Reflection Letter:
Halooo semuaa! Apa kabar? Semoga baik dan sehat selalu, aamiin. Perkenalkan saya Haidar Tamimi Mustofa, fresh graduate Arsitektur (yang tidak terlalu ‘fresh’) dari UIN Walisongo Semarang. Sebelumnya saya ingin berterima kasih kepada kak Rich dan seluruh tim dari RAW DOT OMAH, termasuk kepada bibi dan tim biru, atas kesempatan yang diberikan untuk dapat menjadi bagian dari keluarga besar RAW Architecture. Mungkin bagi beberapa pembaca ada yang bertanya, “Emang di UIN ada Arsitektur?” dan mungkin beberapa pembaca lain juga merasa aneh, karena dari semua nama-nama kampus besar yang ada disini terdapat sebuah anomali yang terselip di antaranya. Ya, itulah saya.
Sedari awal saya sendiri juga tidak percaya bahwa saya diterima menjadi bagian dari keluarga RAW Architecture, karena bagi saya itu merupakan suatu keberuntungan yang bahkan saya sendiri pun meragukannya, “Apakah semua ini nyata?”, begitu pikir saya saat itu. Alasan dibalik semua itu karena jurusan Arsitektur atau Ilmu Seni dan Arsitektur Islam (nama resmi jurusan) di UIN Walisongo Semarang ini merupakan jurusan baru, dan saya adalah angkatan pertama. Jadi dengan terbatasnya ilmu, relasi, maupun pengalaman sebagai angkatan pertama ditambah reputasi jurusan yang jika dibandingkan dengan jurusan Arsitektur universitas lain bagaikan ‘buyut’ dan ‘cucu’. Mengapa begitu? Karena universitas lain sudah lebih dahulu eksis dan sebagian banyak telah tumbuh dan berkembang selama puluhan tahun, sedangkan jurusan saya sendiri baru saja lahir ke dunia dan bagaikan lembaran kertas putih yang belum ada apa-apanya. Namun, bagi saya itu bukan menjadi halangan. Justru saya sangat tertantang untuk terus belajar dan berkembang, hingga akhirnya saya berhasil masuk ke dalam lingkungan orang-orang hebat di RAW Architecture dimana saya dapat belajar banyak hal-hal yang tidak saya dapatkan sebelumnya, baik dalam perkuliahan maupun di luar kampus.
Selama hampir 5 bulan saya intern di RAW Architecture, saya belajar banyak sekali hal-hal teknis maupun non-teknis. Meskipun pada awalnya saya cukup kaget karena terdapat beberapa tim yang dibedakan berdasarkan jobdesc dan scope desainnya masing-masing. Saya sendiri sudah mencoba sebagian besar dari keseluruhan tim yang terdapat di RAW Architecture, mulai dari Techne, Episteme, Phronesis (meskipun hanya membantu sementara), Sophia, serta Analytics. Dari semua tim yang pernah saya coba, saya suka berada di Sophia. Bahkan sedari awal saya dijelaskan mengenai tim-tim di RAW, saya sudah tertarik untuk berada di tim Sophia.
Meskipun begitu, tim yang lain juga memberikan pengaruh dan pengalaman yang cukup banyak untuk saya. Seperti saat saya berada di tim Techne waktu awal masuk, saya belajar membuat potongan dan detail-detailnya. Lalu di tim Episteme saya belajar detail finishing, dari RCP (ini yang paling sering sih), dinding, lantai hingga meeting di lapangan dan membuat MoM (Minutes of Meeting). Untuk di Phronesis saya belajar mengenai bagaimana sejatinya kondisi aktual desain kita ketika dibangun di lokasi, lalu apa saja yang tidak sesuai dan perlu direvisi dan juga bagaimana ‘teknik’ mendokumentasikan kondisi di lapangan yang nantinya sebagai dokumentasi untuk keperluan laporan. Kemudian ketika saya masuk di tim Sophia, *dang* it’s a whole different world. Tak seperti di Sky, studio dimana tim Techne-Episteme-Phronesis berada, di Benteng (tempat tim Sophia) ini semuanya abstrak. Semua dibuat dari 0 (nol), dimulai dari sketsa kak Rich hingga akhirnya nanti jadi DTP (denah-tampak-potongan) dan juga renderan. Semua standarisasi yang kupelajari di Sky tak semuanya digunakan di Benteng, hanya sebagian kecil. Hal ini saya rasakan ketika diminta oleh kak Riyan (leader tim Sophia) untuk membuat potongan, saya memakan waktu cukup lama hingga ketika kerjaan saya dicek oleh kak Riyan, kak Riyan berucap “Ga perlu sampai se-detail itu, bro”. Dari situ saya mulai paham, di Benteng ini yang diperlukan adalah efisiensi. Kita dituntut untuk cepat namun juga tepat, sehingga kita perlu belajar bagaimana kita mengatur workflow kita se-efisien mungkin. Kita juga perlu meningkatkan kecepatan kita, karena workload yang begitu banyak hingga kita pulang larut malam, lebih malam dari yang lain. Meskipun dari RAW sendiri tidak me-wajib-kan bahkan membolehkan untuk pulang lebih awal. Namun saya sendiri ingin belajar bertanggungjawab dan menyerap lebih banyak, sehingga selalu pulang larut malam. Setelah itu, ketika saya pindah ke tim Analytics saya cukup senang. Mengapa? Karena sebenarnya sedari awal saya tidak memilih untuk masuk ke tim Analytics dikarenakan tools yang digunakan cukup ‘advanced’ dan saya sama sekali belum pernah mencobanya. Namun akhirnya saya memberanikan untuk mencobanya dan ternyata semua yang saya takutkan itu tidak se-menakutkan itu. Analytics memang belajar berfikir dan menganalisis, namun tidak hanya dengan software tools saja, karena scope kerjaan Analytics cukup luas dan salahsatu contohnya yaitu signage. Pada awalnya saya merasa bahwa signage itu cukup dibuat apa adanya saja, dan bentuknya itu-itu saja karena fungsinya sebagai petunjuk biasa saja. Tapi setelah saya terjun langsung, saya menyadari bahwa signage juga merupakan hal penting. Seperti yang biasa diucapkan kak Rich, “don’t take it for granted”, dan ini berlaku juga untuk signage. Saya belajar bahwa signage berguna sebagai pembentuk alur, dimana posisinya sebagai titik yang dapat mengarahkan alur menuju titik yang dituju, layaknnya tikungan yang membelokkan jalan. Selain itu apabila tidak ada signage, orang yang berada disitu bakal kebingungan, dimana dia berada dan harus kemana dia menuju. Itulah pentingnya signage. Selain signage sendiri, saya juga belajar untuk menggunakan mesin lasercut. “Mesin yang menjadi permulaan untuk memulai ketukangan 3.0 menuju 4.0”, begitu yang tertulis dalam prasasti di atas mesin itu. Saya juga belajar mengenai maintenance atau perawatan dari mesin tersebut, karena ketika saya masih diberi tugas untuk membuat signage, mesin tersebut tiba-tiba rusak saat akan digunakan. Setidaknya saya paham apa yang harus saya lakukan apabila mengalami hal tersebut lagi. Lalu mengenai software yang digunakan oleh tim Analytics, saya juga mempelajarinya dan akhirnya berhasil menguasainya dalam sehari. Yang mengajari dari 0 (nol) dan menjelaskan segala hal yang rumit dalam belajar software Rhino serta Grasshopper adalah Adit. Dia mengajari saya dengan sangat baik, sangat jelas, yang bahkan dapat dipahami oleh dua anak intern yang berasal dari Perancis.
Begitu banyak hal yang saya pelajari di dalam RAW, dan terdapat juga beberapa momen ketika saya liburan serta jalan-jalan bersama beberapa teman-teman desainer dan juga intern. Yaitu pergi mendaki ke gunung Patuha di Bandung, lalu ada juga keliling pameran material di Arch:ID, menonton film di bioskop, bermain Boardgame di Cilandak, keliling PIK, jalan-jalan di Jakarta Pusat, hingga agenda makan Mie Bangladesh. Segala momen ini yang membuat saya merasakan bahwa di RAW tidak hanya sekedar studio Arsitek, namun merupakan sebuah ‘rumah’, sebuah tempat yang hangat dimana kita bisa istirahat sejenak setelah berperang dalam pertempuran kerjaan yang tiada hentinya.
Oiya, satu tambahan lagi. Hal yang paling saya suka di RAW ini adalah kita mendapat ‘privilege’ untuk terus belajar. RAW selalu menyediakan kelas pembelajaran tiap bulan sebagai pendalaman ilmu maupun refleksi terhadap apa yang kita lakukan serta membuka wawasan kita lebih luas lagi. Hal inilah yang membuat saya tertarik untuk terus berada di RAW, tempat dimana saya bisa mengasah diri saya se-maksimal mungkin.
Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya terhadap kak Rich karena telah memberi saya kesempatan untuk dapat belajar dan mengasah diri lebih jauh lagi. Terima kasih kepada orang-orang Sky (Joshi, Kamil, Acha, Revi, Rizka, Nielson, ci Mei, ce Gaby, bang Putra, Aul, mas Yusrul, bang Ezra, Zyadi, kak Chai, Ikhsan, mas Beng, Novi), orang-orang Benteng (kak Riyan, Meizzhan, Shafira, Inggrid, Zikri, Timmy), orang-orang Bambu (kak Mel, Alya, mas Irfan, Uung, kak Tyo, Adit, bang Haykal), orang-orang OMAH (kak Jo, kak Ufi, kak Lulu, kak Arlyn), kak Claudia, mas Aldian, dan semua yang belum disebutkan (karena saya lupa). Tak lupa terima kasih juga kepada bibi yang telah memasak seluruh makanan yang menjadi sumber energi RAW.
Terima kasih RAW Architecture atas 4.5 bulannya, semoga kita dapat bertemu kembali dan semoga tali silaturrahim kita tetap tersambung meski raga kita tak lagi bernaung dalam tempat yang sama.
Salam Hangat,
Haidar Tamimi Mustofa