Kategori
blog lecture

Meeting Craftsmanship Hermit – A Tactical Architecture Design

I will give workshop and sharing in Taylor University Malaysia. It’s first session for my being adjunct associate professor in there. I received invitation by Veronica Ng for the vision to share similar / contextual inspirations in South East Asia Region to redefine our own asian heritage.

Here is the explanation for the session.

Craftsmanship is the art of making, which involves traditional and industrial techniques. It is implemented and synthesized by people from multidisciplinary fields such as makers, engineers, design specialists, or even master artisans. The boundary between what architects did and what the other discipline is precise. The next question is, Is the implementation of craftsmanship that clear? The presentation will share an unorthodox view about making architecture from the importance of the craftsman guild, a workshop area for experimenting, extending to an ecosystem of builders that support the architect. The guild in the project also has memories that became grammar. It’s designed for the experimentation itself and, last but not least, for the clients that support you.

For the executions, some preparations are needed, such as grammar, drawing, critical thinking, creativity on-site to achieve a healthy ecosystem for making architecture. It’s about know-how on joineries and deconstructing dimensional mind that using the available material and adaptive technique is the forefront runner for architecture ecosystems that create the diversity of architecture.

The sharing sesion will be 25th October 2021 at 02.30 pm

Kategori
blog tulisan-wacana

Batas itu dimana ?

Saya seringkali berpikir, di dalam segala hal yang di sekitar kita yang penuh batasan. Bagaimana caranya mengetahui titik kelemahan diri kita sendiri ? Segala sesuatu yang jadi kekuatan biasanya adalah kelemahannya sendiri. Segala sesuatu yang jadi kekuatan bisa jadi kekuatannya. Lalu bagaimana caranya mengetahui kekuatan dan kelemahan, supaya keduanya bisa saling berdialog.

Saya akan mulai dengan preposisi :

If you care about only your name, the limit is in the name itself.

If you care only about other people’s name the limit is in the other’s people name in your mind.

If you care about only your workshop, the limit is in the workshop itself

If you care about only your progress in Guha, the limit is in the Guha itself

If you care about introversion of yourself, the limit is in the introversion of yourself.

Saya sering bilang,

“saya tidak peduli, kalau…”

lalu kemudian saya menimpali kalimat selanjutnya dengan,

“Kak Rich minta maaf kalau tidak peduli. Kita perlu sadar bahwa…”

Yang membuat saya tersenyum adalah seringkali asisten saya, tidak mendengarkan sampai selesai, jadi dia mengambil kesimpulan kalau saya benar – benar tidak peduli, padahal saya menunjukkan kepedulian saya dengan mengatakan saya tidak peduli supaya munculnya kesadaran kolektif. Barulah mereka kasak – kusuk, berdesas – desus, dan apalagi sampai berdiskusi akan kejadian tersebut. Ditambah lagi seringkali, saya menimpalinya lagi dengan kenapa saya menjelaskan saya tidak peduli adalah sisi emosional manusia yang sedang keluar untuk mengharapkan adanya perubahan dengan lebih cepat.

Dan kenapa kita perlu berubah dengan cepat, dan perlu tidak perlunya merubah dengan cepat. Kemudian saya menjelaskan bahwa saya perlu meminta maaf karena kecepatan itu saya anggap begitu karena hidup ini hanya satu kali, namun hal itu juga menjadi batasan yang baru, pertanyaannya, kalau memang hidup hanya sekali, lalu kenapa harus cepat – cepat atau terbirit – birit ?

Pada akhirnya saya belajar bahwa melambatkan ritme itu penting, mempercepat ritme juga penting. Terkadang sisi lontaran emosi unutk tidak peduli itu penting bukan menunjukkan ketidak pedulian, namun justru sebaliknya, dan juga lontaran emosi menjadi peduli itu penting. Keduanya adalah cerminan emosional sesaat yang terkadang menjadi tidak emosional juga tidak kalah pentingnya.

Yang menjadi menarik adalah bagaimana caranya mengintegrasikan berbagai macam hal ? yang juga menarik adalah juga bagaimana menjalani kedua kutub kiri dan kanan, positif dan negatif, bisnis dan berbagi, diri sendiri dan orang lain, personal juga komunal secara bersamaan. Dan pergulatan sisi – sisi kontradiktif tersebut menghasilkan rekonsiliasi pemikiran yang mencengangkan, dan maha dahsyat, ledakan kreatifitas dengan mengetahui batas diri.

Namun sebelum kita masuk kesitu, saya ingin berbagi satu cerita mengenai latar belakang kontradiksi tersebut.

Saya punya cerita, dulu waktu di Surabaya saya sering pulang sekolah bersama ibu saya naik becak. Hal yang saya damba – dambakan adalah perjalanan naik becak itu, karena saya bisa melihat lebih lambat bagaimana orang berinteraksi. Kami melewati pasar, jalan – jalan tanah, dan rumah – rumah petak. Biasanya kami naik becak berdua, adik saya kalau tidak salah masih kecil dan saya masih TK pada saat itu.

Perjalanan itu memiliki beberapa kemungkinan. Saya tidak pernah bilang apapun ke ibu saya bahwa yang saya inginkan dan saya suka adalah perjalanan melalui kuburan Kembang Kuning.

Kami melintas area kuburan itu untuk mendapatkan jalan pintas. Saya ingat, melintasi kuburan itu adalah perjalanan sekitar 5 menit. Dari kejauhan, saya merasakan udara menjadi dingin, wewangian bunga mulai semerbak, dan warna – warni tanaman mulai muncul. Saya melihat pedestal kuburan yang kokoh, repetitif, beraneka rupa, dan indah – indah. Ada yang terbuat dari granit, ataupun marmer, ada juga yang dari kayu. Lebar jalan kuburan itu hanya sekitar 2.5 m, dan ada saja yang tidak rata. Kadang – kadang kepala saya terantuk kepala ibu saya ataupun besi becak, tapi selalu saya berdiri kembali untuk melihat suasana kuburan, menghirup udara yang wangi, dan merasakan dinginnya kuburan tersebut. Saya melihat bunga – bunga bougenville , dan wanginya harum, saya suka sekali dengan bunga kenanga. Padahal banyak orang bilang itu bunga orang mati.

Kelewat senangnya kalau lewat kuburan, saya selalu ada di depan becak sedepan – depannya untuk menghirup udara wangi kuburan. Ibu saya suka bilang “Kamu ngapain sih ? kaya anak kampung aja.” Belum lagi beliau kadang – kadang geli sendiri, kalau melihat saya suka makan pakai tangan, ataupun jalan tidak memakai sandal. Saya suka dengan hal – hal yang langsung, karena dari situ saya merasakan sentuhan, kehangatan, wewangian meskipun lucunya hal itu dianggap aneh oleh ibu saya.

Perjalanan saya praktik juga sama, ada hal yang saya suka, selalu saya ulang – ulang. Hal tersebut muncul karena saya merasakan keterhubungan langsung, emosional, dan personal. Saya mencoba membayangkan apa jadinya ya kalau bentuk ini begini dan begitu. Lebih lanjut lagi saya membayangkan apa jadinya ya, kalau orang ini merasakan ini dan itu. Ini dan itu, begini dan begitu, menjadi reka ruka, olah bentuk, berdasarkan pertimbangan – pertimbangan yang menerus. Inti dasarnya adalah kejujuran dalam berproses, membuka telinga tanpa harus terbawa arus juga. Begitu banyak kata – kata positif yang membangun kita, dan juga banyak juga kata – kata negatif yang bisa juga membangun kita asalkan pikiran kita bisa merubah yang negatif tersebut menjadi positif. Dan hal tersebut adalah sebuah proses untuk memahami diri kita sendiri. Dan satu hal yang terpenting yang saya pelajari adalah bagaimana menjadi satu kata

“Jujur akan diri sendiri.” kata – kata ibu saya adalah doa, ia tertawa melihat saya yang sungguh aneh, dan hal tersebut adalah pemaknaan tersendiri. Namun perasaan jujur tersebut adalah titik tengah sebelum pikiran kita bisa bermain dengan kutub – kutub ekstrim selanjutnya.

Di dalam arsitektur hal ini disebut juxtaposition, memperbandingkan dan mengintegrasikan kedua hal dengan ekstrim. Hal ini menghasilkan hasil yang hibrida. Pemikiran hal – hal seperti tidak ada yang baru di dunia ini, juga tidaklah benar seluruhnya, dan pemikiran bahwa ide dasar itu selalu orisinal juga tidaklah benar seluruhnya. Dan pertanyaan lebih mendasar, apa sih yang benar itu ? ataukah bukan masalah kebenaran ? tapi bagaimana saya paham mengenai batasan diri saya sendiri.

Dan kemudian, barulah kita bisa mengambil kesimpulan,

“saya cukup”

Di tengah – tengah Plato dan Aristoteles ada anak – anak dengan wujud kecil, berbaju putih yang menengahi mereka berdua ketika berdialog. Wujudnya lebih kecil dari lubang telinga, lubang hidung, dan lubang- lubang yang lain. Ia menyapa,

“hallo, namaku Kronos, sang penjaga semesta aku penjaga waktu, jembatan alfa dan omega ! cukup atau tidak cukup waktumu, kita cukupkan.”

Kategori
award blog

Guha by RAW architecture has been shortlisted in the business building category of Dezeen Awards 2021

Guha is shortlisted in the Dezeen Awards 2021 in business category ^^ Guha is a craftsman organic laboratory. It’s a building based on the transformation of experimentation of multiple materials.

Thank you for Dezeen, and we are together with Sanya Farm Lab by CLOUD Architects, FRizz23 by Deadline Architects, Imatra Electricity Substation by Virkkunen & Co. Architects, and Nodi by White Akitekter. They are great architects that we admire and learn from (their framework, design approach, detail, and many more).

After this, it’s a public vote ^^. Hopefully the process of transformation in Guha will always bring in-depth learning for us that can be shared to other people.

Guha by RAW architecture has been shortlisted in the business building category of Dezeen Awards 2021. RAW Architecture has designed Guha to accommodate offices, architecture studios, and dental clinics.

RAW Architecture implements a sustainable design approach in an effort to contribute to human and environmental sustainability by reducing carbon footprints. Departing from the context of the tropical climate in Indonesia with high rainfall and sunlight intensity, the space is designed to be responsive to the climate.

This is manifested in the layout of mass and space-oriented to the path of the sun, while the skin plays a role in reducing sunlight as well as air circulation. It is also supported by details through craftsmanship-making processes.

This project has been shortlisted in the business building category of Dezeen Awards 2021.

My team and I are really pleased to get the news :) hoping the architecture in Indonesia can spread to the world. Congrats to @guhatheguild @realricharchitectureworkshop @omahlibrary and all of the team, clients, including craftsmen, and friends. #formingbricolage

Vote for this project! www.dezeen.com/awards/vote
Voting closes on 11 October.

dezeenawards #rawarchitecture #guha #guhatheguilde #office #architecturefirm #architectureoffice #library #dentalclinic #indonesia #indonesianarchitecture

Kategori
blog blog - loving years - context before loving Laurensia blog-formative years

Surabaya – In Father’s Workshop

Looking back, I was born in Surabaya, near the poor slum area where there were crazy people, prostitutes, and the gap between rich and poor. Our family lived on Jalan Dukuh Kupang Timur gang 13 no. 75. I grew up and played in several alleys adjacent to Dolly’s Gang, which signifies the gap between a paradoxical iceberg phenomenon related to the necessities of life and the city’s identity.

I met one kid named Hamid every day, and he is a crazy toddler. Every time I pass him, I look at his genuine behavior such as running while showing arm-pit, laughing a lot unpretentiously, and always half-naked, walking without clothes. I asked my mother, who is Hamid. I found out that he came from a low-income family, his father and mother had many children, and his home is beside my grandmother’s home. I enjoyed it when I saw him, and it looked like he found his inner joy even though other people couldn’t understand him. He has a smile on his face, and I smile because of that. His smile is contagious, and my mother used to say,

“are you crazy? stop smiling and daydreaming.”

My father worked in Jakarta, and my mother, me, and three brothers were in Surabaya.

My father comes home once a week. The trip to pick up my father at the airport along with my mother is a lasting memory. We made The journey to Juanda airport at night. Usually, my father lands at 19:30, my mother drives, and we pass Waru, where rice fields stretch on the dark horizon. The journey was quiet, and we listened to the only sound of church songs set in a red civic car.

This red civic car is quite an impression because this is my father’s first car where he gave this car to my mother in Surabaya, while my father himself used a green used Kijang in Jakarta. It’s a pickup car. The pickup often gets hit and crashes because the driver is also a beginner or an impromptu driver, my father’s handyman. Uniquely, the green deer has an air conditioner that is colder than my mother’s honda civic. As if some futuristic junk, my dad didn’t have enough of one. He had two.

Our house in Dukuh Kupang consists of two plots, and each property has its access road. The left lot has garage door access with doors made of stainless steel pipes. At the same time, the right plot has one height with a canopy of thin iron plates, which is the entrance to the main house, while on the left, there is a small building plan field on the perimeter of the building. On this side, there is a small workshop, in which there is a chicken coop, craftsmanship tools such as saws, chisels, hammers, nails, or used plywood boards.

I was lucky because my mother was super busy at that time. She was active in the catholic group. When I was six years old, she cooked cookies to sell and loved to go to prayer groups. She is a busy person.
My mother likes to bake cakes to give or sell to people. She is pretty independent and firm in educating us, four sons. I know that our mother and father are always busy. I always like to accompany my mother for prayers or gatherings with church gatherings. While my mother was super busy, I had my own time in the workshop. I adored my father’s trace in the workshop, not because I saw his work or how he was working but simply because of the experiments he allowed me to do, and he always encouraged us to build our stuff. This workshop is where I make my wooden sword. One time, I created my sword using plywood. I used a saw to cut the plywood and make my toy. I get a feeling that we can make things by ourselves, even though it’s probably not perfect if seen by others, but it was perfect for me. I was proud of my toy.

Our residence is also adjacent to the carpenter’s house. From the front, you can see people passing by, and the workshop is always busy. Every time I pass the carpenter, I see piles of doors and wood – used wood. I just found out that Mr. Pardi, the head of the workshop, is a confidant of my father, who helped him make the doors for his project. Every year my mother and father always held a big meal celebration. All the chief craftsmen and their deputies will be present. The event was about chatting until the morning, including drinking events that have become their tradition. It’s an act of gratefulness celebrating the spirit of togetherness. It’s started by my grand father.

One time my father invited us to Jakarta, we stopped at my father’s boarding house. The room was small but warm. There my mother decided to help my father. From there, we plan to move to Jakarta. Leaving Surabaya was not easy. I had fallen in love with my freedom to play in my father’s workshop, chasing chickens, but seeing my father’s face when he landed and showing his face at the arrival gate made me miss. Maybe my mother wanted us to grow up together. I am in 3rd grade, and my little brother is going to kindergarten, my second big brother is in 6th grade, and my first big brother is going to 1st grade of high school. At that time, I was pretty sad that I had a feeling to move, where I already had my comfort zone in Surabaya. I didn’t know what would happen in Jakarta. I missed my playground, workshop, our fantastic house, and activity in praying groups. But I was excited to experience life with my father. I can see him every day, and It must be exciting.

In my father’s legacy

Surabaya

Looking back, I was born in Surabaya, near the poor slum area where there were crazy people, prostitutes, and the gap between rich and poor. Our family lived on Jalan Dukuh Kupang Timur gang 13 no. 75. I grew up and played in several alleys adjacent to Dolly’s Gang, which signifies the gap between a paradoxical iceberg phenomenon related to the necessities of life and the city’s identity.

One time my father invited us to Jakarta, we stopped at my father’s boarding house. The room was small but warm. There my mother decided to help my father. From there, we plan to move to Jakarta. Leaving Surabaya was not easy. I had fallen in love with my freedom to play in my father’s workshop, chasing chickens, but seeing my father’s face when he landed and showing his face at the arrival gate made me miss. Maybe my mother wanted us to grow up together. I am in 3rd grade, and my little brother is going to kindergarten, my second big brother is in 6th grade, and my first big brother is going to 1st grade of high school. At that time, I was pretty sad that I had a feeling to move, where I already had my comfort zone in Surabaya. I didn’t know what would happen in Jakarta. I missed my playground, workshop, our fantastic house, and activity in praying groups. But I was excited to experience life with my father. I can see him every day, and It must be exciting.

on site, playing in beach with family
me drawing in my father’s table
My mom, me, Mondrich, and my dad
My dad and his craftsmen
me and my little brother Mondrich.

I write this to show how I am thankful to my parents that have nurtured me and inspired me. They helped me grow, showing an example and encouraging me always to show my best, focus, be happy, and respect people without expecting somebody to listen while singing and dancing.

Up front, an educator must set a good example. In the middle or among students, the teacher must create initiatives and ideas. From behind, a teacher must provide encouragement and direction“,

Ing ngarsa sung tulada, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani.”
― Ki Hajar Dewantara

Kategori
blog

Redefine Role

It took years to redefine the role and responsibility of people in the studio Realrich Architecture Workshop. Below, I have written 4 roles to simplify how we work as a team and my responsibility as principal. These 4 roles are 4 different worlds, the associate designer is a world of techne, a world of architecture methodology grammar. That is the world of a design methodology. The second world is administration which is the world of matters, currency, and reality. It consists of archives and a way to survive. On the other hand, The Librarian and researcher in the world of episteme. It involves theorizing reality and fantasy. And, the last one in the world of phronesis is practical knowledge, which is called the craftsmen world. Below are the pictures of the dream team – Best Office in the World.

Principal Architect

As a principal, I am responsible for designing the vision and implementing the studio’s mission, making initial sketches, or discussing our experiments with the design team and clients. Our studio can develop from detail, materiality, and context understanding because the design is a collaborative process. This is possible in direct coordination with the design team, the associate designers, therefore.

The process of appointing us as an architectural firm is not easy to require. The relative compatibility is shown through a shared vision, a common goal, or simply a common approach. Once the client entrusts the results and process to us, it is the most valuable thing in the world of architecture.

From details to design concepts, the whole work shows how consistent we are with the richness of a multi-perspective, multi-disciplinary, multi-interest architectural approach. The entire procedure is evaluated in the form of architectural theory and is widely published.
It aims to jointly support the appreciation of architecture and the architectural profession in Indonesia. I believe that architecture, when thought out, is a powerful force that can improve the lives of many people.

Associate Designer

Associate designers at RAW Architecture have 1 year to 5 years of experience. The designers will be trained to reach the level of becoming a registered architects. They are connected in a studio where practical case studies are discussed to become a comprehensive grammar studio. In general, in some studios, the associate designer is called a junior architect or architectural assistant part 2 for ARB (Architect Registration Board) standardization. The name about this is related to habits and the meaning you want to aim for. I think there is a fundamental concept that is our studio culture about interpersonal relationships. I answered it with the idea of associate or associated with a collaborative, personal, and multi-personal design process. The associate is a concept that connects people’s social relationships with one another. A designer is someone who tries to solve design problems.

The learning process to become an associate designer at our studio has two paths. The first path is learning at the conceptual stage, then understanding how to draw technically well. The second path is to learn directly in the field, know the construction details, and then dismantle the knowledge of architectural concepts. Associate designers are people who have creative and critical power in answering architectural problems. The architectural design process faced by associate designers starts from reading the situation and context, dialogue with the principal for formulating design steps, managing project management, and carrying out forensic engineering with the integration of multi-disciplinary knowledge.

The association’s conception experiences a shift in meaning and reality every time due to the complexity of ethics, capabilities, and professional facts that the Indonesian Architects Association constantly updates.

Administration

The people in the administration department are responsible for documenting project archives, studios, libraries, including keeping the discipline of the large team as simple as possible regarding the neatness of bookkeeping related to taxes, accounting, finance, taxes, public relations, and personnel. Administrative tasks are carried out by recording chronologically according to job categories with an integrated system. The administration team led by Drg. Laurensia Yudith maintains client relations and reports with the principal to maintain the studio’s accountability and credibility.

Librarians and Researchers

The people involved in this division work in the Omah library. They are librarians who catalog and archive books. Librarians also have duties as researchers who carry out writing and production of knowledge through architectural literacy. Furthermore, the activity at Omah Library is to dialogue about relevant thought discourses with individuals who have critical thinking about everyday problems. At Omah Library, librarians and researchers also help develop architectural theory and archive case studies to form the basis for further architectural discourse. Librarians and researchers generally have 1 – 5 years of experience with multi-perspective thinking and comprehensive literacy skills. There are times when I invite them to develop architectural theories that are useful for our practice.

Craft Leader

The Craft Leader here means the leader of the builder who dedicates his time to the art, passion, and ability to not only build but make building art with taste and become a focus for subordinates indirect work or provide direction. The educational process to become a craftsman leader starts from the assitant, 1/2 craftsman, craftsman, executive craftsman, master craftsman. They are people who have 25-35 years of experience starting from before our studio was founded, during the time of my grandfather and parents. They have 10-25 years of practical experience who have had at least 3 built projects. In the next stage, the chief craftsman transforms into an advisor of art in building. They have worked from Sumatra, Kalimantan, Java, to Sulawesi.

Epilogue

Documentation of how we work, my interpretation of the ecosystem. The practical craftsmanship of RAW Architecture in Indonesia is being compiled in a manuscript on the philosophy of thinking about the roots of our craft school as a small, mutually supportive ecosystem.

Aep

Craftmanship Leader

Erick Fei

Team Leader | Associate Designer | BIM Executive Affiliation University of Pelita Harapan

Avinsa Haykal

Designer Affiliation Universitas Islam Indonesia (UII)

Nurul Septiawati

Administration Executive Affiliation Universitas Esa Unggul I graduated from DIII Midwifery in 2016, then continued my education for the undergraduate level of Hospital Management at Esa Unggul University. I graduated in 2019, and My work experience and internships were in several hospitals, health centers, independent clinics, and midwives. I like a lot of things and […]

Agustin

Associate Designer Affiliation Universitas Katolik Musi Charitas Palembang

Rico Yohanes

Associate Designer Affiliation Bina Nusantara University

Satria A. Permana

Associate Librarian and Researcher Affiliation S1 : Universitas Islam Indonesia (UII)

Alim Hanafi

Associate Designer Affiliation S1 : Universitas Islam Indonesia (UII)

Kategori
blog

Semesta Kecil

Hari – hari ini saya menghabiskan banyak waktu bersama Laurensia di studio dan keluarga, sembari banyak mendiskusikan hal – hal terkait proyek bersama klien melalui zoom meeting. Pandemi ini memberikan banyak keresahan dari para peserta seminar dari dua webinar sebelumnya, ada banyak pertanyaan juga mengenai arah arsitektur di Indonesia kemana sebaiknya melangkah, bagaimana keadaannya, kenapa kok ngga maju – maju ? Hal – hal tersebut muncul di dalam keseharian saat ini yang berdasarkan keinginan untuk menyibak tirai ilusi dan mendapatkan kenyataan sebenar. Pertanyaannya apakah semudah itu ?

Saya merasakan bahwa saya punya perasaan aneh, perasaan bahwa akan meninggal, sakit, dan waktu itu terbatas. Saya pernah sempat masuk rumah sakit. Saya terkena penyakit lever, hepatitis A pada waktu itu saya mengambil ekatra kurikuler cukup banyak seperti tennis meja, tennis, badminton, aikido, aktif di organisasi keagaamaan dan mengikuti orientasi atau sederhananya mapram yang memakan waktu hampir satu tahun. Pada waktu itu saya masuk rumah sakit Pertamina selama 3 minggu, ayah saya tidur menemani saya selama itu juga di lantai beralaskan matras sederhana.

Malam hari tiba, Beliau tidur di lantai dengan kasur gulung ketika beristirahat. Momen – momen itu adalah saat terbaik saya mengamati kesehariannya. Ia tidak banyak bicara, hanya mengamati kawan – kawan saya yang datang dan pergi. Ketika kawan saya datang ia perlu keluar koridor atau berkeliling sejenak. Ia mengerti mungkin ia menganggap kami perlu privasi. Terkadang Ia mengingatkan bahwa saya perlu beristirahat. Ia mencari infus dan obat ke berbagai macam tempat dengan kakak saya supaya kadar SGPT dan SGOT saya yang 4300 an bisa turun menjadi ratusan. Kakak saya juga mirip dengan ayah saya ia juga tidak banyak bicara. Saya tahu kakak saya sibuk sekali karena pada waktu itu sedang menyelesaikan skripsi dan mempersiapkan bisnisnya. Ia memperluas sisi pemasaran bisinya dan kerap bolak-balik Jakarta dan Bali karena keperluan negosiasi dengan distributor brand yang berlokasi di Bali.

Energi saya memang sedang habis – habisnya pada waktu itu karena banyak membantu kegiatan kemahasiswaan sembari mengerjakan tugas TPB (tahap orientasi awal di ITB). Ada transisi besar dari masa kuliah sampai masa mahasiswa dan saya pada saat itu dipaparkan dengan kemahasiswaan, dan terlibat dengan beberapa kegiatan berbagi di Bala Keselamatan.

Dari cara ayah dan kakak saya memperhatikan saya. Mereka memberikan energi yang mereka punya untuk mengisi energi saya. Saya dididik dengan suasana sehari – hari bahwa, perhatian diberikan sepatutnya sewajarnya saja, laku kami adalah bukti bahwa kata – kata perlu menjadi perbuatan nyata di dalam keseharian. Kami semua sadar bahwa kami saling menyayangi tanpa harus berkata sayang. Hal tersebut adalah sebuah sikap menunjukkan dengan perbuatan tanpa perlu berkata – kata manis.

Selama ini saya terus mencari – cari apa kira – kira padanan istilah tersebut sampai pada satu saat berdiskusi dengan Jolanda Atmadja. Ia menjelaskan dengan istilah, “Semesta Kecil” yang adalah kondisi bawah sadar alam pikiran yang mendasari perbuatan. Dan, saya mendapatkan banyak inspirasi semesta – semesta kecil tersebut dari banyak orang yang menyumbangkan pikiran – pikiran untuk menjawab pertanyaan diatas.

Salah satunya pak Ryadi Adityavarman, beliau menjelaskan kemungkinan – kemungkinan apa yang bisa dipikirkan mengenai arsitektur di Indonesia. Hal – hal soal kemajemukan, soal regionalisme, soal kehalusan, kecairan, yang merupakan kunci – kunci dalam alam teori. Lain halnya di Indonesia, begitu juga yang terjadi di Thailand, mereka mengalami hal serupa. Saya mengetahui hal tersebut dari diskusi dengan Boonserm di studionya dan di lobby hotel Samsan, Bangkok, Thailand,

Bagian Relasi Sosial Arsitektur Berkelanjutan… Lihat lebih lanjut pada halaman research arsitektur berkelanjutan di link di atas

“Realrich, be mindfull selalu ingat akan konteks, mengakar, tanpa kehilangan arah. Sabar ketika harus sama, membaca arah konteks, praktik perlu dilakukan dengan kehati – hatian terhadap keinginan untuk memperkenalkan diri.”

Hal tersebut di dunia ini tidak terlepas dari dampak dari “representasi yang berlebih” yang kerap menjadi keluhan para intelektual di dunia informasi. Saya percaya akan semesta kecil yang baik dan kita membutuhkan orang lain yang justru akan memberikan lompatan yang tidak ternilai selain proses pendalaman diri. Di titik ini Boonserm bisa melakukan lompatan dari human centric architecture ke non human centric architecture. Kondisi budaya Thailand dengan masyarakat yang memiliki apresiasi terhadap budaya, arsitektur, dan gajah. Ketiganya memberikan warna dalam karya Boonserm. Urusannya bukan soal antar manusia lagi namun manusia dan alam.

Tanpa adanya inisiatif dan energi yang aktif untuk merangkaikan ketiganya menjadi karya, tidak akan ada lompatan inovasi tersebut. Sudah cukupkah kita mengenal Indonesia luar dan dalam ? Menembus kesombongan dan merendahkan hati untuk fokus berkarya. Intinya ada di laku sikap keseharian, hal ini dibahas oleh Singgih Kartono di dalam aspek pendalaman jiwa di dalam manifesto cyral spiriterial yang kontekstual dengan pendekatan Boonserm, Ryadi sebuah semangat persaudaraan dan rekonsilisasi. Dunia cyral spiriterial terdengar baik, terlihat indah, terasa nyata, dalam dan tidak sulit dilakukan memberikan kebajikan dalam membangun kota dan desa, jiwa dan materi.

Tulisan Singgih Kartono mengenai Cyral Spiriterial

Saya berterima kasih ke Singgih Kartono seusai sesi diskusi.

“… senang bisa berbagi pengalaman…ini satu tulisan serial untuk pengantar tidur, silahkan dibagikan…Kapan2 bikin workshop arsitektur, implementasi konsep Cyral-Spiriterial dalam dunia arsitektur ya.”

Saya lampirkan konsep dari beliau di bawah untuk teman – teman yang mau membaca dan jangan lupa kunjungi website, dan sapa beliau bisa di sosial media ataupun bertemu langsung. Singgih menjawab dengan semesta kecilnya, dan kemudian arsitektur menerima inspirasi dari disiplin lain. Selamat datang masa depan.

Kategori
blog lecture

Ruang Riung #05 : Modernism in Traditional Architecture Philosophy

Filsafat seringkali dianggap sebagai suatu ilmu yang tidak dipahami
peruntukkannya. Padahal bila ditilik lebih lanjut, filsafat memberikan banyak hal dan dampak bagi kehidupan sosial, budaya, maupun hal lainnya dapat memberikan suatu gambaran terhadap ilmu filsafat arsitektur yang memiliki hubungan dengan perkembangan gerakan arsitektur modern salah satu isu nya apakah di era modern mempengaruhi unsur nilai identitas arsitektur tradisional nusantara Ruang Riung #05 merupakan kegiatan diskusi seputar ke arsitektural, kegiatan ini dibuat sebagai wadah untuk kita mahasiswa yang ingin mendapatkan pengetahuan dan wawasan dunia arsitektur. Pada Kegiatan kali ini mengusung Tema “Modernisme Dalam Filosofi Arsitektur Tradisional”

Philosophy is often regarded as a science that is not understood allotment. In fact, when viewed further, philosophy provides many things and impacts on social life, culture, and other things can provide an overview of the philosophy of architecture that has a relationship with the development of the modern architectural movement. One of the issues is whether in the modern era it affects elements of architectural identity values the traditional archipelago of Ruang Riung #05 is a discussion activity about architecture, this activity was created as a forum for us students who want to gain knowledge and insight into the world of architecture. In this activity, the theme is “Modernism in Traditional Architectural Philosophy”

Narasumber:
Realrich Sjarief (Arsitek, Pendiri RAW architect & Omah library)
Moderator:
Titieandy Lie S.Ars, MT. (Dosen Arsitektur, ITI)

Kegiatan ini akan dilaksanakan pada :
📆 : Sabtu, 11 September 2021
🕐 : 13.00 WIB – 15.00 WIB
📍 : Zoom Meeting & Live on Youtube Vhadyaswasti

Kegiatan ini terbuka untuk Mahasiswa, Dosen, Praktisi, Komunitas Lokal, Akademisi dan Masyarakat Umum.

Biaya pendaftaran Gratis!!!

📧E- sertifikat dikenakan biaya sebesar Rp. 15.000 yang dapat dibayar melalui :
💳Bank Mandiri 1640003517499 a.n. Aidah Nurul Hasanah.

Link Pendaftaran: http://bit.ly/ruangriung5

Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi :
📞0896-5035-0278 (Sri)
📞 0858-8133-7141 (Aidah)

#ruangriung#talkshow#archpedition#vhadyaswasti#vivatvhadyaswasti#architecture

Kategori
blog lecture

Critical Thinking and Creative Design Process

Ronny Gunawan asked me to share design thinking on projects. How to be creative and critical. The studio in UAJY exercises Plowright as design method. In this diagram shows how to understand context from social cultural technical is the techne. That is the part of acquiring the skill of understanding things / topos / human character / programs and all of the basic things.

Then critical thinking is started on how to filter the information and synthesis the questions. It’s when we form the hypothesis and start the process of mapping. The mapping is the starting of deliberate creativity , the it’s going back and forth to propose and evaluate becoming a proposal.

The practice looks so easy, but the really it’s not easy, because each decision involving the creativity and critical design process and it’s actually involving actors in every decision. How to negotiate between the boundaries. That makes the design is wicked but it’s also proving why architecture is so damn complex and damn powerful. It’s powerful because the proposal is based of steps of process and the culture is not easy. Like my greatest professor said, in every lines, there are design decisions, creative thinking and critical thinking, its shows how good you are and how long you have trained so far.

see you this Friday 18 : 30

Kategori
blog

Circle Means Family

Hari ini (jumat) di Bulan July 2021 adalah saat Alifian Kharisma menghabiskan hari terakhir di studio, Alifian akan berhenti menjadi tim permanen di studio dan mungkin akan membantu di project berdasarkan part time apabila diperlukan dan waktunya memungkinkan karena kesibukannya di sekolah dan keinginannya berdikari. Jadi setelah ini akan off dari grup kordinasi langsung studio ini. Jalan panjang masih terbuka, untuk berbagai kemungkinan. Kita semua masih bekerja bersama – sama, hanya saja dari tempat berbeda, berkumpul bersama, hanya intensitasnya lebih jarang. Lembar masa depan terbuka lebar dengan berbagai macam kemungkinan.

Hari ini (jumat) di Bulan July 2021 adalah saat Alifian Kharisma menghabiskan hari terakhir di studio, Alifian akan berhenti menjadi tim permanen di studio dan mungkin akan membantu di project berdasarkan part time apabila diperlukan dan waktunya memungkinkan karena kesibukannya di sekolah dan keinginannya berdikari. Jadi setelah ini akan off dari grup kordinasi langsung studio ini. Jalan panjang masih terbuka, untuk berbagai kemungkinan. Kita semua masih bekerja bersama – sama, hanya saja dari tempat berbeda, berkumpul bersama, hanya intensitasnya lebih jarang. Lembar masa depan terbuka lebar dengan berbagai macam kemungkinan.

saya sangat berterima kasih atas upaya, kerja kordinasi Alifian menuangkan kerja kreatif dan kritis yang intensif yang tidak hanya sebentar namun bertahun – tahun disini. Alifian adalah orang yang sabar dan tidak pernah lelah menemani saya dan adalah saksi hidup di studio dibalik gagalnya dan suksesnya proyek kecil maupun besar. Dan dirinya adalah jembatan antar generasi di dalam studio ini. Ia adalah saksi bahwa Kesuksesan adalah hasil dari pembelajaran – pembelajaran dan ia sendiri terus bertransformasi sampai sekarang.

Kerja – kerja Alifian adalah kerja yang tidak mudah karena untuk menempati posisi seperti dirinya yang adalah kepala di studio memerlukan untuk melepas ego dirinya dan melebur di dalam kondisi orang lain, multi perspektif, multi disiplin dan lagi – lagi multi generasi. Ia adalah jembatan nyata antara designer yang baru atau desainer dengan ratusan orang yang sudah masuk lalu lalang di studio
.

Di dalam budaya studio RAW Architecture, sekali sudah menjadi keluarga di studio, nama Alifian akan terus dikenang upaya, karakter, dan kontribusinya dan hal tersebut akan terus dicatat. Tali silahturahmi ini tidak akan terputus dan sama – sama kita doakan yang terbaik kesuksesan Alifian.

Tim kita adalah tim kecil yang realistis, ada tim admin, tim build, tim desain, dan tim perpustakaan. Tim ini bisa saja terlihat kecil namun terbukti progressif, dari tim yang kecil kita membuka sekat – sekat kemungkinan melalui ketepatan kerja, waktu dan kualitas personal. Alifian adalah tim inti salah satu nukleus yang menyatukan ekosistem yang ada. Tidak mudah mencari setiap orang untuk bisa bekerja bersama dari proses seleksi. Begitu antar personal bertemu sulit berpisah karena sudah tercipta ikatan emosional. Di balik ikatan tersebut ada doa untuk menjadi biasa, ada doa untuk menjalani segala suatu yang apa adanya, menjadi seseorang yang terus berbagi, dalam suka ataupun duka.

Kita semua berlatih untuk meraih dan melepaskan waktu, relasi, dan kesempatan. Momentum tersebut membentuk sebuah kenangan yang baik. Alifian sudah memberikan kenangan yang manis di dalam Studio ini. Semoga ilmu yang didapatkan di studio bisa diamalkan Alifian terus menerus. Alifian punya sendiri membentuk kehidupan orang lain memberikan dampak yang positif dan usaha untuk memperdalam ilmunya di dunia arsitektur. Di dalam arsitektur kita mendapatkan visi, misi, belajar, dan mengaktualisasikan jiwa raga kita semua sepenuh hati. Dari situ muncullah kesempatan untuk memberikan jejak kenangan, dan saya patut berterima kasih jejak kenangan Alifian yang tidak akan terlupakan kepada studio ini.

Di bawah ini saya lampirkan buku kecil, jejak – jejak kenangan cerita untuk Alifian, harapannya, dan pendapat orang lain mengenai dirinya dengan harapan memberikan kenangan yang manis.

Today (Friday) in July 2021 is when Alifian Kharisma spends his last day in the studio, Alifian will stop being a permanent team in the studio and may help on a project on a part time basis if needed and the time allows due to his busy schedule at school and his desire to be independent. So after this will be off from this studio direct coordination group. There is still a long way to go, for possibilities. We’re all still working together, just from different places, coming together, just less intensely. The future is wide open with a wide variety of possibilities.

I am very grateful for the efforts, Alifian’s coordinating work has poured intensive creative and critical work that has not only been for a short time but for many years here. Alifian is a patient person who never gets tired of accompanying me and is a living witness in the studio behind the failures and successes of small and large projects. And he is the bridge between generations in this studio. He is a witness that Success is the result of learning – learning and he himself continues to transform until now.
.
Alifian’s work is not an easy job because to occupy a position like him who is the head of the studio requires to let go of his ego and merge into other people’s conditions, multi perspective, multi discipline and again – again multi generation. He is a real bridge between a new designer or designer and hundreds of people who have entered the studio
.
In RAW Architecture’s studio culture, once family in the studio, Alifian’s name will continue to be remembered for his efforts, character and contributions and that will continue to be recorded. This friendship rope will not be broken and together we wish Alifian the best for success.
.
Our team is a realistic small team, there is an admin team, a build team, a design team and a library team. This team may look small but is proven to be progressive, from a small team we open up the barriers of possibilities through work accuracy, time and personal quality. Alifian is the core team of one of the nuclei that unites the existing ecosystem. It is not easy to find everyone to work together from the selection process. Once the personal meet is difficult to separate because it has created an emotional bond. Behind this bond there is a prayer to become ordinary, there is a prayer to live everything as it is, to be someone who continues to share, in joy or sorrow.
.
We all practice grabbing and letting go of time, relationships, and opportunities. The momentum forms a good memory. Alifian has given sweet memories in this studio. Hopefully the knowledge gained in the studio can be practiced by Alifian continuously. Alifian has his own way of shaping the lives of others, giving a positive impact and an effort to deepen his knowledge in the world of architecture. In architecture we get the vision, mission, learn, and actualize our body and soul, all of us wholeheartedly. From there came the opportunity to provide a trail of memories, and I should thank this studio Alifian’s unforgettable memories.
.
Below I attach a small book, traces of memories of the story for Alifian, his hopes, and other people’s opinions about him in the hope of giving sweet memories.

From monday the world goes on as usual, everyone has their own journey, congratulations Ali.

Alifian Kharisma Syahziar

“Thanks for everything kak Rich n kak Yudith . You’re such a Role Model. Saya banyak belajar dari kak Rich bagaimana mengelola biro dimana orang orang menggantungkan sebagian nasibnya disana, bagaimana mengelola biro yang dituntut terus berkembang pengetahuannya mengikuti perkembangan teknologi. Terlebih lagi, bagaimana menjadi arsitek yang juga orang tua, guru, dan manusia biasa. At the end, perjalanan di studio adalah bagaimana kita masuk, dan terkahir, bagaimana kita keluar.

Testimonial Alifian mengenai proyek di studio.

“kultur studio RAW tidak lepas dari karakteristik seorang kak rich. yang tangkas, mendidik, dan passionateful. dari ribuan jam sy di studio rasanya selalu ada hal baru menanti. ‘there is no problems if new one arrives every minute’. kutipan di ppt raw introduction yg selalu sy bacakan buat para staff baru dan anak magang.
ini kesan saya yang pertama. Bekerja seperti belajar berenang, kadang dibimbing, kadang dilepas. kalau tenggelam ada yg ngangkat ke permukaan lagi. kak rich dan para senior itu mentor sy untuk berenang. kak rich pun masih belajar dengan guru dan tingkatan yg berbeda. seiring pengalaman, saya juga harus menjadi mentor untuk yg lebih muda.”

” kesan saya untuk proyek Kemang sejauh ini: pengalaman yg baru dengan realitas proyek yang seperti nya lebih komplit dr yang pernah sy jalani di studio dari segi stages. mulai site analysis, skematik, DD, tender drawing, for con drawing, perijinan, meeting mingguan, MoM. saya bisa bertemu banyak stakeholder seperti proyek manajer, qs, kontraktor, konsultan2 lain.

di tim studio sendiri yg paling unik adalah dmn person incharge nya ganti ganti. seingat saya dimulai dr asep dan irul, trs ke saya, aga, gomes, aris, michael, trs ke nida dan dini. beberapa anak magang jg membantu untuk eksplorasi maket. jd kesannya proyek ini adalah proyek keroyokan. menurut sy portfolio bagus untuk kita sebagai studio dan individu mengingat proses nya yg komplit dan proyek nya adalah proyek bangunan publik, apalagi di kemang. memang disayangkan anak2 diatas tidak mengalami penuh proses ini.

bagi saya, proyek semacam ini adalah kesempatan yg baik bagi siapapun untuk bisa merelealisasikan apa yg direncanakan dengan banyak pelajaran. proses desain yang cukup dalam, interaksi dgn orang luar lingkup raw, mensinkronkan pikiran, professionalitas, mengujui kesabaran. 😁”

Testimonial Alifian tentang cara kerja studio.

“kultur studio RAW tidak lepas dari karakteristik seorang kak rich. yang tangkas, mendidik, dan passionateful. dari ribuan jam sy di studio rasanya selalu ada hal baru menanti. ‘there is no problems if new one arrives every minute’. kutipan di ppt raw introduction yg selalu sy bacakan buat para staff baru dan anak magang.

ini kesan saya yang pertama. Bekerja seperti belajar berenang, kadang dibimbing, kadang dilepas. kalau tenggelam ada yg ngangkat ke permukaan lagi. kak rich dan para senior itu mentor sy untuk berenang. kak rich pun masih belajar dengan guru dan tingkatan yg berbeda. seiring pengalaman, saya juga harus menjadi mentor untuk yg lebih muda.

kesan yang kedua yaitu: setiap orang di studio ini punya kepribadian masing2 yg unik. punya skill skill yg tidak terduga, jago bola, musik, jago joget, jago kerajinan tangan, dll. orang orang datang dan pergi. mereka punya kesan masing2 bahkan untuk orang yg cuma punya waktu 1 hari di studio. 😆. dari sini saya bersyukur kenal macam macam orang.

kesan sy yg ketiga yaitu bekerja di studio ini memang sangat dikejar kejar waktu. sejak marak wa grup 3 tahun lalu.semua proyek dibuat wa grup kordinasi dan hampir semua nya saya join. notifikasi di hp saya tidak berhenti muncul, akhirnya sy silent grup yang sedikit atau tidak ada kaitannya. hampir setengah dari waktu kerja dihabiskan dgn kordinasi wa atau telepon. semakin hari wa grup semakin bertambah. sy menyadari kalau proporsi proyek baru dan proyek selesai memang tidak pernah seimbang. laju informasi dari wa yang tidak bisa dibendung. untuk ini saya seringkali membalasnya dgn “”apa masih ada waktu?”

-Pesan untuk Studio: Punya lebih banyak kerabat yang baik, orang2 yang saling mendukung dan punya vibes yang sama diiringi dengan punya lead time yang baik sehingga bisa selaras.
-Pesan untuk kawan kawan terbaikku: Kumpulkan bekal sebanyak banyaknya. dengan rendah hati, enjoy,. Semoga lebih disiplin lagi kedepannya dan have a healthier cycle.”

Testimonial dari rekan – rekan yang lain.

Nurul dan Repi : ” Makasih mas ali udah gak ngeribetin kalo pas reimburse grab sm toll, makasih udah selalu dingin tapi tiba-tiba bikin ngakak, yaudalah yaaa makasih buat semuanya aja, semoga kita bisa bertemu di lain waktu dan kesempatan. aamiin”


Dimas Dwi Mukti Purwanto : “Saya memahami bahwa mas Ali adalah sosok yang tenang dan stabil. Dan sosok yang tenang dan stabil memiliki perannya sendiri dalam sebuah ekosistem perusahan dalam menenangkan situasi sehingga kita bisa berpikir lebih jernih. Saya pikir ini aspek fundamental dalam ekosistem pekerjaan arsitektur. Yang membutuhkan gagasan2 kreatif dalam waktu yang relatif singkat. Pernah suatu ketika bekerjasama dalam satu pekerjaan membuat materi presentasi. Deadline tergolong padat. Namun pekerjaan justru diselesaikan dengan sangat tenang. Dan pada akhirnya kita bisa menyelesaikan susunan materi sedalam apa yang telah kita pikirkan. Cukup membanggakan secara personal. Apa yang dikerjakan sangat berguna bagi perusahaan. Mungkin kalau tidak tenang, kita akan terjebak dalam pikiran “”yang penting selesai””. Dan ini akan menciptakan penyesalan bagi diri sendiri. Tetap tenang dan stabil adalah hal yang bisa dipelajari dari mas Ali”

Caroline : Senang melihat kamu terus berkembang, sukses selalu dalam karier, pendidikan dan pribadi, sampai jumpa

Kiswanto : Terima kasih untuk mas ali yang sudah menjadi bagian dari keluarga besar RAW dan semangat terus untuk menempuh pendidikan barunya semoga sukses dan apa yang di cita citakan semoga cepat terkabul.amiinn

Rico Yohanes : Hampir 2 tahun saya berada di RAW, pengalaman saya bertemu kak Ali sepanjang ini memang sering berada di luar lingkup proyek. Menurut saya Kak Ali adalah teman sekaligus guru yang ramah dan bijaksana. Bercandaan yang spontan tapi mengubah situasi studio menjadi lebih santai. Beliau suka bercanda, namun suka juga serius sekaligus tegas. Dia juga sering menjawab pertanyaan walaupun bukan lingkup pekerjaannya. Tidak heran dia menjadi seorang assosiate, karena mampu mengendalikan situasi studio. Semoga dampak yang diberikan oleh kak Ali di studio dapat berdampak juga diluar sana. Semoga kehidupan lahir baru arsitek-mu sukses dan jaya kak. Jangan lupa dengan kita kak, suatu saat kita akan bertemu dengan situasi yang berbeda 😁. Thank you untuk pengalaman sepanjang di studio kak. Setelah pandemi selesai ada permainan yang harus kita mainkan 🎮
Yuliana Putri semoga Ali untuk melakukan pekerjaan yang hebat dengan mencintai apa yang sudah dilakukan / dikerjakan dengan semangat dan bahagia, jika belum menemukannya, teruslah mencari dan jangan puas, sukses slalu untuk ka Ali :)


Satria : Thank you kak Ali. Good job ya. semoga setelah ini banyak hal keren menjumpaimu. meski nggak banyak kerjasama, tp lo banyak ngasih gw cara gimana cara menghadapi realita. see you on the next level.


Novita Gunawan : Momentny saat ngurusin ajib buat perijinan imb, ngejar ajib bareng kak Ali, bolak baliknya itu ada jengkel sama ajib sampai lega akhirnya selesai imb nya, keren sich, Kak Ali termasuk sesepuh di tim design, panutan yang baik buat karyawan disini, semoga Kak Ali tambah sukses dan semoga bisa ketemu lagi nanti dan bisa silaturahmi. Semoga Kuliah nya lancar dan Semoga sukses kak

Andriyansyah Muhammad Ramadhan : Kak ali itu salah satu sosok leader yg paling super duper humble, sabar, dan bener2 kaya sosok kakak yg bakal support dalam semua hal. Banyak banget dapet pelajaran2 berharga dari kak ali mulai dari arsitektur dan pelajaran hidup . Orangnya bisa diajak ngobrol dari hal2 serius tentang urusan kantor sampai hal2 sepele / gak penting di luar kantor. Bener – bener kak ali gak ada duanya, terbaik dari yang paling terbaik. Bakal kehilangan sosok kakak super humble ini di kantor, tapi yang paling penting all the best untuk karir kak ali kedepannya yaa, semoga bisa terwujudkan semua harapan dan cita2nya


Erick : Untuk Alifian, warna kantor baik secara karya maupun keceriaan kantor tidak lepas karena adanya Ali. Thanks untuk waktu bisa berkembang bersama di kantor. See ya again.


Khafyd : Teruntuk kak Alifian , pertama kali saya masuk studio saya melihat kak Ali ini orang yang sangat serius dan gak mudah ketawa, seiring berjalannya waktu saya mulai dekati kenalan dan ngajak ngobrol dan dari situ saya mulai tau kalau dia ternyata Assosiate, dimana seseorang yang memimpin mengatur pekerjaan tiap” orang di dalam studio ini. Dari situ saya coba melihat mengamati bagaimana cara dia dalam memimpin rapat, diskusi dengan pic masing” proyek dan juga bagaimana dia mengasih tahu detail” konsep design. Kak Ali ini merupakan seseorang asyik ketika menjadi teman dan suka ngelawak, yang serius ketika menjadi pemimpin, yang sabar ketika menjadi guru di dalam studio raw . Semoga kedepannya bisa ada ka Ali yang ke 2 ke 3 dan seterusnya yang hadir di dalam studio raw ini. Yang mempu memimpin semua proyek dan menjadi tauladan bagi anak” arsi raw untuk menjadikan studio ini yang terbaik dengan karyanya. Sukses terus untuk ka Ali kedepan nya khususnya study S2 nya. Semoga bisa bertemu lagee… :)


Memeh : Thank you for your help and kindness. I wish you the best of luck and continued success wherever you may find yourself. See you soon.


Meimei (Agustin) : Untuk mekanisme kantor sekarang saya merasa jadi lebih teratur dan lebih tertata kak. Dengan adanya absen yang baru, kita jadi bisa lebih disiplin, bukan hanya ke studio (pekerjaan) tapi juga ke diri sendiri. Karena terkadang kita lupa waktu sehingga tidak bisa disiplin ke studio ataupun ke diri sendiri. Terima kasih kak

Vivi Y. Santosa : “Adanya sistem jam kerja yang jelas membuat bekerja lebih mudah dan menciptakan keproduktifan yang baik. Saya juga lebih senang karena ada ruang waktu work life balance lebih baik. Arsitek adalah pekerjaan marathon yang panjang, batasan waktu kerja dan istirahat yang cukup itu perlu sehingga tidak jenuh dan bisa mendapatkan hasil yang optimal.

Testimoni untuk Kak Ali : Seseorang yang sangat saya hormati karena beliau bekerja secara profesional tapi tidak kaku (fun orangnya). Jarang mengeluh, fokus dalam membereskan pekerjaan. Sangat jelas dalam membimbing dan memberi pengarahan. Belajar banyak bagaimana harus bekerja secara smart, cepat, dan tepat sasaran. Best associate that i ever had! :)”


Thomas Andrean Santoso “..ingat dulu sy datang dikondisi kantor sedang hectic banget. hehe dan saya melihat dan merasa tensi kantor sedang tinggi sekali. serem juga sih awalnya termasuk Mas Ali. kaya sadis gitu. lalu saya ikut aja yang dia minta dan selesailah proyek deadline tersebut.saat makan malam eh mulai muncul sifat-sifat banyol yang saya ga abis pikir. ternyata orang nya ancur begini. joget-joget ga jelas, nyeloteh yang absurd, dan seringnya mecah keheningan kantor lewat celotehan aneh bin nyleneh. cuma ni orang saya pikir ada sisi tenang dan pendiamnya yang jadi enak kalo ngobrol yang serius-serius juga masuk. tak terasa 3 tahun perkenalan kita, istilahnya seperti temen SMA yang kocak abis selesai masa 3 tahun dan lulus sapa si yang ga kangen. tapi gapapa pertemuan dan perpisahan cuma dimensi waktu dan tempat saja, tapi hubungan relasi dan keterikatan memori tetap akan ada. sukses my Bro!”


Alvyan adi saputra : “Hubungan antar manusia yang sehat, sehingga menciptakan suasana kerja yang tidak membosankan walau sering pulang sampai malam. Terasa seperti kembali ke masa kuliah lagi. Banyak open space di kantor buat lingkungan kantor buat saya bisa tenang (karena saya tipikal orang yang tidak terlalu betah di dalam ruangan tertutup). Banyak buku-buku tentang Improving Self-Esteem yang bisa di baca. Untuk sedikit masalah kecil yang saya dapat di diri saya sendiri mungkin dari sisi jam kerja, kadang saat ada acara keluarga di rumah ,merasa sungkan untuk pulang lebih awal di banding teman2 yang lain, walau tidak ada aturan pulang jam 9 malam. Dan mungkin untuk makanan bisa di perbanyak sayur2an, tempe atau tahu di banding ayam yang berminyak, agar kondisi kesehatan dan imun warga kantor RAW bisa lebih kuat dan tidak mudah sakit. Sebelumnya moho maaf jika ada salah kata atau lancang dalam menginterpretasi atau memberikan hal hal yang ingin di sampaikan, terimakasih


Fina : “Banyak hal yang saya dapatkan di RAW. Bukan hanya mengenai desain dan teknis, tapi juga tentang tanggung jawab, kemandirian, kenekatan, keberanian, ketekunan, pertemanan orang2 dan budaya kerja yang berbeda di sini. Saya merasa atasan di sini juga bisa menjadi teman atau mentor yang baik, humble, bisa menyatu satu sama lain. Mungkin hal ini tidak akan saya dapatkan di tempat lain. Ketika memasuki suatu hal yang baru pasti ada banyak hambatan. Karena ketidaktahuan di awal. Saat masuk build saya menemukan banyak kesulitan, saya tidak tahu mengenai semua data, file, obrolan dengan owner / vendor karena tidak ada di grup, tidak tahu di mana letak semua file. Tidak tahu kalau ada update perubahan. Harus berkoordinasi dengan berbagai macam orang dengan karakter yang beda. Saya bersyukur sekarang sistemnya sudah lebih diperbaiki. Juga berharap agar saya yang ilmunya masih sedikit ini dapat dibimbing dan didengar. Kalau associates / HRDnya bukan Kak Ali aku mungkin sekarang ga di RAW. Kak Ali itu suka banget psikologi atau nebak2 orang. Peka banget, sabar, bisa inget sama ngerjain banyak hal dalam satu waktu. Anak pertama banget. Kalau ada yang ke lapangan Kak Ali juga diem2 ngecek. Selalu cepet cek hp, whatsapp, dll. Cek, double check, triple check. Suka nguping. Selalu nolongin sama ngurusin orang-orang. Aneh, nyentrik, suka ngejudge, ENFP gitu. Walaupun omongannya kadang nyelekit tapi Kak Ali abis itu bantuin/ngajarin. Kalau diajak yang aneh2 pasti mau walaupun awalnya malu-malu. Pake masker, makan biskuit bayi. Oiya kadang Kak Ali juga sering malu-malu atau awkward walaupun termasuk orang yang rame. Kalau mau sesuatu langsung gas bilang aja kak. Berharap bisa lebih banyak ngobrol, bercanda, belajar sama Kak Ali. Semoga kedepannya rejeki Kak Ali lancar, dapetin apapun yang dimau dan dikejar. Aamiin”

Pandu “…Salah satu hal yang kemudian menjadi berkesan lainnya adalah pertama kali saya bertemu dengan Alifian, partner sekaligus teman diskusi, hingga label “”menolak tua”” saya pikir cukup melekat pada dirinya. Visi hidupnya cukup jelas untuk menjadi yang berbeda dan memberikan dampak tidak hanya utk pribadi, melainkan juga untuk kultur arsitektur di generasi sekarang yang tidak lagi one-man-show, melainkan proses kolaboratif dan juga teamwork.

Dear kak Ali, cc temen temen semua,
ini wrapup saya untuk semuanya
jadilah gatekepeer
see u on another level
be bulletproof
dan yang terpenting
be secure
dont kill yourself
and take your time

Fadiah : “…hari ini bertepatan dengan selesainya tugas Ali di RAW. Setelah mengenal Ali selama hampir 5 tahun ini, Ali meninggalkan banyak kesan untuk saya secara personal maupun profesional. Ali orangnya sangat jenaka, gaya ceplas-ceplosnya, spontanitasnya dan jokesnya yang aneh-aneh, membuat suasana yang tadinya tegang bisa menjadi lebih cair. Dilain sisi, Ali adalah pemimpin yang baik dan bertanggung jawab. Saya ingat betul diawal saya masuk, dia dengan sabar membimbing saya dalam gambar yang dibutuhkan untuk dikirim ke client. Dia juga yang mengantar saya sampai kost waktu pulang sangat larut, padahal arah pulangnya berbeda. Saya menyaksikan banyak perubahan yang terjadi pada Ali. Dari gaya preman menjadi casual. Dari motor revo menjadi sigra. Dari kaca mata kotak menjadi kaca mata bulat. Dari single menjadi in relationship (thanks to proyek Felita ya Li). Dari junior designer menjadi longest associate. Dan dari semua perubahan itu, Ali tetap konsisten menjadi Ali yang jenaka dan bijaksana.

Ali adalah salah satu contoh berhasilnya RAW berperan dalam mencetak pribadi yang lebih matang. Saya percaya dibalik segala tekanan yang ada, itu adalah ujian untuk mengenal diri kita pribadi, bagaimana kita menghadapi dengan baik, bagaimana kita berproses untuk menjadi lebih dewasa, bagaimana kita tahu kapan untuk lari kencang atau duduk sejenak, dan akhirnya bisa naik level. Semoga akan terus ada Ali-ali yang lain di sini.

(Good job Li, sukses S2nya. Tq ya buat moments yang sudah dilalui bersama!)”


Timbul Arianto : “Its a serendipity having such opportunity of working and guidance by such a great mentor. Started from a raw freshman and still going into collegary and mentorships. Sebagai leader Mas Ali sosok yang sabar, tegas dan penuh dedikasi, baik dalam pekerjaan sebagai leader maupun sebagai kolega,

Kesabaran dalam mengajar dan mendidik para junior adik-adik baru, sehingga menjadi individu yang mampu dan capable. Tentunya ini bukan kata-kata manis saja, dari mana saya tau? karna sayapun sendiri mengalaminya. dipimpin dari 0 hingga menjadi individu yang “”confident””. Mungkin ini terlalu personal, namun memang pada dasarnya pendekatan profesional yang dilakukan oleh Mas Ali sangat sulit untuk tidak bisa masuk dalam ranah personal, karna tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan tapi juga pola pikir yang berkembang dan terus berjalan.

Berkaitan dengan hal tersebut, tentunya peran kantor sebagai tempat bekerja yang mengizinkan adanya relasi yang sehat baik secara profesional dan personal. Terlebih dari itu juga tidak lepas dari peran kepemimpinan para leader, salah satunya Mas Ali.

Saya percaya Mas Ali sudah cukup mendidik dan meneruskan “”legacy”” yang baik, secara profesional dan figur untuk adik-adik disini. Oleh karna itu juga saya percaya dan positif terhadap policy terbaru dari kantor, Ini merupakan kesempatan untuk berbenah diri dan keluar dari zona nyaman, karna setiap fase tentu perlu berubah agar kita tau seberapa jauh sudah kita berkembang.”

Hari senin dunia berjalan seperti biasa, setiap orang punya perjalanannya masing – masing, selamat melangkah Ali.

Kategori
blog

Cerita di Balik Bentuk | Form

Satu ketika saya terbersit ide untuk membuat sebuah seminar isinya 7 orang yang memiliki latar belakang berbeda – beda mengenai bentuk. Latar belakangnya dari beberapa pengalaman perbincangan arsitektur yang baru terbatas di bentuk di sekitar saya. Beberapa orang saya kontak untuk memikirkan hal ini, saya mengontak Johannes Adiyanto pertama kali. Alasannya sederhana, karena dia tersedia dan mudah untuk di kontak, dan juga kami berkali – kali berkolaborasi bersama. Saya bilang ke dia “Mas aku mau buat webinar lagi, mau bantuin ngga ? mulai dua minggu lagi.” Pada saat itu saya juga ngga punya persiapan, yang saya rasa, diskursus mengenai bentuk akan sangat dibutuhkan mengingat bagaimana kecepatan dunia digital yang pembahasannya tidak bisa dalam, dan terkesan membahas bentuk dari produk bukan proses.

Ini rencana saya mula – mula, temanya Theory, Origin, Technique, Critique, Philosophy, Meaning.

Ia menjawab “Tunggu mas jam 20 an bisa ditelp ?” Dari situlah saya bercerita mengenai bagaimana pentingnya webinar kali ini untuk menguliti persoalan bentuk yang mungkin memiliki definisi berbeda dan patut untuk didiskusikan.

Sempat juga saya berdiskusi dengan Nanda Widyarta, ia berkomentar “Form, platonis banget euy,… tapi ini perlu. Orang suka susah bedakan shape dari form.”

Saya menjawab “… yang diperbincangan itu wujud atau bentuk… dua hal yang beda… Ada kompleksitas yang mungkin membuat pemahaman tentang ide tentang konsep bentuk perlu disadari dulu… apa artinya perlu pembahasan soal beda dan guna dulu ya … jadi praktis supaya jelas nanti aplikasi (nya).”

Nanda menjawab “Kemungkinan ada perbedaan konsep di dua budaya (kita dan barat). Di bahasa kita ga ada kata buat “form.” Adanya bentuk. Kata “wujud” diserap dari bahasa Arab. Tapi kita sering anggap wujud dan bentuk itu sama. Bukan sebuah handicap sih. tapi kita (dan umumnya orang sedunia) memamng kerap gagal melihat perbedaan pemahaman konsep2 di budaya2 berbeda… sepakat.”

Dari setelah saya berdiskusi dengan Jo, saya mengontak beberapa kawan – kawan pemateri dan semuanya tertarik. Undi Gunawan untuk teori, Johannes Widodo untuk asal mula, Setiadi Sopandi untuk kritik, Ryadi Adityavarman untuk teknik, Boonserm Premthada, khususnya untuk budaya, Johannes Adiyanto untuk filosofi,dan Revianto Budi Santosa untuk makna. Boonserm Premthada dan karyanya akan menjadi garis tengah gerbang untuk melihat sebuah karya yang memiliki konteks yang mengakar dari sudut pandang budaya. Setelah persiapan yang intensif dari tim Omah Library (Dimas, Hanifah, Satria) materi siap. Pertanyaan Hanifah atau yang sering kami panggil uffi, “Kak rich ini arahnya kemana ?”

Kejadian ini cukup lucu dan menggelitik dan setidaknya begitulah bentuk, sekonyong – konyong ia bisa menjadi arkitipe, yang secara tidak sadar bergerak secaral rasional, empirik ataupun intuitif, dari situ saya mendengar suara sayup – sayup di belakang telinga saya, mengingatkan saya.

“Realrich kamu nanya terus, kapan jalannya, ayo maju, anak – anak perlu jalan.”

Kelas Wacana Arsitektur – BENTUK | FORM]

Bentuk adalah hasil dari produksi pengetahuan arsitektur. Untuk memproduksi pengetahuan arsitektur melalui bentuk diperlukan pemahaman mengenai mengapa satu bentuk dibuat, dan apa dampak dari bentuk tersebut.

Webinar Omah library yang berjudul “Form | Rahasia dibalik sebuah bentuk” membahas bentuk dari sudut pandang teori arsitektur, asal mula (origin), teknik merangkai bentuk, kritik terhadap bentuk, metode desain sekaligus konteks alam dan budaya, filosofi dan pemaknaan. Berbagai sudut pandang ini memberikan peta bagaimana perjalanan sesorang menelusuri perjalanan proses membentuk bentuk. Beberapa pembicara yang akan mengisi acara ini adalah Undi Gunawan, Johannes Widodo, Ryadi Adityavarman, Boonserm Premthada, Johannes Adiyanto, dan Revianto Budi Santosa.

Arsitektur memiliki manifestasi kekuatan yang dahsyat melalui bentuk. Pertanyaannya bagaimana menjadi kreatif sekaligus kritis sehingga muncul hasrat untuk reflektif dan mempertanyakan keadaan sekaligus bersemangat untuk selalu progressif.

Theory
Undi Gunawan
28 Juli 2021 pukul 19.00 WIB

Origin
Johannes Widodo
4 Agustus 2021 pukul 19.00 WIB

Technique
Ryadi Adityavarman
11 Agustus 2021 pukul 19.00 WIB

Critique
Setiadi Sopandi
18 Agustus 2021 pukul 19.00 WIB

Culture
Boonserm Premthada
25 Agustus 2021 pukul 19.00 WIB

Philosophy
Johannes Adiyanto
1 September 2021 pukul 19.00 WIB

Meaning
Revianto B. Santosa
8 September 2021 pukul 19.00 WIB

Silahkan mengisi form pendaftaran dan ikuti petunjuk konfirmasi: bit.ly/OMAH_FF

Untuk mengikuti webinar Omah Library diperlukan donasi sebesar 10.000 per sesi yang akan dipergunakan untuk meningkatkan literasi arsitektur dan mengapresiasi pengetahuan yang diberikan pembicara. Bagi yang berkeinginan mengikuti namun tidak mampu, mohon untuk mengirimkan surat ke kami karena webinar ini adalah ajang membangun kebersamaan.

Untuk mengikuti webinar Omah Library diperlukan donasi sebesar 10.000 per sesi yang akan dipergunakan untuk meningkatkan literasi arsitektur dan mengapresiasi pengetahuan yang diberikan pembicara. Bagi yang berkeinginan mengikuti namun tidak mampu, mohon untuk mengirimkan surat ke kami karena webinar ini adalah ajang membangun kebersamaan. Silahkan mengisi form pendaftaran dan ikuti petunjuk konfirmasi: bit.ly/OMAH_FF
Silahkan mengisi form pendaftaran dan ikuti petunjuk konfirmasi: bit.ly/OMAH_FF

Semoga webinar ini mampu untuk mengobati kerinduan kita semua untuk bertemu, bertegur sapa, dan belajar di dalam situasi yang terbatas di masa pandemi.

#webinar#arsitektur#webinararsitektur#bentuk#form

Kami mencantumkan donasi untuk memberikan apresiasi terhadap ilmu materi yang diberikan oleh pemateri dan pembahas. Hal ini semoga akan memberikan sebuah siklus ekosistem yang sehat dan saling mengapresiasi untuk memproduksi ilmu pengetahuan. Silahkan mengisi form pendaftaran dan ikuti petunjuk konfirmasi: bit.ly/OMAH_FF

Translation :

The Story Behind the Bentuk | Form

One time I had the idea to make a seminar with 7 people from different backgrounds regarding Form. The background thinking is from some recent experience of limited architectural conversation in the Form around me. I contacted several people to think about this. At first, I called Johannes Adiyanto. The reason is simple: he is available and easy to reach, and we collaborate many times. I said to him, “Mas, I want to do another webinar. Do you want to help? It will start in two weeks.” At that time, I also didn’t have any preparation, which I think a discourse on Form will be very much needed considering how fast the digital world is. The discussion cannot be deep and seems to discuss the Form of the product the process.

This is my original plan. The theme is Theory, Origin, Technique, Critique, Philosophy, Meaning.

He replied, “Wait, mas at 20 can you call?” That’s where I talked about how vital this webinar is to address Form, which may have different definitions and deserves to be discussed.

I also had a discussion with Nanda Widyarta. He commented, “Form, it’s very Platonic, huh, but this is necessary. People like to find it difficult to distinguish shape from Form.”

I answered, “… what is being discussed is Form or Form… two different things… Some complexities might make understanding the idea of the concept of Form need to be realized first… what does it mean, we need to discuss about different and use it first… so it’s practical so that the application will be clear ).”

Nanda answered, “There may be differences in concepts in the two cultures (us and west). In our language, there is no word for “Form.” There is Bentuk. The word “Wujud” is taken from the Arabic language. But we often assume that shape and Form are the same. It’s not a handicap. but we (and the rest of the world in general) do often fail to see the different understandings of concepts in different cultures… agree.”

After I discussed it with Jo, I contacted several of the presenter’s friends, and all of them were interested. Undi Gunawan for theory, Johannes Widodo for origins, Setiadi Sopandi for criticism, Ryadi Adityavarman for technique, Boonserm Premthada, especially for culture, Johannes Adiyanto for philosophy, and Revianto Budi Santosa for meaning. Boonserm Premthada and his work will be the centerline of the gate to see a work that has a deep-rooted context from a cultural point of view. After intensive preparation from the Omah Library team (Dimas, Hanifah, Satria), the material was ready. Hanifah’s questioned me, or what we often call Uffi, is, “What is the narration big brother ?”

This incident is quite funny and intriguing, and at least that’s how it looks, suddenly it can become an archetype, which unconsciously moves rationally, empirically, or intuitively, from which I hear a faint voice behind my ear, reminding me.

“Realrich, you keep asking, when you want to walk the talk ? Let’s go. the Kids need to walk.”

Architectural Discourse Class – FORM | FORMS]

The Form is the result of the production of architectural knowledge. To produce architectural knowledge, we require an understanding of why a Form is created and knowing the impact of that Form.

Omah library webinar entitled “Form | The secret behind a form” discusses Form from the point of view of architectural theory, origin, techniques for assembling forms, criticism of Form, design methods as well as natural and cultural contexts, philosophy, and meaning. These various points of view provide a map of how a person’s journey traces the journey of the creation of Form. Some of the speakers who will fill this event are Undi Gunawan, Johannes Widodo, Ryadi Adityavarman, Boonserm Premthada, Johannes Adiyanto, and Revianto Budi Santosa.

Architecture has the manifestation of tremendous power through Form. The question is how to be creative and critical so that there is a desire to be reflective and question the situation and be eager to always be progressive.

theory
Gunawan vote
July 28, 2021, at 19.00 WIB

Origin
Johannes Widodo
August 4, 2021, at 19.00 WIB

Technique
Ryadi Adityavarman
August 11, 2021, at 19.00 WIB

Critique
Setiadi Sopandi
August 18, 2021, at 19.00 WIB

Culture
Boonserm Premthada
August 25, 2021, at 19.00 WIB

Philosophy
Johannes Adiyanto
September 1, 2021, at 19.00 WIB

Meaning
Revianto B. Santosa
September 8, 2021, at 19.00 WIB

Please fill out the registration form and follow the confirmation instructions: bit.ly/OMAH_FF

Participants’ donation of IDR 10,000 per session is encouraged To participate in the Omah Library Webinar. The gift will be used to improve architectural literacy and appreciate the knowledge provided by the speakers. For those who wish to attend but cannot donate, please send us a letter because this webinar is a place to build togetherness.

Hopefully, this webinar can cure all of us longing to meet, greet, and learn in a limited situation during the pandemic.

We include donations to give appreciation to the material science provided by the presenters and discussants. This will hopefully give a healthy and mutually appreciative ecosystem cycle for producing knowledge. Please fill out the registration form and follow the confirmation instructions: bit.ly/OMAH_FF

Kategori
blog

Guha Piyandeling

“Pak Amud, tolong ini digali diameter 3 m, saya ingin coba lihat dasar tanah urugnya, sampai tanah keras, setahu saya dulu pak Eddy menggali sampai – 2 meter dan membangun turap penahan tanah hampir 2 m.”

Proyek Piyandeling ini memiliki kesulitan karena lokasinya di puncak bukit, sulit mencari tenaga kerja dan lokasinya jauh dari keramaian. Saya mencoba mereka – reka eksperimen dengan menggunakan tulangan bambu dan beton, sejauh mana, bentuk drum ini bisa tahan, dan ekspresif dengan bahasa sederhananya “sekali jalan”. Sekali jalan ini pada dasarnya seperti sekali menumpahkan beton, kita sudah mendapatkan kekuatan struktural, estetika, dan fungsi ruangan.

Proyek Piyandeling ini memiliki kesulitan karena lokasinya di puncak bukit, sulit mencari tenaga kerja dan lokasinya jauh dari keramaian. Saya mencoba mereka – reka eksperimen dengan menggunakan tulangan bambu dan beton, sejauh mana, bentuk drum ini bisa tahan, dan ekspresif dengan bahasa sederhananya “sekali jalan”. Sekali jalan ini pada dasarnya seperti sekali menumpahkan beton, kita sudah mendapatkan kekuatan struktural, estetika, dan fungsi ruangan.

Pada waktu konstruksi di dasar dinding beton ada batu kali yang memang sudah ada disitu. Piyandeling sendiri ada permainan bahasa primitif, bahasa bentuk platonis. Di balik kesederhanaan ada keindahan untuk bisa dimengerti orang yang berkunjung.

Pada waktu konstruksi di dasar dinding beton ada batu kali yang memang sudah ada disitu. Piyandeling sendiri ada permainan bahasa primitif, bahasa bentuk platonis. Di balik kesederhanaan ada keindahan untuk bisa dimengerti orang yang berkunjung.

Seperti Repertoar lagu Fragmen dan Tembang Alit Indonesia yang dimainkan dengan indah oleh Gillian Geraldine, lagu ciptaan Jaya Suprana. Repertoar di arsitektur pun terkait dengan eksperimen – eksperimen adaptasi baru (Ibaratnya di arsitektur dikenal dengan detail tektonika – tektonika), gerakan yang unik yang belum pernah terjadi sementara itu juga mengacu pada catatan tradisional yang membuat kolaborasi keduanya membentuk Fragmen. Arsitektur juga mengalir seperti sungai seperti Tembang Alit. Ibaratnya di arsitektur dikenal dengan metode yang mengalir tanpa batas, sebuah usaha mewujudkan adaptasi keseharian, Bricolage.

Ini adalah contoh Repertoar Indonesia yang dimainkan dengan indah oleh Gillian, lagu (Fragmen dan Tembang Alit) ciptaan Jaya Suprana. Ini menyerupai eksperimen baru. Ibaratnya di arsitektur dikenal dengan detail tektonika – tektonika, gerakan yang belum pernah terjadi sebelumnya, sementara itu juga mengacu pada catatan tradisional yang membuat Fragmen. dan mengalir seperti sungai seperti Tembang Alit. Ibaratnya di arsitektur dikenal dengan metode yang mengalir tanpa batas, sebuah usaha mewujudkan adaptasi keseharian, Bricolage.

Pagi – pagi setelah saya berdoa dan bermeditasi, terkadang ada saja panggilan yang muncul. Dari mengingatkan untuk menjaga pola makan, mengingatkan untuk jangan lupa mengecek proyek ini itu, detail ini itu, dan jangan lupa ruangan untuk Laurensia, Miracle dan Heaven. Seperti halnya gua yang sedang dibangun di Piyandeling ini adalah sebuah usaha untuk menemukan kehangatan, termal, juga program, dan pengalaman, juga materialitas. Ruangan ini adalah ruangan doa yang paling hangat di Piyandeling dibangun dengan kehangatan pengrajin bambu.

Pagi – pagi setelah saya berdoa dan bermeditasi, terkadang ada saja panggilan yang muncul. Dari mengingatkan untuk menjaga pola makan, mengingatkan untuk jangan lupa mengecek proyek ini itu, detail ini itu, dan jangan lupa ruangan untuk Laurensia, Miracle dan Heaven.
Seperti halnya gua yang sedang dibangun di Piyandeling ini adalah sebuah usaha untuk menemukan kehangatan, termal, juga program, dan pengalaman, juga materialitas. Ruangan ini adalah ruangan doa yang paling hangat di Piyandeling dibangun dengan kehangatan pengrajin bambu.

Terkadang saya melihat ke atas langit di piyandeling, melihat balok – balok yang melengkung saling bersilangan membentuk archetype tersendiri. Di dalam sentuhan tangan, lengkungan – lengkungan ruas – ruas bambu menonjolkan archetype alam, dengan kekuatannya yang tumbuh perlahan – lahan. Seakan – akan alam mengetuk, “mau lambat salah, mau cepat salah, jadi kamu maunya apa ?” Alam kemudian bertanya – tanya apa lagi setelah ini. Di dalam alam kreatif dan kritis, perjalanan arsitektur itu dimulai dengan kadang batuk – batuk, merangkak, dan kemudian tersenyum dalam prosesnya.

Terkadang saya melihat ke atas langit di piyandeling, melihat balok – balok yang melengkung saling bersilangan membentuk archetype tersendiri. Di dalam sentuhan tangan, lengkungan – lengkungan ruas – ruas bambu menonjolkan archetype alam, dengan kekuatannya yang tumbuh perlahan – lahan. Seakan – akan alam mengetuk, “mau lambat salah, mau cepat salah, jadi kamu maunya apa ?” Alam kemudian bertanya – tanya apa lagi setelah ini. Di dalam alam kreatif dan kritis, perjalanan arsitektur itu dimulai dengan kadang batuk – batuk, merangkak, dan kemudian tersenyum dalam prosesnya.

“Bu berapa telur hari ini yang siap ?” Bu Lisa menjawab, “kita kemarin dapat 80 pak, hari ini 210.” sekitar beberapa bulan ini, kami cukup sering bertemu.

Telur ayam yang kami bicarakan berasal dari peternakan ayam yang ada di sekolah Alfa Omega. Sekitar setahun yang lalu, ketika pandemi tiba, Bu Lisa bercerita bagaimana ia mendapatkan inspirasi dari seseorang yang sudah berhasil mengembangkan peternakan untuk membantu panti asuhan miliknya, namanya pak Gaspar. Dari situlah Bu Lisa mengajak saya untuk berkunjung ke peternakan tersebut. “Bu Lisa, sudah banyak membantu saya pak, sekarang saya ingin membantu ibu.” Kalimat tersebut muncul ketika saya menanyakan mengenai bagaimana beliau terhubung dengan Bu Lisa.

Pertanyaan – pertanyaan tersebut penting untuk dilontarkan sebelum memulai proyek kandang ayam tersebut yang dimulai dengan mempertanyakan hal – hal yang relevan, tentang siapa yang memulai, bagaimana harus memulai, dan apa saja hal – hal yang mungkin menghambat. Informasi tersebutpenting untuk membangun konteks, bagaimana satu hal terbentuk dan bagaimana satu hal mempengaruhi yang lain. Dari hal tersebut saya bisa belajar, untuk menghargai proses untuk tumbuh membutuhkan akar yang kuat.

Ketika satu saat saya berdiskusi dengan Laurensia, mengenai bagaimana Bu Lisa berjuang untuk menjalankan peternakan ayam petelurnya di Alfa Omaga. Satu saat kemudian Laurensia mengkontak beberapa relatif, ibu kami untuk bisa membantu menjualkan telur dari alfa omega. Hal – hal kecil ini mulai dari simpati saya dan Laurensia ke Bu Lisa dan keluarganya dan melihat bagaimana ia berjuang untuk sekolah Alfa Omega. Kami membantu, tidak perlu dibayar, kadang kami melihat Bu Lisa juga sedemikian, membantu tanpa perlu bayaran. Sebuah prinsip filosofi Jawa, Rame ing gawe,sepi ing pamrih, memayu hayuning bawono (giat bekerja,membantu dengan tanpa pamrih,memelihara alam semesta/ mengendalikan hawa nafsu).

Hari pertama, bisa terjual 80 telur, selanjutnya 150 telur, dan selanjutnya 200 telur. “Ada 4 ayam petelur yang mati pak” kata bu Lisa di satu pagi, telurnya terlalu besar jadi tidak bisa keluar. Hal – hal tersebut terjadi beruntun.

Nassim Nicholas Taleb di dalam buku Black Swan menulis mengenai hal – hal yang tidak terduga yang merubah proyeksi masa depan. Hal tersebut juga dibahas Malcolm Gladwell di dalam Tipping point dimana ada hal – hal kecil yang memicu lompatan kejadian – kejadian selanjutnya. dalam konteks proyek kandang ayam ini, prediksi dan antisipasi sangatlah penting di awal memulai berbisnis. Sesederhananya ada kejadian yang memang di luar kehendak, kuasa kita sebagai seseorang yang sedang berjalan di dalam karir, ekosistem bisnis, personal. Dan ada juga kejadian yang muncul karena persiapan yang matang, terprediksi dengan konsistensi. Kematangan tersebut muncul dari persiapan teknis yang baik, rapih, mudah dilaksanakan, efisien dan kritis. Hal – hal tersebut adalah permulaan proses kreatif. Saya mendiskusikan dengan Bu Lisa untuk pentingnya membersihkan kandang, memperhatikan ayam – ayam tersebut, dan mengganti 4 ayam yang mati.

Kehidupan di studio berjalan seperti biasa, saya sendiri sangat bahagia dengan kondisi kehidupan kami. Saya merasa perjalanan berarsitektur memiliki tahapan – tahapan. Dari jujur berproses saya pikir tim desain akan semakin solid, informasi akan merata dan detail tektonika pun akan semakin kaya. Di balik semua karya yang saya desain saya beranggapan bahwa arsitek dikenal dari karya – karyanya yang sebenarnya ada dalam hitungan jari, jadi membangun portfolio akan semakin penting. Itulah latar depan dari konstelasi kehidupan arsitek, yaitu karya atau proyek yang memiliki klien dan kehidupan di baliknya.


Kehidupan di studio berjalan seperti biasa, saya sendiri sangat bahagia dengan kondisi kehidupan kami. Saya merasa perjalanan berarsitektur memiliki tahapan – tahapan. Dari jujur berproses saya pikir tim desain akan semakin solid, informasi akan merata dan detail tektonika pun akan semakin kaya. Di balik semua karya yang saya desain saya beranggapan bahwa arsitek dikenal dari karya – karyanya yang sebenarnya ada dalam hitungan jari, jadi membangun portfolio akan semakin penting. Itulah latar depan dari konstelasi kehidupan arsitek, yaitu karya atau proyek yang memiliki klien dan kehidupan di baliknya.
Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah latar belakang, kehidupan belakang panggung yang mendasari bagaimana saya menulis di blog ini sejak 2005. Saya percaya bahwa penting untuk para arsitek berbagi cerita mengenai orang ketiga, ekosistem di sekitar arsitek dan studio perancangannya. Kemarin kami mempublikasikan satu platform kami di IG(instagram) : GuhaTheGuild.

Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah latar belakang, kehidupan belakang panggung yang mendasari bagaimana saya menulis di blog ini sejak 2005. Saya percaya bahwa penting untuk para arsitek berbagi cerita mengenai orang ketiga, ekosistem di sekitar arsitek dan studio perancangannya. Kemarin kami mempublikasikan satu platform kami di IG(instagram) : GuhaTheGuild.

Saya melihat bagaimana apabila informasi yang dasar tersebut dibagikan dengan gratis, bukankah itu akan membantu banyak orang yang sedang mencari jalannya masing – masing ?

Mungkin sesederhananya mengkomunikasikan kenapa arsitektur itu begitu dahsyat, dan berharga. Dan juga sesederhana berbagi bagaimana membangun ekosistem, mengapresiasi satu sama lain di dalam tim, sesama kolega. Dan sesederhanananya juga pentingnya merefleksikan diri, sadar bahwa setiap saat memulai kembali proyek, membangun tim, adalah saat meletakkan harga diri kita sebagai arsitek, dan turun untuk melayani dengan sepenuh hati.

Platform GuhaTheGuild : Setiap arsitek memiliki rahasia – rahasianya sendiri, dan begitupun ekosistem di sekitar arsitek dan studio perancangannya. Kemarin tim saya mempublikasikan satu platform kami di IG(instagram) : GuhaTheGuild. Saya melihat bagaimana apabila informasi yang dasar tersebut dibagikan dengan gratis, bukankah itu akan membantu banyak orang yang sedang mencari jalannya masing – masing. Mungkin sesederhananya mengkomunikasikan kenapa arsitektur itu begitu dahsyat, dan berharga. Dan juga sesederhana berbagi bagaimana membangun ekosistem, mengapresiasi satu sama lain di dalam tim, sesama kolega. Dan sesederhanananya juga pentingnya merefleksikan diri, sadar bahwa setiap saat memulai kembali proyek, membangun tim, adalah saat meletakkan harga diri kita sebagai arsitek, dan turun untuk melayani dengan sepenuh hati. Difollow ya yang tertarik. :)

Kira – kira dua minggu yang lalu tim Apple TV datang ke rumah, dan mereka mendokumentasikan bagaimana saya dan tim bekerja, termasuk menghabiskan waktu bersama Laurensia, Miracle dan Heaven. Di dalam proses pengambilan momen tersebut berlangsung selama hampir 2 minggu, setiap harinya saya perlu siap jam 6 pagi. Dari situ saya melihat proses sprint atau kerja tim kelas dunia (selayaknya atlit olimpiade) yang berjumlah hampir 20 -30 orang setiap harinya. Mereka bekerja sangat cepat, kompak, dan hal – hal tersebut dijalankan dengan effortless. Saya berdiskusi dengan sang sutradara dan produser yang berbagi cerita mereka yang akan kita bahas di lain waktu. Mereka ini adalah para nominator penghargaan sekelas academy award.

Di dalam salah satu diskusi dengan mereka, saya bercerita mengenai bagaimana pentingnya kandang ayam di Alfa Omega untuk pengembangan sekolah ke depannya, dan satu saat setelah break, satu orang berbisik di sebelah saya.

“Pak, biasanya kalau beternak ayam, akan habis semua, sampai akhirnya sukses.” ” Habis semua pak ?” jawab saya. “Iya, mati semua” jawab orang tersebut. Dari situ saya sadar bahwa saya perlu memberitahukan bu Lisa, perlu bersiap – siap. Satu hal yang negatif akan menjalar, mulai dari hal yang sederhana, bersiap – siap memperhatikan hal – hal yang detail.

“Gimana bu hasil peternakannya hari ini ?”

“Puji Tuhan pak 400 telur siap di tray hari ini”

“Laurensia pun siap dengan sapaan di pagi hari ini ke relasi kami untuk membantu Bu Lisa, telur sudah siap ada 400 telur hari ini.”

Dari cerita studio, dan cerita tentang bu Lisa, memberikan inspirasi kepada saya bahwa cerita Guha yang dimulai di Piyandeling, di The Guild, dan yang sebuah gua itu bisa jadi cerita untuk bu lisa yang sedang membangun Guhanya di Alfa Omega. Dari situ saya memikirkan apabila kita membangun arsip digital transformasi belakang pangung dari proses kreatif berkarya kami, mungkin hal ini bisa lebih bermanfaat untuk banyak orang.


Saya belajar bahwa selebih – lebihnya orang yang memberi, rejeki dari Nya tidak akan kurang sedikitpun. Jangan pernah berhenti memberi karena dibalik itu masa surga yang penuh dengan berkat.

Catatan Levi Gunardi : “Tidak ada yang lebih membahagiakan dari para petani ketika musim panen tiba.  Sesuatu yang ditunggu-tunggu dari awal, jerih payah yang telah mereka tuang sepenuhnya adalah untuk masa ini.”

Hari ini Laurensia berulang tahun, dan kami sudah mendapatkan berkat berlimpah dengan anak – anak yang memberikan kebahagiaan. Laurensia, Miracle dan Heaven muncul. Kami merayakan ulang tahun Laurensia dengan sederhana, ia sudah berumur 39 tahun di tanggal 22 Mei. Miracle menyapa menghampiri untuk memeluk,

ia berkata “Papa”

Celoteh seperti itu sudah cukup untuk membuat saya berhenti menulis. Pikiran saya menerawang kembali ke perjalanan kembali ke Piyandeling.

What is future ? sometimes it’s covered by uncertainty.
feeling architecture by touching it’s surface and beyond skin deep
by knowing fragility of architecture. It can evolve to unlimited Bricolages.

Translate to English

 “Pak Amud, please excavate this with a diameter of 3 m, I want to try to see the bottom of the fill soil, until the soil is hard, as far as I know, Pak Eddy dug up to 2 meters and built almost 2 m of retaining sheeting.”

The Piyandeling project has difficulties due to its location at the top of a hill, it is difficult to find labor and its location is far from the crowds. I tried them – experimental designs using bamboo and concrete reinforcement, to what extent, this drum shape can withstand, and is expressive in its simple “one way” language. This one go is basically like once pouring concrete, we have gained the structural strength, aesthetics, and function of the room.

At the time of construction at the base of the concrete wall there was a river stone which was already there. Piyandeling itself is a game of primitive language, the language of the platonic form. Behind the simplicity there is beauty to be understood by the people who visit.

Like the repertoire of songs Fragment and Tembang Alit Indonesia beautifully played by Gillian Geraldine, a song composed by Jaya Suprana. The repertoire in architecture is also related to experiments – experiments on new adaptations (For example, in architecture known as tectonic detail – tectonic), a unique movement that has never happened while also referring to traditional records that make the collaboration of the two to form Fragments. Architecture also flows like a river like Tembang Alit. It’s like in architecture known for the method that flows without limits, an effort to realize daily adaptation, Bricolage.

The morning after I prayed and meditated, sometimes a call came up. From reminding to maintain a diet, reminding not to forget to check this project, this detail, and don’t forget the room for Laurensia, Miracle and Heaven. Like the cave being built in Piyandeling this is an attempt to find warmth, thermals, as well as programs, and experiences, as well as materiality. This room is the warmest prayer room in Piyandeling built with the warmth of bamboo craftsmen.

“Mom, how many eggs are ready today?” Mrs. Lisa replied, “Yesterday we got 80 sir, today 210.” In the past few months, we have seen each other quite often.

The chicken eggs we’re talking about come from the chicken farm at the Alfa Omega school. About a year ago, when the pandemic arrived, Mrs. Lisa told how she got inspiration from someone who has succeeded in developing a farm to help her orphanage, named Pak Gaspar. From there, Mrs. Lisa invited me to visit the farm. “Miss Lisa, you have helped me a lot, sir, now I want to help mother.” This sentence came up when I asked him how he was related to Mrs. Lisa.

These questions are important to ask before starting the chicken coop project which begins by asking relevant questions, about who started, how to start, and what are the things that might hinder. Such information is important for establishing context, how one thing is formed and how one thing affects another. From that I can learn, to appreciate the process of growing requires strong roots.

One time I was discussing with Laurensia about how Mrs. Lisa was struggling to run her laying hens farm in Alfa Omaga. One moment later Laurensia contacted some of our relatives, our mother, to help sell eggs from alpha omega. These little things started from my and Laurensia’s sympathy to Mrs. Lisa and her family and seeing how she fought for the Alpha Omega school. We help, we don’t need to be paid, sometimes we see Mrs. Lisa as well, helping without paying anything. A principle of Javanese philosophy,, Rame ing gawe,sepi ing pamrih, memayu hayuning bawono (working hard, helping selflessly, preserving the universe/controlling lust).

The first day, you can sell 80 eggs, then 150 eggs, and then 200 eggs. “There are 4 laying hens that died, sir,” said Mrs. Lisa one morning, the eggs were too big so they couldn’t come out. These things happened successively.

Nassim Nicholas Taleb in the book Black Swan writes about unexpected things that change future projections. This is also discussed by Malcolm Gladwell in Tipping point where there are small things that trigger a jump in the next events. In the context of this chicken coop project, prediction and anticipation are very important at the beginning of starting a business. Simply put, there are events that are beyond our will, our power as someone who is running in the career, business ecosystem, personal. And there are also events that arise because of careful preparation, predictable with consistency. This maturity arises from good technical preparation, neat, easy to implement, efficient and critical. These things are the beginning of the creative process. I discussed with Mrs. Lisa the importance of cleaning the coop, paying attention to the chickens, and replacing the 4 chickens that died.

 Life in the studio went on as usual, I myself was very happy with our living conditions. I feel that the architectural journey has stages. From the honest process, I think the design team will be more solid, the information will be evenly distributed and the tectonic details will be richer. Behind all the works that I design I think that architects are known from their works that are actually on the fingers, so building a portfolio will be even more important. That is the foreground of the constellation of the architect’s life, namely the work or project that has a client and a life behind it.

Besides that, what is no less important is the background, the backstage life that underlies how I write on this blog since 2005. I believe that it is important for architects to share stories about third people, the ecosystem around architects and their design studios. Yesterday we published one of our platforms on IG(instagram): GuhaTheGuild.

I see how if the basic information is shared for free, won’t it help many people who are looking for their own way?

It may be as simple as communicating why architecture is so powerful, and valuable. And also as simple as sharing how to build an ecosystem, appreciating each other in the team, fellow colleagues. And simply as important as self-reflection, knowing that every moment of restarting a project, building a team, is a time to put down our pride as architects, and come down to serve with all our heart.

About two weeks ago the Apple TV team came to the house, and they documented how the team and I worked, including spending time with Laurensia, Miracle and Heaven. In the process of capturing the moment it lasted for almost 2 weeks, every day I needed to be ready at 6 am. From there I saw the sprint process or world-class team work (like Olympic athletes) which amounted to almost 20 -30 people every day. They work very fast, are compact, and they are executed effortless. I discussed with the director and producer who shared their stories which we will discuss at a later time. These are the nominees for the academy award class.

 In one of the discussions with them, I talked about how important the chicken coop at Alfa Omega is for the future development of the school, and one moment after the break, one person whispered next to me.

“Sir, usually if you raise chickens, it will be all gone, until you finally succeed.” “Is it all over, sir?” answer me. “Yes, all dead” replied the man. From there I realized that I needed to tell Mrs. Lisa, I needed to get ready. One negative thing will spread, starting from simple things, get ready to pay attention to details.

“How’s the farm today, ma’am?”

“Praise God pack 400 eggs are ready in the tray today”

“Laurensia is ready to greet our relatives this morning to help Mrs. Lisa, 400 eggs are ready today.”

From the studio’s story, and the story about Mrs. Lisa, it inspired me that Guha’s story which started in Piyandeling, at The Guild, and that a cave could be a story for Mrs. Lisa who is building Guhanya at Alfa Omega. From there, I thought that if we build a digital archive of behind-the-scenes transformation of our creative process, maybe this can be more useful for many people.

I learned that the more people who give, the sustenance from Him will not be lacking in the slightest. Never stop giving because behind it is a heaven full of blessings.

Today is Laurensia’s birthday, and we have been blessed with many happy children. Laurensia, Miracle and Heaven appeared. We celebrated Laurensia’s birthday in a simple way, she turned 39 on May 22. Miracle greets coming over for a hug,

Such babbling was enough to make me stop writing. My mind wandered back to the trip back to Piyandeling.

Kategori
blog

Guha Memanggil

Semburat cahaya menyinari dak lantai bambu di Piyandeling. Bayangan batang – batang bambu terpapar di lantai membentuk pola – pola batang – batang bambu yang berjajar, seperti metafora hutan bambu. Di balik latar terlihat susunan ramp yang melingkar memeluk tiang yang sekaligus berfungsi sebagai pemisah hubungan ruang privat. Ruang tersebut ada di lantai dasar yang terhubung dengan kebun dan wadah yang terbuka. Begitu masuk dari pintu utama, kita bisa melihat ramp dan dak bambu sebagai komposisi bangunan yang melayang di atas tanah, sebuah komposisi adaptasi dari bangunan tradisional Sunda, Imah Julang Ngapak. Ramp digunakan untuk proses memasuki ruang, sebagai sebuah wadah transisi. Elemen ini menyatukan sisi vertikal dan horisontal di bagian Piyandeling yang disebut Kujang. Atapnya menari naik dan turun, membentuk metafora seperti namanya, bentuk ini berkembang dari sekolah Alfa Omega sehingga bertransformasi seutuhnya dengan materialitas bambu seutuhnya.

Begitu masuk dari pintu utama, kita bisa melihat ramp dan dak bambu sebagai komposisi bangunan yang melayang di atas tanah, sebuah komposisi adaptasi dari bangunan tradisional Sunda, Imah Julang Ngapak. Ramp digunakan untuk proses memasuki ruang, sebagai sebuah wadah transisi.
Ketukangan yang diolah disini adalah ketukangan tradisional Sunda yang dikembangkan oleh kawan – kawan tukang dari Sumedang. Ramp selebar 1 m ini pun juga demikian dengan bambu – bambu yang menjadi rangkanya yang juga berfungsi sebagai pegangan tangan dengan kesederhanaan konstruksi, bahasa pasak dan perekat.

Piyandeling dikerjakan oleh 4 orang pengrajin yang bekerja bereksperimen dengan ketukangan bambu, membuat elemen – elemen pintu – jendala putar, memanfaatkan bahan – bahan sampai tidak bersisa. Bentuk massanya sederhana, platonis dengan elemen yang terdiri dari bentuk – bentuk alam. Ketukangan yang diolah disini adalah ketukangan tradisional rumah Sunda yang dikembangkan oleh kawan – kawan tukang dari Sumedang. Ramp selebar 1 m ini pun juga demikian dengan bambu – bambu yang menjadi rangkanya yang juga berfungsi sebagai pegangan tangan dengan kesederhanaan konstruksi, bahasa pasak dan perekat.

Piyandeling dikerjakan oleh 4 orang pengrajin yang bekerja bereksperimen dengan ketukangan bambu, membuat elemen – elemen pintu – jendala putar, memanfaatkan bahan – bahan sampai tidak bersisa.

Satu kawan saya, Anas mengingatkan ketika kami berdiskusi soal pentingnya proses, ia berkata “Terkadang kita lupa untuk bersyukur dibalik seluruh proses yang ada, ia melanjutkan,

KAS ( Ki Ageng Suryomentaram) itu seperti Bima dlm cerita Dewa Ruci…Bima yg benar2 ada…Ya dia mencari kebenaran gk ke mana2. Ya dari dirinya sendiri. Betul. Kan ceritanya perjalanan jauh, tp itu hanya kiasan. Justru diri sendiri ini yg sebenarnya sangat jauh. Krn orang sering lupa, sibuk meniru orang lain. Jika kamu menghadap ke utara, apa yg paling jauh di utara sana ? Ya punggungmu, karena bumi ini bulat. Lawan terkuat sebetulnya ya diri sendiri. Kalo dari sloki (tahap kemabukkan) ya sloki ke 10: dasa buta (nama tingkatan kemabukkan terakhir) … mati. Balik nol lagi. Maka di Jawa yg utama adalah Slamet (selamat), bukan bener (benar).

Berbeda dengan Guha yang ada di Jakarta, Piyandeling menggunakan elemen tradisional dan mencoba mendekati desain dari sudut pandang ketukangan tradisional. Sedangkan Guha menggunakan adaptasi antar material industri dan fiber. Guha melambangkan kota dengan gemuruh kompleksitas rumah petak di dalamnya, kehidupan studio yang intensif, efisiensi, kecepatan, presisi, konsep-ide-gambar-membangun. Dan, Piyandeling melambangkan ketenangan desa dengan kedamaian yang sunyi.

Guha menggunakan adaptasi antar material industri dan fiber. Guha melambangkan kota dengan gemuruh kompleksitas rumah petak di dalamnya, kehidupan studio yang intensif, efisiensi, kecepatan, presisi, konsep-ide-gambar-membangun.
Berbeda dengan Guha yang ada di Jakarta, Piyandeling menggunakan elemen tradisional dan mencoba mendekati desain dari sudut pandang ketukangan tradisional. Piyandeling melambangkan ketenangan desa dengan kedamaian yang sunyi.

Laurensia mengingatkan setiap harinya untuk tidak lupa bersyukur, membicarakan setiap permasalahan di dalam saat – saat kami makan bersama. Di saat – saat itu saya bisa menghargai kualitas waktu yang sungguh menjadi sangat berharga sekarang ini.

Beberapa hari terakhir ini juga, saya berdiskusi cukup intensif dengan tim internal studio, beberapa desainer, craftsmen, dan para advisor. Keseluruh-lapisan yang ada memiliki curahan hati yang berbeda. Saya bangun pagi – pagi hanya untuk menyelesaikan sketsa – sketsa dan menyusun jadwal di hari itu, kemudian di jam 09.00 desainer, pustakawan, admin mulai datang saya sering menyapa mereka di pagi hari “gimana progressmu, apa semua pekerjaan lancar ?” Saya hanya ingin memastikan apa mereka mengalami kesulitan.

Sejauh ini perimeter kami masih aman, dan meskipun keluarga anak – anak studio kami juga ada yang terkena Covid, namun Puji Tuhan semua orang, kerabat masih sehat, dan berangsur – angsur kembali normal dengan penyesuaian, tanpa kurang suatu apapun. Sering kali saya lupa bahwa kehidupan manusia begitu rapuhnya yang terkadang mengagetkan kita dengan senda gurau dan tawa air mata. Foto oleh gabby (IG: veronica.capture)

Prinsip keselamatan ini, diwarnai dengan saat – saat kami saling mengapreasiasi satu sama lain, di dalam studio sekarang, kami mengadakan acara selamatan berupa hari apresiasi. Di satu hari itu kami memilih satu orang yang terbaik dari 3 divisi berbeda, desain, administrasi, dan perpustakaan. Di saat tersebut, orang – orang bergantian memberikan testimonial terhadap orang tersebut. Momentum tersebut seperti titik kompas, kembali ke titik awal, bagaimana sesederhananya bekerja adalah proses untuk belajar, mengapresiasi dan mengenali diri sendiri. Di dalam acara tersebut saya juga memberikan apresiasi bonus dan meminta Farhan untuk merekamnya untuk kebersamaan.

Kira – kira setahun yang lalu pandemi Covid ini mulai muncul di Indonesia. Saya pikir Covid ini setidaknya sedikit membawa refleksi di dalam tim studio kami. Setidaknya filosofi ini menjadi penting, untuk menyadari bahwa masih diberikan kesehatan, rejeki, dan waktu berkumpul keluarga atau teman terdekat. Munculnya kesadaran akan merasa lebih dari cukup sungguhlah proses yang berharga. Saya ingat waktu itu kira – kira sore hari, saya mengumpulkan anak – anak studio . Saya menanyakan apa ada kemungkinan anak – anak studio untuk pulang ke rumah masing – masing.

Baru satu hari sebelum pertemuan tersebut di satu tahun yang lalu, saya mengecek grafik kematian di Korea dan China yang signifikan, Singapore, dan beberapa negara lainnya. Presiden Joko Widodo pun mengumumkan 3 kasus pertama di Indonesia. Di saat itulah saya sadar, pandemi sudah di depan mata. Setelah itu 3 cluster pun terbentuk, seperti cluster pertama untuk yang tinggal di The Guild, cluster kedua untuk yang tinggal di luar The Guild, anak – anak bekerja dengan masker diperimeter The Guild. Cluster ketiga adalah anak – anak yang bekerja dari jarak jauh.

Tahap pertama saya perlu mengamankan arus kas yang ada di studio. Kami memecah waktu kerja menjadi setengah – setengah untuk satu minggu. Dan bergantian ada yang masuk penuh, karena perlu menjaga putaran keuangan untuk memberikan THR secara penuh dan menjaga arus kas untuk 6 bulan ke depan dengan minimnya proyek yang ada. Baru 5 bulan kemudian, situasi berangsur – angsur pulih.

Sejauh ini perimeter kami masih aman, dan meskipun keluarga anak – anak studio kami juga ada yang terkena Covid, namun Puji Tuhan semua orang, kerabat masih sehat, dan berangsur – angsur kembali normal dengan penyesuaian, tanpa kurang suatu apapun. Sering kali saya lupa bahwa kehidupan manusia begitu rapuhnya yang terkadang mengagetkan kita dengan senda gurau dan tawa air mata.

ke-Slamet-an penting sebagai basis landasan untuk maju ke tahapan selanjutnya. Hal ini terlihat di dalam proses Tumpeng, atau manifest Tumpang Sari yang bertahap – tahap melangkah untuk hal yang lebih baik. Sejak Pandemi datang, akar semakin kuat, relasi semakin nyata, jembatan saling menyambung, dan saya bisa ucapkan Terima Kasih Tuhan.

Tumpang Sari di Guha The Guild : ke-Slamet-an penting sebagai basis landasan untuk maju ke tahapan selanjutnya. Hal ini terlihat di dalam proses Tumpeng, atau manifest Tumpang Sari yang bertahap – tahap melangkah untuk hal yang lebih baik. Sejak Pandemi datang, akar semakin kuat, relasi semakin nyata, jembatan saling menyambung, dan saya bisa ucapkan Terima Kasih Tuhan.

Lisa Sanusi bercerita mengenai tumpang menumpang di dalam ceritanya soal Nasi Tumpeng yang pada hakikatnya menumpang satu sama lain menjadi jembatan yang teranyam kuat.

Ia menulis “Tumpeng menceritakan … susunan anak tangga demi anak tangga kehidupan yang akan kita naiki … betapa tingginya dan dalamnya sebuah perjalanan … tumpeng harus punya dasar yang kokoh dan kuat untuk menopang sampai kepuncak panggilan, dihiasi dengan banyak hal kehidupan yang kita bisa nikmati …

ada banyak rasa dan warna berjuta rasa dan asa … dalam kehidupan … bulat bentuknya menandakan kebulatan hati dan tekad ….

sahabat yang jarak tempuh jauh seperti jembatan teranyam kuat satu… hati kami berpaut…”

Satu saat ketika saya kembali ke Piyandeling dan menatap langit – langit, memahami lompatan selanjutnya, Laurensia memanggil “Yang yuk makan, sebentar lagi kita kembali lagi ke Jakarta.” Guha sudah memanggil dari kejauhan dengan gaung dan gemanya.

.
Terima kasih Guha dan Piyandeling, pengrajin dan keseluruhan tim sudah membantu membangunnya. Satu saat ketika saya kembali ke Piyandeling dan menatap langit – langit, memahami lompatan selanjutnya, Laurensia memanggil “Yang yuk makan, sebentar lagi kita kembali lagi ke Jakarta.” Guha sudah memanggil dari kejauhan dengan gaung dan gemanya. Di antara dua kutub Guha dan Piyandeling, pelajaran dimulai kembali. Foto terakhir adalah foto spesial karena ada Mang Uyu (ditengah) ibaratnya beliau adalah kapten bambu dari Sumedang dengan ketukangannya. Mang Saniin di bawah, Mang Rojak di kanan, Mang Dede di belakang.
.

Foto terakhir adalah foto spesial karena ada Mang Uyu (ditengah) ibaratnya beliau adalah kapten bambu dari Sumedang dengan ketukangannya. Mang Saniin di bawah, Mang Rojak di kanan, Mang Dede di belakang.
Lisa Sanusi bercerita mengenai tumpang menumpang di dalam ceritanya soal Nasi Tumpeng yang pada hakikatnya menumpang satu sama lain menjadi jembatan yang teranyam kuat. Ia menulis “Tumpeng menceritakan … susunan anak tangga demi anak tangga kehidupan yang akan kita naiki … betapa tingginya dan dalamnya sebuah perjalanan … tumpeng harus punya dasar yang kokoh dan kuat untuk menopang sampai kepuncak panggilan, dihiasi dengan banyak hal kehidupan yang kita bisa nikmati … ada banyak rasa dan warna berjuta rasa dan asa … dalam kehidupan … bulat bentuknya menandakan kebulatan hati dan tekad …. sahabat yang jarak tempuh jauh seperti jembatan teranyam kuat satu… hati kami berpaut…” Sejak Pandemi datang, akar semakin kuat, relasi semakin nyata, jembatan saling menyambung, dan saya bisa ucapkan Terima Kasih Tuhan.


Kategori
blog

realrich sjarief of raw architecture speaks the power of architectural literacy

people by shafa diandra

when we hear the word “designing”, many of us are often fixated on a portrait of a particular object, structure, or craft worth remembering functionally and aesthetically. however, perhaps also many of us underestimate the power of literacy that brings these very objects to life.


this is where realrich sjarief, a former architect at foster & partners, a poetic believer and founder of jakarta-based raw architecture, and principal architect of the famous alpha omega school and the notable omah library – sees how architectural literacy shapes one’s success story. it is a tool that creates a safe haven for one personal’s space – not only to fantasize and imagine what is yet to come, but also to broaden our horizons.

sjarief spent most of his life reading and writing architectural literature, emphasizing literacy through craftsmanship, people, and material, which led him to such methodology and philosophy.

the story began with his fond childhood memory of accompanying his father to construction sites and with his love for books that gradually turned into a passion for writing and delivering stories through design.

understanding literacy

when i was working in borneo during the great recession, i read many books and found them to give me all kinds of imaginations and the ability to understand people and settings. so reading became my escape from work and my safe haven.

then when i got accepted to bandung’s institute of technology, i came across a book by norman foster that speaks about curiosity and technology. i was lucky that i got an opportunity to work at fosters and partners and to have many amazing mentors at the start of my career. and it was the tall and narrow library at foster and partners that gave me my passion in architectural literacy, as i saw it becoming a ground for discussions to happen around a great mix of people, works, and beliefs.

it is all about a network of people

for me, architecture literacy is the essence of critical and creative thinking in architecture. it is about creating a network of people to share thoughts and discuss matters.

when we talk about literacy, it isn’t all about written stories, but it needs to be spoken as well. to be literate is not to be cynical. literacy simply means a space, whether a physical space or an imagining community, to understand that the world of knowledge has multiple perspectives – it is very broad. you have to acknowledge that you are part of something greater than you, so it is about the maturity of knowing information and digesting knowledge. 

creating the “ecosystem” in the constantly-changing era 

architectural literacy really helps me out whenever i am stuck in a certain project. reading case studies, theories, history, even rereading my own manuscripts will make us see different methods that remind us to not look into our problem from a single point of view only. reflect – review your work – act differently – and find new things. it truly is a method that broadens one’s horizon, because it is only by experiencing the real and the fantasy world that we can create an extraordinary solution.  

more in the website of Design Story here : https://www.thedesignstory.com/blog/people/realrich-sjarief-of-raw-architecture-speaks-the-power-of-architectural-literacy

and here the recording of the session :

Realrich Sjarief shares about sharpening both creative and critical minds when it comes to practicing, appreciating, and understanding a work of architecture and also about the importance of nurturing micro-communities to encourage learning together.

SHOW LESS

read the full article on the design story:
https://www.thedesignstory.com/blog/p…
———————————————–
the design story is a weblog for cutting-edge news and development in architecture and design, and a curated shop of design products. our mission is to bring you a carefully edited selection of the best, sustainable, and innovative architecture design and interior projects and news from around the world. follow and subscribe to our page:
website: https://www.thedesignstory.com/​ blogs: https://www.thedesignstory.com/blog​ instagram: https://instagram.com/thedesignstoryy​ podcast: https://open.spotify.com/show/6NhB2Fz​… twitter: https://twitter.com/thedesignstoryy​ Pinterest: https://pinterest.com/thedesignstoryy/

Kategori
blog

Other Ways of Doing Architecture, Lecture at PAM Malaysia (Pertubuhan Akitek Malaysia) Malaysian Institute of Architects

I will be presenting the lecture in title of Other Ways of Doing Architecture. Gary Yeow contacted me. As part of the co-organised sharing session with Malaysia Institute of Architects, this forum will be speculating on “Other Ways of Doing Architecture” – inspired by Spatial Agency’s publication. The first session here, conducted in December 2020. As Gary was browsing through my portfolio work, he noticed a great amount of details and experiments in my projects, especially Alfa Omega and Guha (with Omah Library & your studio), while other projects showcased great understanding of materiality as well.


The other architects are invited to the discussion such as Jan Glasmeier, from SimpleArchitecture (I know him from Design United India) and One Bite Studio from Hongkong – both are more on curations and workshops – Gary thought on looking at local materials and cultural craftsmanship ( sharing the behind-the-scenes of these successful projects?) – how these connect to genius loci and essence of Indonesia – are the core values they are very excited for.

It’s event supported by Taylor Insitute and Pertubuhan Akitek Malaysia (PAM) – Malaysian Institute of Architects – is the national professional institute representing architects in Malaysia.

https://www.facebook.com/PertubuhanAkitekMalaysia/videos/789442701951064/

Here is the link shared by Gary Yeow in his email. I found out that the discussion led by three moderators, Gary, Hazeek, and Joyee are profound, I learnt architecture as social agency from Jan and how social platform can breach towards new understanding in Sarah’s presentation. Please have a look if you are interested in link above, I do learn from them.

Here is some points that I would like to share from Laurensia’s in our journey to find happiness, in my case being a father, architect, and together with her, the dentist who supports our life as family and the lease is Miracle and Heaven ! our lovely angelic son.

Kategori
blog

Interview with Realrich Sjarief, Founder of Realrich Architecture Workshop

From his firm located on the outskirts of Jakarta, Realrich wants to design buildings that are timeless and break out of the mould.

I’ve done interview with Vaibhav Srivastava Editor-in-Chief of Design City Lab. It’s on today, please visit

https://designcitylab.com/post/people/interview-with-realrich-sjarief-founder-of-realrich-architecture-workshop

Here is some discussion in interview summed by Vaibhav,

From his firm located on the outskirts of Jakarta, Realrich wants to design buildings that are timeless and break out of the mould. His architecture comes across as honest, simple and grounded in locality which he says is achieved by working closely with regional craftsmen and adopting a minimal local material palette. He belongs to the new breed of architects that is redefining design innovation in building industry and creating a new design language for a new Indonesia.

I have inspired by may people including Y.B. Mangunwijaya, learning the core of explorations and attitude of practice.

” Vaibhav : Which architects inform and inspire your work?

I took three trips which I refer to as pilgrimages. The first one was to see the work of Alvar Aalto. I find his work amazing because of its simplicity. I really respect him as an architect because he created functional designs with ordinary and low cost materials. Second visit was to see Le Corbusier’s work. He had the ability to make fairly simple architecture, which is at the same time very thought-provoking. Third architect that really inspire me is Carlos Scarpa. Scarpa’s attention to detail is almost unmatched and his attention to the smallest details brings his work to a point of simplicity, where even waste becomes the grammar of the design. The Indonesian figure that inspires me the most is Father Y.B. Mangunwijaya, who is an architect, writer, and philosopher. He taught me how to use local material and encouraged me to keep an attitude of having discussions with craftsmen and produce intellectual process on making.

Here are questions elaborated by him.

  1. Could you give us a brief introduction about yourself and your firm?
  2. How do you reflect on the journey of your firm in last 10 years?
  3. What is the role of form-making in your projects?
  4. What is the role of form-making in your projects?
  5. How do you measure success in your projects?
  6. What are the biggest challenges that you face?
  7. How do you support craftsmen through your work?
  8. Can you see timber and bamboo being widely used in a mega city like Jakarta for construction?
  9. The Alpha Omega project was finished on site in six months. How did you achieve such efficiency on site?
  10. How do you approach sustainability in your work?
  11. Which architects inform and inspire your work?
  12. How does your work in university inform your work as an architect?

These questions are amazing, thought very carefully to bridge a learning, practice, teaching experience. Looking at this experience being interviewed with him, I feel that I need to gather my methodology again, this time more integrated, evaluated. It’s looping process.

“To become an architect, we need to learn how to think, draw and critically evaluate ourselves. In academics there is peer pressure to always keep evolving your design and keep improving. We are always evaluating our work and making sure we are contributing to the discourse around architecture. Teaching helps to keep my practice working, as in a small campus where we all are learning from each other, developing feedback loops.”,

please look at the link above. Thank you Vaibhav for the session of support and I also learn by connecting the discourse that you have. I love to read some of your interview with other people and your article about 2021 pritzker prize, you try to have a thought about what’s beyond form investigating the context of the practice, people, and impact of the project to people’s life.

“To become an architect, we need to learn how to think, draw and critically evaluate ourselves. In academics there is peer pressure to always keep evolving your design and keep improving. We are always evaluating our work and making sure we are contributing to the discourse around architecture. Teaching helps to keep my practice working, as in a small campus where we all are learning from each other, developing feedback loops.”,
Kategori
blog tulisan-wacana

Cangkirku, Kehidupan yang Kedua

Bangunan dengan atap meliuk – liuk ini adalah bangunan dengan struktur panggung yang terbuat dari konstruksi bambu, dengan grid 5.0 m dan 4.0 m untuk mengakomodasi fungsi ruang perpustakaan, kamar tidur, dan ruang pertemuan. Strukturnya seperti bentuk kupu – kupu atau kepakan sayap burung yang dielaborasi dari proyek Alfa Omega. Balok bambu dikakukan dengan dagu – dagu (pengkaku), sementara kolom duduk di atas umpak batu kali yang dihubungkan dengan konstruksi bambu sebagai pelataran di lantai dasar.

Bangunan dengan atap meliuk – liuk ini adalah bangunan dengan struktur panggung yang terbuat dari konstruksi bambu, dengan grid 5.0 m dan 4.0 m untuk mengakomodasi fungsi ruang perpustakaan, kamar tidur, dan ruang pertemuan. Strukturnya seperti bentuk kupu – kupu atau kepakan sayap burung yang dielaborasi dari proyek Alfa Omega.
Balok bambu dikakukan dengan dagu – dagu (pengkaku), sementara kolom duduk di atas umpak batu kali yang dihubungkan dengan konstruksi bambu sebagai pelataran di lantai dasar.

Bentuk – bentuk melengkung ini sebenarnya pernah saya elaborasi di dalam Kampono (Dancer) House sebelumnya di dalam konstruksi beton dengan perhitungan terhadap sisi panas, angin yang mengalir di dalam desain massa – kulit bangunan sampai detail – detail yang lain. Dan, di balik permainan bentuk – bentuk melengkung yang muncul, ada logika kekuatan dan estetika yang terinspirasi dari bahasa alam.

Bentuk – bentuk melengkung ini sebenarnya pernah saya elaborasi di dalam Kampono (Dancer) House sebelumnya di dalam konstruksi beton dengan perhitungan terhadap sisi panas, angin yang mengalir di dalam desain massa – kulit bangunan sampai detail – detail yang lain. Dan, di balik permainan bentuk – bentuk melengkung yang muncul, ada logika kekuatan dan estetika yang terinspirasi dari bahasa alam.

Selain sisi tradisional yang ditonjolkan, sisi industri juga muncul dengan komposisi bentuk atap yang melengkung ditutupi dengan daun Nipah yang dikombinasikan dengan membran tahan air untuk atap.Membentuk Julang Ngapak sebagai bangunan vernakuler tradisional Jawa Barat. Balustrade bambu yang dilengkungkan dimainkan sebagai bentuk hiperboloid yang lebih kompleks, lebih kuat, dan lebih fleksibel serta menciptakan siluet gerakan alami burung atau pergerakan Kujang yang merupakan senjata tradisional dalam Tradisi Sunda.

Selain sisi tradisional yang ditonjolkan, sisi industri juga muncul dengan komposisi bentuk atap yang melengkung ditutupi dengan daun Nipah yang dikombinasikan dengan membran tahan air untuk atap.Membentuk Julang Ngapak sebagai bangunan vernakuler tradisional Jawa Barat.
Balustrade bambu yang dilengkungkan dimainkan sebagai bentuk hiperboloid yang lebih kompleks, lebih kuat, dan lebih fleksibel serta menciptakan siluet gerakan alami burung atau pergerakan Kujang yang merupakan senjata tradisional dalam Tradisi Sunda.

Pak Jatmiko adalah orang yang membantu saya melakukan supervisi ke bangunan inti di Piyandeling, dimana ia memberikan batas seberapa tinggi bangunan dengan konstruksi bambu ini bisa dibangun dengan aman. Pak Jatmiko dulu menemani kakek saya, dan ayah saya ke proyek. Ia juga adalah pengawas bangunan dari almarhum Han Awal, dan Teddy Boen (ahli gempa Indonesia). Dari Pak Jatmiko saya belajar bahwa setiap murid membutuhkan guru dan pelatih, seorang pelatih akan bisa melihat dengan sudut pandang yang berbeda. Sebegitunya kita membutuhkan waktu untuk berlatih setiap harinya. Di kasus saya berlatih ini erat kaitannya dengan berapa banyak masalah desain yang bisa kita pelajari dan pecahkan setiap harinya dan relasi dengan beliau dimana beliau bisa menjawab dengan kata “tidak” lalu saya mulai belajar menilai keadaan dengan diskusi lebih lanjut.

Pak Jatmiko adalah orang yang membantu saya melakukan supervisi ke bangunan inti di Piyandeling, dimana ia memberikan batas seberapa tinggi bangunan dengan konstruksi bambu ini bisa dibangun dengan aman. Pak Jatmiko dulu menemani kakek saya, dan ayah saya ke proyek. Ia juga adalah pengawas bangunan dari almarhum Han Awal, dan Teddy Boen (ahli gempa Indonesia). Dari Pak Jatmiko saya belajar bahwa setiap murid membutuhkan guru dan pelatih, seorang pelatih akan bisa melihat dengan sudut pandang yang berbeda. Sebegitunya kita membutuhkan waktu untuk berlatih setiap harinya. Di kasus saya berlatih ini erat kaitannya dengan berapa banyak masalah desain yang bisa kita pelajari dan pecahkan setiap harinya dan relasi dengan beliau dimana beliau bisa menjawab dengan kata “tidak” lalu saya mulai belajar menilai keadaan dengan diskusi lebih lanjut.

Saya kenal 2 orang pengrajin, pengrajin pertama pintar berbicara, mulutnya manis-kerjanya hanya di permukaan, terlihat manis – hanya estetika tempelan, apabila diminta memasang bata ia akan memasang bata dengan apik, namun terkadang lupa bahwa di balik bata tersebut ada pipa, perhitungannya hanya sebatas manis dilihat. Sedangkan pengrajin kedua tidak pandai berbicara namun pekerjaannya halus dan langkah – langkahnya bisa membuat proyek aman karena perhitungan yang mendalam tentang prosedur kerja dan detail tahapan kerja, kekuatan, tahan terhadap air, cuaca. Seiring dengan perjalanan saya berkembang di dalam praktik, detail – detail yang saya pikirkan bertransformasi di dalam pertemuan dengan banyak pengrajin. Termasuk pertemuan dengan pengrajin pertama, saya belajar untuk susunan yang terlihat manis, sebuah kualitas yang literal. Dan, dengan pengrajin kedua saya belajar untuk masuk ke kualitas yang esensial. Kedua pola pikir diperlukan untuk bisa bermain di integrasi disiplin (MEP, Struktur, Arsitektural). Saya menyebut detail transformatif ini ke dalam detail yang berkelanjutan.

… pertemuan dengan pengrajin pertama, saya belajar untuk susunan yang terlihat manis, sebuah kualitas yang literal. Dan, dengan pengrajin kedua saya belajar untuk masuk ke kualitas yang esensial. Kedua pola pikir diperlukan untuk bisa bermain di integrasi disiplin (MEP, Struktur, Arsitektural). Saya menyebut detail transformatif ini ke dalam detail yang berkelanjutan.

Terkadang setiap 2 minggu saya berulang kali ke Piyandeling untuk memikirkan ulang detail – detail selanjutnya termasuk penggabungan detail tradisional dan industrial. Di tempat ini saya melepaskan diri sejenak dari rutinitas dan masuk di dalam dunia fantasi Piyandeling. Arsitektur memiliki kekuatan maha dahsyat untuk membuat orang mengingat pengalaman ruang yang menjadi kenangan membekas.

Terkadang setiap 2 minggu saya berulang kali ke Piyandeling untuk memikirkan ulang detail – detail selanjutnya termasuk penggabungan detail tradisional dan industrial. Di tempat ini saya melepaskan diri sejenak dari rutinitas dan masuk di dalam dunia fantasi Piyandeling. Arsitektur memiliki kekuatan maha dahsyat untuk membuat orang mengingat pengalaman ruang yang menjadi kenangan membekas.

Pada akhirnya saya sadar, seperti halnya seorang manusia yang seakan-akan memiliki dua kehidupan. Kehidupan pertama dimulai ketiga manusia tersebut berusaha menggapai banyak hal, berjuang di tengah – tengah keterbatasan sampai dirinya merasa cukup. Saya merasa perjalanan suka – duka berpraktik lekat dengan perjuangan di tahap ini.

Dan sebenarnya, kehidupan kedua dimulai ketika, dirinya sadar bahwa ia hanya punya satu kehidupan. Dari situlah saya belajar mengenai fokus dan kebahagiaan sebenarnya sehingga saya tidak merasakan apapun lagi.

Tiba – tiba ada sapaan yang hangat dari belakang.

“Mau minum pak ? satu pengrajin menawarkan kopi dengan cangkir terbuat dari bambu.”

“Terima kasih pak untuk cangkir, kopi, dan perjalanannya bersama – sama.” ini Cangkir kedua saya, puji Tuhan.

Pada akhirnya saya sadar, seperti halnya seorang manusia yang seakan-akan memiliki dua kehidupan. Kehidupan pertama dimulai ketiga manusia tersebut berusaha menggapai banyak hal, berjuang di tengah – tengah keterbatasan sampai dirinya merasa cukup. Saya merasa perjalanan suka – duka berpraktik lekat dengan perjuangan di tahap ini.

Dan sebenarnya, kehidupan kedua dimulai ketika, dirinya sadar bahwa ia hanya punya satu kehidupan. Dari situlah saya belajar mengenai fokus dan kebahagiaan sebenarnya sehingga saya tidak merasakan apapun lagi.
Tiba – tiba ada sapaan yang hangat dari belakang.
“Mau minum pak ? satu pengrajin menawarkan kopi dengan cangkir terbuat dari bambu.”

Translation :

Title : Second Cup of My Life

The building with a twisting roof is a building with a stilt structure made of bamboo construction, with a grid of 5.0 m and 4.0 m to accommodate the functions of the library room, bedroom and meeting room. The structure is like the shape of a butterfly or the flapping of a bird’s wing which is elaborated from the Alfa Omega project. Bamboo blocks are stiffened with chin – chin (stiffeners), while the column sits on a river stone pedestal connected by a bamboo construction as a platform on the ground floor. I actually elaborated these curved shapes in the previous Kampono (Dancer) House in concrete construction by calculating the hot side, the wind that flows in the mass design – the skin of the building to other details. And, behind the game of curvy shapes that appear, there is a logic of strength and aesthetics inspired by the language of nature. Apart from the traditional side that is highlighted, the industrial side also appears with the composition of the curved roof shape covered with Nipah leaves combined with a waterproof membrane for the roof. Forming the Julang Ngapak as a traditional West Javanese vernacular building. The curved bamboo balustrade is played as a hyperboloid form that is more complex, stronger and more flexible and creates silhouettes of natural bird movements or kujang movements which are traditional weapons in Sundanese Tradition.

Pak Jatmiko is the person who helps me supervise the main building in Piyandeling, where he provides a limit on how high a building with bamboo construction can be built safely. Pak Jatmiko used to accompany my grandfather, and my father to projects. He was also the building supervisor of the late Han Awal, and Teddy Boen (Indonesian seismologist). From Pak Jatmiko I learned that every student needs a teacher and a trainer, a trainer will be able to see it from a different point of view. In fact, we need time to practice every day. In my case this practice is closely related to how many design problems we can learn and solve every day and the relationship with him where he can answer with the word “no” then I start to learn to assess the situation with further discussion.

I know 2 craftsmen, the first craftsman is good at talking, his mouth is sweet – he works only on the surface, looks cute – just a sticky aesthetic, when asked to install a brick he will put the brick neatly, but sometimes forgets that there is a pipe behind the brick, the calculation is as sweet as seen. Meanwhile, the second craftsman is not very good at talking, but the work is smooth and the steps can make the project safe because of in-depth calculations of work procedures and details of work stages, strength, resistance to water, weather. As I progressed in practice, the details I had in mind were transformed in the meetings with many craftsmen. Including meeting the first craftsman, I studied for a cute looking array, a literal quality. And, with the second craftsman I learned to get into the essential qualities. Both mindsets are needed to be able to play in the integration of disciplines (MEP, Structure, Architecture). I call this transformative detail into continuous detail

Sometimes every 2 weeks I repeatedly go to Piyandeling to rethink the next details including a mix of traditional and industrial details. In this place, I took a break from my routine and entered the fantasy world of Piyandeling. Architecture has the immense power to make people remember the experience of space that has become a lasting memory. In the end I realized, like a human who seems to have two lives. The first life started by the three humans trying to achieve many things, struggling in the midst of limitations until they feel enough. I feel that the journey of joy and sorrow is closely related to the struggle at this stage. And in fact, the second life begins when, he realizes that he only has one life. From there I learned about true focus and happiness so that I didn’t feel anything anymore.

Suddenly there was a warm greeting from behind. “Want to drink, sir? One craftsman offers coffee with a cup made of bamboo.”

“Thank you sir for the cup, coffee and the trip together.” this is my second cup, thank God.

Kategori
blog

Sumarah itu Mengalir Seperti Air

Piyandeling terletak di desa Mekarwangi di Perbukitan di Dago Utara. Daerah ini memiliki suhu yang rendah, kecepatan angin yang tinggi, dan pepohonan eksisting yang rimbun yang membantu untuk mencegah longsor. Sebenarnya membangun di lahan ini sangat sulit di awal konstruksi, karena sulitnya akses transportasi, air, dan akses tenaga kerja sekaligus udara yang dingin. Dengan menggunakan bambu, permasalahan ini teratasi karena ketersediaan material bambu sebagai material lokal, dan karena beratnya yang ringan sehingga mudah dimobilisasi, dan cepat dikonstruksi dengan detail yang adaptif di dalam keterbatasan sumber daya.

Tampak depan didesain dengan pertimbangan untuk melindungi konstruksi bambu supaya awet dan tahan lama. Dari sisi luar, kulit bangunan terbuat dari bambu, plastik daur ulang dan atap nipah. Kulit bangunan ini berfungsi sebagai pelindung dari matahari dan curah hujan sekaligus memberikan ruang antara ruang inti bangunan (core) dan kulit bangunan dengan lorong antara.

Tampak depan didesain dengan pertimbangan untuk melindungi konstruksi bambu supaya awet dan tahan lama. Dari sisi luar, kulit bangunan terbuat dari bambu dan plastik daur ulang, dengan atap nipah. Kulit bangunan ini berfungsi sebagai pelindung dari matahari dan curah hujan sekaligus memberikan ruang antara ruang inti bangunan (core) dan kulit bangunan dengan lorong antara.
Kulit bangunan ini memiliki beberapa komponen, pertama Jendela memiliki lebar 500 – 600 mm, kedua lorong antara dimana terletak tangga dan ruang jemur sekaligus berfungsi sebagai proteksi struktur utama bangunan. Piyandeling didesain berbentuk silider untuk mengurangi beban angin dan melindungi ruang keluarga, ruang tidur, ruang kerja yang terletak di sisi terdalam dari bangunan inti.

Kulit bangunan ini memiliki beberapa komponen, pertama Jendela memiliki lebar 500 – 600 mm, kedua lorong antara dimana terletak tangga dan ruang jemur sekaligus berfungsi sebagai proteksi struktur utama bangunan. Piyandeling didesain berbentuk silider untuk mengurangi beban angin dan melindungi ruang keluarga, ruang tidur, ruang kerja yang terletak di sisi terdalam dari bangunan inti.

Detail – detail didesain untuk mempertimbangkan aspek fungsional untuk saling memperkuat elemen arsitektural dari struktur, lorong antara, dan kulit bangunan.

Sederhananya bangunan ini dinamakan Sumarah, karena menggunakan bahan – bahan daur ulang dari Paviliun Sumarah. Sumarah berarti kepasrahan, sebuah sikap untuk mengalir di dalam kehidupan. Dari Piyandeling kita belajar untuk lentur sekaligus kokoh, dan ia mengajarkan material lain yang kokoh untuk lentur. Sebuah fleksibilitas yang mengalir.

Ada satu kejadian di waktu kami melakukan inspeksi lapangan di proyek lain, taruhlah namanya proyek Srabi. Inspeksi lapangan ini identiknya seperti memberikan ruang antara, jembatan antara klien, kontraktor, dan disiplin – disiplin lain supaya berjalan harmoni.

Baru kemarin saya rapat dengan satu klien dan kontraktornya, saya melihat di lokasi, kenapa pekerjaan lift yang ada di tengah rumah tidak dikerjakan dan seakan – akan tertinggal. Kami meluangkan waktu untuk melihat data – data yang ada, ternyata gambarnya tidak lengkap dan ada banyak ketidak-konsistenan, sehingga orang lapangan kebingungan.

Saya membuka diskusi dengan bertanya ke vendor lift di depan saya :

“Pak, ini gambarnya tidak lengkap ya ?”

Saya memberikan referensi kenapa gambarnya tidak lengkap, dengan memberikan contoh bahwa lubang lift perlu “digambar” untuk memperlihatkan besaran bracket struktural yang tersedia, dan perlu hati – hati dengan ketinggian lokasi. Hal ini wajar terjadi karena terkadang, beberapa vendor tidak memiliki orang teknikal. Gambar menjadi penting sebagai sarana komunikasi dan tanggung jawab sekaligus kontrol untuk menghindari adanya kesalahan.

Pertanyaan kemudian muncul, bracket struktural itu perlu disupply oleh siapa ?

Kemudian nada orang di hadapan saya ini meninggi,

“katanya bapak sudah pernah bekerja sama orang lift lain ?? Kok begini saja tidak tahu ??”

Saya menatap satu orang dari vendor ini, dan sedih sebenarnya karena saya berusaha menjembatani data yang kurang di lapangan. Untungnya ada temannya yang memberikan informasi bahwa ketinggian kaca yang akan datang untuk lift tersebut adalah 3.0 m dan diperlukan ketinggian balok 2.1 m untuk pintu masuk. Setelah saya mendapatkan data tersebut dan mendapatkan kepastian bahwa bracket struktural itu akan disediakan oleh vendor tersebut, saya bilang ke klien saya,

“Pak sudah cukup kita sudah dapat apa yang perlu dilakukan.”

Saya pikir di dalam project, penting untuk bisa melihat substansi yang ada yaitu gambar, dan memang di dalam gambar diperlukan beberapa penyesuaian di luar verbal. Di dalam gambar, ada dua tingkatan, tingkatan pertama gambar itu bicara sendirian, tingkatan kedua gambar tersebut menyesuaikan dengan kondisi sekitarnya, semudah menyesuaikan dengan ketinggian di potongan dan detail potongan, tata letak kondisi eksisting yang ada dengan denah dan penjelasan berapa dimensi yang dibutuhkan untuk menjadi “jembatan” antar disiplin.

“Pak Real saya minta maaf ya karena memang dia orangnya keras, dia cuma sales Pak” klien saya menyapa di akhir diskusi kami setelah kita selesai berkordinasi membicarakan desain.

Mendengar komentar klien seperti ini membuat kerja arsitek terapresiasi, dan hal ini akan membuat dunia arsitektur bersama kita semakin maju dengan cara yang sederhana.

Untuk kejadian di atas anggap saja cara penyampaian saya, bahasa saya salah. Yang terutama adalah proyek, dan klien tidak terlantar akibat gambar tidak lengkap dan orang lapangan tidak kebingungan lagi. Memang wajar setidaknya proyek membutuhkan waktu dan setiap orang – orang di dalamnya punya masalah – masalahnya sendiri. Kuncinya adalah bagaimana kita bisa saling menyelesaikan masalah di luar personal kita itu yang terpenting.

Saya kembali teringat dengan Piyandeling dan Sumarah yang ada di Bandung, dengan material apapun kita dari keras belajar untuk lembut, dan dari sosok yang mengalir belajar untuk lebih tegas, semua pihak saling belajar tanpa henti seumur hidup. Satu saat setelah saya melakukan inspeksi lapangan disana saya tersenyum melihat kerja keras mereka melakukan menutup celah bambu yang tidak mudah untuk membuat bambu awet, sisi suka dan duka, terekam di dalam pembelajaran tanpa henti di dalam proyek lain dan juga Piyandeling.

Untuk kejadian di atas anggap saja cara penyampaian saya, bahasa saya salah. Yang terutama adalah proyek, dan klien tidak terlantar akibat gambar tidak lengkap dan orang lapangan tidak kebingungan lagi. Memang wajar setidaknya proyek membutuhkan waktu dan setiap orang – orang di dalamnya punya masalah – masalahnya sendiri. Kuncinya adalah bagaimana kita bisa saling menyelesaikan masalah di luar personal kita itu yang terpenting.

Terima kasih Pak Saniin dan Pak Rozak. Mereka adalah 2 dari 4 tukang bambu yang ada di Piyandeling. Saya kembali teringat dengan Piyandeling dan Sumarah yang ada di Bandung, dengan material apapun kita dari keras belajar untuk lembut, dan dari sosok yang mengalir belajar untuk lebih tegas, semua pihak saling belajar tanpa henti seumur hidup. Satu saat setelah saya melakukan inspeksi lapangan disana saya tersenyum melihat kerja keras mereka melakukan menutup celah bambu yang tidak mudah untuk membuat bambu awet, sisi suka dan duka, terekam di dalam pembelajaran tanpa henti di dalam proyek lain dan juga Piyandeling.
Kategori
blog

Open Call for Designers

As Realrich Architecture Workshop (RAW Architecture) grows in Indonesia, we are calling back restless souls to experiment, learn from the ground up and want to explore design to work together with a multi-disciplinary studio team. Our designs progress from symbolic designs to more analytical designs.

We invite you to join us in RAW Architecture as our family.
For further information please contact us to kak Yudith (+62 8161644022)

  • Able to design space with function, shapes, and form
  • Have interest to discuss design thinking
  • Familiar with design tools – common CAD and Graphic
  • Familiar with IT facilities
  • Work on every day, regular time
  • Good knowledge of social media
  • Good knowledge of book layout and graphic design
  • Basic photography and video editing is an advantage
  • Experience in project management is a plus
  • Able to work in well integrated team with Structure, Mechanical, and Designers.

Responsibilities

  • Designing architecture and assisting Realrich and team leaders in RAW Architecture project
  • Coordinating project for design research practice – management – built
  • Selecting, developing, cataloging and classifying material resources for projects
  • Using library systems and special computer applications
  • Managing budgets and resources
  • Promoting the studio’s event and resources to public.

Apply Now
Send us your motivation letter, curriculum vitae, portfolio to
this form by google drive link
have a question ? please contact Laurensia +62 8161644022 (Whatsapp)

fill this form please https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSfCNskYQgzXlp7UTC7sNWKbTn7N7pI0jGtWxV83_h80wbE_fA/viewform?usp=sf_link

Kategori
blog

Susunan Batu Kali yang Lembut di Mekarwangi

Terlihat dari depan Piyandeling menggunakan struktur yang melayang untuk menjaga kelembapan dari struktur bambu sekaligus memanfaatkan ruang di bawah sebagai area garasi terbuka. Di daerah ini dimanfaatkan juga untuk kamar mandi komunal. Secara alami sebenarnya daerah ini memiliki tanah yang lebih tinggi yang diakibatkan pengurugan dari lahan sekitar, namun seiring jalan lahan ini rawan longsor. Oleh karena itu tahap pertama adalah memperkuat konstruksi turap yang berfungsi sebagai dinding lahan.

Pengrajin – pengrajin yang terlibat disini juga pernah terlibat di dalam pembangunan sekolah Alfa Omega dan Guha Bambu, ada Mang Amud, Mang Saniin, Mang Rojak, Mang Uyu, Mang Deden, dan lain – lain.

Area yang terlihat di dalam gambar ini adalah kolong dari bagian dari bangunan yang dinamakan Sumarah. Material yang digunakan untuk lantai adalah batu kali yang merupakan batu yang didapatkan di dasar sungai ketika kita berjalan ke dasar lembah. Batu itu keras, namun kita bisa belajar mengenai bagaimana kekerasan itu dilembutkan dan mengalir dari daya adaptasi ketukangan yang muncul dari pengrajin bambu.

Area yang terlihat di dalam gambar ini adalah kolong dari bagian dari bangunan yang dinamakan Sumarah. Material yang digunakan untuk lantai adalah batu kali yang merupakan batu yang didapatkan di dasar sungai ketika kita berjalan ke dasar lembah. Batu itu keras, namun kita bisa belajar mengenai bagaimana kekerasan itu dilembutkan dan mengalir dari daya adaptasi ketukangan yang muncul dari pengrajin bambu. Di daerah ini dulunya juga sering mati lampu, dan juga air bisa mendadak mati, karena masih menggunakan pipa air berbentuk selang yang terbuka (tidak tertanam). Sehingga proses menemukan batuan tersebut adalah ketika tukang- tukang perlu mengambil air pada waktu itu, dan tiba – tiba mereka memberitahukan,

bagaimana kalau kita menggunakan batu – batu dari kali pak ?

Tahap pertama adalah menyelesaikan dinding turap, umpak, penggalian resapan dengan artistik. Dari tukang – tukang ini saya belajar mengenai membentuk karakter yang lembut dengan teknik yang matang, dan prosesnya membutuhkan waktu dan dialog yang terjadi.

Para pengrajin ini berubah dari mengetahui bambu, menjadi merangkai apapun, termasuk bebatuan yang keras, bebatuan tersebut kemudian membentuk bentuk daun yang disusun berbentuk daun dengan didesain dengan mempertimbangkan aliran air yang meresap perlu untuk ke tanah. Patut diingat di daerah ini tidak ada infrastruktur pembuangan saluran air. Jadi tahap pertama adalah menyelesaikan dinding turap, umpak, penggalian resapan dengan artistik. Dari mereka saya belajar mengenai membentuk karakter yang lembut dengan teknik yang matang, dan prosesnya membutuhkan waktu dan dialog yang terjadi.

Para pengrajin ini berubah dari mengetahui bambu, menjadi merangkai apapun, termasuk bebatuan yang keras, bebatuan tersebut kemudian membentuk bentuk daun yang disusun berbentuk daun dengan didesain dengan mempertimbangkan aliran air yang meresap perlu untuk ke tanah.

Lama saya tidak menulis di postingan IG yang saya gunakan untuk tempat menyampaikan perlunya merefleksikan diri dan mengapresiasi arsitekturini, saya terus berpikir kadang, mau menulis apa, terkadang kesibukan membuat saya tidak terlalu meluangkan waktu mengupdate postingan. Namun kali ini dan ke depan saya mencoba mengapresiasi dan menggali relasi antar orang – orang luar biasa di sekitar saya ya. Karena Indonesia itu seperti bambu, tumbuh bersama – sama dengan rumpun dan tidak sendirian. Terus pakai masker dan saya doakan supaya sehat selalu.

Indonesia itu seperti bambu, tumbuh bersama – sama dengan rumpun dan tidak sendirian.Lama saya tidak menulis di postingan IG yang saya gunakan untuk tempat menyampaikan perlunya merefleksikan diri dan mengapresiasi arsitekturini, saya terus berpikir kadang, mau menulis apa, terkadang kesibukan membuat saya tidak terlalu meluangkan waktu mengupdate postingan. Namun kali ini dan ke depan saya mencoba mengapresiasi dan menggali relasi antar orang – orang luar biasa di sekitar saya ya.

Kalau dilihat – lihat masa pandemi ini saya belajar mengenai kedekatan. Kali ini saya mau bercerita mengenai pak Singgih Suryanto, beliau sudah ikut kerja dengan ayah saya puluhan tahun dan sudah berkerja bersama saya dari tahun 2011 ketika rumah Bare Minimalist dikonstruksi. Beliau pada saat itu menjadi pengawas. Saya mendapatkan banyak cerita mengenai anak – anak studio desain dari beliau, kami berdiskusi pagi – pagi kadang dimana anak – anak belum datang ke studio.

“Real, ini anak lagi kena sakit Maag.”

“Real, kayanya anak ini kos – kosannya di belakang kampung kurang baik, katanya banyak kecoak.”

“Real , kayanya anak ini keteteran kerjaannya, mungkin perlu dibantu.”

Dari perjalanannya pulang dari proyek , ia kadang mampir ke tukang gorengan ataupun martabak. Kejutan – kejutan tersebut membuat suasana studio lebih cair, mengalir dalam senda gurau, tawa. Baginya anak – anak studio seperti keponakannya sendiri.

Beliau dulu tinggal di Rawa Mangun, untuk ke-studio kami perlu sedikitnya 2 jam perjalanan. Ketika satu saat beliau sakit dia sempat berkata, saya sudah selesai, dan jantung saya berdegub keras pada saat itu. Saya tidak boleh kehilangan beliau, Pada waktu itu saya ingat, saya mengumpulkan beberapa orang di studio pada saat itu, termasuk pak Jatmiko, Pak Misnu, Bonari, Rudi, dan lain – lainnya. Saya menekankan bahwa Pak Singgih perlu dirawat bergantian sampai sembuh, tolong kabari saya setiap harinya. Mungkin kalau ada saya keinginan yang belum terpenuhi untuk beliau adalah bagaimana saya meluangkan lebih banyak waktu, uang, dan tenaga untuk lebih perhatian akan kecintaan beliau di dalam mengayomi anak – anaknya.

Ayah saya selalu berkata, susun prioritas terutama, hal – hal yang penting didahulukan terutama masalah relasi, keuangan, nama baik, seperti ayah saya kadang beliau tidak mau menjadi pemberat di dalam hidup saya. Ia diam, kadang ia tahu saya perlu fokus di dalam bekerja, ia tahu bahwa mungkin dia pikir saya tidak memerlukannya dan memilih tidak mengganggu meskipun dia rindu. Terkadang ayah saya hanya minta diantar oleh Pak Misnu ke The Guild, kadang ia melihat dari luar dari luar mobil saja, dia bilang, ngga usah repot – repot kalau lagi sibuk. Saya selalu bilang apaan sih, ayo masuk, atau saya keluar rumah menyambutnya . Dia tahu bahwa dia sendiri sudah sulit berjalan. Sepanjang hidup saya, nafas saya, darah saya dibentuk oleh beliau, termasuk oleh Pak Singgih dan orang – orang yang sedermikian penting untuk saya. Saya sungguh bersyukur dikelilingi oleh ayah saya, pak Singgih, dan orang – orang baik di sekeliling saya.

Terkadang ayah saya hanya minta diantar oleh Pak Misnu ke The Guild, kadang ia melihat dari luar dari luar mobil saja, dia bilang, ngga usah repot – repot kalau lagi sibuk.Saya selalu bilang apaan sih, ayo masuk, atau saya keluar rumah menyambutnya . Dia tahu bahwa dia sendiri sudah sulit berjalan.
Ayah saya selalu berkata, susun prioritas terutama, hal – hal yang penting didahulukan terutama masalah relasi, keuangan, nama baik, seperti ayah saya kadang beliau tidak mau menjadi pemberat di dalam hidup saya. Ia diam, kadang ia tahu saya perlu fokus di dalam bekerja, ia tahu bahwa mungkin dia pikir saya tidak memerlukannya dan memilih tidak mengganggu meskipun dia rindu…Sepanjang hidup saya, nafas saya, darah saya dibentuk oleh beliau, termasuk oleh Pak Singgih dan orang – orang yang sedermikian penting untuk saya. Saya sungguh bersyukur dikelilingi oleh ayah saya, pak Singgih, dan orang – orang baik di sekeliling saya.

Di dalam pembentukan kultur studio, kedekatan antar-personal menjadi penting, kejutan – kejutan, ritual – ritual, perlakuan – perlakuan yang baik berdasarkan keinginan untuk memperhatikan, apresiasi dari yang tua ke yang muda, dari yang muda ke yang tua, dari yang muda ke yang muda, dari yang tua ke yang tua. Bergandengan tangan menjadi rumpun dan maju bersama. Rumusnya ternyata sederhana, seperti Pengrajin Bambu yang menukang batu di atas membentuk batu yang keras menjadi lembut mengalir dengan artistik, menjadi “Pengrajin Kasih”.

[1] Catatan : Ini postingan link ke IG pertama saya setelah beberapa lama. Saya berdoa Tuhan semoga postingan ini membawa berkat, dan jauhkanlah saya dari hal – hal buruk. Berkati orang – orang yang sudah membawa begitu banyak hal baik di dalam kehidupan saya.

Kategori
blog

Bertemu Zarathustra

“Miracle sayang Heaven.” katanya sambil menepuk – nepuk Heaven. Sudah satu bulan ini Miracle sekolah kembali setelah libur tengah tahun. Hari – hari kami diwarnai hal – hal yang repetitif yang mewarnai keseharian. Laurensia bangun pagi setiap harinya, untuk mempersiapkan sekolah Miracle (nama panggilan Miraclerich). Saya sendiri banyak belajar dari sekolah Miraclerich, jadwal sekolahnya berpusat pada pelajaran budi pekerti, ilmu pengetahuan alam, dan pelajaran bahasa Mandarin.

“Miracle sayang Heaven.” katanya sambil menepuk – nepuk Heaven. Sudah satu bulan ini Miracle sekolah kembali setelah libur tengah tahun. Hari – hari kami diwarnai hal – hal yang repetitif yang mewarnai keseharian. Laurensia bangun pagi setiap harinya, untuk mempersiapkan sekolah Miracle (nama panggilan Miraclerich)

Laurensia berkata satu saat “keluarga dibentuk seperti badan manusia, ayah adalah tulang yang bekerja keras untuk kebutuhan dasar, ibu adalah jantung yang ada di tengah keluarga” itulah relasi antara kedua peran yang saling melengkapi pikiran badan dan hati di dalam keluarga, disitulah adalah pelajaran budi pekerti.

Saya ingat Suryamentaram sampai harus meninggalkan gelar kebangsawanannya untuk mengetahui sejauh mana ia bisa menjernihkan suara hatinya. Hal tersebut bisa diibaratkan seperti Zarathustra. Dalam tulisan-tulisan awalnya, Friedrich Nietzsche (1844-1900) bereksperimen dengan posisi filosofis, mengujinya terhadap ilmu pengetahuan dan sejarah pemikiran, melawan budaya, pemikir, dan momentum zaman. Selain itu, ia mengadopsi persona atau topeng untuk menyajikan ide-ide kontroversial dalam konteks eksperimental dan sebagai cara baru untuk berfilsafat. Karakter dramatis Zarathustra dan pertapa dalam Thus Spoke Zarathustra.

“When Zarathustra was thirty years old, he left his home and the lake of his home, and went into the mountains. There he enjoyed his spirit and his solitude, and for ten years did not weary of it. But at last his heart changed, and rising one morning with the rosy dawn, he went before the sun and spoke to it.”

Zarathustra perlu menyendiri di perjalanannya menuju gunung. Setiap orang perlu menggali apa itu gunungnya, apa yang aku mau tuju, dan bagaimana cara saya mendaki gunung saya. Itulah proses menggapai impian melalui meramu tujuan. Gunung itu ibaratnya adalah sebuah tujuan. Setiap orang di dalam menyendiri akan bertemu Zarathustra, berdialog dan kemudian menjadi dirinya untuk mempertanyakan siapa aku di dalam kesendiriannya.

Satu murid, ia mengirimkan saya Whatsapp Message, dulu saya bertemu dia di dalam kelas satu kelas.

Selamat malam Pak Rich… maaf mengganggu pak.. Saya boleh menanyakan saran ga pak, soal karir hidup pak.. Selama kelas pak Rich, saya sangat menikmati luasnya eksperimentasi yang bisa dilakukan pada setiap tugas. Tiba-tiba bisa menulis tugas soal bahan material arsitektur yang kita minati atau bayangkan, atau bahkan bisa memperagakan demonstrasi di depan kelas. Hal-hal yang berhubungan dengan eksperimentasi hampir setiap hari selalu membuat saya semakin curious dan ingin mencoba untuk merealisasikannya. Bisa saja tiba-tiba kepikiran ingin melakukan suatu proyek yang berhubungan dengan videogrammetry, atau bisa saja proyek film yang menggunakan the other 4 senses… dan bahkan bisa tertarik untuk berpikir output apa yang dapat dihasilkan dari musik dan arsitektur, apakah yang akan terjadi jika musik menggunakan teori-teori desain yang dipelajari dalam arsitektur, atau animasi menggunakan teori-teori desain yang dipelajari dalam arsitektur, multi-disciplinary and architecture, & etc…

Dari semua kebingungan ini, saya sudah mencoba untuk me-riset jurusan yang memungkinkan, dan salah satunya itu adalah experimental media… namun saya masih belum yakin apakah itu akan fulfill keminatan saya pada jangka panjang.. Sementara ini, saya mungkin berpikir untuk mengambil gap year setelah kuliah selama 1 – 2 tahun untuk mengeksplor ketertarikan saya dulu.. Walaupun mungkin belum terlalu jelas, karena randomness dari setiap proyek bisa cukup besar…

Namun, kalau menurut pak Rich, mungkin apakah saya lanjutkan saja dulu semua eksplorasi dan proyek2 ini, dan endingnya lihat nanti saja.. Atau mungkin saya perlu mengambil patokan suatu jurusan dulu, baru untuk berbagai macam ide lainnya akan saya lakukan secara otodidak? Maaf pak kalau saya jadi menanyakan secara tiba-tiba seperti ini…

Perjalanan mendaki gunung memang perlu kegalauan dan kebingungan, kabut kadang pekat, kadang tipis, bisa jadi ada harimau muncul di perjalananmu dan harus kau tundukkan. Bisa jadi juga kamu perlu mencari air di dalam perjalananmu supaya dirimu tidak kehausan. Alam mencari gunung ini adalah ranah filsafati, sebuah proses pencarian diri. Menariknya ia menjadi perjalanan tidak berujung, semakin lama semakin luas, membawa di dunia langit beberapa tingkat ke atas.

saya menginterpretasikan seperti anak – anak ini,berusaha menggali sendiri untuk mengetahui apa arah kehidupan ini di masa yang akan datang.

Di satu sisi, euforia perjalanan diri ini, terkadang membutuhkan kompas. Apakah benar yang saya pikirkan ? Bagaimana menurut kawan saya ? Apakah saya punya progress di dalam kehidupan ini ? pertanyaan – pertanyaan tersebut membutuhkan orang lain untuk bisa memberikan interpretasi. Perjalanan mendaki gunung membutuhkan persiapan, kaki yang kuat, hati yang lapang, dan kemauan yang kuat. Kaki yang kuat diibaratkan adalah pengetahuan tacit mengenai bagaimana berpraktik sebagai arsitek, bagaimana memproduksi desain, gambar, melakukan supervisi proyek, dan melayani klien. Kemauan yang kuat adalah ketekunan dan kerja keras yang menjadi bensin atau makanan penggerak tubuh kita. Hati yang lapang adalah ketulusan budi pekerti.

Pelajaran Budi pekerti itu disebut Ren Wen 人文 . Miracle mendapatkan kelas ini satu kali seminggu. Ren Wen adalah sebuah pelajaran mengenai kemanusiaan, bagaimana menghargai orang lain. Hal ini akan membentuk budaya yang baik. “Tahukah kamu permisalan tentang udang dan ular ? Kata gurunya satu saat.” Hal ini kami bahas pada waktu kami makan siang bersama. “Jangan berbicara hal yang buruk, nanti kami akan jadi seperti ular berbisa, dan jangan juga duduk membungkuk seperti udang.”lalu kata Laurensia menjelaskan bagaimana pelajaran di kelas hari itu.

Pelajaran Budi pekerti itu disebut Ren Wen 人文 . Miracle mendapatkan kelas ini satu kali seminggu. Ren Wen adalah sebuah pelajaran mengenai kemanusiaan, bagaimana menghargai orang lain. Hal ini akan membentuk budaya yang baik. “Tahukah kamu permisalan tentang udang dan ular ? Kata gurunya satu saat.” Hal ini kami bahas pada waktu kami makan siang bersama. “Jangan berbicara hal yang buruk, nanti kami akan jadi seperti ular berbisa, dan jangan juga duduk membungkuk seperti udang.”lalu kata Laurensia menjelaskan bagaimana pelajaran di kelas hari itu.

Ia menjelaskan bahwa murid – murid diajarkan untuk welas asih, memiliki budi pekerti yang baik, seperti menjadi sebuah bunga yang harum untuk orang lain. Pelajaran – pelajaran sederhana bagaimana menjadi tenang dengan meditasi, minum teh, makan dengan sopan, menyapa orang, merangkai bunga, ataupun sesederhananya menyapa dengan “I love you Mommy.”

” anak – anak di umur 4 tahun, mereka mulai aktif untuk meniru, dan salah satu hal yang bisa dilakukan untuk belajar adalah bermain peran.”

Terdengar sayup – sayup Laurensia berkata ke Miracle ketika menemaninya belajar satu hari,

“ayo duduk yang tegak jangan seperti udang.”

Jordan Patterson membahas cerita mengenai lobster di dalam buku 12 Rules of Life, ia menjelaskan cerita lobster untuk menjelaskan tentang hirarki sosial yang ada di dalam kehidupan sehari – hari. Patterson menjelaskan tentang bagaimana lobster yang menang akan menegakkan kepalanya, dan yang kalah inferior akan membungkuk. Mendadak saya pun tersadar, saya pun beringsut bangun, membetulkan tempat duduk saya, memang budi pekerti itu bekerja ke segala arah, dari hati, pikiran, sampai hal – hal sederhana dan detil sampai ke posisi duduk. Mengingat ini, saya kembali ingat ketika Laurensia menepuk satu saat, “Jangan membungkuk Yang.

“O iya”

“Untung ada Laurensia yang selalu mengingatkan :)” sekarang gantian saya mengingatkan para pembaca. “Jangan membungkuk ya.”

“Untung ada Laurensia yang selalu mengingatkan :)” sekarang gantian saya mengingatkan para pembaca. “Jangan membungkuk ya.” family photo taken by Jeffri Hardianto (pepen) House of Photographers
Kategori
blog tulisan-wacana

Autumn Strong

Dulu kira – kira 13 tahun yang lalu, bulan – bulan Agustus menuju Desember adalah bulan dimana autumn tiba, di saat itu saya ingat satu waktu saya menghabiskan waktu ke Cambridge, menyusuri sungai disana, naik sepeda bersama Laurensia. Kami mengambil gambar untuk mengabadikan bahwa kami pernah di situ. Perjalanan kami berdua di kota – kota di Inggris seperti St. Ives, Cambridge, London dan kota – kota kecil lainnya membekas di dalam musim autumn. Musim autumn memberikan suasanya jatuhnya daun – daun dan masuknya musim dingin, terbitnya bunga, dan datangnya musim panas. Hal ini adalah siklus berulang di dalam waktu yang linear.

Kali ini, kira – kira mulai bulan Agustus sampai bulan Desember lalu, saya menghabiskan waktu – waktu malam dengan membaca jurnal, buku, membuat mind map, menyusun presentasi. Hal ini paralel di siang hari dan kadang subuh untuk berpraktik, mendesain, survei lapangan, supervisi proyek. Setiap senin diwarnai dengan meeting pagi tim proyek yang dilanjutan dengan webinar jam 10 bersama Iwan Sudrajat, belajar mengenai metodologi penelitian melalui buku dan diskusi. Hari selasa, saya mendapatkan waktu untuk berdiskusi dengan Himasari Hanan sebagai pembimbing, dan hari kamis, saya bertemu dengan Bambang Sugiharto di kelas filsafat.

Apa yang mau saya bagikan di dalam tulisan ini adalah soal merasa cukup, sebuah proses dari menuju sesuatu, waktu adalah linear.

Pertama, soal disertasi, topik yang saya minati adalah soal kreatifitas di dalam desain. Saya tertarik untuk mengikuti kelas di 3 bulan pertama sampai satu titik dimana saya bertemu dengan Anna Herringer di dalam acara Design United dimana kami mengisi acara bersama – sama. Di dalam diskusi bersama dan sharing, ia menjelaskan bagaimana arsitek perlu peka di dalam praktik, dan melihat karya – karyanya saya merefleksikan bahwa tataran yang saya jalani di dalam disertasi adalah tataran yang teoritis. Saya membutuhkan tataran praktis sebagai pelengkap teori, lokalitas dalam praktik, membumi, mengakar, fundamental.

Selain urusan disertasi, waktu saya habiskan juga untuk mengatur studio dan perpustakaan juga menulis buku sebagai bahan refleksi. Covid ini merubah banyak sekali hal, mulai dari hilangnya tatap muka, dan munculnya peluang – peluang digitalisasi, seperti media webinar, dan rapat di atas awan (rapat digital menggunakan zoom). Sebenarnya kami hidup lebih sehat, lebih tenang, dan lebih damai. Karya – karya yang saya hasilkan jauh lebih mengakar, dan terpikirkan matang.

Saya teringat kira – kira setahun yang lalu, saya memutuskan untuk keluar dari banyak grup digital karena terus terang merasa tidak nyaman apabila tidak memiliki jarak akan segala hal sehingga hal – hal yang prinsipal menjadi dogma yang ikut – ikutan. Mungkin hal ini yang menyebabkan Pak Gunawan Tjahjono tidak memiliki WA. Saya mengamati ada teman saya yang sukanya mengumbar dirinya sendiri, ada juga teman saya yang juga problematis dengan masalah waktu, ada juga teman yang sukanya pansos. Setiap orang punya masalah, masalah pribadi biarlah menjadi masalah pribadi, masalah bawaan. Masalah bersama itulah yang lebih penting untuk dibicarakan. Masalah pribadi itu urusan refleksi masing – masing. Saya sungguh merasa kesepian, mungkin yang bisa mengobati adalah adik – adik saya di perpustakaan, ataupun murid – murid atau teman – teman yang bisa bersenda gurau tanpa pretensi ataupun sekedar mengupdate berita mengenai bagaimana hidup mereka akhir – akhir ini dengan cerita yang konyol, gagal, bodoh, hidup memang tidak sempurna kawan.

Minggu ini saya bertemu dua orang anak muda, satu sedang mencari jalan hidup. Ia adalah calon arsitek yang potensial, ia memiliki kegelisahan mengenai sejauh mana jalan itu aman baginya, untungnya ia memiliki begitu banyak kesempatan yang diberikan keluarganya dan teman – teman sekitarnya. Orang yang kedua justru tidak memiliki kesempatan tersebut, ia harus berjuang sendirian di dalam menembus keterbatasannya sebagai anak di dalam ekosistem yang broken home. Ia sendiri sekarang sukses di dalam dunia retail yang memegang salah satu banyak brand tas yang ternama. Mereka berdua berjuang menembus keterbatasannya sendiri, memiliki kesamaan akan sebuah proses yang understated. Proses ini adalah proses yang sederhana, fokus kepada kemauan belajar, yang tidak kompetitif, tanpa perlu menonjolkan diri, ada rasa cukup yang terlihat di dalam prosesnya. Saya bangga akan proses mereka berdua dan menyaksikan keduanya tumbuh mandiri.

Saya melihat tantangan ke depan tidak mudah, dengan menghitung jumlah proyek, dan proyeksi keuangan, beberapa langkah – langkah perlu di lakukan dengan taktis dan hal tersebut membutuhkan waktu. Disinilah tegangan akan waktu ini muncul. Waktu sekali lagi linear, pertimbangan – pertimbangan yang dipilih akan menghadapkan pilihan – pilihan seberapa layak satu pilihan itu dipilih, apa yang didapatkan, perkiraan – perkiraan apa yang menunggu di ujung jalan. Proses ini seperti proses menyiapkan bahan masakan dengan menimbang satu dan yang lain supaya hasilnya memuaskan.

Sebelumnya, sebenarnya di dalam proses saya mengerjakan disertasi tidak berfokus ke tujuan mendapatkan gelar S3 namun lebih ke proses pembelajaran, menemukan teman untuk berdiskusi, ekosistem untuk membicarakan penelitian – penelitian lebih lanjut dengan masuk ke substansi bukan normatif.

Satu minggu setelah saya mengirimkan surat untuk mundur ke prodi , saya bertemu dengan Lisa Sanusi. Kita berdua berdiskusi mengenai mimpi – mimpi akan dunia pendidikan. kira – kira baru 2 minggu lalu ia mengirim pesan “pak Rich apa ada waktu saya mau bicara.”, ia kemudian melanjutkan :

“Pak Rich, saya sudah dari Bandung, kita dalam pengurusan sekolah arsitektur.”

Saya terdiam, dan jantung ini berdegup keras. Dan sekonyong – konyong ada suara dari belakang telinga mengingatkan,

“jangan lupa doa ya.”

The feeling of autumn, leaving someone feels like the sadness of autumn
a glass of wine thousands of different emotions, so many farewells when the leaves fall, there are so many farewells, holding your hand tight
remembering this, i want you to remember
this silent promise I’m not afraid of being lovesick
I’m just afraid of hurting you all resentments vanish with the wind
meeting or parting ways, it’s not up to me
I’m not afraid of being lonely
I’m just afraid you’ll be disappointed
that you won’t have a shoulder to cry on

Saya terbangun, mari jalan kembali. Sampai jumpa kawan.

Kategori
blog tulisan-wacana

Forming the Gift Society

“Apa yang menjadi dasar kriteria untuk membuat buku ini untuk mahasiswa ?” Ini satu pertanyaan yang muncul dari peserta diskusi ketika ada acara Omah Library di Bandung, kira – kira dua tahun yang lalu ketika terdapat paparan mengenai bagaimana kerangka pemikiran buku Filsafat, Teori, dan Keprofesian di dalam 3 buku yang sudah diterbitkan. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang luar biasa bagus, yang biasa ditanyakan ketika ada pengujian. Di dalam assesment mengenai kualitas, ada penentuan parameter, kunci – kunci penentuan parameter ini sangatlah penting dan kritikal sebagai dasar apa yang menjadi pertimbangan, dan bagaimana menimbangnya. Pertanyaan ini menjadi dasar bahwa ada pembaca yang ingin mengerti kualitas seperti apa yang menjadi konsep dasar buku tersebut.

“Terima kasih ya pak, sudah mau membuatkan buku untuk kami.” Eubisius, murid saya berbicara pada saat saya menanyakan di malam saya mempresentasikan buku ini ke mereka, “apa ada yang mau kalian sampaikan atau tambahkan ?”.

Malam itu adalah saat dimana saya mempresentasikan apa yang sudah kami lakukan di Omah Library, untuk mengkurasi, dan menyusun materi ajar di dalam buku Strategi Arsitektur Berkelanjutan. Isu – isu arsitektur berkelanjutan kerap digunakan untuk menggali tema di dalam proses perencanaan.

Saya masih ingat, dulu Eubisius atau Ubi panggilannya, berkata pada saya, “mungkin ini terdengar konyol pak, cuma saya bercita -cita ingin menjadi pemenang Pritzker Prize.” Pritzker Prize adalah satu penghargaan di arsitektur yang identik dengan nobel, penghargaan itu ditujukan untuk seseorang yang sudah berjasa untuk menyumbangkan hidupnya untuk kemanusiaan di dalam menjalani profesinya sebagai arsitek. Saya bisa membayangkan bahwa mungkin saja pengajar – pengajar yang menertawakan keinginan muridnya seperti ini. Namun di mata saya, keinginan seperti ini adalah sungguh amat berharga.

Perkataan – perkataan “saya ingin seperti ini, seperti itu…” itu sebenarnya yang sering dilontarkan oleh para mahasiswa, sebuah keinginan untuk menggapai mimpi menyumbangkan hidupnya untuk kemanusiaan. Dari perjumpaan dengan banyak mahasiswa yang menginginkan hal tersebut, ada benang merah, bahwa para mahasiswa ini ingin dihargai sebagai perancang, dan mereka juga ingin belajar mempertanggung-jawabkan metodologi desainnya sebagai arsitek, dan terakhir mereka semua juga menyadari pentingnya sikap untuk selalu belajar.

Seringkali benang merah tersebut disalah-artikan sebagai keinginan untuk menonjolkan diri, padahal sesederhananya keinginan itu berawal dari kebutuhan untuk diapresiasi oleh orang lain termasuk pengajarnya.

Buku ini tidak boleh mahal, tapi boleh tebal, setebal 600 halaman juga oke. Berikan yang terbaik untuk anak – anak, karya ini dari anak – anak untuk anak – anak, kita akan menjadi jembatan yang baik untuk mereka.” saya menekankan di dalam rapat di Omah Library

Apresiasi ini begitu penting di dalam pembentukan Gift Society dimana Gift Society tidaklah sama Consumerism Society, hal ini dibicarakan oleh Lewis Hyde di dalam bukunya The Gift: How the Creative Spirit Transforms the World. Hyde membagi dua buah kelompok, pertama yaitu : Consumerism Society , kelompok mengandalkan asas untung rugi, ibaratnya keinginan untuk mengetahui apa yang aku dapat di dalam proses kreasi sebagai motif dasar. Di dalam kelompok ini, terdapat keterbatasan waktu yang mengikat untuk berproduksi, informasi yang dibatasi, dan patronisasi yang kuat. Sedangkan di dalam kelompok yang kedua Gift Society, menghasilkan karya yang inovatif dari sikap saling percaya , hubungan yang saling memberi, dan aspek pembagian ekonomi yang bijaksana, memiliki motif untuk membangun.

Buku “Untuk Mahasiswa” ini ditulis untuk mahasiswa dan oleh mahasiswa, bahwa mahasiswa bisa dan boleh berinterpretasi untuk kasus – kasus yang mungkin mereka sendiri belum terbayang seutuhnya bagaimana cara arsitek berproses. Disinilah proses (pedagogi) pengajaran itu perlu dipaparkan dengan apa adanya yang terkait ke 4 titik permenungan, pertama : sistem pengajaran, kedua : anatomi pemaparan dari quiz sampai tugas, ketiga : buku yang direferensikan, dan keempat : evaluasi dari tugas mahasiswa yang patut diapresiasi. Disinilah proses pedagogi “untuk mahasiswa” patut untuk dibagikan untuk sebagai titik awal bagi pengajar – pengajar lain berbagi hal yang menjadi rahasia kecil yang terkadang terselubung di dalam hubungan pengajar dan diajar.

Lebih lanjutnya buku ini sebenarnya adalah tempat merefleksikan kegiatan mencatat, mengarsip, dan mengevaluasi proses pengajaran arsitektur berkelanjutan untuk kepentingan menyambung tongkat evaluasi yang dibutuhkan. Hal ini perlu supaya pengajar dan murid bisa memahami kompleksitas praktik- teori di dalam bentuk kontekstualisasi kasus studi ke dalam kasus – kasus yang kita alami di dalam keseharian kita semua sebagai murid – murid kehidupan.

Beberapa komentar dari adik – adik saya di Omah Library dimana pada dasarnya buku yang baru terbit ini adalah strategi untuk menemukan diri sendiri menggunakan tema arsitektur berkelanjutan setidaknya membuat saya menghela nafas.

“Selama proses penyuntingan, saya belajar banyak hal dari tulisan-tulisan yang terkumpul. Sepertinya, kesadaran kolektif memang muncul disini, di mana benang merah ini saling merajut antar tulisan dengan tujuan yang sama; sebuah kesadaran arsitektur berkelanjutan. Buku ini buku paling tebal, dan buku yang membawa saya menemukan apa makna arsitektur berkelanjutan, yang jarang sekali diperbincangkan. Ini memang buku strategi. Strategi yang menghantarkan kita mencari strategi sesuai konteks kita sendiri, dengan melibatkan kesepahaman arsitektur yang berkelanjutan.” – Satria A. Permana

Mungkin kalau Ian Mcharg masih hidup, ia bisa tersenyum sembari berjaga – jaga kembali.

bit.ly/OrderOMAH

.
Terima kasih untuk para kontributor murid – murid kami : Albert Lionggo, Andreas Hasiholan,Anggreny Ratnasari, Anissa Dipa, Anke Ardine, Ansell Samuel Julianto, Antonius Priya Prathama, Bayu Abimanyu, Carla Aurellia, Chelsea Gracelyn Halun, Chelsya Setiawan, Christal Yohanes Edy Widjaya, Darwin Winata, Dharmawan, Diandra Arya Eka Putrim Edgard Jeremy, El Grantnada Romaulina Chyntia, Manihuruk, Eubisius Vercelli Ocvanto Kuncoro, Evania Hamdani, Fania, Farisya Yunandira Putri, Fikra Abhinaya Djuhara, Franca Kartasasmita, Gerardo Leonard Nugroho, Gilbert Antonious, Heidy Laurentia, Heinrich Benedick, Jason Lim, Jason Aristya Wongso, Jason Axel, Jesslyn Amanda, Joshua Alfando, Joshua Felix Theo, Joshua Michael, Jovin JuanMarcell Cruxivisyo, Mauritzio Hizkia, Michael Antonio Halim, Michael Imanuel Susilo, Michellin Sonia Wibowo, Muhamad Yusuf Nyompa, Nathanael Christopher Ng, Novi Synfah, Oliver Victor Wibowo, Praisella Hatijanto, Putroaji Darma Maulana, Raihan Ramadhan, Rayka Martawijana, Raynaldo Febrio Istanto, Sander Ekaputra, Satya Krisnadi, Shania Salsabila, Shella Angelica, Sherlyn Christiane, Spazio Julius, Stanly Alviando, Thessalonicca Venesya, Valencia Angelita, Vania Serrafine, Para Restless Spirit Librarian : Penyunting (Amelia Widjaja, Satria A. Permana), Kirana Adrya, Hanifah Sausan, dan Dimas Dwimukti. Juga tim administrasi, Laurensia, Vivi, dan Putri. Kawan – kawan yang menulis pengantar bersama – Johannes Adiyanto dan penutup Anas Hidayat.

Kategori
blog tulisan-wacana

Filosofi Donat di tahun 39

“Yang, besok ulang tahun mau dibuatin apa ?” Laurensia bertanya, 

Saya tidak punya ekspektasi apa – apa untuk ulang tahun kali ini. Saya menyadari sudah diberikan begitu banyak berkat dari Tuhan di masa krisis karena pandemi ini dan saya selalu berdoa supaya kawan – kawan dilindungi selalu kesehatannya dan jangan lupa memakai masker. Berkat – berkat di masa pandemi ini mewujud pada kenangan – kenangan yang membekas berupa kedekatan kami sekeluarga. Seperti ketika Laurensia mempersiapkan donat pada hari ini. Kemarin ia bercerita bahwa Miracle ingin makan donat dan ia ingin mengajarkan Acle (panggilan sayang miracle) membuat donat bersama, hal yang sederhana.

Titik kali ini adalah titik ulang tahun yang ke tiga puluh sembilan, dan Laurensia sudah mempersiapkan bahan – bahan tepung, telur, dan topping, seperti mendesain proses persiapan ini yang paling penting yaitu mempersiapkan adonan, dan menikmati momen proses pembuatannya. [1]

Kemarin Laurensia bercerita bahwa Miracle ingin makan donat dan ia ingin mengajarkan Acle (panggilan sayang miracle) membuat donat. Donat memiliki bentuk seperti lingkaran, garis yang memutar saling menjaga dan menerus.

“Papa, jangan lihat kesini, we are making surprise for you, close your eyes.”

kata Acle sambil membawa bantal sambil menutupi mata saya. Saat – saat sederhana seperti ini membuat saya bersyukur, dengan bagaimana Acle dan Laurensia ingin membuat sesuatu untuk saya, perhatian – perhatian kecil seperti ini adalah hadiah yang tidak ternilai untuk apa yang saya dapatkan di hari ulang tahun ini. Salah satu hal yang tidak ternilai adalah keluarga termasuk Acle, Heaven, dan Laurensia di dalamnya. Kami sibuk mengisi hari – hari dengan rutinitas pagi dimulai dengan doa, makan pagi bersama, bekerja, makan siang bersama, kerja/istirahat siang, makan malam dan istirahat. Hal yang kami tanamkan ke keluarga adalah respek untuk orang – orang di sekitar kami. Respek menjadi penting, dimulai respek kepada diri sendiri, sebuah bentuk self criticism.

Dulu ayah saya di waktu memimpin konstruksi, memperkenalkan proses slametan, sebuah proses syukur yang ada di dalam akhir sebuah proses yang kritikal, kalau di dalam pembangunan rumah hal ini dilakukan sebelum bangunan dibangun, dan sesudah proses tutup atap. Hal ini adalah sebuah proses yang wajar dan manusiawi. [2]

Prinsip slamet ini menjadi relevan di masa Covid dimana, sebagai manusia kita harus menahan diri. Ada beberapa cerita lucu tetapi juga sedih, juga mengenai mandor – mandor di sekitar saya yang kehilangan orang – orang terbaiknya karena flow proyek terputus karena COVID. Mereka setengah menggerutu, orang saya diambil orang pak, ada proyek baru disana. Sudah capai – capai melatih lalu mereka pergi. Kira – kira ada dua kelompok di tim kami yang kehilangan anak didik mereka. Terkadang mereka menggerutu, saya terus berpikir kenapa orang – orang terbaik mereka pergi ya ? apakah ada faktor kepemimpinan, ataukah tantangan, selain faktor ekonomi? Saya memiliki hipotesa – hipotesa soal ini. Hal ini wajar terjadi dimana – mana, dan wajar setiap orang ingin tumbuh dan berkembang [3]

Besoknya saya mengajak bicara mereka soal ketiga hal ini, dan hal ini juga saya alami di studio bahwa untuk maju setiap lingkungan membutuhkan evaluasi dan regenerasi. Seperti pohon besar yang tumbuh yang membutuhkan regenerasi, memang perlu dipotong ataupun terpotong karena keadaan supaya pohon – pohon kecil di sekitarnya bisa tumbuh. Dengan memaklumi hal ini, melihat apa yang terjadi di sekitar pengrajin memang ada dua tipe pembelajar bangunan, tipe yang pertama adalah tipe pengrajin, disini sifat patronisasinya dominan yang diperlihatkan, dengan keahlian – keahlian yang melibatkan teknik bereksperimen dan memiliki struktur seperti pohon besar. Tipe kedua adalah tipe pekerja yang melibatkan teknik yang sudah ada / repetitif mengikuti apa yang menjadi standar baku, di kelompok ini patronisasinya bisa jadi berubah menjadi sebuah platform terbuka berbentuk rhizoma dimana ada transparansi, dengan syarat yang masuk di dalam lingkungan kerja mereka adalah orang – orang yang memang sudah ahli. Keduanya memiliki perbedaan cara bekerja, berkordinasi, transfer ilmu, dan membagi ekonomi. Meskipun demikian ada banyak hal yang menjadi rahasia masing – masing, biarlah itu menjadi urusan kantong sendiri – sendiri.

Seperti satu saat Abidin Kusno yang menulis buku Melawan Waktu memulai dengan tulisan yang merupakan suatu bentuk melawan waktu itu sendiri, Perlawanan itu bisa diibaratkan melalukan negosiasi waktu, dan bagaimana beliau mengisi kehidupan yang sementara ini dengan mencoba merubah keadaan dengan diskursus arsitektural. Bahwa perubahan itu wajar, hal ini adalah sebuah proses dari titik, menuju garis.

Perlawanan waktu ini bisa diibaratkan juga seperti orang yang melalui perjalanan menghitung mundur, dan identik juga dengan proses kelahiran – kematian, kejadian ulang tahun, setiap tahun berulang – ulang, dengan rambut yang semakin memutih, teman – teman yang datang, tinggal, pergi silih berganti, keluarga besar dan anak yang semakin besar. Ulang berulang adalah sebuah rutinitas yang menjadi kebiasaan dan karakter, sederhananya proses hidup, apa yang kamu ulangi itulah karaktermu. Proses pembentukan karakter ini akan membentuk Gift Society. Sebuah lingkaran yang saling memberi yang dimulai dari diri sendiri, self criticism, respek kepada orang lain, dan mengulang – ngulangnya sehingga menjadi karakter yang dimulai dari lingkaran keluarga dan diri sendiri.

Hal – hal inilah yang membuat kadang saya membanting setir, kanan – kiri, gas dan rem, keluar-masuk di dalam menulis buku, keluar-masuk ke penelitian, keluar-masuk dari proses disertasi, keluar-masuk ke kelompok praktik, keluar-masuk dari kelompok belajar, ataupun apapun yang terkait hubungan antar-personal, bahwa pada dasarnya mempertanyakan apa sih yang layak untuk dilakukan untuk waktu yang sedemikian terbatasnya.

“Papa I want to be like you”… Miracle menghampiri saya satu saat ketika saya sedang bekerja di ruang kerja yang berbatasan dengan kamar tidur kami. Untuk masuk ke ruang kerja itu harus melewati pintu putar berupa lemari yang bisa berputar dimana ia mengintip dibalik sela – sela pintu putar tersebut.

“Hei, kamu ngapain ?” kata saya, “come here” saya membiasakan berbicara dua bahasa dengan Miracle. Saya memangku dia untuk memperlihatkan apa yang sedang saya kerjakan, dan berbagi bagaimana memencet tombol keyboard ataupun berinteraksi dengan layar sentuh. Saya melanjutkan “You will be better than papa, we are proud of you.” Dari lingkaran terkecil kami berupa donut, saya menarik nafas semoga semesta memberkati kita semua, dan memberikan rasa slamet, sehingga kehidupan kita, saya doakan menjadi lebih bersahaja, menenangkan, damai dan tenteram.

Di usia ke 39 ini, saya belajar untuk lebih memberi kepada orang lain, tidak untuk dibalas kebaikannya namun karena memang sudah sepantasnya kita memberi. Berbuat tidak untuk dilihat, bernyanyi tidak untuk didengar, berdansa tanpa mengharap tepuk tangan, bertindak tanpa mengharap hadiah.

“Papa please don’t work today, where are you going ?” Miracle mengintip dibalik pintu, karena melihat saya turun tangga.

“Sebentar I will come back in a few minutes.” (ada beberapa tukang sudah menunggu, pak ini detailnya bagaimana.) “Is there someone below ?” Miracle bertanya, saya menjawab, “sebentar ya, sabar few minutes.” Miracle berteriak, “Semangat pa”

Hadiah dari Tuhan untuk saya di umur 39 ini, Laurensia, Miracle, Heaven yang memberikan filosofi donat. Seperti Filosofi Donat bahwa setiap orang memiliki keteduhan di lingkaran terkecilnya. Tidak ada yang manusia yang ditakdirkan menjadi titik yang sendiri. Ada lingkaran membentuk donat yang saling merajut, dari titik, kemudian menjadi garis untuk menjadi lingkaran yang saling menjaga.

Kembali ke pertanyaan pertama,”Yang, besok ulang tahun mau dibuatin apa ?” Laurensia bertanya.

Saya menjawab “Donat ^^”

Terima kasih Tuhan, Terima kasih Tuhan, Terima kasih Tuhan untuk memberikan Laurensia, Miracle, dan Heaven yang sudah membentuk donat keluarga kecil kami juga beserta kawan – kawan tempat kami berkarya bersama. Tuhan memberkati.

[1] Proses persiapan adalah proses pertama di dalam studi mengenai kreativitas, hal ini digagas oleh Wallace di dalam buku Art of Thought dengan tahapan preparation, incubation, illumination, verification.

[2] Inspirasi : Satu kawan saya mengingatkan ketika kita berdiskusi soal arsitektur untuk menghargai soal kekuatan berproses dan jalan masih panjang, “Terkadang kita lupa untuk bersyukur dibalik seluruh proses yang ada.” Saya teringat juga suatu waktu, Wastumiruda (saya menyebutnya Kungkang pemabuk yang bijaksana) atau mas Anas yang bercerita tentang hakikat respek terhadap diri sendiri ini. “KAS ( Ki Ageng Suryomentaram) itu seperti Bima dlm cerita Dewa Ruci…Bima yg benar2 ada…Ya dia mencari kebenaran gk ke mana2. Ya dari dirinya sendiri. Betul. Kan ceritanya perjalanan jauh, tp itu hanya kiasan. Justru diri sendiri ini yg sebenarnya sangat jauh. Krn orang sering lupa, sibuk meniru orang lain. Jika kamu menghadap ke utara, apa yg paling jauh di utara sana ? Ya punggungmu, karena bumi ini bulat. Lawan terkuat sebetulnya ya diri sendiri. Kalo dari sloki (tahap kemabukkan) ya sloki ke 10: dasa buta (nama tingkatan kemabukkan terakhir) … mati. Balik nol lagi. Maka di Jawa yg utama adalah Slamet (selamat), bukan bener (benar).

[3] lihat cuplikan youtube untuk melihat relasi craftmen dimana hal ini sedang distudi oleh Yasmin Aryani, nanti akan saya bagikan cerita proses kami bertemu Yasmin lebih lanjut. Link youtube : https://www.youtube.com/watch?v=cySldJBIlqA&t=52s, hal ini dibahas di dalam postingan https://real-rich.org/2020/08/22/hidup-bersama-sama-arsitektur-yang-rahayu/

[4] foto – foto diambil oleh Jeffri Hardianto (Pepen) dari House of Photographers.

lingkaran contoh lingkaran donat di bidang musik yang dibentuk oleh Gita Gutawa dan Erwin Gutawa yang menaruh cita di tangan anak – anak muda Indonesia.
Kategori
blog

Forming Bricolage

This writing is for Archidiaries’s venue, Reflections#2 which I have prepared a writing and book about it. It’s a reflective journey to find discourse between practice and pedagogy. The both of streams colors my practice in RAW Architecture and more discouses in Omah Library.

There is a reflection that the young generation forgets the old wisdom that can teach us about the building technologies of the past. This old wisdom forms a bricolage architecture. It is an understanding that, to design and build something out of the land, you need to find the roots of Local Genius people. This concept explores how architecture should be tested by the optimization of local resources, building technology, and the implementation method, which together build the structure of local genius.

This presentation explores the root and progression of the social structure that cultivates the building tradition, manifested in generations of traditional craftspeople. It is not limited to the debate of how we should preserve the form of modern architecture, but it rather discusses the evolution of future architecture with the spirit of modern architecture by the introduction of a model of craftsmanship – a total adaptation of craftspeople, architect, builder, and client into one holistic ecosystem. It’s a humble and honest attempt to reflect on RAW Architecture Practice in Indonesia – Forming Bricolage.

Kategori
blog tulisan-wacana

70 Tahun Pendidikan Arsitektur Indonesia – Suara dari Jiwa – Jiwa yang Tidak Kenal Lelah

Saya mengawali judul materi kali ini dengan sebuah judul “Melihat 70 tahun pendidikan arsitektur di Indonesia Suara dari jiwa – jiwa yang tidak kenal lelah.”Saya lulus di tahun 2005, mulai masuk ITB di tahun 2000. Pada waktu saya belajar arsitektur di tingkat dua, saya ingat oleh pak Eko Purwono diajak untuk mensketsa bangunan yang didesain oleh Henri Maclaine Pont, ada perasaan berbeda, yaitu penggunaan materialnya lokal, konstruksinya yang jujur, dan ada rekayasa teknik untuk mengaktualisasikan bentuk bentang lebar. Dari situ saya mulai jatuh cinta dengan arsitektur dan tidak pernah berpikir berhenti memikirkan arsitektur satu hari pun. Pertemuan dengan pak Eko Purwono dan Henri Maclaine Pont menjadi penting.

.
Pertemuan saya dengan Pak Baskoro Tedjo, Pak Ridwan Kamil dan dosen – dosen lain di tingkat setelahnya menjanjikan sebuah lompatan selanjutnya, saya ingat, beliau berkata

“kamu bisa, buat lebih baik lagi”

dan saya ingat itulah sebuah kekuatan yang mendorong membuat saya terpacu untuk ikut menyemangati teman – teman yang lebih muda. Saya ingat untuk tidak pernah lelah untuk lebih baik lagi. dan hal itulah yang mendasari judul kali ini, yang membuat saya membagikan kuesioner ke anak – anak muda dan semua orang lain testimonial mengenai pendidikan kita, hanya karena saya ingin tahu apa sih yang dipikirkan orang lain soal kondisi pendidikan kita sekarang. Teman saya yang berasal dari Serawak bernama Wendy Teo, memberikan masukan kepada saya untuk terus semangat pantang menyerah mewujudkan suatu hal yang kita anggap ideal. Ia berkata,

“If you want to stand for something and you’re someone, if you don’t stand for anything then you’re no one.”


Dari sudut pandang sebagai praktisi di praktik kami RAW Architecture, proses untuk maju bisa dilihat dari 3 buah posisi, yang pertama adalah pentingnya wacana untuk mengkonstruksi hal yang lebih positif .

Materi dari 4 pemateri menyajikan 3 hal yang yaitu mengenai isu setting, ritual, dan memory. Pemaparan ini sebenarnya adalah sebuah reaksi utnuk melihat tegangan yang ada antara ITB sebagai pihak yang merayakan ulangtahun dan melihat bahwa desain berbasis inovasi dan ilmu pengetahuan ini menjadi penting dan kritis untuk masa kini. Sebelum pak Adhi Moersid meninggal kami menginterview pak Adhi, dan melihat bagaimana dahulu ketiadaan pengajar, bagamana pada saat itu mengejar ketertinggalan yang menjadikan pengajaran masuk ke ranah teknis. Hal tersebut menyisakan gap atau celah yang dibahas juga oleh Aswin Indraprastha bagaimana menutup gap tersebut. ada dua hal untuk melihat gap tersebut, gap sebagai sebuah hal yang mengkhawatirkan ataukah gap tersebut adalah sebuah berkat. Di dalam presentasi kedua, presentasi Donny Koerniawan memaparkan bagaimana aktor – aktor yang terlibat di keilmuan perlu untuk merendahkan hatinya untuk merajut antar bidang keilmuan, bahasa beliau adalah menyerahkan axioma keilmuannya untuk bersatu membentuk ilmu baru.
.
Presentasi ketiga dari Sonny Sutanto mungkin justru menampar lagi posisi mendesain, titik inovasi dari sudut pandang ekonomi, yakni ketika produksi sudah begitu murah dimana posisi ide, saya ingat di sesi omah library, Rizal Muslimin membahas hal ini dimana manusia perlu terus berinovasi untuk bisa mereposisi dirinya dari replikasi dan representasi komputasi dari bahasa mesin. Di presentasi ketiga Gusti Ngurah Antaryana menyajikan sebuah potensi akan sebuah hal yang sudah pernah ada, dan sekarang ekosistem yang merdeka ada di depan mata, lalu apa reaksi kita ? pertanyaan ini terus berkelindan di kepala saya ketika mendengarkan 4 pemaparan material ini. Saya pikir mungkin jalan keluarnya ada di ritual yang dijalankan, atau mudahnya eksekusi apa yang akan menjembatani tataran teoritis dan eksekusi atau metode yang dilakukan di dunia nyata yang tidak abstrak. Sebagai contoh di dalam pandemi ini justru kami di studio menjalankan praktik melalui gambar tangan, karena tatarannya adalah konsepsi, perspektif juga dilakukan dengan gambar tangan lalu sampai ada komitmen baru ditransfer ke tools, jadi ada strategi yang perlu dilakukan.
.

Wacana ketelanjangan akibat ekosistem ditunjukkan oleh provokasi yang digagas oleh Marina Abramovic. Selama pertunjukan Abramovic dengan sengaja menjadi pasif, mengubah dirinya menjadi benda hidup demi seni. Dia memutuskan bahwa dia akan berdiri dengan tenang di galeri selama enam jam, di mana penonton diundang untuk menggunakan salah satu dari 72 objek di atas meja di ruangan itu untuk berinteraksi dengannya. Benda-benda itu berkisar dari bulu, kue coklat, minyak zaitun dan mawar, hingga pisau, gunting, pistol, beberapa peluru dan rantai. Instruksi di atas tabel berbunyi: Kinerja. Akulah objeknya. Selama periode ini saya bertanggung jawab penuh. Durasi: 6 jam. Selama enam jam, dia menyerahkan hidup dan tubuhnya sepenuhnya ke tangan orang asing, mengubah dirinya menjadi objek untuk digunakan, seperti yang diinginkan. Selama waktu ini dia setuju untuk tetap pasif, dan tidak responsif sampai eksperimen selesai. Abramovic memutuskan bahwa dia akan mengamati dengan tenang dan lemas. Untuk penonton, tidak ada konsekuensi langsung. Menurutmu, apa yang terjadi ?

Ia berakhir di dalam kondisi setengah telanjang, terluka.

Hal ini sebenarnya memunculkan tingkatan interpretasi selanjutnya dari sebuah pemikiran yang tidak hanya cantik, saya berintepretasi bahwa pemikiran yang menutup gab tersebut membutuhkan sebuah pemikiran yang tidak hanya ekspresif dan perlu untuk menggelontorkan wacana yang diskursif, dari sini saya pikir wacana untuk bertindak aktif dan tidak pasif akan penting, bagaimana yang pasif akan ditelanjangi, tidak berdaya, dan menunjukkan derasnya informasi dan kemajuan memungkinkan terjadinya ketelanjangan tubuh kita.

Di dalam bertindak aktif ada 3 hal yang bisa dipikirkan seperti, yang pertama adalah Setting yang bisa didefinisikan sebagai Kondisi sebelum wacana tersebut digulirkan yang melibatkan proses pembacaan relevansi terhadap problematika yang terjadi (Konteks)
Ritual yang bisa didefinisikan sebagai tindakan – tindakan untuk mengaktualisasikan wacana tersebut yang melibatkan proses aksi – reaksi (praksis). Di dalam proses ini sebenarnya terlibat lebih jauh ranah – ranah keilmuan. Memory yang bisa didefinisikan sebagai Hasil dari Wacana yang sudah menjadi milik publik yang ditandai akan pergeseran/pendalaman/penolakan akibat proses dari aksi reaksi yang muncul dengan repetitif. IAI sebagai asosiasi profesi pun dibentuk dengan sebuah setting, dengan melihat konteks apa yang terjadi disaat itu , dimana di tahun 1960 an ada instruksi dari pemerintah untuk membentuk gabungan perusahaan untuk menunaikan tugas membangun. Hal ini kemudian dilanjutkan dengan konferensi seperti mungkin yang sedang kita lakukan sekarang, dan disitulah ada sebuah wacana ketidakpuasan, bahwa kedudukan perencanaan dan perancangan tidaklah sama dan tidak juga setara dengan pelaksanaan, ada harga diri yang dipertaruhkan yang berbeda dengan bisnis komersial yan gkeberhasilannya diukur dengan besarnya laba. Lalu pada waktu itu Ir. Soehartono susilo dan Friederich Silaban meneruskan pemikiran yang radikal (ketidakpuasan) tersebut dengan menggalang para arsitek muda dan mengadakan pertemuan – pertemuan lanjutan, di tahun 1959 dihadiri oleh 21 orang, dan selanjutnya di jalan wastukancana di rumah Lim Bwan Tjie, dan akhirnya di tahun 1959 tersebut muncullah Ikatan Arsitek Indonesia.
.
Hal ini adalah hasil dari sebuah kegelisahan, muncul dari yang muda, ada integrasi dari sistem dan di luar sistem, dan mereka memiliki energi / sumberdaya untuk berpikir lebih dari kebutuhan sehari – hari.
.
Salah satu konteks ekonomi yang bisa langsung terasa dalam praktik adalah bagaimana akses terhadap industri software berlisensi misal, kalau menggunakan gambar tangan itu masih gratis, namun apabila melihat dokumen autocad harga 1521 USD, sketchup 649 USD, 3dsmax 1620 USD, REvit 2425USD, Rhino 995 USD ) total satu tahun pertama dibutuhkan kira – kira 110 juta. sedangkan untuk standarisasi gaji di Indonesia, dengan 4,5 -6 jt misal untuk anak – anak yang baru lulus kira – kira sisa gaji hanya 34 juta, setelah dipotong dengan kebutuhan sehari hari. Apabila misal gaji sekitar 10 juta, baru bisa mengakses setelah 2 tahun menabung, dan setelah beli software tidak ada uang tabungan lagi. Lalu pertanyaannya bagaimana kita menjembatani hal ini. Saya ingat china memiliki software cadnya sendiri, dan pertanyaannya bagaimana hal ini bisa dibantu utuk dijembatani ? inilah konteks kita yang menjadi setting, lalu apa wacana yang perlu digelontorkan ? mungkin share resources menjadi penting, pembuatan platform yang menembus batas.

.
Jadi apabila kita semuan ada di sebuah setting dan wacana, lalu apa ritualnya ? mungkin yang penting adalah kecepatan yang menjadi kuncinya, untk merangkul elemen yang tidak hanya ceklist, berbicara antar relasi, antar wilayah, merangkum ulang relasi – relasi yang bhineka. Acara ini adalah permulaan. titik yang penting adalah merangkul yang muda, integrasi sistem, gelisah, dan memiliki energi lebih.

.
Kami di omah library berusaha sekeras mungkin untuk membentuk iklim ekosistem literasi yang baik dengan membantu penulis – penulis, mempermudah jalan, menyambung rasa antar generasi, antar librarian, pemateri, antar peserta, dari situ diharapkan bisa ada sebuah ekosistem yang mengayomi, kolaborasi, keguyuban, kerendahan hati untuk berbagi dimana yang penting adalah bagaimana teori, wacana, kritisme yang terjadi di dalam diskusi kita kali ini bisa berbuah inspirasi yang akan mewarnai lingkup praktik ataupun akademik yang mempengaruhi suasana belajar – mengajar untuk membentuk pribadi yang rendah hati dan mau selalu belajar membentuk budaya ajar mengajar yang diskursif, sebuah proses yang membuka jalan.

Perjalanan Ki Ageng Suryomentaram bisa diibaratkan sebagai analogi perjalanan Pendidikan arsitektur di Indonesia. Kondisi perkuliahan arsitektur yang hanya fokus pada kemampuan teknis seperti penanaman tugas dan tanggung jawab, etika berprofesi, estetika, budaya, dan sosial, membuat arsitek akan mengalami titik dimana ia akan mengalami kegelisahan mendalam terhadap jiwanya. Keprofesian ini akan menjadi membosankan karena berjarak dengan realitas sendiri dan menjadi pengetahuan normatif saja karena hilangnya kerendah-hatian oleh karena itu mari bersama – sama merajut dengan bergotong – royong, Ohana means family, family means nobody gets left behind or forgotten.

Saya berbicara mengenai refleksi di acara diskusi pendidikan arsitektur.
menit 2.58 – 3.08
Kategori
blog

Serendipity after Sketches and Regrets

Saya ingat dulu anak – anak universitas Gunadarma pertama kali mengadakan acara di taman samping rumah orang tua saya, ada 60 orang, mereka mempersiapkan acara dengan riang gembira hanya ingin mendengar satu kuliah dari Mas Barani. Beberapa saat kemudian bersama David Hutama, kami menggagas kuliah seri Omah pertama dan ide How to Think Like an Architect muncul. Acara pertama lancar, kedua lancar, ketiga lancar, keempat hadir hanya 10 orang, acara kelima sukses hadir hanya 3 orang, bahkan satu saat staff kamk saya sms untuk datang ke studio dan ikut acaranya. Hal ini kontras dengan 5 tahun kemudian acara webinar yang bisa sampai mengundang ratusan orang. Pertanyaannya, apakah meledaknya partisipan itu yang dicari ? mungkin itu barometernya. Seperti ketika orang bertanya, berapa jumlah orang di studio kamu ? yang sebenarnya untuk mengukur barometer pendapatan, kapabilitas studio juga. Satu saat saya disadarkan oleh paman saya.

“Terus gali apa yang kamu cari, passion, keluarga, ilmu dan jangan terlena dengan harta, publikasi, ataupun tahta.” (Mungkin ada kemiripan dengan harta, tahta, Renatta yang sedang viral, lol)

Meskipun terlihat riuh rendah, dunia ini sepi kawanku, bagaimana bisa berkontemplasi begitu dunia begitu riuh. Mata – mata saling melihat, kuping – kuping terus mendengar. Inilah Lawang Kala (pintu waktu) yang baru, kita sudah memasuki jaman baru. Dan herannya saya baru sadar, kok ya baru sadar. Untung ada paman saya mengingatkan,

Saya baru menyadari, saat ini saya rindu akan kehangatan kawan – kawan yang dulu saya rasakan ketika menghabiskan waktu di Goldiers Green, Hampsted Heath dan juga saat – saat yang berkesan adalah saat saya dan Laurensia berkunjung ke negara Finlandia salah satu negara yang memiliiki ekosistem desain mengandalkan bermain – main di dalam fase mendidik anak, hal ini di dasarkan common sense bahwa ada relasi yang patut untuk dijaga, relasi akan mimpi.

Di dalam 5000 teman maksimal yang ada di Facebook, berapa orang teman kamu sesungguhnya ? dan beribu atau berjuta orang yang mengikutimu di Instagram, berapa yang benar – benar perhatian kepadamu ? Salah satu tujuan menjalin relasi adalah sisi bisnis, atau memperkenalkan diri untuk menggapai eksistensi. Selain ada juga yang bertujuan untuk bersilahturahmi dengan sahabat lama, tertawa, bersenda gurau dimana lingkaran pertemanan masih kecil. Di saat – saat ini, begitu banyak pertanyaan, apa masih berguna presensi social media kita ? Jadi seberapa mau saya mengubah hidup saya ? Baru hari ini saya bertemu dengan Airin Efferin dan Setiadi Sopandi, dan mereka bercerita tentang proses pembuatan buku Sketches and Regrets. Saya melihat kekuatan proses, memberi dan menerima, tanpa melupakan jejak jiwa. Menariknya hal ini yang saya lihat langka, menjadi personal sekaligus professional. Cerita Airin dan Setiadi Sopandi adalah cerita mengenai sepatu orang lain, dimensi efek arsitektur terhadap kehidupan orang lain, bukan hanya ajang promosi diri. Di karya tulisnya ada kejujuran yang menohok belakang kepala saya untuk bisa terus berefleksi bahwa relasi menjadi penting.

btw, ini IG Live pertama Omah Library yang sebenarnya masih pemula.
Photo by Mathias P.R. Reding on Pexels.com

Setelah itu saya memposting dua postingan di facebook satu untuk berterima kasih akan acara Design United dengan beberapa kawan lain termasuk Anna Herringer, Wendy Teo dan lainnya, setelah itu ada lagi postingan untuk Airin dan Cung. Setelah itu ada permintaan memasukkan email dan password, saya refresh screen facebook saya error, email saya berubah, password saya berubah, beberapa permintaan teman terkirim untuk orang – orang yang saya tidak ketahui, saya mengirim email ke facebook untuk mendeaktifasi acc facebook saya. Anggap saja ini jalan semesta, ha ha ha, toh sudah lama saya malas untuk mengupdate facebook, sambil nungguin recovery, ada – ada aja, lucu sekali dunia ini.

.

Miracle sedang main game yang dikirimkan oleh Miss Atika di sekolah.

HP saya ambil dan saya memanggil sahabat lama saya,

“Bro, apa kabar?”

di satu sisi ia terdengar setengah tertawa dan saya pun tertawa kembali.

“eh kampret katanya, lo kemana aja”

Disitulah kita tertawa tergelak – gelak sambil bernostalgia, atau tepatnya bernostalgila, sambil di sebelah saya, anak saya Miraclerich yang berusia 5 tahun sedang membuka game Mobile Legend dan terdengarlah suara

“Enemy Defeated !”

“anak umur 5 tahun ini ^^ iso2ne”

Kategori
blog

70 tahun Pendidikan Arsitektur di Indonesia

Terima kasih untuk SAPPK ITB yang sudah mengundang saya untuk menjadi penanggap di dalam acara “70 tahun Pendidikan Arsitektur di Indonesia”

Terima kasih untuk SAPPK ITB yang sudah mengundang saya untuk menjadi penanggap di dalam acara “70 tahun Pendidikan Arsitektur di Indonesia”

Dalam rangkaian acara Peringatan 70 tahun Pendidikan Arsitektur di Indonesia, Program Studi Arsitektur, SAPPK menyelenggarakan acara diskusi panel bertajuk: Menuju Desain Berbasis Pengetahuan dan Inovasi (Towards Knowledge-based and Innovative Design) secara daring pada Sabtu, 31 Oktober 2020.

Acara ini diikuti oleh sekitar 150 peserta yang berasal dari kalangan akademisi, profesional, dan mahasiswa dan menampilkan empat pembicara dan empat penanggap yakni:

Para Pembicara:

  1. Aswin Indraprastha, PhD dari Program Studi Arsitektur ITB
  2. Eng Moch. Donny Koerniawan dari Program Studi Arsitektur ITB
  3. Sonny Sutanto, IAI dari profesional
  4. I Gusti Ngurah Antaryama dari Program Studi Arsitektur ITS

Para Penanggap:

  1. Harris Kuncoro dari InPlace Design, USA
  2. Hari Sungkari dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
  3. Realrich Sjarief dari RAW Architecture
  4. Sammaria Simanjuntak, sutradara film.

Moderator: Dr.- Ing Hmasari Hanan, MAE.

Acara ini membuka kembali diskusi tentang disrupsi teknologi dalam proses desain arsitektur dan pendidikan arsitektur, kompetensi lulusan arsitektur dan peluang-peluang baru sebagai akibat perkembangan industri 4.0.

Link acara 70 tahun pendidikan arsitektur di Indonesia: https://www.70thpai.com

Kategori
blog

School of Alfa Omega

In this video, I want to share the our studio design approaches in creating the School of Alfa Omega. It is generally known that the spirit of locality is a process embedded in the practice of sustainable architecture, where the sustainable architecture itself is the product of the process. Meanwhile, the locality itself is an approach in the design process that considers its certain situation and location. In sustainable architecture, there are aspects of optimality that regard as basic criteria to be considered, such as the limitations and conditions in the site, optimization of building technology, and the relation of existing resources that nurtured by its social organizations. Yet, at the same time taking them into account about the risk that might occur in the future by managing its resources optimally that relatively limited. However, is it the same as the process of exploring local identities?

Kategori
blog

Lecture in Locality vs Future

Saya akan berbicara mengenai Pemikiran – pemikiran reflektif tentang desain yang sederhana namun bermakna sekaligus menjalin relasi dengan klien, untuk menghadapi masa Covid ini bersama – sama. Saya juga berbagi mengenai pendekatan karya studio kami yang terbaru menggunakan pendekatan kontekstual kritis melalui penggunaan material lokal, pertimbangan terhadap iklim tropis, dan tentunya berbagi mengenai ekosistem di dalam budaya studio yang eksperimental.

[SEMINAR ONLINE : Locality vs Future] ⁣⁣
⁣⁣
Salam Arsitektur!⁣⁣
Halo teman teman, HMA Atrivm mengadakan seminar online via Google Meets, dengan pembicara seminar ini adalah :⁣⁣
⁣⁣
Arch. Dipl. Ing. Cosmas D. Gozali, IAI, (Atelier Cosmas Gozali)⁣⁣
Realrich Sjarief (Realrich Architecture Workshop-RAW Architecture) @rawarchitecture_best
⁣⁣
Hari, tanggal: Sabtu, 24 Oktober 2020 pk. 12.00 WIB – selesai (diharap login 15 menit sebelumnya)
⁣⁣
Mekanisme mengikuti sharing ini: ⁣⁣

  • Mendaftar dengan mengisi link google form di bawah.⁣⁣
  • Ketika peserta sudah terdaftar, undangan link meets akan dikirimkan melalui email pribadi peserta seminar.⁣⁣
    ⁣⁣
    LINK PENDAFTARAN⁣⁣
    https://forms.gle/MqBvTGU5AiWQ8mHZ8
    (atau cek bio @hma_atrivm)⁣


    CP : 085225082255 (Tirza) & 088806266191 (Emma)⁣⁣
Kategori
blog book writing tulisan-wacana

Rentang Asa dalam Ragam Rona Nusantara yang Terselubung

“…the man who regards his life as meaningless is not merely unhappy but hardly fit for life.” (Albert Einstein)

Victor Frankl menghabiskan waktu 3 tahun di dalam kamp konsentrasi. Ia menyaksikan bagaimana anak dan istrinya dibunuh di dalam kamp konsentrasi tersebut. Ia sendiri menghabiskan waktunya dengan bercakap – cakap membuat simulasi mengenai ruang kelas, tempat ia sedang memaparkan sebuah materi ke murid – muridnya. Materi tersebut adalah sebuah terapi terhadap dirinya sendiri, namanya logotherapy. Logotherapy adalah Konsep yang didasarkan pada premis (apa yang dianggap benar sebagai landasan kesimpulan kemudian yang menjadi dasar pemikiran) bahwa kekuatan motivasi utama seorang individu adalah untuk menemukan makna dalam hidup.Semangat yang muncul di dalam kuliah Nusantara hadir seperti bayi mungil yang tanpa pretensi, ia lahir dengan kekuatan cinta, sebuah keinginan untuk merekonsiliasi, memperbaiki, membangun semangat Arsitektur di Indonesia.

Semangat yang muncul di dalam kuliah Nusantara hadir seperti bayi mungil yang tanpa pretensi, ia lahir dengan kekuatan cinta, sebuah keinginan untuk merekonsiliasi, memperbaiki, membangun semangat Arsitektur di Indonesia. Lagu terima kasih Ayla adalah lagu yang digubah Jaya Suprana untuk istrinya Ayla sebagai ungkapan terima kasih dan puji syukur.

Di dalam perenungan mengenai Nusantara setidaknya ada sebuah ide bahwa Indonesia yang dikaitkan Nusantara adalah negara besar, ada sebuah ide bahwa Indonesia yang dikaitkan Nusantara sebenarnya bagian dari sebuah tatanan yang lebih besar lagi, dan ada ide juga bahwa Indonesia tidaklah besar – besar amat. Saya percaya bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan sebuah ide adalah sebuah awalan, yang membantu untuk menggulirkan ritual – ritual yang lebih besar yang akhirnya bergulir menjadi kenyataan – kenyataan baru. Tanpa adanya ide kita tidak bisa maju jalan dan Frankl pun tidak akan bisa merekonsiliasi trauma yang dialaminya.

Ada kontradiksi di lukisan School of Athens yang dilukis oleh Raphael juga perjalanan hidup Suryomentaram. Di lukisan Raphael Terlihat figur Plato yang menaikkan tangannya dan Aristoteles yang menurunkan tangannya menunjukkan pentingnya bagaimana berpikir fundamental, atau mengakar, berbasis pada pengamatan lapangan. Berpikir fundamental ini di dalam definisinya adalah bagaimana menemukan akar dari sebuah hal yang sedang dibahas. Hal ini terkait dengan radix atau berpikir radikal. Untuk konteks Indonesia yang terajut dengan berbagai silang budaya, hal ini terlihat dari perjalanan Suryomentaram untuk melepas gelar kebangsawanannya dan berteman dengan rakyat jelata, menikmati realitas sosial yang tidak berjarak. Proses meniadakan ini mewarnai dinamika aksi reaksi yang menelurkan sikap filsafati yang berkelindan terhadap aksi reaksi diri pribadi dan kosmologi yang lebih luas sampai ke tataran negara dan dunia, disinilah muncul kekuatan sikap untuk mendapatkan fundasi yang kokoh dan dahsyat.

Berpikir radikal adalah sebuah fundasi, sebelum bisa menerapkan bagaimana berpikir kritis. Pembahasan pengetahuan yang ilmiah, ini dimulai dari Yunani dengan berusaha untuk menjelaskan dasar teori sebagai sebuah takaran intelektualitas, dimana kebudayaan pra sejarah Mesir – Mesopotamia, Sumeria, Babilon, dan India masih di ranah Mistis – Praktis. Di dalam kebudayaan di Yunani, sifat ilmiah dari sebuah pengetahuan muncul karena mengandung hal – hal yang pasti. Dimana terbagi ke dalam dua kutub yang dibahas di atas, Plato dengan pengetahuan yang universal dan Aristoteles dengan menjelaskan mengapa “the why”.

Di dalam buku Nusantara yang ditulis oleh Abidin Kusno (bisa dipesan disini) penelisikan “the why” dituliskan oleh Suwardana Winata di prolog dan Mohammad Nanda Widyarta di epilog. Suwardana melihat bahwa keterkaitan pembentukan brand di dalam dunia digital berpotensi memundurkan perkembangan keilmuannya.

Suwardana menulis “Arsitektur Nusantara dalam perdebatannya, secara terus menerus dicari dan diungkap dengan berbagai konteks pemikiran maupun filosofi serta perancangannya. Berbagai pendekatan dan metodologi digunakan untuk mencari atau mengungkap Arsitektur Nusantara itu. Dalam era digital, pencarian arti Arsitektur Nusantara dapat menghasilkan berbagai kemungkinan, akibat pembentukkan opini (tafsir opini). Pembentukkan opini ini  dapat “nyasar”, dengan hanya menjadi brand atau label bahkan hanya sebuah tag. Dalam era yang didominasi visual ini,  peran label ini memiliki pengaruh besar dalam membangun opini publik bahkan pembentukkan pengetahuan Arsitektur Nusantara. Perjalanan Arsitektur Nusantara, perlu terus “dikembangkan” dari berbagai arah, sehingga Arsitektur Nusantara tidaklah dapat didefinisikan sebagai “single” Selain itu perlu juga diperhatikan dengan opini “Arsitektur Nusantara” …oleh para star atau publicist digital yang akan menjadikan Arsitektur Nusantara hanya sebagai trend yang sifatnya sangat temporer dan meaningless.”

Di satu saat pada waktu saya memberikan kuliah di Universitas Udayana Bali, saya bertemu dengan Pak Josef Prijotomo, ia menitipkan satu manuskrip yang ketika saya buka, tulisannya seperti tulisan seorang penutur. Isinya tidak terstruktur, dan saya jujur saja kesulitan untuk menatanya. Akhirnya saya putuskan bahwa kami perlu menghabiskan waktu untuk berbincang- bincang dan membahas kuliah tersebut, sehingga saya masih belum bisa melanjutkan untuk menyunting manuskrip tersebut. Pada dasarnya, manuskrip itu perlu diolah kembali terutama dengan referensi apa ia akan dipadu padankan, banyak referensi yang belum jelas apakah itu hasil dari ekspedisi ataukah dari tutur – tuturan Pak Josef sendiri, dari situlah muncul sebuah dialog tentang, premis, pembuktian lapangan dan dasar teori yang digunakan. Disinilah masalahnya namun juga disinilah potensinya. Manukrip tersebut masih membutuhkan orang – orang yang perlu turun tangan untuk meneruskannya, wacana yang digagas beliau sebenarnya adalah wacana kritisisme yang dimulai dari refleksi hidupnya, dan semangat tersebut diperlukan untuk diteruskan, ditransformasikan ke dalam energi yang baru kembali.

Potensi seperti gambaran daya juang yang menjadi hulu ledak, neuron – neuron perjuangan di dalam kepala, hati dan kaki-tangan orang – orang yang sedang memperjuangkan pemikirannya untuk apa yang dicintai. Semangat daya juang ini menular, membuat rasa gairah yang tinggi, sebuah proses cinta. Proses tersebut pastilah melibatkan rasa benci, rasa suka, jarak dan tanpa jarak. Potensi ini muncul di dalam sebuah bentuk paguyuban.

Lain lagi potensi, lain lagi masalahnya, masalahnya muncul di dalam komunitas ilmiah dimana di dalam proses pembuktian proses berteori, yang dihindari adalah bagaimana proses penyusunan teori menjadi dasar dari proses berideologi. Dimana proses berideologi tersebut perlu untuk diungkapkan apa posisinya, apa urgensinya dan keputusan sejauh mana sang pemikir bisa menjaga jarak dari teorinya sendiri untuk bisa diuji oleh komunitas ilmiah.

Victor Frankl menulis Man’s Search for Meaning di dalam rekonsiliasinya terhadap penindasan yang dialaminya. Rekonsiliasi pemikiran ini terpancar di dalam proses kuliah Nusantara yang ada di Omah Library. Frankl menulis mengenai 3 tahap bagaimana seseorang bisa menemukan makna di dalam hidup. Pertama, dengan membuat karya atau melakukan perbuatan. Hal pertama yang dilakukan Jerman untuk bisa merekonsiliasi setelah perang dunia kedua adalah mengakui kesalahan dan membuat kenangan – kenangan tersebut menjadi kenyataan dengan banyaknya situs museum yang dibangun sebagai sarana refleksi bahwa Holocoust nyata – nyata terjadi dan memberikan pelajaran mahal mengenai korban yang muncul. Hal ini juga muncul tersirat di dalam diskusi yang muncul justru setelah pemaparan Abidin Kusno yang bisa dilihat di lembar lampiran.

Kedua, dengan mengalami sesuatu pengalaman baru atau bertemu orang lain. Pentingnya untuk bisa terhubung dengan orang lain, atau fakta – fakta baru bisa membuat kenyataan yang baru. Kenyataan tersebut misal sifatnya tidak tunggal atau ganda juga tidak sederhana dan kompleks. Fumihiko Maki perlu membuat teori Investigations in Collective Form, untuk mengantarkan kedahsyatan Jepang di dalam pembentukan teori yang akhirnya menyemangati munculnya gerakan kontemporer selanjutnya di Jepang yang mempengaruhi dunia barat . Hal ini juga ditunjukkan Bernard Rudofsky dengan penyingkapan arsitektur tanpa arsitek di tahun 1960 an dimana ia melakukan investigasi dan menelurkan pemikiran arsitektur tanpa turunan.

Ketiga, sikap yang kita ambil sebagai respon terhadap penderitaan yang tak terhindarkan. “Keadaan ini dipicu oleh trauma yang dihadapi setiap harinya di dalam kamp konsentrasi. Pentingnya keterbukaan di dalam melihat sebuah permasalahan. Perbedaan sudut pandang filsafati adalah, bagaimana medekonstruksi cara berpikir yang kaku dan merelasikan kedalam kebenaran yang situasional. Relasinya seperti, kekayaan situasional budaya, ekonomi, sosial di Indonesia misal, begitu kaya. Pemikiran filsafati berguna untuk menemukan akar keilmuan, proses perjalanannya seperti masuk ke hutan rimba yang pekat dan gelap diantara paradoks pandangan yang ideal dan pandangan yang fundamental. Perjalanan tersebut dimulai dari mempertanyakan hutan tersebut, dengan melihat gambaran besar hutan – hutan yang ada, dan apa sih hutan yang mau kita jalani ? terlebih lagi hal ini mempertanyakan apa yang kamu mau cari, passion apa yang kamu mau cari ? ataukah ada yang ingin dibuktikan ataupun sebenarnya tidak perlu membuktikan apa – apa. Pemikiran filsafati sebenarnya menjanjikan sebuah proses kedewasaan berpikir untuk menguraikan kekusutan terminologi, sebuah pemikiran yang terbuka (open ended) seperti kutipan diatas. sebuah progresi yang regresif, di satu sisi ia menjanjikan progress akan kedewasaan, disatu sisi mendefinisikan arti sebuah progresi dan regresi. Bahwa pada akhirnya, memahami maju mundurnya cara berpikir membuat tidak ada yang tidak mungkin di dalam alam pikir. Pertanyaannya apakah Nusantara patut untuk diperbincangkan ?

Melihat Indonesia yang sedang membangun dirinya, terkadang kita mungkin perlu bertanya – tanya di dalam kecepatan yang demikian pesat, bisakah kedua potensi dan masalah tersebut berdialog menjadi sebuah alfa (awal) dan omega (akhir). Kedua hal tersebut jelas – jelas sama – sama memiliki posisi masing – masing, dan saya pikir keduanya sedang mencari makna untuk kehidupannya masing – masing. Makna untuk rekonsiliasi trauma di dalam perjalanannya, penindasan, dan keleluasaan yang terjadi di dalam kehidupan setiap orang terpancar, terpantul dan terefleksi di dalam tata laku.

Melihat Indonesia yang sedang membangun dirinya, terkadang kita mungkin perlu bertanya – tanya di dalam kecepatan yang demikian pesat, bisakah kedua potensi dan masalah tersebut berdialog menjadi sebuah alfa (awal) dan omega (akhir). Kedua hal tersebut jelas – jelas sama – sama memiliki posisi masing – masing, dan saya pikir keduanya sedang mencari makna untuk kehidupannya masing – masing. Makna untuk rekonsiliasi trauma di dalam perjalanannya, penindasan, dan keleluasaan yang terjadi di dalam kehidupan setiap orang terpancar, terpantul dan terefleksi di dalam tata laku.

Abidin Kusno membuka kuliah pertama dengan sebuah tema reposisi, hal ini diperlukan untuk melihat Nusantara dari sudut pandang yang lebih luas. Diawali dengan Abidin Kusno, seseorang yang bisa melihat dari dalam dengan relasinya dengan Nusantara dan juga dari luar. Dalam kuliah wacana Nusantara: Reposisi, Abidin Kusno menampilkan 5 posisi/konsepsi nusantara, mencoba menunjukkan “nusantara” dalam sebuah konstruksi yang tidak lepas dari konteks suatu ruang dan waktu, politik negara, dan imaginasi intelektual & arsitek. Ia menjelaskan bahwa kelima posisi ini bisa saling berkelindan meskipun ada kontradiksi di antara mereka. Misalnya yang 1 & 2 itu tipis garis pemisahnya dan 3, 4, 5 erat hubungannya meskipun tekanannya berbeda.
1. Melalui Gajah Mada The Periferi: tanah di sebrang lautan (dari subjektivitas sebuah pusat). Dalam kehidupan zaman Majapahit, arsitektur nusantara mengandung 2 pengertian: arsitektur tanah sebrang/luar negeri, dan arsitektur pan-Majapahit style, atau mungkin sebuah empire style?
2. The Geo-body Melalui perspektif nation-state. Integrasi: penyatuan konsentris. Merupakan sebuah posisi yang berakhir dengan meng-nasionalisasikan nusantara. Menjadi ekspresi anti-kolonialisme dan legitimasi bagi formasi negara.
3. Melalui pengaruh austronesia Maerupakan konsep Aquatic space: yang berdasarkan aliran/arus/air. Posisi ketiga ini menjadi simbol tradisi bahari yang telah lama mengalami marginalisasi.
4. Melalui Denys Lombard Beyond the Nation-State. Yang dimaksud adalah posisi nusantara sebagai Persilangan: Hibrida budaya. Misal pada akhirnya ada yang klaim nusantara itu milik Indonesia atau Malaysia, tidak masalah, tapi tetap saja formasi budaya dari kedua negara ini adalah nusantara. Nusantara menjadi ungkapan kosmopolitanisme.
5. Melalui Josef Prijotomo Resistensi: Perlawanan dalam Kesetaran. Gerakan nusantara terjadi pada saat ada tekanan dari budaya hegemoni global yang cenderung memarginalisasikan sumber lokal. Sebagai perlawanan, nusantara diletakkan dalam posisi yang setara dengan kekuatan lain.

Pada akhirnya, Abidin Kusno merasa bahwa nusantara itu adalah istilah dimana keadaan ‘struggle over culture’ terjadi. Dan diharapkan lahir berbagai positioning lain sehingga membentuk sebuah himpunan yang beragam. Setelah itu kuliah disambut oleh 10 orang lain yang membicarakan arsitektur nusantara di dalam 10 buah perjuangan yang berbeda, dengan definisinya sendiri tentang Nusantara.

Di dalam Omah Library kami mengambil Nusantara untuk melihat apa yang penting dari kata tersebut, sejauh mana dampaknya untuk diperbincangkan, lalu pertanyaannya sejauh mana hal ini relevan di dalam komunitas – komunitas atau pribadi – pribadi yang saling berkelindan di dalam diskusi di Omah Library. Abidin Kusno mengambil 5 buah reposisi yang berbeda di dalam melihat Nusantara. Reposisi yang terakhir adalah latar belakang mengapa kuliah wacana Nusantara ini digulirkan.

Terkadang setelah acara saya menelpon Pak Josef untuk menanyakan pendapatnya, untuk melihat situasi yang mengukung beliau, apa perasaan beliau dengan pertanyaan, pernyataan yang satu dua hal terdengar mengadili dengan pretensi dari pihak yang berdiskusi. Hal ini saya lakukan karena beliau adalah orang yang patut diapresiasi dengan pencurahan seluruh energi hidupnya di dalam penyebaran dan kelahiran Arsitektur Nusantara. Ada beberapa kemungkinan – kemungkinan muncul di dalam diskusi yang dilakukan di Omah Library, mengenai bagaimana forum diskusi dan pemateri memaknai kekayaan dinamika budaya yang mewarnai wacana Nusantara di arsitektur Indonesia ke depannya.

  1. Munculnya diskusi yang kritis hasil dari pertemuan antargenerasi atau antarpengalaman orang – orang yang gelisah. Ada benang merah bahwa ketakutan yang muncul adalah wacana komersialisasi ataupun kompetisi yang mendegradasi perjuangan akan mencintai arsitektur tersebut. Dengan melihat akar permasalahan yang muncul, setidaknya bisa dipisahkan kompetisi dan komersialisasi dari perbincangan Nusantara yang lebih serius. Ataukah memang perlu ada dewan pengawas Nusantara untuk meregulasi bagaimana komersialisasi dan kompetisi Nusantara ini diturunkan ke ranah praktis. Saya harap tidak karena dasar filsafati yang terbaik adalah bagaimana membawakan diri dengan tepat, ketepatan ini ditunjukkan dengan suri Tauladan, memberikan ruang gerak pada penerus yang masih muda dan gelisah.
  2. Hubungan guru murid yang kental antara beberapa pembicara dengan Pak Josef Prijotomo. Keambiguannya terlihat dan terus muncul, meskipun diklarifikasi oleh beberapa orang yang membuat definisi – definisinya masing – masing dan berkelit dari hubungan yang memang nyata terjadi. Di dalam perdebatan Arsitektur Nusantara, saya masih melihat bahwa ada potensi luar biasa, hanya saja mungkin tongkat estafet itu sendiri perlu disibakkan oleh generasi penerusnya. Di antara hubungan guru murid tersebut, terlihat bahwa Pak Josef sendiri seakan – akan menantang murid – muridnya sekaligus memberi restu antara rasa euwuh pekewuh sekaligus kecintaan terhadap murid – muridnya. Hal ini perlu digawangi mungkin dengan kekuatan literasi.
  3. Adanya kesepahaman bahwa proses berpikir kritis diperlukan dengan saya tambahkan sebuah kebijaksanaan untuk merangkul orang yang tua dan yang muda dengan menjaga jarak dari hegemoni politik yang tidak diperlukan. Untuk itu pihak yang sadar (atau mudahnya bisa diinisiasi dengan Omah Library dan Jaringan Arsip Arsitektur Indonesia yang diinisiasi Mohammad Cahyo Novianto) perlu membantu menggawangi pendekatan akar rumput dari muda dan tua, antargenerasi hal ini dilakukan dengan bingkai acara perjalanan mengenal Indonesia dimana ini adalah usaha untuk merangkul orang – orang yang sudah mendokumentasikan arsitektur vernakular Indonesia untuk disebarkan dan memperkaya literasi arsitektur vernakular di Indonesia. Kita semua perlu bersatu bukan tercerai berai, untuk bersatu tersebut ditunjukkan dengan tauladan yang baik dengan menghindari pretensi yang muncul dalam menuangkan pemikiran.

Mari melangkah, banyak isu – isu lain yang layak dibahas seperti isu lingkungan, gender, ras, ekonomi kerakyatan, studio desain, dan banyak lagi. Mungkin kita akan bisa mendefinisikan Nusantara kembali setelah kita berjalan dan mengalami sebuah perjalanan ke empat penjuru dunia Barat-Timur, Utara-Selatan untuk mendapatkan kompas di dalam menjalani reposisi yang muncul di kemudian hari. Untuk menunggu hari itu tiba, mari kita mulai dengan Abidin Kusno, sebuah reposisi akan wacana Nusantara. Saya pikir jarak diperlukan untuk melihat bagaimana kedahsyatan Arsitektur Nusantara, energi yang mewakili salah satu dinamika arsitektur Indonesia.

Untuk menutup keseluruhan sesi ini, ijinkan saya meminjam pernyataan Mohammad Nanda Widyarta yang dituliskan ke dalam epilog buku,

Nanda menulis, “Menurut hemat saya, bila Arsitektur Nusantara kehilangan aspek perlawanan ini, maka ia akan menjadi kajian yang “itu-itu saja.” Maksudnya, ia masih juga terjebak dalam pengetahuan sebagaimana didefinisikan berdasarkan sudut pandang si pemilik hegemoni. Penggunaan istilah seperti “kearifan lokal” misalnya, masih menyiratkan adanya hegemoni dalam pemikiran si pemikir/periset. Arsitektur Nusantara sepatutnya bertindak sebagai pengingat bahwa ada banyak arsitektur-arsitektur lain di dunia yang juga patut diangkat.”

Dengan selesainya epilog dari Mohammad Nanda Widyarta di buku Nusantara kita bisa bersama – sama mengucapkan :


Hi semesta, ayam sudah berkokok berulang kali, selamat pagi, mari berjalan !

Dan pada akhirnya, saya perlu mengucapkan terima kasih terutama kepada Abidin Kusno yang mau berjibaku untuk mereposisi sebuah terminologi Nusantara dan memberikan tongkat estafetnya kepada kami – kami melalui Omah Library. Terima kasih juga kepada 10 pembicara yang sudah meluangkan waktunya untuk menyumbangkan 10 jembatan pemikiran reposisi lanjutan dari kuliah Abidin Kusno. Kesepuluh orang tersebut adalah Indah Widiastuti, Eka Swadiansa, Robin Hartanto, Mohammad Cahyo Novianto, Anas Hidayat, Revianto Budi Santosa, Mitu M. Prie, Defry Ardianta, Altrerosje Asri Ngawi, dan Johannes Adiyanto. dari kesepuluh orang tersebut kita memulai konstruksi pemikiran yang terbuka, rajutan pembangunan konstruksi yang sehat.

Terima kasih terbesar ada di Kirana Ardya Garini yang sudah membantu menyimpulkan kuliah demi kuliah, menemani di dalam sesi – sesi yang ada di dalam Nusantara, mengkordinasikan dan menjadi jembatan untuk banyak pihak. Juga kepada Satria Agung Permana, Amelia Mega Djaja, Dimas Dwi Mukti Purwanto untuk teman berdiskusi tanpa henti di dalam Omah Library, jembatan yang terakhir ini adalah doa untuk mereka berempat menjadi mata air baru untuk arsitektur Indonesia.

Dengan selesainya epilog dari Mohammad Nanda Widyarta di buku Nusantara kita bisa bersama – sama mengucapkan :

Hi semesta, ayam sudah berkokok berulang kali, selamat pagi, mari berjalan !
Publikasi buku yang dibuat oleh tim Omah Library, Tulisan ini berjudul Rentang Asa dalam Ragam Rona Nusantara yang Terselubung, atas dasar usulan Jolanda Atmadjaja untuk menanti – nanti kekuatan semesta terkait dinamika budaya yang melingkupi kebaikan setiap orang untuk selalu berproses dalam perjuangannya masing – masing.

Omah library dengan bangga mengeluarkan buku baru berjudul Nusantara: Reposisi
.
Masa mendekati perayaan 75 tahun merdekanya Republik Indonesia ini adalah saat yang tepat untuk menelusuri kembali imajinasi kita tentang negara, tak terkecuali juga hubungannya dengan ruang, makna, dan sejarah. Penelusuran tersebut kerap kali berujung dengan pertanyaan seputar “bagaimana kita memaknai Nusantara?”

Pemesanan buku @omahlibrary dapat melalui link di bio bit.ly/OrderOMAH atau hubungi Vivi (WA) 08998898239

Kategori
blog tulisan-wacana

Cermin Aku

Baru saja kemarin saya bertemu dengan teman saya Eric Dinardi, dan klien saya yang sudah seperti keluarga saya, Djonny Taslim. Pertemuan itu berlangsung karena rumah Djonny Taslim yang saya panggil om di Danau Biru, akan difoto oleh Eric Dinardi. Pagi itu Eric sudah melakukan sesi foto di pagi hari, dan saya baru datang.
.
Saya menyapa Eric dan Om Djonny, dan membuka jalan untuk masuk ke kamar beliau yang privat, Joan (istri Eric) menyemprotkan disinfektan, dan membantu menata, merapihkan perabot dibantu oleh asistennya. begitulah proses yang berlangsung ketika pemotretan, terlihat mudah tetapi membutuhkan persiapan.
.

Setelah pemotretan di kamar Om Djonny selesai, kami semua dipersilahkan untuk makan pagi bersama, sementara Om Djonny bersiap – siap untuk mandi karena akan berangkat kerja. Di meja makan disediakan bakmi 1 porsi, dan bihun 2 porsi. Om Djonny bertanya “kamu mau yang mana Rich ?” saya bilang, saya bihun saja om, supaya Eric dan Joan bisa saling mencicipi masakan yang berbeda. Setelah itu kami makan dan Om Djonny mempersiapkan dirinya, setelah menyetel lagu dengan speaker yang disiapkan dari dalam rumah.
.
Ketika kami makan, awal mulanya Eric mempertanyakan hal – hal yang fundamental, seperti “pernah kepikiran ngga sih ? saya ini maunya mencari apa ?” saya sebenarnya bingung darimana Eric bisa mendapatkan pertanyaan seperti itu. Hal ini seperti komposisi yang dimainkan oleh Ravel S. Gunardi dengan karya Victorious dari Levi Gunardi bahwa ada hal yang memuncak, sebuah keinginan untuk memurnikan diri. Diskusi kemudian berlanjut ke hal – hal seperti pendalaman diri, karya, dan pentingnya metode, skill untuk mempertajam karya, sampai satu saat Om Djonny Taslim bergabung duduk di meja makan. Saya kemudian mengarahkan pertanyaan ke beliau, dan meminta beliau mengeluarkan pendapatnya mengenai pendalaman diri, desain, arsitektur, fotografi sampai industri. Ia membuka diskusi dengan sebuah kalimat,

Ketika kami makan, awal mulanya Eric mempertanyakan hal – hal yang fundamental, seperti “pernah kepikiran ngga sih ? saya ini maunya mencari apa ?” saya sebenarnya bingung darimana Eric bisa mendapatkan pertanyaan seperti itu. Hal ini seperti komposisi yang dimainkan oleh Ravel S. Gunardi dengan karya Victorious dari Levi Gunardi bahwa ada hal yang memuncak, sebuah keinginan untuk memurnikan diri.
foto bersama Eric dan Joan bertemu dengan Djonny Taslim. Diskusi kemudian berlanjut ke hal – hal seperti pendalaman diri, karya, dan pentingnya metode, skill untuk mempertajam karya, sampai satu saat Om Djonny Taslim bergabung duduk di meja makan. Saya kemudian mengarahkan pertanyaan ke beliau, dan meminta beliau mengeluarkan pendapatnya mengenai pendalaman diri, desain, arsitektur, fotografi dampai industri. Ia membuka diskusi dengan sebuah kalimat,

“Jadi terkenal salah, ngga terkenal pun salah.”

Ia menjelaskan bahwa sebenarnya kami perlu mempertanyakan apa yang kami mau raih, di antara menjadi terkenal ataupun tidak terkenal, ada maksud masing – masing yang kontekstual dengan kebutuhan dan keinginan, juga persiapan. Ia berkata bahwa, penting untuk memiliki kawan untuk bertukar pikiran, jangan maju gegabah ke sebuah peperangan, menjadi terkenal ataupun tidak terkenal tidak masalah asalkan ada kebersamaan. Segala hal perlu disiapkan, sistematika pemikiran, ekonomi, hubungan relasi, dan hal – hal yang mendasar supaya begitu kamu terjun, kamu akan berprestasi. Dan pada akhirnya ia menitipkan ke kami, dan ingat tidak semua orang bisa menghargai karya kamu, yang terpenting, kamu harus bisa menunjukkan kenapa satu karya itu lebih unggul dari yang lain, dengan bukti, dan semua pembuktian itu membutuhkan waktu.

Batu Andesit yang disusun dengan pengaturan yang natural, kesan tidak teratur namun teratur, pola dalam kebersahajaan sesuai dengan karakter kesederhanaan. Dan pada akhirnya ia menitipkan ke kami, dan ingat tidak semua orang bisa menghargai karya kamu, yang terpenting, kamu harus bisa menunjukkan kenapa satu karya itu lebih unggul dari yang lain, dengan bukti, dan semua pembuktian itu membutuhkan waktu.
Foto bersama Djonny Taslim di rumah yang didesain di Danau Biru, sebuah konsep rumah kommunal yang dilanjutkan di dalam konsep rumah di Bukit Golf, mengenai hidup bersama – sama, sebuah konsep harmoni. Pertemuan kali ini berlangsung kira – kira hari rabu, 3 hari yang lalu. Saya masih mengendapkan, bahwa memang kami, Eric, Om Djonny, dan saya sendiri, berelasi dan kami perlu untuk saling mendukung satu sama lain, dan hal tersebut diwarnai saat – saat makan bersama di pagi hari di Danau Biru.

Pikiran saya kembali ke masa 2011, rumah Om Djonny dibangun dalam jangka waktu hampir 5 tahun, dan 9 tahun kemudian, baru kami berkumpul bersama, dan Eric ada disitu untuk memotret bagaimana rumah ini selesai dari tahun 2017. Waktu menjawab soal kualitas relasi, keutuhan, dan rasa kesabaran dari hanya hubungan klien dan arsitek. Pertemuan itu berlangsung kira – kira hari rabu, 3 hari yang lalu. Saya masih mengendapkan jawaban dan pertanyaan yang muncul, bahwa memang kami, Eric, Om Djonny, dan saya sendiri, berelasi dan kami perlu untuk saling mendukung satu sama lain, dan hal tersebut diwarnai saat – saat makan bersama di pagi hari di Danau Biru.
.
Sore ini Laurensia mengirimkan cerita ini ke saya :
.
Seorang Anak Muda sedang membersihkan aquarium Paman nya, ia memandang ikan arwana agak kebiruan dengan takjub..
Tak sadar Pamannya sudah berada di belakangnya .. “Kamu tahu berapa harga ikan itu?”. Tanya sang Paman..
.
“Tidak tahu”. Jawab si Anak Muda..
.
“Coba tawarkan kepada tetangga sebelah!”. Perintah sang Paman.
.
la memfoto ikan itu dan menawarkan ke tetangga .. Kemudian kembali menghadap sang Paman.. “Ditawar berapa ?” tanya sang Paman. .
“50.000 Rupiah Paman”. Jawab si Anak Muda dengan mantap.
.
“Coba kau tawarkan ke toko ikan hias!!”. Perintah sang Paman lagi.
.
“Baiklah Paman”. Jawab si Anak Muda. Kemudian ia beranjak ke toko ikan hias..
.
“Berapa ia tawar ikan itu?”. Tanya sang Paman.
.
“800.000 Rupiah Paman”. Jawab si Anak Muda dengan gembira, ia mengira sang Paman akan melepas ikan itu.
.
“Sekarang coba kau tawarkan ke Juragan Joni Rahman (nama – penamaan cerita ini tidak ada kaitan dengan Djonny Taslim ataupun siapapun, saya hanya menampilkan mentah – mentah cerita yang dikirimkan Laurensia)

, bawa ini sebagai bukti bahwa ikan ini sudah pernah ikut lomba”. Perintah sang Paman lagi. “Baik Paman”. Jawab si Anak Muda. Kemudian ia pergi menemui Pak Joni yang dikatakan Pamannya. Setelah selesai, ia pulang menghadap sang Paman.
.
“Berapa ia menawar ikannya?”. “50 juta Rupiah Paman”.
la terkejut sendiri menyaksikan harga satu ikan yang bisa berbeda-beda.
.
“Nak, aku sedang mengajarkan kepadamu bahwa kamu hanya akan dihargai dengan benar ketika kamu berada di lingkungan yang tepat”. “Kita semua adalah orang biasa dalam pandangan orang-orang yang tidak mengenal kita”. “Kita adalah orang yang menarik di mata orang yang memahami kita”. “Kita istimewa dalam penglihatan orang-orang yang mencintai kita”. “Kita ada lah pribadi yang menjengkelkan bagi orang yang penuh kedengkian terhadap kita”. “Kita adalah orang jahat di dalam tatapan orang-orang yang iri akan kita”. Pada akhirnya, setiap orang memiliki pandangannya masing masing terhadap kita, maka tak usahlah bersusah payah supaya kelihatan baik dimata orang.

Tapi berusahalah terus melakukan kebaikan dan menjalankan apapun dengan keikhlasan.

Refleksi ini muncul secara paralel di dalam wacana perbincangan arsitektur soal Nusantara dari Altrerosje Asri dan Johannes Adiyanto soal pentingnya membuka diri dan pentingnya merendahkan hati untuk bercermin kepada situasi – situasi yang membuat manusia perlu untuk beradaptasi dan mempertanyakan pemikirannya sendiri, bahwa perubahan itu ada, tidak ada yang sempurna, mari belajar kembali. Dari mereka berdua ada sebuah kegelisahan untuk melangkah maju, termasuk dialog dengan Eric Dinardi dan Djonny Taslim, termasuk Joan.

Cerita – cerita di atas ini setidaknya membuktikan satu hal, bahwa terkadang waktu bisa menjawab segalanya, dan memang Tuhan bekerja dengan caranya yang indah dan misterius untuk mempertemukan jiwa – jiwa yang gelisah.

Cerita – cerita di atas ini setidaknya membuktikan satu hal, bahwa terkadang waktu bisa menjawab segalanya, dan memang Tuhan bekerja dengan caranya yang indah dan misterius untuk mempertemukan jiwa – jiwa yang gelisah.


Lalu ada suara yang hangat menyapa,

“makanya bangun, dan hari ini jangan lupa berdoa ya, dan membuka dirimu terhadap hal – hal yang baru”

Kategori
blog tulisan-wacana

Jalan yang Sepi

Minggu depan, kuliah S3 dimulai. Ada 3 mata kuliah yang saya ambil, pertama adalah mata kuliah wajib metodologi penelitian yang diampu oleh Professor Iwan Sudrajat, dan kolokium yang diampu oleh Professor Sugeng Triyadi, dan Dr. Ir. Himasari Hanan. Yang kedua adalah filsafat ilmu pengetahuan yang diampu Professor Bambang Sugiharto.

The Road Not Taken – Jalan yang tidak diambil, Puisi dari Robert Frost.

Yang menarik adalah kenapa saya mengambil studi S3 ini, apakah ada waktunya ? lalu apa yang dicari ? Saya ingat satu kawan taruhlah namanya Abramovic menanyakan, atau bukan menanyakan tapi memberikan pernyataan yang cukup aneh mungkin terkesan punya presumsi tertentu,

“elo niat banget sih – semua mau – kantor mau / bikin buku mau / anak banyak mau / sekolah terus mau hehehehee 👍🏼👍🏼👍🏼👏🏼👏🏼👏🏼”

mungkin pernyataan pertama “kantor mau” itu muncul dari observasi kawan saya ini bahwa saya sudah membuat studio Realrich Architecture Workshop (dikenal dengan nama RAW Architecture), dimana studio tersebut adalah tempat saya dan anak – anak saya bereksperimen. Kami berusaha untuk terus bereksplorasi, bertanya, dan mencoba mencari tahu mengenai kemungkinan – kemungkinan eksplorasi. Menurut saya yang menarik adalah membongkar kondisi kata “mau” sebagai predikat dan objectnya “kantor”.

Pernyataan kedua “bikin buku mau”, lebih kepada observasi kawan saya ini akan saya dan kawan – kawan sudah membuat beberapa buku di Omah Library, tempat dimana kami membuka wacana – wacana yang diskursif. Dimana buku – buku tersebut adalah hasil dari proses dialog – dialog yang ada, satu arah, dua arah, ataupun tiga arah, arah – arah tersebut ada di dalam perspektif orang yang lain yang dibangun dengan repetisi yang saling membangun.

Pernyataan ketiga “anak banyak mau”, berkaitan dengan kelahiran Heaven anak kami yang kedua (lihat artikel “Heavenrich Selamat Datang Surga”), setelah beberapa kali mencoba dan tidak kunjung berhasil. Disini mungkin perlu dilihat perjuangan Laurensia di dalam menahan suntikan demi suntikan, ataupun, proses – proses kehilangan buah hati kami yang membawa rasa syukur akhirnya Heaven lahir dan menjadi kesayangan kakaknya juga.

Pernyataan keempat “sekolah terus mau”, muncul dari observasi terhadap kemauan untuk bersekolah (saya coba balikkan kalimatnya). Hal ini dikaitkan dengan mungkin usaha mahasiswa untuk mendapatkan gelar S “3 (atau saya simpelnya berbicara kadang es tung tung)” dimana hal tersebut menjadi salah satu tolak ukur sebagai pengajar. Proses tersebut adalah proses menemukan diri, dengan membongkar tatanan dengan sistematis, dan menyusun ulang dengan sistematis. Bu Himasari berkata pada sebuah saat tatap muka, “S3 itu bukan proses problem solving, tapi proses menemukan ilmu baru dengan pembacaan obyek yang diteliti.”

Saya merefleksikan darimana saya mendapatkan kondisi pemikiran untuk mau bersekolah kembali untuk meneguhkan kemauan diri supaya bisa berjalan sampai selesai (titik). Mungkin saya mencari sebuah oase perhentian, tempat untuk berpikir, berhenti sejenak, dan tempat untuk menilai, mendiskusikan, menambal, dan mengikis jelaga dari apa yang sudah dipikirkan, lakukan, rasakan. Mungkin manusia itu sebenarnya hanya menjadi jembatan yang berkelindan di antara dirinya dan orang lain, lalu kalau ditanya maunya apa, “kita berbagi kondisi – kondisi yang sama, dan juga berbeda, namun dari kesamaan tersebut kita bisa berbagi tentang matahari dan bulan yang sama dan meninggalkan bayangan yang berbeda – beda.

Kawan saya yang lain di satu saat Johannes Adiyanto mengirimkan pesan,

“beberapa teman yg ty sy ttg s3, selalu sy tanya, mo ngapain s3? cr pamor, ato cari apa? klo sekedar sibuk dan demi karir dosen… siap2….siap2 sakit semua badan, krn yg dikejar gak terlihat mas,perlu dari dalam sendiri, lha jenengan skrg dalamnya adalah suwung dan pasrah, ini modal, tp perlu ‘api’, ya itu tadi… pertaruhkan semuanya….” – Johannes Adiyanto

Teringat dahulu di dalam perjalanan karir di negeri Kuda Besi (kawan saya, yang lama tidak saya jumpai Marissa Aviana menyebut), dimana keputusan diambil dengan pertaruhan. Dan saya pikir, banyak orang juga mempertaruhkan banyak keputusan – keputusan dalam hidup masing – masing, dan kondisi – kondisi yang memicu pertaruhan tersebut membuat kita sedang berbagi tentang matahari dan bulan yang sama dan meninggalkan bayangan yang berbeda – beda.

Ini adalah tulisan saya sebelumnya tentang berbagi jalan, yang saya lampirkan juga puisi dari Robert Frost sebagai tempat refleksi :

SETIAP MINGGU WANITA TERBAIKKU SELALU BERANGKAT KE KLINIKNYA, TERMASUK HARI SABTU PAGI.

“Dari hari senin sampai kamis ia harus ke puskesmas, dari pagi jam 6 pagi sampai jam 9 malam. juga hari jumat dan sabtu. Terkadang kemudian kita bercerita hal – hal yang biasa, namun selalu membuat hal – hal yang biasa menjadi luar biasa dengan tertawa. Ternyata kita masih bisa tersenyum dibalik kesibukan yang luar biasa…”

The Road Not Taken – Jalan yang tidak diambil.

“Dua jalan bercabang dalam remang hutan kehidupan,

Dan sayang aku tidak bisa menempuh keduanya

Dan sebagai pengembara, aku berdiri lama

Dan memandang ke salah satu jalan sejauh aku bisa

Ke mana arahnya mengarah di balik semak belukar

Kemudian aku memandang yang jalan yang lain, sama bagusnya,

Dan mungkin malah lebih bagus,

Karena jalan itu segar dan mengundang

Meskipun tapak yang telah melewatinya

Juga telah merundukkan rerumputannya

Dan pagi itu keduanya sama – sama membentang

Di bawah hamparan dedaunan rontok yang belum terusik.

Oh kusimpan jalan pertama untuk kali lain!

Meski tahu semua jalan berkaitan

Aku ragu akan pernah kembali

Aku akan menuturkannya sambil mendesah

Suatu saat berabad – abad mendatang;

Dua jalan bercabang di hutan, dan aku,…

Aku menempuh jalan yang jarang dilalui,

Dan itu mengubah Segalanya.”Robert Frost [1916]

Dan seketika saya, tersadar, ternyata masih ada pernyataan terakhir dari kawan saya satu lagi itu yang mungkin memiliki presumsi, menyisakan Pernyataan kelima “hehehehee 👍🏼👍🏼👍🏼👏🏼👏🏼👏🏼” yang saya anggap sikap sebagai kawan dan dukungan untuk perjalanan yang akan dimulai, dengan gestur terkekeh – kekeh.

dan memang hal itu mengubah segalanya, menjadi begitu menyenangkan :) .

lalu,

“Dang Dut Time !” mumpung sepi ngga ada yang liat, hi hi. Ayo jalan, ga usah dipikirin kaya ngga ada kerjaan aja.

Es lilin adalah makanan penyegar berupa es dengan batang kayu sebagai alat untuk dipegang.Hal ini seperti permisalan seperti es (S) 1, es (S) 2, es (S) 3. sebuah bentuk yang baku seperti lilin yang dicetak siap untuk disajikan. Ia bisa mencair, yang dinikmati bersama sesuai selera. bisa jadi semakin ditambah S nya akan semakin membeku mulut kita, atau apabila dinikmati perlahan – lahan, rasa beku tersebut akan melumer dan nikmat dimulut lengkap dengan jus jeruk, durian, nangka, stroberi, kopyor, atau yang lainnya sesuai selera) yang diberi batang kayu lalu dibekukan.
Kategori
blog

Edy Bahtiar – Tat Twam Asi, Dia adalah Aku, dan Aku adalah Dia.


“Dalam tradisi lisan, Arsitek melibatkan semua entitas yg [di]hadir[kan]. Arsitek sbg koordinator atas semua entitas yg hadir.
Pdhl masing2 entitas punya tingkat pemahaman yg beda2 satu sama lain dalam menafsir (cerita) arsitektur yg sama. Bagaimana menghadirkan keutuhan & kesatuan arsitektur, shg arsitektur bs diibaratkan sebagai orkestrasi yg terpadu antar masing2 entitas … memainkan improvisasinya masing2.” – Pudji P Wismantara

Kalimat di atas di atas dilontakan dari Pak Pudji P Wismantara mengenai cerita di dalam sesi presentasi mengenai Cerita Nusantara yang dibawakan oleh Anas Hidayat.

Dari diskusi yang terjadi sebenarnya yang dibahas adalah adalah soal dialog di dalam melihat berbagai pandangan, Arsitektur seperti karya sastra, bukan menulis karya ilmiah, menulis hal – hal yang konotatif ataupun denotatif, menulis simbol – simbol yang harus diisi, dan menjadi proses berkarya yang hidup. Hal inilah yang kemarin dibicarakan oleh Johannes Adiyanto soal dialog, ia mengelaborasi ini kedalam bentuk Trialog.

Cerita Pak Eddy Bahtiar tentang prosesnya di dalam The Guild, Guha, dan Mekarwangi

Edy Bahtiar yang saya kenal adalah seseorang yang telah banyak membantu saya sejak pembangunan rumah Istakagrha, Mekarwangi, sampai ke proyek The Guild – Guha. Video ini adalah arsip untuk proses ketukangan yang sedang dijalankan di dalam studio di rentang tahun 2016 – 2017 – 2018 (tengah). Sekarang proses ini masih berjalan.

Data ini sebenarnya bertujuan untuk mendengarkan suara langsung dari dimensi tukang. Ada persepsi – persepsi yang khas dengan persepsi langsung dari Edy. Di dalam proses pembangunan, seluruh hasil memerlukan pertimbangan matang, terukur, dan pertimbangan dari insinyur struktur, MEP, dan saya sendiri untuk sebuah eksperimen arsitektur. Sebagai arsip data – data ini dibutuhkan oleh kawan saya Johannes Adiyanto yang menyusun sebuah konstelasi yang dinamakan Alfa menuju Omega, sebuah Trialogi Praksis.

Ini babak – babak yang ada di dalam video :

00.10 – Sebelum pak Eddy bergabung

07.30 – Cerita membuat 3 bentuk piramida – tumpang sari

12.20 – Tantangan demi tantangan

19.30 – Clue Catenary (membentuk pintu lengkung)

24.30 – Proses hampir selesai – 99 % proses bersama – sama 3

3.50 – Sebuah kemungkinan

Kita kembali ke diskusi Cerita Nusantara, saya ingat, Mas Nurudin pun menyambut dengan pernyataan tentang dialog di diskusi tersebut

“Arsitek mungkin bisa diibaratkan memberikan cerita awal. Barulah dari cerita awal tersebut masukan2 muncul terkait cerita itu. Tanpa cerita itu mungkin tidak ada dialog dan masukan. Seperti ngobrol di angkringan itu. Arsitek bisa menjadi “pemantik” obrolan. Arsitektur tidak mendominasi tapi justru membuka obrolan. cair sifatnya
kalau digital saya bayangkan mirip wikipedia. cair. terbuka. semua boleh ikut edit. Hanya saja mungkin yang perlu dipikirkan bagaimana menjaga akurasi informasi di era digital yang sangat masif arus informasinya (?)” – Nurudin

Kehidupan di dalam proyek cukup kompleks, dengan setiap orang memiliki posisi masing – masing, posisi arsitek, tukang, klien, kritikus, tukang, tetangga, dan begitu banyak posisi – posisi yang lain.

Aku adalah dia dia adalah aku, Prof. Oka Sarasvati membahas ini di dalam dialog di dalam bentuk tattwamasi. Tat twam asi berarti “itu adalah kau”. “Kau” di sini mengacu pada substrat yang tak lepas dari setiap individu. Hal tersebut bukanlah tubuh, pikiran, pancaindra, atau sesuatu yang dapat teramati. Hal tersebut adalah sesuatu yang paling dasar, jauh dari segala sifat keakuan. Dalam pengertian ini, “kau” berarti atman. Entitas yang dimaksud dengan kata “itu”, menurut Weda, adalah Brahman, realitas yang melampaui segala sesuatu yang terbatas. Intinya Tat twam asi adalah dia adalah aku, dan aku adalah dia.

Titik utamanya adalah adalah bagaimana membangun dialog yang saling merajut, seperti air yang mengalir.

Kemudian saya terkejut, ketika merasakan air mandi di satu hari di Mekarwangi-Piyandeling.

“dinginnnn”

Kategori
blog

RAW Architecture is Longlisted Emerging Architect in Dezeen 2020

Kami mendapatkan email dari Aisling Cowley dari Dezeen, tentang kabar baik untuk studio RAW Architecture. Jadi studio kami mendapatkan nominasi (long listed) berarti daftar panjang untuk arsitek yang “emerging”. yang berarti, baru muncul ( Emerging bisa berarti : becoming apparent or prominent.”established and emerging artists”).

Saya meminta anak – anak untuk menuliskan kesan – pesan di Studio. Ini pesan saya ke anak – anak sebagai harapan dan refleksi proses perjalanan kami, dan saya tuliskan disini dengan harapan untuk membangun kultur studio saling berdialog.

“Hi (guys)…tolong kasih pesan dan kesan ya, semoga bisa jadi harapan yang baik untuk proses yang terjadi.”

Ini satu dialog saya dengan Johannes Adiyanto,

“Realrich Sjarief : bagaimana bisa trialog, kalau dialog saja tidak pernah dilakukan
Jo Adiyanto: hahahaha…. bagaimana bercinta…. berkenalan saja antipati…..”

Paguyuban Spirit – I had learned that architecture is sacred, and is all about collaboration process. Our team consists of dedicated craftsmen, young designer, many of them are brothers, sisters, friends for life. None of these was of more use to me than the call for long lasting relationship. If any Outlier wished to be successful in his place, we helped them to rise, which all who were within hearing answered yes to the bright future of all of my fellow family. Then the nature will call of reciprocal rules, that every kind people deserve to be succesful, effort should be noted, and thanked for. It will be appreciated. That is the beautiful side of monumental architecture, that is creating memories for all of the people’s in.

Alifian adalah kepala studio RAW Architecture, dan ada beberapa orang yang juga memberikan kesan pesan tentang studio.

Alifian Kharisma – “kultur studio RAW tidak lepas dari karakteristik seorang kak rich. yang tangkas, mendidik, dan passionateful. dari ribuan jam sy di studio rasanya selalu ada hal baru menanti. ‘there is no problems if new one arrives every minute’. kutipan di ppt raw introduction yg selalu sy bacakan buat para staff baru dan anak magang. ini kesan saya yang pertama. Bekerja seperti belajar berenang, kadang dibimbing, kadang dilepas. kalau tenggelam ada yg ngangkat ke permukaan lagi. kak rich dan para senior itu mentor sy untuk berenang. kak rich pun masih belajar dengan guru dan tingkatan yg berbeda. seiring pengalaman, saya juga harus menjadi mentor untuk yg lebih muda. kesan yang kedua yaitu: setiap orang di studio ini punya kepribadian masing2 yg unik. punya skill skill yg tidak terduga, jago bola, musik, jago joget, jago kerajinan tangan, dll. orang orang datang dan pergi. mereka punya kesan masing2 bahkan untuk orang yg cuma punya waktu 1 hari di studio. 😆. dari sini saya bersyukur kenal macam macam orang.”

Fadiah – “26 September 2020 nanti tepat 4 tahun saya bergabung dengan RAW Architecture. Bukan waktu yang sebentar tapi juga masih sangat dini dalam berkarir di dunia arsitektur. Untuk saya pribadi, proses pendewasaan dan perubahan pola pikir saya banyak terjadi dalam masa-masa tersebut. Saya beruntung dipertemukan oleh teman-teman dengan karakter unik yang akhirnya banyak membuka pikiran saya. Dunia arsitektur sangat luas cakupannya. Dulu saya kira dengan saya tidak mahir dalam mendesain … saya tidak bisa melanjutkan karir saya di bidang arsitektur. Tapi setelah saya masuk …, saya menemukan kenyamanan dalam pola kerjanya. Menggambar detail, mencari solusi untuk lapangan, diskusi dengan principal sampai mandor, mengenal material, dll. Memperhatikan proses dalam mewujudkan bentuk dari gambar ke bentuk nyata di lapangan memberi kepuasan sendiri untuk saya, …”

Vivi Yani Santosa – “Bagi saya RAW itu studio yang besar dan hebat, bangga bisa termasuk di dalamnya. Besar karena bisa memberi impact kebanyak orang (tukang2, kami yang ada di studio, dan Kak Rich n fam) buat sama2 belajar dan memberikan apa yang terbaik dalam diri ke orang luar (klien, keluarga, org sekitar spt Bang Yus, ataupun org lain yang baca artikel dari RAW atau OMAH). Hebat karena ada proses give and take, bisa berusaha membuka lapangan pekerjaan buat banyak tukang, termasuk membuat koneksi ke kontraktor … jg sesuatu yg hebat karena jadi sama-sama belajar dan membuka diri ke orang lain untuk saling percaya. Pastinya RAW jauh dari sempurna tapi saya merasa ada proses berjalan ke arah yang lebih baik lagi dan itu baik :) Disini saya jg merasa bisa belajar untuk lebih berani mencoba banyak hal, menyuarakan ide / potensi diri, mendapat feedback, belajar untuk memiliki komunikasi yang baik (ke tukang, ke teman, ke kak Rich), dan keberanian untuk mengambil tanggung jawab lebih (karena apa yang dikerjakan pasti menyangkut ke orang berikutnya ataupun ke pekerjaan lapangan). Belajar juga kalau ada hal yang lebih fatal daripada kesalahan yaitu tidak mencoba atau malu bertanya…RAW harus terus maju tanpa memusingkan perkataan orang lain tapi mendengarkan saran yang membangun, jangan terlalu tergesa2 dalam semua hal, tp terus maju ke arah yang lebih baik…”

Thomas Andrean Santoso – “Hal yang paling berkesan selama di RAW adalah ruang untuk belajar. RAW adalah ruang untuk belajar mulai dari teknikal hingga hal mendasar yg bersifat attitude dan semangat.
Attitude dan semangat tersebut mulai dari semangat belajar, semangat kesejawatan, dan semua halnya untuk membuat karya yang semaksimal baik dan benar. Idealis memang, tapi itu yang saya rasa perlukan untuk bisa dikembangkan. Pesan untuk RAW dan OMAH untuk tetap semangat berbagi dengan insan arsitektur di Indonesia.”

Timbul Arianto- “Selama bekerja di RAW saya menemukan banyak sekali hal baru yang belum pernah sama sekali djalani, banyak insight baru, baik dari segi design maupun implementasi. RAW memberikan ruang dan memberikan kesempatan untuk seorang Freshgaduate seperti saya untuk dapat berkembang dan menemukan jati diri, mengenali diri. Bekerja di RAW melatih seorang individu untuk berfikir taktis mampu memilah-milah, mengenali, dan menyelesaikan masalah (problem) karna untuk mengenali masalah saja dibutuhkan knowledge yang cukup. Ekosistem yang terbentuk sekarang di RAW mengharuskan untuk setiap individu memiliki inisiatif dan berkapasitas besar, untuk saya sendiri hal ini cukup menarik dan menantang, melihat betapa dinamisnya jenis pekerjaan dan metode penyelesaiannya sehingga memunculkan berbagai excitement tertentu terlepas dari berbagai obstacle yang dihadapi. Saya sendiri menilai ini sangat baik jika boleh saya refleksikan terhadap diri saya untuk dapat berkembang dan memperoleh skill yang mumpuni, seperti belajar di sekolah favorit yang terus terpacu oleh diri sendiri yang terus berkontemplasi, berimajinasi dan berfantasi… saya sendiri yakin bahwa RAW banyak sekali berkontribusi terhadap pembentukan individu-individu yang sudah pernah dan sedang terlibat ikut serta dalam proses berkaryanya. segala yang baik akan terus dijalankan, dikembangkan, dan dilestarikan oleh setiap orang, …”

Riswanda Setyo Addino – “Hal yang menarik ketika ditempatkan pada kondisi lapangan yang dikatakan oleh orang Indonesia ‘tidak akan sama dengan teori’. Namun disini saya menemukan bahwa pendapat itu seharusnya mulai ditambahi ‘namun dengan teori yang fundamental kita bisa menata pikiran untuk menyelesaikan sebuah kasus secara rapi dan meminimalisir efek samping.’. Karena pada dasarnya yang menciptakan apa yang disebut sebagai ‘teori’ adalah praktisi juga namun dengan konteks yang berbeda. Namun konteks tersebut jika dirinci memiliki variable yang bisa jadi memiliki beberapa kesamaan dengan konteks yang kita hadapi. Sehingga ‘teori’ yang kita implementasikan nantinya hibridasi dari dua konteks, sehingga kita bisa mengatakannya sebagai ‘teori’ baru ke orang lain. Sehingga ‘teori’ tersebut sah-sah saja untuk digugat dan diuji dan pasti berbeda dengan situasi lainnya. Bisa jadi dari waktu, musim, insiden, kualitas manusia, tingkat referensi, dan tentunya teknologi…”

Agustin (Meimei) – “Beberapa hal yang didapat dari studio, yaitu saya belajar bagaimana untuk membuat keputusan, berkomunikasi dan berkoordinasi bersama tim, subkon, supplier, dan lainnya. Jujur lebih banyak pengalaman yang didapatkan di studio dibanding dengan di kampus. Untuk sistem yang sekarang dimana saya duduk di dekat kak Rich, awalnya membuat saya gugup. Tapi setelah mengalami, banyak hal yang malah membuat ekspektasi saya mental. Duduk di dekat kak Rich membuat masalah yang ada langsung terpecahkan. Memudahkan berdiskusi mengenai desain ataupun teknis. Saya juga dapat banyak pelajaran baru.”

Riko Yohanes – “RAW merupakan studio arsitektur yang progressif. Sebuah studio yang terus berkembang. Karenanya disini selalu terdapat ilmu-ilmu baru, sebuah tempat yang cocok untuk belajar menjadi seorang arsitek. Disini saya belajar tentang kemandirian dalam cara berpikir. Tentang bagaimana cara untuk tidak selalu disuapi dalam hal berpikir. Saya dituntut untuk memahami lebih dalam setiap permasalahan dan bagaimana men-solusikan setiap permasalahan secara mandiri yang kemudian di diskusikan bersama-sama dengan team. Sebuah kemandirian yang harus dimiliki setiap arsitek apabila inging menjalani petualangannya sendiri (memiliki biro sendiri).Selain itu saya belajar bagaimana membentuk mental saya sebagai arsitek. Bagaimana saya, seorang lulusan freshgraduate harus menginstruksi para pekerja di lapangan yang lebih tua puluhan tahun, dan seolah-olah menggurui mereka, sebuah hal yang aneh tetapi tetap harus dilaksanakan demi keberlangsungan proyek. Kemudian, dalam permasalahan di lapangan, saya dituntut untuk belajar tetap tenang dalam menghadapi situasi yang urgent sekalipun, dan bersikap profesional untuk menjaga sikologi klien, sehingga disini mental saya terus diasah dan menjadikan saya lebih dewasa sebagai seorang arsitek…”

Arlene – “Kegiatan2 seperti makan siang dan makan malam bersama benar2 membangun kerja sama tim yg baik. Lalu yang paling berkesan adalah acara omah bittersweet krn menencourage orang2 untuk lebih lagi berjuang dan bertahan di industri arsitektur…”

Khafid – “Pelajaran berkesan yang saya dapatkan di kantor yaitu Berhubung saya masuk di divisi MK dan sering banyak kelapangan jadi saya lumayan cukup tahu bangaimana proses awal pekerjaan struktur pondasi, kolom, balok hingga selesai. setelah itu selesai selanjutnya, lanjut masuk mulai pekerjaan finishing disinilah saya harap saya mendapatkan hal baru yang sebelumnya saya belum pernah dengan tetap mengikutinya sehingga pengetahuan saya bukan hanya tentang struktur saja akan tetapi proses dari awal hingga endingnya atau sampai finishing selesai complete.”

Muhammad Alim Hanafi – “Pertama-tama saya bersyukur bisa dapat kesempatan belajar dan berkontribusi di RAW. Saya sangat merasakan bagaimana di RAW tidak hanya dituntut untuk bekerja saja, tapi juga untuk berkembang pada setiap individunya. Ekosistem pembelajarannya cukup terasa, seperti seolah pada tiap individu tim design dan build tertuntut untuk belajar dan ‘mengajar’ sesama…”

Dan saya juga meminta tim Omah Library untuk mengisi harapan tersebut sebagai bagian dari keluarga besar.

Amelia Mega – “Selama sekitar 8 bulan berada di OMAH Library, saya mempelajari dan melakukan banyak hal yang baru. Dari menulis manuskrip, wawancara, membuat acara, promosi, serta materi kuliah. Hal-hal tersebut kemudian mempertemukan saya kepada pengetahuan-pengetahuan baru (paling tidak bagi saya), dan mengetahui berbagai perbincangan tentang arsitektur yang kini sedang terjadi. Kesadaran ini kemudian turut membentuk persepsi-persepsi personal saya terhadap arsitektur, arsitek, dan ilmu yang melingkupinya. Saya merasa senang dan berterima kasih dapat melalui proses tersebut, karena kurang-lebih seperti itu yang saya bayangkan akan didapatkan saat mendaftar di OMAH…”

Dimas Dwi Mukti Purwanto – “Selama belajar dan bekerja di Omah Library memberikan pengalaman yang sangat berkesan bagi saya pribadi karena tempat ini benar – benar mampu membentuk pola pikir baru yang lebih baik bagi saya. Terlebih terkait tentang bagaimana cara bekerja secara profesional dengan mengetahui dengan benar beban pekerjaan yang harus diprioritaskan. Selain itu saya juga menambah skill menulis dan menemukan skill baru yaitu tentang bagaiman meriset hingga sedikit mampu melihat konteks yang kemudian dapat menentukan bagaimana tindakan yang relevan melalui kegiatan menulis…”

arsitek profesional memiliki tugas-tugas dasar, yang merupakan praksis, pendekatan aksi reaksi antara metode desain dan refleksi atas metode tersebut. Ini disebut praksis. Seperti memainkan gamelan di atas denting tuts piano.

arsitek profesional memiliki tugas-tugas dasar, yang merupakan praksis, pendekatan aksi reaksi antara metode desain dan refleksi atas metode tersebut. Ini disebut praksis. Seperti memainkan gamelan di atas denting tuts piano. Karya Levi Gunardi dimainkan oleh Euginia S. Sandjaja “Little Gamelan”

“Cara kerja Model Praxis mengacu pada penjelasan Paulo Freire dimana terdapat aksi refleksi dan refleksi atas aksi.Titik tugas arsitek adalah bekerja secara eksploratif, puitis, dan mempersiapkan transfer ilmu kepada penerus kita, dunia yang indah bagi yang muda. arsitek.”

Praktik ini beroperasi berdasarkan konsep kontemplasi rahayu, yang diterjemahkan menjadi ‘harmoni. Ini berarti keadaan bebas dari prasangka dan ego, yang digunakan untuk memperoleh (secara paradoks) totalitas. Tiga prinsip dari konsep ini adalah: Memayu (membawa keindahan dan kedamaian ke dunia seseorang), Manunggal (percaya pada sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri), dan Mudheng (memiliki kesadaran akan peran seseorang di alam semesta). Dalam menjawab pertanyaan kontemporer (saat ini) untuk melanjutkan semangat eksplorasi.

Semoga harapan – harapan yang baik dari anak – anak studio bisa terus dipertahankan, dan diwujudkan. Hal – hal yang patut untuk ditingkatkan bisa diperbaiki, Rahayu perlu dipraktekkan untuk menjadi jembatan yang baik.

Lalu Miracle datang berteriak

“paaaa lava is coming,

lets go together, hiding, let’s play.”

Kategori
blog

Batas Langit itu Dimana ?

Satu waktu saya bertemu dengan Pak Daniel dan Bu Lany untuk mendengarkan rencana mereka membangun satu galeri baru di Kemang. Pak Daniel pun mengundang saya untuk bertemu di Modena Experience Center di Kuningan. Saya kenal pak Daniel dari klien kami Pak Danny dan Pak Edhie. Dan, ternyata Bu Lany juga kenal dengan Pak Budiman, salah satu arsitek yang saya kagumi karena dedikasinya yang tulus dan mengingatkan satu saat di presentasinya di Omah. Hal itu saya masih ingat sampai sekarang,

Saya bertanya ke Pak Budiman, “Pak apa rahasianya, … untuk tidak pernah takut ?”

Ia menjawab “Realrich hidup itu cuma sekali, jalanilah kenapa takut ? … ” dan Pak Budiman mengingatkan.

“jangan lupa sembahyang…”

kehidupan yang cuma sekali, ini bisa diibaratkan anak kecil yang sedang menari – nari di antara bintang, Lagu komposisi dari Levi gunardi ini menggambarkan, jiwa anak – anak di dalam persona yang berkelindan di antara harapan – harapan. Begitupun arsitektur ada di dalam alam tegangan keinginan banyak pihak, klien, tim yang tidak kecil.

Dari perbincangan Pak Daniel , terlihat ada bangunan lama yang sudah ada di lokasi. Saya berpikir bahwa perlu untuk melihat apa yang sudah ada dan kemudian menggunakannya dengan cermat untuk melakukan penghematan. Saya membuat janji untuk berkunjung melihat lapangan jam 11 di hari Jumat, kebetulan hari itu hari libur, jadi saya kesana sendirian. Kami berdiskusi di lapangan. Setelah mengecek lokasi yang bebas dari banjir, melihat ketinggian bangunan, kemungkinan layout ruang, saya mengusulkan untuk mengecek struktur bangunan. Prosedur pertama adalah pengecekan material apa yang bisa dipertahankan, posisi kolom yang menjadi batasan, dan kualitas struktur yang bisa dilihat secara visual. Saya mengirimkan pesan ke beliau,

“Hallo pagi Pak Daniel,Pak Daniel masih ada data existing yang saya masih belum dapetin data eksisting kuda – kuda atap, saya memerlukan data tersebut untuk bisa membuat konsep dengan pertimbangan yang lebih terukur. Apa saya bisa melakukan pengecekan lokasi kembali untuk melihat kondisi kuda – kuda atap ? Kalau tidak bisa hari ini tidak apa – apa, mungkin juga saya perlu buka langit-langitnya untuk cek keadaan kuda – kuda.”

Di awal meeting saya meminta kawan saya, Anwar Susanto untuk melihat bagaimana struktur bangunannya. Dari situ teridentifikasi beberapa bagian yang patut untuk dibongkar ataupun di tambal / diperkuat.

Satu minggu kemudian kami bertemu kembali dan saya memberikan sketsa beserta analisa ruang dan sirkulasi. Ceritanya adalah bagaimana mengembalikan memori akan kemang yang intim, bersahaja dengan mengakomodasi fungsi galeri yang baru , menggunakan pencahayaan alami.

Maket yang diadakan untuk diskusi mengenai layout ruang, dan kemungkinan penggunaan desain atap yang baru. yang penting disini adalah hubungan massa bangunan lama dengan bangunan baru dibelakang.

Saya ingat meminta tim untuk melakukan beberapa percobaan untuk merubah atap dari yang paling eksperimental dengan membuka pertimbangan sudut utara selatan, dan menggunakan bentuk – bentuk platonis dan kurvilinear. Pembuatan maket dimaksudkan untuk mendapatkan komposisi yang berbeda – beda dengan mempertimbangkan komposisi, sudut matahari, program ruang di bawahnya, dan metafora bentuk (literal ataupun esensial).

Ini adalah bentuk lingkaran, yang pada akhrinya kita kerucutkan untuk menyaring sinar matahari yang masuk ke ruang pamer.
Bentuk ini adalah metafora dari bentuk topi dengan skylight dengan tujuan mengurangi sinar matahari langsung.
sampai ke penggunaan bentuk perisan dengan intervensi skylight. Dan struktur bangunanpun disederhanakan dengan mengangkat atap sehingga cahaya matahari masuk dengan tidak langsung ke ruang pamer.

Di dalam membenahi layout ruang, konsep desain disusun dengan logika bangunan core disisi belakang berbentuk tubular dan memiliki ramp di belakang, meskipun pada akhirnya berubah fungsi menjadi ruang serba guna karena dinilai mereka membutuhkan fleksibilitas ruang yang tertutup.

Bagian fasade merupakan secondary skin yang menutupi seluruh tampak depan bangunan eksisting. Dinding secondary skin ini terdiri dari susunan modul bata berlubang yang berdiri di atas struktur baja CNP dengan pondasi sendiri dan struktur tambahan yang menopang ke atap dak bangunan eksisting. Bahasa material bata ini diadopsi dari beberapa proyek sebelumnya yaitu sekolah alfa omega dengan tektonika dengan susunan solid-void yang diadopsi juga dari proyek istakagrha dan rumah Henry.Secara fungsional secondary skin ini menyaring cahaya matahari yang masuk ke dalam ruangan serta memberikan privasi.

Eksplorasi kulit bangunan pun dilakukan dari sudut pandang ekonomis, artistik, dan kemungkinan – kemungkinan inovasi yang baru.

Ada kemungkinan – kemungkinan perbincangan sejauh mana, Galeri bisa berkelanjutan dari sudut pandang ekonomi dengan melakukan perbandingan studi, ataupun fungsi ruang yang fleksibel yang terkait dengan Galeri dari Modena yang melibatkan interior desain. Dan kemudian riset sejarah pun dilakukan untuk mengetahui sejauh mana galeri ini relevan terhadap kehidupan Kemang.

Setelah itu , tender pun dilakukan untuk memilih kontraktor. Dan puji Tuhan proses konstruksi sudah dimulai. Inilah hasilnya, dan perjalanan pun masih panjang. Tunggu ya cerita selanjutnya. Ini foto bersama tim, minus pak Daniel dan bu Lany, semoga suatu saat kita bisa berfoto bersama untuk mengenang proses desain, dan bangunan yang didesain dan dibangun bersama – sama dengan kolaboratif.

Dari yang paling kiri adalah Alifian, Nathan, Bambang, saya sendiri, Eko Nuryanto, tim Kencana Sewu, Rizal.

Sebenarnya proyek ini memiliki rentang waktu yang panjang, lebih panjang dari kontraknya sendiri. Di dalam prosesnya, untuk tipe proyek seperti ini komposisi tim