Kategori
Teaching Tugas 1 - Get to Know Your Self

Jihadhul Mukminin – Get to Know Your Self

Saya akan menceritakan sekilas tentang keluarga saya. Saya memiliki adik berumur 13 tahun yang sedang melanjutkan program sekolahnya di salah satu pondok pesantren di daerah cibubur. Saya juga memiliki seorang kakak laki berumur 21 tahun dan sedang melanjutkan studi S1 nya di Jerman atau lebih tepatnya di Chemnitz University of Technology di kota Chemnitz dan ia mengambil jurusan yang sama dengan saya yaitu arsitektur. Saya dibesarkan oleh kedua orang tua saya dan keduanya di lahirkan di Bandung. Ibu saya melanjutkan studi S1 nya di salah satu universitas di bandung yang bernama IKIP namun nama universitas itu sudah diganti menjadi UPI. Lalu, ayah saya melanjutkan studi S1 nya di salah satu universitas terbaik dan ternama di Indonesia yang bernama ITB, ayah saya memilih jurusan untuk S1 nya adalah kimia murni. Ibu saya sekarang menjadi ibu rumah tangga dan ayah saya menjadi wirausaha. Dulu ayah saya bekerja di salah satu perusahaan Jakarta pada saya masih kecil sebelum ia memutuskan untuk menjadi seorang pengusaha, lalu ayah saya memutuskan untuk membuat usaha bersama temannya yang memanfaatkan jurusan yang mereka ambil saat studi S1 nya, mereka menggunakan ilmu kimia yang mereka pelajari untuk mendirikan perusahaannya. Perusahaan mereka bergerak dalam bidang jasa pengangkutan limbah b3 yang sudah memiliki izin dan jasa pemanfaat limbah b3 batubara menjadi material ramah lingkungan yang telah mendapat rekomendasi dari Kementrian Lingkungan Hidup. Jenis limbah b3 mereka meliputi : limbah batubara, limbah sludge, limbah oli dan thinner, limbah kapur, limbah gypsum, dan jenis limbah b3 lainnya. Mereka hadir untuk memberikan solusi dangan basis aman dan ramah lingkungan. Pabrik ayah saya berlokasi di Karawang dan untuk kantor yang ia pegang berlokasi di daerah Jakarta Selatan.

Halo izinkan saya memperkenalkan diri, nama saya Jihadhul Mukminin atau bisa dipanggil Jadul, saya dilahirkan di Bandung pada tanggal 7 Agustus 2004. Kata ibu saya, saya adalah orang yang termasuk dalam kategori hyperaktif sejak saya masih kecil, karna memang dari dulu saya merupakan tipe orang yang suka mengeksplor sesuatu yang belum pernah saya rasakan atau belum tau mengenai hal tersebut. Saya sempat bersekolah di salah satu TK di daerah Pasar Minggu, disitu adalah tempat pertama saya mengenal, berteman, berbincang dengan orang lain yang sepantaran dengan saya. TK adalah tempat yang cukup seru untuk anak yang masih kecil dan belum memiliki beban atau pikiran apa yang mereka akan hadapi kedepannya karna hanya bermain yang mereka pikirkan. Saat kelulusan TK, mungkin suatu hal yang dibilang people come and go belum terasa diumur mereka, dulu saya berpikir kalo kelulusan diibaratkan seperti naik level saja ke jenjang yang lebih tinggi. Setelah kelulusan TK, saya melanjutkan program sekolah saya ke salah satu sekolah swasta yang berlokasi di daerah pancoran. SD adalah tempat dimana kita semakin tau apa fungsi atau semakin tau apa yang kita pelajari mengenai pelajaran yang diberi pembimbing untuk kedepannya. SD merupakan tempat dimana bermain dan belajar bisa disatu padukan menjadi sebuah jalan yang seirama, diberi waktu untuk bermain oleh orang tua dan guru, belajar pun diberi porsi yang proporsional oleh pembimbing kita. Kelas 1 sampai kelas 3 menurut saya adalah masa adaptasi, yang dulu hanya bermain dan sekarang ditambahi bumbu-bumbu belajar dalam kadar yang cukup diusianya. Kelas 4 menuju kelas 6 yang saya pikir adalah masa dimana PR atau pekerjaan rumah sudah memunculkan kehadirannya, dan hal itu menjadi sesuatu yang wajib diselesaikan, namun itu masih menjadi tanggung jawab seorang pelajar dan walinya, karna saat itu wali harus masih membimbing ananda untuk berproses dengan cara menuntun dan membantunya. Saya bukan orang yang tergolong pintar dan menjadi golongan anak top ten dikelas. Namun, itu lah alasan mengapa saya selalu di masukan ke sekolah sampingan atau yang biasa kita sebut tempat bimbel ( bimbingan belajar ), saya sempat bimbel di Kumon untuk memperlancar matematika, LIA untuk meningkatkan kualitas bahasa inggris, dan Quantum untuk membantu pelajaran umum terutama mengarah ke Ujian Nasional. Selain sekolah diluar rumah, saya juga sekolah bersama ayah saya dirumah ditemani kakak saya yang dulu masih SMP, saya tidak pernah merasakan apa itu liburan sekolah saat SD, selama 3 tahun dari kelas 4 sampai kelas 6 saya dan kakak saya selalu di dorong untuk selalu belajar dirumah, ayah saya sangat mahir dalam bidang matematika dan IPA, itu alasan mengapa saya dan kakak saya selalu diajarkan matematika oleh ayah, mungkin matematika adalah bidang yang lebih general. Saya sempat mengeluh karna waktu belajar saya tergolong sangat lama diumur saya waktu itu, dari setelah subuh sampai setelah isya yang diberi istirahat hanya beribadah, mandi, dan makan. Jujur saya keberatan. Namun, semua itu pasti membuahkan hasil, walaupun saya bukan orang yang cukup pintar, saya selalu menyelesaikan tugas atau ujian matematika, jika ada teman saya yang meminta bantuan saya dengan semangat membantu mereka, karena memang benar ilmu akan bertahan lama atau semakin melekat ke kita jika ilmu itu kita sebarkan. Saya juga pernah lolos seleksi lomba cerdas cermat bersama para ranking 3 besar disetiap kelas, dan saya ingat saya mengikuti seleksi itu hanya karena iseng, tapi tidak ada yang tau bisa lolos dan ikut berpartisipasi mengikuti lomba di Labschool, walaupun gagal untuk juara. Titik dimana semua itu terbayar adalah saat saya melaksanakan ujian nasional, pada saat itu pelajaran yang diuji adalah matematika, ipa, dan bahasa indonesia. Saya mendapatkan nilai sempurna di pelajaran matematika. Walaupun level matematika tergolong hal yang sangat dasar, tapi itu adalah pencapaian yang cukup membuat saya senang saat itu. Setelah UN, masuklah kita ke program wisuda. Wisuda SD adalah waktu dimana bahagia dan sedih bercampur, bahagia karena akan pergi ke jenjang selanjutnya, dan sedih karena harus berpisah dengan teman masa kecil. Namun, life goes on.

Setelah masa kecil terbitlah masa dimana orang akan beranjak dewasa, semua orang akan merasakannya disaat setelah SD yaitu SMP. Saya mungkin sedikit berbeda dengan orang lain ada yang sama tapi tidak semua, yang lain ada yang melanjutkan ke negeri atau swasta, sedangkan saya masuk pondok pesantren. Dulu, saya ingin masuk pesantren karena kakak saya juga pesantren dan mendapatkan laptop. Disitulah muncul keinginan saya untuk mengikuti jejak kakak saya. Namun, setelah masuk sekolah ternyata saya tidak mendapatkan laptop, mungkin karena beda sekolahnya, jadi saya cukup kecewa dengan hal itu. tahun pertama dan kedua adalah adaptasi yang luar biasa buat saya, yang biasanya kita tidur dirumah tapi sekarang kita tinggal bersama teman dan dilingkup yang itu-itu saja. Belajar mandiri adalah bagian besar untuk mencapai kesuksesan di lingkup pesantren. Saat dipesantren sifat saya menjadi pendiam karena ilmu agama saya juga hanya sedikit. Tapi semakin saya besar dikawasan tersebut saya akhirnya terbiasa dan berhasil berdamai dengan diri sendiri serta menerima kenyataan sebagai santri. Jujur, 3 tahun di pondok pesantren tidak terasa dari yang awalnya perkenalan dan akhirnya menuju akhir dari perjalanan masa SMP. Perpisahan yang cukup terasa sakitnya karena perasaan ini lebih dari sekedar teman tapi saudara. Sayangnya, saya berpindah tempat sekolah karena saya ingin mencari relasi antar sekolah untuk kebutuhan kedepannya. Waktu begitu cepat liburan pun lewat begitu saja. Masa penentu akhirnya ingin mulai dijarahi, SMA lebih tepatnya. Sekolah SMA saya adalah pondok pesantren yang berlokasi di Depok daerah Pengasinan.

Sebuah pondok pesantren yang baru berdiri, dan saya adalah seorang siswa angkatan 4. Seperti biasa saya sebagai orang baru saya akan menjadi seseorang yang pendiam dan mengamati sekitar. Setahun pertama, diisi dengan perkenalan antar siswa-siswa dan lingkungan baru sekitar. Tidak ada yang cukup istimewa di tahun awal SMA. Saya sedikit kecewa dan terkejut karena kegiatan yang diselenggarakan osis cukup sedikit malah hampir tidak ada, jika dibandingkan dengan sekolah sebelumnya, mungkin karena masih sekolah baru. Tahun kedua, adalah tahun dimana siswa kelas 11 menjadi OSIS, bedanya kalau sekolah diluar yang jadi OSIS hanya seberapa, sedangkan disekolah ini para siswa kelas 11 wajib menjadi OSIS semuanya tanpa terkecuali karena divisinya yang bisa dibilang cukup banyak. Saya cukup gatal dengan kekosongan kegiatan yang ada disekolah ini, akhirnya saya suka bersosialisasi ide-ide kegiatan dengan teman-teman dan guru-guru saya, dengan keseringannya saya berargumen, saya ditawarkan menjadi ketua OSIS. Namun, saya menolak karena saya merasa belum bisa menjaga tanggung jawab secara keseluruhan dan merasa tidak bisa menanggung urusan-urusan seorang ketua. Akhirnya saya menjadi ketua divisi HUMAS. Disitulah saya mengeluarkan ide-ide untuk kegiatan dan beradu argumen dengan para pembimbing OSIS, beberapa acara berhasil dilaksanakan dan beberapa juga tidak karena ada kendala yang bisa dimaklumi. Semakin naik kelas semakin cepat pula waktu berlalu. Tidak terasa sudah memasuki tahun terakhir ajaran SMA. Kelas 12 adalah tahun dimana para siswa fokus menuntut ilmu yang akan dikejar untuk kelanjutannya dimana kuliah nanti. Salahnya, saya tidak pernah berkompromi dengan orang tua mengenai jurusan apa yang saya ambil dan jurusan yang akan disetujui oleh orang tua. Saya bisa dibilang orang yang cukup menyukai hal yang berkaitan dengan seni, dari segala aspek seni yang saya tekuni, saya paling menyukai seni sinematografi dalam bidang editing maupun videografi. Pada akhirnya, saya memutuskan untuk memilih jurusan sinematografi. Namun, orang tua saya tidak merestui karena beberapa sebab, kata ayah saya sinematografi jangan dijadikan pelajaran kuliah namun dijadikan jadi sebuah hobi, hasil dari obrolan antar saya dengan orang tua adalah memutuskan saya untuk memilih jurusan arsitek, dalam sebab saya sempat suka menggambar dan suka matematika, jadi cukup pas untuk jurusan itu. Setelah kelas 12 berlalu, saya menghadapi rintangan kembali karena saya diberi perintah untuk melanjutkan studi S1 saya di Jerman dan dilempar ke Turki, setahun saya belajar matematika dan bahasa inggris untuk mengikuti tes SAT. Namun nilai saya beda tipis dengan target universitas top ten di Turki. Selama gap year itu, saya mencari relasi pereventan dunia malam dijakarta tiap hari dalam sebulan dan berhasil membuat salah satu EO (event organization) yang sudah berjalan hampir setahun (6 events) dan mendapat penghasilan dari kegiatan tersebut, saya cukup bangga dengan pencapaian yang tidak sia-sia itu. Dan usaha yang sedang berproses sekarang adalah usaha clothing buatan sendiri yang tahun ini akan dirilis. Karena beberapa kendala akhirnya saya diputuskan untuk S2 di luar negeri dan S1 didalam negeri.

avatar Realrich Sjarief

Oleh Realrich Sjarief

Founder of RAW Architecture

Tinggalkan komentar