Reflection Letter:
Halo! Namaku Garneta, biasanya dipanggil Neta. Aku mahasiswi Program Profesi Arsitektur (PPAr) di Universitas Islam Indonesia. Walaupun sudah di tingkat profesi, tapi ini adalah magang pertamaku, and honestly, I was quite shocked at how many things I haven’t learned during my previous studies.
How I Found Out About RAW
The first time I heard about RAW was when Kak Rich became a jury for my friends and me during a campus presentation. Dari situ aku mulai nyari tau RAW itu apa sebenarnya? And I instantly felt a click because I realized we share something in common, a love for curves in design.
During my college projects, I almost always designed with curves, so seeing how RAW boldly applies curves not just in the building mass, but also in doors, windows, and even facades, hal itu bikin aku ngerasa takjub banget sama RAW. When I joined PPAr, I found out I had the chance to apply for an internship at RAW, and I thought, Why not? Even though I was quite pessimistic about getting accepted, it turned out, a day before my campus internship period started… I got the email saying I was in!
First Week: Struggling but Learning Fast
My first week as an intern was… intense. I felt a bit left behind because the software I usually use was different from what RAW uses, so I had to learn everything from scratch. Thankfully, Kak Josh and Kak Nielson patiently taught me the basics of AutoCAD (big shoutout to you both!).
Also, I quickly realized that working hours here are longer than I expected alias sering balik malem, tapi nggak kerasa karena orang-orangnya seru dan kocak terutama di sky, aku ngeliat kakak-kakak disini tetep enjoy aja sambil nyanyi-nyanyi atau nyeletuk tiba-tiba.
Hal yang paling aku suka dari RAW ini adalah mereka beneran ngasih kesempatan kita untuk ngambil ilmu sebanyak-banyak nya dan gak dibatesin sama sekali, misalnya:
- Mau ikut ke lapangan? Tinggal bilang.
- Mau ikut rapat dengan owner? Boleh banget tapi jangan lupa bikin MoM
- Mau nyari tau shortcut sketcup yang cepet? Tinggal nanya sambil bawa laptop ke samping kakak-kakak
And the best part? The work we do as interns is actually used, presented to the owner, and even built on-site. That’s such a rare and valuable experience.
gk
Lessons from the Field
One of the most valuable parts of my internship was learning the little details that we never think about in college. Contohnya aja kayak bahasa pertukangan kayak “janggutan”, “ambalan”, “kepalaan”, bahkan “ban-banan”. Kalau gak ikut ke site aku mungkin gak akan tau itu artinya apa sampai sekarang.
Terima kasih khusus untuk Zyadi, yang selalu mau menjelaskan kondisi lapangan dan detail yang sebelumnya belum pernah aku tahu. Aku masih ingat banget, pertama kali ke lapangan cuma bisa bengong dan “hah, heh, hoh” karena topik pembicaraan berubah sangat cepat. Tapi dari situ aku belajar kalau kita harus benar-benar paham desain dan kondisi site supaya mudah berkomunikasi dengan owner, mandor, dan vendor.
The People & The Vibes
Three months went by so fast. Yes, it was tiring, but I wouldn’t trade this experience for anything, aku pengen banget bilang makasih banget ke Kak Rich & Kak Yudit atas kesempatan magang di RAW, udah jadi pengalaman epic dan penuh ilmu banget. Shoutout juga ke semua mentor selama 3 bulan di Sky—Kak Josh, Kak Kamil, Kak Putra, Kak Revi, Zyadi, Kak Irfan, Kak Aca, dan semua yang udah sabar ngajarin aku, meski ga bisa kusebut satu‑satu, kalian semua keren! Bakal kangen suasana kerja—obrolan random, lembur bareng, masakan bibi, capek tapi seru naik‑turun tangga dari omah ke Sky—dan semua Sky People yang selalu asik, apalagi obrolan gokil Kak Putra, Kak Ezra, Kak Kamil, dan Kak Joshi. Makasih juga Kak Revi yang selalu mau dititipin Tuku kalau lagi ke site wkwkwk,. Dan pastinya makasih banyak ke teman intern seperjuangan: Salma, Icha, Fida, Caca, Davina, Rama, Feli, Mai, Luna, Bugis, dan teman‑teman lain yang selalu support satu sama lain.