Reflection Letter:
Setelah lulus dari kuliah, kita semua pasti akan menghadapi ribuan pertanyaan: “what’s next?”,”Do you still wanna be an real ‘architect’?”,”How to make it possible then?”. Itu semua melayang di dalam kepalaku dan tak pernah berhenti. Ketika hal itu terjadi, aku perlu rehat sejenak dan mulai mencari titik awal itu untuk bermula. Yang ada di benakku waktu itu hanyalah satu hal: aku perlu belajar kembali dari awal. Aku harus memahami bagaimana bekerja secara profesional, sekaligus mulai merencanakan langkah besar untuk masa depanku, karena ilmu yang aku dapatkan selama kuliah terasa belum cukup untuk memenuhi ekspektasiku untuk menjadi seorang arsitek dengan value yang kuat.
Tempat yang aku singgahi untuk menjadi batu loncatan pertama yakni RAW Architecture. Jujur, aku tidak memiliki gambaran bagaimana studio arsitek bekerja. Seiring berjalannya waktu, aku perlahan mengerti bagaimana ide awal yang dimiliki oleh Kak Rich digambarkan menjadi sebuah desain yang holistik dan memiliki karakteristik kuat kemudian diwujudkan rancangannya menjadi bangunan yang eksis dan memiliki arti kuat bagi penggunanya. Jika didengarkan saja mungkin cukup mudah, namun proses yang terjadi ternyata sangat kompleks dari yang dibayangkan.
Aku belajar banyak bagaimana bekerja sama tiap tim yang strategis dan harmonis. Dimulai dari konsep desain yang tak pernah habisnya untuk diubah-ubah oleh Tim Sophia demi menjadikannya sebagai desain yang terbaik untuk penggunanya. Tim Analitik membantu memecahkan permasalahan lapangan yang berkaitan dengan iklim, Tim Techne maupun Episteme mendesain lebih lanjut untuk menjadi gambar kerja yang nantinya akan diwujudkan oleh Tim Phronesis. Aku menjajal hampir semua tim untuk mendapatkan experience yang bisa menguatkanku untuk merancang gambaran besar untuk karir kedepan.
Disamping itu, aku bisa mengatakan bahwa RAW Architecture merupakan ‘rumah’-ku untuk tumbuh dan berkembang bersama-sama dengan semua designer yang sangat suportif dan Kak Rich yang mengajarkan value yang ia miliki kepada designer maupun intern untuk menjadi arsitek yang berempati dan humanis. Ditengah kesibukannya, Kak Rich masih bisa untuk menyempatkan waktunya untuk berada di tengah-tengah bersama kami dan memberikan lecture dan motivasi yang tak terduga dan sangat disayangkan untuk dilewatkan. Pengalaman ini perlahan membentuk cara pandangku terhadap profesi ini bahwa arsitektur adalah bukan hanya tentang merancang atau mendesain saja, tetapi tentang belajar, berdiskusi, dan tumbuh bersama dalam setiap tahapnya.
Belajar selama kurang lebih enam bulan di RAW Architecture membuatku memiliki gambaran kecil yang sangat bermakna dan kuat untukku melangkah lebih jauh kedepan. Tak lupa, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada:
- Kak Rich dan Kak Yudith yang bersedia untuk menerimaku dengan hangat ke dalam rumahnya.
- Kak Tyo yang dengan sabar membimbing dan menjadi tempat bertanya, bahkan untuk hal-hal kecil yang seringkali justru menjadi fondasi pemahaman.
- Team Leader yang tidak hanya mengarahkan pekerjaan, tetapi juga memberikan ruang untuk belajar, mencoba, dan berkembang melalui proses.
- Para designer yang sangat helpful dan penuh insight untuk menjadi ruang cerita di sela-sela bekerja maupun istirahat.
- Teman-teman Intern yang menjadi bagian dari perjalanan ini, berbagi dinamika, tantangan, dan momen-momen sederhana yang justru paling berkesan.
Enam bulan bukan waktu yang singkat untukku belajar. Namun selama itu, aku merasa sangat diterima untuk menjadi bagian dari ‘keluarga’ RAW Architecture. Tidak ada kata yang bisa kuutarakan selain terima kasih sebesar-besarnya dan ini bukanlah pertemuan akhir. Semoga aku bisa kembali untuk berkontribusi lebih besar di lain waktu.