yang hingga kini paling umum digunakan dalam pembuatan beton.
1910 – pabrik semen pertama di Indonesia: NV Nederlandsch Indische Portland Cement Maatschapp (PT. Semen Padang).

Produk turunannya dibedakan menjadi 2: Beton Murni (Beton berat: >2600 kg/m3; Beton normal: >2000-2600 kg/m3; Beton ringan: 800-2000 kg/m3)
Beton dengan Perkuatan (Beton fiber: logam, plastik, kaca, kayu; Beton fabrik: plastik, kaca; Beton bertulang (baja))

Berdasarkan Konduktivitas Termal (W/mK), beton memiliki kategori (Standar) 0.8 (2). Beton ringan memiliki nilai yang lebih rendah, sering digunakan sebagai material insulasi.

Berdasarkan Embodied CO2 (kgCO2 eq./m3), beton masuk kategori (Standar) 0.8 (2)

Tahap awal adalah kajian sejarah yang dimulai dari penggalian asal muasal dan bagaimana perkembangan satu material hingga akhirnya dapat menjadi konteks yang menjangkau site. Setelah mendapatkan opsi material, langkah selanjutnya adalah mengkaji lebih dalam jenis dan turunannya hingga mendapatkan keputusan berdasarkan konsep dan pembentukan pattern (form), yang telah disesuaikan dengan konteks lokasi.

Untuk melihat seberapa signifikan dampaknya terhadap kenyamanan user dan kelestarian lingkungan, dilakukan kajian konduktivitas termal. Apabila material yang dipilih memiliki angka konduktivitas yang tinggi misalnya beton, maka perlu ada perlakuan khusus seperti penambahan fasad misalnya bambu atau kayu sebagai pereduksi panas. Tahap terakhir adalah analisa embodied CO2 atau emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh material. Tahap ini lebih banyak merujuk pada signifikansi dampak bangunan terhadap lingkungan terkait carbon footprint. Kita dapat menekan angka ini, salah satunya dengan cara menggunakan material lokal sehingga mengurangi kegiatan transportasi material oleh kendaraan bermesin.

Dapat kita pahami bahwa setiap material memiliki nilai dan kegunaannya masing-masing dan pemilihannya berdasarkan konteks dan tipe konstruksi yang akan dikerjakan. Material dapat digunakan dengan optimal dan memiliki nilai keberkelanjutan apabila telah dipahami prinsip – prinsipnya.

Bambu adalah tumbuhan keluarga rerumputan yang tumbuh tinggi dengan batang berongga yang kuat, lazim ditemukan di wilayah asia-pasifik. Kuat gaya tarik dan tekan, mudah dipotong, dibentuk, dan diolah. Dipandang dari sisi sejarahnya, bambu kerap diasosiasikan dengan budaya tradisional Asia, telah lama digunakan sebagai jembatan, scaffolding, dan hunian.

Jenis-jenis bambu yang lazim digunakan di Indonesia: petung(d: 20cm), wulung (d: 14cm), apus (d: 40-10 cm). Produk olahan bambu:
Bambu gelondong: kolom, balok, rangka, dinding.
Bilah bambu: usuk, reng, rangka bidang, pagar, pengisi bidang.
Sayatan bambu: lembar anyaman untuk dinding, plafon, dll.
Bambu lapis, panel bambu, bambu komposit.

Bambu memiliki Konduktivitas Termal 0.55–0.59 W/mK. Material bambu memiliki embodied CO2 rendah, contohnya adalah lantai scrimber −14.89 kgCO2 eq./m3

Jadi, Siapkah untuk menggali potensi material yang ada di sekitar kita dan melestarikannya demi keberlanjutan hidup manusia dan lingkungan?

Dapat kita pahami bahwa setiap material memiliki nilai dan kegunaannya masing-masing dan pemilihannya berdasarkan konteks dan tipe konstruksi yang akan dikerjakan. Material dapat digunakan dengan optimal sekaligus memiliki nilai keberkelanjutan apabila telah dipahami prinsip – prinsipnya. Siapkah untuk menggali potensi material yang ada di sekitar kita dan melestarikannya demi keberlanjutan hidup manusia dan lingkungan ?

Penggunaan Material untuk Detail Arsitektur yang Berkelanjutan | Telaah Jejak Karbon dan Permainan Detail Arsitektural.

Di dalam jejak karbon setiap jenis material terkandung emisi yang dihasilkan dari proses terbentuknya material dan proses konstruksi. Besarnya jejak karbon diakibatkan dari tahap pemrosesan bahan , termasuk transportasi, sampai dengan pembuangan atau daur ulang akhir. Hal ini mengakibatkan besarnya emisi karbon global tahunan. Setiap tahun, karbon yang terkandung bertanggung jawab atas 11% emisi GRK (gas rumah kaca) global dan 28% emisi sektor bangunan global. Emisi yang dihasilkan dari jejak karbon akan tertinggal di dalam sebuah bangunan.Kita bisa mengurangi jejak karbon melalui perencanaan pemilihan material dan rekayasa detail arsitektural.

Di dalam jejak karbon setiap jenis material terkandung emisi yang dihasilkan dari proses terbentuknya material dan proses konstruksi. Besarnya jejak karbon diakibatkan dari tahap pemrosesan bahan mentah hingga manufaktur, termasuk transportasi, sampai dengan pembuangan atau daur ulang akhir masa pakai. Hal ini mengakibatkan besarnya emisi karbon global tahunan. Setiap tahun, karbon yang terkandung bertanggung jawab atas

emisi GRK (gas rumah kaca) global dan emisi sektor bangunan global.

Namun, kita bisa mengurangi jejak karbon melalui perencanaan pemilihan material dan rekayasa detail arsitektural. Emisi yang dihasilkan dari jejak karbon akan tertinggal di dalam sebuah material, sebuah detail arsitektural, dan pada akhirnya sebuah bangunan, begitu bangunan tersebut dibangun, emisi tersebut dan tidak dapat ditarik kembali.
Tipe pertama adalah jejak karbon yang dihasilkan melalui terbentuknya material. Tipe ini diproyeksikan memiliki nilai stabil dari 2020-2050.

Tipe kedua yang semakin tinggi dari tahun ketahun adalah emisi karbon yang dihasilkan melalui perhitungan terhadap proses sebuah material diangkut, dikonstruksi, dan dipakai kembali/disimpan.

Di sini lah pemilihan material lokal dan rekayasa detail arsitektural yang mudah dikonstruksi berguna untuk mengurangi jejak karbon di dalam sebuah bangunan. Hal ini dinamakan kesadaran material dan detail arsitektural yang berkelanjutan.
Di dalam lingkup arsitektural, detail dipikirkan secara matang dengan mempertimbangkan pemilihan material lokal (transportasi sedekat mungkin dengan lokasi), bahasa yang mudah dimengerti, mudah dirawat, tahan lama. Sehingga kualitas detail tersebut kita bisa namakan detail yang berkelanjutan. Hal ini distudi oleh Cadwell dimana detail-detail berkelanjutan tersebut membentuk pengalaman ruang yang menyentuh sehingga arsitektur bisa merubah hal yang sederhana menjadi sedemikian dahsyat.

Di dalam lingkup arsitektural, detail dipikirkan secara matang dengan mempertimbangkan pemilihan material lokal (transportasi sedekat mungkin dengan lokasi), bahasa yang mudah dimengerti, mudah dirawat, tahan lama. Sehingga kualitas detail tersebut kita bisa namakan detail yang berkelanjutan. Detail-detail berkelanjutan yang ada di dalam setiap karya arsitek sebenarnya memiliki batasan terhadap cuaca, perawatan, pengalaman ruang yang dihasilkan, sehingga mampu untuk berkelanjutan dan melawan waktu. Detail-detail berkelanjutan tersebut membentuk pengalaman ruang yang menyentuh sehingga arsitektur bisa merubah hal yang sederhana menjadi sedemikian dahsyat.

Cadwell menggali detail-detail berkelanjutan sampai ke proses apresiasi ruang melalui dialog antar detail yang berbasis pada lokalitas. Empat karya arsitektur yang dibahas memiliki “detail yang berkelanjutan”. Karya ini adalah Querini Stampalia yang didesain oleh Carlo Scarpa, Jacob House yang di desain oleh Frank Lloyd Wright.

Detail-detail berkelanjutan yang ada di dalam karya yang dihasilkan oleh keempat arsitek ini memiliki batasan terhadap cuaca, perawatan, pengalaman ruang yang dihasilkan, sehingga mampu untuk berkelanjutan dan melawan waktu

Kuncinya adalah, merefleksikan diri sejauh mana kita bisa menyadari bahwa pemilihan material dan desain detail arsitektural itu memiliki parameter fungsional yang mengikat.

Proyek pertama ini adalah proyek renovasi Querini Stampalia oleh Scarpa yang didasarkan pada pemilihan material lokal dan apresiasi arsitek terhadap ketukangan setempat. Carlo Scarpa memainkan tata bahasa tektonika dan transisi antara ruang dalam dengan luar (taman) dengan kreatif, seperti penggunaan kaca yang transparan.

Permainan detail-detail berkelanjutan terlihat di dalam elemen-elemen pertemuan besi, kayu, batu, dan beton yang disesuaikan dengan jarak pandang, ergonomi, elemen pintu, jendela, dinding, lantai, langit-langit, engsel, sampai ke ornamen.
Optimalisasi detail arsitektur berkelanjutan menggunakan material panel kayu dalam rumah ini merupakan gagasan yang konstekstual dengan lingkungannya seperti topografi kota Wisconsin yang didominasi oleh hutan kayu, daerah ini memiliki suhu tertinggi mencapai 45 derajat celcius dan terendah mencapai -48 derajat celcius. Kayu dipilih karena mampu menyeimbangkan temperatur ruang dengan sifatnya yang adaptif dengan ditambah insulasi termal. Dari segi efisiensi, detail ini dimainkan melalui penggunaan panel kayu (plywood sandwich wall) hanya memakan biaya sebesar 5000 USD dengan durasi konstruksi selama 1 tahun.
Farnsworth House – Mies Van Der Rohe, Plano, Illinois 1945 – 1951. Farnsworth House dibangun di awal kemunculan era industri baja. Melalui karya ini, Mies Van der Rohe mencoba mengungkapkan detail berkelanjutan dalam ekspresi tektonika material baja dengan memberikan sensibilitas tentang bagaimana struktur dapat berdiri menopang beban. Diekspresikan melalui kolom tipis yang mampu menopang baja, yang digantung dan mewujudkan bidang lantai yang luas hingga menciptakan kesan melayang. Hal ini menyiratkan bahwa pemahaman tentang logika struktur yang berbeda – beda pada setiap material dapat dimainkan untuk mencapai tujuan berkelanjutan.
Yale Center for British Art-Louis Kahn, New Haven, USA : 1969 – 1974. Detail berkelanjutan pada proyek restorasi ini mencoba memaksimalkan pengalaman ruang melalui kombinasi berbagai macam material yaitu beton, logam, kayu, batuan, dan kaca. Kombinasi detail yang dimainkan antara logam jenis stainless steel dan kaca dengan beton diekspresikan paling lantang sehingga terlihat seperti sebuah cladding box yang sempurna. Beton sebagai kekuatan, logam sebagai gasad berperan mereduksi cahaya, sedangkan kaca berperan memasukkan cahaya. Skylight dengan bentuk piramida selain menstabilkan masuknya cahaya didukin oleh gridded skylights menciptakan permainan warna kebiru – biruan di dalam bangunan.

Sejauh mana arsitek dapat mendesain detail sehingga menjadi sebuah detail yang berkelanjutan ?

Kuncinya adalah merefleksikan diri sejauh mana kita bisa menyadari bahwa, pemilihan material dan desain detail arsitektural itu memiliki parameter fungsional yang mengikat. Kemudian, sejauh mana arsitek dapat mendesain detail hingga menjadi sebuah detail yang berkelanjutan ?

Metode Desain Menuju Arsitektur Berkelanjutan

Sebelumnya kita telah memahami korelasi antara konstruksi bangunan dengan arsitektur berkelanjutan dari sudut pandang detail arsitektur yang berkelanjutan. Selain konstruksi bangunan, arsitektur terkait erat dengan aspek perencanaan dimana prosesnya memiliki banyak pertimbangan, Hal ini dinamakan metode desain.

Untuk menyusun metode desain, arsitek perlu memahami bagaimana bangunan dikonstruksi dan dirancang. Proses perancangan juga memiliki begitu banyak pertimbangan yang perlu untuk dijawab, mulai dari apa? siapa? untuk apa? untuk siapa? bagaimana? kenapa? dan pada akhirnya apakah ada pilihan lain yang lebih baik? Ini dinamakan Design Theories and Methods (DTM). Pada pertengahan abad ke-20, kemudian kajian ini dibahas oleh Rittel dan Webber yang memisahkan dua jenis masalah yaitu Tame dan Wicked Problem.

Untuk menyusun metode desain, arsitek perlu memahami bagaimana sebuah bangunan itu dikonstruksi dan dirancang. Kita telah membahas bagaimana kaitan antara konstruksi bangunan dengan arsitektur berkelanjutan dari sudut pandang detail arsitektur yang berkelanjutan. Terlepas dari itu, proses perancangan juga memiliki begitu banyak pertimbangan yang perlu untuk dijawab, mulai dari apa? siapa? untuk apa? untuk siapa? bagaimana? kenapa? dan pada akhirnya apakah ada pilihan lain yang lebih baik? Ini dinamakan Design Theories and Methods (DTM). Pada pertengahan abad ke-20, kemudian kajian ini dibahas oleh Rittel dan Webber yang memisahkan dua jenis masalah yaitu Tame dan Wicked Problem.
Tame problem adalah permasalahan yang solusinya dapat diselesaikan dengan tepat. Wicked problem merupakan krisis perencanaan yang penyelesaiannya tidak pasti dimana prosesnya cukup berbelit karena masing-masing pihak yang berkepentingan mempunyai pandangannya masing-masing. Karena itu Rittel dan Webber menunjukkan pentingnya untuk merangkai sebuah bingkai cara kerja atau metodologi.
Untuk menyusun bingkai cara kerja atau metodologi desain, arsitek perlu untuk mensintesiskan Tame and Wicked Problem kedalam empat buah substansi yang meliputi:

1. Proses Arsitektur
Berkelanjutan (Process)

2. Produk Arsitektur Berkelanjutan (Product)

3. Relasi Sosial Arsitektur Berkelanjutan (Person)

4. Ekosistem Arsitektur Berkelanjutan (Press)

Tame problem adalah permasalahan yang solusinya dapat diselesaikan dengan pasti. Wicked problem merupakan krisis perencanaan yang penyelesaiannya tidak pasti dimana prosesnya berbelit karena pihak – pihak yang berkepentingan mempunyai pandangannya masing-masing. Karena itu Rittel dan Webber menunjukkan pentingnya untuk merangkai sebuah metodologi desain. Arsitek bisa untuk mensintesiskan Tame and Wicked.

Bahasa pola dimulai dari konteks, cara, dan proyeksi hasil perencanaan. Hal ini digagas oleh Alexander kedalam apa yang disebut Pattern Language. A Pattern Language adalah sebuah buku yang berbasis pada perencanaan kota dan lingkungan. Alexander memvisualisasikan bagaimana membentuk tahapan sebuah kota dan lingkungan di dalamnya.
Fisika bangunan dalam hal ini yang dimaksud adalah sintesisme antara fungsi detail, kaitannya dengan iklim, budaya, dan fungsi bangunan kedalam desain berkelanjutan. Faktor – faktornya meliputi pengaruh alam terhadap bangunan seperti hujan dan kelembaban hingga angin, kenyamanan termal yaitu pengaruh bangunan terhadap user melalui sensibilitas indera seperti intensitas cahaya hingga temperatur suhu dalam ruang, dan relevansi detail terhadap pemenuhan fungsi user hingga signifikansi dampaknya terhadap lingkungan baik ekonomi, sosial maupun ekologis.
Relasi sosial dalam arsitektur berkelanjutan menyangkut signifikansi dampak gagasan desain dari seorang arsitek terhadap keberlanjutan manusia. Dalam hal ini erat kaitannya dengan lokalitas yang salah satunya terwujud dalam pemakaian material lokal yang dikerjakan oleh masyarakat sekitar dan berdampak bagi perekonomian lokal namun tidak mengesampingkan dampak bangunan terhadap lingkungan seperti jejak karbon dan lain sebagainya.
Ekosistem dalam arsitektur berkelanjutan dalam hal ini maksudnya adalah tentang bagaimana membuat satu rancangan arsitektural perlu merajut berbagai disiplin ilmu hingga profesi. Misalnya saja ketika pekerjaan arsitektur memiliki gagasan utama untuk berbeperan dalam kelestarian lingkungan dengan cara pemakaian material lokal seperti bambu, maka perlu untuk menggandeng pengrajin bambu sebagai upaya menuju desain yang berkelanjutan.

Problem kedalam empat buah substansi atau 4 P:
1. Proses Arsitektur Berkelanjutan (Process)
2. Produk Arsitektur Berkelanjutan (Product)
3. Relasi Sosial Arsitektur Berkelanjutan (Person)
4. Ekosistem Arsitektur Berkelanjutan (Press)

Setiap arsitek memiliki situasi dan kondisinya masing- masing di dalam berpraktek. Dengan kemampuan mensintesiskan tame and wicked problem ke dalam substansi : Proses, Produk, Relasi sosial, dan Ekosistem, maka metode untuk menuju desain arsitektur bekelanjutan bagi masing – masing arsitek akan bertransformasi dengan sendirinya. Jadi, siapkah tiap – tiap arsitek bertransformasi untuk mencari dan memahami metode desain berkelanjutannya sendiri ?

Setiap arsitek memiliki situasi dan kondisinya masing – masing di dalam berpraktek. Dengan kemampuan mensintesiskan 4 substansi diatas, maka metode untuk menuju desain arsitektur berkelanjutan bagi masing – masing arsitek akan bertransformasi dengan sendirinya.

Arsitek Mengimplementasikan Arsitektur Berkelanjutan

Setelah memahami bagaimana menyusun metode desain menuju arsitektur berkelanjutan, kita perlu mengetahui bagaimana arsitek mengimplementasikan metode desain arsitektur berkelanjutan.

Setelah memahami bagaimana menyusun metode desain menuju arsitektur berkelanjutan, kita perlu mengetahui bagaimana arsitek mengimplementasikan metode desain arsitektur berkelanjutan. Pada dasarnya di dalam praktik arsitektur setiap arsitek berhadapan dengan 3 kondisi akibat dari desain arsitektur yaitu sisi ekonomi, sisi sosial, dan sisi lingkungan. Tiga sisi tersebut berkaitan erat dengan kesadaran dari arsitek untuk memahami konteks site di mana arsitek tersebut bisa memilih material lokal (sumber daya alam setempat) sebagai usaha mengurangi jejak karbon dan membantu ekonomi masyarakat sekitar; dan membangun keahlian membangun SDM lokal yang syarat akan tradisi dan pemberdayaan masyarakat akan sisi teknikal bangunan yang mudah dipelihara, mudah dikonstruksi, dan efisien dari segi anggaran bangunan.
Dalam ekosistem global, relasi arsitek dengan arsitektur berkelanjutan terlihat di dalam Sustainable Development Goals butir ke-11, yaitu Sustainable Cities and Communities menuju 2030. Butir ini bertujuan untuk menjadikan kota & pemukiman inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan. SDG 11 memiliki 7 target hasilnya yaitu: (1) Perumahan yang terjangkau; (2) sistem transportasi yang terjangkau & berkelanjutan; (3) urbanisasi yang inklusi & berkelanjutan; (4) melindungi warisan budaya & alam dunia; (5) mengurangi dampak buruk bencana alam; (6) mengurangi dampak lingkungan kota; dan (7) menyediakan akses ke ruang hijau & publik yang aman dan inklusif.

Karya – karya arsitek diharapkan mampu menjembatani antara kebutuhan solusi praktis di lapangan di dalam krisis ekologi yang nyata terjadi, dan keberlanjutan sisi kebaikan untuk sosial-ekonomi masyarakat.
Hal ini dibahas oleh Jana Revedin dan Marie-Hélène bahwa arsitek bisa menjadi agen pemberdayaan masyarakat melalui pemilihan material lokal, kolaborasi dengan pengrajin/tukang setempat, dan pembangunan partisipatif yang merupakan dasar untuk menciptakan desain berkelanjutan dari detail menuju ruang-ruang ekonomi, sosial, dan lingkungan berkelanjutan.

Hal ini terlihat di dalam karya Boonserm Premthada; Frederic Druot, Lacaton and Vassal; Marta Maccaglia; Raumlabor; dan Nina Maritz yang dikurasi oleh Jana Revedin dan Marie-Hélène. Meski berbeda konteks projek, desain mereka pun memiliki keserasian dengan target hasil SDG poin ke-11. Di Indonesia, karya mendiang Y.B. Mangun Wijaya mencerminkan semangat lokalitas yang satu nafas dengan beberapa arsitek yang dibahas di atas. Hal ini menunjukkan bahwa pembahasan seperti ini tidak hanya terimplementasi di dalam lingkup global, namun juga di Indonesia.

Pada dasarnya di dalam praktik arsitektur setiap arsitek berhadapan dengan 3 kondisi akibat dari desain arsitektur yaitu sisi ekonomi, sisi sosial, dan sisi lingkungan. Tiga sisi tersebut berkaitan erat dengan kesadaran dari arsitek untuk memahami konteks site dimana arsitek tersebut bisa memilih material lokal (sumber daya alam setempat) sebagai usaha mengurangi jejak karbon dan membantu ekonomi masyarakat sekitar; dan membangun keahlian membangun SDM lokal yang syarat akan tradisi dan pemberdayaan masyarakat akan sisi teknikal bangunan yang mudah dipelihara, mudah dikonstruksi, dan efisien dari segi anggaran bangunan. Peran arsitek bisa menjembatani eksplorasi tata bahasa tektonik tersebut untuk mewujudkan pengalaman ruang utuh dari sambungan antar material ke ruang yang menggugah perasaan/indrawi melalui detail-detail berkelanjutan dengan berkolaborasi bersama pengrajin/tukang.

Di Kantana Institute terdapat dinding bata tebal setinggi 8 m yang ditopang oleh struktur baja di dalamnya. Dinding tersebut membutuhkan 600.000 bata yang diambil dari produsen lokal, menciptakan skala manusia yang taktil. Ruang-ruang di dalamnya terkoneksi dengan lorong yang diapit oleh dinding bata yang terinspirasi dari bangunan religius. Rongga di dalam dinding memberikan insulasi termal di mana diselingi bukaan yang tidak menghalangi pandangan manusia. Komposisi ini memberikan pengalaman ruang untuk memahami kolaborasi pihak-pihak yang terlibat membentuk integrasi ruang – ruang ekonomi, sosial, dan lingkungan berkelanjutan.
The Wine Ayutthaya memiliki eksplorasi material plastik dan kayu. Bangunan ini memanfaatkan struktur plywood yang diperkuat oleh baja, mengadaptasi rumah kayu tradisional setempat. Pengalaman ruang di interior terbentuk oleh 5 varian tangga spiral sebagai penghubung antara tingkatan lantai yang disesuaikan dengan arah view sungai dan landscape sekitar. Lima tangga tadi juga berfungsi sebagai penyangga struktur. Eksplorasi desain ini menunjukkan refleksi masa lampau (tradisi) dan masa depan dengan mengintegrasikan proses desain dan membangun dimana terdapat optimalisasi sisi ekonomi, sisi sosial, dan sisi lingkungan.
The Bois Le-Pretre Housing Block merupakan bangunan eksisting 16 lantai yang berisi 96 unit apartemen. Renovasi dilakukan dengan menambah perimeter fasade. Penambahan ini dilakukan dengan memanfaatkan struktur baja dan elemen pre-fabrikasi yang berdiri sendiri sehingga memungkinkan penghuni tetap tinggal selama proses pembangunan.

Perpanjangan ini untuk memperluas ruang keluarga dan menghadirkan teras/balkon. Tiap unit apartemen terbebas dari ruang tak berguna, digantikan dengan volume ruang yang bebas dan transparan. Pemilihan glass sliding door pada fasad memberikan akses pencahayaan alami dan view sementara teras/balkon memberikan strategi penghawaan 2 lapis yang bisa mendinginkan ketika musim panas dan mengurangi dingin ketika musim dingin.
Mazaronkiari Multipurpose Classroom adalah bangunan untuk komunitas asli Peru yang ditujukan untuk menjangkau akses pendidikan untuk anak-anak dengan konstruksi ruang serbaguna yang fleksibel. Struktur kayu dipilih dengan eksplorasi louvered panel yang memberikan penghawaan dan pencahayaan alami. Panel-panel non permanen berwarna-warni didesain agar mudah ditekuk 90° menjadi meja untuk mengakomodasi aktifitas rapat/pembelajaran. Penggunaan material lokal ini dan kontribusi aktif komunitas menciptakan ruang kelas berkapasitas 120 orang dan tempat bersosialisasi selepas sekolah, dan itu semua membentuk harmoni sisi ekonomi, sisi sosial, dan sisi lingkungan.
Sauna Tower merupakan pemandian publik yang dilengkapi dengan kolam renang untuk merubah persepsi masyarakat terhadap lokasi pelabuhan yang mulai tergerus aktivitas industrinya. Bangunan ini dirancang untuk menjadi bagian baru dari aktivitas pusat kota yang berkaitan dengan budaya kota-kota Nordic di mana pemandian adalah ruang sosial masyarakat. Perancangan dan pembangunan prototipenya bersifat partisipatif bersama publik. Hal ini memberikan warga kesempatan untuk mewujudkan ruang mereka sendiri. Material logam pada fasad mempererat konteks pelabuhan industri sementara interior sauna menggunakan material hangat seperti kayu veneer dan sirap.

Karya – karya arsitek diharapkan mampu menjembatani antara kebutuhan solusi praktis di lapangan di dalam krisis ekologi yang nyata terjadi, dan keberlanjutan sisi kebaikan untuk sosial-ekonomi masyarakat. Hal ini dibahas oleh Jana Revedin dan Marie-Hélène bahwa arsitek bisa menjadi menjadi agen pemberdayaan masyarakat melalui pemilihan material lokal, kolaborasi dengan pengrajin/tukang setempat, dan pembangunan partisipatif merupakan dasar untuk menciptakan desain berkelanjutan dari detail menuju ruang-ruang ekonomi, sosial, dan lingkungan berkelanjutan.

Pada dasarnya di dalam praktik arsitektur, setiap arsitek berhadapan dengan 3 kondisi akibat dari desain arsitektur, yaitu sisi ekonomi; sisi sosial; dan sisi lingkungan. Tiga sisi tersebut berkaitan erat dengan kesadaran dari arsitek untuk memahami konteks site dimana arsitek bisa memilih material lokal (sumber daya alam setempat) sebagai usaha mengurangi jejak karbon, meningkatkan ekonomi, membangun keahlian di dalam kebersamaan. Siapkah arsitek untuk kreatif menjawab sisi ekonomi, sosial, dan lingkungan di dalam mendesain di balik seluruh pembicaraan mengenai penemuan metode desain sendiri ?

Siapkah arsitek untuk kreatif menjawab sisi ekonomi, sosial, dan lingkungan di dalam mendesain di balik seluruh pembicaraan mengenai penemuan metode desain sendiri ?

Memahami Parameter Karya Berkelanjutan Melalui Studi Kasus

Untuk memperkaya pertimbangan desain dari sisi Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan, seorang arsitek membutuhkan wawasan yang luas mengenai seberapa banyaknya kasus studi yang diketahui.

Untuk memperkaya pertimbangan desain dari sisi Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan, seorang arsitek membutuhkan wawasan yang luas mengenai seberapa banyaknya kasus studi yang diketahui.

Untuk mengetahui seberapa tinggi/dalam kualitas sebuah karya arsitektur, dibutuhkan pemahaman yang multi disiplin yang menantang seberapa jauh seorang arsitek di dalam mencurahkan keringatnya untuk membuat sebuah karya arsitektur yang komprehensif. Karya ini bukan hanya soal massa, denah, dan ruang. Namun sebuah pengalaman kerja praktik seumur hidup.

Untuk mengetahui seberapa tinggi/dalam kualitas sebuah karya arsitektur, dibutuhkan pemahaman multidisiplin yg menantang seberapa jauh seorang arsitek dalam mencurahkan keringatnya untuk membuat karya yang komprehensif. Karya ini bukan hanya soal massa, denah, dan ruang. Namun sebuah pengalaman kerja praktik seumur hidup melalui 3 buah tahapan analisa kasus studi:

1. Massa Bangunan: studi bentuk dasar sebagai landasan sosok, wujud, nilai filosofis, sampai hubungan sebab akibat dengan sudut matahari, sirkulasi sekitar bangunan, ataupun sesederhana mengikuti sejarah pembentukan arsitektur di dalam sebuah kota (pendekatan kontinental)

2. Denah Ruang: studi programming, kumpulan data tentang definisi sebuah ruang, bagaimana menggunakannya, berapa jumlah penggunanya, serta keperluan integrasi dengan sistem utilitas bangunan

3. Pengalaman ruang: berkaitan dengan intuisi yang terakumulasi dalam gubahan bentuk 3D (didukung dengan materialitas, membentuk pengalaman ruang.

Ketika seorang arsitek memulai mendesain, ia memerlukan imajinasi akan sebuah sosok gubahan bentuk, disadari ataupun tidak disadari. Hal ini dinamakan massa bangunan. Studi massa bangunan merupakan studi mengenai studi bentuk dasar yang menjadi landasan sosok, wujud, nilai filosofis, sampai hubungan sebab akibat dengan sudut matahari, sirkulasi sekitar bangunan, ataupun sesederhana mengikuti sejarah pembentukan arsitektur di dalam sebuah kota (pendekatan kontinental).
Kebutuhan dasar di dalam perancangan diterjemahkan ke dalam sebuah basis data yang disebut programming. Programming merupakan kumpulan data tentang hal-hal seperti: definisi sebuah ruang, bagaimana menggunakan ruang, berapa orang yang menggunakan ruang, perlunya integrasi dengan sistem utilitas bangunan termasuk hal–hal seperti ergonomi, lebar ruangan, lebar pintu, lebar bukaan, bagaimana keterhubungan lantai atas dan bawah yang berhubungan, ataupun sesederhananya bagaimana tata letak perabot.
Arsitek menghubungkan rasa ke dalam akal, seringkali hal ini disebut sebagai sebuah intuisi. Di dalam alam intuisi seorang arsitek, hasil intuisi ini terakumulasi di dalam gubahan bentuk 3 dimensi. Sedangkan pengalaman ruang adalah ‘suasana’ yang terbentuk dari bentuk 3 dimensi dan materialitas yang menunjukkan kepekaan dari seorang arsitek. Materialitas tersebut ditimbulkan oleh suasana yang dibentuk dari kualitas arsi-tektonika (detail yang berkelanjutan) sehingga di dalam pengalaman ruang yang berperan adalah waktu sebagai komposisi 4 dimensi yang komprehensif.

Salah satu sumber terlengkap sebagai barometer awal mengenal arsitektur berkelanjutan bisa menggunakan karya Pritzker Prize sebagai kasus studi. Kasus studi ini adalah sebuah awalan untuk memahami bahwa begitu banyak kasus studi arsitektur berkelanjutan yang masih perlu dipelajari dan membuat proses berbagi menjadi penting. Dengan mempelajari kasus studi, arsitek dapat memahami metode arsitek lain secara holistik sebagai cermin untuk mengembangkan diri.

Mengenal Strategi Arsitektur Berkelanjutan di dalam karya arsitektur. Salah satu sumber yang terlengkap sebagai barometer awal adalah Pritzker Prize yang bisa digunakan untuk menganalisa kasus studi di dalam strategi arsitektur berkelanjutan.

Siapkah sang arsitek bercermin dan kembali belajar untuk menambah kualitas metode desain dimilikinya melalui pengetahuan kasus studi yang begitu berlimpah di dalam arsitektur di dunia dan di Indonesia?

Kasus studi di atas adalah sebuah awalan untuk memahami bahwa begitu banyak kasus studi arsitektur berkelanjutan yang masih perlu dipelajari membuat proses berbagi menjadi penting. Dengan mempelajari kasus studi, arsitek dapat memahami metode arsitek lain secara holistik sebagai cermin untuk mengembangkan diri. Siapkah sang arsitek bercermin dan kembali belajar untuk menambah kualitas metode desain dimilikinya melalui pengetahuan kasus studi yang begitu berlimpah di dalam arsitektur di dunia dan di Indonesia?

Siapa Aku | Membawa Diri Berselancar dalam Gerakan Arsitektur Berkelanjutan

Pertanyaan “Siapa aku?” adalah sebuah pertanyaaan yang menghinggapi setiap arsitek di dunia. Untuk menjawab itu sebenarnya seseorang hanya perlu mencukupkan dirinya dan mengetahui bahwa setiap individu dilahirkan unik. Pertanyaan “siapa aku?” akan memberikan landasan yang kuat terhadap perumusan strategi arsitektur berkelanjutan yang optimal.

“Siapa aku?” adalah sebuah pertanyaaan yang menghinggapi setiap arsitek di dunia. Untuk menjawab itu sebenarnya seseorang hanya perlu mencukupkan dirinya dan mengetahui bahwa setiap individu dilahirkan unik. Pertanyaan “siapa aku?” akan memberikan landasan yang kuat terhadap perumusan strategi arsitektur berkelanjutan yang optimal.

Pemahaman terhadap kekurangan dan kelebihan diri, apa yang disukai dan tidak disukai, cara-cara yang berhasil dan yang gagal, juga bagaimana respons terhadap berbagai hal akan membantu menjelaskan secara logis apa yang dirasakan. Arsitek akan menjadi lebih percaya diri dan terampil dalam pengambilan keputusan. Memahami diri sendiri secara tidak langsung juga berarti memahami orang lain dan bagaimana setiap individu memiliki sifat dan caranya masing-masing.

Perjalanan mengenali diri sendiri membuthkan waktu. Ibaratnya, setiap orang membentuk orang lain, dan orang lain membetuk “siapa aku”.

Secara umum, manusia memiliki berbagai unsur kepribadian di dalam dirinya yang perlu untuk dipahami, diterima, dan dirangkul agar mampu mengambil langkah ke depan dengan lebih pasti.

Semangat manusia masih memiliki semangat untuk menjadi lebih baik dan kontributif terhadap masyarakat dalam konteks studi kreativitas terwujud dalam berbagai sisi, mulai dari belajar meniru dan mengejar kuantitas, menjadi mulai berpikir mengenai tujuan dan kualitas, hingga akhirnya mencapai fase “bermain-main” dan mengeksplorasi ide.

Studi mengenai “siapa aku?” tertuang dalam bagaimana kita bisa mengenali kepribadian kita. Dalam kepribadian, ada unsur-unsur yang disebut sebagai archetypes. Carl Jung membagi archetypes ke dalam wujud persona (topeng), shadow (ketakutan), anima (feminin), dan animus (maskulin), dan banyak archetypes lainnya.

Sebuah jiwa akan mengalami keutuhan (self), dan merasa berkecukupan ketika terdapat integrasi atau penerimaan terhadap seluruh archetype, termasuk hal-hal di bawah alam sadarnya, juga penerimaan terhadap masa lalu dan impian akan meningkatnya potensi diri.
Perkembangan diri yang berkelanjutan: fase Animal Laboran, Homo Faber, Homo Ludens

Semua orang pada dasarnya ingin memiliki kehidupan yang lebih baik juga semangat untuk memperbaiki diri, dalam studi kreativitas disebut kerajinan (craftsmanship).

Sennet menjelaskan prinsip ini menjadi tiga sisi: Animal Laboran (teknis), Homo Faber (manusia membuat/ kreatif), dan Homo Ludens (manusia bermain-main). Sisi terakhir ini mewakili manusia yang tak hanya memahami apa yang ia buat, tetapi juga mengupayakan proses yang menyenangkan.

Dalam konteks sebuah proyek, ada berbagai pihak yang berkepentingan, seperti arsitek, klien, kontraktor, dan engineer. Kunci ketuntasan kerajian di sini adalah bagaimana desain seorang arsitek memenuhi sisi teknis, kreatif, dan eksploratif di dalam proses perancangan dan pembangunan. Hal ini sederhananya adalah proses perkembangan diri yang berkelanjutan-multidisiplin.
Perkembangan diri yang berkelanjutan: fase Apprentice, Journeyman, Master

Buku Craftgram (Adiyanto & Sjarief, 2020) memaparkan tahap-tahap yang menjadi titik mulai hingga adaptasi seseorang yang mendalami suatu keahlian.

Perjalanan dimulai dari menjadi apprentice, di mana seseorang menjadi murid yang dituntut memiliki semangat untuk belajar dengan berkreasi sesuai instruksi (mengutamakan kuantitas). Tahap selanjutnya adalah tahap journeyman di mana seseorang mulai mempertanyakan tujuan hidup, mengamati, dan bereksperimen sesuai tujuan yang ia temukan. Tahap ketiga adalah tahap master (mumpuni) di mana seseorang bisa bermain dengan keahliannya yang ditandai dengan wawasan yang luas dan jam terbang tinggi. Fokus keluaran dalam tahap ini adalah produksi ide-ide yang inovatif.

Selama berproses, diperlukan evaluasi terhadap diri melalui literasi dengan teknik yang tepat dan pendekatan yang disesuaikan dengan konteks. Wawasan yang terkumpul dalam proses panjang ini kemudian dirumuskan dalam teori-teori yang berasal dari dalam diri arsitek dan yang berdasar pada keadaan di lingkungan.

Performa menuju arsitek mumpuni dalam kultur studio menggunakan pendekatan craftsmanship (Craftsgram, 2020)

Menjadi arsitek membutuhkan pemahaman untuk bisa mengenali diri, dimulai dari menerima diri, dan menyadari bahwa dirinya memiliki keunikan di dalam masyarakat dunia, hingga akhirnya memberikan sumbangsih kepada lingkungannya. Hal ini dinamakan pengembangan diri yang berkelanjutan.

Aktualisasi Diri Lewat Menulis Arsitektur: Menata Sudut Pandang

[Writing Architecture by Carter Wiseman (2014)]

Setelah mengetahui kepribadian diri dan mampu bekerja dengan orang lain, seseorang membutuhkan ruang untuk evaluasi. Hal ini ditandai dengan kemampuan literasi yang baik, yaitu kemampuan untuk memahami sebuah persoalan dengan komprehensif. Ada dua hal yang diperlukan, yakni teknik literasi dan pendekatan literasi.

Wiseman membagi teknik-teknik literasi menjadi: (1) structure, rangka literasi, (2) standard, penilaian objektif, (3) persuasion, meyakinkan bagi pembaca, (4) criticism, mencakup pemahaman soal konteks, (5) scholarship, opini yang didukung data objektif, (6) literature, unsur naratif/emosional, (7) presentation, penyampaian gagasan yang mudah dipahami, (8) professional communication, penjelasan singkat mengenai hal-hal penting dalam rangkaian gagasan.
Aktualisasi Diri Lewat Menulis Arsitektur: Menata Sudut Pandang

[Writing About Architecture by Alexandra Lange (2012)]

Sedangkan, pendekatan literasi dibahas oleh Lange (Writing About Architecture) yang membaginya menjadi empat kategori, yaitu:

(1) pendekatan formal, berupa penjelasan deskriptif tentang organisasi ruang, material, dan hal faktual lainnya dalam sebuah rancangan,
(2) pendekatan eksperimental, yang memasukkan unsur perasaan atau pengalaman subyektif penulis terhadap sebuah karya/proses,
(3) pendekatan historikal, misal memasukkan unsur latar belakang arsitek yang mempengaruhi sebuah rancangan,
(4) pendekatan aktivis, yang membahas pihak yang diuntungkan/dirugikan dari adanya suatu karya, melihat segi ekonomi/sosial antara karya dengan lingkungan.
Aktualisasi Kepribadian dalam Perancangan: Teori Normatif dan Teori Positif

[Creating Architectural Theory by Jon Lang (1987)]

Setelah mengetahui kepribadian diri, mampu bekerja dengan orang lain, dan mampu mengevaluasi diri, seseorang perlu merumuskan apa yang sudah dipahaminya menjadi sebuah teori kehidupan. Lang (1987) membaginya menjadi beberapa jenis teori:

Teori normatif adalah teori yang didasarkan pada pengetahuan yang menjadi kebiasaan dalam diri arsitek, persepsinya terhadap dunia, ukuran baik dan buruk. Bentuknya dapat berupa prinsip desain yang dikembangkan oleh masing-masing arsitek.

Teori positif adalah teori yang didasarkan pada pengetahuan yang dirumuskan berdasarkan konteks dari isu yang dihadapi. Teori ini terbagi menjadi teori substantif yang fokus pada isu yang dihadapi, dan teori prosedural yang fokus pada metode desain yang tepat untuk membedah isu. Aktualisasi Diri Lewat Menulis Arsitektur: Menata Sudut Pandang

Siapkah setiap arsitek untuk mau rendah hati belajar kembali mengembangkan diri?

Menjadi arsitek membutuhkan pemahaman untuk bisa mengenali diri, dimulai dari menerima diri sendiri, dan menyadari bahwa dirinya memiliki keunikan di dalam masyarakat dunia, hingga akhirnya memberikan sumbangsih kepada lingkungannya. Hal ini dinamakan pengembangan diri yang berkelanjutan. Siapkah setiap arsitek untuk mau rendah hati belajar kembali mengembangkan diri?

Kontributor Kelas Strategi Arsitektur Berkelanjutan untuk Mahasiswa – University of Pelita Harapan

Para kontributor yang terdiri dari mahasiswa, untuk mahasiswa dan oleh mahasiswa : Albert Lionggo, Andreas Hasiholan, Anggreny Ratnasari, Anissa Dipa, Anke Ardine, Ansell Samuel Julianto, Antonius Priya Prathama, Bayu Abimanyu, Carla Aurellia, Chelsea Gracelyn Halun, Chelsya Setiawan, Christal Yohanes Edy Widjaya, Darwin Winata, Dharmawan, Diandra, Arya Eka Putri, Edgard Jeremy, El Grantnada Romaulina Chyntia Manihuruk, Eubisius Vercelli, Ocvanto Kuncoro, Evania Hamdani Fania, Farisya Yunandira Putri, Fikra Abhinaya Djuhara, Franca Kartasasmita, Gerardo Leonard Nugroho, Gilbert Antonious Heidy Laurentia, Heinrich Benedick, Jason Lim, Jason Aristya Wongso, Jason Axel, Jesslyn Amanda, Joshua Alfando, Joshua Felix Theo, Joshua Michael, Jovin Juan, Marcell Cruxivisyo, Mauritzio Hizkia, Michael Antonio Halim, Michael Imanuel Susilo, Michellin Sonia Wibowo, Muhamad Yusuf Nyompa, Nathanael, Christopher Ng, Novi Synfah, Oliver Victor Wibowo, Praisella Hatijanto, Putroaji Darma Maulana, Raihan Ramadhan, Rayka Martawijana, Raynaldo Febrio Istanto, Sander Ekaputra, Satya Krisnadi, Shania Salsabila, Shella Angelica, Sherlyn Christiane, Spazio Julius, Stanly Alviando, Thessalonicca Venesya, Valencia Angelita, Vania Serrafine

Kuliah Strategi Arsitektur Berkelanjutan ini adalah sebuah mata kuliah yang diampu oleh Realrich Sjarief di dalam penelitian yang dilakukan di Omah Library dan pedagogi kelasnya di lakukan di dalam sesi mata kuliah Strategi Arsitektur Berkelanjutan di Universitas Pelita Harapan. Harapan dari kelas ini adalah berbagi mengenai pedagogi, riset mata kuliah, maupun pustaka supaya bisa dikembangkan di perkuliahan lain ataupun bermanfaat untuk praktik arsitektur di banyak tempat. Perkuliahan ini dirangkum ke dalam bentuk buku dan interpretasi terhadap keseluruhan materi ditulis oleh Anas Hidayat dan Johannes Adiyanto sebagai sudut pandang pelengkap dari luar.

Pengampu Perkuliahan

The Research Study is in Strategi Arsitektur Berkelanjutan Untuk Mahasiswa’s Book

Buku setebal 600-an halaman ini adalah salah satu refleksi untuk menyusun kerangka strategi arsitektur berkelanjutan yang dimulai dari kesadaran diri untuk membentuk sudut pandang multidimensi, multi disiplin dan konteks lingkungan makro-mikro sebelum menguasai aspek teknikal seperti pengetahuan detail material bangunan serta metode desain.

Buku terbaru yang berjudul “Strategi arsitektur untuk Mahasiswa” ini adalah sebagai buku kedua yang diterbitkan di awal tahun 2021. Buku ini merupakan antologi atas materi strategi arsitektur berkelanjutan yang didiskusikan dan dirangkum dalam bentuk esai beserta artwork untuk bersama-sama mencari seberapa luas dan seberapa dalam terminologi arsitektur berkelanjutan?

Disiplin arsitektur selalu berhubungan dengan dimensi lingkungan dan humaniora, terutama mengenai identitas, ilmu bangunan, evaluasi metode desain, sensitivitas tentang materialitas, sampai pengetahuan mengenai kasus studi. 5 Hal tersebut diturunkan ke dalam 5 bab yang berisi 14 bentuk strategi desain berisi bagaimana proses memahami diri, mengetahui budaya membangun ‘ketukangan’, dan aktualisasi diri melalui menulis, sejarah arsitektur berkelanjutan, materialitas, metodologi desain, dan pembedahan 60 kasus desain dari pritzker prize winner dan orang – orang lain yang mewarnai praktik dengan semangat lokalitas.

Sebagai penyimpul benang merah, bab terakhir meliputi refleksi diri dari para penulis tentang hasil dari pembelajaran mereka. Strategi (praktik) arsitektur berkelanjutan tidaklah statis dan berdiri sendiri, justru membutuhkan kedinamisan konstruksi pemikiran dari berbagai sudut pandang.

Realrich Sjarief

Realrich Sjarief mendirikan Realrich Architecture Workshop di tahun 2011. Ia juga aktif di DOT Workshop, yang berfokus pada penelitian tektonika, dan Perpustakaan OMAH, kelompok penelitian dan perpustakaan umum yang menampung sekitar 1.500 buku arsitektur dan menyelenggarakan publik berkala acara tentang wacana arsitektur kontemporer. Ia menulis
beberapa buku bersama dengan Johannes Adiyanto, bersama-sama menjadi cantrik yang haus akan ilmu. Realrich Sjarief aktif mengajar di beberapa universitas di Indonesia, dan kerap kali memberikan kuliah umum di Australia, Singapore, Filipina, India. Bersama RAW Architecture ia memenangkan beberapa kompetisi desain, termasuk Kompetisi Galeri Nasional Indonesia, finalis dari Museum Silaban, IAI Jakarta Award di tahun 2017 dengan karya Omah Library, Finalis World Architecture Festival Award 2018, Fibra Award 2019, dan Kohler Award 2018 untuk karya Sekolah Alfa Omega. RAW Architecture di tahun 2018-2019 adalah long listed world emerging architect. Baru-baru ini RAW Architecture juga mendapatkan nominasi Emerging Architect di Asia Pacific Design Award 2020.

Penyunting Buku

Satria Agung Permana

Satria A. Permana is currently working at OMAH Library, observing and researching architecture discourse in Indonesia. He graduated from the school of architecture in Universitas Islam Indonesia. His thesis about “Recoding the Code’s Urban Kampong”, has led him to put his concern on developing urban kampong design language, which also aided him to gain several prizes in architecture and urban design competition such as merit award in FuturArc Prize 2019 and nominated in Student Charrette World Architecture Festival 2016. Besides architecture and design, he spends half of his life observing the worlds in writings and photography which could be found at http://www.medium.com/@satriaap. In 2020, he co-authored with Realrich Sjarief a book titled The Secret of Architect’s Life. He is available to reach by email at satriaap@live.com or Instagram @satria__ap.

Amelia Mega Djaja

Amelia Mega Djaja adalah salah satu periset dan pustakawan OMAH Library, pernah terlibat dalam penulisan buku berjudul “Craftgram: Craft + Grammatology” dan “Alvar Aalto: The Magic of Architect’s Life,” dan juga sebagai koordinator Kri(s)tik Book Club 2019. Lulus dari S1 jurusan arsitektur pada tahun 2016 dari The University of Sheffield, dengan disertasi mengenai narasi arsitektur poskolonial di Jakarta tahun 1960an.

Sebelum bergabung di OMAH, Amel memiliki pengalaman bekerja selama 3 tahun sebagai desainer, antara lain dalam proyek Alun-Alun Cicendo Bandung (2017, di bawah Florian Heinzelmann), juga sebagai koordinator tim Sayembara Kantor Bupati Sleman yang mendapat juara 2 (IAI 2018, di bawah Ary Indra).

Menurutnya, arsitektur bisa menjadi medium dalam melakukan pembacaan dan analisis mengenai kultur, sejarah, lingkungan maupun dimensi sosial yang lebih luas. Karena ketertarikannya untuk mendalami hal tersebut, saat ini Amel juga merupakan salah satu pegiat ASF-Indonesia yang aktif dalam fasilitasi dan diskusi mengenai komunitas informal kota Jakarta.

Tim Omah Library : Redaksi

Kirana Ardya Garini

Lulus dari jurusan Teknik Arsitektur pada tahun 2017, Kirana A. Garini memiliki pengalaman bekerja di konsultan arsitektur PT Tripatra Konsultan di Yogyakarta yang khusus menangani proyek pemerintahan.

Kirana sempat bergabung dalam Housing Resource Center Yogyakarta dengan fokus penanganan kampung kota Kali Code Yogyakarta dengan output berupa profil kawasan.

Kirana senang bereksperimen dengan desain produk, khususnya yang dapat digunakan di ruang publik. Ia pernah membuat Pringgam (pring-gamelan), prototipe produk bermain bagi anak usia SD di taman kota Surabaya, berbahan bambu, memadukan sistem alat box musik dan gamelan. Produk tersebut sengaja didesain untuk beberapa penggunan sebagai tanggapan atas minim nya interaksi sosial anak di kota urban yang cenderung terikat pada gadget mereka. Karya tersebut mendapat penghargaan juara 1 pada sayembara Play MORPH yang diselenggarakan oleh Departemen Arsitektur ITS, Surabaya bersama dengan 2 orang dalam timnya.

Kirana sangat tertarik dengan arsitektur untuk publik, yang mengutamakan kesehatan dan kenyamanan masyarakat luas, desain universal, multi dimensi dan multi disiplin, serta bersinggungan dengan kebijakan publik, politik, dan ekonomi.

Selama di OMAH Library, Kirana terlibat dalam berbagai riset yang diantaranya diterbitkan dalam bentuk buku, seperti: Methodgram, Craftgram, Sejarah Arsitektur untuk Mahasiswa, dan yang terbaru, buku Alvar Aalto: the magic of architects life. Kenal lebih dekat dengan Kirana melalui Instagram @kiranaardya atau LinkedIn Kirana Ardya Garini.

Dimas Dwi Mukti Purwanto

Dimas Dwi Mukti Purwanto, lahir di Madiun 7 Maret 1996. Lulus dari Akademi Teknik Arsitektur YKPN Yogyakarta tahun 2018 dan sekarang sedang melanjutkan studi S1 di Universitas Mercu Buana Jakarta untuk melanjutkan cita – citanya.

Beberapa pengalaman yang mempengaruhi pemikiran Dimas adalah ketika menjadi volunteer yang bertugas sebagai tim riset Venice Architecture Biennale 2018 bersama tim pavillion Indonesia pada tahun 2017, ketika menjadi tim desain revitalisasi desa Krapyak di Pekalongan bersama Studio Akanoma dalam mendampingi World Bank pada tahun 2018, dan ketika mendapatkan kesempatan untuk menjadi juru gambar PT. Waskita Karya dalam proyek tol Pemalang – Batang pada tahun 2018. Kemudian Dimas juga pernah bekerja di PT. Kreasi Nusa Studio sebagai desainer interior dimana banyak mengerjakan proyek – proyek kantor, residensial hingga komersial sepanjang tahun 2019. Untuk saat ini Dimas sedang belajar dan bekerja sebagai pustakawan dan juga periset di Omah Library. Salah satu prestasi yang pernah Dimas raih adalah juara 3 dalam kompetisi desain ruang publik yang bertema Unexpected Space di tahun 2018.

Dimas adalah orang yang tidak pintar – pintar amat namun memiliki keinginan yang kuat untuk bisa membanggakan bangsa Indonesia sebagai arsitek yang baik sehingga hal itulah yang selalu membuatnya mendapatkan motivasi untuk terus belajar dan belajar lebih dalam lagi.

Hanifah Saussan

Hanifah Sausan Nurfinaputri lahir dan tumbuh besar di Magelang, kemudian pindah ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan arsitektur di Universitas Gadjah Mada yang diselesaikannya pada tahun 2019 dengan tugas akhir perancangan sekolah alam.

Sebelumnya, Hanifah pernah mengikuti exchange program Japan in Today’s World oleh Universitas Kyushu pada tahun 2018-2019 di mana ia banyak belajar mengenai budaya, masyarakat, dan keberagaman. Pengalaman tersebut memberinya sudut pandang berbeda dalam melihat dunia di mana arsitektur ternyata hanya salah satu “kacamata” saja. Meski begitu, ia tetap ingin berkontribusi pada bidang arsitektur sehingga belum lama ini ia bergabung dengan OMAH Library sebagai salah satu periset dan pustakawan. Di waktu luangnya, ia lebih suka belajar mengenai dunia melalui film, drama, buku, atau media seni lainnya. Hanifah bisa dihubungi melalui upak.upik@gmail.com atau Instagram @hanifahsausann.

Refleksi

Terima kasih saya haturkan untuk Alvar Mensana selaku kepala jurusan UPH pada saat mata kuliah ini diajarkan, rekan – rekan pengajar yang tersebar di Indonesia, untuk sebuah semangat berbagi. Keseluruhan pedagogi ini terbuka untuk dielaborasi terkait dengan pengembangannya yang berkelanjutan. Juga terkahir untuk Anas Hidayat dan Johannes Adiyanto untuk tulisan refleksinya di akhir buku.

Kategori
blog

realrich sjarief of raw architecture speaks the power of architectural literacy

people by shafa diandra

when we hear the word “designing”, many of us are often fixated on a portrait of a particular object, structure, or craft worth remembering functionally and aesthetically. however, perhaps also many of us underestimate the power of literacy that brings these very objects to life.


this is where realrich sjarief, a former architect at foster & partners, a poetic believer and founder of jakarta-based raw architecture, and principal architect of the famous alpha omega school and the notable omah library – sees how architectural literacy shapes one’s success story. it is a tool that creates a safe haven for one personal’s space – not only to fantasize and imagine what is yet to come, but also to broaden our horizons.

sjarief spent most of his life reading and writing architectural literature, emphasizing literacy through craftsmanship, people, and material, which led him to such methodology and philosophy.

the story began with his fond childhood memory of accompanying his father to construction sites and with his love for books that gradually turned into a passion for writing and delivering stories through design.

understanding literacy

when i was working in borneo during the great recession, i read many books and found them to give me all kinds of imaginations and the ability to understand people and settings. so reading became my escape from work and my safe haven.

then when i got accepted to bandung’s institute of technology, i came across a book by norman foster that speaks about curiosity and technology. i was lucky that i got an opportunity to work at fosters and partners and to have many amazing mentors at the start of my career. and it was the tall and narrow library at foster and partners that gave me my passion in architectural literacy, as i saw it becoming a ground for discussions to happen around a great mix of people, works, and beliefs.

it is all about a network of people

for me, architecture literacy is the essence of critical and creative thinking in architecture. it is about creating a network of people to share thoughts and discuss matters.

when we talk about literacy, it isn’t all about written stories, but it needs to be spoken as well. to be literate is not to be cynical. literacy simply means a space, whether a physical space or an imagining community, to understand that the world of knowledge has multiple perspectives – it is very broad. you have to acknowledge that you are part of something greater than you, so it is about the maturity of knowing information and digesting knowledge. 

creating the “ecosystem” in the constantly-changing era 

architectural literacy really helps me out whenever i am stuck in a certain project. reading case studies, theories, history, even rereading my own manuscripts will make us see different methods that remind us to not look into our problem from a single point of view only. reflect – review your work – act differently – and find new things. it truly is a method that broadens one’s horizon, because it is only by experiencing the real and the fantasy world that we can create an extraordinary solution.  

more in the website of Design Story here : https://www.thedesignstory.com/blog/people/realrich-sjarief-of-raw-architecture-speaks-the-power-of-architectural-literacy

and here the recording of the session :

Realrich Sjarief shares about sharpening both creative and critical minds when it comes to practicing, appreciating, and understanding a work of architecture and also about the importance of nurturing micro-communities to encourage learning together.

SHOW LESS

read the full article on the design story:
https://www.thedesignstory.com/blog/p…
———————————————–
the design story is a weblog for cutting-edge news and development in architecture and design, and a curated shop of design products. our mission is to bring you a carefully edited selection of the best, sustainable, and innovative architecture design and interior projects and news from around the world. follow and subscribe to our page:
website: https://www.thedesignstory.com/​ blogs: https://www.thedesignstory.com/blog​ instagram: https://instagram.com/thedesignstoryy​ podcast: https://open.spotify.com/show/6NhB2Fz​… twitter: https://twitter.com/thedesignstoryy​ Pinterest: https://pinterest.com/thedesignstoryy/