Kategori
blog

Cerita di Balik Bentuk | Form

Satu ketika saya terbersit ide untuk membuat sebuah seminar isinya 7 orang yang memiliki latar belakang berbeda – beda mengenai bentuk. Latar belakangnya dari beberapa pengalaman perbincangan arsitektur yang baru terbatas di bentuk di sekitar saya. Beberapa orang saya kontak untuk memikirkan hal ini, saya mengontak Johannes Adiyanto pertama kali. Alasannya sederhana, karena dia tersedia dan mudah untuk di kontak, dan juga kami berkali – kali berkolaborasi bersama. Saya bilang ke dia “Mas aku mau buat webinar lagi, mau bantuin ngga ? mulai dua minggu lagi.” Pada saat itu saya juga ngga punya persiapan, yang saya rasa, diskursus mengenai bentuk akan sangat dibutuhkan mengingat bagaimana kecepatan dunia digital yang pembahasannya tidak bisa dalam, dan terkesan membahas bentuk dari produk bukan proses.

Ini rencana saya mula – mula, temanya Theory, Origin, Technique, Critique, Philosophy, Meaning.

Ia menjawab “Tunggu mas jam 20 an bisa ditelp ?” Dari situlah saya bercerita mengenai bagaimana pentingnya webinar kali ini untuk menguliti persoalan bentuk yang mungkin memiliki definisi berbeda dan patut untuk didiskusikan.

Sempat juga saya berdiskusi dengan Nanda Widyarta, ia berkomentar “Form, platonis banget euy,… tapi ini perlu. Orang suka susah bedakan shape dari form.”

Saya menjawab “… yang diperbincangan itu wujud atau bentuk… dua hal yang beda… Ada kompleksitas yang mungkin membuat pemahaman tentang ide tentang konsep bentuk perlu disadari dulu… apa artinya perlu pembahasan soal beda dan guna dulu ya … jadi praktis supaya jelas nanti aplikasi (nya).”

Nanda menjawab “Kemungkinan ada perbedaan konsep di dua budaya (kita dan barat). Di bahasa kita ga ada kata buat “form.” Adanya bentuk. Kata “wujud” diserap dari bahasa Arab. Tapi kita sering anggap wujud dan bentuk itu sama. Bukan sebuah handicap sih. tapi kita (dan umumnya orang sedunia) memamng kerap gagal melihat perbedaan pemahaman konsep2 di budaya2 berbeda… sepakat.”

Dari setelah saya berdiskusi dengan Jo, saya mengontak beberapa kawan – kawan pemateri dan semuanya tertarik. Undi Gunawan untuk teori, Johannes Widodo untuk asal mula, Setiadi Sopandi untuk kritik, Ryadi Adityavarman untuk teknik, Boonserm Premthada, khususnya untuk budaya, Johannes Adiyanto untuk filosofi,dan Revianto Budi Santosa untuk makna. Boonserm Premthada dan karyanya akan menjadi garis tengah gerbang untuk melihat sebuah karya yang memiliki konteks yang mengakar dari sudut pandang budaya. Setelah persiapan yang intensif dari tim Omah Library (Dimas, Hanifah, Satria) materi siap. Pertanyaan Hanifah atau yang sering kami panggil uffi, “Kak rich ini arahnya kemana ?”

Kejadian ini cukup lucu dan menggelitik dan setidaknya begitulah bentuk, sekonyong – konyong ia bisa menjadi arkitipe, yang secara tidak sadar bergerak secaral rasional, empirik ataupun intuitif, dari situ saya mendengar suara sayup – sayup di belakang telinga saya, mengingatkan saya.

“Realrich kamu nanya terus, kapan jalannya, ayo maju, anak – anak perlu jalan.”

Kelas Wacana Arsitektur – BENTUK | FORM]

Bentuk adalah hasil dari produksi pengetahuan arsitektur. Untuk memproduksi pengetahuan arsitektur melalui bentuk diperlukan pemahaman mengenai mengapa satu bentuk dibuat, dan apa dampak dari bentuk tersebut.

Webinar Omah library yang berjudul “Form | Rahasia dibalik sebuah bentuk” membahas bentuk dari sudut pandang teori arsitektur, asal mula (origin), teknik merangkai bentuk, kritik terhadap bentuk, metode desain sekaligus konteks alam dan budaya, filosofi dan pemaknaan. Berbagai sudut pandang ini memberikan peta bagaimana perjalanan sesorang menelusuri perjalanan proses membentuk bentuk. Beberapa pembicara yang akan mengisi acara ini adalah Undi Gunawan, Johannes Widodo, Ryadi Adityavarman, Boonserm Premthada, Johannes Adiyanto, dan Revianto Budi Santosa.

Arsitektur memiliki manifestasi kekuatan yang dahsyat melalui bentuk. Pertanyaannya bagaimana menjadi kreatif sekaligus kritis sehingga muncul hasrat untuk reflektif dan mempertanyakan keadaan sekaligus bersemangat untuk selalu progressif.

Theory
Undi Gunawan
28 Juli 2021 pukul 19.00 WIB

Origin
Johannes Widodo
4 Agustus 2021 pukul 19.00 WIB

Technique
Ryadi Adityavarman
11 Agustus 2021 pukul 19.00 WIB

Critique
Setiadi Sopandi
18 Agustus 2021 pukul 19.00 WIB

Culture
Boonserm Premthada
25 Agustus 2021 pukul 19.00 WIB

Philosophy
Johannes Adiyanto
1 September 2021 pukul 19.00 WIB

Meaning
Revianto B. Santosa
8 September 2021 pukul 19.00 WIB

Silahkan mengisi form pendaftaran dan ikuti petunjuk konfirmasi: bit.ly/OMAH_FF

Untuk mengikuti webinar Omah Library diperlukan donasi sebesar 10.000 per sesi yang akan dipergunakan untuk meningkatkan literasi arsitektur dan mengapresiasi pengetahuan yang diberikan pembicara. Bagi yang berkeinginan mengikuti namun tidak mampu, mohon untuk mengirimkan surat ke kami karena webinar ini adalah ajang membangun kebersamaan.

Untuk mengikuti webinar Omah Library diperlukan donasi sebesar 10.000 per sesi yang akan dipergunakan untuk meningkatkan literasi arsitektur dan mengapresiasi pengetahuan yang diberikan pembicara. Bagi yang berkeinginan mengikuti namun tidak mampu, mohon untuk mengirimkan surat ke kami karena webinar ini adalah ajang membangun kebersamaan. Silahkan mengisi form pendaftaran dan ikuti petunjuk konfirmasi: bit.ly/OMAH_FF
Silahkan mengisi form pendaftaran dan ikuti petunjuk konfirmasi: bit.ly/OMAH_FF

Semoga webinar ini mampu untuk mengobati kerinduan kita semua untuk bertemu, bertegur sapa, dan belajar di dalam situasi yang terbatas di masa pandemi.

#webinar#arsitektur#webinararsitektur#bentuk#form

Kami mencantumkan donasi untuk memberikan apresiasi terhadap ilmu materi yang diberikan oleh pemateri dan pembahas. Hal ini semoga akan memberikan sebuah siklus ekosistem yang sehat dan saling mengapresiasi untuk memproduksi ilmu pengetahuan. Silahkan mengisi form pendaftaran dan ikuti petunjuk konfirmasi: bit.ly/OMAH_FF

Translation :

The Story Behind the Bentuk | Form

One time I had the idea to make a seminar with 7 people from different backgrounds regarding Form. The background thinking is from some recent experience of limited architectural conversation in the Form around me. I contacted several people to think about this. At first, I called Johannes Adiyanto. The reason is simple: he is available and easy to reach, and we collaborate many times. I said to him, “Mas, I want to do another webinar. Do you want to help? It will start in two weeks.” At that time, I also didn’t have any preparation, which I think a discourse on Form will be very much needed considering how fast the digital world is. The discussion cannot be deep and seems to discuss the Form of the product the process.

This is my original plan. The theme is Theory, Origin, Technique, Critique, Philosophy, Meaning.

He replied, “Wait, mas at 20 can you call?” That’s where I talked about how vital this webinar is to address Form, which may have different definitions and deserves to be discussed.

I also had a discussion with Nanda Widyarta. He commented, “Form, it’s very Platonic, huh, but this is necessary. People like to find it difficult to distinguish shape from Form.”

I answered, “… what is being discussed is Form or Form… two different things… Some complexities might make understanding the idea of the concept of Form need to be realized first… what does it mean, we need to discuss about different and use it first… so it’s practical so that the application will be clear ).”

Nanda answered, “There may be differences in concepts in the two cultures (us and west). In our language, there is no word for “Form.” There is Bentuk. The word “Wujud” is taken from the Arabic language. But we often assume that shape and Form are the same. It’s not a handicap. but we (and the rest of the world in general) do often fail to see the different understandings of concepts in different cultures… agree.”

After I discussed it with Jo, I contacted several of the presenter’s friends, and all of them were interested. Undi Gunawan for theory, Johannes Widodo for origins, Setiadi Sopandi for criticism, Ryadi Adityavarman for technique, Boonserm Premthada, especially for culture, Johannes Adiyanto for philosophy, and Revianto Budi Santosa for meaning. Boonserm Premthada and his work will be the centerline of the gate to see a work that has a deep-rooted context from a cultural point of view. After intensive preparation from the Omah Library team (Dimas, Hanifah, Satria), the material was ready. Hanifah’s questioned me, or what we often call Uffi, is, “What is the narration big brother ?”

This incident is quite funny and intriguing, and at least that’s how it looks, suddenly it can become an archetype, which unconsciously moves rationally, empirically, or intuitively, from which I hear a faint voice behind my ear, reminding me.

“Realrich, you keep asking, when you want to walk the talk ? Let’s go. the Kids need to walk.”

Architectural Discourse Class – FORM | FORMS]

The Form is the result of the production of architectural knowledge. To produce architectural knowledge, we require an understanding of why a Form is created and knowing the impact of that Form.

Omah library webinar entitled “Form | The secret behind a form” discusses Form from the point of view of architectural theory, origin, techniques for assembling forms, criticism of Form, design methods as well as natural and cultural contexts, philosophy, and meaning. These various points of view provide a map of how a person’s journey traces the journey of the creation of Form. Some of the speakers who will fill this event are Undi Gunawan, Johannes Widodo, Ryadi Adityavarman, Boonserm Premthada, Johannes Adiyanto, and Revianto Budi Santosa.

Architecture has the manifestation of tremendous power through Form. The question is how to be creative and critical so that there is a desire to be reflective and question the situation and be eager to always be progressive.

theory
Gunawan vote
July 28, 2021, at 19.00 WIB

Origin
Johannes Widodo
August 4, 2021, at 19.00 WIB

Technique
Ryadi Adityavarman
August 11, 2021, at 19.00 WIB

Critique
Setiadi Sopandi
August 18, 2021, at 19.00 WIB

Culture
Boonserm Premthada
August 25, 2021, at 19.00 WIB

Philosophy
Johannes Adiyanto
September 1, 2021, at 19.00 WIB

Meaning
Revianto B. Santosa
September 8, 2021, at 19.00 WIB

Please fill out the registration form and follow the confirmation instructions: bit.ly/OMAH_FF

Participants’ donation of IDR 10,000 per session is encouraged To participate in the Omah Library Webinar. The gift will be used to improve architectural literacy and appreciate the knowledge provided by the speakers. For those who wish to attend but cannot donate, please send us a letter because this webinar is a place to build togetherness.

Hopefully, this webinar can cure all of us longing to meet, greet, and learn in a limited situation during the pandemic.

We include donations to give appreciation to the material science provided by the presenters and discussants. This will hopefully give a healthy and mutually appreciative ecosystem cycle for producing knowledge. Please fill out the registration form and follow the confirmation instructions: bit.ly/OMAH_FF

Kategori
blog

RAW Architecture studio is in Wallpaper Magazine

Elle wrote “The Wallpaper* Architects’ Directory 2021 includes RAW Architecture, the fast-emerging Indonesian practice set up by Realrich Sjarief”

Saya tidak pernah menyangka studio kami bisa masuk ke Wallpaper Magazine. Saya mengenal Wallpaper dari publikasi yang selalu mencari cerita / design yang avant garde. Proyek ini dinamakan direktori arsitek 2021. yang dimulai pada tahun 2000 yang berisi daftar bakat biro arsitek yang menjanjikan, Direktori Arsitek Wallpaper* adalah daftar tahunan tentang praktik “menjanjikan” dari seluruh dunia. Proyek dari Wallpaper ini telah, selama bertahun-tahun menampilkan gaya dan antar benua, sambil selalu memperjuangkan studio muda terbaik dan paling menarik. Proyek ini juga menampilkan karya inspiratif dengan penekanan pada tempat tinggal. Sekarang termasuk lebih dari 500 alumni dan terus bertambah, Direktori Arsitek kembali untuk edisi ke-21. Bergabunglah dengan kami saat kami meluncurkan survei tahun ini – 20 studio muda, dari Australia, Kanada, Cina, Kolombia, Ghana, India, Indonesia, Jepang, Malaysia, Meksiko, Belanda, Nigeria, Afrika Selatan, Korea Selatan, Spanyol, Swedia, AS, dan Inggris yang menjanjikan, penuh ide, dan arsitektur yang menarik.

Ellie Stathaki mengirim email 3 bulan yang lalu, dan setelah itu kita berdiskusi melalui email berkali – kali untuk menseleksi apakah studio kami bisa masuk di Wallpaper kali ini. Apa yang saya lakukan di studio beserta tim semoga bisa membawa kasus – kasus yang memberikan dampak pembelajaran bagi banyak orang. Dari praktik yang menggunakan lokal, adaptasi kekriyaan, dan bagaimana metode desain kritis, desain – membangun, dan integratif antar disiplin memberikan kelenturan bagi sebuah proses desain yang bisa berganti rupa.

https://www.wallpaper.com/architecture/wallpaper-architects-directory-2021-raw-architecture-indonesia

Kategori
blog

Piyandeling is in Finalist on Architizer + Award 2021 in Architecture + Sustainability Category

Satu minggu terakhir ini korban pandemi covid terus meningkat dari 10000-20000 sampai 30000 perhari, prokes yang ketat pun sudah dilakukan oleh kita semua. Hari – hari ini adalah hari yang tidak mudah bagi semua orang terdampak, anda dan juga kami adalah salah satunya. Jadi ketika berita dari @architizer sampai ke kami, saya berpikir prioritas pertama memberikan berita positif ini ke rekan tim, orang – orang yang terlibat termasuk pengrajin, tim desain, orang – orang yang terlibat supaya terus meningkatkan diri sembari berjaga – jaga tidak lengah di masa pandemi ini, dan tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada panitia yang sudah memberikan banyak kesempatan berharga untuk kami.
.
Sebesar – besarnya harapan saya untuk kita semua adalah bagaimana arsitektur bisa memberikan dampak positif untuk kita semua,…terus jaga prokes untuk orang – orang di sekitar kita dan kebersamaan kita…
.
Our project Piyandeling in the Architecture+Sustainability was selected as a Finalist in this year’s Architizer A+Awards! Check it out: winners.architizer.com/2021/ #ArchitizerAwards”
.
Key Dates:
June 15 – June 25, 2021: Popular Choice Award Voting.
July 7, 2021: Architizer A+ Jury Winners and Popular Choice Winners Announced.
.
About Architizer:
Architizer’s core mission is to Empower Architects, via our new marketplace connecting architects and building product manufacturers, and via our inspiring content, awards program, and global reach spotlighting the world’s best architecture. We connect architects with the tools they need to build better buildings, better cities, and a better world.
.
About the Awards:
The Architizer A+Awards is the largest awards program focused on promoting and celebrating the year’s best architecture. Its mission is to nurture the appreciation of meaningful architecture in the world and champion its potential for a positive impact on everyday life with a global audience of 400+ million.
.
Judges:
Finalists and Winners are chosen by our illustrious jury including such as Lesley Lokko, Alison Brooks, Nader Tehrani, and Tom Kundig, Karim Rashid (Karim Rashid), Yves Behar (Fuseproject), David Rockwell (Rockwell Group), and Aric Chen (Design Miami).

Kategori
blog

XYZ Project Podcast with Gary Yeow and Ryoga Dipowikoro

Last Sunday, I had a discussion with Gary and Ryoga. They are the next generation of Malaysian and Indonesian designers who will color the future of regional architecture. It’s explicit that their questions and point of view are about how to come back to their homeland and improve the discussions, discourse, making further dialogue to deconstruct the post-colonial limitation. It appreciates what the region has and improves it along the way with more analysis and participation to enrich the current progress and revealing state of each architecture DNA.

.

“Last Sunday, I had a discussion with Gary and Ryoga. They are the next generation of Malaysian and Indonesian designers who will color the future of regional architecture. It’s explicit that their questions and point of view are about how to come back to their homeland and improve the discussions, discourse, making further dialogue to deconstruct the post-colonial limitation. It appreciates what the region has and improves it along the way with more analysis and participation to enrich the current progress and revealing state of each architecture DNA.”


With the questions they raise in the session, I feel humbled and privileged to see their progress and curiosity. I shared about life around my practice, my library, the teaching, writing, and designing activity. The sharing is about to uncover the backstage of architecture practice, especially the relations with craftsmen, engineers, and my background as a builder. These realities unfold my consciousness and also remind me that the roots are just fundamental. It’s beyond form, beyond the collage of shapes. It’s a bricolage, a moment of growth.

“With the questions they raise in the session, I feel humbled and privileged to see their progress and curiosity. I shared about life around my practice, my library, the teaching, writing, and designing activity. The sharing is about to uncover the backstage of architecture practice, especially the relations with craftsmen, engineers, and my background as a builder. These realities unfold my consciousness and also remind me that the roots are just fundamental. It’s beyond form, beyond the collage of shapes. It’s a bricolage, a moment of growth.”


I met Gary from the last session in PAM (Malaysian Institute of Architect). At that moment, I can recall our discussion with Jan, Sarah, Joyee, and Haziq. I got this chance because of the session held by Design United in India, which I discuss with Jan and Anne Herringer, also Wendy Teoh at the event as panelists. Moments are stitched into another moment, I feel grateful to finally meet Gary and Ryoga, the promising architecture intellect.

Here is the conclusion from Gary, in the prologue of the Pod cast. He wrote

“ I have invited Realrich for a sharing session and discussion, along with Jan and Sarah to talk about other ways of doing architecture in PAM Event that I co-moderated with Joyee and Haziq. This topic comes even stronger in this second conversation, co-hosted with my friend Ryoga to further explore the architectural knowledge from both practical and pedagogical perspectives. In the end of this interview session, Realrich asked, ‘ what is the best ingredient of Indonesian architectural DNA?” – We wish to invite you to reflect and share with us as well! – Some might not think the cultural identity or locality is an important reference point in the design process, but it is, perhaps, subconsciously designing the thought and mentality of a designer to translate into produced works for the users. Maybe my take to answer Realrich, that the best ingredient is actually the awareness and actualisation with the materiality as a realistic composition… and most of the time this composition might be an incomplete collage of unpredictably beautiful pieces of time and memories… for more to come.” – garyeow, xyz

“ I have invited Realrich for a sharing session and discussion, along with Jan and Sarah to talk about other ways of doing architecture in PAM Event that I co-moderated with Joyee and Haziq. This topic comes even stronger in this second conversation, co-hosted with my friend Ryoga to further explore the architectural knowledge from both practical and pedagogical perspectives. In the end of this interview session, Realrich asked, ‘ what is the best ingredient of Indonesian architectural DNA?” – We wish to invite you to reflect and share with us as well! – Some might not think the cultural identity or locality is an important reference point in the design process, but it is, perhaps, subconsciously designing the thought and mentality of a designer to translate into produced works for the users. Maybe my take to answer Realrich, that the best ingredient is actually the awareness and actualisation with the materiality as a realistic composition… and most of the time this composition might be an incomplete collage of unpredictably beautiful pieces of time and memories… for more to come.” – garyeow, xyz

Gary and Ryoga brought the discussions in several milestone.

5:00 childhood : toy making and builder family

12:05 dynamics of practice bridging theory and practice

21:03 ‘life is heaven on earth’ : hardships and thought of giving up?

30:00 form making and transformation via fundamental complexity

38:08 taste : engagement with builder and general public + ornaments as crime?

49:30 architectural evolution and in search of identity

57:25 design process : experiment on imagination and reality

1:08:00 literacy, publication and discourse

1:11:08 throwback to final year project (tisna sanjaya)

1:16:38 strategised architectural practice : sharing economy + arts of war

1:37:20 carlo scarpa, alvar aalto, yb mangunwijaya, boonserm premthada

1:49:03 what is the best ingredient for indonesian architecture dna?

I wish all the best from them and I appreciate their hard-work and effort, the process will drive the best result. Kudos

Kategori
blog

Guha Piyandeling

“Pak Amud, tolong ini digali diameter 3 m, saya ingin coba lihat dasar tanah urugnya, sampai tanah keras, setahu saya dulu pak Eddy menggali sampai – 2 meter dan membangun turap penahan tanah hampir 2 m.”

Proyek Piyandeling ini memiliki kesulitan karena lokasinya di puncak bukit, sulit mencari tenaga kerja dan lokasinya jauh dari keramaian. Saya mencoba mereka – reka eksperimen dengan menggunakan tulangan bambu dan beton, sejauh mana, bentuk drum ini bisa tahan, dan ekspresif dengan bahasa sederhananya “sekali jalan”. Sekali jalan ini pada dasarnya seperti sekali menumpahkan beton, kita sudah mendapatkan kekuatan struktural, estetika, dan fungsi ruangan.

Proyek Piyandeling ini memiliki kesulitan karena lokasinya di puncak bukit, sulit mencari tenaga kerja dan lokasinya jauh dari keramaian. Saya mencoba mereka – reka eksperimen dengan menggunakan tulangan bambu dan beton, sejauh mana, bentuk drum ini bisa tahan, dan ekspresif dengan bahasa sederhananya “sekali jalan”. Sekali jalan ini pada dasarnya seperti sekali menumpahkan beton, kita sudah mendapatkan kekuatan struktural, estetika, dan fungsi ruangan.

Pada waktu konstruksi di dasar dinding beton ada batu kali yang memang sudah ada disitu. Piyandeling sendiri ada permainan bahasa primitif, bahasa bentuk platonis. Di balik kesederhanaan ada keindahan untuk bisa dimengerti orang yang berkunjung.

Pada waktu konstruksi di dasar dinding beton ada batu kali yang memang sudah ada disitu. Piyandeling sendiri ada permainan bahasa primitif, bahasa bentuk platonis. Di balik kesederhanaan ada keindahan untuk bisa dimengerti orang yang berkunjung.

Seperti Repertoar lagu Fragmen dan Tembang Alit Indonesia yang dimainkan dengan indah oleh Gillian Geraldine, lagu ciptaan Jaya Suprana. Repertoar di arsitektur pun terkait dengan eksperimen – eksperimen adaptasi baru (Ibaratnya di arsitektur dikenal dengan detail tektonika – tektonika), gerakan yang unik yang belum pernah terjadi sementara itu juga mengacu pada catatan tradisional yang membuat kolaborasi keduanya membentuk Fragmen. Arsitektur juga mengalir seperti sungai seperti Tembang Alit. Ibaratnya di arsitektur dikenal dengan metode yang mengalir tanpa batas, sebuah usaha mewujudkan adaptasi keseharian, Bricolage.

Ini adalah contoh Repertoar Indonesia yang dimainkan dengan indah oleh Gillian, lagu (Fragmen dan Tembang Alit) ciptaan Jaya Suprana. Ini menyerupai eksperimen baru. Ibaratnya di arsitektur dikenal dengan detail tektonika – tektonika, gerakan yang belum pernah terjadi sebelumnya, sementara itu juga mengacu pada catatan tradisional yang membuat Fragmen. dan mengalir seperti sungai seperti Tembang Alit. Ibaratnya di arsitektur dikenal dengan metode yang mengalir tanpa batas, sebuah usaha mewujudkan adaptasi keseharian, Bricolage.

Pagi – pagi setelah saya berdoa dan bermeditasi, terkadang ada saja panggilan yang muncul. Dari mengingatkan untuk menjaga pola makan, mengingatkan untuk jangan lupa mengecek proyek ini itu, detail ini itu, dan jangan lupa ruangan untuk Laurensia, Miracle dan Heaven. Seperti halnya gua yang sedang dibangun di Piyandeling ini adalah sebuah usaha untuk menemukan kehangatan, termal, juga program, dan pengalaman, juga materialitas. Ruangan ini adalah ruangan doa yang paling hangat di Piyandeling dibangun dengan kehangatan pengrajin bambu.

Pagi – pagi setelah saya berdoa dan bermeditasi, terkadang ada saja panggilan yang muncul. Dari mengingatkan untuk menjaga pola makan, mengingatkan untuk jangan lupa mengecek proyek ini itu, detail ini itu, dan jangan lupa ruangan untuk Laurensia, Miracle dan Heaven.
Seperti halnya gua yang sedang dibangun di Piyandeling ini adalah sebuah usaha untuk menemukan kehangatan, termal, juga program, dan pengalaman, juga materialitas. Ruangan ini adalah ruangan doa yang paling hangat di Piyandeling dibangun dengan kehangatan pengrajin bambu.

Terkadang saya melihat ke atas langit di piyandeling, melihat balok – balok yang melengkung saling bersilangan membentuk archetype tersendiri. Di dalam sentuhan tangan, lengkungan – lengkungan ruas – ruas bambu menonjolkan archetype alam, dengan kekuatannya yang tumbuh perlahan – lahan. Seakan – akan alam mengetuk, “mau lambat salah, mau cepat salah, jadi kamu maunya apa ?” Alam kemudian bertanya – tanya apa lagi setelah ini. Di dalam alam kreatif dan kritis, perjalanan arsitektur itu dimulai dengan kadang batuk – batuk, merangkak, dan kemudian tersenyum dalam prosesnya.

Terkadang saya melihat ke atas langit di piyandeling, melihat balok – balok yang melengkung saling bersilangan membentuk archetype tersendiri. Di dalam sentuhan tangan, lengkungan – lengkungan ruas – ruas bambu menonjolkan archetype alam, dengan kekuatannya yang tumbuh perlahan – lahan. Seakan – akan alam mengetuk, “mau lambat salah, mau cepat salah, jadi kamu maunya apa ?” Alam kemudian bertanya – tanya apa lagi setelah ini. Di dalam alam kreatif dan kritis, perjalanan arsitektur itu dimulai dengan kadang batuk – batuk, merangkak, dan kemudian tersenyum dalam prosesnya.

“Bu berapa telur hari ini yang siap ?” Bu Lisa menjawab, “kita kemarin dapat 80 pak, hari ini 210.” sekitar beberapa bulan ini, kami cukup sering bertemu.

Telur ayam yang kami bicarakan berasal dari peternakan ayam yang ada di sekolah Alfa Omega. Sekitar setahun yang lalu, ketika pandemi tiba, Bu Lisa bercerita bagaimana ia mendapatkan inspirasi dari seseorang yang sudah berhasil mengembangkan peternakan untuk membantu panti asuhan miliknya, namanya pak Gaspar. Dari situlah Bu Lisa mengajak saya untuk berkunjung ke peternakan tersebut. “Bu Lisa, sudah banyak membantu saya pak, sekarang saya ingin membantu ibu.” Kalimat tersebut muncul ketika saya menanyakan mengenai bagaimana beliau terhubung dengan Bu Lisa.

Pertanyaan – pertanyaan tersebut penting untuk dilontarkan sebelum memulai proyek kandang ayam tersebut yang dimulai dengan mempertanyakan hal – hal yang relevan, tentang siapa yang memulai, bagaimana harus memulai, dan apa saja hal – hal yang mungkin menghambat. Informasi tersebutpenting untuk membangun konteks, bagaimana satu hal terbentuk dan bagaimana satu hal mempengaruhi yang lain. Dari hal tersebut saya bisa belajar, untuk menghargai proses untuk tumbuh membutuhkan akar yang kuat.

Ketika satu saat saya berdiskusi dengan Laurensia, mengenai bagaimana Bu Lisa berjuang untuk menjalankan peternakan ayam petelurnya di Alfa Omaga. Satu saat kemudian Laurensia mengkontak beberapa relatif, ibu kami untuk bisa membantu menjualkan telur dari alfa omega. Hal – hal kecil ini mulai dari simpati saya dan Laurensia ke Bu Lisa dan keluarganya dan melihat bagaimana ia berjuang untuk sekolah Alfa Omega. Kami membantu, tidak perlu dibayar, kadang kami melihat Bu Lisa juga sedemikian, membantu tanpa perlu bayaran. Sebuah prinsip filosofi Jawa, Rame ing gawe,sepi ing pamrih, memayu hayuning bawono (giat bekerja,membantu dengan tanpa pamrih,memelihara alam semesta/ mengendalikan hawa nafsu).

Hari pertama, bisa terjual 80 telur, selanjutnya 150 telur, dan selanjutnya 200 telur. “Ada 4 ayam petelur yang mati pak” kata bu Lisa di satu pagi, telurnya terlalu besar jadi tidak bisa keluar. Hal – hal tersebut terjadi beruntun.

Nassim Nicholas Taleb di dalam buku Black Swan menulis mengenai hal – hal yang tidak terduga yang merubah proyeksi masa depan. Hal tersebut juga dibahas Malcolm Gladwell di dalam Tipping point dimana ada hal – hal kecil yang memicu lompatan kejadian – kejadian selanjutnya. dalam konteks proyek kandang ayam ini, prediksi dan antisipasi sangatlah penting di awal memulai berbisnis. Sesederhananya ada kejadian yang memang di luar kehendak, kuasa kita sebagai seseorang yang sedang berjalan di dalam karir, ekosistem bisnis, personal. Dan ada juga kejadian yang muncul karena persiapan yang matang, terprediksi dengan konsistensi. Kematangan tersebut muncul dari persiapan teknis yang baik, rapih, mudah dilaksanakan, efisien dan kritis. Hal – hal tersebut adalah permulaan proses kreatif. Saya mendiskusikan dengan Bu Lisa untuk pentingnya membersihkan kandang, memperhatikan ayam – ayam tersebut, dan mengganti 4 ayam yang mati.

Kehidupan di studio berjalan seperti biasa, saya sendiri sangat bahagia dengan kondisi kehidupan kami. Saya merasa perjalanan berarsitektur memiliki tahapan – tahapan. Dari jujur berproses saya pikir tim desain akan semakin solid, informasi akan merata dan detail tektonika pun akan semakin kaya. Di balik semua karya yang saya desain saya beranggapan bahwa arsitek dikenal dari karya – karyanya yang sebenarnya ada dalam hitungan jari, jadi membangun portfolio akan semakin penting. Itulah latar depan dari konstelasi kehidupan arsitek, yaitu karya atau proyek yang memiliki klien dan kehidupan di baliknya.


Kehidupan di studio berjalan seperti biasa, saya sendiri sangat bahagia dengan kondisi kehidupan kami. Saya merasa perjalanan berarsitektur memiliki tahapan – tahapan. Dari jujur berproses saya pikir tim desain akan semakin solid, informasi akan merata dan detail tektonika pun akan semakin kaya. Di balik semua karya yang saya desain saya beranggapan bahwa arsitek dikenal dari karya – karyanya yang sebenarnya ada dalam hitungan jari, jadi membangun portfolio akan semakin penting. Itulah latar depan dari konstelasi kehidupan arsitek, yaitu karya atau proyek yang memiliki klien dan kehidupan di baliknya.
Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah latar belakang, kehidupan belakang panggung yang mendasari bagaimana saya menulis di blog ini sejak 2005. Saya percaya bahwa penting untuk para arsitek berbagi cerita mengenai orang ketiga, ekosistem di sekitar arsitek dan studio perancangannya. Kemarin kami mempublikasikan satu platform kami di IG(instagram) : GuhaTheGuild.

Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah latar belakang, kehidupan belakang panggung yang mendasari bagaimana saya menulis di blog ini sejak 2005. Saya percaya bahwa penting untuk para arsitek berbagi cerita mengenai orang ketiga, ekosistem di sekitar arsitek dan studio perancangannya. Kemarin kami mempublikasikan satu platform kami di IG(instagram) : GuhaTheGuild.

Saya melihat bagaimana apabila informasi yang dasar tersebut dibagikan dengan gratis, bukankah itu akan membantu banyak orang yang sedang mencari jalannya masing – masing ?

Mungkin sesederhananya mengkomunikasikan kenapa arsitektur itu begitu dahsyat, dan berharga. Dan juga sesederhana berbagi bagaimana membangun ekosistem, mengapresiasi satu sama lain di dalam tim, sesama kolega. Dan sesederhanananya juga pentingnya merefleksikan diri, sadar bahwa setiap saat memulai kembali proyek, membangun tim, adalah saat meletakkan harga diri kita sebagai arsitek, dan turun untuk melayani dengan sepenuh hati.

Platform GuhaTheGuild : Setiap arsitek memiliki rahasia – rahasianya sendiri, dan begitupun ekosistem di sekitar arsitek dan studio perancangannya. Kemarin tim saya mempublikasikan satu platform kami di IG(instagram) : GuhaTheGuild. Saya melihat bagaimana apabila informasi yang dasar tersebut dibagikan dengan gratis, bukankah itu akan membantu banyak orang yang sedang mencari jalannya masing – masing. Mungkin sesederhananya mengkomunikasikan kenapa arsitektur itu begitu dahsyat, dan berharga. Dan juga sesederhana berbagi bagaimana membangun ekosistem, mengapresiasi satu sama lain di dalam tim, sesama kolega. Dan sesederhanananya juga pentingnya merefleksikan diri, sadar bahwa setiap saat memulai kembali proyek, membangun tim, adalah saat meletakkan harga diri kita sebagai arsitek, dan turun untuk melayani dengan sepenuh hati. Difollow ya yang tertarik. :)

Kira – kira dua minggu yang lalu tim Apple TV datang ke rumah, dan mereka mendokumentasikan bagaimana saya dan tim bekerja, termasuk menghabiskan waktu bersama Laurensia, Miracle dan Heaven. Di dalam proses pengambilan momen tersebut berlangsung selama hampir 2 minggu, setiap harinya saya perlu siap jam 6 pagi. Dari situ saya melihat proses sprint atau kerja tim kelas dunia (selayaknya atlit olimpiade) yang berjumlah hampir 20 -30 orang setiap harinya. Mereka bekerja sangat cepat, kompak, dan hal – hal tersebut dijalankan dengan effortless. Saya berdiskusi dengan sang sutradara dan produser yang berbagi cerita mereka yang akan kita bahas di lain waktu. Mereka ini adalah para nominator penghargaan sekelas academy award.

Di dalam salah satu diskusi dengan mereka, saya bercerita mengenai bagaimana pentingnya kandang ayam di Alfa Omega untuk pengembangan sekolah ke depannya, dan satu saat setelah break, satu orang berbisik di sebelah saya.

“Pak, biasanya kalau beternak ayam, akan habis semua, sampai akhirnya sukses.” ” Habis semua pak ?” jawab saya. “Iya, mati semua” jawab orang tersebut. Dari situ saya sadar bahwa saya perlu memberitahukan bu Lisa, perlu bersiap – siap. Satu hal yang negatif akan menjalar, mulai dari hal yang sederhana, bersiap – siap memperhatikan hal – hal yang detail.

“Gimana bu hasil peternakannya hari ini ?”

“Puji Tuhan pak 400 telur siap di tray hari ini”

“Laurensia pun siap dengan sapaan di pagi hari ini ke relasi kami untuk membantu Bu Lisa, telur sudah siap ada 400 telur hari ini.”

Dari cerita studio, dan cerita tentang bu Lisa, memberikan inspirasi kepada saya bahwa cerita Guha yang dimulai di Piyandeling, di The Guild, dan yang sebuah gua itu bisa jadi cerita untuk bu lisa yang sedang membangun Guhanya di Alfa Omega. Dari situ saya memikirkan apabila kita membangun arsip digital transformasi belakang pangung dari proses kreatif berkarya kami, mungkin hal ini bisa lebih bermanfaat untuk banyak orang.


Saya belajar bahwa selebih – lebihnya orang yang memberi, rejeki dari Nya tidak akan kurang sedikitpun. Jangan pernah berhenti memberi karena dibalik itu masa surga yang penuh dengan berkat.

Catatan Levi Gunardi : “Tidak ada yang lebih membahagiakan dari para petani ketika musim panen tiba.  Sesuatu yang ditunggu-tunggu dari awal, jerih payah yang telah mereka tuang sepenuhnya adalah untuk masa ini.”

Hari ini Laurensia berulang tahun, dan kami sudah mendapatkan berkat berlimpah dengan anak – anak yang memberikan kebahagiaan. Laurensia, Miracle dan Heaven muncul. Kami merayakan ulang tahun Laurensia dengan sederhana, ia sudah berumur 39 tahun di tanggal 22 Mei. Miracle menyapa menghampiri untuk memeluk,

ia berkata “Papa”

Celoteh seperti itu sudah cukup untuk membuat saya berhenti menulis. Pikiran saya menerawang kembali ke perjalanan kembali ke Piyandeling.

What is future ? sometimes it’s covered by uncertainty.
feeling architecture by touching it’s surface and beyond skin deep
by knowing fragility of architecture. It can evolve to unlimited Bricolages.

Translate to English

 “Pak Amud, please excavate this with a diameter of 3 m, I want to try to see the bottom of the fill soil, until the soil is hard, as far as I know, Pak Eddy dug up to 2 meters and built almost 2 m of retaining sheeting.”

The Piyandeling project has difficulties due to its location at the top of a hill, it is difficult to find labor and its location is far from the crowds. I tried them – experimental designs using bamboo and concrete reinforcement, to what extent, this drum shape can withstand, and is expressive in its simple “one way” language. This one go is basically like once pouring concrete, we have gained the structural strength, aesthetics, and function of the room.

At the time of construction at the base of the concrete wall there was a river stone which was already there. Piyandeling itself is a game of primitive language, the language of the platonic form. Behind the simplicity there is beauty to be understood by the people who visit.

Like the repertoire of songs Fragment and Tembang Alit Indonesia beautifully played by Gillian Geraldine, a song composed by Jaya Suprana. The repertoire in architecture is also related to experiments – experiments on new adaptations (For example, in architecture known as tectonic detail – tectonic), a unique movement that has never happened while also referring to traditional records that make the collaboration of the two to form Fragments. Architecture also flows like a river like Tembang Alit. It’s like in architecture known for the method that flows without limits, an effort to realize daily adaptation, Bricolage.

The morning after I prayed and meditated, sometimes a call came up. From reminding to maintain a diet, reminding not to forget to check this project, this detail, and don’t forget the room for Laurensia, Miracle and Heaven. Like the cave being built in Piyandeling this is an attempt to find warmth, thermals, as well as programs, and experiences, as well as materiality. This room is the warmest prayer room in Piyandeling built with the warmth of bamboo craftsmen.

“Mom, how many eggs are ready today?” Mrs. Lisa replied, “Yesterday we got 80 sir, today 210.” In the past few months, we have seen each other quite often.

The chicken eggs we’re talking about come from the chicken farm at the Alfa Omega school. About a year ago, when the pandemic arrived, Mrs. Lisa told how she got inspiration from someone who has succeeded in developing a farm to help her orphanage, named Pak Gaspar. From there, Mrs. Lisa invited me to visit the farm. “Miss Lisa, you have helped me a lot, sir, now I want to help mother.” This sentence came up when I asked him how he was related to Mrs. Lisa.

These questions are important to ask before starting the chicken coop project which begins by asking relevant questions, about who started, how to start, and what are the things that might hinder. Such information is important for establishing context, how one thing is formed and how one thing affects another. From that I can learn, to appreciate the process of growing requires strong roots.

One time I was discussing with Laurensia about how Mrs. Lisa was struggling to run her laying hens farm in Alfa Omaga. One moment later Laurensia contacted some of our relatives, our mother, to help sell eggs from alpha omega. These little things started from my and Laurensia’s sympathy to Mrs. Lisa and her family and seeing how she fought for the Alpha Omega school. We help, we don’t need to be paid, sometimes we see Mrs. Lisa as well, helping without paying anything. A principle of Javanese philosophy,, Rame ing gawe,sepi ing pamrih, memayu hayuning bawono (working hard, helping selflessly, preserving the universe/controlling lust).

The first day, you can sell 80 eggs, then 150 eggs, and then 200 eggs. “There are 4 laying hens that died, sir,” said Mrs. Lisa one morning, the eggs were too big so they couldn’t come out. These things happened successively.

Nassim Nicholas Taleb in the book Black Swan writes about unexpected things that change future projections. This is also discussed by Malcolm Gladwell in Tipping point where there are small things that trigger a jump in the next events. In the context of this chicken coop project, prediction and anticipation are very important at the beginning of starting a business. Simply put, there are events that are beyond our will, our power as someone who is running in the career, business ecosystem, personal. And there are also events that arise because of careful preparation, predictable with consistency. This maturity arises from good technical preparation, neat, easy to implement, efficient and critical. These things are the beginning of the creative process. I discussed with Mrs. Lisa the importance of cleaning the coop, paying attention to the chickens, and replacing the 4 chickens that died.

 Life in the studio went on as usual, I myself was very happy with our living conditions. I feel that the architectural journey has stages. From the honest process, I think the design team will be more solid, the information will be evenly distributed and the tectonic details will be richer. Behind all the works that I design I think that architects are known from their works that are actually on the fingers, so building a portfolio will be even more important. That is the foreground of the constellation of the architect’s life, namely the work or project that has a client and a life behind it.

Besides that, what is no less important is the background, the backstage life that underlies how I write on this blog since 2005. I believe that it is important for architects to share stories about third people, the ecosystem around architects and their design studios. Yesterday we published one of our platforms on IG(instagram): GuhaTheGuild.

I see how if the basic information is shared for free, won’t it help many people who are looking for their own way?

It may be as simple as communicating why architecture is so powerful, and valuable. And also as simple as sharing how to build an ecosystem, appreciating each other in the team, fellow colleagues. And simply as important as self-reflection, knowing that every moment of restarting a project, building a team, is a time to put down our pride as architects, and come down to serve with all our heart.

About two weeks ago the Apple TV team came to the house, and they documented how the team and I worked, including spending time with Laurensia, Miracle and Heaven. In the process of capturing the moment it lasted for almost 2 weeks, every day I needed to be ready at 6 am. From there I saw the sprint process or world-class team work (like Olympic athletes) which amounted to almost 20 -30 people every day. They work very fast, are compact, and they are executed effortless. I discussed with the director and producer who shared their stories which we will discuss at a later time. These are the nominees for the academy award class.

 In one of the discussions with them, I talked about how important the chicken coop at Alfa Omega is for the future development of the school, and one moment after the break, one person whispered next to me.

“Sir, usually if you raise chickens, it will be all gone, until you finally succeed.” “Is it all over, sir?” answer me. “Yes, all dead” replied the man. From there I realized that I needed to tell Mrs. Lisa, I needed to get ready. One negative thing will spread, starting from simple things, get ready to pay attention to details.

“How’s the farm today, ma’am?”

“Praise God pack 400 eggs are ready in the tray today”

“Laurensia is ready to greet our relatives this morning to help Mrs. Lisa, 400 eggs are ready today.”

From the studio’s story, and the story about Mrs. Lisa, it inspired me that Guha’s story which started in Piyandeling, at The Guild, and that a cave could be a story for Mrs. Lisa who is building Guhanya at Alfa Omega. From there, I thought that if we build a digital archive of behind-the-scenes transformation of our creative process, maybe this can be more useful for many people.

I learned that the more people who give, the sustenance from Him will not be lacking in the slightest. Never stop giving because behind it is a heaven full of blessings.

Today is Laurensia’s birthday, and we have been blessed with many happy children. Laurensia, Miracle and Heaven appeared. We celebrated Laurensia’s birthday in a simple way, she turned 39 on May 22. Miracle greets coming over for a hug,

Such babbling was enough to make me stop writing. My mind wandered back to the trip back to Piyandeling.

Kategori
blog

Guha Memanggil

Semburat cahaya menyinari dak lantai bambu di Piyandeling. Bayangan batang – batang bambu terpapar di lantai membentuk pola – pola batang – batang bambu yang berjajar, seperti metafora hutan bambu. Di balik latar terlihat susunan ramp yang melingkar memeluk tiang yang sekaligus berfungsi sebagai pemisah hubungan ruang privat. Ruang tersebut ada di lantai dasar yang terhubung dengan kebun dan wadah yang terbuka. Begitu masuk dari pintu utama, kita bisa melihat ramp dan dak bambu sebagai komposisi bangunan yang melayang di atas tanah, sebuah komposisi adaptasi dari bangunan tradisional Sunda, Imah Julang Ngapak. Ramp digunakan untuk proses memasuki ruang, sebagai sebuah wadah transisi. Elemen ini menyatukan sisi vertikal dan horisontal di bagian Piyandeling yang disebut Kujang. Atapnya menari naik dan turun, membentuk metafora seperti namanya, bentuk ini berkembang dari sekolah Alfa Omega sehingga bertransformasi seutuhnya dengan materialitas bambu seutuhnya.

Begitu masuk dari pintu utama, kita bisa melihat ramp dan dak bambu sebagai komposisi bangunan yang melayang di atas tanah, sebuah komposisi adaptasi dari bangunan tradisional Sunda, Imah Julang Ngapak. Ramp digunakan untuk proses memasuki ruang, sebagai sebuah wadah transisi.
Ketukangan yang diolah disini adalah ketukangan tradisional Sunda yang dikembangkan oleh kawan – kawan tukang dari Sumedang. Ramp selebar 1 m ini pun juga demikian dengan bambu – bambu yang menjadi rangkanya yang juga berfungsi sebagai pegangan tangan dengan kesederhanaan konstruksi, bahasa pasak dan perekat.

Piyandeling dikerjakan oleh 4 orang pengrajin yang bekerja bereksperimen dengan ketukangan bambu, membuat elemen – elemen pintu – jendala putar, memanfaatkan bahan – bahan sampai tidak bersisa. Bentuk massanya sederhana, platonis dengan elemen yang terdiri dari bentuk – bentuk alam. Ketukangan yang diolah disini adalah ketukangan tradisional rumah Sunda yang dikembangkan oleh kawan – kawan tukang dari Sumedang. Ramp selebar 1 m ini pun juga demikian dengan bambu – bambu yang menjadi rangkanya yang juga berfungsi sebagai pegangan tangan dengan kesederhanaan konstruksi, bahasa pasak dan perekat.

Piyandeling dikerjakan oleh 4 orang pengrajin yang bekerja bereksperimen dengan ketukangan bambu, membuat elemen – elemen pintu – jendala putar, memanfaatkan bahan – bahan sampai tidak bersisa.

Satu kawan saya, Anas mengingatkan ketika kami berdiskusi soal pentingnya proses, ia berkata “Terkadang kita lupa untuk bersyukur dibalik seluruh proses yang ada, ia melanjutkan,

KAS ( Ki Ageng Suryomentaram) itu seperti Bima dlm cerita Dewa Ruci…Bima yg benar2 ada…Ya dia mencari kebenaran gk ke mana2. Ya dari dirinya sendiri. Betul. Kan ceritanya perjalanan jauh, tp itu hanya kiasan. Justru diri sendiri ini yg sebenarnya sangat jauh. Krn orang sering lupa, sibuk meniru orang lain. Jika kamu menghadap ke utara, apa yg paling jauh di utara sana ? Ya punggungmu, karena bumi ini bulat. Lawan terkuat sebetulnya ya diri sendiri. Kalo dari sloki (tahap kemabukkan) ya sloki ke 10: dasa buta (nama tingkatan kemabukkan terakhir) … mati. Balik nol lagi. Maka di Jawa yg utama adalah Slamet (selamat), bukan bener (benar).

Berbeda dengan Guha yang ada di Jakarta, Piyandeling menggunakan elemen tradisional dan mencoba mendekati desain dari sudut pandang ketukangan tradisional. Sedangkan Guha menggunakan adaptasi antar material industri dan fiber. Guha melambangkan kota dengan gemuruh kompleksitas rumah petak di dalamnya, kehidupan studio yang intensif, efisiensi, kecepatan, presisi, konsep-ide-gambar-membangun. Dan, Piyandeling melambangkan ketenangan desa dengan kedamaian yang sunyi.

Guha menggunakan adaptasi antar material industri dan fiber. Guha melambangkan kota dengan gemuruh kompleksitas rumah petak di dalamnya, kehidupan studio yang intensif, efisiensi, kecepatan, presisi, konsep-ide-gambar-membangun.
Berbeda dengan Guha yang ada di Jakarta, Piyandeling menggunakan elemen tradisional dan mencoba mendekati desain dari sudut pandang ketukangan tradisional. Piyandeling melambangkan ketenangan desa dengan kedamaian yang sunyi.

Laurensia mengingatkan setiap harinya untuk tidak lupa bersyukur, membicarakan setiap permasalahan di dalam saat – saat kami makan bersama. Di saat – saat itu saya bisa menghargai kualitas waktu yang sungguh menjadi sangat berharga sekarang ini.

Beberapa hari terakhir ini juga, saya berdiskusi cukup intensif dengan tim internal studio, beberapa desainer, craftsmen, dan para advisor. Keseluruh-lapisan yang ada memiliki curahan hati yang berbeda. Saya bangun pagi – pagi hanya untuk menyelesaikan sketsa – sketsa dan menyusun jadwal di hari itu, kemudian di jam 09.00 desainer, pustakawan, admin mulai datang saya sering menyapa mereka di pagi hari “gimana progressmu, apa semua pekerjaan lancar ?” Saya hanya ingin memastikan apa mereka mengalami kesulitan.

Sejauh ini perimeter kami masih aman, dan meskipun keluarga anak – anak studio kami juga ada yang terkena Covid, namun Puji Tuhan semua orang, kerabat masih sehat, dan berangsur – angsur kembali normal dengan penyesuaian, tanpa kurang suatu apapun. Sering kali saya lupa bahwa kehidupan manusia begitu rapuhnya yang terkadang mengagetkan kita dengan senda gurau dan tawa air mata. Foto oleh gabby (IG: veronica.capture)

Prinsip keselamatan ini, diwarnai dengan saat – saat kami saling mengapreasiasi satu sama lain, di dalam studio sekarang, kami mengadakan acara selamatan berupa hari apresiasi. Di satu hari itu kami memilih satu orang yang terbaik dari 3 divisi berbeda, desain, administrasi, dan perpustakaan. Di saat tersebut, orang – orang bergantian memberikan testimonial terhadap orang tersebut. Momentum tersebut seperti titik kompas, kembali ke titik awal, bagaimana sesederhananya bekerja adalah proses untuk belajar, mengapresiasi dan mengenali diri sendiri. Di dalam acara tersebut saya juga memberikan apresiasi bonus dan meminta Farhan untuk merekamnya untuk kebersamaan.

Kira – kira setahun yang lalu pandemi Covid ini mulai muncul di Indonesia. Saya pikir Covid ini setidaknya sedikit membawa refleksi di dalam tim studio kami. Setidaknya filosofi ini menjadi penting, untuk menyadari bahwa masih diberikan kesehatan, rejeki, dan waktu berkumpul keluarga atau teman terdekat. Munculnya kesadaran akan merasa lebih dari cukup sungguhlah proses yang berharga. Saya ingat waktu itu kira – kira sore hari, saya mengumpulkan anak – anak studio . Saya menanyakan apa ada kemungkinan anak – anak studio untuk pulang ke rumah masing – masing.

Baru satu hari sebelum pertemuan tersebut di satu tahun yang lalu, saya mengecek grafik kematian di Korea dan China yang signifikan, Singapore, dan beberapa negara lainnya. Presiden Joko Widodo pun mengumumkan 3 kasus pertama di Indonesia. Di saat itulah saya sadar, pandemi sudah di depan mata. Setelah itu 3 cluster pun terbentuk, seperti cluster pertama untuk yang tinggal di The Guild, cluster kedua untuk yang tinggal di luar The Guild, anak – anak bekerja dengan masker diperimeter The Guild. Cluster ketiga adalah anak – anak yang bekerja dari jarak jauh.

Tahap pertama saya perlu mengamankan arus kas yang ada di studio. Kami memecah waktu kerja menjadi setengah – setengah untuk satu minggu. Dan bergantian ada yang masuk penuh, karena perlu menjaga putaran keuangan untuk memberikan THR secara penuh dan menjaga arus kas untuk 6 bulan ke depan dengan minimnya proyek yang ada. Baru 5 bulan kemudian, situasi berangsur – angsur pulih.

Sejauh ini perimeter kami masih aman, dan meskipun keluarga anak – anak studio kami juga ada yang terkena Covid, namun Puji Tuhan semua orang, kerabat masih sehat, dan berangsur – angsur kembali normal dengan penyesuaian, tanpa kurang suatu apapun. Sering kali saya lupa bahwa kehidupan manusia begitu rapuhnya yang terkadang mengagetkan kita dengan senda gurau dan tawa air mata.

ke-Slamet-an penting sebagai basis landasan untuk maju ke tahapan selanjutnya. Hal ini terlihat di dalam proses Tumpeng, atau manifest Tumpang Sari yang bertahap – tahap melangkah untuk hal yang lebih baik. Sejak Pandemi datang, akar semakin kuat, relasi semakin nyata, jembatan saling menyambung, dan saya bisa ucapkan Terima Kasih Tuhan.

Tumpang Sari di Guha The Guild : ke-Slamet-an penting sebagai basis landasan untuk maju ke tahapan selanjutnya. Hal ini terlihat di dalam proses Tumpeng, atau manifest Tumpang Sari yang bertahap – tahap melangkah untuk hal yang lebih baik. Sejak Pandemi datang, akar semakin kuat, relasi semakin nyata, jembatan saling menyambung, dan saya bisa ucapkan Terima Kasih Tuhan.

Lisa Sanusi bercerita mengenai tumpang menumpang di dalam ceritanya soal Nasi Tumpeng yang pada hakikatnya menumpang satu sama lain menjadi jembatan yang teranyam kuat.

Ia menulis “Tumpeng menceritakan … susunan anak tangga demi anak tangga kehidupan yang akan kita naiki … betapa tingginya dan dalamnya sebuah perjalanan … tumpeng harus punya dasar yang kokoh dan kuat untuk menopang sampai kepuncak panggilan, dihiasi dengan banyak hal kehidupan yang kita bisa nikmati …

ada banyak rasa dan warna berjuta rasa dan asa … dalam kehidupan … bulat bentuknya menandakan kebulatan hati dan tekad ….

sahabat yang jarak tempuh jauh seperti jembatan teranyam kuat satu… hati kami berpaut…”

Satu saat ketika saya kembali ke Piyandeling dan menatap langit – langit, memahami lompatan selanjutnya, Laurensia memanggil “Yang yuk makan, sebentar lagi kita kembali lagi ke Jakarta.” Guha sudah memanggil dari kejauhan dengan gaung dan gemanya.

.
Terima kasih Guha dan Piyandeling, pengrajin dan keseluruhan tim sudah membantu membangunnya. Satu saat ketika saya kembali ke Piyandeling dan menatap langit – langit, memahami lompatan selanjutnya, Laurensia memanggil “Yang yuk makan, sebentar lagi kita kembali lagi ke Jakarta.” Guha sudah memanggil dari kejauhan dengan gaung dan gemanya. Di antara dua kutub Guha dan Piyandeling, pelajaran dimulai kembali. Foto terakhir adalah foto spesial karena ada Mang Uyu (ditengah) ibaratnya beliau adalah kapten bambu dari Sumedang dengan ketukangannya. Mang Saniin di bawah, Mang Rojak di kanan, Mang Dede di belakang.
.

Foto terakhir adalah foto spesial karena ada Mang Uyu (ditengah) ibaratnya beliau adalah kapten bambu dari Sumedang dengan ketukangannya. Mang Saniin di bawah, Mang Rojak di kanan, Mang Dede di belakang.
Lisa Sanusi bercerita mengenai tumpang menumpang di dalam ceritanya soal Nasi Tumpeng yang pada hakikatnya menumpang satu sama lain menjadi jembatan yang teranyam kuat. Ia menulis “Tumpeng menceritakan … susunan anak tangga demi anak tangga kehidupan yang akan kita naiki … betapa tingginya dan dalamnya sebuah perjalanan … tumpeng harus punya dasar yang kokoh dan kuat untuk menopang sampai kepuncak panggilan, dihiasi dengan banyak hal kehidupan yang kita bisa nikmati … ada banyak rasa dan warna berjuta rasa dan asa … dalam kehidupan … bulat bentuknya menandakan kebulatan hati dan tekad …. sahabat yang jarak tempuh jauh seperti jembatan teranyam kuat satu… hati kami berpaut…” Sejak Pandemi datang, akar semakin kuat, relasi semakin nyata, jembatan saling menyambung, dan saya bisa ucapkan Terima Kasih Tuhan.


Kategori
blog

Phantom of Architecture

Bu Titin mengkontak saya untuk mengisi kuliah di Universitas Tarumanagara, bagian sejarah dan pemugaran. Saya menggunakan literasi untuk mengkontekstualkan apa yang sedang saya baca, mengerti dan berguna untuk praktik dan refleksi. Sejarah berguna sebagai kompas dan referensi kreatifitas di dalam berkarya.

Saya menulis prolog di bawah untuk acara kuliah tersebut.

“Architecture is sometimes interpreted as buildings or space in between, or body of theory. It’s a phantom, an unseen object of something apparent to sense but with no substantial existence. The Phantom actually greets and haunts us as traditions and technology. The sharing in here will focus on the paradoxes that creates bricolages of Architecture Fantasy in post modern era. It’s a way to use history for re-contextualizing the practice to be grounded or being radical to open unlimited possibilities of ideas.”

Saya terinspirasi dari bayangan yang dibentuk oleh matahari. Setiap orang di dalam melangkah akan menghasilkan jejak dan bayangan. Sejarah sendiri adalah bayang – bayang yang terus ada ketika melangkah. seakang – akan kita semua di dalam hidup ada di dalam perjalanan untuk menemukan matahari kita sendiri, berteduh dari bayang – bayang pepohonan, ataupun melindungi anak – anak kita dengan bayang – bayang. Saya akan memulai kuliah dengan kejadian – kejadian traumatis yang mempengaruhi arsitektur, bagaimana menarik diri untuk merekonsiliasikan trauma tersebut menjadikan lompatan untuk majunya peradaban, dan hal itu ditandai oleh arsitektur. Dibalik seluruh bayangan yang diciptakan dari trauma masa lalu, potensi untuk membuka kemungkinan baru masih terbentang dan hal tersebut bisa dimulai dari satu hal yang sederhana yaitu jujur kepada diri sendiri.

Phantom of Architecture

15 April 14:00, on thursday.

Kategori
research

Arsitektur Berkelanjutan

Wacana arsitektur berkelanjutan menjadi penting mengingat semakin tingginya degradasi lingkungan yang terjadi sebagai akibat dari manusia. Upaya-upaya meminimalkan dampak lingkungan ini disadari oleh banyak arsitek, yang dirumuskan sebagai kesadaran bersama-sama yang menjadi sebuah kesepakatan global. Arsitektur berkelanjutan disini dibahas dari lima titik kesadaran, yaitu pertama : kesadaran akan diri sendiri, kedua : kesadaran akan lingkungan sekitar, ketiga : kesadaran akan material, keempat : kesadaran akan strategi desain, dan ditutup di titik awal kelima yaitu : refleksi. Setiap titik awal tersebut diturunkan ke dalam 14 strategi arsitektur berkelanjutan dan akan dibahas satu demi satu.

Dalam Brundtland Commission (1980), pengembangan keberlanjutan didefinisikan sebagai “sebuah pengembangan untuk memenuhi kebutuhan masa sekarang dengan tidak mengorbankan kebutuhan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.“ Tindak dan laku kita akan memiliki pengaruh di masa depan, dan tentu arsitektur memiliki peran yang signifikan. Untuk itu, perlu memupuk kesadaran akan diri sendiri, lingkungan, bahan material, strategi desain, dan tidak lupa dengan refleksi yang merajut semua hal itu dalam sebuah kesadaran yang kolektif.
Marie-Helene Contal dalam pengantarnya di buku Sustainable Design 7 mengatakan bahwa persoalan yang dihadapi semakin kompleks, seperti krisis ekologis, pengembangan yang tidak berkesadaran, ekonomi, dan ketimpangan sosial. Contal menggarisbawahi tentang pemberdayaan, yaitu sebuah proses di mana masyarakat sosial yang menghadapi persoalan yang sama akan memiliki kesadaraan dan sarana untuk dapat ikut berpartisipasi sehingga keberlanjutan menjadi persoalan kolektif yang memerlukan kontribusi dari segala pihak.
Terdapat 5 titik awal arsitektur berkelanjutan yaitu (1) kesadaran diri, (2) kesadaran lingkungan, (3) kesadaran material, (4) strategi desain, dan (5) refleksi.

I hope that in the 21st century the largest accomplishment of art will be to restore the earth.

Ian Mcharg, Design with Nature (1969)

Sebelum kita bahas bersama-sama, mari kita pertanyakan pada diri kita sendiri, “siapa aku?”

Arsitektur Berkelanjutan | Gelombang Kesadaran Lingkungan

Kesadaran Lingkungan dan Sebab Akibatnya terhadap Arsitektur Berkelanjutan

Cara hidup manusia berkaitan erat dengan lingkungannya dan berpotensi besar mempengaruhi/merubah ekosistem bumi. Dengan memahami isu sosial – ekonomi – lingkungan masa lampau dan kaitannya dengan apa yang terjadi di masa kini kita bisa mempelajari hubungan sebab-akibat dalam mengonstruksikan arsitektur berkelanjutan. Keberlanjutannya tidak hanya tentang bangunan secara individual melainkan juga hubungan sebab akibat dengan lingkungan, kondisi sosial dan ekonomi.

Kehidupan manusia telah menyaksikan berbagai perubahan iklim dan lingkungan yang diakibatkan oleh berbagai hal. Menurut Alison Knight, terdapat tiga gelombang kesadaran yang mengantarkan kita menuju ke era berkelanjutan, yakni:
(1) 1960-1967, munculnya buku Silent Spring tentang bahaya racun pestisida.
(2) 1987, tentang “Our Common Future” dan Brundtland Report, puncak penelitian tentang keberlanjutan dan identifikasi jangka panjang kehidupan Bumi.
(3) 1980-1990, tentang kesadaran konsumerisme dengan kebocoran gas di Bhopal dan tragedi di Chernobyl, terminologi eco-design muncul disini.

Era keberlanjutan sendiri mulai popular sejak tahun 1960, ketika banyak bangunan mulai terputus dengan konteks lingkungan dan menimbulkan masalah sosial. Gerakan environmentalism pun muncul, salah satunya dipengaruhi oleh buku Silent Spring (Rachel Carson, 1962), menunjukkan perubahan drastis rantai ekosistem akibat pestisida sintesis. Dalam arsitektur & planning, buku Design with Nature (McHarg, 1969) lantas menawarkan konsep integrasi desain dan perencanaan dengan karakter dari sebuah ekosistem dan lansekap.

Revolusi Industri dan Gothic Revival
Masa ini ditandai dengan sebuah revolusi Romantik dan ketertarikan pada literatur Abad Pertengahan. Selain itu penulis seperti John Ruskin dalam buku Seven Lamps of Architecture (1849) dan Stones of Venice (1853) sangat menjunjung tinggi kualitas craftsmanship dari bangunan Gotik, menyebabkan munculnya sebuah style arsitektur yang disebut Gothic Revival (1750-1900).

Kota Barok & Gerakan City Beautiful Batasan antara seni, arsitektur, dan lansekap makin pudar. Gerakan Barok menyebar dari Italia ke negara lain di Eropa dan Amerika Latin, menciptakan penataan negara baru dengan prinsip geometris dan berpusat pada monarki. Perancangan tata kota yang terpengaruh oleh hal ini disebut City Beautiful. Gerakannya mulai terbentuk di Amerika Serikat, dari Municipal Arts movement dan World’s Columbian Exposition di Chicago di tahun 1893 dan berkembang di 1900-an.
Valley Section
Gambar potongan oleh Patrick Geddes pada tahun 1909 menjadi titik balik cara berpikir desain/intervensi manusia pada alam. Geddes menunjukkan adanya keanekaragaman lingkungan yang berkorelasi dengan perbedaan cara hidup manusia. Poinnya adalah ekosistem manusia adalah bagian dari ekosistem lingkungan tempat tinggalnya. Hal ini membongkar dikotomi antara peradaban dengan alam.

Modern Empiris
Terdapat 2 pemikiran: (1) konsep urban seperti pembentukan ruang terbuka dan pengalaman ruang publik (Jane Jacobs, Christopher Alexander, dll.); (2) teori pembentuk kota baru dengan gerakan Garden City, mengatasi masalah kota industri melalui desentralisasi. Contoh konsep perancangan Garden City yaitu Broadacre City oleh Frank Lloyd Wright (1958), kawasan kota berkelanjutan dengan pembangunan horizontal berkepadatan penduduk rendah, mudah akses layanan/komoditas apapun dalam radius 150 mil melalui jalan darat/udara.
Modern Rasional / International Style
Memiliki cara pandang yang memperhatikan sistem sosial futuristik di dalam bentuk ideal geometris. Tokoh-tokoh dengan pemikiran ini kemudian berkumpul dan membentuk CIAM (1944), melahirkan kota-kota baru di akhir abad ke-20. Salah satunya adalah The Radiant City oleh Le Corbusier, pembangunan vertikal dikelilingi ruangan hijau, perumahan harus sesuai dengan ukuran keluarga, bukan posisi ekonomi. Proyek-proyek gerakan ini meliputi renovasi kota masal dan pembangunan sosial housing dalam waktu cepat.

Postmodernism
Terputusnya bangunan dengan konteks lingkungan menimbulkan masalah sosial. Jane Jacobs mengkritik dalam buku The Death and Life of Great American Cities (1961). Gerakan environmentalism mulai muncul, salah satunya dipengaruhi oleh buku Silent Spring (1962) yang ditulis Rachel Carson, menunjukkan perubahan drastis rantai ekosistem akibat pestisida sintesis. Dalam arsitektur & planning, Ian L. McHarg melalui buku Design with Nature (1969), menawarkan konsep integrasi desain dan planning dengan karakter dari sebuah ekosistem dan lanskap.

Gerakan pembangunan berkelanjutan kemudian berkembang dengan kemunculan: (1) New Urbanism, diprakarsai oleh Andres Duany, menentang perluasan pinggiran kota dan disinvestasi perkotaan, yang kemudian melahirkan gerakan sustainable architecture & sustainable urbanism; (2) Landscape Urbanism dimana kota dipandang sebagai sebuah lansekap dan segala intervensi harus mempertimbangkan aspek pembangunan termasuk un-building, removal, dan erasure. Contohnya pada restorasi Cheonggyecheon, Korea Selatan; Central Park, Manhattan; dan Water Square, Netherland.

New Urbanism muncul tahun 1993, mendukung kota yang didesain dengan mementingkan kehidupan sosial manusia; menolak sistem yang mempertajam kesenjangan ras & pendapatan, urban sprawl, kerusakan lingkungan & ekosistemnya; dan menjaga integrasi kultur sosial dengan lingkungan binaan. Pola mixed-use, kota-kota yang ramah pejalan kaki, transit oriented development, pemukiman terjangkau, dan area publik semakin populer. Hal ini melahirkan gerakan sustainable architecture dan sustainable urbanism. Andres Duany adalah adalah seorang arsitek Amerika, perencana kota dan pendiri Kongres untuk New Urbanism. Bersama partnernya mendirikan Duany Plater-Zyberk & Company (DPZ). Mereka menentang perluasan pinggiran kota dan disinvestasi perkotaan. Beberapa proyeknya terkenalnya adalah Seaside, Florida dan Kentlands, Maryland.
Landscape Urbanism Dipengaruhi oleh keadaan kota-kota post-industrialisasi di tahun 1990-an, yang menyebabkan pengaruh signifikan pada lanskap yang diciptakan, yang memiliki pola produksi dan konsumsi yang khas dengan terjadinya sprawl. Pola ini menciptakan sebuah ekologi industri dan agrikultur yang berskala nasional dengan menggunakan gambar-gambar lanskap buatan. Landscape Urbanism melihat kota sebagai sebuah lanskap, dan intervensi yang dilakukan pun mempertimbangkan aspek-aspek yang tidak hanya membangun tetapi juga un-building, removal, dan erasure. Beberapa contoh praktik landscape urbanism adalah (1) Cheonggyecheon, Korea Selatan, restorasi saluran pembuangan (sewer) yang dijadikan taman ekologi kota Seoul; (2) Central Park, Manhattan yang memusatkan area terbuka hijau dan konservasi air di tengah kota; dan (3) Water square, Netherland yang membuat strategi water retention di lokasi urban.

Dengan mengupas masa lampau dan merelasikannya dengan masa kini, kita bisa memahami dampak apa yang sudah dan kemungkinannya dihasilkan oleh arsitektur kita terhadap keberlangsungan lingkungan masa kini dan mendatang.

Kesadaran Material dan Bahan

Diskursus tentang material dimulai dari pola pikir “working detail” yang dibahas oleh Michael Cadwell mengenai seluk-beluk sambungan detail-detail yang interpretatif namun ternyata justru membangun sensibilitas puitis terhadap penciptaan pengalaman ruang yang mampu merangsang kepekaan manusia. Juhani Palasma juga menyatakan bahwa arsitektur mengartikulasi pengalaman manusia dengan meningkatkan sensibilitas indera. Sedangkan Kenneth Frampton mengartikulasikan terminologi tektonika dengan menjelaskan bagaimana perancang mengembangkan berbagai percobaan untuk menemukan sistem konstruksi yang lebih optimal, estetika, dengan teknologi bangunan yang transformatif.

Michael Cadwell menggali seluk-beluk sambungan detail-detail yang interpretatif dimana terdapat detail-detail ‘aneh’ namun justru membangun sensibilitas puitis terhadap penciptaan pengalaman ruang yang merangsang kepekaan manusia. Hal ini diyakinkan kembali oleh kepekaan taktilitas yang dirasakan oleh kulit. Menurut Juhani Palasmaa, kulit disebut sebagai organ tertua manusia. Sedangkan arsitektur juga mengartikulasi pengalaman kita dengan meningkatkan sensibilitas indera yang kita tangkap terhadap kenyataan dengan diri sendiri. Melalui kulit, kita dapat melihat dan merasakan seperti meraba bata yang kasar hingga merasakan gerah dan sejuknya suatu ruangan.
Kenneth Frampton membawa terminologi tektonika dari akarnya dan menjelaskan bagaimana para craftsman mengembangkannya sepanjang berbagai percobaan untuk menemukan suatu sistem konstruksi yang optimal, guna menyelesaikan tantangan-tantangan perjalanan dari peran perancang di lingkungan binaannya, serta mendorong pekerjaan lintas disiplin yang lebih beragam.
YB Mangunwijaya menulis buku “Pasal-pasal Penghantar Fisika Bangunan” di tahun 1980. Mangunwijaya memberikan diskursus terkait fungsi detail, kaitannya dengan iklim, budaya, dan fungsi bangunan. Kemudian, tiga puluh dua tahun berikutnya, diskursus tentang kesadaran material kembali diperbincangkan dengan keikutsertaan Indonesia di Venice Biennale Architettura 2014 dengan tema “Ketukangan: Kesadaran Material” dimana para kurator yaitu Avianti Armand, Achmad D Tardiyana, Setiadi Sopandi, David Hutama dan Robin Hartanto mencoba menarik bentang 100 tahun arsitektur di Indonesia dengan benang merah berupa material bangunan. Wacana ini menggarisbawahi keterkaitan yang konstruktif antara arsitek, tukang, dan material yang digunakannya; membahas enam eksposisi material yang banyak digunakan di Indonesia seperti kayu, batu, bata, baja, beton, dan bambu.

Sedangkan di Indonesia, diskursus material digagas Y. B Mangunwijaya yang mengkaitkan fungsi detail dengan iklim, budaya, dan fungsi bangunan. 32 tahun setelahnya, diskursus material kembali diperbincangkan melalui Paviliun Indonesia di Venice Biennale Architettura 2014 yang mengangkat tema “Ketukangan: Kesadaran Material”.

Plowright telah merumuskan bahwa terdapat tiga buah kerangka proses pemecahan masalah dalam lingkup desain yaitu pattern (form) dalam arsitektur adalah sebagai penataan, organisasi, dan permainan komposisi pola sehingga ini bersifat rasional karena membatasi pertimbangan arsitektur terhadap hal-hal formal sebagai bentuk ideal, forces (context) dimana kerangka ini terbentuk berdasarkan prinsip rasionalisme yang dipertajam dengan pengamatan konteks, dan concept (conceptualization) dimana kerangka konseptual bekerja melalui perangkat abstrak seperti metafora, analogi, pertanyaan, dan ide intuitif.
Terdapat 2 cabang dalam kerangka pattern (form), yaitu:

Bentuk platonik mewujud dalam objek geometri dasar lingkaran, segitiga, dan kotak. Penggunaan bentuk ini adalah mencapai kualitas formal yang diserap dari bentuk platonik agar dapat dibentuk dengan cepat. Dari segi efisiensi, bentuk platonik menghindari pemborosan ruang, lebih ekonomis, dan mengurangi material waste.

Lengkungan (parabolik/ catenary) Bentuk lengkung parabolik adalah konsekuensi matematis dari pertemuan dua buah titik menjadi kurva, begitu pula dengan lengkung catenary yang diperoleh dengan membiarkan gravitasi membentuk kurva dari sebuah tali. Lengkungan digunakan dalam desain karena tiga alasan, yakni kualitas natural, ekspresif, serta karakter informal ketika bentuk platonik tidak dapat menyelesaikan suatu desain.
Terdapat pula 3 metode dalam kerangka forces (context), yaitu:

Daya tradisional digunakan ketika situasi proyek bersinggungan dengan masyarakat (lokal) dengan cara-cara bekerja yang asli (tradisional) masih dilakukan dan padat karya adalah solusi yang paling relevan dalam menanggapi konteks.

Daya industrial dilakukan ketika tersedia akses manufaktur di suatu proyek. Metode ini ditempuh ketika proyeksi jangka panjang menghasilkan perhitungan biaya tenaga kerja padat karya lebih tinggi dari biaya sistem manufaktur yang tersedia di suatu proyek.

Daya adaptasi dilakukan ketika kedua aspek tersedia dimana keduanya dapat dilakukan secara paralel di suatu proyek. Apabila didukung oleh manajemen yang baik untuk menangani kedua jenis aset konstruksi.
Kerangka concept (conceptualization) memiliki 2 cabang, yaitu:

Cave (gua) merujuk pada bentuk alami yang berasal dari hasil reduksi masa. Pendekatan cave berfokus pada diskusi mendalam antara klien dengan arsitek. Melalui analisa diskusi, arsitek dapat menemukan potensi solusi yang muncul dari benak seorang klien dan dirinya sendiri. Hasil dari konsep ini memperoleh form utama desain sebagai konsekuensi kepribadian, yang diikuti oleh fungsi arsitektural (Function follows form).

Nest (sarang) merupakan pendekatan untuk mengeksekusi desain dimana konstruksi ditangani melalui hal yang paling dasar, yakni program dan struktur, kemudian material hingga detail. Sehingga hasilnya adalah bentuk yang merupakan konsekuensi langsung dari fungsi arsitektural (Form follows function).

Plowright merumuskan tiga buah kerangka proses pemecahan masalah dalam lingkup desain yaitu pattern (form) yang merupakan penataan, organisasi, dan permainan komposisi pola sehingga kerangka bersifat rasional karena membatasi pertimbangan arsitektur terhadap hal-hal formal sebagai bentuk ideal. Forces (context) dimana kerangka terbentuk berdasarkan prinsip rasionalisme yang dipertajam dengan pengamatan konteks. Concept (conceptualization) melalui perangkat abstrak seperti metafora, analogi, hingga ide intuitif.

Tiga buah kerangka proses pemecahan masalah dalam lingkup desain

Melalui kesadaran material akan potensinya, arsitektur dapat berperan bagi diskursus keberlanjutan manusia dan lingkungan di dalam tataran detail, konstruksi dan teknologi bangunan yang transformatif dari jaman ke jaman.

Dengan kata lain, melalui pemahaman terhadap prinsip material dengan menumbuhkan kesadaran akan potensinya, arsitektur dapat berperan bagi keberlanjutan manusia dan lingkungan. Jadi, mari kita bersama – sama menumbuhkan kesadaran akan potensi material yang ada di sekitar kita

Material | Memahami Karakter Material

Memahami material, dimulai dengan menggali prinsip – prinsipnya melalui kajian sejarah, jenis – jenis atau turunannya, nilai konduktivitas termal, hingga emisi gas rumah kaca yang dihasilkan.

Beton adalah material batu buatan dari campuran semen, air, dan agregat (krikil, pasir). Berikut kronologi sejarahnya:
12.000 SM – mortar (adonan perekat) dari kapur.
200 SM – opus caementitium (beton roma): mortar pozzolana (abu vulkanik) dan agregrat batuan, keramik, dan puing-puing bata.
1824 – semen Portland dari kapur hidraulik (Inggris) yang hingga kini paling umum digunakan dalam pembuatan beton.
1910 – pabrik semen pertama di Indonesia: NV Nederlandsch Indische Portland Cement Maatschapp (PT. Semen Padang).

Produk turunannya dibedakan menjadi 2: Beton Murni (Beton berat: >2600 kg/m3; Beton normal: >2000-2600 kg/m3; Beton ringan: 800-2000 kg/m3)
Beton dengan Perkuatan (Beton fiber: logam, plastik, kaca, kayu; Beton fabrik: plastik, kaca; Beton bertulang (baja))

Berdasarkan Konduktivitas Termal (W/mK), beton memiliki kategori (Standar) 0.8 (2). Beton ringan memiliki nilai yang lebih rendah, sering digunakan sebagai material insulasi.

Berdasarkan Embodied CO2 (kgCO2 eq./m3), beton masuk kategori (Standar) 0.8 (2)

Tahap awal adalah kajian sejarah yang dimulai dari penggalian asal muasal dan bagaimana perkembangan satu material hingga akhirnya dapat menjadi konteks yang menjangkau site. Setelah mendapatkan opsi material, langkah selanjutnya adalah mengkaji lebih dalam jenis dan turunannya hingga mendapatkan keputusan berdasarkan konsep dan pembentukan pattern (form), yang telah disesuaikan dengan konteks lokasi.

Untuk melihat seberapa signifikan dampaknya terhadap kenyamanan user dan kelestarian lingkungan, dilakukan kajian konduktivitas termal. Apabila material yang dipilih memiliki angka konduktivitas yang tinggi misalnya beton, maka perlu ada perlakuan khusus seperti penambahan fasad misalnya bambu atau kayu sebagai pereduksi panas. Tahap terakhir adalah analisa embodied CO2 atau emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh material. Tahap ini lebih banyak merujuk pada signifikansi dampak bangunan terhadap lingkungan terkait carbon footprint. Kita dapat menekan angka ini, salah satunya dengan cara menggunakan material lokal sehingga mengurangi kegiatan transportasi material oleh kendaraan bermesin.

Dapat kita pahami bahwa setiap material memiliki nilai dan kegunaannya masing-masing dan pemilihannya berdasarkan konteks dan tipe konstruksi yang akan dikerjakan. Material dapat digunakan dengan optimal dan memiliki nilai keberkelanjutan apabila telah dipahami prinsip – prinsipnya.

Bambu adalah tumbuhan keluarga rerumputan yang tumbuh tinggi dengan batang berongga yang kuat, lazim ditemukan di wilayah asia-pasifik. Kuat gaya tarik dan tekan, mudah dipotong, dibentuk, dan diolah. Dipandang dari sisi sejarahnya, bambu kerap diasosiasikan dengan budaya tradisional Asia, telah lama digunakan sebagai jembatan, scaffolding, dan hunian.

Jenis-jenis bambu yang lazim digunakan di Indonesia: petung(d: 20cm), wulung (d: 14cm), apus (d: 40-10 cm). Produk olahan bambu:
Bambu gelondong: kolom, balok, rangka, dinding.
Bilah bambu: usuk, reng, rangka bidang, pagar, pengisi bidang.
Sayatan bambu: lembar anyaman untuk dinding, plafon, dll.
Bambu lapis, panel bambu, bambu komposit.

Bambu memiliki Konduktivitas Termal 0.55–0.59 W/mK. Material bambu memiliki embodied CO2 rendah, contohnya adalah lantai scrimber −14.89 kgCO2 eq./m3

Jadi, Siapkah untuk menggali potensi material yang ada di sekitar kita dan melestarikannya demi keberlanjutan hidup manusia dan lingkungan?

Dapat kita pahami bahwa setiap material memiliki nilai dan kegunaannya masing-masing dan pemilihannya berdasarkan konteks dan tipe konstruksi yang akan dikerjakan. Material dapat digunakan dengan optimal sekaligus memiliki nilai keberkelanjutan apabila telah dipahami prinsip – prinsipnya. Siapkah untuk menggali potensi material yang ada di sekitar kita dan melestarikannya demi keberlanjutan hidup manusia dan lingkungan ?

Penggunaan Material untuk Detail Arsitektur yang Berkelanjutan | Telaah Jejak Karbon dan Permainan Detail Arsitektural.

Di dalam jejak karbon setiap jenis material terkandung emisi yang dihasilkan dari proses terbentuknya material dan proses konstruksi. Besarnya jejak karbon diakibatkan dari tahap pemrosesan bahan , termasuk transportasi, sampai dengan pembuangan atau daur ulang akhir. Hal ini mengakibatkan besarnya emisi karbon global tahunan. Setiap tahun, karbon yang terkandung bertanggung jawab atas 11% emisi GRK (gas rumah kaca) global dan 28% emisi sektor bangunan global. Emisi yang dihasilkan dari jejak karbon akan tertinggal di dalam sebuah bangunan.Kita bisa mengurangi jejak karbon melalui perencanaan pemilihan material dan rekayasa detail arsitektural.

Di dalam jejak karbon setiap jenis material terkandung emisi yang dihasilkan dari proses terbentuknya material dan proses konstruksi. Besarnya jejak karbon diakibatkan dari tahap pemrosesan bahan mentah hingga manufaktur, termasuk transportasi, sampai dengan pembuangan atau daur ulang akhir masa pakai. Hal ini mengakibatkan besarnya emisi karbon global tahunan. Setiap tahun, karbon yang terkandung bertanggung jawab atas

emisi GRK (gas rumah kaca) global dan emisi sektor bangunan global.

Namun, kita bisa mengurangi jejak karbon melalui perencanaan pemilihan material dan rekayasa detail arsitektural. Emisi yang dihasilkan dari jejak karbon akan tertinggal di dalam sebuah material, sebuah detail arsitektural, dan pada akhirnya sebuah bangunan, begitu bangunan tersebut dibangun, emisi tersebut dan tidak dapat ditarik kembali.
Tipe pertama adalah jejak karbon yang dihasilkan melalui terbentuknya material. Tipe ini diproyeksikan memiliki nilai stabil dari 2020-2050.

Tipe kedua yang semakin tinggi dari tahun ketahun adalah emisi karbon yang dihasilkan melalui perhitungan terhadap proses sebuah material diangkut, dikonstruksi, dan dipakai kembali/disimpan.

Di sini lah pemilihan material lokal dan rekayasa detail arsitektural yang mudah dikonstruksi berguna untuk mengurangi jejak karbon di dalam sebuah bangunan. Hal ini dinamakan kesadaran material dan detail arsitektural yang berkelanjutan.
Di dalam lingkup arsitektural, detail dipikirkan secara matang dengan mempertimbangkan pemilihan material lokal (transportasi sedekat mungkin dengan lokasi), bahasa yang mudah dimengerti, mudah dirawat, tahan lama. Sehingga kualitas detail tersebut kita bisa namakan detail yang berkelanjutan. Hal ini distudi oleh Cadwell dimana detail-detail berkelanjutan tersebut membentuk pengalaman ruang yang menyentuh sehingga arsitektur bisa merubah hal yang sederhana menjadi sedemikian dahsyat.

Di dalam lingkup arsitektural, detail dipikirkan secara matang dengan mempertimbangkan pemilihan material lokal (transportasi sedekat mungkin dengan lokasi), bahasa yang mudah dimengerti, mudah dirawat, tahan lama. Sehingga kualitas detail tersebut kita bisa namakan detail yang berkelanjutan. Detail-detail berkelanjutan yang ada di dalam setiap karya arsitek sebenarnya memiliki batasan terhadap cuaca, perawatan, pengalaman ruang yang dihasilkan, sehingga mampu untuk berkelanjutan dan melawan waktu. Detail-detail berkelanjutan tersebut membentuk pengalaman ruang yang menyentuh sehingga arsitektur bisa merubah hal yang sederhana menjadi sedemikian dahsyat.

Cadwell menggali detail-detail berkelanjutan sampai ke proses apresiasi ruang melalui dialog antar detail yang berbasis pada lokalitas. Empat karya arsitektur yang dibahas memiliki “detail yang berkelanjutan”. Karya ini adalah Querini Stampalia yang didesain oleh Carlo Scarpa, Jacob House yang di desain oleh Frank Lloyd Wright.

Detail-detail berkelanjutan yang ada di dalam karya yang dihasilkan oleh keempat arsitek ini memiliki batasan terhadap cuaca, perawatan, pengalaman ruang yang dihasilkan, sehingga mampu untuk berkelanjutan dan melawan waktu

Kuncinya adalah, merefleksikan diri sejauh mana kita bisa menyadari bahwa pemilihan material dan desain detail arsitektural itu memiliki parameter fungsional yang mengikat.

Proyek pertama ini adalah proyek renovasi Querini Stampalia oleh Scarpa yang didasarkan pada pemilihan material lokal dan apresiasi arsitek terhadap ketukangan setempat. Carlo Scarpa memainkan tata bahasa tektonika dan transisi antara ruang dalam dengan luar (taman) dengan kreatif, seperti penggunaan kaca yang transparan.

Permainan detail-detail berkelanjutan terlihat di dalam elemen-elemen pertemuan besi, kayu, batu, dan beton yang disesuaikan dengan jarak pandang, ergonomi, elemen pintu, jendela, dinding, lantai, langit-langit, engsel, sampai ke ornamen.
Optimalisasi detail arsitektur berkelanjutan menggunakan material panel kayu dalam rumah ini merupakan gagasan yang konstekstual dengan lingkungannya seperti topografi kota Wisconsin yang didominasi oleh hutan kayu, daerah ini memiliki suhu tertinggi mencapai 45 derajat celcius dan terendah mencapai -48 derajat celcius. Kayu dipilih karena mampu menyeimbangkan temperatur ruang dengan sifatnya yang adaptif dengan ditambah insulasi termal. Dari segi efisiensi, detail ini dimainkan melalui penggunaan panel kayu (plywood sandwich wall) hanya memakan biaya sebesar 5000 USD dengan durasi konstruksi selama 1 tahun.
Farnsworth House – Mies Van Der Rohe, Plano, Illinois 1945 – 1951. Farnsworth House dibangun di awal kemunculan era industri baja. Melalui karya ini, Mies Van der Rohe mencoba mengungkapkan detail berkelanjutan dalam ekspresi tektonika material baja dengan memberikan sensibilitas tentang bagaimana struktur dapat berdiri menopang beban. Diekspresikan melalui kolom tipis yang mampu menopang baja, yang digantung dan mewujudkan bidang lantai yang luas hingga menciptakan kesan melayang. Hal ini menyiratkan bahwa pemahaman tentang logika struktur yang berbeda – beda pada setiap material dapat dimainkan untuk mencapai tujuan berkelanjutan.
Yale Center for British Art-Louis Kahn, New Haven, USA : 1969 – 1974. Detail berkelanjutan pada proyek restorasi ini mencoba memaksimalkan pengalaman ruang melalui kombinasi berbagai macam material yaitu beton, logam, kayu, batuan, dan kaca. Kombinasi detail yang dimainkan antara logam jenis stainless steel dan kaca dengan beton diekspresikan paling lantang sehingga terlihat seperti sebuah cladding box yang sempurna. Beton sebagai kekuatan, logam sebagai gasad berperan mereduksi cahaya, sedangkan kaca berperan memasukkan cahaya. Skylight dengan bentuk piramida selain menstabilkan masuknya cahaya didukin oleh gridded skylights menciptakan permainan warna kebiru – biruan di dalam bangunan.

Sejauh mana arsitek dapat mendesain detail sehingga menjadi sebuah detail yang berkelanjutan ?

Kuncinya adalah merefleksikan diri sejauh mana kita bisa menyadari bahwa, pemilihan material dan desain detail arsitektural itu memiliki parameter fungsional yang mengikat. Kemudian, sejauh mana arsitek dapat mendesain detail hingga menjadi sebuah detail yang berkelanjutan ?

Metode Desain Menuju Arsitektur Berkelanjutan

Sebelumnya kita telah memahami korelasi antara konstruksi bangunan dengan arsitektur berkelanjutan dari sudut pandang detail arsitektur yang berkelanjutan. Selain konstruksi bangunan, arsitektur terkait erat dengan aspek perencanaan dimana prosesnya memiliki banyak pertimbangan, Hal ini dinamakan metode desain.

Untuk menyusun metode desain, arsitek perlu memahami bagaimana bangunan dikonstruksi dan dirancang. Proses perancangan juga memiliki begitu banyak pertimbangan yang perlu untuk dijawab, mulai dari apa? siapa? untuk apa? untuk siapa? bagaimana? kenapa? dan pada akhirnya apakah ada pilihan lain yang lebih baik? Ini dinamakan Design Theories and Methods (DTM). Pada pertengahan abad ke-20, kemudian kajian ini dibahas oleh Rittel dan Webber yang memisahkan dua jenis masalah yaitu Tame dan Wicked Problem.

Untuk menyusun metode desain, arsitek perlu memahami bagaimana sebuah bangunan itu dikonstruksi dan dirancang. Kita telah membahas bagaimana kaitan antara konstruksi bangunan dengan arsitektur berkelanjutan dari sudut pandang detail arsitektur yang berkelanjutan. Terlepas dari itu, proses perancangan juga memiliki begitu banyak pertimbangan yang perlu untuk dijawab, mulai dari apa? siapa? untuk apa? untuk siapa? bagaimana? kenapa? dan pada akhirnya apakah ada pilihan lain yang lebih baik? Ini dinamakan Design Theories and Methods (DTM). Pada pertengahan abad ke-20, kemudian kajian ini dibahas oleh Rittel dan Webber yang memisahkan dua jenis masalah yaitu Tame dan Wicked Problem.
Tame problem adalah permasalahan yang solusinya dapat diselesaikan dengan tepat. Wicked problem merupakan krisis perencanaan yang penyelesaiannya tidak pasti dimana prosesnya cukup berbelit karena masing-masing pihak yang berkepentingan mempunyai pandangannya masing-masing. Karena itu Rittel dan Webber menunjukkan pentingnya untuk merangkai sebuah bingkai cara kerja atau metodologi.
Untuk menyusun bingkai cara kerja atau metodologi desain, arsitek perlu untuk mensintesiskan Tame and Wicked Problem kedalam empat buah substansi yang meliputi:

1. Proses Arsitektur
Berkelanjutan (Process)

2. Produk Arsitektur Berkelanjutan (Product)

3. Relasi Sosial Arsitektur Berkelanjutan (Person)

4. Ekosistem Arsitektur Berkelanjutan (Press)

Tame problem adalah permasalahan yang solusinya dapat diselesaikan dengan pasti. Wicked problem merupakan krisis perencanaan yang penyelesaiannya tidak pasti dimana prosesnya berbelit karena pihak – pihak yang berkepentingan mempunyai pandangannya masing-masing. Karena itu Rittel dan Webber menunjukkan pentingnya untuk merangkai sebuah metodologi desain. Arsitek bisa untuk mensintesiskan Tame and Wicked.

Bahasa pola dimulai dari konteks, cara, dan proyeksi hasil perencanaan. Hal ini digagas oleh Alexander kedalam apa yang disebut Pattern Language. A Pattern Language adalah sebuah buku yang berbasis pada perencanaan kota dan lingkungan. Alexander memvisualisasikan bagaimana membentuk tahapan sebuah kota dan lingkungan di dalamnya.
Fisika bangunan dalam hal ini yang dimaksud adalah sintesisme antara fungsi detail, kaitannya dengan iklim, budaya, dan fungsi bangunan kedalam desain berkelanjutan. Faktor – faktornya meliputi pengaruh alam terhadap bangunan seperti hujan dan kelembaban hingga angin, kenyamanan termal yaitu pengaruh bangunan terhadap user melalui sensibilitas indera seperti intensitas cahaya hingga temperatur suhu dalam ruang, dan relevansi detail terhadap pemenuhan fungsi user hingga signifikansi dampaknya terhadap lingkungan baik ekonomi, sosial maupun ekologis.
Relasi sosial dalam arsitektur berkelanjutan menyangkut signifikansi dampak gagasan desain dari seorang arsitek terhadap keberlanjutan manusia. Dalam hal ini erat kaitannya dengan lokalitas yang salah satunya terwujud dalam pemakaian material lokal yang dikerjakan oleh masyarakat sekitar dan berdampak bagi perekonomian lokal namun tidak mengesampingkan dampak bangunan terhadap lingkungan seperti jejak karbon dan lain sebagainya.
Ekosistem dalam arsitektur berkelanjutan dalam hal ini maksudnya adalah tentang bagaimana membuat satu rancangan arsitektural perlu merajut berbagai disiplin ilmu hingga profesi. Misalnya saja ketika pekerjaan arsitektur memiliki gagasan utama untuk berbeperan dalam kelestarian lingkungan dengan cara pemakaian material lokal seperti bambu, maka perlu untuk menggandeng pengrajin bambu sebagai upaya menuju desain yang berkelanjutan.

Problem kedalam empat buah substansi atau 4 P:
1. Proses Arsitektur Berkelanjutan (Process)
2. Produk Arsitektur Berkelanjutan (Product)
3. Relasi Sosial Arsitektur Berkelanjutan (Person)
4. Ekosistem Arsitektur Berkelanjutan (Press)

Setiap arsitek memiliki situasi dan kondisinya masing- masing di dalam berpraktek. Dengan kemampuan mensintesiskan tame and wicked problem ke dalam substansi : Proses, Produk, Relasi sosial, dan Ekosistem, maka metode untuk menuju desain arsitektur bekelanjutan bagi masing – masing arsitek akan bertransformasi dengan sendirinya. Jadi, siapkah tiap – tiap arsitek bertransformasi untuk mencari dan memahami metode desain berkelanjutannya sendiri ?

Setiap arsitek memiliki situasi dan kondisinya masing – masing di dalam berpraktek. Dengan kemampuan mensintesiskan 4 substansi diatas, maka metode untuk menuju desain arsitektur berkelanjutan bagi masing – masing arsitek akan bertransformasi dengan sendirinya.

Arsitek Mengimplementasikan Arsitektur Berkelanjutan

Setelah memahami bagaimana menyusun metode desain menuju arsitektur berkelanjutan, kita perlu mengetahui bagaimana arsitek mengimplementasikan metode desain arsitektur berkelanjutan.

Setelah memahami bagaimana menyusun metode desain menuju arsitektur berkelanjutan, kita perlu mengetahui bagaimana arsitek mengimplementasikan metode desain arsitektur berkelanjutan. Pada dasarnya di dalam praktik arsitektur setiap arsitek berhadapan dengan 3 kondisi akibat dari desain arsitektur yaitu sisi ekonomi, sisi sosial, dan sisi lingkungan. Tiga sisi tersebut berkaitan erat dengan kesadaran dari arsitek untuk memahami konteks site di mana arsitek tersebut bisa memilih material lokal (sumber daya alam setempat) sebagai usaha mengurangi jejak karbon dan membantu ekonomi masyarakat sekitar; dan membangun keahlian membangun SDM lokal yang syarat akan tradisi dan pemberdayaan masyarakat akan sisi teknikal bangunan yang mudah dipelihara, mudah dikonstruksi, dan efisien dari segi anggaran bangunan.
Dalam ekosistem global, relasi arsitek dengan arsitektur berkelanjutan terlihat di dalam Sustainable Development Goals butir ke-11, yaitu Sustainable Cities and Communities menuju 2030. Butir ini bertujuan untuk menjadikan kota & pemukiman inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan. SDG 11 memiliki 7 target hasilnya yaitu: (1) Perumahan yang terjangkau; (2) sistem transportasi yang terjangkau & berkelanjutan; (3) urbanisasi yang inklusi & berkelanjutan; (4) melindungi warisan budaya & alam dunia; (5) mengurangi dampak buruk bencana alam; (6) mengurangi dampak lingkungan kota; dan (7) menyediakan akses ke ruang hijau & publik yang aman dan inklusif.

Karya – karya arsitek diharapkan mampu menjembatani antara kebutuhan solusi praktis di lapangan di dalam krisis ekologi yang nyata terjadi, dan keberlanjutan sisi kebaikan untuk sosial-ekonomi masyarakat.
Hal ini dibahas oleh Jana Revedin dan Marie-Hélène bahwa arsitek bisa menjadi agen pemberdayaan masyarakat melalui pemilihan material lokal, kolaborasi dengan pengrajin/tukang setempat, dan pembangunan partisipatif yang merupakan dasar untuk menciptakan desain berkelanjutan dari detail menuju ruang-ruang ekonomi, sosial, dan lingkungan berkelanjutan.

Hal ini terlihat di dalam karya Boonserm Premthada; Frederic Druot, Lacaton and Vassal; Marta Maccaglia; Raumlabor; dan Nina Maritz yang dikurasi oleh Jana Revedin dan Marie-Hélène. Meski berbeda konteks projek, desain mereka pun memiliki keserasian dengan target hasil SDG poin ke-11. Di Indonesia, karya mendiang Y.B. Mangun Wijaya mencerminkan semangat lokalitas yang satu nafas dengan beberapa arsitek yang dibahas di atas. Hal ini menunjukkan bahwa pembahasan seperti ini tidak hanya terimplementasi di dalam lingkup global, namun juga di Indonesia.

Pada dasarnya di dalam praktik arsitektur setiap arsitek berhadapan dengan 3 kondisi akibat dari desain arsitektur yaitu sisi ekonomi, sisi sosial, dan sisi lingkungan. Tiga sisi tersebut berkaitan erat dengan kesadaran dari arsitek untuk memahami konteks site dimana arsitek tersebut bisa memilih material lokal (sumber daya alam setempat) sebagai usaha mengurangi jejak karbon dan membantu ekonomi masyarakat sekitar; dan membangun keahlian membangun SDM lokal yang syarat akan tradisi dan pemberdayaan masyarakat akan sisi teknikal bangunan yang mudah dipelihara, mudah dikonstruksi, dan efisien dari segi anggaran bangunan. Peran arsitek bisa menjembatani eksplorasi tata bahasa tektonik tersebut untuk mewujudkan pengalaman ruang utuh dari sambungan antar material ke ruang yang menggugah perasaan/indrawi melalui detail-detail berkelanjutan dengan berkolaborasi bersama pengrajin/tukang.

Di Kantana Institute terdapat dinding bata tebal setinggi 8 m yang ditopang oleh struktur baja di dalamnya. Dinding tersebut membutuhkan 600.000 bata yang diambil dari produsen lokal, menciptakan skala manusia yang taktil. Ruang-ruang di dalamnya terkoneksi dengan lorong yang diapit oleh dinding bata yang terinspirasi dari bangunan religius. Rongga di dalam dinding memberikan insulasi termal di mana diselingi bukaan yang tidak menghalangi pandangan manusia. Komposisi ini memberikan pengalaman ruang untuk memahami kolaborasi pihak-pihak yang terlibat membentuk integrasi ruang – ruang ekonomi, sosial, dan lingkungan berkelanjutan.
The Wine Ayutthaya memiliki eksplorasi material plastik dan kayu. Bangunan ini memanfaatkan struktur plywood yang diperkuat oleh baja, mengadaptasi rumah kayu tradisional setempat. Pengalaman ruang di interior terbentuk oleh 5 varian tangga spiral sebagai penghubung antara tingkatan lantai yang disesuaikan dengan arah view sungai dan landscape sekitar. Lima tangga tadi juga berfungsi sebagai penyangga struktur. Eksplorasi desain ini menunjukkan refleksi masa lampau (tradisi) dan masa depan dengan mengintegrasikan proses desain dan membangun dimana terdapat optimalisasi sisi ekonomi, sisi sosial, dan sisi lingkungan.
The Bois Le-Pretre Housing Block merupakan bangunan eksisting 16 lantai yang berisi 96 unit apartemen. Renovasi dilakukan dengan menambah perimeter fasade. Penambahan ini dilakukan dengan memanfaatkan struktur baja dan elemen pre-fabrikasi yang berdiri sendiri sehingga memungkinkan penghuni tetap tinggal selama proses pembangunan.

Perpanjangan ini untuk memperluas ruang keluarga dan menghadirkan teras/balkon. Tiap unit apartemen terbebas dari ruang tak berguna, digantikan dengan volume ruang yang bebas dan transparan. Pemilihan glass sliding door pada fasad memberikan akses pencahayaan alami dan view sementara teras/balkon memberikan strategi penghawaan 2 lapis yang bisa mendinginkan ketika musim panas dan mengurangi dingin ketika musim dingin.
Mazaronkiari Multipurpose Classroom adalah bangunan untuk komunitas asli Peru yang ditujukan untuk menjangkau akses pendidikan untuk anak-anak dengan konstruksi ruang serbaguna yang fleksibel. Struktur kayu dipilih dengan eksplorasi louvered panel yang memberikan penghawaan dan pencahayaan alami. Panel-panel non permanen berwarna-warni didesain agar mudah ditekuk 90° menjadi meja untuk mengakomodasi aktifitas rapat/pembelajaran. Penggunaan material lokal ini dan kontribusi aktif komunitas menciptakan ruang kelas berkapasitas 120 orang dan tempat bersosialisasi selepas sekolah, dan itu semua membentuk harmoni sisi ekonomi, sisi sosial, dan sisi lingkungan.
Sauna Tower merupakan pemandian publik yang dilengkapi dengan kolam renang untuk merubah persepsi masyarakat terhadap lokasi pelabuhan yang mulai tergerus aktivitas industrinya. Bangunan ini dirancang untuk menjadi bagian baru dari aktivitas pusat kota yang berkaitan dengan budaya kota-kota Nordic di mana pemandian adalah ruang sosial masyarakat. Perancangan dan pembangunan prototipenya bersifat partisipatif bersama publik. Hal ini memberikan warga kesempatan untuk mewujudkan ruang mereka sendiri. Material logam pada fasad mempererat konteks pelabuhan industri sementara interior sauna menggunakan material hangat seperti kayu veneer dan sirap.

Karya – karya arsitek diharapkan mampu menjembatani antara kebutuhan solusi praktis di lapangan di dalam krisis ekologi yang nyata terjadi, dan keberlanjutan sisi kebaikan untuk sosial-ekonomi masyarakat. Hal ini dibahas oleh Jana Revedin dan Marie-Hélène bahwa arsitek bisa menjadi menjadi agen pemberdayaan masyarakat melalui pemilihan material lokal, kolaborasi dengan pengrajin/tukang setempat, dan pembangunan partisipatif merupakan dasar untuk menciptakan desain berkelanjutan dari detail menuju ruang-ruang ekonomi, sosial, dan lingkungan berkelanjutan.

Pada dasarnya di dalam praktik arsitektur, setiap arsitek berhadapan dengan 3 kondisi akibat dari desain arsitektur, yaitu sisi ekonomi; sisi sosial; dan sisi lingkungan. Tiga sisi tersebut berkaitan erat dengan kesadaran dari arsitek untuk memahami konteks site dimana arsitek bisa memilih material lokal (sumber daya alam setempat) sebagai usaha mengurangi jejak karbon, meningkatkan ekonomi, membangun keahlian di dalam kebersamaan. Siapkah arsitek untuk kreatif menjawab sisi ekonomi, sosial, dan lingkungan di dalam mendesain di balik seluruh pembicaraan mengenai penemuan metode desain sendiri ?

Siapkah arsitek untuk kreatif menjawab sisi ekonomi, sosial, dan lingkungan di dalam mendesain di balik seluruh pembicaraan mengenai penemuan metode desain sendiri ?

Memahami Parameter Karya Berkelanjutan Melalui Studi Kasus

Untuk memperkaya pertimbangan desain dari sisi Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan, seorang arsitek membutuhkan wawasan yang luas mengenai seberapa banyaknya kasus studi yang diketahui.

Untuk memperkaya pertimbangan desain dari sisi Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan, seorang arsitek membutuhkan wawasan yang luas mengenai seberapa banyaknya kasus studi yang diketahui.

Untuk mengetahui seberapa tinggi/dalam kualitas sebuah karya arsitektur, dibutuhkan pemahaman yang multi disiplin yang menantang seberapa jauh seorang arsitek di dalam mencurahkan keringatnya untuk membuat sebuah karya arsitektur yang komprehensif. Karya ini bukan hanya soal massa, denah, dan ruang. Namun sebuah pengalaman kerja praktik seumur hidup.

Untuk mengetahui seberapa tinggi/dalam kualitas sebuah karya arsitektur, dibutuhkan pemahaman multidisiplin yg menantang seberapa jauh seorang arsitek dalam mencurahkan keringatnya untuk membuat karya yang komprehensif. Karya ini bukan hanya soal massa, denah, dan ruang. Namun sebuah pengalaman kerja praktik seumur hidup melalui 3 buah tahapan analisa kasus studi:

1. Massa Bangunan: studi bentuk dasar sebagai landasan sosok, wujud, nilai filosofis, sampai hubungan sebab akibat dengan sudut matahari, sirkulasi sekitar bangunan, ataupun sesederhana mengikuti sejarah pembentukan arsitektur di dalam sebuah kota (pendekatan kontinental)

2. Denah Ruang: studi programming, kumpulan data tentang definisi sebuah ruang, bagaimana menggunakannya, berapa jumlah penggunanya, serta keperluan integrasi dengan sistem utilitas bangunan

3. Pengalaman ruang: berkaitan dengan intuisi yang terakumulasi dalam gubahan bentuk 3D (didukung dengan materialitas, membentuk pengalaman ruang.

Ketika seorang arsitek memulai mendesain, ia memerlukan imajinasi akan sebuah sosok gubahan bentuk, disadari ataupun tidak disadari. Hal ini dinamakan massa bangunan. Studi massa bangunan merupakan studi mengenai studi bentuk dasar yang menjadi landasan sosok, wujud, nilai filosofis, sampai hubungan sebab akibat dengan sudut matahari, sirkulasi sekitar bangunan, ataupun sesederhana mengikuti sejarah pembentukan arsitektur di dalam sebuah kota (pendekatan kontinental).
Kebutuhan dasar di dalam perancangan diterjemahkan ke dalam sebuah basis data yang disebut programming. Programming merupakan kumpulan data tentang hal-hal seperti: definisi sebuah ruang, bagaimana menggunakan ruang, berapa orang yang menggunakan ruang, perlunya integrasi dengan sistem utilitas bangunan termasuk hal–hal seperti ergonomi, lebar ruangan, lebar pintu, lebar bukaan, bagaimana keterhubungan lantai atas dan bawah yang berhubungan, ataupun sesederhananya bagaimana tata letak perabot.
Arsitek menghubungkan rasa ke dalam akal, seringkali hal ini disebut sebagai sebuah intuisi. Di dalam alam intuisi seorang arsitek, hasil intuisi ini terakumulasi di dalam gubahan bentuk 3 dimensi. Sedangkan pengalaman ruang adalah ‘suasana’ yang terbentuk dari bentuk 3 dimensi dan materialitas yang menunjukkan kepekaan dari seorang arsitek. Materialitas tersebut ditimbulkan oleh suasana yang dibentuk dari kualitas arsi-tektonika (detail yang berkelanjutan) sehingga di dalam pengalaman ruang yang berperan adalah waktu sebagai komposisi 4 dimensi yang komprehensif.

Salah satu sumber terlengkap sebagai barometer awal mengenal arsitektur berkelanjutan bisa menggunakan karya Pritzker Prize sebagai kasus studi. Kasus studi ini adalah sebuah awalan untuk memahami bahwa begitu banyak kasus studi arsitektur berkelanjutan yang masih perlu dipelajari dan membuat proses berbagi menjadi penting. Dengan mempelajari kasus studi, arsitek dapat memahami metode arsitek lain secara holistik sebagai cermin untuk mengembangkan diri.

Mengenal Strategi Arsitektur Berkelanjutan di dalam karya arsitektur. Salah satu sumber yang terlengkap sebagai barometer awal adalah Pritzker Prize yang bisa digunakan untuk menganalisa kasus studi di dalam strategi arsitektur berkelanjutan.

Siapkah sang arsitek bercermin dan kembali belajar untuk menambah kualitas metode desain dimilikinya melalui pengetahuan kasus studi yang begitu berlimpah di dalam arsitektur di dunia dan di Indonesia?

Kasus studi di atas adalah sebuah awalan untuk memahami bahwa begitu banyak kasus studi arsitektur berkelanjutan yang masih perlu dipelajari membuat proses berbagi menjadi penting. Dengan mempelajari kasus studi, arsitek dapat memahami metode arsitek lain secara holistik sebagai cermin untuk mengembangkan diri. Siapkah sang arsitek bercermin dan kembali belajar untuk menambah kualitas metode desain dimilikinya melalui pengetahuan kasus studi yang begitu berlimpah di dalam arsitektur di dunia dan di Indonesia?

Siapa Aku | Membawa Diri Berselancar dalam Gerakan Arsitektur Berkelanjutan

Pertanyaan “Siapa aku?” adalah sebuah pertanyaaan yang menghinggapi setiap arsitek di dunia. Untuk menjawab itu sebenarnya seseorang hanya perlu mencukupkan dirinya dan mengetahui bahwa setiap individu dilahirkan unik. Pertanyaan “siapa aku?” akan memberikan landasan yang kuat terhadap perumusan strategi arsitektur berkelanjutan yang optimal.

“Siapa aku?” adalah sebuah pertanyaaan yang menghinggapi setiap arsitek di dunia. Untuk menjawab itu sebenarnya seseorang hanya perlu mencukupkan dirinya dan mengetahui bahwa setiap individu dilahirkan unik. Pertanyaan “siapa aku?” akan memberikan landasan yang kuat terhadap perumusan strategi arsitektur berkelanjutan yang optimal.

Pemahaman terhadap kekurangan dan kelebihan diri, apa yang disukai dan tidak disukai, cara-cara yang berhasil dan yang gagal, juga bagaimana respons terhadap berbagai hal akan membantu menjelaskan secara logis apa yang dirasakan. Arsitek akan menjadi lebih percaya diri dan terampil dalam pengambilan keputusan. Memahami diri sendiri secara tidak langsung juga berarti memahami orang lain dan bagaimana setiap individu memiliki sifat dan caranya masing-masing.

Perjalanan mengenali diri sendiri membuthkan waktu. Ibaratnya, setiap orang membentuk orang lain, dan orang lain membetuk “siapa aku”.

Secara umum, manusia memiliki berbagai unsur kepribadian di dalam dirinya yang perlu untuk dipahami, diterima, dan dirangkul agar mampu mengambil langkah ke depan dengan lebih pasti.

Semangat manusia masih memiliki semangat untuk menjadi lebih baik dan kontributif terhadap masyarakat dalam konteks studi kreativitas terwujud dalam berbagai sisi, mulai dari belajar meniru dan mengejar kuantitas, menjadi mulai berpikir mengenai tujuan dan kualitas, hingga akhirnya mencapai fase “bermain-main” dan mengeksplorasi ide.

Studi mengenai “siapa aku?” tertuang dalam bagaimana kita bisa mengenali kepribadian kita. Dalam kepribadian, ada unsur-unsur yang disebut sebagai archetypes. Carl Jung membagi archetypes ke dalam wujud persona (topeng), shadow (ketakutan), anima (feminin), dan animus (maskulin), dan banyak archetypes lainnya.

Sebuah jiwa akan mengalami keutuhan (self), dan merasa berkecukupan ketika terdapat integrasi atau penerimaan terhadap seluruh archetype, termasuk hal-hal di bawah alam sadarnya, juga penerimaan terhadap masa lalu dan impian akan meningkatnya potensi diri.
Perkembangan diri yang berkelanjutan: fase Animal Laboran, Homo Faber, Homo Ludens

Semua orang pada dasarnya ingin memiliki kehidupan yang lebih baik juga semangat untuk memperbaiki diri, dalam studi kreativitas disebut kerajinan (craftsmanship).

Sennet menjelaskan prinsip ini menjadi tiga sisi: Animal Laboran (teknis), Homo Faber (manusia membuat/ kreatif), dan Homo Ludens (manusia bermain-main). Sisi terakhir ini mewakili manusia yang tak hanya memahami apa yang ia buat, tetapi juga mengupayakan proses yang menyenangkan.

Dalam konteks sebuah proyek, ada berbagai pihak yang berkepentingan, seperti arsitek, klien, kontraktor, dan engineer. Kunci ketuntasan kerajian di sini adalah bagaimana desain seorang arsitek memenuhi sisi teknis, kreatif, dan eksploratif di dalam proses perancangan dan pembangunan. Hal ini sederhananya adalah proses perkembangan diri yang berkelanjutan-multidisiplin.
Perkembangan diri yang berkelanjutan: fase Apprentice, Journeyman, Master

Buku Craftgram (Adiyanto & Sjarief, 2020) memaparkan tahap-tahap yang menjadi titik mulai hingga adaptasi seseorang yang mendalami suatu keahlian.

Perjalanan dimulai dari menjadi apprentice, di mana seseorang menjadi murid yang dituntut memiliki semangat untuk belajar dengan berkreasi sesuai instruksi (mengutamakan kuantitas). Tahap selanjutnya adalah tahap journeyman di mana seseorang mulai mempertanyakan tujuan hidup, mengamati, dan bereksperimen sesuai tujuan yang ia temukan. Tahap ketiga adalah tahap master (mumpuni) di mana seseorang bisa bermain dengan keahliannya yang ditandai dengan wawasan yang luas dan jam terbang tinggi. Fokus keluaran dalam tahap ini adalah produksi ide-ide yang inovatif.

Selama berproses, diperlukan evaluasi terhadap diri melalui literasi dengan teknik yang tepat dan pendekatan yang disesuaikan dengan konteks. Wawasan yang terkumpul dalam proses panjang ini kemudian dirumuskan dalam teori-teori yang berasal dari dalam diri arsitek dan yang berdasar pada keadaan di lingkungan.

Performa menuju arsitek mumpuni dalam kultur studio menggunakan pendekatan craftsmanship (Craftsgram, 2020)

Menjadi arsitek membutuhkan pemahaman untuk bisa mengenali diri, dimulai dari menerima diri, dan menyadari bahwa dirinya memiliki keunikan di dalam masyarakat dunia, hingga akhirnya memberikan sumbangsih kepada lingkungannya. Hal ini dinamakan pengembangan diri yang berkelanjutan.

Aktualisasi Diri Lewat Menulis Arsitektur: Menata Sudut Pandang

[Writing Architecture by Carter Wiseman (2014)]

Setelah mengetahui kepribadian diri dan mampu bekerja dengan orang lain, seseorang membutuhkan ruang untuk evaluasi. Hal ini ditandai dengan kemampuan literasi yang baik, yaitu kemampuan untuk memahami sebuah persoalan dengan komprehensif. Ada dua hal yang diperlukan, yakni teknik literasi dan pendekatan literasi.

Wiseman membagi teknik-teknik literasi menjadi: (1) structure, rangka literasi, (2) standard, penilaian objektif, (3) persuasion, meyakinkan bagi pembaca, (4) criticism, mencakup pemahaman soal konteks, (5) scholarship, opini yang didukung data objektif, (6) literature, unsur naratif/emosional, (7) presentation, penyampaian gagasan yang mudah dipahami, (8) professional communication, penjelasan singkat mengenai hal-hal penting dalam rangkaian gagasan.
Aktualisasi Diri Lewat Menulis Arsitektur: Menata Sudut Pandang

[Writing About Architecture by Alexandra Lange (2012)]

Sedangkan, pendekatan literasi dibahas oleh Lange (Writing About Architecture) yang membaginya menjadi empat kategori, yaitu:

(1) pendekatan formal, berupa penjelasan deskriptif tentang organisasi ruang, material, dan hal faktual lainnya dalam sebuah rancangan,
(2) pendekatan eksperimental, yang memasukkan unsur perasaan atau pengalaman subyektif penulis terhadap sebuah karya/proses,
(3) pendekatan historikal, misal memasukkan unsur latar belakang arsitek yang mempengaruhi sebuah rancangan,
(4) pendekatan aktivis, yang membahas pihak yang diuntungkan/dirugikan dari adanya suatu karya, melihat segi ekonomi/sosial antara karya dengan lingkungan.
Aktualisasi Kepribadian dalam Perancangan: Teori Normatif dan Teori Positif

[Creating Architectural Theory by Jon Lang (1987)]

Setelah mengetahui kepribadian diri, mampu bekerja dengan orang lain, dan mampu mengevaluasi diri, seseorang perlu merumuskan apa yang sudah dipahaminya menjadi sebuah teori kehidupan. Lang (1987) membaginya menjadi beberapa jenis teori:

Teori normatif adalah teori yang didasarkan pada pengetahuan yang menjadi kebiasaan dalam diri arsitek, persepsinya terhadap dunia, ukuran baik dan buruk. Bentuknya dapat berupa prinsip desain yang dikembangkan oleh masing-masing arsitek.

Teori positif adalah teori yang didasarkan pada pengetahuan yang dirumuskan berdasarkan konteks dari isu yang dihadapi. Teori ini terbagi menjadi teori substantif yang fokus pada isu yang dihadapi, dan teori prosedural yang fokus pada metode desain yang tepat untuk membedah isu. Aktualisasi Diri Lewat Menulis Arsitektur: Menata Sudut Pandang

Siapkah setiap arsitek untuk mau rendah hati belajar kembali mengembangkan diri?

Menjadi arsitek membutuhkan pemahaman untuk bisa mengenali diri, dimulai dari menerima diri sendiri, dan menyadari bahwa dirinya memiliki keunikan di dalam masyarakat dunia, hingga akhirnya memberikan sumbangsih kepada lingkungannya. Hal ini dinamakan pengembangan diri yang berkelanjutan. Siapkah setiap arsitek untuk mau rendah hati belajar kembali mengembangkan diri?

Kontributor Kelas Strategi Arsitektur Berkelanjutan untuk Mahasiswa – University of Pelita Harapan

Para kontributor yang terdiri dari mahasiswa, untuk mahasiswa dan oleh mahasiswa : Albert Lionggo, Andreas Hasiholan, Anggreny Ratnasari, Anissa Dipa, Anke Ardine, Ansell Samuel Julianto, Antonius Priya Prathama, Bayu Abimanyu, Carla Aurellia, Chelsea Gracelyn Halun, Chelsya Setiawan, Christal Yohanes Edy Widjaya, Darwin Winata, Dharmawan, Diandra, Arya Eka Putri, Edgard Jeremy, El Grantnada Romaulina Chyntia Manihuruk, Eubisius Vercelli, Ocvanto Kuncoro, Evania Hamdani Fania, Farisya Yunandira Putri, Fikra Abhinaya Djuhara, Franca Kartasasmita, Gerardo Leonard Nugroho, Gilbert Antonious Heidy Laurentia, Heinrich Benedick, Jason Lim, Jason Aristya Wongso, Jason Axel, Jesslyn Amanda, Joshua Alfando, Joshua Felix Theo, Joshua Michael, Jovin Juan, Marcell Cruxivisyo, Mauritzio Hizkia, Michael Antonio Halim, Michael Imanuel Susilo, Michellin Sonia Wibowo, Muhamad Yusuf Nyompa, Nathanael, Christopher Ng, Novi Synfah, Oliver Victor Wibowo, Praisella Hatijanto, Putroaji Darma Maulana, Raihan Ramadhan, Rayka Martawijana, Raynaldo Febrio Istanto, Sander Ekaputra, Satya Krisnadi, Shania Salsabila, Shella Angelica, Sherlyn Christiane, Spazio Julius, Stanly Alviando, Thessalonicca Venesya, Valencia Angelita, Vania Serrafine

Kuliah Strategi Arsitektur Berkelanjutan ini adalah sebuah mata kuliah yang diampu oleh Realrich Sjarief di dalam penelitian yang dilakukan di Omah Library dan pedagogi kelasnya di lakukan di dalam sesi mata kuliah Strategi Arsitektur Berkelanjutan di Universitas Pelita Harapan. Harapan dari kelas ini adalah berbagi mengenai pedagogi, riset mata kuliah, maupun pustaka supaya bisa dikembangkan di perkuliahan lain ataupun bermanfaat untuk praktik arsitektur di banyak tempat. Perkuliahan ini dirangkum ke dalam bentuk buku dan interpretasi terhadap keseluruhan materi ditulis oleh Anas Hidayat dan Johannes Adiyanto sebagai sudut pandang pelengkap dari luar.

Pengampu Perkuliahan

The Research Study is in Strategi Arsitektur Berkelanjutan Untuk Mahasiswa’s Book

Buku setebal 600-an halaman ini adalah salah satu refleksi untuk menyusun kerangka strategi arsitektur berkelanjutan yang dimulai dari kesadaran diri untuk membentuk sudut pandang multidimensi, multi disiplin dan konteks lingkungan makro-mikro sebelum menguasai aspek teknikal seperti pengetahuan detail material bangunan serta metode desain.

Buku terbaru yang berjudul “Strategi arsitektur untuk Mahasiswa” ini adalah sebagai buku kedua yang diterbitkan di awal tahun 2021. Buku ini merupakan antologi atas materi strategi arsitektur berkelanjutan yang didiskusikan dan dirangkum dalam bentuk esai beserta artwork untuk bersama-sama mencari seberapa luas dan seberapa dalam terminologi arsitektur berkelanjutan?

Disiplin arsitektur selalu berhubungan dengan dimensi lingkungan dan humaniora, terutama mengenai identitas, ilmu bangunan, evaluasi metode desain, sensitivitas tentang materialitas, sampai pengetahuan mengenai kasus studi. 5 Hal tersebut diturunkan ke dalam 5 bab yang berisi 14 bentuk strategi desain berisi bagaimana proses memahami diri, mengetahui budaya membangun ‘ketukangan’, dan aktualisasi diri melalui menulis, sejarah arsitektur berkelanjutan, materialitas, metodologi desain, dan pembedahan 60 kasus desain dari pritzker prize winner dan orang – orang lain yang mewarnai praktik dengan semangat lokalitas.

Sebagai penyimpul benang merah, bab terakhir meliputi refleksi diri dari para penulis tentang hasil dari pembelajaran mereka. Strategi (praktik) arsitektur berkelanjutan tidaklah statis dan berdiri sendiri, justru membutuhkan kedinamisan konstruksi pemikiran dari berbagai sudut pandang.

Realrich Sjarief

Realrich Sjarief mendirikan Realrich Architecture Workshop di tahun 2011. Ia juga aktif di DOT Workshop, yang berfokus pada penelitian tektonika, dan Perpustakaan OMAH, kelompok penelitian dan perpustakaan umum yang menampung sekitar 1.500 buku arsitektur dan menyelenggarakan publik berkala acara tentang wacana arsitektur kontemporer. Ia menulis
beberapa buku bersama dengan Johannes Adiyanto, bersama-sama menjadi cantrik yang haus akan ilmu. Realrich Sjarief aktif mengajar di beberapa universitas di Indonesia, dan kerap kali memberikan kuliah umum di Australia, Singapore, Filipina, India. Bersama RAW Architecture ia memenangkan beberapa kompetisi desain, termasuk Kompetisi Galeri Nasional Indonesia, finalis dari Museum Silaban, IAI Jakarta Award di tahun 2017 dengan karya Omah Library, Finalis World Architecture Festival Award 2018, Fibra Award 2019, dan Kohler Award 2018 untuk karya Sekolah Alfa Omega. RAW Architecture di tahun 2018-2019 adalah long listed world emerging architect. Baru-baru ini RAW Architecture juga mendapatkan nominasi Emerging Architect di Asia Pacific Design Award 2020.

Penyunting Buku

Satria Agung Permana

Satria A. Permana is currently working at OMAH Library, observing and researching architecture discourse in Indonesia. He graduated from the school of architecture in Universitas Islam Indonesia. His thesis about “Recoding the Code’s Urban Kampong”, has led him to put his concern on developing urban kampong design language, which also aided him to gain several prizes in architecture and urban design competition such as merit award in FuturArc Prize 2019 and nominated in Student Charrette World Architecture Festival 2016. Besides architecture and design, he spends half of his life observing the worlds in writings and photography which could be found at http://www.medium.com/@satriaap. In 2020, he co-authored with Realrich Sjarief a book titled The Secret of Architect’s Life. He is available to reach by email at satriaap@live.com or Instagram @satria__ap.

Amelia Mega Djaja

Amelia Mega Djaja adalah salah satu periset dan pustakawan OMAH Library, pernah terlibat dalam penulisan buku berjudul “Craftgram: Craft + Grammatology” dan “Alvar Aalto: The Magic of Architect’s Life,” dan juga sebagai koordinator Kri(s)tik Book Club 2019. Lulus dari S1 jurusan arsitektur pada tahun 2016 dari The University of Sheffield, dengan disertasi mengenai narasi arsitektur poskolonial di Jakarta tahun 1960an.

Sebelum bergabung di OMAH, Amel memiliki pengalaman bekerja selama 3 tahun sebagai desainer, antara lain dalam proyek Alun-Alun Cicendo Bandung (2017, di bawah Florian Heinzelmann), juga sebagai koordinator tim Sayembara Kantor Bupati Sleman yang mendapat juara 2 (IAI 2018, di bawah Ary Indra).

Menurutnya, arsitektur bisa menjadi medium dalam melakukan pembacaan dan analisis mengenai kultur, sejarah, lingkungan maupun dimensi sosial yang lebih luas. Karena ketertarikannya untuk mendalami hal tersebut, saat ini Amel juga merupakan salah satu pegiat ASF-Indonesia yang aktif dalam fasilitasi dan diskusi mengenai komunitas informal kota Jakarta.

Tim Omah Library : Redaksi

Kirana Ardya Garini

Lulus dari jurusan Teknik Arsitektur pada tahun 2017, Kirana A. Garini memiliki pengalaman bekerja di konsultan arsitektur PT Tripatra Konsultan di Yogyakarta yang khusus menangani proyek pemerintahan.

Kirana sempat bergabung dalam Housing Resource Center Yogyakarta dengan fokus penanganan kampung kota Kali Code Yogyakarta dengan output berupa profil kawasan.

Kirana senang bereksperimen dengan desain produk, khususnya yang dapat digunakan di ruang publik. Ia pernah membuat Pringgam (pring-gamelan), prototipe produk bermain bagi anak usia SD di taman kota Surabaya, berbahan bambu, memadukan sistem alat box musik dan gamelan. Produk tersebut sengaja didesain untuk beberapa penggunan sebagai tanggapan atas minim nya interaksi sosial anak di kota urban yang cenderung terikat pada gadget mereka. Karya tersebut mendapat penghargaan juara 1 pada sayembara Play MORPH yang diselenggarakan oleh Departemen Arsitektur ITS, Surabaya bersama dengan 2 orang dalam timnya.

Kirana sangat tertarik dengan arsitektur untuk publik, yang mengutamakan kesehatan dan kenyamanan masyarakat luas, desain universal, multi dimensi dan multi disiplin, serta bersinggungan dengan kebijakan publik, politik, dan ekonomi.

Selama di OMAH Library, Kirana terlibat dalam berbagai riset yang diantaranya diterbitkan dalam bentuk buku, seperti: Methodgram, Craftgram, Sejarah Arsitektur untuk Mahasiswa, dan yang terbaru, buku Alvar Aalto: the magic of architects life. Kenal lebih dekat dengan Kirana melalui Instagram @kiranaardya atau LinkedIn Kirana Ardya Garini.

Dimas Dwi Mukti Purwanto

Dimas Dwi Mukti Purwanto, lahir di Madiun 7 Maret 1996. Lulus dari Akademi Teknik Arsitektur YKPN Yogyakarta tahun 2018 dan sekarang sedang melanjutkan studi S1 di Universitas Mercu Buana Jakarta untuk melanjutkan cita – citanya.

Beberapa pengalaman yang mempengaruhi pemikiran Dimas adalah ketika menjadi volunteer yang bertugas sebagai tim riset Venice Architecture Biennale 2018 bersama tim pavillion Indonesia pada tahun 2017, ketika menjadi tim desain revitalisasi desa Krapyak di Pekalongan bersama Studio Akanoma dalam mendampingi World Bank pada tahun 2018, dan ketika mendapatkan kesempatan untuk menjadi juru gambar PT. Waskita Karya dalam proyek tol Pemalang – Batang pada tahun 2018. Kemudian Dimas juga pernah bekerja di PT. Kreasi Nusa Studio sebagai desainer interior dimana banyak mengerjakan proyek – proyek kantor, residensial hingga komersial sepanjang tahun 2019. Untuk saat ini Dimas sedang belajar dan bekerja sebagai pustakawan dan juga periset di Omah Library. Salah satu prestasi yang pernah Dimas raih adalah juara 3 dalam kompetisi desain ruang publik yang bertema Unexpected Space di tahun 2018.

Dimas adalah orang yang tidak pintar – pintar amat namun memiliki keinginan yang kuat untuk bisa membanggakan bangsa Indonesia sebagai arsitek yang baik sehingga hal itulah yang selalu membuatnya mendapatkan motivasi untuk terus belajar dan belajar lebih dalam lagi.

Hanifah Saussan

Hanifah Sausan Nurfinaputri lahir dan tumbuh besar di Magelang, kemudian pindah ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan arsitektur di Universitas Gadjah Mada yang diselesaikannya pada tahun 2019 dengan tugas akhir perancangan sekolah alam.

Sebelumnya, Hanifah pernah mengikuti exchange program Japan in Today’s World oleh Universitas Kyushu pada tahun 2018-2019 di mana ia banyak belajar mengenai budaya, masyarakat, dan keberagaman. Pengalaman tersebut memberinya sudut pandang berbeda dalam melihat dunia di mana arsitektur ternyata hanya salah satu “kacamata” saja. Meski begitu, ia tetap ingin berkontribusi pada bidang arsitektur sehingga belum lama ini ia bergabung dengan OMAH Library sebagai salah satu periset dan pustakawan. Di waktu luangnya, ia lebih suka belajar mengenai dunia melalui film, drama, buku, atau media seni lainnya. Hanifah bisa dihubungi melalui upak.upik@gmail.com atau Instagram @hanifahsausann.

Refleksi

Terima kasih saya haturkan untuk Alvar Mensana selaku kepala jurusan UPH pada saat mata kuliah ini diajarkan, rekan – rekan pengajar yang tersebar di Indonesia, untuk sebuah semangat berbagi. Keseluruhan pedagogi ini terbuka untuk dielaborasi terkait dengan pengembangannya yang berkelanjutan. Juga terkahir untuk Anas Hidayat dan Johannes Adiyanto untuk tulisan refleksinya di akhir buku.

Kategori
blog

realrich sjarief of raw architecture speaks the power of architectural literacy

people by shafa diandra

when we hear the word “designing”, many of us are often fixated on a portrait of a particular object, structure, or craft worth remembering functionally and aesthetically. however, perhaps also many of us underestimate the power of literacy that brings these very objects to life.


this is where realrich sjarief, a former architect at foster & partners, a poetic believer and founder of jakarta-based raw architecture, and principal architect of the famous alpha omega school and the notable omah library – sees how architectural literacy shapes one’s success story. it is a tool that creates a safe haven for one personal’s space – not only to fantasize and imagine what is yet to come, but also to broaden our horizons.

sjarief spent most of his life reading and writing architectural literature, emphasizing literacy through craftsmanship, people, and material, which led him to such methodology and philosophy.

the story began with his fond childhood memory of accompanying his father to construction sites and with his love for books that gradually turned into a passion for writing and delivering stories through design.

understanding literacy

when i was working in borneo during the great recession, i read many books and found them to give me all kinds of imaginations and the ability to understand people and settings. so reading became my escape from work and my safe haven.

then when i got accepted to bandung’s institute of technology, i came across a book by norman foster that speaks about curiosity and technology. i was lucky that i got an opportunity to work at fosters and partners and to have many amazing mentors at the start of my career. and it was the tall and narrow library at foster and partners that gave me my passion in architectural literacy, as i saw it becoming a ground for discussions to happen around a great mix of people, works, and beliefs.

it is all about a network of people

for me, architecture literacy is the essence of critical and creative thinking in architecture. it is about creating a network of people to share thoughts and discuss matters.

when we talk about literacy, it isn’t all about written stories, but it needs to be spoken as well. to be literate is not to be cynical. literacy simply means a space, whether a physical space or an imagining community, to understand that the world of knowledge has multiple perspectives – it is very broad. you have to acknowledge that you are part of something greater than you, so it is about the maturity of knowing information and digesting knowledge. 

creating the “ecosystem” in the constantly-changing era 

architectural literacy really helps me out whenever i am stuck in a certain project. reading case studies, theories, history, even rereading my own manuscripts will make us see different methods that remind us to not look into our problem from a single point of view only. reflect – review your work – act differently – and find new things. it truly is a method that broadens one’s horizon, because it is only by experiencing the real and the fantasy world that we can create an extraordinary solution.  

more in the website of Design Story here : https://www.thedesignstory.com/blog/people/realrich-sjarief-of-raw-architecture-speaks-the-power-of-architectural-literacy

and here the recording of the session :

Realrich Sjarief shares about sharpening both creative and critical minds when it comes to practicing, appreciating, and understanding a work of architecture and also about the importance of nurturing micro-communities to encourage learning together.

SHOW LESS

read the full article on the design story:
https://www.thedesignstory.com/blog/p…
———————————————–
the design story is a weblog for cutting-edge news and development in architecture and design, and a curated shop of design products. our mission is to bring you a carefully edited selection of the best, sustainable, and innovative architecture design and interior projects and news from around the world. follow and subscribe to our page:
website: https://www.thedesignstory.com/​ blogs: https://www.thedesignstory.com/blog​ instagram: https://instagram.com/thedesignstoryy​ podcast: https://open.spotify.com/show/6NhB2Fz​… twitter: https://twitter.com/thedesignstoryy​ Pinterest: https://pinterest.com/thedesignstoryy/

Kategori
blog

Other Ways of Doing Architecture, Lecture at PAM Malaysia (Pertubuhan Akitek Malaysia) Malaysian Institute of Architects

I will be presenting the lecture in title of Other Ways of Doing Architecture. Gary Yeow contacted me. As part of the co-organised sharing session with Malaysia Institute of Architects, this forum will be speculating on “Other Ways of Doing Architecture” – inspired by Spatial Agency’s publication. The first session here, conducted in December 2020. As Gary was browsing through my portfolio work, he noticed a great amount of details and experiments in my projects, especially Alfa Omega and Guha (with Omah Library & your studio), while other projects showcased great understanding of materiality as well.


The other architects are invited to the discussion such as Jan Glasmeier, from SimpleArchitecture (I know him from Design United India) and One Bite Studio from Hongkong – both are more on curations and workshops – Gary thought on looking at local materials and cultural craftsmanship ( sharing the behind-the-scenes of these successful projects?) – how these connect to genius loci and essence of Indonesia – are the core values they are very excited for.

It’s event supported by Taylor Insitute and Pertubuhan Akitek Malaysia (PAM) – Malaysian Institute of Architects – is the national professional institute representing architects in Malaysia.

https://www.facebook.com/PertubuhanAkitekMalaysia/videos/789442701951064/

Here is the link shared by Gary Yeow in his email. I found out that the discussion led by three moderators, Gary, Hazeek, and Joyee are profound, I learnt architecture as social agency from Jan and how social platform can breach towards new understanding in Sarah’s presentation. Please have a look if you are interested in link above, I do learn from them.

Here is some points that I would like to share from Laurensia’s in our journey to find happiness, in my case being a father, architect, and together with her, the dentist who supports our life as family and the lease is Miracle and Heaven ! our lovely angelic son.

Kategori
blog

Interview with Realrich Sjarief, Founder of Realrich Architecture Workshop

From his firm located on the outskirts of Jakarta, Realrich wants to design buildings that are timeless and break out of the mould.

I’ve done interview with Vaibhav Srivastava Editor-in-Chief of Design City Lab. It’s on today, please visit

https://designcitylab.com/post/people/interview-with-realrich-sjarief-founder-of-realrich-architecture-workshop

Here is some discussion in interview summed by Vaibhav,

From his firm located on the outskirts of Jakarta, Realrich wants to design buildings that are timeless and break out of the mould. His architecture comes across as honest, simple and grounded in locality which he says is achieved by working closely with regional craftsmen and adopting a minimal local material palette. He belongs to the new breed of architects that is redefining design innovation in building industry and creating a new design language for a new Indonesia.

I have inspired by may people including Y.B. Mangunwijaya, learning the core of explorations and attitude of practice.

” Vaibhav : Which architects inform and inspire your work?

I took three trips which I refer to as pilgrimages. The first one was to see the work of Alvar Aalto. I find his work amazing because of its simplicity. I really respect him as an architect because he created functional designs with ordinary and low cost materials. Second visit was to see Le Corbusier’s work. He had the ability to make fairly simple architecture, which is at the same time very thought-provoking. Third architect that really inspire me is Carlos Scarpa. Scarpa’s attention to detail is almost unmatched and his attention to the smallest details brings his work to a point of simplicity, where even waste becomes the grammar of the design. The Indonesian figure that inspires me the most is Father Y.B. Mangunwijaya, who is an architect, writer, and philosopher. He taught me how to use local material and encouraged me to keep an attitude of having discussions with craftsmen and produce intellectual process on making.

Here are questions elaborated by him.

  1. Could you give us a brief introduction about yourself and your firm?
  2. How do you reflect on the journey of your firm in last 10 years?
  3. What is the role of form-making in your projects?
  4. What is the role of form-making in your projects?
  5. How do you measure success in your projects?
  6. What are the biggest challenges that you face?
  7. How do you support craftsmen through your work?
  8. Can you see timber and bamboo being widely used in a mega city like Jakarta for construction?
  9. The Alpha Omega project was finished on site in six months. How did you achieve such efficiency on site?
  10. How do you approach sustainability in your work?
  11. Which architects inform and inspire your work?
  12. How does your work in university inform your work as an architect?

These questions are amazing, thought very carefully to bridge a learning, practice, teaching experience. Looking at this experience being interviewed with him, I feel that I need to gather my methodology again, this time more integrated, evaluated. It’s looping process.

“To become an architect, we need to learn how to think, draw and critically evaluate ourselves. In academics there is peer pressure to always keep evolving your design and keep improving. We are always evaluating our work and making sure we are contributing to the discourse around architecture. Teaching helps to keep my practice working, as in a small campus where we all are learning from each other, developing feedback loops.”,

please look at the link above. Thank you Vaibhav for the session of support and I also learn by connecting the discourse that you have. I love to read some of your interview with other people and your article about 2021 pritzker prize, you try to have a thought about what’s beyond form investigating the context of the practice, people, and impact of the project to people’s life.

“To become an architect, we need to learn how to think, draw and critically evaluate ourselves. In academics there is peer pressure to always keep evolving your design and keep improving. We are always evaluating our work and making sure we are contributing to the discourse around architecture. Teaching helps to keep my practice working, as in a small campus where we all are learning from each other, developing feedback loops.”,
Kategori
blog

Cangkirku, Kehidupan yang Kedua

Bangunan dengan atap meliuk – liuk ini adalah bangunan dengan struktur panggung yang terbuat dari konstruksi bambu, dengan grid 5.0 m dan 4.0 m untuk mengakomodasi fungsi ruang perpustakaan, kamar tidur, dan ruang pertemuan. Strukturnya seperti bentuk kupu – kupu atau kepakan sayap burung yang dielaborasi dari proyek Alfa Omega. Balok bambu dikakukan dengan dagu – dagu (pengkaku), sementara kolom duduk di atas umpak batu kali yang dihubungkan dengan konstruksi bambu sebagai pelataran di lantai dasar.

Bangunan dengan atap meliuk – liuk ini adalah bangunan dengan struktur panggung yang terbuat dari konstruksi bambu, dengan grid 5.0 m dan 4.0 m untuk mengakomodasi fungsi ruang perpustakaan, kamar tidur, dan ruang pertemuan. Strukturnya seperti bentuk kupu – kupu atau kepakan sayap burung yang dielaborasi dari proyek Alfa Omega.
Balok bambu dikakukan dengan dagu – dagu (pengkaku), sementara kolom duduk di atas umpak batu kali yang dihubungkan dengan konstruksi bambu sebagai pelataran di lantai dasar.

Bentuk – bentuk melengkung ini sebenarnya pernah saya elaborasi di dalam Kampono (Dancer) House sebelumnya di dalam konstruksi beton dengan perhitungan terhadap sisi panas, angin yang mengalir di dalam desain massa – kulit bangunan sampai detail – detail yang lain. Dan, di balik permainan bentuk – bentuk melengkung yang muncul, ada logika kekuatan dan estetika yang terinspirasi dari bahasa alam.

Bentuk – bentuk melengkung ini sebenarnya pernah saya elaborasi di dalam Kampono (Dancer) House sebelumnya di dalam konstruksi beton dengan perhitungan terhadap sisi panas, angin yang mengalir di dalam desain massa – kulit bangunan sampai detail – detail yang lain. Dan, di balik permainan bentuk – bentuk melengkung yang muncul, ada logika kekuatan dan estetika yang terinspirasi dari bahasa alam.

Selain sisi tradisional yang ditonjolkan, sisi industri juga muncul dengan komposisi bentuk atap yang melengkung ditutupi dengan daun Nipah yang dikombinasikan dengan membran tahan air untuk atap.Membentuk Julang Ngapak sebagai bangunan vernakuler tradisional Jawa Barat. Balustrade bambu yang dilengkungkan dimainkan sebagai bentuk hiperboloid yang lebih kompleks, lebih kuat, dan lebih fleksibel serta menciptakan siluet gerakan alami burung atau pergerakan Kujang yang merupakan senjata tradisional dalam Tradisi Sunda.

Selain sisi tradisional yang ditonjolkan, sisi industri juga muncul dengan komposisi bentuk atap yang melengkung ditutupi dengan daun Nipah yang dikombinasikan dengan membran tahan air untuk atap.Membentuk Julang Ngapak sebagai bangunan vernakuler tradisional Jawa Barat.
Balustrade bambu yang dilengkungkan dimainkan sebagai bentuk hiperboloid yang lebih kompleks, lebih kuat, dan lebih fleksibel serta menciptakan siluet gerakan alami burung atau pergerakan Kujang yang merupakan senjata tradisional dalam Tradisi Sunda.

Pak Jatmiko adalah orang yang membantu saya melakukan supervisi ke bangunan inti di Piyandeling, dimana ia memberikan batas seberapa tinggi bangunan dengan konstruksi bambu ini bisa dibangun dengan aman. Pak Jatmiko dulu menemani kakek saya, dan ayah saya ke proyek. Ia juga adalah pengawas bangunan dari almarhum Han Awal, dan Teddy Boen (ahli gempa Indonesia). Dari Pak Jatmiko saya belajar bahwa setiap murid membutuhkan guru dan pelatih, seorang pelatih akan bisa melihat dengan sudut pandang yang berbeda. Sebegitunya kita membutuhkan waktu untuk berlatih setiap harinya. Di kasus saya berlatih ini erat kaitannya dengan berapa banyak masalah desain yang bisa kita pelajari dan pecahkan setiap harinya dan relasi dengan beliau dimana beliau bisa menjawab dengan kata “tidak” lalu saya mulai belajar menilai keadaan dengan diskusi lebih lanjut.

Pak Jatmiko adalah orang yang membantu saya melakukan supervisi ke bangunan inti di Piyandeling, dimana ia memberikan batas seberapa tinggi bangunan dengan konstruksi bambu ini bisa dibangun dengan aman. Pak Jatmiko dulu menemani kakek saya, dan ayah saya ke proyek. Ia juga adalah pengawas bangunan dari almarhum Han Awal, dan Teddy Boen (ahli gempa Indonesia). Dari Pak Jatmiko saya belajar bahwa setiap murid membutuhkan guru dan pelatih, seorang pelatih akan bisa melihat dengan sudut pandang yang berbeda. Sebegitunya kita membutuhkan waktu untuk berlatih setiap harinya. Di kasus saya berlatih ini erat kaitannya dengan berapa banyak masalah desain yang bisa kita pelajari dan pecahkan setiap harinya dan relasi dengan beliau dimana beliau bisa menjawab dengan kata “tidak” lalu saya mulai belajar menilai keadaan dengan diskusi lebih lanjut.

Saya kenal 2 orang pengrajin, pengrajin pertama pintar berbicara, mulutnya manis-kerjanya hanya di permukaan, terlihat manis – hanya estetika tempelan, apabila diminta memasang bata ia akan memasang bata dengan apik, namun terkadang lupa bahwa di balik bata tersebut ada pipa, perhitungannya hanya sebatas manis dilihat. Sedangkan pengrajin kedua tidak pandai berbicara namun pekerjaannya halus dan langkah – langkahnya bisa membuat proyek aman karena perhitungan yang mendalam tentang prosedur kerja dan detail tahapan kerja, kekuatan, tahan terhadap air, cuaca. Seiring dengan perjalanan saya berkembang di dalam praktik, detail – detail yang saya pikirkan bertransformasi di dalam pertemuan dengan banyak pengrajin. Termasuk pertemuan dengan pengrajin pertama, saya belajar untuk susunan yang terlihat manis, sebuah kualitas yang literal. Dan, dengan pengrajin kedua saya belajar untuk masuk ke kualitas yang esensial. Kedua pola pikir diperlukan untuk bisa bermain di integrasi disiplin (MEP, Struktur, Arsitektural). Saya menyebut detail transformatif ini ke dalam detail yang berkelanjutan.

… pertemuan dengan pengrajin pertama, saya belajar untuk susunan yang terlihat manis, sebuah kualitas yang literal. Dan, dengan pengrajin kedua saya belajar untuk masuk ke kualitas yang esensial. Kedua pola pikir diperlukan untuk bisa bermain di integrasi disiplin (MEP, Struktur, Arsitektural). Saya menyebut detail transformatif ini ke dalam detail yang berkelanjutan.

Terkadang setiap 2 minggu saya berulang kali ke Piyandeling untuk memikirkan ulang detail – detail selanjutnya termasuk penggabungan detail tradisional dan industrial. Di tempat ini saya melepaskan diri sejenak dari rutinitas dan masuk di dalam dunia fantasi Piyandeling. Arsitektur memiliki kekuatan maha dahsyat untuk membuat orang mengingat pengalaman ruang yang menjadi kenangan membekas.

Terkadang setiap 2 minggu saya berulang kali ke Piyandeling untuk memikirkan ulang detail – detail selanjutnya termasuk penggabungan detail tradisional dan industrial. Di tempat ini saya melepaskan diri sejenak dari rutinitas dan masuk di dalam dunia fantasi Piyandeling. Arsitektur memiliki kekuatan maha dahsyat untuk membuat orang mengingat pengalaman ruang yang menjadi kenangan membekas.

Pada akhirnya saya sadar, seperti halnya seorang manusia yang seakan-akan memiliki dua kehidupan. Kehidupan pertama dimulai ketiga manusia tersebut berusaha menggapai banyak hal, berjuang di tengah – tengah keterbatasan sampai dirinya merasa cukup. Saya merasa perjalanan suka – duka berpraktik lekat dengan perjuangan di tahap ini.

Dan sebenarnya, kehidupan kedua dimulai ketika, dirinya sadar bahwa ia hanya punya satu kehidupan. Dari situlah saya belajar mengenai fokus dan kebahagiaan sebenarnya sehingga saya tidak merasakan apapun lagi.

Tiba – tiba ada sapaan yang hangat dari belakang.

“Mau minum pak ? satu pengrajin menawarkan kopi dengan cangkir terbuat dari bambu.”

“Terima kasih pak untuk cangkir, kopi, dan perjalanannya bersama – sama.” ini Cangkir kedua saya, puji Tuhan.

Pada akhirnya saya sadar, seperti halnya seorang manusia yang seakan-akan memiliki dua kehidupan. Kehidupan pertama dimulai ketiga manusia tersebut berusaha menggapai banyak hal, berjuang di tengah – tengah keterbatasan sampai dirinya merasa cukup. Saya merasa perjalanan suka – duka berpraktik lekat dengan perjuangan di tahap ini.

Dan sebenarnya, kehidupan kedua dimulai ketika, dirinya sadar bahwa ia hanya punya satu kehidupan. Dari situlah saya belajar mengenai fokus dan kebahagiaan sebenarnya sehingga saya tidak merasakan apapun lagi.
Tiba – tiba ada sapaan yang hangat dari belakang.
“Mau minum pak ? satu pengrajin menawarkan kopi dengan cangkir terbuat dari bambu.”

Translation :

Title : Second Cup of My Life

The building with a twisting roof is a building with a stilt structure made of bamboo construction, with a grid of 5.0 m and 4.0 m to accommodate the functions of the library room, bedroom and meeting room. The structure is like the shape of a butterfly or the flapping of a bird’s wing which is elaborated from the Alfa Omega project. Bamboo blocks are stiffened with chin – chin (stiffeners), while the column sits on a river stone pedestal connected by a bamboo construction as a platform on the ground floor. I actually elaborated these curved shapes in the previous Kampono (Dancer) House in concrete construction by calculating the hot side, the wind that flows in the mass design – the skin of the building to other details. And, behind the game of curvy shapes that appear, there is a logic of strength and aesthetics inspired by the language of nature. Apart from the traditional side that is highlighted, the industrial side also appears with the composition of the curved roof shape covered with Nipah leaves combined with a waterproof membrane for the roof. Forming the Julang Ngapak as a traditional West Javanese vernacular building. The curved bamboo balustrade is played as a hyperboloid form that is more complex, stronger and more flexible and creates silhouettes of natural bird movements or kujang movements which are traditional weapons in Sundanese Tradition.

Pak Jatmiko is the person who helps me supervise the main building in Piyandeling, where he provides a limit on how high a building with bamboo construction can be built safely. Pak Jatmiko used to accompany my grandfather, and my father to projects. He was also the building supervisor of the late Han Awal, and Teddy Boen (Indonesian seismologist). From Pak Jatmiko I learned that every student needs a teacher and a trainer, a trainer will be able to see it from a different point of view. In fact, we need time to practice every day. In my case this practice is closely related to how many design problems we can learn and solve every day and the relationship with him where he can answer with the word “no” then I start to learn to assess the situation with further discussion.

I know 2 craftsmen, the first craftsman is good at talking, his mouth is sweet – he works only on the surface, looks cute – just a sticky aesthetic, when asked to install a brick he will put the brick neatly, but sometimes forgets that there is a pipe behind the brick, the calculation is as sweet as seen. Meanwhile, the second craftsman is not very good at talking, but the work is smooth and the steps can make the project safe because of in-depth calculations of work procedures and details of work stages, strength, resistance to water, weather. As I progressed in practice, the details I had in mind were transformed in the meetings with many craftsmen. Including meeting the first craftsman, I studied for a cute looking array, a literal quality. And, with the second craftsman I learned to get into the essential qualities. Both mindsets are needed to be able to play in the integration of disciplines (MEP, Structure, Architecture). I call this transformative detail into continuous detail

Sometimes every 2 weeks I repeatedly go to Piyandeling to rethink the next details including a mix of traditional and industrial details. In this place, I took a break from my routine and entered the fantasy world of Piyandeling. Architecture has the immense power to make people remember the experience of space that has become a lasting memory. In the end I realized, like a human who seems to have two lives. The first life started by the three humans trying to achieve many things, struggling in the midst of limitations until they feel enough. I feel that the journey of joy and sorrow is closely related to the struggle at this stage. And in fact, the second life begins when, he realizes that he only has one life. From there I learned about true focus and happiness so that I didn’t feel anything anymore.

Suddenly there was a warm greeting from behind. “Want to drink, sir? One craftsman offers coffee with a cup made of bamboo.”

“Thank you sir for the cup, coffee and the trip together.” this is my second cup, thank God.

Kategori
lecture

Metode dan Pendekatan Perancangan Arsitektur

Program Studi Arsitektur Universitas Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta mengadakan #KUAS-03 (kuliah umum Arsitektur Unisa)

Tema : Metode dan Pendekatan Perancangan Arsitektur
Pemateri : Realrich Sjarief, S.T.,MUDD @rawarchitecture_best (RAW Architect & Omah Library)
Senin, 22 Februari 2021
Pukul : 13.00-selesai
Media : Zoom
Terbuka untuk Umum

Link Registrasi :
http://bit.ly/KUAS3ProdiArsitekturUNISA

Info lebih lanjut :
Contact Person : +62 895-3446-86900 atau
IG @arsitektur_unisayogya

Terima Kasih,
Wassalamu’alaikum. Wr. Wb

#arsitekturunisa#kuliaharsitektur#kampusarsitekturjogja#kampusarsitektur#unisayogyakarta#kuliahjogja#kuliaharsitekturjogja#aisyiyah#muhammadiyah#beasiswakuliah#yogyakarta#jogjakarta#jogja#arsitektur#arsitektursehat#arsitekturtropis#desainarsitektur#desain#beasiswa#arsitekturislam#updatekampus#kampusupdate#infokampus#arsitekmuda#calonarsitek#maba2021#camaba#kuliahonline#kuliahdaring

Kategori
blog

Sumarah itu Mengalir Seperti Air

Piyandeling terletak di desa Mekarwangi di Perbukitan di Dago Utara. Daerah ini memiliki suhu yang rendah, kecepatan angin yang tinggi, dan pepohonan eksisting yang rimbun yang membantu untuk mencegah longsor. Sebenarnya membangun di lahan ini sangat sulit di awal konstruksi, karena sulitnya akses transportasi, air, dan akses tenaga kerja sekaligus udara yang dingin. Dengan menggunakan bambu, permasalahan ini teratasi karena ketersediaan material bambu sebagai material lokal, dan karena beratnya yang ringan sehingga mudah dimobilisasi, dan cepat dikonstruksi dengan detail yang adaptif di dalam keterbatasan sumber daya.

Tampak depan didesain dengan pertimbangan untuk melindungi konstruksi bambu supaya awet dan tahan lama. Dari sisi luar, kulit bangunan terbuat dari bambu, plastik daur ulang dan atap nipah. Kulit bangunan ini berfungsi sebagai pelindung dari matahari dan curah hujan sekaligus memberikan ruang antara ruang inti bangunan (core) dan kulit bangunan dengan lorong antara.

Tampak depan didesain dengan pertimbangan untuk melindungi konstruksi bambu supaya awet dan tahan lama. Dari sisi luar, kulit bangunan terbuat dari bambu dan plastik daur ulang, dengan atap nipah. Kulit bangunan ini berfungsi sebagai pelindung dari matahari dan curah hujan sekaligus memberikan ruang antara ruang inti bangunan (core) dan kulit bangunan dengan lorong antara.
Kulit bangunan ini memiliki beberapa komponen, pertama Jendela memiliki lebar 500 – 600 mm, kedua lorong antara dimana terletak tangga dan ruang jemur sekaligus berfungsi sebagai proteksi struktur utama bangunan. Piyandeling didesain berbentuk silider untuk mengurangi beban angin dan melindungi ruang keluarga, ruang tidur, ruang kerja yang terletak di sisi terdalam dari bangunan inti.

Kulit bangunan ini memiliki beberapa komponen, pertama Jendela memiliki lebar 500 – 600 mm, kedua lorong antara dimana terletak tangga dan ruang jemur sekaligus berfungsi sebagai proteksi struktur utama bangunan. Piyandeling didesain berbentuk silider untuk mengurangi beban angin dan melindungi ruang keluarga, ruang tidur, ruang kerja yang terletak di sisi terdalam dari bangunan inti.

Detail – detail didesain untuk mempertimbangkan aspek fungsional untuk saling memperkuat elemen arsitektural dari struktur, lorong antara, dan kulit bangunan.

Sederhananya bangunan ini dinamakan Sumarah, karena menggunakan bahan – bahan daur ulang dari Paviliun Sumarah. Sumarah berarti kepasrahan, sebuah sikap untuk mengalir di dalam kehidupan. Dari Piyandeling kita belajar untuk lentur sekaligus kokoh, dan ia mengajarkan material lain yang kokoh untuk lentur. Sebuah fleksibilitas yang mengalir.

Ada satu kejadian di waktu kami melakukan inspeksi lapangan di proyek lain, taruhlah namanya proyek Srabi. Inspeksi lapangan ini identiknya seperti memberikan ruang antara, jembatan antara klien, kontraktor, dan disiplin – disiplin lain supaya berjalan harmoni.

Baru kemarin saya rapat dengan satu klien dan kontraktornya, saya melihat di lokasi, kenapa pekerjaan lift yang ada di tengah rumah tidak dikerjakan dan seakan – akan tertinggal. Kami meluangkan waktu untuk melihat data – data yang ada, ternyata gambarnya tidak lengkap dan ada banyak ketidak-konsistenan, sehingga orang lapangan kebingungan.

Saya membuka diskusi dengan bertanya ke vendor lift di depan saya :

“Pak, ini gambarnya tidak lengkap ya ?”

Saya memberikan referensi kenapa gambarnya tidak lengkap, dengan memberikan contoh bahwa lubang lift perlu “digambar” untuk memperlihatkan besaran bracket struktural yang tersedia, dan perlu hati – hati dengan ketinggian lokasi. Hal ini wajar terjadi karena terkadang, beberapa vendor tidak memiliki orang teknikal. Gambar menjadi penting sebagai sarana komunikasi dan tanggung jawab sekaligus kontrol untuk menghindari adanya kesalahan.

Pertanyaan kemudian muncul, bracket struktural itu perlu disupply oleh siapa ?

Kemudian nada orang di hadapan saya ini meninggi,

“katanya bapak sudah pernah bekerja sama orang lift lain ?? Kok begini saja tidak tahu ??”

Saya menatap satu orang dari vendor ini, dan sedih sebenarnya karena saya berusaha menjembatani data yang kurang di lapangan. Untungnya ada temannya yang memberikan informasi bahwa ketinggian kaca yang akan datang untuk lift tersebut adalah 3.0 m dan diperlukan ketinggian balok 2.1 m untuk pintu masuk. Setelah saya mendapatkan data tersebut dan mendapatkan kepastian bahwa bracket struktural itu akan disediakan oleh vendor tersebut, saya bilang ke klien saya,

“Pak sudah cukup kita sudah dapat apa yang perlu dilakukan.”

Saya pikir di dalam project, penting untuk bisa melihat substansi yang ada yaitu gambar, dan memang di dalam gambar diperlukan beberapa penyesuaian di luar verbal. Di dalam gambar, ada dua tingkatan, tingkatan pertama gambar itu bicara sendirian, tingkatan kedua gambar tersebut menyesuaikan dengan kondisi sekitarnya, semudah menyesuaikan dengan ketinggian di potongan dan detail potongan, tata letak kondisi eksisting yang ada dengan denah dan penjelasan berapa dimensi yang dibutuhkan untuk menjadi “jembatan” antar disiplin.

“Pak Real saya minta maaf ya karena memang dia orangnya keras, dia cuma sales Pak” klien saya menyapa di akhir diskusi kami setelah kita selesai berkordinasi membicarakan desain.

Mendengar komentar klien seperti ini membuat kerja arsitek terapresiasi, dan hal ini akan membuat dunia arsitektur bersama kita semakin maju dengan cara yang sederhana.

Untuk kejadian di atas anggap saja cara penyampaian saya, bahasa saya salah. Yang terutama adalah proyek, dan klien tidak terlantar akibat gambar tidak lengkap dan orang lapangan tidak kebingungan lagi. Memang wajar setidaknya proyek membutuhkan waktu dan setiap orang – orang di dalamnya punya masalah – masalahnya sendiri. Kuncinya adalah bagaimana kita bisa saling menyelesaikan masalah di luar personal kita itu yang terpenting.

Saya kembali teringat dengan Piyandeling dan Sumarah yang ada di Bandung, dengan material apapun kita dari keras belajar untuk lembut, dan dari sosok yang mengalir belajar untuk lebih tegas, semua pihak saling belajar tanpa henti seumur hidup. Satu saat setelah saya melakukan inspeksi lapangan disana saya tersenyum melihat kerja keras mereka melakukan menutup celah bambu yang tidak mudah untuk membuat bambu awet, sisi suka dan duka, terekam di dalam pembelajaran tanpa henti di dalam proyek lain dan juga Piyandeling.

Untuk kejadian di atas anggap saja cara penyampaian saya, bahasa saya salah. Yang terutama adalah proyek, dan klien tidak terlantar akibat gambar tidak lengkap dan orang lapangan tidak kebingungan lagi. Memang wajar setidaknya proyek membutuhkan waktu dan setiap orang – orang di dalamnya punya masalah – masalahnya sendiri. Kuncinya adalah bagaimana kita bisa saling menyelesaikan masalah di luar personal kita itu yang terpenting.

Terima kasih Pak Saniin dan Pak Rozak. Mereka adalah 2 dari 4 tukang bambu yang ada di Piyandeling. Saya kembali teringat dengan Piyandeling dan Sumarah yang ada di Bandung, dengan material apapun kita dari keras belajar untuk lembut, dan dari sosok yang mengalir belajar untuk lebih tegas, semua pihak saling belajar tanpa henti seumur hidup. Satu saat setelah saya melakukan inspeksi lapangan disana saya tersenyum melihat kerja keras mereka melakukan menutup celah bambu yang tidak mudah untuk membuat bambu awet, sisi suka dan duka, terekam di dalam pembelajaran tanpa henti di dalam proyek lain dan juga Piyandeling.
Kategori
blog

Open Call for Designers

As Realrich Architecture Workshop (RAW Architecture) grows in Indonesia, we are calling back restless souls to experiment, learn from the ground up and want to explore design to work together with a multi-disciplinary studio team. Our designs progress from symbolic designs to more analytical designs.

We invite you to join us in RAW Architecture as our family.
For further information please contact us to kak Yudith (+62 8161644022)

  • Able to design space with function, shapes, and form
  • Have interest to discuss design thinking
  • Familiar with design tools – common CAD and Graphic
  • Familiar with IT facilities
  • Work on every day, regular time
  • Good knowledge of social media
  • Good knowledge of book layout and graphic design
  • Basic photography and video editing is an advantage
  • Experience in project management is a plus
  • Able to work in well integrated team with Structure, Mechanical, and Designers.

Responsibilities

  • Designing architecture and assisting Realrich and team leaders in RAW Architecture project
  • Coordinating project for design research practice – management – built
  • Selecting, developing, cataloging and classifying material resources for projects
  • Using library systems and special computer applications
  • Managing budgets and resources
  • Promoting the studio’s event and resources to public.

Apply Now
Send us your motivation letter, curriculum vitae, portfolio to
this form by google drive link
have a question ? please contact Laurensia +62 8161644022 (Whatsapp)

fill this form please https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSfCNskYQgzXlp7UTC7sNWKbTn7N7pI0jGtWxV83_h80wbE_fA/viewform?usp=sf_link

Kategori
blog

Susunan Batu Kali yang Lembut di Mekarwangi

Terlihat dari depan Piyandeling menggunakan struktur yang melayang untuk menjaga kelembapan dari struktur bambu sekaligus memanfaatkan ruang di bawah sebagai area garasi terbuka. Di daerah ini dimanfaatkan juga untuk kamar mandi komunal. Secara alami sebenarnya daerah ini memiliki tanah yang lebih tinggi yang diakibatkan pengurugan dari lahan sekitar, namun seiring jalan lahan ini rawan longsor. Oleh karena itu tahap pertama adalah memperkuat konstruksi turap yang berfungsi sebagai dinding lahan.

Pengrajin – pengrajin yang terlibat disini juga pernah terlibat di dalam pembangunan sekolah Alfa Omega dan Guha Bambu, ada Mang Amud, Mang Saniin, Mang Rojak, Mang Uyu, Mang Deden, dan lain – lain.

Area yang terlihat di dalam gambar ini adalah kolong dari bagian dari bangunan yang dinamakan Sumarah. Material yang digunakan untuk lantai adalah batu kali yang merupakan batu yang didapatkan di dasar sungai ketika kita berjalan ke dasar lembah. Batu itu keras, namun kita bisa belajar mengenai bagaimana kekerasan itu dilembutkan dan mengalir dari daya adaptasi ketukangan yang muncul dari pengrajin bambu.

Area yang terlihat di dalam gambar ini adalah kolong dari bagian dari bangunan yang dinamakan Sumarah. Material yang digunakan untuk lantai adalah batu kali yang merupakan batu yang didapatkan di dasar sungai ketika kita berjalan ke dasar lembah. Batu itu keras, namun kita bisa belajar mengenai bagaimana kekerasan itu dilembutkan dan mengalir dari daya adaptasi ketukangan yang muncul dari pengrajin bambu. Di daerah ini dulunya juga sering mati lampu, dan juga air bisa mendadak mati, karena masih menggunakan pipa air berbentuk selang yang terbuka (tidak tertanam). Sehingga proses menemukan batuan tersebut adalah ketika tukang- tukang perlu mengambil air pada waktu itu, dan tiba – tiba mereka memberitahukan,

bagaimana kalau kita menggunakan batu – batu dari kali pak ?

Tahap pertama adalah menyelesaikan dinding turap, umpak, penggalian resapan dengan artistik. Dari tukang – tukang ini saya belajar mengenai membentuk karakter yang lembut dengan teknik yang matang, dan prosesnya membutuhkan waktu dan dialog yang terjadi.

Para pengrajin ini berubah dari mengetahui bambu, menjadi merangkai apapun, termasuk bebatuan yang keras, bebatuan tersebut kemudian membentuk bentuk daun yang disusun berbentuk daun dengan didesain dengan mempertimbangkan aliran air yang meresap perlu untuk ke tanah. Patut diingat di daerah ini tidak ada infrastruktur pembuangan saluran air. Jadi tahap pertama adalah menyelesaikan dinding turap, umpak, penggalian resapan dengan artistik. Dari mereka saya belajar mengenai membentuk karakter yang lembut dengan teknik yang matang, dan prosesnya membutuhkan waktu dan dialog yang terjadi.

Para pengrajin ini berubah dari mengetahui bambu, menjadi merangkai apapun, termasuk bebatuan yang keras, bebatuan tersebut kemudian membentuk bentuk daun yang disusun berbentuk daun dengan didesain dengan mempertimbangkan aliran air yang meresap perlu untuk ke tanah.

Lama saya tidak menulis di postingan IG yang saya gunakan untuk tempat menyampaikan perlunya merefleksikan diri dan mengapresiasi arsitekturini, saya terus berpikir kadang, mau menulis apa, terkadang kesibukan membuat saya tidak terlalu meluangkan waktu mengupdate postingan. Namun kali ini dan ke depan saya mencoba mengapresiasi dan menggali relasi antar orang – orang luar biasa di sekitar saya ya. Karena Indonesia itu seperti bambu, tumbuh bersama – sama dengan rumpun dan tidak sendirian. Terus pakai masker dan saya doakan supaya sehat selalu.

Indonesia itu seperti bambu, tumbuh bersama – sama dengan rumpun dan tidak sendirian.Lama saya tidak menulis di postingan IG yang saya gunakan untuk tempat menyampaikan perlunya merefleksikan diri dan mengapresiasi arsitekturini, saya terus berpikir kadang, mau menulis apa, terkadang kesibukan membuat saya tidak terlalu meluangkan waktu mengupdate postingan. Namun kali ini dan ke depan saya mencoba mengapresiasi dan menggali relasi antar orang – orang luar biasa di sekitar saya ya.

Kalau dilihat – lihat masa pandemi ini saya belajar mengenai kedekatan. Kali ini saya mau bercerita mengenai pak Singgih Suryanto, beliau sudah ikut kerja dengan ayah saya puluhan tahun dan sudah berkerja bersama saya dari tahun 2011 ketika rumah Bare Minimalist dikonstruksi. Beliau pada saat itu menjadi pengawas. Saya mendapatkan banyak cerita mengenai anak – anak studio desain dari beliau, kami berdiskusi pagi – pagi kadang dimana anak – anak belum datang ke studio.

“Real, ini anak lagi kena sakit Maag.”

“Real, kayanya anak ini kos – kosannya di belakang kampung kurang baik, katanya banyak kecoak.”

“Real , kayanya anak ini keteteran kerjaannya, mungkin perlu dibantu.”

Dari perjalanannya pulang dari proyek , ia kadang mampir ke tukang gorengan ataupun martabak. Kejutan – kejutan tersebut membuat suasana studio lebih cair, mengalir dalam senda gurau, tawa. Baginya anak – anak studio seperti keponakannya sendiri.

Beliau dulu tinggal di Rawa Mangun, untuk ke-studio kami perlu sedikitnya 2 jam perjalanan. Ketika satu saat beliau sakit dia sempat berkata, saya sudah selesai, dan jantung saya berdegub keras pada saat itu. Saya tidak boleh kehilangan beliau, Pada waktu itu saya ingat, saya mengumpulkan beberapa orang di studio pada saat itu, termasuk pak Jatmiko, Pak Misnu, Bonari, Rudi, dan lain – lainnya. Saya menekankan bahwa Pak Singgih perlu dirawat bergantian sampai sembuh, tolong kabari saya setiap harinya. Mungkin kalau ada saya keinginan yang belum terpenuhi untuk beliau adalah bagaimana saya meluangkan lebih banyak waktu, uang, dan tenaga untuk lebih perhatian akan kecintaan beliau di dalam mengayomi anak – anaknya.

Ayah saya selalu berkata, susun prioritas terutama, hal – hal yang penting didahulukan terutama masalah relasi, keuangan, nama baik, seperti ayah saya kadang beliau tidak mau menjadi pemberat di dalam hidup saya. Ia diam, kadang ia tahu saya perlu fokus di dalam bekerja, ia tahu bahwa mungkin dia pikir saya tidak memerlukannya dan memilih tidak mengganggu meskipun dia rindu. Terkadang ayah saya hanya minta diantar oleh Pak Misnu ke The Guild, kadang ia melihat dari luar dari luar mobil saja, dia bilang, ngga usah repot – repot kalau lagi sibuk. Saya selalu bilang apaan sih, ayo masuk, atau saya keluar rumah menyambutnya . Dia tahu bahwa dia sendiri sudah sulit berjalan. Sepanjang hidup saya, nafas saya, darah saya dibentuk oleh beliau, termasuk oleh Pak Singgih dan orang – orang yang sedermikian penting untuk saya. Saya sungguh bersyukur dikelilingi oleh ayah saya, pak Singgih, dan orang – orang baik di sekeliling saya.

Terkadang ayah saya hanya minta diantar oleh Pak Misnu ke The Guild, kadang ia melihat dari luar dari luar mobil saja, dia bilang, ngga usah repot – repot kalau lagi sibuk.Saya selalu bilang apaan sih, ayo masuk, atau saya keluar rumah menyambutnya . Dia tahu bahwa dia sendiri sudah sulit berjalan.
Ayah saya selalu berkata, susun prioritas terutama, hal – hal yang penting didahulukan terutama masalah relasi, keuangan, nama baik, seperti ayah saya kadang beliau tidak mau menjadi pemberat di dalam hidup saya. Ia diam, kadang ia tahu saya perlu fokus di dalam bekerja, ia tahu bahwa mungkin dia pikir saya tidak memerlukannya dan memilih tidak mengganggu meskipun dia rindu…Sepanjang hidup saya, nafas saya, darah saya dibentuk oleh beliau, termasuk oleh Pak Singgih dan orang – orang yang sedermikian penting untuk saya. Saya sungguh bersyukur dikelilingi oleh ayah saya, pak Singgih, dan orang – orang baik di sekeliling saya.

Di dalam pembentukan kultur studio, kedekatan antar-personal menjadi penting, kejutan – kejutan, ritual – ritual, perlakuan – perlakuan yang baik berdasarkan keinginan untuk memperhatikan, apresiasi dari yang tua ke yang muda, dari yang muda ke yang tua, dari yang muda ke yang muda, dari yang tua ke yang tua. Bergandengan tangan menjadi rumpun dan maju bersama. Rumusnya ternyata sederhana, seperti Pengrajin Bambu yang menukang batu di atas membentuk batu yang keras menjadi lembut mengalir dengan artistik, menjadi “Pengrajin Kasih”.

[1] Catatan : Ini postingan link ke IG pertama saya setelah beberapa lama. Saya berdoa Tuhan semoga postingan ini membawa berkat, dan jauhkanlah saya dari hal – hal buruk. Berkati orang – orang yang sudah membawa begitu banyak hal baik di dalam kehidupan saya.

Kategori
blog

Bertemu Zarathustra

“Miracle sayang Heaven.” katanya sambil menepuk – nepuk Heaven. Sudah satu bulan ini Miracle sekolah kembali setelah libur tengah tahun. Hari – hari kami diwarnai hal – hal yang repetitif yang mewarnai keseharian. Laurensia bangun pagi setiap harinya, untuk mempersiapkan sekolah Miracle (nama panggilan Miraclerich). Saya sendiri banyak belajar dari sekolah Miraclerich, jadwal sekolahnya berpusat pada pelajaran budi pekerti, ilmu pengetahuan alam, dan pelajaran bahasa Mandarin.

“Miracle sayang Heaven.” katanya sambil menepuk – nepuk Heaven. Sudah satu bulan ini Miracle sekolah kembali setelah libur tengah tahun. Hari – hari kami diwarnai hal – hal yang repetitif yang mewarnai keseharian. Laurensia bangun pagi setiap harinya, untuk mempersiapkan sekolah Miracle (nama panggilan Miraclerich)

Laurensia berkata satu saat “keluarga dibentuk seperti badan manusia, ayah adalah tulang yang bekerja keras untuk kebutuhan dasar, ibu adalah jantung yang ada di tengah keluarga” itulah relasi antara kedua peran yang saling melengkapi pikiran badan dan hati di dalam keluarga, disitulah adalah pelajaran budi pekerti.

Saya ingat Suryamentaram sampai harus meninggalkan gelar kebangsawanannya untuk mengetahui sejauh mana ia bisa menjernihkan suara hatinya. Hal tersebut bisa diibaratkan seperti Zarathustra. Dalam tulisan-tulisan awalnya, Friedrich Nietzsche (1844-1900) bereksperimen dengan posisi filosofis, mengujinya terhadap ilmu pengetahuan dan sejarah pemikiran, melawan budaya, pemikir, dan momentum zaman. Selain itu, ia mengadopsi persona atau topeng untuk menyajikan ide-ide kontroversial dalam konteks eksperimental dan sebagai cara baru untuk berfilsafat. Karakter dramatis Zarathustra dan pertapa dalam Thus Spoke Zarathustra.

“When Zarathustra was thirty years old, he left his home and the lake of his home, and went into the mountains. There he enjoyed his spirit and his solitude, and for ten years did not weary of it. But at last his heart changed, and rising one morning with the rosy dawn, he went before the sun and spoke to it.”

Zarathustra perlu menyendiri di perjalanannya menuju gunung. Setiap orang perlu menggali apa itu gunungnya, apa yang aku mau tuju, dan bagaimana cara saya mendaki gunung saya. Itulah proses menggapai impian melalui meramu tujuan. Gunung itu ibaratnya adalah sebuah tujuan. Setiap orang di dalam menyendiri akan bertemu Zarathustra, berdialog dan kemudian menjadi dirinya untuk mempertanyakan siapa aku di dalam kesendiriannya.

Satu murid, ia mengirimkan saya Whatsapp Message, dulu saya bertemu dia di dalam kelas satu kelas.

Selamat malam Pak Rich… maaf mengganggu pak.. Saya boleh menanyakan saran ga pak, soal karir hidup pak.. Selama kelas pak Rich, saya sangat menikmati luasnya eksperimentasi yang bisa dilakukan pada setiap tugas. Tiba-tiba bisa menulis tugas soal bahan material arsitektur yang kita minati atau bayangkan, atau bahkan bisa memperagakan demonstrasi di depan kelas. Hal-hal yang berhubungan dengan eksperimentasi hampir setiap hari selalu membuat saya semakin curious dan ingin mencoba untuk merealisasikannya. Bisa saja tiba-tiba kepikiran ingin melakukan suatu proyek yang berhubungan dengan videogrammetry, atau bisa saja proyek film yang menggunakan the other 4 senses… dan bahkan bisa tertarik untuk berpikir output apa yang dapat dihasilkan dari musik dan arsitektur, apakah yang akan terjadi jika musik menggunakan teori-teori desain yang dipelajari dalam arsitektur, atau animasi menggunakan teori-teori desain yang dipelajari dalam arsitektur, multi-disciplinary and architecture, & etc…

Dari semua kebingungan ini, saya sudah mencoba untuk me-riset jurusan yang memungkinkan, dan salah satunya itu adalah experimental media… namun saya masih belum yakin apakah itu akan fulfill keminatan saya pada jangka panjang.. Sementara ini, saya mungkin berpikir untuk mengambil gap year setelah kuliah selama 1 – 2 tahun untuk mengeksplor ketertarikan saya dulu.. Walaupun mungkin belum terlalu jelas, karena randomness dari setiap proyek bisa cukup besar…

Namun, kalau menurut pak Rich, mungkin apakah saya lanjutkan saja dulu semua eksplorasi dan proyek2 ini, dan endingnya lihat nanti saja.. Atau mungkin saya perlu mengambil patokan suatu jurusan dulu, baru untuk berbagai macam ide lainnya akan saya lakukan secara otodidak? Maaf pak kalau saya jadi menanyakan secara tiba-tiba seperti ini…

Perjalanan mendaki gunung memang perlu kegalauan dan kebingungan, kabut kadang pekat, kadang tipis, bisa jadi ada harimau muncul di perjalananmu dan harus kau tundukkan. Bisa jadi juga kamu perlu mencari air di dalam perjalananmu supaya dirimu tidak kehausan. Alam mencari gunung ini adalah ranah filsafati, sebuah proses pencarian diri. Menariknya ia menjadi perjalanan tidak berujung, semakin lama semakin luas, membawa di dunia langit beberapa tingkat ke atas.

saya menginterpretasikan seperti anak – anak ini,berusaha menggali sendiri untuk mengetahui apa arah kehidupan ini di masa yang akan datang.

Di satu sisi, euforia perjalanan diri ini, terkadang membutuhkan kompas. Apakah benar yang saya pikirkan ? Bagaimana menurut kawan saya ? Apakah saya punya progress di dalam kehidupan ini ? pertanyaan – pertanyaan tersebut membutuhkan orang lain untuk bisa memberikan interpretasi. Perjalanan mendaki gunung membutuhkan persiapan, kaki yang kuat, hati yang lapang, dan kemauan yang kuat. Kaki yang kuat diibaratkan adalah pengetahuan tacit mengenai bagaimana berpraktik sebagai arsitek, bagaimana memproduksi desain, gambar, melakukan supervisi proyek, dan melayani klien. Kemauan yang kuat adalah ketekunan dan kerja keras yang menjadi bensin atau makanan penggerak tubuh kita. Hati yang lapang adalah ketulusan budi pekerti.

Pelajaran Budi pekerti itu disebut Ren Wen 人文 . Miracle mendapatkan kelas ini satu kali seminggu. Ren Wen adalah sebuah pelajaran mengenai kemanusiaan, bagaimana menghargai orang lain. Hal ini akan membentuk budaya yang baik. “Tahukah kamu permisalan tentang udang dan ular ? Kata gurunya satu saat.” Hal ini kami bahas pada waktu kami makan siang bersama. “Jangan berbicara hal yang buruk, nanti kami akan jadi seperti ular berbisa, dan jangan juga duduk membungkuk seperti udang.”lalu kata Laurensia menjelaskan bagaimana pelajaran di kelas hari itu.

Pelajaran Budi pekerti itu disebut Ren Wen 人文 . Miracle mendapatkan kelas ini satu kali seminggu. Ren Wen adalah sebuah pelajaran mengenai kemanusiaan, bagaimana menghargai orang lain. Hal ini akan membentuk budaya yang baik. “Tahukah kamu permisalan tentang udang dan ular ? Kata gurunya satu saat.” Hal ini kami bahas pada waktu kami makan siang bersama. “Jangan berbicara hal yang buruk, nanti kami akan jadi seperti ular berbisa, dan jangan juga duduk membungkuk seperti udang.”lalu kata Laurensia menjelaskan bagaimana pelajaran di kelas hari itu.

Ia menjelaskan bahwa murid – murid diajarkan untuk welas asih, memiliki budi pekerti yang baik, seperti menjadi sebuah bunga yang harum untuk orang lain. Pelajaran – pelajaran sederhana bagaimana menjadi tenang dengan meditasi, minum teh, makan dengan sopan, menyapa orang, merangkai bunga, ataupun sesederhananya menyapa dengan “I love you Mommy.”

” anak – anak di umur 4 tahun, mereka mulai aktif untuk meniru, dan salah satu hal yang bisa dilakukan untuk belajar adalah bermain peran.”

Terdengar sayup – sayup Laurensia berkata ke Miracle ketika menemaninya belajar satu hari,

“ayo duduk yang tegak jangan seperti udang.”

Jordan Patterson membahas cerita mengenai lobster di dalam buku 12 Rules of Life, ia menjelaskan cerita lobster untuk menjelaskan tentang hirarki sosial yang ada di dalam kehidupan sehari – hari. Patterson menjelaskan tentang bagaimana lobster yang menang akan menegakkan kepalanya, dan yang kalah inferior akan membungkuk. Mendadak saya pun tersadar, saya pun beringsut bangun, membetulkan tempat duduk saya, memang budi pekerti itu bekerja ke segala arah, dari hati, pikiran, sampai hal – hal sederhana dan detil sampai ke posisi duduk. Mengingat ini, saya kembali ingat ketika Laurensia menepuk satu saat, “Jangan membungkuk Yang.

“O iya”

“Untung ada Laurensia yang selalu mengingatkan :)” sekarang gantian saya mengingatkan para pembaca. “Jangan membungkuk ya.”

“Untung ada Laurensia yang selalu mengingatkan :)” sekarang gantian saya mengingatkan para pembaca. “Jangan membungkuk ya.” family photo taken by Jeffri Hardianto (pepen) House of Photographers
Kategori
blog

Autumn Strong

Dulu kira – kira 13 tahun yang lalu, bulan – bulan Agustus menuju Desember adalah bulan dimana autumn tiba, di saat itu saya ingat satu waktu saya menghabiskan waktu ke Cambridge, menyusuri sungai disana, naik sepeda bersama Laurensia. Kami mengambil gambar untuk mengabadikan bahwa kami pernah di situ. Perjalanan kami berdua di kota – kota di Inggris seperti St. Ives, Cambridge, London dan kota – kota kecil lainnya membekas di dalam musim autumn. Musim autumn memberikan suasanya jatuhnya daun – daun dan masuknya musim dingin, terbitnya bunga, dan datangnya musim panas. Hal ini adalah siklus berulang di dalam waktu yang linear.

Kali ini, kira – kira mulai bulan Agustus sampai bulan Desember lalu, saya menghabiskan waktu – waktu malam dengan membaca jurnal, buku, membuat mind map, menyusun presentasi. Hal ini paralel di siang hari dan kadang subuh untuk berpraktik, mendesain, survei lapangan, supervisi proyek. Setiap senin diwarnai dengan meeting pagi tim proyek yang dilanjutan dengan webinar jam 10 bersama Iwan Sudrajat, belajar mengenai metodologi penelitian melalui buku dan diskusi. Hari selasa, saya mendapatkan waktu untuk berdiskusi dengan Himasari Hanan sebagai pembimbing, dan hari kamis, saya bertemu dengan Bambang Sugiharto di kelas filsafat.

Apa yang mau saya bagikan di dalam tulisan ini adalah soal merasa cukup, sebuah proses dari menuju sesuatu, waktu adalah linear.

Pertama, soal disertasi, topik yang saya minati adalah soal kreatifitas di dalam desain. Saya tertarik untuk mengikuti kelas di 3 bulan pertama sampai satu titik dimana saya bertemu dengan Anna Herringer di dalam acara Design United dimana kami mengisi acara bersama – sama. Di dalam diskusi bersama dan sharing, ia menjelaskan bagaimana arsitek perlu peka di dalam praktik, dan melihat karya – karyanya saya merefleksikan bahwa tataran yang saya jalani di dalam disertasi adalah tataran yang teoritis. Saya membutuhkan tataran praktis sebagai pelengkap teori, lokalitas dalam praktik, membumi, mengakar, fundamental.

Selain urusan disertasi, waktu saya habiskan juga untuk mengatur studio dan perpustakaan juga menulis buku sebagai bahan refleksi. Covid ini merubah banyak sekali hal, mulai dari hilangnya tatap muka, dan munculnya peluang – peluang digitalisasi, seperti media webinar, dan rapat di atas awan (rapat digital menggunakan zoom). Sebenarnya kami hidup lebih sehat, lebih tenang, dan lebih damai. Karya – karya yang saya hasilkan jauh lebih mengakar, dan terpikirkan matang.

Saya teringat kira – kira setahun yang lalu, saya memutuskan untuk keluar dari banyak grup digital karena terus terang merasa tidak nyaman apabila tidak memiliki jarak akan segala hal sehingga hal – hal yang prinsipal menjadi dogma yang ikut – ikutan. Mungkin hal ini yang menyebabkan Pak Gunawan Tjahjono tidak memiliki WA. Saya mengamati ada teman saya yang sukanya mengumbar dirinya sendiri, ada juga teman saya yang juga problematis dengan masalah waktu, ada juga teman yang sukanya pansos. Setiap orang punya masalah, masalah pribadi biarlah menjadi masalah pribadi, masalah bawaan. Masalah bersama itulah yang lebih penting untuk dibicarakan. Masalah pribadi itu urusan refleksi masing – masing. Saya sungguh merasa kesepian, mungkin yang bisa mengobati adalah adik – adik saya di perpustakaan, ataupun murid – murid atau teman – teman yang bisa bersenda gurau tanpa pretensi ataupun sekedar mengupdate berita mengenai bagaimana hidup mereka akhir – akhir ini dengan cerita yang konyol, gagal, bodoh, hidup memang tidak sempurna kawan.

Minggu ini saya bertemu dua orang anak muda, satu sedang mencari jalan hidup. Ia adalah calon arsitek yang potensial, ia memiliki kegelisahan mengenai sejauh mana jalan itu aman baginya, untungnya ia memiliki begitu banyak kesempatan yang diberikan keluarganya dan teman – teman sekitarnya. Orang yang kedua justru tidak memiliki kesempatan tersebut, ia harus berjuang sendirian di dalam menembus keterbatasannya sebagai anak di dalam ekosistem yang broken home. Ia sendiri sekarang sukses di dalam dunia retail yang memegang salah satu banyak brand tas yang ternama. Mereka berdua berjuang menembus keterbatasannya sendiri, memiliki kesamaan akan sebuah proses yang understated. Proses ini adalah proses yang sederhana, fokus kepada kemauan belajar, yang tidak kompetitif, tanpa perlu menonjolkan diri, ada rasa cukup yang terlihat di dalam prosesnya. Saya bangga akan proses mereka berdua dan menyaksikan keduanya tumbuh mandiri.

Saya melihat tantangan ke depan tidak mudah, dengan menghitung jumlah proyek, dan proyeksi keuangan, beberapa langkah – langkah perlu di lakukan dengan taktis dan hal tersebut membutuhkan waktu. Disinilah tegangan akan waktu ini muncul. Waktu sekali lagi linear, pertimbangan – pertimbangan yang dipilih akan menghadapkan pilihan – pilihan seberapa layak satu pilihan itu dipilih, apa yang didapatkan, perkiraan – perkiraan apa yang menunggu di ujung jalan. Proses ini seperti proses menyiapkan bahan masakan dengan menimbang satu dan yang lain supaya hasilnya memuaskan.

Sebelumnya, sebenarnya di dalam proses saya mengerjakan disertasi tidak berfokus ke tujuan mendapatkan gelar S3 namun lebih ke proses pembelajaran, menemukan teman untuk berdiskusi, ekosistem untuk membicarakan penelitian – penelitian lebih lanjut dengan masuk ke substansi bukan normatif.

Satu minggu setelah saya mengirimkan surat untuk mundur ke prodi , saya bertemu dengan Lisa Sanusi. Kita berdua berdiskusi mengenai mimpi – mimpi akan dunia pendidikan. kira – kira baru 2 minggu lalu ia mengirim pesan “pak Rich apa ada waktu saya mau bicara.”, ia kemudian melanjutkan :

“Pak Rich, saya sudah dari Bandung, kita dalam pengurusan sekolah arsitektur.”

Saya terdiam, dan jantung ini berdegup keras. Dan sekonyong – konyong ada suara dari belakang telinga mengingatkan,

“jangan lupa doa ya.”

The feeling of autumn, leaving someone feels like the sadness of autumn
a glass of wine thousands of different emotions, so many farewells when the leaves fall, there are so many farewells, holding your hand tight
remembering this, i want you to remember
this silent promise I’m not afraid of being lovesick
I’m just afraid of hurting you all resentments vanish with the wind
meeting or parting ways, it’s not up to me
I’m not afraid of being lonely
I’m just afraid you’ll be disappointed
that you won’t have a shoulder to cry on

Saya terbangun, mari jalan kembali. Sampai jumpa kawan.

Kategori
blog

Forming the Gift Society

“Apa yang menjadi dasar kriteria untuk membuat buku ini untuk mahasiswa ?” Ini satu pertanyaan yang muncul dari peserta diskusi ketika ada acara Omah Library di Bandung, kira – kira dua tahun yang lalu ketika terdapat paparan mengenai bagaimana kerangka pemikiran buku Filsafat, Teori, dan Keprofesian di dalam 3 buku yang sudah diterbitkan. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang luar biasa bagus, yang biasa ditanyakan ketika ada pengujian. Di dalam assesment mengenai kualitas, ada penentuan parameter, kunci – kunci penentuan parameter ini sangatlah penting dan kritikal sebagai dasar apa yang menjadi pertimbangan, dan bagaimana menimbangnya. Pertanyaan ini menjadi dasar bahwa ada pembaca yang ingin mengerti kualitas seperti apa yang menjadi konsep dasar buku tersebut.

“Terima kasih ya pak, sudah mau membuatkan buku untuk kami.” Eubisius, murid saya berbicara pada saat saya menanyakan di malam saya mempresentasikan buku ini ke mereka, “apa ada yang mau kalian sampaikan atau tambahkan ?”.

Malam itu adalah saat dimana saya mempresentasikan apa yang sudah kami lakukan di Omah Library, untuk mengkurasi, dan menyusun materi ajar di dalam buku Strategi Arsitektur Berkelanjutan. Isu – isu arsitektur berkelanjutan kerap digunakan untuk menggali tema di dalam proses perencanaan.

Saya masih ingat, dulu Eubisius atau Ubi panggilannya, berkata pada saya, “mungkin ini terdengar konyol pak, cuma saya bercita -cita ingin menjadi pemenang Pritzker Prize.” Pritzker Prize adalah satu penghargaan di arsitektur yang identik dengan nobel, penghargaan itu ditujukan untuk seseorang yang sudah berjasa untuk menyumbangkan hidupnya untuk kemanusiaan di dalam menjalani profesinya sebagai arsitek. Saya bisa membayangkan bahwa mungkin saja pengajar – pengajar yang menertawakan keinginan muridnya seperti ini. Namun di mata saya, keinginan seperti ini adalah sungguh amat berharga.

Perkataan – perkataan “saya ingin seperti ini, seperti itu…” itu sebenarnya yang sering dilontarkan oleh para mahasiswa, sebuah keinginan untuk menggapai mimpi menyumbangkan hidupnya untuk kemanusiaan. Dari perjumpaan dengan banyak mahasiswa yang menginginkan hal tersebut, ada benang merah, bahwa para mahasiswa ini ingin dihargai sebagai perancang, dan mereka juga ingin belajar mempertanggung-jawabkan metodologi desainnya sebagai arsitek, dan terakhir mereka semua juga menyadari pentingnya sikap untuk selalu belajar.

Seringkali benang merah tersebut disalah-artikan sebagai keinginan untuk menonjolkan diri, padahal sesederhananya keinginan itu berawal dari kebutuhan untuk diapresiasi oleh orang lain termasuk pengajarnya.

Buku ini tidak boleh mahal, tapi boleh tebal, setebal 600 halaman juga oke. Berikan yang terbaik untuk anak – anak, karya ini dari anak – anak untuk anak – anak, kita akan menjadi jembatan yang baik untuk mereka.” saya menekankan di dalam rapat di Omah Library

Apresiasi ini begitu penting di dalam pembentukan Gift Society dimana Gift Society tidaklah sama Consumerism Society, hal ini dibicarakan oleh Lewis Hyde di dalam bukunya The Gift: How the Creative Spirit Transforms the World. Hyde membagi dua buah kelompok, pertama yaitu : Consumerism Society , kelompok mengandalkan asas untung rugi, ibaratnya keinginan untuk mengetahui apa yang aku dapat di dalam proses kreasi sebagai motif dasar. Di dalam kelompok ini, terdapat keterbatasan waktu yang mengikat untuk berproduksi, informasi yang dibatasi, dan patronisasi yang kuat. Sedangkan di dalam kelompok yang kedua Gift Society, menghasilkan karya yang inovatif dari sikap saling percaya , hubungan yang saling memberi, dan aspek pembagian ekonomi yang bijaksana, memiliki motif untuk membangun.

Buku “Untuk Mahasiswa” ini ditulis untuk mahasiswa dan oleh mahasiswa, bahwa mahasiswa bisa dan boleh berinterpretasi untuk kasus – kasus yang mungkin mereka sendiri belum terbayang seutuhnya bagaimana cara arsitek berproses. Disinilah proses (pedagogi) pengajaran itu perlu dipaparkan dengan apa adanya yang terkait ke 4 titik permenungan, pertama : sistem pengajaran, kedua : anatomi pemaparan dari quiz sampai tugas, ketiga : buku yang direferensikan, dan keempat : evaluasi dari tugas mahasiswa yang patut diapresiasi. Disinilah proses pedagogi “untuk mahasiswa” patut untuk dibagikan untuk sebagai titik awal bagi pengajar – pengajar lain berbagi hal yang menjadi rahasia kecil yang terkadang terselubung di dalam hubungan pengajar dan diajar.

Lebih lanjutnya buku ini sebenarnya adalah tempat merefleksikan kegiatan mencatat, mengarsip, dan mengevaluasi proses pengajaran arsitektur berkelanjutan untuk kepentingan menyambung tongkat evaluasi yang dibutuhkan. Hal ini perlu supaya pengajar dan murid bisa memahami kompleksitas praktik- teori di dalam bentuk kontekstualisasi kasus studi ke dalam kasus – kasus yang kita alami di dalam keseharian kita semua sebagai murid – murid kehidupan.

Beberapa komentar dari adik – adik saya di Omah Library dimana pada dasarnya buku yang baru terbit ini adalah strategi untuk menemukan diri sendiri menggunakan tema arsitektur berkelanjutan setidaknya membuat saya menghela nafas.

“Selama proses penyuntingan, saya belajar banyak hal dari tulisan-tulisan yang terkumpul. Sepertinya, kesadaran kolektif memang muncul disini, di mana benang merah ini saling merajut antar tulisan dengan tujuan yang sama; sebuah kesadaran arsitektur berkelanjutan. Buku ini buku paling tebal, dan buku yang membawa saya menemukan apa makna arsitektur berkelanjutan, yang jarang sekali diperbincangkan. Ini memang buku strategi. Strategi yang menghantarkan kita mencari strategi sesuai konteks kita sendiri, dengan melibatkan kesepahaman arsitektur yang berkelanjutan.” – Satria A. Permana

Mungkin kalau Ian Mcharg masih hidup, ia bisa tersenyum sembari berjaga – jaga kembali.

bit.ly/OrderOMAH

.
Terima kasih untuk para kontributor murid – murid kami : Albert Lionggo, Andreas Hasiholan,Anggreny Ratnasari, Anissa Dipa, Anke Ardine, Ansell Samuel Julianto, Antonius Priya Prathama, Bayu Abimanyu, Carla Aurellia, Chelsea Gracelyn Halun, Chelsya Setiawan, Christal Yohanes Edy Widjaya, Darwin Winata, Dharmawan, Diandra Arya Eka Putrim Edgard Jeremy, El Grantnada Romaulina Chyntia, Manihuruk, Eubisius Vercelli Ocvanto Kuncoro, Evania Hamdani, Fania, Farisya Yunandira Putri, Fikra Abhinaya Djuhara, Franca Kartasasmita, Gerardo Leonard Nugroho, Gilbert Antonious, Heidy Laurentia, Heinrich Benedick, Jason Lim, Jason Aristya Wongso, Jason Axel, Jesslyn Amanda, Joshua Alfando, Joshua Felix Theo, Joshua Michael, Jovin JuanMarcell Cruxivisyo, Mauritzio Hizkia, Michael Antonio Halim, Michael Imanuel Susilo, Michellin Sonia Wibowo, Muhamad Yusuf Nyompa, Nathanael Christopher Ng, Novi Synfah, Oliver Victor Wibowo, Praisella Hatijanto, Putroaji Darma Maulana, Raihan Ramadhan, Rayka Martawijana, Raynaldo Febrio Istanto, Sander Ekaputra, Satya Krisnadi, Shania Salsabila, Shella Angelica, Sherlyn Christiane, Spazio Julius, Stanly Alviando, Thessalonicca Venesya, Valencia Angelita, Vania Serrafine, Para Restless Spirit Librarian : Penyunting (Amelia Widjaja, Satria A. Permana), Kirana Adrya, Hanifah Sausan, dan Dimas Dwimukti. Juga tim administrasi, Laurensia, Vivi, dan Putri. Kawan – kawan yang menulis pengantar bersama – Johannes Adiyanto dan penutup Anas Hidayat.

Kategori
projects

Project 13 – Piyandeling Artisan Residence and Workshop

Piyandeling is a new project consisting of The Residence and Artisan Workshop The concept is elaborated from the previously Realrich Architecture Workshop (well known by RAW Architecture)’s “Guha” project. Piyandeling is located in a tranquil area of Mekarwangi Village, North Bandung. 

Piyandeling adalah proyek baru yang terdiri dari residensi dan bengkel untuk berkreasi. Konsep ini dielaborasi dari proyek “Guha”. Piyandeling terletak di daerah yang tenang di Desa Mekarwangi, Bandung Utara.

Piyandeling is a new project consisting of The Residence and Artisan Workshop The concept is elaborated from the previously Realrich Architecture Workshop (well known by RAW Architecture)’s “Guha” project. Piyandeling is located in a tranquil area of Mekarwangi Village, North Bandung. 

The Residence consists of a three-storey house with a grid 3.0 x 3.0 m  for 1 family consists of 2 kid bedrooms, 1 master bedroom, and shared bathrooms. The building envelope is openable which is constructed with recycled 300 x 600 mm plastic panels to cover and protect the inner bamboo structure. The plastic panel is recycled from 99 percent Sumarah Pavilion, that is why the residence is named Sumarah.

Daerah residensi, terdiri dari rumah tiga lantai dengan grid 3,0 x 3,0 m untuk 1 keluarga terdiri dari 2 kamar tidur anak, 1 kamar tidur utama, dan kamar mandi bersama. Selubung bangunan dapat dibuka yang dibangun dengan panel plastik 300 x 600 mm daur ulang untuk menutupi dan melindungi struktur bambu bagian dalam. Panel plastik tersebut didaur ulang dari 99 persen Paviliun Sumarah, itulah sebabnya tempat tinggal tersebut diberi nama Sumarah.





The Residence consists of a three-storey house with a grid 3.0 x 3.0 m  for 1 family consists of 2 kid bedrooms, 1 master bedroom, and shared bathrooms. The building envelope is openable which is constructed with recycled 300 x 600 mm plastic panels to cover and protect the inner bamboo structure.

The envelope forms an 800 mm service corridor with double cross air ventilation and double wall insulations to the core living space of the building. This forms an adaptation of traditional and more industrial approaches mixing traditional joineries and glued joinery of bamboo. The technique is elaborated from Guha Bambu and Alfa Omega Project. which allows the experimentation of 3 storey of the bamboo structure by the diagonal bamboo structure of the floor plate construction.

Selubung tersebut membentuk koridor layanan 800 mm dengan ventilasi udara silang ganda dan insulasi dinding ganda ke ruang inti bangunan. Ini membentuk adaptasi dari pendekatan tradisional dan lebih industri yang mencampurkan sambungan tradisional dan sambungan bambu yang direkatkan. Teknik tersebut diuraikan dari Proyek Guha Bambu dan Alfa Omega. yang memungkinkan percobaan struktur bambu 3 lantai dengan struktur bambu diagonal pada konstruksi pelat lantai.

The envelope forms an 800 mm service corridor with double cross air ventilation and double wall insulations to the core living space of the building.
This forms an adaptation of traditional and more industrial approaches mixing traditional joineries and glued joinery of bamboo.

Construction of Piyandeling is designed as an exercise using 3 types of main material such as recycled plastic, a local type of sympodial bamboo, and local stone for the foundation. The composition started as an exploration on how bamboo craftsmanship integrated with modular rectangular space to create such integrated craft carving bamboo composition from the ceiling, floor, column, door handle, lock, and finishing details handcrafted in site creating art and craft composition in the whole integrated space.

Konstruksi Piyandeling dirancang sebagai latihan dengan menggunakan 3 jenis bahan utama yaitu plastik daur ulang, bambu simpodial jenis lokal, dan batu lokal untuk pondasi. Komposisi tersebut dimulai sebagai eksplorasi bagaimana pengerjaan bambu terintegrasi dengan ruang modular persegi panjang untuk menciptakan komposisi bambu ukir yang terintegrasi dari langit-langit, lantai, kolom, pegangan pintu, kunci, dan detail finishing buatan tangan di lokasi menciptakan komposisi seni dan kerajinan secara keseluruhan. ruang terintegrasi.

Construction of Piyandeling is designed as an exercise using 3 types of main material such as recycled plastic, a local type of sympodial bamboo, and local stone for the foundation. The composition started as an exploration on how bamboo craftsmanship integrated with modular rectangular space to create such integrated craft carving bamboo composition from the ceiling, floor, column, door handle, lock, and finishing details handcrafted in site creating art and craft composition in the whole integrated space.

Piyandeling is an example of bricolage architecture. It is an understanding that to design and build something out of the land, the project needs to find the roots of Local Genius by understanding the adaptation of local craftsmanship and local material available on specific sites.

Piyandeling adalah salah satu contoh arsitektur bricolage. Dimana Bricolage merupakan pemahaman bahwa untuk merancang dan membangun sesuatu dari tanah, proyek perlu menemukan akar dari Local Genius dengan memahami adaptasi keahlian lokal dan materi lokal yang tersedia di lokasi tertentu.

Kategori
blog

Filosofi Donat di tahun 39

“Yang, besok ulang tahun mau dibuatin apa ?” Laurensia bertanya, 

Saya tidak punya ekspektasi apa – apa untuk ulang tahun kali ini. Saya menyadari sudah diberikan begitu banyak berkat dari Tuhan di masa krisis karena pandemi ini dan saya selalu berdoa supaya kawan – kawan dilindungi selalu kesehatannya dan jangan lupa memakai masker. Berkat – berkat di masa pandemi ini mewujud pada kenangan – kenangan yang membekas berupa kedekatan kami sekeluarga. Seperti ketika Laurensia mempersiapkan donat pada hari ini. Kemarin ia bercerita bahwa Miracle ingin makan donat dan ia ingin mengajarkan Acle (panggilan sayang miracle) membuat donat bersama, hal yang sederhana.

Titik kali ini adalah titik ulang tahun yang ke tiga puluh sembilan, dan Laurensia sudah mempersiapkan bahan – bahan tepung, telur, dan topping, seperti mendesain proses persiapan ini yang paling penting yaitu mempersiapkan adonan, dan menikmati momen proses pembuatannya. [1]

Kemarin Laurensia bercerita bahwa Miracle ingin makan donat dan ia ingin mengajarkan Acle (panggilan sayang miracle) membuat donat. Donat memiliki bentuk seperti lingkaran, garis yang memutar saling menjaga dan menerus.

“Papa, jangan lihat kesini, we are making surprise for you, close your eyes.”

kata Acle sambil membawa bantal sambil menutupi mata saya. Saat – saat sederhana seperti ini membuat saya bersyukur, dengan bagaimana Acle dan Laurensia ingin membuat sesuatu untuk saya, perhatian – perhatian kecil seperti ini adalah hadiah yang tidak ternilai untuk apa yang saya dapatkan di hari ulang tahun ini. Salah satu hal yang tidak ternilai adalah keluarga termasuk Acle, Heaven, dan Laurensia di dalamnya. Kami sibuk mengisi hari – hari dengan rutinitas pagi dimulai dengan doa, makan pagi bersama, bekerja, makan siang bersama, kerja/istirahat siang, makan malam dan istirahat. Hal yang kami tanamkan ke keluarga adalah respek untuk orang – orang di sekitar kami. Respek menjadi penting, dimulai respek kepada diri sendiri, sebuah bentuk self criticism.

Dulu ayah saya di waktu memimpin konstruksi, memperkenalkan proses slametan, sebuah proses syukur yang ada di dalam akhir sebuah proses yang kritikal, kalau di dalam pembangunan rumah hal ini dilakukan sebelum bangunan dibangun, dan sesudah proses tutup atap. Hal ini adalah sebuah proses yang wajar dan manusiawi. [2]

Prinsip slamet ini menjadi relevan di masa Covid dimana, sebagai manusia kita harus menahan diri. Ada beberapa cerita lucu tetapi juga sedih, juga mengenai mandor – mandor di sekitar saya yang kehilangan orang – orang terbaiknya karena flow proyek terputus karena COVID. Mereka setengah menggerutu, orang saya diambil orang pak, ada proyek baru disana. Sudah capai – capai melatih lalu mereka pergi. Kira – kira ada dua kelompok di tim kami yang kehilangan anak didik mereka. Terkadang mereka menggerutu, saya terus berpikir kenapa orang – orang terbaik mereka pergi ya ? apakah ada faktor kepemimpinan, ataukah tantangan, selain faktor ekonomi? Saya memiliki hipotesa – hipotesa soal ini. Hal ini wajar terjadi dimana – mana, dan wajar setiap orang ingin tumbuh dan berkembang [3]

Besoknya saya mengajak bicara mereka soal ketiga hal ini, dan hal ini juga saya alami di studio bahwa untuk maju setiap lingkungan membutuhkan evaluasi dan regenerasi. Seperti pohon besar yang tumbuh yang membutuhkan regenerasi, memang perlu dipotong ataupun terpotong karena keadaan supaya pohon – pohon kecil di sekitarnya bisa tumbuh. Dengan memaklumi hal ini, melihat apa yang terjadi di sekitar pengrajin memang ada dua tipe pembelajar bangunan, tipe yang pertama adalah tipe pengrajin, disini sifat patronisasinya dominan yang diperlihatkan, dengan keahlian – keahlian yang melibatkan teknik bereksperimen dan memiliki struktur seperti pohon besar. Tipe kedua adalah tipe pekerja yang melibatkan teknik yang sudah ada / repetitif mengikuti apa yang menjadi standar baku, di kelompok ini patronisasinya bisa jadi berubah menjadi sebuah platform terbuka berbentuk rhizoma dimana ada transparansi, dengan syarat yang masuk di dalam lingkungan kerja mereka adalah orang – orang yang memang sudah ahli. Keduanya memiliki perbedaan cara bekerja, berkordinasi, transfer ilmu, dan membagi ekonomi. Meskipun demikian ada banyak hal yang menjadi rahasia masing – masing, biarlah itu menjadi urusan kantong sendiri – sendiri.

Seperti satu saat Abidin Kusno yang menulis buku Melawan Waktu memulai dengan tulisan yang merupakan suatu bentuk melawan waktu itu sendiri, Perlawanan itu bisa diibaratkan melalukan negosiasi waktu, dan bagaimana beliau mengisi kehidupan yang sementara ini dengan mencoba merubah keadaan dengan diskursus arsitektural. Bahwa perubahan itu wajar, hal ini adalah sebuah proses dari titik, menuju garis.

Perlawanan waktu ini bisa diibaratkan juga seperti orang yang melalui perjalanan menghitung mundur, dan identik juga dengan proses kelahiran – kematian, kejadian ulang tahun, setiap tahun berulang – ulang, dengan rambut yang semakin memutih, teman – teman yang datang, tinggal, pergi silih berganti, keluarga besar dan anak yang semakin besar. Ulang berulang adalah sebuah rutinitas yang menjadi kebiasaan dan karakter, sederhananya proses hidup, apa yang kamu ulangi itulah karaktermu. Proses pembentukan karakter ini akan membentuk Gift Society. Sebuah lingkaran yang saling memberi yang dimulai dari diri sendiri, self criticism, respek kepada orang lain, dan mengulang – ngulangnya sehingga menjadi karakter yang dimulai dari lingkaran keluarga dan diri sendiri.

Hal – hal inilah yang membuat kadang saya membanting setir, kanan – kiri, gas dan rem, keluar-masuk di dalam menulis buku, keluar-masuk ke penelitian, keluar-masuk dari proses disertasi, keluar-masuk ke kelompok praktik, keluar-masuk dari kelompok belajar, ataupun apapun yang terkait hubungan antar-personal, bahwa pada dasarnya mempertanyakan apa sih yang layak untuk dilakukan untuk waktu yang sedemikian terbatasnya.

“Papa I want to be like you”… Miracle menghampiri saya satu saat ketika saya sedang bekerja di ruang kerja yang berbatasan dengan kamar tidur kami. Untuk masuk ke ruang kerja itu harus melewati pintu putar berupa lemari yang bisa berputar dimana ia mengintip dibalik sela – sela pintu putar tersebut.

“Hei, kamu ngapain ?” kata saya, “come here” saya membiasakan berbicara dua bahasa dengan Miracle. Saya memangku dia untuk memperlihatkan apa yang sedang saya kerjakan, dan berbagi bagaimana memencet tombol keyboard ataupun berinteraksi dengan layar sentuh. Saya melanjutkan “You will be better than papa, we are proud of you.” Dari lingkaran terkecil kami berupa donut, saya menarik nafas semoga semesta memberkati kita semua, dan memberikan rasa slamet, sehingga kehidupan kita, saya doakan menjadi lebih bersahaja, menenangkan, damai dan tenteram.

Di usia ke 39 ini, saya belajar untuk lebih memberi kepada orang lain, tidak untuk dibalas kebaikannya namun karena memang sudah sepantasnya kita memberi. Berbuat tidak untuk dilihat, bernyanyi tidak untuk didengar, berdansa tanpa mengharap tepuk tangan, bertindak tanpa mengharap hadiah.

“Papa please don’t work today, where are you going ?” Miracle mengintip dibalik pintu, karena melihat saya turun tangga.

“Sebentar I will come back in a few minutes.” (ada beberapa tukang sudah menunggu, pak ini detailnya bagaimana.) “Is there someone below ?” Miracle bertanya, saya menjawab, “sebentar ya, sabar few minutes.” Miracle berteriak, “Semangat pa”

Hadiah dari Tuhan untuk saya di umur 39 ini, Laurensia, Miracle, Heaven yang memberikan filosofi donat. Seperti Filosofi Donat bahwa setiap orang memiliki keteduhan di lingkaran terkecilnya. Tidak ada yang manusia yang ditakdirkan menjadi titik yang sendiri. Ada lingkaran membentuk donat yang saling merajut, dari titik, kemudian menjadi garis untuk menjadi lingkaran yang saling menjaga.

Kembali ke pertanyaan pertama,”Yang, besok ulang tahun mau dibuatin apa ?” Laurensia bertanya.

Saya menjawab “Donat ^^”

Terima kasih Tuhan, Terima kasih Tuhan, Terima kasih Tuhan untuk memberikan Laurensia, Miracle, dan Heaven yang sudah membentuk donat keluarga kecil kami juga beserta kawan – kawan tempat kami berkarya bersama. Tuhan memberkati.

[1] Proses persiapan adalah proses pertama di dalam studi mengenai kreativitas, hal ini digagas oleh Wallace di dalam buku Art of Thought dengan tahapan preparation, incubation, illumination, verification.

[2] Inspirasi : Satu kawan saya mengingatkan ketika kita berdiskusi soal arsitektur untuk menghargai soal kekuatan berproses dan jalan masih panjang, “Terkadang kita lupa untuk bersyukur dibalik seluruh proses yang ada.” Saya teringat juga suatu waktu, Wastumiruda (saya menyebutnya Kungkang pemabuk yang bijaksana) atau mas Anas yang bercerita tentang hakikat respek terhadap diri sendiri ini. “KAS ( Ki Ageng Suryomentaram) itu seperti Bima dlm cerita Dewa Ruci…Bima yg benar2 ada…Ya dia mencari kebenaran gk ke mana2. Ya dari dirinya sendiri. Betul. Kan ceritanya perjalanan jauh, tp itu hanya kiasan. Justru diri sendiri ini yg sebenarnya sangat jauh. Krn orang sering lupa, sibuk meniru orang lain. Jika kamu menghadap ke utara, apa yg paling jauh di utara sana ? Ya punggungmu, karena bumi ini bulat. Lawan terkuat sebetulnya ya diri sendiri. Kalo dari sloki (tahap kemabukkan) ya sloki ke 10: dasa buta (nama tingkatan kemabukkan terakhir) … mati. Balik nol lagi. Maka di Jawa yg utama adalah Slamet (selamat), bukan bener (benar).

[3] lihat cuplikan youtube untuk melihat relasi craftmen dimana hal ini sedang distudi oleh Yasmin Aryani, nanti akan saya bagikan cerita proses kami bertemu Yasmin lebih lanjut. Link youtube : https://www.youtube.com/watch?v=cySldJBIlqA&t=52s, hal ini dibahas di dalam postingan https://real-rich.org/2020/08/22/hidup-bersama-sama-arsitektur-yang-rahayu/

[4] foto – foto diambil oleh Jeffri Hardianto (Pepen) dari House of Photographers.

lingkaran contoh lingkaran donat di bidang musik yang dibentuk oleh Gita Gutawa dan Erwin Gutawa yang menaruh cita di tangan anak – anak muda Indonesia.
Kategori
blog

Forming Bricolage

This writing is for Archidiaries’s venue, Reflections#2 which I have prepared a writing and book about it. It’s a reflective journey to find discourse between practice and pedagogy. The both of streams colors my practice in RAW Architecture and more discouses in Omah Library.

There is a reflection that the young generation forgets the old wisdom that can teach us about the building technologies of the past. This old wisdom forms a bricolage architecture. It is an understanding that, to design and build something out of the land, you need to find the roots of Local Genius people. This concept explores how architecture should be tested by the optimization of local resources, building technology, and the implementation method, which together build the structure of local genius.

This presentation explores the root and progression of the social structure that cultivates the building tradition, manifested in generations of traditional craftspeople. It is not limited to the debate of how we should preserve the form of modern architecture, but it rather discusses the evolution of future architecture with the spirit of modern architecture by the introduction of a model of craftsmanship – a total adaptation of craftspeople, architect, builder, and client into one holistic ecosystem. It’s a humble and honest attempt to reflect on RAW Architecture Practice in Indonesia – Forming Bricolage.

Kategori
lecture

Inspirasi Nusantara

I was invited by UII (Universitas Islam Indonesia) to discuss the importance of theory in practice, it’s a way to redefine what the commitee called Nusantara as Inspiration. The content is about how the literature, body of work, and critical thinking will provide fundamental innovation in redefining discourse between practice and theory.

I was happy because my fellow librarian, Satria is presenting his view about how desa – kota, formal – non formal color the practice. It’s forming a reflection about how agency might affect the practice in architect.

Here is the information from the committee :

Webinar \ Alumni Arsitektur UII \ OUR FUTURE NUSANTARA

Ikuti diskusi pamungkas rangkaian webinar yang digelar dalam rangka #KenduriKampus​ JARS UII

Asosiasi Alumni Arsitektur UII, JARS UII bersama Ikatan Arsitek Indonesia DIY (IAI DIY) present…

INSPIRASI NUSANTARA #5- THEORY

Guest Speaker: Realrich Sjarief, IAI- RAW Architecture
Speaker: Satria AP (Alumni 2014)

Discussant: Assist. Prof. Dr. Revianto. B. Santosa, IAI.

Moderator: Erwin Maulana @emaulana (Alumni 1995)

KAMIS, DESEMBER
19.00- 21.00 WIB

Registrasi di http://bit.ly/InspirasiNusantara-5

Here is the video of the discussion

Kategori
blog

70 Tahun Pendidikan Arsitektur Indonesia – Suara dari Jiwa – Jiwa yang Tidak Kenal Lelah

Saya mengawali judul materi kali ini dengan sebuah judul “Melihat 70 tahun pendidikan arsitektur di Indonesia Suara dari jiwa – jiwa yang tidak kenal lelah.”Saya lulus di tahun 2005, mulai masuk ITB di tahun 2000. Pada waktu saya belajar arsitektur di tingkat dua, saya ingat oleh pak Eko Purwono diajak untuk mensketsa bangunan yang didesain oleh Henri Maclaine Pont, ada perasaan berbeda, yaitu penggunaan materialnya lokal, konstruksinya yang jujur, dan ada rekayasa teknik untuk mengaktualisasikan bentuk bentang lebar. Dari situ saya mulai jatuh cinta dengan arsitektur dan tidak pernah berpikir berhenti memikirkan arsitektur satu hari pun. Pertemuan dengan pak Eko Purwono dan Henri Maclaine Pont menjadi penting.

.
Pertemuan saya dengan Pak Baskoro Tedjo, Pak Ridwan Kamil dan dosen – dosen lain di tingkat setelahnya menjanjikan sebuah lompatan selanjutnya, saya ingat, beliau berkata

“kamu bisa, buat lebih baik lagi”

dan saya ingat itulah sebuah kekuatan yang mendorong membuat saya terpacu untuk ikut menyemangati teman – teman yang lebih muda. Saya ingat untuk tidak pernah lelah untuk lebih baik lagi. dan hal itulah yang mendasari judul kali ini, yang membuat saya membagikan kuesioner ke anak – anak muda dan semua orang lain testimonial mengenai pendidikan kita, hanya karena saya ingin tahu apa sih yang dipikirkan orang lain soal kondisi pendidikan kita sekarang. Teman saya yang berasal dari Serawak bernama Wendy Teo, memberikan masukan kepada saya untuk terus semangat pantang menyerah mewujudkan suatu hal yang kita anggap ideal. Ia berkata,

“If you want to stand for something and you’re someone, if you don’t stand for anything then you’re no one.”


Dari sudut pandang sebagai praktisi di praktik kami RAW Architecture, proses untuk maju bisa dilihat dari 3 buah posisi, yang pertama adalah pentingnya wacana untuk mengkonstruksi hal yang lebih positif .

Materi dari 4 pemateri menyajikan 3 hal yang yaitu mengenai isu setting, ritual, dan memory. Pemaparan ini sebenarnya adalah sebuah reaksi utnuk melihat tegangan yang ada antara ITB sebagai pihak yang merayakan ulangtahun dan melihat bahwa desain berbasis inovasi dan ilmu pengetahuan ini menjadi penting dan kritis untuk masa kini. Sebelum pak Adhi Moersid meninggal kami menginterview pak Adhi, dan melihat bagaimana dahulu ketiadaan pengajar, bagamana pada saat itu mengejar ketertinggalan yang menjadikan pengajaran masuk ke ranah teknis. Hal tersebut menyisakan gap atau celah yang dibahas juga oleh Aswin Indraprastha bagaimana menutup gap tersebut. ada dua hal untuk melihat gap tersebut, gap sebagai sebuah hal yang mengkhawatirkan ataukah gap tersebut adalah sebuah berkat. Di dalam presentasi kedua, presentasi Donny Koerniawan memaparkan bagaimana aktor – aktor yang terlibat di keilmuan perlu untuk merendahkan hatinya untuk merajut antar bidang keilmuan, bahasa beliau adalah menyerahkan axioma keilmuannya untuk bersatu membentuk ilmu baru.
.
Presentasi ketiga dari Sonny Sutanto mungkin justru menampar lagi posisi mendesain, titik inovasi dari sudut pandang ekonomi, yakni ketika produksi sudah begitu murah dimana posisi ide, saya ingat di sesi omah library, Rizal Muslimin membahas hal ini dimana manusia perlu terus berinovasi untuk bisa mereposisi dirinya dari replikasi dan representasi komputasi dari bahasa mesin. Di presentasi ketiga Gusti Ngurah Antaryana menyajikan sebuah potensi akan sebuah hal yang sudah pernah ada, dan sekarang ekosistem yang merdeka ada di depan mata, lalu apa reaksi kita ? pertanyaan ini terus berkelindan di kepala saya ketika mendengarkan 4 pemaparan material ini. Saya pikir mungkin jalan keluarnya ada di ritual yang dijalankan, atau mudahnya eksekusi apa yang akan menjembatani tataran teoritis dan eksekusi atau metode yang dilakukan di dunia nyata yang tidak abstrak. Sebagai contoh di dalam pandemi ini justru kami di studio menjalankan praktik melalui gambar tangan, karena tatarannya adalah konsepsi, perspektif juga dilakukan dengan gambar tangan lalu sampai ada komitmen baru ditransfer ke tools, jadi ada strategi yang perlu dilakukan.
.

Wacana ketelanjangan akibat ekosistem ditunjukkan oleh provokasi yang digagas oleh Marina Abramovic. Selama pertunjukan Abramovic dengan sengaja menjadi pasif, mengubah dirinya menjadi benda hidup demi seni. Dia memutuskan bahwa dia akan berdiri dengan tenang di galeri selama enam jam, di mana penonton diundang untuk menggunakan salah satu dari 72 objek di atas meja di ruangan itu untuk berinteraksi dengannya. Benda-benda itu berkisar dari bulu, kue coklat, minyak zaitun dan mawar, hingga pisau, gunting, pistol, beberapa peluru dan rantai. Instruksi di atas tabel berbunyi: Kinerja. Akulah objeknya. Selama periode ini saya bertanggung jawab penuh. Durasi: 6 jam. Selama enam jam, dia menyerahkan hidup dan tubuhnya sepenuhnya ke tangan orang asing, mengubah dirinya menjadi objek untuk digunakan, seperti yang diinginkan. Selama waktu ini dia setuju untuk tetap pasif, dan tidak responsif sampai eksperimen selesai. Abramovic memutuskan bahwa dia akan mengamati dengan tenang dan lemas. Untuk penonton, tidak ada konsekuensi langsung. Menurutmu, apa yang terjadi ?

Ia berakhir di dalam kondisi setengah telanjang, terluka.

Hal ini sebenarnya memunculkan tingkatan interpretasi selanjutnya dari sebuah pemikiran yang tidak hanya cantik, saya berintepretasi bahwa pemikiran yang menutup gab tersebut membutuhkan sebuah pemikiran yang tidak hanya ekspresif dan perlu untuk menggelontorkan wacana yang diskursif, dari sini saya pikir wacana untuk bertindak aktif dan tidak pasif akan penting, bagaimana yang pasif akan ditelanjangi, tidak berdaya, dan menunjukkan derasnya informasi dan kemajuan memungkinkan terjadinya ketelanjangan tubuh kita.

Di dalam bertindak aktif ada 3 hal yang bisa dipikirkan seperti, yang pertama adalah Setting yang bisa didefinisikan sebagai Kondisi sebelum wacana tersebut digulirkan yang melibatkan proses pembacaan relevansi terhadap problematika yang terjadi (Konteks)
Ritual yang bisa didefinisikan sebagai tindakan – tindakan untuk mengaktualisasikan wacana tersebut yang melibatkan proses aksi – reaksi (praksis). Di dalam proses ini sebenarnya terlibat lebih jauh ranah – ranah keilmuan. Memory yang bisa didefinisikan sebagai Hasil dari Wacana yang sudah menjadi milik publik yang ditandai akan pergeseran/pendalaman/penolakan akibat proses dari aksi reaksi yang muncul dengan repetitif. IAI sebagai asosiasi profesi pun dibentuk dengan sebuah setting, dengan melihat konteks apa yang terjadi disaat itu , dimana di tahun 1960 an ada instruksi dari pemerintah untuk membentuk gabungan perusahaan untuk menunaikan tugas membangun. Hal ini kemudian dilanjutkan dengan konferensi seperti mungkin yang sedang kita lakukan sekarang, dan disitulah ada sebuah wacana ketidakpuasan, bahwa kedudukan perencanaan dan perancangan tidaklah sama dan tidak juga setara dengan pelaksanaan, ada harga diri yang dipertaruhkan yang berbeda dengan bisnis komersial yan gkeberhasilannya diukur dengan besarnya laba. Lalu pada waktu itu Ir. Soehartono susilo dan Friederich Silaban meneruskan pemikiran yang radikal (ketidakpuasan) tersebut dengan menggalang para arsitek muda dan mengadakan pertemuan – pertemuan lanjutan, di tahun 1959 dihadiri oleh 21 orang, dan selanjutnya di jalan wastukancana di rumah Lim Bwan Tjie, dan akhirnya di tahun 1959 tersebut muncullah Ikatan Arsitek Indonesia.
.
Hal ini adalah hasil dari sebuah kegelisahan, muncul dari yang muda, ada integrasi dari sistem dan di luar sistem, dan mereka memiliki energi / sumberdaya untuk berpikir lebih dari kebutuhan sehari – hari.
.
Salah satu konteks ekonomi yang bisa langsung terasa dalam praktik adalah bagaimana akses terhadap industri software berlisensi misal, kalau menggunakan gambar tangan itu masih gratis, namun apabila melihat dokumen autocad harga 1521 USD, sketchup 649 USD, 3dsmax 1620 USD, REvit 2425USD, Rhino 995 USD ) total satu tahun pertama dibutuhkan kira – kira 110 juta. sedangkan untuk standarisasi gaji di Indonesia, dengan 4,5 -6 jt misal untuk anak – anak yang baru lulus kira – kira sisa gaji hanya 34 juta, setelah dipotong dengan kebutuhan sehari hari. Apabila misal gaji sekitar 10 juta, baru bisa mengakses setelah 2 tahun menabung, dan setelah beli software tidak ada uang tabungan lagi. Lalu pertanyaannya bagaimana kita menjembatani hal ini. Saya ingat china memiliki software cadnya sendiri, dan pertanyaannya bagaimana hal ini bisa dibantu utuk dijembatani ? inilah konteks kita yang menjadi setting, lalu apa wacana yang perlu digelontorkan ? mungkin share resources menjadi penting, pembuatan platform yang menembus batas.

.
Jadi apabila kita semuan ada di sebuah setting dan wacana, lalu apa ritualnya ? mungkin yang penting adalah kecepatan yang menjadi kuncinya, untk merangkul elemen yang tidak hanya ceklist, berbicara antar relasi, antar wilayah, merangkum ulang relasi – relasi yang bhineka. Acara ini adalah permulaan. titik yang penting adalah merangkul yang muda, integrasi sistem, gelisah, dan memiliki energi lebih.

.
Kami di omah library berusaha sekeras mungkin untuk membentuk iklim ekosistem literasi yang baik dengan membantu penulis – penulis, mempermudah jalan, menyambung rasa antar generasi, antar librarian, pemateri, antar peserta, dari situ diharapkan bisa ada sebuah ekosistem yang mengayomi, kolaborasi, keguyuban, kerendahan hati untuk berbagi dimana yang penting adalah bagaimana teori, wacana, kritisme yang terjadi di dalam diskusi kita kali ini bisa berbuah inspirasi yang akan mewarnai lingkup praktik ataupun akademik yang mempengaruhi suasana belajar – mengajar untuk membentuk pribadi yang rendah hati dan mau selalu belajar membentuk budaya ajar mengajar yang diskursif, sebuah proses yang membuka jalan.

Perjalanan Ki Ageng Suryomentaram bisa diibaratkan sebagai analogi perjalanan Pendidikan arsitektur di Indonesia. Kondisi perkuliahan arsitektur yang hanya fokus pada kemampuan teknis seperti penanaman tugas dan tanggung jawab, etika berprofesi, estetika, budaya, dan sosial, membuat arsitek akan mengalami titik dimana ia akan mengalami kegelisahan mendalam terhadap jiwanya. Keprofesian ini akan menjadi membosankan karena berjarak dengan realitas sendiri dan menjadi pengetahuan normatif saja karena hilangnya kerendah-hatian oleh karena itu mari bersama – sama merajut dengan bergotong – royong, Ohana means family, family means nobody gets left behind or forgotten.

Saya berbicara mengenai refleksi di acara diskusi pendidikan arsitektur.
menit 2.58 – 3.08
Kategori
blog

Serendipity after Sketches and Regrets

Saya ingat dulu anak – anak universitas Gunadarma pertama kali mengadakan acara di taman samping rumah orang tua saya, ada 60 orang, mereka mempersiapkan acara dengan riang gembira hanya ingin mendengar satu kuliah dari Mas Barani. Beberapa saat kemudian bersama David Hutama, kami menggagas kuliah seri Omah pertama dan ide How to Think Like an Architect muncul. Acara pertama lancar, kedua lancar, ketiga lancar, keempat hadir hanya 10 orang, acara kelima sukses hadir hanya 3 orang, bahkan satu saat staff kamk saya sms untuk datang ke studio dan ikut acaranya. Hal ini kontras dengan 5 tahun kemudian acara webinar yang bisa sampai mengundang ratusan orang. Pertanyaannya, apakah meledaknya partisipan itu yang dicari ? mungkin itu barometernya. Seperti ketika orang bertanya, berapa jumlah orang di studio kamu ? yang sebenarnya untuk mengukur barometer pendapatan, kapabilitas studio juga. Satu saat saya disadarkan oleh paman saya.

“Terus gali apa yang kamu cari, passion, keluarga, ilmu dan jangan terlena dengan harta, publikasi, ataupun tahta.” (Mungkin ada kemiripan dengan harta, tahta, Renatta yang sedang viral, lol)

Meskipun terlihat riuh rendah, dunia ini sepi kawanku, bagaimana bisa berkontemplasi begitu dunia begitu riuh. Mata – mata saling melihat, kuping – kuping terus mendengar. Inilah Lawang Kala (pintu waktu) yang baru, kita sudah memasuki jaman baru. Dan herannya saya baru sadar, kok ya baru sadar. Untung ada paman saya mengingatkan,

Saya baru menyadari, saat ini saya rindu akan kehangatan kawan – kawan yang dulu saya rasakan ketika menghabiskan waktu di Goldiers Green, Hampsted Heath dan juga saat – saat yang berkesan adalah saat saya dan Laurensia berkunjung ke negara Finlandia salah satu negara yang memiliiki ekosistem desain mengandalkan bermain – main di dalam fase mendidik anak, hal ini di dasarkan common sense bahwa ada relasi yang patut untuk dijaga, relasi akan mimpi.

Di dalam 5000 teman maksimal yang ada di Facebook, berapa orang teman kamu sesungguhnya ? dan beribu atau berjuta orang yang mengikutimu di Instagram, berapa yang benar – benar perhatian kepadamu ? Salah satu tujuan menjalin relasi adalah sisi bisnis, atau memperkenalkan diri untuk menggapai eksistensi. Selain ada juga yang bertujuan untuk bersilahturahmi dengan sahabat lama, tertawa, bersenda gurau dimana lingkaran pertemanan masih kecil. Di saat – saat ini, begitu banyak pertanyaan, apa masih berguna presensi social media kita ? Jadi seberapa mau saya mengubah hidup saya ? Baru hari ini saya bertemu dengan Airin Efferin dan Setiadi Sopandi, dan mereka bercerita tentang proses pembuatan buku Sketches and Regrets. Saya melihat kekuatan proses, memberi dan menerima, tanpa melupakan jejak jiwa. Menariknya hal ini yang saya lihat langka, menjadi personal sekaligus professional. Cerita Airin dan Setiadi Sopandi adalah cerita mengenai sepatu orang lain, dimensi efek arsitektur terhadap kehidupan orang lain, bukan hanya ajang promosi diri. Di karya tulisnya ada kejujuran yang menohok belakang kepala saya untuk bisa terus berefleksi bahwa relasi menjadi penting.

btw, ini IG Live pertama Omah Library yang sebenarnya masih pemula.
Photo by Mathias P.R. Reding on Pexels.com

Setelah itu saya memposting dua postingan di facebook satu untuk berterima kasih akan acara Design United dengan beberapa kawan lain termasuk Anna Herringer, Wendy Teo dan lainnya, setelah itu ada lagi postingan untuk Airin dan Cung. Setelah itu ada permintaan memasukkan email dan password, saya refresh screen facebook saya error, email saya berubah, password saya berubah, beberapa permintaan teman terkirim untuk orang – orang yang saya tidak ketahui, saya mengirim email ke facebook untuk mendeaktifasi acc facebook saya. Anggap saja ini jalan semesta, ha ha ha, toh sudah lama saya malas untuk mengupdate facebook, sambil nungguin recovery, ada – ada aja, lucu sekali dunia ini.

.

Miracle sedang main game yang dikirimkan oleh Miss Atika di sekolah.

HP saya ambil dan saya memanggil sahabat lama saya,

“Bro, apa kabar?”

di satu sisi ia terdengar setengah tertawa dan saya pun tertawa kembali.

“eh kampret katanya, lo kemana aja”

Disitulah kita tertawa tergelak – gelak sambil bernostalgia, atau tepatnya bernostalgila, sambil di sebelah saya, anak saya Miraclerich yang berusia 5 tahun sedang membuka game Mobile Legend dan terdengarlah suara

“Enemy Defeated !”

“anak umur 5 tahun ini ^^ iso2ne”

Kategori
lecture

Design United’s first Design Conference

I was invited by Design United, they are young and promising platform which curious about how architecture make a profound impact on humanity. In the venue there will be Anna Herringer and my fellow friend Wendy Teo, and many more architects that I look up to (you can scroll their name below).

Here is the news from the Design United’s Committee :

Design United’s first Design Conference

We are uber-excited to be hosting Design United’s first Design Conference on the 15th of November with talented designers & artists.
We will explore examples of small yet meaningful design efforts and their potential for lasting impact.

We are joined by Ar. Anna Heringer of Anna Heringer Architecture-Germany, Ar. Jan Glasmeier of Simple Architecture-Thailand, Ar. Khondaker Hasibul Kabir of Co.Creation.Architects-Bangladesh, Ar. Wendy Teo of Borneo Art Collective-Malaysia, Ar. Goy Zhenru of Goy Architects-Singapore, Ar. Realrich Sjarief of RAW Architecture-Indonesia, Compartment S4-India along with amazing designers, Dhiraj Manandhar of Manankaala Design Studio-Nepal and Ayaka Yamashita of
EDAYA-Philippine.

The session is moderated by young architects and architecture students: Vaissnavi Shukl, Tejaswini Krishna, Huzefah Haroon, Amrit Phull, Vrinda Kanvinde, Ayush Gangwal, Chinar Balsaraf and Priyanka Shelke.

When: 9AM onwards, Saturday, 15 November 2020
Registration: http://www.clayworks.space/webinars

#designlovers#designconversation#designinspiration#designunited#claymunity#clayworksspaces#clayworkswebinar#createatclayworks#workspaceasanexperience

Kategori
lecture

Reflection of the City

1.20.00 – Photography for Architecture or Architecture for Photography ?

Di dalam acara bincang – bincang yang diadakan oleh Jayaboard ini, dengan judul “Reflection of the City”. Saya akan melanjutkan pembahasan fotografi dan desain dari dua kawan saya @mariowibowo_ dan @ryansalim mengenai Arsitektur ke dalam dualisme keadaan yaitu representasi, provokasi di dalam pembentukan sebuah wacana reflektif.
.
Seperti misalnya pandemik ini di arsitektur ini mencerminkan situasi yang sangat kontras, di satu pihak adalah realitas bencana dan di satu pihak membuka celah untuk berinovasi. Keadaan – keadaan ini kemudian dibingkai oleh sang pembawa cerita, salah satunya fotografer, arsitek, dan desainer kemudian membuat karyanya menjadi sebuah jalan cerita yang maha dahsyat soal kemungkinan positif di masa depan. Hal ini ditujukan untuk membingkai realitas pandemi yang ada, ataupun malah timbul fenomena untuk menutup realitas yang ada sebagai sebuah utopia yang kemudian bisa membuat momen untuk kita merefleksikan diri mengenai kekuatan sebuah citra.
.
Photography dan arsitektur merupakan dua dunia yang saling berkaitan. Arsitektur memiliki unsur seni dalam proses perancangan sebuah desain bangunan, dimana konsep bangunan tersebut akan menghasilkan nilai estetika tersendiri dalam setiap komponen desainnya. Sama hal-nya dengan dunia Photography, memadukan teknis pencahayaan dengan sebuah wujud fisik mengandung nilai seni tersendiri bagi penikmatnya. Jayaboard memberikan wadah untuk membentuk komunitas inspiratif bagi penikmat dunia arsitektur maupun photography dalam webinar Connecting Minds, Explore The Possibilities: Reflection of The City.

Jayaboard berkolaborasi dengan Mario Wibowo (Mario Wibowo Photography), Ryan Salim (Erreluce Lighting Consultant) dan Realrich Sjarief (RAW Architecture) akan membahas tips & trick hingga trend dalam dunia Architecture Photography dan pentingnya Photography dalam dunia arsitektur.
.
Rabu, 11 November 2020, Pk. 19.00 WIB (Zoom Webinar)
.
Lihat lanjutnya di ac @jayaboard_ig daftar di : http://bit.ly/connexrcsm

Kategori
juror

International Student Competition in ARchitectural Design and Construction of Bamboo 2020

Thank you Gede Mahaputra untuk inisiasi dan undangannya, juga untuk seluruh panitia dari Universitas Warmadewa.

Dua sayembara untuk mengakhiri tahun 2020 dari Prodi Arsitektur Universitas Warmadewa dan HMA Sanatanadharma. Himpunan Mahasiswa, menyelenggarakan sayembara nasional dengan tema Pasar Tradisional di masa dan setelah pandemi Covid-19. Pemenang akan mendapatkan reward dan piagam penghargaan Sedangkan dari Prodi, bekerjasama dengan Nansha Birdpark dan South China University, menyelenggarakan kompetisi internasional desain dan konstruksi bambu. Pemenang akan mendapatkan hadiah, piagam serta 2 tim pemenang berkesempatan untuk mewujudkan karyanya di Nansha Birdpark, China. Silakan melihat poster untuk detail, pendaftaran, serta pemasukan karya.

Kategori
lecture

The Sketch of Your Client Algorithm

Arsitek dan klien dimulai dari sebuah hubungan timbal balik. Lalu bagaimana memulai sebuah hubungan jangka panjang dengan klien. Apa saja yang harus dilakukan, judul yang dipilih oleh panitia cukup menantang. Pertanyaan – pertanyaan seperti ada ngga sih karakter yang membentui satu klien ke klien satu lagi, tipe perusahaan misal, atau klien personal, atau bangunan publik ? Apa saja yang perlu dilakukan, apa yang perlu dijaga, dan apa yang perlu dihindari. Perhitungan atau formula – formula apa saja yang bisa dijadikan parameter yang bisa disepakati. Mungkin dari sinilah kecocokan akan bisa terjalin dan arsitekturnya pun bisa unik dan bisa saling “memberi” juga “menerima” di dalam algoritma yang kontributif.
.
Ini saya bantuin panitia, semoga sukses ya panitia acaranya. 🙏
.
Seminar Arsitektur “The Sketch of Your Client Algorithm”
🗓 4 November 2020, 17:00 – 18:30 WIB
Via Zoom
.
👉🏻 Pesan E-TICKET DISINI: loket.com/event/seminar-arsitektur
Atau klik link di bio kami!
FREE ADMISSION
TIKET TERBATAS!
Terbuka untuk umum
Instagram : @im.a.go
.
#UMN #Pameran #Virtual #FSD #DKV #VBD #ID #Branding #Interaction #Film #Animasi #Arsitektur #RealrichSjarief #Seminar #Talkshow #Screening #BedahKarya #tugasakhir

Kategori
blog

70 tahun Pendidikan Arsitektur di Indonesia

Terima kasih untuk SAPPK ITB yang sudah mengundang saya untuk menjadi penanggap di dalam acara “70 tahun Pendidikan Arsitektur di Indonesia”

Terima kasih untuk SAPPK ITB yang sudah mengundang saya untuk menjadi penanggap di dalam acara “70 tahun Pendidikan Arsitektur di Indonesia”

Dalam rangkaian acara Peringatan 70 tahun Pendidikan Arsitektur di Indonesia, Program Studi Arsitektur, SAPPK menyelenggarakan acara diskusi panel bertajuk: Menuju Desain Berbasis Pengetahuan dan Inovasi (Towards Knowledge-based and Innovative Design) secara daring pada Sabtu, 31 Oktober 2020.

Acara ini diikuti oleh sekitar 150 peserta yang berasal dari kalangan akademisi, profesional, dan mahasiswa dan menampilkan empat pembicara dan empat penanggap yakni:

Para Pembicara:

  1. Aswin Indraprastha, PhD dari Program Studi Arsitektur ITB
  2. Eng Moch. Donny Koerniawan dari Program Studi Arsitektur ITB
  3. Sonny Sutanto, IAI dari profesional
  4. I Gusti Ngurah Antaryama dari Program Studi Arsitektur ITS

Para Penanggap:

  1. Harris Kuncoro dari InPlace Design, USA
  2. Hari Sungkari dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
  3. Realrich Sjarief dari RAW Architecture
  4. Sammaria Simanjuntak, sutradara film.

Moderator: Dr.- Ing Hmasari Hanan, MAE.

Acara ini membuka kembali diskusi tentang disrupsi teknologi dalam proses desain arsitektur dan pendidikan arsitektur, kompetensi lulusan arsitektur dan peluang-peluang baru sebagai akibat perkembangan industri 4.0.

Link acara 70 tahun pendidikan arsitektur di Indonesia: https://www.70thpai.com

Kategori
lecture

100 + Techno Build | INTERNATIONAL FORUM AND EXHIBITION Ekaterinburg , Russia,20-22 October 2020

Thank you for the Organizing Committee of the VII International Construction Forum and Expo 100+ TechnoBuild 2020 for the invitation. I will present two topics about Craftmanship – the possibility to shape it to more critical identity and Methodology Grammar. The 100 + expo is a major Russian engineering and construction congress combining conference and exhibition of cutting-edge achievements in the industry that will take place in the city of Ekaterinburg on October 6–8, 2020

see more here :https://forum-100.com/about-forum/

Here is the more detail explanations of the topics,

First one: Redefining High Level of Craftmanship in Local and Global Identity

The issue of Architecture in Indonesia is still a political one. As a country with a history of colonization, the dichotomy of the past and the future is not only about the intervention of technology into the practice of craftsmanship, but also about making sense of our local identities in representing the nation as a whole. With a lot of different faces of local identities, we are still struggling in defining a collective identity in Architecture.
In response to this, the speaker will speak about case study in Realrich Architecture Workshop in the need to be aware of the various issue surrounding their work, which stems from a deeper level of understanding towards crafts and material cultures, and to be able to create a work that is relevant to those issues. Architects also need to be able to work collaboratively with other disciplines towards a solution. This critical approach in practice is what is called a high level of Architecture Craftsmanship. It means to go beyond just one generic architectural layer to the indigenous approach of design solutions.

I will discuss the difference in our practice on
1.Identity is formed over a long time?

  1. The identity is contemplative, the evaluative secret that resides in every personal soul.
  2. Identity is a unity between ideas and portraits.

4.Ethics is one of the identities, the bridge of conduct which has 3 aspects: good, correct and beautiful, which is shown by the resulting product as a means of self-actualization.

5.Social media becomes a distraction as well as a potential for recognition and identity integrity, where Literacy activities are important for building deep identity.
.

Methodology Grammar for Sustainable Design, A Reflection on Radical Practice.
  The practice of architecture is never separated from the study of methods. In each project, the design process includes numerous iterations from conceptual until the construction phase, in order to create a methodology to be devised in the future for better design performance. This does not always mean using better technology, but starting from the most simple method of obtaining available data and information available on site. From the various study, research, and design permutations, the most optimal design responding to the brief, site, programming, local environment, and material. The speaker proposed a grammar of methodology to create an optimum method of design which can contextualize design to be adaptable to specific design context. The Methodology is about phasing from conceptual to Implementation of the design, as well as details on site, also become important aspects. The study of the combination of local materials and tectonics with design technology is done in order to create better roots in design which forms radical practice.

I will discuss the difference in our practice on

  1. What is the difference between strategy and method?
  2. The method is a bridge of innovation from theory to practice in a logical way
  3. The Method is procedural (has a harmonious bridge between ideas and images)
  1. Methods may have biases, it should be noted that methods differ from stimuli. Art when separated from the building is a stimulus, as well as a building when separated from art, is a stimulus. Art and Building being separated from the building is a stimulus. Matters related to the origin of ideas are a stimulus.
  2. The method has specific, actual, tangible product limits that can be dissected based on the 7 elements of the design method.

see it other speaker, there is Tezuka as well :) : https://forum-100.com/speakers/

Kategori
blog

School of Alfa Omega

In this video, I want to share the our studio design approaches in creating the School of Alfa Omega. It is generally known that the spirit of locality is a process embedded in the practice of sustainable architecture, where the sustainable architecture itself is the product of the process. Meanwhile, the locality itself is an approach in the design process that considers its certain situation and location. In sustainable architecture, there are aspects of optimality that regard as basic criteria to be considered, such as the limitations and conditions in the site, optimization of building technology, and the relation of existing resources that nurtured by its social organizations. Yet, at the same time taking them into account about the risk that might occur in the future by managing its resources optimally that relatively limited. However, is it the same as the process of exploring local identities?

Kategori
lecture

Speaker at PROJECT BOOMERANG BY CIAAD

CIAAD’s FUTURE DIRECTION FOR GLOBAL EDUCATION The global definition of education is shifting due to technology, which is CIAAD’s primary tool for design pedagogy, aiding in the development of multi-disciplinary collaborative real-life projects in between continents, Project Boomerang by CIAAD. PBC uses omni-presence and tele-presence communication tools for students to travel abroad virtually in between cities while remaining in their physical space.

http://ciaad-member.org/timetable.php

http://ciaad-member.org/timetable.php

Kategori
blog

Lecture in Locality vs Future