Kategori
Team - Reflection Letter

Adli Shiedieq Hanif Ibrahim – Institut Teknologi Sumatera

Reflection Letter:

Prologue – AKU

Halo, namaku adli.

Bukan seorang penulis yang jago menulis hal-hal yang indah seperti lirik lagu lagu kerennya Hindia bukan juga partner magang dari masa depan kaya film SORE yang lagi trend belakangan ini.  aku bukan siapa siapa, cuma mahasiswa biasa yang ga ngerti apa apa, bermodalkan pengalaman seadanya, tapi berharap bisa menyerap ilmu sebanyak banyaknya dari para orang orang keren yang bisa dikumpulkan di satu tempat disini, di GUHA.

Sebelumnya ,diriku mengucapkan terima kasih sebesar besarnya kepada Kak Rich dan Kak Yudith karena memberikan kesempatan magang yang sangat luar biasa ini, pengalaman magang ini membuatku belajar banyak hal yang ga bisa dijelaskan dengan kata kata ini, karena GUHA menurutku bukan hanya kantor untuk bekerja,tetapi bisa dibilang “sekolah” untuk belajar banyak sekali hal di luar perkuliahan biasanya. 


Chapter 1 – Pelajaran 

Mungkin akan terlalu banyak hal jika ditulis semuanya disini soal pengalaman yang di dapat disini. Saya datang disini dengan pengalaman seadanya, gambar kerja sebisanya, konsep seadanya, ke lapangan bermodal bisnis freelance teman yang sering dapet klien. Tapi itu yang buat diriku jadi bisa belajar banyak hal disini. Setiap hari diisi dengan hal baru disini, pelajaran baru, tantangan baru, pengalaman baru- semuanya bisa dijadikan pelajaran disini.

Seperti yang ku bilang sebelumnya, GUHA bisa dibilang “sekolah” bukan hanya untuk anak-anak Intern yang banyak disini, tapi designer juga banyak belajar hal disini. Kita bisa banyak belajar bukan hanya tentang membangun suatu bangunan yang meliuk-liuk seperti gaya bangunan kak rich yang kita kenal. Tapi banyak hal, Leadership, Management, business hal-hal diluar arsitektural tersebut banyak yang kita dapat disini. 

Chapter 2 – pengalaman

Sangat banyak pengalaman baru dari hari pertama di GUHA, di brief kak ryan dan diajak keliling sama kak tyo. Setelah itu langsung masuk epistem dan langsung duduk ngerjain rencana finishing dinding sama bang Ikhsan. Setelah itu pulang melanjutkan hidup mahasiswa biasanya. Tapi bukan disitu letak asiknya, letak asiknya disini ketika kita bisa dibimbing langsung, diterima sebagai pelajar yang ingin belajar akan sesuatu, bukan sebagai profesional yang dituntut bisa semua. 

Pengalaman lainnya juga banyak di dapat dari kakak designer yang lain setiap ngobrol pasti ada pengalaman baru yang bisa dipelajari. Entah dari segi arsitektur aja, atau banyak pengalaman baru yang ada dari mereka. Selain itu juga, kalo di pikir pikir pulang pergi dari Tigaraksa-Omah itu ga worth it jangan di coba bikin capek badan, nanti malah sakit saktitan. 


Chapter 3 – Evaluasi
Lewat magang selama 2 bulan 2 minggu ini, saya banyak belajar sesuatu. Saya mengevaluasi banyak hal—bukan hanya soal teknis arsitektur, tapi juga tentang diri saya sendiri.

Pertama, saya belajar bahwa kemampuan teknis itu penting, tapi bukan segalanya. Di GUHA, saya sadar bahwa proses berpikir, cara berkomunikasi, dan kemampuan untuk beradaptasi jauh lebih menentukan. Saya datang dengan bekal seadanya, tapi setiap hari adalah kesempatan untuk mengasah diri. Saya belajar bahwa tidak apa-apa untuk tidak tahu, asal ada kemauan untuk belajar dan bertanya.

Kedua, saya mengevaluasi cara saya bekerja. Dulu saya pikir kerja keras itu cukup, tapi ternyata kerja cerdas dan kolaboratif jauh lebih efektif. Di GUHA, saya belajar bagaimana menyusun prioritas, bagaimana membaca situasi, dan bagaimana menyampaikan ide dengan jelas. Saya belajar dari cara Kak Rich memimpin, dan dari obrolan ringan dengan para designer yang ternyata penuh makna.

Ketiga, saya mengevaluasi cara saya melihat dunia arsitektur. Sebelumnya saya hanya fokus pada bentuk dan estetika, tapi di sini saya diajak melihat arsitektur sebagai sistem yang kompleks—ada air, listrik, waste management, ada narasi, ada branding, ada pengalaman pengguna. Saya belajar bahwa arsitektur bukan hanya soal bangunan, tapi soal kehidupan.

Dan terakhir, saya mengevaluasi diri saya sebagai individu. Saya belajar untuk lebih sabar, lebih terbuka, dan lebih jujur terhadap proses. Saya belajar bahwa tidak semua hal harus sempurna, tapi setiap hal harus punya niat dan arah. Saya belajar bahwa menjadi “bukan siapa-siapa” bukan berarti tidak bisa menjadi sesuatu. Di GUHA, saya merasa dihargai sebagai pelajar, sebagai manusia yang sedang tumbuh.

Chapter 4 – Bonus 

Terakhir, saya mungkin memberikan sedikit bumbu terima kasih terhadap kakak kakak designer yang telah membantu membimbing saya selama magang ini, saya mencocoklogi kan mereka dengan makanan.

Pertama tim epistem,
Kak Chai/Bang Chai : Rainbow Cake .Ceria , pekerja keras, warna warni, tapi keibuan juga contoh pemimpin yang bisa menganyomi semua didikannya. Semangat terus kak chai

Bang Ikhsan : Bakwan jagung. Orang yang agak keras, pekerja keras, konsisten, tapi hangat kok  

Kak Novi : Lava Cake. Orang yang misterius, introvert banget, tapi karena hal itu bisa ngeliat sisi baik apapun dan jadi orang yang hangat juga.

Bang Nielson : Nasi Kebuli Daging Sapi dengan Acar dan Sambal Tomat . Kompleks secara rasa dan teknik, penuh rempah, dan disajikan rapi. Nasi kebuli itu punya bobot—kayak ilmu MEP dan Plumbing yang nggak main-main. Tapi tetap bisa dinikmati bareng-bareng, cocok buat mentor yang ramah dan berbagi ilmunya.

Kak Uung : Mie goreng. Orang paling random sedunia, saya pun ga tau ada manusia se random ini di dunia, orang yang pintar, berani, humoris semua campur aduk kaya mie goreng yang tiap masak beda rasa

Lanjut ke Tim Sophia, tim konsep yang menyendiri di benteng 

Bang Ryan : Roti Sourdough isi butter. Minimalis, Klasik, Elegan, tapi proses pembuatannya penuh disiplin, cocok sama ka ryan yang sistematis, teratur, disiplin, tapi humoris walau agak kaku. HeHe
Bang Meizan : Cheesecake topping buah , tapi topping-nya bisa disesuaikan—kadang stroberi, kadang blueberry, kadang kiwi. Cocok buat orang yang punya fondasi kuat tapi tetap fleksibel dan menyenangkan kaya bang meizan

Kak Shaf/Bang Shafira : Gado-Gado. Orang yang random banget, cerdas, punya ambisi kuat juga tapi bisa jadi mentor yang baik juga walau kadang suka ga enakan, tapi sangat sistematis.

Bang zikri (TwentyOne Pilots no 1 fans) :  Nasi Uduk. Orang yang sederhana tapi penuh detail da telur balado, ayam goreng, sambal kacang, kerupuk. Representatif sempurna bang zikri yang Detail, kerjanya cepat, teknis, tapi fleksibel dan suka tiba tiba hilang karena jajan ke luar.

Bang timothy . American Pizza :  orang yang Chaotic Good, amat sangat kreatif, taktis tapi juga fleksibel. Selalu bawa board game yang bikin sophia ga sepi kaya american pizza yang punya rasa yang random dari jamur , sosis, sampe nanas juga ada.
Kak Edho : Nasi Telur Sambal Matah , Kelihatannya simpel tapi kalau dibuat dengan teknik yang benar, rasanya bisa luar biasa. Telur dadar crispy itu kayak skill Bang Edho: cepat, tapi tetap punya lapisan rasa. Sambal matah-nya jadi simbol “disetir” Kak Ryan—ada sentuhan khas yang bikin beda.
Kak Ken : Rice Bowl Ayam Teriyaki Pake Onsen Egg , Disajikan rapi, cepat dimasak, dan tetap bergizi. Teriyaki-nya itu sistematis dan stabil, tapi telur onsen-nya jadi simbol sisi lembut dan fleksibel. Cocok buat Kak Ken yang terlihat keren tapi tetap bisa “ikut arus” dengan gaya Kak Ryan.
Ada juga kak Tyo , Pho Vietnam pake Topping Komplit . Hangat, sabar dalam proses masaknya, dan bisa dinikmati lintas budaya. Pho itu comfort food yang punya kedalaman rasa, tapi tetap ringan dan menyegarkan. Jeruk nipisnya jadi simbol humor segar yang bikin suasana hidup. Cocok banget sama kak tyo yang sabar , tapi ramah banget.


Dan terakhir ada Tim Phronesis dibimbing 2 orang itu ada Bang Yusrul dan bang Ezra.

Bang Yusrul : Sop Iga Kuat di rasa, kaya nutrisi, dan enak . Sop iga itu kayak Bang Yusrul: punya “daging” dalam pemikiran, bisa jadi penghangat suasana, dan tetap punya sisi fun lewat emping dan sambal.
Bang Ezra : Sate Klatak yang rapih , tapi rasanya eksplosif dan menyenangkan. Sate Klatak itu punya karakter: kuat, khas, dan tetap bisa dinikmati bareng. Cocok buat Bang Ezra yang punya gaya kerja solid tapi tetap bisa mencairkan suasana. 

Chapter 4 – Thankyou,–-

Di akhir refleksi ini, Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh keluarga GUHA. Terima kasih untuk setiap hari yang penuh pembelajaran, tawa, tantangan, dan kehangatan. Terima kasih karena telah menerima aku bukan sebagai profesional yang harus tahu segalanya, tapi sebagai pelajar yang ingin tumbuh.

Untuk Kak Rich dan Kak Yudith, terima kasih atas kesempatan dan kepercayaan yang luar biasa. Untuk Kak Ryan, Bang Meizan, Kak Shafira, Bang Zikri, Bang Timothy, Bang Edho, Kak Ken, Bang Yusrul, Bang Ezra, Bang Neilson, dan Kak Tyo—terima kasih atas bimbingan, obrolan, candaan, dan ilmu yang kalian bagi dengan tulus. Kalian bukan hanya rekan kerja, tapi juga guru, kakak, dan inspirasi.

GUHA bukan sekadar tempat magang. Ia adalah ruang belajar, ruang tumbuh, dan ruang rasa. Terima kasih karena telah menjadi bagian penting dalam perjalanan belajarku. Semoga setiap hal yang kupelajari di sini bisa menjadi bekal untuk melangkah lebih jauh, dan semoga suatu hari nanti aku bisa kembali, bukan sebagai anak magang, tapi sebagai rekan yang siap berbagi.

Terima kasih, GUHA. Dari hati yang penuh rasa.

Motivation Letter:

avatar Realrich Sjarief

Oleh Realrich Sjarief

Founder of RAW Architecture

Tinggalkan komentar