Hidupku hidup satu kali

18 Mei 2009, Sydney

“The greatest pleasure in life is doing what people say you cannot do.” Walter Bagehot (1826 – 1877)

Sudah kira – kira setengah tahun, diri ini urung untuk menulis, entah kenapa pikiran ini melayang terus tanpa bisa berhenti untuk kemudian bernafas. Apa karena derap waktu Jakarta dan London yang berubah menjadi begitu cepat ? atau diri ini yang memang berasumsi kalau waktu ini tidak bisa dihentikan. Baru saat ini, badan ini duduk dan mulai menulis, satu kata demi satu kata mulai mengalir… Apa yang bisa diuraikan di tulisan 6 bulan terakhir ini. kalau ada kata – kata yang terpenting, itu adalah obsesi, kebanggaan, dan harapan.

Aku masih ingat kira – kira 3 minggu yang lalu, dengan suara keras salah satu guru terbaikku berkata “You have to be proud of yourself”. Ini lah kalimat yang selalu terngiang – ngiang dalam kupingku setiap hari. Dalam kesendirian di negeri ini. Apa yang sebenarnya kucari disini. Apakah ini hanya obsesi untuk mencoba hal yang baru. Satu tahun di bandung, satu tahun di Singapore, hampir 2 tahun di London, dan sekarang di Sydney. Apa yang sebenarnya aku cari ? ini yang selalu jadi pertanyaan setiap orang ketika bertemu. Obsesi apa lagi ini. *…. Apa yang kamu cari ? Apa yang aku cari ? salah satu temanku kembali bertanya di satu pagi. Ada dua kata, Kesempatan dan persiapan.

Pikiran ini melayang pada saat itu , pagi – pagi di hotel Copthorne London. Jam 8 pagi, pada saat itu cuaca sedang dalam musim dingin. Kita bisa melihat orang kemana- mana menggunakan coat panjang, sayangnya salju jarang turun di London, sejauh ini hanya 3 sampai 7 hari dalam 1 tahun. Pagi – pagi itu aku termenung, dan terdiam, satu detik, satu menit, satu jam berlalu… kemudian aku berjalan kaki ke gereja di dekat Hotel Copthorne, hanya sekitar 1 blok , 200 meter jauhnya. Aku berdoa, dan kembali terdiam. Kemudian aku tersadar. Ya apakah yang aku ambil. Diantara 2 jalan yang tersedia… bertanya, apa yang sebenarnya aku inginkan. Pertanyaan ini pun sudah pernah kulontarkan ke diriku sendiri. Pilihan pertama menawarkan kesempatan yang tiada duanya, segala kebanggaan, jabatan dan uang berlimpah, pilihan kedua adalah impianku dari dulu untuk kembali bersekolah. “Kita melompat ke masa 2 tahun sebelumnya ketika aku baru saja pulang bekerja dari Singapore. Pada waktu itu surat resign sudah kukirimkan. Euphoria kebebasan dan masa – masa resign yang kembali teringat. Dimana diri ini kembali bebas untuk terbang. Masa – masa yang terbaik dalam hidupku.”

Pagi itu aku telah selesai berdoa, waktu itu, aku berkata pada diriku sendiri. Untuk kali ini, aku akan melakukan, apa yang ingin aku lakukan… aku masih muda, sekarang atau tidak sama sekali. Chairil Anwar dahulu berpuisi, “Kalau sampai waktuku, Ku mau tak seorang kan merayu, Tidak juga kau, Tak perlu sedu sedan itu, Aku ini binatang jalang. Dari kumpulannya terbuang. Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan aku akan lebih tidak perduli. Aku mau hidup seribu tahun lagi

Di sela – sela perhentian di Indonesia, pikiran ini selalu berkecamuk,. Kulihat dari berbagai peristiwa Begitu mudahnya orang menikam dan menerjang orang lain dengan tertawa. Ada kalanya orang berkata – kata berbusa – busa tanpa ada perbuatan. Ada kalanya politik negeri bingung itu begitu bingung Aku berkeyakinan Hidup itu berisi dari perbuatan dengan kata2 yang dipuisikan dari perbuatan – perbuatan Oleh perbuatan – perbuatan itulah hidup kita menjadi bermakna.

Pada waktu itu aku membuka arsip – arsip ku, kutemukan lukisan yue min jun. yang berjudul bayoneting. Disini semua orang berwajah sama, menusuk orang di bawahnya dengan bayoneting yang tidak tampak, semua orang tertawa, semua orang berwajah sama, mereka tertawa, mereka berwajah sama. Inilah realitas hidup, aku sadar. Tanganku ini memegang bayonet yang tidak terlihat. Mukaku ini selalu tersenyum dan berwajah sama. Setiap orang akan mempunyai muka yang sama. Inilah kutukan peradaban egois yang bermuka manis. Pada waktu itu aku tertegun, pikiran ini melayang,ini konyol.

Ada saatnya aku kembali ke bandung, dikala perhentian beberapa waktu yang lalu di Indonesia. Kota kecil Bandung menempati peringkat pertama dalam buruknya pelayanan publik, di Bandung semua orang sudah menyerah dengan tata kotanya yang amburadul namun, ia meninggalkan kenangan yang membekas, kemahasiwaan yang dinamis, cuaca yang  menyenangkan, jajanan yang luar biasa enaknya, dan kenangan akan masa lalu di kota kembang ini . Kupandang Jejak jejak langkah ini, aku tersadar aku ada di titik nol kembali, melihat jajaran pepohonan dari kawasan atas Bandung. Tempat aku dulu menghabiskan waktu di hari sabtu atau minggu. Aku bersyukur karena aku bisa membuat pilihan, untuk kembali kesini. Tuhan apabila Kau berikan aku jalan, aku ingin selalu berharap untuk bisa selalu berkarya untuk orang – orang yang kucintai dan untuk itu kita butuh rencana. Pada akhirnya hidup itu pertemuan antara kesempatan dan persiapan. Aku kembali lagi berlari, untuk mengejar impian yang masih tak nampak.

Aku pun terbangun kembali di saat satu hari menjelang keberangkatan ke negeri yang baru. Harapan itu selalu ada, Terkadang waktu itu sedemikian sempit hanya menyisakan ruang sedikit ruang untuk bernafas.saat ini aku sangat bersyukur, di sela – sela kesibukan bersekolah. Pekerjaan terus berdatangan, hasil dari perlombaan – perlombaan yang cukup untuk menyambung hidup 3 bulan kemarin. Pekerjaan yang dilakukan dari jarak jauh, kebersamaan dengan wanitaku, menyambung kembali komunikasi melalui email. Sungguh memang semua sudah direncanakan dengan apik. Aku tidak pernah percaya akan kebetulan, yang kupercaya adalah kekuatan doa dan usaha.

Jari – jariku kuletakkan di tuts piano, denting – denting piano mulai terdengar memainkan lagu tembang alit yang memang bagiku sungguh sulit untuk bisa diselesaikan, partiturnya pun sudah kudapat kira – kira 2 tahun yang lalu namun itu belum juga selesai.  Lagu ini mengalir, seperti hidup itu mengalir, setiap kali memainkan lagu ini, nafas kita berirama untuk senada. Inilah jalan yang kutempuh. Aku memasuki kembali aura pulau jawa dan Kalimantan yang menghipnotis, saat itu waktu terasa begitu lambat sehingga bulan februari pun kembali datang untuk kembali lagi mulai dari awal di kota yang baru. Disela – sela aku mengetik ini, ketel uap sudah mulai berbunyi, pesan dari wanita terbaikku sudah mulai muncul, ketika itupun sup ayam sudah siap. Dan aku akan berkata. Inilah saat yang terbaik dalam hidupku. “Sayang tunggu sebentar ya aku masih ngetik.”

Yue Min Jun, sayangnya muka ini bukan muka tertawa yang sama. Mukaku ini milikku.

Mei 2009.

Realrich