Kategori
blog

Phantom of Architecture

Bu Titin mengkontak saya untuk mengisi kuliah di Universitas Tarumanagara, bagian sejarah dan pemugaran. Saya menggunakan literasi untuk mengkontekstualkan apa yang sedang saya baca, mengerti dan berguna untuk praktik dan refleksi. Sejarah berguna sebagai kompas dan referensi kreatifitas di dalam berkarya.

Saya menulis prolog di bawah untuk acara kuliah tersebut.

“Architecture is sometimes interpreted as buildings or space in between, or body of theory. It’s a phantom, an unseen object of something apparent to sense but with no substantial existence. The Phantom actually greets and haunts us as traditions and technology. The sharing in here will focus on the paradoxes that creates bricolages of Architecture Fantasy in post modern era. It’s a way to use history for re-contextualizing the practice to be grounded or being radical to open unlimited possibilities of ideas.”

Saya terinspirasi dari bayangan yang dibentuk oleh matahari. Setiap orang di dalam melangkah akan menghasilkan jejak dan bayangan. Sejarah sendiri adalah bayang – bayang yang terus ada ketika melangkah. seakang – akan kita semua di dalam hidup ada di dalam perjalanan untuk menemukan matahari kita sendiri, berteduh dari bayang – bayang pepohonan, ataupun melindungi anak – anak kita dengan bayang – bayang. Saya akan memulai kuliah dengan kejadian – kejadian traumatis yang mempengaruhi arsitektur, bagaimana menarik diri untuk merekonsiliasikan trauma tersebut menjadikan lompatan untuk majunya peradaban, dan hal itu ditandai oleh arsitektur. Dibalik seluruh bayangan yang diciptakan dari trauma masa lalu, potensi untuk membuka kemungkinan baru masih terbentang dan hal tersebut bisa dimulai dari satu hal yang sederhana yaitu jujur kepada diri sendiri.

Phantom of Architecture

15 April 14:00, on thursday.

Kategori
research

Arsitektur Berkelanjutan

Wacana arsitektur berkelanjutan menjadi penting mengingat semakin tingginya degradasi lingkungan yang terjadi sebagai akibat dari manusia. Upaya-upaya meminimalkan dampak lingkungan ini disadari oleh banyak arsitek, yang dirumuskan sebagai kesadaran bersama-sama yang menjadi sebuah kesepakatan global. Arsitektur berkelanjutan disini dibahas dari lima titik kesadaran, yaitu pertama : kesadaran akan diri sendiri, kedua : kesadaran akan lingkungan sekitar, ketiga : kesadaran akan material, keempat : kesadaran akan strategi desain, dan ditutup di titik awal kelima yaitu : refleksi. Setiap titik awal tersebut diturunkan ke dalam 14 strategi arsitektur berkelanjutan dan akan dibahas satu demi satu.

Dalam Brundtland Commission (1980), pengembangan keberlanjutan didefinisikan sebagai “sebuah pengembangan untuk memenuhi kebutuhan masa sekarang dengan tidak mengorbankan kebutuhan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.“ Tindak dan laku kita akan memiliki pengaruh di masa depan, dan tentu arsitektur memiliki peran yang signifikan. Untuk itu, perlu memupuk kesadaran akan diri sendiri, lingkungan, bahan material, strategi desain, dan tidak lupa dengan refleksi yang merajut semua hal itu dalam sebuah kesadaran yang kolektif.
Marie-Helene Contal dalam pengantarnya di buku Sustainable Design 7 mengatakan bahwa persoalan yang dihadapi semakin kompleks, seperti krisis ekologis, pengembangan yang tidak berkesadaran, ekonomi, dan ketimpangan sosial. Contal menggarisbawahi tentang pemberdayaan, yaitu sebuah proses di mana masyarakat sosial yang menghadapi persoalan yang sama akan memiliki kesadaraan dan sarana untuk dapat ikut berpartisipasi sehingga keberlanjutan menjadi persoalan kolektif yang memerlukan kontribusi dari segala pihak.
Terdapat 5 titik awal arsitektur berkelanjutan yaitu (1) kesadaran diri, (2) kesadaran lingkungan, (3) kesadaran material, (4) strategi desain, dan (5) refleksi.

I hope that in the 21st century the largest accomplishment of art will be to restore the earth.

Ian Mcharg, Design with Nature (1969)

Sebelum kita bahas bersama-sama, mari kita pertanyakan pada diri kita sendiri, “siapa aku?”

Arsitektur Berkelanjutan | Gelombang Kesadaran Lingkungan

Kesadaran Lingkungan dan Sebab Akibatnya terhadap Arsitektur Berkelanjutan

Cara hidup manusia berkaitan erat dengan lingkungannya dan berpotensi besar mempengaruhi/merubah ekosistem bumi. Dengan memahami isu sosial – ekonomi – lingkungan masa lampau dan kaitannya dengan apa yang terjadi di masa kini kita bisa mempelajari hubungan sebab-akibat dalam mengonstruksikan arsitektur berkelanjutan. Keberlanjutannya tidak hanya tentang bangunan secara individual melainkan juga hubungan sebab akibat dengan lingkungan, kondisi sosial dan ekonomi.

Kehidupan manusia telah menyaksikan berbagai perubahan iklim dan lingkungan yang diakibatkan oleh berbagai hal. Menurut Alison Knight, terdapat tiga gelombang kesadaran yang mengantarkan kita menuju ke era berkelanjutan, yakni:
(1) 1960-1967, munculnya buku Silent Spring tentang bahaya racun pestisida.
(2) 1987, tentang “Our Common Future” dan Brundtland Report, puncak penelitian tentang keberlanjutan dan identifikasi jangka panjang kehidupan Bumi.
(3) 1980-1990, tentang kesadaran konsumerisme dengan kebocoran gas di Bhopal dan tragedi di Chernobyl, terminologi eco-design muncul disini.

Era keberlanjutan sendiri mulai popular sejak tahun 1960, ketika banyak bangunan mulai terputus dengan konteks lingkungan dan menimbulkan masalah sosial. Gerakan environmentalism pun muncul, salah satunya dipengaruhi oleh buku Silent Spring (Rachel Carson, 1962), menunjukkan perubahan drastis rantai ekosistem akibat pestisida sintesis. Dalam arsitektur & planning, buku Design with Nature (McHarg, 1969) lantas menawarkan konsep integrasi desain dan perencanaan dengan karakter dari sebuah ekosistem dan lansekap.

Revolusi Industri dan Gothic Revival
Masa ini ditandai dengan sebuah revolusi Romantik dan ketertarikan pada literatur Abad Pertengahan. Selain itu penulis seperti John Ruskin dalam buku Seven Lamps of Architecture (1849) dan Stones of Venice (1853) sangat menjunjung tinggi kualitas craftsmanship dari bangunan Gotik, menyebabkan munculnya sebuah style arsitektur yang disebut Gothic Revival (1750-1900).

Kota Barok & Gerakan City Beautiful Batasan antara seni, arsitektur, dan lansekap makin pudar. Gerakan Barok menyebar dari Italia ke negara lain di Eropa dan Amerika Latin, menciptakan penataan negara baru dengan prinsip geometris dan berpusat pada monarki. Perancangan tata kota yang terpengaruh oleh hal ini disebut City Beautiful. Gerakannya mulai terbentuk di Amerika Serikat, dari Municipal Arts movement dan World’s Columbian Exposition di Chicago di tahun 1893 dan berkembang di 1900-an.
Valley Section
Gambar potongan oleh Patrick Geddes pada tahun 1909 menjadi titik balik cara berpikir desain/intervensi manusia pada alam. Geddes menunjukkan adanya keanekaragaman lingkungan yang berkorelasi dengan perbedaan cara hidup manusia. Poinnya adalah ekosistem manusia adalah bagian dari ekosistem lingkungan tempat tinggalnya. Hal ini membongkar dikotomi antara peradaban dengan alam.

Modern Empiris
Terdapat 2 pemikiran: (1) konsep urban seperti pembentukan ruang terbuka dan pengalaman ruang publik (Jane Jacobs, Christopher Alexander, dll.); (2) teori pembentuk kota baru dengan gerakan Garden City, mengatasi masalah kota industri melalui desentralisasi. Contoh konsep perancangan Garden City yaitu Broadacre City oleh Frank Lloyd Wright (1958), kawasan kota berkelanjutan dengan pembangunan horizontal berkepadatan penduduk rendah, mudah akses layanan/komoditas apapun dalam radius 150 mil melalui jalan darat/udara.
Modern Rasional / International Style
Memiliki cara pandang yang memperhatikan sistem sosial futuristik di dalam bentuk ideal geometris. Tokoh-tokoh dengan pemikiran ini kemudian berkumpul dan membentuk CIAM (1944), melahirkan kota-kota baru di akhir abad ke-20. Salah satunya adalah The Radiant City oleh Le Corbusier, pembangunan vertikal dikelilingi ruangan hijau, perumahan harus sesuai dengan ukuran keluarga, bukan posisi ekonomi. Proyek-proyek gerakan ini meliputi renovasi kota masal dan pembangunan sosial housing dalam waktu cepat.

Postmodernism
Terputusnya bangunan dengan konteks lingkungan menimbulkan masalah sosial. Jane Jacobs mengkritik dalam buku The Death and Life of Great American Cities (1961). Gerakan environmentalism mulai muncul, salah satunya dipengaruhi oleh buku Silent Spring (1962) yang ditulis Rachel Carson, menunjukkan perubahan drastis rantai ekosistem akibat pestisida sintesis. Dalam arsitektur & planning, Ian L. McHarg melalui buku Design with Nature (1969), menawarkan konsep integrasi desain dan planning dengan karakter dari sebuah ekosistem dan lanskap.

Gerakan pembangunan berkelanjutan kemudian berkembang dengan kemunculan: (1) New Urbanism, diprakarsai oleh Andres Duany, menentang perluasan pinggiran kota dan disinvestasi perkotaan, yang kemudian melahirkan gerakan sustainable architecture & sustainable urbanism; (2) Landscape Urbanism dimana kota dipandang sebagai sebuah lansekap dan segala intervensi harus mempertimbangkan aspek pembangunan termasuk un-building, removal, dan erasure. Contohnya pada restorasi Cheonggyecheon, Korea Selatan; Central Park, Manhattan; dan Water Square, Netherland.

New Urbanism muncul tahun 1993, mendukung kota yang didesain dengan mementingkan kehidupan sosial manusia; menolak sistem yang mempertajam kesenjangan ras & pendapatan, urban sprawl, kerusakan lingkungan & ekosistemnya; dan menjaga integrasi kultur sosial dengan lingkungan binaan. Pola mixed-use, kota-kota yang ramah pejalan kaki, transit oriented development, pemukiman terjangkau, dan area publik semakin populer. Hal ini melahirkan gerakan sustainable architecture dan sustainable urbanism. Andres Duany adalah adalah seorang arsitek Amerika, perencana kota dan pendiri Kongres untuk New Urbanism. Bersama partnernya mendirikan Duany Plater-Zyberk & Company (DPZ). Mereka menentang perluasan pinggiran kota dan disinvestasi perkotaan. Beberapa proyeknya terkenalnya adalah Seaside, Florida dan Kentlands, Maryland.
Landscape Urbanism Dipengaruhi oleh keadaan kota-kota post-industrialisasi di tahun 1990-an, yang menyebabkan pengaruh signifikan pada lanskap yang diciptakan, yang memiliki pola produksi dan konsumsi yang khas dengan terjadinya sprawl. Pola ini menciptakan sebuah ekologi industri dan agrikultur yang berskala nasional dengan menggunakan gambar-gambar lanskap buatan. Landscape Urbanism melihat kota sebagai sebuah lanskap, dan intervensi yang dilakukan pun mempertimbangkan aspek-aspek yang tidak hanya membangun tetapi juga un-building, removal, dan erasure. Beberapa contoh praktik landscape urbanism adalah (1) Cheonggyecheon, Korea Selatan, restorasi saluran pembuangan (sewer) yang dijadikan taman ekologi kota Seoul; (2) Central Park, Manhattan yang memusatkan area terbuka hijau dan konservasi air di tengah kota; dan (3) Water square, Netherland yang membuat strategi water retention di lokasi urban.

Dengan mengupas masa lampau dan merelasikannya dengan masa kini, kita bisa memahami dampak apa yang sudah dan kemungkinannya dihasilkan oleh arsitektur kita terhadap keberlangsungan lingkungan masa kini dan mendatang.

Kesadaran Material dan Bahan

Diskursus tentang material dimulai dari pola pikir “working detail” yang dibahas oleh Michael Cadwell mengenai seluk-beluk sambungan detail-detail yang interpretatif namun ternyata justru membangun sensibilitas puitis terhadap penciptaan pengalaman ruang yang mampu merangsang kepekaan manusia. Juhani Palasma juga menyatakan bahwa arsitektur mengartikulasi pengalaman manusia dengan meningkatkan sensibilitas indera. Sedangkan Kenneth Frampton mengartikulasikan terminologi tektonika dengan menjelaskan bagaimana perancang mengembangkan berbagai percobaan untuk menemukan sistem konstruksi yang lebih optimal, estetika, dengan teknologi bangunan yang transformatif.

Michael Cadwell menggali seluk-beluk sambungan detail-detail yang interpretatif dimana terdapat detail-detail ‘aneh’ namun justru membangun sensibilitas puitis terhadap penciptaan pengalaman ruang yang merangsang kepekaan manusia. Hal ini diyakinkan kembali oleh kepekaan taktilitas yang dirasakan oleh kulit. Menurut Juhani Palasmaa, kulit disebut sebagai organ tertua manusia. Sedangkan arsitektur juga mengartikulasi pengalaman kita dengan meningkatkan sensibilitas indera yang kita tangkap terhadap kenyataan dengan diri sendiri. Melalui kulit, kita dapat melihat dan merasakan seperti meraba bata yang kasar hingga merasakan gerah dan sejuknya suatu ruangan.
Kenneth Frampton membawa terminologi tektonika dari akarnya dan menjelaskan bagaimana para craftsman mengembangkannya sepanjang berbagai percobaan untuk menemukan suatu sistem konstruksi yang optimal, guna menyelesaikan tantangan-tantangan perjalanan dari peran perancang di lingkungan binaannya, serta mendorong pekerjaan lintas disiplin yang lebih beragam.
YB Mangunwijaya menulis buku “Pasal-pasal Penghantar Fisika Bangunan” di tahun 1980. Mangunwijaya memberikan diskursus terkait fungsi detail, kaitannya dengan iklim, budaya, dan fungsi bangunan. Kemudian, tiga puluh dua tahun berikutnya, diskursus tentang kesadaran material kembali diperbincangkan dengan keikutsertaan Indonesia di Venice Biennale Architettura 2014 dengan tema “Ketukangan: Kesadaran Material” dimana para kurator yaitu Avianti Armand, Achmad D Tardiyana, Setiadi Sopandi, David Hutama dan Robin Hartanto mencoba menarik bentang 100 tahun arsitektur di Indonesia dengan benang merah berupa material bangunan. Wacana ini menggarisbawahi keterkaitan yang konstruktif antara arsitek, tukang, dan material yang digunakannya; membahas enam eksposisi material yang banyak digunakan di Indonesia seperti kayu, batu, bata, baja, beton, dan bambu.

Sedangkan di Indonesia, diskursus material digagas Y. B Mangunwijaya yang mengkaitkan fungsi detail dengan iklim, budaya, dan fungsi bangunan. 32 tahun setelahnya, diskursus material kembali diperbincangkan melalui Paviliun Indonesia di Venice Biennale Architettura 2014 yang mengangkat tema “Ketukangan: Kesadaran Material”.

Plowright telah merumuskan bahwa terdapat tiga buah kerangka proses pemecahan masalah dalam lingkup desain yaitu pattern (form) dalam arsitektur adalah sebagai penataan, organisasi, dan permainan komposisi pola sehingga ini bersifat rasional karena membatasi pertimbangan arsitektur terhadap hal-hal formal sebagai bentuk ideal, forces (context) dimana kerangka ini terbentuk berdasarkan prinsip rasionalisme yang dipertajam dengan pengamatan konteks, dan concept (conceptualization) dimana kerangka konseptual bekerja melalui perangkat abstrak seperti metafora, analogi, pertanyaan, dan ide intuitif.
Terdapat 2 cabang dalam kerangka pattern (form), yaitu:

Bentuk platonik mewujud dalam objek geometri dasar lingkaran, segitiga, dan kotak. Penggunaan bentuk ini adalah mencapai kualitas formal yang diserap dari bentuk platonik agar dapat dibentuk dengan cepat. Dari segi efisiensi, bentuk platonik menghindari pemborosan ruang, lebih ekonomis, dan mengurangi material waste.

Lengkungan (parabolik/ catenary) Bentuk lengkung parabolik adalah konsekuensi matematis dari pertemuan dua buah titik menjadi kurva, begitu pula dengan lengkung catenary yang diperoleh dengan membiarkan gravitasi membentuk kurva dari sebuah tali. Lengkungan digunakan dalam desain karena tiga alasan, yakni kualitas natural, ekspresif, serta karakter informal ketika bentuk platonik tidak dapat menyelesaikan suatu desain.
Terdapat pula 3 metode dalam kerangka forces (context), yaitu:

Daya tradisional digunakan ketika situasi proyek bersinggungan dengan masyarakat (lokal) dengan cara-cara bekerja yang asli (tradisional) masih dilakukan dan padat karya adalah solusi yang paling relevan dalam menanggapi konteks.

Daya industrial dilakukan ketika tersedia akses manufaktur di suatu proyek. Metode ini ditempuh ketika proyeksi jangka panjang menghasilkan perhitungan biaya tenaga kerja padat karya lebih tinggi dari biaya sistem manufaktur yang tersedia di suatu proyek.

Daya adaptasi dilakukan ketika kedua aspek tersedia dimana keduanya dapat dilakukan secara paralel di suatu proyek. Apabila didukung oleh manajemen yang baik untuk menangani kedua jenis aset konstruksi.
Kerangka concept (conceptualization) memiliki 2 cabang, yaitu:

Cave (gua) merujuk pada bentuk alami yang berasal dari hasil reduksi masa. Pendekatan cave berfokus pada diskusi mendalam antara klien dengan arsitek. Melalui analisa diskusi, arsitek dapat menemukan potensi solusi yang muncul dari benak seorang klien dan dirinya sendiri. Hasil dari konsep ini memperoleh form utama desain sebagai konsekuensi kepribadian, yang diikuti oleh fungsi arsitektural (Function follows form).

Nest (sarang) merupakan pendekatan untuk mengeksekusi desain dimana konstruksi ditangani melalui hal yang paling dasar, yakni program dan struktur, kemudian material hingga detail. Sehingga hasilnya adalah bentuk yang merupakan konsekuensi langsung dari fungsi arsitektural (Form follows function).

Plowright merumuskan tiga buah kerangka proses pemecahan masalah dalam lingkup desain yaitu pattern (form) yang merupakan penataan, organisasi, dan permainan komposisi pola sehingga kerangka bersifat rasional karena membatasi pertimbangan arsitektur terhadap hal-hal formal sebagai bentuk ideal. Forces (context) dimana kerangka terbentuk berdasarkan prinsip rasionalisme yang dipertajam dengan pengamatan konteks. Concept (conceptualization) melalui perangkat abstrak seperti metafora, analogi, hingga ide intuitif.

Tiga buah kerangka proses pemecahan masalah dalam lingkup desain

Melalui kesadaran material akan potensinya, arsitektur dapat berperan bagi diskursus keberlanjutan manusia dan lingkungan di dalam tataran detail, konstruksi dan teknologi bangunan yang transformatif dari jaman ke jaman.

Dengan kata lain, melalui pemahaman terhadap prinsip material dengan menumbuhkan kesadaran akan potensinya, arsitektur dapat berperan bagi keberlanjutan manusia dan lingkungan. Jadi, mari kita bersama – sama menumbuhkan kesadaran akan potensi material yang ada di sekitar kita

Material | Memahami Karakter Material

Memahami material, dimulai dengan menggali prinsip – prinsipnya melalui kajian sejarah, jenis – jenis atau turunannya, nilai konduktivitas termal, hingga emisi gas rumah kaca yang dihasilkan.

Beton adalah material batu buatan dari campuran semen, air, dan agregat (krikil, pasir). Berikut kronologi sejarahnya:
12.000 SM – mortar (adonan perekat) dari kapur.
200 SM – opus caementitium (beton roma): mortar pozzolana (abu vulkanik) dan agregrat batuan, keramik, dan puing-puing bata.
1824 – semen Portland dari kapur hidraulik (Inggris) yang hingga kini paling umum digunakan dalam pembuatan beton.
1910 – pabrik semen pertama di Indonesia: NV Nederlandsch Indische Portland Cement Maatschapp (PT. Semen Padang).

Produk turunannya dibedakan menjadi 2: Beton Murni (Beton berat: >2600 kg/m3; Beton normal: >2000-2600 kg/m3; Beton ringan: 800-2000 kg/m3)
Beton dengan Perkuatan (Beton fiber: logam, plastik, kaca, kayu; Beton fabrik: plastik, kaca; Beton bertulang (baja))

Berdasarkan Konduktivitas Termal (W/mK), beton memiliki kategori (Standar) 0.8 (2). Beton ringan memiliki nilai yang lebih rendah, sering digunakan sebagai material insulasi.

Berdasarkan Embodied CO2 (kgCO2 eq./m3), beton masuk kategori (Standar) 0.8 (2)

Tahap awal adalah kajian sejarah yang dimulai dari penggalian asal muasal dan bagaimana perkembangan satu material hingga akhirnya dapat menjadi konteks yang menjangkau site. Setelah mendapatkan opsi material, langkah selanjutnya adalah mengkaji lebih dalam jenis dan turunannya hingga mendapatkan keputusan berdasarkan konsep dan pembentukan pattern (form), yang telah disesuaikan dengan konteks lokasi.

Untuk melihat seberapa signifikan dampaknya terhadap kenyamanan user dan kelestarian lingkungan, dilakukan kajian konduktivitas termal. Apabila material yang dipilih memiliki angka konduktivitas yang tinggi misalnya beton, maka perlu ada perlakuan khusus seperti penambahan fasad misalnya bambu atau kayu sebagai pereduksi panas. Tahap terakhir adalah analisa embodied CO2 atau emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh material. Tahap ini lebih banyak merujuk pada signifikansi dampak bangunan terhadap lingkungan terkait carbon footprint. Kita dapat menekan angka ini, salah satunya dengan cara menggunakan material lokal sehingga mengurangi kegiatan transportasi material oleh kendaraan bermesin.

Dapat kita pahami bahwa setiap material memiliki nilai dan kegunaannya masing-masing dan pemilihannya berdasarkan konteks dan tipe konstruksi yang akan dikerjakan. Material dapat digunakan dengan optimal dan memiliki nilai keberkelanjutan apabila telah dipahami prinsip – prinsipnya.

Bambu adalah tumbuhan keluarga rerumputan yang tumbuh tinggi dengan batang berongga yang kuat, lazim ditemukan di wilayah asia-pasifik. Kuat gaya tarik dan tekan, mudah dipotong, dibentuk, dan diolah. Dipandang dari sisi sejarahnya, bambu kerap diasosiasikan dengan budaya tradisional Asia, telah lama digunakan sebagai jembatan, scaffolding, dan hunian.

Jenis-jenis bambu yang lazim digunakan di Indonesia: petung(d: 20cm), wulung (d: 14cm), apus (d: 40-10 cm). Produk olahan bambu:
Bambu gelondong: kolom, balok, rangka, dinding.
Bilah bambu: usuk, reng, rangka bidang, pagar, pengisi bidang.
Sayatan bambu: lembar anyaman untuk dinding, plafon, dll.
Bambu lapis, panel bambu, bambu komposit.

Bambu memiliki Konduktivitas Termal 0.55–0.59 W/mK. Material bambu memiliki embodied CO2 rendah, contohnya adalah lantai scrimber −14.89 kgCO2 eq./m3

Jadi, Siapkah untuk menggali potensi material yang ada di sekitar kita dan melestarikannya demi keberlanjutan hidup manusia dan lingkungan?

Dapat kita pahami bahwa setiap material memiliki nilai dan kegunaannya masing-masing dan pemilihannya berdasarkan konteks dan tipe konstruksi yang akan dikerjakan. Material dapat digunakan dengan optimal sekaligus memiliki nilai keberkelanjutan apabila telah dipahami prinsip – prinsipnya. Siapkah untuk menggali potensi material yang ada di sekitar kita dan melestarikannya demi keberlanjutan hidup manusia dan lingkungan ?

Penggunaan Material untuk Detail Arsitektur yang Berkelanjutan | Telaah Jejak Karbon dan Permainan Detail Arsitektural.

Di dalam jejak karbon setiap jenis material terkandung emisi yang dihasilkan dari proses terbentuknya material dan proses konstruksi. Besarnya jejak karbon diakibatkan dari tahap pemrosesan bahan , termasuk transportasi, sampai dengan pembuangan atau daur ulang akhir. Hal ini mengakibatkan besarnya emisi karbon global tahunan. Setiap tahun, karbon yang terkandung bertanggung jawab atas 11% emisi GRK (gas rumah kaca) global dan 28% emisi sektor bangunan global. Emisi yang dihasilkan dari jejak karbon akan tertinggal di dalam sebuah bangunan.Kita bisa mengurangi jejak karbon melalui perencanaan pemilihan material dan rekayasa detail arsitektural.

Di dalam jejak karbon setiap jenis material terkandung emisi yang dihasilkan dari proses terbentuknya material dan proses konstruksi. Besarnya jejak karbon diakibatkan dari tahap pemrosesan bahan mentah hingga manufaktur, termasuk transportasi, sampai dengan pembuangan atau daur ulang akhir masa pakai. Hal ini mengakibatkan besarnya emisi karbon global tahunan. Setiap tahun, karbon yang terkandung bertanggung jawab atas

emisi GRK (gas rumah kaca) global dan emisi sektor bangunan global.

Namun, kita bisa mengurangi jejak karbon melalui perencanaan pemilihan material dan rekayasa detail arsitektural. Emisi yang dihasilkan dari jejak karbon akan tertinggal di dalam sebuah material, sebuah detail arsitektural, dan pada akhirnya sebuah bangunan, begitu bangunan tersebut dibangun, emisi tersebut dan tidak dapat ditarik kembali.
Tipe pertama adalah jejak karbon yang dihasilkan melalui terbentuknya material. Tipe ini diproyeksikan memiliki nilai stabil dari 2020-2050.

Tipe kedua yang semakin tinggi dari tahun ketahun adalah emisi karbon yang dihasilkan melalui perhitungan terhadap proses sebuah material diangkut, dikonstruksi, dan dipakai kembali/disimpan.

Di sini lah pemilihan material lokal dan rekayasa detail arsitektural yang mudah dikonstruksi berguna untuk mengurangi jejak karbon di dalam sebuah bangunan. Hal ini dinamakan kesadaran material dan detail arsitektural yang berkelanjutan.
Di dalam lingkup arsitektural, detail dipikirkan secara matang dengan mempertimbangkan pemilihan material lokal (transportasi sedekat mungkin dengan lokasi), bahasa yang mudah dimengerti, mudah dirawat, tahan lama. Sehingga kualitas detail tersebut kita bisa namakan detail yang berkelanjutan. Hal ini distudi oleh Cadwell dimana detail-detail berkelanjutan tersebut membentuk pengalaman ruang yang menyentuh sehingga arsitektur bisa merubah hal yang sederhana menjadi sedemikian dahsyat.

Di dalam lingkup arsitektural, detail dipikirkan secara matang dengan mempertimbangkan pemilihan material lokal (transportasi sedekat mungkin dengan lokasi), bahasa yang mudah dimengerti, mudah dirawat, tahan lama. Sehingga kualitas detail tersebut kita bisa namakan detail yang berkelanjutan. Detail-detail berkelanjutan yang ada di dalam setiap karya arsitek sebenarnya memiliki batasan terhadap cuaca, perawatan, pengalaman ruang yang dihasilkan, sehingga mampu untuk berkelanjutan dan melawan waktu. Detail-detail berkelanjutan tersebut membentuk pengalaman ruang yang menyentuh sehingga arsitektur bisa merubah hal yang sederhana menjadi sedemikian dahsyat.

Cadwell menggali detail-detail berkelanjutan sampai ke proses apresiasi ruang melalui dialog antar detail yang berbasis pada lokalitas. Empat karya arsitektur yang dibahas memiliki “detail yang berkelanjutan”. Karya ini adalah Querini Stampalia yang didesain oleh Carlo Scarpa, Jacob House yang di desain oleh Frank Lloyd Wright.

Detail-detail berkelanjutan yang ada di dalam karya yang dihasilkan oleh keempat arsitek ini memiliki batasan terhadap cuaca, perawatan, pengalaman ruang yang dihasilkan, sehingga mampu untuk berkelanjutan dan melawan waktu

Kuncinya adalah, merefleksikan diri sejauh mana kita bisa menyadari bahwa pemilihan material dan desain detail arsitektural itu memiliki parameter fungsional yang mengikat.

Proyek pertama ini adalah proyek renovasi Querini Stampalia oleh Scarpa yang didasarkan pada pemilihan material lokal dan apresiasi arsitek terhadap ketukangan setempat. Carlo Scarpa memainkan tata bahasa tektonika dan transisi antara ruang dalam dengan luar (taman) dengan kreatif, seperti penggunaan kaca yang transparan.

Permainan detail-detail berkelanjutan terlihat di dalam elemen-elemen pertemuan besi, kayu, batu, dan beton yang disesuaikan dengan jarak pandang, ergonomi, elemen pintu, jendela, dinding, lantai, langit-langit, engsel, sampai ke ornamen.
Optimalisasi detail arsitektur berkelanjutan menggunakan material panel kayu dalam rumah ini merupakan gagasan yang konstekstual dengan lingkungannya seperti topografi kota Wisconsin yang didominasi oleh hutan kayu, daerah ini memiliki suhu tertinggi mencapai 45 derajat celcius dan terendah mencapai -48 derajat celcius. Kayu dipilih karena mampu menyeimbangkan temperatur ruang dengan sifatnya yang adaptif dengan ditambah insulasi termal. Dari segi efisiensi, detail ini dimainkan melalui penggunaan panel kayu (plywood sandwich wall) hanya memakan biaya sebesar 5000 USD dengan durasi konstruksi selama 1 tahun.
Farnsworth House – Mies Van Der Rohe, Plano, Illinois 1945 – 1951. Farnsworth House dibangun di awal kemunculan era industri baja. Melalui karya ini, Mies Van der Rohe mencoba mengungkapkan detail berkelanjutan dalam ekspresi tektonika material baja dengan memberikan sensibilitas tentang bagaimana struktur dapat berdiri menopang beban. Diekspresikan melalui kolom tipis yang mampu menopang baja, yang digantung dan mewujudkan bidang lantai yang luas hingga menciptakan kesan melayang. Hal ini menyiratkan bahwa pemahaman tentang logika struktur yang berbeda – beda pada setiap material dapat dimainkan untuk mencapai tujuan berkelanjutan.
Yale Center for British Art-Louis Kahn, New Haven, USA : 1969 – 1974. Detail berkelanjutan pada proyek restorasi ini mencoba memaksimalkan pengalaman ruang melalui kombinasi berbagai macam material yaitu beton, logam, kayu, batuan, dan kaca. Kombinasi detail yang dimainkan antara logam jenis stainless steel dan kaca dengan beton diekspresikan paling lantang sehingga terlihat seperti sebuah cladding box yang sempurna. Beton sebagai kekuatan, logam sebagai gasad berperan mereduksi cahaya, sedangkan kaca berperan memasukkan cahaya. Skylight dengan bentuk piramida selain menstabilkan masuknya cahaya didukin oleh gridded skylights menciptakan permainan warna kebiru – biruan di dalam bangunan.

Sejauh mana arsitek dapat mendesain detail sehingga menjadi sebuah detail yang berkelanjutan ?

Kuncinya adalah merefleksikan diri sejauh mana kita bisa menyadari bahwa, pemilihan material dan desain detail arsitektural itu memiliki parameter fungsional yang mengikat. Kemudian, sejauh mana arsitek dapat mendesain detail hingga menjadi sebuah detail yang berkelanjutan ?

Metode Desain Menuju Arsitektur Berkelanjutan

Sebelumnya kita telah memahami korelasi antara konstruksi bangunan dengan arsitektur berkelanjutan dari sudut pandang detail arsitektur yang berkelanjutan. Selain konstruksi bangunan, arsitektur terkait erat dengan aspek perencanaan dimana prosesnya memiliki banyak pertimbangan, Hal ini dinamakan metode desain.

Untuk menyusun metode desain, arsitek perlu memahami bagaimana bangunan dikonstruksi dan dirancang. Proses perancangan juga memiliki begitu banyak pertimbangan yang perlu untuk dijawab, mulai dari apa? siapa? untuk apa? untuk siapa? bagaimana? kenapa? dan pada akhirnya apakah ada pilihan lain yang lebih baik? Ini dinamakan Design Theories and Methods (DTM). Pada pertengahan abad ke-20, kemudian kajian ini dibahas oleh Rittel dan Webber yang memisahkan dua jenis masalah yaitu Tame dan Wicked Problem.

Untuk menyusun metode desain, arsitek perlu memahami bagaimana sebuah bangunan itu dikonstruksi dan dirancang. Kita telah membahas bagaimana kaitan antara konstruksi bangunan dengan arsitektur berkelanjutan dari sudut pandang detail arsitektur yang berkelanjutan. Terlepas dari itu, proses perancangan juga memiliki begitu banyak pertimbangan yang perlu untuk dijawab, mulai dari apa? siapa? untuk apa? untuk siapa? bagaimana? kenapa? dan pada akhirnya apakah ada pilihan lain yang lebih baik? Ini dinamakan Design Theories and Methods (DTM). Pada pertengahan abad ke-20, kemudian kajian ini dibahas oleh Rittel dan Webber yang memisahkan dua jenis masalah yaitu Tame dan Wicked Problem.
Tame problem adalah permasalahan yang solusinya dapat diselesaikan dengan tepat. Wicked problem merupakan krisis perencanaan yang penyelesaiannya tidak pasti dimana prosesnya cukup berbelit karena masing-masing pihak yang berkepentingan mempunyai pandangannya masing-masing. Karena itu Rittel dan Webber menunjukkan pentingnya untuk merangkai sebuah bingkai cara kerja atau metodologi.
Untuk menyusun bingkai cara kerja atau metodologi desain, arsitek perlu untuk mensintesiskan Tame and Wicked Problem kedalam empat buah substansi yang meliputi:

1. Proses Arsitektur
Berkelanjutan (Process)

2. Produk Arsitektur Berkelanjutan (Product)

3. Relasi Sosial Arsitektur Berkelanjutan (Person)

4. Ekosistem Arsitektur Berkelanjutan (Press)

Tame problem adalah permasalahan yang solusinya dapat diselesaikan dengan pasti. Wicked problem merupakan krisis perencanaan yang penyelesaiannya tidak pasti dimana prosesnya berbelit karena pihak – pihak yang berkepentingan mempunyai pandangannya masing-masing. Karena itu Rittel dan Webber menunjukkan pentingnya untuk merangkai sebuah metodologi desain. Arsitek bisa untuk mensintesiskan Tame and Wicked.

Bahasa pola dimulai dari konteks, cara, dan proyeksi hasil perencanaan. Hal ini digagas oleh Alexander kedalam apa yang disebut Pattern Language. A Pattern Language adalah sebuah buku yang berbasis pada perencanaan kota dan lingkungan. Alexander memvisualisasikan bagaimana membentuk tahapan sebuah kota dan lingkungan di dalamnya.
Fisika bangunan dalam hal ini yang dimaksud adalah sintesisme antara fungsi detail, kaitannya dengan iklim, budaya, dan fungsi bangunan kedalam desain berkelanjutan. Faktor – faktornya meliputi pengaruh alam terhadap bangunan seperti hujan dan kelembaban hingga angin, kenyamanan termal yaitu pengaruh bangunan terhadap user melalui sensibilitas indera seperti intensitas cahaya hingga temperatur suhu dalam ruang, dan relevansi detail terhadap pemenuhan fungsi user hingga signifikansi dampaknya terhadap lingkungan baik ekonomi, sosial maupun ekologis.
Relasi sosial dalam arsitektur berkelanjutan menyangkut signifikansi dampak gagasan desain dari seorang arsitek terhadap keberlanjutan manusia. Dalam hal ini erat kaitannya dengan lokalitas yang salah satunya terwujud dalam pemakaian material lokal yang dikerjakan oleh masyarakat sekitar dan berdampak bagi perekonomian lokal namun tidak mengesampingkan dampak bangunan terhadap lingkungan seperti jejak karbon dan lain sebagainya.
Ekosistem dalam arsitektur berkelanjutan dalam hal ini maksudnya adalah tentang bagaimana membuat satu rancangan arsitektural perlu merajut berbagai disiplin ilmu hingga profesi. Misalnya saja ketika pekerjaan arsitektur memiliki gagasan utama untuk berbeperan dalam kelestarian lingkungan dengan cara pemakaian material lokal seperti bambu, maka perlu untuk menggandeng pengrajin bambu sebagai upaya menuju desain yang berkelanjutan.

Problem kedalam empat buah substansi atau 4 P:
1. Proses Arsitektur Berkelanjutan (Process)
2. Produk Arsitektur Berkelanjutan (Product)
3. Relasi Sosial Arsitektur Berkelanjutan (Person)
4. Ekosistem Arsitektur Berkelanjutan (Press)

Setiap arsitek memiliki situasi dan kondisinya masing- masing di dalam berpraktek. Dengan kemampuan mensintesiskan tame and wicked problem ke dalam substansi : Proses, Produk, Relasi sosial, dan Ekosistem, maka metode untuk menuju desain arsitektur bekelanjutan bagi masing – masing arsitek akan bertransformasi dengan sendirinya. Jadi, siapkah tiap – tiap arsitek bertransformasi untuk mencari dan memahami metode desain berkelanjutannya sendiri ?

Setiap arsitek memiliki situasi dan kondisinya masing – masing di dalam berpraktek. Dengan kemampuan mensintesiskan 4 substansi diatas, maka metode untuk menuju desain arsitektur berkelanjutan bagi masing – masing arsitek akan bertransformasi dengan sendirinya.

Arsitek Mengimplementasikan Arsitektur Berkelanjutan

Setelah memahami bagaimana menyusun metode desain menuju arsitektur berkelanjutan, kita perlu mengetahui bagaimana arsitek mengimplementasikan metode desain arsitektur berkelanjutan.

Setelah memahami bagaimana menyusun metode desain menuju arsitektur berkelanjutan, kita perlu mengetahui bagaimana arsitek mengimplementasikan metode desain arsitektur berkelanjutan. Pada dasarnya di dalam praktik arsitektur setiap arsitek berhadapan dengan 3 kondisi akibat dari desain arsitektur yaitu sisi ekonomi, sisi sosial, dan sisi lingkungan. Tiga sisi tersebut berkaitan erat dengan kesadaran dari arsitek untuk memahami konteks site di mana arsitek tersebut bisa memilih material lokal (sumber daya alam setempat) sebagai usaha mengurangi jejak karbon dan membantu ekonomi masyarakat sekitar; dan membangun keahlian membangun SDM lokal yang syarat akan tradisi dan pemberdayaan masyarakat akan sisi teknikal bangunan yang mudah dipelihara, mudah dikonstruksi, dan efisien dari segi anggaran bangunan.
Dalam ekosistem global, relasi arsitek dengan arsitektur berkelanjutan terlihat di dalam Sustainable Development Goals butir ke-11, yaitu Sustainable Cities and Communities menuju 2030. Butir ini bertujuan untuk menjadikan kota & pemukiman inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan. SDG 11 memiliki 7 target hasilnya yaitu: (1) Perumahan yang terjangkau; (2) sistem transportasi yang terjangkau & berkelanjutan; (3) urbanisasi yang inklusi & berkelanjutan; (4) melindungi warisan budaya & alam dunia; (5) mengurangi dampak buruk bencana alam; (6) mengurangi dampak lingkungan kota; dan (7) menyediakan akses ke ruang hijau & publik yang aman dan inklusif.

Karya – karya arsitek diharapkan mampu menjembatani antara kebutuhan solusi praktis di lapangan di dalam krisis ekologi yang nyata terjadi, dan keberlanjutan sisi kebaikan untuk sosial-ekonomi masyarakat.
Hal ini dibahas oleh Jana Revedin dan Marie-Hélène bahwa arsitek bisa menjadi agen pemberdayaan masyarakat melalui pemilihan material lokal, kolaborasi dengan pengrajin/tukang setempat, dan pembangunan partisipatif yang merupakan dasar untuk menciptakan desain berkelanjutan dari detail menuju ruang-ruang ekonomi, sosial, dan lingkungan berkelanjutan.

Hal ini terlihat di dalam karya Boonserm Premthada; Frederic Druot, Lacaton and Vassal; Marta Maccaglia; Raumlabor; dan Nina Maritz yang dikurasi oleh Jana Revedin dan Marie-Hélène. Meski berbeda konteks projek, desain mereka pun memiliki keserasian dengan target hasil SDG poin ke-11. Di Indonesia, karya mendiang Y.B. Mangun Wijaya mencerminkan semangat lokalitas yang satu nafas dengan beberapa arsitek yang dibahas di atas. Hal ini menunjukkan bahwa pembahasan seperti ini tidak hanya terimplementasi di dalam lingkup global, namun juga di Indonesia.

Pada dasarnya di dalam praktik arsitektur setiap arsitek berhadapan dengan 3 kondisi akibat dari desain arsitektur yaitu sisi ekonomi, sisi sosial, dan sisi lingkungan. Tiga sisi tersebut berkaitan erat dengan kesadaran dari arsitek untuk memahami konteks site dimana arsitek tersebut bisa memilih material lokal (sumber daya alam setempat) sebagai usaha mengurangi jejak karbon dan membantu ekonomi masyarakat sekitar; dan membangun keahlian membangun SDM lokal yang syarat akan tradisi dan pemberdayaan masyarakat akan sisi teknikal bangunan yang mudah dipelihara, mudah dikonstruksi, dan efisien dari segi anggaran bangunan. Peran arsitek bisa menjembatani eksplorasi tata bahasa tektonik tersebut untuk mewujudkan pengalaman ruang utuh dari sambungan antar material ke ruang yang menggugah perasaan/indrawi melalui detail-detail berkelanjutan dengan berkolaborasi bersama pengrajin/tukang.

Di Kantana Institute terdapat dinding bata tebal setinggi 8 m yang ditopang oleh struktur baja di dalamnya. Dinding tersebut membutuhkan 600.000 bata yang diambil dari produsen lokal, menciptakan skala manusia yang taktil. Ruang-ruang di dalamnya terkoneksi dengan lorong yang diapit oleh dinding bata yang terinspirasi dari bangunan religius. Rongga di dalam dinding memberikan insulasi termal di mana diselingi bukaan yang tidak menghalangi pandangan manusia. Komposisi ini memberikan pengalaman ruang untuk memahami kolaborasi pihak-pihak yang terlibat membentuk integrasi ruang – ruang ekonomi, sosial, dan lingkungan berkelanjutan.
The Wine Ayutthaya memiliki eksplorasi material plastik dan kayu. Bangunan ini memanfaatkan struktur plywood yang diperkuat oleh baja, mengadaptasi rumah kayu tradisional setempat. Pengalaman ruang di interior terbentuk oleh 5 varian tangga spiral sebagai penghubung antara tingkatan lantai yang disesuaikan dengan arah view sungai dan landscape sekitar. Lima tangga tadi juga berfungsi sebagai penyangga struktur. Eksplorasi desain ini menunjukkan refleksi masa lampau (tradisi) dan masa depan dengan mengintegrasikan proses desain dan membangun dimana terdapat optimalisasi sisi ekonomi, sisi sosial, dan sisi lingkungan.
The Bois Le-Pretre Housing Block merupakan bangunan eksisting 16 lantai yang berisi 96 unit apartemen. Renovasi dilakukan dengan menambah perimeter fasade. Penambahan ini dilakukan dengan memanfaatkan struktur baja dan elemen pre-fabrikasi yang berdiri sendiri sehingga memungkinkan penghuni tetap tinggal selama proses pembangunan.

Perpanjangan ini untuk memperluas ruang keluarga dan menghadirkan teras/balkon. Tiap unit apartemen terbebas dari ruang tak berguna, digantikan dengan volume ruang yang bebas dan transparan. Pemilihan glass sliding door pada fasad memberikan akses pencahayaan alami dan view sementara teras/balkon memberikan strategi penghawaan 2 lapis yang bisa mendinginkan ketika musim panas dan mengurangi dingin ketika musim dingin.
Mazaronkiari Multipurpose Classroom adalah bangunan untuk komunitas asli Peru yang ditujukan untuk menjangkau akses pendidikan untuk anak-anak dengan konstruksi ruang serbaguna yang fleksibel. Struktur kayu dipilih dengan eksplorasi louvered panel yang memberikan penghawaan dan pencahayaan alami. Panel-panel non permanen berwarna-warni didesain agar mudah ditekuk 90° menjadi meja untuk mengakomodasi aktifitas rapat/pembelajaran. Penggunaan material lokal ini dan kontribusi aktif komunitas menciptakan ruang kelas berkapasitas 120 orang dan tempat bersosialisasi selepas sekolah, dan itu semua membentuk harmoni sisi ekonomi, sisi sosial, dan sisi lingkungan.
Sauna Tower merupakan pemandian publik yang dilengkapi dengan kolam renang untuk merubah persepsi masyarakat terhadap lokasi pelabuhan yang mulai tergerus aktivitas industrinya. Bangunan ini dirancang untuk menjadi bagian baru dari aktivitas pusat kota yang berkaitan dengan budaya kota-kota Nordic di mana pemandian adalah ruang sosial masyarakat. Perancangan dan pembangunan prototipenya bersifat partisipatif bersama publik. Hal ini memberikan warga kesempatan untuk mewujudkan ruang mereka sendiri. Material logam pada fasad mempererat konteks pelabuhan industri sementara interior sauna menggunakan material hangat seperti kayu veneer dan sirap.

Karya – karya arsitek diharapkan mampu menjembatani antara kebutuhan solusi praktis di lapangan di dalam krisis ekologi yang nyata terjadi, dan keberlanjutan sisi kebaikan untuk sosial-ekonomi masyarakat. Hal ini dibahas oleh Jana Revedin dan Marie-Hélène bahwa arsitek bisa menjadi menjadi agen pemberdayaan masyarakat melalui pemilihan material lokal, kolaborasi dengan pengrajin/tukang setempat, dan pembangunan partisipatif merupakan dasar untuk menciptakan desain berkelanjutan dari detail menuju ruang-ruang ekonomi, sosial, dan lingkungan berkelanjutan.

Pada dasarnya di dalam praktik arsitektur, setiap arsitek berhadapan dengan 3 kondisi akibat dari desain arsitektur, yaitu sisi ekonomi; sisi sosial; dan sisi lingkungan. Tiga sisi tersebut berkaitan erat dengan kesadaran dari arsitek untuk memahami konteks site dimana arsitek bisa memilih material lokal (sumber daya alam setempat) sebagai usaha mengurangi jejak karbon, meningkatkan ekonomi, membangun keahlian di dalam kebersamaan. Siapkah arsitek untuk kreatif menjawab sisi ekonomi, sosial, dan lingkungan di dalam mendesain di balik seluruh pembicaraan mengenai penemuan metode desain sendiri ?

Siapkah arsitek untuk kreatif menjawab sisi ekonomi, sosial, dan lingkungan di dalam mendesain di balik seluruh pembicaraan mengenai penemuan metode desain sendiri ?

Memahami Parameter Karya Berkelanjutan Melalui Studi Kasus

Untuk memperkaya pertimbangan desain dari sisi Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan, seorang arsitek membutuhkan wawasan yang luas mengenai seberapa banyaknya kasus studi yang diketahui.

Untuk memperkaya pertimbangan desain dari sisi Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan, seorang arsitek membutuhkan wawasan yang luas mengenai seberapa banyaknya kasus studi yang diketahui.

Untuk mengetahui seberapa tinggi/dalam kualitas sebuah karya arsitektur, dibutuhkan pemahaman yang multi disiplin yang menantang seberapa jauh seorang arsitek di dalam mencurahkan keringatnya untuk membuat sebuah karya arsitektur yang komprehensif. Karya ini bukan hanya soal massa, denah, dan ruang. Namun sebuah pengalaman kerja praktik seumur hidup.

Untuk mengetahui seberapa tinggi/dalam kualitas sebuah karya arsitektur, dibutuhkan pemahaman multidisiplin yg menantang seberapa jauh seorang arsitek dalam mencurahkan keringatnya untuk membuat karya yang komprehensif. Karya ini bukan hanya soal massa, denah, dan ruang. Namun sebuah pengalaman kerja praktik seumur hidup melalui 3 buah tahapan analisa kasus studi:

1. Massa Bangunan: studi bentuk dasar sebagai landasan sosok, wujud, nilai filosofis, sampai hubungan sebab akibat dengan sudut matahari, sirkulasi sekitar bangunan, ataupun sesederhana mengikuti sejarah pembentukan arsitektur di dalam sebuah kota (pendekatan kontinental)

2. Denah Ruang: studi programming, kumpulan data tentang definisi sebuah ruang, bagaimana menggunakannya, berapa jumlah penggunanya, serta keperluan integrasi dengan sistem utilitas bangunan

3. Pengalaman ruang: berkaitan dengan intuisi yang terakumulasi dalam gubahan bentuk 3D (didukung dengan materialitas, membentuk pengalaman ruang.

Ketika seorang arsitek memulai mendesain, ia memerlukan imajinasi akan sebuah sosok gubahan bentuk, disadari ataupun tidak disadari. Hal ini dinamakan massa bangunan. Studi massa bangunan merupakan studi mengenai studi bentuk dasar yang menjadi landasan sosok, wujud, nilai filosofis, sampai hubungan sebab akibat dengan sudut matahari, sirkulasi sekitar bangunan, ataupun sesederhana mengikuti sejarah pembentukan arsitektur di dalam sebuah kota (pendekatan kontinental).
Kebutuhan dasar di dalam perancangan diterjemahkan ke dalam sebuah basis data yang disebut programming. Programming merupakan kumpulan data tentang hal-hal seperti: definisi sebuah ruang, bagaimana menggunakan ruang, berapa orang yang menggunakan ruang, perlunya integrasi dengan sistem utilitas bangunan termasuk hal–hal seperti ergonomi, lebar ruangan, lebar pintu, lebar bukaan, bagaimana keterhubungan lantai atas dan bawah yang berhubungan, ataupun sesederhananya bagaimana tata letak perabot.
Arsitek menghubungkan rasa ke dalam akal, seringkali hal ini disebut sebagai sebuah intuisi. Di dalam alam intuisi seorang arsitek, hasil intuisi ini terakumulasi di dalam gubahan bentuk 3 dimensi. Sedangkan pengalaman ruang adalah ‘suasana’ yang terbentuk dari bentuk 3 dimensi dan materialitas yang menunjukkan kepekaan dari seorang arsitek. Materialitas tersebut ditimbulkan oleh suasana yang dibentuk dari kualitas arsi-tektonika (detail yang berkelanjutan) sehingga di dalam pengalaman ruang yang berperan adalah waktu sebagai komposisi 4 dimensi yang komprehensif.

Salah satu sumber terlengkap sebagai barometer awal mengenal arsitektur berkelanjutan bisa menggunakan karya Pritzker Prize sebagai kasus studi. Kasus studi ini adalah sebuah awalan untuk memahami bahwa begitu banyak kasus studi arsitektur berkelanjutan yang masih perlu dipelajari dan membuat proses berbagi menjadi penting. Dengan mempelajari kasus studi, arsitek dapat memahami metode arsitek lain secara holistik sebagai cermin untuk mengembangkan diri.

Mengenal Strategi Arsitektur Berkelanjutan di dalam karya arsitektur. Salah satu sumber yang terlengkap sebagai barometer awal adalah Pritzker Prize yang bisa digunakan untuk menganalisa kasus studi di dalam strategi arsitektur berkelanjutan.

Siapkah sang arsitek bercermin dan kembali belajar untuk menambah kualitas metode desain dimilikinya melalui pengetahuan kasus studi yang begitu berlimpah di dalam arsitektur di dunia dan di Indonesia?

Kasus studi di atas adalah sebuah awalan untuk memahami bahwa begitu banyak kasus studi arsitektur berkelanjutan yang masih perlu dipelajari membuat proses berbagi menjadi penting. Dengan mempelajari kasus studi, arsitek dapat memahami metode arsitek lain secara holistik sebagai cermin untuk mengembangkan diri. Siapkah sang arsitek bercermin dan kembali belajar untuk menambah kualitas metode desain dimilikinya melalui pengetahuan kasus studi yang begitu berlimpah di dalam arsitektur di dunia dan di Indonesia?

Siapa Aku | Membawa Diri Berselancar dalam Gerakan Arsitektur Berkelanjutan

Pertanyaan “Siapa aku?” adalah sebuah pertanyaaan yang menghinggapi setiap arsitek di dunia. Untuk menjawab itu sebenarnya seseorang hanya perlu mencukupkan dirinya dan mengetahui bahwa setiap individu dilahirkan unik. Pertanyaan “siapa aku?” akan memberikan landasan yang kuat terhadap perumusan strategi arsitektur berkelanjutan yang optimal.

“Siapa aku?” adalah sebuah pertanyaaan yang menghinggapi setiap arsitek di dunia. Untuk menjawab itu sebenarnya seseorang hanya perlu mencukupkan dirinya dan mengetahui bahwa setiap individu dilahirkan unik. Pertanyaan “siapa aku?” akan memberikan landasan yang kuat terhadap perumusan strategi arsitektur berkelanjutan yang optimal.

Pemahaman terhadap kekurangan dan kelebihan diri, apa yang disukai dan tidak disukai, cara-cara yang berhasil dan yang gagal, juga bagaimana respons terhadap berbagai hal akan membantu menjelaskan secara logis apa yang dirasakan. Arsitek akan menjadi lebih percaya diri dan terampil dalam pengambilan keputusan. Memahami diri sendiri secara tidak langsung juga berarti memahami orang lain dan bagaimana setiap individu memiliki sifat dan caranya masing-masing.

Perjalanan mengenali diri sendiri membuthkan waktu. Ibaratnya, setiap orang membentuk orang lain, dan orang lain membetuk “siapa aku”.

Secara umum, manusia memiliki berbagai unsur kepribadian di dalam dirinya yang perlu untuk dipahami, diterima, dan dirangkul agar mampu mengambil langkah ke depan dengan lebih pasti.

Semangat manusia masih memiliki semangat untuk menjadi lebih baik dan kontributif terhadap masyarakat dalam konteks studi kreativitas terwujud dalam berbagai sisi, mulai dari belajar meniru dan mengejar kuantitas, menjadi mulai berpikir mengenai tujuan dan kualitas, hingga akhirnya mencapai fase “bermain-main” dan mengeksplorasi ide.

Studi mengenai “siapa aku?” tertuang dalam bagaimana kita bisa mengenali kepribadian kita. Dalam kepribadian, ada unsur-unsur yang disebut sebagai archetypes. Carl Jung membagi archetypes ke dalam wujud persona (topeng), shadow (ketakutan), anima (feminin), dan animus (maskulin), dan banyak archetypes lainnya.

Sebuah jiwa akan mengalami keutuhan (self), dan merasa berkecukupan ketika terdapat integrasi atau penerimaan terhadap seluruh archetype, termasuk hal-hal di bawah alam sadarnya, juga penerimaan terhadap masa lalu dan impian akan meningkatnya potensi diri.
Perkembangan diri yang berkelanjutan: fase Animal Laboran, Homo Faber, Homo Ludens

Semua orang pada dasarnya ingin memiliki kehidupan yang lebih baik juga semangat untuk memperbaiki diri, dalam studi kreativitas disebut kerajinan (craftsmanship).

Sennet menjelaskan prinsip ini menjadi tiga sisi: Animal Laboran (teknis), Homo Faber (manusia membuat/ kreatif), dan Homo Ludens (manusia bermain-main). Sisi terakhir ini mewakili manusia yang tak hanya memahami apa yang ia buat, tetapi juga mengupayakan proses yang menyenangkan.

Dalam konteks sebuah proyek, ada berbagai pihak yang berkepentingan, seperti arsitek, klien, kontraktor, dan engineer. Kunci ketuntasan kerajian di sini adalah bagaimana desain seorang arsitek memenuhi sisi teknis, kreatif, dan eksploratif di dalam proses perancangan dan pembangunan. Hal ini sederhananya adalah proses perkembangan diri yang berkelanjutan-multidisiplin.
Perkembangan diri yang berkelanjutan: fase Apprentice, Journeyman, Master

Buku Craftgram (Adiyanto & Sjarief, 2020) memaparkan tahap-tahap yang menjadi titik mulai hingga adaptasi seseorang yang mendalami suatu keahlian.

Perjalanan dimulai dari menjadi apprentice, di mana seseorang menjadi murid yang dituntut memiliki semangat untuk belajar dengan berkreasi sesuai instruksi (mengutamakan kuantitas). Tahap selanjutnya adalah tahap journeyman di mana seseorang mulai mempertanyakan tujuan hidup, mengamati, dan bereksperimen sesuai tujuan yang ia temukan. Tahap ketiga adalah tahap master (mumpuni) di mana seseorang bisa bermain dengan keahliannya yang ditandai dengan wawasan yang luas dan jam terbang tinggi. Fokus keluaran dalam tahap ini adalah produksi ide-ide yang inovatif.

Selama berproses, diperlukan evaluasi terhadap diri melalui literasi dengan teknik yang tepat dan pendekatan yang disesuaikan dengan konteks. Wawasan yang terkumpul dalam proses panjang ini kemudian dirumuskan dalam teori-teori yang berasal dari dalam diri arsitek dan yang berdasar pada keadaan di lingkungan.

Performa menuju arsitek mumpuni dalam kultur studio menggunakan pendekatan craftsmanship (Craftsgram, 2020)

Menjadi arsitek membutuhkan pemahaman untuk bisa mengenali diri, dimulai dari menerima diri, dan menyadari bahwa dirinya memiliki keunikan di dalam masyarakat dunia, hingga akhirnya memberikan sumbangsih kepada lingkungannya. Hal ini dinamakan pengembangan diri yang berkelanjutan.

Aktualisasi Diri Lewat Menulis Arsitektur: Menata Sudut Pandang

[Writing Architecture by Carter Wiseman (2014)]

Setelah mengetahui kepribadian diri dan mampu bekerja dengan orang lain, seseorang membutuhkan ruang untuk evaluasi. Hal ini ditandai dengan kemampuan literasi yang baik, yaitu kemampuan untuk memahami sebuah persoalan dengan komprehensif. Ada dua hal yang diperlukan, yakni teknik literasi dan pendekatan literasi.

Wiseman membagi teknik-teknik literasi menjadi: (1) structure, rangka literasi, (2) standard, penilaian objektif, (3) persuasion, meyakinkan bagi pembaca, (4) criticism, mencakup pemahaman soal konteks, (5) scholarship, opini yang didukung data objektif, (6) literature, unsur naratif/emosional, (7) presentation, penyampaian gagasan yang mudah dipahami, (8) professional communication, penjelasan singkat mengenai hal-hal penting dalam rangkaian gagasan.
Aktualisasi Diri Lewat Menulis Arsitektur: Menata Sudut Pandang

[Writing About Architecture by Alexandra Lange (2012)]

Sedangkan, pendekatan literasi dibahas oleh Lange (Writing About Architecture) yang membaginya menjadi empat kategori, yaitu:

(1) pendekatan formal, berupa penjelasan deskriptif tentang organisasi ruang, material, dan hal faktual lainnya dalam sebuah rancangan,
(2) pendekatan eksperimental, yang memasukkan unsur perasaan atau pengalaman subyektif penulis terhadap sebuah karya/proses,
(3) pendekatan historikal, misal memasukkan unsur latar belakang arsitek yang mempengaruhi sebuah rancangan,
(4) pendekatan aktivis, yang membahas pihak yang diuntungkan/dirugikan dari adanya suatu karya, melihat segi ekonomi/sosial antara karya dengan lingkungan.
Aktualisasi Kepribadian dalam Perancangan: Teori Normatif dan Teori Positif

[Creating Architectural Theory by Jon Lang (1987)]

Setelah mengetahui kepribadian diri, mampu bekerja dengan orang lain, dan mampu mengevaluasi diri, seseorang perlu merumuskan apa yang sudah dipahaminya menjadi sebuah teori kehidupan. Lang (1987) membaginya menjadi beberapa jenis teori:

Teori normatif adalah teori yang didasarkan pada pengetahuan yang menjadi kebiasaan dalam diri arsitek, persepsinya terhadap dunia, ukuran baik dan buruk. Bentuknya dapat berupa prinsip desain yang dikembangkan oleh masing-masing arsitek.

Teori positif adalah teori yang didasarkan pada pengetahuan yang dirumuskan berdasarkan konteks dari isu yang dihadapi. Teori ini terbagi menjadi teori substantif yang fokus pada isu yang dihadapi, dan teori prosedural yang fokus pada metode desain yang tepat untuk membedah isu. Aktualisasi Diri Lewat Menulis Arsitektur: Menata Sudut Pandang

Siapkah setiap arsitek untuk mau rendah hati belajar kembali mengembangkan diri?

Menjadi arsitek membutuhkan pemahaman untuk bisa mengenali diri, dimulai dari menerima diri sendiri, dan menyadari bahwa dirinya memiliki keunikan di dalam masyarakat dunia, hingga akhirnya memberikan sumbangsih kepada lingkungannya. Hal ini dinamakan pengembangan diri yang berkelanjutan. Siapkah setiap arsitek untuk mau rendah hati belajar kembali mengembangkan diri?

Kontributor Kelas Strategi Arsitektur Berkelanjutan untuk Mahasiswa – University of Pelita Harapan

Para kontributor yang terdiri dari mahasiswa, untuk mahasiswa dan oleh mahasiswa : Albert Lionggo, Andreas Hasiholan, Anggreny Ratnasari, Anissa Dipa, Anke Ardine, Ansell Samuel Julianto, Antonius Priya Prathama, Bayu Abimanyu, Carla Aurellia, Chelsea Gracelyn Halun, Chelsya Setiawan, Christal Yohanes Edy Widjaya, Darwin Winata, Dharmawan, Diandra, Arya Eka Putri, Edgard Jeremy, El Grantnada Romaulina Chyntia Manihuruk, Eubisius Vercelli, Ocvanto Kuncoro, Evania Hamdani Fania, Farisya Yunandira Putri, Fikra Abhinaya Djuhara, Franca Kartasasmita, Gerardo Leonard Nugroho, Gilbert Antonious Heidy Laurentia, Heinrich Benedick, Jason Lim, Jason Aristya Wongso, Jason Axel, Jesslyn Amanda, Joshua Alfando, Joshua Felix Theo, Joshua Michael, Jovin Juan, Marcell Cruxivisyo, Mauritzio Hizkia, Michael Antonio Halim, Michael Imanuel Susilo, Michellin Sonia Wibowo, Muhamad Yusuf Nyompa, Nathanael, Christopher Ng, Novi Synfah, Oliver Victor Wibowo, Praisella Hatijanto, Putroaji Darma Maulana, Raihan Ramadhan, Rayka Martawijana, Raynaldo Febrio Istanto, Sander Ekaputra, Satya Krisnadi, Shania Salsabila, Shella Angelica, Sherlyn Christiane, Spazio Julius, Stanly Alviando, Thessalonicca Venesya, Valencia Angelita, Vania Serrafine

Kuliah Strategi Arsitektur Berkelanjutan ini adalah sebuah mata kuliah yang diampu oleh Realrich Sjarief di dalam penelitian yang dilakukan di Omah Library dan pedagogi kelasnya di lakukan di dalam sesi mata kuliah Strategi Arsitektur Berkelanjutan di Universitas Pelita Harapan. Harapan dari kelas ini adalah berbagi mengenai pedagogi, riset mata kuliah, maupun pustaka supaya bisa dikembangkan di perkuliahan lain ataupun bermanfaat untuk praktik arsitektur di banyak tempat. Perkuliahan ini dirangkum ke dalam bentuk buku dan interpretasi terhadap keseluruhan materi ditulis oleh Anas Hidayat dan Johannes Adiyanto sebagai sudut pandang pelengkap dari luar.

Pengampu Perkuliahan

The Research Study is in Strategi Arsitektur Berkelanjutan Untuk Mahasiswa’s Book

Buku setebal 600-an halaman ini adalah salah satu refleksi untuk menyusun kerangka strategi arsitektur berkelanjutan yang dimulai dari kesadaran diri untuk membentuk sudut pandang multidimensi, multi disiplin dan konteks lingkungan makro-mikro sebelum menguasai aspek teknikal seperti pengetahuan detail material bangunan serta metode desain.

Buku terbaru yang berjudul “Strategi arsitektur untuk Mahasiswa” ini adalah sebagai buku kedua yang diterbitkan di awal tahun 2021. Buku ini merupakan antologi atas materi strategi arsitektur berkelanjutan yang didiskusikan dan dirangkum dalam bentuk esai beserta artwork untuk bersama-sama mencari seberapa luas dan seberapa dalam terminologi arsitektur berkelanjutan?

Disiplin arsitektur selalu berhubungan dengan dimensi lingkungan dan humaniora, terutama mengenai identitas, ilmu bangunan, evaluasi metode desain, sensitivitas tentang materialitas, sampai pengetahuan mengenai kasus studi. 5 Hal tersebut diturunkan ke dalam 5 bab yang berisi 14 bentuk strategi desain berisi bagaimana proses memahami diri, mengetahui budaya membangun ‘ketukangan’, dan aktualisasi diri melalui menulis, sejarah arsitektur berkelanjutan, materialitas, metodologi desain, dan pembedahan 60 kasus desain dari pritzker prize winner dan orang – orang lain yang mewarnai praktik dengan semangat lokalitas.

Sebagai penyimpul benang merah, bab terakhir meliputi refleksi diri dari para penulis tentang hasil dari pembelajaran mereka. Strategi (praktik) arsitektur berkelanjutan tidaklah statis dan berdiri sendiri, justru membutuhkan kedinamisan konstruksi pemikiran dari berbagai sudut pandang.

Realrich Sjarief

Realrich Sjarief mendirikan Realrich Architecture Workshop di tahun 2011. Ia juga aktif di DOT Workshop, yang berfokus pada penelitian tektonika, dan Perpustakaan OMAH, kelompok penelitian dan perpustakaan umum yang menampung sekitar 1.500 buku arsitektur dan menyelenggarakan publik berkala acara tentang wacana arsitektur kontemporer. Ia menulis
beberapa buku bersama dengan Johannes Adiyanto, bersama-sama menjadi cantrik yang haus akan ilmu. Realrich Sjarief aktif mengajar di beberapa universitas di Indonesia, dan kerap kali memberikan kuliah umum di Australia, Singapore, Filipina, India. Bersama RAW Architecture ia memenangkan beberapa kompetisi desain, termasuk Kompetisi Galeri Nasional Indonesia, finalis dari Museum Silaban, IAI Jakarta Award di tahun 2017 dengan karya Omah Library, Finalis World Architecture Festival Award 2018, Fibra Award 2019, dan Kohler Award 2018 untuk karya Sekolah Alfa Omega. RAW Architecture di tahun 2018-2019 adalah long listed world emerging architect. Baru-baru ini RAW Architecture juga mendapatkan nominasi Emerging Architect di Asia Pacific Design Award 2020.

Penyunting Buku

Satria Agung Permana

Satria A. Permana is currently working at OMAH Library, observing and researching architecture discourse in Indonesia. He graduated from the school of architecture in Universitas Islam Indonesia. His thesis about “Recoding the Code’s Urban Kampong”, has led him to put his concern on developing urban kampong design language, which also aided him to gain several prizes in architecture and urban design competition such as merit award in FuturArc Prize 2019 and nominated in Student Charrette World Architecture Festival 2016. Besides architecture and design, he spends half of his life observing the worlds in writings and photography which could be found at http://www.medium.com/@satriaap. In 2020, he co-authored with Realrich Sjarief a book titled The Secret of Architect’s Life. He is available to reach by email at satriaap@live.com or Instagram @satria__ap.

Amelia Mega Djaja

Amelia Mega Djaja adalah salah satu periset dan pustakawan OMAH Library, pernah terlibat dalam penulisan buku berjudul “Craftgram: Craft + Grammatology” dan “Alvar Aalto: The Magic of Architect’s Life,” dan juga sebagai koordinator Kri(s)tik Book Club 2019. Lulus dari S1 jurusan arsitektur pada tahun 2016 dari The University of Sheffield, dengan disertasi mengenai narasi arsitektur poskolonial di Jakarta tahun 1960an.

Sebelum bergabung di OMAH, Amel memiliki pengalaman bekerja selama 3 tahun sebagai desainer, antara lain dalam proyek Alun-Alun Cicendo Bandung (2017, di bawah Florian Heinzelmann), juga sebagai koordinator tim Sayembara Kantor Bupati Sleman yang mendapat juara 2 (IAI 2018, di bawah Ary Indra).

Menurutnya, arsitektur bisa menjadi medium dalam melakukan pembacaan dan analisis mengenai kultur, sejarah, lingkungan maupun dimensi sosial yang lebih luas. Karena ketertarikannya untuk mendalami hal tersebut, saat ini Amel juga merupakan salah satu pegiat ASF-Indonesia yang aktif dalam fasilitasi dan diskusi mengenai komunitas informal kota Jakarta.

Tim Omah Library : Redaksi

Kirana Ardya Garini

Lulus dari jurusan Teknik Arsitektur pada tahun 2017, Kirana A. Garini memiliki pengalaman bekerja di konsultan arsitektur PT Tripatra Konsultan di Yogyakarta yang khusus menangani proyek pemerintahan.

Kirana sempat bergabung dalam Housing Resource Center Yogyakarta dengan fokus penanganan kampung kota Kali Code Yogyakarta dengan output berupa profil kawasan.

Kirana senang bereksperimen dengan desain produk, khususnya yang dapat digunakan di ruang publik. Ia pernah membuat Pringgam (pring-gamelan), prototipe produk bermain bagi anak usia SD di taman kota Surabaya, berbahan bambu, memadukan sistem alat box musik dan gamelan. Produk tersebut sengaja didesain untuk beberapa penggunan sebagai tanggapan atas minim nya interaksi sosial anak di kota urban yang cenderung terikat pada gadget mereka. Karya tersebut mendapat penghargaan juara 1 pada sayembara Play MORPH yang diselenggarakan oleh Departemen Arsitektur ITS, Surabaya bersama dengan 2 orang dalam timnya.

Kirana sangat tertarik dengan arsitektur untuk publik, yang mengutamakan kesehatan dan kenyamanan masyarakat luas, desain universal, multi dimensi dan multi disiplin, serta bersinggungan dengan kebijakan publik, politik, dan ekonomi.

Selama di OMAH Library, Kirana terlibat dalam berbagai riset yang diantaranya diterbitkan dalam bentuk buku, seperti: Methodgram, Craftgram, Sejarah Arsitektur untuk Mahasiswa, dan yang terbaru, buku Alvar Aalto: the magic of architects life. Kenal lebih dekat dengan Kirana melalui Instagram @kiranaardya atau LinkedIn Kirana Ardya Garini.

Dimas Dwi Mukti Purwanto

Dimas Dwi Mukti Purwanto, lahir di Madiun 7 Maret 1996. Lulus dari Akademi Teknik Arsitektur YKPN Yogyakarta tahun 2018 dan sekarang sedang melanjutkan studi S1 di Universitas Mercu Buana Jakarta untuk melanjutkan cita – citanya.

Beberapa pengalaman yang mempengaruhi pemikiran Dimas adalah ketika menjadi volunteer yang bertugas sebagai tim riset Venice Architecture Biennale 2018 bersama tim pavillion Indonesia pada tahun 2017, ketika menjadi tim desain revitalisasi desa Krapyak di Pekalongan bersama Studio Akanoma dalam mendampingi World Bank pada tahun 2018, dan ketika mendapatkan kesempatan untuk menjadi juru gambar PT. Waskita Karya dalam proyek tol Pemalang – Batang pada tahun 2018. Kemudian Dimas juga pernah bekerja di PT. Kreasi Nusa Studio sebagai desainer interior dimana banyak mengerjakan proyek – proyek kantor, residensial hingga komersial sepanjang tahun 2019. Untuk saat ini Dimas sedang belajar dan bekerja sebagai pustakawan dan juga periset di Omah Library. Salah satu prestasi yang pernah Dimas raih adalah juara 3 dalam kompetisi desain ruang publik yang bertema Unexpected Space di tahun 2018.

Dimas adalah orang yang tidak pintar – pintar amat namun memiliki keinginan yang kuat untuk bisa membanggakan bangsa Indonesia sebagai arsitek yang baik sehingga hal itulah yang selalu membuatnya mendapatkan motivasi untuk terus belajar dan belajar lebih dalam lagi.

Hanifah Saussan

Hanifah Sausan Nurfinaputri lahir dan tumbuh besar di Magelang, kemudian pindah ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan arsitektur di Universitas Gadjah Mada yang diselesaikannya pada tahun 2019 dengan tugas akhir perancangan sekolah alam.

Sebelumnya, Hanifah pernah mengikuti exchange program Japan in Today’s World oleh Universitas Kyushu pada tahun 2018-2019 di mana ia banyak belajar mengenai budaya, masyarakat, dan keberagaman. Pengalaman tersebut memberinya sudut pandang berbeda dalam melihat dunia di mana arsitektur ternyata hanya salah satu “kacamata” saja. Meski begitu, ia tetap ingin berkontribusi pada bidang arsitektur sehingga belum lama ini ia bergabung dengan OMAH Library sebagai salah satu periset dan pustakawan. Di waktu luangnya, ia lebih suka belajar mengenai dunia melalui film, drama, buku, atau media seni lainnya. Hanifah bisa dihubungi melalui upak.upik@gmail.com atau Instagram @hanifahsausann.

Refleksi

Terima kasih saya haturkan untuk Alvar Mensana selaku kepala jurusan UPH pada saat mata kuliah ini diajarkan, rekan – rekan pengajar yang tersebar di Indonesia, untuk sebuah semangat berbagi. Keseluruhan pedagogi ini terbuka untuk dielaborasi terkait dengan pengembangannya yang berkelanjutan. Juga terkahir untuk Anas Hidayat dan Johannes Adiyanto untuk tulisan refleksinya di akhir buku.

Kategori
blog

realrich sjarief of raw architecture speaks the power of architectural literacy

people by shafa diandra

when we hear the word “designing”, many of us are often fixated on a portrait of a particular object, structure, or craft worth remembering functionally and aesthetically. however, perhaps also many of us underestimate the power of literacy that brings these very objects to life.


this is where realrich sjarief, a former architect at foster & partners, a poetic believer and founder of jakarta-based raw architecture, and principal architect of the famous alpha omega school and the notable omah library – sees how architectural literacy shapes one’s success story. it is a tool that creates a safe haven for one personal’s space – not only to fantasize and imagine what is yet to come, but also to broaden our horizons.

sjarief spent most of his life reading and writing architectural literature, emphasizing literacy through craftsmanship, people, and material, which led him to such methodology and philosophy.

the story began with his fond childhood memory of accompanying his father to construction sites and with his love for books that gradually turned into a passion for writing and delivering stories through design.

understanding literacy

when i was working in borneo during the great recession, i read many books and found them to give me all kinds of imaginations and the ability to understand people and settings. so reading became my escape from work and my safe haven.

then when i got accepted to bandung’s institute of technology, i came across a book by norman foster that speaks about curiosity and technology. i was lucky that i got an opportunity to work at fosters and partners and to have many amazing mentors at the start of my career. and it was the tall and narrow library at foster and partners that gave me my passion in architectural literacy, as i saw it becoming a ground for discussions to happen around a great mix of people, works, and beliefs.

it is all about a network of people

for me, architecture literacy is the essence of critical and creative thinking in architecture. it is about creating a network of people to share thoughts and discuss matters.

when we talk about literacy, it isn’t all about written stories, but it needs to be spoken as well. to be literate is not to be cynical. literacy simply means a space, whether a physical space or an imagining community, to understand that the world of knowledge has multiple perspectives – it is very broad. you have to acknowledge that you are part of something greater than you, so it is about the maturity of knowing information and digesting knowledge. 

creating the “ecosystem” in the constantly-changing era 

architectural literacy really helps me out whenever i am stuck in a certain project. reading case studies, theories, history, even rereading my own manuscripts will make us see different methods that remind us to not look into our problem from a single point of view only. reflect – review your work – act differently – and find new things. it truly is a method that broadens one’s horizon, because it is only by experiencing the real and the fantasy world that we can create an extraordinary solution.  

more in the website of Design Story here : https://www.thedesignstory.com/blog/people/realrich-sjarief-of-raw-architecture-speaks-the-power-of-architectural-literacy

and here the recording of the session :

Realrich Sjarief shares about sharpening both creative and critical minds when it comes to practicing, appreciating, and understanding a work of architecture and also about the importance of nurturing micro-communities to encourage learning together.

SHOW LESS

read the full article on the design story:
https://www.thedesignstory.com/blog/p…
———————————————–
the design story is a weblog for cutting-edge news and development in architecture and design, and a curated shop of design products. our mission is to bring you a carefully edited selection of the best, sustainable, and innovative architecture design and interior projects and news from around the world. follow and subscribe to our page:
website: https://www.thedesignstory.com/​ blogs: https://www.thedesignstory.com/blog​ instagram: https://instagram.com/thedesignstoryy​ podcast: https://open.spotify.com/show/6NhB2Fz​… twitter: https://twitter.com/thedesignstoryy​ Pinterest: https://pinterest.com/thedesignstoryy/

Kategori
blog

Other Ways of Doing Architecture, Lecture at PAM Malaysia (Pertubuhan Akitek Malaysia) Malaysian Institute of Architects

I will be presenting the lecture in title of Other Ways of Doing Architecture. Gary Yeow contacted me. As part of the co-organised sharing session with Malaysia Institute of Architects, this forum will be speculating on “Other Ways of Doing Architecture” – inspired by Spatial Agency’s publication. The first session here, conducted in December 2020. As Gary was browsing through my portfolio work, he noticed a great amount of details and experiments in my projects, especially Alfa Omega and Guha (with Omah Library & your studio), while other projects showcased great understanding of materiality as well.


The other architects are invited to the discussion such as Jan Glasmeier, from SimpleArchitecture (I know him from Design United India) and One Bite Studio from Hongkong – both are more on curations and workshops – Gary thought on looking at local materials and cultural craftsmanship ( sharing the behind-the-scenes of these successful projects?) – how these connect to genius loci and essence of Indonesia – are the core values they are very excited for.

It’s event supported by Taylor Insitute and Pertubuhan Akitek Malaysia (PAM) – Malaysian Institute of Architects – is the national professional institute representing architects in Malaysia.

https://www.facebook.com/PertubuhanAkitekMalaysia/videos/789442701951064/

Here is the link shared by Gary Yeow in his email. I found out that the discussion led by three moderators, Gary, Hazeek, and Joyee are profound, I learnt architecture as social agency from Jan and how social platform can breach towards new understanding in Sarah’s presentation. Please have a look if you are interested in link above, I do learn from them.

Here is some points that I would like to share from Laurensia’s in our journey to find happiness, in my case being a father, architect, and together with her, the dentist who supports our life as family and the lease is Miracle and Heaven ! our lovely angelic son.

Kategori
blog

Interview with Realrich Sjarief, Founder of Realrich Architecture Workshop

From his firm located on the outskirts of Jakarta, Realrich wants to design buildings that are timeless and break out of the mould.

I’ve done interview with Vaibhav Srivastava Editor-in-Chief of Design City Lab. It’s on today, please visit

https://designcitylab.com/post/people/interview-with-realrich-sjarief-founder-of-realrich-architecture-workshop

Here is some discussion in interview summed by Vaibhav,

From his firm located on the outskirts of Jakarta, Realrich wants to design buildings that are timeless and break out of the mould. His architecture comes across as honest, simple and grounded in locality which he says is achieved by working closely with regional craftsmen and adopting a minimal local material palette. He belongs to the new breed of architects that is redefining design innovation in building industry and creating a new design language for a new Indonesia.

I have inspired by may people including Y.B. Mangunwijaya, learning the core of explorations and attitude of practice.

” Vaibhav : Which architects inform and inspire your work?

I took three trips which I refer to as pilgrimages. The first one was to see the work of Alvar Aalto. I find his work amazing because of its simplicity. I really respect him as an architect because he created functional designs with ordinary and low cost materials. Second visit was to see Le Corbusier’s work. He had the ability to make fairly simple architecture, which is at the same time very thought-provoking. Third architect that really inspire me is Carlos Scarpa. Scarpa’s attention to detail is almost unmatched and his attention to the smallest details brings his work to a point of simplicity, where even waste becomes the grammar of the design. The Indonesian figure that inspires me the most is Father Y.B. Mangunwijaya, who is an architect, writer, and philosopher. He taught me how to use local material and encouraged me to keep an attitude of having discussions with craftsmen and produce intellectual process on making.

Here are questions elaborated by him.

  1. Could you give us a brief introduction about yourself and your firm?
  2. How do you reflect on the journey of your firm in last 10 years?
  3. What is the role of form-making in your projects?
  4. What is the role of form-making in your projects?
  5. How do you measure success in your projects?
  6. What are the biggest challenges that you face?
  7. How do you support craftsmen through your work?
  8. Can you see timber and bamboo being widely used in a mega city like Jakarta for construction?
  9. The Alpha Omega project was finished on site in six months. How did you achieve such efficiency on site?
  10. How do you approach sustainability in your work?
  11. Which architects inform and inspire your work?
  12. How does your work in university inform your work as an architect?

These questions are amazing, thought very carefully to bridge a learning, practice, teaching experience. Looking at this experience being interviewed with him, I feel that I need to gather my methodology again, this time more integrated, evaluated. It’s looping process.

“To become an architect, we need to learn how to think, draw and critically evaluate ourselves. In academics there is peer pressure to always keep evolving your design and keep improving. We are always evaluating our work and making sure we are contributing to the discourse around architecture. Teaching helps to keep my practice working, as in a small campus where we all are learning from each other, developing feedback loops.”,

please look at the link above. Thank you Vaibhav for the session of support and I also learn by connecting the discourse that you have. I love to read some of your interview with other people and your article about 2021 pritzker prize, you try to have a thought about what’s beyond form investigating the context of the practice, people, and impact of the project to people’s life.

“To become an architect, we need to learn how to think, draw and critically evaluate ourselves. In academics there is peer pressure to always keep evolving your design and keep improving. We are always evaluating our work and making sure we are contributing to the discourse around architecture. Teaching helps to keep my practice working, as in a small campus where we all are learning from each other, developing feedback loops.”,
Kategori
blog

Cangkirku, Kehidupan yang Kedua

Bangunan dengan atap meliuk – liuk ini adalah bangunan dengan struktur panggung yang terbuat dari konstruksi bambu, dengan grid 5.0 m dan 4.0 m untuk mengakomodasi fungsi ruang perpustakaan, kamar tidur, dan ruang pertemuan. Strukturnya seperti bentuk kupu – kupu atau kepakan sayap burung yang dielaborasi dari proyek Alfa Omega. Balok bambu dikakukan dengan dagu – dagu (pengkaku), sementara kolom duduk di atas umpak batu kali yang dihubungkan dengan konstruksi bambu sebagai pelataran di lantai dasar.

Bangunan dengan atap meliuk – liuk ini adalah bangunan dengan struktur panggung yang terbuat dari konstruksi bambu, dengan grid 5.0 m dan 4.0 m untuk mengakomodasi fungsi ruang perpustakaan, kamar tidur, dan ruang pertemuan. Strukturnya seperti bentuk kupu – kupu atau kepakan sayap burung yang dielaborasi dari proyek Alfa Omega.
Balok bambu dikakukan dengan dagu – dagu (pengkaku), sementara kolom duduk di atas umpak batu kali yang dihubungkan dengan konstruksi bambu sebagai pelataran di lantai dasar.

Bentuk – bentuk melengkung ini sebenarnya pernah saya elaborasi di dalam Kampono (Dancer) House sebelumnya di dalam konstruksi beton dengan perhitungan terhadap sisi panas, angin yang mengalir di dalam desain massa – kulit bangunan sampai detail – detail yang lain. Dan, di balik permainan bentuk – bentuk melengkung yang muncul, ada logika kekuatan dan estetika yang terinspirasi dari bahasa alam.

Bentuk – bentuk melengkung ini sebenarnya pernah saya elaborasi di dalam Kampono (Dancer) House sebelumnya di dalam konstruksi beton dengan perhitungan terhadap sisi panas, angin yang mengalir di dalam desain massa – kulit bangunan sampai detail – detail yang lain. Dan, di balik permainan bentuk – bentuk melengkung yang muncul, ada logika kekuatan dan estetika yang terinspirasi dari bahasa alam.

Selain sisi tradisional yang ditonjolkan, sisi industri juga muncul dengan komposisi bentuk atap yang melengkung ditutupi dengan daun Nipah yang dikombinasikan dengan membran tahan air untuk atap.Membentuk Julang Ngapak sebagai bangunan vernakuler tradisional Jawa Barat. Balustrade bambu yang dilengkungkan dimainkan sebagai bentuk hiperboloid yang lebih kompleks, lebih kuat, dan lebih fleksibel serta menciptakan siluet gerakan alami burung atau pergerakan Kujang yang merupakan senjata tradisional dalam Tradisi Sunda.

Selain sisi tradisional yang ditonjolkan, sisi industri juga muncul dengan komposisi bentuk atap yang melengkung ditutupi dengan daun Nipah yang dikombinasikan dengan membran tahan air untuk atap.Membentuk Julang Ngapak sebagai bangunan vernakuler tradisional Jawa Barat.
Balustrade bambu yang dilengkungkan dimainkan sebagai bentuk hiperboloid yang lebih kompleks, lebih kuat, dan lebih fleksibel serta menciptakan siluet gerakan alami burung atau pergerakan Kujang yang merupakan senjata tradisional dalam Tradisi Sunda.

Pak Jatmiko adalah orang yang membantu saya melakukan supervisi ke bangunan inti di Piyandeling, dimana ia memberikan batas seberapa tinggi bangunan dengan konstruksi bambu ini bisa dibangun dengan aman. Pak Jatmiko dulu menemani kakek saya, dan ayah saya ke proyek. Ia juga adalah pengawas bangunan dari almarhum Han Awal, dan Teddy Boen (ahli gempa Indonesia). Dari Pak Jatmiko saya belajar bahwa setiap murid membutuhkan guru dan pelatih, seorang pelatih akan bisa melihat dengan sudut pandang yang berbeda. Sebegitunya kita membutuhkan waktu untuk berlatih setiap harinya. Di kasus saya berlatih ini erat kaitannya dengan berapa banyak masalah desain yang bisa kita pelajari dan pecahkan setiap harinya dan relasi dengan beliau dimana beliau bisa menjawab dengan kata “tidak” lalu saya mulai belajar menilai keadaan dengan diskusi lebih lanjut.

Pak Jatmiko adalah orang yang membantu saya melakukan supervisi ke bangunan inti di Piyandeling, dimana ia memberikan batas seberapa tinggi bangunan dengan konstruksi bambu ini bisa dibangun dengan aman. Pak Jatmiko dulu menemani kakek saya, dan ayah saya ke proyek. Ia juga adalah pengawas bangunan dari almarhum Han Awal, dan Teddy Boen (ahli gempa Indonesia). Dari Pak Jatmiko saya belajar bahwa setiap murid membutuhkan guru dan pelatih, seorang pelatih akan bisa melihat dengan sudut pandang yang berbeda. Sebegitunya kita membutuhkan waktu untuk berlatih setiap harinya. Di kasus saya berlatih ini erat kaitannya dengan berapa banyak masalah desain yang bisa kita pelajari dan pecahkan setiap harinya dan relasi dengan beliau dimana beliau bisa menjawab dengan kata “tidak” lalu saya mulai belajar menilai keadaan dengan diskusi lebih lanjut.

Saya kenal 2 orang pengrajin, pengrajin pertama pintar berbicara, mulutnya manis-kerjanya hanya di permukaan, terlihat manis – hanya estetika tempelan, apabila diminta memasang bata ia akan memasang bata dengan apik, namun terkadang lupa bahwa di balik bata tersebut ada pipa, perhitungannya hanya sebatas manis dilihat. Sedangkan pengrajin kedua tidak pandai berbicara namun pekerjaannya halus dan langkah – langkahnya bisa membuat proyek aman karena perhitungan yang mendalam tentang prosedur kerja dan detail tahapan kerja, kekuatan, tahan terhadap air, cuaca. Seiring dengan perjalanan saya berkembang di dalam praktik, detail – detail yang saya pikirkan bertransformasi di dalam pertemuan dengan banyak pengrajin. Termasuk pertemuan dengan pengrajin pertama, saya belajar untuk susunan yang terlihat manis, sebuah kualitas yang literal. Dan, dengan pengrajin kedua saya belajar untuk masuk ke kualitas yang esensial. Kedua pola pikir diperlukan untuk bisa bermain di integrasi disiplin (MEP, Struktur, Arsitektural). Saya menyebut detail transformatif ini ke dalam detail yang berkelanjutan.

… pertemuan dengan pengrajin pertama, saya belajar untuk susunan yang terlihat manis, sebuah kualitas yang literal. Dan, dengan pengrajin kedua saya belajar untuk masuk ke kualitas yang esensial. Kedua pola pikir diperlukan untuk bisa bermain di integrasi disiplin (MEP, Struktur, Arsitektural). Saya menyebut detail transformatif ini ke dalam detail yang berkelanjutan.

Terkadang setiap 2 minggu saya berulang kali ke Piyandeling untuk memikirkan ulang detail – detail selanjutnya termasuk penggabungan detail tradisional dan industrial. Di tempat ini saya melepaskan diri sejenak dari rutinitas dan masuk di dalam dunia fantasi Piyandeling. Arsitektur memiliki kekuatan maha dahsyat untuk membuat orang mengingat pengalaman ruang yang menjadi kenangan membekas.

Terkadang setiap 2 minggu saya berulang kali ke Piyandeling untuk memikirkan ulang detail – detail selanjutnya termasuk penggabungan detail tradisional dan industrial. Di tempat ini saya melepaskan diri sejenak dari rutinitas dan masuk di dalam dunia fantasi Piyandeling. Arsitektur memiliki kekuatan maha dahsyat untuk membuat orang mengingat pengalaman ruang yang menjadi kenangan membekas.

Pada akhirnya saya sadar, seperti halnya seorang manusia yang seakan-akan memiliki dua kehidupan. Kehidupan pertama dimulai ketiga manusia tersebut berusaha menggapai banyak hal, berjuang di tengah – tengah keterbatasan sampai dirinya merasa cukup. Saya merasa perjalanan suka – duka berpraktik lekat dengan perjuangan di tahap ini.

Dan sebenarnya, kehidupan kedua dimulai ketika, dirinya sadar bahwa ia hanya punya satu kehidupan. Dari situlah saya belajar mengenai fokus dan kebahagiaan sebenarnya sehingga saya tidak merasakan apapun lagi.

Tiba – tiba ada sapaan yang hangat dari belakang.

“Mau minum pak ? satu pengrajin menawarkan kopi dengan cangkir terbuat dari bambu.”

“Terima kasih pak untuk cangkir, kopi, dan perjalanannya bersama – sama.” ini Cangkir kedua saya, puji Tuhan.

Pada akhirnya saya sadar, seperti halnya seorang manusia yang seakan-akan memiliki dua kehidupan. Kehidupan pertama dimulai ketiga manusia tersebut berusaha menggapai banyak hal, berjuang di tengah – tengah keterbatasan sampai dirinya merasa cukup. Saya merasa perjalanan suka – duka berpraktik lekat dengan perjuangan di tahap ini.

Dan sebenarnya, kehidupan kedua dimulai ketika, dirinya sadar bahwa ia hanya punya satu kehidupan. Dari situlah saya belajar mengenai fokus dan kebahagiaan sebenarnya sehingga saya tidak merasakan apapun lagi.
Tiba – tiba ada sapaan yang hangat dari belakang.
“Mau minum pak ? satu pengrajin menawarkan kopi dengan cangkir terbuat dari bambu.”

Translation :

Title : Second Cup of My Life

The building with a twisting roof is a building with a stilt structure made of bamboo construction, with a grid of 5.0 m and 4.0 m to accommodate the functions of the library room, bedroom and meeting room. The structure is like the shape of a butterfly or the flapping of a bird’s wing which is elaborated from the Alfa Omega project. Bamboo blocks are stiffened with chin – chin (stiffeners), while the column sits on a river stone pedestal connected by a bamboo construction as a platform on the ground floor. I actually elaborated these curved shapes in the previous Kampono (Dancer) House in concrete construction by calculating the hot side, the wind that flows in the mass design – the skin of the building to other details. And, behind the game of curvy shapes that appear, there is a logic of strength and aesthetics inspired by the language of nature. Apart from the traditional side that is highlighted, the industrial side also appears with the composition of the curved roof shape covered with Nipah leaves combined with a waterproof membrane for the roof. Forming the Julang Ngapak as a traditional West Javanese vernacular building. The curved bamboo balustrade is played as a hyperboloid form that is more complex, stronger and more flexible and creates silhouettes of natural bird movements or kujang movements which are traditional weapons in Sundanese Tradition.

Pak Jatmiko is the person who helps me supervise the main building in Piyandeling, where he provides a limit on how high a building with bamboo construction can be built safely. Pak Jatmiko used to accompany my grandfather, and my father to projects. He was also the building supervisor of the late Han Awal, and Teddy Boen (Indonesian seismologist). From Pak Jatmiko I learned that every student needs a teacher and a trainer, a trainer will be able to see it from a different point of view. In fact, we need time to practice every day. In my case this practice is closely related to how many design problems we can learn and solve every day and the relationship with him where he can answer with the word “no” then I start to learn to assess the situation with further discussion.

I know 2 craftsmen, the first craftsman is good at talking, his mouth is sweet – he works only on the surface, looks cute – just a sticky aesthetic, when asked to install a brick he will put the brick neatly, but sometimes forgets that there is a pipe behind the brick, the calculation is as sweet as seen. Meanwhile, the second craftsman is not very good at talking, but the work is smooth and the steps can make the project safe because of in-depth calculations of work procedures and details of work stages, strength, resistance to water, weather. As I progressed in practice, the details I had in mind were transformed in the meetings with many craftsmen. Including meeting the first craftsman, I studied for a cute looking array, a literal quality. And, with the second craftsman I learned to get into the essential qualities. Both mindsets are needed to be able to play in the integration of disciplines (MEP, Structure, Architecture). I call this transformative detail into continuous detail

Sometimes every 2 weeks I repeatedly go to Piyandeling to rethink the next details including a mix of traditional and industrial details. In this place, I took a break from my routine and entered the fantasy world of Piyandeling. Architecture has the immense power to make people remember the experience of space that has become a lasting memory. In the end I realized, like a human who seems to have two lives. The first life started by the three humans trying to achieve many things, struggling in the midst of limitations until they feel enough. I feel that the journey of joy and sorrow is closely related to the struggle at this stage. And in fact, the second life begins when, he realizes that he only has one life. From there I learned about true focus and happiness so that I didn’t feel anything anymore.

Suddenly there was a warm greeting from behind. “Want to drink, sir? One craftsman offers coffee with a cup made of bamboo.”

“Thank you sir for the cup, coffee and the trip together.” this is my second cup, thank God.

Kategori
lecture

Metode dan Pendekatan Perancangan Arsitektur

Program Studi Arsitektur Universitas Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta mengadakan #KUAS-03 (kuliah umum Arsitektur Unisa)

Tema : Metode dan Pendekatan Perancangan Arsitektur
Pemateri : Realrich Sjarief, S.T.,MUDD @rawarchitecture_best (RAW Architect & Omah Library)
Senin, 22 Februari 2021
Pukul : 13.00-selesai
Media : Zoom
Terbuka untuk Umum

Link Registrasi :
http://bit.ly/KUAS3ProdiArsitekturUNISA

Info lebih lanjut :
Contact Person : +62 895-3446-86900 atau
IG @arsitektur_unisayogya

Terima Kasih,
Wassalamu’alaikum. Wr. Wb

#arsitekturunisa#kuliaharsitektur#kampusarsitekturjogja#kampusarsitektur#unisayogyakarta#kuliahjogja#kuliaharsitekturjogja#aisyiyah#muhammadiyah#beasiswakuliah#yogyakarta#jogjakarta#jogja#arsitektur#arsitektursehat#arsitekturtropis#desainarsitektur#desain#beasiswa#arsitekturislam#updatekampus#kampusupdate#infokampus#arsitekmuda#calonarsitek#maba2021#camaba#kuliahonline#kuliahdaring

Kategori
blog

Sumarah itu Mengalir Seperti Air

Piyandeling terletak di desa Mekarwangi di Perbukitan di Dago Utara. Daerah ini memiliki suhu yang rendah, kecepatan angin yang tinggi, dan pepohonan eksisting yang rimbun yang membantu untuk mencegah longsor. Sebenarnya membangun di lahan ini sangat sulit di awal konstruksi, karena sulitnya akses transportasi, air, dan akses tenaga kerja sekaligus udara yang dingin. Dengan menggunakan bambu, permasalahan ini teratasi karena ketersediaan material bambu sebagai material lokal, dan karena beratnya yang ringan sehingga mudah dimobilisasi, dan cepat dikonstruksi dengan detail yang adaptif di dalam keterbatasan sumber daya.

Tampak depan didesain dengan pertimbangan untuk melindungi konstruksi bambu supaya awet dan tahan lama. Dari sisi luar, kulit bangunan terbuat dari bambu, plastik daur ulang dan atap nipah. Kulit bangunan ini berfungsi sebagai pelindung dari matahari dan curah hujan sekaligus memberikan ruang antara ruang inti bangunan (core) dan kulit bangunan dengan lorong antara.

Tampak depan didesain dengan pertimbangan untuk melindungi konstruksi bambu supaya awet dan tahan lama. Dari sisi luar, kulit bangunan terbuat dari bambu dan plastik daur ulang, dengan atap nipah. Kulit bangunan ini berfungsi sebagai pelindung dari matahari dan curah hujan sekaligus memberikan ruang antara ruang inti bangunan (core) dan kulit bangunan dengan lorong antara.
Kulit bangunan ini memiliki beberapa komponen, pertama Jendela memiliki lebar 500 – 600 mm, kedua lorong antara dimana terletak tangga dan ruang jemur sekaligus berfungsi sebagai proteksi struktur utama bangunan. Piyandeling didesain berbentuk silider untuk mengurangi beban angin dan melindungi ruang keluarga, ruang tidur, ruang kerja yang terletak di sisi terdalam dari bangunan inti.

Kulit bangunan ini memiliki beberapa komponen, pertama Jendela memiliki lebar 500 – 600 mm, kedua lorong antara dimana terletak tangga dan ruang jemur sekaligus berfungsi sebagai proteksi struktur utama bangunan. Piyandeling didesain berbentuk silider untuk mengurangi beban angin dan melindungi ruang keluarga, ruang tidur, ruang kerja yang terletak di sisi terdalam dari bangunan inti.

Detail – detail didesain untuk mempertimbangkan aspek fungsional untuk saling memperkuat elemen arsitektural dari struktur, lorong antara, dan kulit bangunan.

Sederhananya bangunan ini dinamakan Sumarah, karena menggunakan bahan – bahan daur ulang dari Paviliun Sumarah. Sumarah berarti kepasrahan, sebuah sikap untuk mengalir di dalam kehidupan. Dari Piyandeling kita belajar untuk lentur sekaligus kokoh, dan ia mengajarkan material lain yang kokoh untuk lentur. Sebuah fleksibilitas yang mengalir.

Ada satu kejadian di waktu kami melakukan inspeksi lapangan di proyek lain, taruhlah namanya proyek Srabi. Inspeksi lapangan ini identiknya seperti memberikan ruang antara, jembatan antara klien, kontraktor, dan disiplin – disiplin lain supaya berjalan harmoni.

Baru kemarin saya rapat dengan satu klien dan kontraktornya, saya melihat di lokasi, kenapa pekerjaan lift yang ada di tengah rumah tidak dikerjakan dan seakan – akan tertinggal. Kami meluangkan waktu untuk melihat data – data yang ada, ternyata gambarnya tidak lengkap dan ada banyak ketidak-konsistenan, sehingga orang lapangan kebingungan.

Saya membuka diskusi dengan bertanya ke vendor lift di depan saya :

“Pak, ini gambarnya tidak lengkap ya ?”

Saya memberikan referensi kenapa gambarnya tidak lengkap, dengan memberikan contoh bahwa lubang lift perlu “digambar” untuk memperlihatkan besaran bracket struktural yang tersedia, dan perlu hati – hati dengan ketinggian lokasi. Hal ini wajar terjadi karena terkadang, beberapa vendor tidak memiliki orang teknikal. Gambar menjadi penting sebagai sarana komunikasi dan tanggung jawab sekaligus kontrol untuk menghindari adanya kesalahan.

Pertanyaan kemudian muncul, bracket struktural itu perlu disupply oleh siapa ?

Kemudian nada orang di hadapan saya ini meninggi,

“katanya bapak sudah pernah bekerja sama orang lift lain ?? Kok begini saja tidak tahu ??”

Saya menatap satu orang dari vendor ini, dan sedih sebenarnya karena saya berusaha menjembatani data yang kurang di lapangan. Untungnya ada temannya yang memberikan informasi bahwa ketinggian kaca yang akan datang untuk lift tersebut adalah 3.0 m dan diperlukan ketinggian balok 2.1 m untuk pintu masuk. Setelah saya mendapatkan data tersebut dan mendapatkan kepastian bahwa bracket struktural itu akan disediakan oleh vendor tersebut, saya bilang ke klien saya,

“Pak sudah cukup kita sudah dapat apa yang perlu dilakukan.”

Saya pikir di dalam project, penting untuk bisa melihat substansi yang ada yaitu gambar, dan memang di dalam gambar diperlukan beberapa penyesuaian di luar verbal. Di dalam gambar, ada dua tingkatan, tingkatan pertama gambar itu bicara sendirian, tingkatan kedua gambar tersebut menyesuaikan dengan kondisi sekitarnya, semudah menyesuaikan dengan ketinggian di potongan dan detail potongan, tata letak kondisi eksisting yang ada dengan denah dan penjelasan berapa dimensi yang dibutuhkan untuk menjadi “jembatan” antar disiplin.

“Pak Real saya minta maaf ya karena memang dia orangnya keras, dia cuma sales Pak” klien saya menyapa di akhir diskusi kami setelah kita selesai berkordinasi membicarakan desain.

Mendengar komentar klien seperti ini membuat kerja arsitek terapresiasi, dan hal ini akan membuat dunia arsitektur bersama kita semakin maju dengan cara yang sederhana.

Untuk kejadian di atas anggap saja cara penyampaian saya, bahasa saya salah. Yang terutama adalah proyek, dan klien tidak terlantar akibat gambar tidak lengkap dan orang lapangan tidak kebingungan lagi. Memang wajar setidaknya proyek membutuhkan waktu dan setiap orang – orang di dalamnya punya masalah – masalahnya sendiri. Kuncinya adalah bagaimana kita bisa saling menyelesaikan masalah di luar personal kita itu yang terpenting.

Saya kembali teringat dengan Piyandeling dan Sumarah yang ada di Bandung, dengan material apapun kita dari keras belajar untuk lembut, dan dari sosok yang mengalir belajar untuk lebih tegas, semua pihak saling belajar tanpa henti seumur hidup. Satu saat setelah saya melakukan inspeksi lapangan disana saya tersenyum melihat kerja keras mereka melakukan menutup celah bambu yang tidak mudah untuk membuat bambu awet, sisi suka dan duka, terekam di dalam pembelajaran tanpa henti di dalam proyek lain dan juga Piyandeling.

Untuk kejadian di atas anggap saja cara penyampaian saya, bahasa saya salah. Yang terutama adalah proyek, dan klien tidak terlantar akibat gambar tidak lengkap dan orang lapangan tidak kebingungan lagi. Memang wajar setidaknya proyek membutuhkan waktu dan setiap orang – orang di dalamnya punya masalah – masalahnya sendiri. Kuncinya adalah bagaimana kita bisa saling menyelesaikan masalah di luar personal kita itu yang terpenting.

Terima kasih Pak Saniin dan Pak Rozak. Mereka adalah 2 dari 4 tukang bambu yang ada di Piyandeling. Saya kembali teringat dengan Piyandeling dan Sumarah yang ada di Bandung, dengan material apapun kita dari keras belajar untuk lembut, dan dari sosok yang mengalir belajar untuk lebih tegas, semua pihak saling belajar tanpa henti seumur hidup. Satu saat setelah saya melakukan inspeksi lapangan disana saya tersenyum melihat kerja keras mereka melakukan menutup celah bambu yang tidak mudah untuk membuat bambu awet, sisi suka dan duka, terekam di dalam pembelajaran tanpa henti di dalam proyek lain dan juga Piyandeling.
Kategori
blog

Open Call for Designers

As Realrich Architecture Workshop (RAW Architecture) grows in Indonesia, we are calling back restless souls to experiment, learn from the ground up and want to explore design to work together with a multi-disciplinary studio team. Our designs progress from symbolic designs to more analytical designs.

We invite you to join us in RAW Architecture as our family.
For further information please contact us to kak Yudith (+62 8161644022)

  • Able to design space with function, shapes, and form
  • Have interest to discuss design thinking
  • Familiar with design tools – common CAD and Graphic
  • Familiar with IT facilities
  • Work on every day, regular time
  • Good knowledge of social media
  • Good knowledge of book layout and graphic design
  • Basic photography and video editing is an advantage
  • Experience in project management is a plus
  • Able to work in well integrated team with Structure, Mechanical, and Designers.

Responsibilities

  • Designing architecture and assisting Realrich and team leaders in RAW Architecture project
  • Coordinating project for design research practice – management – built
  • Selecting, developing, cataloging and classifying material resources for projects
  • Using library systems and special computer applications
  • Managing budgets and resources
  • Promoting the studio’s event and resources to public.

Apply Now
Send us your motivation letter, curriculum vitae, portfolio to
this form by google drive link
have a question ? please contact Laurensia +62 8161644022 (Whatsapp)

fill this form please https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSfCNskYQgzXlp7UTC7sNWKbTn7N7pI0jGtWxV83_h80wbE_fA/viewform?usp=sf_link

Kategori
blog

Susunan Batu Kali yang Lembut di Mekarwangi

Terlihat dari depan Piyandeling menggunakan struktur yang melayang untuk menjaga kelembapan dari struktur bambu sekaligus memanfaatkan ruang di bawah sebagai area garasi terbuka. Di daerah ini dimanfaatkan juga untuk kamar mandi komunal. Secara alami sebenarnya daerah ini memiliki tanah yang lebih tinggi yang diakibatkan pengurugan dari lahan sekitar, namun seiring jalan lahan ini rawan longsor. Oleh karena itu tahap pertama adalah memperkuat konstruksi turap yang berfungsi sebagai dinding lahan.

Pengrajin – pengrajin yang terlibat disini juga pernah terlibat di dalam pembangunan sekolah Alfa Omega dan Guha Bambu, ada Mang Amud, Mang Saniin, Mang Rojak, Mang Uyu, Mang Deden, dan lain – lain.

Area yang terlihat di dalam gambar ini adalah kolong dari bagian dari bangunan yang dinamakan Sumarah. Material yang digunakan untuk lantai adalah batu kali yang merupakan batu yang didapatkan di dasar sungai ketika kita berjalan ke dasar lembah. Batu itu keras, namun kita bisa belajar mengenai bagaimana kekerasan itu dilembutkan dan mengalir dari daya adaptasi ketukangan yang muncul dari pengrajin bambu.

Area yang terlihat di dalam gambar ini adalah kolong dari bagian dari bangunan yang dinamakan Sumarah. Material yang digunakan untuk lantai adalah batu kali yang merupakan batu yang didapatkan di dasar sungai ketika kita berjalan ke dasar lembah. Batu itu keras, namun kita bisa belajar mengenai bagaimana kekerasan itu dilembutkan dan mengalir dari daya adaptasi ketukangan yang muncul dari pengrajin bambu. Di daerah ini dulunya juga sering mati lampu, dan juga air bisa mendadak mati, karena masih menggunakan pipa air berbentuk selang yang terbuka (tidak tertanam). Sehingga proses menemukan batuan tersebut adalah ketika tukang- tukang perlu mengambil air pada waktu itu, dan tiba – tiba mereka memberitahukan,

bagaimana kalau kita menggunakan batu – batu dari kali pak ?

Tahap pertama adalah menyelesaikan dinding turap, umpak, penggalian resapan dengan artistik. Dari tukang – tukang ini saya belajar mengenai membentuk karakter yang lembut dengan teknik yang matang, dan prosesnya membutuhkan waktu dan dialog yang terjadi.

Para pengrajin ini berubah dari mengetahui bambu, menjadi merangkai apapun, termasuk bebatuan yang keras, bebatuan tersebut kemudian membentuk bentuk daun yang disusun berbentuk daun dengan didesain dengan mempertimbangkan aliran air yang meresap perlu untuk ke tanah. Patut diingat di daerah ini tidak ada infrastruktur pembuangan saluran air. Jadi tahap pertama adalah menyelesaikan dinding turap, umpak, penggalian resapan dengan artistik. Dari mereka saya belajar mengenai membentuk karakter yang lembut dengan teknik yang matang, dan prosesnya membutuhkan waktu dan dialog yang terjadi.

Para pengrajin ini berubah dari mengetahui bambu, menjadi merangkai apapun, termasuk bebatuan yang keras, bebatuan tersebut kemudian membentuk bentuk daun yang disusun berbentuk daun dengan didesain dengan mempertimbangkan aliran air yang meresap perlu untuk ke tanah.

Lama saya tidak menulis di postingan IG yang saya gunakan untuk tempat menyampaikan perlunya merefleksikan diri dan mengapresiasi arsitekturini, saya terus berpikir kadang, mau menulis apa, terkadang kesibukan membuat saya tidak terlalu meluangkan waktu mengupdate postingan. Namun kali ini dan ke depan saya mencoba mengapresiasi dan menggali relasi antar orang – orang luar biasa di sekitar saya ya. Karena Indonesia itu seperti bambu, tumbuh bersama – sama dengan rumpun dan tidak sendirian. Terus pakai masker dan saya doakan supaya sehat selalu.

Indonesia itu seperti bambu, tumbuh bersama – sama dengan rumpun dan tidak sendirian.Lama saya tidak menulis di postingan IG yang saya gunakan untuk tempat menyampaikan perlunya merefleksikan diri dan mengapresiasi arsitekturini, saya terus berpikir kadang, mau menulis apa, terkadang kesibukan membuat saya tidak terlalu meluangkan waktu mengupdate postingan. Namun kali ini dan ke depan saya mencoba mengapresiasi dan menggali relasi antar orang – orang luar biasa di sekitar saya ya.

Kalau dilihat – lihat masa pandemi ini saya belajar mengenai kedekatan. Kali ini saya mau bercerita mengenai pak Singgih Suryanto, beliau sudah ikut kerja dengan ayah saya puluhan tahun dan sudah berkerja bersama saya dari tahun 2011 ketika rumah Bare Minimalist dikonstruksi. Beliau pada saat itu menjadi pengawas. Saya mendapatkan banyak cerita mengenai anak – anak studio desain dari beliau, kami berdiskusi pagi – pagi kadang dimana anak – anak belum datang ke studio.

“Real, ini anak lagi kena sakit Maag.”

“Real, kayanya anak ini kos – kosannya di belakang kampung kurang baik, katanya banyak kecoak.”

“Real , kayanya anak ini keteteran kerjaannya, mungkin perlu dibantu.”

Dari perjalanannya pulang dari proyek , ia kadang mampir ke tukang gorengan ataupun martabak. Kejutan – kejutan tersebut membuat suasana studio lebih cair, mengalir dalam senda gurau, tawa. Baginya anak – anak studio seperti keponakannya sendiri.

Beliau dulu tinggal di Rawa Mangun, untuk ke-studio kami perlu sedikitnya 2 jam perjalanan. Ketika satu saat beliau sakit dia sempat berkata, saya sudah selesai, dan jantung saya berdegub keras pada saat itu. Saya tidak boleh kehilangan beliau, Pada waktu itu saya ingat, saya mengumpulkan beberapa orang di studio pada saat itu, termasuk pak Jatmiko, Pak Misnu, Bonari, Rudi, dan lain – lainnya. Saya menekankan bahwa Pak Singgih perlu dirawat bergantian sampai sembuh, tolong kabari saya setiap harinya. Mungkin kalau ada saya keinginan yang belum terpenuhi untuk beliau adalah bagaimana saya meluangkan lebih banyak waktu, uang, dan tenaga untuk lebih perhatian akan kecintaan beliau di dalam mengayomi anak – anaknya.

Ayah saya selalu berkata, susun prioritas terutama, hal – hal yang penting didahulukan terutama masalah relasi, keuangan, nama baik, seperti ayah saya kadang beliau tidak mau menjadi pemberat di dalam hidup saya. Ia diam, kadang ia tahu saya perlu fokus di dalam bekerja, ia tahu bahwa mungkin dia pikir saya tidak memerlukannya dan memilih tidak mengganggu meskipun dia rindu. Terkadang ayah saya hanya minta diantar oleh Pak Misnu ke The Guild, kadang ia melihat dari luar dari luar mobil saja, dia bilang, ngga usah repot – repot kalau lagi sibuk. Saya selalu bilang apaan sih, ayo masuk, atau saya keluar rumah menyambutnya . Dia tahu bahwa dia sendiri sudah sulit berjalan. Sepanjang hidup saya, nafas saya, darah saya dibentuk oleh beliau, termasuk oleh Pak Singgih dan orang – orang yang sedermikian penting untuk saya. Saya sungguh bersyukur dikelilingi oleh ayah saya, pak Singgih, dan orang – orang baik di sekeliling saya.

Terkadang ayah saya hanya minta diantar oleh Pak Misnu ke The Guild, kadang ia melihat dari luar dari luar mobil saja, dia bilang, ngga usah repot – repot kalau lagi sibuk.Saya selalu bilang apaan sih, ayo masuk, atau saya keluar rumah menyambutnya . Dia tahu bahwa dia sendiri sudah sulit berjalan.
Ayah saya selalu berkata, susun prioritas terutama, hal – hal yang penting didahulukan terutama masalah relasi, keuangan, nama baik, seperti ayah saya kadang beliau tidak mau menjadi pemberat di dalam hidup saya. Ia diam, kadang ia tahu saya perlu fokus di dalam bekerja, ia tahu bahwa mungkin dia pikir saya tidak memerlukannya dan memilih tidak mengganggu meskipun dia rindu…Sepanjang hidup saya, nafas saya, darah saya dibentuk oleh beliau, termasuk oleh Pak Singgih dan orang – orang yang sedermikian penting untuk saya. Saya sungguh bersyukur dikelilingi oleh ayah saya, pak Singgih, dan orang – orang baik di sekeliling saya.

Di dalam pembentukan kultur studio, kedekatan antar-personal menjadi penting, kejutan – kejutan, ritual – ritual, perlakuan – perlakuan yang baik berdasarkan keinginan untuk memperhatikan, apresiasi dari yang tua ke yang muda, dari yang muda ke yang tua, dari yang muda ke yang muda, dari yang tua ke yang tua. Bergandengan tangan menjadi rumpun dan maju bersama. Rumusnya ternyata sederhana, seperti Pengrajin Bambu yang menukang batu di atas membentuk batu yang keras menjadi lembut mengalir dengan artistik, menjadi “Pengrajin Kasih”.

[1] Catatan : Ini postingan link ke IG pertama saya setelah beberapa lama. Saya berdoa Tuhan semoga postingan ini membawa berkat, dan jauhkanlah saya dari hal – hal buruk. Berkati orang – orang yang sudah membawa begitu banyak hal baik di dalam kehidupan saya.

Kategori
blog

Bertemu Zarathustra

“Miracle sayang Heaven.” katanya sambil menepuk – nepuk Heaven. Sudah satu bulan ini Miracle sekolah kembali setelah libur tengah tahun. Hari – hari kami diwarnai hal – hal yang repetitif yang mewarnai keseharian. Laurensia bangun pagi setiap harinya, untuk mempersiapkan sekolah Miracle (nama panggilan Miraclerich). Saya sendiri banyak belajar dari sekolah Miraclerich, jadwal sekolahnya berpusat pada pelajaran budi pekerti, ilmu pengetahuan alam, dan pelajaran bahasa Mandarin.

“Miracle sayang Heaven.” katanya sambil menepuk – nepuk Heaven. Sudah satu bulan ini Miracle sekolah kembali setelah libur tengah tahun. Hari – hari kami diwarnai hal – hal yang repetitif yang mewarnai keseharian. Laurensia bangun pagi setiap harinya, untuk mempersiapkan sekolah Miracle (nama panggilan Miraclerich)

Laurensia berkata satu saat “keluarga dibentuk seperti badan manusia, ayah adalah tulang yang bekerja keras untuk kebutuhan dasar, ibu adalah jantung yang ada di tengah keluarga” itulah relasi antara kedua peran yang saling melengkapi pikiran badan dan hati di dalam keluarga, disitulah adalah pelajaran budi pekerti.

Saya ingat Suryamentaram sampai harus meninggalkan gelar kebangsawanannya untuk mengetahui sejauh mana ia bisa menjernihkan suara hatinya. Hal tersebut bisa diibaratkan seperti Zarathustra. Dalam tulisan-tulisan awalnya, Friedrich Nietzsche (1844-1900) bereksperimen dengan posisi filosofis, mengujinya terhadap ilmu pengetahuan dan sejarah pemikiran, melawan budaya, pemikir, dan momentum zaman. Selain itu, ia mengadopsi persona atau topeng untuk menyajikan ide-ide kontroversial dalam konteks eksperimental dan sebagai cara baru untuk berfilsafat. Karakter dramatis Zarathustra dan pertapa dalam Thus Spoke Zarathustra.

“When Zarathustra was thirty years old, he left his home and the lake of his home, and went into the mountains. There he enjoyed his spirit and his solitude, and for ten years did not weary of it. But at last his heart changed, and rising one morning with the rosy dawn, he went before the sun and spoke to it.”

Zarathustra perlu menyendiri di perjalanannya menuju gunung. Setiap orang perlu menggali apa itu gunungnya, apa yang aku mau tuju, dan bagaimana cara saya mendaki gunung saya. Itulah proses menggapai impian melalui meramu tujuan. Gunung itu ibaratnya adalah sebuah tujuan. Setiap orang di dalam menyendiri akan bertemu Zarathustra, berdialog dan kemudian menjadi dirinya untuk mempertanyakan siapa aku di dalam kesendiriannya.

Satu murid, ia mengirimkan saya Whatsapp Message, dulu saya bertemu dia di dalam kelas satu kelas.

Selamat malam Pak Rich… maaf mengganggu pak.. Saya boleh menanyakan saran ga pak, soal karir hidup pak.. Selama kelas pak Rich, saya sangat menikmati luasnya eksperimentasi yang bisa dilakukan pada setiap tugas. Tiba-tiba bisa menulis tugas soal bahan material arsitektur yang kita minati atau bayangkan, atau bahkan bisa memperagakan demonstrasi di depan kelas. Hal-hal yang berhubungan dengan eksperimentasi hampir setiap hari selalu membuat saya semakin curious dan ingin mencoba untuk merealisasikannya. Bisa saja tiba-tiba kepikiran ingin melakukan suatu proyek yang berhubungan dengan videogrammetry, atau bisa saja proyek film yang menggunakan the other 4 senses… dan bahkan bisa tertarik untuk berpikir output apa yang dapat dihasilkan dari musik dan arsitektur, apakah yang akan terjadi jika musik menggunakan teori-teori desain yang dipelajari dalam arsitektur, atau animasi menggunakan teori-teori desain yang dipelajari dalam arsitektur, multi-disciplinary and architecture, & etc…

Dari semua kebingungan ini, saya sudah mencoba untuk me-riset jurusan yang memungkinkan, dan salah satunya itu adalah experimental media… namun saya masih belum yakin apakah itu akan fulfill keminatan saya pada jangka panjang.. Sementara ini, saya mungkin berpikir untuk mengambil gap year setelah kuliah selama 1 – 2 tahun untuk mengeksplor ketertarikan saya dulu.. Walaupun mungkin belum terlalu jelas, karena randomness dari setiap proyek bisa cukup besar…

Namun, kalau menurut pak Rich, mungkin apakah saya lanjutkan saja dulu semua eksplorasi dan proyek2 ini, dan endingnya lihat nanti saja.. Atau mungkin saya perlu mengambil patokan suatu jurusan dulu, baru untuk berbagai macam ide lainnya akan saya lakukan secara otodidak? Maaf pak kalau saya jadi menanyakan secara tiba-tiba seperti ini…

Perjalanan mendaki gunung memang perlu kegalauan dan kebingungan, kabut kadang pekat, kadang tipis, bisa jadi ada harimau muncul di perjalananmu dan harus kau tundukkan. Bisa jadi juga kamu perlu mencari air di dalam perjalananmu supaya dirimu tidak kehausan. Alam mencari gunung ini adalah ranah filsafati, sebuah proses pencarian diri. Menariknya ia menjadi perjalanan tidak berujung, semakin lama semakin luas, membawa di dunia langit beberapa tingkat ke atas.

saya menginterpretasikan seperti anak – anak ini,berusaha menggali sendiri untuk mengetahui apa arah kehidupan ini di masa yang akan datang.

Di satu sisi, euforia perjalanan diri ini, terkadang membutuhkan kompas. Apakah benar yang saya pikirkan ? Bagaimana menurut kawan saya ? Apakah saya punya progress di dalam kehidupan ini ? pertanyaan – pertanyaan tersebut membutuhkan orang lain untuk bisa memberikan interpretasi. Perjalanan mendaki gunung membutuhkan persiapan, kaki yang kuat, hati yang lapang, dan kemauan yang kuat. Kaki yang kuat diibaratkan adalah pengetahuan tacit mengenai bagaimana berpraktik sebagai arsitek, bagaimana memproduksi desain, gambar, melakukan supervisi proyek, dan melayani klien. Kemauan yang kuat adalah ketekunan dan kerja keras yang menjadi bensin atau makanan penggerak tubuh kita. Hati yang lapang adalah ketulusan budi pekerti.

Pelajaran Budi pekerti itu disebut Ren Wen 人文 . Miracle mendapatkan kelas ini satu kali seminggu. Ren Wen adalah sebuah pelajaran mengenai kemanusiaan, bagaimana menghargai orang lain. Hal ini akan membentuk budaya yang baik. “Tahukah kamu permisalan tentang udang dan ular ? Kata gurunya satu saat.” Hal ini kami bahas pada waktu kami makan siang bersama. “Jangan berbicara hal yang buruk, nanti kami akan jadi seperti ular berbisa, dan jangan juga duduk membungkuk seperti udang.”lalu kata Laurensia menjelaskan bagaimana pelajaran di kelas hari itu.

Pelajaran Budi pekerti itu disebut Ren Wen 人文 . Miracle mendapatkan kelas ini satu kali seminggu. Ren Wen adalah sebuah pelajaran mengenai kemanusiaan, bagaimana menghargai orang lain. Hal ini akan membentuk budaya yang baik. “Tahukah kamu permisalan tentang udang dan ular ? Kata gurunya satu saat.” Hal ini kami bahas pada waktu kami makan siang bersama. “Jangan berbicara hal yang buruk, nanti kami akan jadi seperti ular berbisa, dan jangan juga duduk membungkuk seperti udang.”lalu kata Laurensia menjelaskan bagaimana pelajaran di kelas hari itu.

Ia menjelaskan bahwa murid – murid diajarkan untuk welas asih, memiliki budi pekerti yang baik, seperti menjadi sebuah bunga yang harum untuk orang lain. Pelajaran – pelajaran sederhana bagaimana menjadi tenang dengan meditasi, minum teh, makan dengan sopan, menyapa orang, merangkai bunga, ataupun sesederhananya menyapa dengan “I love you Mommy.”

” anak – anak di umur 4 tahun, mereka mulai aktif untuk meniru, dan salah satu hal yang bisa dilakukan untuk belajar adalah bermain peran.”

Terdengar sayup – sayup Laurensia berkata ke Miracle ketika menemaninya belajar satu hari,

“ayo duduk yang tegak jangan seperti udang.”

Jordan Patterson membahas cerita mengenai lobster di dalam buku 12 Rules of Life, ia menjelaskan cerita lobster untuk menjelaskan tentang hirarki sosial yang ada di dalam kehidupan sehari – hari. Patterson menjelaskan tentang bagaimana lobster yang menang akan menegakkan kepalanya, dan yang kalah inferior akan membungkuk. Mendadak saya pun tersadar, saya pun beringsut bangun, membetulkan tempat duduk saya, memang budi pekerti itu bekerja ke segala arah, dari hati, pikiran, sampai hal – hal sederhana dan detil sampai ke posisi duduk. Mengingat ini, saya kembali ingat ketika Laurensia menepuk satu saat, “Jangan membungkuk Yang.

“O iya”

“Untung ada Laurensia yang selalu mengingatkan :)” sekarang gantian saya mengingatkan para pembaca. “Jangan membungkuk ya.”

“Untung ada Laurensia yang selalu mengingatkan :)” sekarang gantian saya mengingatkan para pembaca. “Jangan membungkuk ya.” family photo taken by Jeffri Hardianto (pepen) House of Photographers
Kategori
blog

Autumn Strong

Dulu kira – kira 13 tahun yang lalu, bulan – bulan Agustus menuju Desember adalah bulan dimana autumn tiba, di saat itu saya ingat satu waktu saya menghabiskan waktu ke Cambridge, menyusuri sungai disana, naik sepeda bersama Laurensia. Kami mengambil gambar untuk mengabadikan bahwa kami pernah di situ. Perjalanan kami berdua di kota – kota di Inggris seperti St. Ives, Cambridge, London dan kota – kota kecil lainnya membekas di dalam musim autumn. Musim autumn memberikan suasanya jatuhnya daun – daun dan masuknya musim dingin, terbitnya bunga, dan datangnya musim panas. Hal ini adalah siklus berulang di dalam waktu yang linear.

Kali ini, kira – kira mulai bulan Agustus sampai bulan Desember lalu, saya menghabiskan waktu – waktu malam dengan membaca jurnal, buku, membuat mind map, menyusun presentasi. Hal ini paralel di siang hari dan kadang subuh untuk berpraktik, mendesain, survei lapangan, supervisi proyek. Setiap senin diwarnai dengan meeting pagi tim proyek yang dilanjutan dengan webinar jam 10 bersama Iwan Sudrajat, belajar mengenai metodologi penelitian melalui buku dan diskusi. Hari selasa, saya mendapatkan waktu untuk berdiskusi dengan Himasari Hanan sebagai pembimbing, dan hari kamis, saya bertemu dengan Bambang Sugiharto di kelas filsafat.

Apa yang mau saya bagikan di dalam tulisan ini adalah soal merasa cukup, sebuah proses dari menuju sesuatu, waktu adalah linear.

Pertama, soal disertasi, topik yang saya minati adalah soal kreatifitas di dalam desain. Saya tertarik untuk mengikuti kelas di 3 bulan pertama sampai satu titik dimana saya bertemu dengan Anna Herringer di dalam acara Design United dimana kami mengisi acara bersama – sama. Di dalam diskusi bersama dan sharing, ia menjelaskan bagaimana arsitek perlu peka di dalam praktik, dan melihat karya – karyanya saya merefleksikan bahwa tataran yang saya jalani di dalam disertasi adalah tataran yang teoritis. Saya membutuhkan tataran praktis sebagai pelengkap teori, lokalitas dalam praktik, membumi, mengakar, fundamental.

Selain urusan disertasi, waktu saya habiskan juga untuk mengatur studio dan perpustakaan juga menulis buku sebagai bahan refleksi. Covid ini merubah banyak sekali hal, mulai dari hilangnya tatap muka, dan munculnya peluang – peluang digitalisasi, seperti media webinar, dan rapat di atas awan (rapat digital menggunakan zoom). Sebenarnya kami hidup lebih sehat, lebih tenang, dan lebih damai. Karya – karya yang saya hasilkan jauh lebih mengakar, dan terpikirkan matang.

Saya teringat kira – kira setahun yang lalu, saya memutuskan untuk keluar dari banyak grup digital karena terus terang merasa tidak nyaman apabila tidak memiliki jarak akan segala hal sehingga hal – hal yang prinsipal menjadi dogma yang ikut – ikutan. Mungkin hal ini yang menyebabkan Pak Gunawan Tjahjono tidak memiliki WA. Saya mengamati ada teman saya yang sukanya mengumbar dirinya sendiri, ada juga teman saya yang juga problematis dengan masalah waktu, ada juga teman yang sukanya pansos. Setiap orang punya masalah, masalah pribadi biarlah menjadi masalah pribadi, masalah bawaan. Masalah bersama itulah yang lebih penting untuk dibicarakan. Masalah pribadi itu urusan refleksi masing – masing. Saya sungguh merasa kesepian, mungkin yang bisa mengobati adalah adik – adik saya di perpustakaan, ataupun murid – murid atau teman – teman yang bisa bersenda gurau tanpa pretensi ataupun sekedar mengupdate berita mengenai bagaimana hidup mereka akhir – akhir ini dengan cerita yang konyol, gagal, bodoh, hidup memang tidak sempurna kawan.

Minggu ini saya bertemu dua orang anak muda, satu sedang mencari jalan hidup. Ia adalah calon arsitek yang potensial, ia memiliki kegelisahan mengenai sejauh mana jalan itu aman baginya, untungnya ia memiliki begitu banyak kesempatan yang diberikan keluarganya dan teman – teman sekitarnya. Orang yang kedua justru tidak memiliki kesempatan tersebut, ia harus berjuang sendirian di dalam menembus keterbatasannya sebagai anak di dalam ekosistem yang broken home. Ia sendiri sekarang sukses di dalam dunia retail yang memegang salah satu banyak brand tas yang ternama. Mereka berdua berjuang menembus keterbatasannya sendiri, memiliki kesamaan akan sebuah proses yang understated. Proses ini adalah proses yang sederhana, fokus kepada kemauan belajar, yang tidak kompetitif, tanpa perlu menonjolkan diri, ada rasa cukup yang terlihat di dalam prosesnya. Saya bangga akan proses mereka berdua dan menyaksikan keduanya tumbuh mandiri.

Saya melihat tantangan ke depan tidak mudah, dengan menghitung jumlah proyek, dan proyeksi keuangan, beberapa langkah – langkah perlu di lakukan dengan taktis dan hal tersebut membutuhkan waktu. Disinilah tegangan akan waktu ini muncul. Waktu sekali lagi linear, pertimbangan – pertimbangan yang dipilih akan menghadapkan pilihan – pilihan seberapa layak satu pilihan itu dipilih, apa yang didapatkan, perkiraan – perkiraan apa yang menunggu di ujung jalan. Proses ini seperti proses menyiapkan bahan masakan dengan menimbang satu dan yang lain supaya hasilnya memuaskan.

Sebelumnya, sebenarnya di dalam proses saya mengerjakan disertasi tidak berfokus ke tujuan mendapatkan gelar S3 namun lebih ke proses pembelajaran, menemukan teman untuk berdiskusi, ekosistem untuk membicarakan penelitian – penelitian lebih lanjut dengan masuk ke substansi bukan normatif.

Satu minggu setelah saya mengirimkan surat untuk mundur ke prodi , saya bertemu dengan Lisa Sanusi. Kita berdua berdiskusi mengenai mimpi – mimpi akan dunia pendidikan. kira – kira baru 2 minggu lalu ia mengirim pesan “pak Rich apa ada waktu saya mau bicara.”, ia kemudian melanjutkan :

“Pak Rich, saya sudah dari Bandung, kita dalam pengurusan sekolah arsitektur.”

Saya terdiam, dan jantung ini berdegup keras. Dan sekonyong – konyong ada suara dari belakang telinga mengingatkan,

“jangan lupa doa ya.”

The feeling of autumn, leaving someone feels like the sadness of autumn
a glass of wine thousands of different emotions, so many farewells when the leaves fall, there are so many farewells, holding your hand tight
remembering this, i want you to remember
this silent promise I’m not afraid of being lovesick
I’m just afraid of hurting you all resentments vanish with the wind
meeting or parting ways, it’s not up to me
I’m not afraid of being lonely
I’m just afraid you’ll be disappointed
that you won’t have a shoulder to cry on

Saya terbangun, mari jalan kembali. Sampai jumpa kawan.

Kategori
blog

Forming the Gift Society

“Apa yang menjadi dasar kriteria untuk membuat buku ini untuk mahasiswa ?” Ini satu pertanyaan yang muncul dari peserta diskusi ketika ada acara Omah Library di Bandung, kira – kira dua tahun yang lalu ketika terdapat paparan mengenai bagaimana kerangka pemikiran buku Filsafat, Teori, dan Keprofesian di dalam 3 buku yang sudah diterbitkan. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang luar biasa bagus, yang biasa ditanyakan ketika ada pengujian. Di dalam assesment mengenai kualitas, ada penentuan parameter, kunci – kunci penentuan parameter ini sangatlah penting dan kritikal sebagai dasar apa yang menjadi pertimbangan, dan bagaimana menimbangnya. Pertanyaan ini menjadi dasar bahwa ada pembaca yang ingin mengerti kualitas seperti apa yang menjadi konsep dasar buku tersebut.

“Terima kasih ya pak, sudah mau membuatkan buku untuk kami.” Eubisius, murid saya berbicara pada saat saya menanyakan di malam saya mempresentasikan buku ini ke mereka, “apa ada yang mau kalian sampaikan atau tambahkan ?”.

Malam itu adalah saat dimana saya mempresentasikan apa yang sudah kami lakukan di Omah Library, untuk mengkurasi, dan menyusun materi ajar di dalam buku Strategi Arsitektur Berkelanjutan. Isu – isu arsitektur berkelanjutan kerap digunakan untuk menggali tema di dalam proses perencanaan.

Saya masih ingat, dulu Eubisius atau Ubi panggilannya, berkata pada saya, “mungkin ini terdengar konyol pak, cuma saya bercita -cita ingin menjadi pemenang Pritzker Prize.” Pritzker Prize adalah satu penghargaan di arsitektur yang identik dengan nobel, penghargaan itu ditujukan untuk seseorang yang sudah berjasa untuk menyumbangkan hidupnya untuk kemanusiaan di dalam menjalani profesinya sebagai arsitek. Saya bisa membayangkan bahwa mungkin saja pengajar – pengajar yang menertawakan keinginan muridnya seperti ini. Namun di mata saya, keinginan seperti ini adalah sungguh amat berharga.

Perkataan – perkataan “saya ingin seperti ini, seperti itu…” itu sebenarnya yang sering dilontarkan oleh para mahasiswa, sebuah keinginan untuk menggapai mimpi menyumbangkan hidupnya untuk kemanusiaan. Dari perjumpaan dengan banyak mahasiswa yang menginginkan hal tersebut, ada benang merah, bahwa para mahasiswa ini ingin dihargai sebagai perancang, dan mereka juga ingin belajar mempertanggung-jawabkan metodologi desainnya sebagai arsitek, dan terakhir mereka semua juga menyadari pentingnya sikap untuk selalu belajar.

Seringkali benang merah tersebut disalah-artikan sebagai keinginan untuk menonjolkan diri, padahal sesederhananya keinginan itu berawal dari kebutuhan untuk diapresiasi oleh orang lain termasuk pengajarnya.

Buku ini tidak boleh mahal, tapi boleh tebal, setebal 600 halaman juga oke. Berikan yang terbaik untuk anak – anak, karya ini dari anak – anak untuk anak – anak, kita akan menjadi jembatan yang baik untuk mereka.” saya menekankan di dalam rapat di Omah Library

Apresiasi ini begitu penting di dalam pembentukan Gift Society dimana Gift Society tidaklah sama Consumerism Society, hal ini dibicarakan oleh Lewis Hyde di dalam bukunya The Gift: How the Creative Spirit Transforms the World. Hyde membagi dua buah kelompok, pertama yaitu : Consumerism Society , kelompok mengandalkan asas untung rugi, ibaratnya keinginan untuk mengetahui apa yang aku dapat di dalam proses kreasi sebagai motif dasar. Di dalam kelompok ini, terdapat keterbatasan waktu yang mengikat untuk berproduksi, informasi yang dibatasi, dan patronisasi yang kuat. Sedangkan di dalam kelompok yang kedua Gift Society, menghasilkan karya yang inovatif dari sikap saling percaya , hubungan yang saling memberi, dan aspek pembagian ekonomi yang bijaksana, memiliki motif untuk membangun.

Buku “Untuk Mahasiswa” ini ditulis untuk mahasiswa dan oleh mahasiswa, bahwa mahasiswa bisa dan boleh berinterpretasi untuk kasus – kasus yang mungkin mereka sendiri belum terbayang seutuhnya bagaimana cara arsitek berproses. Disinilah proses (pedagogi) pengajaran itu perlu dipaparkan dengan apa adanya yang terkait ke 4 titik permenungan, pertama : sistem pengajaran, kedua : anatomi pemaparan dari quiz sampai tugas, ketiga : buku yang direferensikan, dan keempat : evaluasi dari tugas mahasiswa yang patut diapresiasi. Disinilah proses pedagogi “untuk mahasiswa” patut untuk dibagikan untuk sebagai titik awal bagi pengajar – pengajar lain berbagi hal yang menjadi rahasia kecil yang terkadang terselubung di dalam hubungan pengajar dan diajar.

Lebih lanjutnya buku ini sebenarnya adalah tempat merefleksikan kegiatan mencatat, mengarsip, dan mengevaluasi proses pengajaran arsitektur berkelanjutan untuk kepentingan menyambung tongkat evaluasi yang dibutuhkan. Hal ini perlu supaya pengajar dan murid bisa memahami kompleksitas praktik- teori di dalam bentuk kontekstualisasi kasus studi ke dalam kasus – kasus yang kita alami di dalam keseharian kita semua sebagai murid – murid kehidupan.

Beberapa komentar dari adik – adik saya di Omah Library dimana pada dasarnya buku yang baru terbit ini adalah strategi untuk menemukan diri sendiri menggunakan tema arsitektur berkelanjutan setidaknya membuat saya menghela nafas.

“Selama proses penyuntingan, saya belajar banyak hal dari tulisan-tulisan yang terkumpul. Sepertinya, kesadaran kolektif memang muncul disini, di mana benang merah ini saling merajut antar tulisan dengan tujuan yang sama; sebuah kesadaran arsitektur berkelanjutan. Buku ini buku paling tebal, dan buku yang membawa saya menemukan apa makna arsitektur berkelanjutan, yang jarang sekali diperbincangkan. Ini memang buku strategi. Strategi yang menghantarkan kita mencari strategi sesuai konteks kita sendiri, dengan melibatkan kesepahaman arsitektur yang berkelanjutan.” – Satria A. Permana

Mungkin kalau Ian Mcharg masih hidup, ia bisa tersenyum sembari berjaga – jaga kembali.

bit.ly/OrderOMAH

.
Terima kasih untuk para kontributor murid – murid kami : Albert Lionggo, Andreas Hasiholan,Anggreny Ratnasari, Anissa Dipa, Anke Ardine, Ansell Samuel Julianto, Antonius Priya Prathama, Bayu Abimanyu, Carla Aurellia, Chelsea Gracelyn Halun, Chelsya Setiawan, Christal Yohanes Edy Widjaya, Darwin Winata, Dharmawan, Diandra Arya Eka Putrim Edgard Jeremy, El Grantnada Romaulina Chyntia, Manihuruk, Eubisius Vercelli Ocvanto Kuncoro, Evania Hamdani, Fania, Farisya Yunandira Putri, Fikra Abhinaya Djuhara, Franca Kartasasmita, Gerardo Leonard Nugroho, Gilbert Antonious, Heidy Laurentia, Heinrich Benedick, Jason Lim, Jason Aristya Wongso, Jason Axel, Jesslyn Amanda, Joshua Alfando, Joshua Felix Theo, Joshua Michael, Jovin JuanMarcell Cruxivisyo, Mauritzio Hizkia, Michael Antonio Halim, Michael Imanuel Susilo, Michellin Sonia Wibowo, Muhamad Yusuf Nyompa, Nathanael Christopher Ng, Novi Synfah, Oliver Victor Wibowo, Praisella Hatijanto, Putroaji Darma Maulana, Raihan Ramadhan, Rayka Martawijana, Raynaldo Febrio Istanto, Sander Ekaputra, Satya Krisnadi, Shania Salsabila, Shella Angelica, Sherlyn Christiane, Spazio Julius, Stanly Alviando, Thessalonicca Venesya, Valencia Angelita, Vania Serrafine, Para Restless Spirit Librarian : Penyunting (Amelia Widjaja, Satria A. Permana), Kirana Adrya, Hanifah Sausan, dan Dimas Dwimukti. Juga tim administrasi, Laurensia, Vivi, dan Putri. Kawan – kawan yang menulis pengantar bersama – Johannes Adiyanto dan penutup Anas Hidayat.

Kategori
projects

Project 13 – Piyandeling Artisan Residence and Workshop

Piyandeling is a new project consisting of The Residence and Artisan Workshop The concept is elaborated from the previously Realrich Architecture Workshop (well known by RAW Architecture)’s “Guha” project. Piyandeling is located in a tranquil area of Mekarwangi Village, North Bandung. 

Piyandeling adalah proyek baru yang terdiri dari residensi dan bengkel untuk berkreasi. Konsep ini dielaborasi dari proyek “Guha”. Piyandeling terletak di daerah yang tenang di Desa Mekarwangi, Bandung Utara.

Piyandeling is a new project consisting of The Residence and Artisan Workshop The concept is elaborated from the previously Realrich Architecture Workshop (well known by RAW Architecture)’s “Guha” project. Piyandeling is located in a tranquil area of Mekarwangi Village, North Bandung. 

The Residence consists of a three-storey house with a grid 3.0 x 3.0 m  for 1 family consists of 2 kid bedrooms, 1 master bedroom, and shared bathrooms. The building envelope is openable which is constructed with recycled 300 x 600 mm plastic panels to cover and protect the inner bamboo structure. The plastic panel is recycled from 99 percent Sumarah Pavilion, that is why the residence is named Sumarah.

Daerah residensi, terdiri dari rumah tiga lantai dengan grid 3,0 x 3,0 m untuk 1 keluarga terdiri dari 2 kamar tidur anak, 1 kamar tidur utama, dan kamar mandi bersama. Selubung bangunan dapat dibuka yang dibangun dengan panel plastik 300 x 600 mm daur ulang untuk menutupi dan melindungi struktur bambu bagian dalam. Panel plastik tersebut didaur ulang dari 99 persen Paviliun Sumarah, itulah sebabnya tempat tinggal tersebut diberi nama Sumarah.





The Residence consists of a three-storey house with a grid 3.0 x 3.0 m  for 1 family consists of 2 kid bedrooms, 1 master bedroom, and shared bathrooms. The building envelope is openable which is constructed with recycled 300 x 600 mm plastic panels to cover and protect the inner bamboo structure.

The envelope forms an 800 mm service corridor with double cross air ventilation and double wall insulations to the core living space of the building. This forms an adaptation of traditional and more industrial approaches mixing traditional joineries and glued joinery of bamboo. The technique is elaborated from Guha Bambu and Alfa Omega Project. which allows the experimentation of 3 storey of the bamboo structure by the diagonal bamboo structure of the floor plate construction.

Selubung tersebut membentuk koridor layanan 800 mm dengan ventilasi udara silang ganda dan insulasi dinding ganda ke ruang inti bangunan. Ini membentuk adaptasi dari pendekatan tradisional dan lebih industri yang mencampurkan sambungan tradisional dan sambungan bambu yang direkatkan. Teknik tersebut diuraikan dari Proyek Guha Bambu dan Alfa Omega. yang memungkinkan percobaan struktur bambu 3 lantai dengan struktur bambu diagonal pada konstruksi pelat lantai.

The envelope forms an 800 mm service corridor with double cross air ventilation and double wall insulations to the core living space of the building.
This forms an adaptation of traditional and more industrial approaches mixing traditional joineries and glued joinery of bamboo.

Construction of Piyandeling is designed as an exercise using 3 types of main material such as recycled plastic, a local type of sympodial bamboo, and local stone for the foundation. The composition started as an exploration on how bamboo craftsmanship integrated with modular rectangular space to create such integrated craft carving bamboo composition from the ceiling, floor, column, door handle, lock, and finishing details handcrafted in site creating art and craft composition in the whole integrated space.

Konstruksi Piyandeling dirancang sebagai latihan dengan menggunakan 3 jenis bahan utama yaitu plastik daur ulang, bambu simpodial jenis lokal, dan batu lokal untuk pondasi. Komposisi tersebut dimulai sebagai eksplorasi bagaimana pengerjaan bambu terintegrasi dengan ruang modular persegi panjang untuk menciptakan komposisi bambu ukir yang terintegrasi dari langit-langit, lantai, kolom, pegangan pintu, kunci, dan detail finishing buatan tangan di lokasi menciptakan komposisi seni dan kerajinan secara keseluruhan. ruang terintegrasi.

Construction of Piyandeling is designed as an exercise using 3 types of main material such as recycled plastic, a local type of sympodial bamboo, and local stone for the foundation. The composition started as an exploration on how bamboo craftsmanship integrated with modular rectangular space to create such integrated craft carving bamboo composition from the ceiling, floor, column, door handle, lock, and finishing details handcrafted in site creating art and craft composition in the whole integrated space.

Piyandeling is an example of bricolage architecture. It is an understanding that to design and build something out of the land, the project needs to find the roots of Local Genius by understanding the adaptation of local craftsmanship and local material available on specific sites.

Piyandeling adalah salah satu contoh arsitektur bricolage. Dimana Bricolage merupakan pemahaman bahwa untuk merancang dan membangun sesuatu dari tanah, proyek perlu menemukan akar dari Local Genius dengan memahami adaptasi keahlian lokal dan materi lokal yang tersedia di lokasi tertentu.

Kategori
blog

Filosofi Donat di tahun 39

“Yang, besok ulang tahun mau dibuatin apa ?” Laurensia bertanya, 

Saya tidak punya ekspektasi apa – apa untuk ulang tahun kali ini. Saya menyadari sudah diberikan begitu banyak berkat dari Tuhan di masa krisis karena pandemi ini dan saya selalu berdoa supaya kawan – kawan dilindungi selalu kesehatannya dan jangan lupa memakai masker. Berkat – berkat di masa pandemi ini mewujud pada kenangan – kenangan yang membekas berupa kedekatan kami sekeluarga. Seperti ketika Laurensia mempersiapkan donat pada hari ini. Kemarin ia bercerita bahwa Miracle ingin makan donat dan ia ingin mengajarkan Acle (panggilan sayang miracle) membuat donat bersama, hal yang sederhana.

Titik kali ini adalah titik ulang tahun yang ke tiga puluh sembilan, dan Laurensia sudah mempersiapkan bahan – bahan tepung, telur, dan topping, seperti mendesain proses persiapan ini yang paling penting yaitu mempersiapkan adonan, dan menikmati momen proses pembuatannya. [1]

Kemarin Laurensia bercerita bahwa Miracle ingin makan donat dan ia ingin mengajarkan Acle (panggilan sayang miracle) membuat donat. Donat memiliki bentuk seperti lingkaran, garis yang memutar saling menjaga dan menerus.

“Papa, jangan lihat kesini, we are making surprise for you, close your eyes.”

kata Acle sambil membawa bantal sambil menutupi mata saya. Saat – saat sederhana seperti ini membuat saya bersyukur, dengan bagaimana Acle dan Laurensia ingin membuat sesuatu untuk saya, perhatian – perhatian kecil seperti ini adalah hadiah yang tidak ternilai untuk apa yang saya dapatkan di hari ulang tahun ini. Salah satu hal yang tidak ternilai adalah keluarga termasuk Acle, Heaven, dan Laurensia di dalamnya. Kami sibuk mengisi hari – hari dengan rutinitas pagi dimulai dengan doa, makan pagi bersama, bekerja, makan siang bersama, kerja/istirahat siang, makan malam dan istirahat. Hal yang kami tanamkan ke keluarga adalah respek untuk orang – orang di sekitar kami. Respek menjadi penting, dimulai respek kepada diri sendiri, sebuah bentuk self criticism.

Dulu ayah saya di waktu memimpin konstruksi, memperkenalkan proses slametan, sebuah proses syukur yang ada di dalam akhir sebuah proses yang kritikal, kalau di dalam pembangunan rumah hal ini dilakukan sebelum bangunan dibangun, dan sesudah proses tutup atap. Hal ini adalah sebuah proses yang wajar dan manusiawi. [2]

Prinsip slamet ini menjadi relevan di masa Covid dimana, sebagai manusia kita harus menahan diri. Ada beberapa cerita lucu tetapi juga sedih, juga mengenai mandor – mandor di sekitar saya yang kehilangan orang – orang terbaiknya karena flow proyek terputus karena COVID. Mereka setengah menggerutu, orang saya diambil orang pak, ada proyek baru disana. Sudah capai – capai melatih lalu mereka pergi. Kira – kira ada dua kelompok di tim kami yang kehilangan anak didik mereka. Terkadang mereka menggerutu, saya terus berpikir kenapa orang – orang terbaik mereka pergi ya ? apakah ada faktor kepemimpinan, ataukah tantangan, selain faktor ekonomi? Saya memiliki hipotesa – hipotesa soal ini. Hal ini wajar terjadi dimana – mana, dan wajar setiap orang ingin tumbuh dan berkembang [3]

Besoknya saya mengajak bicara mereka soal ketiga hal ini, dan hal ini juga saya alami di studio bahwa untuk maju setiap lingkungan membutuhkan evaluasi dan regenerasi. Seperti pohon besar yang tumbuh yang membutuhkan regenerasi, memang perlu dipotong ataupun terpotong karena keadaan supaya pohon – pohon kecil di sekitarnya bisa tumbuh. Dengan memaklumi hal ini, melihat apa yang terjadi di sekitar pengrajin memang ada dua tipe pembelajar bangunan, tipe yang pertama adalah tipe pengrajin, disini sifat patronisasinya dominan yang diperlihatkan, dengan keahlian – keahlian yang melibatkan teknik bereksperimen dan memiliki struktur seperti pohon besar. Tipe kedua adalah tipe pekerja yang melibatkan teknik yang sudah ada / repetitif mengikuti apa yang menjadi standar baku, di kelompok ini patronisasinya bisa jadi berubah menjadi sebuah platform terbuka berbentuk rhizoma dimana ada transparansi, dengan syarat yang masuk di dalam lingkungan kerja mereka adalah orang – orang yang memang sudah ahli. Keduanya memiliki perbedaan cara bekerja, berkordinasi, transfer ilmu, dan membagi ekonomi. Meskipun demikian ada banyak hal yang menjadi rahasia masing – masing, biarlah itu menjadi urusan kantong sendiri – sendiri.

Seperti satu saat Abidin Kusno yang menulis buku Melawan Waktu memulai dengan tulisan yang merupakan suatu bentuk melawan waktu itu sendiri, Perlawanan itu bisa diibaratkan melalukan negosiasi waktu, dan bagaimana beliau mengisi kehidupan yang sementara ini dengan mencoba merubah keadaan dengan diskursus arsitektural. Bahwa perubahan itu wajar, hal ini adalah sebuah proses dari titik, menuju garis.

Perlawanan waktu ini bisa diibaratkan juga seperti orang yang melalui perjalanan menghitung mundur, dan identik juga dengan proses kelahiran – kematian, kejadian ulang tahun, setiap tahun berulang – ulang, dengan rambut yang semakin memutih, teman – teman yang datang, tinggal, pergi silih berganti, keluarga besar dan anak yang semakin besar. Ulang berulang adalah sebuah rutinitas yang menjadi kebiasaan dan karakter, sederhananya proses hidup, apa yang kamu ulangi itulah karaktermu. Proses pembentukan karakter ini akan membentuk Gift Society. Sebuah lingkaran yang saling memberi yang dimulai dari diri sendiri, self criticism, respek kepada orang lain, dan mengulang – ngulangnya sehingga menjadi karakter yang dimulai dari lingkaran keluarga dan diri sendiri.

Hal – hal inilah yang membuat kadang saya membanting setir, kanan – kiri, gas dan rem, keluar-masuk di dalam menulis buku, keluar-masuk ke penelitian, keluar-masuk dari proses disertasi, keluar-masuk ke kelompok praktik, keluar-masuk dari kelompok belajar, ataupun apapun yang terkait hubungan antar-personal, bahwa pada dasarnya mempertanyakan apa sih yang layak untuk dilakukan untuk waktu yang sedemikian terbatasnya.

“Papa I want to be like you”… Miracle menghampiri saya satu saat ketika saya sedang bekerja di ruang kerja yang berbatasan dengan kamar tidur kami. Untuk masuk ke ruang kerja itu harus melewati pintu putar berupa lemari yang bisa berputar dimana ia mengintip dibalik sela – sela pintu putar tersebut.

“Hei, kamu ngapain ?” kata saya, “come here” saya membiasakan berbicara dua bahasa dengan Miracle. Saya memangku dia untuk memperlihatkan apa yang sedang saya kerjakan, dan berbagi bagaimana memencet tombol keyboard ataupun berinteraksi dengan layar sentuh. Saya melanjutkan “You will be better than papa, we are proud of you.” Dari lingkaran terkecil kami berupa donut, saya menarik nafas semoga semesta memberkati kita semua, dan memberikan rasa slamet, sehingga kehidupan kita, saya doakan menjadi lebih bersahaja, menenangkan, damai dan tenteram.

Di usia ke 39 ini, saya belajar untuk lebih memberi kepada orang lain, tidak untuk dibalas kebaikannya namun karena memang sudah sepantasnya kita memberi. Berbuat tidak untuk dilihat, bernyanyi tidak untuk didengar, berdansa tanpa mengharap tepuk tangan, bertindak tanpa mengharap hadiah.

“Papa please don’t work today, where are you going ?” Miracle mengintip dibalik pintu, karena melihat saya turun tangga.

“Sebentar I will come back in a few minutes.” (ada beberapa tukang sudah menunggu, pak ini detailnya bagaimana.) “Is there someone below ?” Miracle bertanya, saya menjawab, “sebentar ya, sabar few minutes.” Miracle berteriak, “Semangat pa”

Hadiah dari Tuhan untuk saya di umur 39 ini, Laurensia, Miracle, Heaven yang memberikan filosofi donat. Seperti Filosofi Donat bahwa setiap orang memiliki keteduhan di lingkaran terkecilnya. Tidak ada yang manusia yang ditakdirkan menjadi titik yang sendiri. Ada lingkaran membentuk donat yang saling merajut, dari titik, kemudian menjadi garis untuk menjadi lingkaran yang saling menjaga.

Kembali ke pertanyaan pertama,”Yang, besok ulang tahun mau dibuatin apa ?” Laurensia bertanya.

Saya menjawab “Donat ^^”

Terima kasih Tuhan, Terima kasih Tuhan, Terima kasih Tuhan untuk memberikan Laurensia, Miracle, dan Heaven yang sudah membentuk donat keluarga kecil kami juga beserta kawan – kawan tempat kami berkarya bersama. Tuhan memberkati.

[1] Proses persiapan adalah proses pertama di dalam studi mengenai kreativitas, hal ini digagas oleh Wallace di dalam buku Art of Thought dengan tahapan preparation, incubation, illumination, verification.

[2] Inspirasi : Satu kawan saya mengingatkan ketika kita berdiskusi soal arsitektur untuk menghargai soal kekuatan berproses dan jalan masih panjang, “Terkadang kita lupa untuk bersyukur dibalik seluruh proses yang ada.” Saya teringat juga suatu waktu, Wastumiruda (saya menyebutnya Kungkang pemabuk yang bijaksana) atau mas Anas yang bercerita tentang hakikat respek terhadap diri sendiri ini. “KAS ( Ki Ageng Suryomentaram) itu seperti Bima dlm cerita Dewa Ruci…Bima yg benar2 ada…Ya dia mencari kebenaran gk ke mana2. Ya dari dirinya sendiri. Betul. Kan ceritanya perjalanan jauh, tp itu hanya kiasan. Justru diri sendiri ini yg sebenarnya sangat jauh. Krn orang sering lupa, sibuk meniru orang lain. Jika kamu menghadap ke utara, apa yg paling jauh di utara sana ? Ya punggungmu, karena bumi ini bulat. Lawan terkuat sebetulnya ya diri sendiri. Kalo dari sloki (tahap kemabukkan) ya sloki ke 10: dasa buta (nama tingkatan kemabukkan terakhir) … mati. Balik nol lagi. Maka di Jawa yg utama adalah Slamet (selamat), bukan bener (benar).

[3] lihat cuplikan youtube untuk melihat relasi craftmen dimana hal ini sedang distudi oleh Yasmin Aryani, nanti akan saya bagikan cerita proses kami bertemu Yasmin lebih lanjut. Link youtube : https://www.youtube.com/watch?v=cySldJBIlqA&t=52s, hal ini dibahas di dalam postingan https://real-rich.org/2020/08/22/hidup-bersama-sama-arsitektur-yang-rahayu/

[4] foto – foto diambil oleh Jeffri Hardianto (Pepen) dari House of Photographers.

lingkaran contoh lingkaran donat di bidang musik yang dibentuk oleh Gita Gutawa dan Erwin Gutawa yang menaruh cita di tangan anak – anak muda Indonesia.
Kategori
blog

Forming Bricolage

This writing is for Archidiaries’s venue, Reflections#2 which I have prepared a writing and book about it. It’s a reflective journey to find discourse between practice and pedagogy. The both of streams colors my practice in RAW Architecture and more discouses in Omah Library.

There is a reflection that the young generation forgets the old wisdom that can teach us about the building technologies of the past. This old wisdom forms a bricolage architecture. It is an understanding that, to design and build something out of the land, you need to find the roots of Local Genius people. This concept explores how architecture should be tested by the optimization of local resources, building technology, and the implementation method, which together build the structure of local genius.

This presentation explores the root and progression of the social structure that cultivates the building tradition, manifested in generations of traditional craftspeople. It is not limited to the debate of how we should preserve the form of modern architecture, but it rather discusses the evolution of future architecture with the spirit of modern architecture by the introduction of a model of craftsmanship – a total adaptation of craftspeople, architect, builder, and client into one holistic ecosystem. It’s a humble and honest attempt to reflect on RAW Architecture Practice in Indonesia – Forming Bricolage.

Kategori
lecture

Inspirasi Nusantara

I was invited by UII (Universitas Islam Indonesia) to discuss the importance of theory in practice, it’s a way to redefine what the commitee called Nusantara as Inspiration. The content is about how the literature, body of work, and critical thinking will provide fundamental innovation in redefining discourse between practice and theory.

I was happy because my fellow librarian, Satria is presenting his view about how desa – kota, formal – non formal color the practice. It’s forming a reflection about how agency might affect the practice in architect.

Here is the information from the committee :

Webinar \ Alumni Arsitektur UII \ OUR FUTURE NUSANTARA

Ikuti diskusi pamungkas rangkaian webinar yang digelar dalam rangka #KenduriKampus​ JARS UII

Asosiasi Alumni Arsitektur UII, JARS UII bersama Ikatan Arsitek Indonesia DIY (IAI DIY) present…

INSPIRASI NUSANTARA #5- THEORY

Guest Speaker: Realrich Sjarief, IAI- RAW Architecture
Speaker: Satria AP (Alumni 2014)

Discussant: Assist. Prof. Dr. Revianto. B. Santosa, IAI.

Moderator: Erwin Maulana @emaulana (Alumni 1995)

KAMIS, DESEMBER
19.00- 21.00 WIB

Registrasi di http://bit.ly/InspirasiNusantara-5

Here is the video of the discussion

Kategori
blog

70 Tahun Pendidikan Arsitektur Indonesia – Suara dari Jiwa – Jiwa yang Tidak Kenal Lelah

Saya mengawali judul materi kali ini dengan sebuah judul “Melihat 70 tahun pendidikan arsitektur di Indonesia Suara dari jiwa – jiwa yang tidak kenal lelah.”Saya lulus di tahun 2005, mulai masuk ITB di tahun 2000. Pada waktu saya belajar arsitektur di tingkat dua, saya ingat oleh pak Eko Purwono diajak untuk mensketsa bangunan yang didesain oleh Henri Maclaine Pont, ada perasaan berbeda, yaitu penggunaan materialnya lokal, konstruksinya yang jujur, dan ada rekayasa teknik untuk mengaktualisasikan bentuk bentang lebar. Dari situ saya mulai jatuh cinta dengan arsitektur dan tidak pernah berpikir berhenti memikirkan arsitektur satu hari pun. Pertemuan dengan pak Eko Purwono dan Henri Maclaine Pont menjadi penting.

.
Pertemuan saya dengan Pak Baskoro Tedjo, Pak Ridwan Kamil dan dosen – dosen lain di tingkat setelahnya menjanjikan sebuah lompatan selanjutnya, saya ingat, beliau berkata

“kamu bisa, buat lebih baik lagi”

dan saya ingat itulah sebuah kekuatan yang mendorong membuat saya terpacu untuk ikut menyemangati teman – teman yang lebih muda. Saya ingat untuk tidak pernah lelah untuk lebih baik lagi. dan hal itulah yang mendasari judul kali ini, yang membuat saya membagikan kuesioner ke anak – anak muda dan semua orang lain testimonial mengenai pendidikan kita, hanya karena saya ingin tahu apa sih yang dipikirkan orang lain soal kondisi pendidikan kita sekarang. Teman saya yang berasal dari Serawak bernama Wendy Teo, memberikan masukan kepada saya untuk terus semangat pantang menyerah mewujudkan suatu hal yang kita anggap ideal. Ia berkata,

“If you want to stand for something and you’re someone, if you don’t stand for anything then you’re no one.”


Dari sudut pandang sebagai praktisi di praktik kami RAW Architecture, proses untuk maju bisa dilihat dari 3 buah posisi, yang pertama adalah pentingnya wacana untuk mengkonstruksi hal yang lebih positif .

Materi dari 4 pemateri menyajikan 3 hal yang yaitu mengenai isu setting, ritual, dan memory. Pemaparan ini sebenarnya adalah sebuah reaksi utnuk melihat tegangan yang ada antara ITB sebagai pihak yang merayakan ulangtahun dan melihat bahwa desain berbasis inovasi dan ilmu pengetahuan ini menjadi penting dan kritis untuk masa kini. Sebelum pak Adhi Moersid meninggal kami menginterview pak Adhi, dan melihat bagaimana dahulu ketiadaan pengajar, bagamana pada saat itu mengejar ketertinggalan yang menjadikan pengajaran masuk ke ranah teknis. Hal tersebut menyisakan gap atau celah yang dibahas juga oleh Aswin Indraprastha bagaimana menutup gap tersebut. ada dua hal untuk melihat gap tersebut, gap sebagai sebuah hal yang mengkhawatirkan ataukah gap tersebut adalah sebuah berkat. Di dalam presentasi kedua, presentasi Donny Koerniawan memaparkan bagaimana aktor – aktor yang terlibat di keilmuan perlu untuk merendahkan hatinya untuk merajut antar bidang keilmuan, bahasa beliau adalah menyerahkan axioma keilmuannya untuk bersatu membentuk ilmu baru.
.
Presentasi ketiga dari Sonny Sutanto mungkin justru menampar lagi posisi mendesain, titik inovasi dari sudut pandang ekonomi, yakni ketika produksi sudah begitu murah dimana posisi ide, saya ingat di sesi omah library, Rizal Muslimin membahas hal ini dimana manusia perlu terus berinovasi untuk bisa mereposisi dirinya dari replikasi dan representasi komputasi dari bahasa mesin. Di presentasi ketiga Gusti Ngurah Antaryana menyajikan sebuah potensi akan sebuah hal yang sudah pernah ada, dan sekarang ekosistem yang merdeka ada di depan mata, lalu apa reaksi kita ? pertanyaan ini terus berkelindan di kepala saya ketika mendengarkan 4 pemaparan material ini. Saya pikir mungkin jalan keluarnya ada di ritual yang dijalankan, atau mudahnya eksekusi apa yang akan menjembatani tataran teoritis dan eksekusi atau metode yang dilakukan di dunia nyata yang tidak abstrak. Sebagai contoh di dalam pandemi ini justru kami di studio menjalankan praktik melalui gambar tangan, karena tatarannya adalah konsepsi, perspektif juga dilakukan dengan gambar tangan lalu sampai ada komitmen baru ditransfer ke tools, jadi ada strategi yang perlu dilakukan.
.

Wacana ketelanjangan akibat ekosistem ditunjukkan oleh provokasi yang digagas oleh Marina Abramovic. Selama pertunjukan Abramovic dengan sengaja menjadi pasif, mengubah dirinya menjadi benda hidup demi seni. Dia memutuskan bahwa dia akan berdiri dengan tenang di galeri selama enam jam, di mana penonton diundang untuk menggunakan salah satu dari 72 objek di atas meja di ruangan itu untuk berinteraksi dengannya. Benda-benda itu berkisar dari bulu, kue coklat, minyak zaitun dan mawar, hingga pisau, gunting, pistol, beberapa peluru dan rantai. Instruksi di atas tabel berbunyi: Kinerja. Akulah objeknya. Selama periode ini saya bertanggung jawab penuh. Durasi: 6 jam. Selama enam jam, dia menyerahkan hidup dan tubuhnya sepenuhnya ke tangan orang asing, mengubah dirinya menjadi objek untuk digunakan, seperti yang diinginkan. Selama waktu ini dia setuju untuk tetap pasif, dan tidak responsif sampai eksperimen selesai. Abramovic memutuskan bahwa dia akan mengamati dengan tenang dan lemas. Untuk penonton, tidak ada konsekuensi langsung. Menurutmu, apa yang terjadi ?

Ia berakhir di dalam kondisi setengah telanjang, terluka.

Hal ini sebenarnya memunculkan tingkatan interpretasi selanjutnya dari sebuah pemikiran yang tidak hanya cantik, saya berintepretasi bahwa pemikiran yang menutup gab tersebut membutuhkan sebuah pemikiran yang tidak hanya ekspresif dan perlu untuk menggelontorkan wacana yang diskursif, dari sini saya pikir wacana untuk bertindak aktif dan tidak pasif akan penting, bagaimana yang pasif akan ditelanjangi, tidak berdaya, dan menunjukkan derasnya informasi dan kemajuan memungkinkan terjadinya ketelanjangan tubuh kita.

Di dalam bertindak aktif ada 3 hal yang bisa dipikirkan seperti, yang pertama adalah Setting yang bisa didefinisikan sebagai Kondisi sebelum wacana tersebut digulirkan yang melibatkan proses pembacaan relevansi terhadap problematika yang terjadi (Konteks)
Ritual yang bisa didefinisikan sebagai tindakan – tindakan untuk mengaktualisasikan wacana tersebut yang melibatkan proses aksi – reaksi (praksis). Di dalam proses ini sebenarnya terlibat lebih jauh ranah – ranah keilmuan. Memory yang bisa didefinisikan sebagai Hasil dari Wacana yang sudah menjadi milik publik yang ditandai akan pergeseran/pendalaman/penolakan akibat proses dari aksi reaksi yang muncul dengan repetitif. IAI sebagai asosiasi profesi pun dibentuk dengan sebuah setting, dengan melihat konteks apa yang terjadi disaat itu , dimana di tahun 1960 an ada instruksi dari pemerintah untuk membentuk gabungan perusahaan untuk menunaikan tugas membangun. Hal ini kemudian dilanjutkan dengan konferensi seperti mungkin yang sedang kita lakukan sekarang, dan disitulah ada sebuah wacana ketidakpuasan, bahwa kedudukan perencanaan dan perancangan tidaklah sama dan tidak juga setara dengan pelaksanaan, ada harga diri yang dipertaruhkan yang berbeda dengan bisnis komersial yan gkeberhasilannya diukur dengan besarnya laba. Lalu pada waktu itu Ir. Soehartono susilo dan Friederich Silaban meneruskan pemikiran yang radikal (ketidakpuasan) tersebut dengan menggalang para arsitek muda dan mengadakan pertemuan – pertemuan lanjutan, di tahun 1959 dihadiri oleh 21 orang, dan selanjutnya di jalan wastukancana di rumah Lim Bwan Tjie, dan akhirnya di tahun 1959 tersebut muncullah Ikatan Arsitek Indonesia.
.
Hal ini adalah hasil dari sebuah kegelisahan, muncul dari yang muda, ada integrasi dari sistem dan di luar sistem, dan mereka memiliki energi / sumberdaya untuk berpikir lebih dari kebutuhan sehari – hari.
.
Salah satu konteks ekonomi yang bisa langsung terasa dalam praktik adalah bagaimana akses terhadap industri software berlisensi misal, kalau menggunakan gambar tangan itu masih gratis, namun apabila melihat dokumen autocad harga 1521 USD, sketchup 649 USD, 3dsmax 1620 USD, REvit 2425USD, Rhino 995 USD ) total satu tahun pertama dibutuhkan kira – kira 110 juta. sedangkan untuk standarisasi gaji di Indonesia, dengan 4,5 -6 jt misal untuk anak – anak yang baru lulus kira – kira sisa gaji hanya 34 juta, setelah dipotong dengan kebutuhan sehari hari. Apabila misal gaji sekitar 10 juta, baru bisa mengakses setelah 2 tahun menabung, dan setelah beli software tidak ada uang tabungan lagi. Lalu pertanyaannya bagaimana kita menjembatani hal ini. Saya ingat china memiliki software cadnya sendiri, dan pertanyaannya bagaimana hal ini bisa dibantu utuk dijembatani ? inilah konteks kita yang menjadi setting, lalu apa wacana yang perlu digelontorkan ? mungkin share resources menjadi penting, pembuatan platform yang menembus batas.

.
Jadi apabila kita semuan ada di sebuah setting dan wacana, lalu apa ritualnya ? mungkin yang penting adalah kecepatan yang menjadi kuncinya, untk merangkul elemen yang tidak hanya ceklist, berbicara antar relasi, antar wilayah, merangkum ulang relasi – relasi yang bhineka. Acara ini adalah permulaan. titik yang penting adalah merangkul yang muda, integrasi sistem, gelisah, dan memiliki energi lebih.

.
Kami di omah library berusaha sekeras mungkin untuk membentuk iklim ekosistem literasi yang baik dengan membantu penulis – penulis, mempermudah jalan, menyambung rasa antar generasi, antar librarian, pemateri, antar peserta, dari situ diharapkan bisa ada sebuah ekosistem yang mengayomi, kolaborasi, keguyuban, kerendahan hati untuk berbagi dimana yang penting adalah bagaimana teori, wacana, kritisme yang terjadi di dalam diskusi kita kali ini bisa berbuah inspirasi yang akan mewarnai lingkup praktik ataupun akademik yang mempengaruhi suasana belajar – mengajar untuk membentuk pribadi yang rendah hati dan mau selalu belajar membentuk budaya ajar mengajar yang diskursif, sebuah proses yang membuka jalan.

Perjalanan Ki Ageng Suryomentaram bisa diibaratkan sebagai analogi perjalanan Pendidikan arsitektur di Indonesia. Kondisi perkuliahan arsitektur yang hanya fokus pada kemampuan teknis seperti penanaman tugas dan tanggung jawab, etika berprofesi, estetika, budaya, dan sosial, membuat arsitek akan mengalami titik dimana ia akan mengalami kegelisahan mendalam terhadap jiwanya. Keprofesian ini akan menjadi membosankan karena berjarak dengan realitas sendiri dan menjadi pengetahuan normatif saja karena hilangnya kerendah-hatian oleh karena itu mari bersama – sama merajut dengan bergotong – royong, Ohana means family, family means nobody gets left behind or forgotten.

Saya berbicara mengenai refleksi di acara diskusi pendidikan arsitektur.
menit 2.58 – 3.08
Kategori
blog

Serendipity after Sketches and Regrets

Saya ingat dulu anak – anak universitas Gunadarma pertama kali mengadakan acara di taman samping rumah orang tua saya, ada 60 orang, mereka mempersiapkan acara dengan riang gembira hanya ingin mendengar satu kuliah dari Mas Barani. Beberapa saat kemudian bersama David Hutama, kami menggagas kuliah seri Omah pertama dan ide How to Think Like an Architect muncul. Acara pertama lancar, kedua lancar, ketiga lancar, keempat hadir hanya 10 orang, acara kelima sukses hadir hanya 3 orang, bahkan satu saat staff kamk saya sms untuk datang ke studio dan ikut acaranya. Hal ini kontras dengan 5 tahun kemudian acara webinar yang bisa sampai mengundang ratusan orang. Pertanyaannya, apakah meledaknya partisipan itu yang dicari ? mungkin itu barometernya. Seperti ketika orang bertanya, berapa jumlah orang di studio kamu ? yang sebenarnya untuk mengukur barometer pendapatan, kapabilitas studio juga. Satu saat saya disadarkan oleh paman saya.

“Terus gali apa yang kamu cari, passion, keluarga, ilmu dan jangan terlena dengan harta, publikasi, ataupun tahta.” (Mungkin ada kemiripan dengan harta, tahta, Renatta yang sedang viral, lol)

Meskipun terlihat riuh rendah, dunia ini sepi kawanku, bagaimana bisa berkontemplasi begitu dunia begitu riuh. Mata – mata saling melihat, kuping – kuping terus mendengar. Inilah Lawang Kala (pintu waktu) yang baru, kita sudah memasuki jaman baru. Dan herannya saya baru sadar, kok ya baru sadar. Untung ada paman saya mengingatkan,

Saya baru menyadari, saat ini saya rindu akan kehangatan kawan – kawan yang dulu saya rasakan ketika menghabiskan waktu di Goldiers Green, Hampsted Heath dan juga saat – saat yang berkesan adalah saat saya dan Laurensia berkunjung ke negara Finlandia salah satu negara yang memiliiki ekosistem desain mengandalkan bermain – main di dalam fase mendidik anak, hal ini di dasarkan common sense bahwa ada relasi yang patut untuk dijaga, relasi akan mimpi.

Di dalam 5000 teman maksimal yang ada di Facebook, berapa orang teman kamu sesungguhnya ? dan beribu atau berjuta orang yang mengikutimu di Instagram, berapa yang benar – benar perhatian kepadamu ? Salah satu tujuan menjalin relasi adalah sisi bisnis, atau memperkenalkan diri untuk menggapai eksistensi. Selain ada juga yang bertujuan untuk bersilahturahmi dengan sahabat lama, tertawa, bersenda gurau dimana lingkaran pertemanan masih kecil. Di saat – saat ini, begitu banyak pertanyaan, apa masih berguna presensi social media kita ? Jadi seberapa mau saya mengubah hidup saya ? Baru hari ini saya bertemu dengan Airin Efferin dan Setiadi Sopandi, dan mereka bercerita tentang proses pembuatan buku Sketches and Regrets. Saya melihat kekuatan proses, memberi dan menerima, tanpa melupakan jejak jiwa. Menariknya hal ini yang saya lihat langka, menjadi personal sekaligus professional. Cerita Airin dan Setiadi Sopandi adalah cerita mengenai sepatu orang lain, dimensi efek arsitektur terhadap kehidupan orang lain, bukan hanya ajang promosi diri. Di karya tulisnya ada kejujuran yang menohok belakang kepala saya untuk bisa terus berefleksi bahwa relasi menjadi penting.

btw, ini IG Live pertama Omah Library yang sebenarnya masih pemula.
Photo by Mathias P.R. Reding on Pexels.com

Setelah itu saya memposting dua postingan di facebook satu untuk berterima kasih akan acara Design United dengan beberapa kawan lain termasuk Anna Herringer, Wendy Teo dan lainnya, setelah itu ada lagi postingan untuk Airin dan Cung. Setelah itu ada permintaan memasukkan email dan password, saya refresh screen facebook saya error, email saya berubah, password saya berubah, beberapa permintaan teman terkirim untuk orang – orang yang saya tidak ketahui, saya mengirim email ke facebook untuk mendeaktifasi acc facebook saya. Anggap saja ini jalan semesta, ha ha ha, toh sudah lama saya malas untuk mengupdate facebook, sambil nungguin recovery, ada – ada aja, lucu sekali dunia ini.

.

Miracle sedang main game yang dikirimkan oleh Miss Atika di sekolah.

HP saya ambil dan saya memanggil sahabat lama saya,

“Bro, apa kabar?”

di satu sisi ia terdengar setengah tertawa dan saya pun tertawa kembali.

“eh kampret katanya, lo kemana aja”

Disitulah kita tertawa tergelak – gelak sambil bernostalgia, atau tepatnya bernostalgila, sambil di sebelah saya, anak saya Miraclerich yang berusia 5 tahun sedang membuka game Mobile Legend dan terdengarlah suara

“Enemy Defeated !”

“anak umur 5 tahun ini ^^ iso2ne”

Kategori
lecture

Design United’s first Design Conference

I was invited by Design United, they are young and promising platform which curious about how architecture make a profound impact on humanity. In the venue there will be Anna Herringer and my fellow friend Wendy Teo, and many more architects that I look up to (you can scroll their name below).

Here is the news from the Design United’s Committee :

Design United’s first Design Conference

We are uber-excited to be hosting Design United’s first Design Conference on the 15th of November with talented designers & artists.
We will explore examples of small yet meaningful design efforts and their potential for lasting impact.

We are joined by Ar. Anna Heringer of Anna Heringer Architecture-Germany, Ar. Jan Glasmeier of Simple Architecture-Thailand, Ar. Khondaker Hasibul Kabir of Co.Creation.Architects-Bangladesh, Ar. Wendy Teo of Borneo Art Collective-Malaysia, Ar. Goy Zhenru of Goy Architects-Singapore, Ar. Realrich Sjarief of RAW Architecture-Indonesia, Compartment S4-India along with amazing designers, Dhiraj Manandhar of Manankaala Design Studio-Nepal and Ayaka Yamashita of
EDAYA-Philippine.

The session is moderated by young architects and architecture students: Vaissnavi Shukl, Tejaswini Krishna, Huzefah Haroon, Amrit Phull, Vrinda Kanvinde, Ayush Gangwal, Chinar Balsaraf and Priyanka Shelke.

When: 9AM onwards, Saturday, 15 November 2020
Registration: http://www.clayworks.space/webinars

#designlovers#designconversation#designinspiration#designunited#claymunity#clayworksspaces#clayworkswebinar#createatclayworks#workspaceasanexperience

Kategori
lecture

Reflection of the City

1.20.00 – Photography for Architecture or Architecture for Photography ?

Di dalam acara bincang – bincang yang diadakan oleh Jayaboard ini, dengan judul “Reflection of the City”. Saya akan melanjutkan pembahasan fotografi dan desain dari dua kawan saya @mariowibowo_ dan @ryansalim mengenai Arsitektur ke dalam dualisme keadaan yaitu representasi, provokasi di dalam pembentukan sebuah wacana reflektif.
.
Seperti misalnya pandemik ini di arsitektur ini mencerminkan situasi yang sangat kontras, di satu pihak adalah realitas bencana dan di satu pihak membuka celah untuk berinovasi. Keadaan – keadaan ini kemudian dibingkai oleh sang pembawa cerita, salah satunya fotografer, arsitek, dan desainer kemudian membuat karyanya menjadi sebuah jalan cerita yang maha dahsyat soal kemungkinan positif di masa depan. Hal ini ditujukan untuk membingkai realitas pandemi yang ada, ataupun malah timbul fenomena untuk menutup realitas yang ada sebagai sebuah utopia yang kemudian bisa membuat momen untuk kita merefleksikan diri mengenai kekuatan sebuah citra.
.
Photography dan arsitektur merupakan dua dunia yang saling berkaitan. Arsitektur memiliki unsur seni dalam proses perancangan sebuah desain bangunan, dimana konsep bangunan tersebut akan menghasilkan nilai estetika tersendiri dalam setiap komponen desainnya. Sama hal-nya dengan dunia Photography, memadukan teknis pencahayaan dengan sebuah wujud fisik mengandung nilai seni tersendiri bagi penikmatnya. Jayaboard memberikan wadah untuk membentuk komunitas inspiratif bagi penikmat dunia arsitektur maupun photography dalam webinar Connecting Minds, Explore The Possibilities: Reflection of The City.

Jayaboard berkolaborasi dengan Mario Wibowo (Mario Wibowo Photography), Ryan Salim (Erreluce Lighting Consultant) dan Realrich Sjarief (RAW Architecture) akan membahas tips & trick hingga trend dalam dunia Architecture Photography dan pentingnya Photography dalam dunia arsitektur.
.
Rabu, 11 November 2020, Pk. 19.00 WIB (Zoom Webinar)
.
Lihat lanjutnya di ac @jayaboard_ig daftar di : http://bit.ly/connexrcsm

Kategori
juror

International Student Competition in ARchitectural Design and Construction of Bamboo 2020

Thank you Gede Mahaputra untuk inisiasi dan undangannya, juga untuk seluruh panitia dari Universitas Warmadewa.

Dua sayembara untuk mengakhiri tahun 2020 dari Prodi Arsitektur Universitas Warmadewa dan HMA Sanatanadharma. Himpunan Mahasiswa, menyelenggarakan sayembara nasional dengan tema Pasar Tradisional di masa dan setelah pandemi Covid-19. Pemenang akan mendapatkan reward dan piagam penghargaan Sedangkan dari Prodi, bekerjasama dengan Nansha Birdpark dan South China University, menyelenggarakan kompetisi internasional desain dan konstruksi bambu. Pemenang akan mendapatkan hadiah, piagam serta 2 tim pemenang berkesempatan untuk mewujudkan karyanya di Nansha Birdpark, China. Silakan melihat poster untuk detail, pendaftaran, serta pemasukan karya.

Kategori
lecture

The Sketch of Your Client Algorithm

Arsitek dan klien dimulai dari sebuah hubungan timbal balik. Lalu bagaimana memulai sebuah hubungan jangka panjang dengan klien. Apa saja yang harus dilakukan, judul yang dipilih oleh panitia cukup menantang. Pertanyaan – pertanyaan seperti ada ngga sih karakter yang membentui satu klien ke klien satu lagi, tipe perusahaan misal, atau klien personal, atau bangunan publik ? Apa saja yang perlu dilakukan, apa yang perlu dijaga, dan apa yang perlu dihindari. Perhitungan atau formula – formula apa saja yang bisa dijadikan parameter yang bisa disepakati. Mungkin dari sinilah kecocokan akan bisa terjalin dan arsitekturnya pun bisa unik dan bisa saling “memberi” juga “menerima” di dalam algoritma yang kontributif.
.
Ini saya bantuin panitia, semoga sukses ya panitia acaranya. 🙏
.
Seminar Arsitektur “The Sketch of Your Client Algorithm”
🗓 4 November 2020, 17:00 – 18:30 WIB
Via Zoom
.
👉🏻 Pesan E-TICKET DISINI: loket.com/event/seminar-arsitektur
Atau klik link di bio kami!
FREE ADMISSION
TIKET TERBATAS!
Terbuka untuk umum
Instagram : @im.a.go
.
#UMN #Pameran #Virtual #FSD #DKV #VBD #ID #Branding #Interaction #Film #Animasi #Arsitektur #RealrichSjarief #Seminar #Talkshow #Screening #BedahKarya #tugasakhir

Kategori
blog

70 tahun Pendidikan Arsitektur di Indonesia

Terima kasih untuk SAPPK ITB yang sudah mengundang saya untuk menjadi penanggap di dalam acara “70 tahun Pendidikan Arsitektur di Indonesia”

Terima kasih untuk SAPPK ITB yang sudah mengundang saya untuk menjadi penanggap di dalam acara “70 tahun Pendidikan Arsitektur di Indonesia”

Dalam rangkaian acara Peringatan 70 tahun Pendidikan Arsitektur di Indonesia, Program Studi Arsitektur, SAPPK menyelenggarakan acara diskusi panel bertajuk: Menuju Desain Berbasis Pengetahuan dan Inovasi (Towards Knowledge-based and Innovative Design) secara daring pada Sabtu, 31 Oktober 2020.

Acara ini diikuti oleh sekitar 150 peserta yang berasal dari kalangan akademisi, profesional, dan mahasiswa dan menampilkan empat pembicara dan empat penanggap yakni:

Para Pembicara:

  1. Aswin Indraprastha, PhD dari Program Studi Arsitektur ITB
  2. Eng Moch. Donny Koerniawan dari Program Studi Arsitektur ITB
  3. Sonny Sutanto, IAI dari profesional
  4. I Gusti Ngurah Antaryama dari Program Studi Arsitektur ITS

Para Penanggap:

  1. Harris Kuncoro dari InPlace Design, USA
  2. Hari Sungkari dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
  3. Realrich Sjarief dari RAW Architecture
  4. Sammaria Simanjuntak, sutradara film.

Moderator: Dr.- Ing Hmasari Hanan, MAE.

Acara ini membuka kembali diskusi tentang disrupsi teknologi dalam proses desain arsitektur dan pendidikan arsitektur, kompetensi lulusan arsitektur dan peluang-peluang baru sebagai akibat perkembangan industri 4.0.

Link acara 70 tahun pendidikan arsitektur di Indonesia: https://www.70thpai.com

Kategori
lecture

100 + Techno Build | INTERNATIONAL FORUM AND EXHIBITION Ekaterinburg , Russia,20-22 October 2020

Thank you for the Organizing Committee of the VII International Construction Forum and Expo 100+ TechnoBuild 2020 for the invitation. I will present two topics about Craftmanship – the possibility to shape it to more critical identity and Methodology Grammar. The 100 + expo is a major Russian engineering and construction congress combining conference and exhibition of cutting-edge achievements in the industry that will take place in the city of Ekaterinburg on October 6–8, 2020

see more here :https://forum-100.com/about-forum/

Here is the more detail explanations of the topics,

First one: Redefining High Level of Craftmanship in Local and Global Identity

The issue of Architecture in Indonesia is still a political one. As a country with a history of colonization, the dichotomy of the past and the future is not only about the intervention of technology into the practice of craftsmanship, but also about making sense of our local identities in representing the nation as a whole. With a lot of different faces of local identities, we are still struggling in defining a collective identity in Architecture.
In response to this, the speaker will speak about case study in Realrich Architecture Workshop in the need to be aware of the various issue surrounding their work, which stems from a deeper level of understanding towards crafts and material cultures, and to be able to create a work that is relevant to those issues. Architects also need to be able to work collaboratively with other disciplines towards a solution. This critical approach in practice is what is called a high level of Architecture Craftsmanship. It means to go beyond just one generic architectural layer to the indigenous approach of design solutions.

I will discuss the difference in our practice on
1.Identity is formed over a long time?

  1. The identity is contemplative, the evaluative secret that resides in every personal soul.
  2. Identity is a unity between ideas and portraits.

4.Ethics is one of the identities, the bridge of conduct which has 3 aspects: good, correct and beautiful, which is shown by the resulting product as a means of self-actualization.

5.Social media becomes a distraction as well as a potential for recognition and identity integrity, where Literacy activities are important for building deep identity.
.

Methodology Grammar for Sustainable Design, A Reflection on Radical Practice.
  The practice of architecture is never separated from the study of methods. In each project, the design process includes numerous iterations from conceptual until the construction phase, in order to create a methodology to be devised in the future for better design performance. This does not always mean using better technology, but starting from the most simple method of obtaining available data and information available on site. From the various study, research, and design permutations, the most optimal design responding to the brief, site, programming, local environment, and material. The speaker proposed a grammar of methodology to create an optimum method of design which can contextualize design to be adaptable to specific design context. The Methodology is about phasing from conceptual to Implementation of the design, as well as details on site, also become important aspects. The study of the combination of local materials and tectonics with design technology is done in order to create better roots in design which forms radical practice.

I will discuss the difference in our practice on

  1. What is the difference between strategy and method?
  2. The method is a bridge of innovation from theory to practice in a logical way
  3. The Method is procedural (has a harmonious bridge between ideas and images)
  1. Methods may have biases, it should be noted that methods differ from stimuli. Art when separated from the building is a stimulus, as well as a building when separated from art, is a stimulus. Art and Building being separated from the building is a stimulus. Matters related to the origin of ideas are a stimulus.
  2. The method has specific, actual, tangible product limits that can be dissected based on the 7 elements of the design method.

see it other speaker, there is Tezuka as well :) : https://forum-100.com/speakers/

Kategori
blog

School of Alfa Omega

In this video, I want to share the our studio design approaches in creating the School of Alfa Omega. It is generally known that the spirit of locality is a process embedded in the practice of sustainable architecture, where the sustainable architecture itself is the product of the process. Meanwhile, the locality itself is an approach in the design process that considers its certain situation and location. In sustainable architecture, there are aspects of optimality that regard as basic criteria to be considered, such as the limitations and conditions in the site, optimization of building technology, and the relation of existing resources that nurtured by its social organizations. Yet, at the same time taking them into account about the risk that might occur in the future by managing its resources optimally that relatively limited. However, is it the same as the process of exploring local identities?

Kategori
lecture

Speaker at PROJECT BOOMERANG BY CIAAD

CIAAD’s FUTURE DIRECTION FOR GLOBAL EDUCATION The global definition of education is shifting due to technology, which is CIAAD’s primary tool for design pedagogy, aiding in the development of multi-disciplinary collaborative real-life projects in between continents, Project Boomerang by CIAAD. PBC uses omni-presence and tele-presence communication tools for students to travel abroad virtually in between cities while remaining in their physical space.

http://ciaad-member.org/timetable.php

http://ciaad-member.org/timetable.php

Kategori
blog

Lecture in Locality vs Future

Saya akan berbicara mengenai Pemikiran – pemikiran reflektif tentang desain yang sederhana namun bermakna sekaligus menjalin relasi dengan klien, untuk menghadapi masa Covid ini bersama – sama. Saya juga berbagi mengenai pendekatan karya studio kami yang terbaru menggunakan pendekatan kontekstual kritis melalui penggunaan material lokal, pertimbangan terhadap iklim tropis, dan tentunya berbagi mengenai ekosistem di dalam budaya studio yang eksperimental.

[SEMINAR ONLINE : Locality vs Future] ⁣⁣
⁣⁣
Salam Arsitektur!⁣⁣
Halo teman teman, HMA Atrivm mengadakan seminar online via Google Meets, dengan pembicara seminar ini adalah :⁣⁣
⁣⁣
Arch. Dipl. Ing. Cosmas D. Gozali, IAI, (Atelier Cosmas Gozali)⁣⁣
Realrich Sjarief (Realrich Architecture Workshop-RAW Architecture) @rawarchitecture_best
⁣⁣
Hari, tanggal: Sabtu, 24 Oktober 2020 pk. 12.00 WIB – selesai (diharap login 15 menit sebelumnya)
⁣⁣
Mekanisme mengikuti sharing ini: ⁣⁣

  • Mendaftar dengan mengisi link google form di bawah.⁣⁣
  • Ketika peserta sudah terdaftar, undangan link meets akan dikirimkan melalui email pribadi peserta seminar.⁣⁣
    ⁣⁣
    LINK PENDAFTARAN⁣⁣
    https://forms.gle/MqBvTGU5AiWQ8mHZ8
    (atau cek bio @hma_atrivm)⁣


    CP : 085225082255 (Tirza) & 088806266191 (Emma)⁣⁣
Kategori
blog book writing

Rentang Asa dalam Ragam Rona Nusantara yang Terselubung

“…the man who regards his life as meaningless is not merely unhappy but hardly fit for life.” (Albert Einstein)

Victor Frankl menghabiskan waktu 3 tahun di dalam kamp konsentrasi. Ia menyaksikan bagaimana anak dan istrinya dibunuh di dalam kamp konsentrasi tersebut. Ia sendiri menghabiskan waktunya dengan bercakap – cakap membuat simulasi mengenai ruang kelas, tempat ia sedang memaparkan sebuah materi ke murid – muridnya. Materi tersebut adalah sebuah terapi terhadap dirinya sendiri, namanya logotherapy. Logotherapy adalah Konsep yang didasarkan pada premis (apa yang dianggap benar sebagai landasan kesimpulan kemudian yang menjadi dasar pemikiran) bahwa kekuatan motivasi utama seorang individu adalah untuk menemukan makna dalam hidup.Semangat yang muncul di dalam kuliah Nusantara hadir seperti bayi mungil yang tanpa pretensi, ia lahir dengan kekuatan cinta, sebuah keinginan untuk merekonsiliasi, memperbaiki, membangun semangat Arsitektur di Indonesia.

Semangat yang muncul di dalam kuliah Nusantara hadir seperti bayi mungil yang tanpa pretensi, ia lahir dengan kekuatan cinta, sebuah keinginan untuk merekonsiliasi, memperbaiki, membangun semangat Arsitektur di Indonesia. Lagu terima kasih Ayla adalah lagu yang digubah Jaya Suprana untuk istrinya Ayla sebagai ungkapan terima kasih dan puji syukur.

Di dalam perenungan mengenai Nusantara setidaknya ada sebuah ide bahwa Indonesia yang dikaitkan Nusantara adalah negara besar, ada sebuah ide bahwa Indonesia yang dikaitkan Nusantara sebenarnya bagian dari sebuah tatanan yang lebih besar lagi, dan ada ide juga bahwa Indonesia tidaklah besar – besar amat. Saya percaya bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan sebuah ide adalah sebuah awalan, yang membantu untuk menggulirkan ritual – ritual yang lebih besar yang akhirnya bergulir menjadi kenyataan – kenyataan baru. Tanpa adanya ide kita tidak bisa maju jalan dan Frankl pun tidak akan bisa merekonsiliasi trauma yang dialaminya.

Ada kontradiksi di lukisan School of Athens yang dilukis oleh Raphael juga perjalanan hidup Suryomentaram. Di lukisan Raphael Terlihat figur Plato yang menaikkan tangannya dan Aristoteles yang menurunkan tangannya menunjukkan pentingnya bagaimana berpikir fundamental, atau mengakar, berbasis pada pengamatan lapangan. Berpikir fundamental ini di dalam definisinya adalah bagaimana menemukan akar dari sebuah hal yang sedang dibahas. Hal ini terkait dengan radix atau berpikir radikal. Untuk konteks Indonesia yang terajut dengan berbagai silang budaya, hal ini terlihat dari perjalanan Suryomentaram untuk melepas gelar kebangsawanannya dan berteman dengan rakyat jelata, menikmati realitas sosial yang tidak berjarak. Proses meniadakan ini mewarnai dinamika aksi reaksi yang menelurkan sikap filsafati yang berkelindan terhadap aksi reaksi diri pribadi dan kosmologi yang lebih luas sampai ke tataran negara dan dunia, disinilah muncul kekuatan sikap untuk mendapatkan fundasi yang kokoh dan dahsyat.

Berpikir radikal adalah sebuah fundasi, sebelum bisa menerapkan bagaimana berpikir kritis. Pembahasan pengetahuan yang ilmiah, ini dimulai dari Yunani dengan berusaha untuk menjelaskan dasar teori sebagai sebuah takaran intelektualitas, dimana kebudayaan pra sejarah Mesir – Mesopotamia, Sumeria, Babilon, dan India masih di ranah Mistis – Praktis. Di dalam kebudayaan di Yunani, sifat ilmiah dari sebuah pengetahuan muncul karena mengandung hal – hal yang pasti. Dimana terbagi ke dalam dua kutub yang dibahas di atas, Plato dengan pengetahuan yang universal dan Aristoteles dengan menjelaskan mengapa “the why”.

Di dalam buku Nusantara yang ditulis oleh Abidin Kusno (bisa dipesan disini) penelisikan “the why” dituliskan oleh Suwardana Winata di prolog dan Mohammad Nanda Widyarta di epilog. Suwardana melihat bahwa keterkaitan pembentukan brand di dalam dunia digital berpotensi memundurkan perkembangan keilmuannya.

Suwardana menulis “Arsitektur Nusantara dalam perdebatannya, secara terus menerus dicari dan diungkap dengan berbagai konteks pemikiran maupun filosofi serta perancangannya. Berbagai pendekatan dan metodologi digunakan untuk mencari atau mengungkap Arsitektur Nusantara itu. Dalam era digital, pencarian arti Arsitektur Nusantara dapat menghasilkan berbagai kemungkinan, akibat pembentukkan opini (tafsir opini). Pembentukkan opini ini  dapat “nyasar”, dengan hanya menjadi brand atau label bahkan hanya sebuah tag. Dalam era yang didominasi visual ini,  peran label ini memiliki pengaruh besar dalam membangun opini publik bahkan pembentukkan pengetahuan Arsitektur Nusantara. Perjalanan Arsitektur Nusantara, perlu terus “dikembangkan” dari berbagai arah, sehingga Arsitektur Nusantara tidaklah dapat didefinisikan sebagai “single” Selain itu perlu juga diperhatikan dengan opini “Arsitektur Nusantara” …oleh para star atau publicist digital yang akan menjadikan Arsitektur Nusantara hanya sebagai trend yang sifatnya sangat temporer dan meaningless.”

Di satu saat pada waktu saya memberikan kuliah di Universitas Udayana Bali, saya bertemu dengan Pak Josef Prijotomo, ia menitipkan satu manuskrip yang ketika saya buka, tulisannya seperti tulisan seorang penutur. Isinya tidak terstruktur, dan saya jujur saja kesulitan untuk menatanya. Akhirnya saya putuskan bahwa kami perlu menghabiskan waktu untuk berbincang- bincang dan membahas kuliah tersebut, sehingga saya masih belum bisa melanjutkan untuk menyunting manuskrip tersebut. Pada dasarnya, manuskrip itu perlu diolah kembali terutama dengan referensi apa ia akan dipadu padankan, banyak referensi yang belum jelas apakah itu hasil dari ekspedisi ataukah dari tutur – tuturan Pak Josef sendiri, dari situlah muncul sebuah dialog tentang, premis, pembuktian lapangan dan dasar teori yang digunakan. Disinilah masalahnya namun juga disinilah potensinya. Manukrip tersebut masih membutuhkan orang – orang yang perlu turun tangan untuk meneruskannya, wacana yang digagas beliau sebenarnya adalah wacana kritisisme yang dimulai dari refleksi hidupnya, dan semangat tersebut diperlukan untuk diteruskan, ditransformasikan ke dalam energi yang baru kembali.

Potensi seperti gambaran daya juang yang menjadi hulu ledak, neuron – neuron perjuangan di dalam kepala, hati dan kaki-tangan orang – orang yang sedang memperjuangkan pemikirannya untuk apa yang dicintai. Semangat daya juang ini menular, membuat rasa gairah yang tinggi, sebuah proses cinta. Proses tersebut pastilah melibatkan rasa benci, rasa suka, jarak dan tanpa jarak. Potensi ini muncul di dalam sebuah bentuk paguyuban.

Lain lagi potensi, lain lagi masalahnya, masalahnya muncul di dalam komunitas ilmiah dimana di dalam proses pembuktian proses berteori, yang dihindari adalah bagaimana proses penyusunan teori menjadi dasar dari proses berideologi. Dimana proses berideologi tersebut perlu untuk diungkapkan apa posisinya, apa urgensinya dan keputusan sejauh mana sang pemikir bisa menjaga jarak dari teorinya sendiri untuk bisa diuji oleh komunitas ilmiah.

Victor Frankl menulis Man’s Search for Meaning di dalam rekonsiliasinya terhadap penindasan yang dialaminya. Rekonsiliasi pemikiran ini terpancar di dalam proses kuliah Nusantara yang ada di Omah Library. Frankl menulis mengenai 3 tahap bagaimana seseorang bisa menemukan makna di dalam hidup. Pertama, dengan membuat karya atau melakukan perbuatan. Hal pertama yang dilakukan Jerman untuk bisa merekonsiliasi setelah perang dunia kedua adalah mengakui kesalahan dan membuat kenangan – kenangan tersebut menjadi kenyataan dengan banyaknya situs museum yang dibangun sebagai sarana refleksi bahwa Holocoust nyata – nyata terjadi dan memberikan pelajaran mahal mengenai korban yang muncul. Hal ini juga muncul tersirat di dalam diskusi yang muncul justru setelah pemaparan Abidin Kusno yang bisa dilihat di lembar lampiran.

Kedua, dengan mengalami sesuatu pengalaman baru atau bertemu orang lain. Pentingnya untuk bisa terhubung dengan orang lain, atau fakta – fakta baru bisa membuat kenyataan yang baru. Kenyataan tersebut misal sifatnya tidak tunggal atau ganda juga tidak sederhana dan kompleks. Fumihiko Maki perlu membuat teori Investigations in Collective Form, untuk mengantarkan kedahsyatan Jepang di dalam pembentukan teori yang akhirnya menyemangati munculnya gerakan kontemporer selanjutnya di Jepang yang mempengaruhi dunia barat . Hal ini juga ditunjukkan Bernard Rudofsky dengan penyingkapan arsitektur tanpa arsitek di tahun 1960 an dimana ia melakukan investigasi dan menelurkan pemikiran arsitektur tanpa turunan.

Ketiga, sikap yang kita ambil sebagai respon terhadap penderitaan yang tak terhindarkan. “Keadaan ini dipicu oleh trauma yang dihadapi setiap harinya di dalam kamp konsentrasi. Pentingnya keterbukaan di dalam melihat sebuah permasalahan. Perbedaan sudut pandang filsafati adalah, bagaimana medekonstruksi cara berpikir yang kaku dan merelasikan kedalam kebenaran yang situasional. Relasinya seperti, kekayaan situasional budaya, ekonomi, sosial di Indonesia misal, begitu kaya. Pemikiran filsafati berguna untuk menemukan akar keilmuan, proses perjalanannya seperti masuk ke hutan rimba yang pekat dan gelap diantara paradoks pandangan yang ideal dan pandangan yang fundamental. Perjalanan tersebut dimulai dari mempertanyakan hutan tersebut, dengan melihat gambaran besar hutan – hutan yang ada, dan apa sih hutan yang mau kita jalani ? terlebih lagi hal ini mempertanyakan apa yang kamu mau cari, passion apa yang kamu mau cari ? ataukah ada yang ingin dibuktikan ataupun sebenarnya tidak perlu membuktikan apa – apa. Pemikiran filsafati sebenarnya menjanjikan sebuah proses kedewasaan berpikir untuk menguraikan kekusutan terminologi, sebuah pemikiran yang terbuka (open ended) seperti kutipan diatas. sebuah progresi yang regresif, di satu sisi ia menjanjikan progress akan kedewasaan, disatu sisi mendefinisikan arti sebuah progresi dan regresi. Bahwa pada akhirnya, memahami maju mundurnya cara berpikir membuat tidak ada yang tidak mungkin di dalam alam pikir. Pertanyaannya apakah Nusantara patut untuk diperbincangkan ?

Melihat Indonesia yang sedang membangun dirinya, terkadang kita mungkin perlu bertanya – tanya di dalam kecepatan yang demikian pesat, bisakah kedua potensi dan masalah tersebut berdialog menjadi sebuah alfa (awal) dan omega (akhir). Kedua hal tersebut jelas – jelas sama – sama memiliki posisi masing – masing, dan saya pikir keduanya sedang mencari makna untuk kehidupannya masing – masing. Makna untuk rekonsiliasi trauma di dalam perjalanannya, penindasan, dan keleluasaan yang terjadi di dalam kehidupan setiap orang terpancar, terpantul dan terefleksi di dalam tata laku.

Melihat Indonesia yang sedang membangun dirinya, terkadang kita mungkin perlu bertanya – tanya di dalam kecepatan yang demikian pesat, bisakah kedua potensi dan masalah tersebut berdialog menjadi sebuah alfa (awal) dan omega (akhir). Kedua hal tersebut jelas – jelas sama – sama memiliki posisi masing – masing, dan saya pikir keduanya sedang mencari makna untuk kehidupannya masing – masing. Makna untuk rekonsiliasi trauma di dalam perjalanannya, penindasan, dan keleluasaan yang terjadi di dalam kehidupan setiap orang terpancar, terpantul dan terefleksi di dalam tata laku.

Abidin Kusno membuka kuliah pertama dengan sebuah tema reposisi, hal ini diperlukan untuk melihat Nusantara dari sudut pandang yang lebih luas. Diawali dengan Abidin Kusno, seseorang yang bisa melihat dari dalam dengan relasinya dengan Nusantara dan juga dari luar. Dalam kuliah wacana Nusantara: Reposisi, Abidin Kusno menampilkan 5 posisi/konsepsi nusantara, mencoba menunjukkan “nusantara” dalam sebuah konstruksi yang tidak lepas dari konteks suatu ruang dan waktu, politik negara, dan imaginasi intelektual & arsitek. Ia menjelaskan bahwa kelima posisi ini bisa saling berkelindan meskipun ada kontradiksi di antara mereka. Misalnya yang 1 & 2 itu tipis garis pemisahnya dan 3, 4, 5 erat hubungannya meskipun tekanannya berbeda.
1. Melalui Gajah Mada The Periferi: tanah di sebrang lautan (dari subjektivitas sebuah pusat). Dalam kehidupan zaman Majapahit, arsitektur nusantara mengandung 2 pengertian: arsitektur tanah sebrang/luar negeri, dan arsitektur pan-Majapahit style, atau mungkin sebuah empire style?
2. The Geo-body Melalui perspektif nation-state. Integrasi: penyatuan konsentris. Merupakan sebuah posisi yang berakhir dengan meng-nasionalisasikan nusantara. Menjadi ekspresi anti-kolonialisme dan legitimasi bagi formasi negara.
3. Melalui pengaruh austronesia Maerupakan konsep Aquatic space: yang berdasarkan aliran/arus/air. Posisi ketiga ini menjadi simbol tradisi bahari yang telah lama mengalami marginalisasi.
4. Melalui Denys Lombard Beyond the Nation-State. Yang dimaksud adalah posisi nusantara sebagai Persilangan: Hibrida budaya. Misal pada akhirnya ada yang klaim nusantara itu milik Indonesia atau Malaysia, tidak masalah, tapi tetap saja formasi budaya dari kedua negara ini adalah nusantara. Nusantara menjadi ungkapan kosmopolitanisme.
5. Melalui Josef Prijotomo Resistensi: Perlawanan dalam Kesetaran. Gerakan nusantara terjadi pada saat ada tekanan dari budaya hegemoni global yang cenderung memarginalisasikan sumber lokal. Sebagai perlawanan, nusantara diletakkan dalam posisi yang setara dengan kekuatan lain.

Pada akhirnya, Abidin Kusno merasa bahwa nusantara itu adalah istilah dimana keadaan ‘struggle over culture’ terjadi. Dan diharapkan lahir berbagai positioning lain sehingga membentuk sebuah himpunan yang beragam. Setelah itu kuliah disambut oleh 10 orang lain yang membicarakan arsitektur nusantara di dalam 10 buah perjuangan yang berbeda, dengan definisinya sendiri tentang Nusantara.

Di dalam Omah Library kami mengambil Nusantara untuk melihat apa yang penting dari kata tersebut, sejauh mana dampaknya untuk diperbincangkan, lalu pertanyaannya sejauh mana hal ini relevan di dalam komunitas – komunitas atau pribadi – pribadi yang saling berkelindan di dalam diskusi di Omah Library. Abidin Kusno mengambil 5 buah reposisi yang berbeda di dalam melihat Nusantara. Reposisi yang terakhir adalah latar belakang mengapa kuliah wacana Nusantara ini digulirkan.

Terkadang setelah acara saya menelpon Pak Josef untuk menanyakan pendapatnya, untuk melihat situasi yang mengukung beliau, apa perasaan beliau dengan pertanyaan, pernyataan yang satu dua hal terdengar mengadili dengan pretensi dari pihak yang berdiskusi. Hal ini saya lakukan karena beliau adalah orang yang patut diapresiasi dengan pencurahan seluruh energi hidupnya di dalam penyebaran dan kelahiran Arsitektur Nusantara. Ada beberapa kemungkinan – kemungkinan muncul di dalam diskusi yang dilakukan di Omah Library, mengenai bagaimana forum diskusi dan pemateri memaknai kekayaan dinamika budaya yang mewarnai wacana Nusantara di arsitektur Indonesia ke depannya.

  1. Munculnya diskusi yang kritis hasil dari pertemuan antargenerasi atau antarpengalaman orang – orang yang gelisah. Ada benang merah bahwa ketakutan yang muncul adalah wacana komersialisasi ataupun kompetisi yang mendegradasi perjuangan akan mencintai arsitektur tersebut. Dengan melihat akar permasalahan yang muncul, setidaknya bisa dipisahkan kompetisi dan komersialisasi dari perbincangan Nusantara yang lebih serius. Ataukah memang perlu ada dewan pengawas Nusantara untuk meregulasi bagaimana komersialisasi dan kompetisi Nusantara ini diturunkan ke ranah praktis. Saya harap tidak karena dasar filsafati yang terbaik adalah bagaimana membawakan diri dengan tepat, ketepatan ini ditunjukkan dengan suri Tauladan, memberikan ruang gerak pada penerus yang masih muda dan gelisah.
  2. Hubungan guru murid yang kental antara beberapa pembicara dengan Pak Josef Prijotomo. Keambiguannya terlihat dan terus muncul, meskipun diklarifikasi oleh beberapa orang yang membuat definisi – definisinya masing – masing dan berkelit dari hubungan yang memang nyata terjadi. Di dalam perdebatan Arsitektur Nusantara, saya masih melihat bahwa ada potensi luar biasa, hanya saja mungkin tongkat estafet itu sendiri perlu disibakkan oleh generasi penerusnya. Di antara hubungan guru murid tersebut, terlihat bahwa Pak Josef sendiri seakan – akan menantang murid – muridnya sekaligus memberi restu antara rasa euwuh pekewuh sekaligus kecintaan terhadap murid – muridnya. Hal ini perlu digawangi mungkin dengan kekuatan literasi.
  3. Adanya kesepahaman bahwa proses berpikir kritis diperlukan dengan saya tambahkan sebuah kebijaksanaan untuk merangkul orang yang tua dan yang muda dengan menjaga jarak dari hegemoni politik yang tidak diperlukan. Untuk itu pihak yang sadar (atau mudahnya bisa diinisiasi dengan Omah Library dan Jaringan Arsip Arsitektur Indonesia yang diinisiasi Mohammad Cahyo Novianto) perlu membantu menggawangi pendekatan akar rumput dari muda dan tua, antargenerasi hal ini dilakukan dengan bingkai acara perjalanan mengenal Indonesia dimana ini adalah usaha untuk merangkul orang – orang yang sudah mendokumentasikan arsitektur vernakular Indonesia untuk disebarkan dan memperkaya literasi arsitektur vernakular di Indonesia. Kita semua perlu bersatu bukan tercerai berai, untuk bersatu tersebut ditunjukkan dengan tauladan yang baik dengan menghindari pretensi yang muncul dalam menuangkan pemikiran.

Mari melangkah, banyak isu – isu lain yang layak dibahas seperti isu lingkungan, gender, ras, ekonomi kerakyatan, studio desain, dan banyak lagi. Mungkin kita akan bisa mendefinisikan Nusantara kembali setelah kita berjalan dan mengalami sebuah perjalanan ke empat penjuru dunia Barat-Timur, Utara-Selatan untuk mendapatkan kompas di dalam menjalani reposisi yang muncul di kemudian hari. Untuk menunggu hari itu tiba, mari kita mulai dengan Abidin Kusno, sebuah reposisi akan wacana Nusantara. Saya pikir jarak diperlukan untuk melihat bagaimana kedahsyatan Arsitektur Nusantara, energi yang mewakili salah satu dinamika arsitektur Indonesia.

Untuk menutup keseluruhan sesi ini, ijinkan saya meminjam pernyataan Mohammad Nanda Widyarta yang dituliskan ke dalam epilog buku,

Nanda menulis, “Menurut hemat saya, bila Arsitektur Nusantara kehilangan aspek perlawanan ini, maka ia akan menjadi kajian yang “itu-itu saja.” Maksudnya, ia masih juga terjebak dalam pengetahuan sebagaimana didefinisikan berdasarkan sudut pandang si pemilik hegemoni. Penggunaan istilah seperti “kearifan lokal” misalnya, masih menyiratkan adanya hegemoni dalam pemikiran si pemikir/periset. Arsitektur Nusantara sepatutnya bertindak sebagai pengingat bahwa ada banyak arsitektur-arsitektur lain di dunia yang juga patut diangkat.”

Dengan selesainya epilog dari Mohammad Nanda Widyarta di buku Nusantara kita bisa bersama – sama mengucapkan :


Hi semesta, ayam sudah berkokok berulang kali, selamat pagi, mari berjalan !

Dan pada akhirnya, saya perlu mengucapkan terima kasih terutama kepada Abidin Kusno yang mau berjibaku untuk mereposisi sebuah terminologi Nusantara dan memberikan tongkat estafetnya kepada kami – kami melalui Omah Library. Terima kasih juga kepada 10 pembicara yang sudah meluangkan waktunya untuk menyumbangkan 10 jembatan pemikiran reposisi lanjutan dari kuliah Abidin Kusno. Kesepuluh orang tersebut adalah Indah Widiastuti, Eka Swadiansa, Robin Hartanto, Mohammad Cahyo Novianto, Anas Hidayat, Revianto Budi Santosa, Mitu M. Prie, Defry Ardianta, Altrerosje Asri Ngawi, dan Johannes Adiyanto. dari kesepuluh orang tersebut kita memulai konstruksi pemikiran yang terbuka, rajutan pembangunan konstruksi yang sehat.

Terima kasih terbesar ada di Kirana Ardya Garini yang sudah membantu menyimpulkan kuliah demi kuliah, menemani di dalam sesi – sesi yang ada di dalam Nusantara, mengkordinasikan dan menjadi jembatan untuk banyak pihak. Juga kepada Satria Agung Permana, Amelia Mega Djaja, Dimas Dwi Mukti Purwanto untuk teman berdiskusi tanpa henti di dalam Omah Library, jembatan yang terakhir ini adalah doa untuk mereka berempat menjadi mata air baru untuk arsitektur Indonesia.

Dengan selesainya epilog dari Mohammad Nanda Widyarta di buku Nusantara kita bisa bersama – sama mengucapkan :

Hi semesta, ayam sudah berkokok berulang kali, selamat pagi, mari berjalan !
Publikasi buku yang dibuat oleh tim Omah Library, Tulisan ini berjudul Rentang Asa dalam Ragam Rona Nusantara yang Terselubung, atas dasar usulan Jolanda Atmadjaja untuk menanti – nanti kekuatan semesta terkait dinamika budaya yang melingkupi kebaikan setiap orang untuk selalu berproses dalam perjuangannya masing – masing.

Omah library dengan bangga mengeluarkan buku baru berjudul Nusantara: Reposisi
.
Masa mendekati perayaan 75 tahun merdekanya Republik Indonesia ini adalah saat yang tepat untuk menelusuri kembali imajinasi kita tentang negara, tak terkecuali juga hubungannya dengan ruang, makna, dan sejarah. Penelusuran tersebut kerap kali berujung dengan pertanyaan seputar “bagaimana kita memaknai Nusantara?”

Pemesanan buku @omahlibrary dapat melalui link di bio bit.ly/OrderOMAH atau hubungi Vivi (WA) 08998898239

Kategori
lecture

Awal Masa Depan Berhuni


DWELLING dan WAKTU
Ketika manusia mulai menghuni dunia, maka berbagai tingkatan hubungan antara manusia dan dunia akan terjadi. Christian Norberg-Schulz dalam bukunya The Concept of Dwelling mengungkapkan bahwa, dwelling atau “hunian” mempunyai makna lebih mendalam dari sekadar atap yang menaungi di atas kepala kita dan sejumlah meter persegi ruang yang kita
miliki. Menurutnya, dwelling mempunyai tiga arti; Pertama, ruang di mana kita bertemu dengan orang lain untuk bertukar produk, ide, dan perasaan, pada makna ini kita akan mendapatkan pengalaman kehidupan sebanyak mungkin. Kedua, Dwelling mencapai kesepakatan dengan orang lain di mana kita akan dihadapkan untuk dapat menerima seperangkat nilai-nilai umum di masyarakat. Ketiga, mengandung arti ketika kita telah menjadi diri kita dengan memiliki dunia kecil pilihan kita sendiri. Kita dapat menyebut ketiga arti itu masing-masing sebagai dwelling / hunian secara kolektif, publik, dan pribadi. Ketiga tingkatan ini memiliki dimensi ke-ruangan yang kompleks dalam sebuah konsep dwelling, karena hunian dengan konsep berhuninya harus dapat memberikan kontribusi
menyeluruh dalam kehidupan manusia di bumi. Martin Heidegger menggunakan istilah dwelling sebagai sebuah konsep menghuni atau cara
khas ada (dasein) di dunia. Tinggal di rumah, tidak hanya berada di dalamnya secara spasial dalam arti hanya menyisir dan berputar dalam lingkungan rumah saja. Sebaliknya, rumah sebagai sesuatu yang ada adalah milik dunia, dan orang yang menghuni didalamnya harus keluar untuk melihat langit-langit dunia. Hunian pada awalnya tidak merujuk pada tinggal di suatu tempat, tetapi lebih pada berhenti dan berlama-lama di jalan, dengan keraguan tentang ke mana harus pergi. Kata dwelling dalam bahasa Inggris kunonya adalah dwellan yang berarti mengembara (to wander) dan bertahan hidup (to linger). Secara filosofis, kata dwelling memberikan makna bahwa :untuk bertahan hidup, tidak dapat dilakukan dengan berdiam diri atau menetap tetapi harus mengembara Maka dwelling sebagai konsepmenghuni dan ada di dunia berhubungan dengan menetap dan berkelana. Dengan menetap dan berkelana inilah manusia belajar tentang konsep menghuni (sebagai ada) di dunia. Dalam mengisi dunia dan berhuni atas dunia, maka sebuah dwelling akan dihadapkan dengan
konsep waktu, yang membungkus secara keseluruhan dalam cara hidup manusia di dunia. Seperti yang dikatakan Albert Einstein bahwa ruang bukanlah sesuatu yang biasa kita bicarakan seperti atas-bawah, kiri-kanan, depan- belakang dan terpisah dari waktu. Ruang dan Waktu adalah nyatanya, dan bukan hal yang terpisahkan. Ruang dan waktu saling erat
terhubung dan berpaut. Dalam melihat hubungan antara dwelling sebagai ruang berhuni dengan waktu, ada beberapa pertanyaan menarik dapat diajukan, seperti :

MASA DEPAN BERHUNI
Berbasis pada Hari Ini
“ Hunian yang ada, dimaksudkan terutama untuk mendukung aktivitas “hidup”. Jadi, ketika gaya hidup berubah, desain hunian juga berubah. “
Stefan Junestrand & Konrad Tollmar

(1) “ Bagaimana
konsep dwelling menjawab tantangan waktu, dalam cara berhuni di dunia ?”

(2) “Bagaimana melihat hubungan antara dwelling dengan kondisi hari ini ? dan apakah ada konsep ke-ruangan yang berubah dalam perjalanan waktunya ?”

(3) “ Bila dwelling berkaitan dengan waktu, bagaimana arsitektur menjawab tantangan ini ?” Berbagai contoh ada di hadapan kita, misalnya perbedaan antara konsep dwelling pada masyarakat pada tahun 1980-an sebelum teknologi internet menjadi bagian hidup kita dengan tahun 2000an di mana internet telah mempengaruhi sebagian aktivitas manusia. Bahkan kini 40 tahun kemudian teknologi ini telah menyatu dengan kehidupan kita. Contoh lain, dalam drama Korea berjudul “Replay 1988” dan “Replay 1994, kita pun dapat merasakan perbedaan konsep kehidupan antar keluarga, tetangga, teknologi, komunikasi dalam konsep jarak dan waktu yang mempengaruhi perubahan suasana dwelling atau konsep berhuni
dalam kurun waktu 6 tahun di film tersebut, bahkan inipun berhubungan dengan kehidupan yang kita alami sekarang. Ketika pada Awal tahun 2020 dunia mulai diguncang dengan berita virus “Covid 19” aktifitas
manusia perlahan berubah, bahkan para ahli memprediksi keberadaan virus ini akan mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia, dan akan berpengaruh dengan konsep dwelling dimasa depan. Dengan kejadian ini saja, kehidupan yang kita jalani sebelumnya berubah secara dramatis. Aktivitas rutin ke kantor, ke toko, belajar, merayakan ulang tahun
bersama teman-teman, liburan bersama keluarga, olahraga di gym, kelas olahraga, kunjungan keluarga, pelukan, dan berjabat tangan semuanya terhapuskan dari daftar harian kita. Meski pada awalnya kita masih mencoba mengelak, pada akhirnya kita dituntut untuk menyesuaikan dan hidup berdamai – berdampingan dengan virus ini, pada suatu babak kehidupan yang di sebut “New Normal COVID 19”. Kata COVID 19 sengaja dilekatkan, karena New Normal sendiri adalah tahap perubahan yang bisa kita alami berulang kali dalam satu siklus kehidupan. Berbagai kejadian penting lainnya, seperti pemanasan global, kemacetan dan segregasi, dan urbanisasi yang cepat juga merupakan tantangan terbesar yang dihadapi dunia di abad ke-21. Bagi kita dan kebanyakan orang, perubahan apa pun yang berkaitan dengan planet, manusia, dan tempat memiliki dampak besar terhadap konsep ke-ruangannya dan akan mempengaruhi cara manusia berhuni atas dunia ini. Dalam perkembangan arsitektur dwelling berkaitan erat dengan konsep waktu (time), konsep ruang (space), konsep tempat (place) dan konsep untuk hidup (to live). Konsep ruang dan waktu menjadi penting karena menandakan di mana (where), kapan (when), dan bagaimana (how) seseorang benar-benar melakukan sesuatu – dalam hal ini untuk ‘tinggal dan berhuni atas dunia’ . Dalam hal ini, Konsep ‘hidup‘ dalam perspektif arsitektur adalah suatu kondisi ke-ruangan di mana manusia harus dapat hidup dan berhuni dalam ruang dan
waktu yang ada serta yang dilaluinya.

Kategori
blog

Cermin Aku

Baru saja kemarin saya bertemu dengan teman saya Eric Dinardi, dan klien saya yang sudah seperti keluarga saya, Djonny Taslim. Pertemuan itu berlangsung karena rumah Djonny Taslim yang saya panggil om di Danau Biru, akan difoto oleh Eric Dinardi. Pagi itu Eric sudah melakukan sesi foto di pagi hari, dan saya baru datang.
.
Saya menyapa Eric dan Om Djonny, dan membuka jalan untuk masuk ke kamar beliau yang privat, Joan (istri Eric) menyemprotkan disinfektan, dan membantu menata, merapihkan perabot dibantu oleh asistennya. begitulah proses yang berlangsung ketika pemotretan, terlihat mudah tetapi membutuhkan persiapan.
.

Setelah pemotretan di kamar Om Djonny selesai, kami semua dipersilahkan untuk makan pagi bersama, sementara Om Djonny bersiap – siap untuk mandi karena akan berangkat kerja. Di meja makan disediakan bakmi 1 porsi, dan bihun 2 porsi. Om Djonny bertanya “kamu mau yang mana Rich ?” saya bilang, saya bihun saja om, supaya Eric dan Joan bisa saling mencicipi masakan yang berbeda. Setelah itu kami makan dan Om Djonny mempersiapkan dirinya, setelah menyetel lagu dengan speaker yang disiapkan dari dalam rumah.
.
Ketika kami makan, awal mulanya Eric mempertanyakan hal – hal yang fundamental, seperti “pernah kepikiran ngga sih ? saya ini maunya mencari apa ?” saya sebenarnya bingung darimana Eric bisa mendapatkan pertanyaan seperti itu. Hal ini seperti komposisi yang dimainkan oleh Ravel S. Gunardi dengan karya Victorious dari Levi Gunardi bahwa ada hal yang memuncak, sebuah keinginan untuk memurnikan diri. Diskusi kemudian berlanjut ke hal – hal seperti pendalaman diri, karya, dan pentingnya metode, skill untuk mempertajam karya, sampai satu saat Om Djonny Taslim bergabung duduk di meja makan. Saya kemudian mengarahkan pertanyaan ke beliau, dan meminta beliau mengeluarkan pendapatnya mengenai pendalaman diri, desain, arsitektur, fotografi sampai industri. Ia membuka diskusi dengan sebuah kalimat,

Ketika kami makan, awal mulanya Eric mempertanyakan hal – hal yang fundamental, seperti “pernah kepikiran ngga sih ? saya ini maunya mencari apa ?” saya sebenarnya bingung darimana Eric bisa mendapatkan pertanyaan seperti itu. Hal ini seperti komposisi yang dimainkan oleh Ravel S. Gunardi dengan karya Victorious dari Levi Gunardi bahwa ada hal yang memuncak, sebuah keinginan untuk memurnikan diri.
foto bersama Eric dan Joan bertemu dengan Djonny Taslim. Diskusi kemudian berlanjut ke hal – hal seperti pendalaman diri, karya, dan pentingnya metode, skill untuk mempertajam karya, sampai satu saat Om Djonny Taslim bergabung duduk di meja makan. Saya kemudian mengarahkan pertanyaan ke beliau, dan meminta beliau mengeluarkan pendapatnya mengenai pendalaman diri, desain, arsitektur, fotografi dampai industri. Ia membuka diskusi dengan sebuah kalimat,

“Jadi terkenal salah, ngga terkenal pun salah.”

Ia menjelaskan bahwa sebenarnya kami perlu mempertanyakan apa yang kami mau raih, di antara menjadi terkenal ataupun tidak terkenal, ada maksud masing – masing yang kontekstual dengan kebutuhan dan keinginan, juga persiapan. Ia berkata bahwa, penting untuk memiliki kawan untuk bertukar pikiran, jangan maju gegabah ke sebuah peperangan, menjadi terkenal ataupun tidak terkenal tidak masalah asalkan ada kebersamaan. Segala hal perlu disiapkan, sistematika pemikiran, ekonomi, hubungan relasi, dan hal – hal yang mendasar supaya begitu kamu terjun, kamu akan berprestasi. Dan pada akhirnya ia menitipkan ke kami, dan ingat tidak semua orang bisa menghargai karya kamu, yang terpenting, kamu harus bisa menunjukkan kenapa satu karya itu lebih unggul dari yang lain, dengan bukti, dan semua pembuktian itu membutuhkan waktu.

Batu Andesit yang disusun dengan pengaturan yang natural, kesan tidak teratur namun teratur, pola dalam kebersahajaan sesuai dengan karakter kesederhanaan. Dan pada akhirnya ia menitipkan ke kami, dan ingat tidak semua orang bisa menghargai karya kamu, yang terpenting, kamu harus bisa menunjukkan kenapa satu karya itu lebih unggul dari yang lain, dengan bukti, dan semua pembuktian itu membutuhkan waktu.
Foto bersama Djonny Taslim di rumah yang didesain di Danau Biru, sebuah konsep rumah kommunal yang dilanjutkan di dalam konsep rumah di Bukit Golf, mengenai hidup bersama – sama, sebuah konsep harmoni. Pertemuan kali ini berlangsung kira – kira hari rabu, 3 hari yang lalu. Saya masih mengendapkan, bahwa memang kami, Eric, Om Djonny, dan saya sendiri, berelasi dan kami perlu untuk saling mendukung satu sama lain, dan hal tersebut diwarnai saat – saat makan bersama di pagi hari di Danau Biru.

Pikiran saya kembali ke masa 2011, rumah Om Djonny dibangun dalam jangka waktu hampir 5 tahun, dan 9 tahun kemudian, baru kami berkumpul bersama, dan Eric ada disitu untuk memotret bagaimana rumah ini selesai dari tahun 2017. Waktu menjawab soal kualitas relasi, keutuhan, dan rasa kesabaran dari hanya hubungan klien dan arsitek. Pertemuan itu berlangsung kira – kira hari rabu, 3 hari yang lalu. Saya masih mengendapkan jawaban dan pertanyaan yang muncul, bahwa memang kami, Eric, Om Djonny, dan saya sendiri, berelasi dan kami perlu untuk saling mendukung satu sama lain, dan hal tersebut diwarnai saat – saat makan bersama di pagi hari di Danau Biru.
.
Sore ini Laurensia mengirimkan cerita ini ke saya :
.
Seorang Anak Muda sedang membersihkan aquarium Paman nya, ia memandang ikan arwana agak kebiruan dengan takjub..
Tak sadar Pamannya sudah berada di belakangnya .. “Kamu tahu berapa harga ikan itu?”. Tanya sang Paman..
.
“Tidak tahu”. Jawab si Anak Muda..
.
“Coba tawarkan kepada tetangga sebelah!”. Perintah sang Paman.
.
la memfoto ikan itu dan menawarkan ke tetangga .. Kemudian kembali menghadap sang Paman.. “Ditawar berapa ?” tanya sang Paman. .
“50.000 Rupiah Paman”. Jawab si Anak Muda dengan mantap.
.
“Coba kau tawarkan ke toko ikan hias!!”. Perintah sang Paman lagi.
.
“Baiklah Paman”. Jawab si Anak Muda. Kemudian ia beranjak ke toko ikan hias..
.
“Berapa ia tawar ikan itu?”. Tanya sang Paman.
.
“800.000 Rupiah Paman”. Jawab si Anak Muda dengan gembira, ia mengira sang Paman akan melepas ikan itu.
.
“Sekarang coba kau tawarkan ke Juragan Joni Rahman (nama – penamaan cerita ini tidak ada kaitan dengan Djonny Taslim ataupun siapapun, saya hanya menampilkan mentah – mentah cerita yang dikirimkan Laurensia)

, bawa ini sebagai bukti bahwa ikan ini sudah pernah ikut lomba”. Perintah sang Paman lagi. “Baik Paman”. Jawab si Anak Muda. Kemudian ia pergi menemui Pak Joni yang dikatakan Pamannya. Setelah selesai, ia pulang menghadap sang Paman.
.
“Berapa ia menawar ikannya?”. “50 juta Rupiah Paman”.
la terkejut sendiri menyaksikan harga satu ikan yang bisa berbeda-beda.
.
“Nak, aku sedang mengajarkan kepadamu bahwa kamu hanya akan dihargai dengan benar ketika kamu berada di lingkungan yang tepat”. “Kita semua adalah orang biasa dalam pandangan orang-orang yang tidak mengenal kita”. “Kita adalah orang yang menarik di mata orang yang memahami kita”. “Kita istimewa dalam penglihatan orang-orang yang mencintai kita”. “Kita ada lah pribadi yang menjengkelkan bagi orang yang penuh kedengkian terhadap kita”. “Kita adalah orang jahat di dalam tatapan orang-orang yang iri akan kita”. Pada akhirnya, setiap orang memiliki pandangannya masing masing terhadap kita, maka tak usahlah bersusah payah supaya kelihatan baik dimata orang.

Tapi berusahalah terus melakukan kebaikan dan menjalankan apapun dengan keikhlasan.

Refleksi ini muncul secara paralel di dalam wacana perbincangan arsitektur soal Nusantara dari Altrerosje Asri dan Johannes Adiyanto soal pentingnya membuka diri dan pentingnya merendahkan hati untuk bercermin kepada situasi – situasi yang membuat manusia perlu untuk beradaptasi dan mempertanyakan pemikirannya sendiri, bahwa perubahan itu ada, tidak ada yang sempurna, mari belajar kembali. Dari mereka berdua ada sebuah kegelisahan untuk melangkah maju, termasuk dialog dengan Eric Dinardi dan Djonny Taslim, termasuk Joan.

Cerita – cerita di atas ini setidaknya membuktikan satu hal, bahwa terkadang waktu bisa menjawab segalanya, dan memang Tuhan bekerja dengan caranya yang indah dan misterius untuk mempertemukan jiwa – jiwa yang gelisah.

Cerita – cerita di atas ini setidaknya membuktikan satu hal, bahwa terkadang waktu bisa menjawab segalanya, dan memang Tuhan bekerja dengan caranya yang indah dan misterius untuk mempertemukan jiwa – jiwa yang gelisah.


Lalu ada suara yang hangat menyapa,

“makanya bangun, dan hari ini jangan lupa berdoa ya, dan membuka dirimu terhadap hal – hal yang baru”

Kategori
lecture

Aurora – Itera Lampung

Terima kasih Himpunan Mahasiswa Arsitektur Swarnapada ITERA sudah mengundang untuk berbicara mengenai kejujuran di dalam arsitektur. Yang menarik adalah acara ini saatnya untuk menampilkan substansi yang otentik dengan dasar setiap arsitek perlu untuk berbuat radikal di dalam praktiknya. Lalu apa arti radikal di dalam praktik yang sebenarnya sifatnya situasional, bentang proyek terlihat dinamis di dalam hubungannya terhadap brief klien, perubahan metode – metode dan hasrat arsitek untuk melakukan inovasi.

Di dalam kuliah ini, saya akan mencoba membagi – bagi apa itu arti dari kejujuran, dan apa saja dampak positif yang timbul di dalam karya yang terdesain, hubungan antara dengan klien, tim, dan apresiasi dari publik terhadap karya arsitektur yang ditimbulkan.

Setiap momentum berbagi adalah sebuah saat untuk merefleksikan diri dengan kritis, berbagi adalah saat- saat membagi semangat kepada adik – adik kita, yang semoga bisa meneruskan tongkat estafet menjadi arsitek yang baik, juga jujur.

Himpunan Mahasiswa Arsitektur Swarnapada ITERA kembali hadir melanjutkan rangkaian acara Aurora 2.0, Webinar akan dilaksanakan dengan tema “Kejujuran dalam Arsitektur”.
Webinar kali ini kita mengundang praktisi arsitektur yang akan membahas topik menarik, bersama:
•Realrich Sjarif (RAW architecture)
•Andy Rahman (andyrahmanarchitect)
•I Ketut Dirgantara (DDAP architect)

Kami juga mengundang akademisi arsitektur dari ITERA yaitu Pak Rendy Perdana Khidmat yang akan mengisi seminar bertema “Kehidupan Berarsitektur: Studi di Luar Negeri”

📌Mark the date!📌
Webinar dilaksanakan pada:
22-25 September 2020

[BIAYA]
Early Bird 20k
Reguler 35k
segera daftar pada link berikut:
bit.ly/seminarAURORA

Informasi lebih lanjut silahkan hubungi:
WA: 0821 8048 4671 (era) | 0812 7825 3110 (nabila)
Line: 1234efforta | nabilanurulp02
IG: @aurora.itera
e-mail: aurora.itera@gmail.com, Himarswarnapada, Aurora3.0, Webinararsitekur

Kategori
lecture

THE PROCESS OF BECOMING AN ARCHITECT

Thank u @himarsunikom, I will share how to have fun, get inspiration, talking about passion, starting firm, facing failures, and servicing clients, then nurturing next generation of avant garde architects wholeheartly
.
“THE PROCESS OF BECOMING AN ARCHITECT”
.
Haloo teman teman semua,
Sebagai penggiat arsitektur muda, kiranya kita harus dapat menelaah dan mengetahui seluk beluk dunia Arsitektur sedari awal hingga menjadi arsitek. Oleh sebab itu, maka HIMARS UNIKOM mewadahinya melalui sebuah webinar berdasarkan hal tersebut.
.
Free entry & limited slot.
.
Untuk pendaftaran webinar, dapat melalui link https://forms.gle/nnXXb7eJufB5f3CUA. (link tertera di bio @himarsunikom)
.
Free E-certificate
.
Untuk info lebih lanjut silakan hubungi :
Indra Hidayatullah = 081615482776
Muhammad Al Fariz = 082124618743
Via WhatsApp (Text only)
.himarsunikom, weproud, webinararsitektur, architecture, arsitekturjawabarat, salamkami

Kategori
lecture

Arsitek di Dalam Lingkungan Binaan

Pada 31 Agustus 2020, Arsitektur Pradita University mengadakan kuliah tamu bersama arsitek profesional Realrich Sjarief, IAI.

Beliau merupakan founder dari RAW (Realrich Architecture Workshop). Beliau lulusan dari Architecture Design Institut Teknologi Bandung (ITB) dan untuk gelar masternya di University of New South Wales (UNSW) dengan Urban Design and Development.

#praditauniversity#epiviosipradita#arsitekturpradita

Kategori
blog

Jalan yang Sepi

Minggu depan, kuliah S3 dimulai. Ada 3 mata kuliah yang saya ambil, pertama adalah mata kuliah wajib metodologi penelitian yang diampu oleh Professor Iwan Sudrajat, dan kolokium yang diampu oleh Professor Sugeng Triyadi, dan Dr. Ir. Himasari Hanan. Yang kedua adalah filsafat ilmu pengetahuan yang diampu Professor Bambang Sugiharto.

The Road Not Taken – Jalan yang tidak diambil, Puisi dari Robert Frost.

Yang menarik adalah kenapa saya mengambil studi S3 ini, apakah ada waktunya ? lalu apa yang dicari ? Saya ingat satu kawan taruhlah namanya Abramovic menanyakan, atau bukan menanyakan tapi memberikan pernyataan yang cukup aneh mungkin terkesan punya presumsi tertentu,

“elo niat banget sih – semua mau – kantor mau / bikin buku mau / anak banyak mau / sekolah terus mau hehehehee 👍🏼👍🏼👍🏼👏🏼👏🏼👏🏼”

mungkin pernyataan pertama “kantor mau” itu muncul dari observasi kawan saya ini bahwa saya sudah membuat studio Realrich Architecture Workshop (dikenal dengan nama RAW Architecture), dimana studio tersebut adalah tempat saya dan anak – anak saya bereksperimen. Kami berusaha untuk terus bereksplorasi, bertanya, dan mencoba mencari tahu mengenai kemungkinan – kemungkinan eksplorasi. Menurut saya yang menarik adalah membongkar kondisi kata “mau” sebagai predikat dan objectnya “kantor”.

Pernyataan kedua “bikin buku mau”, lebih kepada observasi kawan saya ini akan saya dan kawan – kawan sudah membuat beberapa buku di Omah Library, tempat dimana kami membuka wacana – wacana yang diskursif. Dimana buku – buku tersebut adalah hasil dari proses dialog – dialog yang ada, satu arah, dua arah, ataupun tiga arah, arah – arah tersebut ada di dalam perspektif orang yang lain yang dibangun dengan repetisi yang saling membangun.

Pernyataan ketiga “anak banyak mau”, berkaitan dengan kelahiran Heaven anak kami yang kedua (lihat artikel “Heavenrich Selamat Datang Surga”), setelah beberapa kali mencoba dan tidak kunjung berhasil. Disini mungkin perlu dilihat perjuangan Laurensia di dalam menahan suntikan demi suntikan, ataupun, proses – proses kehilangan buah hati kami yang membawa rasa syukur akhirnya Heaven lahir dan menjadi kesayangan kakaknya juga.

Pernyataan keempat “sekolah terus mau”, muncul dari observasi terhadap kemauan untuk bersekolah (saya coba balikkan kalimatnya). Hal ini dikaitkan dengan mungkin usaha mahasiswa untuk mendapatkan gelar S “3 (atau saya simpelnya berbicara kadang es tung tung)” dimana hal tersebut menjadi salah satu tolak ukur sebagai pengajar. Proses tersebut adalah proses menemukan diri, dengan membongkar tatanan dengan sistematis, dan menyusun ulang dengan sistematis. Bu Himasari berkata pada sebuah saat tatap muka, “S3 itu bukan proses problem solving, tapi proses menemukan ilmu baru dengan pembacaan obyek yang diteliti.”

Saya merefleksikan darimana saya mendapatkan kondisi pemikiran untuk mau bersekolah kembali untuk meneguhkan kemauan diri supaya bisa berjalan sampai selesai (titik). Mungkin saya mencari sebuah oase perhentian, tempat untuk berpikir, berhenti sejenak, dan tempat untuk menilai, mendiskusikan, menambal, dan mengikis jelaga dari apa yang sudah dipikirkan, lakukan, rasakan. Mungkin manusia itu sebenarnya hanya menjadi jembatan yang berkelindan di antara dirinya dan orang lain, lalu kalau ditanya maunya apa, “kita berbagi kondisi – kondisi yang sama, dan juga berbeda, namun dari kesamaan tersebut kita bisa berbagi tentang matahari dan bulan yang sama dan meninggalkan bayangan yang berbeda – beda.

Kawan saya yang lain di satu saat Johannes Adiyanto mengirimkan pesan,

“beberapa teman yg ty sy ttg s3, selalu sy tanya, mo ngapain s3? cr pamor, ato cari apa? klo sekedar sibuk dan demi karir dosen… siap2….siap2 sakit semua badan, krn yg dikejar gak terlihat mas,perlu dari dalam sendiri, lha jenengan skrg dalamnya adalah suwung dan pasrah, ini modal, tp perlu ‘api’, ya itu tadi… pertaruhkan semuanya….” – Johannes Adiyanto

Teringat dahulu di dalam perjalanan karir di negeri Kuda Besi (kawan saya, yang lama tidak saya jumpai Marissa Aviana menyebut), dimana keputusan diambil dengan pertaruhan. Dan saya pikir, banyak orang juga mempertaruhkan banyak keputusan – keputusan dalam hidup masing – masing, dan kondisi – kondisi yang memicu pertaruhan tersebut membuat kita sedang berbagi tentang matahari dan bulan yang sama dan meninggalkan bayangan yang berbeda – beda.

Ini adalah tulisan saya sebelumnya tentang berbagi jalan, yang saya lampirkan juga puisi dari Robert Frost sebagai tempat refleksi :

SETIAP MINGGU WANITA TERBAIKKU SELALU BERANGKAT KE KLINIKNYA, TERMASUK HARI SABTU PAGI.

“Dari hari senin sampai kamis ia harus ke puskesmas, dari pagi jam 6 pagi sampai jam 9 malam. juga hari jumat dan sabtu. Terkadang kemudian kita bercerita hal – hal yang biasa, namun selalu membuat hal – hal yang biasa menjadi luar biasa dengan tertawa. Ternyata kita masih bisa tersenyum dibalik kesibukan yang luar biasa…”

The Road Not Taken – Jalan yang tidak diambil.

“Dua jalan bercabang dalam remang hutan kehidupan,

Dan sayang aku tidak bisa menempuh keduanya

Dan sebagai pengembara, aku berdiri lama

Dan memandang ke salah satu jalan sejauh aku bisa

Ke mana arahnya mengarah di balik semak belukar

Kemudian aku memandang yang jalan yang lain, sama bagusnya,

Dan mungkin malah lebih bagus,

Karena jalan itu segar dan mengundang

Meskipun tapak yang telah melewatinya

Juga telah merundukkan rerumputannya

Dan pagi itu keduanya sama – sama membentang

Di bawah hamparan dedaunan rontok yang belum terusik.

Oh kusimpan jalan pertama untuk kali lain!

Meski tahu semua jalan berkaitan

Aku ragu akan pernah kembali

Aku akan menuturkannya sambil mendesah

Suatu saat berabad – abad mendatang;

Dua jalan bercabang di hutan, dan aku,…

Aku menempuh jalan yang jarang dilalui,

Dan itu mengubah Segalanya.”Robert Frost [1916]

Dan seketika saya, tersadar, ternyata masih ada pernyataan terakhir dari kawan saya satu lagi itu yang mungkin memiliki presumsi, menyisakan Pernyataan kelima “hehehehee 👍🏼👍🏼👍🏼👏🏼👏🏼👏🏼” yang saya anggap sikap sebagai kawan dan dukungan untuk perjalanan yang akan dimulai, dengan gestur terkekeh – kekeh.

dan memang hal itu mengubah segalanya, menjadi begitu menyenangkan :) .

lalu,

“Dang Dut Time !” mumpung sepi ngga ada yang liat, hi hi. Ayo jalan, ga usah dipikirin kaya ngga ada kerjaan aja.

Es lilin adalah makanan penyegar berupa es dengan batang kayu sebagai alat untuk dipegang.Hal ini seperti permisalan seperti es (S) 1, es (S) 2, es (S) 3. sebuah bentuk yang baku seperti lilin yang dicetak siap untuk disajikan. Ia bisa mencair, yang dinikmati bersama sesuai selera. bisa jadi semakin ditambah S nya akan semakin membeku mulut kita, atau apabila dinikmati perlahan – lahan, rasa beku tersebut akan melumer dan nikmat dimulut lengkap dengan jus jeruk, durian, nangka, stroberi, kopyor, atau yang lainnya sesuai selera) yang diberi batang kayu lalu dibekukan.
Kategori
blog

Tat Twam Asi | Dia adalah Aku, dan Aku adalah Dia.


“Dalam tradisi lisan, Arsitek melibatkan semua entitas yg [di]hadir[kan]. Arsitek sbg koordinator atas semua entitas yg hadir.
Pdhl masing2 entitas punya tingkat pemahaman yg beda2 satu sama lain dalam menafsir (cerita) arsitektur yg sama. Bagaimana menghadirkan keutuhan & kesatuan arsitektur, shg arsitektur bs diibaratkan sebagai orkestrasi yg terpadu antar masing2 entitas … memainkan improvisasinya masing2.” – Pudji P Wismantara

Kalimat di atas di atas dilontakan dari Pak Pudji P Wismantara mengenai cerita di dalam sesi presentasi mengenai Cerita Nusantara yang dibawakan oleh Anas Hidayat.

Dari diskusi yang terjadi sebenarnya yang dibahas adalah adalah soal dialog di dalam melihat berbagai pandangan, Arsitektur seperti karya sastra, bukan menulis karya ilmiah, menulis hal – hal yang konotatif ataupun denotatif, menulis simbol – simbol yang harus diisi, dan menjadi proses berkarya yang hidup. Hal inilah yang kemarin dibicarakan oleh Johannes Adiyanto soal dialog, ia mengelaborasi ini kedalam bentuk Trialog.

Cerita Pak Eddy Bahtiar tentang prosesnya di dalam The Guild, Guha, dan Mekarwangi

Pak Edy Bahtiar yang saya kenal adalah seseorang yang telah banyak membantu saya sejak pembangunan rumah Istakagrha, Mekarwangi, sampai ke proyek The Guild – Guha. Video ini adalah arsip untuk proses ketukangan yang sedang dijalankan di dalam studio di rentang tahun 2016 – 2017 – 2018 (tengah). Sekarang proses ini masih berjalan.

Data ini sebenarnya bertujuan untuk mendengarkan suara langsung dari dimensi tukang. Ada persepsi – persepsi yang khas dengan persepsi langsung dari Edy. Di dalam proses pembangunan, seluruh hasil memerlukan pertimbangan matang, terukur, dan pertimbangan dari insinyur struktur, MEP, dan saya sendiri untuk sebuah eksperimen arsitektur. Sebagai arsip data – data ini dibutuhkan oleh kawan saya Johannes Adiyanto yang menyusun sebuah konstelasi yang dinamakan Alfa menuju Omega, sebuah Trialogi Praksis.

Ini babak – babak yang ada di dalam video :

00.10 – Sebelum pak Eddy bergabung

07.30 – Cerita membuat 3 bentuk piramida – tumpang sari

12.20 – Tantangan demi tantangan

19.30 – Clue Catenary (membentuk pintu lengkung)

24.30 – Proses hampir selesai – 99 % proses bersama – sama 3

3.50 – Sebuah kemungkinan

Kita kembali ke diskusi Cerita Nusantara, saya ingat, Mas Nurudin pun menyambut dengan pernyataan tentang dialog di diskusi tersebut

“Arsitek mungkin bisa diibaratkan memberikan cerita awal. Barulah dari cerita awal tersebut masukan2 muncul terkait cerita itu. Tanpa cerita itu mungkin tidak ada dialog dan masukan. Seperti ngobrol di angkringan itu. Arsitek bisa menjadi “pemantik” obrolan. Arsitektur tidak mendominasi tapi justru membuka obrolan. cair sifatnya
kalau digital saya bayangkan mirip wikipedia. cair. terbuka. semua boleh ikut edit. Hanya saja mungkin yang perlu dipikirkan bagaimana menjaga akurasi informasi di era digital yang sangat masif arus informasinya (?)” – Nurudin

Kehidupan di dalam proyek cukup kompleks, dengan setiap orang memiliki posisi masing – masing, posisi arsitek, tukang, klien, kritikus, tukang, tetangga, dan begitu banyak posisi – posisi yang lain.

Aku adalah dia dia adalah aku, Prof. Oka Sarasvati membahas ini di dalam dialog di dalam bentuk tattwamasi. Tat twam asi berarti “itu adalah kau”. “Kau” di sini mengacu pada substrat yang tak lepas dari setiap individu. Hal tersebut bukanlah tubuh, pikiran, pancaindra, atau sesuatu yang dapat teramati. Hal tersebut adalah sesuatu yang paling dasar, jauh dari segala sifat keakuan. Dalam pengertian ini, “kau” berarti atman. Entitas yang dimaksud dengan kata “itu”, menurut Weda, adalah Brahman, realitas yang melampaui segala sesuatu yang terbatas. Intinya Tat twam asi adalah dia adalah aku, dan aku adalah dia.

Titik utamanya adalah adalah bagaimana membangun dialog yang saling merajut, seperti air yang mengalir.

Kemudian saya terkejut, ketika merasakan air mandi di satu hari di Mekarwangi-Piyandeling.

“dinginnnn”

Kategori
blog

RAW Architecture is Longlisted Emerging Architect in Dezeen 2020

Kami mendapatkan email dari Aisling Cowley dari Dezeen, tentang kabar baik untuk studio RAW Architecture. Jadi studio kami mendapatkan nominasi (long listed) berarti daftar panjang untuk arsitek yang “emerging”. yang berarti, baru muncul ( Emerging bisa berarti : becoming apparent or prominent.”established and emerging artists”).

Saya meminta anak – anak untuk menuliskan kesan – pesan di Studio. Ini pesan saya ke anak – anak sebagai harapan dan refleksi proses perjalanan kami, dan saya tuliskan disini dengan harapan untuk membangun kultur studio saling berdialog.

“Hi (guys)…tolong kasih pesan dan kesan ya, semoga bisa jadi harapan yang baik untuk proses yang terjadi.”

Ini satu dialog saya dengan Johannes Adiyanto,

“Realrich Sjarief : bagaimana bisa trialog, kalau dialog saja tidak pernah dilakukan
Jo Adiyanto: hahahaha…. bagaimana bercinta…. berkenalan saja antipati…..”

Paguyuban Spirit – I had learned that architecture is sacred, and is all about collaboration process. Our team consists of dedicated craftsmen, young designer, many of them are brothers, sisters, friends for life. None of these was of more use to me than the call for long lasting relationship. If any Outlier wished to be successful in his place, we helped them to rise, which all who were within hearing answered yes to the bright future of all of my fellow family. Then the nature will call of reciprocal rules, that every kind people deserve to be succesful, effort should be noted, and thanked for. It will be appreciated. That is the beautiful side of monumental architecture, that is creating memories for all of the people’s in.

Alifian adalah kepala studio RAW Architecture, dan ada beberapa orang yang juga memberikan kesan pesan tentang studio.

Alifian Kharisma – “kultur studio RAW tidak lepas dari karakteristik seorang kak rich. yang tangkas, mendidik, dan passionateful. dari ribuan jam sy di studio rasanya selalu ada hal baru menanti. ‘there is no problems if new one arrives every minute’. kutipan di ppt raw introduction yg selalu sy bacakan buat para staff baru dan anak magang. ini kesan saya yang pertama. Bekerja seperti belajar berenang, kadang dibimbing, kadang dilepas. kalau tenggelam ada yg ngangkat ke permukaan lagi. kak rich dan para senior itu mentor sy untuk berenang. kak rich pun masih belajar dengan guru dan tingkatan yg berbeda. seiring pengalaman, saya juga harus menjadi mentor untuk yg lebih muda. kesan yang kedua yaitu: setiap orang di studio ini punya kepribadian masing2 yg unik. punya skill skill yg tidak terduga, jago bola, musik, jago joget, jago kerajinan tangan, dll. orang orang datang dan pergi. mereka punya kesan masing2 bahkan untuk orang yg cuma punya waktu 1 hari di studio. 😆. dari sini saya bersyukur kenal macam macam orang.”

Fadiah – “26 September 2020 nanti tepat 4 tahun saya bergabung dengan RAW Architecture. Bukan waktu yang sebentar tapi juga masih sangat dini dalam berkarir di dunia arsitektur. Untuk saya pribadi, proses pendewasaan dan perubahan pola pikir saya banyak terjadi dalam masa-masa tersebut. Saya beruntung dipertemukan oleh teman-teman dengan karakter unik yang akhirnya banyak membuka pikiran saya. Dunia arsitektur sangat luas cakupannya. Dulu saya kira dengan saya tidak mahir dalam mendesain … saya tidak bisa melanjutkan karir saya di bidang arsitektur. Tapi setelah saya masuk …, saya menemukan kenyamanan dalam pola kerjanya. Menggambar detail, mencari solusi untuk lapangan, diskusi dengan principal sampai mandor, mengenal material, dll. Memperhatikan proses dalam mewujudkan bentuk dari gambar ke bentuk nyata di lapangan memberi kepuasan sendiri untuk saya, …”

Vivi Yani Santosa – “Bagi saya RAW itu studio yang besar dan hebat, bangga bisa termasuk di dalamnya. Besar karena bisa memberi impact kebanyak orang (tukang2, kami yang ada di studio, dan Kak Rich n fam) buat sama2 belajar dan memberikan apa yang terbaik dalam diri ke orang luar (klien, keluarga, org sekitar spt Bang Yus, ataupun org lain yang baca artikel dari RAW atau OMAH). Hebat karena ada proses give and take, bisa berusaha membuka lapangan pekerjaan buat banyak tukang, termasuk membuat koneksi ke kontraktor … jg sesuatu yg hebat karena jadi sama-sama belajar dan membuka diri ke orang lain untuk saling percaya. Pastinya RAW jauh dari sempurna tapi saya merasa ada proses berjalan ke arah yang lebih baik lagi dan itu baik :) Disini saya jg merasa bisa belajar untuk lebih berani mencoba banyak hal, menyuarakan ide / potensi diri, mendapat feedback, belajar untuk memiliki komunikasi yang baik (ke tukang, ke teman, ke kak Rich), dan keberanian untuk mengambil tanggung jawab lebih (karena apa yang dikerjakan pasti menyangkut ke orang berikutnya ataupun ke pekerjaan lapangan). Belajar juga kalau ada hal yang lebih fatal daripada kesalahan yaitu tidak mencoba atau malu bertanya…RAW harus terus maju tanpa memusingkan perkataan orang lain tapi mendengarkan saran yang membangun, jangan terlalu tergesa2 dalam semua hal, tp terus maju ke arah yang lebih baik…”

Thomas Andrean Santoso – “Hal yang paling berkesan selama di RAW adalah ruang untuk belajar. RAW adalah ruang untuk belajar mulai dari teknikal hingga hal mendasar yg bersifat attitude dan semangat.
Attitude dan semangat tersebut mulai dari semangat belajar, semangat kesejawatan, dan semua halnya untuk membuat karya yang semaksimal baik dan benar. Idealis memang, tapi itu yang saya rasa perlukan untuk bisa dikembangkan. Pesan untuk RAW dan OMAH untuk tetap semangat berbagi dengan insan arsitektur di Indonesia.”

Timbul Arianto- “Selama bekerja di RAW saya menemukan banyak sekali hal baru yang belum pernah sama sekali djalani, banyak insight baru, baik dari segi design maupun implementasi. RAW memberikan ruang dan memberikan kesempatan untuk seorang Freshgaduate seperti saya untuk dapat berkembang dan menemukan jati diri, mengenali diri. Bekerja di RAW melatih seorang individu untuk berfikir taktis mampu memilah-milah, mengenali, dan menyelesaikan masalah (problem) karna untuk mengenali masalah saja dibutuhkan knowledge yang cukup. Ekosistem yang terbentuk sekarang di RAW mengharuskan untuk setiap individu memiliki inisiatif dan berkapasitas besar, untuk saya sendiri hal ini cukup menarik dan menantang, melihat betapa dinamisnya jenis pekerjaan dan metode penyelesaiannya sehingga memunculkan berbagai excitement tertentu terlepas dari berbagai obstacle yang dihadapi. Saya sendiri menilai ini sangat baik jika boleh saya refleksikan terhadap diri saya untuk dapat berkembang dan memperoleh skill yang mumpuni, seperti belajar di sekolah favorit yang terus terpacu oleh diri sendiri yang terus berkontemplasi, berimajinasi dan berfantasi… saya sendiri yakin bahwa RAW banyak sekali berkontribusi terhadap pembentukan individu-individu yang sudah pernah dan sedang terlibat ikut serta dalam proses berkaryanya. segala yang baik akan terus dijalankan, dikembangkan, dan dilestarikan oleh setiap orang, …”

Riswanda Setyo Addino – “Hal yang menarik ketika ditempatkan pada kondisi lapangan yang dikatakan oleh orang Indonesia ‘tidak akan sama dengan teori’. Namun disini saya menemukan bahwa pendapat itu seharusnya mulai ditambahi ‘namun dengan teori yang fundamental kita bisa menata pikiran untuk menyelesaikan sebuah kasus secara rapi dan meminimalisir efek samping.’. Karena pada dasarnya yang menciptakan apa yang disebut sebagai ‘teori’ adalah praktisi juga namun dengan konteks yang berbeda. Namun konteks tersebut jika dirinci memiliki variable yang bisa jadi memiliki beberapa kesamaan dengan konteks yang kita hadapi. Sehingga ‘teori’ yang kita implementasikan nantinya hibridasi dari dua konteks, sehingga kita bisa mengatakannya sebagai ‘teori’ baru ke orang lain. Sehingga ‘teori’ tersebut sah-sah saja untuk digugat dan diuji dan pasti berbeda dengan situasi lainnya. Bisa jadi dari waktu, musim, insiden, kualitas manusia, tingkat referensi, dan tentunya teknologi…”

Agustin (Meimei) – “Beberapa hal yang didapat dari studio, yaitu saya belajar bagaimana untuk membuat keputusan, berkomunikasi dan berkoordinasi bersama tim, subkon, supplier, dan lainnya. Jujur lebih banyak pengalaman yang didapatkan di studio dibanding dengan di kampus. Untuk sistem yang sekarang dimana saya duduk di dekat kak Rich, awalnya membuat saya gugup. Tapi setelah mengalami, banyak hal yang malah membuat ekspektasi saya mental. Duduk di dekat kak Rich membuat masalah yang ada langsung terpecahkan. Memudahkan berdiskusi mengenai desain ataupun teknis. Saya juga dapat banyak pelajaran baru.”

Riko Yohanes – “RAW merupakan studio arsitektur yang progressif. Sebuah studio yang terus berkembang. Karenanya disini selalu terdapat ilmu-ilmu baru, sebuah tempat yang cocok untuk belajar menjadi seorang arsitek. Disini saya belajar tentang kemandirian dalam cara berpikir. Tentang bagaimana cara untuk tidak selalu disuapi dalam hal berpikir. Saya dituntut untuk memahami lebih dalam setiap permasalahan dan bagaimana men-solusikan setiap permasalahan secara mandiri yang kemudian di diskusikan bersama-sama dengan team. Sebuah kemandirian yang harus dimiliki setiap arsitek apabila inging menjalani petualangannya sendiri (memiliki biro sendiri).Selain itu saya belajar bagaimana membentuk mental saya sebagai arsitek. Bagaimana saya, seorang lulusan freshgraduate harus menginstruksi para pekerja di lapangan yang lebih tua puluhan tahun, dan seolah-olah menggurui mereka, sebuah hal yang aneh tetapi tetap harus dilaksanakan demi keberlangsungan proyek. Kemudian, dalam permasalahan di lapangan, saya dituntut untuk belajar tetap tenang dalam menghadapi situasi yang urgent sekalipun, dan bersikap profesional untuk menjaga sikologi klien, sehingga disini mental saya terus diasah dan menjadikan saya lebih dewasa sebagai seorang arsitek…”

Arlene – “Kegiatan2 seperti makan siang dan makan malam bersama benar2 membangun kerja sama tim yg baik. Lalu yang paling berkesan adalah acara omah bittersweet krn menencourage orang2 untuk lebih lagi berjuang dan bertahan di industri arsitektur…”

Khafid – “Pelajaran berkesan yang saya dapatkan di kantor yaitu Berhubung saya masuk di divisi MK dan sering banyak kelapangan jadi saya lumayan cukup tahu bangaimana proses awal pekerjaan struktur pondasi, kolom, balok hingga selesai. setelah itu selesai selanjutnya, lanjut masuk mulai pekerjaan finishing disinilah saya harap saya mendapatkan hal baru yang sebelumnya saya belum pernah dengan tetap mengikutinya sehingga pengetahuan saya bukan hanya tentang struktur saja akan tetapi proses dari awal hingga endingnya atau sampai finishing selesai complete.”

Muhammad Alim Hanafi – “Pertama-tama saya bersyukur bisa dapat kesempatan belajar dan berkontribusi di RAW. Saya sangat merasakan bagaimana di RAW tidak hanya dituntut untuk bekerja saja, tapi juga untuk berkembang pada setiap individunya. Ekosistem pembelajarannya cukup terasa, seperti seolah pada tiap individu tim design dan build tertuntut untuk belajar dan ‘mengajar’ sesama…”

Dan saya juga meminta tim Omah Library untuk mengisi harapan tersebut sebagai bagian dari keluarga besar.

Amelia Mega – “Selama sekitar 8 bulan berada di OMAH Library, saya mempelajari dan melakukan banyak hal yang baru. Dari menulis manuskrip, wawancara, membuat acara, promosi, serta materi kuliah. Hal-hal tersebut kemudian mempertemukan saya kepada pengetahuan-pengetahuan baru (paling tidak bagi saya), dan mengetahui berbagai perbincangan tentang arsitektur yang kini sedang terjadi. Kesadaran ini kemudian turut membentuk persepsi-persepsi personal saya terhadap arsitektur, arsitek, dan ilmu yang melingkupinya. Saya merasa senang dan berterima kasih dapat melalui proses tersebut, karena kurang-lebih seperti itu yang saya bayangkan akan didapatkan saat mendaftar di OMAH…”

Dimas Dwi Mukti Purwanto – “Selama belajar dan bekerja di Omah Library memberikan pengalaman yang sangat berkesan bagi saya pribadi karena tempat ini benar – benar mampu membentuk pola pikir baru yang lebih baik bagi saya. Terlebih terkait tentang bagaimana cara bekerja secara profesional dengan mengetahui dengan benar beban pekerjaan yang harus diprioritaskan. Selain itu saya juga menambah skill menulis dan menemukan skill baru yaitu tentang bagaiman meriset hingga sedikit mampu melihat konteks yang kemudian dapat menentukan bagaimana tindakan yang relevan melalui kegiatan menulis…”

arsitek profesional memiliki tugas-tugas dasar, yang merupakan praksis, pendekatan aksi reaksi antara metode desain dan refleksi atas metode tersebut. Ini disebut praksis. Seperti memainkan gamelan di atas denting tuts piano.

arsitek profesional memiliki tugas-tugas dasar, yang merupakan praksis, pendekatan aksi reaksi antara metode desain dan refleksi atas metode tersebut. Ini disebut praksis. Seperti memainkan gamelan di atas denting tuts piano. Karya Levi Gunardi dimainkan oleh Euginia S. Sandjaja “Little Gamelan”

“Cara kerja Model Praxis mengacu pada penjelasan Paulo Freire dimana terdapat aksi refleksi dan refleksi atas aksi.Titik tugas arsitek adalah bekerja secara eksploratif, puitis, dan mempersiapkan transfer ilmu kepada penerus kita, dunia yang indah bagi yang muda. arsitek.”

Praktik ini beroperasi berdasarkan konsep kontemplasi rahayu, yang diterjemahkan menjadi ‘harmoni. Ini berarti keadaan bebas dari prasangka dan ego, yang digunakan untuk memperoleh (secara paradoks) totalitas. Tiga prinsip dari konsep ini adalah: Memayu (membawa keindahan dan kedamaian ke dunia seseorang), Manunggal (percaya pada sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri), dan Mudheng (memiliki kesadaran akan peran seseorang di alam semesta). Dalam menjawab pertanyaan kontemporer (saat ini) untuk melanjutkan semangat eksplorasi.

Semoga harapan – harapan yang baik dari anak – anak studio bisa terus dipertahankan, dan diwujudkan. Hal – hal yang patut untuk ditingkatkan bisa diperbaiki, Rahayu perlu dipraktekkan untuk menjadi jembatan yang baik.

Lalu Miracle datang berteriak

“paaaa lava is coming,

lets go together, hiding, let’s play.”

Kategori
blog

Batas Langit itu Dimana ?

Satu waktu saya bertemu dengan Pak Daniel dan Bu Lany untuk mendengarkan rencana mereka membangun satu galeri baru di Kemang. Pak Daniel pun mengundang saya untuk bertemu di Modena Experience Center di Kuningan. Saya kenal pak Daniel dari klien kami Pak Danny dan Pak Edhie. Dan, ternyata Bu Lany juga kenal dengan Pak Budiman, salah satu arsitek yang saya kagumi karena dedikasinya yang tulus dan mengingatkan satu saat di presentasinya di Omah. Hal itu saya masih ingat sampai sekarang,

Saya bertanya ke Pak Budiman, “Pak apa rahasianya, … untuk tidak pernah takut ?”

Ia menjawab “Realrich hidup itu cuma sekali, jalanilah kenapa takut ? … ” dan Pak Budiman mengingatkan.

“jangan lupa sembahyang…”

kehidupan yang cuma sekali, ini bisa diibaratkan anak kecil yang sedang menari – nari di antara bintang, Lagu komposisi dari Levi gunardi ini menggambarkan, jiwa anak – anak di dalam persona yang berkelindan di antara harapan – harapan. Begitupun arsitektur ada di dalam alam tegangan keinginan banyak pihak, klien, tim yang tidak kecil.

Dari perbincangan Pak Daniel , terlihat ada bangunan lama yang sudah ada di lokasi. Saya berpikir bahwa perlu untuk melihat apa yang sudah ada dan kemudian menggunakannya dengan cermat untuk melakukan penghematan. Saya membuat janji untuk berkunjung melihat lapangan jam 11 di hari Jumat, kebetulan hari itu hari libur, jadi saya kesana sendirian. Kami berdiskusi di lapangan. Setelah mengecek lokasi yang bebas dari banjir, melihat ketinggian bangunan, kemungkinan layout ruang, saya mengusulkan untuk mengecek struktur bangunan. Prosedur pertama adalah pengecekan material apa yang bisa dipertahankan, posisi kolom yang menjadi batasan, dan kualitas struktur yang bisa dilihat secara visual. Saya mengirimkan pesan ke beliau,

“Hallo pagi Pak Daniel,Pak Daniel masih ada data existing yang saya masih belum dapetin data eksisting kuda – kuda atap, saya memerlukan data tersebut untuk bisa membuat konsep dengan pertimbangan yang lebih terukur. Apa saya bisa melakukan pengecekan lokasi kembali untuk melihat kondisi kuda – kuda atap ? Kalau tidak bisa hari ini tidak apa – apa, mungkin juga saya perlu buka langit-langitnya untuk cek keadaan kuda – kuda.”

Di awal meeting saya meminta kawan saya, Anwar Susanto untuk melihat bagaimana struktur bangunannya. Dari situ teridentifikasi beberapa bagian yang patut untuk dibongkar ataupun di tambal / diperkuat.

Satu minggu kemudian kami bertemu kembali dan saya memberikan sketsa beserta analisa ruang dan sirkulasi. Ceritanya adalah bagaimana mengembalikan memori akan kemang yang intim, bersahaja dengan mengakomodasi fungsi galeri yang baru , menggunakan pencahayaan alami.