Reflection Letter:
Halo teman-teman restless spirits! Nama saya Hasan, saya mahasiswa BINUS University jurusan Arsitektur. Alhamdulillah saya telah menyelesaikan internship saya selama 6 bulan di RAW Architecture sejak Agustus 2025 lalu. Saya bersyukur sekali kepada Sang Pencipta karena telah diberikan bimbingan dan ditakdirkan untuk mendapatkan pengalaman internship di RAW Architecture. Menurut saya, RAW Architecture memiliki program internship yang terbaik, karena saya mempelajari segala aspek dalam fase proyek arsitektur, mulai dari masuknya proyek baru dari klien, sampai pengembangan konsep, perancangan konsep struktur dan MEP, perencanaan detail interior dan eksterior, hingga pengecekan design melalui simulasi thermal, simulasi CFD, dan pemeriksaan realita design dengan kunjungan lapangan untuk memeriksa pengerjaan di lapangan. Untuk mewujudkan pembelajaran arsitektur yang lengkap tersebut, saya mengalami rotasi perpindahan tim setiap bulannya.
Di bulan pertama, saya ditempatkan di tim Techne – Normatif di bawah bimbingan Kak Reviy. Di tim ini, saya belajar mengenai perancangan detail teknis sesuai dengan standar RAW Architecture seperti perancangan pedestal, perencanaan parket, pintu kayu, reflected ceiling plan, plumbing, rencana pola keramik, decking kayu, perhitungan kubikasi, dan gambar detail toilet. Bagi saya tugas yang paling sulit adalah gambar detail toilet karena banyak sekali yang perlu digambarkan dan dianotasikan serta banyak sekali aturan dan pertimbangannya sehingga perlu banyak revisi dengan Kak Reviy. Namun di perancangan detail toilet inilah kurikulum terbaik bagi pemula untuk memahami fundamental dalam perancangan detail teknis arsitektur karena memaksa saya untuk mengintegrasikan berbagai aspek teknis mulai dari utilitas air, rencana pola material yang presisi, hingga standar ergonomi manusia ke dalam satu ruang yang kompleks.
Di bulan pertama, saya juga turut membantu tim Phronesis beberapa kali di bawah bimbingan Kak Yusrul, Kak Zyadi, dan sempat juga satu hari di bawah Kak Aul di bulan terakhir. Di tim ini, saya belajar mengenai ilmu lapangan. Berdasarkan pengalaman saya di Phronesis, ilmu lapangan meliputi 3 hal, yakni pengecekan pengerjaan kontraktor, koordinasi dengan para stakeholder dan vendor, dan perhitungan daya dan biaya. Menurut saya tugas yang paling menantang adalah di tim Phronesis adalah ketelitian dan kesabaran dalam mengecek pengerjaan di lapangan dan penyelesaian argumentasi di lapangan, karena saya pribadi mudah untuk mengatakan “tidak apa-apa kok..” dan saya mudah bosan. Namun belajar dari Kak Yusrul, Kak Zyadi, Kak Aul dan Kak Irfan bahwa di lapangan, kita perlu sabar, teliti, dan teguh dalam mempertahankan design kita dengan cara dan adab yang baik.
Di bulan kedua, saya pindah untuk belajar di tim Analitik di bawah bimbingan Kak Adit dan Kak Tyo untuk mempelajari ilmu simulasi thermal dengan software simulasi untuk memeriksa hasil perancangan tim RAW Architecture. Hal ini kita lakukan untuk memeriksa keberhasilan bioclimatic design approach kita. Dari Kak Adit dan Kak Tyo saya belajar bahwa di RAW Architecture, bioclimatic design approach itu benar-benar dihayati dengan cara pemeriksaan ketat dengan data dan simulasi, bukanlah hanya sekedar branding. Kita benar-benar memeriksa apakah kita benar-benar berhasil untuk menghadiahkan sebuah kurikulum hidup yang terbaik untuk orang-orang yang telah memberikan kepercayaan kepada kita.
Di bulan ketiga, saya berkesempatan untuk belajar di tim Sophia di bawah bimbingan Kak Riyan, Kak Timothy, Kak Shafira, Kak Edho, Kak Kenn, dan Kak Zikri untuk mempelajari ilmu pengembangan konsep arsitektur. Menurut saya tim Sophia ini berisikan individu-individu yang memiliki ilmu khusus yakni pandai dalam mensyarahkan hasil tafsir principal kami Kak Realrich terhadap kebutuhan dan keinginan klien. Dalam proses pensyarahan tersebut, terjadilah argumentasi perancangan antara tim leader yakni Kak Riyan dengan para designer dengan kemudian para intern untuk menghadirkan beberapa opsi untuk memecahkan masalah kebutuhan dan keinginan tersebut. Inilah yang saya pahami sebagai proses awal realisasi dari abstraksi. Tugas yang paling berkesan bagi saya di tim ini adalah saat saya harus menghadirkan sebuah solusi kanopi pergola untuk area outdoor decking + kolam yang sempit di bawah bimbingan Kak Riyan dan Kak Shafira, sehingga pencahayaan, sirkulasi udara, dan sirkulasi traffic sangat terbatas. Setelah berbagai macam revisi, kami merancang sebuah sistem kanopi openable pergola device yang ringan. Kanopi pergola dapat dibuka tutup sesuai cuaca dan keinginan owner, sehingga pencahayaan alami dan sirkulasi udara tetap terjaga. Kanopi pergola juga cukup ringan sehingga tidak memerlukan kolom tambahan sehingga sirkulasi traffic penghuni rumah akan terasa amat lega karena lantai bebas dari kolom. Saya belajar dari Kak Riyan, Kak Shafira, serta Kak Kenn, Kak Edho, Kak Zikri, dan Kak Timothy bahwa seni lukis itu beda dengan seni perancangan, karena di dalam seni perancangan kita akan membangun sesuatu yang nyata, yang berdampak nyata terhadap manusia, hewan, tumbuhan, dan alam. Oleh karena itulah, setiap titik, garis, bentuk, rupa, dan tekstur perlu dipertimbangkan dengan sangat amat baik.
Di bulan keempat, saya mendapatkan panggilan untuk kembali ke tim Techne namun sekarang saya masuk ke dalam tim Techne – Substantif. Di tim Techne – Substantif, saya mempelajari ilmu perancangan detail teknis seputar tektonika arsitektur dan fabrikasi khusus di bawah bimbingan Kak Putra, Kak Alya, Kak Aca, Kak Ezra dan sempat juga membantu Kak Rizka dari tim Techne – Normatif selama sehari. Dari kakak-kakak ini saya belajar untuk menyusun gambar perencanaan fabrikasi yang sangat detail, seperti untuk kabinet walk-in closet (WIC), railing pipa melengkung pelindung area void pada sebuah proyek sekolah, pendetailan teknis pagar meliuk-liuk, hingga perancangan dan instruksi pemasangan hasil fabrikasi rumah kucing untuk sebuah proyek residensial. Di tim in, saya belajar bahwa untuk merealisasikan design elemen-elemen arsitektural meliuk-liuk yang menjadi ciri khas RAW Architecture, diperlukan gambar-gambar perencanaan yang terkadang amat rumit untuk mengfabrikasikan benda-benda tersebut. Oleh karena itu kita tidak hanya bisa menhasilkan konsep dengan bentuk-bentuk unik dan indah, namun kita harus juga tahu cara meralisasikannya melalui fabrikasi. Dari tim Techne – Substantiflah saya baru sadar mengapa principal kami yakni Kak Realrich Sjarief sangat amat begitu cinta dengan ilmu pertukangan, karena dari ilmu pertukanganlah kita dapat merealisasikan sebuah konsep perancangan. Praktik tanpa teori itu buta, dan teori tanpa praktik itu hanya dugaan.
Di bulan kelima, saya dirotasikan ke tim Episteme untuk mempelajari ilmu perancangan detail teknis untuk proyek skala komersil dibawah bimbingan Kak Chai, Kak Novi, dan asistensi bersama Mas Beng selaku Senior Technical Officer. Secara tugas, Kak Chai menugaskan saya untuk membuat penggambaran door and window schedule untuk sebuah proyek perkantoran dan pabrik di bawah pengawasan dan bimbingan Kak Novi. Pada awalnya saya kira ini akan paling lama membutuhkan hanya 2 hari berdasarkan dari pengalaman saya di tim Techne – Normatif, namun ternyata penggambaran door and window schedule ini berlangsung selama 2 minggu. Hal ini karena saya belum sadar betapa besar skala proyek komersil ini. Ternyata, saya harus menggambarkan lebih dari 46 gambar tampak jenis jendela dan 21 jenis pintu yang berbeda, dengan detail dan informasi aksesoris dan anotasi dimensi untuk masing-masing gambar. Kemudian saya harus menggambar ulang beberapa jenis jendela akibat dari perubahan design setelah asistensi dengan Kak Chai dan Mas Beng. Hal ini karena pertimbangan keamanan para karyawan dan perawatan jangka panjang. Contoh pintu kayu itu kita sepakat untuk mengubah menjadi pintu aluminium karena resiko kebakaran seiring sebelah kantor ini adalah pabrik. Serta beberapa jendela hidup yang kita ubah menjadi jendela boven zig-zag mati, agar minim biaya perawatan dan tiadanya bagian jendela yang bergerak. Dari pengalaman bersama Kak Chai, Kak Novi, dan Mas Beng, saya belajar betapa besarnya efek domino itu di dalam skala proyek komersil. Hal ini karena saya turut memperhatikan bagaimana setiap perubahan kecil akan berdampak besar terhadap waktu perencanaan dan perancangan. Karena proyek komersil itu untuk keperluan bisnis, lantas klien ingin perencanaan, perancangan, pembangunan, dan operasional bangunan itu akan terlaksanakan dengan efisien dan seaman mungin. Oleh karena itu, saya belajar bahwa setiap keputusan perubahan design di sebuah proyek komersial yang sedang berjalan, itu kemungkinan besar karena untuk dua hal, yakni untuk meningkatkan efisiensi pembangunan dan operasional, atau untuk meningkatkan keamanan pembanguunan dan operasional.
Di bulan terakhir, saya bersyukur sekali karena saya diberikan kesempatan oleh principal kami Kak Realrich Sjarief untuk mengambil ilmu project & studio management dari Kak Melisa, Kak Irfan, dan Kak Mei di tim Strategic. Di tim Strategic inilah tempat terjawabnya pertanyaan terbesar saya yakni “bagaimana kah cara kerja sebuah bisnis firma arsitektur?”. Untuk menjawab pertanyaan yang besar ini, yang macro ini, diperlukan pembelajaran dari sebuah tim yang memang tugasnya berada di ranah macro. Selama 5 bulan yang lalu, saya mempelajari pekerjaan skala micro yang dilakukan oleh masing-masing tim spesialisasi, sekarang waktunya untuk saya mempelajari sistem yang mengatur, mengayomi, dan membimbing kinerja keenam tim tersebut untuk menyelesaikan berbagai macam proyek yang kita sedang kerjakan. Menurut saya, hal yang paling berkesan dari tim Strategic itu betapa gesitnya Kak Mel, Kak Mei, dan Kak Irfan dalamnya memecahkan berbagai macam permasalahan yang ada di setiap fase proyek arsitektur yang ditangani oleh masing-masing tim RAW Architecture. Maupun itu tahapan ketemu dengan klien, konsep, perancangan detail normatif dan substantif, dan ilmu lapangan untuk proyek komersil maupun residensil. Hal ini karena pengalaman Kak Mel, Kak Mei, dan Kak Irfan yang cukup lama dan beragam di bidang arsitektur. Inilah yang membuat saya sadar betapa pentingnya pengalaman dan keragaman dalam ilmu teori dan praktik.
Secara kesimpulan, program internship RAW Architecture adalah program internship terbaik yang pernah saya alami. Setelah 6 bulan, pengalaman dan keragaman dalam ilmu teori dan praktik memudahkan saya untuk memahami setiap tahapan proses proyek arsitektur serta memahami sistem kerja sebuah firma arsitek. Tidak hanya itu, tapi canda tawa yang senantiasa saya alami di budaya studio yang penuh dengan lelucon dari kakak-kakak dan para intern yang lucu mengasilkan suasana yang sangat hangat, welcoming, dan keceriaan. Aktivitas bersama-sama seperti main bulu tangkis, makan bersama-sama, dan board games bersama designers dan interns mewarnai hari-hari saya di RAW Architecture. Terima kasih banyak Kak Realrich, Kak Yudith, Kak Tyo, Kak Caroline, Kak Yusrul, Kak Reviy, Kak Kamil, Kak Zyadi, Kak Adit, Kak Riyan, Kak Timothy, Kak Shafira, Kak Kenn, Kak Edho, Kak Zikri, Kak Putra, Kak Ezra, Kak Aca, Kak Alya, Kak Rizka, Kak Ikhsan, Kak Chai, Kak Novi, Mas Beng, Kak Melisa, Kak Mei, Kak Irfan, Kak Aul, Kak Joshi, Kak Gaby, Kak Nielson, Kak Gabby, dan Kak Ingrid. Terima kasih juga teman-teman OMAH, Kak Ufi, Kak Sisca, Kak Jo, Kak Arlyn. Terima kasih juga teman-teman Admin, Kak Nisa, Kak Reffi, Kak Clou, Pak E, Kak Aldian, Kak Lita, Kak Putri, dan Kak Nurul. Terima kasih sebanyak-banyaknya teman-teman semua karena kalian semua sudah menerima saya sebagai bagian dari RAW Family dan memberikan ilmu yang amat luar biasa untuk saya terus berkembang sebagai manusia yang bermanfaat. Tetap-tetap semangat dan teruslah berkaya teman-teman restless spirits!
Motivation Letter:
–