Saya mengenal pak Josef Prijotomo kira-kira 10 tahun yang lalu pada waktu itu saya datang ke ITS. Ia masuk ruangan dan duduk disamping saya dan bercerita tentang bagaimana ia mendambakan bahwa Indonesiaan itu seharusnya muncul dan dibahas di dalam tugas akhir. Dia menyebut konsep ini sebagai “Arsitektur Nusantara”.
Pertanyaan dan pernyataannya selalu menohok tajam, dan memantik emosi kami. Satu saat ia berseloroh “Bohong besar kalau Anda tidak mampu, paling-paling Anda tidak mau!” ketika saya menolak untuk hadir di grup beliau karena kesibukan kami, ia mengirimkan pesan-pesan berisi apa saja yang dibicarakan di grup. Ia terus memaksa kami untuk mau ikut berdiskusi dan ia terus berjuang supaya banyak orang di dunia mengetahui uniknya bumi Indonesia ke seluruh penjuru dunia. Pak Josef Prijotomo menjelaskan hal tersebut didalam konsep kesamaan, perbedaan berdasarkan ciri seismik, iklim dan budaya yang kaya raya di indonesia.
Saya mendapatkan matahari saya, ketika saya mengutarakan ketakutan saya pada simbol tersebut, justru Pak Josef tidak pernah merubah persepsinya terhadap saya kapanpun itu, padahal siapa sih saya, saya bukan siapa-siapa. Beliau dari Surabaya saya sekolah di Bandung dan juga praktik ada di Jakarta, kami jarang bertemu karena lokasi kita berjauhan, Dia bilang ke saya, “Yessss, Realrich apa yang kamu pikirkan gak masalah, berada di luar sistem memang tak harus, tapi bukan berarti tak mau peduli. Maju terus, saya akan dukung dan selalu kompori !!!”.

Pondasi ideologi atas gerakan modernis dunia diturunkan pada akhir abad ke-19 dan di awal abad 20. Dalam revolusi industri sampai terjadinya tremor, perang, bencana kemanusiaan yang pada dasarnya adalah soal kekuasaan, yang dimana konsepitu telah diperkenalkan jauh lebih awal oleh Herder, yang telah kita ketahui menulis istilah Zeitgeist atau semangat jaman.
Pertemuan tatap muka saya terakhir dengan beliau juga ketika tanggal 7 Februari 2020 ketika saya berbagi dengan mas @anashiday mengenai buku 3 gram: Tectogram, Methodgram, dan Craftgram yang kami tulis dan tanggapi bersama mas @jo_adiyanto yang berhalangan hadir. Saya dan @satriaapermana membuat wayang pada waktu itu, ibaratnya Pak Josef adalah semar yang bijak, ia akan memaksa kami untuk maju dan mau mengikuti konsepsinya.
“Kamu harus mau bukan tidak mau.” Ia selalu memaksa dengan konsep arsitektur nusantara. Siap tidak siap saya, ia akan mempertanyakan hal-hal yang sederhana dan mengingatkan kami, seberapa Indonesia arsitekturmu?. Hal-hal itu sebenarnya mempertanyakan keakuan apakah perlu mengangkat Norberg Schulz dari Norwegia padahal khasanah budaya Indonesia pun sudah ada didepan mata, menunggu untuk digali.
Sesuatu yang genius itu dalam pergulatan arsitektur Indonesia, digaungkan oleh Josef Prijotomo yang sejak tahun 1990 aktif menggelorakan arsitektur nusantara. Ia mendefinisikan arsitektur nusantara sebagai “cerlang-tara” atau kecemerlangan nusantara, sebuah genius yang spesifik untuk bumi nusantara. Orisinil dan memiliki aspek fungsional-kultural yang sudah diolah sejak jaman dahulu, dan selalu dikembangkan untuk masa depan. Sudah sedemikian aktif ia bergerak di dalam dan di luar sistem pendidikan melalui seminar-seminar, namun belum adanya dampak signifikan yang terjadi. Padahal, apa yang digaungkan oleh beliau adalah hal yang mendasar, fungsional, dan lekat dengan budaya nusantara [1]. Josef Prijotomo menjelaskan hal tersebut di dalam enam butir dasar: Pertama, ia melihat beberapa aspek yang menjadikan lanskap kriteria nusantara pertama seperti hubungan terbuka yang dihubungkan oleh konsep pelayaran sehingga tipe-tipe bangunan bisa dilihat kesamaan bentuk-bentuknya, mulai dari Madagaskar hingga Pasifik dan Cina. Kedua, kelembaban yang menyebabkan perbedaan cara berpakaian. Ketiga, kondisi angin yang menyebabkan sirkulasi udara silang diperlukan. Angin sebagai sumber utama bagi penyejukan udara melalui konstruksi kolom, serambi, dan beranda. Keempat, kondisi dua musim, yakni kemarau dan penghujan. Hal ini menyebabkan arsitektur nusantara bersifat terbuka dan tidak isolatif, berbeda di negara empat musim. Kelima, bangunan tahan gempa yang ditandai dengan penggunaan bangunan kayu atau konstruksi ikat di masa lalu dengan penekanan pada konstruksi goyang. Keenam, Ia menekankan variable kultur dan ekonomi yang disatukan seperti upacara pemasangan kuda-kuda yang didahului wujud pengupahan tenaga kerja yang merupakan barter antara tenaga dengan makanan yang disajikan. Josef Prijotomo adalah pengajar murni dimana ia memberikan narasi yang ideal tentang bumi nusantara, seorang pembawa kabar Genius Loci untuk arsitektur Indonesia yang disebutnya bumi nusantara.

Menariknya pada waktu itu, yang ikut menanggapi materi kami adalah pak Eko Prawoto, yang justru membawakan metode, ketukangan, dan tektonika dalam ranah keseharian. Saya melihat figur Pak Josef dan Pak Eko seperti yin dan yang, keras dan lembut, teori dan praktik, praktik yang teoritis dan teori yang praktis. Kedua orang ini saling tarik menarik menciptakan benih benih perubahan di dalam arsitektur Indonesia. Pak Josef dan murid-muridnya menulis banyak buku, dan pak Eko berpraktek dengan lentur. Kita semua adalah murid-murid beliau, Pak Josef dan Pak Eko, keduanya saling mengisi dua pondasi arsitektur yang berbeda.
Pak Josep dan Pak Eko berperan memiliki pemahaman arsitek kaki telanjang, berjalan tanpa alas kaki, diatas kerikil, tanah, ataupun beling sekalipun, ia mantap berjalan dengan berpihak. Kedua adalah mereka ibaratnya seorang pertapa yang menyendiri sembari terkadang memberikan intuisinya, pemahamannya dari perenungan terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Menurut keduanya sisi arsitektur perlu lekat dengan manusia kreatif, meluruhnya ego, membuka hati, dan peduli dengan tukang-tukangnya, ia hidup dari tukangnya, tukangnya juga hidup dari hasil kriyanya, ia adalah orang yang mampu mendengar apa keluhan sekitarnya dan membuat solusi yang sederhana dari masalah-masalah yang ada, masalah perut, masalah keteknikan ataupun masalah-masalah personal yang dihadapi sekitarnya. Arsitektur itu personal dan berkembang ke hal-hal yang lebih besar.
Di Pesantren Turen Malang, saya mendapatkan cerita dari Anas, yang kemudian saya datangi, saya melihat dimana arsitek melebur dengan tukang-tukangnya menjadi satu untuk merajut ornamentasi ruang. Mereka berusaha memberikan ruang gerak untuk tukang agar bisa mengaktualisasikan diri dengan dialog tanpa henti akan dirinya terhadap karya. Usahanya adalah usaha untuk menanyakan kepada semesta dengan keinginan yang tulus untuk menggali dirinya sendiri.
Saya mungkin angkuh dengan mencoba mengambil Norwegia dan Norberg Schulz sebagai barometer. Hal ini juga lekat dengan apa yang dilontarkan para rasionalis di sekitar 40 tahun yang lalu oleh “Vienna Circle” bahwa, kebenaran itu perlu diacu secara rasionalis, perlu referensi, perlu pembenaran dimana seperti sebuah kemandekan yang disumbat lubangnya dan menimbulkan peradangan.
Keangkuhan juga perlu dilunturkan seperti sumbat yang perlu dibuka dengan keberanian, sehingga dialektika antara pembuat dan pembaca bisa terjadi begitu intensif, bolak-balik dan terbaca secara lugas. Hal-hal itulah yang bisa membuat kita bisa mengapresiasi kehidupan untuk bisa dibagikan dengan orang lain.

Di dalam keseharian kita bersama, tidak mudah untuk kita bisa bersama-sama dengan Pak Josef atau Pak Eko yang berbeda dan terkadang berbeda pendapat. Justru dari keduanya, saya menemukan tempat untuk saling berkaca dan bercermin bahwa ada cara lain dalam bersikap, ada yang memaksa ada yang melepaskan interpretasi bahwa keduanya baik dan saling menyeimbangkan.
Saya memiliki teman beberapa murid murid beliau yang saya kenal di praktik, penulis, dan intelektual. Ada mas @madcahyo, mas @eka_swadiansa, mas @gayuhbudi, dan @andyrahman, mas @anashiday, mas @jo_adiyanto, Mas @reviantosantosa, Bu @altrerosje, Bu @akunnya_yolanda, dan Bli @gmahaputra juga banyak lagi ribuan orang lainnya. Pak Pak Josef dan Pak Eko ibaratnya seperti ayah bagi mereka. Ada juga Pak Ardi Pardiman, Pak Galih Widjil, Pak Adhi Mursyid, dan Romo Mangun yang juga seperti ayah yang meski bahkan belum pernah bertemu.
Kasih ayah dan anak tidak selamanya ada di temu fisik, namun menembus batas jarak, waktu, dan pertemuan.Dulu kami ada di sebuah grup yang senang memakai sarung. Sarung dipergunakan sebagai simbol keberpihakan dan kesetaraan. Di dalam grup itu, terkadang saya mempertanyakan ke Pak Josep sendiri, untuk apa perjuangan itu apakah hanya untuk bergerak sebatas representasi luar?.
Pada waktu itu saya marah dengan diri saya sendiri, karena ketidak berdayaan saya terhadap problematika simbol kesetaraan, karena banyak momen di hidup saya berada di pihak yang lemah, tertindas, dan minoritas. Dan puncaknya dari situ saya mulai bertahap memutuskan diri dengan dunia luar. Di titik itu dunia menjadi gelap dan “I have my own shadow”. Bayangan saya sebenarnya adalah ketakutan saya sendiri, semakin saya menghindari semakin cepat dia datang dan tidak pernah lepas.
Dari Pak Josef dan Pak Eko saya mendapatkan keberanian dan kejujuran untuk membicarakan ketakutan tersebut. Dari pak Eko saya mendapatkan benih bagaimana bertujuan baik, menerima kenyataan sebagai hal yang baik dan perlu ada, termasuk membicarakan ketakutan, kesakitan sekaligus makna pencapaian secara lugas.
Saya mendapatkan matahari saya, ketika saya mengutarakan ketakutan saya pada simbol tersebut, justru Pak Josef tidak pernah merubah persepsinya terhadap saya kapanpun itu, padahal siapa sih saya, saya bukan siapa-siapa. Beliau dari Surabaya saya sekolah di Bandung dan juga praktik ada di Jakarta, kami jarang bertemu karena lokasi kita berjauhan, Dia bilang ke saya, “Yessss, Realrich apa yang kamu pikirkan gak masalah, berada di luar sistem memang tak harus, tapi bukan berarti tak mau peduli. Maju terus, saya akan dukung dan selalu kompori !!!!”. Dia berbicara bahwa sarung itu jiwa bukan hanya simbol. Melalui pertanyaan-pernyataannya, ia mendobrak sisi-sisi kritis, dan itu yang menunjukkan kasih sayang sebagai ayah tidak hanya dengan pujian, tapi juga dengan kritik yang membangun yang ia ibaratkan kompor.
Ada satu kalimat yang saya ingat untuk menutup cerita ini. Pak Josef berkata, “Arsitektur Nusantara ada di tangan anda. Mau dilepaskan, dibanting, ataupun dimatikan, boleh saja. Sebaliknya, dikedepankan dan menggeser kebaratan, juga bisa. Ini tantangan buat anda. Saya siap membantu dan mendampingi langkah Anda bila mau menjadikan arsitektur Nusantara sebagai tuan di negeri sendiri.”
Suatu saat ia menghampiri saya di dalam sebuah acara seminar di Bali yang kami bawakan bersama. Pak Josef menyenggol saya sambil tertawa, ia bilang sembari berbisik-bisik, “Kamu bawa sarung enggak?! hari ini saya bawa!” Saya bilang “Bawa pak kan kita sudah janjian ha ha ha”. Ia lalu lanjut bertanya “Jadi mau apa kita pake sarung hari ini?”.
Melihat wajahnya, saya seperti melihat wajah seseorang yang saya rindukan dengan kenakalannya dan juga keluguannya, saya ingat ayah saya, lalu saya jawab dengan senyuman dan tertawa, “Hayuk pak”.

Beliau mengatakan bahwa sarung itu jiwa bukan hanya simbol. Melalui pertanyaan-pernyataannya, ia mendobrak sisi-sisi kritis, dan itu yang menunjukkan kasih sayang sebagai ayah tidak hanya dengan pujian, tapi juga dengan kritik yang membangun yang ia ibaratkan kompor.
.
Suatu saat ia menghampiri saya di dalam sebuah acara seminar di Bali yang kami bawakan bersama. Pak Josef menyenggol saya sambil tertawa, ia bilang sembari berbisik-bisik, “Kamu bawa sarung enggak?! hari ini saya bawa!” Saya bilang “Bawa pak kan kita sudah janjian ha ha ha”. Ia lalu lanjut bertanya “Jadi mau apa kita pake sarung hari ini?”.
Saya seperti melihat wajah seseorang yang saya rindukan dengan kenakalannya dan juga keluguannya, saya ingat ayah saya, lalu saya jawab, “Hayuk pak”.
Sekarang sarung itu saya gantung di pintu masuk sebagai pembatas ruang dalam – ruang luar, pertanda sebagai tanda kasih bagaimana perjuangan melawan ketakutan saya sendiri saat hidup di keseharian kami di studio yang diawali dengan pertemuan dengan Pak Josef Prijotomo di Bali. Terima kasih Pak Josef sudah menemani kami semua.
[1] Prijotomo, Josef. (ed. 2018). Prijotomo Membenahi Arsitektur Nusantara. (hlm. 42) Surabaya: Wastu Lanas grafika.