Reflection Letter:
Hai! Nama aku Raniya, atau bisa juga Raniya al–Aulagie. Saat ini aku berada di semester tujuh Jurusan Desain Interior di Universitas Mercu Buana. Ketertarikan aku terhadap dunia desain interior berawal dari hal yang sederhana, yaitu kegemaranku bermain The Sims dan berbagai gim dekorasi rumah. Dari aktivitas tersebut, aku mulai menyadari ketertarikan pada pengolahan ruang, penataan interior, dan bagaimana sebuah ruang dapat memberikan kenyamanan serta karakter tertentu. Ketertarikan inilah yang kemudian mendorong aku untuk memilih Desain Interior sebagai bidang studi.
Di pertengahan masa SMA, aku sempat mempertimbangkan untuk mencoba masuk ke ranah arsitektur. Namun, pada saat itu aku masih merasa ragu dengan kemampuan diri sendiri dan mempertanyakan apakah aku mampu bertahan di dunia arsitektur yang terasa lebih kompleks dan menantang. Akhirnya, aku memutuskan untuk tetap memilih Desain Interior, yaitu jurusan yang sejak awal memang paling aku minati.
Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya semester perkuliahan, aku mulai kembali menyadari adanya ketertarikan yang cukup kuat terhadap arsitektur. Ketertarikan tersebut aku wujudkan dengan mulai aktif menghadiri berbagai seminar dan pameran arsitektur. Salah satu seminar arsitektur yang pernah aku ikuti adalah seminar yang diselenggarakan oleh OMAH Library dan JAAI, yang aku ketahui melalui kolaborasi dengan salah satu program studi di kampus aku. Seminar tersebut menghadirkan Pak Cahyo sebagai narasumber utama. Pengalaman mengikuti seminar di OMAH memberikan kesan tersendiri dan semakin membuka wawasan aku terhadap dunia arsitektur.
Memasuki semester tujuh, Program Studi Desain Interior mewajibkan seluruh mahasiswanya untuk mengikuti program internship. Pada saat itu, kantor pertama yang langsung terlintas di pikiranku adalah RAW Architecture. Hal ini tidak terlepas dari pengalamanku yang sebelumnya sudah beberapa kali berkunjung ke OMAH, serta rasa kagum aku terhadap bangunan Guha The Guild. Meski demikian, aku sempat merasa ragu untuk melamar internship di RAW Architecture karena latar belakang akademik aku adalah Desain Interior, sedangkan RAW Architecture merupakan kantor arsitektur. Namun, rasa penasaran dan keinginan untuk mencoba akhirnya mengalahkan keraguan tersebut, sehingga aku memutuskan untuk melamar sebagai intern di RAW Architecture.
Bagi aku, keputusan untuk melamar internship di RAW Architecture merupakan salah satu keputusan terbaik yang pernah aku buat. Aku sangat bersyukur atas kesempatan yang diberikan untuk dapat bergabung dan belajar di RAW Architecture. Sejak awal proses pendaftaran, motivasi utama aku adalah untuk menambah pengetahuan dan pengalaman. Selama menjalani masa internship, aku menyadari bahwa pembelajaran yang aku peroleh jauh melampaui ekspektasi awal. Aku mendapatkan pendampingan yang intens dan terarah dalam memahami bagaimana arsitektur diterapkan secara nyata di dunia profesional. Rutinitas di studio serta setiap tugas yang aku terima selalu memberikan semangat tersendiri, karena melalui setiap proses tersebut aku memperoleh banyak pengetahuan dan sudut pandang baru yang sebelumnya belum pernah aku miliki.
Selain pembelajaran akademis dan keterampilan teknis, pengalaman aku selama berada di RAW Architecture juga berperan besar dalam membentuk karakter dan kedewasaan diri. Lingkungan kerja di RAW tidak hanya terasa profesional layaknya sebuah kantor, tetapi juga hangat dan penuh rasa kekeluargaan, di mana setiap individu saling mendukung, menghargai, dan peduli satu sama lain.
Aku ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kak Rich dan Kak Yudith yang telah menciptakan wadah bagi aku dan para intern lainnya untuk tumbuh dan belajar. Salah satu pesan Kak Rich yang aku ingat adalah untuk tidak pernah berhenti mencoba dan tidak takut gagal menjadi pengingat yang sangat berarti bagi aku, bahwa jalan menuju kesuksesan memang harus melewati banyak kegagalan.
Terima kasih juga aku sampaikan kepada Kak Tyo, yang telah membantu aku sejak proses wawancara pertama. Di tengah kesibukan kakak, Kak Tyo selalu meluangkan waktu untuk membantu dan menjawab berbagai pertanyaan aku, hingga akhirnya aku bisa “graduate” menjadi S.Raw hehehe.
Untuk Kak Putra, Kak Riyan, Kak Chai, Kak Hanifah, Kak Acha, dan Kak Novi, aku sangat bersyukur karena di tengah kesibukan dan padatnya aktivitas yang mereka jalani, mereka tetap bersedia meluangkan waktu untuk berbagi pengalaman, wawasan, serta berbagai insight yang sangat berarti bagi proses belajar aku. Kesediaan mereka untuk mendengarkan, menjawab setiap pertanyaan, dan menjelaskan berbagai hal, mulai dari arsitektur hingga hal-hal yang sebelumnya terasa sulit aku pahami, memberikan dampak besar dalam perjalanan aku. Dengan penuh kesabaran dan perhatian, mereka tidak hanya membimbing aku dalam pekerjaan, tetapi juga membantu aku melewati berbagai kebingungan yang aku alami.
Untuk teman-teman internship aku yang tidak bisa aku sebutkan satu per satu, terima kasih telah menemani perjalanan aku sejak hari pertama internship. Berbagi proses belajar, cerita, dan pengalaman bersama, dari awal kita memulai hingga satu per satu menyelesaikan masa intern dan terjadi regenerasi intern, menjadi kebersamaan yang tidak terlupakan. Dukungan, canda, dan semangat yang saling diberikan di tengah padatnya pekerjaan membuat proses internship terasa lebih ringan dan bermakna.
Pengalaman, pelajaran, serta berbagai kenangan yang aku peroleh selama berada di RAW Architecture merupakan hal yang sangat berharga dan akan selalu aku kenang dengan penuh rasa syukur. Di tengah kondisi aku yang harus berada jauh dari keluarga, lingkungan kerja di RAW Architecture justru menghadirkan rasa hangat dan kebersamaan layaknya sebuah keluarga. Kesediaan untuk menerima aku sejak awal, membimbing dengan sabar, serta berbagi begitu banyak pengetahuan dengan tulus membuat aku merasa sangat beruntung dapat menjadi bagian dari keluarga besar RAW Architecture. Bagi aku, RAW Architecture bukan sekadar tempat bekerja, melainkan sebuah tempat yang memberikan pengalaman luar biasa dan tak terlupakan.