Diriku bernama Raya Rahastya Febrisha, terlahir Dari dua sejoli yang berketurunan jawa belanda dan jawa murni. Aku dilahirkan di daerah ibu kota pada tanggal 16 bulan februari Dan tahun 2004. Awalnya kami hidup Dari satu ke satu rumah lain hingga akhirnya menerapkan di bekasi. Saat kelahiranku, orang tua ku tidak menyangka diriku akan “berusaha mantap Dunia ini” lebih cepat Dari hipotesis para dokter, sehingga membuat kejutan bagi mereka. Ayahku yang saat itu belum Masih hidup berkecukupan terkejut setelah tahu ibuku harus melahirkan ku hari itu juga. Ia lalu menggendarai motornya dengan cepat tanpa memikirkan tanah Dan langit. Ibuku yang mendadak harus melahirkan ku pun tanpa pikir panjang memanggil bemo sambil membawa kakakku yang masih balita. Layaknya petir di siang bolong, tangisan ku membawa kejutan bagi semua nya.
Saat aku berunur tujuh tahun, kami pindah ke Bekasi dan tinggal di kos-an yang cukup untuk sekeluarga. Disinilah diriku mulai mengamati arus kehidupan dan cara kerja Dunia. Karna diriku yang terkenal cenggeng Dan penakut, aku lebih banyak mengghabiskan waktu kecil ku di rumah bermain sendiri atau membaca buku-buku yang diberikan oleh orang tua ku. Polos, manja, itulah yang sering di gambaran kepadaku saat itu. Saat sudah menginjak sekolah dasar, diriku cenderung tidak mempunya teman dikarenakan karakterku yang lemah, sehingga diriku lebih memilih menyendiri Dan membaca di selang waktu luangku. Tertindas Dan diremehkan itu sudah menjadi makanan sehari hari diriku. Namun, diriku yang dulu bisa dibilang memiliki daya pikir yang tinggi sehingga ia sering mendapat nilai yang cukup bagus. Walau begitu ia Masih takut kepada orang lain Dan menganggap semua orang membenci nya. Hingga saat kelas enam, diriku yang lalu merasa kecewa karena mendapat kabar bahwa nilai rapot ku terkecil. Awalnya aku sangat sedih karena merasa sesuatu hal yang ku perjuangan selama ini sia sia. Akhirnya aku terpaksa harus mengikhlaskan hal itu, namun ternyata aku mendapat informasi sebetulnya nilai ku semua bagus tetapi ada satu orang tua tidak terima dengan Hal itu lalu melakukan penyuapan kepada pihak sekolah untuk menukarkan nilai anaknya dengan nilai ku. Saat itu aku sangat kecewa Dan kesal, namun orang tua ku berkata bahwa yang sudah di masa lampau biarlah di masa lampau, jalani saja apa yang berada didepan mu sekarang. Dengan sangat berat hati aku menelan ludah itu Dan berusaha terus maju.
Saat masa smp, aku takut sekali kepada semua orang karena takut apa yang terjadi di masa lampau akan ter ulang kembali. Namun takdirlah yang membuka mataku bahwa tidak semua orang akan menindas satu sama lain. Teman sebaya ku di SMP sangatlah menghargai satu sama lain, Dan itulah awal Dari diriku yang sekarang sehingga lebih berani untuk menatap Dunia Dan manusia. Namun, saat diriku menginjak kelas 9 aku merasa aneh Dan menjadi pelupa tanpa sebab. Berawal Dari lupa hari hingga lupa nama sendiri.
Saat menginjak SMA aku disibukan dengan apa yang harus ku ambil di masa depan sampai kadang lupa dengan kebutuhan diri sendiri.