Kategori
blog

Tahun ini saya berumur 41

.

Tahun ini saya berumur 41, saya mengucapkan banyak harapan untuk kita semua, terutama orang-orang terdekat saya. Ulang tahun kali ini saya merasakan lebih untuk mensyukuri kebahagiaan yang ada dan melihat refleksi bagaimana bisa punya dampak yang baik untuk orang lain.

Terima kasih untuk @laurensiayudith yang sudah menemani saya sejauh ini, mendoakan, dan mempersiapkan vitamin C setiap harinya. Juga pelukan, senyuman, tawa setiap hari dari Miracle, dan Heaven yang selalu adorable dan lucu. Juga semua tim, keluarga besar studio, juga kawan-kawan semua.
.
Semoga pikiran, badan, dan perkataan ini bisa lebih berguna di tahun ini untuk banyak orang. Doa saya untuk kesuksesan kita semua, kebahagiaan, kedamaian, mimpi-mimpi, dan keceriaan yang menjadi nyata. Di balik rambut yang memutih, perut yang membesar dan mengecil, kerutan yang nampak, ada keceriaan anak-anak, gelak tawa, dan keharuan yang tidak pernah terlupakan. Big Hugs

Picture by @_yophrm@luil_mn@meinnamelani, thank you ya guys, juga seluruh saudara-saudara, kawan-kawan tercinta, dan keluarga RAW Architecture @realricharchitectureworkshop

Happy Birthday 16 jan 2023
Happy 41st birthday Kak Realrich
Kategori
blog

Platonic Bioclimatic Home

.
Kali ini saya mau cerita tentang satu proyek di jakarta. Untuk klien sudah lama saya kenal, perbincangan dengan beliau memberikan kesan yang hangat tanpa kehilangan respek terhadap profesionalitas. Beliau adalah seseorang pencari nilai keluarga sekaligus seorang strukturalis yang memiliki prioritas nilai yang tergambarkan juga di program kebutuhan ruang.
.
Ruang-ruang bawah dibuat terbuka dengan posisi perpustakaan dan ruang kerja di massa yang paling belakang, di lantai atasnya diletakkan ruang keluarga yang fleksibel terbuka dengan akses ramp melalui luar. Aksesnya memutar dari sisi samping dan void ruang terbuka membuka cahaya dari keempat sisi bangunan. Lantai teratas adalah zona ruang tidur yang memiliki ruang berkumpul bersama.
.
Ruangannya optimal sekaligus lega. Tidak sabar buat rumahnya selesai dan bertransformasi kembali. Untuk tipologi rumah tinggal pribadi menjadi salah satu tipologi yang menantang karena sisi psikologi klien yang perlu diselami. Sekaligus mengolah keahlian mengolah ruang, detail, komposisi, dan kesadaran akan lingkungan yang sehat.
.
Konsep ruang-ruang privat dan publik rumah ini terdiri dari 4 sisi yang saling berhadapan dengan sisi-sisi yang transparan. Sehingga mendapatkan cahaya matahari tidak langsung yang menerus di sepanjang harinya. Hasil dari bayang-bayang menciptakan lorong-lorong udara yang membelah massa-massa bangunan. Lorong cahaya dibentuk dari 40 pola arsitektur di lorong pintu masuk.
.
Thank you, clients (IS), builders, engineers, and the teamwork @realricharchitectureworkshop team, @timbulsimanjorang@joanaagustin@gabymarcelina@vyaanasss, and others (Ali, Dini). Architecture is a long process and collaborative effort.
.
#RAWongoing#RAWprogress#Platonichome#PlatonicBioclimaticHome#house#home#details#bioclimatic#architecture#architecturedetails#architectureproject#workingonprogress#dezeen#archdaily#arsitektur#arsitekturindonesia


Kategori
blog

Artisanal Bioclimatic Home

.
Rumah ini merupakan proyek renovasi bangunan di atas lahan 8 x 20 yang mempertahankan sebagian dinding dan pondasi eksisting. Renovasi didesain memiliki bentuk unik sesuai kebutuhan (2 kamar anak, 1 kamar utama, ruang keluarga dengan sarana pendukung). Klien kami adalah pasangan yang sederhana, mendambakan rumah yang memiliki estetika yang baik sekaligus tidak mahal.

Saya mengenal salah satu dari mereka dari sejak kecil, kami bertetangga dan sering berpapasan. Justru kemudian pasangannya secara kebetulan mengetahui referensi dari klien kami. Mereka adalah pasangan yang rasional, empatik sekaligus senang dengan seni. Mereka bisa membuka dirinya, sehingga proses desain bisa berjalan lebih lentur dan eksploratif.

Strategi arsitektur dimulai dengan membuka pandangan ke arah belakang dengan memanfaatkan struktur yang digunakan untuk menopang struktur baru. Penambahan lantai menumpu diatas pondasi telapak sesuai dengan perhitungan beban dan kondisi tanah eksisting sekaligus dibuka untuk mendapatkan ruang yang fleksibel.

Celah Antar kiri kanan dan cerobong cahaya berfungsi untuk memasukkan udara segar sekaligus cahaya. Meskipun rumah terdiri dari 2 lantai dan berbatasan dengan dinding tetangga samping tidak menjadi penghalang agar rumah mendapat pencahayaan dan sirkulasi udara yang baik. Tampak depan yang memiliki bagian balkon kantilever dan rongga ruang di samping kanan kiri sehingga menampilkan kesan ringan dan ramping. Kantilever berfungsi sebagai naungan pintu masuk yang ada di bawahnya. Rongga ruang samping ini juga berguna agar semua area mendapat cahaya dan sirkulasi udara yang baik. Pintu masuk didesain dengan bentuk bulat sehingga menampilkan kesan artistik di dalam komposisi arsitektur yang optimal.

Thank you, clients (H+T), builders, engineers, and the teamwork @realricharchitectureworkshop team, @joanaagustin@timbulsimanjorang@alimhanz, and others (Vivi, Ali, Aga). Architecture is a long process and collaborative effort.
.
#RAWongoing#RAWprogress#HarrisTiffanyHouse#house#details#bioclimatic#architecture#architecturedetails#architectureproject#workingonprogress#dezeen#archdaily#arsitektur#arsitekturindonesia


Kategori
Team - Reflection Letter

Renadi Mohammad Rediansyah – Universitas Tarumanagara

Reflection Letter:

Enjoy the Process – Renadi Mohammad Rediansyah

Selama magang saya banyak mengambil pelajaran arsitektur sampai kehidupan. Mulai dari percaya tidak ada yang tidak mungkin jika mau berusaha dan mencoba. Belajar dan bekerja langsung dengan seorang arsitek menjadi katalis dalam berpikir dan mendapatkan cara pandang yang lebih luas. Bekerja dengan Kakak-kakak yang menanamkan nilai ketepatan, ketelitian, dan kecepatan agar hasil maksimal. Dan yang tidak kalah penting adalah harus menikmati proses perjalanan yang sedang atau akan ditempuh.

Tahun 2018 mengunjungi The Guild atau Guha, Pameran Tugas Akhir Arsitek, saya meninggalkan jejak testimoni yang tertempel di dinding Guha sampai hari ini. Hadir di guha saya merasa kagum dan terbesit pemikiran, menarik jika suatu hari nanti dapat bekerja di RAW. Saat kuliah saya jatuh hati dengan arsitektur karya Louis Kahn. Bentuk lengkung dan lingkaran bukaan guha mengingatkan saya pada Kahn, seakan beliau meninggalkan jejak disini. Tahun 2022 saya mendapatkan kesempatan untuk bisa magang di RAW.

Bekerja dengan seorang arsitek, Kak Realrich Sjarief, sangat menginspirasi dan menyemangati saya dalam berarsitektur. Tiga bulan magang disini saya terhitung berpindah sebanyak tiga kali. Saya diperlihatkan ruang temporer, selalu berpindah, tidak ada yang tetap tetapi terus berkembang. Saat saya absen 2 minggu magang, guha sudah menambahkan mezanin pada ruang makan dan memulai pengerjaan jembatan dengan material kayu bekas.

Penambahan yang signifikan, Guha terus berkembang dan berubah, menurut saya ini adalah never ending project Kak Rich.

Saya melihat RAW sebagai payung hangat praktek arsitektur, tempat untuk belajar yang diisi oleh orang-orang yang profesional. Ketelitian, kecepatan, dan kerapihan dalam bekerja menjadi nilai yang dijaga dan dituntut untuk konsisten. Dibimbing Kak Rich dan dimentori oleh kakak-kakak yang asik, seru, penuh canda tawa dan juga memiliki keahlian dan ketelitian dalam bekerja. Terciptanya suasana bekerja yang mengandalkan nilai, kualitas, komunikasi, dan kerjasama tim untuk menghasilkan pekerjaan yang maksimal.

Tujuan magang saya jadikan untuk mendalami praktek dan melihat suasana kerja pada kantor arsitektur. Saya menjadikan magang ini sebagai proses pencarian perjalanan arsitektur. Banyak kejadian tidak terduga dan saya merasa beruntung dapat magang pada waktu yang tepat. Salah satunya ketika saya dapat bertemu dan berdiskusi dengan dua tokoh yang konsisten dalam bidangnya, Kak Rich dan Pak Sunaryo, pada hari yang sama. Cerita singkatnya saya bertanya kepada dua tokoh sumber energi dalam bekerja atau berkarya. Tidak disangka jawaban kedua tokoh ini sama. Jawabannya adalah menikmati. Menikmati momen, menikmati proses, menikmati rasa, fokus untuk berkarya.

Motivation Letter:

Perkenalkan saya Renadi M. Rediansyah, ingin mendaftarkan diri pada program magang di Realrich Architecture Workshop (RAW) untuk memperluas pengetahuan dan pengalaman dalam berarsitektur. Saya merespon lamaran ini berdasarkan Instagram. Sebagai lulusan S1 Arsitektur Universitas Tarumanagara, saya memiliki ketertarikan untuk menyelami praktek arsitektur. Saya melihat RAW memiliki praktek yang luas karena tidak hanya mencakup desain praktek arsitektur tetapi juga literasi arsitektur.

Selama 4 tahun kuliah, saya memiliki kesempatan untuk belajar merancang, memimpin bidang himpunan dan acara, dan magang di bidang manajemen konstruksi. Selain belajar, riwayat organisasi selama kuliah membawa saya untuk berkontribusi pada bidang sayembara dengan menyusun Terms of Reference (TOR) ruang kota ramah anak berupa rancangan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA). Pada tahun berikutnya dilanjutkan dengan mengadakan sayembara nasional dengan tema hunian yang mengangkat isu harga tanah yang tinggi. Magang di manajemen konstruksi pada proyek bangunan tinggi mengajarkan saya untuk membaca gambar kerja dan melihat langsung kualitas hasil pekerjaan dan cara menyikapinya.

Hadirnya pandemi Covid-19 memaksa saya untuk tetap dirumah, mengisi waktu membaca literatur dan mulai ada ketertarikan untuk menulis. Waktu luang ini juga saya manfaatkan untuk merancang kafe dengan fokus memaksimalkan area pengunjung dan menerapkan sistem cross ventilation pada rancangan bangunan beserta visualisasinya. Masih banyak ruang yang bisa dikembangkan dari diri saya.

Magang di RAW dapat menjadi momentum memulai kembali petualangan saya dalam berarsitektur.Rekam jejak saya menunjukkan pengetahuan dan pengalaman selama kuliah dan masa pandemi. Saya memiliki ketelitian terhadap detil, dapat bekerja secara individu atau kolektif, dan mampu bekerja di berbagai macam lingkungan. Bekerjasama dengan banyak orang dari berbagai macam latar belakang bukan hal yang baru untuk saya. Modal ini akan saya maksimalkan untuk memperluas keterampilan di masa yang akan datang.

Potensi dan bakat harus diasah dan dikembangkan untuk menggapai mimpi dan cita-cita menjadi arsitek. Memiliki seorang mentor dapat mengkatalisasi potensi dalam belajar dan dibimbing dalam berpikir, bekerja, dan berkarya. Selain menjadi arsitek, minat untuk membaca dan menulis membawa saya bermimpi untuk menulis buku saya sendiri suatu hari nanti. Saya berharap RAW dapat menjadi tempat yang tepat untuk belajar dan memberikan pandangan praktek berarsitektur dalam berkarya tidak hanya dalam bentuk ide, gambar, dan fisik tetapi juga dalam bentuk literatur.

Saya ingin merasakan budaya desain praktek arsitektur secara empiris. Ingin memperluas pandangan dari desain dan arsitektur. Ingin melihat padu-padan antara konsep, detil desain, budget, dan eksekusi di lapangan. Untuk menjadi konsisten dalam berpikir, merancang, dan berkarya. Dalam arsitektur, saya juga tertarik dan ingin mendalami research by design untuk mencari relevansi.

Ada jarak antara dunia akademis dan praktisi yang perlu dikejar untuk menyeimbangkan ilmu dan praktek. Pengalaman dalam desain praktek adalah potongan yang hilang dan perlu saya lengkapi dalam petualangan berarsitektur. Ingin terus bekembang, belajar, dan mencari arti dari desain, arsitektur, dan desain arsitektur. Saya berharap dengan magang ini dapat memberikan pengetahuan dan pengalaman untuk meningkatkan keterampilan diri saya sendiri dan memberikan nilai dan kontribusi untuk RAW dalam berkarya.

Terlampir curriculum vitae (CV) dan portofolio sebagai bahan pertimbangan bapak/ibu untuk saya dapat magang di RAW. Jika ada pertanyaan, saran, atau masukan saya dapat dihubungi melalui WhatsApp +62 8131 8989 725 dan email rreji1202@gmail.com (email utama). Atas perhatian dan waktu bapak/ibu saya ucapkan terima kasih.

Salam Hormat,

Renadi M. Rediansyah

Kategori
Team - Reflection Letter

Manuel Hendru – Universitas Multimedia Nusantara

Reflection Letter:

Hello! My name is Manuel Hendru who is usually called El in RAW. I’m a 7th semester student at Multimedia Nusantara University, Tangerang who got the opportunity to be able to contribute to the work being done at RAW Architecture as an intern student for 6 months (which initially only planned for 4 months HAHA). Before deciding to do practical work in the office that I will apply for, there are many considerations as well as the expectations that I can get when I do my internship in that office. One of them is that I want experience in working and expanding relationships in the office. So, apart from the firm work being convincing, the work environment is also very influential and is a big consideration for me in choosing an internship place.

RAW Architecture has become one of the offices that I have known since I first entered college. Kak Rich himself once gave a seminar on my campus, which at that time I was very impressed with his presentation. The way the presentation was deep and fun made me enjoy learning about what Kak Rich was presenting at that time. Because of that, I’ve also started to recognize the building designs produced by RAW and I love them. What’s more, I also saw several posts from ig @guhatheguild which feature dynamic and exciting office life too. Long story short, I finally decided to apply to RAW Architecture as one of the agencies I wanted to learn more about architecture and open relationships because of these three factors.

When I first entered the studio, I was immediately greeted by Kak Rich and also the working staff through a brief self-introduction. In that short introduction, we joked a lot and laughed together. It was at that moment that I immediately thought that I was not mistaken in choosing RAW Architecture to be the office I was assigned for my internship for 4 months from 20 June – 22 October.

During those 4 months, I really learned and was happy to get to know many things that are far deeper than what I got at college. In fact, several times I was also often invited to go to the field and learn directly about building construction. However, 4 months was not enough time for me to learn many things in the built field. So, I finally decided to extend. My decision to extend was also not easy for me and it took me quite a while to think about it until I made a unanimous decision on d-1 the day before I ended my internship and contacted Kak Rich and the admin that I wanted to extend until December 23. To be honest, on that day, I was quite afraid that this decision would not be the best for me because I had to divide my time more between work and college. The course I was taking at that time was a research seminar that determined my Tugas Akhir. And yes, in the end I took a lot of time off to take care of my seminars in my extended days. But, even though I’m on leave, I still get a lot of knowledge in built that I really want and I don’t once regret the decision to extend it.

Of course, I would like to thank Kak Rich for giving me the opportunity to contribute a little as an intern student. I am very happy to know Kak Rich as a leader who is very humble and I really look up to him.

Big thanks to Kak Mei, Mas Alim, Kak Fina, and Sofi for “accepting” me in their team to help with some work on the built project that I’m working on hehe

Thank you also to Tyo who has become my 911 in RAW both in work and other life and open Tyo-Tour and Travel on Saturdays/Sundays to Bandung, cool.

To Ms. Riyan, who taught architectural concepts for the first time to me and other staff members or interns who have colored my monochrome life every day.

Until finally, I can say that doing an internship at RAW is a valuable experience that I can’t forget until I’m old. Because at RAW, I don’t only get knowledge of architecture and construction, but also laughter from all of you who have given meaning and added to my collection of precious moments in my life. For me, RAW is not only “The Best Office in The World” but also “The Best Home in The World” where we can feel the warmth of everyone in it.

Sending hugs and the best wishes for each of you MUAH xixi

Best Regrads,

Manuel Hendru

Motivation Letter:

Perkenalkan saya Manuel Hendru, seorang mahasiswa arsitektur semester 6 di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Tangerang. Saya memiliki ketertarikan yang mendalam terhadap proyek-proyek yang sudah ataupun sedang dikerjakan oleh Studio RAW Architecture, terutama pada desain arsitekturnya, pengolahan pengalaman ruang yang luar biasa, dan juga pemakaian jenis material lokal dan tektonik yang unik. Saya sendiri tertarik untuk mempelajari mengenai pengolahan material menjadi bentuk ruang yang memberikan pengalaman berbeda. Dengan ketertarikan mendasar tersebut, saya bermaksud untuk mengajukan permohonan kerja praktik di Studio RAW Architecture mulai dari bulan Juni 2022 selama lima sampai enam bulan.

Saya sangat menyukai semua hal tentang arsitektur dan desain. Sebagai mahasiswa arsitektur, saya mencoba untuk mengembangkan kegemaran tersebut dan menyelesaikan beberapa mata kuliah terkait, seperti Perancangan Arsitektur, Teknologi Bangunan, Fisika Bangunan, Bangunan Berkelanjutan, Utilitas Bangunan, Komunikasi Digital, Seni Rupa, dan masih banyak lagi mata kuliah yang membekali saya pengetahuan berguna untuk diterapkan di dunia nyata sehingga beberapa dari karya-karya saya tersebut mendapat penghargaan berupa perancangan terbaik. Saya juga sedang menjalani mata kuliah Interior yang mempelajari tentang perancangan ruang dalam pada rumah ataupun café. Saya sangat ingin untuk memperluas wawasan dan juga menerima tantangan baru berupa kesempatan menjadi arsitek kerja praktik pada perusahaan ini.

Bekerja menjadi anggota tim Studio RAW Architecture merupakan salah satu impian terbesar yang ingin saya capai sejak awal menduduki bangku kuliah. Oleh karena itu, saya sangat berharap untuk mendapat kesempatan dalam membantu proyek-proyek Studio RAW Architecture sebagai bagian dari tim serta memperluas koneksi sosial dan juga pengalaman saya sebagai bekal di kemudian hari. Saya dapat mempertimbangkan untuk bekerja secara daring ataupun luring saat ini. Atas perhatian Bapak/Ibu, saya ucapkan terima kasih.

Kategori
blog

Morahai House

.
Rumah ini memiliki dua sisi, ia privat juga ada sisi publik. Sisi kamar tidur berisi permainan bentuk lengkung-lengkung yang menerus seperti terasering. Massa bangunannya seakan-akan diangkat untuk mengakomodasi daerah komunal-perpustakaan-dan daerah tempat tinggal. Ada tangga disisi ujungnya yang dikelilingi oleh bukaan kotak-kotak. Kebetulan suami dari sahabat saya, suka berkomunitas. Rumah ini adalah cerminan dua sisi komunitas dan keluarga yang saling bertolak belakang. Explorasi kombinasi bentuk lengkungan dan kotak pada bentuk dan fasad bangunan didesain untuk memberikan aliran udara yang sehat dan menghadirkan cahaya udara alami kedalam ruang.
.
Istri dari klien kami adalah sahabat lama saya dari SD. Dulu Saya bertemu dia lagi kira-kira 12 tahun yang lalu dan baru 3 tahun yang lalu bertemu kembali dan menjadi klien kami. Kali ini Pekerjaan kayu-kayu, kisi-kisi depan dan kayu ulin yang sudah terpasang.
.
Layouting didalam rumah rumah ini menyediakan dua jenis zona privasi, publik dan privat karena klien kami menginginkan setiap kerabat yang berkunjung bisa merasa seperti rumah mereka sendiri.
.
Thank you, clients (G+J), contractor, and the teamwork, architecture is collaborative work
@realricharchitectureworkshop , @timbulsimanjorang@alimhanz, and many other people involved, hugs 🤗
.
#RAWongoing #RAWprogress #Morahaihouse #house #details #bioclimatic #architecture #architecturedetails #architectureproject #workingonprogress #dezeen #archdaily #arsitektur #arsitekturindonesia

Kategori
blog

Tan Tjiang Ay + Yuswadi Saliya

Barusan hari ini di akhir tahun 31 Desember 2022, saya berkesempatan bertemu Om Tan Tjiang Ay dan Pak Yuswadi Saliya.
.

Dari om Tan saya belajar keseharian berpraktik yang realistis, optimal, dan detail. Saya berpraktek karena keterpaksaan, ia berujar.
.
“Masa sih pak keterpaksaan, menurut saya bukan keterpaksaan, tapi memahami keterbatasan melalui penyelesaian permasalahan.” Jawab saya.

“Tapi yang saya selesaikan, adalah permasalahan lapangan yang sehari – hari. Yang tidak mahal, yang praktis.”Ujarnya.

“Itu salah satu aspek yang bisa dijawab arsitektur pak, permasalahan sehari – hari, dan juga diperlukan oleh banyak orang. Mungkin juga detail, solusi yang sederhana bisa menjadi inspirasi oleh publik.” Jawab saya

Perbicangan seperti ini berjalan berjam – jam lamanya. Sampai satu saat saya menanyakan benang merah berkarya. Ia menjawab, wah wah pertanyaan berbahaya itu, sambil terkekeh- kekeh. Ia bercerita saya menimpali, itulah kenikmatan tersendiri di dalam memahami om Tan yang sudah berpraktek 50 tahun lamanya. Tempat kerjanya ada di dalam sebuah bangunan yang sudah berdiri dari tahun 1920, disesuaikan ulang, di tambah – tambah dan juga dikurang – kurangi. Umur struktur bangunan tersebut sudah 102 menuju 103, dari situ kita bisa belajar soal sikap menghargai, ya attitude adalah awal dari proses perencanaan, sebelum filosofi, sebelum teori, sebelum metode, dan ilmu – ilmu lapangan.
.


Dari Pak Yus kita bisa belajar memahami perspektif yang lebih dalam dari permukaan.
Ia melihat perspektif perlu didukung oleh data, sehingga polanya bisa terbaca, ia menyebutnya taksonomi atau pengelompokkan. Arsitektur pun demikian.
.
Data itu penting yang dipergunakan untuk memetakan langkah – langkah ke depan, ia mengulangi berkali – kali.
.
Dari kedua legenda hidup tokoh arsitekur ini, saya belajar kedalaman perspektif dan sikap hidup sehingga perbincangan berjam – jam menjadi taksonomi desain. Memang langkah pertama dari kreativitas adalah membuka diri dari situ kita hanya warana(alat) dan wahana(kendaraan) yang indah untuk sekitarnya.
.
Pak ini resep awet muda, saya berkelakar, mereka pun tertawa.

“Untuk Om Tan saya siapkan anggur, untuk menemani malam tahun baru.” Saya berkelakar.

“Wah ini harus sedikit – sedikit nih, supaya santai dan diam – diam, nanti ngga boleh gaul sama ibu” Ia pun balas berkelakar sambil tertawa terbahak – bahak.
.
“Untuk pak Yuswadi saya siapkan buah, ini resep umur panjang.”

istri pak yus datang, dan beliau tertawa,

“aduh ini kita suka sekali.” Ia berkata, dan pak Yus tertawa lepas.”Jangan pulang dulu kita masih bisa ngobrol dan diskusi.” Saya pun duduk 30 menit lagi sebelum istri saya telp karena sudah mulai malam.
.
“Pak saya pamit dulu ya, soalnya saya mau nemenin istri dan anak – anak makan.” Saya berpamitan.
.
“Pak saya foto ya buat kenang – kenangan.”
.
“Hayuuuukk.” Katanya.
.
Memang tawa para legenda arsitektur ini tidak bisa dilepaskan dari pasangannya, dua legenda romantis yang sayang akan cinta sejatinya dan kehidupannya yang dijalaninya dengan seksama.
.
Ini hanya refleksi singkat dari pertemuan dengan para legenda hidup arsitektur. Doa dari keseharian, meneruskan pesan untuk merajut jiwa. 2023 yuk jalan.

Kategori
blog

Guha, The Heart of The Family

Tahun ini penuh dengan refleksi kehilangan dan kelahiran kembali. Kami kehilangan akan kematian ayah kami, dan juga rasa bersyukur kami akan orang – orang terdekat yang terus bisa menjaga tali silahturahmi.

.

Kira – kira 3 bulan yang lalu, saya dipanggil oleh ibu saya untuk mengajak bicara Dad (panggilan kami ke ayah). Dad ada di satu pojok meja makan sedang terdiam begitu saya masuk ke pintu ruang keluarga. Dalam hati saya bertanya – tanya apakah beliau sedang ngambek ? Apa karena ia dipaksa makan ? ataukah ada kalimat – kalimat dari sekitarnya yang tidak sengaja muncul menyakiti hatinya ? .

Saya mencoba duduk di sampingnya selama 45 menit untuk mencoba mengajaknya bicara, dan akhirnya beliau berkata,

“Dad mau ke kamar, mau tidur!”

Di satu sisi ruangan saya melihat ibu saya, yang terduduk lemas, karena terkuras energinya untuk mengurus Dad. Ibu saya adalah orang yang sangat aktif, ia adalah ketua RT. Baginya aktifitas itu penting, dan ia sangat cinta pada ayah saya. Saya tahu di dalam hati Mom takut kalau ayah makin kurus, atau jatuh sewaktu berjalan, atau sesimpel ia kuatir begitu dad diam saja tidak mau berinteraksi dengan sekitarnya karena Parkinson. Mom adalah orang yang berjaga – jaga terus, mengantisipasi begitu banyak kemungkinan karena rasa sayangnya untuk Dad.

Dad kemudian berjalan ke kamar, dan saya mengikuti beliau. Ia masih bisa berjalan lancar. Ia kemudian merebahkan diri dan memejamkan mata. Saya duduk di sebelah beliau dan mencoba mengajaknya berbicara, ia seketika membuka mata dan sadar.

Ia tiba – tiba berkata :

“Sorry ya yal(panggilan Dad ke saya) … Daddy, kena penyakit Parkinson, maaf kalau Dad ngga bisa mengatur pikiran Dad sendiri, dan kadang penyakit ini bikin Dad ngga bisa makan, karena ngga bisa nelen.” Ia sambil menangis berbicara seperti itu.

Saya menanggapi :

“Di, ngga apa2, namanya penyakit orang tua, yang sabar ya di, kita temenin Daddy.”

Saya mendengar dari cerita – cerita orang sekitar, banyak orang menjauhi orang – orang tua yang sakit, karena ketakutan orang tersebut sendiri, dan tidak tega melihat penderitaan orang sakit. Tapi saya sangat sayang ke Dad, dan pengalaman melihat orang tua sakit adalah pengalaman pertama saya, kedua orang tua kami (saya dan Laurensia) masih lengkap.

Situasi sudah larut malam, saya mau pamit pulang karena saat itu sudah hampir tengah malam, saya menghampiri Dad.

“Dad, Real mau pulang dulu, besok Real main lagi kesini, saya jemput kita jalan – jalan ke proyek.”

Seketika ia bicara

“Kamu jangan pergi, Dad mau peluk kamu”, dan seketika itu air mata saya menetes, dan saya memeluk Dad untuk pertama kalinya sesudah begitu lama. “Real sayang Daddy, yang sabar ya Di.” Dari situ saya sudah berpikir bahwa waktunya sepertinya sudah dekat. Saya mempersiapkan diri untuk menjaga Mom karena energinya pasti akan terkuras, fisik dan mental.

Saya sempat membawa Dad untuk menginap di rumah kami di Guha karena saya melihat Mom sedang capai – capainya, dan saya punya tenaga yang bisa yang membantu beliau sembari dirawat. Anggap saja Mom perlu istirahat sementara. Kemudian setelah beliau tinggal beberapa hari saya baru sadar, bahwa Dad mencari Mom, cinta sejatinya.

Saya sempat membawa Dad untuk menginap di rumah kami di Guha karena saya melihat Mom sedang capai – capainya, dan saya punya tenaga yang bisa yang membantu beliau sembari dirawat. Anggap saja Mom perlu istirahat sementara. Kemudian setelah beliau tinggal beberapa hari saya baru sadar, bahwa Dad mencari Mom, cinta sejatinya. Pertanyaannya sekitar, mana Mom ? Mom jangan cape2 dia banyak yang diurusin. Dari situ juga saya belajar bahwa, di pikiran Dad sebenarnya Mom adalah prioritas untuk dia jaga. Secinta itu Dad sampai Ia yang orang sakit pun menjaga Mom, orang yang sehat. Kemudian kita berbincang – bincang dan saya terkadang menimpali perbincangan dia, meyakinkan dirinya kalau ia bisa dimengerti oleh lawan bicaranya. Beberapa hal yang dibicarakan adalah seputar proyek, klien, kawan – kawan tenisnya, dan menanyakan apa kabar mereka semua.

Pertanyaannya sekitar, mana Mom ? Mom jangan cape2 dia banyak yang diurusin. Dari situ juga saya belajar bahwa, di pikiran Dad sebenarnya Mom adalah prioritas untuk dia jaga. Secinta itu Dad sampai Ia yang orang sakit pun menjaga Mom, orang yang sehat.

Kemudian kita berbincang – bincang dan saya terkadang menimpali perbincangan dia, meyakinkan dirinya kalau ia bisa dimengerti oleh lawan bicaranya. Beberapa hal yang dibicarakan adalah seputar proyek, klien, kawan – kawan tenisnya, dan menanyakan apa kabar mereka semua.

Dulu dari sejak 20 tahun yang lalu, Dad adalah orang yang sungguh setia, ia adalah orang yang setia menelpon kawan – kawannya 1 – 2 jam sebelum acara main tennis dimulai. Ia adalah seorang pencatat. Di Permata Buana ia menghabiskan waktu – waktunya 2 – 3 kali seminggu di lapangan tennis. Beliau menghabiskan waktu 6 tahun di lapangan tenis yang lama di depan komplek sampai pindah ke lapangan baru di komplek baru selama 10 tahun setelahnya. Ia adalah orang yang menjadi bendahara sekaligus pencatat, saya kadang menemani beliau untuk membeli bola tenis untuk kawan – kawannya.

Dulu dari sejak 20 tahun yang lalu, Dad adalah orang yang sungguh setia, ia adalah orang yang setia menelpon kawan – kawannya 1 – 2 jam sebelum acara main tennis dimulai. Ia adalah seorang pencatat. Di Permata Buana ia menghabiskan waktu – waktunya 2 – 3 kali seminggu di lapangan tennis. Beliau menghabiskan waktu 6 tahun di lapangan tenis yang lama di depan komplek sampai pindah ke lapangan baru di komplek baru selama 10 tahun setelahnya. Ia adalah orang yang menjadi bendahara sekaligus pencatat, saya kadang menemani beliau untuk membeli bola tenis untuk kawan – kawannya. Di dalam lingkup batas yang kecil, Dad mengajarkan ke kami semua bahwa hidup yang terbatas ini perlu untuk berkontribusi dan jangan merepotkan orang lain. Ia juga percaya bahwa hidupnya adalah untuk membuka jalan kemungkinan berkembang untuk orang lain, dan juga menjaga teguh nama baik keluarga. Dia menjalani kehidupan yang luar biasa, a great dad, pribadinya adalah pribadi yang sederhana dan teguh akan prinsip – prinsip yang diyakininya.

Di dalam lingkup batas yang kecil, Dad mengajarkan ke kami semua bahwa hidup yang terbatas ini perlu untuk berkontribusi dan jangan merepotkan orang lain. Ia juga percaya bahwa hidupnya adalah untuk membuka jalan kemungkinan berkembang untuk orang lain, dan juga menjaga teguh nama baik keluarga. Dia menjalani kehidupan yang luar biasa, a great dad, pribadinya adalah pribadi yang sederhana dan teguh akan prinsip – prinsip yang diyakininya.

Kira – kira 10 tahun yang lalu, kami mengalami pengalaman kehilangan anak kami, pada waktu itu, saya dan Laurensia tidak bisa berkata – kata apa – apa. Sampai dalam keseharian kami memilih untuk menutup diri dan mencoba datar atau tidak memiliki emosi apa – apa karena kesedihan kami yang begitu dalam. Di balik kesedihan yang muncul begitu berat saat itu, kami bertanya – tanya kenapa, kenapa hal tersebut bisa terjadi ?

Kira – kira 10 tahun yang lalu, kami mengalami pengalaman kehilangan anak kami, pada waktu itu, saya dan Laurensia tidak bisa berkata – kata apa – apa. Sampai dalam keseharian kami memilih untuk menutup diri dan mencoba datar atau tidak memiliki emosi apa – apa karena kesedihan kami yang begitu dalam. Di balik kesedihan yang muncul begitu berat saat itu, kami bertanya – tanya kenapa, kenapa hal tersebut bisa terjadi ?

Dad hanya berpesan supaya kami sabar, dan fokus untuk terus mencoba. Kami mendapatkan jawabannya dengan kelahiran anak kami Miraclerich dan Heavenrich. Bahwa ada pesan dalam kehidupan kami bahwa supaya kami tidak lupa bahwa kami perlu menjaga generasi muda.

Dalam kesehariannya juga Dad adalah pribadi yang luar biasa, ia tidak pernah sama sekali merepotkan, dan punya integritas sangat tinggi. Ia menjauhi konflik dan biasa memendam hal – hal yang menjadi kegusarannya di benaknya saja. Ia juga tidak pernah berteriak sakit, ataupun mengeluh. Bahkan ketika 2 bulan yang lalu ketika tulangnya patah, dan tidak ada yang menyadarinya, dan ia juga tidak mengeluh, sampai 1 bulan kemudian kami mengetahuinya justru dari dokter home care.

Dalam kesehariannya juga Dad adalah pribadi yang luar biasa, ia tidak pernah sama sekali merepotkan, dan punya integritas sangat tinggi. Ia menjauhi konflik dan biasa memendam hal – hal yang menjadi kegusarannya di benaknya saja. Ia juga tidak pernah berteriak sakit, ataupun mengeluh. Bahkan ketika 2 bulan yang lalu ketika tulangnya patah, dan tidak ada yang menyadarinya, dan ia juga tidak mengeluh, sampai 1 bulan kemudian kami mengetahuinya justru dari dokter home care. Kami membawanya ke laboratorium untuk rontgen dan baru saat itu saya mendengar ayah saya menangis, karena kesakitan ketika badannya dibalik – balik untuk memudahkan foto Rontgen. Hari keesokannya Dad dioperasi oleh Dokter William, dokter di Rumah Sakit Puri Indah. Keadaan baik – baik saja setelah itu, dan beliau bisa pulang. Berat badan beliau berangsur – angsur meningkat. Dan saya benar – benar bersyukur melihat senyumnya. Ia masih bisa berdiskusi meski kesulitan berbicara mungkin karena terhalang selang NGT yang dipasang untuk memudahkannya makan. Operasi tulang tersebut adalah salah satu jalan juga untuk memasukkan selang NGT supaya beliau bisa makan, karena parkinson dideritanya membuat otot menelannya bermasalah, jadi beliau sering tersedak dan kesulitan makan. Begitulah yang saya pahami bahwa, penyakit parkinson menyerang sarang yang semakin degeneratif dimana satu saat pikiran tidak bisa berkordinasi lagi dengan gerakan badan.

Saya kadang bertanya, “Dad, kenapa ngga ngomong kalau sakit ? ” Ia hanya diam. Dad seperti dad yang dulu, ia hanya tidak mau memberatkan kami semua di sekitarnya.

Kami membawanya ke laboratorium untuk rontgen dan baru saat itu saya mendengar ayah saya menangis, karena kesakitan ketika badannya dibalik – balik untuk memudahkan foto Rontgen. Hari keesokannya Dad dioperasi oleh Dokter William, dokter di Rumah Sakit Puri Indah. Keadaan baik – baik saja setelah itu, dan beliau bisa pulang. Berat badan beliau berangsur – angsur meningkat. Dan saya benar – benar bersyukur melihat senyumnya. Ia masih bisa berdiskusi meski kesulitan berbicara mungkin karena terhalang selang NGT yang dipasang untuk memudahkannya makan. Operasi tulang tersebut adalah salah satu jalan juga untuk memasukkan selang NGT supaya beliau bisa makan, karena parkinson dideritanya membuat otot menelannya bermasalah, jadi beliau sering tersedak dan kesulitan makan. Begitulah yang saya pahami bahwa, penyakit parkinson menyerang sarang yang semakin degeneratif dimana satu saat pikiran tidak bisa berkordinasi lagi dengan gerakan badan.

Satu waktu saya sedang dalam perjalanan rapat, jam 17.35 ada telp masuk dari kakak ipar saya. Kalau ada sampai telp masuk ke saya biasanya adalah masalah serius soal Dad.

“Real, Daddy sesek.”

Saya kemudian membatalkan rapat pada hari itu dan langsung bergegas ke rumah Dad. Saya melihat Dad meringkuk dan kesulitan bernafas. Kemudian saya menghubungi Nurul (anak pak Misnu, perawat). “Nurul tolong ke tempat Opa (Dad) , Opa sesek, tolong cek kita bisa ada stok oksigen.” Saya pun menghubungi Laurensia. “Dith(nama belakang Laurensia), Dad sesek, ke sini buat rembuk kita perlu antisipasi.”

Dari diskusi dengan seluruh keluarga, kakak, adik, kami menanyakan ke Mom yang sudah pasrah dengan keadaan Dad. Laurensia waktu itu menelpon Dokter Home Care, yang merupakan teman satu SMA kami, dokter Anton. Ia datang membawa alat penyedot lendir, dan menambah oksigen, supaya Dad tidak sesak.

Anton : “Dith, Yal (nama panggilan kami berdua), baiknya dibawa ke rumah sakit, karena peralatan lebih lengkap, dan pasti beliau lebih ngga sakit dan lebih tenteram.”

kami memutuskan malam itu juga dimasukkan ke Rumah Sakit, karena saturasi oksigen menurun sampai ke 70. Di UGD, kami mengatur skedul jaga, dan saya mendapatkan tugas pagi – pagi supaya bisa bertemu dokter dan mengantisipasi apa saja yang perlu dilakukan.

Pagi satu hari setelahnya saya bergegas untuk menemui Dokter Margareta, dan membicarakan kemungkinan apa yang bisa dilakukan. dari diagnosa beliau Dad mengalami sesak nafas karena pita suaranya tertutup karena gerak saraf untuk menggerakkan pita suara tersebut terhambat oleh Parkinson. Sekaligus ada penumpukan lendir di tenggorokan. Beliau berbicara mengenai satu – satunya kemungkinan adalah Trakeostoma, melubangi membuka jalan udara dari leher. Trakeostoma ini, sangat dihindari oleh ibu saya, yang tidak menginginkan adanya penderitaan dari Dad. Dan kami anak – anaknya menghormati keputusan ibu.

Pagi satu hari setelahnya saya bergegas untuk menemui Dokter Margareta, dan membicarakan kemungkinan apa yang bisa dilakukan. dari diagnosa beliau Dad mengalami sesak nafas karena pita suaranya tertutup karena gerak saraf untuk menggerakkan pita suara tersebut terhambat oleh Parkinson. Sekaligus ada penumpukan lendir di tenggorokan. Beliau berbicara mengenai satu – satunya kemungkinan adalah Trakeostoma, melubangi membuka jalan udara dari leher. Trakeostoma ini, sangat dihindari oleh ibu saya, yang tidak menginginkan adanya penderitaan dari Dad. Dan kami anak – anaknya menghormati keputusan ibu.

Sekaligus Ia pun mengecek kembali beberapa saat setelahnya ternyata ada pnemonia besar di paru – paru. Dan juga memberikan antibiotik. Dari tenggorokan bermasalah dan dari paru – paru pun bermasalah.

Dokter Margareta berkata, “Sepertinya dengan keputusan yang diambil, kita tidak bisa melakukan apa – apa. Dan kita persiapkan supaya beliau dimonitor terus memasuki fase DNR (A do-not-resuscitate order, or

(Note : DNR order, is a medical order written by a doctor. It instructs health care providers not to do cardiopulmonary resuscitation (CPR) if a patient’s breathing stops or if the patient’s heart stops beating.)

Pada saat itu, air mata saya tidak terbendung lagi, dan saya menangis di pojok ruangan. Dan seketika itulah, saya bersiap – siap untuk menjaga Mom dan menyampaikan kabar ini, bahwa kita semua bersiap – siap.

Kemudian saya mencoba berpikir taktis, strategis, mencoba bersiap – siap tanpa perasaan apapun supaya kesehatan orang. – orang yang menjaga Dad bisa stabil di dalam memasuki fase yang genting.

Saya menulis di Wa keluarga seperti ini.

Kesepakatan jaga daddy 

Kriteria : 1.realrich (aku prefer di pagi karena bisa cek dokter bareng yudith) dan winson baiknya di pagi atau malam alasan ketemu dokter atau buat nganter mami pulang (koko win/saw2 noni perlu banyak ngobrol sama mami ) dan mami ngga boleh tidur di rumah sakit karena dia udah tua dan berumur. Tekanan mentalnya berat kalau liat daddy. 2.richman prefer siang sambil bisa kerja remote di studio 3.winson bisa malam tp menurutku ngga boleh jaga malam 4.realrich sama mondrich kadang2 ada rapat di siang 

Skema 1 (mondrich off) 07.00 – 12:00 (4-5) realrich 12:00 – 17:00  (4-5) richman 17:00 – 22:00  (4-5) winson. Skema 2 (realrich off) 07.00 – 12:00 (4-5) winson 12:00 – 17:00  (4-5) richman 17:00 – 22:00  (4-5) mondrich. Skema 3 (richman off) 07.00 – 12:00 (4-5) realrich 12:00 – 17:00  (4-5) mondrich 17:00 – 22:00  (4-5) winson. Skema 4 (winson off) 07.00 – 12:00 (4-5) realrich 12:00 – 17:00  (4-5) richman 17:00 – 22:00  (4-5) mondrich

Suster khusnul jam 07.00-19:00 Perawat Rivaldo jam 19:00 – 07.00. Perawat datang dalam kondisi sudah makan. Semua kebutuhan vitamin dsb bisa kordinasinsama realrich atau yudith buat perawat. Mom akan drop makan siang untuk suster. 

Kondisi off: 1.Koko winson / richman perlu cek toko ke luar jakarta, 2.Sakit dari salah satu, 3. Ada urgent di studio Realrich / Mondrich4. Rotasi skedul. Rotasi tetap kecuali ada item 1-3 kita backup lagi. Sabtu : Mondrich off Minggu : Winson off Senin : Realrich off Selasa : Richman Off Rabu : mondrich off Kamis : winson off Jumat : richman off. Note : Realrich bisa gantian sama Laurensia (Yudith) jd sementara gini dulu jd ada waktu istirahat.

Saya menganggap kordinasi seperti ini seperti menyusun program ruang di dalam arsitektur. ada SOP, protokol yang dilakukan dengan evaluasi terus menerus.

Fase – fase menjaga Dad ini berjalan intensif, saya belajar untuk fokus sisi keluarga besar, Mom, kakak2, dan adik saya, bahwa mereka perlu ditemani, dijaga. Di tahap ini saya merasa bahwa saya juga sudah tidak enak makan, seperti makan udara saja cukup. Waktu tidur, dan waktu bertemu Laurensia yang sejenak menjadi saat istirahat cuma 3 – 4 jam sebelum masuk ke rotasi skedul untuk menjaga Dad.

Sampai satu hari di hari minggu, Mom berjaga – jaga, ia kerap kali menangis. Ia bilang Dad mau pulang,

“apa kita ajak pulang saja ya.”

Saya meyakinkan rumahnya Dad disini bersama keluarganya di rumah atau di rumah sakit, kalau di rumah sakit akan lebih baik. Beliau lebih tenteram. Saya mengerti bahwa Mom sangat sedih waktu itu. Saya mengajak Mom dan Laurensia untuk berdoa. Kemudian kakak ipar pun datang, dan kami melakukan doa Rosario.

Setelah doa rosario selesai. Laurensia berbisik,

“Yang, itu tadi ada kelupaan doa koronkanya, aku mau doa dulu ya.” Kemudian setelah doa itu selesai, kami berdiri. Dan saya menelpon seluruh saudara, karena Dad sudah seperti tidak sadar. Setelah saudara berkumpul,

Kakinya dingin, nafasnya pun melambat. Dad pun pergi meninggalkan kami.

Satu demi satu tangisan pun muncul, dan tidak disadari air mata saya deras menetes, dan mengingat 3 bulan yang lalu, kehangatan yang muncul, pelukan, momen, kenangan membasahi dengan air mata.

Hati kami remuk diitinggal beliau, dengan menyadari bahwa kenangan yang terbentuk seakan – akan pecah.

Kita semua yang ditinggalkan adalah pribadi yang rapuh karena proses kehilangan seseorang yang kita cintai. Dari situlah ucapan bela sungkawa, bunga – bunga, dan tegur sapa menjadi sebuah proses indah yang menyatukan kami kembali dalam satu keluarga yang utuh untuk saling menjaga.

Di dalam perjalanan kita semua, setiap keluarga memiliki keindahan prosesnya masing – masing, dan kami hanya bisa berterima kasih dengan membalas doa yang sudah disampaikan melalui doa dan harapan sentuhan kehangatan untuk menemani perjalanan kita semua di dalam waktu terbatas. Sebuah proses yang indah sekaligus memanusiakan, dari debu kembali ke debu menuju Bapa di Surga.

.

Beberapa minggu kemudian, saya menelpon Roby salah satu komposer dari Yogya. “Rob ini ada 8 pergantian di dalam lagu yang kamu buat.” pada saat itu kami sedang membuat video dokumenter tentang RAW Architecture Studio Garasi. saya berkata. “4 bagian tentang Daughter, 4 bagian tentang Dad, sebuah proses kehidupan. Kelahiran, dewasa, menua, dan kehilangan, dan lahir kembali, sebuah Supernova yang diberikan mereka berdua, ledakan kasih yang tidak terhingga batasnya.

Renjana artinya di antara rindu dan cinta kasih, dari ayah untuk ayah. Sisi diri ini yang kehilangan Cheri dan ayah saya, menarik saya di antara dua dunia, dua generasi yang berbeda. Saya teringat akan figur Basudewa, ayah dari Kresna yang dikenal sebagai penjaga nilai – nilai kebaikan. Pesan ayah akan bagaimana menjaga tali silahturahmi antara yang muda dan tua akan saya teruskan di antara dua dunia, dua generasi. Air mata saya menetes ketika mengingat Dad dan Cheri.

I miss them all so much. Mereka hadir di sekitar kami, menemani jalan kami, di studio, di rumah, di perjalanan. Kehadiran mereka menjaga langkah – langkah kami untuk membantu sesama dan menciptakan surga bagi orang lain. Studio kami juga terus berkembang, masih kecil seperti sebelumnya, penuh dengan kawan – kawan yang terus berprogress bersama. Ayah saya adalah mentor abadi yang terus membimbing, ajarannya terus melekat sampai sekarang. Ajaran terutama beliau, adalah belajar dari orang yang lebih berpengalaman sembari membagikan pengalaman ke yang lebih muda sepenuh hati, sepenuh jiwa.


.
Barusan hari ini di akhir tahun 31 Desember 2022, saya berkesempatan bertemu kawan, mentor, sekaligus tempat berkaca-Pak Tan Tjiang Ay dan Pak Yuswadi Saliya. Dari om Tan saya belajar keseharian berpraktik yang realistis, optimal, dan detail. Dari Pak Yus kami belajar memahami perspektif yang lebih dalam dari permukaan. 

Tahun 2022 adalah waktu berdua – dua, sebuah saat untuk melekatkan diri dengan pasangan sejiwa. Tahun 2023 adalah tahun berkomunitas, tempat merajut impian bersama. Di depan kami terlihat berdua namun di belakang kamj, ada begitu banyak jiwa yang membantu, mendorong, mewujudkan impian untuk saling mensejahterakan.
.
Saya mendoakan kawan-kawan semua diberkati dengan kesehatan, impian, dan kawan seperjalanan yang bisa terus membuat kebahagiaan itu nyata setiap harinya. Terima kasih untuk 2022, selamat datang 2023 membuka keajaiban baru memberikan surga untuk banyak orang.

Selamat datang 2023, mari melangkah.

Guha, The Heart of The Family

Judul Lagu : Guha, The Heart of The Family, Karya : Roby Framelens

Chapter 1 : Our Daughter

Jantung hati kunantikan

Sewaktuku berdoa

Buah hati kurindukan

Sewaktuku berdoa

Satu doa kudengar detak itu degup nelangsa ku bahagia ku,

ketika kurasa tendangan kecilnya

menyentuh raga ku terharu

Satu saat kudengar detak itu degup nelangsa kubahagiaku,

ketika kurasa tendangan kecilnya

menyentuh sukma ku terharu

Reff :

Nak anakku berkembang dalam doa

Nak anakku berkembang dalam doa

ku anakku ku berkembang dalam asa

ku anakku ku berkembang jiwamu

Chapter 2 : Our Father

Prelude :

Dalam surga, ada bapa, ada pesan, ada doa, dalam surga ada tawa ada pesan ada doa.

Sakitmu kurasakan

dalam langkahku langkahmu, menjalani ragamu dan aku ku dirimu, bertemu surgamu surgaku.

Kategori
blog

Selamat Natal 2022

.

Kami sekeluarga mengucapkan Selamat Natal 2022 dan Tahun Baru 2023. Semoga berkat berlimpah untuk kita semua di dalam kedamaian dunia yang indah ini.
.
Semoga hidup lebih sehat dan bahagia, sukses juga untuk kita semua. Selamat liburan ya ^^
.
🙏🙏🙏❤️

Kategori
blog

Sunaryo dan Ronchamp Chapel 


.
Di Ronchamp Chapel karya Le Corbusier ada permainan cahaya dengan tampak menghadap utara selatan sehingga cahaya pagi didesain untuk menerangi altar utama. Sedangkan daerah selatan didesain untuk altar terbuka dengan bukaan-bukaan dengan pola besar kecil.

Kami tinggal di satu penginapan, salah satu keluarga donatur Ronchamp yang memiliki hotel di pinggir sungai yang bercabang ke sungai Le Rahin. Pada saat makan pagi bersama, ia berkata Ronchamp sendiri dibangun untuk membiayai ekonomi kota, bersama warga. Bentuknya yang tidak biasa terkadang membuat orang bertanya-tanya, bagaimana bisa karya seperti itu hadir di puncak bukit.

Bulan lalu saya bertemu Seniman Sunaryo di Selasar Paviliun, di pameran Le Corbusier. Saya menyapa beliau ketika melihat beliau duduk istirahat di rumput. Saya bertanya ke beliau “Apa itu arsitektur ?”

Menurut beliau bangunan dan seni adalah satu, tidak terpisahkan, itulah arsitektur lalu Ia bertanya pendapat saya “Apakah memang karya Le Corbusier yang di Ronchamp punya nilai yang baik?” Ia sendiri punya rasa penasaran terhadap pameran Le Corbusier di Selasar Paviliun.

Saya bertanya “Bagaimana cara untuk mengutuhkan arsitektur melalui seni?”. Pak Sunaryo menjelaskan bahwa penguasaan teknik menjadi langkah awal, kemudian disusul oleh pertanyaan untuk siapa kamu berkarya, yaitu untuk orang lain melalui dirimu sendiri.

Setiap karya arsitektur dari segi skala, memiliki tingkat kesulitan, pertimbangan, taktik eksekusi yang optimal dan efisiensi yang berbeda-beda. Yang menarik adalah bagaimana karya itu menggerakkan perekonomian kota dari masa waktu dibangun sampai setelah dibangun. Kerja tersebut pasti melelahkan. Hal itu berulang di dalam desain gereja Firminy dilanjutkan dari sketsa Corbusier. Oubrerie, asisten yang menemani Corbusier di dalam berkarya menjadi desainer dari gereja tersebut dengan banyaknya turunan teknik desain. Jadi energi beliau, berlanjut, merintis dan berkembang dari benih satu ke selanjutnya, beliau menjadi jembatan seperti Pak Sunaryo dengan program selasarnya yang menjadi jembatan untuk seniman muda berpameran.
.
Jembatan kasih untuk tahun 2023, pas :p

#RAWinspirasi
.

Kategori
blog

Variant of Free Curves 


.
Chimney House is one of RAW Architecture’s works in Tangerang. The design proposes free-curve variants to respond to lights, air movement, views, and programs. The design makes use of natural lighting through skylights above the stairs, corridors, and bathrooms. Opening and skylight in the center of the building are a response to getting enough natural light and allowing air movement.
.
The open plan concept that combines outdoor and indoor spaces provides a limitless space experience and maximizes space quality. The transparent room provides unlimited views and panoramas that can be enjoyed while relaxing inside the house.
.
#RAW99%finished #Chimneyhouse#house#bioclimatic#architecturedetails#details#architecture#architectureproject#realricharchitectureworkshop#realrichsjarief#archdaily#archistudent#architect#architecture#dezeen#indonesia#indonesianarchitecture#brikolase#dotworkshop

Kategori
blog

Bioclimatic Tube House 


.
One of the RAW Architecture #RAW99%finished. It’s a 3-story house with a compact, technological design with solar panel integration and a north-south opening.

The layout is separated by 3 simple grids. The shape is like a tube with a bridge in the middle – the result of efforts to incorporate air and light into the bedroom and living room.
.
@realricharchitectureworkshop
.

Rendering by @enomuvisual

.
#RAW99%finished #Rumahtabung#henderafanihouse#house#Banten#details#bioclimatic#architecture#architecturedetails#architectureproject#realricharchitectureworkshop#dezeen#archdaily#arsitekturindonesia

Kategori
Team - Librarian and Researcher Team - Tier 5

Wahyu Prasetyo

Associate Researcher, Librarian, and Curator

Affiliation Universitas Negeri Sebelas Maret

Kategori
Team - Designer Team - Tier 5

Janice Elvina Williem

Associate Designer

Affiliation University of Melbourne

Kategori
Team - Reflection Letter

Devi Angraini – Universitas Multimedia Nusantara

Hello, I’m Devi, a 7th-semester architecture student from Multimedia Nusantara University, Tangerang. Just being a student and hearing my lecturers talk about working in architecture makes me wonder what it feels like to be in a real architecture field and what would be different from what I got at university. That is why, during my inter-semester break, I decided to apply for an internship at several architectural bureaus and RAW is one of them. RAW’s projects shown by Kak Rich in my several campus webinars amazed me with how the projects are different from others. It made me want to analyze and learn more about that in some of my assignments and become the reason why I chose RAW as my intern office.

But the thing is, I have no clue at all about the culture and how the people work in RAW since my seniors on campus never do internships or work there. So I asked Kak Gaby who is a former intern at RAW about that, looked for the information on Guha The Guild’s Instagram which showed that Kak Rich usually gathers the team and talks not just about architecture but also about life which interests me, and hoped it will be “The best office in the world”, just like what they say.

On the first day of entering Guha, I already know that I can learn a lot here just by looking at the unique doors it has. Then after meeting the team and starting to work here, I am more than convinced that this is indeed the best office in the world. The people here are so warm, humble, willing to share their knowledge about everything, and also patient when teaching us. I learn a lot about architecture in depth by understanding details that I didn’t get much before, communicating with a team, learning new architecture software which I’ve never used before, and making a design from scratch than making it real. Not only about architecture, but I also learned about a lot of aspects of life such as friendship, relationships, work, education, and many more by hearing people’s various interesting and funny stories. By this, for me, Guha feels like a second home where you can get the warmth from the people and get every information you need to face the wild world out there.

Four months here feels not enough to gain and learn all the knowledge that RAW’s team and the project have but I’m really grateful for having a chance to do an internship here, thank you to Kak Rich. I also want to thank Kak Rich for sharing many insights about architecture and advice on how to become a better person in every meeting, being humble, and appreciating every little thing. Thank you to all the team, Kak Pandu, Kak Riyan, Kak Timbul, Kak Tyo, Kak Al, Kak Rico, Kak Alim, Kak Haykal, Kak Gaby, Kak Putra, Kak Melisa, Kak Khafyd, Kak Kirana, Kak Audy, Kak Vyan, Kak Fina, Kak Sofi, Ci Mei, and Evan for every knowledge, stories, and time that you share with me. Also thank you to my intern friends, Manuel, Nanda, Damas, Zyadi, Ryan, Akmal, Janice, Jessica, Reji, Zikri, and Reva for accompanying me during my internship. It is such a blessing to get to know amazing people like you. I hope the best to RAW and every one of you in every journey of your life. I hope we can meet or work again together in the future.

Kategori
Team - Administration Team - Tier 5

Fransisca matanari

Associate Finance

Affiliation STMIK Triguna Dharma Medan

Kategori
Team - Designer Team - Tier 5

Evanjelicel Tamio Dimpudus

Associate Designer

Affiliation Universitas Pelita Harapan

Kategori
Team - Administration Team - Tier 5

Aviliana Puspita Dewi

Associate Finance

Affiliation SMK N 2 Pengasih Yogyakarta

Kategori
Team - Librarian and Researcher Team - Tier 5

Arlyn Keizia

Associate Researcher, Librarian, and Curator

Affiliation Universitas Agung Podomoro

Kategori
Team - Designer Team - Tier 5

Audy kiranaputri ramadewa

Associate Designer

Affiliation Universitas Diponegoro

Kategori
Team - Librarian and Researcher Team - Tier 5

Aryo Phramudhito

Associate Researcher, Librarian, and Curator

Affiliation Institut Seni Indonesia Denpasar

Kategori
Team - Librarian and Researcher Team - Tier 5

Maylani Tiosari

Associate Researcher, Librarian, and Curator

Affiliation Master : Institut Teknologi Bandung, Bachelor : Universitas Trisaksti

Kategori
blog

Poetic Space In Three-Generation Home 

.
New project ongoing at Bukit Golf BSD #RAWongoing. We design houses for three-generation families. The shapes of walls form the views of the golf course in South Jakarta and create airflow, natural lights, water catchment, and a series of landscapes that define bioclimatic architecture.
.
@realricharchitectureworkshop
.
#RAWongoing #RAWprogress #Wangkarhouse #bukitgolf #house #details #bioclimatic #architecture #architecturedetails #architectureproject #workingonprogress

Kategori
blog

Taman Hutan Raya Bandung 

Taman Hutan Raya
.
Kemarin kami berkunjung ke Taman Hutan Raya. Lokasi Tahura yang tidak jauh dari pusat kota dan berdekatan dengan @Piyandeling membuatnya mudah diakses, di dalamnya ada Gua Belanda, Gua Jepang, kandang kelinci. Setiap ke Bandung kami biasa berangkat jam 4 pagi, dan pulang lagi keesokan harinya, saya sendiri mengontrol kerja tim kami di Bandung jam 7-8 di Bandung sebelum bersiap – siap menemani Laurensia dan anak – anak. Dulu waktu saya sekolah di Bandung, kadang – kadang saya naik ke atas ke Tahura di tengah – tengah kesibukan untuk sekedar duduk – duduk di bawah pohon.
.
Di Tahura, kami menghabiskan waktu dengan hal – hal yang sederhana seperti berjalan di tengah – tengah pepohonan, makan jagung, pisang, kelapa, ketan, bertegur sapa dengan pengunjung lain.
.
Miracle terus bertanya ke pengunjung yang lain, “mas / mbak dimana gua Belandanya ?” Dijawab “Masih jauh satu belokan lagi.” Begitupun berulang – ulang, sampai akhirnya sampai.
.
Akhirnya kami sampai ke Gua Belanda, menemui guide dan dijelaskan banyak hal tentang sejarah gua tersebut, jalur logistik, cara konstruksi gua. Saya yakin guide ini sudah menjelaskan hal yang serupa ribuan kali sampai ia berbicara sedemikian fasihnya.
.
Begitupun juga keseharian, terus berulang mulain dari pertanyaan dan perjalanan untuk mencari jawaban, sebuah proses untuk mencari kefasihan.
.
Have a nice weekend all ❤️

Kategori
blog

Arsitektur Regionalisme yang Reflektif 

Kampono House

Hari jum’at saya diundang di event tahunan @titiktemu_2022 program studio arsitektur Universitas Muhammadiyah Banjarmasin. Tema dari seminar ini adalah “Arsitektur kini”.

Kami merefleksikan tema tersebut bahwa diantara arsitektur kini ada arsitektur dulu dan nanti. Arsitektur kini berkiatan dengan hal-hal mendasar yang menjadi kebutuhan manusia, seperti air, cahaya, dan udara.

Tantangannya adalah bagaimana kebutuhan dasar tersebut terintegrasi kedalam faktor-faktor yang mempengaruhi arsitektur masa kini, seperti sinergi dengan kondisi alam yang berubah-ubah, kondisi ekonomi yang fluktuatif, dan space yang semakin terbatas. Ketiga hal tersebut menjadi faktor yang membedakan cara hidup seseorang yang pada akhirnya akan mendasari pendekatan desain yang diambil oleh arsitek dan klien menuju masa depan atau arsitektur nanti.

Karena faktor tersebut desain bangunan memiliki jiwa yang bisa dikembangkan dari waktu kewaktu, terus berubah sehingga menjadi bahan refleksi nilai-nilai kehidupan. Dari sana muncullah judul seminar ini “Arsitektur Regionalisme yang Reflektif”.

Di tingkatan selanjutnya, pertanyaan lanjutan muncul tentang dari mana datangnya keunikan di dalam arsitektur. Apakah dari kebiasaan mendesain, tren, fantasi dan imajinasi?. Apa saja hal yang memantik keunikan dibalik ruang yang juga di bayangi fungsi yang harus diperhatikan? Ada stimulus proyek-proyek tertentu yang memiliki pendekatan yang khas.

Seperti di dalam foto ini, Kampono House. Di dalam proses iterasi desain yang terjadi bisa membuat hal yang tidak terduga menjadi kenyataan. Dimulai dari hal sederhana, orientasi terhadap matahari dan pohon existing, penempatan skylight pinggir dan tengah. Beberapa material yang memiliki volume besar seperti beton, bata, dan acian kami gunakan karena mudah didapatkan, tidak mahal, dan memiliki ketahanan. Permainan bentuk, seperti bidang lengkung di ujung untuk membingkai pandangan sekaligus menangkap cahaya dan angin.

Architect: @realricharchitectureworkshop
Photograph: @eric dinardi
Thank you @mirzakampono @adhistykampono

RAW99%finished #Dancerhouse #Kamponohouse #house #bioclimatic #architecture #architectureproject #realrichsjarief #arsitek

Kategori
blog

Lumintu House 

New project ongoing at Pantai Indah Kapuk, North Jakarta. #RAWongoing . We designs bioclimatic architecture by study on how industrial and handcrafted details can collaborate to break through the details of normal architectural stereotypes.
.
@realricharchitectureworkshop
.
#RAWprogress #PIK #Lumintuhouse #house #details #bioclimatic #architecture #architecturedetails #architectureproject #workingonprogress

Kategori
blog

Sarang Nest House is published in @archdaily 

It’s a huge achievement for our team, Sarang Nest House is published in @archdaily . Thank you @henry_yen , and all of the people involved in RAW Architecture | @realricharchitectureworkshop , captured by @ericdinardi
.
Located in a residential area, Taman Buana Permata house complex, West Jakarta. With an area of 250 sqm, Sarang Nest House consists of 2 generations of families living together, this underlies a centralized circulation and creates a micro-environment through a spatial arrangement with different angles. This angle creates distance between the perimeter of the house and the neighbors thereby allowing air to flow freely around the building while maintaining privacy between spaces. Each room has its own outdoor space. Light enters the room through perforated walls, crevices, windows, and skylights. The shape of this house is tilted to make it more efficient as well as a response from the corner of the building.
.
Further Credit:
.
Clients: Henry Kusuma Family
Lead Architects: Realrich Sjarief
Design and Project Team: Realrich Sjarief, Agustin, Erick Fei, Riswanda Setyo, Tirta Budiman, Septrio Effendi, Miftahuddin Nurdayat, Regi Kusnadi
Supervisor In Charge: Singgih Suryanto, Sudjatmiko, Muhammad Enoh, Eddy Bahtiar, Endang Syamsudin
Construction Manager: Singgih Suryanto, Agustin
Structure Engineer: John Djuhaedi, Singgih Suryanto
Mechanical And Electrical Engineer: Hamin MEP
Master Craftsmen: Tata Pirmansyah, Aep, Aep Syapuloh, Nari , Solehudin Grandong, Syaipuddin, Dicky, Bonari, Tohirin, Nur Hidayat, Rudi Setiawan
Interior + stylist: Cindy Sumawan + team
Management: Laurensia Yudith, Reffi Nurkusuma, Nurul
Plan, Illustration Team: Lu’luil Ma’nun, Andriyansyah Muhammad Ramadhan, Satria A. Permana, Agustin, Riswanda Setyo Addino
Photo Credits: Eric Dinardi
Videographer: Muhammad Farhan Nashrullah
.
#rawarchitecturepublication
.
#Sarangnesthouse#ArchDaily#realrichsjarief#realricharchitectureworkshop#arsitekturindonesia#house#residential

Kategori
projects

Project 19 – Sarang Nest House

Located in a residential area, Taman Buana Permata house complex, West Jakarta. With an area of 250 sqm, Sarang Nest House consists of 2 generations of families living together, this underlies a centralized circulation and creates a micro-environment through a spatial arrangement with different angles. This angle creates distance between the perimeter of the house and the neighbors thereby allowing air to flow freely around the building while maintaining privacy between spaces. Each room has its own outdoor space. Light enters the room through perforated walls, crevices, windows, and skylights. The shape of this house is tilted to make it more efficient as well as a response from the corner of the building.
.


Text description provided by the architects. Located in a residential area, Taman Buana Permata house complex, Sarang Nest House design redefines house stereotypes and grew organically from the base to becoming, as a reaction to its environmental constraints. Sitting at the hook of the street, the building is facing west and south. The storeys are stacked in angles with protruded spaces enclosed by perforated wall to buffer the heat, either with traditional red bricks or metal screen that gives industrial look in contrast.
.

Imaginr-Bacteria
Imaginr-Bacteria

The house has four storeys. 250sqm of the ground floor is for the parking area and service quarter where the floor area is partially occupied. One-third of the area is filled with soil to provide setback for the building and serves as a garden for the area on the first floor. Perforated service stair at the corner accessing whole floors and still allowing light to get into the space. While the main staircase with an active fan circulates the air through the skylight. Living dining in 80sqm open plan space and guest area on the first floor are spoiled by a garden and the roof deck which turns into outdoor space.

.

Imaginr-Bacteria
Imaginr-Bacteria
Imaginr-Bacteria

Strategi kedua adalah memanfaatkan lengkungan bata yang artistik dan fungsional sehingga terbentuklah vista pertama memasuki ruang lobby dimana klien bisa menempatkan, mengkurasi pameran dalam bentuk desain yang ergonomis. Display pameran ini menarik karena bisa direpetisi di dalam sistem dry panel dengan motif semen yang terintegrasi.A 3sqm indoor garden in the center keeps the core connecting the upper storeys and serves as a void for light and air. On perimeter walls, a hint of views from across the house is still visible to see through the gaps between bricks. Going up to the second floor, the space is dedicated mainly to a 40 sqm master bedroom, 21 sqm bedrooms, and a playroom. The perimeter is mostly enclosed by a combination of solid walls and perforated metal screens to keep it private. Yet the most enclosed area like a bathroom is washed by light through skylights.

Imaginr-Bacteria
Imaginr-Bacteria
Imaginr-Bacteria

The third floor is the top floor. Dominated by open space, 48sqm of a barbeque area, and an enclosed meditation room sit-like pavilion where a 20sqm laundry area is separated by the main stairs. Within the dense residential area, Sarang finds its way to creating a micro-environment by setting up the space in angles. These angles create distance between the house’s outer wall and the neighbors’ which allows air circulation to move freely around the house perimeter, yet it also maintains privacy between rooms. Every room gets its own private outdoor space. Light penetrates the space through perforated walls, gaps, windows, and skylights. Playing out from the grid, the architecture captures the organic and dynamic flow of basic reactions toward nature and the site constraints.
.

Further Credit:
.
Clients: Henry Kusuma Family
Lead Architects: Realrich Sjarief
Design and Project Team: Realrich Sjarief, Agustin, Erick Fei, Riswanda Setyo, Tirta Budiman, Septrio Effendi, Miftahuddin Nurdayat, Regi Kusnadi
Supervisor In Charge: Singgih Suryanto, Sudjatmiko, Muhammad Enoh, Eddy Bahtiar, Endang Syamsudin
Construction Manager: Singgih Suryanto, Agustin
Structure Engineer: John Djuhaedi, Singgih Suryanto
Mechanical And Electrical Engineer: Hamin MEP
Master Craftsmen: Tata Pirmansyah, Aep, Aep Syapuloh, Nari , Solehudin Grandong, Syaipuddin, Dicky, Bonari, Tohirin, Nur Hidayat, Rudi Setiawan
Interior + stylist: Cindy Sumawan
Management: Laurensia Yudith, Reffi Nurkusuma, Nurul
Plan, Illustration Team: Lu’luil Ma’nun, Andriyansyah Muhammad Ramadhan, Satria A. Permana, Agustin, Riswanda Setyo Addino
Curatorial and Writing team: Andhika Annisa, Lu’luil Ma’nun, Aryo Phramudhito, Maylani Tiosari
Photo Credits: Eric Dinardi
Videographer: Muhammad Farhan Nashrullah
.

#rawarchitecturepublication

#Sarangnesthouse #ArchDaily #realrichsjarief #realricharchitectureworkshop #arsitekturindonesia #house #residential

.

Kategori
Projects Collective Cave

Collective Cave 12 – Kofuse Coffee + Dine

Kofuse adalah kafe yang didesain berdasarkan renovasi terhadap struktur bangunan lama. Kami menggunakan garis – garis lengkung yang natural dan dinamis untuk desainnya dengan material bata yang digosok cat putih, beton yang digosok dengan kombinasi batu dan kayu. Kofuse memiliki nuansa seperti suasana museum, galeri yang lebih bersahaja, cantik dari dalam dan artistik.

Kategori
Project Bioclimatic House

Bioclimatic Home 13 – Condet Home

Rumah ini ada di daerah Condet yang hijau dengan selokan dan dinding pagar yang membatasi di sisi depan. Untuk masuk ke rumah   terdapat jembatan yang melintasi selokan besar selebar 1.5 m.

Orientasi bangunan menghadap utara selatan untuk mereduksi panas matahari dan didesain untuk memudahkan sirkulasi udara silang dengan bukaan jendela dan pintu. Lorong udara vertikal diletakkan di daerah kamar tidur, tangga  dan ruang serba guna yang diperhitungkan dengan kompromi terhadap ketebalan massa bangunan.Ruang – ruang servis dan Kamar mandi didesain dengan bukaan yang langsung terhubung dengan sisi luar bangunan.

Rumah ini didesain dengan orientasi ke taman melihat ke daerah kolam renang di belakang dimana ada pembagian akses privasi sehingga dinding bata yang disusun – susun didesain untuk membagi sisi dalam dan luar.

Sisi depan tampak bangunan didesain dengan menggunakan bata yang diekspose dengan lubang – lubang untuk  menangkal cahaya matahari sekaligus memberikan provasi, dan sisi belakang didesain dengan suasanya yang transaparan, yang pintunya didesain dengan fleksibel sehinga setiap hari penghuni merasa terhubung dengan pepohonan, tanah, dan air di  luar bangunan.

Kategori
Projects Collective Cave

Collective Cave 11 – Transjakarta BRT Prototipe

Trans Jakarta adalah penyedia Bus Rapid Transportation System di Jakarta. Perusahaan ingin meningkatkan kualitas stasiun. Prototipe desain ini didesain dengan merespon terhadap fungsional program, iklim tropis, dan kemudahan perawatan.

Desainnya menyediakan sistem modular yang terbuka, mampu menampung curah hujan dengan desain kanopi dan balustrade. Fasilitas tersebut meliputi mushola, toilet, dan toko mini untuk beberapa prototipe. Desain dikembangkan dimulai dari 3 buah prototipe yang akan diadopsi ke dalam 87 tempat di penjuru Jakarta.

Kategori
Projects Collective Cave

Collective Cave 10 – Prototipe Ciputra House

Sudah dari sejak 2010 kami mengembangkan beberapa prototipe untuk rumah – rumah yang dikembangkan oleh Ciputra. Beberapa prototipe sudah dikembangkan lagi ke dalam versi – versi selanjutnya. Ada beberapa kriteria yang kami kembangkan yaitu, pengolahan ruang yang optimal, komposisi bentuk yang estetis dan fungsional, sekaligus dialog intensif dengan pihak developer terkait material yang mungkin dan praktis untuk digunakan di dalam proyek.

Pengembangan rumah – rumah ini berbasis pada rumah 1 lantai, rumah 1 lantai dengan mezanine, rumah 2 lantai, rumah 2 lantai dengan double height void, ataupun rumah 3 lantai.

Kategori
Project Bioclimatic House

Bioclimatic Home 12 – Tanjung Duren Cave House

Proyek ini berbasis pada renovasi rumah 2 lantai. Kebutuhannya adalah 3 buah kamar di lantai atas dan 1 kamar yang merangkap ruang kerja. Sisi barat ditutup oleh teritisan atap yang lebar dan sisi selatan dibuka dengan sisi sependek mungkin sebagai peneduh dari ruang keluarga di lantai dasar.

Balok dan kolom struktur dipertahankan dengan perbaikan atap dan pemanfaatan ruang miring yang terbentuk oleh atap. Setiap ruangan mendapatkan cahaya langsung termasuk toilet dan kamar tidur. Bahasa bentuk yang digunakan adalah bentuk lengkung hasil dari eksplorasi pengalaman ruang terhadap ruang – ruang kecil dan terbatas.

Kategori
Projects Collective Cave

Collective Cave 09 – Prototipe Autobacs Indonesia

Autobacs mengembangkan prototipe bengkel dan merchandise store pertama di Indonesia. Sebagai contoh dibentuklah 3 tipe prototipe yang akan dikembangkan di kota – kota di Jawa. Ada dua buah pendekatan desain yang dilakukan, yang pertama menawarkan sebuah benang merah yang aerodinamis yang menyumbangkan desain untuk Autobacs Jepang, dan yang kedua, desain mengkontekstualisasikan dengan iklim tropis dengan kanopi untuk mencegah tampias hujan dengan tidak mengurangi pandangan orang yang ingin berkunjung ke jasa Autobacs.

Desain di belakang ditujukan untuk area servis dan bengkel dengan standarisasi dongkrak dan sirkulasi yang bisa dilihat pengunjung ketika mobilnya di reparasi.

Kategori
Projects Collective Cave

Collective Cave 08 – Indomobil Container Showroom Prototype

Proyek ini merupakan prototipe pertama dari Indomobil untuk proyek yang menggunakan kontainer untuk pengganti beban vertikal. Daerah ruang pamer mobil menggunakan bentangan cremona dengan lebar 14 m. Kontainernya menggunakan tipe high cube yang lebih tinggi. Dari solusi ini didapatkan ruang pamer yang tinggi yang berfungsi sebagai lobby.

Daerah di belakang yang lebih memungkinkan bentang pendek menggunakan rangka besi. Desain prototipe ini digunakan untuk showroom Indomobil lainnya seperti Nissan, KIA, sampai beberapa brand lainnya di bawah Indomobil.

Kategori
Project Bioclimatic House

Bioclimatic Home 06 – Dancer Kampono House

Setiap beberapa bulan sekali pasti ada kalanya kami (saya dan Laurensia) menghabiskan waktu bersama Mirza dan Adhisty. Lingkaran pertemanan kami tadinya saya pikir tidak beririsan dan ternyata sangat beririsan, terkadang ada saja teman atau klien kami yang saling kenal.

.

Dua orang ini unik, karena apa yang kita bicarakan biasa berkutat akan kehidupan sehari – hari, keluarga, pekerjaan, sampai karya arsitektur yang termuktahir yang sedang kami kerjakan.

.

Satu saat mereka bercerita, bahwa rumah Kampono menghadap ke kiblat. Saya sendiri pernah menulis sebuah postingan tentang tangan yang berdoa. Doa yang menghadap sisi barat memberikan keteduhan, dan kepercayaan akan niat untuk berbuat baik. Di balik itu memang fasade kaca di rumah ini serta merta dihadapkan ke arah barat sisi terpanas yang juga membingkai pohon eksisting di sisi tersebut, hasilnya adalah bayangan-bayangan yang hadir mewarnai ruang keluarga memberikan ruang yang sinematik menuju sore hari.

.

Saya menulis kalimat tentang simbolisme disini , “bentuk – bentuk lengkung tersebut secara sadar membentuk symbol jari yang menapak bumi, yang menyiratkan bentuk doa di dalam konsep tangan yang sedang berdoa di dalam tarian. Di dalam proses desain iterasi bentuk lengkung banyak sekali dicoba dan digunakan dari bentuk yang liar sampai bentuk yang tidak lebih – tidak kurang dengan takaran yang pas.

.

Permainan bentuk ini dimulai dari proses pengolahan bentuk partii (susunan organisasi sub-massa) yang jelas dahulu, dan

kemudian tiap- tiap massa tersebut di acak dan disusun ulang menurut dasar kriteria seperti : proporsi ruang, arah pandangan, dan kemungkinan – kemungkinan ruang yang tidak

terduga yang terbentuk. Proses in berlanjut dengan kuantitas pilihan yang banyak, sampai terbentuk komposisi yang optimal.

.

Pendekatan ini dibahas Antoniades dan Jean Labatut di dalam pendekatan yang desain inklusif dan bagaimana perspektif yang berbeda, aktor yang berbeda berpengaruh di dalam sebuah alam kreatifitas yang membentuk kenyamanan penghuni.

.

Membentuk lengkungan adalah pemberontakan terhadap keseragaman, dan bentuk yang itu – itu saja, mendekati alam dan juga pertanda akan pemberontakan terhadap rasionalitas melalui intuisi dan percobaan desain. Di dalam

kasus ini pemberontakan dijadikan alasan untuk membuka sisi terentan di iklim tropis, dimana melalui desain justru penghuni bisa mendapatkan kenyamanan sekaligus, pandangan, bayang – bayang, sinar matahari, udara segar, dan semuanya adalah seni untuk perlawanan terhadap diri sendiri.

Di dalam alam seni hal tersebut menjadi sebuah pernyataan akan visi misi, bahwa klien percaya pada eksplorasi sang arsitek. Sebuah perjalanan seumur hidup.

Kategori
Project Bioclimatic House

Bioclimatic Home 05 – Puri Wirawan House

Yang menarik di rumah ini adalah teknik Memecah massa menjadi 3 bagian yang berbeda, dengan tidak menempel pada dinding samping. Diluar seluruh teknik aristektural, rumah ini juga menjadi representasi budaya toleransi yang terdapat di dalam rumah Indonesia, beberapa generasi yang bisa tinggal bersama di dalam satu rumah. Hal ini ditandai dengan pengelompokan ruang tidur dengan kamar mandi dalam dan memiliki break out spaces di koridor dan ruang keluarga yang bisa menampung lebih dari 20 orang di dalam program ruang.

Om Frans adalah orang yang saya temui setiap kali membahas rumah ini, dari dia kami banyak berdiskusi berdua mengenai pembiayaan, materialitas, kehidupan dan mimpinya untuk keluarga besarnya. Di dalam diskusi ia juga kerap mengajak anggota keluarganya dan menyebutkan referensi-referensi yang dimilikinya. Ia berdiskusi dengan santai, dan melakukan observasi dengan cermat, ia mampu membaca situasi melalui tabel – tabel komparasi meskipun ia tidak memiliki latar belakang ilmu bangunan, ia mendengarkan dan mau menerima banyak hal baru.

.

Di dalam perjalanan mendesain rumah tersebut, saya belajar bahwa masalah data, pembiayaan, skedule, dan menjaga hubungan dengan keluarga menjadi sangat penting untuk membuat sebuah karya yang kolaboratif dan iteratif.

.

Di masa- masa terakhirnya om Frans masih sempat membahas mimpi2nya tentang anaknya. Di dalam rasa sakit yang terus menerpanya, ia masih perhatian pada keluarganya. Begitupun ayah saya sedang sakit sekarang, dan situasi di dalam keluarga tidak mudah, tekanan muncul atas bawah kiri kanan, kami secara keluarga harus kuat. Maju kena mundur kena, dari masalah tulang, parkinson, saluran makan, dan saluran nafas. Dad, masih saja bisa mengelus kepala kami.

.

Dari situlah peran keluarga di dalam program arsitektural menjadi penting, mengolah kedekatan supaya kuat menjalani hidup bersama – sama, dari kelahiran, proses menjadi dewasa, dan tua dengan tetap menjalani yang berkualitas. Postingsn instagram bukanlah hanya sebuah puja puji saja tetapi sebuah sarana melakukan kebaikan. Di dalam sebuah karya yang kadang terlihat megah ada cerita yang dalam mengenai kehidupan. That is our mission in this crazy digital world.

Kategori
Project Bioclimatic House

Bioclimatic Home 11 – Gading Tower Home

Proyek rumah Gading terletak di Jalan Gading Indah di Daerah utara Jakarta. Lokasi ini adalah daerah yang memiliki kompleksitasnya problematikanya tersendiri. Dimulai dari seringnya permasalahan banjir muncul. Hal ini diantisipasi kompleks dengan membuat dam dan pintu air. Daerah ini juga dapat dilihat seperti ‘kampung kota’. Beberapa lot yang terletak pada daerah ini merupakan lot-lot kecil berukuran kurang lebih 6 x 15 meter, sekitar 90 meter persegi.

Begitu kami mendesain, pertanyaannya adalah bagaimana mendesain sebuah rumah yang dapat memenuhi kebutuhan program klien kami #rumahandrewmonica— dimana secara keluarga mereka sudah jauh berkembang dan menginginkan program yang besar—tetapi masih bisa mendapatkan penghawaan yang baik, pencahayaan alami yang baik, dan ruang-ruang yang fleksibel agar dapat digunakan untuk 20′- 30 tahun bahkan lebih. Tentunya disesuaikan dengan budget dan estetika yang didiskusikan bersama.

Dari pertanyaan – pertanyaan tersebut, proses desain dimulai dengan mengkelompokkan bagian – bagian yang esensial dan membuat ruang bebas kolom. Tangga diletakkan pada sisi memipih untuk mendapatkan ruangan seluas mungkin. Lubang-lubang cahaya kecil didesain pada sekeliling bangunan agar juga dapat memberikan sebuah batas antara bangunan tetangga dan bangunan utama. Orientasinya yang menghadap ke selatan-utara, memberikan kesempatan untuk fasad untuk dapat dibuka selebar mungkin, dengan tetap mempertimbangkan privasi untuk pengguna dan eco friendly.

Hasilnya adalah komposisi rumah yang pipih dan tinggi yang adaptif di atas lahan terbatas di Gading Indah sembari memperhitungkan konsep Zero water runoff yang bisa berkontribusi untuk Jakarta tercinta.

Kategori
Projects Collective Cave

Collective Cave 07 – Otten Coffee Experience Bandung

Otten Coffee Bandung ada di atas lahan yang bekas kantor asuransi. Tantangannya adalah bagaimana memberikan desain yang menarik sekaligus memberikan nafas identitas yang baru untuk Otten Coffee.

Desain dimulai dengan memperhitungkan mana yang bisa dipakai dan mana yang tidak bisa dipakai di dalam bangunan yang lama. Kami mengidentifikasi bahwa kolom struktur, balok, dan plat beton dalam kondisi yang baik. Desain kemudian difokuskan kepada pengalaman ruang dari customer dari awal melihat dari street scape Pasir Kaliki melihat ke arah dalam. Kami membuat kombinasi material batu bata, bentuk lengkung, beton, besi, dan batu alam, juga material kayu sebagai aksen arsitektur yang membuat orang tertarik memasuk bangunan. Di dalam bangunan ruang – ruang didesain dengan 3 area skylight utama skylight untuk memberikan pencahayaan tidak langsung.

Skala ruang dimainkan dengan pemanfaatan ruang dengan ceiling pendek, tinggi, dan double height foyer. Skala ini digabungkan dengan permainan material anyaman bambu, beton, yang merupakan kombinasi material tradisional dan industri.

Dinding – dinding dibuat dari panel – panel yang mudah dikonstruksi dan tidak memiliki biaya tinggi dengan lampu dan rak pajang yang terintergrasi. rak pajang didesain berundak – undak untuk memanfaatkan jarak pandang customer begitu memasuki ruangan sehingga bisa memantik Otten Experience yang unik dan baru.

Kategori
Projects Collective Cave

Collective Cave 06 – Otten Coffee Headquarter Jakarta

Otten Coffee membutuhkan sebuah desain yang bisa mengakomodasi retail store sekaligus gudang, dan tempat mengujicobakan startup coffee store sekaligus berfungsi sebagai ruang kerja Otten Coffee. Di dalam retail store, diletakkan meja coffee bar untuk mencoba mesin sekaligus menikmati kopi.

Gudang diletakkan di lantai basement, Retail store di lantai 1 , ruang eksperimen startup di lantai 2 dan lantai 3 digunakan untuk ruang kantor. Pencahayaan natural diambil dari sisi depan dan belakang, Proyek ini adalah proyek renovasi dengan menggunakan struktur bangunan keseluruhan dengan mengekspos langit – langit.

Material, rak pajang, furniture seperti meja dan undakan, dan detail arsitektur lainnya didesain mudah untuk dikonstruksi dengan cepat dan affordable sekaligus diekspos untuk memberikan kesan industrial yang menjadi cirikhas otten, suasana pabrik kopi.

Kategori
Projects Collective Cave

Collective Cave 05 – Fore Coffee Plaza Indonesia

Kami mendesain sebuah booth kecil yang menjadi cikal bakal Fore Coffee, sebuah retail pertama dan dibuka di Plaza Indonesia. Saya cukup berbangga karena hal – hal yang detail bisa dieksekusi di ruang yang terbatas berukuran 15 m2. Booth kecil ini memperhatikan pandangan orang dari pintu masuk, koridor samping, sehingga desain bisa terlihat dari berbagai macam sisi dengan optimal.

Backdrop dibentuk dari modul pohon yang dipadukan dengan logo fore, dengan latar depan mesin kopi yang terintegrasi dengan flow cara bekerja mempersiapkan kopi di lahan yang terbatas. Modul pohon tersebut diapit oleh modul – modul panel translucent yang berpendar memberikan kesan futuristik yang terintegrasi dengan logo fore. Proyek ini selesai dengan baik dan memberikan titik awal dari terbentuknya chain coffee store fore yang lain.

Kategori
Projects Collective Cave

Collective Cave 04 – Fore Coffee Prototipe

Desain Fore Coffee ini benang merah seperti warna putih, bentuk yang futuristik, dan lansekap. Di dalam arsitekturnya Fore berarti Forest Scape, sebuah konsep experience yang menjadi oase dari sibuknya keseharian bekerja, ataupun mengisi waktu jeda di tengah kesibukan yang ada.

Desainnya sederhana, dan memiliki tarikan garis yang tegas dengan bentuk – bentuk yang natural. Kami mengelaborasi beberapa cara flow pergerakan mempersiapkan kopi, gudang, sampai bagaimana pengunjung menikmati ruang – ruang yang ada. Konsepsi Forest Scape ini dielaborasi kedalam skala – skala yang berbeda – beda ada yang booth sederhana ukuran 3 x 3 – 6 x 6 – 50 sqm – 100 sqm – 250 sqm, dengan pengalaman ruang yang berbeda – beda.

Kategori
Projects Collective Cave

Collective Cave 03 – PKBM Headquarter