Selamat Jalan Pak Tata

“Learn from me, for as I teach, I learn from you as well! Always be accountable to yourself and take complete responsibility for your own life. No one can do as much for you, as you can do for yourself…”― James A. Murphy

Beliau datang di sidang ke 3 di tahun keempat di masa – masa tugas akhir hampir 10 tahun yang lalu , di pertengahan jalan proses di tugas akhir, di tengah perjalanannya untuk menempuh PHD di Australia, ia pulang. Kita sendiri ada ber 4 dengan teman – teman satu kelompok yang lain, ada Nisa, Gamma, dan Herman dengan Pembimbing pribadi diri ini adalah pak Baskoro Tedjo. Pada waktu itu hari – hari  asistensi dengan beliau diisi dengan mencoba memecahkan kesulitan yang ada di bangunan lengkung yang bertabrakan dengan axis yang tegas. Kemudian beliau berkata, “saya tahu kamu pasti bisa, coba kamu lihat Christian De Pontzamparc.” Baru juga tahu ada arsitek yang bernama demikian, dan lebih merasa bersemangat karena beliau antusias dan yakin akan apa yang sedang dcari. Inilah satu titik awal, dimana kepercayaan diri itu mulai ada dalam perancangan tugas akhir. Tidak banyak dosen yang membuat mahasiswanya percaya bahwa setiap mahasiswa memiliki garis – garis tangannya masing – masing, memiliki jalannya masing – masing. Ia mengajarkan desain yang sistematis sehingga mempermudah mahasiswa untuk mempelajari arsitektur di antara dua kutub penalaran rasional dan empiris.

Diri ini bersiap – siap dengan seluruh produk presentasi yang ada, maket, panel presentasi, dan satu buah lukisan yang sudah dipersiapkan dalam waktu 2 minggu terakhir. Beliau pun ada ketika pada akhir sidang, semua sudah selesai, di depan penguji yang lain beliau menanyakan bagaimana perasaan setelah melewati sidang ini didepan penguji – penguji yang lain, ada Pak Baskoro Tedjo, Pak Adib Abadi, dan Bu Dewi Larasati. Ia bertanya apakah puas pada akhirnya dengan proses dan produk akhirnya. Saya pun menjawab “Puas dengan proses dan hasil yang ada.” Tiba – tiba beliau berdiri dan bertepuk tangan dan kemudian semua penguji pun berdiri bertepuk tangan. Tidak pernah membayangkan dalam seumur hidup saya, bisa mendapatkan Penghargaan seperti itu. Beliau pun ada ketika hari demi hari berdiskusi sebagai tempat untuk pulang. Beliau ada disitu. Begitupun ketika berpapasan, bersalaman bercanda gurau menjadi satu kebiasaan, ia selalu berkata, “I know you will do your best.” Senyumnya selalu menghiasi setiap perjumpaan.

Beliau juga ada pada saat diri ini meneruskan S2 di Australia, pak Tata meneruskan S3 dan diri ini  dengan S2. Ada juga saat – saat yang berkesan dimana kita diminta mbak Ade Tinamei untuk membuat video untuk ultah PSUD juga untuk pak Danisworo, berkeliling ke satu jurusan mencari Prof Jon Lang, Alex Tzanes, ataupun staff – staff yang lain untuk membuat jaringan baru. sekitar seminggu satu kali biasa kami makan siang sambil ngobrol apapun, akademis ataupun pengalaman konyol sehari – hari dengan tertawa – tawa. Dari situ beliau menempatkan dirinya sebagai satu pribadi yang penuh kehangatan. Pak Tata adalah satu pribadi yang suka untuk mendengarkan sekitarnya, sehingga terkadang- kadang ia tidak punya waktu untuk dirinya sendiri. Saya dan Istri saya pun hadir dalam kepulangan pak Tata ke Indonesia dan sering kami mengunjungi beliau di Bandung. Pada waktu itu, terkaget bukan kepalang diberi tahu satu adik di kantor bahwa, Pak Tata meninggal. Kesedihan pun datang. Air mata pun menetes.

Sering kali pun saya pun tidak bisa menepati janji untuk bertemu dengan pak Tata dan ingin langsung berterima kasih untuk segala ilmu yang diberikannya. Saya hanya mencoba meniru teladan sikap yang ditunjukkannya dengan tanpa kompromi. Tulisan ini dibuat untuk bisa berterima kasih terhadap pak Tata, ada usahanya dalam memberikan kebaikan terhadap orang lain, dan membuat terpacu untuk meneruskan yang baik yang sudah beliau rintis. Untuk meneruskan perjuangan pak Tata akan ketulusannya untuk mendidik dan berbuat tanpa pamrih. Pribadi seperti dirinya adalah satu pribadi yang langka, seorang guru yang seutuhnya yang dicintai. Tidak banyak guru yang bisa meledakkan semangat seseorang dalam berkarya, seperti seorang guru kepada muridnya, ia tidak berharap banyak, ia hanya berharap yang diajarkannya bisa diamalkan yang kalau – kalau memungkinkan untuk terbang tinggi dan beruntung bisa mendapatkan seorang guru seperti beliau. Terima kasih Pak Tata, tulisan ini hanya ingin membuat orang mengenal , dan meneruskan pengajaran Pak Tata, sama seperti apa yang akan coba teruskan apa yang sudah diajarkan. Ada sebuah peribahasa mengatakan, “There comes a point in your life when you realize who really matters, who never did, and who always will.”- Unknown. Selamat Jalan Pak Tata.