Kategori
blog

70 Tahun Pendidikan Arsitektur Indonesia – Suara dari Jiwa – Jiwa yang Tidak Kenal Lelah

Saya mengawali judul materi kali ini dengan sebuah judul “Melihat 70 tahun pendidikan arsitektur di Indonesia Suara dari jiwa – jiwa yang tidak kenal lelah.”Saya lulus di tahun 2005, mulai masuk ITB di tahun 2000. Pada waktu saya belajar arsitektur di tingkat dua, saya ingat oleh pak Eko Purwono diajak untuk mensketsa bangunan yang didesain oleh Henri Maclaine Pont, ada perasaan berbeda, yaitu penggunaan materialnya lokal, konstruksinya yang jujur, dan ada rekayasa teknik untuk mengaktualisasikan bentuk bentang lebar. Dari situ saya mulai jatuh cinta dengan arsitektur dan tidak pernah berpikir berhenti memikirkan arsitektur satu hari pun. Pertemuan dengan pak Eko Purwono dan Henri Maclaine Pont menjadi penting.

.
Pertemuan saya kemudian dengan Pak Baskoro Tedjo, Pak Ridwan Kamil dan dosen – dosen lain di tingkat setelahnya menjanjikan sebuah lompatan selanjutnya, saya ingat, beliau berkata

“kamu bisa, buat lebih baik lagi”

dan saya ingat itulah sebuah kekuatan yang mendorong membuat saya terpacu untuk ikut menyemangati teman – teman yang lebih muda. Saya ingat untuk tidak pernah lelah untuk lebih baik lagi. dan hal itulah yang mendasari judul kali ini, yang membuat saya membagikan kuesioner ke anak – anak muda dan semua orang lain testimonial mengenai pendidikan kita, hanya karena saya ingin tahu apa sih yang dipikirkan orang lain soal kondisi pendidikan kita sekarang. Teman saya yang berasal dari Serawak bernama Wendy Teo, memberikan masukan kepada saya untuk terus semangat pantang menyerah mewujudkan suatu hal yang kita anggap ideal. Ia berkata,

“If you want to stand for something and you’re someone, if you don’t stand for anything then you’re no one.”


Saya melihat posisi ini dari sudut pandang saya sebagai praktisi di praktik kami RAW Architecture ke dalam 3 buah posisi, yang pertama adalah saya melihat pentingnya wacana untuk mengkonstruksi hal yang lebih positif . Saya membayangkan imajinasi – imajinasi apa yang terjadi setelah pemaparan ini.

Materi dari 4 pemateri menyajikan 3 hal yang yaitu mengenai isu setting, ritual, dan memory. Pemaparan ini sebenarnya adalah sebuah reaksi utnuk melihat tegangan yang ada antara ITB sebagai pihak yang merayakan ulangtahun dan melihat bahwa desain berbasis inovasi dan ilmu pengetahuan ini menjadi penting dan kritis untuk masa kini. Sebelum pak Adhi Moersid meninggal saya menginterview pak Adhi, dan melihat bagaimana dahulu ketiadaan pengajar, bagamana pada saat itu mengejar ketertinggalan yang menjadikan pengajaran masuk ke ranah teknis. Hal tersebut menyisakan gap atau celah yang dibahas juga oleh Aswin Indraprastha bagaimana menutup gap tersebut. ada dua hal untuk melihat gap tersebut, gap sebagai sebuah hal yang mengkhawatirkan ataukah gap tersebut adalah sebuah berkat. DI dalam presentasi kedua presentasi Donny Koerniawan memaparkan bagaimana aktor – aktor yang terlibat di keilmuan perlu untuk merendahkan hatinya untuk merajut antar bidang keilmuan, bahasa beliau adalah menyerahkan axioma keilmuannya untuk bersatu membentuk ilmu baru.
.
Presentasi ketiga dari Sonny Sutanto mungkin justru menampar lagi posisi mendesain, titik inovasi dari sudut pandang ekonomi, yakni ketika produksi sudah begitu murah dimana posisi ide, saya ingat di sesi omah library, Rizal Muslimin membahas hal ini dimana manusia perlu terus berinovasi untuk bisa mereposisi dirinya dari replikasi dan representasi komputasi dari bahasa mesin. Di presentasi ketiga Gusti ngurah Antaryana menyajikan sebuah potensi akan sebuah hal yang sudah pernah ada, dan sekarang ekosistem yang merdeka ada di depan mata, lalu apa reaksi kita ? pertanyaan ini terus berkelindan di kepala saya ketika mendengarkan 4 pemaparan material ini. Saya pikir mungkin jalan keluarnya ada di ritual yang dijalankan, atau mudahnya eksekusi apa yang akan menjembatani tataran teoritis dan eksekusi atau metode yang dilakukan di dunia nyata yang tidak abstrak. Sebagai contoh di dalam pandemi ini justru kami di studio menjalankan praktik melalui gambar tangan, karena tatarannya adalah konsepsi, perspektif juga dilakukan dengan gambar tangan lalu sampai ada komitmen baru ditransfer ke tools, jadi ada strategi yang perlu dilakukan.
.

Saya teringat dengan sebuah provokasi yang digagas oleh Marina Abramovic. Selama pertunjukan Abramovic dengan sengaja menjadi pasif, mengubah dirinya menjadi benda hidup demi seni. Dia memutuskan bahwa dia akan berdiri dengan tenang di galeri selama enam jam, di mana penonton diundang untuk menggunakan salah satu dari 72 objek di atas meja di ruangan itu untuk berinteraksi dengannya. Benda-benda itu berkisar dari bulu, kue coklat, minyak zaitun dan mawar, hingga pisau, gunting, pistol, beberapa peluru dan rantai. Instruksi di atas tabel berbunyi: Kinerja. Akulah objeknya. Selama periode ini saya bertanggung jawab penuh. Durasi: 6 jam. Selama enam jam, dia menyerahkan hidup dan tubuhnya sepenuhnya ke tangan orang asing, mengubah dirinya menjadi objek untuk digunakan, seperti yang diinginkan. Selama waktu ini dia setuju untuk tetap pasif, dan tidak responsif sampai eksperimen selesai. Abramovic memutuskan bahwa dia akan mengamati dengan tenang dan lemas. Untuk penonton, tidak ada konsekuensi langsung. Menurutmu, apa yang terjadi ?

Ia berakhir di dalam kondisi setengah telanjang, terluka.

Hal ini sebenarnya memunculkan tingkatan interpretasi selanjutnya dari sebuah pemikiran yang tidak hanya cantik, saya berintepretasi bahwa pemikiran yang menutup gab tersebut membutuhkan sebuah pemikiran yang tidak hanya ekspresif dan perlu untuk menggelontorkan wacana yang diskursif, dari sini saya pikir wacana untuk bertindak aktif dan tidak pasif akan penting, bagaimana yang pasif akan ditelanjangi, tidak berdaya, dan menunjukkan derasnya informasi dan kemajuan memungkinkan terjadinya ketelanjangan tubuh kita.

Di dalam bertindak aktif ada 3 hal yang bisa dipikirkan seperti, yang pertama adalah SETTING yang bisa didefinisikan sebagai Kondisi sebelum wacana tersebut digulirkan yang melibatkan proses pembacaan relevansi terhadap problematika yang terjadi (Konteks)
Ritual yang bisa didefinisikan sebagai tindakan – tindakan untuk mengaktualisasikan wacana tersebut yang melibatkan proses aksi – reaksi (praksis). Di dalam proses ini sebenarnya terlibat lebih jauh ranah – ranah keilmuan. Memory yang bisa didefinisikan sebagai Hasil dari Wacana yang sudah menjadi milik publik yang ditandai akan pergeseran/pendalaman/penolakan akibat proses dari aksi reaksi yang muncul dengan repetitif. IAI sebagai asosiasi profesi pun dibentuk dengan sebuah setting, dengan melihat konteks apa yang terjadi disaat itu , dimana di tahun 1960 an ada instruksi dari pemerintah untuk membentuk gabungan perusahaan untuk menunaikan tugas membangun. Hal ini kemudian dilanjutkan dengan konferensi seperti mungkin yang sedang kita lakukan sekarang, dan disitulah ada sebuah wacana ketidakpuasan, bahwa kedudukan perencanaan dan perancangan tidaklah sama dan tidak juga setara dengan pelaksanaan, ada harga diri yang dipertaruhkan yang berbeda dengan bisnis komersial yan gkeberhasilannya diukur dengan besarnya laba. Lalu pada waktu itu Ir. Soehartono susilo dan Friederich SIlaban meneruskan pemikiran yang radikal (ketidakpuasan) tersebut dengan menggalang para arsitek muda dan mengadakan pertemuan – pertemuan lanjutan, di tahun 1959 dihadiri oleh 21 orang, dan selanjutnya di jalan wastukancana di rumah Lim Bwan TJie, dan akhirnya di tahun 1959 tersebut muncullah Ikatan Arsitek Indonesia.
.
Hal ini adalah hasil dari sebuah kegelisahan, muncul dari yang muda, ada integrasi dari sistem dan di luar sistem, dan mereka memiliki energi / sumberdaya untuk berpikir lebih dari kebutuhan sehari – hari.
.
salah satu konteks yang saya rasakan adalah bagaimana akses terhadap industri software berlisensi misal, kalau menggunakan gambar tangan itu masih gratis, namun apabila melihat dokumen autocad harga 1521 USD, sketchup 649 USD, 3dsmax 1620 USD, REvit 2425USD, Rhino 995 USD ) total satu tahun pertama dibutuhkan kira – kira 110 juta.
sedangkan untuk standarisasi gaji di Indonesia, dengan 4,5 -6 jt misal untuk anak – anak yang baru lulus kira – kira sisa gaji hanya 34 juta, setelah dipotong dengan kebutuhan sehari hari. Apabila misal gaji sekitar 10 juta, baru bisa mengakses setelah 2 tahun menabung, dan setelah beli software tidak ada uang tabungan lagi. Lalu pertanyaannya bagaimana kita menjembatani hal ini, saya ingat china memiliki software cadnya sendiri, Dan pertanyaannya bagaimana hal ini bisa dibantu utuk dijembatani ? inilah konteks kita yang menjadi setting, lalu apa wacana yang perlu digelontorkan ? mungkin share resources menjadi penting, pembuatan platform yang menembus batas.
Jadi apabila kita sudah merasakan sebuah setting dan wacana, lalu apa ritualnya ? mungkin yang penting adalah kecepatan yang menjadi kuncinya, untk merangkul elemen yang tidak hanya ceklist, berbicara antar relasi, antar wilayah, merangkum ulang relasi – relasi yang bhineka. Acara ini adalah permulaan. titik yang penting adalah merangkul yang muda, integrasi sistem, gelisah, dan memiliki energi lebih.

.
Saya berkaca ke lingkungan praktik dan perpustakaan kecil kami di omah library. Kami di omah library, saya berusaha sekeras mungkin untuk membentuk iklim ekosistem literasi yang baik dengan membantu penulis – penulis, mempermudah jalan, menyambung rasa antar generasi, antar librarian, pemateri, antar peserta, dari situ diharapkan bisa ada sebuah ekosistem yang mengayomi, kolaborasi, keguyuban, kerendahan hati untuk berbagi. Saya pikir yang penting adalah bagaimana teori, wacana, kritisme yang terjadi di dalam diskusi kita kali ini bisa berbuah inspirasi yang akan mewarnai lingkup praktik ataupun akademik yang mempengaruhi suasana belajar – mengajar untuk membentuk pribadi yang rendah hati dan mau selalu belajar membentuk budaya ajar mengajar yang diskursif, sebuah proses yang membuka jalan.

Perjalanan Ki Ageng Suryomentaram bisa diibaratkan sebagai analogi perjalanan Pendidikan arsitektur di Indonesia. Kondisi perkuliahan arsitektur yang hanya fokus pada kemampuan teknis seperti penanaman tugas dan tanggung jawab, etika berprofesi, estetika, budaya, dan sosial, membuat arsitek akan mengalami titik dimana ia akan mengalami kegelisahan mendalam terhadap jiwanya. Keprofesian ini akan menjadi membosankan karena berjarak dengan realitas sendiri dan menjadi pengetahuan normatif saja.

Saya berbicara mengenai refleksi di acara diskusi pendidikan arsitektur.
menit 2.58 – 3.08
Kategori
blog

Serendipity after Sketches and Regrets

Saya ingat dulu pertama mengadakan acara di taman samping rumah orang tua saya, ada 60 orang, saya ingat mereka mempersiapkan acara dengan riang gembira hanya ingin mendengar satu kuliah dari Mas Barani. Beberapa saat kemudian bersama David Hutama, kami menggagas kuliah seri Omah pertama, saya mengusulkan ide How to Think Like an Architect. Acara pertama lancar, kedua lancar, ketiga lancar, keempat hadir hanya 10 orang, acara kelima sukses hadir hanya 3 orang, bahkan saya perlu meminta staff saya di studio untuk datang. Hal ini kontras dengan 5 tahun kemudian acara webinar yang bisa sampai mengundang ratusan orang. Pertanyaannya, apakah meledaknya partisipan itu yang dicari ? mungkin itu barometernya. Seperti ketika orang bertanya, berapa jumlah orang di studio kamu ? yang sebenarnya untuk mengukur barometer pendapatan, kapabilitas studio juga. Satu saat saya disadarkan oleh paman saya.

“Terus gali apa yang kamu cari, passion, keluarga, ilmu dan jangan terlena dengan harta, publikasi, ataupun tahta.”

Meskipun terlihat riuh rendah, dunia ini sepi kawanku, bagaimana bisa berkontemplasi begitu dunia begitu riuh. Mata – mata saling melihat, kuping – kuping terus mendengar. Inilah Lawang Kala (pintu waktu) yang baru, kita sudah memasuki jaman baru. Dan herannya saya baru sadar, kok ya baru sadar. Untung ada paman saya mengingatkan,

Saya baru menyadari saya rindu akan kehangatan kawan – kawan yang dulu saya rasakan ketika menghabiskan waktu di Goldiers Green, Hampsted Heath dan juga saat – saat yang berkesan adalah saat saya dan Laurensia berkunjung ke negara Finlandia salah satu negara yang memiliiki ekosistem desain mengandalkan bermain – main di dalam fase mendidik anak, hal ini di dasarkan common sense bahwa ada relasi yang patut untuk dijaga, relasi akan mimpi.

Di dalam 5000 teman maksimal yang ada di Facebook, berapa orang teman kamu sesungguhnya ? dan beribu atau berjuta orang yang mengikutimu di Instagram, berapa yang benar – benar perhatian kepadamu. Saya pikir salah satu tujuannya adalah sisi bisnis, atau memperkenalkan diri untuk menggapai eksistensi. Selain ada juga yang bertujuan untuk bersilahturahmi dengan sahabat lama, tertawa, bersenda gurau dimana lingkaran masih kecil. Di saat – saat ini, saya mempertanyakan, apa masih berguna presensi social media kita ? Jadi seberapa mau saya mengubah hidup saya ? Baru hari ini saya bertemu dengan Airin Efferin dan Setiadi Sopandi, dan mereka bercerita tentang proses pembuatan buku Sketches and Regrets. Saya melihat kekuatan proses, memberi dan menerima, tanpa melupakan jejak jiwa. Menariknya hal ini yang saya lihat langka, menjadi personal sekaligus professional. Cerita Airin dan Setiadi Sopandi adalah cerita mengenai sepatu orang lain, dimensi efek arsitektur terhadap kehidupan orang lain, bukan hanya ajang promosi diri. Di karya tulisnya ada kejujuran yang menohok belakang kepala saya untuk bisa terus berefleksi bahwa relasi menjadi penting.

btw, ini IG Live pertama Omah Library yang sebenarnya masih pemula.
Photo by Mathias P.R. Reding on Pexels.com

Setelah itu saya memposting dua postingan di facebook satu untuk berterima kasih akan acara Design United dengan beberapa kawan lain termasuk Anna Herringer, Wendy Teo dan lainnya, setelah itu ada lagi postingan untuk Airin dan Cung. Setelah itu ada permintaan memasukkan email dan password, saya refresh screen facebook saya error, email saya berubah, password saya berubah, beberapa permintaan teman terkirim untuk orang – orang yang saya tidak ketahui, saya mengirim email ke facebook untuk mendeaktifasi acc facebook saya. Anggap saja ini jalan semesta, ha ha ha, toh sudah lama saya malas untuk mengupdate facebook, sambil nungguin recovery, ada – ada aja, lucu sekali dunia ini.

.

Miracle sedang main game yang dikirimkan oleh Miss Atika di sekolah.

HP saya ambil dan saya memanggil sahabat lama saya,

“Bro, apa kabar?”

di satu sisi ia terdengar setengah tertawa dan saya pun tertawa kembali.

“eh kampret katanya, lo kemana aja”

Disitulah kita tertawa tergelak – gelak sambil bernostalgia, atau tepatnya bernostalgila, sambil di sebelah saya, anak saya Miraclerich yang berusia 5 tahun sedang membuka game Mobile Legend dan terdengarlah suara

“Enemy Defeated !”

“anak umur 5 tahun ini ^^ iso2ne”

Kategori
lecture

Design United’s first Design Conference

We are uber-excited to be hosting Design United’s first Design Conference on the 15th of November with talented designers & artists.
We will explore examples of small yet meaningful design efforts and their potential for lasting impact.

We are joined by Ar. Anna Heringer of Anna Heringer Architecture-Germany, Ar. Jan Glasmeier of Simple Architecture-Thailand, Ar. Khondaker Hasibul Kabir of Co.Creation.Architects-Bangladesh, Ar. Wendy Teo of Borneo Art Collective-Malaysia, Ar. Goy Zhenru of Goy Architects-Singapore, Ar. Realrich Sjarief of RAW Architecture-Indonesia, Compartment S4-India along with amazing designers, Dhiraj Manandhar of Manankaala Design Studio-Nepal and Ayaka Yamashita of
EDAYA-Philippine.

The session is moderated by young architects and architecture students: Vaissnavi Shukl, Tejaswini Krishna, Huzefah Haroon, Amrit Phull, Vrinda Kanvinde, Ayush Gangwal, Chinar Balsaraf and Priyanka Shelke.

When: 9AM onwards, Saturday, 15 November 2020
Registration: http://www.clayworks.space/webinars

#designlovers#designconversation#designinspiration#designunited#claymunity#clayworksspaces#clayworkswebinar#createatclayworks#workspaceasanexperience

Kategori
lecture

Reflection of the City

1.20.00 – Photography for Architecture or Architecture for Photography ?

Di dalam acara bincang – bincang yang diadakan oleh Jayaboard ini, dengan judul “Reflection of the City”. Saya akan melanjutkan pembahasan fotografi dan desain dari dua kawan saya @mariowibowo_ dan @ryansalim mengenai Arsitektur ke dalam dualisme keadaan yaitu representasi, provokasi di dalam pembentukan sebuah wacana reflektif.
.
Seperti misalnya pandemik ini di arsitektur ini mencerminkan situasi yang sangat kontras, di satu pihak adalah realitas bencana dan di satu pihak membuka celah untuk berinovasi. Keadaan – keadaan ini kemudian dibingkai oleh sang pembawa cerita, salah satunya fotografer, arsitek, dan desainer kemudian membuat karyanya menjadi sebuah jalan cerita yang maha dahsyat soal kemungkinan positif di masa depan. Hal ini ditujukan untuk membingkai realitas pandemi yang ada, ataupun malah timbul fenomena untuk menutup realitas yang ada sebagai sebuah utopia yang kemudian bisa membuat momen untuk kita merefleksikan diri mengenai kekuatan sebuah citra.
.
Photography dan arsitektur merupakan dua dunia yang saling berkaitan. Arsitektur memiliki unsur seni dalam proses perancangan sebuah desain bangunan, dimana konsep bangunan tersebut akan menghasilkan nilai estetika tersendiri dalam setiap komponen desainnya. Sama hal-nya dengan dunia Photography, memadukan teknis pencahayaan dengan sebuah wujud fisik mengandung nilai seni tersendiri bagi penikmatnya. Jayaboard memberikan wadah untuk membentuk komunitas inspiratif bagi penikmat dunia arsitektur maupun photography dalam webinar Connecting Minds, Explore The Possibilities: Reflection of The City.

Jayaboard berkolaborasi dengan Mario Wibowo (Mario Wibowo Photography), Ryan Salim (Erreluce Lighting Consultant) dan Realrich Sjarief (RAW Architecture) akan membahas tips & trick hingga trend dalam dunia Architecture Photography dan pentingnya Photography dalam dunia arsitektur.
.
Rabu, 11 November 2020, Pk. 19.00 WIB (Zoom Webinar)
.
Lihat lanjutnya di ac @jayaboard_ig daftar di : http://bit.ly/connexrcsm

Kategori
juror

International Student Competition in ARchitectural Design and Construction of Bamboo 2020

Thank you Gede Mahaputra untuk inisiasi dan undangannya, juga untuk seluruh panitia dari Universitas Warmadewa.

Dua sayembara untuk mengakhiri tahun 2020 dari Prodi Arsitektur Universitas Warmadewa dan HMA Sanatanadharma. Himpunan Mahasiswa, menyelenggarakan sayembara nasional dengan tema Pasar Tradisional di masa dan setelah pandemi Covid-19. Pemenang akan mendapatkan reward dan piagam penghargaan Sedangkan dari Prodi, bekerjasama dengan Nansha Birdpark dan South China University, menyelenggarakan kompetisi internasional desain dan konstruksi bambu. Pemenang akan mendapatkan hadiah, piagam serta 2 tim pemenang berkesempatan untuk mewujudkan karyanya di Nansha Birdpark, China. Silakan melihat poster untuk detail, pendaftaran, serta pemasukan karya.

Kategori
lecture

The Sketch of Your Client Algorithm

Arsitek dan klien dimulai dari sebuah hubungan timbal balik. Lalu bagaimana memulai sebuah hubungan jangka panjang dengan klien. Apa saja yang harus dilakukan, judul yang dipilih oleh panitia cukup menantang. Pertanyaan – pertanyaan seperti ada ngga sih karakter yang membentui satu klien ke klien satu lagi, tipe perusahaan misal, atau klien personal, atau bangunan publik ? Apa saja yang perlu dilakukan, apa yang perlu dijaga, dan apa yang perlu dihindari. Perhitungan atau formula – formula apa saja yang bisa dijadikan parameter yang bisa disepakati. Mungkin dari sinilah kecocokan akan bisa terjalin dan arsitekturnya pun bisa unik dan bisa saling “memberi” juga “menerima” di dalam algoritma yang kontributif.
.
Ini saya bantuin panitia, semoga sukses ya panitia acaranya. 🙏
.
Seminar Arsitektur “The Sketch of Your Client Algorithm”
🗓 4 November 2020, 17:00 – 18:30 WIB
Via Zoom
.
👉🏻 Pesan E-TICKET DISINI: loket.com/event/seminar-arsitektur
Atau klik link di bio kami!
FREE ADMISSION
TIKET TERBATAS!
Terbuka untuk umum
Instagram : @im.a.go
.
#UMN #Pameran #Virtual #FSD #DKV #VBD #ID #Branding #Interaction #Film #Animasi #Arsitektur #RealrichSjarief #Seminar #Talkshow #Screening #BedahKarya #tugasakhir

Kategori
blog

70 tahun Pendidikan Arsitektur di Indonesia

Terima kasih untuk SAPPK ITB yang sudah mengundang saya untuk menjadi penanggap di dalam acara “70 tahun Pendidikan Arsitektur di Indonesia”

Terima kasih untuk SAPPK ITB yang sudah mengundang saya untuk menjadi penanggap di dalam acara “70 tahun Pendidikan Arsitektur di Indonesia”

Dalam rangkaian acara Peringatan 70 tahun Pendidikan Arsitektur di Indonesia, Program Studi Arsitektur, SAPPK menyelenggarakan acara diskusi panel bertajuk: Menuju Desain Berbasis Pengetahuan dan Inovasi (Towards Knowledge-based and Innovative Design) secara daring pada Sabtu, 31 Oktober 2020.

Acara ini diikuti oleh sekitar 150 peserta yang berasal dari kalangan akademisi, profesional, dan mahasiswa dan menampilkan empat pembicara dan empat penanggap yakni:

Para Pembicara:

  1. Aswin Indraprastha, PhD dari Program Studi Arsitektur ITB
  2. Eng Moch. Donny Koerniawan dari Program Studi Arsitektur ITB
  3. Sonny Sutanto, IAI dari profesional
  4. I Gusti Ngurah Antaryama dari Program Studi Arsitektur ITS

Para Penanggap:

  1. Harris Kuncoro dari InPlace Design, USA
  2. Hari Sungkari dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
  3. Realrich Sjarief dari RAW Architecture
  4. Sammaria Simanjuntak, sutradara film.

Moderator: Dr.- Ing Hmasari Hanan, MAE.

Acara ini membuka kembali diskusi tentang disrupsi teknologi dalam proses desain arsitektur dan pendidikan arsitektur, kompetensi lulusan arsitektur dan peluang-peluang baru sebagai akibat perkembangan industri 4.0.

Link acara 70 tahun pendidikan arsitektur di Indonesia: https://www.70thpai.com

Kategori
lecture

100 + Techno Build | INTERNATIONAL FORUM AND EXHIBITION Ekaterinburg , Russia,20-22 October 2020

Thank you for the Organizing Committee of the VII International Construction Forum and Expo 100+ TechnoBuild 2020 for the invitation. I will present two topics about Craftmanship – the possibility to shape it to more critical identity and Methodology Grammar. The 100 + expo is a major Russian engineering and construction congress combining conference and exhibition of cutting-edge achievements in the industry that will take place in the city of Ekaterinburg on October 6–8, 2020

see more here :https://forum-100.com/about-forum/

Here is the more detail explanations of the topics,

First one: Redefining High Level of Craftmanship in Local and Global Identity

The issue of Architecture in Indonesia is still a political one. As a country with a history of colonization, the dichotomy of the past and the future is not only about the intervention of technology into the practice of craftsmanship, but also about making sense of our local identities in representing the nation as a whole. With a lot of different faces of local identities, we are still struggling in defining a collective identity in Architecture.
In response to this, the speaker will speak about case study in Realrich Architecture Workshop in the need to be aware of the various issue surrounding their work, which stems from a deeper level of understanding towards crafts and material cultures, and to be able to create a work that is relevant to those issues. Architects also need to be able to work collaboratively with other disciplines towards a solution. This critical approach in practice is what is called a high level of Architecture Craftsmanship. It means to go beyond just one generic architectural layer to the indigenous approach of design solutions.

I will discuss the difference in our practice on
1.Identity is formed over a long time?

  1. The identity is contemplative, the evaluative secret that resides in every personal soul.
  2. Identity is a unity between ideas and portraits.

4.Ethics is one of the identities, the bridge of conduct which has 3 aspects: good, correct and beautiful, which is shown by the resulting product as a means of self-actualization.

5.Social media becomes a distraction as well as a potential for recognition and identity integrity, where Literacy activities are important for building deep identity.
.

Methodology Grammar for Sustainable Design, A Reflection on Radical Practice.
  The practice of architecture is never separated from the study of methods. In each project, the design process includes numerous iterations from conceptual until the construction phase, in order to create a methodology to be devised in the future for better design performance. This does not always mean using better technology, but starting from the most simple method of obtaining available data and information available on site. From the various study, research, and design permutations, the most optimal design responding to the brief, site, programming, local environment, and material. The speaker proposed a grammar of methodology to create an optimum method of design which can contextualize design to be adaptable to specific design context. The Methodology is about phasing from conceptual to Implementation of the design, as well as details on site, also become important aspects. The study of the combination of local materials and tectonics with design technology is done in order to create better roots in design which forms radical practice.

I will discuss the difference in our practice on

  1. What is the difference between strategy and method?
  2. The method is a bridge of innovation from theory to practice in a logical way
  3. The Method is procedural (has a harmonious bridge between ideas and images)
  1. Methods may have biases, it should be noted that methods differ from stimuli. Art when separated from the building is a stimulus, as well as a building when separated from art, is a stimulus. Art and Building being separated from the building is a stimulus. Matters related to the origin of ideas are a stimulus.
  2. The method has specific, actual, tangible product limits that can be dissected based on the 7 elements of the design method.

see it other speaker, there is Tezuka as well :) : https://forum-100.com/speakers/

Kategori
blog

School of Alfa Omega

In this video, I want to share the our studio design approaches in creating the School of Alfa Omega. It is generally known that the spirit of locality is a process embedded in the practice of sustainable architecture, where the sustainable architecture itself is the product of the process. Meanwhile, the locality itself is an approach in the design process that considers its certain situation and location. In sustainable architecture, there are aspects of optimality that regard as basic criteria to be considered, such as the limitations and conditions in the site, optimization of building technology, and the relation of existing resources that nurtured by its social organizations. Yet, at the same time taking them into account about the risk that might occur in the future by managing its resources optimally that relatively limited. However, is it the same as the process of exploring local identities?

Kategori
lecture

Speaker at PROJECT BOOMERANG BY CIAAD

CIAAD’s FUTURE DIRECTION FOR GLOBAL EDUCATION The global definition of education is shifting due to technology, which is CIAAD’s primary tool for design pedagogy, aiding in the development of multi-disciplinary collaborative real-life projects in between continents, Project Boomerang by CIAAD. PBC uses omni-presence and tele-presence communication tools for students to travel abroad virtually in between cities while remaining in their physical space.

http://ciaad-member.org/timetable.php

http://ciaad-member.org/timetable.php

Kategori
blog

Lecture in Locality vs Future

Saya akan berbicara mengenai Pemikiran – pemikiran reflektif tentang desain yang sederhana namun bermakna sekaligus menjalin relasi dengan klien, untuk menghadapi masa Covid ini bersama – sama. Saya juga berbagi mengenai pendekatan karya studio kami yang terbaru menggunakan pendekatan kontekstual kritis melalui penggunaan material lokal, pertimbangan terhadap iklim tropis, dan tentunya berbagi mengenai ekosistem di dalam budaya studio yang eksperimental.

[SEMINAR ONLINE : Locality vs Future] ⁣⁣
⁣⁣
Salam Arsitektur!⁣⁣
Halo teman teman, HMA Atrivm mengadakan seminar online via Google Meets, dengan pembicara seminar ini adalah :⁣⁣
⁣⁣
Arch. Dipl. Ing. Cosmas D. Gozali, IAI, (Atelier Cosmas Gozali)⁣⁣
Realrich Sjarief (Realrich Architecture Workshop-RAW Architecture) @rawarchitecture_best
⁣⁣
Hari, tanggal: Sabtu, 24 Oktober 2020 pk. 12.00 WIB – selesai (diharap login 15 menit sebelumnya)
⁣⁣
Mekanisme mengikuti sharing ini: ⁣⁣

  • Mendaftar dengan mengisi link google form di bawah.⁣⁣
  • Ketika peserta sudah terdaftar, undangan link meets akan dikirimkan melalui email pribadi peserta seminar.⁣⁣
    ⁣⁣
    LINK PENDAFTARAN⁣⁣
    https://forms.gle/MqBvTGU5AiWQ8mHZ8
    (atau cek bio @hma_atrivm)⁣


    CP : 085225082255 (Tirza) & 088806266191 (Emma)⁣⁣
Kategori
blog book writing

Rentang Asa dalam Ragam Rona Nusantara yang Terselubung

“…the man who regards his life as meaningless is not merely unhappy but hardly fit for life.” (Albert Einstein)

Victor Frankl menghabiskan waktu 3 tahun di dalam kamp konsentrasi. Ia menyaksikan bagaimana anak dan istrinya dibunuh di dalam kamp konsentrasi tersebut. Ia sendiri menghabiskan waktunya dengan bercakap – cakap membuat simulasi mengenai ruang kelas, tempat ia sedang memaparkan sebuah materi ke murid – muridnya. Materi tersebut adalah sebuah terapi terhadap dirinya sendiri, namanya logotherapy. Logotherapy adalah Konsep yang didasarkan pada premis (apa yang dianggap benar sebagai landasan kesimpulan kemudian yang menjadi dasar pemikiran) bahwa kekuatan motivasi utama seorang individu adalah untuk menemukan makna dalam hidup.Semangat yang muncul di dalam kuliah Nusantara hadir seperti bayi mungil yang tanpa pretensi, ia lahir dengan kekuatan cinta, sebuah keinginan untuk merekonsiliasi, memperbaiki, membangun semangat Arsitektur di Indonesia.

Semangat yang muncul di dalam kuliah Nusantara hadir seperti bayi mungil yang tanpa pretensi, ia lahir dengan kekuatan cinta, sebuah keinginan untuk merekonsiliasi, memperbaiki, membangun semangat Arsitektur di Indonesia. Lagu terima kasih Ayla adalah lagu yang digubah Jaya Suprana untuk istrinya Ayla sebagai ungkapan terima kasih dan puji syukur.

Di dalam perenungan mengenai Nusantara setidaknya ada sebuah ide bahwa Indonesia yang dikaitkan Nusantara adalah negara besar, ada sebuah ide bahwa Indonesia yang dikaitkan Nusantara sebenarnya bagian dari sebuah tatanan yang lebih besar lagi, dan ada ide juga bahwa Indonesia tidaklah besar – besar amat. Saya percaya bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan sebuah ide adalah sebuah awalan, yang membantu untuk menggulirkan ritual – ritual yang lebih besar yang akhirnya bergulir menjadi kenyataan – kenyataan baru. Tanpa adanya ide kita tidak bisa maju jalan dan Frankl pun tidak akan bisa merekonsiliasi trauma yang dialaminya.

Ada kontradiksi di lukisan School of Athens yang dilukis oleh Raphael juga perjalanan hidup Suryomentaram. Di lukisan Raphael Terlihat figur Plato yang menaikkan tangannya dan Aristoteles yang menurunkan tangannya menunjukkan pentingnya bagaimana berpikir fundamental, atau mengakar, berbasis pada pengamatan lapangan. Berpikir fundamental ini di dalam definisinya adalah bagaimana menemukan akar dari sebuah hal yang sedang dibahas. Hal ini terkait dengan radix atau berpikir radikal. Untuk konteks Indonesia yang terajut dengan berbagai silang budaya, hal ini terlihat dari perjalanan Suryomentaram untuk melepas gelar kebangsawanannya dan berteman dengan rakyat jelata, menikmati realitas sosial yang tidak berjarak. Proses meniadakan ini mewarnai dinamika aksi reaksi yang menelurkan sikap filsafati yang berkelindan terhadap aksi reaksi diri pribadi dan kosmologi yang lebih luas sampai ke tataran negara dan dunia, disinilah muncul kekuatan sikap untuk mendapatkan fundasi yang kokoh dan dahsyat.

Berpikir radikal adalah sebuah fundasi, sebelum bisa menerapkan bagaimana berpikir kritis. Pembahasan pengetahuan yang ilmiah, ini dimulai dari Yunani dengan berusaha untuk menjelaskan dasar teori sebagai sebuah takaran intelektualitas, dimana kebudayaan pra sejarah Mesir – Mesopotamia, Sumeria, Babilon, dan India masih di ranah Mistis – Praktis. Di dalam kebudayaan di Yunani, sifat ilmiah dari sebuah pengetahuan muncul karena mengandung hal – hal yang pasti. Dimana terbagi ke dalam dua kutub yang dibahas di atas, Plato dengan pengetahuan yang universal dan Aristoteles dengan menjelaskan mengapa “the why”.

Di dalam buku Nusantara yang ditulis oleh Abidin Kusno (bisa dipesan disini) penelisikan “the why” dituliskan oleh Suwardana Winata di prolog dan Mohammad Nanda Widyarta di epilog. Suwardana melihat bahwa keterkaitan pembentukan brand di dalam dunia digital berpotensi memundurkan perkembangan keilmuannya.

Suwardana menulis “Arsitektur Nusantara dalam perdebatannya, secara terus menerus dicari dan diungkap dengan berbagai konteks pemikiran maupun filosofi serta perancangannya. Berbagai pendekatan dan metodologi digunakan untuk mencari atau mengungkap Arsitektur Nusantara itu. Dalam era digital, pencarian arti Arsitektur Nusantara dapat menghasilkan berbagai kemungkinan, akibat pembentukkan opini (tafsir opini). Pembentukkan opini ini  dapat “nyasar”, dengan hanya menjadi brand atau label bahkan hanya sebuah tag. Dalam era yang didominasi visual ini,  peran label ini memiliki pengaruh besar dalam membangun opini publik bahkan pembentukkan pengetahuan Arsitektur Nusantara. Perjalanan Arsitektur Nusantara, perlu terus “dikembangkan” dari berbagai arah, sehingga Arsitektur Nusantara tidaklah dapat didefinisikan sebagai “single” Selain itu perlu juga diperhatikan dengan opini “Arsitektur Nusantara” …oleh para star atau publicist digital yang akan menjadikan Arsitektur Nusantara hanya sebagai trend yang sifatnya sangat temporer dan meaningless.”

Di satu saat pada waktu saya memberikan kuliah di Universitas Udayana Bali, saya bertemu dengan Pak Josef Prijotomo, ia menitipkan satu manuskrip yang ketika saya buka, tulisannya seperti tulisan seorang penutur. Isinya tidak terstruktur, dan saya jujur saja kesulitan untuk menatanya. Akhirnya saya putuskan bahwa kami perlu menghabiskan waktu untuk berbincang- bincang dan membahas kuliah tersebut, sehingga saya masih belum bisa melanjutkan untuk menyunting manuskrip tersebut. Pada dasarnya, manuskrip itu perlu diolah kembali terutama dengan referensi apa ia akan dipadu padankan, banyak referensi yang belum jelas apakah itu hasil dari ekspedisi ataukah dari tutur – tuturan Pak Josef sendiri, dari situlah muncul sebuah dialog tentang, premis, pembuktian lapangan dan dasar teori yang digunakan. Disinilah masalahnya namun juga disinilah potensinya. Manukrip tersebut masih membutuhkan orang – orang yang perlu turun tangan untuk meneruskannya, wacana yang digagas beliau sebenarnya adalah wacana kritisisme yang dimulai dari refleksi hidupnya, dan semangat tersebut diperlukan untuk diteruskan, ditransformasikan ke dalam energi yang baru kembali.

Potensi seperti gambaran daya juang yang menjadi hulu ledak, neuron – neuron perjuangan di dalam kepala, hati dan kaki-tangan orang – orang yang sedang memperjuangkan pemikirannya untuk apa yang dicintai. Semangat daya juang ini menular, membuat rasa gairah yang tinggi, sebuah proses cinta. Proses tersebut pastilah melibatkan rasa benci, rasa suka, jarak dan tanpa jarak. Potensi ini muncul di dalam sebuah bentuk paguyuban.

Lain lagi potensi, lain lagi masalahnya, masalahnya muncul di dalam komunitas ilmiah dimana di dalam proses pembuktian proses berteori, yang dihindari adalah bagaimana proses penyusunan teori menjadi dasar dari proses berideologi. Dimana proses berideologi tersebut perlu untuk diungkapkan apa posisinya, apa urgensinya dan keputusan sejauh mana sang pemikir bisa menjaga jarak dari teorinya sendiri untuk bisa diuji oleh komunitas ilmiah.

Victor Frankl menulis Man’s Search for Meaning di dalam rekonsiliasinya terhadap penindasan yang dialaminya. Rekonsiliasi pemikiran ini terpancar di dalam proses kuliah Nusantara yang ada di Omah Library. Frankl menulis mengenai 3 tahap bagaimana seseorang bisa menemukan makna di dalam hidup. Pertama, dengan membuat karya atau melakukan perbuatan. Hal pertama yang dilakukan Jerman untuk bisa merekonsiliasi setelah perang dunia kedua adalah mengakui kesalahan dan membuat kenangan – kenangan tersebut menjadi kenyataan dengan banyaknya situs museum yang dibangun sebagai sarana refleksi bahwa Holocoust nyata – nyata terjadi dan memberikan pelajaran mahal mengenai korban yang muncul. Hal ini juga muncul tersirat di dalam diskusi yang muncul justru setelah pemaparan Abidin Kusno yang bisa dilihat di lembar lampiran.

Kedua, dengan mengalami sesuatu pengalaman baru atau bertemu orang lain. Pentingnya untuk bisa terhubung dengan orang lain, atau fakta – fakta baru bisa membuat kenyataan yang baru. Kenyataan tersebut misal sifatnya tidak tunggal atau ganda juga tidak sederhana dan kompleks. Fumihiko Maki perlu membuat teori Investigations in Collective Form, untuk mengantarkan kedahsyatan Jepang di dalam pembentukan teori yang akhirnya menyemangati munculnya gerakan kontemporer selanjutnya di Jepang yang mempengaruhi dunia barat . Hal ini juga ditunjukkan Bernard Rudofsky dengan penyingkapan arsitektur tanpa arsitek di tahun 1960 an dimana ia melakukan investigasi dan menelurkan pemikiran arsitektur tanpa turunan.

Ketiga, sikap yang kita ambil sebagai respon terhadap penderitaan yang tak terhindarkan. “Keadaan ini dipicu oleh trauma yang dihadapi setiap harinya di dalam kamp konsentrasi. Pentingnya keterbukaan di dalam melihat sebuah permasalahan. Perbedaan sudut pandang filsafati adalah, bagaimana medekonstruksi cara berpikir yang kaku dan merelasikan kedalam kebenaran yang situasional. Relasinya seperti, kekayaan situasional budaya, ekonomi, sosial di Indonesia misal, begitu kaya. Pemikiran filsafati berguna untuk menemukan akar keilmuan, proses perjalanannya seperti masuk ke hutan rimba yang pekat dan gelap diantara paradoks pandangan yang ideal dan pandangan yang fundamental. Perjalanan tersebut dimulai dari mempertanyakan hutan tersebut, dengan melihat gambaran besar hutan – hutan yang ada, dan apa sih hutan yang mau kita jalani ? terlebih lagi hal ini mempertanyakan apa yang kamu mau cari, passion apa yang kamu mau cari ? ataukah ada yang ingin dibuktikan ataupun sebenarnya tidak perlu membuktikan apa – apa. Pemikiran filsafati sebenarnya menjanjikan sebuah proses kedewasaan berpikir untuk menguraikan kekusutan terminologi, sebuah pemikiran yang terbuka (open ended) seperti kutipan diatas. sebuah progresi yang regresif, di satu sisi ia menjanjikan progress akan kedewasaan, disatu sisi mendefinisikan arti sebuah progresi dan regresi. Bahwa pada akhirnya, memahami maju mundurnya cara berpikir membuat tidak ada yang tidak mungkin di dalam alam pikir. Pertanyaannya apakah Nusantara patut untuk diperbincangkan ?

Melihat Indonesia yang sedang membangun dirinya, terkadang kita mungkin perlu bertanya – tanya di dalam kecepatan yang demikian pesat, bisakah kedua potensi dan masalah tersebut berdialog menjadi sebuah alfa (awal) dan omega (akhir). Kedua hal tersebut jelas – jelas sama – sama memiliki posisi masing – masing, dan saya pikir keduanya sedang mencari makna untuk kehidupannya masing – masing. Makna untuk rekonsiliasi trauma di dalam perjalanannya, penindasan, dan keleluasaan yang terjadi di dalam kehidupan setiap orang terpancar, terpantul dan terefleksi di dalam tata laku.

Melihat Indonesia yang sedang membangun dirinya, terkadang kita mungkin perlu bertanya – tanya di dalam kecepatan yang demikian pesat, bisakah kedua potensi dan masalah tersebut berdialog menjadi sebuah alfa (awal) dan omega (akhir). Kedua hal tersebut jelas – jelas sama – sama memiliki posisi masing – masing, dan saya pikir keduanya sedang mencari makna untuk kehidupannya masing – masing. Makna untuk rekonsiliasi trauma di dalam perjalanannya, penindasan, dan keleluasaan yang terjadi di dalam kehidupan setiap orang terpancar, terpantul dan terefleksi di dalam tata laku.

Abidin Kusno membuka kuliah pertama dengan sebuah tema reposisi, hal ini diperlukan untuk melihat Nusantara dari sudut pandang yang lebih luas. Diawali dengan Abidin Kusno, seseorang yang bisa melihat dari dalam dengan relasinya dengan Nusantara dan juga dari luar. Dalam kuliah wacana Nusantara: Reposisi, Abidin Kusno menampilkan 5 posisi/konsepsi nusantara, mencoba menunjukkan “nusantara” dalam sebuah konstruksi yang tidak lepas dari konteks suatu ruang dan waktu, politik negara, dan imaginasi intelektual & arsitek. Ia menjelaskan bahwa kelima posisi ini bisa saling berkelindan meskipun ada kontradiksi di antara mereka. Misalnya yang 1 & 2 itu tipis garis pemisahnya dan 3, 4, 5 erat hubungannya meskipun tekanannya berbeda.
1. Melalui Gajah Mada The Periferi: tanah di sebrang lautan (dari subjektivitas sebuah pusat). Dalam kehidupan zaman Majapahit, arsitektur nusantara mengandung 2 pengertian: arsitektur tanah sebrang/luar negeri, dan arsitektur pan-Majapahit style, atau mungkin sebuah empire style?
2. The Geo-body Melalui perspektif nation-state. Integrasi: penyatuan konsentris. Merupakan sebuah posisi yang berakhir dengan meng-nasionalisasikan nusantara. Menjadi ekspresi anti-kolonialisme dan legitimasi bagi formasi negara.
3. Melalui pengaruh austronesia Maerupakan konsep Aquatic space: yang berdasarkan aliran/arus/air. Posisi ketiga ini menjadi simbol tradisi bahari yang telah lama mengalami marginalisasi.
4. Melalui Denys Lombard Beyond the Nation-State. Yang dimaksud adalah posisi nusantara sebagai Persilangan: Hibrida budaya. Misal pada akhirnya ada yang klaim nusantara itu milik Indonesia atau Malaysia, tidak masalah, tapi tetap saja formasi budaya dari kedua negara ini adalah nusantara. Nusantara menjadi ungkapan kosmopolitanisme.
5. Melalui Josef Prijotomo Resistensi: Perlawanan dalam Kesetaran. Gerakan nusantara terjadi pada saat ada tekanan dari budaya hegemoni global yang cenderung memarginalisasikan sumber lokal. Sebagai perlawanan, nusantara diletakkan dalam posisi yang setara dengan kekuatan lain.

Pada akhirnya, Abidin Kusno merasa bahwa nusantara itu adalah istilah dimana keadaan ‘struggle over culture’ terjadi. Dan diharapkan lahir berbagai positioning lain sehingga membentuk sebuah himpunan yang beragam. Setelah itu kuliah disambut oleh 10 orang lain yang membicarakan arsitektur nusantara di dalam 10 buah perjuangan yang berbeda, dengan definisinya sendiri tentang Nusantara.

Di dalam Omah Library kami mengambil Nusantara untuk melihat apa yang penting dari kata tersebut, sejauh mana dampaknya untuk diperbincangkan, lalu pertanyaannya sejauh mana hal ini relevan di dalam komunitas – komunitas atau pribadi – pribadi yang saling berkelindan di dalam diskusi di Omah Library. Abidin Kusno mengambil 5 buah reposisi yang berbeda di dalam melihat Nusantara. Reposisi yang terakhir adalah latar belakang mengapa kuliah wacana Nusantara ini digulirkan.

Terkadang setelah acara saya menelpon Pak Josef untuk menanyakan pendapatnya, untuk melihat situasi yang mengukung beliau, apa perasaan beliau dengan pertanyaan, pernyataan yang satu dua hal terdengar mengadili dengan pretensi dari pihak yang berdiskusi. Hal ini saya lakukan karena beliau adalah orang yang patut diapresiasi dengan pencurahan seluruh energi hidupnya di dalam penyebaran dan kelahiran Arsitektur Nusantara. Ada beberapa kemungkinan – kemungkinan muncul di dalam diskusi yang dilakukan di Omah Library, mengenai bagaimana forum diskusi dan pemateri memaknai kekayaan dinamika budaya yang mewarnai wacana Nusantara di arsitektur Indonesia ke depannya.

  1. Munculnya diskusi yang kritis hasil dari pertemuan antargenerasi atau antarpengalaman orang – orang yang gelisah. Ada benang merah bahwa ketakutan yang muncul adalah wacana komersialisasi ataupun kompetisi yang mendegradasi perjuangan akan mencintai arsitektur tersebut. Dengan melihat akar permasalahan yang muncul, setidaknya bisa dipisahkan kompetisi dan komersialisasi dari perbincangan Nusantara yang lebih serius. Ataukah memang perlu ada dewan pengawas Nusantara untuk meregulasi bagaimana komersialisasi dan kompetisi Nusantara ini diturunkan ke ranah praktis. Saya harap tidak karena dasar filsafati yang terbaik adalah bagaimana membawakan diri dengan tepat, ketepatan ini ditunjukkan dengan suri Tauladan, memberikan ruang gerak pada penerus yang masih muda dan gelisah.
  2. Hubungan guru murid yang kental antara beberapa pembicara dengan Pak Josef Prijotomo. Keambiguannya terlihat dan terus muncul, meskipun diklarifikasi oleh beberapa orang yang membuat definisi – definisinya masing – masing dan berkelit dari hubungan yang memang nyata terjadi. Di dalam perdebatan Arsitektur Nusantara, saya masih melihat bahwa ada potensi luar biasa, hanya saja mungkin tongkat estafet itu sendiri perlu disibakkan oleh generasi penerusnya. Di antara hubungan guru murid tersebut, terlihat bahwa Pak Josef sendiri seakan – akan menantang murid – muridnya sekaligus memberi restu antara rasa euwuh pekewuh sekaligus kecintaan terhadap murid – muridnya. Hal ini perlu digawangi mungkin dengan kekuatan literasi.
  3. Adanya kesepahaman bahwa proses berpikir kritis diperlukan dengan saya tambahkan sebuah kebijaksanaan untuk merangkul orang yang tua dan yang muda dengan menjaga jarak dari hegemoni politik yang tidak diperlukan. Untuk itu pihak yang sadar (atau mudahnya bisa diinisiasi dengan Omah Library dan Jaringan Arsip Arsitektur Indonesia yang diinisiasi Mohammad Cahyo Novianto) perlu membantu menggawangi pendekatan akar rumput dari muda dan tua, antargenerasi hal ini dilakukan dengan bingkai acara perjalanan mengenal Indonesia dimana ini adalah usaha untuk merangkul orang – orang yang sudah mendokumentasikan arsitektur vernakular Indonesia untuk disebarkan dan memperkaya literasi arsitektur vernakular di Indonesia. Kita semua perlu bersatu bukan tercerai berai, untuk bersatu tersebut ditunjukkan dengan tauladan yang baik dengan menghindari pretensi yang muncul dalam menuangkan pemikiran.

Mari melangkah, banyak isu – isu lain yang layak dibahas seperti isu lingkungan, gender, ras, ekonomi kerakyatan, studio desain, dan banyak lagi. Mungkin kita akan bisa mendefinisikan Nusantara kembali setelah kita berjalan dan mengalami sebuah perjalanan ke empat penjuru dunia Barat-Timur, Utara-Selatan untuk mendapatkan kompas di dalam menjalani reposisi yang muncul di kemudian hari. Untuk menunggu hari itu tiba, mari kita mulai dengan Abidin Kusno, sebuah reposisi akan wacana Nusantara. Saya pikir jarak diperlukan untuk melihat bagaimana kedahsyatan Arsitektur Nusantara, energi yang mewakili salah satu dinamika arsitektur Indonesia.

Untuk menutup keseluruhan sesi ini, ijinkan saya meminjam pernyataan Mohammad Nanda Widyarta yang dituliskan ke dalam epilog buku,

Nanda menulis, “Menurut hemat saya, bila Arsitektur Nusantara kehilangan aspek perlawanan ini, maka ia akan menjadi kajian yang “itu-itu saja.” Maksudnya, ia masih juga terjebak dalam pengetahuan sebagaimana didefinisikan berdasarkan sudut pandang si pemilik hegemoni. Penggunaan istilah seperti “kearifan lokal” misalnya, masih menyiratkan adanya hegemoni dalam pemikiran si pemikir/periset. Arsitektur Nusantara sepatutnya bertindak sebagai pengingat bahwa ada banyak arsitektur-arsitektur lain di dunia yang juga patut diangkat.”

Dengan selesainya epilog dari Mohammad Nanda Widyarta di buku Nusantara kita bisa bersama – sama mengucapkan :


Hi semesta, ayam sudah berkokok berulang kali, selamat pagi, mari berjalan !

Dan pada akhirnya, saya perlu mengucapkan terima kasih terutama kepada Abidin Kusno yang mau berjibaku untuk mereposisi sebuah terminologi Nusantara dan memberikan tongkat estafetnya kepada kami – kami melalui Omah Library. Terima kasih juga kepada 10 pembicara yang sudah meluangkan waktunya untuk menyumbangkan 10 jembatan pemikiran reposisi lanjutan dari kuliah Abidin Kusno. Kesepuluh orang tersebut adalah Indah Widiastuti, Eka Swadiansa, Robin Hartanto, Mohammad Cahyo Novianto, Anas Hidayat, Revianto Budi Santosa, Mitu M. Prie, Defry Ardianta, Altrerosje Asri Ngawi, dan Johannes Adiyanto. dari kesepuluh orang tersebut kita memulai konstruksi pemikiran yang terbuka, rajutan pembangunan konstruksi yang sehat.

Terima kasih terbesar ada di Kirana Ardya Garini yang sudah membantu menyimpulkan kuliah demi kuliah, menemani di dalam sesi – sesi yang ada di dalam Nusantara, mengkordinasikan dan menjadi jembatan untuk banyak pihak. Juga kepada Satria Agung Permana, Amelia Mega Djaja, Dimas Dwi Mukti Purwanto untuk teman berdiskusi tanpa henti di dalam Omah Library, jembatan yang terakhir ini adalah doa untuk mereka berempat menjadi mata air baru untuk arsitektur Indonesia.

Dengan selesainya epilog dari Mohammad Nanda Widyarta di buku Nusantara kita bisa bersama – sama mengucapkan :

Hi semesta, ayam sudah berkokok berulang kali, selamat pagi, mari berjalan !
Publikasi buku yang dibuat oleh tim Omah Library, Tulisan ini berjudul Rentang Asa dalam Ragam Rona Nusantara yang Terselubung, atas dasar usulan Jolanda Atmadjaja untuk menanti – nanti kekuatan semesta terkait dinamika budaya yang melingkupi kebaikan setiap orang untuk selalu berproses dalam perjuangannya masing – masing.

Omah library dengan bangga mengeluarkan buku baru berjudul Nusantara: Reposisi
.
Masa mendekati perayaan 75 tahun merdekanya Republik Indonesia ini adalah saat yang tepat untuk menelusuri kembali imajinasi kita tentang negara, tak terkecuali juga hubungannya dengan ruang, makna, dan sejarah. Penelusuran tersebut kerap kali berujung dengan pertanyaan seputar “bagaimana kita memaknai Nusantara?”

Pemesanan buku @omahlibrary dapat melalui link di bio bit.ly/OrderOMAH atau hubungi Vivi (WA) 08998898239

Kategori
lecture

Awal Masa Depan Berhuni


DWELLING dan WAKTU
Ketika manusia mulai menghuni dunia, maka berbagai tingkatan hubungan antara manusia dan dunia akan terjadi. Christian Norberg-Schulz dalam bukunya The Concept of Dwelling mengungkapkan bahwa, dwelling atau “hunian” mempunyai makna lebih mendalam dari sekadar atap yang menaungi di atas kepala kita dan sejumlah meter persegi ruang yang kita
miliki. Menurutnya, dwelling mempunyai tiga arti; Pertama, ruang di mana kita bertemu dengan orang lain untuk bertukar produk, ide, dan perasaan, pada makna ini kita akan mendapatkan pengalaman kehidupan sebanyak mungkin. Kedua, Dwelling mencapai kesepakatan dengan orang lain di mana kita akan dihadapkan untuk dapat menerima seperangkat nilai-nilai umum di masyarakat. Ketiga, mengandung arti ketika kita telah menjadi diri kita dengan memiliki dunia kecil pilihan kita sendiri. Kita dapat menyebut ketiga arti itu masing-masing sebagai dwelling / hunian secara kolektif, publik, dan pribadi. Ketiga tingkatan ini memiliki dimensi ke-ruangan yang kompleks dalam sebuah konsep dwelling, karena hunian dengan konsep berhuninya harus dapat memberikan kontribusi
menyeluruh dalam kehidupan manusia di bumi. Martin Heidegger menggunakan istilah dwelling sebagai sebuah konsep menghuni atau cara
khas ada (dasein) di dunia. Tinggal di rumah, tidak hanya berada di dalamnya secara spasial dalam arti hanya menyisir dan berputar dalam lingkungan rumah saja. Sebaliknya, rumah sebagai sesuatu yang ada adalah milik dunia, dan orang yang menghuni didalamnya harus keluar untuk melihat langit-langit dunia. Hunian pada awalnya tidak merujuk pada tinggal di suatu tempat, tetapi lebih pada berhenti dan berlama-lama di jalan, dengan keraguan tentang ke mana harus pergi. Kata dwelling dalam bahasa Inggris kunonya adalah dwellan yang berarti mengembara (to wander) dan bertahan hidup (to linger). Secara filosofis, kata dwelling memberikan makna bahwa :untuk bertahan hidup, tidak dapat dilakukan dengan berdiam diri atau menetap tetapi harus mengembara Maka dwelling sebagai konsepmenghuni dan ada di dunia berhubungan dengan menetap dan berkelana. Dengan menetap dan berkelana inilah manusia belajar tentang konsep menghuni (sebagai ada) di dunia. Dalam mengisi dunia dan berhuni atas dunia, maka sebuah dwelling akan dihadapkan dengan
konsep waktu, yang membungkus secara keseluruhan dalam cara hidup manusia di dunia. Seperti yang dikatakan Albert Einstein bahwa ruang bukanlah sesuatu yang biasa kita bicarakan seperti atas-bawah, kiri-kanan, depan- belakang dan terpisah dari waktu. Ruang dan Waktu adalah nyatanya, dan bukan hal yang terpisahkan. Ruang dan waktu saling erat
terhubung dan berpaut. Dalam melihat hubungan antara dwelling sebagai ruang berhuni dengan waktu, ada beberapa pertanyaan menarik dapat diajukan, seperti :

MASA DEPAN BERHUNI
Berbasis pada Hari Ini
“ Hunian yang ada, dimaksudkan terutama untuk mendukung aktivitas “hidup”. Jadi, ketika gaya hidup berubah, desain hunian juga berubah. “
Stefan Junestrand & Konrad Tollmar

(1) “ Bagaimana
konsep dwelling menjawab tantangan waktu, dalam cara berhuni di dunia ?”

(2) “Bagaimana melihat hubungan antara dwelling dengan kondisi hari ini ? dan apakah ada konsep ke-ruangan yang berubah dalam perjalanan waktunya ?”

(3) “ Bila dwelling berkaitan dengan waktu, bagaimana arsitektur menjawab tantangan ini ?” Berbagai contoh ada di hadapan kita, misalnya perbedaan antara konsep dwelling pada masyarakat pada tahun 1980-an sebelum teknologi internet menjadi bagian hidup kita dengan tahun 2000an di mana internet telah mempengaruhi sebagian aktivitas manusia. Bahkan kini 40 tahun kemudian teknologi ini telah menyatu dengan kehidupan kita. Contoh lain, dalam drama Korea berjudul “Replay 1988” dan “Replay 1994, kita pun dapat merasakan perbedaan konsep kehidupan antar keluarga, tetangga, teknologi, komunikasi dalam konsep jarak dan waktu yang mempengaruhi perubahan suasana dwelling atau konsep berhuni
dalam kurun waktu 6 tahun di film tersebut, bahkan inipun berhubungan dengan kehidupan yang kita alami sekarang. Ketika pada Awal tahun 2020 dunia mulai diguncang dengan berita virus “Covid 19” aktifitas
manusia perlahan berubah, bahkan para ahli memprediksi keberadaan virus ini akan mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia, dan akan berpengaruh dengan konsep dwelling dimasa depan. Dengan kejadian ini saja, kehidupan yang kita jalani sebelumnya berubah secara dramatis. Aktivitas rutin ke kantor, ke toko, belajar, merayakan ulang tahun
bersama teman-teman, liburan bersama keluarga, olahraga di gym, kelas olahraga, kunjungan keluarga, pelukan, dan berjabat tangan semuanya terhapuskan dari daftar harian kita. Meski pada awalnya kita masih mencoba mengelak, pada akhirnya kita dituntut untuk menyesuaikan dan hidup berdamai – berdampingan dengan virus ini, pada suatu babak kehidupan yang di sebut “New Normal COVID 19”. Kata COVID 19 sengaja dilekatkan, karena New Normal sendiri adalah tahap perubahan yang bisa kita alami berulang kali dalam satu siklus kehidupan. Berbagai kejadian penting lainnya, seperti pemanasan global, kemacetan dan segregasi, dan urbanisasi yang cepat juga merupakan tantangan terbesar yang dihadapi dunia di abad ke-21. Bagi kita dan kebanyakan orang, perubahan apa pun yang berkaitan dengan planet, manusia, dan tempat memiliki dampak besar terhadap konsep ke-ruangannya dan akan mempengaruhi cara manusia berhuni atas dunia ini. Dalam perkembangan arsitektur dwelling berkaitan erat dengan konsep waktu (time), konsep ruang (space), konsep tempat (place) dan konsep untuk hidup (to live). Konsep ruang dan waktu menjadi penting karena menandakan di mana (where), kapan (when), dan bagaimana (how) seseorang benar-benar melakukan sesuatu – dalam hal ini untuk ‘tinggal dan berhuni atas dunia’ . Dalam hal ini, Konsep ‘hidup‘ dalam perspektif arsitektur adalah suatu kondisi ke-ruangan di mana manusia harus dapat hidup dan berhuni dalam ruang dan
waktu yang ada serta yang dilaluinya.

Kategori
blog

Cermin Aku

Baru saja kemarin saya bertemu dengan teman saya Eric Dinardi, dan klien saya yang sudah seperti keluarga saya, Djonny Taslim. Pertemuan itu berlangsung karena rumah Djonny Taslim yang saya panggil om di Danau Biru, akan difoto oleh Eric Dinardi. Pagi itu Eric sudah melakukan sesi foto di pagi hari, dan saya baru datang.
.
Saya menyapa Eric dan Om Djonny, dan membuka jalan untuk masuk ke kamar beliau yang privat, Joan (istri Eric) menyemprotkan disinfektan, dan membantu menata, merapihkan perabot dibantu oleh asistennya. begitulah proses yang berlangsung ketika pemotretan, terlihat mudah tetapi membutuhkan persiapan.
.

Setelah pemotretan di kamar Om Djonny selesai, kami semua dipersilahkan untuk makan pagi bersama, sementara Om Djonny bersiap – siap untuk mandi karena akan berangkat kerja. Di meja makan disediakan bakmi 1 porsi, dan bihun 2 porsi. Om Djonny bertanya “kamu mau yang mana Rich ?” saya bilang, saya bihun saja om, supaya Eric dan Joan bisa saling mencicipi masakan yang berbeda. Setelah itu kami makan dan Om Djonny mempersiapkan dirinya, setelah menyetel lagu dengan speaker yang disiapkan dari dalam rumah.
.
Ketika kami makan, awal mulanya Eric mempertanyakan hal – hal yang fundamental, seperti “pernah kepikiran ngga sih ? saya ini maunya mencari apa ?” saya sebenarnya bingung darimana Eric bisa mendapatkan pertanyaan seperti itu. Hal ini seperti komposisi yang dimainkan oleh Ravel S. Gunardi dengan karya Victorious dari Levi Gunardi bahwa ada hal yang memuncak, sebuah keinginan untuk memurnikan diri. Diskusi kemudian berlanjut ke hal – hal seperti pendalaman diri, karya, dan pentingnya metode, skill untuk mempertajam karya, sampai satu saat Om Djonny Taslim bergabung duduk di meja makan. Saya kemudian mengarahkan pertanyaan ke beliau, dan meminta beliau mengeluarkan pendapatnya mengenai pendalaman diri, desain, arsitektur, fotografi sampai industri. Ia membuka diskusi dengan sebuah kalimat,

Ketika kami makan, awal mulanya Eric mempertanyakan hal – hal yang fundamental, seperti “pernah kepikiran ngga sih ? saya ini maunya mencari apa ?” saya sebenarnya bingung darimana Eric bisa mendapatkan pertanyaan seperti itu. Hal ini seperti komposisi yang dimainkan oleh Ravel S. Gunardi dengan karya Victorious dari Levi Gunardi bahwa ada hal yang memuncak, sebuah keinginan untuk memurnikan diri.
foto bersama Eric dan Joan bertemu dengan Djonny Taslim. Diskusi kemudian berlanjut ke hal – hal seperti pendalaman diri, karya, dan pentingnya metode, skill untuk mempertajam karya, sampai satu saat Om Djonny Taslim bergabung duduk di meja makan. Saya kemudian mengarahkan pertanyaan ke beliau, dan meminta beliau mengeluarkan pendapatnya mengenai pendalaman diri, desain, arsitektur, fotografi dampai industri. Ia membuka diskusi dengan sebuah kalimat,

“Jadi terkenal salah, ngga terkenal pun salah.”

Ia menjelaskan bahwa sebenarnya kami perlu mempertanyakan apa yang kami mau raih, di antara menjadi terkenal ataupun tidak terkenal, ada maksud masing – masing yang kontekstual dengan kebutuhan dan keinginan, juga persiapan. Ia berkata bahwa, penting untuk memiliki kawan untuk bertukar pikiran, jangan maju gegabah ke sebuah peperangan, menjadi terkenal ataupun tidak terkenal tidak masalah asalkan ada kebersamaan. Segala hal perlu disiapkan, sistematika pemikiran, ekonomi, hubungan relasi, dan hal – hal yang mendasar supaya begitu kamu terjun, kamu akan berprestasi. Dan pada akhirnya ia menitipkan ke kami, dan ingat tidak semua orang bisa menghargai karya kamu, yang terpenting, kamu harus bisa menunjukkan kenapa satu karya itu lebih unggul dari yang lain, dengan bukti, dan semua pembuktian itu membutuhkan waktu.

Batu Andesit yang disusun dengan pengaturan yang natural, kesan tidak teratur namun teratur, pola dalam kebersahajaan sesuai dengan karakter kesederhanaan. Dan pada akhirnya ia menitipkan ke kami, dan ingat tidak semua orang bisa menghargai karya kamu, yang terpenting, kamu harus bisa menunjukkan kenapa satu karya itu lebih unggul dari yang lain, dengan bukti, dan semua pembuktian itu membutuhkan waktu.
Foto bersama Djonny Taslim di rumah yang didesain di Danau Biru, sebuah konsep rumah kommunal yang dilanjutkan di dalam konsep rumah di Bukit Golf, mengenai hidup bersama – sama, sebuah konsep harmoni. Pertemuan kali ini berlangsung kira – kira hari rabu, 3 hari yang lalu. Saya masih mengendapkan, bahwa memang kami, Eric, Om Djonny, dan saya sendiri, berelasi dan kami perlu untuk saling mendukung satu sama lain, dan hal tersebut diwarnai saat – saat makan bersama di pagi hari di Danau Biru.

Pikiran saya kembali ke masa 2011, rumah Om Djonny dibangun dalam jangka waktu hampir 5 tahun, dan 9 tahun kemudian, baru kami berkumpul bersama, dan Eric ada disitu untuk memotret bagaimana rumah ini selesai dari tahun 2017. Waktu menjawab soal kualitas relasi, keutuhan, dan rasa kesabaran dari hanya hubungan klien dan arsitek. Pertemuan itu berlangsung kira – kira hari rabu, 3 hari yang lalu. Saya masih mengendapkan jawaban dan pertanyaan yang muncul, bahwa memang kami, Eric, Om Djonny, dan saya sendiri, berelasi dan kami perlu untuk saling mendukung satu sama lain, dan hal tersebut diwarnai saat – saat makan bersama di pagi hari di Danau Biru.
.
Sore ini Laurensia mengirimkan cerita ini ke saya :
.
Seorang Anak Muda sedang membersihkan aquarium Paman nya, ia memandang ikan arwana agak kebiruan dengan takjub..
Tak sadar Pamannya sudah berada di belakangnya .. “Kamu tahu berapa harga ikan itu?”. Tanya sang Paman..
.
“Tidak tahu”. Jawab si Anak Muda..
.
“Coba tawarkan kepada tetangga sebelah!”. Perintah sang Paman.
.
la memfoto ikan itu dan menawarkan ke tetangga .. Kemudian kembali menghadap sang Paman.. “Ditawar berapa ?” tanya sang Paman. .
“50.000 Rupiah Paman”. Jawab si Anak Muda dengan mantap.
.
“Coba kau tawarkan ke toko ikan hias!!”. Perintah sang Paman lagi.
.
“Baiklah Paman”. Jawab si Anak Muda. Kemudian ia beranjak ke toko ikan hias..
.
“Berapa ia tawar ikan itu?”. Tanya sang Paman.
.
“800.000 Rupiah Paman”. Jawab si Anak Muda dengan gembira, ia mengira sang Paman akan melepas ikan itu.
.
“Sekarang coba kau tawarkan ke Juragan Joni Rahman (nama – penamaan cerita ini tidak ada kaitan dengan Djonny Taslim ataupun siapapun, saya hanya menampilkan mentah – mentah cerita yang dikirimkan Laurensia)

, bawa ini sebagai bukti bahwa ikan ini sudah pernah ikut lomba”. Perintah sang Paman lagi. “Baik Paman”. Jawab si Anak Muda. Kemudian ia pergi menemui Pak Joni yang dikatakan Pamannya. Setelah selesai, ia pulang menghadap sang Paman.
.
“Berapa ia menawar ikannya?”. “50 juta Rupiah Paman”.
la terkejut sendiri menyaksikan harga satu ikan yang bisa berbeda-beda.
.
“Nak, aku sedang mengajarkan kepadamu bahwa kamu hanya akan dihargai dengan benar ketika kamu berada di lingkungan yang tepat”. “Kita semua adalah orang biasa dalam pandangan orang-orang yang tidak mengenal kita”. “Kita adalah orang yang menarik di mata orang yang memahami kita”. “Kita istimewa dalam penglihatan orang-orang yang mencintai kita”. “Kita ada lah pribadi yang menjengkelkan bagi orang yang penuh kedengkian terhadap kita”. “Kita adalah orang jahat di dalam tatapan orang-orang yang iri akan kita”. Pada akhirnya, setiap orang memiliki pandangannya masing masing terhadap kita, maka tak usahlah bersusah payah supaya kelihatan baik dimata orang.

Tapi berusahalah terus melakukan kebaikan dan menjalankan apapun dengan keikhlasan.

Refleksi ini muncul secara paralel di dalam wacana perbincangan arsitektur soal Nusantara dari Altrerosje Asri dan Johannes Adiyanto soal pentingnya membuka diri dan pentingnya merendahkan hati untuk bercermin kepada situasi – situasi yang membuat manusia perlu untuk beradaptasi dan mempertanyakan pemikirannya sendiri, bahwa perubahan itu ada, tidak ada yang sempurna, mari belajar kembali. Dari mereka berdua ada sebuah kegelisahan untuk melangkah maju, termasuk dialog dengan Eric Dinardi dan Djonny Taslim, termasuk Joan.

Cerita – cerita di atas ini setidaknya membuktikan satu hal, bahwa terkadang waktu bisa menjawab segalanya, dan memang Tuhan bekerja dengan caranya yang indah dan misterius untuk mempertemukan jiwa – jiwa yang gelisah.

Cerita – cerita di atas ini setidaknya membuktikan satu hal, bahwa terkadang waktu bisa menjawab segalanya, dan memang Tuhan bekerja dengan caranya yang indah dan misterius untuk mempertemukan jiwa – jiwa yang gelisah.


Lalu ada suara yang hangat menyapa,

“makanya bangun, dan hari ini jangan lupa berdoa ya, dan membuka dirimu terhadap hal – hal yang baru”

Kategori
lecture

Aurora – Itera Lampung

Terima kasih Himpunan Mahasiswa Arsitektur Swarnapada ITERA sudah mengundang untuk berbicara mengenai kejujuran di dalam arsitektur. Yang menarik adalah acara ini saatnya untuk menampilkan substansi yang otentik dengan dasar setiap arsitek perlu untuk berbuat radikal di dalam praktiknya. Lalu apa arti radikal di dalam praktik yang sebenarnya sifatnya situasional, bentang proyek terlihat dinamis di dalam hubungannya terhadap brief klien, perubahan metode – metode dan hasrat arsitek untuk melakukan inovasi.

Di dalam kuliah ini, saya akan mencoba membagi – bagi apa itu arti dari kejujuran, dan apa saja dampak positif yang timbul di dalam karya yang terdesain, hubungan antara dengan klien, tim, dan apresiasi dari publik terhadap karya arsitektur yang ditimbulkan.

Setiap momentum berbagi adalah sebuah saat untuk merefleksikan diri dengan kritis, berbagi adalah saat- saat membagi semangat kepada adik – adik kita, yang semoga bisa meneruskan tongkat estafet menjadi arsitek yang baik, juga jujur.

Himpunan Mahasiswa Arsitektur Swarnapada ITERA kembali hadir melanjutkan rangkaian acara Aurora 2.0, Webinar akan dilaksanakan dengan tema “Kejujuran dalam Arsitektur”.
Webinar kali ini kita mengundang praktisi arsitektur yang akan membahas topik menarik, bersama:
•Realrich Sjarif (RAW architecture)
•Andy Rahman (andyrahmanarchitect)
•I Ketut Dirgantara (DDAP architect)

Kami juga mengundang akademisi arsitektur dari ITERA yaitu Pak Rendy Perdana Khidmat yang akan mengisi seminar bertema “Kehidupan Berarsitektur: Studi di Luar Negeri”

📌Mark the date!📌
Webinar dilaksanakan pada:
22-25 September 2020

[BIAYA]
Early Bird 20k
Reguler 35k
segera daftar pada link berikut:
bit.ly/seminarAURORA

Informasi lebih lanjut silahkan hubungi:
WA: 0821 8048 4671 (era) | 0812 7825 3110 (nabila)
Line: 1234efforta | nabilanurulp02
IG: @aurora.itera
e-mail: aurora.itera@gmail.com, Himarswarnapada, Aurora3.0, Webinararsitekur

Kategori
lecture

THE PROCESS OF BECOMING AN ARCHITECT

Thank u @himarsunikom, I will share how to have fun, get inspiration, talking about passion, starting firm, facing failures, and servicing clients, then nurturing next generation of avant garde architects wholeheartly
.
“THE PROCESS OF BECOMING AN ARCHITECT”
.
Haloo teman teman semua,
Sebagai penggiat arsitektur muda, kiranya kita harus dapat menelaah dan mengetahui seluk beluk dunia Arsitektur sedari awal hingga menjadi arsitek. Oleh sebab itu, maka HIMARS UNIKOM mewadahinya melalui sebuah webinar berdasarkan hal tersebut.
.
Free entry & limited slot.
.
Untuk pendaftaran webinar, dapat melalui link https://forms.gle/nnXXb7eJufB5f3CUA. (link tertera di bio @himarsunikom)
.
Free E-certificate
.
Untuk info lebih lanjut silakan hubungi :
Indra Hidayatullah = 081615482776
Muhammad Al Fariz = 082124618743
Via WhatsApp (Text only)
.himarsunikom, weproud, webinararsitektur, architecture, arsitekturjawabarat, salamkami

Kategori
lecture

Arsitek di Dalam Lingkungan Binaan

Pada 31 Agustus 2020, Arsitektur Pradita University mengadakan kuliah tamu bersama arsitek profesional Realrich Sjarief, IAI.

Beliau merupakan founder dari RAW (Realrich Architecture Workshop). Beliau lulusan dari Architecture Design Institut Teknologi Bandung (ITB) dan untuk gelar masternya di University of New South Wales (UNSW) dengan Urban Design and Development.

#praditauniversity#epiviosipradita#arsitekturpradita

Kategori
blog

Jalan yang Sepi

Minggu depan, kuliah S3 dimulai. Ada 3 mata kuliah yang saya ambil, pertama adalah mata kuliah wajib metodologi penelitian yang diampu oleh Professor Iwan Sudrajat, dan kolokium yang diampu oleh Professor Sugeng Triyadi, dan Dr. Ir. Himasari Hanan. Yang kedua adalah filsafat ilmu pengetahuan yang diampu Professor Bambang Sugiharto.

The Road Not Taken – Jalan yang tidak diambil, Puisi dari Robert Frost.

Yang menarik adalah kenapa saya mengambil studi S3 ini, apakah ada waktunya ? lalu apa yang dicari ? Saya ingat satu kawan taruhlah namanya Abramovic menanyakan, atau bukan menanyakan tapi memberikan pernyataan yang cukup aneh mungkin terkesan punya presumsi tertentu,

“elo niat banget sih – semua mau – kantor mau / bikin buku mau / anak banyak mau / sekolah terus mau hehehehee 👍🏼👍🏼👍🏼👏🏼👏🏼👏🏼”

mungkin pernyataan pertama “kantor mau” itu muncul dari observasi kawan saya ini bahwa saya sudah membuat studio Realrich Architecture Workshop (dikenal dengan nama RAW Architecture), dimana studio tersebut adalah tempat saya dan anak – anak saya bereksperimen. Kami berusaha untuk terus bereksplorasi, bertanya, dan mencoba mencari tahu mengenai kemungkinan – kemungkinan eksplorasi. Menurut saya yang menarik adalah membongkar kondisi kata “mau” sebagai predikat dan objectnya “kantor”.

Pernyataan kedua “bikin buku mau”, lebih kepada observasi kawan saya ini akan saya dan kawan – kawan sudah membuat beberapa buku di Omah Library, tempat dimana kami membuka wacana – wacana yang diskursif. Dimana buku – buku tersebut adalah hasil dari proses dialog – dialog yang ada, satu arah, dua arah, ataupun tiga arah, arah – arah tersebut ada di dalam perspektif orang yang lain yang dibangun dengan repetisi yang saling membangun.

Pernyataan ketiga “anak banyak mau”, berkaitan dengan kelahiran Heaven anak kami yang kedua (lihat artikel “Heavenrich Selamat Datang Surga”), setelah beberapa kali mencoba dan tidak kunjung berhasil. Disini mungkin perlu dilihat perjuangan Laurensia di dalam menahan suntikan demi suntikan, ataupun, proses – proses kehilangan buah hati kami yang membawa rasa syukur akhirnya Heaven lahir dan menjadi kesayangan kakaknya juga.

Pernyataan keempat “sekolah terus mau”, muncul dari observasi terhadap kemauan untuk bersekolah (saya coba balikkan kalimatnya). Hal ini dikaitkan dengan mungkin usaha mahasiswa untuk mendapatkan gelar S “3 (atau saya simpelnya berbicara kadang es tung tung)” dimana hal tersebut menjadi salah satu tolak ukur sebagai pengajar. Proses tersebut adalah proses menemukan diri, dengan membongkar tatanan dengan sistematis, dan menyusun ulang dengan sistematis. Bu Himasari berkata pada sebuah saat tatap muka, “S3 itu bukan proses problem solving, tapi proses menemukan ilmu baru dengan pembacaan obyek yang diteliti.”

Saya merefleksikan darimana saya mendapatkan kondisi pemikiran untuk mau bersekolah kembali untuk meneguhkan kemauan diri supaya bisa berjalan sampai selesai (titik). Mungkin saya mencari sebuah oase perhentian, tempat untuk berpikir, berhenti sejenak, dan tempat untuk menilai, mendiskusikan, menambal, dan mengikis jelaga dari apa yang sudah dipikirkan, lakukan, rasakan. Mungkin manusia itu sebenarnya hanya menjadi jembatan yang berkelindan di antara dirinya dan orang lain, lalu kalau ditanya maunya apa, “kita berbagi kondisi – kondisi yang sama, dan juga berbeda, namun dari kesamaan tersebut kita bisa berbagi tentang matahari dan bulan yang sama dan meninggalkan bayangan yang berbeda – beda.

Kawan saya yang lain di satu saat Johannes Adiyanto mengirimkan pesan,

“beberapa teman yg ty sy ttg s3, selalu sy tanya, mo ngapain s3? cr pamor, ato cari apa? klo sekedar sibuk dan demi karir dosen… siap2….siap2 sakit semua badan, krn yg dikejar gak terlihat mas,perlu dari dalam sendiri, lha jenengan skrg dalamnya adalah suwung dan pasrah, ini modal, tp perlu ‘api’, ya itu tadi… pertaruhkan semuanya….” – Johannes Adiyanto

Teringat dahulu di dalam perjalanan karir di negeri Kuda Besi (kawan saya, yang lama tidak saya jumpai Marissa Aviana menyebut), dimana keputusan diambil dengan pertaruhan. Dan saya pikir, banyak orang juga mempertaruhkan banyak keputusan – keputusan dalam hidup masing – masing, dan kondisi – kondisi yang memicu pertaruhan tersebut membuat kita sedang berbagi tentang matahari dan bulan yang sama dan meninggalkan bayangan yang berbeda – beda.

Ini adalah tulisan saya sebelumnya tentang berbagi jalan, yang saya lampirkan juga puisi dari Robert Frost sebagai tempat refleksi :

SETIAP MINGGU WANITA TERBAIKKU SELALU BERANGKAT KE KLINIKNYA, TERMASUK HARI SABTU PAGI.

“Dari hari senin sampai kamis ia harus ke puskesmas, dari pagi jam 6 pagi sampai jam 9 malam. juga hari jumat dan sabtu. Terkadang kemudian kita bercerita hal – hal yang biasa, namun selalu membuat hal – hal yang biasa menjadi luar biasa dengan tertawa. Ternyata kita masih bisa tersenyum dibalik kesibukan yang luar biasa…”

The Road Not Taken – Jalan yang tidak diambil.

“Dua jalan bercabang dalam remang hutan kehidupan,

Dan sayang aku tidak bisa menempuh keduanya

Dan sebagai pengembara, aku berdiri lama

Dan memandang ke salah satu jalan sejauh aku bisa

Ke mana arahnya mengarah di balik semak belukar

Kemudian aku memandang yang jalan yang lain, sama bagusnya,

Dan mungkin malah lebih bagus,

Karena jalan itu segar dan mengundang

Meskipun tapak yang telah melewatinya

Juga telah merundukkan rerumputannya

Dan pagi itu keduanya sama – sama membentang

Di bawah hamparan dedaunan rontok yang belum terusik.

Oh kusimpan jalan pertama untuk kali lain!

Meski tahu semua jalan berkaitan

Aku ragu akan pernah kembali

Aku akan menuturkannya sambil mendesah

Suatu saat berabad – abad mendatang;

Dua jalan bercabang di hutan, dan aku,…

Aku menempuh jalan yang jarang dilalui,

Dan itu mengubah Segalanya.”Robert Frost [1916]

Dan seketika saya, tersadar, ternyata masih ada pernyataan terakhir dari kawan saya satu lagi itu yang mungkin memiliki presumsi, menyisakan Pernyataan kelima “hehehehee 👍🏼👍🏼👍🏼👏🏼👏🏼👏🏼” yang saya anggap sikap sebagai kawan dan dukungan untuk perjalanan yang akan dimulai, dengan gestur terkekeh – kekeh.

dan memang hal itu mengubah segalanya, menjadi begitu menyenangkan :) .

lalu,

“Dang Dut Time !” mumpung sepi ngga ada yang liat, hi hi. Ayo jalan, ga usah dipikirin kaya ngga ada kerjaan aja.

Es lilin adalah makanan penyegar berupa es dengan batang kayu sebagai alat untuk dipegang.Hal ini seperti permisalan seperti es (S) 1, es (S) 2, es (S) 3. sebuah bentuk yang baku seperti lilin yang dicetak siap untuk disajikan. Ia bisa mencair, yang dinikmati bersama sesuai selera. bisa jadi semakin ditambah S nya akan semakin membeku mulut kita, atau apabila dinikmati perlahan – lahan, rasa beku tersebut akan melumer dan nikmat dimulut lengkap dengan jus jeruk, durian, nangka, stroberi, kopyor, atau yang lainnya sesuai selera) yang diberi batang kayu lalu dibekukan.
Kategori
blog

Tat Twam Asi | Dia adalah Aku, dan Aku adalah Dia.


“Dalam tradisi lisan, Arsitek melibatkan semua entitas yg [di]hadir[kan]. Arsitek sbg koordinator atas semua entitas yg hadir.
Pdhl masing2 entitas punya tingkat pemahaman yg beda2 satu sama lain dalam menafsir (cerita) arsitektur yg sama. Bagaimana menghadirkan keutuhan & kesatuan arsitektur, shg arsitektur bs diibaratkan sebagai orkestrasi yg terpadu antar masing2 entitas … memainkan improvisasinya masing2.” – Pudji P Wismantara

Kalimat di atas di atas dilontakan dari Pak Pudji P Wismantara mengenai cerita di dalam sesi presentasi mengenai Cerita Nusantara yang dibawakan oleh Anas Hidayat.

Dari diskusi yang terjadi sebenarnya yang dibahas adalah adalah soal dialog di dalam melihat berbagai pandangan, Arsitektur seperti karya sastra, bukan menulis karya ilmiah, menulis hal – hal yang konotatif ataupun denotatif, menulis simbol – simbol yang harus diisi, dan menjadi proses berkarya yang hidup. Hal inilah yang kemarin dibicarakan oleh Johannes Adiyanto soal dialog, ia mengelaborasi ini kedalam bentuk Trialog.

Cerita Pak Eddy Bahtiar tentang prosesnya di dalam The Guild, Guha, dan Mekarwangi

Pak Edy Bahtiar yang saya kenal adalah seseorang yang telah banyak membantu saya sejak pembangunan rumah Istakagrha, Mekarwangi, sampai ke proyek The Guild – Guha. Video ini adalah arsip untuk proses ketukangan yang sedang dijalankan di dalam studio di rentang tahun 2016 – 2017 – 2018 (tengah). Sekarang proses ini masih berjalan.

Data ini sebenarnya bertujuan untuk mendengarkan suara langsung dari dimensi tukang. Ada persepsi – persepsi yang khas dengan persepsi langsung dari Edy. Di dalam proses pembangunan, seluruh hasil memerlukan pertimbangan matang, terukur, dan pertimbangan dari insinyur struktur, MEP, dan saya sendiri untuk sebuah eksperimen arsitektur. Sebagai arsip data – data ini dibutuhkan oleh kawan saya Johannes Adiyanto yang menyusun sebuah konstelasi yang dinamakan Alfa menuju Omega, sebuah Trialogi Praksis.

Ini babak – babak yang ada di dalam video :

00.10 – Sebelum pak Eddy bergabung

07.30 – Cerita membuat 3 bentuk piramida – tumpang sari

12.20 – Tantangan demi tantangan

19.30 – Clue Catenary (membentuk pintu lengkung)

24.30 – Proses hampir selesai – 99 % proses bersama – sama 3

3.50 – Sebuah kemungkinan

Kita kembali ke diskusi Cerita Nusantara, saya ingat, Mas Nurudin pun menyambut dengan pernyataan tentang dialog di diskusi tersebut

“Arsitek mungkin bisa diibaratkan memberikan cerita awal. Barulah dari cerita awal tersebut masukan2 muncul terkait cerita itu. Tanpa cerita itu mungkin tidak ada dialog dan masukan. Seperti ngobrol di angkringan itu. Arsitek bisa menjadi “pemantik” obrolan. Arsitektur tidak mendominasi tapi justru membuka obrolan. cair sifatnya
kalau digital saya bayangkan mirip wikipedia. cair. terbuka. semua boleh ikut edit. Hanya saja mungkin yang perlu dipikirkan bagaimana menjaga akurasi informasi di era digital yang sangat masif arus informasinya (?)” – Nurudin

Kehidupan di dalam proyek cukup kompleks, dengan setiap orang memiliki posisi masing – masing, posisi arsitek, tukang, klien, kritikus, tukang, tetangga, dan begitu banyak posisi – posisi yang lain.

Aku adalah dia dia adalah aku, Prof. Oka Sarasvati membahas ini di dalam dialog di dalam bentuk tattwamasi. Tat twam asi berarti “itu adalah kau”. “Kau” di sini mengacu pada substrat yang tak lepas dari setiap individu. Hal tersebut bukanlah tubuh, pikiran, pancaindra, atau sesuatu yang dapat teramati. Hal tersebut adalah sesuatu yang paling dasar, jauh dari segala sifat keakuan. Dalam pengertian ini, “kau” berarti atman. Entitas yang dimaksud dengan kata “itu”, menurut Weda, adalah Brahman, realitas yang melampaui segala sesuatu yang terbatas. Intinya Tat twam asi adalah dia adalah aku, dan aku adalah dia.

Titik utamanya adalah adalah bagaimana membangun dialog yang saling merajut, seperti air yang mengalir.

Kemudian saya terkejut, ketika merasakan air mandi di satu hari di Mekarwangi-Piyandeling.

“dinginnnn”

Kategori
blog

RAW Architecture is Longlisted Emerging Architect in Dezeen 2020

Kami mendapatkan email dari Aisling Cowley dari Dezeen, tentang kabar baik untuk studio RAW Architecture. Jadi studio kami mendapatkan nominasi (long listed) berarti daftar panjang untuk arsitek yang “emerging”. yang berarti, baru muncul ( Emerging bisa berarti : becoming apparent or prominent.”established and emerging artists”).

Saya meminta anak – anak untuk menuliskan kesan – pesan di Studio. Ini pesan saya ke anak – anak sebagai harapan dan refleksi proses perjalanan kami, dan saya tuliskan disini dengan harapan untuk membangun kultur studio saling berdialog.

“Hi (guys)…tolong kasih pesan dan kesan ya, semoga bisa jadi harapan yang baik untuk proses yang terjadi.”

Ini satu dialog saya dengan Johannes Adiyanto,

“Realrich Sjarief : bagaimana bisa trialog, kalau dialog saja tidak pernah dilakukan
Jo Adiyanto: hahahaha…. bagaimana bercinta…. berkenalan saja antipati…..”

Paguyuban Spirit – I had learned that architecture is sacred, and is all about collaboration process. Our team consists of dedicated craftsmen, young designer, many of them are brothers, sisters, friends for life. None of these was of more use to me than the call for long lasting relationship. If any Outlier wished to be successful in his place, we helped them to rise, which all who were within hearing answered yes to the bright future of all of my fellow family. Then the nature will call of reciprocal rules, that every kind people deserve to be succesful, effort should be noted, and thanked for. It will be appreciated. That is the beautiful side of monumental architecture, that is creating memories for all of the people’s in.

Alifian adalah kepala studio RAW Architecture, dan ada beberapa orang yang juga memberikan kesan pesan tentang studio.

Alifian Kharisma – “kultur studio RAW tidak lepas dari karakteristik seorang kak rich. yang tangkas, mendidik, dan passionateful. dari ribuan jam sy di studio rasanya selalu ada hal baru menanti. ‘there is no problems if new one arrives every minute’. kutipan di ppt raw introduction yg selalu sy bacakan buat para staff baru dan anak magang. ini kesan saya yang pertama. Bekerja seperti belajar berenang, kadang dibimbing, kadang dilepas. kalau tenggelam ada yg ngangkat ke permukaan lagi. kak rich dan para senior itu mentor sy untuk berenang. kak rich pun masih belajar dengan guru dan tingkatan yg berbeda. seiring pengalaman, saya juga harus menjadi mentor untuk yg lebih muda. kesan yang kedua yaitu: setiap orang di studio ini punya kepribadian masing2 yg unik. punya skill skill yg tidak terduga, jago bola, musik, jago joget, jago kerajinan tangan, dll. orang orang datang dan pergi. mereka punya kesan masing2 bahkan untuk orang yg cuma punya waktu 1 hari di studio. 😆. dari sini saya bersyukur kenal macam macam orang.”

Fadiah – “26 September 2020 nanti tepat 4 tahun saya bergabung dengan RAW Architecture. Bukan waktu yang sebentar tapi juga masih sangat dini dalam berkarir di dunia arsitektur. Untuk saya pribadi, proses pendewasaan dan perubahan pola pikir saya banyak terjadi dalam masa-masa tersebut. Saya beruntung dipertemukan oleh teman-teman dengan karakter unik yang akhirnya banyak membuka pikiran saya. Dunia arsitektur sangat luas cakupannya. Dulu saya kira dengan saya tidak mahir dalam mendesain … saya tidak bisa melanjutkan karir saya di bidang arsitektur. Tapi setelah saya masuk …, saya menemukan kenyamanan dalam pola kerjanya. Menggambar detail, mencari solusi untuk lapangan, diskusi dengan principal sampai mandor, mengenal material, dll. Memperhatikan proses dalam mewujudkan bentuk dari gambar ke bentuk nyata di lapangan memberi kepuasan sendiri untuk saya, …”

Vivi Yani Santosa – “Bagi saya RAW itu studio yang besar dan hebat, bangga bisa termasuk di dalamnya. Besar karena bisa memberi impact kebanyak orang (tukang2, kami yang ada di studio, dan Kak Rich n fam) buat sama2 belajar dan memberikan apa yang terbaik dalam diri ke orang luar (klien, keluarga, org sekitar spt Bang Yus, ataupun org lain yang baca artikel dari RAW atau OMAH). Hebat karena ada proses give and take, bisa berusaha membuka lapangan pekerjaan buat banyak tukang, termasuk membuat koneksi ke kontraktor … jg sesuatu yg hebat karena jadi sama-sama belajar dan membuka diri ke orang lain untuk saling percaya. Pastinya RAW jauh dari sempurna tapi saya merasa ada proses berjalan ke arah yang lebih baik lagi dan itu baik :) Disini saya jg merasa bisa belajar untuk lebih berani mencoba banyak hal, menyuarakan ide / potensi diri, mendapat feedback, belajar untuk memiliki komunikasi yang baik (ke tukang, ke teman, ke kak Rich), dan keberanian untuk mengambil tanggung jawab lebih (karena apa yang dikerjakan pasti menyangkut ke orang berikutnya ataupun ke pekerjaan lapangan). Belajar juga kalau ada hal yang lebih fatal daripada kesalahan yaitu tidak mencoba atau malu bertanya…RAW harus terus maju tanpa memusingkan perkataan orang lain tapi mendengarkan saran yang membangun, jangan terlalu tergesa2 dalam semua hal, tp terus maju ke arah yang lebih baik…”

Thomas Andrean Santoso – “Hal yang paling berkesan selama di RAW adalah ruang untuk belajar. RAW adalah ruang untuk belajar mulai dari teknikal hingga hal mendasar yg bersifat attitude dan semangat.
Attitude dan semangat tersebut mulai dari semangat belajar, semangat kesejawatan, dan semua halnya untuk membuat karya yang semaksimal baik dan benar. Idealis memang, tapi itu yang saya rasa perlukan untuk bisa dikembangkan. Pesan untuk RAW dan OMAH untuk tetap semangat berbagi dengan insan arsitektur di Indonesia.”

Timbul Arianto- “Selama bekerja di RAW saya menemukan banyak sekali hal baru yang belum pernah sama sekali djalani, banyak insight baru, baik dari segi design maupun implementasi. RAW memberikan ruang dan memberikan kesempatan untuk seorang Freshgaduate seperti saya untuk dapat berkembang dan menemukan jati diri, mengenali diri. Bekerja di RAW melatih seorang individu untuk berfikir taktis mampu memilah-milah, mengenali, dan menyelesaikan masalah (problem) karna untuk mengenali masalah saja dibutuhkan knowledge yang cukup. Ekosistem yang terbentuk sekarang di RAW mengharuskan untuk setiap individu memiliki inisiatif dan berkapasitas besar, untuk saya sendiri hal ini cukup menarik dan menantang, melihat betapa dinamisnya jenis pekerjaan dan metode penyelesaiannya sehingga memunculkan berbagai excitement tertentu terlepas dari berbagai obstacle yang dihadapi. Saya sendiri menilai ini sangat baik jika boleh saya refleksikan terhadap diri saya untuk dapat berkembang dan memperoleh skill yang mumpuni, seperti belajar di sekolah favorit yang terus terpacu oleh diri sendiri yang terus berkontemplasi, berimajinasi dan berfantasi… saya sendiri yakin bahwa RAW banyak sekali berkontribusi terhadap pembentukan individu-individu yang sudah pernah dan sedang terlibat ikut serta dalam proses berkaryanya. segala yang baik akan terus dijalankan, dikembangkan, dan dilestarikan oleh setiap orang, …”

Riswanda Setyo Addino – “Hal yang menarik ketika ditempatkan pada kondisi lapangan yang dikatakan oleh orang Indonesia ‘tidak akan sama dengan teori’. Namun disini saya menemukan bahwa pendapat itu seharusnya mulai ditambahi ‘namun dengan teori yang fundamental kita bisa menata pikiran untuk menyelesaikan sebuah kasus secara rapi dan meminimalisir efek samping.’. Karena pada dasarnya yang menciptakan apa yang disebut sebagai ‘teori’ adalah praktisi juga namun dengan konteks yang berbeda. Namun konteks tersebut jika dirinci memiliki variable yang bisa jadi memiliki beberapa kesamaan dengan konteks yang kita hadapi. Sehingga ‘teori’ yang kita implementasikan nantinya hibridasi dari dua konteks, sehingga kita bisa mengatakannya sebagai ‘teori’ baru ke orang lain. Sehingga ‘teori’ tersebut sah-sah saja untuk digugat dan diuji dan pasti berbeda dengan situasi lainnya. Bisa jadi dari waktu, musim, insiden, kualitas manusia, tingkat referensi, dan tentunya teknologi…”

Agustin (Meimei) – “Beberapa hal yang didapat dari studio, yaitu saya belajar bagaimana untuk membuat keputusan, berkomunikasi dan berkoordinasi bersama tim, subkon, supplier, dan lainnya. Jujur lebih banyak pengalaman yang didapatkan di studio dibanding dengan di kampus. Untuk sistem yang sekarang dimana saya duduk di dekat kak Rich, awalnya membuat saya gugup. Tapi setelah mengalami, banyak hal yang malah membuat ekspektasi saya mental. Duduk di dekat kak Rich membuat masalah yang ada langsung terpecahkan. Memudahkan berdiskusi mengenai desain ataupun teknis. Saya juga dapat banyak pelajaran baru.”

Riko Yohanes – “RAW merupakan studio arsitektur yang progressif. Sebuah studio yang terus berkembang. Karenanya disini selalu terdapat ilmu-ilmu baru, sebuah tempat yang cocok untuk belajar menjadi seorang arsitek. Disini saya belajar tentang kemandirian dalam cara berpikir. Tentang bagaimana cara untuk tidak selalu disuapi dalam hal berpikir. Saya dituntut untuk memahami lebih dalam setiap permasalahan dan bagaimana men-solusikan setiap permasalahan secara mandiri yang kemudian di diskusikan bersama-sama dengan team. Sebuah kemandirian yang harus dimiliki setiap arsitek apabila inging menjalani petualangannya sendiri (memiliki biro sendiri).Selain itu saya belajar bagaimana membentuk mental saya sebagai arsitek. Bagaimana saya, seorang lulusan freshgraduate harus menginstruksi para pekerja di lapangan yang lebih tua puluhan tahun, dan seolah-olah menggurui mereka, sebuah hal yang aneh tetapi tetap harus dilaksanakan demi keberlangsungan proyek. Kemudian, dalam permasalahan di lapangan, saya dituntut untuk belajar tetap tenang dalam menghadapi situasi yang urgent sekalipun, dan bersikap profesional untuk menjaga sikologi klien, sehingga disini mental saya terus diasah dan menjadikan saya lebih dewasa sebagai seorang arsitek…”

Arlene – “Kegiatan2 seperti makan siang dan makan malam bersama benar2 membangun kerja sama tim yg baik. Lalu yang paling berkesan adalah acara omah bittersweet krn menencourage orang2 untuk lebih lagi berjuang dan bertahan di industri arsitektur…”

Khafid – “Pelajaran berkesan yang saya dapatkan di kantor yaitu Berhubung saya masuk di divisi MK dan sering banyak kelapangan jadi saya lumayan cukup tahu bangaimana proses awal pekerjaan struktur pondasi, kolom, balok hingga selesai. setelah itu selesai selanjutnya, lanjut masuk mulai pekerjaan finishing disinilah saya harap saya mendapatkan hal baru yang sebelumnya saya belum pernah dengan tetap mengikutinya sehingga pengetahuan saya bukan hanya tentang struktur saja akan tetapi proses dari awal hingga endingnya atau sampai finishing selesai complete.”

Muhammad Alim Hanafi – “Pertama-tama saya bersyukur bisa dapat kesempatan belajar dan berkontribusi di RAW. Saya sangat merasakan bagaimana di RAW tidak hanya dituntut untuk bekerja saja, tapi juga untuk berkembang pada setiap individunya. Ekosistem pembelajarannya cukup terasa, seperti seolah pada tiap individu tim design dan build tertuntut untuk belajar dan ‘mengajar’ sesama…”

Dan saya juga meminta tim Omah Library untuk mengisi harapan tersebut sebagai bagian dari keluarga besar.

Amelia Mega – “Selama sekitar 8 bulan berada di OMAH Library, saya mempelajari dan melakukan banyak hal yang baru. Dari menulis manuskrip, wawancara, membuat acara, promosi, serta materi kuliah. Hal-hal tersebut kemudian mempertemukan saya kepada pengetahuan-pengetahuan baru (paling tidak bagi saya), dan mengetahui berbagai perbincangan tentang arsitektur yang kini sedang terjadi. Kesadaran ini kemudian turut membentuk persepsi-persepsi personal saya terhadap arsitektur, arsitek, dan ilmu yang melingkupinya. Saya merasa senang dan berterima kasih dapat melalui proses tersebut, karena kurang-lebih seperti itu yang saya bayangkan akan didapatkan saat mendaftar di OMAH…”

Dimas Dwi Mukti Purwanto – “Selama belajar dan bekerja di Omah Library memberikan pengalaman yang sangat berkesan bagi saya pribadi karena tempat ini benar – benar mampu membentuk pola pikir baru yang lebih baik bagi saya. Terlebih terkait tentang bagaimana cara bekerja secara profesional dengan mengetahui dengan benar beban pekerjaan yang harus diprioritaskan. Selain itu saya juga menambah skill menulis dan menemukan skill baru yaitu tentang bagaiman meriset hingga sedikit mampu melihat konteks yang kemudian dapat menentukan bagaimana tindakan yang relevan melalui kegiatan menulis…”

arsitek profesional memiliki tugas-tugas dasar, yang merupakan praksis, pendekatan aksi reaksi antara metode desain dan refleksi atas metode tersebut. Ini disebut praksis. Seperti memainkan gamelan di atas denting tuts piano.

arsitek profesional memiliki tugas-tugas dasar, yang merupakan praksis, pendekatan aksi reaksi antara metode desain dan refleksi atas metode tersebut. Ini disebut praksis. Seperti memainkan gamelan di atas denting tuts piano. Karya Levi Gunardi dimainkan oleh Euginia S. Sandjaja “Little Gamelan”

“Cara kerja Model Praxis mengacu pada penjelasan Paulo Freire dimana terdapat aksi refleksi dan refleksi atas aksi.Titik tugas arsitek adalah bekerja secara eksploratif, puitis, dan mempersiapkan transfer ilmu kepada penerus kita, dunia yang indah bagi yang muda. arsitek.”

Praktik ini beroperasi berdasarkan konsep kontemplasi rahayu, yang diterjemahkan menjadi ‘harmoni. Ini berarti keadaan bebas dari prasangka dan ego, yang digunakan untuk memperoleh (secara paradoks) totalitas. Tiga prinsip dari konsep ini adalah: Memayu (membawa keindahan dan kedamaian ke dunia seseorang), Manunggal (percaya pada sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri), dan Mudheng (memiliki kesadaran akan peran seseorang di alam semesta). Dalam menjawab pertanyaan kontemporer (saat ini) untuk melanjutkan semangat eksplorasi.

Semoga harapan – harapan yang baik dari anak – anak studio bisa terus dipertahankan, dan diwujudkan. Hal – hal yang patut untuk ditingkatkan bisa diperbaiki, Rahayu perlu dipraktekkan untuk menjadi jembatan yang baik.

Lalu Miracle datang berteriak

“paaaa lava is coming,

lets go together, hiding, let’s play.”

Kategori
blog

Batas Langit itu Dimana ?

Satu waktu saya bertemu dengan Pak Daniel dan Bu Lany untuk mendengarkan rencana mereka membangun satu galeri baru di Kemang. Pak Daniel pun mengundang saya untuk bertemu di Modena Experience Center di Kuningan. Saya kenal pak Daniel dari klien kami Pak Danny dan Pak Edhie. Dan, ternyata Bu Lany juga kenal dengan Pak Budiman, salah satu arsitek yang saya kagumi karena dedikasinya yang tulus dan mengingatkan satu saat di presentasinya di Omah. Hal itu saya masih ingat sampai sekarang,

Saya bertanya ke Pak Budiman, “Pak apa rahasianya, … untuk tidak pernah takut ?”

Ia menjawab “Realrich hidup itu cuma sekali, jalanilah kenapa takut ? … ” dan Pak Budiman mengingatkan.

“jangan lupa sembahyang…”

kehidupan yang cuma sekali, ini bisa diibaratkan anak kecil yang sedang menari – nari di antara bintang, Lagu komposisi dari Levi gunardi ini menggambarkan, jiwa anak – anak di dalam persona yang berkelindan di antara harapan – harapan. Begitupun arsitektur ada di dalam alam tegangan keinginan banyak pihak, klien, tim yang tidak kecil.

Dari perbincangan Pak Daniel , terlihat ada bangunan lama yang sudah ada di lokasi. Saya berpikir bahwa perlu untuk melihat apa yang sudah ada dan kemudian menggunakannya dengan cermat untuk melakukan penghematan. Saya membuat janji untuk berkunjung melihat lapangan jam 11 di hari Jumat, kebetulan hari itu hari libur, jadi saya kesana sendirian. Kami berdiskusi di lapangan. Setelah mengecek lokasi yang bebas dari banjir, melihat ketinggian bangunan, kemungkinan layout ruang, saya mengusulkan untuk mengecek struktur bangunan. Prosedur pertama adalah pengecekan material apa yang bisa dipertahankan, posisi kolom yang menjadi batasan, dan kualitas struktur yang bisa dilihat secara visual. Saya mengirimkan pesan ke beliau,

“Hallo pagi Pak Daniel,Pak Daniel masih ada data existing yang saya masih belum dapetin data eksisting kuda – kuda atap, saya memerlukan data tersebut untuk bisa membuat konsep dengan pertimbangan yang lebih terukur. Apa saya bisa melakukan pengecekan lokasi kembali untuk melihat kondisi kuda – kuda atap ? Kalau tidak bisa hari ini tidak apa – apa, mungkin juga saya perlu buka langit-langitnya untuk cek keadaan kuda – kuda.”

Di awal meeting saya meminta kawan saya, Anwar Susanto untuk melihat bagaimana struktur bangunannya. Dari situ teridentifikasi beberapa bagian yang patut untuk dibongkar ataupun di tambal / diperkuat.

Satu minggu kemudian kami bertemu kembali dan saya memberikan sketsa beserta analisa ruang dan sirkulasi. Ceritanya adalah bagaimana mengembalikan memori akan kemang yang intim, bersahaja dengan mengakomodasi fungsi galeri yang baru , menggunakan pencahayaan alami.

Maket yang diadakan untuk diskusi mengenai layout ruang, dan kemungkinan penggunaan desain atap yang baru. yang penting disini adalah hubungan massa bangunan lama dengan bangunan baru dibelakang.

Saya ingat meminta tim untuk melakukan beberapa percobaan untuk merubah atap dari yang paling eksperimental dengan membuka pertimbangan sudut utara selatan, dan menggunakan bentuk – bentuk platonis dan kurvilinear. Pembuatan maket dimaksudkan untuk mendapatkan komposisi yang berbeda – beda dengan mempertimbangkan komposisi, sudut matahari, program ruang di bawahnya, dan metafora bentuk (literal ataupun esensial).

Ini adalah bentuk lingkaran, yang pada akhrinya kita kerucutkan untuk menyaring sinar matahari yang masuk ke ruang pamer.
Bentuk ini adalah metafora dari bentuk topi dengan skylight dengan tujuan mengurangi sinar matahari langsung.
sampai ke penggunaan bentuk perisan dengan intervensi skylight. Dan struktur bangunanpun disederhanakan dengan mengangkat atap sehingga cahaya matahari masuk dengan tidak langsung ke ruang pamer.

Di dalam membenahi layout ruang, konsep desain disusun dengan logika bangunan core disisi belakang berbentuk tubular dan memiliki ramp di belakang, meskipun pada akhirnya berubah fungsi menjadi ruang serba guna karena dinilai mereka membutuhkan fleksibilitas ruang yang tertutup.

Bagian fasade merupakan secondary skin yang menutupi seluruh tampak depan bangunan eksisting. Dinding secondary skin ini terdiri dari susunan modul bata berlubang yang berdiri di atas struktur baja CNP dengan pondasi sendiri dan struktur tambahan yang menopang ke atap dak bangunan eksisting. Bahasa material bata ini diadopsi dari beberapa proyek sebelumnya yaitu sekolah alfa omega dengan tektonika dengan susunan solid-void yang diadopsi juga dari proyek istakagrha dan rumah Henry.Secara fungsional secondary skin ini menyaring cahaya matahari yang masuk ke dalam ruangan serta memberikan privasi.

Eksplorasi kulit bangunan pun dilakukan dari sudut pandang ekonomis, artistik, dan kemungkinan – kemungkinan inovasi yang baru.

Ada kemungkinan – kemungkinan perbincangan sejauh mana, Galeri bisa berkelanjutan dari sudut pandang ekonomi dengan melakukan perbandingan studi, ataupun fungsi ruang yang fleksibel yang terkait dengan Galeri dari Modena yang melibatkan interior desain. Dan kemudian riset sejarah pun dilakukan untuk mengetahui sejauh mana galeri ini relevan terhadap kehidupan Kemang.

Setelah itu , tender pun dilakukan untuk memilih kontraktor. Dan puji Tuhan proses konstruksi sudah dimulai. Inilah hasilnya, dan perjalanan pun masih panjang. Tunggu ya cerita selanjutnya. Ini foto bersama tim, minus pak Daniel dan bu Lany, semoga suatu saat kita bisa berfoto bersama untuk mengenang proses desain, dan bangunan yang didesain dan dibangun bersama – sama dengan kolaboratif.

Dari yang paling kiri adalah Alifian, Nathan, Bambang, saya sendiri, Eko Nuryanto, tim Kencana Sewu, Rizal.

Sebenarnya proyek ini memiliki rentang waktu yang panjang, lebih panjang dari kontraknya sendiri. Di dalam prosesnya, untuk tipe proyek seperti ini komposisi tim disesuaikan dengan kebutuhan proyek, dan momentum yang baik untuk arsitek-arsitek muda untuk belajar, setiap proyek adalah sebuah kesempatan untuk belajar, seperti dokter yang berhadapan dengan pasien baru, dan kasus baru.

Kemarin saya meminta anak – anak saya untuk menulis satu atau dua kesan, untuk mendapatkan kenangan bersama.

Alifian Kharisma Syahziar (Kepala Studio Desain) menulis “kesan saya untuk proyek kemang sejauh ini: pengalaman yg baru dengan realitas proyek yang seperti nya lebih komplit dr yang pernah sy jalani di studio dari segi stages. mulai site analysis, skematik, DD, tender drawing, for con drawing, perijinan, meeting mingguan, MoM. saya bisa bertemu banyak stakeholder seperti proyek manajer, qs, kontraktor, konsultan2 lain. …. menurut sy portfolio bagus untuk kita sebagai studio dan individu mengingat proses nya yg komplit dan proyek nya adalah proyek bangunan publik,….proyek semacam ini adalah kesempatan yg baik bagi siapapun untuk bisa merealisasikan apa yg direncanakan dengan banyak pelajaran. proses desain yang cukup dalam, interaksi dgn orang luar lingkup raw, mensinkronkan pikiran, professionalitas, menguji kesabaran. 😁”

Dini Aghnia (Designer in charge) menulis ” … proyek ini memberikan pengalaman dan pembelajaran yg banyak sekali terutama dari aspek koordinasi dgn pihak luar krn berkesempatan untuk turun langsung bertemu stakeholder2 dan menjalani proses meeting rutin. … terlibat di dalam proyek ini adalah pengalaman yg menyenangkan walau harus bersabar cukup panjang untuk menikmati hasilnya, seperti membesarkan bayi sedikit demi sedikit. Selama perjalanan di RAW sampai saat ini selalu membuahkan kesan tersendiri untuk saya pribadi ketika didelegasikan untuk meeting/mengawas ke lapangan … selalu menjadi satu satunya perempuan di lapangan dan yg paling muda di antara semua stakeholder lain 😅 ini menjadi tantangan tersendiri juga karena harus bisa bersosialisasi dengan bapak2, tukang2, bahkan saya sampai menjadi akrab dengan security di plaza indonesia dan menara global krn sering ke lapangan saat itu… Thank you atas kesempatan berceritanya semoga bisa memberi insight baru dan membawa manfaat kedepannya 🙏 u “

Cerita di dalam rapat – rapat selalu berkesan, mulai dari bertemu Pak Daniel pertama kali, dan juga Bu Lany beliau bertanya, bahwa apakah saya mengajar ? karena cara presentasi dan cara melihat permasalahan berbeda dari arsitek yang sering beliau temui. Sebenarnya melihat showroom beliau dan interior ataupun arsitekturnya saya sungguh tersanjung studio kami diberi kesempatan untuk mengerjakan desain Artspace ini. Satu waktu saya rapat dengan Pak Daniel, saat itu kami membawa maket – maket studi yang ada di penjelasan sebelum. Dan terus terang saya sudah kehabisan tenaga hari itu karena tidak tidur semalaman. Ketika baru saja rapat ditutup dan selesai setelah kita rapat beberapa jam. Bu Lany masuk dan beliau minta diceritakan hasil desainnya, kemudian saya mengulang kembali presentasi dan mencatat perubahan – perubahan, untuk mengkalibrasi keinginan beliau yang dituangkan ke dalam kebutuhan ruang. Meeting berlanjut kembali kira – kira 1.5 jam setelahnya. Lidah saya sebenarnya kelu, dan keringat dingin mulai menetes, saya pun gemetar karena energi saya sudah mulai habis. Saya mengerti bekerja memang membutuhkan ketekunan dan kesungguhan, memang hal ini yang membuat berkesan, sebuah proses untuk melakukan yang terbaik.

Saya teringat satu saat Bu Lany bercerita, saya mau pakai kitchen designer yang ini bukan yang itu. Saya tanya “kenapa bu ? “

Untuk saya pertanyaan ini penting karena saya bisa mengetahui cara pandang klien di dalam menilai desainer atau pun arsiteknya.

Ia pun bercerita bahwa ada sebuah proses yang panjang untuk menata ruang, mencocokkan pernik – pernik, berdialog dengan orang – orang misal siapa yang akan mengoperasikan bangunan, ini senua adalah detil – detil yang kompleks. Ia sering berkata “Ini bagus tapi belum maksimal.” Ia memiliki standar yang cukup mencengangkan di dalam penataan pernik – pernik. Bu Lany bilang,

proses ini panjang dan saya tidak mudah memilih orang, saya akan berjalan bersama orang yang bisa punya nafas panjang bukan pendek,…”

Dalam hati saya berpikir, “lalu apa ya”

Ia menambahkan “so, the sky is the limit, seperti kami memilih kamu Realrich.”

Saya kembali ke judul tulisan ini. “Jadi batas langit itu dimana ? ” pertanyaan itu yang menjadi judul tulisan diatas, mungkin hal itu dimulai dengan membentuk hubungan relasi yang sehat, dan itu dimulai dari kepercayaan dan apresiasi yang baik. Dari situ saya menutup laptop, bersyukur mengenai proses di studio yang panjang dan berkesan.

Seketika saya melihat Whatsapp terus berbunyi. Wanitaku tercintaku, Laurensia memanggil,

“Sudah makan belum yang ?”

Terlihat diatas sketsa bangunan yang didiskusikan pada awal desain, dan gambar dibawah adalah tampak bangunan yang ditutupi kulit bangunan yang menggunakan tektonika bata sebagai penutup. Visualisasi oleh : Enomu Visual
Diatas ini adalah desain setelah menyesuaikan terhadap desain baru pedestrian jalan di Kemang yang lebih terbuka. Visualisasi oleh : Enomu Visual
Eksplorasi kulit bangunan pun dilakukan dari sudut pandang ekonomis, artistik, dan kemungkinan – kemungkinan inovasi yang baru.
Ini hasil setelah penggodokan terhadap, optimalisasi konstruksi, optimalisasi fleksibilitas ruang yang diperlukan, biaya, dimana atap diangkat seringan mungkin dari ruang galeri. Hal ini juga mempertimbangkan kondisi termal di dalam ruangan.
Pak Daniel menunjuk yudha sebagai Interior, kami berdiskusi bahwa space galeri perlu untuk bisa fleksibel sebagai ekstensi showroom dari Modena atau membuka kemungkinan terhadap fungsi – fungsi lain.

Terima kasih Alifian Kharisma dan Dini Aghnia Lukman yang masih Work from Home untuk kerja kerasnya yang masih mau menemani di proses – proses panjang dari rubah, rubah dan rubah, dan juga ke beberapa orang yang terlibat sebelumnya. Bambang Ardi, Eko Nuryanto, Kencana Sewu, Tanto , Rizal, Gunawan, Yudhanarta, Yudha, Nathan. Juga Pak Daniel dan Bu Lany.

Visualisasi 3d tampak depan: Enomu Visual

Kategori
juror

Juror in WORKSHOP ARCHITECTURAL DESIGN WEEK 2020

WORKSHOP ARCHITECTURAL DESIGN WEEK 2020 presents

“Community House: A Welcoming and Unifying Third-place for Collage Student and Surrounding Communities”

Manusia sebagai makhluk sosial perlu untuk berinteraksi dengan orang lain, tidak terkecuali dengan mahasiswa. Banyak kendala yang dialami oleh kehidupan seorang mahasiswa, baik dalam hal akademik, kehidupan sosial, dan psikologis, mendorong terbentuknya sebuah third-place yang memadai. Workshop ADW 2020 ingin mengajak para peserta untuk mampu menciptakan sebuah third-place dengan program-program yang mendukung kebutuhan mahasiswa dan interaksi dengan masyarakat sekitar. Peserta dibekali dengan study tour ke objek-objek di Jakarta, serta bimbingan langsung oleh para ahli di bidangnya.

Lecturers:
1. Realrich Sjarief (RAW Architecture)
2. Nur Muhammad (PDW Architects)
3. Bayo Ariyanto (Basio)
4. Antonius Richard (RAD+ Architecture)
5. Adi Purnomo* (mamostudio)
6. Soerjono Herlambang (Untar Academician)
7. Maria Veronica (Untar Academician)
8. Yori Antar (Han Awal & Partners)

*in confirmation

Early Bird @Rp.350.000,- (ONLY FOR THE FIRST 10 INDIVIDUAL SEATS)
Normal @Rp.400.000,-
*limited for 30 seat

Promo buy 5 get 1 (with normal price)

Payment
BCA 7020509869 a/n Vicky Kosasih

For further information:
LINE : @archdesignweek

Jo Angelica
Line: joangelica48
087884476668

WEBSITE: www.architecturaldesignweek.id

TOR: bit.ly/tor-workshop2020
FORM: bit.ly/form-workshop2020

#workshop #communityhouse #arsitektur #ADW2020 #architecturaldesignweek #eventjakarta #jakarta #exhibition #architect #untar #annual #event #2020

Kategori
blog

Rahasia Kehidupan ?

Di dalam acara Nusantara kemarin, saya teringat saya melemparkan anekdot ke Eka mengenai,

“Ka itu Spirit 45 sebaiknya dibubarkan saja. Karena memang berbasis kepada acara tertentu, perjalanan ke Paris.”

Saya sendiri sudah tidak memiliki kepentingan disitu. Mungkin yang tersisa adalah pengembangan ide mengenai Le Corbusier bahwa kami pernah berziarah bersama. Apabila ada ide tentang pengembangan buku dan sebagainya, saya melihatnya sebagai ajang romantisme bahwa sejujurnya saya dahulu ingin supaya kami bertiga (Eka Swadiansa dan Andy Rahman) tetap berdialog dan tidak saling meninggalkan, dimana ini adalah ranah personal, bukan bisnis dan juga bukan misi tertentu.

Mempelajari sesuatu yang baru, seperti berada menelusuri tempat – tempat yang rahasia. Seperti metafora taman, “Secret Garden” yang indah, proses menelusurinya yang berkesan, setelah proses itu dilakukan, lalu sudah saatnya kita kenang lalu kita menelusuri taman – taman rahasia yang lain.

Sebagai sebuah grup, secara personal dulu Eka mengirimkan email ke saya untuk membentuk Spirit 45. Yang menarik bagi saya adalah ajakan untuk berkunjung ke karya Le Corbusier selain menyiapkan turunan dari Arsitektur Vernakular, dimana saya percaya bahwa apa yang digagas akan mampu memberikan wacana untuk kontemplasi kami di studio.

Arsitektur Vernakular adalah arsitektur dengan pendekatan perancangan yang biasa, menggunakan bahan yang dipakai sehari – hari, bentuk massa yang sederhana, kulit bangunan menggunakan kekriyaan lokal, penggunaan layout yang platonis, dan juga sistem MEP, pemanfaatan energi dan air yang mudah didapatkan, tidak mahal. Ibaratnya lekat dengan kehidupan sehari – hari, kehidupan tanpa solek. Turunan ini sifatnya memang problematis, karena perlu menggali bagaimana sistem produk bekerja di dalam perancangan yang biasa.

Sarah Edwards menulis “Arsitektur vernakular, bentuk paling sederhana untuk memenuhi kebutuhan manusia, tampaknya dilupakan dalam arsitektur modern. …merangkul tradisi regionalisme dan bangunan budaya, mengingat bahwa pemikiran ini … terbukti hemat energi dan sepenuhnya berkelanjutan. Di era urbanisasi dan kemajuan teknologi yang pesat ini, masih banyak yang dapat dipelajari dari pengetahuan tradisional tentang konstruksi vernakular. Metode berteknologi rendah untuk membuat perumahan yang secara sempurna disesuaikan dengan lokasinya adalah brilian, karena ini adalah prinsip yang lebih sering diabaikan oleh arsitek yang ada.” lihat link

Disinilah ada irisan antara kami, karena memang ada irisan terhadap apa yang dipercayai, bahwa arsitektur seharusnya bisa diturunkan dengan pendekatan – pendekatan spesifik tertentu.

Meta-Vernacular adalah teori arsitektur turunan yang dibahas di buku putih Spirit 45, sebuah terminologi yang digagas oleh Swadiansa untuk irisan kami, saya hanya berperan kecil di dalam buku itu, ia menyapa dan kami masih berkawan baik sampai sekarang. Di ranah profesionalitas bisa saja kami tidak sependapat namun tidak akan bertengkar secara personal. Ia pun masih berproses, dan saya mendukungnya secara personal. Ia melanjutkan kemudian dengan merajut Spirit 47. Teori seperti yang dibahas oleh Undi Gunawan adalah sebuah cara memandang, Meta Vernacular adalah turunan lebih lanjut daripada ranah vernakular sebagai aksi reaksi dari postmodernism. Saya sangat mendukung Eka di dalam menurunkan hal – hal ini, karena seseorang yang mengembangkan teori sangatlah jarang di Indonesia.

Setelah trip kami ke karya Corbusier di satu saat di kereta kembali ke Paris saya mengusulkan untuk membuat buku 0 dimana itu adalah buku awal mula, dan di hotel saya menelpon Anas Hidayat dari Perancis untuk memintanya menjadi penulis buku Andy Rahman karena saat itu saya sedang menulis beberapa buku dengan Anas Hidayat, dan saya pikir ia akan mudah berkerjasama dengan Andy selain ada kemungkinan kepentingan bisnis yang bisa baik untuk kedua belah pihak. Buku Nata Bata selesai, saya menantikan buku Static City dari Eka. Namun waktu dan jalan hidup berkata berbeda. Karena saya kehabisan waktu menunggu dan Eka memiliki momentum untuk mengembangkan hal yang lain.

Saya memiliki ide untuk menerbitkan beberapa hasil riset kami berupa buku – buku saya tulis beserta kawan – kawan di Omah Library, juga Anas Hidayat, dan Johannes Adiyanto hanya karena saya merasa dekat, dan ada teman seperjalanan, tidak kurang dan tidak lebih, alasannya pun cukup personal. Setahun setelahnya, saya merefleksikan kembali, banyak yang sudah dilakukan, dan didiskusikan. Bahwa ada yang tidak sejalan itu normal ataupun semuanya yang sejalan itu pun juga wajar – wajar saja, dan hubungan personal akan baik – baik saja di antara kami.

Kemudian apa yang saya takutkan bahwa Spirit 45 sebagai alat untuk agenda-agenda personal tertentu (bisnis, ketenaran, dan ambisi pribadi tertentu termasuk saya sendiri), dan saya memang pernah dan sudah jadi bagian disitu. Suka atau tidak suka disclaimer diperlukan untuk menjaga hubungan antarpersonal yang lain.

Sementara bola sudah bergulir,

jadi bagaimana ?

“Eh jangan mas, di-peti es kan saja, sampai satu saat cair kembali, atau beku selamanya.”

Satu saat kawan saya bergumam. Bisa ya ? karena sekali bergulir tidak bisa kembali itulah namanya Snowball Effect, ataupun hal tersebut sering dibahas di dalam terminologi perubahan iklim (climate change).

lalu apa. Minggir ae lah ya, ke ladang membajak sawah, berproduksi dan berhenti dan kemudian berteriak – teriak “kerja – kerja – kerja.”

Sejenak saya sadar dan bangun, bahwa belenggu kultural tercipta kembali, setiap orang punya peperangannya sendiri dan kontemplasinya sendiri, dan itu sah – sah saja. Belenggu kultural akan muncul apabila apa yang kita proyeksikan menjadi kenyataan dan hasilnya pun kita tidak akan bisa tebak arahnya kemana. Ada yang menggelinding ke ranah bisnis, ada juga ke ranah misi tertentu, ada juga ke ranah yang personal. Bola saljunya pecah ke segala arah.

Sejenak saya ingat cerita Phytagoras dimana ia harus memilih antara permainan publik, politik, permainan ketenaran dan kuasa untuk menang atau paling mudahnya, hegemoni. Seperti yang dikutip dari Simon Singh


“Kehidupan… mungkin bisa diperbandingkan dengan sebuah permainan di dalam keramaian. Beberapa orang tertarik dengan seberapa ia bisa memperoleh keuntungan, sementara yang lain tertarik oleh harapan dan ambisi akan ketenaran dan kemenangan. Tapi di antara mereka, ada beberapa yang datang hanya mengamati dan memahami semua yang terjadi di kerumunan dan lalu lalang disini.”

“Sama juga dengan kehidupan. Beberapa orang terpengaruh akan cinta akan harta dimana yang lain buta akan kekuasaan, dan keinginan untuk mendominasi. tetapi tipe manusia yang terbaik memberikan dirinya untuk menemukan arti dan tujuan kehidupan. Ia akan mencari untuk mengungkap rahasia kehidupan. Orang ini yang saya sebut, filsuf, meskipun tidak ada orang yang sepenuhnya bijaksana, ia bisa mencintai kebijaksanaan akan sebuah kunci untuk memahami rahasia alam.”

Tiba – tiba ada suara hangat kembali menyapa. Kali ini disertai dengan sentuhan halus.

“Kerja Kerja Kerja, Bangun!”

Lalu saya bangun dari mimpi, muka Miracle tepat di depan saya, Heavenpun menangis dan sepertinya semua baik – baik saja, tidak terlihat bola salju yang besar itu, mungkin saya sedang berhalusinasi.

Kategori
blog

Eh baru tahu ya, makanya Jangan asyik sendiri.

Baru beberapa minggu terakhir saya disibukkan dengan banyak pertanyaan tentang tradisi dan kekinian, kali ini tentang Arsitektur Nusantara. Ada satu mahasiswa lagi aneh – aneh saja nanya ke saya. Dari cara ia bertanya saya sudah bisa merasakan kadar kesontoloyoannya.

.
“Pak saya ngga suka sama arsitektur nusantara soalnya kok katro gitu sih pak ngga modern.”

.
Jawab saya “Lho kamu ngga boleh gitu dong masa prejudice gitu sih, memang kenapa sama arsitektur nusantara orang itu bukan bangunan desain kamu ya, silahkan saja kan kalau orang mau mendesain sebebas dia, masa kamu mau jadi polisi. “
.
Tapi kemudian saya pikir mungkin mahasiswa ini ada benarnya, lalu saya tanya lagi sama dia.
.
“Memangnya kenapa kok kamu ngga suka sama Arsitektur Nusantara ?kamu ngga suka sama arsiteknya atau karyanya. Dia menjawab ya pak, soalnya ya saya ngga melihat ada yang baru, pendekatan – pendekatannya sudah kuno kan Romo Mangun pernah membahas ini pak waktu membahas tentang AMI (maksud dia adalah Arsitek Muda Indonesia). Kan karyanya Romo juga melakukan pendekatan yang sama.”

.
Kemudian saya mengingat – ngingat, kalimat yang dituliskan almarhum Ahmad Djuhara di dalam buku AMI 2. ” Dalam salah satu acara Forum AMI…mendiang Romo Mangun menyatakan hal yang menyentak teman – teman : “Karyanya bagus, tapi kuno!” Menurutnya tidak ada temuan, terobosan, konsep baru tentang arsitektur, elemen arsitektur, program dan dalm semua skala, dari furnitur (kursi, misalnya…) sampai kota (yang menjadi mainan Le Corbusier atau Otto Wagner.” Saya mengingat satu kata yang merupakan komposisi musik yang dituliskan oleh Levi Gunardi. Dahayu dalam bahasa Sansekerta, artinya Cantik. Seperti arti nama Dahayu, ibu dan wanita memiliki peranan penting yang mengayomi. Setiap bertemu orang baru, mahasiswa didik, sisi mengayomi akan dibutuhkan untuk membantu mereka menembus batas. Untuk diayomi kita perlu mengayomi, untuk diiyakan kita perlu mengiyakan, hal ini sifatnya resiprokal.

Dahayu dalam bahasa Sansekerta, artinya Cantik. Seperti arti nama Dahayu, ibu dan wanita memiliki peranan penting yang mengayomi. Setiap bertemu orang baru, mahasiswa didik, sisi mengayomi akan dibutuhkan untuk membantu mereka menembus batas. Untuk diayomi kita perlu mengayomi, untuk diiyakan kita perlu mengiyakan, hal ini sifatnya resiprokal.

.
Kemudian, saya tersadar. “Sontoloyo” ternyata anak ini canggih juga, lalu saya tanya lagi

“jadi mau kamu apa ?”
.
Ya saya itu tertarik bukan hanya soal bentuk pak, atau nama saja, tapi bagaimana satu bangunan itu didesain secara pintar oleh arsiteknya bukan hanya mengulang – ulang jargon – jargon yang menjemukan sembari ia mengulang apa kata Romo Mangun dengan mengganti kata AMI dengan Arsitektur Nusantara.
.
Lalu gimana saya tanya ?
.
Lha iya pak kalau gitu nanti kalau saya dapat klien, saya akan buat karya saya sendiri.
.
Nah gitu dong, tunjukkan pada dunia jalan yang berbeda. Kata saya ke anak ini
.
Ia lalu berseloroh, tunggu pak saya belum selesai, dan akan saya namakan arsitektur saya Arsitektur Indonesia.
.
“Kenapa” saya tanya ke dia,
.
Iya pak Nusantara itu identik dengan kolonialisme.
.
Waduh, nak kamu baca apa aja sih.
.
Dia menjawab Wikipedia pak,

Ia lalu berseloroh, tunggu pak saya belum selesai, dan akan saya namakan arsitektur saya Arsitektur Indonesia. “Kenapa” saya tanya ke dia, Iya pak Nusantara itu identik dengan kolonialisme. Waduh, nak kamu baca apa aja sih. Dia menjawab Wikipedia pak.

Saya kemudian tersenyum, sontoloyo tenan. Pelan – pelan saya balik ke meja saya membuka referensi buku – buku untuk saya bagikan ke anak ini, salah-satunya adalah novel Romo Mangun mengenai burung – burung Manyar, kekuatan berproses bercinta di dalam arsitektur dan untuk tetap menjadi sontoloyo. Teruskan dik untuk meredefinisi Arsitekturmu ! Hal ini membuat saya tertarik untuk melihat diskursus identitas di dalam Arsitektur Nusantara … ups atau .. Indonesia.

Saya ingat di dalam acara di Omah Library, Abidin Kusno mereposisikan 5 buah posisi untuk Nusantara.

Saya ingat di dalam acara di Omah Library, Abidin Kusno mereposisikan 5 buah posisi untuk Nusantara. Abidin menempatkan posisi Josef Prijotomo di dalam kuadran ke-5 sebuah resistensi untuk kesetaraan. Kritisisme yang diperbincangkan di dalam diskusi terlihat bagaimana keresahan kawan – kawan terhadap arsitektur nusantara ini yang membuahkan posisi ke 6, yaitu penggunaan istilah Nusantara sebagai sebuah komoditas.

Abidin menempatkan posisi Josef Prijotomo di dalam kuadran ke-5 sebuah resistensi untuk kesetaraan. Kritisisme yang diperbincangkan di dalam diskusi terlihat bagaimana keresahan kawan – kawan terhadap arsitektur nusantara ini yang membuahkan posisi ke 6, yaitu penggunaan istilah Nusantara sebagai sebuah komoditas.

Eka, Roro, Alva, Cahyo dan rekan – rekan lain menggarisbawahi posisi selanjutnya ke 7 dan 8 untuk memberikan posisi bahwa nusantara bisa membuka wacana dekolonialisasi. Namun hal ini sungguhlah perlu studi yang tidak sebentar mengenai penemuan – penemuan lanjutan para intelektual, dimana ini merupakan kerja bersama.

Ada saya inget beberapa kalimat dari Roro Damar di dalam perbincangan.

” Pak Abidin, saya ada pertanyaan :

  1. Nusantara salah satunya menjadi popular karena ada doktrinasi dari pemerintah dalam dunia pendidikan, sehingga masyarakat secara blindly percaya Nusantara adalah jaman ‘keemasan’ Indonesia di masa lalu, despite the problematic history. Saat ini
    Nusantara dan Arsitektur Nusantara sudah dimaknai secara ‘dogmatic’ oleh pendukungnya, seakan jadi satu2nya ‘the most authentic’ identitas dr Indonesia. Bagaimana pak Abidin
    menanggapi ini?
  2. Nusantara sangat Javasentis, bahkan saat ini Arsitektur Nusantara ditolak oleh beberapa elemen masyarakat di perifer Indonesia karena mereka tidak pernah merasa ‘dijajah’ Majapahit. Bukankah Nusantara dan Arsitektur Nusantara ini bentuk penindasan budaya juga jika memaksa mereka ‘bersatu’ di bawah ide ini? Dan fakta bahwa Majapahit berarti adalah imperialist, apakah etis negara yang telah dijajah 3,5 abad kemudian merefer pada glorious history kerajaan imperialist?
  3. Arsitektur Nusantara yang saat ini ramai digaungkan oleh arsitek Indonesia seakan hanya representasi middle class, dengan ide idealnya menggunakan material lokal, ornament daerah, dll. Sementara masyarakat marginal terpaksa menggunakan material
    fabrikasi krn itulah yang terjangkau oleh mereka, karena himpitan ekonomi. Dengan rumah yang tidak ‘Nusantarais’ seakan membuat orang2 marjinal ini bukan termasuk orang
    Nusantara. Bagaimana harusnya menempatkan ide Arsitektur Nusantara diantara kompleksitas dan himpitan geo-politik, sosial dan ekonomi saat ini? Mungkinkah kita membuat garis mana yg merupakan identitas bangsa, dan mana yg bukan? Terima kasih pak.”

Pertanyaan ini dijawab Abidin Kusno dengan jelas bahwa intinya kita mengalami sebuah problematika dan perjalanan untuk mencari kesejatian itu sendiri juga problematis dan tidak produktif. Ia menyarankan bahwa perlu dilihat bahwa apa yang telah dihasilkan melalui klaim “arsitektur nusantara”? Abidin memprediksi kemungkinan karena genealogi kata “nusantara” itu adalah dari para political elite, maka ia cenderung “elitis” atau
“propagandais.”

Untuk menurunkan sebuah istilah menjadi sebuah dasar teori, perlu perdebatan dan perbincangan, untuk melihat apa makna dan arti sesungguhnya sebuah wacana. Dari diskusi di atas kita bisa belajar bahwa perdebatan diperlukan tanpa ad hominem (personal) dan pretensi – pretensi yang tidak diperlukan.

Di balik layar saya mencari – cari pak Josef Prijotomo, ia tidak hadir di acara tersebut. Padahal saya khusus menginginkan dialog ini terdengar oleh pak Josef, dimana apresiasi diberikan untuk sebuah perjuangan, resistensi demi kesetaraan.

Saya jadi teringat ketika saya mengirimkan tulisan Madeg Pandhito ke pak Josef Prijotomo. Ia menjawab,

“Terima kasih. Saya tidak pantas bila diberi label “madeg pandhito” sebab saya bukan pandhito, saya hanya soso(k) yg ekstrimnya boleh disebut pINandhito, yakni sosok yang mesti berperan bagaikan pandhito (=pinandhito) saat harus membawa murid saya ke ladang kebijaksanaan (wisdom, sophia)”

saya membalas, “nah terima kasih pak sudah membawa ke ladang tersebut :)…kita semua mesti memainkan peran tersebut kan pak.”

Saya jadi berpikir ulang memang sang pINandhito sudah tidak perlu hadir lagi, karena tidak ada peran untuknya, baginya ia akan muncul begitu muncul peran. Seni peran memang membutuhkan sebuah pertunjukkan. Untuk mendalami wacana dibutuhkan kacamata di luar panggung(lingkaran) itu sendiri.

Saya tertarik justru akan cerita dibelakang panggung, tulisan perspektif 4 titik.

“Alhasil disini kita bisa belajar mengenai semangat di dalam backstage ini, elemen yang terpenting namun sering dilupakan, panggung seringkali menyilaukan dengan hingar bingarnya, merah kuningnya, namun terkadang, semangat backstage ini sendiri adalah jiwa dari panggung tersebut, semua ini sama seperti dunia kerja, maupun apapun yang ada di hidup kita, back stage itu hati, jiwa dan proses, dapur dari pikiran kita …panggung itu hanya pemanis dan pupur kiasan, yang terkadang menipu. di Backstage ada semangat untuk salah, ada juga semangat untuk belajar, apalagi semangat untuk mencoba benar ,…terkadang mungkin kita lupa dengan ini.”

Hal ini membuat saya melihat – lihat grafik tentang sejauh mana isu – isu yang dibahas ini relevan terhadap masyarakat melalui data – data. Di hari minggu kemarin saya berdiskusi dengan Mohammad Cahyo Novianto, mengenai sejauh mana Googletrend bisa memetakan beberapa isu terkait hal yang sederhana yaitu “kata kunci”. Ini setidaknya bisa menelisik tentang sejauh isu – isu arsitektural menjadi relevan dengan masyarakat dengan grafik – grafik yang sederhana. Dimana kalau dilihat di dalam beberapa diagram yang di gambarkan dibawah ini, bahwa isu arsitektur sudah jauh berkurang dibanding tahun 2004 – semakin menurun.

Diagram 1. Dimana kalau dilihat di dalam beberapa diagram yang di gambarkan dibawah ini, bahwa kata kunci “arsitektur” sudah jauh berkurang dibanding tahun 2004 – semakin menurun
Diagram 2. Demikian juga apalagi dengan kata kunci “Arsitektur Nusantara” yang juga menurun.
Diagram 3. Namun apabila diperbandingkan terminologi arsitektur dengan lingkungan, bisnis, ekonomi, dan sebagainya. Terminologi tersebut lebih penting daripada isu – isu elit, atau eksklusif “arsitektur”, hal ini membuktikan bahwa isu arsitektur masih berjarak dengan masyarakat.
Diagram 4. Kata kunci “Arsitektur” tersebut dibandingkan dengan kata kunci “Indonesia”

Apabila dilihat sepanjang masa, apa yang paling populer. kita bisa melihat bahwa facebook memberikan juaranya, disusun oleh Instagram yang lebih besar daripada isu negara, misal China, America, ataupun Indonesia. Selamat datang jaman digital.

Diagram 5. Apabila dilihat sepanjang masa, apa yang paling populer. kita bisa melihat bahwa facebook memberikan juaranya, disusun oleh Instagram yang lebih besar daripada isu negara, misal China, America, ataupun Indonesia.

Dibalik seluruh acara webinar yang diadakan di Omah Library, saya jadi berpikir, sejauh mana wacana yang diberikan di perpustakaan menjadi relevan dengan kawan – kawan arsitek.

Tiba – tiba ada suara hangat menyapa,

“Eh baru tahu ya, makanya Jangan asyik sendiri.”

Kategori
blog

Mengenal Arsitektur Indonesia

Suatu hari di saya bertemu dengan satu kawan saya, ia senior saya yang berumur beberapa tahun diatas saya. Saya belajar menulis, dan mendesain dari dia. Satu saat ia menelpon saya, nadanya gusar seakan – akan seperti baru kejambret di pasar atau seperti rumahnya baru saja kemalingan.

“Bro lu ada waktu gue mau cerita”

Kemudian berceritalah ia mengenai kejadian – kejadian disekitar dia melihat media dan perasaannya. Ia punya perhatian bahwa etalase arsitektur Indonesia hanya milik segelintir orang tertentu, orang yang dominan, orang yang itu – itu saja. Parahnya media juga menselebrasikan hal tersebut. Ia memberikan contoh mengenai beberapa pameran sebagai referensinya bahwa hanya segelintir orang yang dominan yang dimasukkan terkait dengan hegemoni kekuasaan. Yang menariknya justru narasinya berbicara kebalikannya.

“Namun terlepas dari semua itu, kami hanya berharap ada yang dapat kita semua sama-sama pelajari dari penyelenggaraan pameran “Segar” ini. Jika tidak mengenai teknis penyelenggaraannya, dan jika tidak mengenai karya-karya yang ada di dalamnya, paling tidak kita bisa sama-sama belajar mengenai kekerabatan, kesejawatan dan kehangatan yang terjalin dalam tiga hari penyelenggaraannya.” (lihat link diatas Segelintir Wajah Arsitek Indonesia–Pameran “SEGAR” – )

Sugih tanpa bandha, kaya tanpa harta. Kaya yang dimaksud sebenarnya adalah tidak berkekurangan, artinya bukan semata-mata harta yang menjadikan tolok ukur. Kaya yang dituju dalam hidup bukanlah pengumpulan harta benda dan uang selama hidup… Kita juga dituntut sebelumnya mau melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati, bahkan tanpa imbalan sekalipun. Dengan demikian, dalam kehidupan kita, budi baik kita, akan senantiasi diingat orang lain, …

Mungkin kawan saya ini berpikir bahwa atas nama Arsitektur Indonesia, kenapa yang ikut hanya seputar arsitek yang itu – itu saja, apa yang digunakan atas nama Indonesia. Perasaannya itu malah berkebalikan dengan narasi pamerannya, kok malah begitu sih.

Saya bertanya ke kawan saya ini untuk memancing dari mana asalnya muncul kekesalan ini.

“Bro bukannya wajar hal ini terjadi, kan sah – sah saja satu orang lebih terkenal dari orang lain, kalau memang lu mempermasalahkan ketenaran ?”
.
Ia menjawab, “Bro ini bukan urusan cari duit atau rejeki aja atau urusan cari pamor aja, atau urusan keberuntungan segelintir orang saja. Ini urusan kebanggaan kita bersama. Lu setuju ngga kalau ini urusan Arsitektur Indonesia urusan kita bersama ?” Urusan duit ini dibahas di dalam tulisan Madeg Pandhito.

Di dalam hati saya berkata ke diri saya sendiri, orang ini boleh juga, setidaknya ada dedikasi dirinya untuk orang lain, tulus juga. Lalu saya bertanya ke dia

“lalu lu maunya apa, gimana caranya ?” Saya suka kalau dia sudah menggebu – gebu seperti ini.
.
“Begini bro sejak jaman dulu Indonesia terkenal dengan politik Identitas bro, ini yang perlu kita kritisi.”

“Gue punya caranya bro yang sederhana tapi mengena”
.
“Apa bro ?”
.
“Pertama semua harus tahu bahwa arsitektur itu ngga cuma soal arsitektur bro, ilmu ini punya hubungan dengan disiplin yang lain, ngga autis, ada lingkungan, ada sosial budaya, ada ekonomi, ada juga isu ideologi. Lalu ada beberapa tahapan untuk memajukan isu ini lebih dalam dan luas, kita bisa mengambil contoh di CIAM atau, di Jepang dengan gerakan Metabolist.”

Lalu ? Saya bertanya lagi penasaran dengan isi otaknya. Saya bertanya lagi dengan beberapa lalu, dan akhirnya ia menimpali.
.
“Ya dengan mengerti hal tersebut arsitektur bukan cuma milik kalangan tertentu bro, arsitektur Indonesia itu punya semua orang. Dan kita perlu punya platform yang memiliki nilai itu. Lu tau kan senior gue itu sukanya main politik identitas?”

lha ? lalu saya bilang, lah ujungnya ini tentang personal dong, hubungan elu sama senior lu bro, mana ada urusan sama Arsitektur Indonesia ?
.
ngga usah ngurusin orang lain lah bro kita urusin diri kita sendiri aja lu tau nanti lu juga punya murid,
.
dan ada pepatah bilang kan bro

“Murid jatuh tidak jauh dari gurunya ?”
.
Kawan saya ini menjawab “Asem lu,
setidaknya gue kan mau merubah keadaan bro.”
.
Kemudian saya pun menyambung “Nah karena itu gue bersyukur lu jadi temen gue bro”

Ini adalah diskusi – diskusi sederhana mengenai politik identitas. Saya percaya bahwa hal – hal yang besar dirajut dari semangat – semangat kecil untuk menembus empati yang lebih dari sekedar mencari identitas, yaitu semangat persaudaraan. Dan perasaan bahwa diri saya atau kita bukan siapa – siapa. Apresiasi kita bisa lantunkan ke kawan saya satu ini yang sungguh gelisah akan sebuah perubahan. Perubahan itu perlu ditetapkan dulu di hati. Lalu baru kita cari jalan tengahnya.

Mari yuk..

lalu di Whatsapp grupnya, muncullah satu poster tentang pameran di Rio dan teman saya bergumam, “jancuk”.

dan saya pun membalas, “yess, jadi ada bahasan lagi, jadi saya tunggu responmu kawan. ” cerita ini akan bersambung dan akan ada skenario – skenario lanjutan mengenai Arsitektur Indonesia.

Catatan :

1. Pameran Segar dibahas di https://sugarandcream.co/segelintir-wajah-arsitek-indonesia-pameran-segar/

2. Identitas dibahas oleh Professor Kemas Ridwan Kurniawan di dalam https://www.researchgate.net/publication/322660754_DINAMIKA_ARSITEKTUR_INDONESIA_DAN_REPRESENTASI_’POLITIK_IDENTITAS’_PASCA_REFORMASI

Kategori
blog projects publication

Guha is in the 50 best-houses of 2020 so far

Thank you for Archdaily we’re in the article by Victor Delaqua

Here is the link of the article

We’ve recently passed the halfway point of 2020, and to date, we’ve published hundreds of residential projects featuring distinct ways of living on ArchDaily. In a year marked by the worst health crisis that humanity has experienced in the last century, the Covid-19 pandemic, the house has gained new meanings and values, reiterating that no matter how diverse its program, a home’s purpose is to shelter its inhabitants.

Context, topography, scale, materials, budget and user desires are a range of aspects (and challenges) that define the most varied architectural solutions. It is no surprise that residential works are the most popular project category on ArchDaily. In the list below you’ll find the residences that gained the most interest, featuring the 50 most popular projects across the whole ArchDaily network during the first half of 2020.

Kategori
research

Pandemi dan Pengaruhnya ke Arsitektur

Sepanjang sejarah, perkembangan peradaban dan persebaran manusia diiringi dengan perkembangan penyakit menular mematikan—yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur maupun parasit. Arus globalisasi dan urbanisasi yang menyebabkan perpindahan penduduk dari pedesaan ke perkotaan, juga pertumbuhan populasi menyebabkan imbas lingkungan yang juga tinggi. Ditambah dengan perjalanan antar wilayah melalui udara yang makin sering, penyebaran penyakit menular menjadi semakin cepat. Beberapa dari kasus-kasus ini memakan korban jiwa yang jumlahnya signifikan dibandingkan dengan total populasi, sehingga disebut pandemik. Hal ini tak jarang mempengaruhi jalannya sejarah, yang mengakibatkan perkembangan ilmu kesehatan (epidemiologi) dan sanitasi, termasuk juga teknologi bangunan dan perkotaan.

Omah Library akan membahas linimasa pandemik yang pernah terjadi di dunia dan implikasi arsitekturalnya, yang dapat dilihat dari perkembangan sejarah ruang mandi dan inovasi toilet, hingga ke desain institusi kesehatan, ruang publik, bahkan pemukiman. Karena penanganan krisis yang disebabkan pandemik sepanjang sejarah bergantung dari sentralisasi oleh negara atau institusi, sering kali tercipta diktum-diktum arsitektural — prinsip yang dilahirkan tanpa adanya atau diperlukannya pembuktian. Diktum-diktum ini menjadi penting untuk ditelusuri kembali melalui penjabaran case study. Diktum sendiri adalah sebuah deklarasi yang bersifat otoriter (atau dari figur yang dapat dipercaya/resmi) tentang sebuah prinsip, proposisi, atau opini.

Ritual dan Permandian | Sejarah Ruang Mandi dan Inovasi Toilet

Pada kondisi pandemi seperti sekarang, masyarakat dihimbau untuk menerapkan hidup sehat, diantaranya dengan rajin mencuci tangan dan mandi dengan sabun. Mayoritas masyarakat modern memang rutin mandi sebagai pembersih diri namun belum menyadari bahwa mandi sangat erat kaitannya dengan ritual peradaban terdahulu yang mensakralkan elemen kehidupan – air. Diawali tahun 3.000 SM, air digunakan sebagai media pemurnian diri sebelum memasuki tempat suci, mandi menjadi simbol manusia memantaskan diri untuk bertemu Tuhan/Dewa, bertobat, bahkan memulai fase kehidupan baru. Selanjutnya pada tahun 2.800 SM, dimana manusia mulai membawa air kedalam hunian, peradaban bangsa Indus melahirkan prototipe sistem sanitasi perkotaan dengan jalur got terakota. Air bersih dimasukkan kedalam kamar mandi, diolah dan dikondisikan sebagai penghargaan atas peranannya meningkatkan kualitas hidup manusia. Lalu disusul kemunculan bathtub dan flush toilet pertama dengan sistem transportasi air pipa berbentuk kerucut pada tahun 1.700 SM oleh bangsa Minoa di Crete, Yunani.

Keyakinan peradaban kuno akan makna spiritual air memicu transformasi perilaku hidup sehat. Mandi sebagai simbol kemurnian, dan keabadian jiwa, pemberi kesembuhan, dan menjaga kebersihan sebagai kualitas spiritual, tercermin pada perkembangan kamar mandi di tiap peradaban dalam mengolah material lokal, inovasi desain dan teknologi bangunan, serta manajemen sanitasi perkotaan sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup yang lebih sehat.

Belajar dari sejarah, masyarakat modern perlu memahami bahwa hidup sehat dimulai dari bagaimana kita menjaga kebersihan air dan sanitasi di rumah. Dengan begitu kita bisa melawan dan menangkal virus/bakteri sumber penyakit, memulai fase hidup baru yang lebih sehat.

Ritual dan Permandian | Sejarah Ruang Mandi dan Toilet

Sebelum berkembangnya ilmu pengetahuan, peradaban kuno percaya bahwa wabah penyakit adalah hukuman dari Tuhan, karma dari roh pemusnah. Persepsi tersebut seringkali justru memperburuk penyebaran dan angka kematian, atau menunjuk kambing hitam penyebab krisis. Setelah diketahui bahwa geografi dan perdagangan mempunyai peranan penting dalam penyebaran virus, karantina pun dilakukan. Selain itu, penelitian oleh John Snow menyatakan bahwa wabah kolera tersebar melalui air yang tercemar karena didapati kasus hanya terjadi dari pompa-pompa tertentu. Dari sini kita bisa belajar dari sejarah, (1) ketika pandemik terjadi, cara memutus penyebarannya adalah dengan karantina dan (2) kesehatan diraih dengan menjaga kebersiihan sanitasi khususnya di rumah masing-masing.

Omah Library melakukan penelusuran sejarah perkembangan sanitasi dunia dan menemukan bahwa peradaban terdahulu juga memegang pedoman hidup bersih dan sehat. Air yang diyakini sebagai pemurni jiwa dan raga menjadi tonggak perkembangan ruang mandi dan hal tersebut mempengaruhi jalannya sejarah dan memicu perkembangan ilmu kesehatan dan sanitasi yang memberi peluang munculnya teknologi bangunan dalam konteks kamar mandi dan sistem sanitasi pada ilmu arsitektur.

Kali ini OMAH Library menyuguhkan 3 kasus studi yang menunjukkan kebermanfaatan atas perkembangan teknologi bangunan ruang mandi peradaban terdahalu. Bagaimana ritual pemandian mereka juga memberikan manfaat kepada masyarakat luas mampu menjadi bahan refleksi, apa yang bisa kita lakukan sekarang dan masa datang untuk mengurangi dan mengantisipasi dampak pandemi? Akankah kondisi pandemic akan memicu inovasi kamar mandi dan sanitasi dalam konteks teknologi bangunan pada arsitektur keberlanjutan? Atau kita cukup merubah cara pandang untuk memulai kebiasaan hidup bersih dan sehat

Communal Bath House | Sejarah Pemandian Umum

Perjalanan sejarah communal bath House mulai dari dibukanya pemandian untuk umum hingga transformasi ruang mandi yang dipengaruhi oleh tuntutan untuk menerapkan pola hidup sehat. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi mandi bersama telah terjadi sejak peradaban Yunani dan berlanjut ke Romawi yang mulai melestarikan tradisi mandi bersama dengan membuat pemandian umum. Tetapi, tidak lama setelah Romawi membuka pemandian umum, banyak terjadi skandal hingga akhirnya pihak berwenang memutuskan untuk memisahkan ruang mandi menurut jenis kelamin. Dari kebijakan tersebut orang kaya mulai memilih untuk membuat kamar mandi pribadi yang dapat digunakan bersama oleh seluruh anggota keluarga dan tamu. Namun, pemandian umum masih populer dengan adanya layanan pijat dari para ahli. Perkembangan kamar mandi umum mulai meluas hingga ke Komunitas Yahudi, Muslim dan Kristen. Mereka mulai membuat pemandian umum hingga akhirnya masing-masing komunitas memiliki pemandian sendiri yang memodifikasi model pemandian Romawi. Salah satunya tradisi pemandian komunitas Muslim yang disebut dengan Hammam. Begitupun dengan Temazcal yang juga meluas menjadi budaya hingga menjadi fitur utama mayoritas kota-kota di Mesoamerika.

Melihat perkembangan tersebut, Romawi mulai membangun spa dimana inisiasi tersebut disertai dengan promosi pola hidup bersih. Hal ini disebabkan karena selama abad pertengahan, mandi seluruh tubuh adalah kegiatan yang bisa dilakukan oleh kalangan atas. Sehingga secara bertahap kelas atas mulai mempromosikan perlunya kebersihan untuk kalangan kelas bawah. Namun selama abad ke-16, 17 dan 18, konsep pemandian umum dari Yunani dan Romawi mulai menghilang di Eropa karena kebersihan mulai tergantikan dengan wc portabel.

Jika melihat kondisi saat ini, dimana kita dituntut menerapkan pola hidup yang lebih bersih untuk menghindari penyebaran virus. Akankah arsitektur kembali mengeluarkan inovasi yang mengubah teknologi sanitasi dan air bersih untuk menanggapi pandemik kali ini?

Communal Bath House | Sejarah Permandian Umum

Jika berbicara tentang sejarah permandian, kita perlu melihat peradaban kuno yang telah melakukan upacara pemurnian dan ritual dengan air. Salah satunya adalah The Bath of Caracalla yang merupakan contoh permandian komunal yang telah menjadi tradisi penting bagi peradaban Romawi. Kemegahan bangunannya menunjukkan bahwa pada masa kejayaan Romawi, tradisi ini sangat dihormati. Bahkan The Bath of Caracalla diperkirakan mampu melayani hingga 8000 orang mandi setiap harinya. Hal ini membuktikan besarnya dedikasi kekaisaran Romawi terhadap permandian untuk menerapkan pola hidup sehat.

Begitupun juga dengan Temazcal yang merupakan tradisi permandian uap bersifat komunal di Mesoamerika. Ukuranya yang cukup besar untuk menampung setengah populasi kampung menunjukkan bahwa Temazcal memang didedikasikan sebagai ruang bersosial. Bagi masyarakat suku Maya kuno, Temazcal merupakan ritual yang memiliki tujuan kesehatan. Berbeda dengan permandian Romawi, Temascal tidak memiliki larangan secara formal tentang tidak diperpbolehkanya laki-laki dan perempuan mandi bersama dalam satu ruangan. Hal ini sempat mendapat pertentangan dari penjajah Spanyol karena dianggap tempat yang berdosa. Namun dengan kegigihan masyarakat Mesoamerika, tradisi Temazcal masih terjaga hingga saat ini.

Onsen dan Sento Jepang merupakan pemandian yang pada awalnya memiliki akses yang terbatas secara ekonomi dan sosial. Permandian ini pada awalnya bersifat religius. Namun, ketika memasuki abad ke-15, pemandian ini telah menjadi kultur penting bagi masyarakat Jepang hingga mayoritas orang Jepang dapat mengaksesnya.

Dari ketiga case study tentang sejarah perkembangan permandian komunal dapat disimpulkan bahwa konsepnya selalu mengarah kepada pola hidup yang lebih sehat dengan cara menjaga kebersihan. Tentu pandemik kali ini cepat atau lambat akan menjadi pemicu munculnya inovasi perubahan teknologi sanitasi hingga air bersih. Karena memang benar bahwa mulai saat ini kita telah dituntut untuk menjaga kebersihan demi mengurangi penyebaran virus.

Dari Publik ke Privat | Sejarah Ruang Mandi dan Toilet

Setiap periode sejarah menyuguhkan berbagai cerita tentang sanitasi dan kebersihan. Pada abad ke 18 M, berbagai negara di Eropa mulai berlomba menciptakan teknologi toilet dan sistem sanitasi terbaik, seperti Inggris yang bangga akan WC/water closet-nya (istilah untuk ruang berisi toilet yang muncul sekitar tahun 1870), Skotlandia dengan bucket-nya (toilet dengan penampung limbah berupa ember), Perancis dengan latrine (istilah untuk jamban yang muncul di Inggris pada pertengahan abad 17), dan Belanda yang masih menggunakan danau alami sebagai toilet. Namun masalah yang timbul selanjutnya adalah bau tidak sedap. Dari titik ini, kita akan melihat bagaimana teknologi hadir untuk meningkatkan kualitas kebersihan dan kesehatan manusia yang juga menyetir perkembangan dikotomi kamar mandi dari ‘publik/privat’ menuju ‘kaya/miskin’. Namun sisi baiknya, teknologi sanitasi dan layout kamar mandi jadi berkembang dan seiring waktu, tiap hunian dapat merasakan kualitas sanitasi yang baik, meningkatkan kebersihan publik dan kesehatan masyarakat.

Masalah yang muncul dalam dunia sanitasi bukan tentang penemuan hal yang benar-benar baru, melainkan upaya penyelesaian dari masalah yang berkelanjutan. Perkembangan ilmu kesehatan juga menjadi katalis perkembangan industri sanitasi. Tidak hanya produk dalam interior kamar mandi saja yang dipikirkan, infrastruktur saluran air juga berperan penting untuk kesehatan dan sanitasi masyarakat. Ketika pondasi flush toilet telah ditemukan oleh Alexander Cummings dan Thomas Twyford hingga memasuki era industrialisasi, yang gencar dikembangkan selanjutnya adalah menemukan teknologi material khususnya produk pipa guna menjaga kesehatan manusia dan lingkungan.

Perkembangan Toilet dan Kamar Mandi Privat

Perkembangan toilet dan kamar mandi privat erat kaitannya dengan syarat akan kebutuhan kesehatan masyarakat. Rumah -rumah “Victorian” yang sebelumnya tidak membutuhkan kamar mandi khusus karena memang pada saat itu orang Inggris hanya memiliki 1 toilet yang digunakan hingga 100 orang. Oleh sebab itu limbah banyak yang tumpah ke jalan hingga ke sungai yang mengakibatkan puluhan orang meninggal karena penyakit yang ditularkan melalui air, terutama selama wabah kolera tahun 1830-an dan 1850-an. Hingga akhirnya keluar peraturan tentang penyediaan ruang khusus untuk water closet pada tahun 1859 yang menegaskan bahwa bahwa setiap rumah baru wajib memiliki water closet/WC. Sehingga Ilmu dan teknologi yang berkembang pada masanya mampu memfasilitasi hidup bersih dan sehat melalui peraturan yang menjadi standar yang sebelumnya dipicu oleh wabah penyakit kolera.
.
Selain itu, Perang Dunia juga secara tidak langsung berperan dalam pendistribusian teknologi toilet dan perkembangan kamar mandi ke penjuru dunia. Hal ini diesebabkan karena toilet yang dikembangkan oleh Thomas Crapper pada akhir abad ke-19 telah dibawa pulang oleh tentara Amerika yang ditempatkan di luar negeri selama perang dunia 1. Namun sebenarnya teknologi toilet flush sudah digunakan oleh Amerika jauh sebelum terjadinya perang dunia. Namun teknologi itu hanya bisa ditemukan pada rumah-rumah orang kaya dan hotel mewah di Amerika yang dibuktikan oleh adanya 8 flush toilet di Tremont Hotel, Boston yang kemudian berdampak sampai ke perumahan. Pada akhirnya di akhir abad ke-19, gagasan memiliki kamar mandi lengkap dengan wastafel dan fasilitas mandi (bathtub/shower) menjadi populer. Kemudian pada awal abad ke-20, dan kamar mandi menjadi kebutuhan standar di rumah-rumah yang baru dibangun.

Pertanyaan reflektif untuk peradaban kini adalah, apa yang bisa kita lakukan dalam bidang arsitektur sebagai tanggapan pandemi pada tahun 2020 ini?

Diktum Dalam Desain : Pengaruh Ilmu Epidemologi Terhadap Desain

Walaupun perkembangan pipa dan toilet dengan flush yang sudah lama ditemukan, kamar mandi dalam rumah baru menjadi umum di akhir abad ke-19, setelah saluran dan sistem drainase kota yang memadai mulai ada. Perkembangan kamar mandi pun cukup memakan waktu, di awal abad ke-20, hanya ada 1 kamar mandi kecil untuk rumah dengan 4 kamar tidur sekalipun. Desainnya pun masih mengutamakan efisiensi dan privasi.

Baru di tahun 1960-an, dengan meningkatnya kemakmuran pasca-perang dan kultur pop, perkembangan beragam desain perabot kamar mandi mulai ada. Seperti bathtub, karpet berbulu, wallpaper tahan air, hingga jacuzzi yang menjadikan kamar mandi sebagai ajang pertunjukkan kemewahan.
.
Sebelum itu, gaya hidup modern merupakan perkembangan dari kepedulian kepada kesehatan. Salah satunya untuk penanggulangan kasus kolera dan pandemi tuberkulosis yang saat itu membunuh 1 dari 7 orang di AS dan Eropa, yang diperburuk akibat kepadatan di perkotaan pada awal Revolusi Industri.

Arsitektur modern yang identik dengan bangunan warna putih muncul di awal 1900-an, melambangkan kebersihan dan juga simbol antitesis dari kegelapan kota-kota industri. Jendela diperbesar dan jarak antar bangunan diperlebar, untuk menciptakan ruang dengan udara dan sinar matahari yang cukup. Layout perimeter blok dan tipologi courtyard kembali diimplementasikan di perkotaan. Gerakan pendorong perubahan seperti Garden City di Inggris atau Life Reform di Jerman, dan The Ottawa Charter oleh WHO mulai digagas walaupun belum berhasil membawa perubahan yang konkret.

Namun perlu disadari diktum dengan elemen-elemen arsitektural yang ‘menyembuhkan’ ini merupakan reaksi dari zamannya yang kemudian dipatahkan validasi ilmiahnya setelah ditemukan pengobatan medis pada tahun 1950-an. Diktum mulai memiliki sifat dogmatis ketika konteksnya mulai sirna, namun banyak menghasilkan prinsip yang patut dipelajari.

Diktum Arsitektural dan Bangunan “Sehat”

Pernanggulangan pandemi beriringan dengan gaya artistik yang baru melahirkan diktum-diktum arsitektur Modern di abad ke-20, yang menjadi penanda era tersebut. Pengulangan diktum sepertu elemen jendela, balkon, kursi sandar didesain berdasarkan studi antopometri dan penggunaannya. .
Ekspresi progresif ini dapat dilihat di desain Lovell Health House, di mana Neutra mengakomodir semua saran kliennya, seorang dokter yang menulis artikel mengenai hubungan antara ruang domestik dan kesehatan fisik. Desain atap datar dan balkon menjadi umum sebagai tempat berjemur. Desain Paimio Sanatorium merupakan kulminasi pencapaian arsitektur medis dengan prinsip modern ini, yang detilnya bisa terlihat di skala lengkungan lantai ke dinding sekalipun. Geometri dan garis lurus juga menjadi hal yang penting, agar ruang-ruang mudah dibersihkan. Hal inilah yang coba kembali dicetuskan oleh Maggie’s Centres sebagai standar yang harus dimiliki seluruh fasilitas kesehatan. 17 wisma yang dirancang oleh arsitek-arsitek besar diharapkan dapat menjadi contoh yang dipelajari dan ditiru.

Perubahan yang dibawa oleh ilmu sains, terutap epidemiologi ini juga mempengaruhi cara kita berkumpul, membangun pemukiman, bahkan melakukan transaksi. Rantai panjang globalisasi akan terancam digantikan dengan pertukaran barang yang terlokalisasi. Hal ini juga akan menyadarkan bahwa pemukiman, kota, desa, bahkan negara bukanlah entitas-entitas yang bersifat sentral, melainkan merupakan bagian dari sebuah sistem raksasa yang saling terhubungkan. Dalam skala rumah, akan tercipta ruang-ruang pribadi yang memenuhi kebutuhan secara fisik dan psikologis, serta keseimbangan biogenik.

Di masa yang didominasi oleh isolasi, kita diajak untuk berefleksi. Salah satunya dengan melihat kembali apa yang dilakukan para arsitek dalam menghadapi pandemi pada jamannya. Walaupun tidak ada korelasi langsung secara medis, kejadian sebesar pandemi membangkitkan sisi humanis arsitek seperti Aalto untuk menciptakan bangunan yang empatik terhadap penghuninya. Lalu, reaksi seperti apa yang akan diambil arsitek dalam menghadapi pandemik saat ini?

Reaksi Arsitektur Terhadap Pandemi : Studi dari Pandemi yang Pernah Terjadi

Reaksi Arsitektur terhadap pandemik mungkin tidak terjadi secara langsung namun kejadiannya merupakan antiseden yang pasti. Pandemik berhubungan langsung dengan ilmu kesehatan yang ruang lingkupnya global namun dibutuhkan sistem penanganan regional yang lebih detail, menyesuaikan dengan kondisi lokal tiap daerah. Perjalanan reaksi arsitektur terhadap pandemik dimulai dari ruang lingkup publik dan sistem makro, berupa regulasi oleh pemerintah.
.
Regulasi yang lahir atas pertimbangan saran berbagai ahli khususnya bidang kesehatan, merupakan upaya pembentukan behavior/perilaku masyarakat sebagai antisipasi dan mengurangi dampak penyebaran pandemik. Munculnya perilaku baru akan berdampak pada sektor lain yang meliputi ekonomi dan sosio-politik yang akan berimbas pada Urban Design, pada titik ini lah arsitektur akan bereaksi, bahkan hingga detail produk kecil seperti gagang pintu sekalipun.

OMAH Library menelusuri rekam jejak pandemik terdahulu:
.
Kolera, Tifus, Demam Kuning (abad ke-19), Pes/Third Plague (1855-1959), Influenza (1918, 1957, 1968), dan Tuberkulosis (1820-sekarang)
.
Dari ketiganya, muncul reaksi arsitektur secara komprehensif yang meliputi
.
1.infrastruktur kota,
2. teknologi bahan bangunan,
3. layout dan bentuk inovatif pada interior, bahkan memunculkan tipologi bangunan baru.


Pada akhirnya seluruh produk tersebut memiliki konsep dan detail yang berakar pada prinsip kesehatan manusia dan lingkungan. Kesehatan tidak melulu tentang fisik tapi juga psikis yg bisa diwujudkan melalui arsitektur. Melihat kejadian pandemik terdahulu, Biogenic Architecture & Psychological Health dinilai menjadi kunci penting untuk menyetir reaksi arsitektur terhadap pandemik covid-19 kali ini. Ditambah lagi perlunya pembatasan jarak antar manusia di pandemi ini, sistem desentralisasi perlu dikuatkan dan hubungan ketetanggaan butuh dirajut menuju solidaritas bersama.

.

Pada akhirnya, manusia butuh menyadari bahwa hidup merupakan eksistensi secara harmonis dengan diri sendiri, makhluk hidup lain, dan lingkungan.

Teori Praktis Pola Reaksi dari Pandemi

Kemunculan pandemik akan membentuk behavior/perilaku baru sebagai upaya memutus rantai penyebaran dan dampak buruk lainnya. Arsitektur hadir untuk menanggapi dan mencoba mempercepat sekaligus menstabilkan keadaan. Arsitektur sebagai science dan art memiliki peluang untuk maju menghadirkan solusi berupa inovasi desain berbasis ilmu kesehatan dan seni terapan yang mampu meningkatkan kestabilan psikis dan memberi pengalaman ruang spiritual. OMAH Library kali ini mencoba menyusun teori praktis pola reaksi arsitektur terhadap pandemik guna melahirkan inovasi desain sebagai tanggapan pandemik.
.
Berikut teori praktis pola reaksi arsitektur terhadap pandemik :
.
1.Pandemik: fenomena penyebaran penyakit berskala global, bisa disebabkan oleh virus dan bakteri.
.
2.Behavior: analisa perilaku sebagai konteks perubahan budaya baru.
.
3.Function: pembaharuan kebutuhan ruang/fasilitas berdasarkan pola perilaku user dan standar kesehatan. Kriteria fungsi didasarkan oleh permintaan (behavior). Function sendiri terbagi menjadi 5 kategori utama, yaitu: kantor, rumah tinggal, rumah sakit, fasilitas entertainment, dan kota.
.
4.Creative Thinking: eksplorasi olah bentuk yang tidak lepas dari standar ergonomic.
.
5.Artistic/beauty: elemen keindahan diciptakan ketika standar kebutuhan mendasar telah masiv dipenuhi. .
Creative thinking + beauty adalah solusi yang diberikan oleh arsitek/desainer sebagai tanggung jawab untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan mental melalui ruang binaannya. Mereka berperan merajut standar bentuk dan ergonomi dengan seni dan estetika. .
Memang jejak sejarah menunjukkan tetap akan ada pandemik baru di kemudian hari namun bukan berarti kita pasif dan menerima apa adanya. Arsitek dan desainer justru mampu terlibat dalam keberlanjutan kesehatan masyarakat, menciptakan lingkungan buatan yang bersih, sehat, dan humanis. Dengan mengacu pada pola tersebut, arsitektur mampu bereaksi untuk menciptakan inovasi yang holistik, selalu meningkatkan taraf hidup manusia dan alam pada tiap peradaban dengan mewujudkan self sustain community.

Solusi Bentuk dan Ergonomi dalam Desain

Sebuah desain selalu berawal dari konteks dan berupa solusi yang ditawarkan sesuai dengan tuntutan konteksnya. Pandemi yang selalu membawa perubahan gaya hidup manusia menjadi salah satu pendorong pergerakan dan evolusi desain atau zeitgeist pada masanya. Dengan menggabungkan creative thinking dari segi bentuk dan ergonomi dengan aesthetics/beauty, tercipta desain berupa arsitektur, interior, dan desain produk. Masing-masing tipe desain tersebut memiliki kualitas berbeda yang mempengaruhi pengalaman spasial yang diharapkan berkontribusi dalam pemenuhan kesehatan fisik juga prikologis penggunanya.
.
OMAH Library kali ini mencoba menyusun teori praktis pola reaksi arsitektur terhadap pandemik guna melahirkan inovasi desain sebagai tanggapan pandemik. Creative thinking yang dilakukan arsitek dan desainer terdahulu dilakukan dengan menganalisa dengan lebih detil elemen-elemen pada bangunan Lovell’s Health House dan Sanatorium Paimio dalam menyikapi tingginya kasus Tuberkulosis pada abad ke-20. Perumusan desain-desain ini bertepatan dengan berkembangnya desan Modern, yang juga merupakan pengharapan dari permulaan gaya hidup baru bagi masyarakat.


Dalam menghadapi pandemi COVID-19 kali ini, OMAH Library mencoba mengajak para desainer muda untuk tidak pasif, melainkan mencoba memproyeksikan perkembangan desain yang mungkin terjadi dengan mempertimbangkan teknologi dan situasi sosial yang terjadi saat ini. Pada akhirnya, ini merupakan sebuah ajakan untuk berefleksi dan ebagai manusia sosial selalu mencoba membuat lingkungan hidup kita menjadi lebih baik —menyadari bahwa hidup merupakan eksistensi secara harmonis dengan diri sendiri, makhluk hidup lain, dan lingkungan.


Credit to the Omah Library’s Research Team

The Research Study is in Alvar Aalto’s Book

Buku ini Berisi tentang bagaimana studio Alvar Aalto dan relasi dengan dirinya bekerja dan seperti apa di dalamnya. Buku ini adalah salah satu refleksi dari perjalanan karya Alvar Aalto yang mendesain dengan inklusif, sebuah pendekatan yang mampu menembus batas imajinasi. Alvar Aalto adalah seorang arsitek yang memanifestasikan totalitas desain dari arsitektur, interior, sampai produk desain di Paimio Sanatorium yang terelasi dengan pandemi TBC dan Viipuri Library. Buku ini berisi mengenai :

  1. Strategi arsitek di dalam menghadapi pandemik masa
  1. Strategi arsitek di dalam menghadapi pandemik masa kini dan masa lalu.
  2. Metode mendesain dari Alvar Aalto yang mampu menembus batas kanon tren dengan 3 pendekatan : Gesamtkunstwerk, Free Curve, dan Arsitektur Monumental
  3. Pada akhirnya ini merujuk kepada kesimpulan : arsitek ini memulai karirnya dengan kegagalan, sifat mau belajar, berpikiran terbuka, berprinsip teguh, dan akhirnya kejeniusan itu datang sebagai buah dari kerja keras.

Principal : Realrich Sjarief

Realrich Sjarief mendirikan Realrich Architecture Workshop di tahun 2011. Ia juga aktif di DOT Workshop, yang berfokus pada penelitian tektonika, dan Perpustakaan OMAH, kelompok penelitian dan perpustakaan umum yang menampung sekitar 1.500 buku arsitektur dan menyelenggarakan publik berkala acara tentang wacana arsitektur kontemporer. Ia menulis
beberapa buku bersama dengan Johannes Adiyanto, bersama-sama menjadi cantrik yang haus akan ilmu. Realrich Sjarief aktif mengajar di beberapa universitas di Indonesia, dan kerap kali memberikan kuliah umum di Australia, Singapore, Filipina, India. Bersama RAW Architecture ia memenangkan beberapa kompetisi desain, termasuk Kompetisi Galeri Nasional Indonesia, finalis dari Museum Silaban, IAI Jakarta Award di tahun 2017 dengan karya Omah Library, Finalis World Architecture Festival Award 2018, Fibra Award 2019, dan Kohler Award 2018 untuk karya Sekolah Alfa Omega. RAW Architecture di tahun 2018-2019 adalah long listed world emerging architect. Baru-baru ini RAW Architecture juga mendapatkan nominasi Emerging Architect di Asia Pacific Design Award 2020.

Tim Omah Library : Penulisan, Riset, dan Layout

Amelia Mega Djaja

Amelia Mega Djaja adalah salah satu periset dan pustakawan OMAH Library, pernah terlibat dalam penulisan buku berjudul “Craftgram: Craft + Grammatology” dan “Alvar Aalto: The Magic of Architect’s Life,” dan juga sebagai koordinator Kri(s)tik Book Club 2019. Lulus dari S1 jurusan arsitektur pada tahun 2016 dari The University of Sheffield, dengan disertasi mengenai narasi arsitektur poskolonial di Jakarta tahun 1960an.

Sebelum bergabung di OMAH, Amel memiliki pengalaman bekerja selama 3 tahun sebagai desainer, antara lain dalam proyek Alun-Alun Cicendo Bandung (2017, di bawah Florian Heinzelmann), juga sebagai koordinator tim Sayembara Kantor Bupati Sleman yang mendapat juara 2 (IAI 2018, di bawah Ary Indra).

Menurutnya, arsitektur bisa menjadi medium dalam melakukan pembacaan dan analisis mengenai kultur, sejarah, lingkungan maupun dimensi sosial yang lebih luas. Karena ketertarikannya untuk mendalami hal tersebut, saat ini Amel juga merupakan salah satu pegiat ASF-Indonesia yang aktif dalam fasilitasi dan diskusi mengenai komunitas informal kota Jakarta.

Dimas Dwi Mukti P

Dimas Dwi Mukti Purwanto, lahir di Madiun 7 Maret 1996. Lulus dari Akademi Teknik Arsitektur YKPN Yogyakarta tahun 2018 dan sekarang sedang melanjutkan studi S1 di Universitas Mercu Buana Jakarta untuk melanjutkan cita – citanya.
 
Beberapa pengalaman yang mempengaruhi pemikiran Dimas adalah ketika menjadi volunteer yang bertugas sebagai tim riset Venice Architecture Biennale 2018 bersama tim pavillion Indonesia pada tahun 2017, ketika menjadi tim desain revitalisasi desa Krapyak di Pekalongan bersama Studio Akanoma dalam mendampingi World Bank pada tahun 2018, dan ketika mendapatkan kesempatan untuk menjadi juru gambar PT. Waskita Karya dalam proyek tol Pemalang – Batang pada tahun 2018. Kemudian Dimas juga pernah bekerja di PT. Kreasi Nusa Studio sebagai desainer interior dimana banyak mengerjakan proyek – proyek kantor, residensial hingga komersial sepanjang tahun 2019. Untuk saat ini Dimas sedang belajar dan bekerja sebagai pustakawan dan juga periset di Omah Library. Salah satu prestasi yang pernah Dimas raih adalah juara 3 dalam kompetisi desain ruang publik yang bertema Unexpected Space di tahun 2018.
 
Dimas adalah orang yang tidak pintar – pintar amat namun memiliki keinginan yang kuat untuk bisa membanggakan bangsa Indonesia sebagai arsitek yang baik sehingga hal itulah yang selalu membuatnya mendapatkan motivasi untuk terus belajar dan belajar lebih dalam lagi.

Kirana Ardya Garini

Lulus dari jurusan Teknik Arsitektur pada tahun 2017, Kirana A. Garini memiliki pengalaman bekerja di konsultan arsitektur PT Tripatra Konsultan di Yogyakarta yang khusus menangani proyek pemerintahan.

Kirana sempat bergabung dalam Housing Resource Center Yogyakarta dengan fokus penanganan kampung kota Kali Code Yogyakarta dengan output berupa profil kawasan.

Kirana senang bereksperimen dengan desain produk, khususnya yang dapat digunakan di ruang publik. Ia pernah membuat Pringgam (pring-gamelan), prototipe produk bermain bagi anak usia SD di taman kota Surabaya, berbahan bambu, memadukan sistem alat box musik dan gamelan. Produk tersebut sengaja didesain untuk beberapa penggunan sebagai tanggapan atas minim nya interaksi sosial anak di kota urban yang cenderung terikat pada gadget mereka. Karya tersebut mendapat penghargaan juara 1 pada sayembara Play MORPH yang diselenggarakan oleh Departemen Arsitektur ITS, Surabaya bersama dengan 2 orang dalam timnya.

Kirana sangat tertarik dengan arsitektur untuk publik, yang mengutamakan kesehatan dan kenyamanan masyarakat luas, desain universal, multi dimensi dan multi disiplin, serta bersinggungan dengan kebijakan publik, politik, dan ekonomi.

Oleh karena itu saat ini Kirana memilih bergabung sebagai Researcher Librarian di OMAH Library. Kirana berharap dapat melatih ketajaman observasi dan berpikir lebih dalam guna mengkoneksikan sejarah dan teori, mampu membuka wacana, membangun kritik, dan menakar kebijakan publik yang kontekstual.

Selama di OMAH Library, Kirana terlibat dalam berbagai riset yang diantaranya diterbitkan dalam bentuk buku, seperti: Methodgram, Craftgram, Sejarah Arsitektur untuk Mahasiswa, dan yang terbaru, buku Alvar Aalto: the magic of architects life.

Satria A. Permana

Satria A. Permana is currently working at OMAH Library, observing and researching architecture discourse in Indonesia. He graduated from the school of architecture in Universitas Islam Indonesia. His thesis about “Recoding the Code’s Urban Kampong”, has led him to put his concern on developing urban kampong design language, which also aided him to gain several prizes in architecture and urban design competition such as merit award in FuturArc Prize 2019 and nominated in Student Charrette World Architecture Festival 2016. Besides architecture and design, he spends half of his life observing the worlds in writings and photography which could be found at http://www.medium.com/@satriaap. In 2020, he co-authored with Realrich Sjarief a book titled The Secret of Architect’s Life. He is available to reach by email at satriaap@live.com or Instagram @satria__ap.

Kategori
lecture

“Peran Konsep Dalam Perancangan” – Universitas Gunadarma (UG-TV)

Terima kasih kepada Pak Agus Dharma Tohjiwa dan Universitas Gunadarma untk mengundang di acara “proses perancangan arsitektur” tanggal 30/7/20. Ternyata Pak Agus Dharma adalah rekan kerja dari Bu Jolanda Atmadjaja, ternyata dunia kecil ya.

Acara ini diselenggarakan dengan tujuan memberi pengayaan materi kepada mahasiswa Prodi Arsitektur dalam rangka mengikuti proses sertifikasi Standar Kompentensi di bidang Arsitektur berbasis SKKNI no 164 thn 2016. Acara tersebut akan disiarkan secara langsung di UG-TV Universitas Gunadarma. Hal ini sejalan dengan program Kemendikbud yang baru yaitu Kampus Merdeka, untuk menyiapkan peserta didik (mahasiswa) agar menjadi lulusan yang berkompeten dan memiliki keahlian yang diperlukan dalam dunia kerja.

Kategori
blog

Proses Percaya

Proses untuk percaya membutuhkan proses yang tidak sebentar, dari situ pun juga terjadi di dalam studio kami, bagaimana berinteraksi dengan dialog dengan tukang.

“Pak setelah ini kita kerja apa ?”, pak Amud bertanya ke saya ketika satu saat saya berkunjung ke Alfa Omega untuk finalisasi pengecekkan kualitas pekerjaan. Saya sebenarnya sudah menyiapkan beberapa proyek yang menggunakan material bambu. Hanya saja terkendala beberapa hal, yang pertama : tipe klien yang saya prediksi tidak akan cocok menggunakan material bambu karena ketidaksiapan R +D yang dilakukan di studio, kedua : proyek tersebut hanya mengharapkan bambu sebagai material murah. Saya pun menjawab “Ada pak nanti saya kabari ya.”

Di dalam pikiran saya, saya tidak memiliki kesempatan apapun untuk tukang – tukang ini bekerja. Tetapi masakah relasi yang sudah dimulai di pembangunan sekolah Alfa Omega tidak bisa berlanjut. Lalu saya berpikir, bagaimana kalau kita persiapkan infrastruktur untuk studio, dimana tim pengrajin bambu ini bisa mendapatkan pekerjaan dan studio bisa mendapatkan manfaat.

Kebetulan kami memiliki sebidang lahan kosong di samping the guild yang selesai di tahun 2016 (lihat proyek The Guild).

The Guild : Realrich Architecture Workshop is like a Roseto that believe on the workshop between the craftsmen and designer for having the best solution in the design

Dari situ saya merencanakan sebuah kerangka kerja untuk studio 10 tahun ke depan, yang relevan ke dalam apa yang kami akan hadapi di keluarga juga proyek terhadap tim ke depannya. Intinya, bahwa untuk dalam jangka waktu 6 bulan, infrastruktur studio perlu siap untuk mengorganisasikan tim menjawab beberapa tantangan ke depan seperti desain, manajemen, struktur, dan desain mekanikal elektrikal dan pemipaan. Untuk itu kita perlu studio yang baik dimana satu sama lain bisa berkomunikasi antar tingkat, memiliki fleksibilitas untuk bisa berubah – ubah, dan tidak mengganggu tetangga dengan apa yang saya rencanakan.

Pada waktu tim bambu ini pindah dari Alfa Omega, barulah saya mengetahui secara detil bagaimana tim ini bekerja. Tim ini bangun pagi di saat subuh untuk berdoa, kemudian mereka menghabiskan waktu untuk mempersiapkan diri, mengasah pisau. Selepas selesai bekerja mereka menghabiskan waktu untuk membuat lampu – lampu, saya merencanakan pada waktu itu untuk mendesain sebuah lampu bambu yang saya beri nama Amud. Selepas jam studio, baru biasanya saya berkesempatan untuk berkunjung ke lokasi proyek ditemani pak Amud.

Ada 3 struktur tukang yang ada di proyek ini , sama seperti proyek Alfa Omega : 1. Kepala Tukang, 2. Tukang, 3. Asisten. Asisten biasanya terdiri dari orang – orang yang masih keluarga atau teman dekat dari tukang yang lebih muda. Desain dari Guha Bambu tidak menggunakan gambar yang semestinya. Desain dibuat dari kesepakatan – kesepakatan yang menggunakan bahasa tubuh, bahasa verbal, dan peragaan langsung. Yang digambar secara langsung hanya grid berjarak 3m dan 3.6 buang sisi barat dan timur

Anatomi dari Guha Bambu : Construction of Guha is elaborated into 9 materials, to sum up, craftmanship experimentation in Realrich Architecture Workshop such as steel, wood, glass, metal, gypsum, bamboo, plastic, stone, and concrete. The layout is flexible, and open while some of the rooms are opened by a minimum of 2 doors allowing further scenarios while the program can be changed. The idea is basically addressing the tropical climate to open north-south and close the facade on the west side. 

Disinilah evolusi dari rumah bambu tersebut, seakan -akan tradisi itu terimplantkan di dalam tubuh The Guild, ia berusaha masuk seperti Rhizoma, namun masih ada di perimeter. Ia berusaha membayangi, langkah – langkah prosedural yang taktis, dan statik di The Guild. Di dalam bangunan Guha setiap harinya adalah ketidak pastian. Saya bisa mengira – ngira seperti apa, seperti membentuk sesuatu yang primitif berdasarkan kepercayaan. Saya harus percaya ke pak Amud juga timnya.

Desain sendiri berada di bawah atap existing yang terbuat dari plastik transparan. Dimana ini adalah bangunan sementara tempat untuk merakit besi yang ditujukan untuk satu proyek di Permata Buana dan di Meruya. Oleh karena itu logika dari bangunan ni adalah logika peneduh. Buat dulu peneduhnya baru selesaikan bawahnya. Jadi tahap pertama adalah menyelesaikan atap bangunan, baru pondasi di buat belakangan, dan sebagainya.

Ada beberapa elemen yang dipertahankan seperti daerah kamar mandi, pipa pembuangan, termasuk hasil – hasil sisa tanah dari The Guild. Hal ini termasuk juga menggunakan hasil – hasil bongkaran perancah untuk dijadikan struktur bangunan baru. Berbeda dengan bangunan Hall Alfa Omega yang menggunakan maket sebagai gambar kerja, asisten saya saja bingung ini gimana bikin maketnya, Adik saya Mondrich juga bingung, “ini gimana bikin denahnya ko.”

Yang menarik adalah proses membuat tangga, saya iseng bicara ke pak Amud. Pak tau buntut Merak, kan itu anggun sekali, lambang cinta. Kita buat seperti itu ya, juga bentuknya mirip daun, sambil saya memperagakan dengan bambu – bambu bekas dan coretan garis yang ada di triplek. Besoknya jadilah bentuk bambu yang intutif.

Yang menarik adalah studio kami baru mendapatkan suplier lem konstruksi dimana lem tersebut bisa menyatukan kedua material yang berbeda menjadi satu. Kami coba menyambung bambu tersebut dengan lem, barulah ditutup dengan anyaman. Memang proses ini adalah proses yang hibrida, campuran, adaptasi. Di dalam proses ini juga ditemukan bagaimana screeding semen menggunakan serbuk kayu bekas dari workshop dicampur dengan lem konstruksi untuk menjaga retak.

Beberapa eksperimen ini baru dipakai di proyek ini, perasaannya seperti terjun dari ketinggian, masuk ke lautan, ditarik oleh gaya gravitasi membuat kita turun dengan kecepatan konstan, mau tidak mau akan masuk ke lautan. Dari situ munculah perasaan – perasaan yang tidak terduga. Hari berikutnya saya melihat mereka melompat – lompat ada sekitar 10 orang untuk menguji kekuatan struktur tersebut. Pada akhirnya saya akan menatap ke pak Amud. Beliau akan menjawab “Tenang aja pak, sudah saya perhitungkan.”

Kategori
blog

Madeg Pandhito, Untuk Siapa, Untuk Apa ?

Ingsun, yang dalam bahasa Jawa berarti kawula, kula, abdi, dalem, ulun, nglulun, Ingwang, mami, kita, ingong, ngong, inyong, dan nyong. Hal ini untuk mempertanyakan keakuan saya di dalam bertata laku.

Beberapa hari terakhir ini saya ragu – ragu untuk menelisik satu terminologi Nusantara. Mengapa ? Sederhananya hal ini menjadi barang perebutan ketika terkait dengan masa depan arsitektur Indonesia. Nusantara sebenarnya adalah sebuah usaha untuk menemukan benang merah Arsitektur Indonesia. Andrea Peresthu di dalam diskusi soal bagaimana arsitek Indonesia bisa berjalan sejajar dengan arsitek luar negeri ia berkata “work! work! buktikan arsitek indo bisa mendunia spt arsitek irak ini” banyak hal yang perlu dilakukan. Lihat postingan Apakah perlu arsitek asing ? kita belum mampu ya ? – Discussion

Dan hal tersebut bisa dimulai dengan memperhatikan suara anak – anak muda supaya mereka bisa didukung akan keberadaannya. Hal ini sifatnya resiprokal , kita mendukung kita akan didukung, apa yang kamu beri itu akan kamu tuai. Melalui literasi dan forum – forum yang memberikan tempat untuk mendengar yang muda, hal ini bisa dimulai. Penting untuk bisa menghargai pribadi yang gelisah, supaya mereka bisa berkembang menembus jamannya, bekerja menurut suara hatinya. Bahwa mengenal Arsitektur Indonesia sendiri begitu penting, sekaligus membuka mata akan pentingnya eksplorasi dan belajar lintas golongan dan teritori juga sama pentingnya.

Kedua ada cerita tentang hal ini. Saya berdiskusi dengan satu kawan arkeolog (Mbak Mitu namanya), dan membaca beberapa paper. Bahwa ada Politik Identitas yang ada di Arsitektur Indonesia.Hal ini yang kita bisa bahas selanjutnya ya. Saya berdialog dengan mbak Mitu, “Mbak secara etimologinya Nusantara identik dengan kolonialisasi dari Majapahit, lalu apa sebaiknya kita memakai kata ini apabila satu kata itu memiliki makna yang kontradiktif dimana hanya mewakili golongan tertentu, kebudayaan tertentu yang dominan ? Yang hal tersebut rawan menimbulkan konflik horisontal? ” (hal ini dibahas Yasmin Tri Aryani di dalam kerja kuratorialnya di Eindhoven, saya akan bahas ini di lain kesempatan). ini blog beliau : https://katadansketsa.wordpress.com/

Karya Yasmin Tri Aryani di dalam mempertanyakan identitas sebagai obyek komodifikasi.

Mitu kemudian menjelaskan tentang teknik komunikasi supaya tidak memancing polemik, bagaimana memilih judul, menyeleksi isi yang memiliki kedalaman dan menjelaskan dengan contoh – contoh. Kesimpulannya adalah Nusantara sendiri sudah menjadi sebuah terminologi yang awam, mengenai sebuah semangat untuk mencari identitas Indonesia. Yang kedua, ia menjelaskan pentingnya mereferensikan darimana pemahaman nusantara itu berasal, penting untuk meredefinisi istilah – istilah Arsitektur Nusantara, Vernakular, Tradisional dan menghubungkannya dengan disiplin lain seperti arkeologi, antropologi, dan kajian disiplin yang lain.

Saya mendapatkan pembelajaran bahwa mengenal Arsitektur Indonesia sendiri begitu penting, sekaligus membuka mata akan pentingnya eksplorasi dan belajar lintas golongan dan teritori juga sama pentingnya. Belajar, belajar, dan belajar, menjadi murid kehidupan.

Kenusantaraan sendiri adalah sebuah definisi tentang kesetempatan, sebuah semangat untuk mengolah apa yang ada di dalam lahan, sumber daya manusia dan alam dengan kritis. Sehingga Arsitektur Nusantara sendiri bisa dipandang sebagai sebuah cara pandang menuju ke masa depan, dan banyak mahasiswa bisa melihat “Kenusantaraan” apabila kata itu yang mau dipakai sebagai bingkai ke masa depan.

Salah satu kuncinya ada melebur atau inklusif, bukan dominan atau eksklusif. Dimana semua parameter diperhitungkan, ada dualisme luar diri, dalam diri, dimana hal ini dibahas oleh Antoniades di dalam Poetic of Architecture sebagai sebuah kemauan untuk bereksplorasi. Atau digagas lebih lanjut oleh Apurva Bose ke dalam sikap untuk mau berkorban, mengajar, mengantarkan ilmu ke generasi lebih muda. Hal ini juga tersirat di dalam perjalanan Ki Ageng Suryomentaram, bahwa menjauh dari keramaian memberikan jarak dari keriuh rendahan untuk mendapatkan diri sendiri , dan setelah itu pengembangannya bisa keluar. Hal tersebut dimulai dari prosedur di dalam diri sendiri dahulu, Penguasaan diri. Penguasaan diri ini penting untuk mengenal Arsitektur Indonesia, milik kita bersama dengan lebih baik. Jadi bukan tentang istilah – istilah kulitnya tapi juga tentang isinya. Keduanya sama – sama penting. Jadi mari yuk mengenal Indonesia lebih dalam.

Sebagai Arsitek professional, kita punya tugas – tugas dasar. Hal ini yang saya terus bagikan ketika mengajar, ini lah praksis, pendekatan aksi reaksi antara metode desain dan refleksi atas metode tersebut. Hal ini disebut praksis. Cara kerja Model Praksis mengacu pada penjelasan Paulo Freire dimana terdapat aksi atas refleksi dan refleksi terhadap aksi. Intinya tugas arsitek adalah berkarya dengan eksploratif, puitis, dan mempersiapkan transfer ilmu ke penerus kita, dunia yang indah untuk arsitek muda. Lihat buku menjadi arsitek untuk mengenal apa itu tugas arsitek.

Di dalam alam profesi arsitek, ada dua buah kutub yang berseberangan dan saling melengkapi, keduanya berjalan beriringan tanpa meninggalkan satu sama lain. Alam pertama adalah Taksu, Taksu adalah sebuah bentuk dari keutuhan. Taksu sendiri ada karena proses repetisi terus menerus, berusaha melakukan evaluasi diri di dalam setiap tahap perancangan. Taksu ada karena proses belajar di dalam sisi seorang arsitek. (Lihat postingan mengenai Aalto)

Kutub kedua adalah Materi, atau mudahnya “Fee/Uang”. Salah satu kawan saya Anas Hidayat bicara soal ini di bagian prolog buku yang saya dan Johannes Adiyanto tulis beberapa bulan yang lalu berjudul “Fee”. Ia menulis “Jika hanya mencari uang saja, jadilah sodagar. Cari selisihnya, dan selesai! arsitek jelas bukan nabi mungkin memang pedagang tetapi yang punya harga diri dan punya nilai-nilai ya, harga diri, itu yang justru tak ternilai yang tak bisa dinominalkan sebagai fee itulah fee-lo-so-fee, phee-losophy.”

Tulisan Prolog Anas Hidayat : Anas Hidayat menjelaskan dengan mudah bagaimana cara menyusun fee sebenarnya didasarkan seberapa besar anda mau menakar diri, dan seberapa besar orang lain menghargai anda, dan terakhir adalah seberapa besar kebahagiaan yang anda dapatkan sampai misal bisa bekerja tanpa bayaran.

Tentunya pembahasan ini terkait kondisi ekonomi setiap orang. Tanpa adanya materi, percuma untuk bicara Taksu. Hal ini sama saja dengan membicarakan Taksu tanpa adanya materi, sama seperti berjalan diatas air, karya luar biasa tidak akan pernah lahir karena karya yang biasa – biasa saja tidak akan pernah lahir.

Dan pastinya semua arsitek ingin melahirkan karya yang luar biasa, tunggu ya ada caranya, nanti akan saya bagi caranya, caranya mudah, satu demi satu, ada prosedurnya. Simak terus ya, nanti dipostingan selanjutnya.

Kemudian di dalam keragu – raguan saya. Saya berdiskusi dengan Prof. Josef Prijotomo. Dan saya berbicara mengatakan “semoga rekan2 bisa makin percaya diri dan mau membentuk logika dan framenya dan kawan2 cukup excited, salam Pak Josef, saya perlu menjaga tenaga dulu jaga kesehatan jg ya. Nanti jgn lupa frame untuk Indonesia sy kontak pak Gunawan pak Yuswadi pada tertarik nanti kita isi ya, ” Pak Josef membalas , di dalam merencanakan wacana untuk arsitektur nusantara, saya sedikit banyak berdiskusi dengan pak Abidin Kusno, saya pikir ia ada dibalik kutub pemikiran Gunawan Tjahjono dan Josef Prijotomo.

Saya kemudian menjelaskan ke beliau bahwa Omah akan mempublikasikan kuliah wacana Nusantara. Ia bersemangat dan mengambarkan hal tersebut akan menggelinding dan tak terhentikan. Ia memuji Abidin Kusno, Omongnya bisa sana halus dan pelan, namun omongannya adalah guntur yang menggelegar. Ia berkata “aku sungguh bahagia punya murid yang mampu lebih dari aku.”

Ia menitipkan juga cara berkomunikasi bahwa berdialog dengan para tetua atau manula mesti pilih waktu atau situasi yg pas. Bahwa bisa saja mereka kurang berkenan dgn orang muda. Ia menceritakan bagaimana ia di coret oleh satu kampus terkenal karena kuatnya budaya penghormatan Juga, jangan posisikan sebagai sebuah pengadilan. Yang muda mungkin tidak merasa mengadili, tapi tidak begitu dengan perasaan para tetua.

Saya menulis seperti ini untuk menggambarkan setiap orang punya eksistensinya sendiri, adalah tugas kami yang muda untuk menyapa, yang tua, adalah tugas yang muda menyambut tongkat yang tua, dan terkadang meminta nasihat. Saya ingat kawan saya M. Cahyo Novianto menuliskan satu kata “Madeg Pandhito”

Karya Tisna Sanjaya “Madeg Pandhito” adalah sebuah metafora dari orang tua yang bijaksana, tinggal di sebuah “pertapaan” dan selalu bersedia memberi nasihat kepada siapa pun yang membutuhkan.

Saya kemudian menulis “Iya saya akan coba jaga semampu saya, semoga menjadi jembatan yang rahayu, Benar tidak ada pengadilan, Saya akan kawal, mengerti. Ini adalah estafet bukan salah menyalahkan, Saya akan highlight ke beberapa orang, Supaya bisa menjaga perasaan, …Seluruh pemateri adalah jembatan Itu highlight saya akan saya kondisikan.”

Kembali ke awal, di balik keragu – raguan akan kelas ini, sebenarnya pertanyaan muncul dari hati saya. “Apa yang ditakutkan ?” Apa bila seorang murid ingin mencari sebuah jawaban, ada baiknya kita melangkah tanpa keragu – raguan, namun apabila yang dicari hanya sebuah ketenaran, ada baiknya urungkan niatmu. Ya saya sudah tau jawabannya.

Bersamaan dengan permenungan tersebut. Satu teman saya Johannes Adiyanto mengirim sebuah puisi yang didapatkan beliau dari satu acara di Malang dari Johannes Widodo.

Anak

oleh Khalil Gibran

Anakmu bukanlah milikmu,

mereka adalah putra putri sang Hidup,

Mereka lahir lewat engkau,

yang rindu akan dirinya sendiri.

tetapi bukan dari engkau,

mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Berikanlah mereka kasih sayangmu,

namun jangan sodorkan pemikiranmu,

sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.

Patut kau berikan rumah bagi raganya,

sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,

namun tidak bagi jiwanya,

yang tiada dapat kau kunjungi,

sekalipun dalam mimpimu.

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,

namun jangan membuat mereka menyerupaimu,

sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,

ataupun tenggelam ke masa lampau.

Engkaulah busur asal anakmu,

anak panah hidup, melesat pergi.

Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,

hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,

Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,

sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,

sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap. “

Puisi berjudul Anak dari Khalil Gibran ini menyentuh lubang hati Johannes Adiyanto dan kemudian menyentuh lubang hati kawan – kawan dan pada akhirnya menyentuh lubang hati saya yang sedang ada di alam mimpi.

Lalu sayup – sayup saya kemudian terbangun karena ada kehangatan yang muncul. Ada suara halus menyapa “Anakku, muridku, mari kita berjalan, … kawan – kawan akan turun tangan.”

Kita haturkan Puji Syukur, Rahayu.

Kategori
blog

Craftgram is in Casa Indonesia : Proses Menjadi Mahir

Thank you Casa Indonesia for the synopsis of Craftgram book.

here is the detail of the publication :

Jo Adiyanto serta Realrich Sjarief mencentuskan karya tulisan
bertajuk Craftgram: Craft + Grammatology yang menilik
kehidupan empat arsitek legendaris seperti Le Corbusier,
Antoni Gaudi, Laurie Baker, dan Antonis-Noemi Raymond.
Turut disunting oleh Anas Hidayat, buku ini menekankan
pengetahuan terkait ketekunan serta ketulusan hati dalam
menjalani profesi arsitek berbentuk panduan jitu guna
mencapai kelihaian hakiki.

Kategori
blog

Sumber Kencana Lestari Warehouse

Gudang ini terletak di daerah Cipondoh, Kota Tangerang, salah satu lahan kosong di sisi barat jalan yang padat akan toko material, onderdil, bengkel, dan ruko kecil, terutama di sisi utara lahan. Bangunan ini bersebelahan dekat dengan dealer mobil dan pabrik yang jumlahnya dibawah hitungan jari. Jalan tersebut cukup untuk 2 jalur kendaraan, masing-masing dapat mengakomodasi truk dan terkoneksi dengan beberapa gang dimana perumahan warga.
.
Daerah ini memiliki masalah banjir dimana di sisi timur lahan yang menempel dengan jalan seringkali terendam air hujan. Hal ini dikarenakan lahan yang cenderung datar, sedikit lebih rendah dari jalan dan tidak adanya saluran air kota. Pada jalan tersebut terdapat beberapa bangunan yang memiliki saluran air di pinggir jalan namun tidak terhubung satu dengan yang lain.
.
Pak Sukardi sendiri memiliki karakter religius dan artistik yang diimbangi dengan bu Yeyen yang rasional ia menangani manajerial PT. Sumber Kencana Lestari. Ada 3 kriteria desain di dalam perancangan, Pertama adalah gudang yang fungsional, dan fleksibel yang mampu menampung barang. Kedua, gudang dan kantor yang tidak panas dan mendapatkan cahaya cukup. Ketiga adalah bentuk bangunan yang artistik, untuk menggambarkan karakter yang bersahaja namun penuh kejutan. Hal ini memicu perdebatan dari mana memulai proses desainnya.
.
Pembahasan di proyek ini dibagi kedalam bentuk

  1. Konteks
  2. Pertemuan dengan Klien
  3. Dunia Pertama:Dunia Seni – Biomimesis
  4. Dunia Kedua:Anatomi Bangunan
  5. Dunia Ketiga:Tectonics Grammar
  6. Dunia keempat:Pencahayaan dan Penghawaan Alami

5 hal ini menggarisbawahi pola dasar pemikiran yang saling terajut di dalam referensi dan metode desain.
.

rawarchitecturebest adalah cerita dimana saya (Realrich) menghargai arsitektur dan proses, tim, klien :Sukardi+Yeyen, alam, saudara, guru dan sahabat yang sudah membantu selama ini. Terima kasih untuk tim saya yang luar biasa, hugs. Yuk buat karya yang baik dan memuaskan,tq ya. #realricharchitectureworkshop Design Team (Current) : @rawarchitecture_best, @fianali, dan @arlned

.
3d Artist oleh @ed.visualization thanks ed for the great visualizations.

Kategori
book writing

Buku Alvar Aalto – “Mati Sakjroning Urip”

Kira – kira di akhir tahun 2018, saya dan Laurensia berkunjung ke Finlandia. Hal itu dilatarbelakangi satu kebetulan yang cukup aneh dan hal tersebut menjadi warna yang penuh kejutan dan spontan. Jadi waktu itu saya selalu meletakkan satu buku di samping tempat tidur, pada waktu itu saya sedang mau memulai membaca buku Space, Time and Architecture karya Siegfried Gideon. Sudah beberapa hari berlalu buku tersebut belum saya baca karena studio RAW sedang padat-padatnya. Tidak tau gimana ceritanya mungkin tersenggol, buku tersebut jatuh terbalik dan ada halaman yang terbuka, disitulah saya melihat sebuah gambar dan narasi mengenai Saynatsalo Townhall. Disitu diceritakan, bahwa ada teknik yang menggunakan komposisi berbagai material yang menimbulkan simfoni material yang mencengangkan. Siegfried Gideon begitu apiknya menyelipkan Aalto di tengah – tengah figur yang lain seperti Corbusier, Frank llyod Wright, dan Jorn Utzon. Figur Alvar Aalto yang membumi terlihat seperti karyanya biasa – biasa saja atau ada perasaan familiar. Karya ini mengundang decak kagum justru karena terlalu biasanya sampai mudah untuk dicerna. Ini adalah satu karya yang saya cari – cari, keindahan adalah pancaran dan pantulan dari arsitektur yang bersahaja. Dari situ saya langsung berbicara ke Laurensia, “kita perlu ke Finlandia akhir tahun ini.”

Akhirnya kami berkesempatan berkunjung ke karya Alvar Aalto, Saynatsalo Townhall, setelah tersesat di hutan pinus akibat diturunkan di perhentian yang jarang dilalui orang

Beberapa bulan kemudian, saya memutuskan untuk menuangkan pengalaman tersebut di dalam bentuk buku, dan mulai meriset mengenai karir kehidupan Alvar Aalto dan merefleksikan ulang apa yang saya dapatkan di dalam perjalanan melihat karya beliau, ada hal yang magis di dalam hidup Alvar Aalto, bahwa ia melakukan praksis, aksis reaksi penyelesaian masalah dan refleksi akan penyelesaian masalah tersebut, fakta – fakta dan arsip yang ada menjelaskan bahwa kehidupannya erat kaitannya dengan praksis – praksis besar di dunia seperti kejadian ketika ia tidak memiliki proyek, pandemi, perang dunia pertama, perang dunia kedua, pameran di Amerika, menulis, berkumpul dengan kawan – kawannya termasuk bertemu dengan Siegfried Gideon, Le Corbusier, dan Frank llyod Wright dan mempengaruhi cara dan bagaimana ia mendesain. Ini adalah praksis yang manusiawi sekali. Pertanyaannya apa formulanya ?

1 tahun setengah kemudian Buku itu selesai dan diterbitkan Omah library, dan kami dengan bangga mengeluarkan buku baru berjudul Alvar Aalto : The Magic of Architect’s life. Buku ini Berisi tentang bagaimana studio Alvar Aalto dan relasi dengan dirinya bekerja dan seperti apa di dalamnya. Buku ini adalah salah satu refleksi dari perjalanan karya Alvar Aalto yang mendesain dengan inklusif, sebuah pendekatan yang mampu menembus batas imajinasi. Alvar Aalto adalah seorang arsitek yang memanifestasikan totalitas desain dari arsitektur, interior, sampai produk desain di Paimio Sanatorium yang terelasi dengan pandemi TBC dan Viipuri Library. Buku ini berisi mengenai :

  1. Strategi arsitek di dalam menghadapi pandemik masa kini dan masa lalu.
  2. Metode mendesain dari Alvar Aalto yang mampu menembus batas kanon tren dengan 3 pendekatan : Gesamtkunstwerk, Free Curve, dan Arsitektur Monumental
  3. Pada akhirnya ini merujuk kepada kesimpulan : arsitek ini memulai karirnya dengan kegagalan, sifat mau belajar, berpikiran terbuka, berprinsip teguh, dan akhirnya kejeniusan itu datang sebagai buah dari kerja keras.

Saya dibantu oleh Johannes Adiyanto untuk penyuntingan. Ia membuka buku ini dengan definisi dirinya sebagai “Cantrik” dan buku ini ditutup oleh tulisan dari Jolanda Atmadja yang membahas “TAKSU-Dinamika Daya Hidup dalam Keutuhan”, cerita Jolanda membahas mengenai relasi Panca Skandha kedalam keutuhan karya dan bagaimana Taksu itu didapatkan sebagai refleksi penyelesaian terhadap masalah keseharian.

Jolanda Atmadja menulis

“Dinamika Taksu pada akhirnya bergerak dalam rentang yang lebar sesuai kapasitas dan peran kita masing-masing. Akan selalu ada batasan-batasan yang membedakan Taksu kita – sesuai pilihan jalan sebagai rohaniwan, politisi, tenaga medis, pekerja mandiri, akademisi, arsitek, desainer, seniman, petani dan tenaga profesi lain, aktivis sosial, maupun pilihan berkarya di ranah domestik. Pada kondisi optimalnya – Taksu dalam laku berarsitektur merujuk pada Totalitas – yang berproses kembali menjadi energi kehidupan dalam menghadapi konflik keseharian. Keberlanjutan yang ‘hidup’ dengan menjadikan kita bukan sebagai pemeran utama. Menjadikan kita ‘tiada’. Sebagai perantara, pembaca pesan-pesan yang disampaikan oleh semesta. Kenikmatan me’Rasa’ yang berujung pada upaya menjawab kebutuhan dan masalah dasar dalam berarsitektur. Tidak bertujuan utama untuk jadi tontonan, simbol status ataupun melulu komoditi. Kesunyian yang meniadakan, sekaligus melahirkan kekuatan diri. Mati sakjroning urip.”

Tulisan Jolanda menjadi penutup dari buku Alvar Aalto yang menekankan pentingnya menyadari pentingnya jujur di dalam menjalani tata laku yang menjauhkan diri dari kepentingan simbol status, kepentingan ataupun komodifikasi.

Menurut saya refleksi yang menggambarkan bagaimana sikap untuk menjalani tata laku tersebut disimpulkan oleh Johannes Adiyanto di dalam catatan editorial bagaimana bersikap tulus dengan cinta.

Johannes Adiyanto menulis “Ada dua hal —menurut saya— yang dapat dipelajari dari buku Alvar Aalto ini. Pertama, pembaca dapat menemukan proses kehidupan percintaan Aalto dengan arsitektur. Aalto tidak sekedar menempatkan arsitektur sebagai sebuah profesi semata (cinta agape), tapi proses kehidupannya pada setiap tahapnya selalu mengembangkan diri untuk mampu mencintai arsitektur (cinta Philautia), sehingga dapat dikatakan proses percintaan Aalto dengan arsitektur telah sampai pada titik cinta pragma, sebuah cinta yang teruji oleh ruang dan waktu. Cinta pragma ini dapat dicapai jika seseorang mampu menerima kehidupannya sebagai sebuah proses cinta agape, sebuah cinta yang tanpa pamrih. Apapun yang dilakukan demi hal yang dia cintai.”

Di balik ruang kerja saya dilapisi cermin, saya bisa melihat Alvar Aalto yang melihat dari belakang, disebelahnya ada Johannes Adiyanto dan Romo Mangunwijaya yang merangkulnya dan tersenyum.

Mereka berbisik – bisik,

“Mati sakjroning urip.”

Nglakoni Mati Sajroning Urip. Dalam falsafah Jawa ungkapan “nglakoni mati sakjroning urip” rasanya tidak terlalu asing. Ungkapan itu sendiri bermakna bahwa seyogyanya manusia bisa mematikan segenap hawa nafsunya dalam menjalani kehidupan.


Credit to the Team, It’s Collaborative work

Penulis: Realrich Sjarief

Realrich Sjarief mendirikan Realrich Architecture Workshop di tahun 2011. Ia juga aktif di DOT Workshop, yang berfokus pada penelitian tektonika, dan Perpustakaan OMAH, kelompok penelitian dan perpustakaan umum yang menampung sekitar 1.500 buku arsitektur dan menyelenggarakan publik berkala acara tentang wacana arsitektur kontemporer. Ia menulis
beberapa buku bersama dengan Johannes Adiyanto, bersama-sama menjadi cantrik yang haus akan ilmu. Realrich Sjarief aktif mengajar di beberapa universitas di Indonesia, dan kerap kali memberikan kuliah umum di Australia, Singapore, Filipina, India. Bersama RAW Architecture ia memenangkan beberapa kompetisi desain, termasuk Kompetisi Galeri Nasional Indonesia, finalis dari Museum Silaban, IAI Jakarta Award di tahun 2017 dengan karya Omah Library, Finalis World Architecture Festival Award 2018, Fibra Award 2019, dan Kohler Award 2018 untuk karya Sekolah Alfa Omega. RAW Architecture di tahun 2018-2019 adalah long listed world emerging architect. Baru-baru ini RAW Architecture juga mendapatkan nominasi Emerging Architect di Asia Pacific Design Award 2020.

Editor: Johannes Adiyanto

Johannes Adiyanto, lahir sebagai anak pertama pada bulan September 1974 beristri Veronica Dwi Yantina yang dinikahinya tahun 2005. Jo – biasa dia dipanggil – menyelesaikan studi doktoralnya di ITS dengan tema Konsekuensi Filsafat Jawa pada Arsitektur Jawa. Kecintaannya pada filsafat terjadi karena koleksi bacaan dari Bapaknya, Erasmus Prijotjahjono dan koleksi kaset wayang dari Eyang, Gerardus Soewandi yang kesemuanya menuju pada satu pemahaman tentang budaya Jawa dan filsafat masyarakat Jawa. Kecintaan akan filsafat juga ditunjang dengan kecintaan akan buku. Hal inilah yang menuntun Jo bertemu dengan ‘juragan buku’ dari gua Omah, Realrich Sjarief. Kecintaan mereka berdua akan buku dan arsitektur membawa mereka merangkai kata dalam beberapa buku yang diterbitkan oleh Omah Library. Dalam buku-buku mereka yang bertema arsitektur seringkali tidak berbicara teknis semata, namun menjelajah jauh mendalam seperti seorang penjelajah ilmu. Jo selalu menyebut dirinya sebagai cantrik, seorang murid yang tidak berhenti mencari dan mencari pengetahuan dan ilmu. Buku Alvar Aalto sebuah tapak pencahariannya.

Tim Omah Library : Penulisan, Riset, dan Layout

Amelia Mega Djaja

Amelia Mega Djaja adalah salah satu periset dan pustakawan OMAH Library, pernah terlibat dalam penulisan buku berjudul “Craftgram: Craft + Grammatology” dan “Alvar Aalto: The Magic of Architect’s Life,” dan juga sebagai koordinator Kri(s)tik Book Club 2019. Lulus dari S1 jurusan arsitektur pada tahun 2016 dari The University of Sheffield, dengan disertasi mengenai narasi arsitektur poskolonial di Jakarta tahun 1960an.

Sebelum bergabung di OMAH, Amel memiliki pengalaman bekerja selama 3 tahun sebagai desainer, antara lain dalam proyek Alun-Alun Cicendo Bandung (2017, di bawah Florian Heinzelmann), juga sebagai koordinator tim Sayembara Kantor Bupati Sleman yang mendapat juara 2 (IAI 2018, di bawah Ary Indra).

Menurutnya, arsitektur bisa menjadi medium dalam melakukan pembacaan dan analisis mengenai kultur, sejarah, lingkungan maupun dimensi sosial yang lebih luas. Karena ketertarikannya untuk mendalami hal tersebut, saat ini Amel juga merupakan salah satu pegiat ASF-Indonesia yang aktif dalam fasilitasi dan diskusi mengenai komunitas informal kota Jakarta.

Dimas Dwi Mukti P

Dimas Dwi Mukti Purwanto, lahir di Madiun 7 Maret 1996. Lulus dari Akademi Teknik Arsitektur YKPN Yogyakarta tahun 2018 dan sekarang sedang melanjutkan studi S1 di Universitas Mercu Buana Jakarta untuk melanjutkan cita – citanya.
 
Beberapa pengalaman yang mempengaruhi pemikiran Dimas adalah ketika menjadi volunteer yang bertugas sebagai tim riset Venice Architecture Biennale 2018 bersama tim pavillion Indonesia pada tahun 2017, ketika menjadi tim desain revitalisasi desa Krapyak di Pekalongan bersama Studio Akanoma dalam mendampingi World Bank pada tahun 2018, dan ketika mendapatkan kesempatan untuk menjadi juru gambar PT. Waskita Karya dalam proyek tol Pemalang – Batang pada tahun 2018. Kemudian Dimas juga pernah bekerja di PT. Kreasi Nusa Studio sebagai desainer interior dimana banyak mengerjakan proyek – proyek kantor, residensial hingga komersial sepanjang tahun 2019. Untuk saat ini Dimas sedang belajar dan bekerja sebagai pustakawan dan juga periset di Omah Library. Salah satu prestasi yang pernah Dimas raih adalah juara 3 dalam kompetisi desain ruang publik yang bertema Unexpected Space di tahun 2018.
 
Dimas adalah orang yang tidak pintar – pintar amat namun memiliki keinginan yang kuat untuk bisa membanggakan bangsa Indonesia sebagai arsitek yang baik sehingga hal itulah yang selalu membuatnya mendapatkan motivasi untuk terus belajar dan belajar lebih dalam lagi.

Kirana Ardya Garini

Lulus dari jurusan Teknik Arsitektur pada tahun 2017, Kirana A. Garini memiliki pengalaman bekerja di konsultan arsitektur PT Tripatra Konsultan di Yogyakarta yang khusus menangani proyek pemerintahan.

Kirana sempat bergabung dalam Housing Resource Center Yogyakarta dengan fokus penanganan kampung kota Kali Code Yogyakarta dengan output berupa profil kawasan.

Kirana senang bereksperimen dengan desain produk, khususnya yang dapat digunakan di ruang publik. Ia pernah membuat Pringgam (pring-gamelan), prototipe produk bermain bagi anak usia SD di taman kota Surabaya, berbahan bambu, memadukan sistem alat box musik dan gamelan. Produk tersebut sengaja didesain untuk beberapa penggunan sebagai tanggapan atas minim nya interaksi sosial anak di kota urban yang cenderung terikat pada gadget mereka. Karya tersebut mendapat penghargaan juara 1 pada sayembara Play MORPH yang diselenggarakan oleh Departemen Arsitektur ITS, Surabaya bersama dengan 2 orang dalam timnya.

Kirana sangat tertarik dengan arsitektur untuk publik, yang mengutamakan kesehatan dan kenyamanan masyarakat luas, desain universal, multi dimensi dan multi disiplin, serta bersinggungan dengan kebijakan publik, politik, dan ekonomi.

Oleh karena itu saat ini Kirana memilih bergabung sebagai Researcher Librarian di OMAH Library. Kirana berharap dapat melatih ketajaman observasi dan berpikir lebih dalam guna mengkoneksikan sejarah dan teori, mampu membuka wacana, membangun kritik, dan menakar kebijakan publik yang kontekstual.

Selama di OMAH Library, Kirana terlibat dalam berbagai riset yang diantaranya diterbitkan dalam bentuk buku, seperti: Methodgram, Craftgram, Sejarah Arsitektur untuk Mahasiswa, dan yang terbaru, buku Alvar Aalto: the magic of architects life.

Satria A. Permana

Satria A. Permana is currently working at OMAH Library, observing and researching architecture discourse in Indonesia. He graduated from the school of architecture in Universitas Islam Indonesia. His thesis about “Recoding the Code’s Urban Kampong”, has led him to put his concern on developing urban kampong design language, which also aided him to gain several prizes in architecture and urban design competition such as merit award in FuturArc Prize 2019 and nominated in Student Charrette World Architecture Festival 2016. Besides architecture and design, he spends half of his life observing the worlds in writings and photography which could be found at http://www.medium.com/@satriaap. In 2020, he co-authored with Realrich Sjarief a book titled The Secret of Architect’s Life. He is available to reach by email at satriaap@live.com or Instagram @satria__ap.

Epilog.

Jolanda Atmadjaja
Pemerhati permasalahan keseharian
.Lulusan desain interior Institut Seni Indonesia Yogyakarta
dan Institut Teknologi Bandung

Kategori
blog

Heavenrich, selamat datang Surga

Ketika Kehamilan Laurensia sudah memasuki minggu ke 38, minggu tersebut adalah minggu kelahiran anak kami. Ini adalah kehamilan yang ke 6 bagi Laurensia. Laurensia sudah terbiasa dengan pulang pergi ke dokter kandungan untuk menanyakan kondisi kehamilan untuk kemudian pulang dengan kesedihan, begitupun kali ini kami pulang dengan ketakutan, takut karena kondisi bayi kami dan masa depan yang tidak bisa terprediksi, kehamilan kedepan, dan persentase keberhasilan yang rendah yang menjadi ketakutan kami.

Miraclerich lah yang mengatakan ke kami bahwa bayi kami adalah laki – laki bukan perempuan seperti USG yang dilakukan ke dokter kandungan ke Laurensia sebelumnya. Setiap malam, ia mendoakan adiknya supaya tetap sehat, di tengah – tengah suntikan yang perlu dilakukan setiap hari ke perut Laurensia, senyum, pelukan, doa Miracle menjadi senyum tersendiri bagi Laurensia. saya percaya bahwa “Tuhan mendengarkan doa dari anak – anaknya.”

Dulu Cherry, anak pertama kami, di dalam ketiadannya menyisakan kesedihan, lubang yang menganga ketika ia tiada. Saya percaya anak Tuhan tetap menjadi malaikat. Mata ini berair ketika mendengar doa Laurensia. “Tuhan apabila masih diberikan kesempatan, berikanlah satu orang malaikatmu untuk menemani kami.”

Berulang kali Laurensia menanyakan tentang nama anak kedua namun saya tidak menjawab karena nama itu muncul karena nama Heaven atau surga itu ibaratnya ada di antara kehidupan dan kematian. Mungkin saya hanya tidak rela kehilangan orang – orang yang saya cintai karena makna ganda tersebut. Saya hanya terlalu jauh berpikir antara makna surga dan dunia. ya nama bayi kami Heavenrich panggilannya even yang berarti begitu ia muncul surga akan datang ke sekitar dirinya. Heaven, heaven, nama yang mengingatkan tempat dimana anak – anak yang menjadi malaikat.

Hari itu, hari rabu pagi kami menginap satu malam dengan protokol COVID, pergi ke rumah sakit Graha Kedoya dengan masker, ia masuk ke kamar operasi jam 06:00 pagi, perawat mempersiapkan dan kami berdoa.

Keesokan dini hari, Laurensia pun dibawa ke ruang operasi dan saya ditemani pak Misnu menunggu di ruang tunggu di depan pintu ruang operasi. Saat – saat itu adalah saat – saat terlama untuk menunggu, waktu sekarang berhenti. Saya ingat Pak Misnu yang sudah ikut keluarga kami dari saya belum lahir, totalnya lebih dari 38 tahun dan sekarang membantu saya dan Laurensia. Ia sudah seperti ayah saya sendiri. Ia ada di dalam kelahiran Miraclerich, ketika saya rapat pertama di dalam perintisan studio, ia menemani menemui klien pertama, menemani proyek terbangun pertama, ia juga yang menemani untuk ikut survei ke daerah Taman Villa Meruya, tempat tinggal kami sekarang. Dan sekarang ia menemani saya lagi. Pak Misnu ada di saat kami sedih dan bahagia. Saat – saat ini saya tidak mau berandai – andai hanya berdoa semoga semua bisa selesai dengan baik.

10 menit berlalu,..

20 menit,…

30 menit,…

45 menit,…

50 menit,..

kemudian ada panggilan

“Pak, bayinya sudah keluar.”

Suster perawat memanggil, dan disitu sudah ada dokter Bertha yang menunggu dan menjelaskan bahwa semua baik – baik saja.

Heavenrich sudah lahir, berkulit putih bersih dengan berat badan 3.3 kg. 1 jam kemudian, Laurensia keluar dan saya pun bersyukur. Hari yang baru untuk keluarga kecil kami. Matahari bersinar cerah, setelah berkat (Miracle) hadir di dalam curahan Tuhan yang berlimpah (rich) kemudian surga pun datang ke dunia, kami adalah orang yang beruntung bisa dititipkan malaikat Tuhan untuk memberikan kidung surga.

Terima kasih Dokter kandungan kami namanya Dr. Raditya Wratsangka. Sungguh saya bersyukur semua bisa selesai dengan baik dan sekilas saya bisa melihat di samping dokter Bertha, Cherry muncul menemani dan menjaga Heaven.

Kamu sudah besar ya nak, papa kangen kamu, terima kasih ya sudah menemani mama dan adikmu.

Kategori
lecture

Unpredictable Event Throught Resilience Architecture

View this post on Instagram

with @rawarchitecture_best

A post shared by Arsitektur & Perencanaan UNTAR (@arch.plan_untar) on

Thank you the University of Tarumanagara for Hosting this dedicated for its students, I’ll be really grateful to discuss and share some of the recent issues about how the architecture profession can get opportunity from this crisis.

From the committee, the discussion will be casual. Bincang Senang Ala Arsitek Salah satu arsitek dari RAW Architecture Firm dan juga seorang akademisi yang menjadi sorotan beberapa tahun terakhir, karena karya dan “wadah” interaktif yang beliau ciptakan “OMAH” library menjadikan Pak Realrich sangat dikenal khususnya di kalangan mahasiswa.


Instagram live ini diadakan untuk menyediakan sebuah tayangan casual mendidik yang dapat diakses oleh mahasiswa-mahasiswa aktif atau bahkan calon mahasiswa yang juga tempat menampung pertanyaan dan keresahan isu kekinian. Mengingat dalam situasi pandemi ini Jurusan Arsitektur dan
Perencanaan mengajak bintang tamu berbincang santai mengenai topik tertentu dari sudut pandang bintang tamu. Juga adanya kumpulan pertanyaan dari mahasiswa yang di rangkum dan akan Host tanyakan.

.

Greetings!

In order to provide and facilitate a casual yet fun discussion of architecture in this current situation on social media, especially Instagram.

Department of Architecture and Planning Faculty of Engineering Tarumanagara University presents a series of interesting Casual Discussions on this Instagram.

Topic:
“Unpredictable Event Throught Resilience Architecture”

With the speakers, of course you are waiting for. Don’t forget to join Instagram Live on the official Instagram account of the Department of Architecture and Planning:
@arch.plan_untar

Guest Star: Realrich Sjarief @rawarchitecture_best

Don’t miss it.

#arsitekturuntar#jurusanarsitekturdanperencanaan

Kategori
juror

Sharing Tugas Akhir YACP

Bebas Biaya, terbuka untuk umum (kuota 40 orang)

Materi sharing diberikan oleh:
1. Christiano Junior Benavides T. dari Universitas Khatolik Widya Mandira, Kupang
Dengan judul tugas akhir: Pusat Perbelanjaan Oe-Cusse Timor Leste, dengan Tema Arsitektur Kontemporer

2. Achmad Safar dari Universitas Hasanuddin, Makassar.
Dengan judul tugas akhir: Kampung Deret Mangasa di Bantaran Sungai Jeneberang

3. Lidya Ametha dari Universitas Sumatera Utara
Dengan judul tugas akhir: Perancangan Pusat Kegiatan Pemuda di Kawasan Pengembangan Cagar Budaya Pulo Brayan Bengkel dengan Pendekatan Biofilik dalam Arsitektur

Hari/tanggal pelaksanaan: Sabtu 18 Juli 2020
Waktu: 15.30-18.30 WIB

Link untuk mendaftar: bit.ly/YACPSTA1 (link on our bio)
Konfirmasi setelah mengisi form harap mengkonfirmasi ke nomor 0852-3040-5012 melalui whatsapp.

Pendaftaran akan ditutup pada Kamis, 17 Juli 2020 pukul 23:59 WIB atau jika jumlah pendaftar sudah memenuhi kuota yang tersedia, maka akan ada pemberitaan selanjutnya mengenai penutupan pendaftaran forum sharing ini.

Supported by @yyaf_id
Media Partner: @pamiy_jogja@nba.jogja
#YACP#yogyakarta

Kategori
blog

Harris+Tiffany House


Rumah ini didesain dalam jangka waktu 1 tahun yang membentuk proses di desain Rumah Harris + Tiffany. Di dalam awal proses sempat dibicarakan apa perlu rumah ini dihancurkan atau bisa tidak menggunakan hal – hal yang sudah ada. Dari diskusi yang muncul, rumah ini pada akhirnya menggunakan sebagian pondasi dan dinding yang lama sehingga biaya konstruksi bisa ditekan dengan optimal. Ibaratnya rumah baru yang berdiri (mengangkangi|memayungi) di atas struktur yang lama.

Rumah ini terlilhat tidak biasa, namun setiap pertimbangan desainnya memiliki prosedur di dalam keputusan desain yang terkait dengan seni dan sains bangunan yang dibahas di dalam 7 cerita:


1. Proses yang Panjang
2. Eksplorasi Bentuk
3. Translasi 3 buah dunia
4. Alam Fantasi : Stereotomic Artist
5. Alam Imajinasi : Diskursus
6. Alam Realisasi : Peta Konstruksi
7. Peta Metode Desain
Ketujuh hal ini menggarisbawahi pola dasar pemikiran yang saling terajut di dalam referensi dan metode desain. #rawarchitecturebest adalah cerita dimana saya (Realrich) menghargai arsitektur dan proses, tim, klien @harris_go@twidjojono , alam, saudara, guru dan sahabat yang sudah membantu selama ini. Terima kasih untuk tim saya yang luar biasa, hugs. Yuk buat karya yang baik dan memuaskan,tq ya. #realricharchitectureworkshop Design Team (Current) : @rawarchitecture_best@fianal, dan @viviysantosa_
.
3d Artist oleh @ed.visualization thanks ed for the great visualizations.

Kategori
blog

PRAKTEK ARSITEK BERMARTABAT

SYAWALAN & ARCHITECTALK IAI DIY:
PRAKTEK ARSITEK BERMARTABAT
“Publikasi Diri Ditinjau Dari Sisi Etika Profesi Dan Pengembangan Jejaring”

Tanggal : 20 Juni 2020
Waktu : 14:00 – 16:05 WIB via Zoom

Pemateri:

AFFI KHRESNA
“Membangun Brand yang Dicintai”
Creative Director Bromica Creative
Dir Komunikasi Publik ICCN (Indonesia Creative Cities Network)

Ar. FREDDY MARIHOT. R. NAINGGOLAN, IAI
“Publikasi Diri Arsitek Profesional Ditinjau dari Kode Etik”
Ketua Bidang Keprofesian & Keanggotaan IAI DIY

Ar. REALRICH SYARIEF, IAI
“Membangun Identitas dan Jatidiri Arsitek bagi Rekognisi”
RAW Architecture

Ar. AHMAD SAIFUDIN MUTAQI, IAI, AA, GP
“Praktek Arsitek Bermartabat”
Ketua Provinsi IAI DIY

Moderator:
Ar. Baritoadi Buldan R, IAI, GP

Free Registration:
http://bit.ly/SyawalanIAIDIY

Registration will be closed at any time with or without notice when the webinar participant has reached the capacity limit.
This webinar organized by Indonesian Institute of Architects (Ikatan Arsitek Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta)

Kategori
lecture

Pendekatan dan Metode dalam Proses Merancang

Eksposisi #5
Pendekatan dan Metode dalam Proses Merancang
Jumat, 19 Juni 2020
15.30-18.00

Narasi

Hasil Rekaman Kuliah dari Ikatan Arsitek Indonesia Jawa Barat


Ide desain merupakan buah pikiran setiap arsitek; output dari setiap proses kreatif yang runut dan sistematis
dalam merespon konteks yang dihadapi. Dalam proses pengembangan sebuah ide, setiap arsitek merespon
limitasi, batas/batas (consraints) & potensi sebuah konteks, menggunakan Pendekatan dan Metode yang
secara kreatif berkembang menjadi visi dan diterapkan menjadi susunan strategi desain. Keunikan inilah yang
memberikan karakter sebuah karya arsitektur dan yang membedakan antara satu karya dengan karya lainnya.
Dari narasi tersebut, melalui #eksposisi 5: Pendekatan dan Metode dalam Proses Merancang, kita akan
menggali pemahaman karya arsitektur melalui sudut pandang bagaimana Ide Arsitektur diproduksi oleh sang
arsitek. Pendekatan apa yang dilakukan untuk memahami dengan spesifik realita sebuah proyek?, dan Metode
apa saja yang digunakan untuk menterjemahkan solusi dari realita yang dihadapinya?. Diskusi ini akan
mendalami proses kreatif perancangan desain arsitektur lebih dari sekedar tahapan Konsep, Skematik dan
Konstruksi. Sehingga, kesadaran dalam proses merancang terutama kesadaran dalam mengambil keputusan –
keputusan sebuah proses desain tidak hanya berdasar pada intuisi yang tak terukur atau bahkan berlandas
pada wangsit.

Sekretariat:
Jl. Brantas No. 23 Bandung
40114
Indonesia
http://www.iaijabar.org

Member of :
UIA
International Union of Architects
ARCASIA
Architects Regional Council Asia

Mobile &WA :
+62 8122123175
SMS center :
+62 857 2121 7559
e-Mail: sekretariat@iaijabar.org

Eksposisi #5
Pendekatan dan Metode dalam Proses Merancang
Jumat, 19 Juni 2020
15.30-18.00

Run-Down
10:00 Pendaftaran ditutup
15:10 Panitia, moderator dan pembicara standby di zoom
15:15 Admin membagikan link zoom di wa, partisipan menunggu di waiting room sambil membaca rules
15:25 Host memasukkan para partisipan dan memulai rekaman
15:30 Moderator membuka acara, narasi singkat tentang topik dan membacakan cv singkat setiap
pembicara.
15:35 Sambutan ketua IAI Jawa Barat
15:40 Pemaparan eksposisi
15:45 Pembicara 1 : Sonny Sutanto (45 menit)
16:30 Pembicara 2: Realrich Sjarief (45 menit)
17:15 Tanya jawab dipandu oleh moderator, host menyaring pertanyaan yang datang lewat chat.
17:50 Pembacaan kesimpulan oleh moderator dan foto bersama oleh host
18:00 Acara selesai

Kategori
lecture

Shifting Paradigm In Architecture

READY FOR OUR NEXT #sundaysharing,
DON’T FORGET TO SEND US DM TO GET THE LINK. .
.
.
Come join us in a #sundaysharing session with @artriapratomo on
.
.
.
SHIFTING PARADIGM IN ARCHITECTURE
New Problem, New Demand, New Protocol
Sunday, June 14, 2020, at 16:00
.
.
.
We will have a discussion with Realrich Sjarief- RAW Architecture @rawarchitecture_best and Andesh Tomo-Andesh Tomo Desain @andeshtomo
@andesh.tomo.desain .
.
.
Due to a limited space, please send us DM for RSVP. We will send the zoom link on Sunday, June 14, 2020 at 14:00

If you have questions, kindly mention on the comment section of this post
.
.
.
#sundaysharing #designstoriesid #artriapratomo #realrichsjarief #rawarchitecture #andeshtomo #andeshyomodesain #paradigmshift #newproblem #newdemand #newprotocol #newnormal #newapproach #designphilosophy #designmethodology #architect #arsitekindonesia #economiccrisis #shareexperience #discussion #zoomsession

Kategori
blog

Etos

There’s only one thing more precious than our time and that’s who we spend it on.”-Leo Christopher

Ibu saya selalu menemani ayah saya ketika bekerja. Saya ingat ayah saya bercerita ketika ibu dan ayah saya menghadap ke Teddy Boen di pagi – pagi justru ketika Pak Teddy belum ke kantor. Pak Teddy pun terkejut melihat ayah ibu saya disana, intinya mereka ingin mendiskusikan beberapa tagihan tambahan karena memang diperlukan. Dan benar saja Pak Teddy selalu mengingat ibu dan ayah saya. Mereka selalu berpesan bahwa bangun pagi – pagi, selalu ada rejeki untuk orang yang bersiap – siap dan tak kenal menyerah, biasa jam 5.00 mereka sudah bangun dan menunggu untuk ngopi atau ngeteh bersama.

Ada alasan kenapa saya membuat kisah tentang ayah dan ibu yang memang adalah dasar kami berpraktik yakni sederhana, tidak bertele – tele dan tetap personal. Ibu saya atau seringnya dipanggil ama sama cucu – cucunya ini paling gokil, ia adalah ibu ketua RT yang pernah mimpin demo bersama warga gara – gara gorong – gorong air ditutup sama pemerintah. Untuk saya, ibu kami ini adalah ibu yang terbaik di dunia dan saya mendapatkan energinya semangatnya yang ngga bisa diam. Didiemin sedikit ssstttt “Eh tau – tau udah manjat lemari dia ngejer cicak.” Lol. Hal tersebut membuat hal tersebut juga turun ke Miraclerich punya energi yang luar biasa alias tidak bisa diam. Ibu saya selalu menemani ayah saya, mencatat administrasi, sembari mengurus keperluan rumah tangga kami, termasuk mengajarkan aturan yang disiplin tanpa mengikat. Ia menghargai waktu dan mereka memilih dengan siapa mereka meluangkan waktu. Laurensia sekarang juga membantu kami di dalam pengaturan studio yang tidak mudah.

Studio @rawarchitecture_best pun dibentuk dengan energi yang seperti itu, sebuah prinsip energi yang positif, desain seperti mempersiapkan sebuah hidangan makanan, preparation, preparation, preparation. Waktu yang panjang dilakukan untuk pengecekan – pengecekan gambar. Setiap pagi saya mencoba untuk mengecek

kesiapan setiap hari, meskipun tidak mudah untuk menerapkan hal tersebut di tim besar, segala sesuatu yang dimulai dari hal yang sederhana akan membuahkan hasilnya positif. Setelah ini baru saya akan menyajikan proses berkarya studio kami, setelah mengetahui etos yang merupakan titik awal studio yang berisi anak – anak muda yang sungguh saya banggakan.

.

Kategori
blog

INDE Award 2020 – Bayangan Sebuah Proses

Cinta yang terbaik muncul lebih karena terbiasa, tulus tanpa pretensi. Contohnya studio arsitek adalah simbol, profesi adalah simbol, prestasi adalah simbol. Seperti layaknya simbol ia punya dua sisi mata uang yang selalu kontradiktif. Satu sisi ia memberikan penghargaan juga memberikan kenanaran akan lupa diri, atau mudahnya satu sisi memberikan kedekatan dan di sisi lainnya memberikan jarak dari kegembiraan penjelajahan. Hal ini diibaratkan perjalanan menjembatani simbol menuju hal yang esensial/mengakar. Salah satu hal yang perlu dipikirkan bisa jadi hal – hal yang non-esensial (biasa) itulah yang esensial, membuat perjalanan menjadi penuh dengan kegembiraan paradoks di dua sisi mata koin yang berbeda.

Salah satu cara yang bisa diterapkan dengan kontemplatif adalah menembus 7 lapisan “chanel” desain ke atas : relasi klien, estetik, ekpresi, wacana publik, lokalitas, pragma. Juga menembus 7 lapisan ke bawah : bentuk, kulit, kerangka, reprogram, MEP, material, kawruh jiwa. Kerja kriya (pemikiran tulisan ataupun karya dan jiwa ada di tengah – tengah). Penembusan lapisan – lapisan tersebut muncul dari inisiatif penjelajahan yakni kegembiraan berproses (dilampirkan di post mengenai progress tahun demi tahun).

Terkadang hasil dari proses itu tidak datang cepat, dibalik ketidak pastian menunggu hasil tersebut muncul perasaan cemas, bingung, tertekan. Sebenarnya hal tersebut wajar, contohnya di balik kegembiraan sebuah hasil yang muktahir sebenernya rasa “gembira” tersebut terkait dengan “bayangan” yang muncul di dalam sebuah proses. Saya sadar seperti halnya karakter Kabar gembira yang juga memiliki kabar sedih, begitupun juga karakter kabar sedih yang memiliki kabar gembira. Kedua hal tersebut memberikan bayangan – bayangan yang perlu diberikan jarak untuk menemukan inti diri kembali. Di balik berbagai hambatan akan covid 19 yang nyata- nyata memberikan sebuah perubahan yang mau tidak mau harus diamini, memang kita semua, termasuk saya sendiri harus berubah, beradaptasi menuju new upnormal (meningkat) bukan abnormal.

Ada kabar gembira untuk rekan-rekan saya di studio dan klien – klien dari panitia INDE Award 2020, bahwa @rawarchitecture_best masuk nominasi