Kategori
blog lecture

Meeting Craftsmanship Hermit – A Tactical Architecture Design

I will give workshop and sharing in Taylor University Malaysia. It’s first session for my being adjunct professor in there. I received invitation by Veronica Nd for the vision to share similar / contextual inspirations in South East Asia Region to redefine our own asian heritage.

Here is the explanation for the session.

Craftsmanship is the art of making, which involves traditional and industrial techniques. It is implemented and synthesized by people from multidisciplinary fields such as makers, engineers, design specialists, or even master artisans. The boundary between what architects did and what the other discipline is precise. The next question is, Is the implementation of craftsmanship that clear? The presentation will share an unorthodox view about making architecture from the importance of the craftsman guild, a workshop area for experimenting, extending to an ecosystem of builders that support the architect. The guild in the project also has memories that became grammar. It’s designed for the experimentation itself and, last but not least, for the clients that support you.

For the executions, some preparations are needed, such as grammar, drawing, critical thinking, creativity on-site to achieve a healthy ecosystem for making architecture. It’s about know-how on joineries and deconstructing dimensional mind that using the available material and adaptive technique is the forefront runner for architecture ecosystems that create the diversity of architecture.

The sharing sesion will be 25th October 2021 at 02.30 pm

Kategori
blog tulisan-wacana

Batas itu dimana ?

Saya seringkali berpikir, di dalam segala hal yang di sekitar kita yang penuh batasan. Bagaimana caranya mengetahui titik kelemahan diri kita sendiri ? Segala sesuatu yang jadi kekuatan biasanya adalah kelemahannya sendiri. Segala sesuatu yang jadi kekuatan bisa jadi kekuatannya. Lalu bagaimana caranya mengetahui kekuatan dan kelemahan, supaya keduanya bisa saling berdialog.

Saya akan mulai dengan preposisi :

If you care about only your name, the limit is in the name itself.

If you care only about other people’s name the limit is in the other’s people name in your mind.

If you care about only your workshop, the limit is in the workshop itself

If you care about only your progress in Guha, the limit is in the Guha itself

If you care about introversion of yourself, the limit is in the introversion of yourself.

Saya sering bilang,

“saya tidak peduli, kalau…”

lalu kemudian saya menimpali kalimat selanjutnya dengan,

“Kak Rich minta maaf kalau tidak peduli. Kita perlu sadar bahwa…”

Yang membuat saya tersenyum adalah seringkali asisten saya, tidak mendengarkan sampai selesai, jadi dia mengambil kesimpulan kalau saya benar – benar tidak peduli, padahal saya menunjukkan kepedulian saya dengan mengatakan saya tidak peduli supaya munculnya kesadaran kolektif. Barulah mereka kasak – kusuk, berdesas – desus, dan apalagi sampai berdiskusi akan kejadian tersebut. Ditambah lagi seringkali, saya menimpalinya lagi dengan kenapa saya menjelaskan saya tidak peduli adalah sisi emosional manusia yang sedang keluar untuk mengharapkan adanya perubahan dengan lebih cepat.

Dan kenapa kita perlu berubah dengan cepat, dan perlu tidak perlunya merubah dengan cepat. Kemudian saya menjelaskan bahwa saya perlu meminta maaf karena kecepatan itu saya anggap begitu karena hidup ini hanya satu kali, namun hal itu juga menjadi batasan yang baru, pertanyaannya, kalau memang hidup hanya sekali, lalu kenapa harus cepat – cepat atau terbirit – birit ?

Pada akhirnya saya belajar bahwa melambatkan ritme itu penting, mempercepat ritme juga penting. Terkadang sisi lontaran emosi unutk tidak peduli itu penting bukan menunjukkan ketidak pedulian, namun justru sebaliknya, dan juga lontaran emosi menjadi peduli itu penting. Keduanya adalah cerminan emosional sesaat yang terkadang menjadi tidak emosional juga tidak kalah pentingnya.

Yang menjadi menarik adalah bagaimana caranya mengintegrasikan berbagai macam hal ? yang juga menarik adalah juga bagaimana menjalani kedua kutub kiri dan kanan, positif dan negatif, bisnis dan berbagi, diri sendiri dan orang lain, personal juga komunal secara bersamaan. Dan pergulatan sisi – sisi kontradiktif tersebut menghasilkan rekonsiliasi pemikiran yang mencengangkan, dan maha dahsyat, ledakan kreatifitas dengan mengetahui batas diri.

Namun sebelum kita masuk kesitu, saya ingin berbagi satu cerita mengenai latar belakang kontradiksi tersebut.

Saya punya cerita, dulu waktu di Surabaya saya sering pulang sekolah bersama ibu saya naik becak. Hal yang saya damba – dambakan adalah perjalanan naik becak itu, karena saya bisa melihat lebih lambat bagaimana orang berinteraksi. Kami melewati pasar, jalan – jalan tanah, dan rumah – rumah petak. Biasanya kami naik becak berdua, adik saya kalau tidak salah masih kecil dan saya masih TK pada saat itu.

Perjalanan itu memiliki beberapa kemungkinan. Saya tidak pernah bilang apapun ke ibu saya bahwa yang saya inginkan dan saya suka adalah perjalanan melalui kuburan Kembang Kuning.

Kami melintas area kuburan itu untuk mendapatkan jalan pintas. Saya ingat, melintasi kuburan itu adalah perjalanan sekitar 5 menit. Dari kejauhan, saya merasakan udara menjadi dingin, wewangian bunga mulai semerbak, dan warna – warni tanaman mulai muncul. Saya melihat pedestal kuburan yang kokoh, repetitif, beraneka rupa, dan indah – indah. Ada yang terbuat dari granit, ataupun marmer, ada juga yang dari kayu. Lebar jalan kuburan itu hanya sekitar 2.5 m, dan ada saja yang tidak rata. Kadang – kadang kepala saya terantuk kepala ibu saya ataupun besi becak, tapi selalu saya berdiri kembali untuk melihat suasana kuburan, menghirup udara yang wangi, dan merasakan dinginnya kuburan tersebut. Saya melihat bunga – bunga bougenville , dan wanginya harum, saya suka sekali dengan bunga kenanga. Padahal banyak orang bilang itu bunga orang mati.

Kelewat senangnya kalau lewat kuburan, saya selalu ada di depan becak sedepan – depannya untuk menghirup udara wangi kuburan. Ibu saya suka bilang “Kamu ngapain sih ? kaya anak kampung aja.” Belum lagi beliau kadang – kadang geli sendiri, kalau melihat saya suka makan pakai tangan, ataupun jalan tidak memakai sandal. Saya suka dengan hal – hal yang langsung, karena dari situ saya merasakan sentuhan, kehangatan, wewangian meskipun lucunya hal itu dianggap aneh oleh ibu saya.

Perjalanan saya praktik juga sama, ada hal yang saya suka, selalu saya ulang – ulang. Hal tersebut muncul karena saya merasakan keterhubungan langsung, emosional, dan personal. Saya mencoba membayangkan apa jadinya ya kalau bentuk ini begini dan begitu. Lebih lanjut lagi saya membayangkan apa jadinya ya, kalau orang ini merasakan ini dan itu. Ini dan itu, begini dan begitu, menjadi reka ruka, olah bentuk, berdasarkan pertimbangan – pertimbangan yang menerus. Inti dasarnya adalah kejujuran dalam berproses, membuka telinga tanpa harus terbawa arus juga. Begitu banyak kata – kata positif yang membangun kita, dan juga banyak juga kata – kata negatif yang bisa juga membangun kita asalkan pikiran kita bisa merubah yang negatif tersebut menjadi positif. Dan hal tersebut adalah sebuah proses untuk memahami diri kita sendiri. Dan satu hal yang terpenting yang saya pelajari adalah bagaimana menjadi satu kata

“Jujur akan diri sendiri.” kata – kata ibu saya adalah doa, ia tertawa melihat saya yang sungguh aneh, dan hal tersebut adalah pemaknaan tersendiri. Namun perasaan jujur tersebut adalah titik tengah sebelum pikiran kita bisa bermain dengan kutub – kutub ekstrim selanjutnya.

Di dalam arsitektur hal ini disebut juxtaposition, memperbandingkan dan mengintegrasikan kedua hal dengan ekstrim. Hal ini menghasilkan hasil yang hibrida. Pemikiran hal – hal seperti tidak ada yang baru di dunia ini, juga tidaklah benar seluruhnya, dan pemikiran bahwa ide dasar itu selalu orisinal juga tidaklah benar seluruhnya. Dan pertanyaan lebih mendasar, apa sih yang benar itu ? ataukah bukan masalah kebenaran ? tapi bagaimana saya paham mengenai batasan diri saya sendiri.

Dan kemudian, barulah kita bisa mengambil kesimpulan,

“saya cukup”

Di tengah – tengah Plato dan Aristoteles ada anak – anak dengan wujud kecil, berbaju putih yang menengahi mereka berdua ketika berdialog. Wujudnya lebih kecil dari lubang telinga, lubang hidung, dan lubang- lubang yang lain. Ia menyapa,

“hallo, namaku Kronos, sang penjaga semesta aku penjaga waktu, jembatan alfa dan omega ! cukup atau tidak cukup waktumu, kita cukupkan.”

Kategori
motivation Letter Uncategorized

Lu’luil Ma’nun

Perkenalkan nama saya Lu’luil Ma’nun, bisa dipanggil Luluk. Waktu awal semester masa kuliah di Arsitektur UII (Universitas Islam Indonesia) saya sangat tertarik pada dunia Arsitektur, maket saya sering terpilih untuk dipresentasikan, kalau kata teman-teman saya karya saya selalu nyeleneh dan khas. Namun di pertengahan semester setelah mulai menggunakan tekhnolgi saya mulai redup dan down di semester 6, hampir ingin off dari Arsitektur. Beruntungnya saya menceritakan hal ini kepada Dosen saya bapak Yulianto Prihatmaji (Beliau salah satu dosen yang sangat saya kagumi – karena kepribadian dan kontribusinya di dunia sosial Arsitektur). Beliau memperkenalkan saya pada dunianya terkait mendesain desa wisata, saya mulai diajak terlibat ke proyek -proyek beliau. Dan dititik ini saya mulai jatuh cinta lagi pada dunia arsitektur.

Waktu kuliah saya adalah aktivis dakwah (Takmir Masjid Ulil Albab, UII) sehingga relasi saya adalah kalangan orang-orang sosial dan banyak terlibat pada aktivitas sosial. Waktu terus berjalan, menginjak semester 8-14, saya berkutat dengan skripsi saya, saya kebingungan untuk mengerjakannya dan terjebak dianalisis sehingga saya tidak memulai – mulai untuk mendesain. Sampai akhirnya karena 3 semester belum selesai-selesai (Karena saya anaknya tidak bisa berdiam diri, otak saya terus menerus menemukan ide-ide, walaupun kadang bukan ide-ide arsitektur, dan fisik saya selalu ingin berkelana dan mengetaui banyak hal, walaupun kadang bukan di bidang arsitektur). Saya tidak terlalu paham apa itu metodologi design, tulisan saya juga tidak terlalu baik, dll. Karena saya jarang membaca dan tidak terlalu bisa berbahasa inggris. Tapi yang saya selalu pegang adalah saya ingin melakukannya dengan terbaik, punya tujuan yang jelas serta bisa langsung bermanfaat.

Saat skripsi saya memegang 1 proyek nyata sambil skripsi, yaitu Indonesia Mining Education Park di Yogyakarta. Namun hal ini membuat dosen saya marah, karena saya tidak terlalu produktif di skripsi saya. Sehingga beliau memberikan saya hukuman untuk setiap hari harus mengerjakan diruangan beliau dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore (setiap hari kecuali hari minggu) – tapi karena saya benar-benar mau belajar saya ikuti saran beliau sampai hari minggu pun saya datang sesuai jam dan mengerjakan ditaman kampus dan Alhamdulillah saya bisa lulus. Namun diawal-awal itu semua tidak bisa saya terima, “kenapa saya harus mengerjakannya disana, kenapa saya harus dihukum seperti ini dll, sedangkan teman-teman yang lain bisa mengerjakan dimana saja, kadang di studio dan kadang di luar”. Saya agak bergejolak waktu itu dan akhirnya saya mulai mencari motivasi eksternal “Bagaimana sebenarnya seorang Arsitek ?, apa yang salah dari saya ? apa yang harus saya lakukan sekarang ?”, dan saya mulai membuka-muka youtube, melihat profil-profil arsitek dan kisah-kisahnya.

Dari sekian banyak video di youtube yang saya tonton, saya hanya tertarik kepada video bapak yang tentang “Memakai baju seperti professional arsitek sejak kuliah dan menjadi orang terakhir yang menutup pintu”, menurut saya itu adalah nasehat-nasehat yang sangat deep. Disitu saya mulai mengikuti perjalanan bapak. Dan saya kagum, namun rasanya terlalu jauh untuk bisa bergabung. Karena background arsitektur saya tidak terlalu bagus. Akhirnya semangat saya kembali, saya mulai membayangkan hari-hari saya sebagai seorang arsitek yang menikmati waktu disiplin saya. Saya mulai membaca, menulis dan mendesain skripsi saya dengan fokus. Saya mencari orang yang benar-benar membutuhkan jasa desain, karena saya ingin setelah skripsi saya selesai desain saya bisa berguna. Singkat cerita saya bertemu mas Azwir Nazar ketua PPI dunia pada waktu itu, beliau punya tanah wakaf dan yayasan. Beliau mencari di instagram seseorang yang bisa membantu beliau menggambar dan tanpa pikir panjang saya langsung ajukan sebagai skripsi saya dan saya terbang ke Aceh dengan uang pribadi saya, walaupun pada saat itu saya pinjam uangnya. Tapi saya bahagia melakukannya. Dan akhirnya skripsi saya selesai dan mereka menggunakan gambar saya yang apa adanya untuk mencari investor/dana. Setelah lulus kuliah, saya menggantikan teman saya bekerja di MK Arsitek Yogya, saya coba membuat desain rumah. Setelah mereka melihat hasilnya mereka menolak saya. Saat itu saya down lagi dan saya mengalihkan diri dari dunia arsitektur. saya merasa butuh pengetahuan bisnis, butuh pengetahuan digital marketing dll untuk mensupport kehidupan saya dan mendukung dunia arsitektur saya suatu saat nanti. Saya jadi fotografer, video grafer, guru les privat desain grafis, penitipan barang dan yang terakhir saya bergabung di tempat fashion untuk membuat pola. Tiga bulan berjalan di tempat fashion itu saya mulai merasa ada gejolak, bahwa saya tidak seharusnya ada disini, saya dibutuhkan sebagai arsitek, saya harus kembali ke dunia saya (karena tiba-tiba client berdatangan kepada saya, yang saat ini masih menjadi project yang belum selesai/masih saya kerjakan). Di titik ini saya sadar bahwa saya sangat-sangat mencintai dunia aritektur. Tapi saya sadar saya butuh belajar kepada seorang arsitek.

Saya berusaha mengumpulkan kedisplinan saya seperti sejak mengerjakan skripsi sebagai arsitek dan mencoba mendesain. Namun otak saya terus menerus berfikir dan menghasilkan ide-ide, sehingga saya ingin membuat platform “Self Development Architect”, sehingga orang-orang yang seperti saya, yang belum terlalu kompeten di dunia arsitektur bisa percaya diri, belajar dan mulai berkontribusi. Dan karena client yang masuk ke saya rata-rata adalah orang-orang yang baru ingin mencari dana untuk membangun, saya terpikir membuat program Crowdsourcing design. Di titik ini juga saya melihat informasi Darah Muda Omah Library. Sehingga saya merasa ada teman dan saya ingin benar-benar bergabung dan terus belajar. Karena saya sadar karena saya masih penuh keterbatasan, saya butuh belajar, saya butuh berjuang sesama-sama orang-orang yang satu value. Saya berdo’a kepada Allah agar dipertemukan dengan orang-orang yang satu value, mereka menerima saya, dan saya bisa belajar dan berjuang bersama dengan mereka. Dan akhirnya saya terpikirkan, Pak Realrich Sjarief dan Omah Library sebagai tempat saya belajar dan berjuang. Walaupun dalam bayangan saya rasanya tidak mungkin, karena pasti qualifikasi saya sebagai arsitek sangat kurang. Tapi selalu ada dorongan di hati saya untuk mencoba Karena saya bersungguh-sungguh dan melihat value yang sama. Sampai pada akhirnya saya DM Pak Realrich Sjarief dan sampai pada saat ini saya menulis motivation letter saya.

Terimakasih sudah membaca motivation letter saya Pak, yang saya buat dengan penuh semangat, walaupun mungkin masih banyak kekurangan.

Hormat saya,
Lu’luil Ma’nun

Notes :

  • Maaf atas tulisan eyd saya yang belum baik.
  • Self Development Architect yang saya bayangkan seperti di instagram @socialkreatif tapi versi Arsitektur dan saya memulainya
    di @betseenarsi (All of thing bertween Arsitektur and Site)
  • Saya ingin mengarahkan otak saya selalu tidak pernah berhenti mengeluarkan ide-ide ditempat yang tepat.
  • Saya suka membaca berulang-ulang buku “The secreat of architect life ” dan saya baru ulai benar-benar memahami apa itu skripsi
    setelah membaca buku “Methodgram”
Kategori
award blog

Guha by RAW architecture has been shortlisted in the business building category of Dezeen Awards 2021

Guha is shortlisted in the Dezeen Awards 2021 in business category ^^ Guha is a craftsman organic laboratory. It’s a building based on the transformation of experimentation of multiple materials.

Thank you for Dezeen, and we are together with Sanya Farm Lab by CLOUD Architects, FRizz23 by Deadline Architects, Imatra Electricity Substation by Virkkunen & Co. Architects, and Nodi by White Akitekter. They are great architects that we admire and learn from (their framework, design approach, detail, and many more).

After this, it’s a public vote ^^. Hopefully the process of transformation in Guha will always bring in-depth learning for us that can be shared to other people.

Guha by RAW architecture has been shortlisted in the business building category of Dezeen Awards 2021. RAW Architecture has designed Guha to accommodate offices, architecture studios, and dental clinics.

RAW Architecture implements a sustainable design approach in an effort to contribute to human and environmental sustainability by reducing carbon footprints. Departing from the context of the tropical climate in Indonesia with high rainfall and sunlight intensity, the space is designed to be responsive to the climate.

This is manifested in the layout of mass and space-oriented to the path of the sun, while the skin plays a role in reducing sunlight as well as air circulation. It is also supported by details through craftsmanship-making processes.

This project has been shortlisted in the business building category of Dezeen Awards 2021.

My team and I are really pleased to get the news :) hoping the architecture in Indonesia can spread to the world. Congrats to @guhatheguild @realricharchitectureworkshop @omahlibrary and all of the team, clients, including craftsmen, and friends. #formingbricolage

Vote for this project! www.dezeen.com/awards/vote
Voting closes on 11 October.

dezeenawards #rawarchitecture #guha #guhatheguilde #office #architecturefirm #architectureoffice #library #dentalclinic #indonesia #indonesianarchitecture

Kategori
blog blog - loving years - context before loving Laurensia blog-formative years

Surabaya – In Father’s Workshop

Looking back, I was born in Surabaya, near the poor slum area where there were crazy people, prostitutes, and the gap between rich and poor. Our family lived on Jalan Dukuh Kupang Timur gang 13 no. 75. I grew up and played in several alleys adjacent to Dolly’s Gang, which signifies the gap between a paradoxical iceberg phenomenon related to the necessities of life and the city’s identity.

I met one kid named Hamid every day, and he is a crazy toddler. Every time I pass him, I look at his genuine behavior such as running while showing arm-pit, laughing a lot unpretentiously, and always half-naked, walking without clothes. I asked my mother, who is Hamid. I found out that he came from a low-income family, his father and mother had many children, and his home is beside my grandmother’s home. I enjoyed it when I saw him, and it looked like he found his inner joy even though other people couldn’t understand him. He has a smile on his face, and I smile because of that. His smile is contagious, and my mother used to say,

“are you crazy? stop smiling and daydreaming.”

My father worked in Jakarta, and my mother, me, and three brothers were in Surabaya.

My father comes home once a week. The trip to pick up my father at the airport along with my mother is a lasting memory. We made The journey to Juanda airport at night. Usually, my father lands at 19:30, my mother drives, and we pass Waru, where rice fields stretch on the dark horizon. The journey was quiet, and we listened to the only sound of church songs set in a red civic car.

This red civic car is quite an impression because this is my father’s first car where he gave this car to my mother in Surabaya, while my father himself used a green used Kijang in Jakarta. It’s a pickup car. The pickup often gets hit and crashes because the driver is also a beginner or an impromptu driver, my father’s handyman. Uniquely, the green deer has an air conditioner that is colder than my mother’s honda civic. As if some futuristic junk, my dad didn’t have enough of one. He had two.

Our house in Dukuh Kupang consists of two plots, and each property has its access road. The left lot has garage door access with doors made of stainless steel pipes. At the same time, the right plot has one height with a canopy of thin iron plates, which is the entrance to the main house, while on the left, there is a small building plan field on the perimeter of the building. On this side, there is a small workshop, in which there is a chicken coop, craftsmanship tools such as saws, chisels, hammers, nails, or used plywood boards.

I was lucky because my mother was super busy at that time. She was active in the catholic group. When I was six years old, she cooked cookies to sell and loved to go to prayer groups. She is a busy person.
My mother likes to bake cakes to give or sell to people. She is pretty independent and firm in educating us, four sons. I know that our mother and father are always busy. I always like to accompany my mother for prayers or gatherings with church gatherings. While my mother was super busy, I had my own time in the workshop. I adored my father’s trace in the workshop, not because I saw his work or how he was working but simply because of the experiments he allowed me to do, and he always encouraged us to build our stuff. This workshop is where I make my wooden sword. One time, I created my sword using plywood. I used a saw to cut the plywood and make my toy. I get a feeling that we can make things by ourselves, even though it’s probably not perfect if seen by others, but it was perfect for me. I was proud of my toy.

Our residence is also adjacent to the carpenter’s house. From the front, you can see people passing by, and the workshop is always busy. Every time I pass the carpenter, I see piles of doors and wood – used wood. I just found out that Mr. Pardi, the head of the workshop, is a confidant of my father, who helped him make the doors for his project. Every year my mother and father always held a big meal celebration. All the chief craftsmen and their deputies will be present. The event was about chatting until the morning, including drinking events that have become their tradition. It’s an act of gratefulness celebrating the spirit of togetherness. It’s started by my grand father.

One time my father invited us to Jakarta, we stopped at my father’s boarding house. The room was small but warm. There my mother decided to help my father. From there, we plan to move to Jakarta. Leaving Surabaya was not easy. I had fallen in love with my freedom to play in my father’s workshop, chasing chickens, but seeing my father’s face when he landed and showing his face at the arrival gate made me miss. Maybe my mother wanted us to grow up together. I am in 3rd grade, and my little brother is going to kindergarten, my second big brother is in 6th grade, and my first big brother is going to 1st grade of high school. At that time, I was pretty sad that I had a feeling to move, where I already had my comfort zone in Surabaya. I didn’t know what would happen in Jakarta. I missed my playground, workshop, our fantastic house, and activity in praying groups. But I was excited to experience life with my father. I can see him every day, and It must be exciting.

In my father’s legacy

Surabaya

Looking back, I was born in Surabaya, near the poor slum area where there were crazy people, prostitutes, and the gap between rich and poor. Our family lived on Jalan Dukuh Kupang Timur gang 13 no. 75. I grew up and played in several alleys adjacent to Dolly’s Gang, which signifies the gap between a paradoxical iceberg phenomenon related to the necessities of life and the city’s identity.

One time my father invited us to Jakarta, we stopped at my father’s boarding house. The room was small but warm. There my mother decided to help my father. From there, we plan to move to Jakarta. Leaving Surabaya was not easy. I had fallen in love with my freedom to play in my father’s workshop, chasing chickens, but seeing my father’s face when he landed and showing his face at the arrival gate made me miss. Maybe my mother wanted us to grow up together. I am in 3rd grade, and my little brother is going to kindergarten, my second big brother is in 6th grade, and my first big brother is going to 1st grade of high school. At that time, I was pretty sad that I had a feeling to move, where I already had my comfort zone in Surabaya. I didn’t know what would happen in Jakarta. I missed my playground, workshop, our fantastic house, and activity in praying groups. But I was excited to experience life with my father. I can see him every day, and It must be exciting.

on site, playing in beach with family
me drawing in my father’s table
My mom, me, Mondrich, and my dad
My dad and his craftsmen
me and my little brother Mondrich.

I write this to show how I am thankful to my parents that have nurtured me and inspired me. They helped me grow, showing an example and encouraging me always to show my best, focus, be happy, and respect people without expecting somebody to listen while singing and dancing.

Up front, an educator must set a good example. In the middle or among students, the teacher must create initiatives and ideas. From behind, a teacher must provide encouragement and direction“,

Ing ngarsa sung tulada, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani.”
― Ki Hajar Dewantara

Kategori
Team - Officer Team - Tier 4

Redi

Officer

Kategori
Team - Officer Team - Tier 4

Rodi

Officer

Kategori
Team - Officer Team - Tier 4

Aldian Dwi Putra

Officer

Kategori
Team - Craftmanship Leader Team - Tier 4

Wisnu Wibowo

Craftmanship Leader

Kategori
Team - Tier 4

Sirin

Craftmanship Leader

Kategori
Team - Craftmanship Leader Team - Tier 4

Aep

Craftmanship Leader

Kategori
Team - Tier 4

Badriyono

Executive Officer

Kategori
Team Team - Craftmanship Leader Team - Tier 4

Tohirin

Craftmanship Leader

Kategori
Team Team - Craftmanship Leader Team - Tier 4

Bonari

Craftmanship Leader

Nielsen Huang

Kategori
Team Team - Tier 4

Muhammad Farhan Nashrullah

Archiving + Visual Art Executive

Kategori
Team Team - Craftmanship Leader Team - Tier 4

Rudi Setiawan

Craftmaship Leader

Kategori
Team Team - Administration Team - Tier 3

Novita Gunawan

Administration + Finance + Tax Executive

Kategori
Team - Designer Team - Tier 4

Erick Fei

Team Leader | Associate Designer | BIM Executive

Affiliation

University of Pelita Harapan

Kategori
Team - Designer Team - Tier 3

Pandu Nazarrusadi

Associate Designer

Affiliation

Universitas Sebelas Maret (UNS)

Kategori
blog

Redefine Role

It took years to redefine the role and responsibility of people in the studio Realrich Architecture Workshop. Below, I have written 4 roles to simplify how we work as a team and my responsibility as principal. These 4 roles are 4 different worlds, the associate designer is a world of techne, a world of architecture methodology grammar. That is the world of a design methodology. The second world is administration which is the world of matters, currency, and reality. It consists of archives and a way to survive. On the other hand, The Librarian and researcher in the world of episteme. It involves theorizing reality and fantasy. And, the last one in the world of phronesis is practical knowledge, which is called the craftsmen world. Below are the pictures of the dream team – Best Office in the World.

Principal Architect

As a principal, I am responsible for designing the vision and implementing the studio’s mission, making initial sketches, or discussing our experiments with the design team and clients. Our studio can develop from detail, materiality, and context understanding because the design is a collaborative process. This is possible in direct coordination with the design team, the associate designers, therefore.

The process of appointing us as an architectural firm is not easy to require. The relative compatibility is shown through a shared vision, a common goal, or simply a common approach. Once the client entrusts the results and process to us, it is the most valuable thing in the world of architecture.

From details to design concepts, the whole work shows how consistent we are with the richness of a multi-perspective, multi-disciplinary, multi-interest architectural approach. The entire procedure is evaluated in the form of architectural theory and is widely published.
It aims to jointly support the appreciation of architecture and the architectural profession in Indonesia. I believe that architecture, when thought out, is a powerful force that can improve the lives of many people.

Associate Designer

Associate designers at RAW Architecture have 1 year to 5 years of experience. The designers will be trained to reach the level of becoming a registered architects. They are connected in a studio where practical case studies are discussed to become a comprehensive grammar studio. In general, in some studios, the associate designer is called a junior architect or architectural assistant part 2 for ARB (Architect Registration Board) standardization. The name about this is related to habits and the meaning you want to aim for. I think there is a fundamental concept that is our studio culture about interpersonal relationships. I answered it with the idea of associate or associated with a collaborative, personal, and multi-personal design process. The associate is a concept that connects people’s social relationships with one another. A designer is someone who tries to solve design problems.

The learning process to become an associate designer at our studio has two paths. The first path is learning at the conceptual stage, then understanding how to draw technically well. The second path is to learn directly in the field, know the construction details, and then dismantle the knowledge of architectural concepts. Associate designers are people who have creative and critical power in answering architectural problems. The architectural design process faced by associate designers starts from reading the situation and context, dialogue with the principal for formulating design steps, managing project management, and carrying out forensic engineering with the integration of multi-disciplinary knowledge.

The association’s conception experiences a shift in meaning and reality every time due to the complexity of ethics, capabilities, and professional facts that the Indonesian Architects Association constantly updates.

Administration

The people in the administration department are responsible for documenting project archives, studios, libraries, including keeping the discipline of the large team as simple as possible regarding the neatness of bookkeeping related to taxes, accounting, finance, taxes, public relations, and personnel. Administrative tasks are carried out by recording chronologically according to job categories with an integrated system. The administration team led by Drg. Laurensia Yudith maintains client relations and reports with the principal to maintain the studio’s accountability and credibility.

Librarians and Researchers

The people involved in this division work in the Omah library. They are librarians who catalog and archive books. Librarians also have duties as researchers who carry out writing and production of knowledge through architectural literacy. Furthermore, the activity at Omah Library is to dialogue about relevant thought discourses with individuals who have critical thinking about everyday problems. At Omah Library, librarians and researchers also help develop architectural theory and archive case studies to form the basis for further architectural discourse. Librarians and researchers generally have 1 – 5 years of experience with multi-perspective thinking and comprehensive literacy skills. There are times when I invite them to develop architectural theories that are useful for our practice.

Craft Leader

The Craft Leader here means the leader of the builder who dedicates his time to the art, passion, and ability to not only build but make building art with taste and become a focus for subordinates indirect work or provide direction. The educational process to become a craftsman leader starts from the assitant, 1/2 craftsman, craftsman, executive craftsman, master craftsman. They are people who have 25-35 years of experience starting from before our studio was founded, during the time of my grandfather and parents. They have 10-25 years of practical experience who have had at least 3 built projects. In the next stage, the chief craftsman transforms into an advisor of art in building. They have worked from Sumatra, Kalimantan, Java, to Sulawesi.

Epilogue

Documentation of how we work, my interpretation of the ecosystem. The practical craftsmanship of RAW Architecture in Indonesia is being compiled in a manuscript on the philosophy of thinking about the roots of our craft school as a small, mutually supportive ecosystem.

Aep

Craftmanship Leader

Erick Fei

Team Leader | Associate Designer | BIM Executive Affiliation University of Pelita Harapan

Avinsa Haykal

Designer Affiliation Universitas Islam Indonesia (UII)

Nurul Septiawati

Administration Executive Affiliation Universitas Esa Unggul I graduated from DIII Midwifery in 2016, then continued my education for the undergraduate level of Hospital Management at Esa Unggul University. I graduated in 2019, and My work experience and internships were in several hospitals, health centers, independent clinics, and midwives. I like a lot of things and […]

Agustin

Associate Designer Affiliation Universitas Katolik Musi Charitas Palembang

Rico Yohanes

Associate Designer Affiliation Bina Nusantara University

Satria A. Permana

Associate Librarian and Researcher Affiliation S1 : Universitas Islam Indonesia (UII)

Alim Hanafi

Associate Designer Affiliation S1 : Universitas Islam Indonesia (UII)

Kategori
Team - Librarian and Researcher Team - Tier 4

Nirma Ayuni Setiasih

Librarian + Researcher

Affiliation

Gadjah Mada University

Kategori
Team - Designer Team - Tier 4

Prasetyo Adi Nugroho

Designer

Affiliation

Universitas Islam Indonesia (UII)

Kategori
Team - Designer Team - Tier 4

Farrel Ihsan Prahaditya

Designer

Affiliation

Bina Nusantara University

Kategori
Team - Designer Team - Tier 4

Avinsa Haykal

Designer

Affiliation

Universitas Islam Indonesia (UII)

Kategori
Team - Administration Team - Tier 4

Kiswanto

Administration Executive

Kategori
Uncategorized

Fadiah Nurannisa

Associate Designer

Affiliation

Gunadharma University

“26 September 2020 nanti tepat 4 tahun saya bergabung dengan RAW Architecture. Bukan waktu yang sebentar tapi juga masih sangat dini dalam berkarir di dunia arsitektur. Untuk saya pribadi, proses pendewasaan dan perubahan pola pikir saya banyak terjadi dalam masa-masa tersebut. Saya beruntung dipertemukan oleh teman-teman dengan karakter unik yang akhirnya banyak membuka pikiran saya. Dunia arsitektur sangat luas cakupannya. Dulu saya kira dengan saya tidak mahir dalam mendesain dan merender, saya tidak bisa melanjutkan karir saya di bidang arsitektur. Tapi setelah saya masuk dalam tim laboratorium ketukangan , saya menemukan kenyamanan dalam pola kerjanya. Menggambar detail, mencari solusi untuk lapangan, diskusi dengan principal sampai mandor, mengenal material, dll. Memperhatikan proses dalam mewujudkan bentuk dari gambar ke bentuk nyata di lapangan memberi kepuasan sendiri untuk saya,

Harapan saya kedepan untuk tetap menjaga produktifitas, kesehatan pikiran maupun tubuh, antara waktu pribadi dengan urusan kerja harus tetap seimbang. Tentunya dengan memaksimalkan porsi waktu yang sedang dijalani. Selain itu bagi saya, adanya kegiatan sosial perusahaan di luar studio memberi dampak positif. Karyawan antar divisi menjadi lebih kenal satu sama lain yang nantinya bisa melatih kepekaan untuk menjalin kerja sama yang baik antar karyawan, melebur jarak antara atasan dengan bawahan, dan pastinya untuk melepas stres dari rutinitas harian.” – Fadiah Nurannisa

Fadiah Nurannisa as the best designer of the month

“Memang skill sosial penting, leadership itu ada 5 tingkat, pemimpin tingkat lima menunjukkan respek kepada orang di sekitarnya, daripada memenuhi ambisi dirinya sendiri, hal ini penting untuk membentuk the gift society, dan Ica adalah salah satu orang yang memiliki ketulusan dalam memimpin orang lain dan juga dirinya sendiri. Di balik jatuh bangunnya ia di dalam belajar, ada sebuah semangat untuk terus maju. Ia akan tersenyum dan bangkit lagi, dari situlah memang studio kami perlu bersyukur bisa bekerja sama dengan pribadi seperti Ica” – Realrich Sjarief [Principal RAW Architecture]

Farewell Memory with Fadiah Nurannisa

Testimonial di hari terakhir :

“Icha cukup tangguh bisa di build, melalui tantangan dan masalah di konstruksi namun tetap fokus dengan tujuan agar semua berjalan lancar dan sesuai rencana. Semoga kedepannya bisa lancar ditempat baru dengan segala bekal yang sudah dipersiapkan.” – Erick

“Sukses selalu buat Ica, semoga menjadi arsitek handal, selalu supel dan humble. Jadi berkurang nih temen buat jajan bareng 🤣, semoga dapat temen yang sama serunya seperti disini, nanti silaturahmi ya. Good luck ca” – Novita Gunawan

“setiap pertemuan pasti ada perpisahan, tapi aku harap ini bukan ini bukan pertemuan terakhir. tetap menjadi ica yang ceria dan humble dimanapun kamu berada. berbagai hal sudah kamu lalui, baik suka maupun duka, semoga segala kenangan indah tetap tersimpan baik di hati dan kenangan buruk menguap bersama waktu. kita mungkin tidak banyak ngelaluin waktu bareng-bareng selama disini, tapi terima kasih sudah menjadi rekan yang baik dan sahabat di waktu yang sama. semoga di tempat yang baru kamu segala tujuan dan cita-cita dapat tercapai. iloveyou my msg <3”-Memehaa

“Fadiah termasuk salah satu tim desain dan build yang sudah cukup lama ada di kantor ini, senang melihat kamu dapat terus berproses dalam pekerjaan dan hobby pribadi kamu di tengah banyaknya tekanan dari lapangan. Sukses selalu di tempat yang baru.” – Caroline Moeljono

“Benchmark, satu hal yang teringat ketika melihat seorang icha. Di dunia konstruksi yang tidak mudah, beliau dapat berenang bahkan menyelam dengan baik. Baik secara mental, mengatur dan mengatasi masalah pekerjaan, dan koordinasi lapangan yang patut dicontoh. Mungkin beliau dapat menjadi benchmark terutama bagi para perempuan yang seprofesi. Tidak perlu otot yang kekar, atau suara yang lantang, hanya dengan melihat rupa, orang-orang sekitar maupun dilapangan seakan tunduk. Muka jutek dan cara berjalan yang mengagetkan, seakan mengintimidasi. Ciri yang sangat khas yang dimiliki oleh icha. Semoga sukses terus ca, kesan yang anda berikan pasti akan selalu berkesan, Semangat untuk icha di tempat yang baru, semoga terus berdampak baik untuk orang lain diluar sana. Jangan lupa kita-kita, ditunggu kabar baik lainnya caaa…” – Rico Yohanes

“Bersyukur bisa berpartner dengan icha, sangat banyak membantu belajar hal2 teknis pada awal transisi dari conceptual ke build. Selain itu saya juga banyak belajar bagaimana icha berkomunikasi dan bersosial dengan para stakeholder. Orangnya sangat totalitas, intelektual hingga emosiannya dicurahkan, berani berkorban, “bondo bahu pikir, nek perlu saknyawane pisan” kira2 begitu hehe… to be emotional is good dan manusiawi, dan itu bagian dari kekuatan, …perlu diorganise …… serahkan semua pada Yang Maha Pengatur Segala Sesuatu :) dan jangan lupa jaga kesehatan, semoga petualangan barunya bisa menyehatkan fikiran, hati dan badan. Thank you Bund :D” – Alim Hanafi

“Untuk kesannya mbak icha orangnya baik ramah,terus suka bergaul sama orang, *untuk pesan buat mbak ica tetep semangat diluar sana dan semoga semakin sukses terutama ditempat yang baru,terima kasih sudah menjadi bagian dari keluarga besar RAW semoga ilmu yang didapat disini semoga bermanfaat dan bisa dikembangkan diluar sana” – Kiswanto

“Perubahan terus terjadi seiring perjalanan waktu, Tetaplah menderu bersama waktu agar prestasimu tak meredup di tempat yang baru.” – Pepen Effendi

“Selamat untuk ka icha karena sudah berhasil belajar banyak di RAW, pasti banyak tantangan dan rintangan yang ka icha hadapi. dengan bekerja dengan waktu yg cukup lama, gua sangat salut dengan ka icha bisa menghadapi semua tanggung jawab dan tugas yang diberikan. semoga gua juga bisa terus belajar dan tumbuh menjadi seseorang yg lebih baik lagi seperti ka icha. gua doain kedepannya ka icha bisa sukses terus dan lancar terus, Aamiin!!!” – Farrel Ihsan Prahaditya

“Dear kak Icha, so nice to know u even kita belum pernah ada partneran bareng. based on ur experience, selain jadi senior di kantor, ka Icha udah berhasil jadi sister figure di studio. goodluck on ur future endeavour ya kak! semoga lancar segala urusan dan apapun yang mau dituju ^^” – Pandu

“Semoga sukses untuk perjalananmu selanjutnya dan segala urusannya dilancarkan dan kamu akan selalu menjadi bagian dari kami.” – Yuliana Putri

“Hai ca, waktu pertama gw masuk ke RAW lo duduk di sebelah kiri gw. Lo cerita tentang keluarga lo yang ternyata berasal dari Lahat (Sumsel) dan pengalaman di sana. Buat gw itu kayak lo terima gw dihidup lo, untuk jadi bagian dari hidup lo (GR bgt gw). Thank you so much untuk semua hal yang lo ajarkan buat gw, untuk semua curhatan yang lo ceritakan dan lo dengar dari gw. Teruslah berkarya dan kembangkan hobi lo. Sukses selalu dan sampai ketemu lagi ca❤️” – Meimei (Agustin)

“Untuk ica, orang yang adventurous bgt, selamat menempuh next step hidup hahahaha semoga bisa selalu berkreasi di dunia kerja yang baru. Danura-nya juga lancar, sampingan yg menyenangkan ditengah kesibukan berarsitektur. Bisa Yoga lagi, jaga pola hidup sehat, smoga next kita bisa pijet bareng lagi. Bisa cepat dihalalkan supaya ngga yang ngga2 wkwk. Keep being you yaa, keep humble :)” – Vivi yani santosa

“Happy graduation kak Icha! Semoga sukses di tempat yang baru. Selamat menikmati liburannya juga. Sayang banget karena baru kenal sebentar, dan belom terlalu deket. Soalnya kayanya seru gitu orangnya. Gabisa ngomong terlalu banyak, tapi semoga bahagia bahagia terus ya! Jangan lupa bahagia, selamat menapak hidup baru!” – Tyo

“Untuk Icha, I do feel grateful to have met you in these past 2.5 years. I learned from you how to deal with people and maintaining balance between them and yourself. Sorry banyak jd tempat curcol. wkwk. Semoga kedepannya lebih baik, dan welcome to another phase of your life. Great work!” – Satria A Permana

“Untuk Kak Ica, mungkin ga terlalu panjang karena baru sebulan disini dan belum terlalu deket sama Kak Ica juga cuma aku ngeliat Kak Ica itu orangnya terlihat asik gitu, friendly gtu dan kadang bisa cairin suasana gituu, itu sih yang baru aku liat hehehe mungkin untuk pesan semangat terus Kak Ica dimanapun Kak Ica berada, sukses selalu dan semoga apa yang Kak Ica lakuin , disetiap proyek yang dikerjakan bisa jadi berkat bagi orang sekitar GBU” – Eubisius Vercelli a.k.a Ubi

“Hallo ka ica, gak kerasa ya kita udah kenal 5tahun, dari awal ketemu ka ica itu orangnya friendly banget, mau main dan bergaul sama siapapun selalu welcome gak pernah beda-bedain mau deket sama siapa aja, dan selalu happy walaupun kalo pulang dari proyek mukanya capek banget tapi tetep kalo di tanya orang pas lagi capek tetep jawab dengan baik dan happy, aku pribadi seneng banget bisa kenal sama ka ica, dan ka ica juga bisa kenal dan baik sama keluargaku aku seneng banget, tapiiiii bener kata pepatah ya ka ” setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan ” tapi ini kan gak pisah ya ka hahahaha, semoga ka ica selalu menjadi pribadi yg baik dan selalu bisa menjadi dirinya sendiri, serta selalu dicintai oleh orang banyak, tetap semangat dan jangan menyerah buat kedepnnya ya ka ica, apapun itu yang ka ica hadapi semua di jadikan pembelajaran agar bisa menjadi yang lebih baik, terimakasih ka ica sudah menjadi bagian teman baik dalam hidupku :))) sampai jumpa di lain waktu dan tempat ya ka:) sukses dunia akhirat aamiin :))))”-Nurul Septiawati

“Kak Ica itu. Sosok ibu. Sosok kakak. Sosok pelindung buatku. Orang pertama yang nyambut kedatanganku di depan pintu RAW September tahun lalu. September tahun ini Kak Ica resign. Orang yang banyak ngajarin berbagai hal dari software, hal – hal teknis, cara bersikap di lapangan, kerja keras dan kerja cerdas, tangguh, sabar, pantang menyerah, cepet banget kerjanya, bertanggung jawab banget. Meskipun kerjaannya banyak tapi juga sambil bantuin aku. Sedih si di hari terakhir Kak Ica di kantor aku harus isoman. Tapi seneng juga selama 2 hari isoman bisa sama-sama ke proyek di Bogor. Semoga Kak Ica selalu seneng sama apapun yang Kak Ica pilih, sukses dan bahagia selalu, lancar dan dipermudahkan semua rencananya. Aamiin.”-Fina

“Kak icha orang pertama yang menyambut saya digerbang ketika datang pertama kali ke RAW saat itu. First impressionnya ketika pertama ketemu orangnya super ke ibuan dan perhatian dengan sekitar, peka dan sangat menghargai waktu dengan baik. Orangnya keren banget bisa membagi waktu dengan berwirausaha ditengah kesibukan di kantor. Punya jiwa kepemimpinan yang super keren dan terlihat tangguh. Kak icha salah satu orang yang bikin kantor terus berwarna karena kadang suka ngelawak kayak lenong di tv dan itu membuat suasana kantor jadi seru dan fun banget. Makasih buat kak icha udah jadi ibu kos yang super perhatian dan sabar ( karena gw suka berisik haha ) dari awal masuk hingga saat terakhir ini, Semoga kak icha makin sukses di luar sana dan selalu tetap menjadi orang yang humble dan berhati keibuan :))” – Andriyansyah Muhammad Ramadhan

“kak ica itu tipe sosok perempuan yang tangguh, bisa tegas, dan juga tau tanggung jawab. tau kapan saatnya tegas dan kapan saat nya slow & chill. Suka ngajakin dan kordinator buat beli makanan saat jam makan. open minded tentang finansial jangka panjang , dan yang saya paham orangnya suka ambil resiko tinggi :)” – Alvyan Adi Saputra

“Icha is a strong independent women. she has unique sense of sensitivity to the environment she’s living in, a “Yoni” and also a mother figure to many people who are close to her. saya suka panggi icha ibu, karna sosoknya emang rada keibuan, pakaian warna warni persis seperti ibu saya :) pandai membangun hubungan dengan para tukang dan juga kolega lintas divisi. shes a loose person who can adapt easily to many kind of situations and persons which make her a quite unique person. sukses buat Icha kedepan semoga bahagia.” – Timbul

“Kak Icha has plenty of experience that can easily be seen through when we are gazing towards her. When I hear her report every monday, it seems like all of those stuffs are easily managed and controlled by her, calmly but surely. Aside from her ability on work, her other side that is humorous, friendly, and really kind, will come up immediately on non-work hours. She is very kind, and easy-going. Very calm though I can expect that the stuff she needs to do and have responsible on is quite many, demanding and crucial. I am wishing the best for Kak Icha’s next plan in the future. I hope everything that Kak Icha has ever wanted will easily show itself, and go towards the wanted track. I also hope that there will still be a time and a chance for Kak Icha to meet and play again with RAW and OMAH family in the future. Wishing you the best of luck, kak!” – Avinsa Haykal

“halo kak ica! hehehe walaupun br kenal kurang lebih 3 mingguan, tp super hepi bisa kenal sama kak ica! kak ica orangnya fun, keibuan juga hehehe sama yg paling menonjol sih kak ica orangnyabtegas tapi asik! hehehe semoga sukses selalu kak kedepannya! makin banyak peluang yang datang dan jadi pribadi yang tetap cheerful! God bless & stay safe also stay healthy kak! 😙” – Gabriela Marcelina

Kategori
Team - Designer Team - Tier 3

Sharfina Nur Dini

Associate Designer

Affiliation

University of Indonesia

Kategori
Team - Designer Team - Tier 3

Alvyan Adi Saputra

Associate Designer

Affiliation

Malang Institute of Technology

Kategori
Team - Administration Team - Tier 3

Nurul Septiawati

Administration Executive

Affiliation

Universitas Esa Unggul

I graduated from DIII Midwifery in 2016, then continued my education for the undergraduate level of Hospital Management at Esa Unggul University. I graduated in 2019, and My work experience and internships were in several hospitals, health centers, independent clinics, and midwives. I like a lot of things and want to learn wherever it is because, in my opinion, learning is not only focused on one goal or one major that we are studying. I am learning can be taken from many sides. That’s why this is one of the reasons I was able to join here to be a part of this family. It started from what I had not been able to do until now. One step ahead, I have learned what the intent and purpose of what I do is. I hope that with me joining the team here, I can be one of the best among the good.

With my experience of working for almost five years, I am pretty proud of what I can do and learn here because, for some people, it is not easy to want to learn again from scratch. Still, I chose to be able to learn again from the beginning starting from the very beginning. I did not understand anything until finally here I could understand and learn a lot of things. Work and Play is my motivation. It means I can work while playing and complete the job properly and correctly according to what a boss wants. I hope that what is already in here can always be adequately maintained and further appropriately developed to become better individuals in the future. If there are still things that are not good, let’s learn together to improve. I am pleased because I can be a part of this RAW Architecture.

Kategori
Team - Administration team - Tier 2

Pepen Effendi

Administration Executive

Kategori
Team - Administration team - Tier 2

Yuliana Putri

Administration Executive

Kategori
Team - Librarian and Researcher Team - Tier 3

Hanifah Sausan Nurfinaputri

Associate Research and Librarian

Affiliation

Gadjah Mada University

Kategori
Team - Designer team - Tier 2

Aqidon Noor Khafid

Associate Designer

Affiliation

Mercubuana University

Kategori
Team - Administration team - Tier 2

Fatima Chitra Setiawan

Administration – Supervisor

Affiliation

Gunadarma University

Kategori
Team - Designer team - Tier 2

Andriyansyah Muhammad Ramadhan

Associate Designer

Affiliation

Sriwijaya University

Kategori
Team - Head - Principal Advisor Manager Team - Principal + Advisor

Singgih Suryanto

Advisor | Structural and MEP Engineering

Kategori
Team - Administration Team - Head - Principal Advisor Manager

Laurensia Yudith

Head of Administration

Kategori
Team - Head - Principal Advisor Manager Team - Principal + Advisor

Realrich Sjarief

Principal Architect + Founder

Kategori
Team - Administration Team - Head - Principal Advisor Manager

Caroline Moeljono

Manager of Tax,Accounting, and Finance

Kategori
Team - Head - Principal Advisor Manager Team - Principal + Advisor

Sudjatmiko

Advisor | Structure and MEP Engineering

Kategori
Team - Designer Team - Tier 1

Agustin

Associate Designer

Affiliation

Universitas Katolik Musi Charitas Palembang

Kategori
Team - Designer Team - Tier 1

Vivi Yani Santosa

Associate Designer

Affiliation

University of Parahyangan

Kategori
Team - Designer Team - Tier 1

Rico Yohanes

Associate Designer

Affiliation

Bina Nusantara University

Kategori
Team - Administration Team - Tier 1

Refi Nur Kusuma

Administration – Purchasing Administration

Kategori
Team - Designer Team - Tier 1

Timbul Simanjorang Arifianto

Associate Designer

Affiliation

S1 : University of Indonesia

Kategori
Team - Librarian and Researcher team - Tier 2

Satria A. Permana

Associate Librarian and Researcher

Affiliation

S1 : Universitas Islam Indonesia (UII)

Kategori
Team - Designer Team - Tier 1

Alim Hanafi

Associate Designer

Affiliation

S1 : Universitas Islam Indonesia (UII)

Kategori
blog

Semesta Kecil

Hari – hari ini saya menghabiskan banyak waktu bersama Laurensia di studio dan keluarga, sembari banyak mendiskusikan hal – hal terkait proyek bersama klien melalui zoom meeting. Pandemi ini memberikan banyak keresahan dari para peserta seminar dari dua webinar sebelumnya, ada banyak pertanyaan juga mengenai arah arsitektur di Indonesia kemana sebaiknya melangkah, bagaimana keadaannya, kenapa kok ngga maju – maju ? Hal – hal tersebut muncul di dalam keseharian saat ini yang berdasarkan keinginan untuk menyibak tirai ilusi dan mendapatkan kenyataan sebenar. Pertanyaannya apakah semudah itu ?

Saya merasakan bahwa saya punya perasaan aneh, perasaan bahwa akan meninggal, sakit, dan waktu itu terbatas. Saya pernah sempat masuk rumah sakit. Saya terkena penyakit lever, hepatitis A pada waktu itu saya mengambil ekatra kurikuler cukup banyak seperti tennis meja, tennis, badminton, aikido, aktif di organisasi keagaamaan dan mengikuti orientasi atau sederhananya mapram yang memakan waktu hampir satu tahun. Pada waktu itu saya masuk rumah sakit Pertamina selama 3 minggu, ayah saya tidur menemani saya selama itu juga di lantai beralaskan matras sederhana.

Malam hari tiba, Beliau tidur di lantai dengan kasur gulung ketika beristirahat. Momen – momen itu adalah saat terbaik saya mengamati kesehariannya. Ia tidak banyak bicara, hanya mengamati kawan – kawan saya yang datang dan pergi. Ketika kawan saya datang ia perlu keluar koridor atau berkeliling sejenak. Ia mengerti mungkin ia menganggap kami perlu privasi. Terkadang Ia mengingatkan bahwa saya perlu beristirahat. Ia mencari infus dan obat ke berbagai macam tempat dengan kakak saya supaya kadar SGPT dan SGOT saya yang 4300 an bisa turun menjadi ratusan. Kakak saya juga mirip dengan ayah saya ia juga tidak banyak bicara. Saya tahu kakak saya sibuk sekali karena pada waktu itu sedang menyelesaikan skripsi dan mempersiapkan bisnisnya. Ia memperluas sisi pemasaran bisinya dan kerap bolak-balik Jakarta dan Bali karena keperluan negosiasi dengan distributor brand yang berlokasi di Bali.

Energi saya memang sedang habis – habisnya pada waktu itu karena banyak membantu kegiatan kemahasiswaan sembari mengerjakan tugas TPB (tahap orientasi awal di ITB). Ada transisi besar dari masa kuliah sampai masa mahasiswa dan saya pada saat itu dipaparkan dengan kemahasiswaan, dan terlibat dengan beberapa kegiatan berbagi di Bala Keselamatan.

Dari cara ayah dan kakak saya memperhatikan saya. Mereka memberikan energi yang mereka punya untuk mengisi energi saya. Saya dididik dengan suasana sehari – hari bahwa, perhatian diberikan sepatutnya sewajarnya saja, laku kami adalah bukti bahwa kata – kata perlu menjadi perbuatan nyata di dalam keseharian. Kami semua sadar bahwa kami saling menyayangi tanpa harus berkata sayang. Hal tersebut adalah sebuah sikap menunjukkan dengan perbuatan tanpa perlu berkata – kata manis.

Selama ini saya terus mencari – cari apa kira – kira padanan istilah tersebut sampai pada satu saat berdiskusi dengan Jolanda Atmadja. Ia menjelaskan dengan istilah, “Semesta Kecil” yang adalah kondisi bawah sadar alam pikiran yang mendasari perbuatan. Dan, saya mendapatkan banyak inspirasi semesta – semesta kecil tersebut dari banyak orang yang menyumbangkan pikiran – pikiran untuk menjawab pertanyaan diatas.

Salah satunya pak Ryadi Adityavarman, beliau menjelaskan kemungkinan – kemungkinan apa yang bisa dipikirkan mengenai arsitektur di Indonesia. Hal – hal soal kemajemukan, soal regionalisme, soal kehalusan, kecairan, yang merupakan kunci – kunci dalam alam teori. Lain halnya di Indonesia, begitu juga yang terjadi di Thailand, mereka mengalami hal serupa. Saya mengetahui hal tersebut dari diskusi dengan Boonserm di studionya dan di lobby hotel Samsan, Bangkok, Thailand,

Bagian Relasi Sosial Arsitektur Berkelanjutan… Lihat lebih lanjut pada halaman research arsitektur berkelanjutan di link di atas

“Realrich, be mindfull selalu ingat akan konteks, mengakar, tanpa kehilangan arah. Sabar ketika harus sama, membaca arah konteks, praktik perlu dilakukan dengan kehati – hatian terhadap keinginan untuk memperkenalkan diri.”

Hal tersebut di dunia ini tidak terlepas dari dampak dari “representasi yang berlebih” yang kerap menjadi keluhan para intelektual di dunia informasi. Saya percaya akan semesta kecil yang baik dan kita membutuhkan orang lain yang justru akan memberikan lompatan yang tidak ternilai selain proses pendalaman diri. Di titik ini Boonserm bisa melakukan lompatan dari human centric architecture ke non human centric architecture. Kondisi budaya Thailand dengan masyarakat yang memiliki apresiasi terhadap budaya, arsitektur, dan gajah. Ketiganya memberikan warna dalam karya Boonserm. Urusannya bukan soal antar manusia lagi namun manusia dan alam.

Tanpa adanya inisiatif dan energi yang aktif untuk merangkaikan ketiganya menjadi karya, tidak akan ada lompatan inovasi tersebut. Sudah cukupkah kita mengenal Indonesia luar dan dalam ? Menembus kesombongan dan merendahkan hati untuk fokus berkarya. Intinya ada di laku sikap keseharian, hal ini dibahas oleh Singgih Kartono di dalam aspek pendalaman jiwa di dalam manifesto cyral spiriterial yang kontekstual dengan pendekatan Boonserm, Ryadi sebuah semangat persaudaraan dan rekonsilisasi. Dunia cyral spiriterial terdengar baik, terlihat indah, terasa nyata, dalam dan tidak sulit dilakukan memberikan kebajikan dalam membangun kota dan desa, jiwa dan materi.

Tulisan Singgih Kartono mengenai Cyral Spiriterial

Saya berterima kasih ke Singgih Kartono seusai sesi diskusi.

“… senang bisa berbagi pengalaman…ini satu tulisan serial untuk pengantar tidur, silahkan dibagikan…Kapan2 bikin workshop arsitektur, implementasi konsep Cyral-Spiriterial dalam dunia arsitektur ya.”

Saya lampirkan konsep dari beliau di bawah untuk teman – teman yang mau membaca dan jangan lupa kunjungi website, dan sapa beliau bisa di sosial media ataupun bertemu langsung. Singgih menjawab dengan semesta kecilnya, dan kemudian arsitektur menerima inspirasi dari disiplin lain. Selamat datang masa depan.

Kategori
blog lecture

Ruang Riung #05 : Modernism in Traditional Architecture Philosophy

Filsafat seringkali dianggap sebagai suatu ilmu yang tidak dipahami
peruntukkannya. Padahal bila ditilik lebih lanjut, filsafat memberikan banyak hal dan dampak bagi kehidupan sosial, budaya, maupun hal lainnya dapat memberikan suatu gambaran terhadap ilmu filsafat arsitektur yang memiliki hubungan dengan perkembangan gerakan arsitektur modern salah satu isu nya apakah di era modern mempengaruhi unsur nilai identitas arsitektur tradisional nusantara Ruang Riung #05 merupakan kegiatan diskusi seputar ke arsitektural, kegiatan ini dibuat sebagai wadah untuk kita mahasiswa yang ingin mendapatkan pengetahuan dan wawasan dunia arsitektur. Pada Kegiatan kali ini mengusung Tema “Modernisme Dalam Filosofi Arsitektur Tradisional”

Philosophy is often regarded as a science that is not understood allotment. In fact, when viewed further, philosophy provides many things and impacts on social life, culture, and other things can provide an overview of the philosophy of architecture that has a relationship with the development of the modern architectural movement. One of the issues is whether in the modern era it affects elements of architectural identity values the traditional archipelago of Ruang Riung #05 is a discussion activity about architecture, this activity was created as a forum for us students who want to gain knowledge and insight into the world of architecture. In this activity, the theme is “Modernism in Traditional Architectural Philosophy”

Narasumber:
Realrich Sjarief (Arsitek, Pendiri RAW architect & Omah library)
Moderator:
Titieandy Lie S.Ars, MT. (Dosen Arsitektur, ITI)

Kegiatan ini akan dilaksanakan pada :
📆 : Sabtu, 11 September 2021
🕐 : 13.00 WIB – 15.00 WIB
📍 : Zoom Meeting & Live on Youtube Vhadyaswasti

Kegiatan ini terbuka untuk Mahasiswa, Dosen, Praktisi, Komunitas Lokal, Akademisi dan Masyarakat Umum.

Biaya pendaftaran Gratis!!!

📧E- sertifikat dikenakan biaya sebesar Rp. 15.000 yang dapat dibayar melalui :
💳Bank Mandiri 1640003517499 a.n. Aidah Nurul Hasanah.

Link Pendaftaran: http://bit.ly/ruangriung5

Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi :
📞0896-5035-0278 (Sri)
📞 0858-8133-7141 (Aidah)

#ruangriung#talkshow#archpedition#vhadyaswasti#vivatvhadyaswasti#architecture

Kategori
blog lecture

Critical Thinking and Creative Design Process

Ronny Gunawan asked me to share design thinking on projects. How to be creative and critical. The studio in UAJY exercises Plowright as design method. In this diagram shows how to understand context from social cultural technical is the techne. That is the part of acquiring the skill of understanding things / topos / human character / programs and all of the basic things.

Then critical thinking is started on how to filter the information and synthesis the questions. It’s when we form the hypothesis and start the process of mapping. The mapping is the starting of deliberate creativity , the it’s going back and forth to propose and evaluate becoming a proposal.

The practice looks so easy, but the really it’s not easy, because each decision involving the creativity and critical design process and it’s actually involving actors in every decision. How to negotiate between the boundaries. That makes the design is wicked but it’s also proving why architecture is so damn complex and damn powerful. It’s powerful because the proposal is based of steps of process and the culture is not easy. Like my greatest professor said, in every lines, there are design decisions, creative thinking and critical thinking, its shows how good you are and how long you have trained so far.

see you this Friday 18 : 30

Kategori
Team - Reflection Letter

Eubisius Vercelli Ocvanto Kuncoro

Eubisius Vercelli Ocvanto Kuncoro Seorang anak kecil yang terlahir dari Arsitektur Universitas Pelita Harapan 2021 yang suka dipanggil dengan sebutan Ubi. Keinginannya untuk menjadi seorang pemenang Pritzker Prize, sebuah nobel penghargaan dibidang arsitektur atas karyanya terhadap kemanusiaan, bukan untuk pamor penghargaannya melainkan untuk menjadi motivasi membuat karya yang bisa berdampak bagi kemanusiaan dan lingkungan sekitarnya. Ubi terus berkelana untuk mencari tahu kontribusi seperti apa yang bisa dia berikan untuk dunia arsitektur dan perjalanannya terus berlanjut saat Ubi mulai menemukan ketertarikannya terhadap arsitektur tanah. Ketertarikannya tersebut membawa Ubi memulai pembelajarannya lebih lanjut ke Jatiwangi Art Factory 2019, Workshop Dome di Auroville Institute di India 2020 , kerja sosial membangun Museum Wakare sebagai salah satu objek arsitektural di Kawasan Kota Terakota Jatiwangi pada tahun 2020 , membawa topik arsitektur tanah sebagai topik dari tugas akhir dia sebagai mahasiswa arsitektur , serta melakukan riset dan eksplorasi berkelanjutan untuk bisa melakukan perkembangan material tanah di Indonesia maupun dunia.Ketertarikan Ubi terus menerus bertambah seiring berjalannya waktu dengan menemukan Instalasi dan Tarian Seni, Filosofi, Sejarah, dan Arsitektur Hijau. Oleh karena keinginannya yang kuat, saat ini Ubi yang masih merupakan seorang anak kecil didunia arsitektur, memilih untuk belajar bagaimana kehidupan di dunia arsitektur dengan bergabung sebagai anak magang di RAW Architecture yang dimiliki oleh Pak Rich yang merupakan salah satu dari 3 role model Ubi di dunia arsitektur. Ubi berharap dapat melatih kemampuannya sebagai seorang arsitek yang mumpuni dalam segi pemikiran,perasaan, teknikal, sosial, dan ekonomi sehingga di setiap detik ia melangkah ia bisa berdampak bagi sekitarnya.

Testimonial

Jujur ini merupakan salah satu checkpoint atau impian saya saat saya kuliah dan saya merasa terberkati bisa bergabung di keluarga RAW Architecture, meskipun saya cuma sebagai anak magang disini. Disini saya merasa bagaimana kita harus terus mau belajar dan mengembangkan diri untuk jadi pribadi yang lebih baik dan bisa bermanfaat bagi sekitar. Saya melihat, mengamati, dan ikut merasakan bagaimana kehidupan di RAW Architecture terjadi. Meskipun baru satu bulan saya merasakan bersyukur dan bahagia bisa bergabung di keluarga ini.

Surat Motivasi

Yang terhormat dan terkasih, Pak Realrich dan Keluarga RAW Architecture. Saya dan kita sebagai manusia semuanya diciptakan dari nol, sesuatu yang paling dasar. Kita harus belajar, bergerak dan melakukan sesuatu berulang-ulang hingga suatu saat nanti kita ahli dalam hal yang sudah kita pelajari. Dunia arsitektur pun begitu. Kita harus belajar, bergerak, mencobanya berulang-ulang hingga suatu saat kita menjadi ahli. Semua hal harus kita lakukan sedemikian rupa,
belajar, bergerak, dan melakukannya berulang kali dalam suatu aspek yang sedang kita geluti. Tidak ada yang berbeda dari setiap aspek, awal dan akhir tujuannya sama, yaitu untuk menjadi ahli. Tetapi yang berbeda ialah bagian antara awal dan ahli, yaitu proses.

Dan untuk itu perkenalkan, saya Eubisius Vercelli Ocvanto Kuncoro, seorang sarjana lulusan arsitektur Pelita Harapan 2021 yang juga merupakan seorang anak kecil yang baru hanya dibalut dengan kain yang bertuliskan “mahasiswa arsitektur” selama 4 tahun. Seorang anak kecil yang belum sepenuhnya mengetahui dunia arsitektur dan mau terus berproses didalamnya. Seorang anak kecil yang memiliki mimpi dan keinginan besar untuk menjadi pemenang Pritzker Prize, bukan
untuk ketenaran dan penghargaannya tetapi untuk menjadi motivasi untuk terus berkarya dan berdampak bagi manusia disekitarnya.
Sejujurnya pertama kali setelah menerima kabar bahwa diri saya lulus dari Arsitektur UPH, pertanyaan yang terbesit setelahnya adalah “abis ini mau ngapain ya?” tentunya pastinya berbahagia karena lulus, tpi bukan itu. Lebih kepada checkpoint apalagi yang akan saya tuju berikutnya. Akhirnya checkpoint selanjutnya ialah untuk mencari kerja. Diawal menentukan mau kerja dimana saya bingung akan kerja dulu atau magang terlebih dahulu karena saya belum pernah bergabung dalam suatu firma arsitektur. Setelah saya berpikir , berpikir, tertidur, berpikir lagi akhirnya terbesit dalam pikiran saya untuk hal pertama yang saya cari ialah mentor. Sepertinya arketipe yang disampaikan oleh Carl Jung mengenai Wise Old Man, orang tua yang bijaksana dari situ saya melihat bahwa penting bagi saya, seorang anak kecil yang masih mencari kebenaran di dunia arsitektur untuk menemukan seorang “Wise Old Man” bukan untuk menentukan kebenaran saya, tapi untuk membantu saya berkembang dan belajar bertumbuh dalam dunia arsitektur. Oleh karena itu saya melihat sosok Pak Rich.


Kenapa Pak Rich? Alasan paling dasar karena Pak Rich, selaku empunya RAW ini merupakan salah satu dari ketiga role model saya selama saya berkuliah di arsitektur UPH yang saya tahu memiliki firma arsitektur. Beliau mengajarkan saya banyak hal dan salah satunya yang paling saya ingat yaitu bahwa “tidak usah takut untuk jadi diri sendiri karena setiap orang punya metodenya masing-masing”, dan kata-kata beliau tersebut selalu menjadi motivasi saya untuk saya lebih percaya diri dalam mendesain karya-karya saya, Dan setelah saya sedikit melihat tentang firma arsitekturnya yaitu RAW Architecture, saya menyukai projek-projek RAW yang menggunakan material asli pada bangunannya. Bagaimana sebuah bamboo dan material lainnya dicoba untuk diolah/dieksplorasi sesuai dengan keaslian tektonikanya masing-masing. Dimana disini juga berfokus pada ketukangan terhadap material aslinya sehingga bisa lebih menghidupakan lagi sebuah keaslian materialnya dan ekosistem (tukang,arsitek,bangunan, client dan lainnya) di sekitarnya.

Dan akhirnya, itulah alasan saya kenapa saya tertarik untuk menjadi bagian dari keluarga RAW Architecture. Menjadi seorang anak kecil yang mau belajar di sebuah keluarga dan kedepannya akan membawa pemaknaan dari pembelajaran dikeluarga tersebut dan membagikannya kepada orang sekitar sehingga bisa berdampak bagi sekitarnya.

Kategori
award

RAW Architecture is in Long List of Emerging Architecture Design Studio – Dezeen Award 2021

Our studio is in Long-Listed of Emerging Studio in the World 2021 by Dezeen. The studios selection is the fourth Dezeen Awards 2021 longlist to be unveiled. The architecture longlistinteriors longlist and design longlist were published earlier this week, and tomorrow the new media categories longlist will be announced.

Longlisted projects and studios have been selected from over 4,700 entries from 87 countries for the fourth edition of our awards programme, which celebrates the world’s best architecture, interiors and design as well as studios and individuals producing the most outstanding work.

Shortlists to be unveiled in September

The next stage of Dezeen Awards 2021 will see all longlisted projects assessed by our panel of 75 industry-leading professionals including Olafur EliassonSumayya Vally, and Arthur Casas.

The judges will determine which studios feature on the shortlists, which will be announced in September. A further round of judging by our master jury will determine the category winners, which will be announced in November.

Other than us there is another Indonesian Studio as well RAD+ar , it’s collective effort in global to share what’s going on in our own specific context.

See the full studio longlist below:

Architecture studio of the year 

Austin Maynard Architects
Ballistic Architecture Machine
CHYBIK+KRISTOF
Fjmt Studio
JGMA
Kobi Karp Architecture and Interior Design
LAN (Local Architecture Network)
Levelstudio
NADAAA
Neri&Hu Design and Research Office
Pdaa
Pedevilla Architects
Sanjay Puri Architects
Sasaki Architecture
Smart Design Studio
SO – IL
Studio Anna Heringer
Studio DCode
The Grid Architects
Tres Birds Workshop
Ventura and Partners
ZAV Architects

Emerging architecture studio of the year

Andrea Caputo
ArkleBoyce
DAAM
Ebba Architects
EID Architecture
G Architects Studio
Leckie Studio Architecture + Design
Mizzi Studio
Mold Architects
NOMOS
ODDO Architects
Orient Occident Atelier
Pan-Projects
Peter Pichler Architecture
RAD+ar
RAW Architecture
Studio DIAA
Studio Puisto Architects
Studio Saxe
Studio Toggle
Studio Plus Three
Tegnestuen Lokal
The DHaus Company
UHA
Valentino Architects
VATRAA

Interior design studio of the year

Andrin Schweizer Company
Baufritz UK LTD
Bishop Design by Paul Bishop
CASE-REAL
Chloe Kemp
Fogarty Finger
Frank Architecture & Interiors
Fyra
Home Studios
Joyce Wang Studio
PANORAMA Design Group
Rafael de Cárdenas/Architecture at Large
Sarit Shani Hay Design Studio
Simon Hamui
Stefano Tordiglione Design Ltd
studio_VDGA
Tara Bernerd & Partners
The Grid Architects
Universal Design Studio

Emerging interior design studio of the year

Child Studio
EB Interiors
File Under Pop
Firm Architects
Fumihiko Sano Studio
I IN
Ja!Coco!
Jolie Studio
Manea Kella
Minus Workshop
Prostornina d.o.o.
Run For The Hills
Sing-Sing
Studio 11:11
The Guild of Saint Luke
WGNB
Wimberly Interiors
YSG
Zarysy

Design studio of the year

Chila Kumari Burman
Diez Office
DN&Co
Estudi Antoni Arola
Form us with love
Henrybuilt
John Pomp Studios
Lee Broom
Nomad
Spread
Superflux
The Grid Architects
Yabu Pushelberg
Zak Group

Emerging design studio of the year

A Space
CLL Concept Lighting Lab
Dasein Products (El Decora International)
ElMago
ENSCI
Laita Design Studio
Lumia Lab
Makers Department
Mario Tsai Studio
Marjan van Aubel Studio
Marvel Designs
Older
Prototypum
Run For The Hills
Soft-Geometry
Studio Raw Material
ThusThat
Tom Fereday Design
Woodendot
Yakusha Design/FAINA

Founded in 2011, RAW Architecture (Realrich Architecture Workshop) is a ground-breaking design studio consisting of architects, thinkers, and craftsmen.

The studio consists of collaboration and dialogues between three platforms; the first one is RAW Architecture design studio explores the methodologies of sustainable design and relationships between contexts and materials; second is DOT Workshop laboratory emerges the art of building construction in implementation producing tectonic grammars; and Omah Library contributes to research, literacy developments, books publishing and hosting hundreds of periodical public discourse-seminars.

Realrich Architecture Workshop serves in the cores of the ecosystem of sustainable design and practice in Indonesia.

Kategori
award

Thank you Jurors, Marcus Fairs, and all of the Dezeen team. Guha is in Long Listed of Dezeen Award

Marcus Fairs and all of the Dezeen team. I just wanna say that thank you for the initiative of the Dezeen Awards. We got an email about good news for the RAW Architecture studio. So Guha is long-listed in Dezeen 2021 award which means, the cave’s experimentation is recognized. The transformation over time needs patience and elaboration of methods, tectonic in implementation. Since the beginning, The impact that the award gave us is powerful. We have got recognition from many intellectuals. Even though it also challenges us to be able to improve even further. It’s like a mirror asking ourselves, are we progressing ? or are we stuck by our own shadows and persona. Jung is probably right, to be to overcome ourselves. We need to say grateful for all of the other people have done to us.
.
This work has a resemblance of collage of available context and making of craftmanship. The program is flexible and forms a Labyrinth that has 200 doors inside. The doors showing the degree of flexibility, and the maze represent the dynamic and plural change.
All of the inspiring intellectual people have the shadow of being the type of people who forget the roots, how I dream of a society that appreciates and has a unique and specific design approach, providing complete generic solutions, and still humane.
.
To service our clients, our own ecosystem, our daily routines, appreciating the people inside the studio is my goal. It’s an act of giving. This is my message to myself as hope and a reflection of our journey process. This is with the hope of building a studio culture with dialogue. I asked the people inside the studio to write down impressions on experience in the studio. Many people answered in simple writing. Many people write long paragraphs. All of the prayers for our studio are developing than before. This is including the hope of building a studio culture with dialogue.

“Even though I’ve only been in RAW Architecture for three days, but I can already sense the fast and restless flows of information in-between the work environment, which honestly made me quite “surprised” because I wasn’t fully used to this pace. But I started to learn how to work with a team, and was more careful with details, whether it’s technical details that have been ‘standardized’, or non-technical such as workflows doing a job/drawing in the studio. From that ambience, it sparks myself to fully extend my creativity and my energy, giving good strains to them so that they will expand and grow in the long run. … I am really grateful to be here and will try my best to keep my pace up, my learning spirit up, and get to know all of the family more.”-Avinsa Haykal.

“Grateful to still be given the opportunity to work and study here. Throughout the journey in RAW for almost 2 years, it is enough to feel once how RAW transforms or progresses. Both in terms of studio culture, workplace, job management to work product standards. I am grateful to be able to learn in every phase. I’m sure this change is a good thing, but sometimes it’s considered too fast because because not all lines can respond directly to it, it takes time to adapt. That way I think there needs to be proper control so that this change does not end in chaos, system flexibility seems to be needed to accommodate the course of change or transformation. But I don’t think it’s easy to make it, you need to be careful and consistent in sorting out which cores are fixed and which ones can change. This flexible system also needs to be refined at any time…” – Alim Hanafi

“I hope the ecosystem is more developed. And make the platform we develop become a trendsetter for Indonesia and the world”-Muhammad Farhan Nashrullah

“…I want to continue to gain more knowledge so that I can develop”- Farrel Ihsan Prahaditya

“Being part of the raw team is a matter of pride for which I am very grateful. Being on the Dream team with a supportive and positive environment provides its own motivation to continue to progress and develop in undergoing various processes in raw. Be happy and proud every time Raw gets various awards and keeps moving forward. I hope that raw will continue to be a humble and warm dream team like family…” – Andriyansyah Muhammad Ramadhan

“Congratulations to RAW Architecture and all the partners involved in the development journey of this firm. Successive achievements in Dezeen are certainly not by chance. I believe that every point has an important role, which has developed its potential very well by Rich and Yudith. Hopefully this firm can continue to play a role in the development of architecture and the built environment in Indonesia. Stay humble and work with accurate, inspiring, and aware. And especially the OMAH Library where I was educated, hopefully it will always be a place to stop and return for souls who are restless about themselves and the discourse of architecture in Indonesia… Thank you RAW and OMAH, what a great experience!”- Satria Permana Agung

“Congratulations to the awesome RAW studio for being able to enter the 2021 long listed dezeen awards, which is sure to get to this point I don’t think it’s easy, but Rich has imagined it beforehand, so that he continues to try to give the best for each of his works with sincerity and patience so that it produces something which is amazing, and don’t forget what is certain is the solid teamwork that is in it. The hope for the future is that this studio will be more successful and advanced again nationally and internationally, which can be known by everyone and all circles, with its architectural character starting from the use of materials, methods, and also the form of exploration. Even simple materials can make something cool…. Congratulations to RAW Studio. THE BEST OFFICE IN THE WORLD.”- Khafyd

Previously, the people’s comments are in Bahasa (Indonesian), I took time to translate this to English, and I showed Laurensia these comments and feel grateful about it. Some of them are conveying gratitude and evaluation to us. I hope this year of period in Pandemic brings a humbleness of attitude, honesty, the softness of making, and clarity on thinking. This totality of both is called praxis. As professional architects, we all have a primary task, praxis, and a more elaborated one to achieve the poetic side of work. It’s like thinking, doing, and pushing all of the effort to produce good work. All of us in the studio are being better, training others, and being trained by others. This brings good wishes for creating a better ecosystem of practice.
.
Hopefully, with the good wishes of the studio, the spirit can be maintained and realized. Things that should be improved can be improved. Rahayu needs to be practiced to become a good “bridge.”
.
The sound of steel welder is loud calling from outside, the craftsmen knocking. “Sir, what do you think about these joineries ?”
Suddenly, the sound of steel welder, Aep, is loud calling from outside, the craftsmen sending a text. “Sir, what do you think about these joineries? I just made things from the reused material.”
Thank you, people. Let’s get back to work. Best Office in The World.

Kategori
blog

Circle Means Family

Hari ini (jumat) di Bulan July 2021 adalah saat Alifian Kharisma menghabiskan hari terakhir di studio, Alifian akan berhenti menjadi tim permanen di studio dan mungkin akan membantu di project berdasarkan part time apabila diperlukan dan waktunya memungkinkan karena kesibukannya di sekolah dan keinginannya berdikari. Jadi setelah ini akan off dari grup kordinasi langsung studio ini. Jalan panjang masih terbuka, untuk berbagai kemungkinan. Kita semua masih bekerja bersama – sama, hanya saja dari tempat berbeda, berkumpul bersama, hanya intensitasnya lebih jarang. Lembar masa depan terbuka lebar dengan berbagai macam kemungkinan.

Hari ini (jumat) di Bulan July 2021 adalah saat Alifian Kharisma menghabiskan hari terakhir di studio, Alifian akan berhenti menjadi tim permanen di studio dan mungkin akan membantu di project berdasarkan part time apabila diperlukan dan waktunya memungkinkan karena kesibukannya di sekolah dan keinginannya berdikari. Jadi setelah ini akan off dari grup kordinasi langsung studio ini. Jalan panjang masih terbuka, untuk berbagai kemungkinan. Kita semua masih bekerja bersama – sama, hanya saja dari tempat berbeda, berkumpul bersama, hanya intensitasnya lebih jarang. Lembar masa depan terbuka lebar dengan berbagai macam kemungkinan.

saya sangat berterima kasih atas upaya, kerja kordinasi Alifian menuangkan kerja kreatif dan kritis yang intensif yang tidak hanya sebentar namun bertahun – tahun disini. Alifian adalah orang yang sabar dan tidak pernah lelah menemani saya dan adalah saksi hidup di studio dibalik gagalnya dan suksesnya proyek kecil maupun besar. Dan dirinya adalah jembatan antar generasi di dalam studio ini. Ia adalah saksi bahwa Kesuksesan adalah hasil dari pembelajaran – pembelajaran dan ia sendiri terus bertransformasi sampai sekarang.

Kerja – kerja Alifian adalah kerja yang tidak mudah karena untuk menempati posisi seperti dirinya yang adalah kepala di studio memerlukan untuk melepas ego dirinya dan melebur di dalam kondisi orang lain, multi perspektif, multi disiplin dan lagi – lagi multi generasi. Ia adalah jembatan nyata antara designer yang baru atau desainer dengan ratusan orang yang sudah masuk lalu lalang di studio
.

Di dalam budaya studio RAW Architecture, sekali sudah menjadi keluarga di studio, nama Alifian akan terus dikenang upaya, karakter, dan kontribusinya dan hal tersebut akan terus dicatat. Tali silahturahmi ini tidak akan terputus dan sama – sama kita doakan yang terbaik kesuksesan Alifian.

Tim kita adalah tim kecil yang realistis, ada tim admin, tim build, tim desain, dan tim perpustakaan. Tim ini bisa saja terlihat kecil namun terbukti progressif, dari tim yang kecil kita membuka sekat – sekat kemungkinan melalui ketepatan kerja, waktu dan kualitas personal. Alifian adalah tim inti salah satu nukleus yang menyatukan ekosistem yang ada. Tidak mudah mencari setiap orang untuk bisa bekerja bersama dari proses seleksi. Begitu antar personal bertemu sulit berpisah karena sudah tercipta ikatan emosional. Di balik ikatan tersebut ada doa untuk menjadi biasa, ada doa untuk menjalani segala suatu yang apa adanya, menjadi seseorang yang terus berbagi, dalam suka ataupun duka.

Kita semua berlatih untuk meraih dan melepaskan waktu, relasi, dan kesempatan. Momentum tersebut membentuk sebuah kenangan yang baik. Alifian sudah memberikan kenangan yang manis di dalam Studio ini. Semoga ilmu yang didapatkan di studio bisa diamalkan Alifian terus menerus. Alifian punya sendiri membentuk kehidupan orang lain memberikan dampak yang positif dan usaha untuk memperdalam ilmunya di dunia arsitektur. Di dalam arsitektur kita mendapatkan visi, misi, belajar, dan mengaktualisasikan jiwa raga kita semua sepenuh hati. Dari situ muncullah kesempatan untuk memberikan jejak kenangan, dan saya patut berterima kasih jejak kenangan Alifian yang tidak akan terlupakan kepada studio ini.

Di bawah ini saya lampirkan buku kecil, jejak – jejak kenangan cerita untuk Alifian, harapannya, dan pendapat orang lain mengenai dirinya dengan harapan memberikan kenangan yang manis.

Today (Friday) in July 2021 is when Alifian Kharisma spends his last day in the studio, Alifian will stop being a permanent team in the studio and may help on a project on a part time basis if needed and the time allows due to his busy schedule at school and his desire to be independent. So after this will be off from this studio direct coordination group. There is still a long way to go, for possibilities. We’re all still working together, just from different places, coming together, just less intensely. The future is wide open with a wide variety of possibilities.

I am very grateful for the efforts, Alifian’s coordinating work has poured intensive creative and critical work that has not only been for a short time but for many years here. Alifian is a patient person who never gets tired of accompanying me and is a living witness in the studio behind the failures and successes of small and large projects. And he is the bridge between generations in this studio. He is a witness that Success is the result of learning – learning and he himself continues to transform until now.
.
Alifian’s work is not an easy job because to occupy a position like him who is the head of the studio requires to let go of his ego and merge into other people’s conditions, multi perspective, multi discipline and again – again multi generation. He is a real bridge between a new designer or designer and hundreds of people who have entered the studio
.
In RAW Architecture’s studio culture, once family in the studio, Alifian’s name will continue to be remembered for his efforts, character and contributions and that will continue to be recorded. This friendship rope will not be broken and together we wish Alifian the best for success.
.
Our team is a realistic small team, there is an admin team, a build team, a design team and a library team. This team may look small but is proven to be progressive, from a small team we open up the barriers of possibilities through work accuracy, time and personal quality. Alifian is the core team of one of the nuclei that unites the existing ecosystem. It is not easy to find everyone to work together from the selection process. Once the personal meet is difficult to separate because it has created an emotional bond. Behind this bond there is a prayer to become ordinary, there is a prayer to live everything as it is, to be someone who continues to share, in joy or sorrow.
.
We all practice grabbing and letting go of time, relationships, and opportunities. The momentum forms a good memory. Alifian has given sweet memories in this studio. Hopefully the knowledge gained in the studio can be practiced by Alifian continuously. Alifian has his own way of shaping the lives of others, giving a positive impact and an effort to deepen his knowledge in the world of architecture. In architecture we get the vision, mission, learn, and actualize our body and soul, all of us wholeheartedly. From there came the opportunity to provide a trail of memories, and I should thank this studio Alifian’s unforgettable memories.
.
Below I attach a small book, traces of memories of the story for Alifian, his hopes, and other people’s opinions about him in the hope of giving sweet memories.

From monday the world goes on as usual, everyone has their own journey, congratulations Ali.

Alifian Kharisma Syahziar

“Thanks for everything kak Rich n kak Yudith . You’re such a Role Model. Saya banyak belajar dari kak Rich bagaimana mengelola biro dimana orang orang menggantungkan sebagian nasibnya disana, bagaimana mengelola biro yang dituntut terus berkembang pengetahuannya mengikuti perkembangan teknologi. Terlebih lagi, bagaimana menjadi arsitek yang juga orang tua, guru, dan manusia biasa. At the end, perjalanan di studio adalah bagaimana kita masuk, dan terkahir, bagaimana kita keluar.

Testimonial Alifian mengenai proyek di studio.

“kultur studio RAW tidak lepas dari karakteristik seorang kak rich. yang tangkas, mendidik, dan passionateful. dari ribuan jam sy di studio rasanya selalu ada hal baru menanti. ‘there is no problems if new one arrives every minute’. kutipan di ppt raw introduction yg selalu sy bacakan buat para staff baru dan anak magang.
ini kesan saya yang pertama. Bekerja seperti belajar berenang, kadang dibimbing, kadang dilepas. kalau tenggelam ada yg ngangkat ke permukaan lagi. kak rich dan para senior itu mentor sy untuk berenang. kak rich pun masih belajar dengan guru dan tingkatan yg berbeda. seiring pengalaman, saya juga harus menjadi mentor untuk yg lebih muda.”

” kesan saya untuk proyek Kemang sejauh ini: pengalaman yg baru dengan realitas proyek yang seperti nya lebih komplit dr yang pernah sy jalani di studio dari segi stages. mulai site analysis, skematik, DD, tender drawing, for con drawing, perijinan, meeting mingguan, MoM. saya bisa bertemu banyak stakeholder seperti proyek manajer, qs, kontraktor, konsultan2 lain.

di tim studio sendiri yg paling unik adalah dmn person incharge nya ganti ganti. seingat saya dimulai dr asep dan irul, trs ke saya, aga, gomes, aris, michael, trs ke nida dan dini. beberapa anak magang jg membantu untuk eksplorasi maket. jd kesannya proyek ini adalah proyek keroyokan. menurut sy portfolio bagus untuk kita sebagai studio dan individu mengingat proses nya yg komplit dan proyek nya adalah proyek bangunan publik, apalagi di kemang. memang disayangkan anak2 diatas tidak mengalami penuh proses ini.

bagi saya, proyek semacam ini adalah kesempatan yg baik bagi siapapun untuk bisa merelealisasikan apa yg direncanakan dengan banyak pelajaran. proses desain yang cukup dalam, interaksi dgn orang luar lingkup raw, mensinkronkan pikiran, professionalitas, mengujui kesabaran. 😁”

Testimonial Alifian tentang cara kerja studio.

“kultur studio RAW tidak lepas dari karakteristik seorang kak rich. yang tangkas, mendidik, dan passionateful. dari ribuan jam sy di studio rasanya selalu ada hal baru menanti. ‘there is no problems if new one arrives every minute’. kutipan di ppt raw introduction yg selalu sy bacakan buat para staff baru dan anak magang.

ini kesan saya yang pertama. Bekerja seperti belajar berenang, kadang dibimbing, kadang dilepas. kalau tenggelam ada yg ngangkat ke permukaan lagi. kak rich dan para senior itu mentor sy untuk berenang. kak rich pun masih belajar dengan guru dan tingkatan yg berbeda. seiring pengalaman, saya juga harus menjadi mentor untuk yg lebih muda.

kesan yang kedua yaitu: setiap orang di studio ini punya kepribadian masing2 yg unik. punya skill skill yg tidak terduga, jago bola, musik, jago joget, jago kerajinan tangan, dll. orang orang datang dan pergi. mereka punya kesan masing2 bahkan untuk orang yg cuma punya waktu 1 hari di studio. 😆. dari sini saya bersyukur kenal macam macam orang.

kesan sy yg ketiga yaitu bekerja di studio ini memang sangat dikejar kejar waktu. sejak marak wa grup 3 tahun lalu.semua proyek dibuat wa grup kordinasi dan hampir semua nya saya join. notifikasi di hp saya tidak berhenti muncul, akhirnya sy silent grup yang sedikit atau tidak ada kaitannya. hampir setengah dari waktu kerja dihabiskan dgn kordinasi wa atau telepon. semakin hari wa grup semakin bertambah. sy menyadari kalau proporsi proyek baru dan proyek selesai memang tidak pernah seimbang. laju informasi dari wa yang tidak bisa dibendung. untuk ini saya seringkali membalasnya dgn “”apa masih ada waktu?”

-Pesan untuk Studio: Punya lebih banyak kerabat yang baik, orang2 yang saling mendukung dan punya vibes yang sama diiringi dengan punya lead time yang baik sehingga bisa selaras.
-Pesan untuk kawan kawan terbaikku: Kumpulkan bekal sebanyak banyaknya. dengan rendah hati, enjoy,. Semoga lebih disiplin lagi kedepannya dan have a healthier cycle.”

Testimonial dari rekan – rekan yang lain.

Nurul dan Repi : ” Makasih mas ali udah gak ngeribetin kalo pas reimburse grab sm toll, makasih udah selalu dingin tapi tiba-tiba bikin ngakak, yaudalah yaaa makasih buat semuanya aja, semoga kita bisa bertemu di lain waktu dan kesempatan. aamiin”


Dimas Dwi Mukti Purwanto : “Saya memahami bahwa mas Ali adalah sosok yang tenang dan stabil. Dan sosok yang tenang dan stabil memiliki perannya sendiri dalam sebuah ekosistem perusahan dalam menenangkan situasi sehingga kita bisa berpikir lebih jernih. Saya pikir ini aspek fundamental dalam ekosistem pekerjaan arsitektur. Yang membutuhkan gagasan2 kreatif dalam waktu yang relatif singkat. Pernah suatu ketika bekerjasama dalam satu pekerjaan membuat materi presentasi. Deadline tergolong padat. Namun pekerjaan justru diselesaikan dengan sangat tenang. Dan pada akhirnya kita bisa menyelesaikan susunan materi sedalam apa yang telah kita pikirkan. Cukup membanggakan secara personal. Apa yang dikerjakan sangat berguna bagi perusahaan. Mungkin kalau tidak tenang, kita akan terjebak dalam pikiran “”yang penting selesai””. Dan ini akan menciptakan penyesalan bagi diri sendiri. Tetap tenang dan stabil adalah hal yang bisa dipelajari dari mas Ali”

Caroline : Senang melihat kamu terus berkembang, sukses selalu dalam karier, pendidikan dan pribadi, sampai jumpa

Kiswanto : Terima kasih untuk mas ali yang sudah menjadi bagian dari keluarga besar RAW dan semangat terus untuk menempuh pendidikan barunya semoga sukses dan apa yang di cita citakan semoga cepat terkabul.amiinn

Rico Yohanes : Hampir 2 tahun saya berada di RAW, pengalaman saya bertemu kak Ali sepanjang ini memang sering berada di luar lingkup proyek. Menurut saya Kak Ali adalah teman sekaligus guru yang ramah dan bijaksana. Bercandaan yang spontan tapi mengubah situasi studio menjadi lebih santai. Beliau suka bercanda, namun suka juga serius sekaligus tegas. Dia juga sering menjawab pertanyaan walaupun bukan lingkup pekerjaannya. Tidak heran dia menjadi seorang assosiate, karena mampu mengendalikan situasi studio. Semoga dampak yang diberikan oleh kak Ali di studio dapat berdampak juga diluar sana. Semoga kehidupan lahir baru arsitek-mu sukses dan jaya kak. Jangan lupa dengan kita kak, suatu saat kita akan bertemu dengan situasi yang berbeda 😁. Thank you untuk pengalaman sepanjang di studio kak. Setelah pandemi selesai ada permainan yang harus kita mainkan 🎮
Yuliana Putri semoga Ali untuk melakukan pekerjaan yang hebat dengan mencintai apa yang sudah dilakukan / dikerjakan dengan semangat dan bahagia, jika belum menemukannya, teruslah mencari dan jangan puas, sukses slalu untuk ka Ali :)


Satria : Thank you kak Ali. Good job ya. semoga setelah ini banyak hal keren menjumpaimu. meski nggak banyak kerjasama, tp lo banyak ngasih gw cara gimana cara menghadapi realita. see you on the next level.


Novita Gunawan : Momentny saat ngurusin ajib buat perijinan imb, ngejar ajib bareng kak Ali, bolak baliknya itu ada jengkel sama ajib sampai lega akhirnya selesai imb nya, keren sich, Kak Ali termasuk sesepuh di tim design, panutan yang baik buat karyawan disini, semoga Kak Ali tambah sukses dan semoga bisa ketemu lagi nanti dan bisa silaturahmi. Semoga Kuliah nya lancar dan Semoga sukses kak

Andriyansyah Muhammad Ramadhan : Kak ali itu salah satu sosok leader yg paling super duper humble, sabar, dan bener2 kaya sosok kakak yg bakal support dalam semua hal. Banyak banget dapet pelajaran2 berharga dari kak ali mulai dari arsitektur dan pelajaran hidup . Orangnya bisa diajak ngobrol dari hal2 serius tentang urusan kantor sampai hal2 sepele / gak penting di luar kantor. Bener – bener kak ali gak ada duanya, terbaik dari yang paling terbaik. Bakal kehilangan sosok kakak super humble ini di kantor, tapi yang paling penting all the best untuk karir kak ali kedepannya yaa, semoga bisa terwujudkan semua harapan dan cita2nya


Erick : Untuk Alifian, warna kantor baik secara karya maupun keceriaan kantor tidak lepas karena adanya Ali. Thanks untuk waktu bisa berkembang bersama di kantor. See ya again.


Khafyd : Teruntuk kak Alifian , pertama kali saya masuk studio saya melihat kak Ali ini orang yang sangat serius dan gak mudah ketawa, seiring berjalannya waktu saya mulai dekati kenalan dan ngajak ngobrol dan dari situ saya mulai tau kalau dia ternyata Assosiate, dimana seseorang yang memimpin mengatur pekerjaan tiap” orang di dalam studio ini. Dari situ saya coba melihat mengamati bagaimana cara dia dalam memimpin rapat, diskusi dengan pic masing” proyek dan juga bagaimana dia mengasih tahu detail” konsep design. Kak Ali ini merupakan seseorang asyik ketika menjadi teman dan suka ngelawak, yang serius ketika menjadi pemimpin, yang sabar ketika menjadi guru di dalam studio raw . Semoga kedepannya bisa ada ka Ali yang ke 2 ke 3 dan seterusnya yang hadir di dalam studio raw ini. Yang mempu memimpin semua proyek dan menjadi tauladan bagi anak” arsi raw untuk menjadikan studio ini yang terbaik dengan karyanya. Sukses terus untuk ka Ali kedepan nya khususnya study S2 nya. Semoga bisa bertemu lagee… :)


Memeh : Thank you for your help and kindness. I wish you the best of luck and continued success wherever you may find yourself. See you soon.


Meimei (Agustin) : Untuk mekanisme kantor sekarang saya merasa jadi lebih teratur dan lebih tertata kak. Dengan adanya absen yang baru, kita jadi bisa lebih disiplin, bukan hanya ke studio (pekerjaan) tapi juga ke diri sendiri. Karena terkadang kita lupa waktu sehingga tidak bisa disiplin ke studio ataupun ke diri sendiri. Terima kasih kak

Vivi Y. Santosa : “Adanya sistem jam kerja yang jelas membuat bekerja lebih mudah dan menciptakan keproduktifan yang baik. Saya juga lebih senang karena ada ruang waktu work life balance lebih baik. Arsitek adalah pekerjaan marathon yang panjang, batasan waktu kerja dan istirahat yang cukup itu perlu sehingga tidak jenuh dan bisa mendapatkan hasil yang optimal.

Testimoni untuk Kak Ali : Seseorang yang sangat saya hormati karena beliau bekerja secara profesional tapi tidak kaku (fun orangnya). Jarang mengeluh, fokus dalam membereskan pekerjaan. Sangat jelas dalam membimbing dan memberi pengarahan. Belajar banyak bagaimana harus bekerja secara smart, cepat, dan tepat sasaran. Best associate that i ever had! :)”


Thomas Andrean Santoso “..ingat dulu sy datang dikondisi kantor sedang hectic banget. hehe dan saya melihat dan merasa tensi kantor sedang tinggi sekali. serem juga sih awalnya termasuk Mas Ali. kaya sadis gitu. lalu saya ikut aja yang dia minta dan selesailah proyek deadline tersebut.saat makan malam eh mulai muncul sifat-sifat banyol yang saya ga abis pikir. ternyata orang nya ancur begini. joget-joget ga jelas, nyeloteh yang absurd, dan seringnya mecah keheningan kantor lewat celotehan aneh bin nyleneh. cuma ni orang saya pikir ada sisi tenang dan pendiamnya yang jadi enak kalo ngobrol yang serius-serius juga masuk. tak terasa 3 tahun perkenalan kita, istilahnya seperti temen SMA yang kocak abis selesai masa 3 tahun dan lulus sapa si yang ga kangen. tapi gapapa pertemuan dan perpisahan cuma dimensi waktu dan tempat saja, tapi hubungan relasi dan keterikatan memori tetap akan ada. sukses my Bro!”


Alvyan adi saputra : “Hubungan antar manusia yang sehat, sehingga menciptakan suasana kerja yang tidak membosankan walau sering pulang sampai malam. Terasa seperti kembali ke masa kuliah lagi. Banyak open space di kantor buat lingkungan kantor buat saya bisa tenang (karena saya tipikal orang yang tidak terlalu betah di dalam ruangan tertutup). Banyak buku-buku tentang Improving Self-Esteem yang bisa di baca. Untuk sedikit masalah kecil yang saya dapat di diri saya sendiri mungkin dari sisi jam kerja, kadang saat ada acara keluarga di rumah ,merasa sungkan untuk pulang lebih awal di banding teman2 yang lain, walau tidak ada aturan pulang jam 9 malam. Dan mungkin untuk makanan bisa di perbanyak sayur2an, tempe atau tahu di banding ayam yang berminyak, agar kondisi kesehatan dan imun warga kantor RAW bisa lebih kuat dan tidak mudah sakit. Sebelumnya moho maaf jika ada salah kata atau lancang dalam menginterpretasi atau memberikan hal hal yang ingin di sampaikan, terimakasih


Fina : “Banyak hal yang saya dapatkan di RAW. Bukan hanya mengenai desain dan teknis, tapi juga tentang tanggung jawab, kemandirian, kenekatan, keberanian, ketekunan, pertemanan orang2 dan budaya kerja yang berbeda di sini. Saya merasa atasan di sini juga bisa menjadi teman atau mentor yang baik, humble, bisa menyatu satu sama lain. Mungkin hal ini tidak akan saya dapatkan di tempat lain. Ketika memasuki suatu hal yang baru pasti ada banyak hambatan. Karena ketidaktahuan di awal. Saat masuk build saya menemukan banyak kesulitan, saya tidak tahu mengenai semua data, file, obrolan dengan owner / vendor karena tidak ada di grup, tidak tahu di mana letak semua file. Tidak tahu kalau ada update perubahan. Harus berkoordinasi dengan berbagai macam orang dengan karakter yang beda. Saya bersyukur sekarang sistemnya sudah lebih diperbaiki. Juga berharap agar saya yang ilmunya masih sedikit ini dapat dibimbing dan didengar. Kalau associates / HRDnya bukan Kak Ali aku mungkin sekarang ga di RAW. Kak Ali itu suka banget psikologi atau nebak2 orang. Peka banget, sabar, bisa inget sama ngerjain banyak hal dalam satu waktu. Anak pertama banget. Kalau ada yang ke lapangan Kak Ali juga diem2 ngecek. Selalu cepet cek hp, whatsapp, dll. Cek, double check, triple check. Suka nguping. Selalu nolongin sama ngurusin orang-orang. Aneh, nyentrik, suka ngejudge, ENFP gitu. Walaupun omongannya kadang nyelekit tapi Kak Ali abis itu bantuin/ngajarin. Kalau diajak yang aneh2 pasti mau walaupun awalnya malu-malu. Pake masker, makan biskuit bayi. Oiya kadang Kak Ali juga sering malu-malu atau awkward walaupun termasuk orang yang rame. Kalau mau sesuatu langsung gas bilang aja kak. Berharap bisa lebih banyak ngobrol, bercanda, belajar sama Kak Ali. Semoga kedepannya rejeki Kak Ali lancar, dapetin apapun yang dimau dan dikejar. Aamiin”

Pandu “…Salah satu hal yang kemudian menjadi berkesan lainnya adalah pertama kali saya bertemu dengan Alifian, partner sekaligus teman diskusi, hingga label “”menolak tua”” saya pikir cukup melekat pada dirinya. Visi hidupnya cukup jelas untuk menjadi yang berbeda dan memberikan dampak tidak hanya utk pribadi, melainkan juga untuk kultur arsitektur di generasi sekarang yang tidak lagi one-man-show, melainkan proses kolaboratif dan juga teamwork.

Dear kak Ali, cc temen temen semua,
ini wrapup saya untuk semuanya
jadilah gatekepeer
see u on another level
be bulletproof
dan yang terpenting
be secure
dont kill yourself
and take your time

Fadiah : “…hari ini bertepatan dengan selesainya tugas Ali di RAW. Setelah mengenal Ali selama hampir 5 tahun ini, Ali meninggalkan banyak kesan untuk saya secara personal maupun profesional. Ali orangnya sangat jenaka, gaya ceplas-ceplosnya, spontanitasnya dan jokesnya yang aneh-aneh, membuat suasana yang tadinya tegang bisa menjadi lebih cair. Dilain sisi, Ali adalah pemimpin yang baik dan bertanggung jawab. Saya ingat betul diawal saya masuk, dia dengan sabar membimbing saya dalam gambar yang dibutuhkan untuk dikirim ke client. Dia juga yang mengantar saya sampai kost waktu pulang sangat larut, padahal arah pulangnya berbeda. Saya menyaksikan banyak perubahan yang terjadi pada Ali. Dari gaya preman menjadi casual. Dari motor revo menjadi sigra. Dari kaca mata kotak menjadi kaca mata bulat. Dari single menjadi in relationship (thanks to proyek Felita ya Li). Dari junior designer menjadi longest associate. Dan dari semua perubahan itu, Ali tetap konsisten menjadi Ali yang jenaka dan bijaksana.

Ali adalah salah satu contoh berhasilnya RAW berperan dalam mencetak pribadi yang lebih matang. Saya percaya dibalik segala tekanan yang ada, itu adalah ujian untuk mengenal diri kita pribadi, bagaimana kita menghadapi dengan baik, bagaimana kita berproses untuk menjadi lebih dewasa, bagaimana kita tahu kapan untuk lari kencang atau duduk sejenak, dan akhirnya bisa naik level. Semoga akan terus ada Ali-ali yang lain di sini.

(Good job Li, sukses S2nya. Tq ya buat moments yang sudah dilalui bersama!)”


Timbul Arianto : “Its a serendipity having such opportunity of working and guidance by such a great mentor. Started from a raw freshman and still going into collegary and mentorships. Sebagai leader Mas Ali sosok yang sabar, tegas dan penuh dedikasi, baik dalam pekerjaan sebagai leader maupun sebagai kolega,

Kesabaran dalam mengajar dan mendidik para junior adik-adik baru, sehingga menjadi individu yang mampu dan capable. Tentunya ini bukan kata-kata manis saja, dari mana saya tau? karna sayapun sendiri mengalaminya. dipimpin dari 0 hingga menjadi individu yang “”confident””. Mungkin ini terlalu personal, namun memang pada dasarnya pendekatan profesional yang dilakukan oleh Mas Ali sangat sulit untuk tidak bisa masuk dalam ranah personal, karna tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan tapi juga pola pikir yang berkembang dan terus berjalan.

Berkaitan dengan hal tersebut, tentunya peran kantor sebagai tempat bekerja yang mengizinkan adanya relasi yang sehat baik secara profesional dan personal. Terlebih dari itu juga tidak lepas dari peran kepemimpinan para leader, salah satunya Mas Ali.

Saya percaya Mas Ali sudah cukup mendidik dan meneruskan “”legacy”” yang baik, secara profesional dan figur untuk adik-adik disini. Oleh karna itu juga saya percaya dan positif terhadap policy terbaru dari kantor, Ini merupakan kesempatan untuk berbenah diri dan keluar dari zona nyaman, karna setiap fase tentu perlu berubah agar kita tau seberapa jauh sudah kita berkembang.”

Hari senin dunia berjalan seperti biasa, setiap orang punya perjalanannya masing – masing, selamat melangkah Ali.

Kategori
Team - Reflection Letter

Joscelind Vallen Kawengian

Biografi

Joscelind Vallen Kawengian atau yang biasa dipanggil celind / joce, merupakan mahasiswa dari program studi arsitektur Universitas Kristen Petra Surabaya. Celind mempunyai keingintahuan yang tinggi tentang dunia arsitektur, namun ternyata hanya dengan mengikuti alur perkuliahan dari kampus saja sejauh ini belum cukup untuk menjawab rasa keingin tahuannya. Oleh karena itu Celind beberapa kali mengikuti sayembara arsitektur dengan memilih topik/tema sayembara yang diikuti sebisa mungkin berbeda-beda, agar apa yang didapat/dipelajari juga bisa lebih luas. Untuk hasilnya, sebenarnya sedikit yang bergelar juara. Namun prinsip Celind dalam bersayembara adalah ‘nothing to lose’, menang adalah bonus, kalau kalah pun tetap dapat ilmunya. Tentu masih dalam proses perjalanan menjawab rasa ingin tahunya tentang arsitektur, Celind yang sekarang merupakan mahasiswa semester 7 pun memilih untuk mencari jawaban lewat mengikuti program magang di RAW Architecture selama 3 bulan. Celind berharap lewat magang di RAW ini bisa sedikit banyak menjawab rasa keingin tahuan Celind, baik tentang metode desain kak Rich di RAW, tentang bagaimana pemikiran kak Rich tentang arsitektur, tentang cara mendesain secara kontekstual dan tidak mengedepankan ego, bagaimana implementasinya di lapangan, serta apakah sebenarnya yang Celind selama ini pelajari di perkuliahan bisa benar-benar berdampak buat orang lain.

Testimonial 1

Selama kurang lebih 1 minggu mengikuti program magang di RAW, sesederhana duduk, mendengarkan, dan memperhatikan workflow yang ada di ruangan yang sama dengan Kak Rich dan Kakak-kakak dari tim desain lainnya saja sebenarnya saya sudah bisa mendapatkan banyak hal baru dan menarik. Selain mendapatkan hal-hal baru terkait arsitektur seperti dalam pengerjaan 3d modelling maupun dalam penyajiannya, saya juga merasa sangat mendapat banyak hal tentang bagaimana dalam berkehidupan lewat apa yang kak Rich sampaikan dalam sehari-hari ketika membriefing maupun sekedar bercerita. Sejauh ini mengikuti program magang di RAW merupakan hal yang menantang mengingat saya seolah dipaksa untuk mempunyai time management yang baik karena sambil melangsungkan kuliah yang dijalankan secara online serta sudah sesuai bahkan melebihi apa yang saya ekspektasikan sebelum join pada program magang di RAW

Testimonial 2

Kepada orang-orang yang nantinya akan scroll down, membuka, dan menemukan saya pada laman site ini, apapun yang kalian cari entah sesederhana ingin lihat website, tulisan, kurator, maupun hasil karya dari RAW Architecture, saya sebagai anak magang ingin mengatakan bahwa it is indeed the best office in the world. ya, mungkin terdengar tidak valid karena kalimat tersebut keluar dari orang yang baru pertama kali magang. tapi memang itulah yang saya rasakan selama menjalani program magang di RAW Architecture. Disini saya mendapatkan banyak hal bermanfaat baik dari ilmu arsitekturnya, pengalaman di lapangan, hacks software arsitekturnya, sampai ke hal yang sama sekali bukan arsitektur. Dari kebersamaan yang saya rasakan bersama kakak-kakak disini, teman-teman sepermagangan, dan sedikit banyak hacks tentang kehidupan yang sering terlontar dari Kak Rich, yakni bagaimana merayakan hidup dengan memanusiakan manusia. Tidak mudah sejujurnya menjalani program magang yang disambi dengan perkuliahan, namun magang di RAW surprisingly tidak menjadi suatu hal yang seolah menambah beban. Sebaliknya justru dengan magang di RAW -lah yang membuat segalanya terasa lebih mudah. Dikelilingi orang-orang yang sangat terbuka untuk membagi ilmu, membagi insight, yang bisa diajak bertukar pikiran either itu tentang tugas magang maupun tugas kuliah membuat saya lupa bahwa hal yang saya sedang lakukan dan jalani ini seharusnya sulit dan banyak pressurenya. Mungkin akan terdengar klise tapi bisa menjadi bagian dari RAW Architecture adalah hal yang membuat saya tidak lupa untuk bersyukur tiap hari :)

Motivation Letter

Perkenalkan nama saya Joscelind Vallen Kawengian, seorang mahasiswa semester 7 yang berkuliah di program studi arsitektur, Universitas Kristen Petra Surabaya. Pada semester ini sebenarnya tidak ada kewajiban bagi saya maupun mahasiswa arsitektur di universitas untuk melakukan program magang, namun saya ingin memanfaatkan waktu dan kesempatan yang lebih longgar pada semester 7 ini dengan mengisinya lewat mengikuti program magang. Surat motivasi / surat refleksi ini saya tuliskan dalam rangka mengekspresikan rasa ketertarikan dan keingintahuan saya dalam mempelajari lebih lanjut mengenai arsitektur lewat program magang di RAW. Saya memilih RAW sebagai tempat untuk saya bisa belajar lebih dan menambah pengalaman baik dalam bidang arsitektur maupun dalam aspek-aspek kehidupan. Saya melihat RAW (khususnya kak Realrich) merupakan sosok yang suka berbagi ilmu dan saya melihat hal ini sebagai sebuah identitas yang tidak saya lihat di biro/firma arsitektur lain.Berangkat dari sinilah yang meningkatkan rasa ingin tahu saya terhadap Kak Rich maupun RAW terkait bagaimana dalam mengimplementasikan arsitektur yang sudah saya pelajari selama ini di kuliah ke prakteknya, bagaimana pola pikir Kak Rich maupun tim RAW dalam merespon suatu masalah baik dalam konteks arsitektur maupun diluarnya. Saya harap dengan bergabung lewat program magang di RAW saya bisa berpartisipasi dalam ikut mengembangkan tim design yang ada di RAW lewat apa yang selama ini sudah saya pelajari baik di perkuliahan maupun dari apa yang saya dapat di RAW. Sehingga saya tidak hanya ‘menerima’ saja tapi saya juga bisa ‘memberi’.

Kategori
Team - Reflection Letter

Dheavindra Fara Ayesha 

First of all, I would like to say thank you to Mr. Realrich Sjarief as well as RAW Architecture team for the opportunity to do internship for 5 months starting February – June 2021. It’s such an honor to be able to learn and directly experience the architectural work in real life, as a complement to what I’ve learned during architecture school.
.

I spent one whole year at home attending online class and doing endless
assignments. That is to say, I would never forget the day I first started to go outside on a daily basis to do my internship like I did for the past 5 months. My first day I went to Guha was an unforgettable experience. I experienced firsthand the infamous work of RAW Architecture and I can’t stop being in awe. Little did I know, though, the admiration to the works of RAW Architecture never stops on the first day. It continues on to the very last day.

.
Here, I came with very little knowledge about architecture. But eventually I learned that at RAW, questions are encouraged, and soon enough I will learn a lot more about architecture. Truthfully, I feel like my 5 months internship at RAW Architecture has taught me more than my 5 semester in architecture school. It shown how impactful it is to learn firsthand and on site. As a result, I learned a lot of things that cannot be obtained anywhere else. I believe my experience during this
internship period has taught me a very specific skill set that only RAW Architecture can provide. I achieved a lot of technical skills to improve my workflow using the software I’ve used before. But most importantly, I learned how to actively work on the task by asking questions, for example. Which was, again, very encouraged here. I also learned how to work effectively and systematically, which I directly learned from Realrich Sjarief himself. He taught me mistakes can be made, however there are a lot of things that can be done to prevent these mistakes from happening, which is to do work within a set of systems and sticking to it. Lastly, I would like to thank the RAW Architecture team once again for the opportunity to learn and improve throughout my internship period. There is always a room for improvement, as reflected in a never-ending improvement of Guha. I hope we won’t stop getting better after saying goodbye.

Kategori
blog

Cerita di Balik Bentuk | Form

Satu ketika saya terbersit ide untuk membuat sebuah seminar isinya 7 orang yang memiliki latar belakang berbeda – beda mengenai bentuk. Latar belakangnya dari beberapa pengalaman perbincangan arsitektur yang baru terbatas di bentuk di sekitar saya. Beberapa orang saya kontak untuk memikirkan hal ini, saya mengontak Johannes Adiyanto pertama kali. Alasannya sederhana, karena dia tersedia dan mudah untuk di kontak, dan juga kami berkali – kali berkolaborasi bersama. Saya bilang ke dia “Mas aku mau buat webinar lagi, mau bantuin ngga ? mulai dua minggu lagi.” Pada saat itu saya juga ngga punya persiapan, yang saya rasa, diskursus mengenai bentuk akan sangat dibutuhkan mengingat bagaimana kecepatan dunia digital yang pembahasannya tidak bisa dalam, dan terkesan membahas bentuk dari produk bukan proses.

Ini rencana saya mula – mula, temanya Theory, Origin, Technique, Critique, Philosophy, Meaning.

Ia menjawab “Tunggu mas jam 20 an bisa ditelp ?” Dari situlah saya bercerita mengenai bagaimana pentingnya webinar kali ini untuk menguliti persoalan bentuk yang mungkin memiliki definisi berbeda dan patut untuk didiskusikan.

Sempat juga saya berdiskusi dengan Nanda Widyarta, ia berkomentar “Form, platonis banget euy,… tapi ini perlu. Orang suka susah bedakan shape dari form.”

Saya menjawab “… yang diperbincangan itu wujud atau bentuk… dua hal yang beda… Ada kompleksitas yang mungkin membuat pemahaman tentang ide tentang konsep bentuk perlu disadari dulu… apa artinya perlu pembahasan soal beda dan guna dulu ya … jadi praktis supaya jelas nanti aplikasi (nya).”

Nanda menjawab “Kemungkinan ada perbedaan konsep di dua budaya (kita dan barat). Di bahasa kita ga ada kata buat “form.” Adanya bentuk. Kata “wujud” diserap dari bahasa Arab. Tapi kita sering anggap wujud dan bentuk itu sama. Bukan sebuah handicap sih. tapi kita (dan umumnya orang sedunia) memamng kerap gagal melihat perbedaan pemahaman konsep2 di budaya2 berbeda… sepakat.”

Dari setelah saya berdiskusi dengan Jo, saya mengontak beberapa kawan – kawan pemateri dan semuanya tertarik. Undi Gunawan untuk teori, Johannes Widodo untuk asal mula, Setiadi Sopandi untuk kritik, Ryadi Adityavarman untuk teknik, Boonserm Premthada, khususnya untuk budaya, Johannes Adiyanto untuk filosofi,dan Revianto Budi Santosa untuk makna. Boonserm Premthada dan karyanya akan menjadi garis tengah gerbang untuk melihat sebuah karya yang memiliki konteks yang mengakar dari sudut pandang budaya. Setelah persiapan yang intensif dari tim Omah Library (Dimas, Hanifah, Satria) materi siap. Pertanyaan Hanifah atau yang sering kami panggil uffi, “Kak rich ini arahnya kemana ?”

Kejadian ini cukup lucu dan menggelitik dan setidaknya begitulah bentuk, sekonyong – konyong ia bisa menjadi arkitipe, yang secara tidak sadar bergerak secaral rasional, empirik ataupun intuitif, dari situ saya mendengar suara sayup – sayup di belakang telinga saya, mengingatkan saya.

“Realrich kamu nanya terus, kapan jalannya, ayo maju, anak – anak perlu jalan.”

Kelas Wacana Arsitektur – BENTUK | FORM]

Bentuk adalah hasil dari produksi pengetahuan arsitektur. Untuk memproduksi pengetahuan arsitektur melalui bentuk diperlukan pemahaman mengenai mengapa satu bentuk dibuat, dan apa dampak dari bentuk tersebut.

Webinar Omah library yang berjudul “Form | Rahasia dibalik sebuah bentuk” membahas bentuk dari sudut pandang teori arsitektur, asal mula (origin), teknik merangkai bentuk, kritik terhadap bentuk, metode desain sekaligus konteks alam dan budaya, filosofi dan pemaknaan. Berbagai sudut pandang ini memberikan peta bagaimana perjalanan sesorang menelusuri perjalanan proses membentuk bentuk. Beberapa pembicara yang akan mengisi acara ini adalah Undi Gunawan, Johannes Widodo, Ryadi Adityavarman, Boonserm Premthada, Johannes Adiyanto, dan Revianto Budi Santosa.

Arsitektur memiliki manifestasi kekuatan yang dahsyat melalui bentuk. Pertanyaannya bagaimana menjadi kreatif sekaligus kritis sehingga muncul hasrat untuk reflektif dan mempertanyakan keadaan sekaligus bersemangat untuk selalu progressif.

Theory
Undi Gunawan
28 Juli 2021 pukul 19.00 WIB

Origin
Johannes Widodo
4 Agustus 2021 pukul 19.00 WIB

Technique
Ryadi Adityavarman
11 Agustus 2021 pukul 19.00 WIB

Critique
Setiadi Sopandi
18 Agustus 2021 pukul 19.00 WIB

Culture
Boonserm Premthada
25 Agustus 2021 pukul 19.00 WIB

Philosophy
Johannes Adiyanto
1 September 2021 pukul 19.00 WIB

Meaning
Revianto B. Santosa
8 September 2021 pukul 19.00 WIB

Silahkan mengisi form pendaftaran dan ikuti petunjuk konfirmasi: bit.ly/OMAH_FF

Untuk mengikuti webinar Omah Library diperlukan donasi sebesar 10.000 per sesi yang akan dipergunakan untuk meningkatkan literasi arsitektur dan mengapresiasi pengetahuan yang diberikan pembicara. Bagi yang berkeinginan mengikuti namun tidak mampu, mohon untuk mengirimkan surat ke kami karena webinar ini adalah ajang membangun kebersamaan.

Untuk mengikuti webinar Omah Library diperlukan donasi sebesar 10.000 per sesi yang akan dipergunakan untuk meningkatkan literasi arsitektur dan mengapresiasi pengetahuan yang diberikan pembicara. Bagi yang berkeinginan mengikuti namun tidak mampu, mohon untuk mengirimkan surat ke kami karena webinar ini adalah ajang membangun kebersamaan. Silahkan mengisi form pendaftaran dan ikuti petunjuk konfirmasi: bit.ly/OMAH_FF
Silahkan mengisi form pendaftaran dan ikuti petunjuk konfirmasi: bit.ly/OMAH_FF

Semoga webinar ini mampu untuk mengobati kerinduan kita semua untuk bertemu, bertegur sapa, dan belajar di dalam situasi yang terbatas di masa pandemi.

#webinar#arsitektur#webinararsitektur#bentuk#form

Kami mencantumkan donasi untuk memberikan apresiasi terhadap ilmu materi yang diberikan oleh pemateri dan pembahas. Hal ini semoga akan memberikan sebuah siklus ekosistem yang sehat dan saling mengapresiasi untuk memproduksi ilmu pengetahuan. Silahkan mengisi form pendaftaran dan ikuti petunjuk konfirmasi: bit.ly/OMAH_FF

Translation :

The Story Behind the Bentuk | Form

One time I had the idea to make a seminar with 7 people from different backgrounds regarding Form. The background thinking is from some recent experience of limited architectural conversation in the Form around me. I contacted several people to think about this. At first, I called Johannes Adiyanto. The reason is simple: he is available and easy to reach, and we collaborate many times. I said to him, “Mas, I want to do another webinar. Do you want to help? It will start in two weeks.” At that time, I also didn’t have any preparation, which I think a discourse on Form will be very much needed considering how fast the digital world is. The discussion cannot be deep and seems to discuss the Form of the product the process.

This is my original plan. The theme is Theory, Origin, Technique, Critique, Philosophy, Meaning.

He replied, “Wait, mas at 20 can you call?” That’s where I talked about how vital this webinar is to address Form, which may have different definitions and deserves to be discussed.

I also had a discussion with Nanda Widyarta. He commented, “Form, it’s very Platonic, huh, but this is necessary. People like to find it difficult to distinguish shape from Form.”

I answered, “… what is being discussed is Form or Form… two different things… Some complexities might make understanding the idea of the concept of Form need to be realized first… what does it mean, we need to discuss about different and use it first… so it’s practical so that the application will be clear ).”

Nanda answered, “There may be differences in concepts in the two cultures (us and west). In our language, there is no word for “Form.” There is Bentuk. The word “Wujud” is taken from the Arabic language. But we often assume that shape and Form are the same. It’s not a handicap. but we (and the rest of the world in general) do often fail to see the different understandings of concepts in different cultures… agree.”

After I discussed it with Jo, I contacted several of the presenter’s friends, and all of them were interested. Undi Gunawan for theory, Johannes Widodo for origins, Setiadi Sopandi for criticism, Ryadi Adityavarman for technique, Boonserm Premthada, especially for culture, Johannes Adiyanto for philosophy, and Revianto Budi Santosa for meaning. Boonserm Premthada and his work will be the centerline of the gate to see a work that has a deep-rooted context from a cultural point of view. After intensive preparation from the Omah Library team (Dimas, Hanifah, Satria), the material was ready. Hanifah’s questioned me, or what we often call Uffi, is, “What is the narration big brother ?”

This incident is quite funny and intriguing, and at least that’s how it looks, suddenly it can become an archetype, which unconsciously moves rationally, empirically, or intuitively, from which I hear a faint voice behind my ear, reminding me.

“Realrich, you keep asking, when you want to walk the talk ? Let’s go. the Kids need to walk.”

Architectural Discourse Class – FORM | FORMS]

The Form is the result of the production of architectural knowledge. To produce architectural knowledge, we require an understanding of why a Form is created and knowing the impact of that Form.

Omah library webinar entitled “Form | The secret behind a form” discusses Form from the point of view of architectural theory, origin, techniques for assembling forms, criticism of Form, design methods as well as natural and cultural contexts, philosophy, and meaning. These various points of view provide a map of how a person’s journey traces the journey of the creation of Form. Some of the speakers who will fill this event are Undi Gunawan, Johannes Widodo, Ryadi Adityavarman, Boonserm Premthada, Johannes Adiyanto, and Revianto Budi Santosa.

Architecture has the manifestation of tremendous power through Form. The question is how to be creative and critical so that there is a desire to be reflective and question the situation and be eager to always be progressive.

theory
Gunawan vote
July 28, 2021, at 19.00 WIB

Origin
Johannes Widodo
August 4, 2021, at 19.00 WIB

Technique
Ryadi Adityavarman
August 11, 2021, at 19.00 WIB

Critique
Setiadi Sopandi
August 18, 2021, at 19.00 WIB

Culture
Boonserm Premthada
August 25, 2021, at 19.00 WIB

Philosophy
Johannes Adiyanto
September 1, 2021, at 19.00 WIB

Meaning
Revianto B. Santosa
September 8, 2021, at 19.00 WIB

Please fill out the registration form and follow the confirmation instructions: bit.ly/OMAH_FF

Participants’ donation of IDR 10,000 per session is encouraged To participate in the Omah Library Webinar. The gift will be used to improve architectural literacy and appreciate the knowledge provided by the speakers. For those who wish to attend but cannot donate, please send us a letter because this webinar is a place to build togetherness.

Hopefully, this webinar can cure all of us longing to meet, greet, and learn in a limited situation during the pandemic.

We include donations to give appreciation to the material science provided by the presenters and discussants. This will hopefully give a healthy and mutually appreciative ecosystem cycle for producing knowledge. Please fill out the registration form and follow the confirmation instructions: bit.ly/OMAH_FF

Kategori
publication

RAW Architecture studio is in Wallpaper Magazine

Elle wrote “The Wallpaper* Architects’ Directory 2021 includes RAW Architecture, the fast-emerging Indonesian practice set up by Realrich Sjarief”

Saya tidak pernah menyangka studio kami bisa masuk ke Wallpaper Magazine. Saya mengenal Wallpaper dari publikasi yang selalu mencari cerita / design yang avant garde. Proyek ini dinamakan direktori arsitek 2021. yang dimulai pada tahun 2000 yang berisi daftar bakat biro arsitek yang menjanjikan, Direktori Arsitek Wallpaper* adalah daftar tahunan tentang praktik “menjanjikan” dari seluruh dunia. Proyek dari Wallpaper ini telah, selama bertahun-tahun menampilkan gaya dan antar benua, sambil selalu memperjuangkan studio muda terbaik dan paling menarik. Proyek ini juga menampilkan karya inspiratif dengan penekanan pada tempat tinggal. Sekarang termasuk lebih dari 500 alumni dan terus bertambah, Direktori Arsitek kembali untuk edisi ke-21. Bergabunglah dengan kami saat kami meluncurkan survei tahun ini – 20 studio muda, dari Australia, Kanada, Cina, Kolombia, Ghana, India, Indonesia, Jepang, Malaysia, Meksiko, Belanda, Nigeria, Afrika Selatan, Korea Selatan, Spanyol, Swedia, AS, dan Inggris yang menjanjikan, penuh ide, dan arsitektur yang menarik.

Ellie Stathaki mengirim email 3 bulan yang lalu, dan setelah itu kita berdiskusi melalui email berkali – kali untuk menseleksi apakah studio kami bisa masuk di Wallpaper kali ini. Apa yang saya lakukan di studio beserta tim semoga bisa membawa kasus – kasus yang memberikan dampak pembelajaran bagi banyak orang. Dari praktik yang menggunakan lokal, adaptasi kekriyaan, dan bagaimana metode desain kritis, desain – membangun, dan integratif antar disiplin memberikan kelenturan bagi sebuah proses desain yang bisa berganti rupa.

https://www.wallpaper.com/architecture/wallpaper-architects-directory-2021-raw-architecture-indonesia

Kategori
award

Piyandeling is in Terra Fibre Award 2021

I have received the info ” The forty buildings, designed and built with raw earth, plant fibres or both, have just been named finalists in the 3rd TERRAFIBRA Award. Check the list on the new website. While waiting for the presentation in images of the 40 finalists of the 2021 edition which will be presented in a travelling exhibition and associated book in November 2021, (re)discover the 90 finalists of the previous editions, TERRA Award 2016 and FIBRA Award 2019. The english version of the website is coming soon.  “

Here is the description :

Atelier d’artisanat Piyandeling
Bandung, Indonésie, Asie
Matériaux : bambou, palmes
Maîtrise d’ouvrage : Realrich Sjarief
Conception et construction : Realrich Sjarief
Réalisation : 2019

Here we are, Atelier d’artisanat Piyandeling
Bandung, Indonésie, Asie
Matériaux : bambou, palmes
The list of 40 finalists published on the new website The forty buildings, designed and built with raw earth, plant fibres or both, have just been named finalists in the 3rd TERRAFIBRA Award. Check the list on the new website. While waiting for the presentation in images of the 40 finalists of the 2021 edition which will be presented in a travelling exhibition and associated book in November 2021, (re)discover the 90 finalists of the previous editions, TERRA Award 2016 and FIBRA Award 2019. The english version of the website is coming soon. 
Kategori
award

Piyandeling is in Finalist on Architizer + Award 2021 in Architecture + Sustainability Category

Satu minggu terakhir ini korban pandemi covid terus meningkat dari 10000-20000 sampai 30000 perhari, prokes yang ketat pun sudah dilakukan oleh kita semua. Hari – hari ini adalah hari yang tidak mudah bagi semua orang terdampak, anda dan juga kami adalah salah satunya. Jadi ketika berita dari @architizer sampai ke kami, saya berpikir prioritas pertama memberikan berita positif ini ke rekan tim, orang – orang yang terlibat termasuk pengrajin, tim desain, orang – orang yang terlibat supaya terus meningkatkan diri sembari berjaga – jaga tidak lengah di masa pandemi ini, dan tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada panitia yang sudah memberikan banyak kesempatan berharga untuk kami.
.
Sebesar – besarnya harapan saya untuk kita semua adalah bagaimana arsitektur bisa memberikan dampak positif untuk kita semua,…terus jaga prokes untuk orang – orang di sekitar kita dan kebersamaan kita…
.
Our project Piyandeling in the Architecture+Sustainability was selected as a Finalist in this year’s Architizer A+Awards! Check it out: winners.architizer.com/2021/ #ArchitizerAwards”
.
Key Dates:
June 15 – June 25, 2021: Popular Choice Award Voting.
July 7, 2021: Architizer A+ Jury Winners and Popular Choice Winners Announced.
.
About Architizer:
Architizer’s core mission is to Empower Architects, via our new marketplace connecting architects and building product manufacturers, and via our inspiring content, awards program, and global reach spotlighting the world’s best architecture. We connect architects with the tools they need to build better buildings, better cities, and a better world.
.
About the Awards:
The Architizer A+Awards is the largest awards program focused on promoting and celebrating the year’s best architecture. Its mission is to nurture the appreciation of meaningful architecture in the world and champion its potential for a positive impact on everyday life with a global audience of 400+ million.
.
Judges:
Finalists and Winners are chosen by our illustrious jury including such as Lesley Lokko, Alison Brooks, Nader Tehrani, and Tom Kundig, Karim Rashid (Karim Rashid), Yves Behar (Fuseproject), David Rockwell (Rockwell Group), and Aric Chen (Design Miami).

Kategori
lecture

XYZ Project Podcast with Gary Yeow and Ryoga Dipowikoro

Last Sunday, I had a discussion with Gary and Ryoga. They are the next generation of Malaysian and Indonesian designers who will color the future of regional architecture. It’s explicit that their questions and point of view are about how to come back to their homeland and improve the discussions, discourse, making further dialogue to deconstruct the post-colonial limitation. It appreciates what the region has and improves it along the way with more analysis and participation to enrich the current progress and revealing state of each architecture DNA.

.

“Last Sunday, I had a discussion with Gary and Ryoga. They are the next generation of Malaysian and Indonesian designers who will color the future of regional architecture. It’s explicit that their questions and point of view are about how to come back to their homeland and improve the discussions, discourse, making further dialogue to deconstruct the post-colonial limitation. It appreciates what the region has and improves it along the way with more analysis and participation to enrich the current progress and revealing state of each architecture DNA.”


With the questions they raise in the session, I feel humbled and privileged to see their progress and curiosity. I shared about life around my practice, my library, the teaching, writing, and designing activity. The sharing is about to uncover the backstage of architecture practice, especially the relations with craftsmen, engineers, and my background as a builder. These realities unfold my consciousness and also remind me that the roots are just fundamental. It’s beyond form, beyond the collage of shapes. It’s a bricolage, a moment of growth.

“With the questions they raise in the session, I feel humbled and privileged to see their progress and curiosity. I shared about life around my practice, my library, the teaching, writing, and designing activity. The sharing is about to uncover the backstage of architecture practice, especially the relations with craftsmen, engineers, and my background as a builder. These realities unfold my consciousness and also remind me that the roots are just fundamental. It’s beyond form, beyond the collage of shapes. It’s a bricolage, a moment of growth.”


I met Gary from the last session in PAM (Malaysian Institute of Architect). At that moment, I can recall our discussion with Jan, Sarah, Joyee, and Haziq. I got this chance because of the session held by Design United in India, which I discuss with Jan and Anne Herringer, also Wendy Teoh at the event as panelists. Moments are stitched into another moment, I feel grateful to finally meet Gary and Ryoga, the promising architecture intellect.

Here is the conclusion from Gary, in the prologue of the Pod cast. He wrote

“ I have invited Realrich for a sharing session and discussion, along with Jan and Sarah to talk about other ways of doing architecture in PAM Event that I co-moderated with Joyee and Haziq. This topic comes even stronger in this second conversation, co-hosted with my friend Ryoga to further explore the architectural knowledge from both practical and pedagogical perspectives. In the end of this interview session, Realrich asked, ‘ what is the best ingredient of Indonesian architectural DNA?” – We wish to invite you to reflect and share with us as well! – Some might not think the cultural identity or locality is an important reference point in the design process, but it is, perhaps, subconsciously designing the thought and mentality of a designer to translate into produced works for the users. Maybe my take to answer Realrich, that the best ingredient is actually the awareness and actualisation with the materiality as a realistic composition… and most of the time this composition might be an incomplete collage of unpredictably beautiful pieces of time and memories… for more to come.” – garyeow, xyz

“ I have invited Realrich for a sharing session and discussion, along with Jan and Sarah to talk about other ways of doing architecture in PAM Event that I co-moderated with Joyee and Haziq. This topic comes even stronger in this second conversation, co-hosted with my friend Ryoga to further explore the architectural knowledge from both practical and pedagogical perspectives. In the end of this interview session, Realrich asked, ‘ what is the best ingredient of Indonesian architectural DNA?” – We wish to invite you to reflect and share with us as well! – Some might not think the cultural identity or locality is an important reference point in the design process, but it is, perhaps, subconsciously designing the thought and mentality of a designer to translate into produced works for the users. Maybe my take to answer Realrich, that the best ingredient is actually the awareness and actualisation with the materiality as a realistic composition… and most of the time this composition might be an incomplete collage of unpredictably beautiful pieces of time and memories… for more to come.” – garyeow, xyz

Gary and Ryoga brought the discussions in several milestone.

5:00 childhood : toy making and builder family

12:05 dynamics of practice bridging theory and practice

21:03 ‘life is heaven on earth’ : hardships and thought of giving up?

30:00 form making and transformation via fundamental complexity

38:08 taste : engagement with builder and general public + ornaments as crime?

49:30 architectural evolution and in search of identity

57:25 design process : experiment on imagination and reality

1:08:00 literacy, publication and discourse

1:11:08 throwback to final year project (tisna sanjaya)

1:16:38 strategised architectural practice : sharing economy + arts of war

1:37:20 carlo scarpa, alvar aalto, yb mangunwijaya, boonserm premthada

1:49:03 what is the best ingredient for indonesian architecture dna?

I wish all the best from them and I appreciate their hard-work and effort, the process will drive the best result. Kudos

Kategori
award

Alfa Omega School is Winner of IAI Jakarta 2020

Alfa Omega School is the winner of 2020 IAI Jakarta Award. I hope the award will bring good to the school. I must say the situation in Alfa Omega has ups and downs. The founder, Lisa Sanusi, has the vision to bring the genuinely of the how the giving mode, or education should be feasible for young people. The problem is, how the cost is managed if the school if for free / subsidized. Then many programs has been executed such as being a parent that help the school fee for the kids. Me and Laurensia are also in the program of what Lisa Sanusi started.

Then there are necessity for the school to survive as daily business, that is why the school is executing it’s own chicken farm’s business. I have written the story of how the chicken coop could be model for sustaining this school model. The road is bumpy, and Lisa and her team are also fighting.

Lisa Sanusi Explaining her vision about Alfa Omega School. Her noble view somehow contaminated me to be a better human being.

Her vision support the approach of our design studio, and it has relations of many layers of craftsmanship’s, story of architect – clients. It’s beyond only form, or normative things. They are continuing the progress, and my prayer is with them.

Kategori
blog

Guha Piyandeling

“Pak Amud, tolong ini digali diameter 3 m, saya ingin coba lihat dasar tanah urugnya, sampai tanah keras, setahu saya dulu pak Eddy menggali sampai – 2 meter dan membangun turap penahan tanah hampir 2 m.”

Proyek Piyandeling ini memiliki kesulitan karena lokasinya di puncak bukit, sulit mencari tenaga kerja dan lokasinya jauh dari keramaian. Saya mencoba mereka – reka eksperimen dengan menggunakan tulangan bambu dan beton, sejauh mana, bentuk drum ini bisa tahan, dan ekspresif dengan bahasa sederhananya “sekali jalan”. Sekali jalan ini pada dasarnya seperti sekali menumpahkan beton, kita sudah mendapatkan kekuatan struktural, estetika, dan fungsi ruangan.

Proyek Piyandeling ini memiliki kesulitan karena lokasinya di puncak bukit, sulit mencari tenaga kerja dan lokasinya jauh dari keramaian. Saya mencoba mereka – reka eksperimen dengan menggunakan tulangan bambu dan beton, sejauh mana, bentuk drum ini bisa tahan, dan ekspresif dengan bahasa sederhananya “sekali jalan”. Sekali jalan ini pada dasarnya seperti sekali menumpahkan beton, kita sudah mendapatkan kekuatan struktural, estetika, dan fungsi ruangan.

Pada waktu konstruksi di dasar dinding beton ada batu kali yang memang sudah ada disitu. Piyandeling sendiri ada permainan bahasa primitif, bahasa bentuk platonis. Di balik kesederhanaan ada keindahan untuk bisa dimengerti orang yang berkunjung.

Pada waktu konstruksi di dasar dinding beton ada batu kali yang memang sudah ada disitu. Piyandeling sendiri ada permainan bahasa primitif, bahasa bentuk platonis. Di balik kesederhanaan ada keindahan untuk bisa dimengerti orang yang berkunjung.

Seperti Repertoar lagu Fragmen dan Tembang Alit Indonesia yang dimainkan dengan indah oleh Gillian Geraldine, lagu ciptaan Jaya Suprana. Repertoar di arsitektur pun terkait dengan eksperimen – eksperimen adaptasi baru (Ibaratnya di arsitektur dikenal dengan detail tektonika – tektonika), gerakan yang unik yang belum pernah terjadi sementara itu juga mengacu pada catatan tradisional yang membuat kolaborasi keduanya membentuk Fragmen. Arsitektur juga mengalir seperti sungai seperti Tembang Alit. Ibaratnya di arsitektur dikenal dengan metode yang mengalir tanpa batas, sebuah usaha mewujudkan adaptasi keseharian, Bricolage.

Ini adalah contoh Repertoar Indonesia yang dimainkan dengan indah oleh Gillian, lagu (Fragmen dan Tembang Alit) ciptaan Jaya Suprana. Ini menyerupai eksperimen baru. Ibaratnya di arsitektur dikenal dengan detail tektonika – tektonika, gerakan yang belum pernah terjadi sebelumnya, sementara itu juga mengacu pada catatan tradisional yang membuat Fragmen. dan mengalir seperti sungai seperti Tembang Alit. Ibaratnya di arsitektur dikenal dengan metode yang mengalir tanpa batas, sebuah usaha mewujudkan adaptasi keseharian, Bricolage.

Pagi – pagi setelah saya berdoa dan bermeditasi, terkadang ada saja panggilan yang muncul. Dari mengingatkan untuk menjaga pola makan, mengingatkan untuk jangan lupa mengecek proyek ini itu, detail ini itu, dan jangan lupa ruangan untuk Laurensia, Miracle dan Heaven. Seperti halnya gua yang sedang dibangun di Piyandeling ini adalah sebuah usaha untuk menemukan kehangatan, termal, juga program, dan pengalaman, juga materialitas. Ruangan ini adalah ruangan doa yang paling hangat di Piyandeling dibangun dengan kehangatan pengrajin bambu.

Pagi – pagi setelah saya berdoa dan bermeditasi, terkadang ada saja panggilan yang muncul. Dari mengingatkan untuk menjaga pola makan, mengingatkan untuk jangan lupa mengecek proyek ini itu, detail ini itu, dan jangan lupa ruangan untuk Laurensia, Miracle dan Heaven.
Seperti halnya gua yang sedang dibangun di Piyandeling ini adalah sebuah usaha untuk menemukan kehangatan, termal, juga program, dan pengalaman, juga materialitas. Ruangan ini adalah ruangan doa yang paling hangat di Piyandeling dibangun dengan kehangatan pengrajin bambu.

Terkadang saya melihat ke atas langit di piyandeling, melihat balok – balok yang melengkung saling bersilangan membentuk archetype tersendiri. Di dalam sentuhan tangan, lengkungan – lengkungan ruas – ruas bambu menonjolkan archetype alam, dengan kekuatannya yang tumbuh perlahan – lahan. Seakan – akan alam mengetuk, “mau lambat salah, mau cepat salah, jadi kamu maunya apa ?” Alam kemudian bertanya – tanya apa lagi setelah ini. Di dalam alam kreatif dan kritis, perjalanan arsitektur itu dimulai dengan kadang batuk – batuk, merangkak, dan kemudian tersenyum dalam prosesnya.

Terkadang saya melihat ke atas langit di piyandeling, melihat balok – balok yang melengkung saling bersilangan membentuk archetype tersendiri. Di dalam sentuhan tangan, lengkungan – lengkungan ruas – ruas bambu menonjolkan archetype alam, dengan kekuatannya yang tumbuh perlahan – lahan. Seakan – akan alam mengetuk, “mau lambat salah, mau cepat salah, jadi kamu maunya apa ?” Alam kemudian bertanya – tanya apa lagi setelah ini. Di dalam alam kreatif dan kritis, perjalanan arsitektur itu dimulai dengan kadang batuk – batuk, merangkak, dan kemudian tersenyum dalam prosesnya.

“Bu berapa telur hari ini yang siap ?” Bu Lisa menjawab, “kita kemarin dapat 80 pak, hari ini 210.” sekitar beberapa bulan ini, kami cukup sering bertemu.

Telur ayam yang kami bicarakan berasal dari peternakan ayam yang ada di sekolah Alfa Omega. Sekitar setahun yang lalu, ketika pandemi tiba, Bu Lisa bercerita bagaimana ia mendapatkan inspirasi dari seseorang yang sudah berhasil mengembangkan peternakan untuk membantu panti asuhan miliknya, namanya pak Gaspar. Dari situlah Bu Lisa mengajak saya untuk berkunjung ke peternakan tersebut. “Bu Lisa, sudah banyak membantu saya pak, sekarang saya ingin membantu ibu.” Kalimat tersebut muncul ketika saya menanyakan mengenai bagaimana beliau terhubung dengan Bu Lisa.

Pertanyaan – pertanyaan tersebut penting untuk dilontarkan sebelum memulai proyek kandang ayam tersebut yang dimulai dengan mempertanyakan hal – hal yang relevan, tentang siapa yang memulai, bagaimana harus memulai, dan apa saja hal – hal yang mungkin menghambat. Informasi tersebutpenting untuk membangun konteks, bagaimana satu hal terbentuk dan bagaimana satu hal mempengaruhi yang lain. Dari hal tersebut saya bisa belajar, untuk menghargai proses untuk tumbuh membutuhkan akar yang kuat.

Ketika satu saat saya berdiskusi dengan Laurensia, mengenai bagaimana Bu Lisa berjuang untuk menjalankan peternakan ayam petelurnya di Alfa Omaga. Satu saat kemudian Laurensia mengkontak beberapa relatif, ibu kami untuk bisa membantu menjualkan telur dari alfa omega. Hal – hal kecil ini mulai dari simpati saya dan Laurensia ke Bu Lisa dan keluarganya dan melihat bagaimana ia berjuang untuk sekolah Alfa Omega. Kami membantu, tidak perlu dibayar, kadang kami melihat Bu Lisa juga sedemikian, membantu tanpa perlu bayaran. Sebuah prinsip filosofi Jawa, Rame ing gawe,sepi ing pamrih, memayu hayuning bawono (giat bekerja,membantu dengan tanpa pamrih,memelihara alam semesta/ mengendalikan hawa nafsu).

Hari pertama, bisa terjual 80 telur, selanjutnya 150 telur, dan selanjutnya 200 telur. “Ada 4 ayam petelur yang mati pak” kata bu Lisa di satu pagi, telurnya terlalu besar jadi tidak bisa keluar. Hal – hal tersebut terjadi beruntun.

Nassim Nicholas Taleb di dalam buku Black Swan menulis mengenai hal – hal yang tidak terduga yang merubah proyeksi masa depan. Hal tersebut juga dibahas Malcolm Gladwell di dalam Tipping point dimana ada hal – hal kecil yang memicu lompatan kejadian – kejadian selanjutnya. dalam konteks proyek kandang ayam ini, prediksi dan antisipasi sangatlah penting di awal memulai berbisnis. Sesederhananya ada kejadian yang memang di luar kehendak, kuasa kita sebagai seseorang yang sedang berjalan di dalam karir, ekosistem bisnis, personal. Dan ada juga kejadian yang muncul karena persiapan yang matang, terprediksi dengan konsistensi. Kematangan tersebut muncul dari persiapan teknis yang baik, rapih, mudah dilaksanakan, efisien dan kritis. Hal – hal tersebut adalah permulaan proses kreatif. Saya mendiskusikan dengan Bu Lisa untuk pentingnya membersihkan kandang, memperhatikan ayam – ayam tersebut, dan mengganti 4 ayam yang mati.

Kehidupan di studio berjalan seperti biasa, saya sendiri sangat bahagia dengan kondisi kehidupan kami. Saya merasa perjalanan berarsitektur memiliki tahapan – tahapan. Dari jujur berproses saya pikir tim desain akan semakin solid, informasi akan merata dan detail tektonika pun akan semakin kaya. Di balik semua karya yang saya desain saya beranggapan bahwa arsitek dikenal dari karya – karyanya yang sebenarnya ada dalam hitungan jari, jadi membangun portfolio akan semakin penting. Itulah latar depan dari konstelasi kehidupan arsitek, yaitu karya atau proyek yang memiliki klien dan kehidupan di baliknya.


Kehidupan di studio berjalan seperti biasa, saya sendiri sangat bahagia dengan kondisi kehidupan kami. Saya merasa perjalanan berarsitektur memiliki tahapan – tahapan. Dari jujur berproses saya pikir tim desain akan semakin solid, informasi akan merata dan detail tektonika pun akan semakin kaya. Di balik semua karya yang saya desain saya beranggapan bahwa arsitek dikenal dari karya – karyanya yang sebenarnya ada dalam hitungan jari, jadi membangun portfolio akan semakin penting. Itulah latar depan dari konstelasi kehidupan arsitek, yaitu karya atau proyek yang memiliki klien dan kehidupan di baliknya.
Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah latar belakang, kehidupan belakang panggung yang mendasari bagaimana saya menulis di blog ini sejak 2005. Saya percaya bahwa penting untuk para arsitek berbagi cerita mengenai orang ketiga, ekosistem di sekitar arsitek dan studio perancangannya. Kemarin kami mempublikasikan satu platform kami di IG(instagram) : GuhaTheGuild.

Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah latar belakang, kehidupan belakang panggung yang mendasari bagaimana saya menulis di blog ini sejak 2005. Saya percaya bahwa penting untuk para arsitek berbagi cerita mengenai orang ketiga, ekosistem di sekitar arsitek dan studio perancangannya. Kemarin kami mempublikasikan satu platform kami di IG(instagram) : GuhaTheGuild.

Saya melihat bagaimana apabila informasi yang dasar tersebut dibagikan dengan gratis, bukankah itu akan membantu banyak orang yang sedang mencari jalannya masing – masing ?

Mungkin sesederhananya mengkomunikasikan kenapa arsitektur itu begitu dahsyat, dan berharga. Dan juga sesederhana berbagi bagaimana membangun ekosistem, mengapresiasi satu sama lain di dalam tim, sesama kolega. Dan sesederhanananya juga pentingnya merefleksikan diri, sadar bahwa setiap saat memulai kembali proyek, membangun tim, adalah saat meletakkan harga diri kita sebagai arsitek, dan turun untuk melayani dengan sepenuh hati.

Platform GuhaTheGuild : Setiap arsitek memiliki rahasia – rahasianya sendiri, dan begitupun ekosistem di sekitar arsitek dan studio perancangannya. Kemarin tim saya mempublikasikan satu platform kami di IG(instagram) : GuhaTheGuild. Saya melihat bagaimana apabila informasi yang dasar tersebut dibagikan dengan gratis, bukankah itu akan membantu banyak orang yang sedang mencari jalannya masing – masing. Mungkin sesederhananya mengkomunikasikan kenapa arsitektur itu begitu dahsyat, dan berharga. Dan juga sesederhana berbagi bagaimana membangun ekosistem, mengapresiasi satu sama lain di dalam tim, sesama kolega. Dan sesederhanananya juga pentingnya merefleksikan diri, sadar bahwa setiap saat memulai kembali proyek, membangun tim, adalah saat meletakkan harga diri kita sebagai arsitek, dan turun untuk melayani dengan sepenuh hati. Difollow ya yang tertarik. :)

Kira – kira dua minggu yang lalu tim Apple TV datang ke rumah, dan mereka mendokumentasikan bagaimana saya dan tim bekerja, termasuk menghabiskan waktu bersama Laurensia, Miracle dan Heaven. Di dalam proses pengambilan momen tersebut berlangsung selama hampir 2 minggu, setiap harinya saya perlu siap jam 6 pagi. Dari situ saya melihat proses sprint atau kerja tim kelas dunia (selayaknya atlit olimpiade) yang berjumlah hampir 20 -30 orang setiap harinya. Mereka bekerja sangat cepat, kompak, dan hal – hal tersebut dijalankan dengan effortless. Saya berdiskusi dengan sang sutradara dan produser yang berbagi cerita mereka yang akan kita bahas di lain waktu. Mereka ini adalah para nominator penghargaan sekelas academy award.

Di dalam salah satu diskusi dengan mereka, saya bercerita mengenai bagaimana pentingnya kandang ayam di Alfa Omega untuk pengembangan sekolah ke depannya, dan satu saat setelah break, satu orang berbisik di sebelah saya.

“Pak, biasanya kalau beternak ayam, akan habis semua, sampai akhirnya sukses.” ” Habis semua pak ?” jawab saya. “Iya, mati semua” jawab orang tersebut. Dari situ saya sadar bahwa saya perlu memberitahukan bu Lisa, perlu bersiap – siap. Satu hal yang negatif akan menjalar, mulai dari hal yang sederhana, bersiap – siap memperhatikan hal – hal yang detail.

“Gimana bu hasil peternakannya hari ini ?”

“Puji Tuhan pak 400 telur siap di tray hari ini”

“Laurensia pun siap dengan sapaan di pagi hari ini ke relasi kami untuk membantu Bu Lisa, telur sudah siap ada 400 telur hari ini.”

Dari cerita studio, dan cerita tentang bu Lisa, memberikan inspirasi kepada saya bahwa cerita Guha yang dimulai di Piyandeling, di The Guild, dan yang sebuah gua itu bisa jadi cerita untuk bu lisa yang sedang membangun Guhanya di Alfa Omega. Dari situ saya memikirkan apabila kita membangun arsip digital transformasi belakang pangung dari proses kreatif berkarya kami, mungkin hal ini bisa lebih bermanfaat untuk banyak orang.


Saya belajar bahwa selebih – lebihnya orang yang memberi, rejeki dari Nya tidak akan kurang sedikitpun. Jangan pernah berhenti memberi karena dibalik itu masa surga yang penuh dengan berkat.

Catatan Levi Gunardi : “Tidak ada yang lebih membahagiakan dari para petani ketika musim panen tiba.  Sesuatu yang ditunggu-tunggu dari awal, jerih payah yang telah mereka tuang sepenuhnya adalah untuk masa ini.”

Hari ini Laurensia berulang tahun, dan kami sudah mendapatkan berkat berlimpah dengan anak – anak yang memberikan kebahagiaan. Laurensia, Miracle dan Heaven muncul. Kami merayakan ulang tahun Laurensia dengan sederhana, ia sudah berumur 39 tahun di tanggal 22 Mei. Miracle menyapa menghampiri untuk memeluk,

ia berkata “Papa”

Celoteh seperti itu sudah cukup untuk membuat saya berhenti menulis. Pikiran saya menerawang kembali ke perjalanan kembali ke Piyandeling.

What is future ? sometimes it’s covered by uncertainty.
feeling architecture by touching it’s surface and beyond skin deep
by knowing fragility of architecture. It can evolve to unlimited Bricolages.

Translate to English

 “Pak Amud, please excavate this with a diameter of 3 m, I want to try to see the bottom of the fill soil, until the soil is hard, as far as I know, Pak Eddy dug up to 2 meters and built almost 2 m of retaining sheeting.”

The Piyandeling project has difficulties due to its location at the top of a hill, it is difficult to find labor and its location is far from the crowds. I tried them – experimental designs using bamboo and concrete reinforcement, to what extent, this drum shape can withstand, and is expressive in its simple “one way” language. This one go is basically like once pouring concrete, we have gained the structural strength, aesthetics, and function of the room.

At the time of construction at the base of the concrete wall there was a river stone which was already there. Piyandeling itself is a game of primitive language, the language of the platonic form. Behind the simplicity there is beauty to be understood by the people who visit.

Like the repertoire of songs Fragment and Tembang Alit Indonesia beautifully played by Gillian Geraldine, a song composed by Jaya Suprana. The repertoire in architecture is also related to experiments – experiments on new adaptations (For example, in architecture known as tectonic detail – tectonic), a unique movement that has never happened while also referring to traditional records that make the collaboration of the two to form Fragments. Architecture also flows like a river like Tembang Alit. It’s like in architecture known for the method that flows without limits, an effort to realize daily adaptation, Bricolage.

The morning after I prayed and meditated, sometimes a call came up. From reminding to maintain a diet, reminding not to forget to check this project, this detail, and don’t forget the room for Laurensia, Miracle and Heaven. Like the cave being built in Piyandeling this is an attempt to find warmth, thermals, as well as programs, and experiences, as well as materiality. This room is the warmest prayer room in Piyandeling built with the warmth of bamboo craftsmen.

“Mom, how many eggs are ready today?” Mrs. Lisa replied, “Yesterday we got 80 sir, today 210.” In the past few months, we have seen each other quite often.

The chicken eggs we’re talking about come from the chicken farm at the Alfa Omega school. About a year ago, when the pandemic arrived, Mrs. Lisa told how she got inspiration from someone who has succeeded in developing a farm to help her orphanage, named Pak Gaspar. From there, Mrs. Lisa invited me to visit the farm. “Miss Lisa, you have helped me a lot, sir, now I want to help mother.” This sentence came up when I asked him how he was related to Mrs. Lisa.

These questions are important to ask before starting the chicken coop project which begins by asking relevant questions, about who started, how to start, and what are the things that might hinder. Such information is important for establishing context, how one thing is formed and how one thing affects another. From that I can learn, to appreciate the process of growing requires strong roots.

One time I was discussing with Laurensia about how Mrs. Lisa was struggling to run her laying hens farm in Alfa Omaga. One moment later Laurensia contacted some of our relatives, our mother, to help sell eggs from alpha omega. These little things started from my and Laurensia’s sympathy to Mrs. Lisa and her family and seeing how she fought for the Alpha Omega school. We help, we don’t need to be paid, sometimes we see Mrs. Lisa as well, helping without paying anything. A principle of Javanese philosophy,, Rame ing gawe,sepi ing pamrih, memayu hayuning bawono (working hard, helping selflessly, preserving the universe/controlling lust).

The first day, you can sell 80 eggs, then 150 eggs, and then 200 eggs. “There are 4 laying hens that died, sir,” said Mrs. Lisa one morning, the eggs were too big so they couldn’t come out. These things happened successively.

Nassim Nicholas Taleb in the book Black Swan writes about unexpected things that change future projections. This is also discussed by Malcolm Gladwell in Tipping point where there are small things that trigger a jump in the next events. In the context of this chicken coop project, prediction and anticipation are very important at the beginning of starting a business. Simply put, there are events that are beyond our will, our power as someone who is running in the career, business ecosystem, personal. And there are also events that arise because of careful preparation, predictable with consistency. This maturity arises from good technical preparation, neat, easy to implement, efficient and critical. These things are the beginning of the creative process. I discussed with Mrs. Lisa the importance of cleaning the coop, paying attention to the chickens, and replacing the 4 chickens that died.

 Life in the studio went on as usual, I myself was very happy with our living conditions. I feel that the architectural journey has stages. From the honest process, I think the design team will be more solid, the information will be evenly distributed and the tectonic details will be richer. Behind all the works that I design I think that architects are known from their works that are actually on the fingers, so building a portfolio will be even more important. That is the foreground of the constellation of the architect’s life, namely the work or project that has a client and a life behind it.

Besides that, what is no less important is the background, the backstage life that underlies how I write on this blog since 2005. I believe that it is important for architects to share stories about third people, the ecosystem around architects and their design studios. Yesterday we published one of our platforms on IG(instagram): GuhaTheGuild.

I see how if the basic information is shared for free, won’t it help many people who are looking for their own way?

It may be as simple as communicating why architecture is so powerful, and valuable. And also as simple as sharing how to build an ecosystem, appreciating each other in the team, fellow colleagues. And simply as important as self-reflection, knowing that every moment of restarting a project, building a team, is a time to put down our pride as architects, and come down to serve with all our heart.

About two weeks ago the Apple TV team came to the house, and they documented how the team and I worked, including spending time with Laurensia, Miracle and Heaven. In the process of capturing the moment it lasted for almost 2 weeks, every day I needed to be ready at 6 am. From there I saw the sprint process or world-class team work (like Olympic athletes) which amounted to almost 20 -30 people every day. They work very fast, are compact, and they are executed effortless. I discussed with the director and producer who shared their stories which we will discuss at a later time. These are the nominees for the academy award class.

 In one of the discussions with them, I talked about how important the chicken coop at Alfa Omega is for the future development of the school, and one moment after the break, one person whispered next to me.

“Sir, usually if you raise chickens, it will be all gone, until you finally succeed.” “Is it all over, sir?” answer me. “Yes, all dead” replied the man. From there I realized that I needed to tell Mrs. Lisa, I needed to get ready. One negative thing will spread, starting from simple things, get ready to pay attention to details.

“How’s the farm today, ma’am?”

“Praise God pack 400 eggs are ready in the tray today”

“Laurensia is ready to greet our relatives this morning to help Mrs. Lisa, 400 eggs are ready today.”

From the studio’s story, and the story about Mrs. Lisa, it inspired me that Guha’s story which started in Piyandeling, at The Guild, and that a cave could be a story for Mrs. Lisa who is building Guhanya at Alfa Omega. From there, I thought that if we build a digital archive of behind-the-scenes transformation of our creative process, maybe this can be more useful for many people.

I learned that the more people who give, the sustenance from Him will not be lacking in the slightest. Never stop giving because behind it is a heaven full of blessings.

Today is Laurensia’s birthday, and we have been blessed with many happy children. Laurensia, Miracle and Heaven appeared. We celebrated Laurensia’s birthday in a simple way, she turned 39 on May 22. Miracle greets coming over for a hug,

Such babbling was enough to make me stop writing. My mind wandered back to the trip back to Piyandeling.

Kategori
Team - Reflection Letter

Panji Ugra

To Kak Realrich Sjarief and RAW Team

Time flies so fast. I just finished my internship program at RAW Architecture for 17 meaningful weeks. My internship experience started on 18th December 2020 when I saw RAW Architecture open an internship program. I am so thankful that RAW Architecture gave me opportunity to learn so many things as an architect. My first impression of RAW Architecture is little bit shocking because the work culture is so crazy. Everyone is working so fast and go home late at night. I thought that I can’t keep up with RAW’s working pace. In the end, I managed to through all the obstacles because everyone in the studio was so kind to help.

Before I work at RAW Architecture, I thought that architecture is only about conceptual design. After I work at RAW Architecture, I realized that architecture is a knowledge that so comprehensive. I learned so many things, not just how to design but all the details including communication skill toward clients.

My first project at RAW Architecture is Danau Biru Compound. I can’t forget the knowledge that Kak Realrich gave me about the existing house of Danau Biru. The spaces and the details of House at Danau Biru is so breathtaking. Danau Biru Compound is the only project that RAW Team gave me a task to make model. Although the model is not detail, I still learned the principle how to make model for client presentation.

The project that I involved a lot is House of Tjandra at Puri Botanical. I learned so many aspects in this project, not just the interior design principle but also the details that make the space is unique. One of my favorite moments is when I got the chance to design the swimming pool area. I was so surprised that Kak Realrich told me to refer to Carlo Scarpa’s Design for designing the swimming pool stair. Before I got this assignment, I thought that all swimming pool stair design is template but RAW Team taught me differently. Even is just a stair, we need to elevate the standard so that we can achieve a remarkable design.

To Conclude, I want to thank to Kak Realrich for letting me in this awesome office and also all of the associates and designer, Kak Ali, Kak Dini, Kak Riyan Kak Pandu, Kak Alvyan, Kak Thomas, Kak Timbul, Kak Vivi, Kak Erick, Kak Meimei, Kak Riko, Kak Khaffyd, Kak Fina, Kak Icha and Kak Alim for all the knowledge that I got. And last but not the least, the interns, Kak Icang, Caca, Avie, Joshi and Nielson for all the fun moments that we spend together. Thank you very much RAW, I wish you all the best.Best Regards,

Panji Diwya Ugranindito

Kategori
blog

Guha Memanggil

Semburat cahaya menyinari dak lantai bambu di Piyandeling. Bayangan batang – batang bambu terpapar di lantai membentuk pola – pola batang – batang bambu yang berjajar, seperti metafora hutan bambu. Di balik latar terlihat susunan ramp yang melingkar memeluk tiang yang sekaligus berfungsi sebagai pemisah hubungan ruang privat. Ruang tersebut ada di lantai dasar yang terhubung dengan kebun dan wadah yang terbuka. Begitu masuk dari pintu utama, kita bisa melihat ramp dan dak bambu sebagai komposisi bangunan yang melayang di atas tanah, sebuah komposisi adaptasi dari bangunan tradisional Sunda, Imah Julang Ngapak. Ramp digunakan untuk proses memasuki ruang, sebagai sebuah wadah transisi. Elemen ini menyatukan sisi vertikal dan horisontal di bagian Piyandeling yang disebut Kujang. Atapnya menari naik dan turun, membentuk metafora seperti namanya, bentuk ini berkembang dari sekolah Alfa Omega sehingga bertransformasi seutuhnya dengan materialitas bambu seutuhnya.

Begitu masuk dari pintu utama, kita bisa melihat ramp dan dak bambu sebagai komposisi bangunan yang melayang di atas tanah, sebuah komposisi adaptasi dari bangunan tradisional Sunda, Imah Julang Ngapak. Ramp digunakan untuk proses memasuki ruang, sebagai sebuah wadah transisi.
Ketukangan yang diolah disini adalah ketukangan tradisional Sunda yang dikembangkan oleh kawan – kawan tukang dari Sumedang. Ramp selebar 1 m ini pun juga demikian dengan bambu – bambu yang menjadi rangkanya yang juga berfungsi sebagai pegangan tangan dengan kesederhanaan konstruksi, bahasa pasak dan perekat.

Piyandeling dikerjakan oleh 4 orang pengrajin yang bekerja bereksperimen dengan ketukangan bambu, membuat elemen – elemen pintu – jendala putar, memanfaatkan bahan – bahan sampai tidak bersisa. Bentuk massanya sederhana, platonis dengan elemen yang terdiri dari bentuk – bentuk alam. Ketukangan yang diolah disini adalah ketukangan tradisional rumah Sunda yang dikembangkan oleh kawan – kawan tukang dari Sumedang. Ramp selebar 1 m ini pun juga demikian dengan bambu – bambu yang menjadi rangkanya yang juga berfungsi sebagai pegangan tangan dengan kesederhanaan konstruksi, bahasa pasak dan perekat.

Piyandeling dikerjakan oleh 4 orang pengrajin yang bekerja bereksperimen dengan ketukangan bambu, membuat elemen – elemen pintu – jendala putar, memanfaatkan bahan – bahan sampai tidak bersisa.

Satu kawan saya, Anas mengingatkan ketika kami berdiskusi soal pentingnya proses, ia berkata “Terkadang kita lupa untuk bersyukur dibalik seluruh proses yang ada, ia melanjutkan,

KAS ( Ki Ageng Suryomentaram) itu seperti Bima dlm cerita Dewa Ruci…Bima yg benar2 ada…Ya dia mencari kebenaran gk ke mana2. Ya dari dirinya sendiri. Betul. Kan ceritanya perjalanan jauh, tp itu hanya kiasan. Justru diri sendiri ini yg sebenarnya sangat jauh. Krn orang sering lupa, sibuk meniru orang lain. Jika kamu menghadap ke utara, apa yg paling jauh di utara sana ? Ya punggungmu, karena bumi ini bulat. Lawan terkuat sebetulnya ya diri sendiri. Kalo dari sloki (tahap kemabukkan) ya sloki ke 10: dasa buta (nama tingkatan kemabukkan terakhir) … mati. Balik nol lagi. Maka di Jawa yg utama adalah Slamet (selamat), bukan bener (benar).

Berbeda dengan Guha yang ada di Jakarta, Piyandeling menggunakan elemen tradisional dan mencoba mendekati desain dari sudut pandang ketukangan tradisional. Sedangkan Guha menggunakan adaptasi antar material industri dan fiber. Guha melambangkan kota dengan gemuruh kompleksitas rumah petak di dalamnya, kehidupan studio yang intensif, efisiensi, kecepatan, presisi, konsep-ide-gambar-membangun. Dan, Piyandeling melambangkan ketenangan desa dengan kedamaian yang sunyi.

Guha menggunakan adaptasi antar material industri dan fiber. Guha melambangkan kota dengan gemuruh kompleksitas rumah petak di dalamnya, kehidupan studio yang intensif, efisiensi, kecepatan, presisi, konsep-ide-gambar-membangun.
Berbeda dengan Guha yang ada di Jakarta, Piyandeling menggunakan elemen tradisional dan mencoba mendekati desain dari sudut pandang ketukangan tradisional. Piyandeling melambangkan ketenangan desa dengan kedamaian yang sunyi.

Laurensia mengingatkan setiap harinya untuk tidak lupa bersyukur, membicarakan setiap permasalahan di dalam saat – saat kami makan bersama. Di saat – saat itu saya bisa menghargai kualitas waktu yang sungguh menjadi sangat berharga sekarang ini.

Beberapa hari terakhir ini juga, saya berdiskusi cukup intensif dengan tim internal studio, beberapa desainer, craftsmen, dan para advisor. Keseluruh-lapisan yang ada memiliki curahan hati yang berbeda. Saya bangun pagi – pagi hanya untuk menyelesaikan sketsa – sketsa dan menyusun jadwal di hari itu, kemudian di jam 09.00 desainer, pustakawan, admin mulai datang saya sering menyapa mereka di pagi hari “gimana progressmu, apa semua pekerjaan lancar ?” Saya hanya ingin memastikan apa mereka mengalami kesulitan.

Sejauh ini perimeter kami masih aman, dan meskipun keluarga anak – anak studio kami juga ada yang terkena Covid, namun Puji Tuhan semua orang, kerabat masih sehat, dan berangsur – angsur kembali normal dengan penyesuaian, tanpa kurang suatu apapun. Sering kali saya lupa bahwa kehidupan manusia begitu rapuhnya yang terkadang mengagetkan kita dengan senda gurau dan tawa air mata. Foto oleh gabby (IG: veronica.capture)

Prinsip keselamatan ini, diwarnai dengan saat – saat kami saling mengapreasiasi satu sama lain, di dalam studio sekarang, kami mengadakan acara selamatan berupa hari apresiasi. Di satu hari itu kami memilih satu orang yang terbaik dari 3 divisi berbeda, desain, administrasi, dan perpustakaan. Di saat tersebut, orang – orang bergantian memberikan testimonial terhadap orang tersebut. Momentum tersebut seperti titik kompas, kembali ke titik awal, bagaimana sesederhananya bekerja adalah proses untuk belajar, mengapresiasi dan mengenali diri sendiri. Di dalam acara tersebut saya juga memberikan apresiasi bonus dan meminta Farhan untuk merekamnya untuk kebersamaan.

Kira – kira setahun yang lalu pandemi Covid ini mulai muncul di Indonesia. Saya pikir Covid ini setidaknya sedikit membawa refleksi di dalam tim studio kami. Setidaknya filosofi ini menjadi penting, untuk menyadari bahwa masih diberikan kesehatan, rejeki, dan waktu berkumpul keluarga atau teman terdekat. Munculnya kesadaran akan merasa lebih dari cukup sungguhlah proses yang berharga. Saya ingat waktu itu kira – kira sore hari, saya mengumpulkan anak – anak studio . Saya menanyakan apa ada kemungkinan anak – anak studio untuk pulang ke rumah masing – masing.

Baru satu hari sebelum pertemuan tersebut di satu tahun yang lalu, saya mengecek grafik kematian di Korea dan China yang signifikan, Singapore, dan beberapa negara lainnya