Kategori
Team - Studio Culture

Adik Kami di Lantai Bawah

Di lantai paling bawah rumah ini tinggal adik kami. Namanya OMAH, sebuah perpustakaan. Kami menyebutnya adik bukan untuk lucu-lucuan: ia memang lahir belakangan dari studio ini, tumbuh menumpang di ruang-ruang kami, dan seperti semua adik, ia dibesarkan ramai-ramai.

Rak-rak bukunya kami desain dengan satu keputusan yang mungkin terdengar aneh untuk sebuah perpustakaan: supaya orang duduk bersila di lantai. Tidak ada meja baca tinggi yang membuat orang duduk tegak berjarak. 

Dulu, di zaman studio garasi, semua diskusi memang terjadi sambil bersila di lantai, santai, dekat, dan kebiasaan itu terasa terlalu berharga untuk ditinggalkan hanya karena ruangannya kini lebih baik. Maka lantainya dibiarkan menjadi tempat duduk, dan rak-raknya justru yang naik, bertumpuk ke atas seperti sebuah stupa besar. Di ruangan ini yang ditinggikan bukan pembacanya, melainkan buku-bukunya; kami duduk di bawah, menengadah pada apa yang ingin kami pelajari.

Ketika tiba waktunya memindahkan buku-buku ke ruangan itu, tidak ada panitia khusus. Satu studio turun tangan bersama-sama, arsitek dan admin dan anak magang, mengangkat ribuan buku dari tangan ke tangan. Bukan karena diwajibkan, melainkan karena begitulah cara memperlakukan adik sendiri: kalau ia pindah kamar, semua kakaknya ikut angkat barang.

Lalu terjadilah bagian cerita yang tidak kami tulis. Seorang pengunjung yang senang datang melihat-lihat perpustakaan ini suatu hari memperhatikan bagian bawah ruangan yang masih kosong. Ia bertanya, kok masih kosong, lalu menawarkan sesuatu yang tidak kami duga: bagaimana kalau disumbangkan kursi-kursi kecil yang lucu, untuk anak-anak yang ikut orang tuanya ke sini.

Kami terdiam sebentar. Jakarta ini kota yang cepat; orang-orangnya berpacu, waktu dihitung, dan sudut kosong sebuah perpustakaan kecil di lantai bawah rumah bukanlah urusan siapa-siapa. Tetapi ternyata masih ada orang yang memperhatikan sudut kosong itu, memikirkannya, dan menawarkan diri untuk mengisinya, bukan dengan sumbangan besar yang bergemuruh, melainkan dengan kebaikan seukuran kursi anak-anak. 

Dari beliau kami belajar bahwa di kota secepat apa pun, masih ada orang yang berjalan cukup pelan untuk melihat.

Jadi kalau suatu hari kalian berkunjung ke lantai bawah rumah ini, duduk bersila di depan rak yang menjulang seperti stupa, ketahuilah bahwa ruangan ini dibesarkan oleh banyak tangan. Tangan yang mendesain raknya, tangan-tangan satu studio yang memindahkan bukunya, dan tangan seorang tamu yang baru lewat, lalu memutuskan ikut menyayanginya. Adik kami ini memang beruntung: ia tidak hanya punya satu keluarga.

Kategori
blog tulisan-wacana

Arsitektur Komunitas: Dari Mana Uangnya

Refleksi singkat sharing di PPArs UKDW

Organisasi kemanusiaan arsitektur paling terkenal di dunia mengumpulkan sekitar 50 juta dolar sepanjang hidupnya. Ia tutup pada Januari 2015, dan ketika pailitnya diajukan beberapa bulan kemudian, sisa kasnya 200 ribu dolar. Bukan karena kehabisan niat, tapi karena hitungannya tidak jujur pada dirinya sendiri. Ada dana operasional yang tidak diperhitungkan dalam donasinya.

Pekan lalu di Yogyakarta, di sebuah kelas profesi “online” arsitektur di UKDW, saya teringat lagi pada peristiwa itu. Ini sedikit refleksi atas kesempatan memberikan kuliah di PPArs UKDW, Program Pendidikan Profesi Arsitek Universitas Kristen Duta Wacana. Program profesi ini kini jalur yang harus dilalui setiap calon arsitek sebelum berpraktik, dan diam diam ia juga ruang lain yang sama pentingnya, tempat calon arsitek menambah jaringan, bertemu para praktisi, dan mencuri dengar bagaimana profesi ini sesungguhnya dijalani.

Yang menarik dari kelas kemarin adalah temanya, arsitektur komunitas, dan tema itu terasa pantas lahir di Yogyakarta. Kota ini tanah yang menyimpan jejak Romo Mangun di tepi Kali Code, jejak Pak Eko Prawoto di desa desa, studio studio yang berbasis komunitas, dan para pengajar kampus yang turun langsung di proyek kebencanaan. Di kota ini, arsitektur yang menghadap ke komunitas bukan wacana, ia tradisi yang hidup.

Tapi sepanjang diskusi ada 1 pertanyaan yang terus kembali, bagaimana keberlanjutannya. Apakah praktik yang fokus ke komunitas berbeda dengan praktik yang hidup dari proyek komersial. Apakah tipe praktik di kota besar sama dengan di kota kecil. Setiap dimensi ternyata berbeda, dan justru pola pola detail yang berbeda itulah yang layak dipelajari, bukan diseragamkan.

Dari diskusi itu 1 temuan mengendap di saya, praktik pro bono ternyata bisa dirancang pendanaannya, bukan hanya diikhlaskan. Ongkos perencanaan bisa disatukan ke dalam ongkos pembangunan, mirip skema di mana desain mengambil porsi dari keseluruhan biaya, dan ada pula skema di mana imbalan perencanaan dipotong separuh sebagai bentuk keberpihakan. Tinggal dipilih, keberlanjutan macam apa yang dituju. Kebaikan pun butuh model ekonominya, bukan untuk mengotorinya, melainkan untuk memanjangkan umurnya.

Dan dunia sudah menguji kalimat itu dengan cara yang paling mahal. Architecture for Humanity lahir 1999, tumbuh menjadi puluhan cabang di banyak negara, dan sepanjang hidupnya mengumpulkan sekitar 50 juta dolar donasi. Ia tutup pada Januari 2015, dan ketika pailitnya diajukan, sisa kasnya sekitar 200 ribu dolar saja. Kegagalannya bukan kekurangan niat, melainkan kekurangan mesin, dana yang terikat untuk proyek terpakai menutup ongkos operasional, defisitnya membengkak sekitar 100 ribu dolar tiap bulan, dan pertumbuhan berlari lebih cepat dari tata kelolanya.

Kesimpulannya getir, visi besar tanpa orang hitungan. Kebaikan yang paling terkenal pun runtuh ketika hitungannya tidak jujur. Sementara yang bertahan puluhan tahun ternyata punya 1 kesamaan, sumber uangnya jelas, berulang, dan tidak menunggu belas kasihan.

Rural Studio yang didirikan Samuel Mockbee di Alabama pada 1993 hidup dari pembagian yang jernih, universitas menanggung seluruh ongkos operasional dan donasi menanggung ongkos konstruksi, sehingga setiap rupiah pemberi masuk ke bangunan, dan lebih dari 220 proyek berdiri dalam 30 tahun, termasuk rumah 20 ribu dolar yang bisa dibangun tukang setempat.

Shigeru Ban menyubsidi silang, museum dan vila mewah yang ia rancang membiayai shelter kertasnya untuk pengungsi dari Rwanda sampai gempa demi gempa, kliennya yang kaya ia sebut donatur kerja kemanusiaannya, dan ia menolak membedakan mutu keduanya, yang untuk pengungsi pun harus indah dan nyaman.

Francis Kere memulai dari sekolah pertama di desanya di Burkina Faso, dananya ia kumpulkan sekitar 2 tahun dari kawan kawannya di Berlin sewaktu masih mahasiswa, sampai meminta teman sekamarnya mengurangi rokok dan menyumbangkan uangnya, biaya pembangunan sekolah itu sekitar 30 ribu euro, lalu ia menopang yayasannya dengan praktik komersial di Eropa, dan jalan itu berujung Pritzker 2022.

Yasmeen Lari di Pakistan melangkah lebih jauh, menuju nol donor, melatih warga menjadi tukang dan pelatih keliling yang dibayar desa berikutnya, dengan tungku seharga sekitar 8 dolar dan rumah bambu tahan banjir seharga seratusan dolar, puluhan ribu sudah berdiri. Paolo Soleri membiayai Arcosanti selama setengah abad dari penjualan lonceng angin perunggu, dan dengan jujur harus dicatat, model uangnya bertahan 50 tahun tapi visinya baru 5 persen selesai.

MASS Design Group memilih bentuk nirlaba profesional, dua pertiga pendapatannya fee desain dan sepertiganya filantropi, membangun rumah sakit Butaro di Rwanda dengan melatih ribuan warga setempat, dan bahkan model sebaik itu pun masih bergulat dengan defisit di tahun tahun terakhirnya.

Sedangkan di Tiongkok saya mengenal seorang profesor di Tsinghua Song Yehao (SUP Atelier) yang membantu desa desa terdampak bencana lewat laboratorium arsitekturnya, dibiayai dana pemerintah, dan saya pernah diajak melihat kerjanya, di sana negara yang memikul ongkos kebaikannya, seperti Aga Khan di skala lain memikulnya lewat laba puluhan perusahaan yang seluruhnya diinvestasikan kembali ke kerja pembangunan.

Beragam model itu menunjukkan 1 hal, tidak ada 1 jawaban, yang ada hanya 1 pertanyaan yang sama, dari mana uangnya, dan setiap praktik yang berumur panjang menjawabnya dengan terang. Ada yang menyatu dengan kampus, ada yang disubsidi silang oleh kemewahan, ada yang menjadi ekonomi warga itu sendiri, ada yang dipikul negara atau wakaf, dan ada yang mati karena tidak memilih model apa pun.

Di sinilah Indonesia justru punya posisi yang jarang disadari. Negeri dengan begitu banyak persoalan, kebencanaan yang berulang, kebutuhan rumah yang tak habis habis, adalah laboratorium alami bagi arsitektur yang berdampak. Praktik komunitas kita bukan pinggiran dari arsitektur dunia, ia bisa menjadi riset kelas dunia untuk solusi persoalan sosial, asalkan polanya divalidasi, dicatat, dan dibagikan, bukan hanya dikerjakan lalu menguap. Pertanyaannya bukan model mana yang paling benar, melainkan model mana yang paling cocok untuk tanah kita.

Maka dugaan saya sederhana, dan ini yang saya bawa pulang dari Yogyakarta. Di begitu banyak praktik di Indonesia dan di dunia, selalu ada 2 kutub, sebutlah tipe A yang hidup dari proyek komersial dan tipe B yang menghadap ke komunitas. Sejarah menunjukkan keduanya tidak pernah saling mendominasi, dan mungkin memang tidak perlu untuk itu, Shigeru Ban membuktikan keduanya bisa hidup dalam 1 orang, saling membiayai dan saling memberi makna.

Yang satu menghidupi, yang satu memberi arah, dan praktik yang paling sehat barangkali adalah yang belajar berdiri bergantian di keduanya, dengan hitungan yang jujur di masing masing kaki. Kami sendiri masih terus belajar menyeimbangkannya, dan pelajaran dari Yogyakarta kemarin menambah 1 keyakinan, pluralisme praktik bukan kelemahan profesi ini, ia justru kekayaannya.

Kategori
Team - Studio Culture

Yang Tidak di Balik Meja

Tidak semua orang di studio kami bekerja di balik meja. Sebagian pekerjaan justru menuntut orang terus bergerak. Tim yang mengurus pengecekan lapangan, misalnya, lebih banyak berada di tapak daripada di ruang kerja. Tim yang memikirkan strategi berpindah dari satu pertemuan ke pertemuan lain. Mereka bekerja dengan laptop di tangan, dari mana saja mereka berada, dan bagi mereka, meja tetap bukan pusat, melainkan sekadar salah satu tempat singgah.

Kami tidak selalu bekerja begini. Cara ini kami pelajari, dan sejujurnya, kami dipaksa mempelajarinya. Ketika pandemi datang dan semua orang harus bekerja dari rumah, teknologi yang tadinya asing tiba-tiba menjadi satu-satunya jalan. Kami belajar rapat lewat layar, berbagi gambar dari jarak jauh, mengambil keputusan tanpa berada di ruangan yang sama. Pada awalnya terasa janggal, karena kami terbiasa dengan cara lama. Tetapi dari situ kami belajar sesuatu tentang diri kami sendiri.

Kami sadar bahwa kelekatan pada cara lama kadang menghalangi kami melihat kemungkinan baru. Kami begitu terbiasa berpikir bahwa bekerja berarti hadir di satu tempat, di meja, di ruangan itu, sampai kami hampir tidak sempat bertanya apakah itu memang satu-satunya cara. Pandemi, dengan segala beratnya, memaksa pertanyaan itu terbuka. Dan jawabannya ternyata melegakan: tempat, sebetulnya, bukan yang paling menentukan. Orang bisa bekerja dari mana saja.

Yang benar-benar menentukan bukan di mana seseorang duduk, melainkan bagaimana ia berpikir dan bagaimana ia berkomunikasi.

Ini pembebasan yang tidak kami duga. Ketika tempat tidak lagi menjadi syarat, yang tersisa sebagai inti pekerjaan adalah hal-hal yang memang seharusnya jadi inti: kejernihan berpikir dan kejelasan menyampaikan. Seorang yang berada di lapangan berdebu, seorang yang di rumah, seorang yang di studio, bisa duduk dalam satu rapat yang sama dan bekerja sama dengan baik, asalkan cara mereka berpikir nyambung dan cara mereka berbicara jelas. 

Tempat menjadi urusan kedua. Perspektif dan komunikasi menjadi urusan pertama.

Dan ada satu hal yang menarik, yang justru berlawanan dengan dugaan banyak orang bahwa rapat lewat layar itu dingin dan kaku. Kami menemukan bahwa dalam rapat online, orang-orang di lapisan paling bawah struktur justru kadang lebih berani bersuara. Di ruang rapat fisik, hierarki terasa lewat tempat duduk, lewat siapa di dekat siapa, lewat siapa yang paling gampang menyela. 

Di layar, semua wajah muncul dalam kotak yang berukuran sama, dan giliran bicara menjadi lebih tertata. Anggota tim yang paling muda, yang mungkin sungkan angkat suara di ruangan yang penuh senior, bisa lebih mudah menyampaikan pendapatnya. Bentuk yang tampak dingin itu, ternyata, bisa lebih adil.

Tentu, tidak semua rapat sama. Kami membedakan dua jenis, dan keduanya butuh perlakuan berbeda. Ada rapat pengarahan, yang sifatnya menyampaikan keputusan dan arah, di mana yang penting adalah kejelasan dan tidak ada yang salah tangkap. Dan ada rapat diskusi, yang sifatnya menggali, di mana yang penting justru sebaliknya: bahwa semua orang merasa cukup aman untuk bicara, membantah, dan menyumbang gagasan. 

Rapat pengarahan bisa berlangsung efisien lewat layar tanpa banyak kehilangan. Rapat diskusi menuntut lebih banyak kesabaran, lebih banyak ruang untuk jeda, supaya yang di ujung sana tidak tertinggal. Mengerti bedanya adalah setengah dari membuat rapat, di layar maupun di ruangan, benar-benar berguna.

Pada akhirnya, kerja jarak jauh mengajari kami hal yang sama yang diajarkan meja-meja yang berbeda di studio kami: bahwa bentuk hanyalah wadah, dan yang mengisi wadah itu, cara berpikir dan cara berbicara, jauh lebih penting daripada wadahnya. Sebuah tim yang perspektifnya jernih dan komunikasinya jujur akan tetap bekerja dengan baik, entah mereka duduk di satu ruangan, entah tersebar di lima tempat berbeda. 

Dan barangkali itulah pelajaran paling berharga dari masa yang sulit itu: bahwa yang menyatukan orang bukan tempatnya, melainkan cara mereka saling mengerti.

(rs, ty, hs, ir)

Kategori
blog tulisan-wacana

Sepuluh Ribu Nama

Sedikit refleksi, sebulan lalu saya bertemu seorang rekan kerja lama, sudah lama sekali kami tidak berjumpa. Percakapan berputar ke sana kemari, dan seperti biasa sampai juga ke pertanyaan itu,

“Apa kabar leader kita?, 👉apakah beliau baik saja.” 👋 Rekan saya bercerita, dan saya mendengarkan dengan senang, ada rasa kangen yang muncul begitu saja. Baru setelah kami berpisah saya sadar, kabar itu sampai kepada saya lewat orang ketiga, dan saya sendiri tidak pernah menanyakannya langsung.🥹

Percakapan seperti itu ternyata selalu berulang setiap kali sesama alumni sebuah kantor bertemu. Isinya membandingkan, 1. dulu di sana bagaimana, 2. sekarang di sini bagaimana, dan 3. diam-diam kami semua sedang mengerjakan hal yang sama, 4. meyakinkan diri bahwa keputusan pulang itu benar. Kami akan menyebut kebebasan, waktu untuk keluarga, kedekatan dengan lapangan. Semuanya benar. Tetapi jujur saja, ada dorongan lain yang bekerja di bawahnya.

👆Para psikolog sejak Festinger 1957 menyebutnya disonansi kognitif, kegelisahan yang muncul ketika 2 pikiran saling bertabrakan, dan cara paling mudah meredakannya adalah dengan meninggikan pilihan yang sudah terlanjur kita ambil. Ada juga istilah yang lebih halus dari kajian cerita hidup Dan McAdams, bahwa manusia cenderung menyusun riwayatnya sebagai kisah penebusan, kesulitan yang berujung pertumbuhan.

Jadi ketika kami berkata sekarang lebih baik, sebagian dari kalimat itu memang laporan, dan sebagian lagi obat penenang.✌️Lalu ada dorongan kedua yang lebih tua namanya. Freud menyebutnya “kompleks Oedipus”, keinginan bawah sadar untuk mengungguli dan menggantikan sang ayah. Harold Bloom memindahkannya ke dunia karya lewat bukunya pada 1973 dengan istilah kecemasan pengaruh, bahwa penyair yang kuat hanya bisa menjadi dirinya sendiri dengan bergulat dan sengaja salah membaca pendahulunya.🤮

🤘Dan ini bukan sekadar teori sastra, penelitian mentoring dari fase-fase Kathy Kram sampai taksonomi pengalaman mentoring yang buruk menemukan pola serupa, hubungan yang mula-mula terasa sempurna lalu bergeser menjadi persaingan dan perlawanan. Membaca semua itu, lalu memeriksa dada sendiri, dan apakah menemukannya di sana?, memastikan tidak merasa sedang mengungguli siapa pun.😳

Yang dirasakan justru, orang orang itu terasa seperti kakak, bahkan seperti ayah dalam wujud yang lain. Tetapi ada satu hal lain yang saya perhatikan, dan ini yang paling lama mengganjal.

Setiap kali sesama alumni bertemu, pertanyaannya selalu muncul, “eh, apa kabar pak bos, bu bos”. Lalu percakapan berputar-putar di sekitar kabar mereka, kabar yang anehnya tidak pernah disampaikan langsung kepada orangnya. Ada rasa kangen di situ, tetapi ada juga rasa segan.🥹

Alasannya masuk akal, dari orang yang kita benci kita tidak mengharapkan apa apa, sedangkan dari orang yang kita kagumi harapan kita naik turun terus. Jadi lingkaran itu tidak selesai bukan karena hubungannya rusak. Ia tidak selesai karena kami menahan 1 kalimat yang sebenarnya ringan.🥹

Dan kalau kita melihat sejarah profesi ini, ada yang selesai dan ada yang tidak, dan bedanya jelas sekali.

👆Yang selesai, misalnya Alvaro Siza dan Eduardo Souto de Moura. Souto de Moura bekerja di kantor Siza sekitar 5 tahun, lalu Siza mengatakan kalimat yang luar biasa kepadanya, “Kamu harus keluar dari kantor ini, sebab kalau tetap di sini kamu tidak akan pernah menjadi arsitek.” Keduanya kemudian sama sama menerima Pritzker, Siza pada 1992 dan Souto de Moura pada 2011, dan yang muda mengaku bahwa pada mulanya memakai bahasa Siza terasa seperti pengkhianatan.

Yang menarik, mereka tidak berpisah jalan, pada 2005 keduanya justru merancang bersama paviliun Serpentine di London.

✌️Ada juga Balkrishna Doshi, yang bekerja di atelier Le Corbusier di Paris selama 4 tahun tanpa dibayar di 8 bulan pertamanya, hidup dari roti, zaitun, dan keju, lalu mengawasi proyek-proyek Corbusier di Ahmedabad. Ketika ia menerima Pritzker pada 2018, kalimat pertamanya bukan tentang dirinya, saya berutang penghargaan bergengsi ini kepada guru saya, Le Corbusier.

Dalam sebuah wawancara ia pernah membandingkan arsitektur dengan hidangan India yang meriah, banyak rasa yang berbeda-beda duduk di 1 piring yang sama, dan begitu pula caranya memperlakukan pengaruh gurunya, diterima, diolah, sampai menjadi masakannya sendiri. Bahkan yang sempat pecah pun bisa selesai.

🤘Frank Lloyd Wright memanggil Louis Sullivan dengan sebutan Lieber Meister, guru terkasih, tetapi ia dipecat pada 1893 karena diam diam menerima pekerjaan di luar kantor, dan keduanya tidak saling menyapa selama sekitar 17 tahun, hampir 2 dekade.

Menjelang akhir hidup Sullivan yang sakit dan bangkrut, Wright datang mendamaikan diri dan membantunya, mereka bertemu terakhir kali 3 hari sebelum Sullivan wafat pada April 1924, dan pada 1949 Wright menerbitkan sebuah buku sebagai penghormatan untuk gurunya. Tujuh belas tahun itu panjang. Tetapi ia sempat.

👋 Dan di negeri sendiri kita punya Romo Mangunwijaya dan Eko Prawoto.

Almarhum Pak Eko adalah murid Romo Mangun di tahun tahun Kali Code, permukiman tepi sungai yang kelak menerima Aga Khan Award pada 1992, dan ia menulis buku tentang tektonika arsitektur gurunya. Membaca karya karyanya sampai akhir hayat beliau pada 2023, orang bisa merasakan betapa jelas ia menimba napas dari Romo Mangun. Tidak ada yang perlu diluruskan di antara mereka berdua, tuntas.

Yang tidak selesai juga banyak, dan tidak semuanya soal guru dan murid.🤮

Le Corbusier melukis 8 mural di dinding rumah E-1027 karya Eileen Gray pada 1938 dan 1939 tanpa izin perancangnya, Gray menyebutnya perusakan, dan sampai hari ini para sejarawan masih bertengkar apakah itu penghormatan atau pelanggaran. 🤮

Jorn Utzon mengundurkan diri dari Gedung Opera Sydney pada Februari 1966 setelah pembayarannya ditahan pemerintah baru, meninggalkan Australia 2 bulan kemudian, dan tidak pernah kembali melihat bangunannya sendiri berdiri.🤮

Baru pada 1999 ia diminta kembali sebagai penasihat rancangan, dan yang menjadi mata dan telinganya di lapangan adalah putranya. Louis Kahn wafat pada 1974 di toilet stasiun kereta, praktiknya terlilit utang, dan butuh 3 hari sampai jenazahnya dikenali.🤮

Membaca semua itu, saya menarik satu kesimpulan yang sederhana. Yang membedakan hubungan yang selesai dari yang tidak bukanlah ada atau tidaknya perselisihan. Wright dan Sullivan bertengkar hebat dan tetap selesai.🥹

Yang membedakan cuma satu, apakah ada yang bersedia berbicara lebih dulu sebelum waktunya habis. Barangkali karena saya melihat hal yang membuat saya berhenti berpikir seperti itu.

Pada 2023, pameran retrospektif Norman Foster digelar di Centre Pompidou di Paris, pameran arsitektur terbesar yang pernah diberikan museum itu kepada 1 orang arsitek.🥹

Salah seorang partner Foster pernah singgah ke perpustakaan kecil kami, dan membawakan sebuah cerita yang tidak saya temukan di liputan mana pun, justru karena itu ia menempel di kepala saya. Katanya, di salah satu dindingnya terpampang nama orang orang yang pernah bekerja di kantor itu, kolaborator, pegawai, sampai anak magang, dicetak kecil kecil berjajar, jumlahnya sekitar 10.000 nama.

Sepuluh ribu nama.

Bayangkan sebuah kantor yang di puncak pengakuannya justru memakai dindingnya untuk menyebut orang lain. Dalam bahasa kita ada kata untuk sikap semacam itu, dan kata itu jauh lebih tua dari teori mana pun yang saya sebut tadi. Among, dan pelakunya pamong. Ki Hadjar Dewantara memakainya ketika mendirikan Taman Siswa pada 1922, dengan 3 kalimat yang sekarang dihafal setiap anak sekolah👆, di depan memberi teladan, ✌️di tengah membangun kehendak, 🤘di belakang memberi dorongan.🫶

Yang paling sering dilupakan justru yang ketiga. Tut wuri handayani, mendorong dari belakang, artinya guru sengaja berdiri di posisi yang tidak terlihat.

Dinding sepuluh ribu nama itu, bagi saya, adalah tut wuri handayani yang dicetak. Orang Jepang punya bentuknya sendiri, namanya noren wake, membagi tirai. Seorang murid yang sudah lama mengabdi mendapat restu membuka kedainya sendiri dengan membawa nama kedai gurunya. Itu bukan kekalahan sang guru.

Itu penghormatan tertinggi yang bisa ia terima, sebab yang membuka kedai kedua adalah bukti bahwa ilmunya berhasil dipindahkan.

Dan saya sadar bahwa saya sedang dipamong, dan sadar juga bahwa saya menerima cara berpikir ini bukan dari sekolah. Waktu kecil, ibu saya rajin mengikuti kegiatan sosial dan doa bersama, dan saya sering ikut tanpa niat apa apa, sekadar menemani.

Tetapi anak kecil yang duduk di pojok itu mengamati sesuatu, kok bisa ya orang orang ini berkumpul, tanpa dibayar, tanpa keperluan, hanya karena keyakinan yang sama. Di situ, tanpa saya tahu namanya waktu itu, saya menyaksikan cara sebuah ekosistem bekerja. Orang berkumpul, orang saling menjaga, dan tidak ada transaksi di dalamnya.

Ilmu sosial punya nama untuk ikatan semacam itu. Dua peneliti, Clark dan Mills, pada 1979 membedakan hubungan pertukaran dari hubungan komunal.

Di hubungan pertukaran, memberi itu wajar sebagai balasan atas pemberian. Di hubungan komunal, memberi itu wajar sebagai jawaban atas kebutuhan, titik. Dan temuan yang paling menarik, di hubungan komunal, orang yang buru buru membalas justru menurunkan kedekatannya, sebab membalas cepat berarti ingin lunas, dan ingin lunas berarti ingin selesai.

Sekarang kita hidup di kota besar yang serba cepat, dan di sinilah persoalannya.

Penduduk kota mengembangkan sikap yang disebut Simmel “ blase”, sikap acuh yang sebenarnya organ pelindung terhadap rangsangan yang terlalu banyak. Stanley Milgram menyebutnya kelebihan beban rangsang pada 1970, dan mencatat akibatnya, orang kota lebih jarang menolong orang asing, bukan karena lebih jahat, melainkan karena kepalanya penuh. Empati tergerus bukan oleh kejahatan, melainkan oleh kecepatan.

Maka lahirlah gejala yang paling ganjil di zaman ini, rasa sepi di tengah keramaian. Dan ini bukan perasaan sentimental. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia pada Juni 2025 menyebut 1 dari 6 orang di dunia terdampak kesepian, dan mengaitkannya dengan lebih dari 871 ribu kematian setiap tahun. Penelitian panjang Holt-Lunstad pada 2010 menemukan bahwa orang dengan hubungan sosial yang kuat punya peluang bertahan hidup 50% lebih besar.

Artinya ikatan yang tanpa transaksi itu bukan kemewahan sosial.

Ia obat. Dan itu yang saya rasakan sendiri, luka apa pun, baik luka karena keluarga, karena percakapan yang salah, karena kebetulan yang tidak kita minta, atau memang karena ekosistemnya begitu, semuanya lebih cepat sembuh di tempat orang berkumpul tanpa keperluan.🥹

Pekan ini lini masa profesi kami riuh oleh perdebatan tentang pintu, siapa boleh masuk sayembara, syarat apa yang adil, dan saya ikut menulis di dalamnya. Makin lama saya makin yakin perdebatan itu penting tetapi hanya separuh. 🥹

Aturan yang adil mengurus pintunya, dan itu perlu. Tetapi yang membuat orang bertahan di dalam rumah bukan pintunya, melainkan orang-orang yang menyambutnya setelah pintu terbuka. Sistem yang baik tanpa pamong melahirkan profesi yang tertib tapi dingin, pamong tanpa sistem melahirkan kehangatan yang hanya bisa dinikmati yang kebetulan dekat. Keduanya harus dikerjakan bersama, dan tulisan ini adalah separuh yang kedua. 🫶Lalu sebaiknya bagaimana.

Merayakan pertemuan itu baik, tetapi kita harus sadar umur. Pembuktian diri ada batasnya, dan celakanya batas itu tidak diumumkan siapa-siapa, kita sendiri yang harus tahu kapan berhenti.🫶

Ayah saya meninggalkan satu rumus yang sederhana sekali dan sampai sekarang saya pakai. Jangan kurang ajar pada yang lebih tua. Bantu yang lebih muda. Dan untuk yang sepantar, yang sedang sama sama membuka jalannya sendiri, doakan. Rumus itu ternyata punya sandarannya masing masing.

Menghormati yang tua adalah inti etika Jawa yang oleh Franz Magnis-Suseno diringkas dalam 2 kata, rukun dan hormat. Membantu yang lebih muda punya namanya di penelitian, timbal balik ke hulu, temuan bahwa orang yang pernah ditolong lebih mungkin menolong orang lain yang tidak menolongnya, sehingga kebaikan mengalir searah ke bawah, bukan berputar kembali ke pemberinya.

Dan mendoakan yang sepantar, itu jalan keluar paling anggun dari persaingan, sebab doa adalah satu-satunya bentuk perhatian yang tidak bisa dipakai untuk mengukur siapa yang lebih unggul.

Dari rumus itu ada satu turunan yang saya jaga betul, menghindari gosip dan pembicaraan yang tidak baik tentang orang. Saya harus jujur, ini bukan sikap yang didukung semua ilmu.

Robin Dunbar justru berpendapat gosip adalah perekat sosial, pengganti kutu-kutuan pada primata, cara manusia menjaga kelompoknya tetap terikat. Saya mengerti alasannya. Tetapi saya memilih risiko yang lain, sebab perekat yang dibuat dari nama buruk orang lain akan mengeras jadi tembok pada hari kita bertemu orangnya lagi.

Dan kami memang selalu bertemu lagi. Dunia ini jauh lebih kecil dari yang kita kira. Akibat dari rumus ayah saya itu ternyata bisa dihitung. Hubungannya jadi panjang.

Panjang sekali. Dan hubungan yang panjang pelan pelan berubah wujud menjadi sesuatu yang lebih hangat dari jejaring, ia menjadi keluarga, yang tersebar di mana mana, lintas disiplin, lintas usia, lintas ego. Kalau sudah begitu, tidak ada lagi yang perlu diungguli. Yang ada tinggal nama baik yang harus dijaga, sebab nama itu bukan milik kita sendirian.

Maka sebelum tulisan ini selesai, ada satu hal yang tidak ingin saya tunda lagi.

Terima kasih untuk guru guru kita semua, para mentor dan pembimbing yang mendidik kita semua sampai sejauh ini, di sekolah, di kantor kantor tempat saya pernah bekerja, di lapangan, dan di meja makan rumah sendiri. 🫶🫶🫶

Sebagian dari kalian barangkali tidak pernah tahu betapa banyak yang kalian tinggalkan di kepala kami, sebab saya sendiri termasuk yang lama menahan kalimat ini. Orang Jepang punya kata untuk utang semacam ini, on, utang budi yang tidak mungkin dilunasi. 🥹🥹🥹

Dan kalau utang itu memang tidak bisa dibayar ke belakang, barangkali satu satunya cara menanggungnya adalah meneruskannya ke depan. Orang kita sudah punya namanya jauh sebelum saya memikirkan ini. Pamong. Bukan memerintah dari depan, melainkan mendorong dari belakang, tut wuri handayani.

Kembali ke dinding di Paris itu. Kalau suatu hari nanti kami punya dinding sendiri, saya tahu apa yang ingin kami tulis di sana. Bukan daftar bangunan.🙏

(rs, ty, ir)

Kategori
blog tulisan-wacana

Muir Livingstone – Parti, Poché, Pelajaran dari Barat

Sedikit refleksi akan kunjungan tidak terduga, 2 bulan yang lalu sebuah pesan WhatsApp masuk, dan nama pengirimnya membuat saya terdiam sejenak. Muir Livingstone. Mantan mentor, pemimpin tim tempat saya dulu bekerja, kini partner yang mengepalai Foster and Partners di Australia. Ia sedang ke Jakarta, dan ia datang ke studio Guha bersama seorang kawannya dan Iqbal, adik kelas di ITB, 2 tahun di bawah saya. Dari kunjungan itulah tulisan ini lahir.

Setiap arsitek punya mentor yang tidak tercatat di ijazah, dan Muir salah satu mentor. Bertemu dengannya bukan di ruang kuliah, melainkan di meja kerja, semasa muda dan bekerja di timnya di London, mengerjakan proyek-proyek yang jauh lebih besar dari pengalaman waktu itu.

Ada satu hari Sabtu yang tidak pernah dilupakan. Hari itu, masuk kerja, menggambar berdasarkan instruksi, dan mencoba berinterpretasi sendiri atas gambar Muir, menebak apa yang dianggap benar.

Hasilnya kurang presisi. Dan di titik itulah, belajar sesuatu yang lebih penting dari koreksi itu sendiri, yaitu cara ia mengoreksi. Ia tidak menunjuk garis-garis saya yang salah satu per satu. Ia menjelaskan kembali dari atas, lewat konsep parti, gagasan induk yang duduk di atas organisasi ruang, satu ide besar yang menjadi hakim bagi semua keputusan kecil di bawahnya. Hari itu mengerti bahwa presisi bukan urusan garis.

Garis yang meleset hanyalah gejala, penyakitnya adalah tidak memahami gagasan induknya. Orang yang paham partinya bisa memperbaiki seribu garis sendirian, orang yang hanya dikoreksi garisnya akan salah lagi besok dengan cara yang baru. 👆 Itulah anak tangga pertama yang Muir berikan,gagasan induk.

Bertahun-tahun kemudian saya menelusuri kata yang ia ajarkan hari itu, dan ternyata kata itu sendiri punya silsilah guru, berpindah dari meja ke meja selama 2 abad sebelum sampai ke meja tempat saya menggambar. Kata itu lahir di Paris, di Ecole des Beaux-Arts, sekolah seni dan arsitektur paling berpengaruh di Eropa pada masanya, dari frasa parti pris, keputusan yang diambil. Dan di sana keputusan itu diambil secara harfiah.

Mahasiswa dikurung di bilik selama 12 jam, membuat sketsa gagasan yang disebut esquisse, menyerahkannya kepada penjaga, dan sejak itu tidak boleh menyimpang jauh darinya. 👆Gagasan induk dikunci lebih dulu, baru dikembangkan berbulan-bulan. ✌️Pasangannya adalah poche, kebiasaan menghitamkan massa dinding pada denah supaya ruang-ruang servis tenggelam ke latar dan ruang utama tampil sebagai figur. Orang menyingkatnya begini, parti menyusun bangunan, poche mengekspresikannya.

Bahkan lembur tenggat kita pun mewarisi kosakata mereka, charrette adalah gerobak yang berkeliling atelier mengumpulkan gambar, dan mahasiswa yang terlambat mengejarnya sambil menyelesaikan sapuan terakhir. Sekolah arsitektur Beaux-Arts dibubarkan pada 1968, tapi kosakatanya sudah lama menyeberang lautan.

Di Inggris, cara mengajar Paris itu diserap paling dalam oleh sekolah arsitektur Universitas Liverpool, dan pengaruhnya begitu kuat sampai ketika sayembara nasional balai kota Stepney di London digelar pada 1915, seorang kritikus menghitung 80 persen karya pesertanya bergaya Liverpool, klasisisme yang dirasionalkan, berskala besar, dan hemat ornamen. Satu sekolah, lewat satu cara berpikir, mewarnai desain seluruh negeri.

👆Kata parti terus hidup di dunia Anglo sebagai gagasan induk, dan di biro-biro raksasa ia menemukan fungsi barunya, ketika satu proyek dikerjakan ratusan tangan, gagasan induk adalah satu-satunya cara seluruh tim berbicara tentang hal yang sama. Di meja seperti itulah Muir mengajarkannya kepada saya, bukan sebagai istilah kuno, melainkan sebagai alat kerja yang hidup.
Cara Muir menyampaikan semua itu juga sebuah pelajaran. Ia lembut, dan ia mengajak mengobrol, bukan mengadili.
Dari percakapan-percakapan itu satu ajarannya menetap di saya sampai hari ini, kita orang yang berbeda, dan justru karena berbeda, kita perlu kritis dan analitis dalam memahami maksud dan argumen satu sama lain. Perbedaan bukan alasan untuk saling menebak, ia justru alasan untuk saling bertanya lebih teliti. Ini anak tangga kedua, cara mengoreksi yang memanusiakan.

Dan silsilah tidak pernah satu garis lurus.

Menurut penuturan Muir sendiri, ia belajar dari Richard Murphy, arsitek Edinburgh yang menghabiskan puluhan tahun meneliti Carlo Scarpa, arsitek Venesia yang termasyhur karena kehalusan detailnya. Sejak 1986 Murphy mengukur ulang Castelvecchio, kastil tua di Verona yang diubah Scarpa menjadi museum, dan membukukannya 2 kali. Garis Scarpa adalah garis yang berbeda dari garis parti.

Ia garis kerajinan, detail, sambungan material, patung penunggang kuda tua yang diletakkan Scarpa di atas dudukan beton yang menjorok ke udara, kesabaran mengurus bagaimana dua bahan bertemu. Yang satu mengajarkan gagasan induk, yang satu mengajarkan kesetiaan pada detail, dan keduanya bertemu bukan di buku sejarah, melainkan di dalam satu orang, lalu diteruskan.

Tangganya memang tidak berhenti di hari Sabtu itu.

Muir pula yang bercerita tentang pameran Foster di Centre Pompidou, Paris, yang menampilkan 10 ribu nama orang-orang yang pernah bekerja di biro itu dan kini tersebar di seluruh dunia. Ia pula yang menyebut, nama kita semua yang masih alumni ada di antaranya. 🤘Dari cerita itu datang anak tangga ketiga, arsitektur adalah soal tim dan kredit, biro sebesar itu mencatat setiap nama yang pernah melewatinya. Dan nama-nama itu hidup.

Orang-orang yang dulu bekerja di bawah Muir bersama saya kini menjadi kawan-kawan lama yang tersebar, ada yang mengepalai studio biro itu di Thailand, ada yang di Beijing, ada yang di Abu Dhabi, dan banyak lagi berkarya di biro-biro lain di berbagai penjuru. bangga pada mereka, kawan-kawan yang di mana pun berada masih berjuang, masih berpraktik, masih menyalakan gairah yang sama seperti di meja London dulu.

Sebuah proyek menjadi unik bukan karena satu tangan, melainkan karena timnya, direksinya, dan tapaknya, susunan orang dan tanah yang tidak akan pernah terulang sama persis 2 kali. Lalu anak tangga keempat datang di wilayah yang lebih teknis.

👋 Teori bioklimatik apa pun yang dipakai, merasakan dampak kenyamanan akan jauh lebih presisi bila psikologi dan data disatukan dalam satu metode desain, karena kenyamanan diukur oleh tubuh yang merasakan sekaligus angka yang mencatat, dan keduanya baru jujur kalau berjalan bersama.
🥹 dan refleksi terhadap lintas ilmu dan paradigma keilmuan, Jauh sebelum saya lahir, para pemikir republik ini pernah berdebat tentang perjalanan seperti yang saya tempuh.

Dalam Polemik Kebudayaan tahun 1930-an, Sutan Takdir Alisjahbana menulis bahwa kita perlu belajar dari Barat untuk mengejar ketertinggalan, sementara Sanusi Pane menjawab bahwa individualisme, materialisme, dan intelektualisme Barat perlu dipadukan dengan ilmu Timur yang kolektif, spiritual, dan berilmu perasaan, haluan yang sempurna, tulisnya, ialah menyatukan Faust dengan Arjuna. Hampir seabad kemudian, tanpa menyadarinya, saya menjalani kedua nasihat itu sekaligus.

Perjalanan pergi ke Barat, ke London yang dingin, belajar sifat analitik, parameter, dan argumen dari figur seperti Muir, lalu pulang untuk memadukannya dengan yang tumbuh di tanah sendiri. Dan kalau dipikir lagi, anak tangga keempat dari Muir, psikologi dan data dalam satu metode, adalah rumusan yang sama, meminjam bahasa Sanusi Pane, Faust dan Arjuna duduk di satu meja gambar.

(rs, ty, ir)

Image Source:
[1] https://www.fosterandpartners.com/people/all/muir-livingstone

Kategori
blog tulisan-wacana

Kekalahan yang Bukan Tanda Salah Jalan

Refleksi singkat, hari ini Sabtu, 22 Agustus, 2 juri lain dan saya duduk di kursi juri sebuah sayembara mahasiswa di UIN Malang, temanya hunian vertikal-horisonal, tower – podium yang melawan panas kota, dan 👋 Lima finalis, dan kelimanya bagus. Tapi yang menggembirakan saya bukan gambarnya, melainkan diskusinya yang terjadi.

Anak-anak muda itu membicarakan 👆orientasi utara selatan barat timur, ✌️menimbang jalur matahari dan angin, 🤘bergerak dari cara berpikir rasionalis ke empiris, 👋menyentuh fungsionalisme sampai metabolisme, dan 👉sebagian sanggup membawa paradigma besar itu turun sampai ke parameter yang jelas dan bisa diuji. Berpikir yang hidup, di hadapan tema yang bukan gaya-gayaan, karena panas kota itu nyata, bahkan Malang yang sejuk kini mencatat suhu yang terus naik di kawasan terbangunnya.

Melawan panas mungkin bukan tren bagi generasi mereka, ia adalah kriteria + keharusan. Duduk di kursi juri ternyata memaksa merumuskan sesuatu yang selama ini hanya dirasakan, apa sebenarnya yang dicari dari sebuah karya. Bukan hanya gambar. Karya arsitektur berdiri di atas 4 kaki sekaligus:
1.teori yang menjadi alasannya, 2.desain yang menjadi wujudnya, 3.biaya yang menjadi kenyataannya, dan 4.praktik yang menjadi buktinya di lapangan.

Yang ditimbang sepanjang hari bukan citra, bukan branding yang dikejar semalam, bukan gambar 3 dimensi yang paling memukau, melainkan bagaimana seseorang menjawab ketika ditanya, jujur atau tidak jawaban itu di dalam konstruksi berpikirnya. Di setiap karya kami diam-diam mengajukan satu pertanyaan yang sama, hatinya di mana. Di permukaan yang mengilap, atau di keputusan yang diambil dengan sadar dan bisa dipertanggungjawabkan.

Dan sambil mengamati para finalis menjawab pertanyaan, melihat sesuatu yang dulu ada pada diri sendiri. Kesalahan yang paling sering terjadi di ruang presentasi bukan kurangnya kemampuan, melainkan salah waktu. Menjawab ketika seharusnya mendengarkan. Membela ketika seharusnya merenung.

Kata guru kami Pak Ryadi, @audie_rdv8899 berpikir desain memang bukan saklar yang hanya tahu menyala dan padam, ia dimmer yang diputar pelan sesuai kebutuhan ruangnya, ada saatnya mendengarkan, ada saatnya menganalisa, ada saatnya menjawab tegas, ada saatnya diam untuk berefleksi. Butuh bertahun-tahun untuk belajar memutar dimmer itu, dan sampai sekarang masih sering salah putar. 😊

Teringat bahwa kalah adalah cuaca harian profesi ini, bukan pengecualian, dan sejarah arsitektur kompetisi “sayembara” penuh penghiburan tentang itu. Dinamika yang tidak mudah, kemarau, dan jalan yang rawan. Di sayembara museum Guggenheim Helsinki 2014, 1.715 tim dari 77 negara ikut serta dan hanya 6 yang dibayar, sisanya pulang membawa pelajaran. 🥹

Jorn Utzon memenangkan beberapa sayembara di masa mudanya tanpa satu pun terbangun, sebelum di usia 38 gambarnya yang nyaris diagramatik mengalahkan 233 peserta di Sydney, dan bahkan setelah menang pun ia pergi dengan pahit di tengah jalan dan tidak pernah melihat gedungnya selesai, dunia baru sungguh berterima kasih ketika ia sudah tua.🥹

Zaha Hadid 2 dekade dijuluki arsitek kertas, kemenangannya di Cardiff dibatalkan 3 hari sebelum Natal 1995, dan 9 tahun kemudian ia menjadi perempuan pertama peraih Pritzker.🥹

Thom Mayne kalah dan kalah lagi sampai bekerja nyaris hanya di atas kertas hingga usia 50, dan ia pernah mengaku bahwa di usia 40-an ia menyimpan amarah yang tidak bisa diredam, siap berlari kencang tapi tak kunjung menemukan arenanya, 🤮 amarah yang nyaris mematahkannya sebelum Pritzker datang di usia 61, 33 tahun setelah ia mendirikan kantornya.🥹

Renzo Piano dan Richard Rogers, 2 orang muda berusia 33 dan 37 tahun, mengalahkan 681 peserta di Pompidou, dan bertahun-tahun kemudian Piano mengenang bahwa mereka berangkat sambil yakin akan kalah, dan mungkin justru itu sebabnya mereka menang. Bahkan puncak pun datang terlambat di profesi ini, Frank Gehry berusia 68 tahun ketika Bilbao dibuka, dan Balkrishna Doshi menerima Pritzker di usia 90.

Kalah di sayembara bukan tanda salah jalan. Ia iuran keanggotaan profesi ini, yang jatuh temponya memang panjang. Dan banyak jalan yang lain kompetisi hanya jalan kecil yang membuka lebar dimana persentase keberhasilan sangat kecil juga tidak mudah.

Kali ini menjuri bersama Mas Armudya Bima dan Mas Angga Perdana, dan berdiskusi dengan keduanya adalah bagian paling kaya dari hari ini, justru karena kami bisa berbeda pendapat.

Juri tidak sempurna, penilaiannya dibentuk oleh keterbatasannya masing-masing, dan yang bisa dibawanya ke ruangan hanyalah pengalaman. Pengalaman adalah satu-satunya hal di profesi ini yang tidak bisa dibeli oleh uang. Ia hanya bisa dibeli oleh waktu, oleh kesalahan yang ditanggung sendiri, oleh bangunan yang bocor lalu diperbaiki, oleh sayembara yang kalah lalu diikuti lagi.

Supaya anak-anak muda, para peserta itu tidak perlu membayar semahal kami untuk pelajaran yang sama. Dan mungkin itu tugas paling jujur dari kursi juri, bukan memilih pemenang, melainkan menjaga orang-orang muda di dalam proses berpikirnya, memastikan yang menang tahu kenapa ia menang, dan yang kalah tahu persis apa yang harus didalami, supaya tidak ada yang pulang hanya membawa perasaan.

Dan di ujung hari, semua itu mengembalikan saya pada kenangan saya sendiri. Kami mulai mengikuti sayembara 25 tahun yang lalu, dan perjalanan itu tidak mudah juga di studio yang sering dijalani banyak arsitek senior-muda, ada dinamika yang sudah jadi budaya.

Kami jatuh bangun bertubi-tubi, kalah berkali-kali, jauh lebih sering kalah daripada menang. Pelan-pelan saya mengerti bedanya. Profesi arsitek adalah maraton yang sangat panjang, banyak arsitek baru menelurkan karya yang benar-benar matang dan komprehensif menjelang usia 60 tahun, buah dari belajar proyek demi proyek. Sedangkan sayembara adalah “sprint, pendek dan padat.” 🥹🥹🥹

Sprint tidak menentukan siapa kita, tapi ia latihan terbaik selagi muda, karena yang penting polanya, kalah, bangkit, fokus kembali. Sikap yang hanya mau menang membuat kekalahan mematahkan semangat. Sikap yang mau belajar membuat kekalahan menjadi bahan bakar, dan justru kekalahan-kekalahan itulah yang kelak membuat menang. Kami menjalaninya terus-menerus di studio, kalah ataupun menang, sampai beberapa tahun terakhir kami absen karena waktu yang tidak lagi cukup.🤮

Dan di situ pelajaran terakhirnya, waktu tidak bisa berulang. Waktu mengajarkan keterbatasan, memaksa kita memilih percobaan mana yang layak dijalani, dan sayembara adalah ruang percobaan yang paling murah, terbuka, dan “worth it” karena kesempatan yang luas dan dampaknya bagi yang masih muda. Maraton mereka baru saja dimulai. Maraton kita dan saya masih berjalan.

Dan hari ini, untuk beberapa jam, lintasan kami bersilangan, dan kami2 ini yang lebih dulu berlari menoleh ke belakang dengan gembira, karena yang datang menyusul ternyata banyak “peserta sayembara, peserta-finalis- juara” , dan mereka berlari dengan cara berpikir yang baik.🫶

Satu catatan tambahan. Pencapaian dalam arsitektur tidak melulu soal sayembara, dan tidak melulu soal penghargaan besar. Sayembara mudah jadi pembanding karena hasilnya jelas, menang atau kalah, masuk final atau tidak. Tapi yang sebenarnya jadi napas kerja kami adalah iklim kolaborasi itu sendiri, kepercayaan dari klien, kerja bersama dengan kolaborator, proses yang jarang tercatat di mana pun. Itu yang paling lama bertahan, meski paling jarang terlihat.

(rs, ty, ir)

Image Source:
[1] https://www.flickr.com/photos/sfupamr/20909512590

Kategori
blog tulisan-wacana

Hati Ada di Mana?

Tadi pagi mendengarkan banyak bapak jalan pagi, mereka mendiskusikan bahwa beberapa hari yang lalu kita semua merayakan kemerdekaan. Dan juga beberapa hari terakhir, lini masa saya penuh bencana. Di Kalimantan langit siang gelap oleh asap, warga Palangka Raya berkata siang terasa seperti malam, anak-anak berangkat sekolah lebih siang karena udara berbahaya untuk dihirup. 🥹  

Di Flores bumi belum selesai bergetar, ribuan gempa susulan menyusul gempa besarnya, dan orang-orang masih tidur di tenda dan kebun karena belum berani pulang ke rumahnya sendiri. Di Aceh air dan tanah kembali turun dari gunung yang gundul, seperti tahun lalu, seperti berkali-kali sebelumnya.Dan saya tahu semua itu dari lini masa. Ini pengakuan, bukan pembelaan. Di balik kesibukan saya melihat layar di hp, sedih, lalu kembali melanjutkan pekerjaan. Kok ya begitu.  

Kalimat itu yang terus kembali, dan mula-mula ia saya tujukan ke luar. Yang saya lihat di “lini masa” membuat saya kecewa / marah. Bencana sebesar itu, dan responsnya setipis itu.Yang ramai justru bingkai-bingkai yang terasa dirancang supaya terlihat positif. Serasa, ada dua hal yang berbeda jauh, 👆satu yang sebatas omong-omong, dan✌️ dua yang sungguh berpihak, yang datang dengan argumen, dengan kerja, dengan keberanian menanggung akibat. Inilah dunia informasi, dunia lini masa.

Di antara keduanya, hal-hal yang substansial menunggu dikerjakan. Gambut yang terbakar karena dibuka untuk lahan. Rumah-rumah yang runtuh karena tidak pernah dirancang untuk tanah yang bergetar. Hutan di hulu yang habis sehingga hujan tidak punya tempat singgah sebelum menjadi banjir. Semua itu persoalan ruang hidup, dan persoalan ruang hidup adalah persoalan yang setiap hari kami sentuh di meja gambar. 

Di era yang klimis ini godaan memang hadir, untuk tampil, untuk dipuja-puji, untuk berdiri di sisi yang aman dari setiap perkara. 🤮 Saya percaya bangunan dan media sosial itu serupa, keduanya jembatan, keduanya seharusnya dipakai untuk mendidik, bukan memanipulasi. Inilah dunia yang melintas dalam lini masa. Serba cepat serba miskomunikasi juga antara substansi dan normatif. 🥹  

Kadang ketika jembatan dipakai untuk hanya terus memoles, saya marah dan bertanya, hatinya di mana. 🤮🤮🤮 Tapi pertanyaan itu memantul. Cermin yang sama yang saya angkat ke lini masa berbalik ke muka saya sendiri. 🥹🥹🥹 Hati saya di mana, ketika saya tahu bencana dari sela-sela kesibukan. Saya tidak lebih baik dari yang saya kritik. Bedanya hanya satu, hari ini saya berhenti sebentar untuk mengakuinya.

Timpangnya timbangan itu persepsi saya pribadi, dan saya belajar menyampaikannya dengan hati-hati. Ayah saya pernah mengajarkan, kita yang kecil punya batas. Sebaiknya jaga keluarga. Ia mengajarkannya bukan dari kebencian melainkan dari pengalaman, dari keinginan seorang ayah agar anaknya selamat. Dan bertahun-tahun saya hidup di dalam batas itu, bekerja dalam sunyi, membiarkan karya bicara sendiri. Tapi adil juga harus saya katakan, Indonesia ini memberi banyak.

Ia memberi ayah saya sekolah, ketika ia memilih belajar di Yogyakarta daripada meneruskan bulu tangkisnya, dan di antara rekan-rekan seangkatannya ada nama besar yang kisahnya layak dituliskan tersendiri, lain kali saya ceritakan. Kemerdekaan yang sama memberi saya seluruh perbendaharaan arsitektur Nusantara yang setiap hari saya pinjam, stupa yang menjadi kisi-kisi, proporsi kepala, badan, dan kaki, kain-kain yang menjadi pola.

Batas dan pemberian itu hidup berdampingan, dan mungkin justru karena keduanya nyata, timbangannya terasa menyakitkan ketika timpang. Dan satu kejujuran lagi yang harus saya tanggung. Panggung di mana pun punya kecenderungan menyorot orang yang itu-itu saja, dan di dunia kecil arsitektur ini, kalau daftar itu dibuka, nama siapa saja termasuk dan mungkin saja saya mungkin ada di dalamnya. Setiap kali sorot jatuh pada orang yang sama, ada yang berprestasi di tempat lain tidak kebagian cahayanya.

Kita hidup di dunia yang saling mengikat, yang dirayakan dan yang menunggu giliran, yang menyalakan sorot dan yang berdiri di luarnya, dan saya ada di kedua sisinya sekaligus. Maka membagi panggung bukan kemurahan hati, ia pelunasan.
Tapi batas bukan alasan untuk mati rasa. Di dalam batas selalu ada yang bisa dikerjakan. Kalau suara bukan milik kami, tangan masih milik kami. Mendidik lewat yang kami punya, gambar, tulisan, bangunan, ruang literasi yang coba kami jaga dan dukung.

Mengajarkan kepada yang muda bahwa banjir, kebakaran, dan reruntuhan gempa bukan sekadar berita, melainkan ujian atas cara kita merancang ruang hidup, dan bahwa arsitektur yang tidak memikirkan itu hanyalah dekorasi. Membantu tanpa mengumumkan, karena bantuan yang diumumkan sering berubah menjadi bingkai, dan bingkai adalah persis penyakit yang membuat saya kecewa, kecil di awal tulisan ini. Jaga keluarga, kata ayah saya. Saya menurutinya.

Hanya saja pelan-pelan saya belajar bahwa 👆keluarga bisa meluas, ✌️murid-murid yang belajar di studio, 🤘tukang-tukang yang membangun bersama kami, 👋 pembaca yang tidak pernah saya temui. Menjaga mereka pun masih di dalam batas, dan masih substansial. Kalau tulisan ini terdengar marah, ketahuilah ia ditulis karena sayang. Saking sayangnya saya pada Indonesia, kemerdekaan ini, pada mimpinya tentang keragaman, pada janji persaudaraan dan cinta kasih yang menjadi alasan ia didirikan.🫶

Orang tidak gelisah atas sesuatu yang tidak ia cintai.
Lini masa akan berganti topik dalam beberapa hari. Asap di Kalimantan tidak. Getaran di Flores tidak. Air di Aceh tidak. Yang substansial jarang terlihat di lini masa, ia bekerja di tempat sepi, dan mungkin di situlah hati seharusnya berada, bukan di bingkai, tapi di kerja yang tidak sempat difoto.

Untuk saudara-saudara di Kalimantan yang menghirup asap, di Flores yang tidurnya masih di tenda dan kebun, di Aceh yang rumahnya kembali dilewati air, doa kami menyertai. Dan untuk rekan-rekan yang hari ini sedang bekerja dalam sepi di tempat-tempat itu, para pemadam, relawan, tenaga kesehatan, dan tangan-tangan yang tidak sempat difoto, semoga diberi kekuatan, keselamatan, dan hati yang tidak lelah.

Semoga hujan segera turun di tanah yang terbakar, bumi kembali tenang di timur, dan air kembali ke jalannya di barat.

Kategori
Team - Studio Culture

Arsitektur di Sekitar Kita

Ada anggapan yang ingin kami bantah pelan-pelan: bahwa arsitektur hanya untuk anak arsitektur dan hanya bisa dipahami oleh yang bersekolah di dalamnya. Kami tidak percaya itu. Bagi kami, arsitektur ada di keseharian, di hadapan siapa saja, dan siapa pun yang mau memperhatikan bisa mulai memahaminya.

Cobalah perhatikan hal-hal yang tampak sepele. Bagaimana sebuah dinding diselesaikan, rapi atau kasar, halus atau bertekstur, itu arsitektur. Bagaimana tinggi sebuah meja terasa pas atau tidak untuk tubuh yang memakainya, itu arsitektur. Bagaimana sebuah pintu terasa berat atau ringan, bagaimana cahaya masuk ke sebuah ruangan di pagi hari, bagaimana orang mengalir di sebuah keramaian tanpa berbenturan, semua itu arsitektur. Banyak hal yang kita kira bukan arsitektur ternyata, kalau diperhatikan, adalah arsitektur juga.

Justru dari yang paling sehari-hari inilah pintu masuknya paling mudah. Kita tidak perlu memulai dari teori besar atau nama-nama arsitek terkenal. Kita bisa memulai dari skala, dari seberapa besar sesuatu terasa dibanding tubuh kita. Dari ergonomi, dari bagaimana sebuah benda melayani atau justru menyusahkan tubuh yang memakainya. Ini hal-hal yang bisa dirasakan siapa saja, tanpa gelar, hanya dengan memperhatikan. Dan begitu seseorang mulai memperhatikan, ia tidak bisa berhenti; dunia di sekitarnya berubah menjadi penuh keputusan desain yang tadinya tak terlihat.

Yang menarik, arsitektur sebagai cara berpikir ternyata bisa bermuara ke banyak hal, ke banyak produk yang tampaknya jauh dari bangunan. Cara memperhatikan komposisi, proporsi, dan bagaimana sesuatu bekerja untuk manusia, adalah cara pandang yang berguna di desain grafis, di penataan barang, di branding, di banyak bidang lain. Arsitektur, pada tingkat ini, bukan lagi tentang gedung; ia tentang cara melihat.

Kami menyaksikan ini terjadi pada orang-orang di sekitar kami sendiri, dan itu selalu membahagiakan. Ada seorang kawan yang mulai bergabung dengan kami di bagian administrasi, jauh dari dunia perancangan. Tetapi karena setiap hari berada di tengah percakapan tentang desain, cara pandangnya pelan-pelan tumbuh, sampai akhirnya ia kini justru mengerjakan branding dan grafis. Ia tidak pernah bersekolah arsitektur, tetapi ekosistem ini menularkan cara berpikirnya, dan ia menemukan jalannya sendiri di dalamnya.

Ada pula seorang anak yang bahkan belum menyelesaikan sekolah menengahnya, tetapi sudah datang magang, belajar bersama kami, dan ketika waktunya usai, ia justru meminta memperpanjang. Usianya masih sangat muda, dan justru karena itu keingintahuannya murni, belum dibebani anggapan tentang apa yang seharusnya ia pelajari atau tidak. Baginya, tidak ada tembok antara arsitektur dan bukan arsitektur; ada hanya hal-hal menarik yang ingin ia mengerti. Kami belajar banyak dari keterbukaan seperti itu.

Dan di sinilah lingkaran itu menutup dengan caranya sendiri. Orang-orang yang datang dari luar disiplin ini, yang tadinya kita kira tidak nyambung dengan arsitektur, justru sering membawa ide-ide segar yang tidak akan muncul dari dalam. Dari obrolan santai dengan seseorang yang latar belakangnya berbeda, kadang lahir gagasan yang tidak pernah terpikirkan oleh yang terlalu lama di dalam. Keberagaman latar bukan gangguan; ia sumber. Semakin banyak jenis mata yang memandang, semakin kaya yang bisa dilihat.

Maka ketika kami bilang arsitektur tidak terbatas pada anak arsitektur, kami tidak sedang berbaik hati membuka pintu. Kami sedang mengatakan sesuatu yang kami yakini benar: bahwa cara pandang ini memang milik siapa saja, dan bahwa ia justru menjadi lebih hidup ketika dipegang oleh tangan-tangan yang datang dari berbagai arah. Arsitektur ada di sekitar kita, setiap hari, menunggu diperhatikan. Dan yang memperhatikannya tidak harus menyandang namanya untuk berhak memahaminya.

Kategori
Arsitek dan Arsitektur dalam Ruang dan Waktu? blog struggles tulisan-wacana

Menyeberang di Atas Tisu

Kami ingin memperkenalkan satu keyakinan, bahwa bambu patut diperjuangkan di ranah publik, sekolah, balai, pasar, ruang yang dipakai orang banyak, bukan hanya di halaman belakang. Ada 2 alasan yang bisa diuji. Pertama, ia lestari, siap panen dalam 3-5 tahun, sementara kayu keras meminta puluhan tahun, dan bambu tumbuh lagi dari rumpunnya tanpa ditanam ulang. Kedua, ia jauh lebih kuat dari anggapan orang kepadanya. Sisanya biar angka dan cerita yang berbicara.

Photograph by RAW Architecture

Kalau bambu disebut dalam percakapan tentang pembangunan, ia hampir selalu duduk di kursi paling belakang. Kita membicarakan beton, baja, dan kaca sebagai wajah kemajuan, sementara bambu dianggap urusan saung dan perancah, dipakai menopang cor, lalu dibongkar dan dibuang. 

Ada kelakar yang pernah kami dengar dan sulit kami lupakan, bambu itu seperti tisu, kalau pilek, dilap, lalu dibuang ke tempat sampah. Kami tidak membantah, karena kelakar itu benar, bambu memang tidak abadi, ia lapuk, ia minta dirawat, ia minta diganti. Yang pelan-pelan kami bantah hanyalah kesimpulan diam-diam yang menumpang di belakangnya, bahwa yang bisa dibuang berarti tidak layak dipercaya.

Sebab merancang dengan bambu sama sekali tidak mudah, dan kesulitannya sering datang lebih dulu dari sisi yang tidak teknis. Begitu bambu disebut, tiga harapan langsung ikut duduk di meja. Harapan murah, harapan cepat, dan harapan yang paling jarang diucapkan terus terang, harapan bahwa hasilnya akan bergaya rakyat, pantas untuk saung dan pinggiran, tetapi tidak untuk ruang yang serius. Tiga harapan itu bekerja seperti pagar. Bambu boleh masuk, asal tahu diri dan berdiri di halaman belakang. 

Padahal tantangan sesungguhnya bukan memenuhi ketiganya, melainkan memindahkan cara orang memandang, dan pijakannya tipis. Riset bambu masih sedikit dan terpencar, dari perlakuan bahan, pengawetan, perhitungan sambungan, sampai penyelesaian permukaannya, hampir semuanya masih diraba di lapangan. Kami sering merasa mengerjakan dua pekerjaan sekaligus, membangun bangunannya, dan diam-diam mengumpulkan pengetahuannya.

Angkanya pun tidak main-main. Kuat tarik bambu utuh berkisar 140 sampai 370 MPa tergantung jenis dan umurnya, tumpang tindih dengan baja lunak yang lelehnya sekitar 250 MPa. Petung yang paling banyak kami pakai tercatat rata-rata di kisaran 310 MPa pada pengujian standar ISO. Tetapi keunggulan sebenarnya ada di timbangan. Massa jenis bambu hanya sekitar sepersepuluh baja, sehingga gram demi gram ia 3 sampai 6 kali lebih perkasa menahan tarik daripada logam yang paling kita percaya.

Kejujuran menuntut sisi sebaliknya juga. Kelemahan bambu bukan di tarik melainkan di belah, ia mudah pecah searah serat, sehingga titik paling rawan hampir selalu sambungannya, bukan batangnya. Angka indah tadi juga angka laboratorium, sebab tidak ada dua batang yang sama, tidak ada reng, kaso, dan gording yang seragam di dunia bambu. Presisi menjadi hal yang paling sulit dikendalikan, dan sampai hari ini ia masih sering mengalahkan kami di lapangan.

Tetapi justru di situ sesuatu yang lama runtuh dalam kepala kami. Industri melatih kita mengharapkan komponen yang identik dan tinggal pasang, dan diam-diam kita mengira itulah arti sempurna. Bambu menolak seluruh anggapan itu. Yang buyar bukan bambu yang gagal mencapai standar, yang buyar adalah ilusi bahwa sempurna berarti seragam.

Keyakinan semacam ini ternyata punya banyak pemeluk, dan mereka tersebar lebih jauh dari yang kami duga.

Di Kolombia, Simon Velez memecahkan persoalan sambungan dengan cara yang mengejutkan sederhananya, menyuntikkan adukan semen ke ruas bambu yang berongga lalu memasang baut di titik itu. Sejak itu ia menyebut bambu baja nabati, dan menyindir arsitektur zaman ini kelebihan dosis mineral. 

Kisah favorit kami terjadi menjelang Expo 2000 Hannover. Jerman belum punya kode bangunan bambu, maka ia membangun purwarupa paviliunnya dalam ukuran penuh di kota kelahirannya, Manizales, lalu membebani atapnya dengan tumpukan karung pasir untuk membuktikan daya pikulnya kepada para insinyur. Dibangun dua kali, diuji dua kali, izinnya keluar sehari sebelum pameran dibuka, dan paviliun ZERI tercatat sebagai bangunan bambu pertama yang menerima izin bangunan di Jerman. 

Setahun sebelumnya, ketika gempa meruntuhkan kawasan kopi Kolombia, rumah-rumah guadua justru banyak yang bertahan ketika tembokan runtuh, sampai pada 2010 Kolombia memasukkan bambu ke kode bangunan nasionalnya, salah satu yang pertama di dunia. Dari Jerman, Jorg Stamm pindah ke Kolombia, membangun jembatan bambu berbentang 40 meter, lalu membawa ilmunya ke Bali, dan Markus Heinsdorff mendirikan paviliun bambu 2 lantai di Expo Shanghai 2010 yang menjadi persetujuan pertama otoritas Tiongkok.

Di Bali, John Hardy mendirikan Green School pada 2008, dan putrinya Elora meninggalkan karier mode di New York untuk mendirikan IBUKU pada 2010, membangun rumah bambu 6 lantai dan gimnasium cangkang setinggi 14 meter. Kalimat Elora kami hafal, kami bertanya kepada bambu ia pandai apa, dan ia ingin menjadi apa.

Di negeri kita ada Effan Adhiwira yang berkeliling kampus mengampanyekan bambu, Yu Sing dengan mimpi rumah murahnya, dan Andry Widyowijatnoko dari ITB yang membawa sambungan bambu sampai jadi disertasi doktor di Aachen dan ikut menulis standar internasionalnya. 

Di India, Neelam Manjunath berkeras bangunan bambu tidak harus tampak murahan. Di Meksiko, Comunal dan Lucila Aguilar membangun perumahan sosial bambu yang purwarupanya sempat ditolak pendanaan negara karena aturan melarang material tradisional dipakai struktur. Dan di Jepang, Kengo Kuma memilih bambu untuk vila yang ia rancang di kaki Tembok Besar justru karena, katanya, ada pesona dalam kelemahan bahan ini. 

Jauh sebelum itu semua, Sen no Rikyu menyimpan vas bambu yang retak, dan ketika diberi tahu vasnya bocor, ia menjawab, tetesan air inilah hidupnya.

Kami di RAW Architecture masuk ke jalan ini lewat pintu yang jauh lebih kecil. Mula-mula bambu hanya penyelesaian kanopi di Davio House, lalu naik menjadi kulit kedua yang menyaring cahaya dan pandangan di Pelangi House. Perannya masih sopan, masih di tepi.

Photograph by Lu’luil Ma’nun, Aryo Phramudhito & Lindung Soemarhadi

Tetapi pintu yang sebenarnya bukan dibuka oleh teori maupun angka. Ia dibuka oleh lumpur.

Hari itu kami datang ke lapangan Alfa Omega, dan hampir seluruhnya tenggelam. Tanah yang di atas gambar tampak siap dibangun ternyata rawa-rawa. Memindahkan barang ke titik bangunan sulitnya bukan main, setiap material harus melawan lumpur lebih dulu sebelum melawan gravitasi.

Kami berjalan mencari akal, dan sampai ke sebuah gubuk penjual bambu. Kami mengobrol. Berapa lama membuat saung seperti ini, “Dua minggu,” jawabnya. “Tukangnya dari mana?”, “Sumedang.” Kami minta dipertemukan, dan ia menyanggupi, “Besok bisa.” Malamnya kami kepikiran, bagaimana kalau bambu dipakai membuat jembatan, jalan angkut menyeberangi rawa. Besoknya kami tanya, “Berapa lama?”, “Dua minggu per segmen,” jawab mereka. “Baik. Datangkan orangnya, kita mulai secepatnya.”

Dua minggu kemudian jembatan itu berdiri, tepat seperti kata-katanya. Itu yang membuat kami percaya. Bukan karena bambu itu indah, keindahannya belum sempat kami pikirkan. Kami percaya karena sebuah janji ditepati di tengah rawa. Dan begitulah bambu masuk ke proyek kami, bukan sebagai arsitektur, melainkan sebagai jalan menuju arsitektur. 

Photograph by RAW Architecture & Eric Dinardi

Sesudah itu pangkatnya terus naik, menjadi struktur atap sekolah di Alfa Omega, berdiri 3 lantai di Piyandeling, sampai nyaris mengerjakan semuanya sendirian di Guha Bambu, 3 lantai ditambah 1 lantai di bawah tanah dalam struktur yang hibrida. Ketidakseragaman itu kemudian kami jawab dengan dua cara yang berlawanan. Di Alfa Omega kami mengendalikannya, mal besi memegang presisi lengkungnya, bambu menyanyikan garisnya. 

Di Guha kami bertanya sebaliknya, bagaimana kalau bambu melakukannya nyaris sendirian, dan lahirlah komposisi gua yang penuh tabrakan bentuk yang tidak semuanya kami rencanakan, rongga melengkung muncul di tempat tak terduga, dan ruangnya justru mendapat jiwa dari sana. Kami menikmatinya bukan karena semuanya berhasil, melainkan karena ia memaksa kami menemukan cara yang tidak akan lahir dari kenyamanan.

Photograph by RAW Architecture & Eric Dinardi

Dunia sambungannya sendiri terbelah dua, jalan tua pasak dan kuncian ijuk yang keindahannya sulit ditandingi tetapi bergantung pada pengrajin yang makin langka, dan jalan baru lem serta laminasi yang lebih pasti tetapi menyerahkan sebagian jiwa kriyanya. Di antaranya ada jalan hibrida, bambu dikawinkan dengan besi supaya ada kepastian yang bisa dijanjikan kepada klien dan insinyur. 

Seorang insinyur struktur pernah mengingatkan kami, di Jakarta bambu struktural itu mahal, jenisnya sedikit, dan menemukan pengrajin pasak ijuk jauh lebih sulit daripada menemukan bambunya. Ia benar, kecuali kita cukup beruntung memiliki ekosistem pengrajin yang terjaga, dan ekosistem seperti itu tidak dimiliki banyak proyek.

Lalu kami memperhatikan satu pola yang hampir tidak pernah dibicarakan, dan pola itu bertingkat seperti anak tangga kepercayaan.

Tangga pertama, taruhan pribadi sang arsitek. Manjunath membangun bambu sebagai rumahnya sendiri dan kantornya sendiri. Velez mendirikan purwarupanya di kota kelahirannya sendiri. Elora menukar karir modenya dengan keyakinan ini, dan keluarga Hardy mempertaruhkannya pada sekolah yang mereka dirikan sendiri. 

Masuk akal kalau dipikir, jarak dari bambu ke tren terlalu jauh, belum ada yang bersedia jadi kelinci percobaan, maka taruhan pertama selalu dipasang di tempat yang paling dekat, rumah sendiri, nama sendiri. 

Kami pun tanpa sadar memulai dari tangga yang sama, sebab Guha yang nyaris seluruhnya bambu itu bukan proyek untuk siapa-siapa, ia rumah tempat kami sendiri tinggal, bekerja, dan menyimpan buku-buku kami. 

Tangga kedua, kepercayaan seorang klien. Villa bambu Kuma adalah pesanan, artinya ada pemilik yang berani menitipkan uang dan namanya pada material yang ditertawakan orang. Di Alfa Omega kami mengalaminya sendiri, sebuah yayasan mempercayakan sekolahnya, tempat anak-anak orang lain akan belajar setiap hari, pada struktur atap bambu. Kepercayaan sebesar itu tidak bisa dibalas dengan apa pun kecuali kehati-hatian.

Dan tangga ketiga, kepercayaan bersama. Gempa 1999 membuat Kolombia menuliskan bambu ke dalam kodenya. Karung pasir Velez membuat Jerman menerbitkan izinnya, paviliun Heinsdorff membuat Tiongkok melakukannya, dan sambungan yang diteliti Andry ikut menjadi standar internasional. Di tangga ini bambu berhenti menjadi keyakinan orang per orang dan mulai menjadi hukum, sesuatu yang boleh dipercaya siapa saja tanpa harus jatuh cinta lebih dulu.

Material yang dianggap tisu ini tidak diuji di tempat yang aman. Ia menaiki tangganya satu per satu, dari rumah arsiteknya, ke sekolah kliennya, sampai ke kode bangunan negaranya. 

Itulah sebabnya orang-orang yang pernah mengerjakan struktur bambu Alfa Omega tidak kami lepas begitu saja ketika proyeknya selesai. Sebagian kini bekerja di Piyandeling, merawat dan meneruskan keterampilannya sambil menunggu proyek berikutnya. Sebab keterampilan ini tidak tersimpan di gambar atau di buku, ia tersimpan di tangan, dan tangan yang lama menganggur pelan-pelan kehilangan hafalannya.

Photograph by RAW Architecture &  Eric Dinardi

Dua bangunan itu akhirnya mengajari kami bahwa menyusun dari apa yang tersedia punya dua suhu. Ada yang dingin seperti es, tenang, sabar, penuh perhitungan. Ada yang panas seperti api, lahir dari tabrakan yang tak terduga, dan patahannya justru menghidupkan. Alfa Omega adalah es kami, Guha adalah api kami. Kematangan, kami kira, bukan memilih salah satu, melainkan tahu kapan mendinginkan dan kapan membiarkan menyala.

Sekarang, setiap kali seseorang menyebut bambu material murahan, tisu sekali pakai, kami tidak lagi sibuk membantah dengan teori. Kami hanya teringat rawa itu, gubuk kecil di tepinya, dan jembatan yang berdiri tepat dua minggu kemudian. Mereka menyebutnya tisu. Kami pernah menyeberangi rawa di atasnya.

Kategori
Team - Studio Culture

Surat di Hari Terakhir

Setiap kali masa magang berakhir di studio kami, ada satu tugas terakhir yang tidak ada hubungannya dengan gambar, maket, atau presentasi. Kami meminta mereka menulis surat.

Kami menyebutnya reflection letter. Isinya bukan laporan kegiatan, bukan daftar proyek yang pernah disentuh. Isinya satu pertanyaan yang jauh lebih sulit: apa yang berubah dalam dirimu selama berada di sini?

Kenapa harus menulis? Karena pengalaman yang tidak dituliskan cepat sekali menguap. Berbulan-bulan belajar bisa larut begitu saja menjadi kesan samar kalau tidak pernah dipaksa mengambil bentuk. Menulis memaksa seseorang menamai apa yang terjadi pada dirinya, dan sesuatu yang sudah bisa kau namai akan menjadi milikmu selamanya. Banyak yang datang ke studio ini dengan ragu, merasa belum tahu apa-apa. Lalu di surat itu, dengan kata-kata mereka sendiri, mereka menuliskan bahwa mereka pulang dengan keberanian yang tidak mereka bawa saat datang. Kami tidak pernah menuliskan kalimat itu untuk mereka. Mereka menemukannya sendiri, di ujung pena, dan justru karena itu ia menjadi benar.

Dan kami harus jujur tentang sisi satunya: surat-surat itu juga rapor bagi kami. Kami membacanya bukan untuk mencari pujian, melainkan untuk memeriksa diri. Dari surat-surat itu kami tahu apa yang sungguh-sungguh mereka pelajari, yang kadang berbeda dari apa yang kami kira sedang kami ajarkan. Kami juga tahu di bagian mana kami belum cukup baik menemani. Anak-anak muda ini bercermin lewat suratnya, dan diam-diam, kami ikut bercermin di sana.

Barangkali ini memang sudah watak tempat ini. Studio yang tumbuh bersama perpustakaan dan menerbitkan buku-bukunya sendiri rasanya tidak adil kalau membiarkan orang-orangnya pulang tanpa menulis. Di sini kami percaya satu hal sederhana: belajar belum benar-benar selesai sebelum dituliskan.

Maka surat itu menjadi halaman terakhir dari sebuah masa magang. Tetapi bagi banyak dari mereka, kami menduga ia justru halaman pertama dari sesuatu yang lain: kebiasaan berhenti sejenak, menengok ke belakang, dan menamai pertumbuhannya sendiri. Gambar-gambar menunjukkan apa yang pernah mereka buat. Surat itu menunjukkan siapa mereka telah menjadi.

Di sini kami meletakkan reflection letters itu, bersama dengan cerita kultur studio, mengapresiasi, berjenaka, ataupun sesimpel perayaan kebersamaan.
https://real-rich.org/2026/06/24/team-updates/: https://real-rich.org/2026/06/24/team-updates/

(rs, ty, hs, ir)

Kategori
blog tulisan-wacana

Menemani Sampai Tuntas

Ada satu kebiasaan di studio kami, yaitu induksi untuk anak-anak magang. Dari tahun ke tahun pertanyaannya hampir selalu sama. 1. Banyak yang mempertanyakan realitas profesi ini, dan banyak juga yang bertanya 2. Bagaimana sebenarnya bekerja bersama, 3. Apa saja dinamikanya plus minus yang didapatkan setelah bertahun-tahun praktik, seolah ada rahasia lanjutan yang disimpan dari pertanyaan anak-anak.

Jawaban kami biasanya mengecewakan karena pendek, dan sampai sekarang kami belum yakin sudah menjawabnya dengan benar, 1. Sikap mau memperhatikan rekan di sekitar, 2. Fokus untuk mengetahui nilai dan tujuan proyeknya, dan 3. Kesabaran terus hadir sambil meningkatkan keterampilan.

Barangkali itulah cara pikir budaya studio, kesiapan yang tidak pernah selesai dipelajari. Jawaban yang sederhana biasanya punya riwayat yang panjang, dan tulisan ini tentang riwayat itu.

Waktu masih muda dan bekerja di studio, saya sering termasuk yang mematikan lampu terakhir. Lembur sampai pagi sudah biasa, dan begitu seringnya sampai saya hafal siapa petugas kebersihan yang datang jam berapa, satpam mana yang bertugas malam itu, dan sopir taksi mana yang biasa mangkal menjelang subuh. Kami sempat mengobrol panjang di udara dingin sambil menunggu.

Suatu malam senior saya berkata, “kamu pulang saja.” Saya menjawab tanpa berpikir, “nanti saja, saya tunggu kamu selesai dulu.”

Bertahun-tahun kemudian baru refleksi kepada diri sendiri, kenapa jawaban itu keluar begitu saja. Bukan karena rajin, dan bukan karena pekerjaan belum selesai. Ada sesuatu di dalam yang tidak sanggup meninggalkan orang yang masih bekerja.

Kira-kira asalnya dari masa kecil. Ibu (mom) rajin sekali mengikuti kegiatan doa bersama, dan saya sering ikut, tanpa niat apa-apa, sekadar menemani.

Di pojok ruangan itu bertanya-tanya sendiri, kok bisa ya orang-orang ini berkumpul, tidak ada yang membayar, tidak ada keperluan apa-apa. Lama-lama saya paham jawabannya bukan di acaranya, melainkan pada apa yang terjadi sesudahnya. Ada teman, ada canda, ada tawa, ada rasa dan daya hidup yang tidak muncul kalau kita sendirian.

Rasa dan daya bersama itu ternyata bekerja di tempat-tempat yang tidak saya duga. Saya pernah didatangi preman yang membawa golok.

Ceritanya panjang dan tidak enak diingat, tetapi ujungnya justru ganjil, kami akhirnya bekerja bersama, sebab ternyata kami sama-sama membutuhkan sesuatu dari yang lain. Orang yang datang dengan senjata itu berubah menjadi rekan kerja, bukan karena saya berani, melainkan karena ada kepentingan yang jujur, sebuah daya dan rasa positif yang saling membutuhkan dan diakui kedua pihak.

Dari situ kami mulai menduga satu hal yang sederhana.

Barangkali hampir semua orang bersedia bekerja bersama, asal ia merasa dianggap ada. Tetapi menemani ternyata tidak cukup dengan niat baik. Ia menuntut dua hal yang jauh lebih tidak nyaman, yaitu datang ke tempat yang sulit, dan berkata jujur pada orang yang kita sayangi. Dua-duanya dipelajari dengan cara yang tidak menyenangkan.

Yang pertama kami pelajari di perjalanan menuju tapak proyek adalah jatuh dari motor.

Waktu itu musim hujan, dan jalan masuk ke tapak sekolah Alfa Omega masih berupa tanah yang kalau basah berubah jadi bubur licin. Mobil tidak bisa lewat, jadi perjalanan terakhir selalu ditempuh dengan motor. Kami memilih motor karena lebih cepat dan menghemat waktu, dan hari itu roda depan saya kehilangan pegangannya di lumpur. Tidak ada yang dramatis, terjerembab, gambar-gambar di tas ikut kotor, dan beberapa tukang yang kebetulan lewat berhenti untuk menolong sambil menahan senyum.

Yang paling sakit bukan lecetnya. Yang paling sakit adalah malunya, dan justru dari malu itu pelajarannya datang.

Sebab sambil membersihkan celana dari lumpur, saya sadar satu hal yang seharusnya sudah lama disadari. Jalan yang baru saja menjatuhkan itu dilewati para tukang setiap hari. Dua kali sehari, pergi dan pulang, kadang sambil memanggul bahan, kadang berboncengan bertiga, dalam hujan yang sama, di lumpur yang sama.

Mereka tidak jatuh, atau jatuh dan tidak pernah menganggapnya cerita, sebab bagi mereka jalan itu bukan pengalaman, melainkan rute.

Di titik itu kami mengerti kenapa pengawasan tidak bisa diwakilkan kepada foto kiriman lapangan. Gambar kerja tidak pernah kotor. Ia rapi, datar, dan kering, dan semua garis di dalamnya patuh. Tanah tidak begitu. Tanah punya musim, punya lumpur, punya jarak yang baru terasa kalau ditempuh sendiri.

Merancang dari kejauhan itu selalu bisa, tetapi memahami dari kejauhan itu tidak pernah bisa. Ada hal-hal yang hanya bersedia menjelaskan dirinya kepada orang yang datang. Belakangan saya tahu Toyota punya nama untuk kebiasaan ini, genchi genbutsu, pergi dan lihat sendiri di tempat kejadian, sebab keputusan yang baik lahir dari berdiri di lantai kerja, bukan dari laporan.

Jadi apa yang kami kira pelajaran pribadi ternyata sudah lama tertulis di buku panduan pabrik mobil, hanya saja versi mereka tidak memakai motor.

Maka sesudah hari itu, usulan kami kepada pemilik sederhana saja dan sangat tidak puitis, tapaknya butuh jalan masuk yang layak. Yang terjadi kemudian, pemilik tidak sekadar menyetujui.

Beliau membangun jalan sepanjang satu setengah kilometer, sehingga sebelum sekolahnya berdiri, jalan itu sudah lebih dulu melayani kampung-kampung di sekitarnya. Kami hanya mengusulkan jalan karena kesulitan yang nyata. Keputusan menjadikannya pemberian, itu sepenuhnya milik beliau, dan sampai sekarang saya menganggapnya salah satu pelajaran arsitektur terbaik yang pernah kami terima dari seorang klien.

Bekas lecet di tangan sudah lama hilang. Tetapi ada bekas lain yang diharapkan tidak pernah hilang, yaitu rasa malu yang sehat itu. Malu karena sempat mengira sudah memahami tapak dari gambar. Malu karena kesulitan yang saya alami sekali, ternyata dialami orang lain setiap hari tanpa mengeluh. Malu yang mengingatkan bahwa antara meja gambar dan tanah selalu ada jarak, dan jarak itu hanya bisa ditutup dengan datang.

Sekarang setiap kali kami berkunjung ke sana, jalannya sudah keras dan ramai. Anak-anak berangkat sekolah lewat situ, pedagang lewat situ, motor-motor lewat tanpa tergelincir. Tidak ada tanda apa pun bahwa di jalan itu seorang arsitek pernah terjerembab dengan gambar-gambarnya. Dan memang tidak perlu ada. Jatuhnya cukup diingat satu orang saja, asal pelajarannya tidak ikut jatuh.

Jatuh semacam itu kecil dan sembuh dalam seminggu.

Profesi ini menyimpan kisah jatuh yang jauh lebih panjang, dan dua di antaranya sering kami ceritakan di ruang induksi.

Sigurd Lewerentz memenangi sayembara pemakaman hutan Stockholm bersama sahabatnya Gunnar Asplund pada 1915, mengerjakannya berpuluh tahun, lalu pada 1936 kota menyerahkan kapel utamanya kepada Asplund seorang. Ia tersingkir dari karyanya sendiri. Ia menepi dari arsitektur, membeli pabrik di Eskilstuna, dan belasan tahun hidup dari membuat kusen dan perlengkapan baja.

Baru di usia 70-an ia benar-benar kembali, dan gereja bata yang ia kerjakan di Klippan dari umur 77 sampai 81 kini dihitung orang sebagai salah satu karya bata terbaik abad itu. Di proyek itu ia memasang satu aturan yang keras, tidak boleh ada bata yang dipotong, seluruh selisih ukuran ditelan oleh siar adukan yang dibiarkan menebal, dan selama 3 tahun ia datang mengawasi peletakan batanya.

Orang mengingat kalimatnya, gereja seharusnya tidak tampak seperti dirancang, ia seharusnya tampak seperti terjadi. Bagi kami itu definisi lain dari menemani sampai tuntas, seorang tua yang berdiri di lapangan menemani bata demi bata menemukan tempatnya.

Yang kedua, Liu Jiakun lain lagi jalannya. Remaja di masa Revolusi Kebudayaan, dikirim ke pedesaan, lulus arsitektur lalu justru meninggalkannya bertahun-tahun untuk menulis novel.

Ia kembali sesudah melihat pameran karya teman sekelasnya pada 1993, membuka kantor pada 1999 di usia 40-an, dan ketika gempa besar mengguncang Sichuan pada 2008 ia turun sebagai relawan lalu membuat bata dari puingnya, dicampur jerami dan semen, dan menamainya bata kelahiran kembali. Alasannya ia ucapkan tanpa hiasan, sebagai warga Sichuan saya ikut merasakan sakitnya, sebagai arsitek saya harus mengerjakan sesuatu yang saya bisa. Pada 2025 ia menerima Pritzker.

Dua orang itu jatuh dengan cara yang berbeda, yang satu disingkirkan, yang satu menyingkir. Yang menyatukan mereka, keduanya pulang lewat pintu yang sama, bata yang paling biasa, ditemani sampai tuntas.

Pelajaran kedua datang dari tempat yang jauh lebih dekat, yaitu dapur kami sendiri. Di dapur kami ada dua juru masak. Yang satu lebih senior, memasak dari kebiasaan panjang, dan memegang posisinya karena sudah terbiasa. Masakannya bukan tidak enak. Tetapi terlalu terbiasa punya bahayanya sendiri, persiapan tidak lagi dipikirkan matang, dan yang dikejar pelan-pelan bergeser dari rasa menjadi cepat selesai.

Memasak untuk puluhan orang setiap hari, dua menu sekaligus, bukan pekerjaan yang ringan bagi sang senior. Yang satu lagi lebih junior. Cara kerjanya masih kasar, belum punya keteraturan.
Suatu kali sang senior melakukan kesalahan karena tidak mengikuti resep, dan ia menerima masukan yang mau tidak mau cukup lugas dari kami. Tidak menyenangkan untuk semua pihak. Tetapi masukan yang jujur memang jarang menyenangkan.

Lalu terjadilah sesuatu yang tidak kami rencanakan. Sang senior harus pulang kampung karena urusan pribadi, dan dapur dipegang si junior sendirian. Dan masakannya berubah. Enak, dan bukan kebetulan satu kali, melainkan berturut-turut, hari demi hari.

Ketika kami sekeluarga memujinya, wajahnya tersenyum dengan cara yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Ada yang berubah dalam dirinya, dan perubahan itu bisa dirasakan sampai ke rasa makanan di piring.

Ketika sang senior kembali, standar masakan turun lagi ke tempatnya semula. Saya tidak ingin membaca cerita ini sebagai kisah tentang senior yang buruk dan junior yang baik. Yang sesungguhnya terjadi lebih dalam dari itu, di dapur kami, posisi telah pelan-pelan menggantikan standar, dan kebiasaan telah menggantikan kesadaran.

Sang senior adalah korban dari sistem yang terlalu lama tidak pernah ditinjau, yang membiarkan kenyamanan mengendap sampai terasa seperti hak. Dan si junior bukan pahlawan, tapi hanya orang yang akhirnya mendapat ruang, lalu membuktikan bahwa ruang itu selama ini memang tidak pernah benar-benar terbuka. Dan saya punya peran besar dalam problem ini juga.

Psikolog Stanford Carol Dweck menamai pola ini fixed mindset dalam bukunya Mindset tahun 2006, keyakinan diam-diam bahwa kemampuan itu kadar yang sudah tetap, sehingga yang merasa mampu berhenti belajar dan yang dicap belum mampu berhenti mencoba. Tetapi teori itu baru menjelaskan separuh cerita, sebab ia bicara tentang isi kepala orang per orang, sedangkan yang terjadi di dapur kami adalah soal tatanan.

Ketika hierarki tidak pernah dipertanyakan, yang senior berhenti diuji dan yang junior berhenti berharap. Dua-duanya kehilangan sesuatu yang penting, yang senior kehilangan cermin, yang junior kehilangan panggung. Untuk lapisan ini Edgar Schein, peneliti budaya organisasi, punya kalimat yang menusuk, budaya terbentuk dari apa yang secara konsisten diperhatikan, diukur, dan dihargai oleh pemimpinnya.

Artinya diam selama bertahun-tahun itu pun ikut membentuk budaya, dan itu bagian yang paling tidak enak untuk diakui.

Maka kami mengerjakan hal yang paling tidak nyaman, dan terus terang jauh lebih terlambat dari seharusnya, kami kumpulkan mereka semua, termasuk orang ketiga di dapur itu, dan kami ceritakan apa adanya masukan tentang kualitas masakan. Saya tahu ini mungkin membuat yang senior jengah dan yang junior takut.

Tetapi diamnya seorang pemimpin, adalah bentuk pengabaian. Ketegasan yang jujur, lebih menghormati orang daripada kesopanan yang membiarkan.

Setelah itu barulah alat-alatnya bekerja, standar operasi ditinjau ulang, dibangun di atas tiga hal yang tidak peduli pada senioritas, yaitu produk, proses, dan meritokrasi. Bukan sebagai birokrasi, melainkan sebagai cara memastikan kualitas tidak bergantung pada siapa yang kebetulan hadir hari itu.

Dan dengan pemantauan yang terbuka, sesuatu yang tidak kami duga terjadi, suasana yang tadinya diam-diam berkompetisi berubah menjadi kolaborasi. Barangkali orang memang tidak takut pada standar yang jelas. Yang ditakuti adalah penilaian yang gelap.

Belakangan kami baru tahu bahwa yang kami raba-raba di dapur kecil itu sudah lama diteliti orang, dan jawabannya sudah ada jauh sebelum kami memikirkannya.

Google meneliti 180 timnya bertahun-tahun untuk mencari resep tim yang baik, dan jawabannya bukan kepintaran anggotanya, melainkan rasa aman psikologis, istilah Amy Edmondson dari Harvard, keyakinan bersama bahwa tidak ada yang dipermalukan karena berbicara. Edmondson sendiri mengingatkan, rasa aman tanpa standar yang tinggi hanya melahirkan zona nyaman, keduanya harus dinaikkan bersama.

Toyota menggantung tali di sepanjang lini produksinya, dan siapa pun, termasuk pekerja paling muda, boleh menariknya untuk menghentikan seluruh lini begitu melihat mutu yang cacat. Pixar punya forum kritik dengan satu aturan, yang dibedah filmnya, bukan pembuatnya. Dan Facebook yang dulu bersemboyan bergerak cepat dan rusaklah sesuatu diam-diam mengganti semboyannya pada 2014, sebab pada ukuran mereka yang baru, kerusakan sudah lebih mahal daripada kecepatan.

Semua itu kalimat panjang untuk pelajaran yang kami pelajari dengan cara yang jauh lebih lambat, standar yang jelas membuat orang berani, dan hak menjaga mutu adalah milik semua orang, bukan milik yang senior.

Di balik semua itu ada satu kata yang menjadi inti padepokan kami, pamong. Pamong bukan mandor yang mengawasi dari atas, bukan pula kawan yang membiarkan demi menjaga perasaan.

Pamong adalah yang menemani sampai tuntas, sambil menjaga dua hal sekaligus yang sering dianggap bertentangan, kualitas dan hubungan. Saya masih sering gagal di keduanya. Ketegasan yang tidak memutus persaudaraan, kelembutan yang tidak menurunkan standar.

Bertahun-tahun lalu, pernah menulis bahwa orang-orang di tempat ini adalah kakak, adik, dan kawan seumur hidup. Dan, masih memegangnya sampai sekarang.

Tetapi cerita dapur ini mengajari kami melengkapinya, justru karena mereka keluarga, bukan meskipun mereka keluarga, standar harus dijaga dan kejujuran harus diucapkan. Keluarga bukan alasan untuk menurunkan mutu. Keluarga adalah alasan untuk tidak saling membiarkan.

Masakan yang baik, ternyata, resepnya sama dengan studio yang baik, bahan yang jujur, takaran yang dijaga, dan seseorang yang mau menemani sampai tuntas.

Dan kalau dipikir lagi, kalimat yang dulu keluar begitu saja di kantor itu ternyata belum selesai kami kerjakan. Kami tunggu kamu selesai dulu. Menunggu saja tidak cukup. Yang lebih sulit adalah ikut basah di jalannya, dan berani berkata jujur ketika masakannya tidak enak.

Barangkali itu sebabnya jawaban kami di ruang induksi selalu sependek itu. Perhatikan rekanmu, pahami tujuannya, dan teruslah hadir. Sisanya akan diajarkan oleh lumpur dan dapur.

Kategori
Team - Studio Culture

Meja Mengikuti Kerja

Kalau seseorang berkeliling di Guha dan memperhatikan meja-meja tempat orang bekerja, ia akan menemukan sesuatu yang aneh: tidak ada satu susunan yang seragam. Tiap tim menata mejanya dengan cara yang berbeda. Yang satu memanjang, orang-orang duduk saling berhadapan. Yang lain justru saling membelakangi, dengan ruang rapat di tengah. Ada yang bekerja seperti di ruang tamu, berkumpul di sekitar sofa. Ada pula yang punya ruang rapat dengan layar untuk memantau perkembangan pekerjaan. Semua di tempat yang sama, tetapi ditata dengan logika yang berlainan.

Ini bukan kekacauan. Ini justru prinsip. Kami percaya susunan meja tidak seharusnya ditentukan dari atas dengan satu aturan seragam, melainkan tumbuh dari cara tiap tim bekerja, dan itu sangat dipengaruhi oleh siapa pemimpinnya dan apa yang sedang dikerjakan. Setiap team lead punya ritmenya sendiri, dan meja pun menyesuaikan diri pada ritme itu, bukan sebaliknya. Kami membiarkan setiap tim bereksperimen dengan susunan apa pun yang paling cocok dengan konteksnya.

Kalau ditelusuri, ada logika di balik perbedaan ini, dan menariknya, orang yang mempelajari tata ruang kerja menemukan hal yang serupa. Susunan saling berhadapan mendorong percakapan yang sering dan cepat, cocok untuk pekerjaan yang menuntut koordinasi terus-menerus. Tetapi susunan yang sama itu justru mengganggu ketika seseorang butuh menyendiri dengan pikirannya, karena setiap tatapan menjadi interupsi. Sebaliknya, susunan saling membelakangi menciptakan semacam bayangan yang melindungi, mengurangi gangguan, memberi ruang untuk fokus yang dalam. Tidak ada yang lebih unggul secara mutlak; masing-masing menjawab kebutuhan yang berbeda.

Dari sini kami punya dugaan yang terus kami uji. Pekerjaan yang sifatnya produksi, yang menuntut banyak pertukaran cepat dan pengecekan terus-menerus, tampaknya lebih cocok dengan susunan saling berhadapan, di mana informasi bisa mengalir tanpa hambatan. Sementara pekerjaan yang sifatnya kreatif, yang butuh saling mendengarkan dan menimbang bersama, cenderung menuntut susunan yang mengumpul ke tengah, melingkar, tempat seorang pemimpin tim tidak duduk di ujung memberi perintah, melainkan di antara timnya, mendengarkan. Bentuk ruang, dengan kata lain, ikut menentukan jenis percakapan yang mungkin terjadi di dalamnya.

Ada satu detail kecil yang kami tambahkan di beberapa meja, dan gunanya lebih dalam daripada tampaknya. Di depan meja, kami pasang partisi rendah, sekitar tiga puluh sentimeter di atas permukaan meja, sering kali dengan beberapa stop kontak menempel di sana. Sekilas ia hanya sekat kecil. Tetapi bagi kami, ia mengerjakan sesuatu yang penting secara psikologis: ia memberi perasaan batas.

Partisi serendah itu tidak menutup pandangan dan tidak memutus seseorang dari timnya, ruangan tetap terasa terbuka. Yang ia lakukan hanya menandai, dengan halus, di mana ruang seseorang berakhir dan ruang orang lain dimulai. Sekat kecil itu memberi rasa privasi dan rasa memiliki tempat, tanpa harus membangun dinding. Orang yang mempelajari ruang kerja menemukan hal yang sama: sekat rendah yang menegaskan ruang pribadi memberi orang rasa kendali atas lingkungannya, sambil tetap menjaga keterbukaan visual. Dan rasa kendali sekecil itu, ternyata, mengurangi kelelahan dan membantu orang fokus.

Stop kontak yang menempel di partisi itu pun bukan sekadar kepraktisan, meski memang praktis. Dengan colokan yang berada tepat di depan, setinggi meja, orang bisa menyambungkan laptopnya tanpa harus membungkuk ke bawah kolong mencari sumber listrik. Semuanya bisa dikerjakan dari posisi duduk yang wajar. Ini hal kecil, tetapi hal-hal kecil seperti inilah yang, dijumlahkan sepanjang hari dan sepanjang tahun, menentukan apakah sebuah meja melelahkan atau melegakan bagi tubuh yang menghuninya.

Yang ingin kami tekankan bukan susunan mana yang benar, melainkan sesuatu yang lebih mendasar. Sebelum kita bisa mendesain sebuah meja, atau sebuah ruang kerja, kita harus lebih dulu mengerti bagaimana orang akan bekerja di sana. Meja bukan titik awal; ia jawaban atas pertanyaan yang lebih dulu: pekerjaan seperti apa yang akan berlangsung di sini, dan percakapan seperti apa yang perlu didukung? Merancang meja tanpa memahami kerjanya sama seperti merancang rumah tanpa mengenal keluarganya. Bentuknya mungkin rapi, tetapi ia tidak akan pas.

Inilah lensa yang kami anggap fundamental, dan yang sering dilewati. Banyak orang memulai dari perabot: meja apa yang bagus, kursi apa yang nyaman, tata letak apa yang terlihat rapi. Kami memilih memulai dari yang sebaliknya, dari cara kerja, dari relasi, dari ritme sebuah tim, lalu membiarkan meja mengikuti. Karena sebuah meja yang disusun mengikuti cara orang bekerja akan mendukung pekerjaan itu diam-diam, tanpa disadari. Sementara meja yang dipaksakan justru akan melawan orang-orang yang duduk di sekelilingnya, setiap hari, dengan cara yang sulit mereka tunjuk tapi terus mereka rasakan.

Maka meja-meja yang berbeda-beda di Guha itu bukan tanda ketiadaan sistem. Ia justru sistem yang paling menghormati kenyataan: bahwa tidak ada satu cara bekerja yang berlaku untuk semua orang, dan karena itu, tidak ada satu susunan meja yang benar untuk semua tim. Yang benar hanyalah meja yang jujur mengikuti kerja yang sesungguhnya, dan orang-orang yang mengerjakannya.

Kategori
Team - Studio Culture

Waktu Melingkar

Di antara banyak cara kami bekerja, ada satu yang paling sederhana dan paling kami andalkan: duduk melingkar dan mendengarkan. Kami menyebutnya circle time, waktu melingkar. Bukan rapat dengan meja panjang dan kepala di ujung. Melainkan lingkaran, tempat tidak ada yang duduk di depan atau di belakang, dan setiap orang, kalau dilihat dari atas, berjarak sama ke pusatnya.

Bentuk itu bukan kebetulan. Sebuah lingkaran mengatakan sesuatu yang tidak bisa dikatakan oleh susunan lain: bahwa di sini, suara semua orang bernilai sama. Kami memulainya dari yang paling akar, dari anggota tim yang paling muda, yang baru belajar, lalu meluas ke perancang senior, ke engineer, sampai ke klien. Semua duduk di lingkaran yang sama, dan semua didengar. Bukan karena semua pendapat sama benarnya, melainkan karena semua orang berhak didengar sebelum sebuah keputusan diambil.

Ini berbeda dari pendampingan personal, yang satu lawan satu, yang menyesuaikan diri pada kebutuhan tiap orang. Circle time adalah pendampingan komunal: menyamakan nilai bersama, membangun pemahaman yang dipegang beramai-ramai. Yang satu merawat individu; yang satu merawat rasa kebersamaan. Keduanya dibutuhkan, dan keduanya berbeda pekerjaannya.

Ada alasan kenapa lingkaran seperti ini harus dijaga tetap kecil. Orang yang mempelajari kelompok manusia menemukan bahwa ada batas alami: sekitar lima orang untuk lingkaran terdekat yang paling erat, sekitar lima belas untuk kelompok yang cukup dekat sehingga orang berani jujur di dalamnya. Lewat dari itu, sesuatu berubah. Dalam kelompok yang terlalu besar, tanpa seseorang yang memandu dengan cermat, yang pendiam kehilangan kesempatan bicara, dan percakapan pecah menjadi bisik-bisik di pinggir. Kedekatan, ternyata, punya ukuran. Ia tidak bisa dipaksakan pada kerumunan.

Karena itu kami memperlakukan circle time bukan sebagai forum besar, melainkan sebagai sel-sel kecil yang saling terhubung. Seperti sebuah tubuh yang tersusun dari banyak sel, sebuah studio yang sehat tersusun dari banyak lingkaran kecil, masing-masing cukup rapat untuk saling kenal, saling dukung, saling tahu kabar. Dalam lingkaran sekecil itu, orang tidak hanya berbagi pekerjaan; mereka menjadi semacam sistem pendukung satu sama lain. Dan ketika seseorang diajak masuk ke lingkaran itu, sesungguhnya ia sedang diberi tahu sesuatu tanpa kata: bahwa ia kini bagian dari keluarga.

Fokus kami dalam lingkaran ini, pada akhirnya, adalah keterampilan, tetapi keterampilan yang jenisnya sering dilupakan: keterampilan berkomunikasi. Bagaimana menyampaikan tanpa menyakiti. Bagaimana mendengar tanpa buru-buru membantah. Bagaimana bertanya supaya orang lain merasa aman menjawab. Ini keterampilan yang tidak diajarkan di sekolah desain, tetapi justru inilah yang menentukan apakah semua ilmu teknis di ruangan itu bisa dirakit menjadi sesuatu yang utuh, atau berserakan karena orang-orangnya tidak bisa saling bicara.

Dan ada satu hal yang membuat semua ini terasa lebih dari sekadar metode. Di Kampoong Guha ada jendela-jendela berbentuk lingkar. Setiap kali kami melihatnya, kami diingatkan bahwa bentuk lingkaran itu bukan sekadar hiasan; ia menyimpan niat. Niat untuk membuat irisan, untuk mempertemukan orang-orang yang tadinya asing menjadi keluarga baru. Ada kenangan-kenangan yang muncul di lingkaran-lingkaran itu, percakapan yang menjadi persahabatan, orang yang datang sebagai tamu lalu tinggal sebagai saudara, yang setiap kali mengingatnya membuat kami terenyuh.

Barangkali itulah yang paling ingin kami jaga dari circle time: bahwa ia membuat pekerjaan kami lebih profesional dan lebih personal pada saat yang sama. Profesional, karena semua suara didengar dan keputusan menjadi lebih matang. Personal, karena di dalam lingkaran itu orang tidak diperlakukan sebagai fungsi, melainkan sebagai manusia. Sebuah meja bisa membuat orang bekerja bersama. Tetapi sebuah lingkaran, kalau dijaga dengan tulus, bisa membuat mereka menjadi keluarga.

(rs,hs,ty,ir)

Kategori
blog tulisan-wacana

Iya, Sebentar

Ada pertanyaan yang sering datang dari arsitek-arsitek muda, biasanya diajukan pelan-pelan seperti orang yang malu bertanya. Kariernya panjang, matangnya lama, bayarannya belakangan, lalu kapan sempat berkeluarga, dan kalau sudah berkeluarga, apa kabar keluarganya nanti. Sebagian lebih jujur lagi, dengan jam kerja seperti ini, jodohnya lewat mana.

Kami tidak punya jawaban yang rapi. Yang saya punya cuma dua kata yang hampir setiap malam keluar dari mulut saya sendiri, iya, sebentar. Dua kata yang terdengar seperti janji, padahal lebih sering penundaan, dan orang yang memanggil kita makan sudah lama tahu bahwa sebentar itu jarang benar-benar sebentar.

Di rumah kami dulu, ketika studio masih menumpang di garasi rumah orang tua, dua kata itu jawaban saya hampir setiap malam. Dari luar ruangan kecil itu terdengar panggilan makan malam, dan jawaban saya hampir selalu sama.

Kami beruntung dengan garasi itu, dan baru belakangan kami paham betapa beruntungnya. Orang tua yang rumahnya kami tumpangi diam-diam mengamati kerja studio yang intensif itu, memperhatikan makan saya, minum saya, kadar lelah saya. Ada yang menjaga, bahkan ketika saya sendiri lupa menjaga diri. Tetapi sebentar itu sering berarti satu jam. Kadang dua. Panggilan kedua datang, kadang ketiga, dan gambar-gambar di meja selalu punya alasan untuk menahan saya lebih lama.

Seorang penulis muda yang pernah bekerja bersama kami dan mengamati keseharian itu menuliskannya di blog saya sendiri, lengkap dengan sebuah pertanyaan yang sampai hari ini masih menggores setiap kali saya membacanya, apakah rumah baginya sekadar ruang untuk transit?

Saya tidak bisa langsung menjawab tidak. Dan di situlah pengakuan ini harus dimulai. Sebagai arsitek, saya jauh dari sempurna. Tetapi yang lebih berat diakui bukan itu. Sebagai ayah, sebagai suami, saya lebih jauh lagi dari sempurna. Profesi ini menyita waktu dengan cara yang tidak selalu terlihat dari luar, bukan hanya jam-jam yang panjang, melainkan kepala yang sering masih tertinggal di proyek bahkan ketika badan sudah duduk di meja makan. Ada banyak waktu yang terbuang, dan waktu yang terbuang tidak pernah kembali.

Lalu kenapa tidak berhenti. Di sinilah saya harus jujur tentang hal yang paling sulit dijelaskan, bagaimana lagi, saya sudah telanjur jatuh cinta.

Bukan pada gambarnya, bukan pada bangunannya. Saya jatuh cinta pada pergulatannya, pada cara profesi ini memaksa saya terus belajar menjadi manusia. Arsitek berdiri di posisi yang aneh, di antara. Di antara klien yang datang dengan kuasa dan kebutuhan, dan para tukang yang bekerja dengan tangan tetapi suaranya jarang didengar orang. Di antara mengajar di depan kelas dan diajari habis-habisan di lapangan. Di antara menulis tentang bangunan dan dibangun ulang oleh pekerjaannya sendiri. Melayani yang kuat sambil belajar dari yang jarang didengar, dan mencari keseimbangan di antara keduanya, setiap hari, tanpa pernah benar-benar selesai. Dan tidak pernah ada rute yang sama. Setiap proyek unik, karena kliennya berbeda, timnya berbeda, tanahnya berbeda. Sudah bertahun-tahun kami memimpin, tetapi di hari pertama setiap proyek, diam-diam kami selalu kembali menjadi murid. Mungkin itu yang membuat kami tidak bisa pergi, pekerjaan ini tidak pernah membiarkan kami merasa sudah tahu.

Ilmu dewa, kata guru kami, dan candaan itu ada harganya. Ilmu yang selebar ini menagih waktu yang panjang sekali. Di Amerika, jalan dari bangku kuliah sampai lisensi arsitek rata-rata memakan hampir 13 tahun, dan usia rata-rata arsitek baru berlisensi adalah 32 tahun. Itu baru izin praktiknya, belum kematangannya. Para empu bidang ini justru memuncak di usia ketika profesi lain sudah pensiun. Mies memulai apartemen Lake Shore Drive di usia 62, Le Corbusier menggambar kapel Ronchamp di usia 63, Louis Kahn menyelesaikan Salk di usia 64, Gehry melahirkan Bilbao di usia 68. Wright menggarap Guggenheim belasan tahun dan bangunannya baru dibuka setengah tahun setelah ia wafat di usia 91. Pei menggambar piramida Louvre di usia 71. Niemeyer bekerja sampai tutup usia di umur 104. Doshi menerima Pritzker di usia 90. Arsitektur adalah profesi yang baru mulai fasih ketika rambut sudah putih, dan tagihan waktunya dibayar dari satu tempat yang sama, rumah.

Maka lihatlah apa yang tertulis di keluarga para empu itu, sebab profesi ini menulis dirinya ke dalam keluarga, kadang sebagai luka, kadang sebagai warisan. Louis Kahn wafat sendirian di toilet stasiun kereta New York, nyaris bangkrut, dan meninggalkan tiga keluarga yang baru saling bertemu di pemakamannya. Putranya, Nathaniel, yang berusia 11 tahun saat ayahnya pergi, menghabiskan bertahun-tahun membuat film untuk mencari ayah yang nyaris tidak dikenalnya, berkeliling dari Salk sampai gedung majelis Bangladesh, bertanya kepada bangunan tentang orang yang tidak sempat ia tanyai langsung. Eero Saarinen meninggalkan rumah ketika putranya, Eric, berusia 11 tahun juga, dan setengah abad kemudian Eric yang menjadi juru kamera memfilmkan karya-karya ayahnya satu per satu, lalu menutup filmnya dengan kalimat yang pelan dan menghancurkan, saya memaafkannya untuk kejeniusannya. Dua film itu dibuat oleh dua anak yang mencari ayahnya di dalam bangunan, karena di rumah ayah itu tidak ada.

Perhatikan kosakata yang dipakai anak itu. Saya memaafkannya. Itu bahasa pengampunan, bahasa agama. Dan memang begitulah profesi ini sering diperlakukan, seperti agama, menuntut pengorbanan, menjanjikan keabadian lewat karya, lalu menyerahkan urusan pengampunan kepada keluarga yang ditinggalkan. Yang lebih mengerikan, kita ikut memujanya. Kisah Kahn diceritakan dengan kagum di sekolah-sekolah arsitektur, seolah keluarga yang berantakan adalah harga yang wajar untuk kejeniusan. Padahal arsitektur itu pekerjaan yang layak dicintai, bukan sesembahan yang layak menerima korban.

Tetapi lukanya bukan takdir, dan itu juga tertulis. Anna Maria Niemeyer, putri satu-satunya Oscar, justru bekerja di sisi ayahnya hampir seumur hidup, menggarap interior gedung-gedung Brasília lalu merancang mebel yang menemani lengkung-lengkung ayahnya, sampai ia berpulang setengah tahun sebelum sang ayah. Dua putra Pei membangun museum Suzhou bersama ayah mereka di kota leluhur keluarganya, dan menceritakan ayah yang memberi kebebasan untuk berhasil maupun gagal. Tobia Scarpa memilih jalannya sendiri di bawah bayang Carlo, menolak disebut arsitek dan menyebut dirinya desainer, tetapi merampungkan vila ayahnya yang belum selesai dan menyimpan pustaka mereka berdua di satu atap. Kenzo Tange, ketika putranya menyatakan ingin jadi arsitek di meja makan, terdiam sejenak lalu berkata, hidup cuma sekali, kerjakan yang sungguh kau cintai.

Dari deretan itu lahir satu dugaan yang lama saya pegang diam-diam, jangan-jangan kuncinya adalah penyatuan, jangan-jangan hidup ini lebih mudah dijalani kalau pasangan kita seprofesi, sama-sama mengerti kenapa lampu studio menyala sampai dini hari. Kami menguji dugaan itu, dan hasilnya tidak seindah dugaannya.

Bukti yang mendukung memang ada dan indah. Aino Marsio-Aalto lulus arsitek pada 1920, masuk ke kantor Alvar Aalto pada awal 1924, dan menikahinya pada Oktober tahun yang sama. Ia bukan asisten. Gelas Bölgeblick rancangannya memenangi medali emas di Milan pada 1936, ia memimpin Artek sebagai direktur pelaksana sejak 1941 sampai wafatnya pada awal 1949, dan interior Villa Mairea serta susunan warna Sanatorium Paimio lahir dari tangannya. Ketika Alvar bepergian, kantor itu berjalan karena ketenangan dan ketepatan waktunya. Di Inggris, Michael dan Patty Hopkins membangun rumah yang sekaligus kantor pada 1976, dengan alasan yang sangat membumi, supaya mengurus anak jadi jauh lebih mudah, dan pada 1994 mereka menerima medali emas kerajaan berdua. Afra dan Tobia Scarpa bekerja hampir sebagai satu orang, dan penghargaan mereka pun datang atas nama berdua.

Tetapi sisi gelapnya jauh lebih rapi menyembunyikan diri. Karya-karya kantor Aalto ditandatangani atas nama kantor, dan yayasan Aalto sendiri mengakui bahwa peran masing-masing perancang di dalamnya sulit dipisahkan. Kolaborasi yang mulus itulah yang justru membuat sumbangan Aino tidak bisa lagi ditelusuri. Alvar sendiri sebenarnya menyebut namanya, di majalah arsitektur Finlandia dan di gambar kerja paviliun New York yang distempel Aino dan Alvar Aalto, arsitek, tetapi pasar dan sejarah menyederhanakannya jadi satu nama. Ray Eames dipuji suaminya sendiri dengan kalimat apa pun yang bisa saya kerjakan, dia bisa mengerjakannya lebih baik, namun pameran pada 1946 tetap berjudul mebel karya Charles Eames. Marion Mahony menggambar perspektif yang memenangkan sayembara ibu kota Australia, dan menulis di memoarnya bahwa ia menjadikan dirinya budak bagi kerja kreatif suaminya. Dan yang paling telak, Robert Venturi menerima Pritzker sendirian pada 1991 meski Denise Scott Brown mitra setaranya. Dua puluh dua tahun kemudian sebuah petisi mahasiswa mengumpulkan lebih dari 17.000 tanda tangan, termasuk dari para peraih Pritzker lain dan dari Venturi sendiri yang menulis bahwa Denise adalah mitra yang setara dan menginspirasinya, dan dewan juri tetap menolak. Kalimat Scott Brown menutup perkara itu dengan anggun, mereka tidak berutang Pritzker kepada saya, mereka berutang upacara penyertaan.

Jadi dugaan itu gugur. Seprofesi tidak menjamin apa-apa. Anne Tyng adalah kolaborator Louis Kahn selama hampir tiga puluh tahun sekaligus ibu dari salah satu anaknya, dan justru ia dan putrinya termasuk keluarga yang disembunyikan. Profesi yang sama bahkan bisa memperparah, sebab ketika dua orang berdiri di ladang yang sama, satu nama gampang sekali menelan nama yang lain. Dan tidak ada satu pun penelitian yang membuktikan bahwa pasangan seprofesi lebih baik menyeimbangkan kerja dan rumah. Yang ada justru catatan panjang tentang siapa yang biasanya mengalah.

Anne Tyng

Lalu kami menoleh ke Timur, dan menemukan cermin yang lain. Wang Shu dan Lu Wenyu mendirikan Amateur Architecture Studio di Hangzhou pada 1997, berdua, sebagai suami istri. Ketika Pritzker 2012 jatuh, ia jatuh ke Wang Shu sendirian, padahal hampir semua karya yang disebut dalam pengumuman itu mereka bangun berdua. Wang Shu tidak menerimanya diam-diam. Di depan publik ia berkata, itu tidak benar, seharusnya hadiah itu diberikan kepada kami, bukan kepada saya. Yang membuat kisah ini berbeda dari kisah-kisah tadi adalah suara Lu Wenyu sendiri. Ia jarang bicara di depan umum, dan ketika akhirnya bicara kepada sebuah koran Spanyol, kalimatnya menutup semua perdebatan, di Cina kamu kehilangan hidupmu kalau menjadi terkenal, saya ingin punya hidup dan saya lebih suka menghabiskannya bersama anak saya. Ia menegaskan suaminya bersedia berbagi hadiah itu, ia sendiri yang tidak menginginkannya.

Kami tidak berani menyebut itu penghapusan. Itu pilihan, dan pilihan itu harus dihormati sebagaimana adanya. Penghapusan yang sesungguhnya punya bentuknya sendiri, dan Timur juga punya, Nobuko Tsuchiura, yang disebut arsitek perempuan pertama Jepang, karyanya nyaris selalu didaftarkan atas nama suaminya, sampai akhirnya ia meninggalkan arsitektur dan berpindah ke fotografi dan lukisan. Bedanya jelas, yang satu memilih menepi, yang satu ditepikan.

Dan ada satu hal lagi dari Hangzhou yang menghantam saya lebih keras daripada soal hadiah. Antara 1990 dan 1997, Wang Shu berhenti berpraktik. Tujuh tahun ia menepi dari sistem profesi, bekerja siang malam bersama tukang-tukang lokal membenahi bangunan tua, belajar tanah, kayu, dan batu dari tangan mereka. Sebagian besar hasil kerja itu kemudian dirobohkan. Katanya kemudian, kalau kamu benar-benar ingin jadi arsitek yang baik, jadilah cendekiawan lebih dulu. Yang jarang disebut orang, tujuh tahun itu bisa dijalani karena gaji Lu Wenyu di kantor perencanaan besar yang menghidupi mereka. Kematangan yang kita puji hari ini dibiayai oleh kesabaran seorang istri yang tetap bekerja. Bahkan penepian pun ternyata kerja berdua.

Nama studionya sendiri, amatir, diambil dari tradisi kaum cendekia Cina, yang melukis dan menulis bukan untuk pasar melainkan untuk hidup yang utuh. Ia pernah menjelaskan pilihannya dengan kalimat yang jujur sekali, profesional berarti sempurna dan sempurna berarti tanpa kesalahan, padahal kita tahu setiap orang membuat kesalahan dan kesalahan itu bisa menjadi hal yang sangat indah. Dan kalimat berikutnya yang paling membuat saya iri, saya ingin menjaga kemerdekaan saya, kalau saya ingin mengerjakan ini saya bisa, kalau saya ingin berhenti saya juga bisa.

Kalau dari Cina saya belajar soal kemerdekaan dan kelambatan, dari rumah sendiri saya belajar soal siapa yang menemani. Pak Eko Prawoto pergi pada September 2023, dan yang tertinggal bukan cuma bambu dan rumah-rumah yang beliau rancang, melainkan cara hidup. Bersama istrinya, Bu Rina, beliau berangkat ke Ngibikan setelah gempa 2006, tinggal dan bekerja bersama warga, membangun kembali kampung itu dengan tangan warganya sendiri. Dan pada 2014 mereka berdua memantapkan hati pindah menjadi warga desa di Kulon Progo, meninggalkan pinggiran kota yang sudah nyaman.

Profil Bu Rina jarang sekali diulas orang, padahal begitu ditelusuri, hampir semua yang kita kagumi dari Pak Eko melewati tangannya. Maket-maket itu beliau yang mengerjakan. Manajemen studio beliau yang menjaga, termasuk menemui klien dan menemui banyak sekali orang yang datang. Dan di Ngibikan, ketika para arsitek sibuk dengan bambu dan sambungan, beliau memasak untuk warga sekampung. Cara berpikirnya akhirnya terdokumentasi di buku yang kami terbitkan di perpustakaan kecil kami, Eko Prawoto, Voice of the Village, dan di sana ada satu kalimat yang menurut saya semestinya dipasang di dinding setiap sekolah arsitektur, arsitek akan selamanya membutuhkan tukang. Kalimat itu diucapkan bukan oleh teoretikus, melainkan oleh orang yang memasak untuk mereka.

Dan ketika akhirnya ditanya tentang dirinya sendiri, jawabannya cuma satu kalimat pendek, saya bangga sama Pak Eko. Di titik itu saya berhenti membaca cukup lama. Sebab jawaban itu bisa dibaca dua arah. Bisa kita baca sebagai bukti bahwa perempuan selalu diminta mengecilkan diri, dan bacaan itu tidak salah. Tetapi bisa juga kita baca sebagaimana Lu Wenyu memilih hidupnya sendiri, sebagai pilihan seseorang yang memang tidak sedang mengejar apa yang kita kira semua orang kejar. Yang jelas satu hal, kita rajin sekali mewawancarai arsiteknya dan lupa bertanya kepada orang yang mengerjakan maketnya, menjaga kantornya, dan menyalakan tungku ketika arsitek itu masih menggambar.

Apakah cinta ini menebus waktu yang hilang. Saya tidak akan berbohong dengan mengatakan ya. Kedua hal itu berdiri berdampingan di dalam hidup saya, tidak saling menghapus, cinta yang sungguh-sungguh pada pekerjaan ini, dan rasa bersalah yang juga sungguh-sungguh pada orang-orang yang panggilannya sering saya jawab dengan sebentar. Saya masih sering kalah, sebentar masih sering menjadi dua jam. Yang berubah baru satu, saya berhenti menyebutnya wajar.

Dan pelan-pelan, rumah mengajari saya berhitung dengan cara yang tidak diajarkan proyek mana pun. Belakangan kami memutuskan di rumah, dan saya memutuskan pada diri sendiri, untuk tidak mengambil terlalu banyak kursi di luar, sebab anak-anak masih bertumbuh, studio dan perpustakaan kecil kami pun masih perlu dipamong, dan pamong tidak bisa dirangkap tanpa ada yang kelaparan. Waktu ternyata seperti anggaran proyek, ia tidak bertambah karena dicintai, ia hanya bisa dialokasikan dengan jujur.

Jadi untuk pertanyaan-pertanyaan di awal tadi, soal karier, keluarga, dan jodoh, saya tetap tidak punya jawaban yang rapi. Profesi ini memang panjang dan lambat matangnya, tetapi ia bisa dicintai tanpa harus disembah, dan keluarganya bisa selamat asal perundingannya dikerjakan setiap hari, bukan sekali seumur hidup. Ini bukan tulisan tentang keseimbangan yang sudah ditemukan. Ini pengakuan dari seseorang yang masih mencarinya, yang setiap malam masih belajar mengubah dua kata lama itu menjadi dua kata yang berbeda, iya, saya datang.

Cerita garasi itu, dan empat belas tahun pergulatan sesudahnya, pernah dirangkai menjadi sebuah film oleh anak-anak muda RAW dan OMAH sendiri. Prosesnya tidak mudah, dan mungkin memang begitu seharusnya, sebab cerita yang dikerjakan banyak tangan selalu lebih jujur daripada yang dituturkan satu suara. Filmnya bisa ditonton di sini, https://youtu.be/joU_ggPLJOQ

(rs,ir,hs)

Image Source:
[1] Dok. OMAH Library – Photograph by Lu’luil Ma’nun
[2] https://lex.dk/Ludwig_Mies_van_der_Rohe
[3] https://en.wikipedia.org/wiki/Le_Corbusier#/media/File:Le_Corbusier_(1964).jpg
[4] https://www.flickr.com/photos/eager/9247734608
[5] https://www.flickr.com/photos/smaku/3031249570
[6] https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Frank_Lloyd_Wright_portrait,_Los_Angeles_Daily_News.jpg
[7] https://www.flickr.com/photos/eager/12629177293
[8] https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Oscar_Niemeyer_1968.jpg
[9] Image Source:
[1] Dok. OMAH Library – Photograph by Lu’luil Ma’nun
[2] https://lex.dk/Ludwig_Mies_van_der_Rohe
[3] https://en.wikipedia.org/wiki/Le_Corbusier#/media/File:Le_Corbusier_(1964).jpg
[4] https://www.flickr.com/photos/eager/9247734608
[5] https://www.flickr.com/photos/smaku/3031249570
[6] https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Frank_Lloyd_Wright_portrait,_Los_Angeles_Daily_News.jpg
[7] https://www.flickr.com/photos/eager/12629177293
[8] https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Oscar_Niemeyer_1968.jpg
[9] https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Balkrishna_Doshi_%283x4_cropped%29.JPG
[10] https://www.yatzer.com/seven-brick-wants-be-something-louis-kahn
[11] https://thenorthelevation.blogspot.com/2013/06/icons-saarinens.html
[12] https://alchetron.com/Anna-Maria-Niemeyer
[13] https://pei-architects.com/yangtze-evening-post-interviews-li-chung-sandi-pei/
[14] https://finnegans.it/ca-scarpa-carlo-e-tobia-a-treviso-testo-di-j-k-mauro-pierconti/
[15] https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Kenzo_Tange_1981.jpg
[16] https://lex.dk/Aino_Aalto
[17] https://massmoderndesign.com/designer/afra-e-tobia-scarpa/
[18] https://www.building.co.uk/news/sir-michael-hopkins-dies-aged-88/5123730.article
[19] https://www.vitra.com/en-me/product/designer/charles-and-ray-eames
[20] https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Walter_Burley_Griffin_and_Marion_Mahony_Griffin.jpg
[21] https://www.usmodernist.org/venturi.htm
[22] https://www.shebuildspodcast.com/episodes/annetyng2
[23] https://archive.pinupmagazine.org/articles/amateur-architecture-wang-shu-and-lu-wenyu
[24] https://www.fujingaho.jp/lifestyle/sumai-kurashi/a64886669/tsuchiura-nobuko-250624/
[25] Eko Prawoto, berizin YEAP
[26] Buku “Eko Prawoto: The Voice of the Village”, dok. OMAH Library
[27] RAW Fist Office, dok. RAW Architecture

Kategori
blog tulisan-wacana

Obat Sekaligus Racun

Beberapa waktu ini saya melihat perbincangan yang ramai di lini masa, jangan unggah foto anakmu ke media sosial. Nadanya serius, kadang menakutkan, dan saya membacanya dengan perasaan aneh, sebab jujur saja, saya tidak pernah berpikir sejauh itu. Bagi saya media sosial selama ini sederhana, sebagian isinya kawan-kawan sendiri, dan saling mengabari hidup itu hal yang biasa, bahkan menyenangkan. Baru-baru ini saya mencari-cari seorang teman lama, ketemunya justru lewat media sosial, dan ternyata ia kini membuka toko bakmi. Kami bisa saling membantu, saya ikut senang usahanya berjalan, ia ikut senang kabar saya baik. Sesederhana itu.

Tetapi perbincangan tadi mengganggu saya cukup lama, dan bukannya membantah, saya malah menduga-duga. Jangan-jangan orang yang paling keras memperingatkan itu pernah terluka, pernah diikuti, pernah datanya disalahgunakan, sehingga yang bagi saya kabar biasa, bagi mereka pintu yang pernah dimasuki orang jahat. Atau jangan-jangan mereka hidup di wilayah yang memang lebih berbahaya, keluarga pejabat publik misalnya, yang setiap potongan informasinya bisa dipakai untuk menekan. Dugaan ini tidak bisa saya buktikan, dan biarlah ia tetap dugaan. Tetapi ia mengajari saya satu hal, kehati-hatian orang lain sering punya riwayat yang tidak kita ketahui, jadi sebaiknya tidak ditertawakan.

Lalu saya teringat cerita lama dari Plato. Di Phaedrus, dewa Theuth datang kepada Raja Thamus membawa penemuan baru, tulisan, dan menyebutnya obat bagi ingatan. Thamus menolak halus, katanya tulisan justru akan membuat manusia pelupa, sebab ingatannya dititipkan ke luar kepala, dan yang didapat bukan kebijaksanaan melainkan penampakannya saja. Kata yang dipakai dalam cerita itu, pharmakon, memang bermakna ganda, obat sekaligus racun. Dan sejak itu setiap penemuan yang menyimpan hidup kita selalu diadili dua kali. Tulisan dulu dicurigai, fotografi dulu dicurigai, sekarang giliran media sosial. Mungkin pertanyaannya memang tidak pernah obat atau racun, melainkan takarannya berapa, dan siapa yang meminumnya.

Maka saya mencoba menimbang keduanya dengan data, bukan dengan perasaan.

Racunnya nyata, dan sebagiannya lebih pahit dari dugaan saya. Regulator keamanan internet Australia pernah memeriksa sebuah situs pedofil dan menemukan sampai separuh materinya bersumber dari foto-foto polos yang diambil dari media sosial dan blog keluarga, foto anak di pantai, foto latihan senam, disimpan rapi dalam folder-folder dengan komentar yang tidak sanggup saya tuliskan di sini. Tahun 2024, Human Rights Watch menemukan foto ratusan anak, 170 dari Brazil dan 190 dari Australia, terserap ke dalam kumpulan data raksasa yang dipakai melatih kecerdasan buatan, sebagian lengkap dengan nama dan lokasi, dan sebagian diunggah dengan pengaturan yang tadinya dianggap privat. Datanya sudah dihapus, tetapi model yang telanjur dilatih tidak bisa lupa. Sebuah bank di Inggris bahkan membuat ramalan, dan saya sebut jujur ini ramalan bukan data, bahwa pada 2030 dua pertiga penipuan identitas terhadap anak muda akan bersumber dari jejak yang diunggah orang tuanya sendiri. Dan ada yang paling ganjil dari semuanya, orang-orang asing yang mengunduh foto anak orang lain lalu mengunggahnya kembali sebagai anak mereka sendiri, lengkap dengan cerita karangan. Dunia menamainya penculikan digital.

Hukum di beberapa negara sudah bergerak. Prancis pada Februari 2024 mengesahkan undang-undang yang menegaskan bahwa kuasa orang tua mencakup kewajiban melindungi citra anak, dan hakim boleh melarang orang tua mengunggah tanpa persetujuan pasangannya. Beberapa negara bagian Amerika mewajibkan penghasilan anak yang dijadikan konten disisihkan ke rekening perwalian, dan anak itu kelak boleh menggugat orang tuanya. Di rumah sendiri, KPAI berkali-kali mengingatkan soal ini, orang tua adalah benteng pertama perlindungan anak di ruang digital, dan unggahan yang memuat nama sekolah atau titik jemputan bisa menjadi peta bagi orang yang berniat buruk.

Tetapi obatnya juga nyata, dan saya tidak mau pura-pura tidak melihatnya. Ketika serangan truk mengguncang Nice pada 2016, seorang bayi 8 bulan terpisah dari keluarganya di tengah kekacauan, dan ia kembali ke pelukan orang tuanya karena foto yang disebarkan lewat Facebook. Sistem siaran anak hilang di Amerika mencatat lebih dari 1.300 anak pulang karena peringatan yang disebarluaskan, sebagian besar lewat gawai dan media sosial. Riset Pew mencatat 79% orang tua pengguna media sosial mendapat informasi yang berguna dari jejaringnya, dan ibu-ibu hampir dua kali lebih sering mendapat dukungan daripada ayah. Bahkan pertemuan saya dengan kawan bakmi tadi ada teorinya, sosiolog Granovetter menyebutnya kekuatan ikatan lemah, justru kenalan jauh, bukan keluarga dekat, yang paling sering membawa kabar, peluang, dan pertolongan yang tidak kita duga, sebab mereka hidup di lingkaran yang berbeda dari lingkaran kita.

Dan sebenarnya tidak perlu riset jauh-jauh, kebaikannya kita alami hampir setiap hari. Lewat lini masa jugalah berita duka sampai kepada kawan-kawan lama, sehingga yang jauh bisa ikut bertakziah, mendoakan, dan menjaga nama baik yang berpulang, dan ikatan semacam itu menurut saya adalah bentuk cinta yang sederhana. Lewat lini masa juga kabar sakit menemukan pendoanya, kabar ulang tahun menemukan pengucapnya, kabar kelahiran menemukan penyambutnya. Ada yang menyebut semua itu basa-basi. Saya tidak setuju, sebab bagi yang sedang berduka atau terbaring, mengetahui dirinya diingat banyak orang adalah obat yang sungguh-sungguh bekerja, dan bagi yang mengabarkan, doa-doa yang berdatangan itu sering menjadi tenaga yang tidak bisa dibeli.

Jadi di mana saya berdiri sekarang. Masih di tempat yang sama, tetapi dengan pagar yang baru.

Saya tetap percaya saling mengabari itu bagian dari persahabatan, bahkan bagian dari hidup yang baik. Yang berubah adalah satu kesadaran, cerita hidup saya milik saya, tetapi cerita hidup anak saya bukan milik saya, ia titipan yang kelak akan diminta kembali oleh pemiliknya. Konvensi hak anak menyebutnya dengan kalimat yang dingin tapi benar, kuasa orang tua tidak menimpa hak anak. Peneliti hukum yang paling banyak menulis soal ini, Stacey Steinberg, justru bukan orang yang anti berbagi, ia mengaku memulai risetnya karena ia sendiri suka berbagi. Sarannya sederhana dan bisa dikerjakan siapa saja, beri anak hak veto begitu ia cukup besar untuk bicara, jangan pernah mengunggah anak dalam keadaan tidak berpakaian, jangan tampakkan sekolah dan lokasinya, dan sebelum menekan tombol, bayangkan anak kita yang sudah dewasa membaca unggahan itu di hadapan kawan-kawannya.

Dan ada satu garis yang membalik seluruh hitungan. Anggapan saya bahwa media sosial itu ruang kawan-kawan hanya benar selama ruangnya memang kawan-kawan, akun yang privat, pengikut yang benar-benar dikenal, tanpa nama sekolah, tanpa titik lokasi. Begitu salah satunya pecah, akun jadi publik, pengikut jadi orang asing, maka yang saya kira ruang tamu ternyata jalan raya, dan tidak ada orang tua yang menjemur foto anaknya di jalan raya.

Dan di sinilah saya harus berhenti menunjuk keluar. Akun saya sendiri publik, dan foto keluarga saya ada di sana, diunggah dengan niat yang saya ceritakan di awal, saling mengabari, saling mengapresiasi. Niat itu tidak salah, yang tidak saya sadari cuma satu, ruangan saya sudah lama berganti tanpa terasa pindah, sebab pindahnya sedikit demi sedikit, dari puluhan kawan menjadi ribuan orang yang tidak saya kenal. Jadi tulisan ini bukan nasihat untuk orang lain. Ini teguran yang saya tulis untuk diri saya sendiri, dan pagarnya baru mulai saya pasang sekarang, memeriksa unggahan lama satu per satu, memindahkan keseharian anak-anak ke lingkar yang lebih kecil.

Sekarang, sebelum mengunggah, kadang saya bertanya dulu kepada anak-anak, boleh tidak yang ini. Kadang jawabannya boleh, kadang jangan, dan setiap jangan itu justru menenangkan saya, sebab artinya mereka sedang belajar bahwa tubuh dan ceritanya ada yang punya, yaitu dirinya sendiri. Obat dan racun rupanya diracik di tempat yang sama. Yang membedakan cuma takaran, dan tangan yang menakarnya.

(rs, ty, hs, ir)

Image Source:
[1] https://commons.wikimedia.org/wiki/File:%CE%98%CE%95%CE%91_%CE%91%CE%98%CE%97%CE%9D%CE%91_%CE%9A%CE%91%CE%99_%CE%A0%CE%A5%CE%98%CE%91%CE%93%CE%9F%CE%A1%CE%91%CE%A3_%CE%91%CE%9A%CE%91%CE%94%CE%97%CE%9C%CE%99%CE%91_%CE%91%CE%98%CE%9D%CE%A9%CE%9D.jpg

Kategori
Team - Studio Culture

Studio yang Tidak Menetap

Studio kami beberapa kali berpindah tempat. Bukan karena terpaksa semata, melainkan karena kami memang tidak ingin terlalu terikat pada satu ruang. Setiap kali pindah, kami mulai lagi dari awal: menata ulang, membaca ulang bagaimana orang duduk, bekerja, dan berbicara di ruang yang baru. Perpindahan itu melelahkan, tetapi kami memilihnya, karena kami percaya sebuah studio tidak seharusnya membeku dalam satu bentuk ruang.

Kami berpindah karena mengamati. Tim ini tidak pernah berukuran tetap; ia mengembang saat proyek banyak, mengecil saat sepi, dan berubah komposisinya seiring orang datang dan pergi. Ruang yang cocok untuk sepuluh orang belum tentu cocok untuk dua puluh, dan ruang yang pas hari ini bisa terasa salah setahun kemudian. Maka pindah, bagi kami, adalah cara ruang mengikuti orang, bukan orang yang dipaksa tunduk pada ruang.

Kalau dipikir-pikir, ini seperti anak sekolah dasar yang tempat duduknya dipindah-pindah. Ada gunanya ia kadang duduk di depan, kadang di belakang, kadang di samping teman yang berbeda. Dengan berpindah, ia belajar bersosialisasi dengan banyak orang, belajar memposisikan diri, dan merasakan bagaimana dunia terlihat dari baris paling depan sekaligus dari baris paling belakang. Ia tidak terkurung dalam satu sudut pandang. Studio yang berpindah bekerja dengan cara yang sama: ia menolak satu sudut pandang tetap.

Karena itu, yang paling dilatih oleh perpindahan sebenarnya bukan ruangnya, melainkan kesiapan mental orang-orangnya. Bekerja sama dengan banyak orang, dalam susunan yang terus berubah, adalah pelajaran tentang relasi sosial sebelum ia menjadi pelajaran tentang desain. Orang belajar menyesuaikan diri, membaca situasi baru, dan menemukan tempatnya berulang kali. Kelenturan itu tidak tumbuh pada orang yang terlalu lama nyaman di satu kursi.

Glenn Murcutt, arsitek Australia itu, memberi kami contoh tentang bagaimana pribadi berkembang lewat adaptasi. Ia bekerja sendiri, sangat selektif, dan sepanjang kariernya merancang dari rumah-rumah kecil sampai akhirnya sebuah masjid di pinggiran Melbourne. Rentang yang jauh itu tidak ia lompati dengan tetap menjadi orang yang sama; ia menempuhnya dengan terus menyesuaikan diri, membiarkan dirinya berubah oleh setiap skala dan setiap persoalan baru. Kematangan seorang perancang, tampaknya, tidak datang dari menetap, melainkan dari kesediaan berpindah, termasuk berpindah cara berpikir.

Guru yang lebih dekat bagi kami adalah almarhum Eko Prawoto. Di rumahnya di Kulonprogo, dan di karya-karya seperti Rumah Kedondong, ia bekerja dengan cara yang membuat kami, orang kota, harus belajar ulang. Ia memakai struktur rumah Jawa, limasan, sebagai kerangka yang sederhana dan mudah dipahami tukang, lalu membiarkan program ruang tumbuh organik di bawah naungannya. Ruangnya tidak baku. Sebuah limasan bisa menjadi ruang tamu, ruang pertemuan, tempat kuliah, bahkan tempat tidur, tergantung kebutuhan hari itu. Ruang yang “ngowong”, yang dibiarkan longgar, justru bisa menampung apa saja.

Bagi kami yang terbiasa dengan cara kota, ini menampar dengan lembut. Kami terbiasa dengan pola pikir yang serba pasti: satu ruang untuk satu fungsi, semuanya ditentukan sejak awal dan dikunci. Desa mengajarkan yang sebaliknya. Sebuah ruang tidak harus tahu akan menjadi apa; ia cukup disiapkan cukup baik, lalu dibiarkan hidup menemukan gunanya. Fleksibilitas itu bukan kekurangan perencanaan; ia bentuk kearifan yang lain, yang tidak takut pada ketidakpastian.

Dan ada cara lain lagi yang kami pelajari, yang juga jauh dari kebiasaan kota: membangun dari yang sudah jadi. Eko Prawoto mengumpulkan struktur kayu bekas dari berbagai daerah, rumah Jawa Timuran, lumbung dari Bawean, dan memadukannya menjadi sesuatu yang baru. Ini dunia lawasan, dunia jual beli bangunan lama, tempat yang diperdagangkan bukan sekadar material mentah, melainkan bangunan yang sudah pernah hidup, lengkap dengan sejarahnya. Ada tradisi tawar-menawar di dalamnya, ada penghormatan pada apa yang sudah ada. Merakit dari yang sudah jadi menuntut kerendahan hati yang berbeda dari membangun serba baru: ia menuntut kita mendengarkan apa yang bisa dan tidak bisa diminta dari sebuah benda tua.

Semua ini, pada akhirnya, adalah satu pelajaran yang sama: jangan terlalu menetap. Jangan terikat pada satu ruang, satu susunan, satu fungsi, satu cara. Studio yang berpindah, tim yang berubah ukuran, ruang yang dibiarkan longgar, bangunan lama yang dirakit ulang, semuanya mengajarkan hal yang serupa, bahwa hidup yang sehat, seperti ruang yang sehat, adalah yang siap menerima perubahan tanpa kehilangan dirinya. Kami masih terus belajar itu, kepindahan demi kepindahan.

Kategori
Arsitek dan Arsitektur dalam Ruang dan Waktu? blog struggles tulisan-wacana

Sekolah Sebelum Sekolah

Orang kadang bertanya di mana saya belajar arsitektur, dan jawaban yang jujur bukanlah nama sebuah kampus. Sekolah pertama saya tidak punya papan nama, tidak punya rapor, dan tidak pernah menyebut dirinya sekolah. Ia sebuah rumah, rumah keluarga pembangun.

Di rumah itu, pembangunan bukan pelajaran. Ia udara. Kakek saya seorang pembangun yang diajar langsung oleh pengalaman. Rumah kami terbiasa bangun sebelum subuh, karena selalu ada yang berangkat ke lokasi memeriksa pekerjaan, Senin sampai Senin. Liburan sering diisi acara bersama para pengrajin dan pengawas, sampai-sampai hidup mereka menjadi hidup kami. Dan meja makan kami punya menu tetap yang tidak pernah tertulis, cerita proyek, dibicarakan seperti kabar keluarga.

Di rumah selalu ada alat ketukangan. Garasi penuh bau gemuk dan oli, baju tukang, baut dan mur, tumpukan tripleks dan gipsum. Selalu ada banyak orang berseliweran di rumah yang dulu di Tanah Abang itu, rumah yang merangkap studio. Saya tidak sedang diajari apa-apa waktu itu. Saya sedang dibiasakan.

Bertahun-tahun kemudian saya menamai cara belajar itu, belajar telanjang kaki. Tanah dulu, buku kemudian. Tubuh dulu, teori menyusul. Pengetahuan pertama saya tentang bangunan bukan definisi, melainkan suara, bau, dan orang-orang yang mengerjakannya. Ketika akhirnya saya duduk di bangku kuliah arsitektur, saya seperti diberi nama-nama untuk hal-hal yang sudah lama saya kenal tanpa nama.

Ada tiga pelajaran yang saya bawa dari rumah itu, dan ketiganya tidak pernah diucapkan sebagai pelajaran.

Yang pertama, duduk setara. Gambar dan efisiensi kerja boleh diperdebatkan sengit, tetapi ada satu aturan yang tidak pernah dilanggar, jangan menunjuk dengan kaki. Aturan sekecil itu ternyata menyimpan seluruh etika profesi ini. Orang yang menunjuk dengan kaki sedang mengumumkan bahwa lawan bicaranya lebih rendah, dan begitu itu terjadi, tidak ada lagi yang mau memberitahumu ketika gambarmu salah.

Yang kedua, tim perlu makan, jadi carilah pekerjaan. Kalimat ini kasar dan tidak romantis, tetapi ia menyelamatkan banyak studio. Idealisme tanpa pekerjaan hanya bertahan sampai tanggal gajian.

Yang ketiga, relasi nomor satu, datang dan bekerjalah pagi-pagi, dan tetaplah personal. Ibu saya penyokong utama ayah saya, dan itu bukan kalimat manis, itu keterangan struktural. Tanpa beliau, jadwal, dapur, dan kewarasan rumah itu tidak akan sanggup menopang pekerjaan seberat itu.

Tetapi pelajaran yang paling menohok baru saya pahami jauh belakangan, dan ia berupa angka.

Tukang harus mengirim uang ke kampung setiap minggu. Cakrawala waktunya tujuh hari, tidak bisa ditawar, sebab di ujung sana ada anak sekolah dan dapur yang mengepul atau tidak mengepul minggu ini juga. Kepala mandor punya cakrawala yang lebih panjang, ia harus melihat beberapa bulan ke depan, mengatur regu, memperkirakan cuaca dan bahan. Sementara arsitek dibayar per termin, kadang per proyek, dan uangnya cair berbulan-bulan setelah pekerjaan dimulai.

Perhatikan apa artinya. Kita berdiri di satu proyek yang sama, tetapi hidup di dalam kalender yang berbeda. Yang satu berhitung mingguan, yang satu berhitung bulanan, yang satu berhitung tahunan. Dan justru orang yang paling pendek cakrawalanya, yang paling tidak punya bantalan, adalah orang yang tangan dan kakinya paling banyak menanggung risiko di lapangan.

Kalau boleh disebut langit dan bumi, maka arsitek memang bekerja di langit. Gambar, gagasan, dan jangka panjang. Sementara tukang bekerja di bumi, dengan hitungan minggu ini dan besok pagi. Kesalahan terbesar profesi kita adalah mengira langit lebih tinggi derajatnya. Padahal langit hanya bisa dibangun kalau ada yang berdiri di bumi, dan orang yang berdiri di bumi itu tidak punya kemewahan menunggu.

Tumbuh di rumah pembangun membuat saya belajar jam bumi lebih dulu, sebelum saya sempat belajar jam langit. Dan mungkin karena itu saya tidak pernah bisa membayangkan diri sebagai arsitek bintang. Bukan karena rendah hati, melainkan karena saya tahu betul siapa yang menanggung kalau gambar saya keliru.

Rupanya rumah seperti ini bukan hal aneh dalam sejarah profesi.

Renzo Piano lahir di keluarga pembangun Genoa. Ayahnya, kakeknya, paman-pamannya, dan kakaknya semua pembangun. Ia bercerita tentang masa kecil di lokasi proyek sesudah perang, hari ini hanya ada pasir, bata, dan batu, besok paginya sudah ada sesuatu yang berdiri, dan itu terasa seperti keajaiban. Ketika ia memilih jadi arsitek, ayahnya justru bingung, kenapa mau jadi arsitek, kamu bisa jadi pembangun, sebab bagi ayahnya pembangun itu seperti dewa kecil, orang yang mengerjakan sesuatu, bukan cuma menggambarnya. Piano tidak pernah membantah itu sepenuhnya, dan ketika mendirikan kantornya sendiri, ia menamainya bengkel, Building Workshop, dari kata Italia bottega, tempat orang belajar sambil mengerjakan.

Mies van der Rohe tidak pernah kuliah arsitektur. Ia anak tukang batu di Aachen, membantu di bengkel pahat batu ayahnya, lalu belajar dari lapangan. Peter Zumthor menempuh magang sebagai tukang kayu di bawah ayahnya yang seorang ahli mebel, sebelum akhirnya masuk sekolah arsitektur. Tadao Ando tidak pernah punya gelar arsitektur, ia besar di kampung tukang di Osaka dan menghabiskan masa kecil mengamati bengkel kayu di seberang rumah, dari situ katanya ia mengerti keseimbangan antara bentuk dan bahan yang membentuknya. Glenn Murcutt tumbuh di rumah berpanggung beratap seng di Papua Nugini, bangunan yang ia sebut arsitektur seadanya, dibuat ayahnya sendiri.

Yang paling mirip dengan kisah kami barangkali Tsunekazu Nishioka. Ia tukang kayu kuil Horyu-ji di Jepang, dan yang membuatnya khas, kakeknya dan ayahnya sama-sama kepala tukang di kuil yang sama. Tiga generasi menjaga bangunan kayu tertua di dunia. Ia pernah berkata, karena lahir di keluarga tukang, saya sudah mewarisi pengetahuan itu, tetapi baru ketika saya membongkar bangunannya satu per satu saya menemukan bahwa seluruh Horyu-ji memang dibangun dengan cara itu, dan saya sangat terharu.

Dan setiap kebudayaan ternyata punya nama sendiri untuk rumah semacam itu. Italia menyebutnya bottega, bengkel tempat anak umur belasan tahun masuk lebih dulu menggiling pigmen dan menyapu sebelum boleh menggambar, di bengkel semacam itulah Leonardo dan Michelangelo dibentuk. Cina tidak punya profesi arsitek sampai zaman modern, yang merancang adalah kepala tukang kayu, damuzuo, dan buku pedoman bangunan negara yang terbit pada 1103 itu ditulis setelah penyusunnya mewawancarai para tukang satu per satu. India punya sthapati, kepala pembangun kuil, ilmunya diwariskan turun-temurun dalam keluarga. Jerman sampai hari ini masih punya tradisi merantau tukang muda selama tiga tahun satu hari, berjalan dari kota ke kota, dilarang mendekati kampung halamannya. Dan di zaman kita, Studio Mumbai bekerja di satu pekarangan bersama puluhan tukang, tanpa pemisahan antara arsitek dan pengrajin, semua membuat purwarupa seukuran aslinya sebelum apa pun dibangun.

Tidak satu pun dari cara-cara itu melahirkan bintang. Yang dilahirkannya kemampuan, dan kemampuan itu selalu milik bersama.

Di sini pun kita punya silsilahnya sendiri. Romo Mangunwijaya belajar teknik di Aachen, lalu pulang dan bekerja bersama warga bantaran Kali Code, dan menulis bahwa arsitektur adalah penciptaan suasana, perkawinan guna dan citra, dan bahwa harganya justru tidak terletak pada kemewahan bahan atau tinggi teknologinya. Bahan yang sederhana, tulisnya, malah lebih mampu memantulkan keindahan puisinya, karena lebih bersih dari godaan dan kepongahan.

Pembentukan juga punya selera humornya sendiri. Di bangku SD dulu ada seorang anak yang membuat saya kesal setengah mati. Puluhan tahun kemudian, justru dialah orang yang diam-diam menyangga seluruh perjalanan karier saya. Masa kecil rupanya menanam orang-orang yang perannya baru bisa dibaca puluhan tahun kemudian, dan kadang yang paling menjengkelkan di halaman sekolah adalah yang paling setia di jalan panjang.

Dan pembentukan tidak berhenti ketika masa kecil selesai, ia hanya berganti guru. Ada seorang guru dari kota yang jauh, yang jarang sekali saya temui, tetapi tidak pernah mengubah caranya memandang saya bahkan di masa-masa saya merasa bukan siapa-siapa. Kasih sayangnya tidak berbentuk pujian melainkan kritik yang membangun, dan beliau menyebut dirinya sendiri kompor. Maju terus, katanya, saya akan selalu kompori. Dari beliau saya belajar bahwa keyakinan orang lain pada diri kita juga bahan bangunan. Lalu di usia dua puluhan, sebuah kisah sederhana tentang toples mayones mengajari saya urutan prioritas hidup, dan kisah itu saya pegang sampai menjadi nama rumah tulisan saya sendiri.

Menoleh ke belakang, saya jadi mengerti satu hal, pembentukan bukanlah kurikulum. Ia lingkungan, orang, dan waktu. Kita dibentuk paling dalam justru pada masa-masa kita tidak sadar sedang dibentuk. Dan konsekuensi dari kesadaran ini menakutkan sekaligus indah. Apa pun yang kita letakkan di sekitar anak-anak, suara apa yang mereka dengar, meja seperti apa tempat mereka makan, orang-orang seperti apa yang lalu-lalang di hidup mereka, semuanya kurikulum yang tidak pernah kita umumkan. Di atas meja makan, di dalam perjumpaan, di gelaran tikar.

Barangkali itu sebabnya rumah kami hari ini sengaja dibuat ramai. Ada anak-anak magang, ada buku-buku, ada para tukang, ada hewan-hewan, ada anak-anak tetangga yang datang membaca. Kami tidak sedang menyusun kurikulum untuk siapa pun. Kami sedang menyusun lingkungan, sekolah sebelum sekolah, untuk orang-orang yang sedang tidak sadar bahwa mereka sedang dibentuk.

Di Boboto, ayah saya akhirnya bisa tersenyum dan mengacungkan jempol, dan di sebelahnya berdiri orang-orang yang sudah lama sekali bekerja bersama kami. Di situ semuanya berkumpul jadi satu, dan yang kami pelajari akhirnya bukan soal bangunan, melainkan soal menjaga jiwa orang lain. Harapan mereka, mimpi mereka, dan hidup yang mereka tanggung setiap minggu. Seperti bata-bata kampung yang murah itu, ringan, dirajut satu per satu, membungkus kayu yang sudah ada dan membekukan dirinya menjadi komposisi yang lain.

Saya sendiri tidak ingat pelajaran pertama saya tentang arsitektur. Mungkin justru itu tandanya ia berhasil. Pembentukan yang paling dalam memang tidak pernah terasa seperti pelajaran. Ia terasa seperti masa kecil.

Kategori
Team - Studio Culture

Berpindah Dunia di Satu Studio

Tim-tim di studio kami punya nama yang terdengar seperti mata kuliah filsafat: Sophia, Episteme, Phronesis, Techne, Analytic, Strategic, dan masih ada beberapa lagi. Orang sering tersenyum ketika pertama kali mendengarnya. Tetapi di balik nama-nama yang terdengar berat itu, yang sebenarnya kami bangun sederhana sekali: dunia-dunia kecil, masing-masing dengan bahasanya sendiri.

Ada dunia yang hidup di meja gambar, menyusun metode dan tata bahasa desain. Ada dunia yang hidup di antara buku, meneliti dan menuliskan apa yang orang lain belum sempat pikirkan. Ada dunia pengetahuan praktis, dunia para tukang, tempat sebuah gagasan diuji oleh tangan dan material sungguhan. Ada dunia yang menimbang arah dan strategi, dan ada dunia angka serta arsip yang diam-diam menjaga semua dunia lain tetap berdiri.

Dan inilah bagian yang paling kami jaga: di studio ini, orang tidak dipaku pada satu dunia. Mereka berpindah-pindah. Yang biasa menggambar sesekali menemani tukang di lapangan. Yang biasa meneliti ikut duduk di rapat proyek. Anak magang bisa merasakan beberapa dunia sekaligus dalam satu masa magangnya, mencicipi bahasa yang berbeda-beda sebelum menemukan bahasa yang paling terasa seperti miliknya.

Kenapa kami melakukannya? Karena kami percaya kreativitas jarang lahir di tengah-tengah satu dunia. Ia hampir selalu lahir di perbatasan. Orang yang pernah tinggal di dunia tukang akan menggambar dengan cara yang berbeda. Orang yang pernah tenggelam di dunia buku akan membangun dengan pertanyaan yang lebih dalam. Setiap perpindahan membuka saluran baru, dan semakin banyak saluran yang terbuka, semakin deras gagasan bisa mengalir dari satu dunia ke dunia lain. Studio ini hidup justru dari lalu lintas itu.

Berpindah-pindah bukan berarti tidak ada tempat untuk masing-masing orang. Justru sebaliknya: dengan mencoba banyak dunia, seseorang menemukan porsinya sendiri, tempat ia paling bisa memberi. Dan setelah menemukannya pun, pintu ke dunia-dunia lain tidak pernah kami tutup, supaya porsi itu tetap hidup dan tidak berubah menjadi tempurung.

Nama-nama Yunani itu boleh terdengar rumit. Tetapi yang kami rawat di baliknya sederhana: dinding antar tim sengaja kami buat rendah, supaya mudah dilompati. Karena studio yang sehat bukanlah kumpulan kotak yang rapi, melainkan rumah dengan banyak pintu yang saling terbuka, dan orang-orang yang tidak pernah berhenti saling mengunjungi.

Kategori
blog tulisan-wacana

Jangan Lupa Tidur

Profesi saya “arsitek” sering disebut profesi paling kurang tidur di dunia. Kami diam-diam bangga pada sebutan itu. Baru belakangan saya tahu, klaim itu berasal dari survei sebuah perusahaan kasur.🤮

Kelelahan tidak pernah datang sendirian. Ia selalu membawa serta penilaian yang tumpul, dan penilaian yang tumpul adalah tempat celaka bermula. Ini bukan nasihat kesehatan, ini soal cara kerja, sebab hampir semua keputusan buruk yang pernah saya ambil lahir di ujung hari-hari yang terlalu panjang.

Saya belajar ini dengan harga yang mahal!!!
Tahun pertama kuliah saya mengambil semuanya sekaligus, kuliah, bulu tangkis, tenis meja, aikido, tenis, himpunan, seolah waktu tak punya batas dan tubuh tak punya dasar. Sampai suatu hari tubuh saya menagih semuanya sekaligus.

Saya jatuh sakit, hati saya meradang, angka-angka di hasil laboratorium melonjak jauh melewati batas, dan saya menghabiskan berminggu-minggu di rumah sakit, sebagian di antaranya tak sadarkan diri. 😳

Dan itu bukan satu-satunya kali. Ada malam lain, sepulang kegiatan yang menguras tenaga, ketika kantuk menumpulkan kewaspadaan saya di jalan, dan saya nyaris tidak pulang.

Ayah saya, seorang pembangun, sudah memperingatkan jauh sebelum itu. Kata-katanya kurang lebih begini, “Kembali ke dasar. Lihat apa yang sudah kamu kerjakan, dan apa yang ada di sekitarmu. Keluargamu, temanmu, klienmu. Jaga kesehatanmu, mental dan fisik. Dan jangan lupa tidur, arsitek suka lembur.”🥹

Waktu itu saya mengangguk sebagaimana anak mengangguk pada nasihat orang tua, menghormatinya, lalu menaruhnya di laci. Nasihat itu terasa terlalu sederhana untuk dunia yang sedang saya kejar.

Profesi kami memang membesarkan kami untuk menaruhnya di laci. Arsitek dikenal sebagai manusia yang tangguh, tahan lembur, dan fokus, hampir seperti dokter dalam intensitasnya, hanya saja yang kami rawat bukan pasien melainkan seni dan bangunan.🫶

Sebutan paling-kurang-tidur itu kami pelihara sebagai tanda jasa, dan bertahun-tahun kami tidak pernah repot memeriksa sumbernya. Ketika akhirnya saya periksa, jawabannya membuat saya tersenyum kecut. Bukan lembaga riset tidur, bukan jurnal kedokteran, dan di daftar buatan penjual kasur itu pun arsitek ternyata tidak berada di puncak.

Sementara itu dokter residen, menurut tinjauan atas 30 studi, tidur dengan median 6,2 jam per malam dan pada malam jaga angkanya runtuh menjadi sekitar 2 jam semalam. Dua jam, lalu kembali memegang nyawa orang.

Klaim yang kami pakai sebagai bukti ketangguhan ternyata iklan yang salah alamat, dan kami menerimanya dengan senang hati karena ia mengelus ego kami.

Butuh waktu lama bagi saya untuk melihat bahwa kekuatan yang kami banggakan itu justru titik lemah kami, sebab orang yang bangga pada daya tahannya adalah orang yang paling lambat menyadari batasnya. Fokus yang sama yang membuat kami sanggup menatap satu detail berjam-jam adalah fokus yang membuat kami lupa menatap diri sendiri.

Yang tidak pernah masuk laci justru pemandangan di rumah sakit.

Ayah saya tidur di lantai kamar beralas matras tipis, malam demi malam, supaya bisa berada di dekat saya. Saya melihat kekhawatiran di wajahnya yang jarang menunjukkan apa-apa, dan dalam keadaan paling lemah itu saya justru merasakan sesuatu yang paling kuat, betapa ia menyayangi saya. Sejak itu saya mengerti, ketika ia berkata jangan lupa tidur, ia tidak sedang menceramahi, ia sedang menjaga.

Bertahun-tahun kemudian saya mulai mempelajari hal yang dulu hanya saya angguki, dan pelajaran pertamanya justru mengoreksi keyakinan saya sendiri. Dulu saya kira, kalau saya bangun dan bisa mengingat mimpi, berarti tidur saya dalam. Ternyata hampir sebaliknya. Tidur bergerak dalam siklus sekitar 90 menit, melewati tidur ringan, tidur dalam, lalu fase mimpi. Tidur dalam, yang paling memulihkan tubuh, umumnya datang di paruh awal malam, dan di fase itu kita nyaris tidak bermimpi.

Mimpi yang teringat menandakan kita terbangun dekat fase mimpi, bukan bukti kita sudah lelap.

Ilmu tidur juga cukup tegas soal takaran, orang dewasa butuh 7 sampai 9 jam, dan utang tidur tidak bisa dihapus di akhir pekan, 1 jam yang hilang butuh berhari-hari untuk benar-benar pulih.

Maka pelan-pelan saya berhenti memperlakukan tidur sebagai sisa hari dan mulai memperlakukannya seperti anggaran, direncanakan, bukan disisakan.

👆Hari yang padat saya antisipasi dengan tidur-tidur pendek di sela hari, cukup belasan menit supaya bangunnya ringan, sebab tidur siang yang terlalu panjang justru membuat sisa hari lebih berat. Dan satu hal yang terdengar terbalik tapi benar setelah dijalani, tidur lelap yang tidak panjang menyisakan lebih banyak daripada berbaring berjam-jam dengan kepala yang masih sibuk. ✌️Berbaring lama sambil cemas bukan istirahat, ia lembur dengan lampu mati.

🤘Tetapi keliru soal mimpi bukan berarti mimpi tidak berguna. Justru sebaliknya. Pada fase mimpi, noradrenalin, salah satu molekul stres, turun ke titik terendahnya sepanjang hari, sementara bagian otak yang mengurus emosi tetap menyala.

👋Sebagian peneliti menyebutnya terapi semalam, sebuah teori yang kuat meski belum tuntas, bahwa di fase itulah pengalaman yang menyakitkan diputar ulang dan dicerna dalam suasana kimia yang lebih tenang, sehingga esok hari kita bisa mengingat peristiwanya tanpa nyeri yang sama.

Ada juga yang lebih dekat ke pekerjaan kita. Sebuah percobaan yang terbit di Nature menemukan orang yang tidur menemukan aturan tersembunyi sebuah persoalan pada 60 persen kasus, sementara yang terjaga hanya 22 persen.

Percobaan lain, yang meniru kebiasaan tidur singkat Thomas Edison dan Salvador Dali, menemukan orang yang sempat menyentuh ambang tidur, zona senja antara sadar dan lelap, tiga kali lebih mungkin menemukan jawaban. Tetapi ada syarat yang tidak boleh dihilangkan, dan ini bagian yang paling jujur dari semua temuan itu. Efeknya hanya muncul pada orang yang sudah bekerja keras lebih dulu. Tidur tidak memberi jawaban dari kekosongan.

Ia menata ulang apa yang sudah kita kerjakan susah payah dalam keadaan sadar.

Yang membuat saya lama termenung, nenek moyang kita sudah lebih dulu tahu bagian terakhir itu, meski dengan bahasa yang sama sekali berbeda. Dalam tradisi Jawa, mimpi tidak dianggap acak. Primbon membedakan mimpi yang sekadar sisa pikiran sehari-hari dari mimpi yang dianggap membawa pesan, dan yang paling dihormati adalah wangsit, petunjuk yang diyakini datang kepada orang yang menjalani laku.

Dan perhatikan syaratnya, sebab di sini letak persamaannya. Wangsit tidak dijemput dengan tidur lebih lama. Ia diyakini datang setelah tirakat, setelah puasa, setelah berjaga dan menahan diri, artinya setelah kerja keras yang panjang. Sama seperti temuan laboratorium tadi, petunjuk datang kepada orang yang sudah lebih dulu bersusah payah. Di tempat lain manusia melakukan hal serupa.

Di kuil penyembuhan Yunani kuno, orang sakit dibersihkan, berpuasa, lalu tidur di ruang khusus dengan harapan menerima petunjuk pengobatan lewat mimpi. Di Eropa sebelum lampu listrik, orang tidur dalam dua babak, dan pada jeda terjaga di tengah malam mereka berdoa, merenung, dan menimbang mimpi yang baru saja mereka alami.

Saya sempat ingin menyimpulkan bahwa manusia dulu lebih dekat dengan tidurnya. Ternyata tidak juga.

Ketika peneliti mengukur langsung tiga masyarakat yang masih hidup tanpa listrik, di Tanzania, Namibia, dan Bolivia, durasi tidur mereka ternyata hanya 5,7 sampai 7,1 jam, tidak lebih panjang dari kita. Jadi yang berbeda bukan lamanya tidur, melainkan perhatiannya. Mereka memberi tempat bagi mimpi, membicarakannya, menimbangnya, menjadikannya bahan pertimbangan.

Kita bangun dan langsung meraih telepon.

Lalu kalau bukan profesi, siapa sebenarnya pencuri tidur itu.🐥

Sebuah analisis atas catatan waktu lebih dari 124 ribu orang menemukan jawabannya dengan telak, pencuri tidur terbesar adalah jam kerja, disusul waktu tempuh perjalanan. 👆Orang yang tidur 6 jam atau kurang ternyata bekerja sekitar 1,5 jam lebih lama setiap hari kerja. ✌️Dan pola itu paling telanjang terlihat di kota. Warga Jakarta menghabiskan rata-rata 400 jam setahun hanya untuk pergi pulang kerja.

🤘Singapura yang jauh lebih tertib justru salah satu negara paling kurang tidur di dunia, tidak sampai separuh warganya mencapai 7 jam. Di Indonesia, sekitar separuh dari kita tidur kurang dari 7 jam, dan 1 dari 4 orang tidur 5 jam atau kurang.

👋Sempat saya ingin percaya romantisme sebaliknya, bahwa di desa atau di negeri seperti Bhutan yang mengukur kebahagiaan nasional, orang pasti tidur nyenyak dan bahagia tanpa perlu kaya. Data tidak seromantis itu.

Dengan alat ukurnya sendiri, indeks kebahagiaan Bhutan menemukan belum sampai separuh warganya tergolong bahagia, dan di Indonesia insomnia pada orang tua justru lebih tinggi di desa. Yang didukung bukti jauh lebih sederhana dan lebih menusuk, telaah atas ratusan penelitian menemukan semakin materialistis seseorang, semakin rendah kesejahteraannya. Bukan tempatnya yang menentukan, melainkan apa yang dikejar di tempat itu.

Kurang tidur kita bukan takdir profesi, ia hasil dari pola, jam kerja yang memanjang, jarak yang menjauh, dan hal-hal yang kita kejar. Dan berbeda dari takdir, pola bisa diubah.

Mengubahnya pun tidak dimulai di kasur, melainkan jauh sebelum kasur. Kepala yang sibuk di malam hari hampir selalu berisi masalah yang dibiarkan tumbuh sepanjang hari, percakapan yang ditunda, keputusan yang digantung, urusan yang dibiarkan merayap mendekati krisis.

Masalah sebaiknya diselesaikan sebelum ia menjadi krisis, dan untuk itu tidak ada jalan pintas, hanya antisipasi, perencanaan, dan komunikasi, sebab kita makhluk sosial dan hampir semua kecemasan malam hari melibatkan orang lain yang belum kita ajak bicara. Tidur yang tenang tidak dibeli di malam hari. Ia dicicil sejak pagi.

Dan kalau ditelusuri lebih jauh lagi, kemampuan mencicil itu pun tidak turun dari langit. Ia dibentuk oleh pendidikan yang paling dasar, jauh sebelum gelar dan sertifikat.🤮

Saya percaya pendidikan dasar seseorang berdiri di empat penjuru.

Yang pertama 👆sejarah, belajar dari pengalaman dan kasus, sebab masalah manusia berulang dengan kostum yang berbeda, dan orang yang mengenal polanya jadi waspada tanpa menjadi penakut. Yang kedua ✌️kemanusiaan, perlakukan orang lain dengan hormat, karena begitulah kita akan diperlakukan, dan karena hampir tidak ada persoalan yang selesai sendirian.

Yang ketiga 🤘ekonomi, dalam arti yang paling tua, kemampuan menghitung sumber daya yang nyata, uang, waktu, tenaga, tahu batasnya, gemar menabungnya, dan tidak membiarkan diri kehabisan di tengah jalan. Dan yang keempat 👋diri sendiri, memiliki identitas dan kepercayaan diri, menaruh ekspektasi hidup yang rendah, dan berbahagia dengan hal-hal yang tidak bisa dibeli, berolahraga, musik, seni, membaca, menyukai sesuatu dengan sungguh-sungguh sehingga hidup punya titik fokus.

Menulis, bagi saya, termasuk yang terakhir itu, sebab refleksi diri pada dasarnya adalah soal punya cermin, dan tulisan adalah cermin yang tidak bisa dibohongi.

Pekan ini laci itu terbuka lagi, dengan cara yang tidak saya duga. Sebuah surat elektronik tiba dari negeri yang jauh, permintaan wawancara dengan tujuh pertanyaan menunggu di bawahnya. Diam-diam saya bersiap untuk pertanyaan yang biasa, tentang gaya, tentang proyek, tentang pencapaian.

Tetapi tujuh pertanyaan itu tidak menanyakan satu pun dari itu. Mereka bertanya apa yang saya pelajari dari belasan tahun praktik, itu sejarah. Mereka bertanya tentang tukang, komunitas, dan orang-orang yang mempercayakan rumahnya, itu kemanusiaan. Mereka bertanya tentang material yang tumbuh dekat dan bertahan dengan sumber daya yang ada, itu ekonomi. Mereka bertanya tentang ego, itu cermin untuk diri.

Dan pertanyaan penutup mereka tentang anak-anak muda yang kelelahan dan nyaris padam, itu pesan yang paling tua. Satu per satu, pertanyaan orang asing itu ternyata pertanyaan ayah saya. Dunia bertanya dalam bahasa Inggris apa yang ayah saya ucapkan dalam bahasa rumah.

Ayah saya bekerja dengan teliti, sabar, memeriksa hal-hal kecil yang tak dilihat orang lain, dan hampir tidak pernah membanggakan apa pun yang ia kerjakan.

Belakangan saya sadar, bangunan yang paling lama ia kerjakan barangkali adalah saya, dan pesan-pesan itu fondasinya, yang baru terasa kokohnya bertahun-tahun setelah dipasang. Yang menyeberangi samudra ternyata bukan kilau.

Yang menyeberang adalah akar. Empat tahun sudah ayah saya berpulang. Anehnya, pengaruhnya tidak ikut pergi, ia justru membesar.

Seperti pasang surut laut, semakin surut airnya, semakin luas dasar yang terlihat, dan semakin jauh beliau beranjak, semakin kuat saya merasakan kehadirannya, di cara saya bekerja, di cara saya memeriksa hal-hal kecil, di suara yang muncul setiap kali saya membaca pertanyaan orang asing dari negeri yang jauh.

Tulisan ini catatan kasih saya untuk beliau. Really miss him deeply 🥹

Dan saya harus menutup ini dengan jujur, dari seluruh fondasi itu, yang paling sederhana justru yang paling sering saya langgar sampai hari ini. Malam-malam saya masih sering terlalu panjang. Maka malam ini, setelah jawaban-jawaban itu selesai dituliskan, izinkan saya menuruti nasihat beliau yang paling tua, dan menitipkannya juga kepada yang sedang membaca ini larut malam.

Jangan lupa tidur.

(rs, hs, ir)

Image Source:
[1] https://www.flickr.com/photos/pink-neko/2545041444/

Kategori
blog tulisan-wacana

Sebuah Cakrawala yang Terberkati

Sepasang sahabat lama datang berkunjung setelah empat tahun tak bertemu, dan ada sesuatu pada mereka yang telah berubah, sebuah loncatan yang tak bisa saya namai, sampai saya teringat pada sebuah kolam renang. Ada dua cara sebuah kolam menahan airnya. Yang pertama memakai skimmer: ada bibir, ada batu, ada batas yang jelas antara air dan dunia di luarnya.

Yang kedua dibuat meluap, diisi begitu penuh sampai permukaannya rata dengan tepi, sampai batas antara air dan langit menipis dan akhirnya hilang. Dari kejauhan, kolam yang meluap kehilangan garis pemisahnya. Air dan cakrawala menjadi satu. Dan dalam empat tahun yang berlalu itu, sesuatu pada kedua sahabat saya telah berubah persis seperti itu.
Dulu mereka berdua berada di salah satu posisi tertinggi yang bisa dibayangkan.

Waktu mereka begitu mahal sehingga untuk bertemu pun orang harus membuat janji jauh-jauh hari; bahkan, kata mereka sambil tersenyum, keluarga sendiri kadang harus mengantre. Lalu mereka memilih jalan yang berbeda. Kini mereka membangun sesuatu untuk orang-orang yang paling jarang diperhitungkan, mereka yang hidup dengan keterbatasan tubuh, dan merawat beberapa sekolah di pelosok timur negeri ini.

Yang membuat saya terdiam bukan besarnya pekerjaan itu, melainkan bahwa sebagian besar mereka lakukan justru di masa yang paling sulit, ketika dunia sedang menahan napas karena wabah, ketika keuangan mereka sendiri berat, ketika orang membicarakan mereka dari sana-sini. Mereka mengusahakan guru. Mengusahakan sistem. Bahkan mengusahakan sambungan internet ke tempat yang nyaris tak tersentuh sinyal, lalu menyusun modul-modul digital sendiri karena guru terlalu sedikit.

Empat tahun, tanpa henti, untuk anak-anak yang tak pernah bisa membalas mereka apa pun.

Saya bertanya-tanya dalam hati, bagaimana seseorang bisa terus memberi seperti itu tanpa menjadi kering, tanpa diam-diam menghitung. Dan jawabannya, saya kira, ada pada kolam overflow. Mereka mengisi diri mereka sampai penuh sekali, sampai batas antara “milik saya” dan “milik orang lain” menjadi begitu tipis hingga nyaris hilang. Air yang meluap bukanlah kekurangan; ia justru tanda bahwa kolamnya penuh.

Orang yang memberi sampai meluap bukan orang yang kehabisan, melainkan orang yang begitu penuh sehingga tak bisa menahannya lagi.
Tetapi saya belajar juga bahwa meluap ada harganya. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin banyak orang datang bukan untuk bertemu dirinya, melainkan untuk mengambil sesuatu darinya. Ada kepentingan yang beririsan, ada tangan yang menjabat sambil mengukur. Di titik itu seseorang bisa menjadi sangat sendirian, justru karena ia begitu dikelilingi.

Dan saya melihat bahwa yang menjaga mereka tetap utuh di tengah kesepian itu bukanlah kekuatan, melainkan sesuatu yang lebih sunyi dan lebih dalam, sebuah pegangan spiritual yang tak terlihat, yang membuat mereka tetap memberi meski dunia memberi mereka alasan untuk berhenti.

Dulu, bertahun-tahun lalu, saya pernah merancang sebuah sekolah untuk mereka. Prosesnya terasa seperti keajaiban, begitu cepat, seolah bangunan itu muncul mendahului waktunya sendiri.

Waktu itu saya bangga pada kecepatannya. Tetapi dalam pertemuan kemarin, salah satu dari mereka berkata sesuatu yang mengubah cara saya memandangnya. Mungkin, katanya, dulu sekolah itu terasa cepat muncul karena visinya begitu jernih.

Dan sekarang saya mengerti bahwa yang penting bukanlah cepatnya, melainkan bahwa sebuah visi yang besar pada akhirnya akan selalu diuji, bukan oleh sang pemilik visi, melainkan oleh orang-orang yang mengelilinginya: apakah mereka jernih atau keruh, apakah niat mereka utuh atau beririsan dengan kepentingan. Visi yang murni memancar cepat justru ketika ia dikelilingi tangan-tangan yang murni pula.

Di ruang kerja mereka, saya melihat sesuatu yang membuat saya, tanpa saya duga, meneteskan air mata. Di sana masih terpasang foto-foto kawan-kawan lama mereka, dari masa ketika semuanya masih utuh dan penuh tawa, sebelum dunia, dengan harta, status, dan waktunya, memisahkan sebagian dari mereka. Foto-foto itu masih di sana. Tidak diturunkan, tidak disingkirkan.

Dan bagi saya itu adalah bentuk overflow yang lain: hati yang menolak memasang batu pembatas, bahkan terhadap mereka yang telah menjauh.
Saya menyadari betapa langkanya menjadi saksi hidup bagi orang-orang seperti ini, karena setiap kali bertemu mereka, saya merasakan sesuatu yang makin sulit ditemukan, yaitu ketulusan sebuah niat yang tidak sedang menukar apa pun. Tidak ada transaksi di bawah meja percakapan kami.

Dan mungkin karena itu, ketika mereka bercerita betapa sekarang mereka bisa duduk makan bersama anak sendiri, sesuatu yang dulu nyaris mustahil di tengah kesibukan mereka, saya ikut merasakan bahwa itu adalah berkat yang jauh lebih berharga daripada semua posisi tinggi yang pernah mereka pegang.
Akar mereka begitu kuat, dan justru dari akar yang murni itulah pancaran itu lahir.

Saya percaya benih yang jernih akan selalu menemukan jalannya menjadi kenyataan, bahwa yang kecil dan tulus di dalam diri seseorang pada akhirnya membentuk dunia di sekitarnya, pelan-pelan, seperti riak yang meluas. Maka saya lega. Saya tahu mereka akan baik-baik saja, karena orang yang kolamnya sedalam dan sepenuh itu tidak akan pernah benar-benar kekeringan.
Ada satu percakapan yang belum sempat saya lakukan.

Beberapa kali saya ingin bertanya langsung kepada kawan-kawan lama mereka, apa yang sesungguhnya ada di hati mereka. Tetapi setiap kali kesempatan itu datang, ia tertunda, terundur, seolah waktunya belum tiba. Dan saya belajar untuk tidak memaksanya. Ada pertukaran yang hanya bermakna bila terjadi pada saatnya, ketika tatapan mata sungguh berubah menjadi kejujuran dan suara sungguh berubah menjadi hati. Memaksakannya terlalu dini hanya akan membuatnya menjadi transaksi biasa.

Maka saya menunggu, percaya bahwa suatu hari nanti pertukaran itu akan terjadi dengan sendirinya, dan berubah menjadi kenangan yang mengakar.
Kita terbiasa hidup dengan skimmer, menjaga batas yang jelas antara apa yang kita beri dan apa yang kita simpan, antara diri kita dan orang lain. Batas itu wajar, bahkan perlu.

Tetapi ada segelintir orang yang mengisi dirinya begitu penuh sampai batas itu menipis dan akhirnya hilang, sampai apa yang mereka beri dan siapa diri mereka menjadi satu hal yang sama. Dan pada orang-orang seperti itu, garis antara diri dan dunia lenyap, seperti air yang meluap sampai menyatu dengan langit, dan yang tinggal hanyalah cakrawala.

Ada dua orang yang tidak pernah bertemu, tetapi bagi saya keduanya berjalan menuju cakrawala yang sama dari dua sisi yang berbeda. Yang satu wafat pada Januari 1948, ditembak di Delhi setelah seumur hidup berjuang tanpa senjata. Yang satu lagi, pada tahun yang sama, seorang biarawati kecil kelahiran negeri jauh, melangkah keluar dari tembok biaranya dan masuk ke gang-gang Kalkuta.

Satu cahaya padam, cahaya lain mulai menyala, seperti estafet yang tidak pernah dibicarakan tetapi terjadi.
Gandhi lahir sebagai anak India asli, dari kota pesisir Porbandar, tetapi jalannya justru memutar jauh. Sebagai pengacara muda ia berangkat ke Afrika Selatan, dan di sanalah, konon setelah dilempar keluar dari gerbong kereta karena warna kulitnya, sesuatu dalam dirinya berubah.

Ia tinggal di benua itu sekitar dua dekade, dan pulang membawa tiga ide besar yang kelak menggerakkan sebuah bangsa. Ahimsa, laku tanpa kekerasan. Satyagraha, kekuatan yang bersumber dari berpegang pada kebenaran. Dan swadeshi, pakta kemandirian, keyakinan bahwa bangsa yang ingin merdeka harus mulai dari mengurus dirinya sendiri, memintal benangnya sendiri, membuat garamnya sendiri dengan berjalan kaki ke laut.

Untuk semua itu ia keluar masuk penjara berkali-kali, dan justru dari penjara gagasannya makin menyala. Kemandirian baginya bukan pidato, melainkan laku harian yang bisa dikerjakan tangan siapa saja.
Teresa datang dari arah sebaliknya. Ia bukan orang India, ia lahir jauh di Skopje, di keluarga Albania, lalu berlayar ke India pada usia belasan untuk menjadi guru.

Bertahun-tahun ia mengajar dengan tenang, sampai suatu hari di dalam kereta menuju Darjeeling ia merasa menerima panggilan di dalam panggilan, untuk meninggalkan kenyamanan biara dan hidup di antara yang paling papa. Maka pada tahun 1948 itu ia keluar, merawat orang-orang yang sekarat di selokan, satu per satu, tanpa rencana besar selain kasih yang dikerjakan hari itu juga. Gereja bahkan sempat menyebutnya sang Beata, the Blessed, sebelum akhirnya mengangkatnya menjadi santa.

Dari kisahnya saya belajar satu hal yang sederhana, kamu bisa berasal dari mana saja, tetapi apa yang kamu lakukanlah yang membentukmu.
Dua sisi itu saling mengisi dengan cara yang menakjubkan. Gandhi membebaskan sebuah bangsa dari penjajahan, Teresa membebaskan manusia satu demi satu dari keterbuangan. Yang satu bergerak di panggung sejarah dengan jutaan pengikut, yang satu berlutut di selokan dengan dua tangan.

Keduanya manusia biasa, dan sejarah mencatat perdebatan tentang masing-masing, sebagaimana sejarah selalu jujur pada manusia. Tetapi garis yang mereka tarik nyata, dan garis itu satu, kasih yang tidak berhenti sebagai ucapan, kasih yang dikerjakan.
Dan Kalkuta sendiri menyimpan pelajaran yang sering terlewat. Di mata dunia, kota itu kadung dilekatkan hanya pada kemiskinan dan sosok Teresa.

Padahal Eric Weiner, dalam bukunya The Geography of Genius, memasukkan Kalkuta ke dalam daftar pendek tempat-tempat paling kreatif dalam sejarah dunia, sejajar dengan Athena dan Firenze, lewat zaman yang disebut Renaisans Benggala. Bab tentang kota itu ia beri judul genius is chaotic, kejeniusan itu berantakan, dan temuannya yang paling menarik justru ini, kekasaran itulah syaratnya.

Tidak ada yang bisa menempel pada permukaan yang terlalu licin, tulisnya, hidup kreatif membutuhkan sedikit kekasaran, bahkan sedikit keburukan. Kalkuta masa itu adalah kota yang berkonflik dengan dirinya sendiri, terjajah, sesak, hidupnya tumpah ke jalan, dan justru dari kesulitan itu literasinya meledak.

Buku-buku mulai dicetak bukan hanya dalam bahasa Inggris tetapi dalam aksara Benggala mereka sendiri, sekolah-sekolah berdiri, dan lingkaran-lingkaran percakapan yang disebut adda tumbuh di mana-mana, tempat orang berkumpul untuk bertanya, bukan untuk buru-buru menjawab. Para penjajah menyebarkan literasi dengan harapan mendapatkan kota juru tulis, yang mereka dapatkan malah kota penyair.

Dari rahim yang sama lahir sekolah seni yang justru menoleh kembali pada idiom rupa mereka sendiri, lahir Tagore yang mendirikan sekolah di bawah pepohonan di Santiniketan dan menjadi peraih Nobel sastra pertama dari luar Eropa, lahir generasi yang mulai menuliskan sejarahnya dengan tangannya sendiri. Weiner menyimpulkan bahwa kejeniusan tidak pernah tumbuh sendirian, ia menular di dalam lingkaran.

Saya kira kasih pun bekerja dengan hukum yang sama, dan kesulitan, bila disambut oleh lingkaran yang tepat, bukanlah kutukan melainkan pupuk.

Di sinilah semuanya menjadi dekat dengan keseharian kita. Banyak orang datang kepada kita dalam keadaan kalut dan bingung, dan itu sendiri sudah persoalan. Persoalan apa pun bisa mengeras menjadi trauma bila yang ditemuinya adalah wajah yang apatis. Tetapi persoalan yang sama bisa menjadi titik tumbuh bila yang ditemuinya adalah empati.

Dan empati itu menular, ia membentuk lingkaran kontribusi, orang yang pernah ditolong belajar menolong, yang pernah didengarkan belajar mendengarkan, dan dari lingkaran-lingkaran kecil itulah peradaban yang baik dirajut.

Ki Ageng Suryomentaram, pangeran Jawa yang melepas gelarnya sendiri, mengajarkan hal yang senada, bahwa puncak dari semua laku adalah menjadi manusia yang mulia, manusia yang mengerti bahwa rasa manusia itu pada dasarnya sama, sehingga tidak ada alasan untuk menutup mata pada rasa orang lain.
Semangat inilah yang ingin saya beri nama, supaya ia bisa dikenali dan dirawat. Saya menyebutnya cakrawala yang terberkati, blessed horizon, sebuah garis pandang kasih.

Cakrawala adalah garis yang tidak pernah kita capai, berjalan seribu langkah pun ia tetap di kejauhan, tetapi justru karena itu ia berguna, ia memberi arah. Kasih bekerja seperti itu. Ia tidak pernah selesai, tidak pernah bisa dicentang sebagai tuntas, tetapi selama ia ada di garis pandang kita, langkah kita tidak tersesat.

Gandhi dan Teresa tidak pernah bertemu, tetapi keduanya menatap cakrawala yang sama, yang satu dari jalan kemandirian sebuah bangsa, yang satu dari jalan belas kasih pada satu tubuh yang sekarat.
Saya menuliskan ini bukan dari menara teori, melainkan dari catatan-catatan kecil saya sendiri.

Bertahun-tahun saya menyimpan surat-surat dan refleksi pribadi, termasuk kisah-kisah pergulatan yang tidak selalu enak dibaca, dan di sisi lain tersimpan pula refleksi dari proyek-proyek yang kami kerjakan bersama. Kalau keduanya dibaca berurutan, ada satu pola yang jujur saja baru belakangan saya sadari, proyek-proyek itu tidak hanya membentuk kami menjadi profesional, ia membentuk kami menjadi pendengar, dan pelan-pelan menjadi kawan yang baik bagi orang-orang yang kami layani.

Dan hampir semua yang baik di sana tidak lahir dari kami sendiri. Ia dimulai dari inspirasi yang datang dari klien yang percaya, dari tim yang setia, dari keluarga, dari ayah dan ibu yang mengikat semuanya dengan ikatan kasih yang tidak pernah mereka umumkan. Cakrawala yang terberkati itu, bagi saya, pertama kali terlihat dari rumah.
Dan cakrawala itu tidak berada di India.

Ia berada di garis pandang siapa saja yang memilihnya, di meja makan ketika kita mendengarkan orang rumah dengan sungguh-sungguh, di bengkel ketika kita memperlakukan tukang sebagai manusia utuh, di ruang kerja ketika orang yang kalut menemukan wajah yang tidak apatis. Kita tidak perlu membebaskan bangsa atau mengangkat tubuh dari selokan untuk ikut menariknya. Cukup memastikan bahwa hari ini, siapa pun yang menemui kita, pulang dengan sedikit lebih ringan daripada saat ia datang.

Dari situ lingkarannya mulai berputar, dan cakrawala yang terberkati itu, pelan-pelan, menjadi milik bersama.

Kategori
blog tulisan-wacana

Tangga yang Tidak Pernah Digambar

Beberapa waktu lalu saya mengunjungi sebuah pameran arsitektur. Temanya tentang para arsitek terkenal. Di dalam ruangan itu berdiri deretan maket dengan teks-teks kecil di sampingnya. Tidak ada arahan, tidak ada penjelasan lebih jauh, tidak ada jembatan bagi siapa pun yang datang dari luar dunia kami.

Gambarnya spektakuler !!! Saya berdiri di sana cukup lama dan pelan-pelan menyadari sesuatu yang janggal: pameran adalah tindakan paling publik dari arsitektur, tetapi yang satu ini hanya bisa dibaca oleh orang yang sudah berada di dalam lingkaran. Pengunjung biasa lewat begitu saja.

Maka pertanyaannya sederhana: pameran ini sebenarnya untuk siapa? Saya menduga jawabannya tidak menyenangkan. Ia bukan untuk publik. Ia ritual yang dipentaskan di ruang publik, sebuah anak tangga.

Dan tangga itu, meski tidak pernah digambar di mana pun, kita semua tahu bentuknya: presentasi, lalu diskusi, lalu pameran, lalu penghargaan, lalu baju serba hitam, ataupun putih, necis2 atau punya tema tertentu, lalu proyek-proyek berbiaya besar, dan di puncaknya, hadiah yang dibisikkan sebagai Nobel-nya arsitektur. Sebuah dongeng tentang satu-satunya jalan menjadi arsitek yang berarti.

Saya mengenali tangga itu bukan dari kejauhan.

Saya pernah menaiki versi kecilnya, dan pernah menikmati rasa berada beberapa anak tangga di atas orang lain. Dan kini, setiap kali saya berdiri memimpin workshop di depan anak-anak muda yang hampir tidak mungkin berkata tidak kepada saya, saya tahu saya sedang memegang kekuasaan yang sama, yang harus terus-menerus saya curigai. Dan satu pengakuan lagi: saya menuliskan ini dengan sisa kemarahan yang harus saya akui. Kemarahan biasanya tanda ada yang belum selesai saya pelajari.

Karena beginilah tangga itu bekerja. Ada sebuah kisah yang sampai ke saya dua kali, dari dua kawan yang berbeda, dan keduanya menceritakannya dengan cara yang hampir sama.
Di sebuah kota, deretan arsitek ternama memimpin sebuah workshop membangun paviliun. Desainnya, menurut cerita itu, terkesan dipaksakan dan sulit diwujudkan, biayanya melambung jauh, dan yang menanggung kerepotannya adalah anak-anak muda di lapisan paling bawah, sebagian mahasiswa yang telanjur berada di dalamnya.

Saya tidak hadir di sana, dan saya tidak tahu seluruh duduk perkaranya. Tetapi satu hal menarik perhatian saya: tidak ada yang menceritakan kisah ini dengan suara keras. Ia beredar dari mulut ke mulut, setengah berbisik. Dan mungkin tidak ada yang memaksa siapa pun di sana. Yang bekerja lebih halus dari paksaan: di hadapan deretan nama besar, berkata tidak menjadi sesuatu yang tak terpikirkan.

Itulah tanda tangga itu nyata di kepala kita, orang takut menyebut masalahnya keras-keras, karena takut terpeleset dari anak tangganya sendiri.
Tangga ini bukan penemuan kita, dan ia jauh lebih tua dari kita. Ia punya tanggal lahir yang bisa ditunjuk. Tahun 1932, seorang pemuda bernama Philip Johnson, yang memulai kariernya bukan sebagai arsitek melainkan kurator, menggelar pameran arsitektur modern di MoMA, New York.

Bersama sejarawan Henry-Russell Hitchcock, ia mengambil gerakan modern Eropa, yang lahir dari pergulatan sosial tentang perumahan dan kehidupan orang banyak, lalu menyulingnya menjadi sesuatu yang bisa dipajang: maket, foto, gaya. Mereka menamainya International Style. Misi sosialnya tertinggal di Eropa; yang menyeberangi Atlantik adalah tampilannya. Sejak hari itu arsitektur punya mesin baru: kurasi yang menentukan siapa yang penting.

Dan mesin itu bekerja rapi selama puluhan tahun.

Tahun 1979, ketika dunia arsitektur akhirnya punya “Nobel”-nya sendiri, Pritzker Prize, penerima pertamanya adalah Philip Johnson. Mesin itu memahkotai pembuatnya sendiri. Lalu tahun 1988, di usia delapan puluh satu, Johnson kembali ke MoMA dan menggelar satu pameran lagi, kali ini memajang tujuh arsitek yang belum lama dikenal, yang kemudian menjadi nama-nama paling berkilau di akhir abad itu. Satu pameran, satu generasi bintang.

Bahkan salah satu karya yang paling melambungkan nama lewat pameran itu tidak pernah dibangun. Di sirkuit ini, sebuah karya tidak perlu berdiri untuk mengangkat seseorang; ia cukup dipajang.
Dan hari ini mesin itu punya cabang di mana-mana. Ada kesan yang makin sulit diabaikan: arsitek berbondong-bondong berpameran ke luar negeri, bukan untuk dilihat publik di sana, melainkan untuk dilihat sesama arsitek, dan untuk membawa pulang satu baris riwayat yang berkilau.

Di baliknya, selalu ada pihak yang menjual ruang pamernya. Tangga itu kini bukan sekadar dongeng; ia lapak. Anak tangganya diperjualbelikan.
Seorang pemikir Prancis, Guy Debord, sudah menamai gejala ini setengah abad lalu. Dalam masyarakat tontonan, katanya, segala yang dulu dihayati langsung menjauh menjadi representasi, dan kapital yang menumpuk pada akhirnya berubah wujud menjadi citra. Fokus hidup bergeser dari menjadi, ke memiliki, lalu ke tampak.

Dibaca dari sana, semuanya menjadi terang: sebuah karya arsitektur tidak lagi perlu berdiri dan dihuni untuk bernilai; ia cukup tampak. Dan nilai yang sudah menjadi citra bisa diperjualbelikan tanpa pernah menyentuh tanah.
Saya tidak sedang mengatakan orang-orang di puncak tangga itu tidak berbakat. Sebagian dari mereka sungguh besar, dan berhasil di usia enam puluh setelah tiga puluh tahun bekerja bukanlah dosa; bisa jadi itu buah ketekunan yang layak dihormati.

Yang saya persoalkan bukan orangnya, melainkan dongengnya: cerita bahwa hanya ada satu tangga, dan bahwa hidup arsitek yang tidak mendakinya adalah hidup yang kurang berarti. Cerita itu, digemakan media tanpa henti, membuat dunia yang begini besar terasa milik segelintir nama.

Padahal lihatlah arsitek kebanyakan.

Mereka yang setiap hari berjibaku dengan klien yang cerewet dan anggaran yang pas-pasan, yang pulang kepada keluarga, yang membimbing murid dan menggaji staf, yang bangunannya tidak pernah masuk vitrin mana pun. Karya mereka justru terbaca sempurna, bukan oleh kurator, melainkan oleh manusia yang tinggal di dalamnya: rumah yang meneduhkan, ruang yang memuliakan penghuninya.

Di sinilah paradoks pameran itu menjadi telanjang: ia membuat karya yang tak terbaca publik menjadi terlihat, dan membuat karya yang paling terbaca, karena dihuni, menjadi tak terlihat.

Dan jangan salah paham: pameran bukanlah musuh. Pameran yang sejati adalah kegiatan intelektual milik publik, dengan tema yang bisa dimasuki siapa saja, dengan kekuatan kuratorial dan riset yang dipakai bukan untuk memajang nama, melainkan untuk membela yang tak bersuara.

Pameran seperti itu langka, dan justru karena langka, ia berharga. Yang patut dicurigai adalah tiruannya: etalase yang meminjam baju intelektual.
Kemuliaan seorang arsitek tidak dibagikan lewat penghargaan, dan tidak menetes dari anak tangga di atasnya. Ia ada di tempat yang tidak difoto: pada janji yang ditepati kepada klien, pada tukang yang dibayar layak, pada murid yang dituntun menemukan jalannya sendiri.

Dunia ini terlalu besar untuk dimiliki segelintir nama. Dan tangga yang tidak terlihat itu hanya berdiri selama kita memercayainya. Begitu kita berhenti mendongak, ia berhenti ada.

(rs, hs, ir)

Image Source:
[1] https://picryl.com/media/skyscrapers-architectural-exhibit-lay-out-8ef949

Kategori
Team - Studio Culture

Naik dan Berputar

Ada kuil-kuil yang menuntut kita mendaki. Di Fushimi Inari, di Kyoto, ribuan gerbang merah menuntun orang naik melewati lereng gunung, satu gerbang demi satu gerbang, tangga demi tangga, sampai ke puncak. Yang menarik, ketika akhirnya sampai di atas, sering tidak ada apa-apa di sana yang megah. Hanya pepohonan, keheningan, dan langit. Orang-orang yang pernah ke sana banyak yang berkata hal yang sama: yang berharga ternyata bukan puncaknya, melainkan perjalanan menuju ke sana. Pendakian itu sendirilah tujuannya.

Kami sering merasa Guha punya sesuatu seperti itu. Bukan karena kami merancangnya menyerupai kuil, melainkan karena ia, dengan caranya sendiri, menjadi tempat yang harus dijelajahi, bukan sekadar dimasuki. Sirkulasinya berputar-putar. Tangganya banyak. Pintunya banyak. Untuk sampai dari satu titik ke titik lain, kadang seseorang harus naik, berbelok, turun, memutar, melewati jalan yang tidak langsung. Jaraknya sebenarnya tidak jauh. Tetapi pengalamannya tidak biasa.

Sebagian dari ini, harus kami akui dengan jujur, lahir dari keterbatasan. Instalasi bangunan, saluran air, dan berbagai kebutuhan teknis tidak selalu bisa diletakkan di tempat yang paling nyaman, apalagi dengan kebutuhan ruang yang terus bertumbuh. Maka jalur pun menyesuaikan diri, berkelok mengikuti apa yang mungkin, bukan apa yang ideal. Tetapi keterbatasan itu, seperti sering terjadi, ternyata membawa hadiahnya sendiri: ia menantang daya adaptasi orang-orang yang tinggal dan bekerja di dalamnya.

Ini paling terasa, dan paling lucu, pada urusan yang paling mendasar: buang air. Anak-anak muda yang tinggal di Guha harus berputar, turun dengan hati-hati, melewati jalan yang berkelok hanya untuk sampai ke kamar mandi. Ada satu tamu kami yang, saking bingungnya dengan perjalanan berliku ini, sampai bercanda bahwa impian terbesarnya adalah bisa buang air langsung tanpa harus berputar sejauh itu, kalau perlu di kandang ayam sekalian, biar dekat. Kami menertawakannya bersama-sama, karena memang begitulah rasanya: sebuah perjalanan kecil yang, di saat genting, terasa jauh sekali.

Tetapi di balik lelucon itu ada sesuatu yang kami hargai. Berjalan berputar setiap hari, bahkan untuk hal sesederhana itu, diam-diam melatih orang untuk terbiasa dengan yang tidak langsung, yang tidak serba instan, yang menuntut sedikit kesabaran dan kesadaran akan ruang di sekitarnya. Di dunia yang serba ingin cepat dan langsung, ada nilai kecil yang terselip dalam keharusan berputar: ia membuat orang hadir pada perjalanannya, bukan hanya pada tujuannya.

Soal banyaknya pintu, ada cerita lain lagi. Kami membuat banyak akses supaya tempat ini mudah dimasuki dari berbagai arah, terbuka, tidak berkesan tertutup. Tetapi ada konsekuensi yang tidak kami rencanakan dan sering dijadikan banyolan: banyaknya pintu ternyata membuat seorang pencuri, seandainya ia berhasil masuk, justru kebingungan mencari jalan keluar. Gampang masuk, susah keluar. Sebuah labirin yang ramah bagi yang berkawan, tetapi membingungkan bagi yang berniat buruk. Kami tidak merancangnya untuk itu, tetapi ruang memang sering punya akibat yang melampaui niat perancangnya.

Dan kalau boleh menyeberang lebih jauh, ke tanah kita sendiri, kami teringat Candi Sukuh di lereng Gunung Lawu. Kami pernah ke sana, menaiki undakannya, dan membaca apa yang terpahat di sana. Yang tinggal di kepala kami adalah sebuah ajaran sederhana tentang kebaikan: bahwa kebaikan agama dan kebaikan budi pekerti pada dasarnya satu, bahwa iman yang sejati bukan diukur dari ritualnya semata, melainkan dari tingkah dan laku sehari-hari. Agama dan budi, di situ, bukan dua hal yang terpisah; keduanya saling menjelaskan.

Kami tidak berani mengaku paham sepenuhnya, tetapi ada sesuatu di sana yang terasa bersambung dengan pendakian di kuil mana pun: bahwa naik ke atas, entah ke puncak gunung entah ke puncak laku, pada akhirnya bermuara pada semacam ketiadaan. Padamnya hiruk-pikuk. Barangkali itulah yang dimaksud dengan nirwana, bukan tempat yang megah di puncak, melainkan keheningan yang tersisa setelah semua keramaian mereda. Dan barangkali sebuah bangunan, seperti sebuah laku, tugasnya bukan membawa kita pada kemegahan, melainkan menuntun kita, pelan-pelan lewat putaran dan tangganya, menuju ketenangan itu.

Pada akhirnya, Guha memang bukan bangunan yang dirancang untuk efisiensi lalu lintas. Ia bukan tempat yang membawa orang dari titik A ke titik B secepat mungkin. Ia lebih mirip sebuah perjalanan kecil yang berputar, dengan tangga, pintu, dan kelokannya sendiri, tempat yang paling berharga sering kali bukan tujuan yang dituju, melainkan jalan berliku menuju ke sana. Seperti kuil di lereng gunung itu, yang mengajarkan bahwa mendaki, dengan segala putaran dan tangganya, kadang lebih bermakna daripada apa yang menunggu di puncak.

Kategori
Press

Rumah Bosar: Karya Arsitektur Kayu Dayak Pesaguan

Yoris Mangenda & Sheila Nurfajrina | Monochrome | Bahasa Indonesia| 144 Page | Release Date June, 2026
ISBN (dalam pengajuan)

Synopsis

Rumah Bosar Mandiangin merupakan salah satu bentuk arsitektur Dayak Pesaguan yang tidak hanya hadir sebagai bangunan, tetapi sebagai pengetahuan yang hidup dan diwariskan lintas generasi. Selama lebih dari satu abad, bangunan ini mengalami perpindahan, pembongkaran, dan perakitan ulang, namun tetap mempertahankan sistem arsitektur serta praktik ketukangan yang menyertainya.

Buku ini mengajak pembaca memahami Rumah Bosar tidak hanya sebagai bentuk fisik, tetapi sebagai bagian dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Disusun berdasarkan wawancara, catatan lokal, dan dokumentasi lapangan, buku ini membahas sejarah, fungsi, bentuk dan tata ruang, hingga proses perakitan serta sistem konstruksi kayu yang membentuknya.

Melalui buku ini, Rumah Bosar dibaca sebagai ruang tempat bertemunya tradisi, keterampilan, dan pengetahuan yang terus hidup dalam masyarakat, sekaligus sebagai bagian dari kekayaan arsitektur Nusantara yang perlu dipahami dan dirawat.

Price: TBA

Kategori
Press

Therefore, I Am (Oleh Karena Itu, Aku Ada)

Karisya Ratu Putri Adjie | Monochrome | English & Bahasa Indonesia| 248 Page | Release Date May, 2026
ISBN (dalam pengajuan)

Synopsis

Therefore, I Am is a philosophical memoir that weaves together personal reflection, architectural thinking, and existential inquiry into a meditation on identity, time, and becoming.

Written originally at the age of nineteen and revisited a decade later, the book unfolds as a dialogue between two versions of the author: the idealistic young thinker searching for meaning and the older self shaped by experience, doubt, and growth. Through this temporal conversation, the work explores how identity is not fixed but continuously constructed through time, choices, and encounters with the world.

Structured in four parts: Seeds of Wonder, Integrity vs. Society, Masters and Mentors, and Looking Forward, the book traces the evolution of a creative mind navigating personal ambition, societal expectations, and intellectual influence. Drawing from philosophy, literature, architecture, and lived experience, the essays examine how cities, systems, and design quietly shape human existence and self-understanding.

More than a design book, Therefore, I Am proposes that design is not merely aesthetic production but an infrastructure for being — a framework through which individuals negotiate meaning, freedom, and responsibility within collective life.

Blending memoir, manifesto, and philosophical reflection, the book speaks to readers who feel lost, questioning, or in transition, offering companionship rather than instruction.

Ultimately, it is an invitation to embrace uncertainty, reclaim agency over time, and recognize that identity emerges not from certainty, but from the continuous act of becoming.

Price: IDR 120.000,-

Kategori
blog

Adiwastra – Super Pattern

Wastra dalam bahasa Sansekerta berarti “kain”; sementara Adi berarti “super, luar biasa”. Sulit untuk tidak menggunakan kata superlatif ketika berbicara tentang tradisi tekstil Indonesia. Dalam diskusi mengenai wastra, estetika tidak hadir semata sebagai sesuatu yang indah untuk dipandang, melainkan sebagai pengetahuan yang bekerja secara intuitif dan sistematis, merepresentasikan nilai-nilai budaya yang mengakar.

Pertemuan kami dengan konsep Adiwastra dimulai pada proyek renovasi Balai Kartini. Kehadiran Ibu Uli Panjaitan sebagai pemilik proyek menjadi seperti benang awal yang merajut keseluruhan narasi ini. Beliau memiliki koleksi kain dari berbagai daerah yang menjadi sumber inspirasi dari proses perencanaan. Ibu Uli juga menghubungkan kami dengan pakar wastra dan perancang batik, Ibu Asmoro Damais, sebagai jalan menuju Adiwastra.

Sebuah spirit merangkai dan merajut kami pelajari dari R.A. Kartini: kemandirian, kreativitas, serta arketipe dasar jiwa seorang ibu yang merawat keluarga dan rumah, sembari menanti sang bapak yang sedang mencari penghidupan. Yang kami temukan adalah kecantikan yang tidak bersifat literal, melainkan kecantikan yang bersahaja, di mana kebersahajaan polanya lahir dari transformasi panjang yang dijalani hikmat dalam waktu-waktu penantian.

Nilai-nilai dan sistem pengetahuan yang terangkum dalam wastra Indonesia, umumnya terdiri dari 4 hal: manusia, tanaman, tumbuhan, dan perahu. Dari sana, proses adaptasi desain dari RAW Architecture merupakan sebuah proses berkesinambungan yang diteruskan dari masa lampau.

Kami harap, Adiwastra sebagai inspirasi awal bisa berlanjut dan terus menjadi energi yang dapat diturunkan dalam perumusan desain, serta ke depan dalam bidang apa pun.

– Realrich Sjarief

Wastra means “cloth” in Sanskrit, while Adi means “super, extraordinary.” It’s hard not to use superlatives when discussing Indonesian textile traditions. In discussions about wastra, aesthetics isn’t simply presented as something beautiful to look at, but rather as knowledge that works intuitively and systematically, representing deep-rooted cultural values.

Our encounter with the Adiwastra concept began during the renovation project for Balai Kartini. The presence of Ibu Uli Panjaitan, the project owner, was like the initial thread that weaved this entire narrative. She has a collection of fabrics from various regions that served as a source of inspiration for the planning process. Ibu Uli also connected us with wastra expert and batik designer, Ibu Asmoro Damais, as a pathway to Adiwastra.

We learned a spirit of weaving and knitting from R.A. Kartini: independence, creativity, and the basic archetype of a mother caring for her family and home while waiting for her father, who is earning a living. What we discovered was a beauty that wasn’t literal, but rather a beauty of simplicity, where the simplicity of the patterns emerged from a long transformation experienced by wisdom during times of waiting.

The values ​​and knowledge systems encapsulated in Indonesian textiles generally encompass four elements: humans, plants, vegetation, and boats. From there, RAW Architecture’s design adaptation process is a continuous process passed down from the past.

We hope that Adiwastra, as the initial inspiration, can continue to be a source of energy that can be passed down in design formulation, and in any field.

Realrich Sjarief

Adiwastra – Super Pattern

  1. Ulos Sadum (Batak Toba – Tapanuli Utama, Sumatera Utara)

Sadum adalah kain tenun atau ulos bercorak cerah dan meriah dari Batak Toba. Kain ini biasanya berlatar warna merah dengan motif alam seperti bunga berwarna yang melambangkan suka cita, kebahagiaan, dan kasih yang mengalir dari generasi ke generasi dalam tradisi keluarga Batak. Polanya berupa garis-garis memanjang yang dipengaruhi ornamen Eropa, serta terdapat bidang dekoratif lebar di bagian ujung dengan teknik tapestry weave. Sadum sering dikenakan sebagai pakaian pesta, disampirkan di bahu pria dan wanita, atau umum juga dipakai untuk menggendong bayi. Motif bunga ini diambil dari sebuah ulos sadum asal Tarutung, Tapanuli Utama yang diwarisi si pemilik dari ibunya pada tahun 1940. Dibuat menggunakan bahan katun, pewarna kimia, Sadum ini dikerjakan melalui teknik tenunan polos dan pakan tambahan yang menghasilkan tekstur kaya dan detail yang khas, dengan tambahan manik-manik pada bagian ujung kain.

Sadum is a bright and festive woven cloth or ulos from the Toba Batak. This cloth is usually red with natural motifs such as colored flowers that symbolize joy, happiness, and love that flows from generation to generation in Batak family traditions. The pattern is a long striped pattern influenced by European ornaments, and there is a wide decorative area at the end of the tapestry weave technique. Sadum is often worn as party attire, draped over the shoulders of men and women, or is also commonly used to carry babies. This floral motif is taken from an ulos sadum from Tarutung, Tapanuli Utama, which the owner inherited from his mother in 1940. Made from cotton, chemical dyes, this Sadum is worked using a plain weave technique and additional weft that produces a rich texture and distinctive details, with the addition of beads at the ends of the cloth.

2. Tumtuman (Batak Toba – Porsea, Tapanuli Utara, Sumatera Utara)

Tumtuman merupakan kain tenun tradisional Batak dari Porsea yang dikenal sebagai salah satu kain paling berharga karena seluruh permukaannya dipenuhi motif dari benang pakan yang rumit dan padat, menjadikan proses pembuatannya sangat kompleks dan bernilai tinggi. Dibuat dari benang katun dengan pewarna organik melalui teknik tenunan polos, pakan tambahan, dan ujung benang yang dipelintir, kain ini pada akhir abad ke-19 umumnya digunakan sebagai penutup kepala oleh laki-laki terpandang atau tokoh penting dalam masyarakat Batak. Secara visual, kepadatan motifnya merepresentasikan status, kehormatan, dan prestise sosial, sementara pewarisan kain ini secara turun-temurun menunjukkan perannya bukan hanya sebagai busana adat, tetapi juga sebagai arsip keluarga dan simbol penghormatan antargenerasi. Kini kain Tumtuman juga umum digunakan olah perempuan sebagai sarung dan selendang pada acara perayaan.

Tumtuman is a traditional Batak woven fabric from Porsea, known as one of the most valuable fabrics because its entire surface is covered with intricate and dense weft patterns, making its production process very complex and highly valued. Made from organically dyed cotton yarn through a technique of plain weave, supplementary weft, and twisted thread ends, this fabric in the late 19th century was commonly used as a head covering by prominent men or important figures in Batak society. Visually, the density of the motifs represents status, honor, and social prestige, while the inheritance of this cloth from generation to generation demonstrates its role not only as traditional clothing, but also as a family archive and a symbol of intergenerational respect. Today, Tumtuman cloth is also commonly worn by women as sarongs and shawls at celebratory events.

3. Songket Jambi Kuno (Melayu – Jambi)

Songket merupakan kain tenun tradisional Melayu yang dibuat menggunakan benang sutra berwarna alami dan benang emas, menghasilkan permukaan kain yang berkilau serta kaya tekstur. Berbeda dengan songket Palembang yang cenderung menampilkan pola penuh dan padat, Songket Jambi dikenal melalui susunan motif bunga yang ditempatkan secara individual di dalam bidang-bidang persegi hasil perpotongan garis diagonal. Komposisi ini menciptakan tampilan yang lebih teratur, ringan, dan elegan secara visual. Motif flora pada Songket Jambi melambangkan keindahan, kemakmuran, dan kesinambungan hidup, sementara penggunaan benang emas merepresentasikan kemuliaan dan status sosial dalam tradisi masyarakat Melayu. Kain ini ditenun secara manual melalui teknik pakan tambahan dengan benang dasar sutra, menjadikannya salah satu wastra penting yang banyak digunakan dalam upacara adat dan acara seremonial.

Songket is a traditional Malay woven fabric made using naturally colored silk and gold thread, resulting in a lustrous and richly textured surface. Unlike Palembang songket, which tends to feature full, dense patterns, Jambi songket is known for its arrangement of floral motifs placed individually within square areas resulting from the intersection of diagonal lines. This composition creates a more orderly, light, and visually elegant appearance. The floral motifs in Jambi songket symbolize beauty, prosperity, and the continuity of life, while the use of gold thread represents nobility and social status in Malay tradition. This fabric is hand-woven using a supplementary weft technique with a silk base thread, making it one of the important textiles widely used in traditional ceremonies and ceremonial events.

4. Sarung Songket Siak Indrapura (Melayu Siak Indrapura, Riau)

Songket adalah kain tenun dengan benang emas atau perak dari tradisi Melayu di Sumatra. Selain ditemukan di Riau, Palembang, dan Minang (Sumatra Barat), songket juga bisa ditemukan di Makassar, Sulawesi, Lombok, dan Kalimantan, terutama di tempat-tempat di mana kesultanan Islam berkembang. Dahulu songket umum dikenakan para bangsawan kerajaan sebagai sarung pendek untuk pria, dipadu dengan celana panjang, dan sebagai sarung panjang untuk wanita yang dipadukan blus panjang. Bermotif alam dan nilai Islam, kain songket umumnya melambangkan ketaqwaan, budi pekerti, kerukunan. Motif bunga cengkih secara khusus bermakna kasih sayang & lemah lembut. Sementara, motif Pucuk Rebung melambangkan pertumbuhan dan harapan. Songket dari Kesultanan Siak Indrapura ini dibuat pada awal abad ke-20 dengan bahan sutra.

Songket is a woven fabric with gold or silver thread from the Malay tradition in Sumatra. Besides being found in Riau, Palembang, and Minang (West Sumatra), songket can also be found in Makassar, Sulawesi, Lombok, and Kalimantan, especially in places where Islamic sultanates flourished. In the past, songket was commonly worn by royal nobles as a short sarong for men, combined with trousers, and as a long sarong for women combined with a long blouse. With natural motifs and Islamic values, songket cloth generally symbolizes piety, good character, and harmony. The clove flower motif in particular signifies compassion and gentleness. Meanwhile, the Pucuk Rebung motif symbolizes growth and hope. This songket from the Siak Indrapura Sultanate was made in the early 20th century from silk.

5. Batik Bangbangan (Batavia (Jakarta))

Kain Panjang Batik Bangbangan pada dasarnya merupakan motif batik khas dari pesisir utara Jawa, seperti Rembang dan Cirebon. Nama “bangbangan” berasal dari kata bang/abang yang berarti merah, sesuai warna yang mendominasi batik ini. Kain ini dibuat menggunakan katun pabrikan dengan pewarna organik melalui teknik batik tulis tangan dan pewarnaan celup (vat-dyed), menghasilkan warna merah hati gelap yang khas dengan penetrasi warna yang dalam dan halus. Secara visual, motifnya menampilkan pola dekoratif yang tidak umum dalam tradisi batik Jawa, menyerupai lambang heraldik atau coat-of-arms Eropa, menunjukkan pengaruh budaya Belanda dalam perkembangan batik Batavia. Komposisi motif yang simetris dan elegan menjadikan kain ini bukan hanya indah secara visual, tetapi juga merekam pertemuan antara tradisi lokal dan pengaruh kolonial dalam sejarah wastra Nusantara.

The Bangbangan Batik Long Cloth is essentially a typical batik motif from the north coast of Java, such as Rembang and Cirebon. The name “bangbangan” comes from the word bang/abang which means red, according to the color that dominates this batik. This cloth is made using manufactured cotton with organic dyes through hand-written batik and vat-dyed techniques, resulting in a distinctive dark red color with deep and subtle color penetration. Visually, the motif displays decorative patterns that are uncommon in the Javanese batik tradition, resembling European heraldic symbols or coats-of-arms, showing the influence of Dutch culture in the development of Batavia batik. The symmetrical and elegant composition of the motif makes this cloth not only visually beautiful, but also records the encounter between local traditions and colonial influences in the history of Indonesian textiles.

6. Batik Garut Merak Ngibing (Sunda – Garut, Jawa Barat)

Kain Panjang Batik dari Garut dikenal melalui karakter warnanya yang cerah, goresan motif yang ekspresif, serta komposisi yang hidup dan dinamis dibandingkan batik keraton Jawa. Salah satu motif yang paling populer adalah Merak Ngibing atau “burung merak menari”, yang menampilkan bentuk merak dengan garis-garis melengkung dan mengalir untuk menggambarkan keanggunan gerak dan keindahan alam. Batik ini dibuat menggunakan kain katun pabrikan dengan pewarna kimia melalui teknik batik tulis tangan, vat-dyed, dan direct-dyed, menghasilkan warna-warna kuat yang menjadi ciri khas batik Garut. Secara visual, motif Merak Ngibing melambangkan keindahan, kemegahan, dan vitalitas, sementara variasi pola yang terus berkembang menunjukkan kreativitas para perajin Garut dalam mempertahankan tradisi sekaligus menyesuaikan diri dengan selera pasar dari masa ke masa.

Kain Panjang Batik from Garut is known for its bright colors, expressive strokes, and lively and dynamic composition compared to Javanese palace batik. One of the most popular motifs is Merak Ngibing or “dancing peacock,” which features a peacock with curved and flowing lines to depict the elegance of movement and the beauty of nature. This batik is made using manufactured cotton fabric with chemical dyes through hand-drawn, vat-dyed, and direct-dyed batik techniques, resulting in the strong colors that are characteristic of Garut batik. Visually, the Merak Ngibing motif symbolizes beauty, splendor, and vitality, while the ever-evolving pattern variations demonstrate the creativity of Garut artisans in maintaining tradition while adapting to market tastes over time.

7. Sarong Batik, San Lok (Jawa, Tionghoa, dan Eropa – Pekalongan, Jawa Tengah)

Sarung Batik San Lok dari Pekalongan memperlihatkan percampuran budaya Jawa, Tionghoa, dan Eropa yang berkembang di kota pesisir tersebut pada masa kolonial. Dibuat menggunakan katun pabrikan dan pewarna kimia melalui teknik batik tulis tangan serta vat-dyed, kain ini didominasi nuansa biru dan hijau yang dalam tradisi Tionghoa-Indonesia digunakan para wanita sebagai warna berkabung setelah upacara pemakaman, menggantikan warna putih yang dipakai saat prosesi utama. Dalam tradisi tersebut, tahapan berkabung berlangsung hingga dua tahun melalui perubahan gradasi warna pakaian. Secara visual, kain ini menampilkan motif bunga bergaya Eropa yang lembut dan dekoratif, sehingga diperkirakan juga dibuat untuk perempuan Belanda pada masa kolonial sebagai busana berkabung. Kehadiran elemen flora Eropa pada komposisi batik pesisir ini menunjukkan bagaimana Pekalongan berkembang sebagai pusat pertemuan budaya dan eksperimen visual dalam sejarah batik Nusantara.

The San Lok Batik Sarong from Pekalongan showcases the blend of Javanese, Chinese, and European cultures that flourished in the coastal city during the colonial era. Made from manufactured cotton and chemical dyes through hand-drawn and vat-dyed batik techniques, the fabric is dominated by shades of blue and green, which in Chinese-Indonesian tradition are worn by women as mourning colors after funerals, replacing the white worn during the main procession. In this tradition, the mourning period lasts for up to two years, with the clothing changing in color. Visually, the fabric features soft, decorative European-style floral motifs, suggesting it was also designed for Dutch women during the colonial era as mourning attire. The presence of European floral elements in the composition of this coastal batik demonstrates how Pekalongan developed as a center of cultural confluence and visual experimentation in the history of Indonesian batik.

8. Songket Jembrana (Bali – Jembrana, Bali)

Wastra Songket dari Jembrana menampilkan komposisi motif yang kaya simbolisme melalui perpaduan naga kosmis bermahkota, bunga teratai, dan deretan “pohon kehidupan” geometris pada bagian ujung kain. Dibuat dari sutra dengan pewarna kimia serta benang emas dan perak melalui teknik tenun polos dan pakan tambahan, kain ini menghadirkan permukaan tekstil yang mewah dengan detail pola yang halus dan berlapis. Dalam tradisi visual Nusantara, naga melambangkan kekuatan kosmis dan perlindungan, sementara bunga teratai merepresentasikan kesucian dan keseimbangan spiritual. Deretan pohon kehidupan pada bagian tepi menjadi simbol kesinambungan hidup dan hubungan antara manusia, alam, dan dunia spiritual. Warna dasar merah anggur yang lembut memperkuat kilau benang emas, menciptakan kontras elegan yang menunjukkan kemegahan sekaligus kehalusan estetika songket Bali.

Jembrana’s Songket textiles feature a richly symbolized motif composition, featuring a crowned cosmic dragon, lotus flowers, and rows of geometric “trees of life” at the edges of the fabric. Crafted from chemically dyed silk and gold and silver threads using a plain weave and overweft technique, the fabric presents a luxurious textile surface with delicate, layered pattern details. In the Indonesian archipelago’s visual tradition, the dragon symbolizes cosmic power and protection, while the lotus flower represents purity and spiritual balance. Rows of trees of life at the edges symbolize the continuity of life and the connection between humans, nature, and the spiritual world. The soft burgundy base color enhances the shimmer of the gold threads, creating an elegant contrast that demonstrates the grandeur and subtle aesthetics of Balinese songket.

9. Dodot (Sasak – Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat)

Dodot dari West Lombok merupakan kain songket yang memperlihatkan kuatnya pengaruh budaya Bali dalam tradisi tekstil Lombok bagian barat. Dibuat dari katun dengan tambahan benang perak melalui teknik plain weave dan supplementary weft, kain ini dikenal melalui pola zigzag berlapis yang menyerupai aliran air, di antara rangkaian motif bunga yang tampak mengapung secara dekoratif. Dalam tradisi visual Jawa dan Bali, motif zigzag sering dimaknai sebagai representasi air, simbol kehidupan, kesuburan, dan aliran energi alam. Kilau benang perak pada permukaan kain memperkuat kesan dinamis dan elegan, sementara komposisi floralnya menghadirkan keseimbangan antara unsur alam dan simbol kosmologis yang menjadi ciri penting wastra di kawasan Nusantara bagian timur.

Dodot from West Lombok is a songket fabric that demonstrates the strong influence of Balinese culture in the textile traditions of western Lombok. Made from cotton with the addition of silver thread through a plain weave and supplementary weft technique, this fabric is known for its layered zigzag pattern that resembles flowing water, among a series of decorative floating floral motifs. In Javanese and Balinese visual traditions, the zigzag motif is often interpreted as a representation of water, a symbol of life, fertility, and the flow of natural energy. The shimmer of silver thread on the fabric’s surface enhances the dynamic and elegant impression, while its floral composition creates a balance between natural elements and cosmological symbols that is an important characteristic of textiles in the eastern Indonesian archipelago.

10. Sarung Perempuan Rote (Rote – Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur)

Wastra tenun dari Rote Island dan kawasan Timor memperlihatkan keragaman visual yang berkembang dari berbagai kelompok masyarakat di pulau tersebut, masing-masing dengan karakter motif dan teknik yang berbeda. Kain-kain ini umumnya dibuat menggunakan teknik ikat lungsi dan pakan tambahan untuk menghasilkan pola yang padat, rumit, dan kaya narasi visual. Secara komposisional, beberapa kain menampilkan garis-garis panjang yang membingkai bagian tengah berisi motif belah ketupat saling terhubung, sementara kain lain menghadirkan figur manusia menunggang kuda, duduk di kursi, hingga bentuk-bentuk hewan imajinatif yang disusun secara bebas dan dekoratif. Motif-motif tersebut tidak hanya berfungsi sebagai ornamen, tetapi juga merekam kehidupan sosial, status, hubungan dengan leluhur, dan pandangan kosmologis masyarakat Timor dan Rote. Dibuat dari benang kapas dengan proses tenun manual yang kompleks, wastra ini menunjukkan bagaimana tekstil di Nusa Tenggara menjadi medium penting untuk menyimpan cerita, identitas, dan ingatan budaya lintas generasi.

Woven textiles from Rote Island and the Timor region demonstrate the evolving visual diversity of the island’s diverse communities, each with distinctive motifs and techniques. These fabrics are typically made using warp and weft ikat techniques to produce dense, intricate patterns rich in visual narrative. Compositionally, some fabrics feature long lines framing a centerpiece containing interconnected rhombus motifs, while others depict human figures riding horses, sitting on chairs, and even imaginative animal forms arranged in a free and decorative manner. These motifs serve not only as ornaments but also capture the social life, status, relationships with ancestors, and cosmological views of the Timorese and Roteese peoples. Crafted from cotton yarn through a complex manual weaving process, these textiles demonstrate how textiles in Nusa Tenggara serve as a vital medium for preserving stories, identities, and cultural memories across generations.

11. Sarung Martapura (Kalimantan Selatan)

Sarung dari Martapura menampilkan karakter wastra yang kaya ornamen melalui perpaduan kain wol berwarna biru gelap dengan sulaman tangan menggunakan benang wol, benang emas, cakram logam perak, tali kulit kayu, dan lapisan katun di bagian dalam. Secara visual, cakram-cakram logam yang berkilau di atas permukaan kain menciptakan kesan menyerupai bintang di langit malam, memberikan dimensi cahaya yang kontras terhadap tekstur sulaman yang kasar dan padat. Kombinasi material tekstil dan elemen logam ini menunjukkan pengaruh estetika lokal Kalimantan yang dekat dengan simbol alam dan kemewahan dekoratif. Selain berfungsi sebagai busana adat, sarung ini juga merepresentasikan status sosial dan keterampilan kerajinan tangan yang tinggi melalui detail bordir manual dan penggunaan material yang beragam dalam satu komposisi kain.

The sarong from Martapura displays the richly ornamented character of traditional textiles through a combination of dark blue wool fabric with hand-embroidered wool thread, gold thread, silver metal discs, bark rope, and a cotton lining on the inside. Visually, the shiny metal discs on the surface of the fabric create the impression of stars in the night sky, providing a contrasting dimension of light against the rough and dense texture of the embroidery. This combination of textile materials and metal elements demonstrates the influence of local Kalimantan aesthetics that are close to symbols of nature and decorative luxury. Besides functioning as traditional clothing, this sarong also represents high social status and handicraft skills through detailed manual embroidery and the use of diverse materials in one fabric composition.

12. Kalambi (Dayak Iban – Sintang, Kalimantan Barat)

Kalambi adalah pakaian adat dari Suku Dayak di Kalimantan berupa jaket atau rompi (tanpa lengan). Kalambi biasanya dikenakan oleh laki-laki untuk memimpin ritual, juga oleh perempuan penting di dalam suku. Material yang digunakan beragam: kalambi bisa terbuat dari kulit kayu, tenun, atau kain berhias manik-manik. Kalambi dari Suku Dayak Iban ini dibuat dengan menggunakan teknik tenun yang unik. Motifnya dibentuk dari tenunan dasar, sementara pakan tambahan berupa benang berwarna-warni justru mengisi latar belakang. Motif bunga sidan pada kalambi biasanya melambangkan keanggunan, keberanian, serta keselarasan manusia dan alam.

Kalambi is the traditional clothing of the Dayak people of Kalimantan, consisting of a sleeveless jacket or vest. Kalambi is typically worn by men to lead rituals, as well as by important women within the tribe. Materials used vary: kalambi can be made from bark, woven fabric, or beaded fabric. The Iban Dayak kalambi is made using a unique weaving technique. The motif is formed from the base weave, while additional colored weft threads fill the background. The sidan flower motif on the kalambi typically symbolizes elegance, courage, and the harmony of humans and nature.

13. Kain Songket Sambas (Melayu – Sambas, Kalimantan Barat)

Songket Sambas adalah kain tenun dari Kalimantan Barat yang merupakan hasil perpaduan budaya Melayu, Tionghoa, India, dan Dayak pesisir. Seperti songket dari Sumatra, penggunaan benang emas atau perak menjadi ciri khas songket ini dengan pola yang terinspirasi dari nilai Islam dan alam, khususnya pola floral. Motif bunga melur/melati melambangkan kesucian, kesopanan, dan keanggunan. Selain di Sambas, songket dari Kalimantan bisa ditemukan juga di Ketapang dan Pontianak. Dalam tradisi tenun Sambas, benang emas lama sangat dihargai karena ringan, kuat, dan memiliki warna yang tahan lama tanpa mudah pudar, meskipun kini jenis benang tersebut sudah sulit ditemukan di pasaran. Saat ini para perajin umumnya menggunakan benang emas dari Jepang dan India, masing-masing dengan kualitas yang berbeda; benang Jepang dikenal lebih halus, tahan lama, dan stabil warnanya, sedangkan benang India memiliki tekstur lebih kasar dan warna yang lebih mudah berubah. Ditenun secara manual melalui teknik pakan tambahan di atas dasar kain sutra atau katun, kilau benang emas pada Songket Sambas tidak hanya menciptakan kesan mewah, tetapi juga merepresentasikan nilai prestise, keterampilan perajin, dan kesinambungan tradisi tekstil Melayu di Kalimantan Barat.

Sambas songket is a woven fabric from West Kalimantan that is a blend of Malay, Chinese, Indian, and coastal Dayak cultures. Like songket from Sumatra, the use of gold or silver thread is a characteristic of this songket, with patterns inspired by Islamic values ​​and nature, particularly floral patterns. The melur/jasmine flower motif symbolizes purity, modesty, and elegance. Besides Sambas, songket from Kalimantan can also be found in Ketapang and Pontianak. In the Sambas weaving tradition, old gold thread is highly valued for its lightness, strength, and long-lasting color that does not easily fade, although this type of thread is now difficult to find in the market. Today, artisans generally use gold thread from Japan and India, each with different qualities; Japanese thread is known to be smoother, more durable, and color-stable, while Indian thread has a coarser texture and color changes more easily. Hand-woven using an additional weft technique on a silk or cotton base, the sheen of gold thread on Sambas Songket not only creates a luxurious impression, but also represents the prestige, craftsmanship, and continuity of Malay textile traditions in West Kalimantan.

14. Kain Sekomandi (Kalumpang – Mamuju, Sulawesi Barat)

Kain Sekomandi dari Mamuju merupakan tenun tradisional yang digunakan dalam berbagai upacara adat masyarakat Kalumpang. Dipercaya telah hadir sejak lebih dari 400 hingga hampir 500 tahun lalu, menjadikannya salah satu tradisi tenun tertua di Sulawesi Barat. Kain ini dianggap memiliki kekuatan magis dan awalnya hanya dipakai untuk membatasi ruang upacara, menutupi mayat, membayar denda, atau seserahan pengantin. Nama “Sekomandi” ditafsirkan dari kata “seko” yang berarti persaudaraan atau kekeluargaan, dan “mandi” yang berarti kuat dan erat—membentuk makna tentang ikatan persaudaraan yang erat dalam kehidupan masyarakat adat Kalumpang. Dibuat menggunakan teknik ikat lungsi, ragam hiasnya yang terdiri dari jaringan belah ketupat (irisan wajik) berkait-kait relatif statis. Konon, untuk memperoleh warna merah khas kain sekomandi itu larutan pewarna merah dicampuri cabe yang telah digerus halus.

Sekomandi cloth from Mamuju is a traditional weaving used in various Kalumpang ceremonies. It is believed to have existed for over 400 to nearly 500 years, making it one of the oldest weaving traditions in West Sulawesi. This cloth is considered to have magical powers and was originally used only to demarcate ceremonial spaces, cover corpses, pay fines, or as a bridal gift. The name “Sekomandi” is interpreted from the words “seko,” meaning brotherhood or kinship, and “mandi,” meaning strong and close—conveying the meaning of the strong bonds of brotherhood in the lives of the Kalumpang indigenous people. Created using the ikat warp technique, its decorative motifs, consisting of a network of interlocking rhombuses (diamond-shaped slices), remain relatively static. It is said that to obtain the distinctive red color of sekomandi cloth, finely ground chili peppers are mixed with the red dye solution.

15. Kalimbu Gambara Subik (Bugis – Bira/Selayar, Sulawesi Selatan)

Kalimbu Gambara Subik dari Bira-Selayar merupakan kain tenun tradisional yang memiliki fungsi penting dalam siklus kehidupan masyarakat setempat, digunakan saat kelahiran, pernikahan, dan kematian. Kain ini dibuat dari benang kapas pintal tangan dan mesin dengan pewarna organik maupun kimia melalui teknik tenun polos dan pakan tambahan, menghasilkan permukaan tekstil dengan pola dekoratif yang sederhana namun sarat makna ritual. Secara tradisional, kain ini pertama kali digunakan sebagai selimut saat kelahiran, kemudian sebagai kain penutup pengantin, dan terakhir untuk menyelimuti jenazah. Setelah digunakan dalam prosesi kematian, bagian ujung kain dijahit kembali sehingga kain tersebut tidak boleh lagi dipakai untuk kelahiran maupun pernikahan. Tradisi ini menunjukkan bagaimana wastra di Sulawesi Selatan tidak hanya berfungsi sebagai pakaian atau benda seremonial, tetapi juga sebagai penanda perjalanan hidup manusia dari lahir hingga meninggal dunia. Filosofinya menekankan keseimbangan, religiusitas, dan hubungan harmonis antara manusia dengan sesama dan dengan Tuhan. Motif kotak-kotak atau garis horizontal-vertikal dibaca sebagai simbol keteraturan hidup dan keseimbangan kosmos.

Kalimbu Gambara Subik from Bira-Selayar is a traditional woven fabric that plays a vital role in the local life cycle, worn at births, weddings, and deaths. It is made from hand- and machine-spun cotton yarn with organic and chemical dyes through plain weaving and weft weaving techniques, resulting in a textile surface with simple decorative patterns yet rich in ritual meaning. Traditionally, this fabric was first used as a birth blanket, then as a bridal veil, and finally to shroud the body. After being used in a funeral procession, the edges of the fabric are sewn back together so that it can no longer be used for births or weddings. This tradition demonstrates how textiles in South Sulawesi serve not only as clothing or ceremonial objects, but also as markers of the human journey from birth to death. Its philosophy emphasizes balance, religiosity, and harmonious relationships between humans and God. Checkered or horizontal-vertical striped motifs are interpreted as symbols of order in life and cosmic balance.

16. Kain Koffo (Sangihe–Talaud – Sulawesi Utara)

Kain Koffo dari tradisi Sangihe dan Talaud merupakan tekstil tradisional yang dibuat dari serat Musa textilis atau serat koffo, sejenis tanaman pisang yang diolah menjadi benang tenun. Menggunakan pewarna organik serta teknik plain weave dan supplementary weft, kain ini menampilkan pola dekoratif yang rumit dan ornamental, yang diperkirakan terinspirasi dari buku bordir Eropa akibat pengaruh perdagangan dan pertemuan budaya di kawasan kepulauan tersebut. Secara visual, motifnya menghadirkan komposisi geometris dan floral yang padat dengan detail halus pada permukaan kain. Dalam tradisi berpakaian bangsawan, kain koffo digunakan sebagai penutup kepala atau busana adat oleh putra raja, sementara putri raja memakainya sebagai sarung atau selendang. Seiring berkembangnya waktu, warga menggunakannya sebagai tirai pembatas ruang dalam rumah tradisional masyarakat Sangihe-Talaud, menunjukkan bahwa wastra di wilayah ini tidak hanya berfungsi sebagai pakaian, tetapi juga menjadi bagian penting dari elemen interior dan kehidupan domestik masyarakat pesisir Nusantara.

Koffo cloth from the Sangihe and Talaud traditions is a traditional textile made from Musa textilis fiber or koffo fiber, a type of banana plant that is processed into woven yarn. Using organic dyes and plain weave and supplementary weft techniques, this cloth displays intricate and ornamental decorative patterns, which are thought to be inspired by European embroidery books due to the influence of trade and cultural encounters in the archipelago region. Visually, the motifs present dense geometric and floral compositions with fine details on the surface of the cloth. In the tradition of noble attire, koffo cloth is used as a head covering or traditional clothing by the king’s sons, while the king’s daughters wear it as a sarong or shawl. Over time, residents use it as a room divider curtain in the traditional houses of the Sangihe-Talaud people, showing that wastra in this region does not only function as clothing, but also becomes an important part of the interior elements and domestic life of the coastal communities of the archipelago.

17. Kain Tenun Tanimbar (Tanimbar – Kepulauan Maluku)

Kain Tenun Tanimbar dari dikenal melalui komposisi geometris yang ritmis dengan penggunaan teknik ikat lungsi yang menjadi ciri khas tekstil di kawasan Kepulauan Maluku. Secara visual, kain ini menampilkan susunan garis-garis tipis berisi motif geometris sederhana dan sulur dekoratif yang diselingi bidang lebih lebar dengan pola yang lebih kompleks, menciptakan keseimbangan antara keteraturan dan variasi ornamen. Pada umumnya kainnya berwarna gelap dengan ragam hias berwarna asli benang sebelum dicelup dengan sentuhan berupa garis-garis berwarna merah darah, biru batu pirus ataupun kuning. Dibuat melalui proses tenun manual yang membutuhkan ketelitian tinggi dalam pengikatan dan pewarnaan benang sebelum ditenun, motif-motif pada kain Tanimbar merepresentasikan keterhubungan masyarakat dengan alam, struktur sosial, dan tradisi leluhur yang diwariskan turun-temurun. Kesederhanaan bentuk geometrisnya sekaligus menunjukkan karakter estetika tekstil Maluku yang halus, terukur, dan dekat dengan pola-pola simbolik dalam kehidupan masyarakat kepulauan.

Tanimbar woven cloth is known for its rhythmic geometric compositions using the ikat warp technique, a characteristic of textiles in the Maluku Islands region. Visually, this cloth displays an arrangement of thin lines containing simple geometric motifs and decorative tendrils interspersed with wider areas with more complex patterns, creating a balance between regularity and ornamental variation. In general, the cloth is dark in color with decorative motifs that are the original color of the yarn before being dyed with touches of blood red, turquoise blue, or yellow stripes. Created through a manual weaving process that requires high precision in tying and dyeing the yarn before weaving, the motifs on Tanimbar cloth represent the community’s connection with nature, social structures, and ancestral traditions passed down from generation to generation. The simplicity of its geometric forms also demonstrates the aesthetic character of Maluku textiles which are refined, measured, and close to the symbolic patterns in the lives of island communities.

18. Kain Tenun Kisar (Suku Meher, Suku Oirata – Pulau Kisar, Kepulauan Maluku)

Berasal dari Pulau Kisar di Maluku, kain Kisar dibuat dengan teknik ikat lungsi. Coraknya berupa garis-garis halus diselingi jalur-jalur lebar berisi ornamen yang terinspirasi dari kain Patola dari India melalui pola geometris dan komposisi simetris. Terkadang juga menampilkan adegan manusia berburu, naik kuda, burung berkepala dua dan ayam jago, seperti lukisan prasejarah yang ditemukan di dinding gua-gua cadas pulau tersebut. Ragam simbol tersebut merepresentasikan keberanian, status sosial, perlindungan, serta hubungan spiritual masyarakat kepulauan dengan alam dan leluhur. Warna merah merepresentasikan tanah Kisar, sementara hitam menjadi simbol kesatuan dengan bumi. Dibuat melalui proses pengikatan dan pewarnaan benang sebelum ditenun, kain Kisar menunjukkan bagaimana jalur perdagangan antarpulau membentuk perkembangan visual wastra Maluku tanpa menghilangkan identitas budaya lokal yang kuat.

Originating from Kisar Island in Maluku, Kisar cloth is made using the ikat warp technique. Its pattern consists of fine lines interspersed with wide bands of ornamentation inspired by India’s Patola cloth through geometric patterns and symmetrical compositions. It sometimes also features scenes of humans hunting, riding horses, two-headed birds, and roosters, similar to prehistoric paintings found on the walls of the island’s rock caves. These symbols represent courage, social status, protection, and the islanders’ spiritual connection to nature and ancestors. Red represents the land of Kisar, while black symbolizes unity with the earth. Created through a process of tying and dyeing yarn before weaving, Kisar cloth demonstrates how inter-island trade routes shaped the visual development of Maluku textiles without diminishing their strong local cultural identity.

19. Kain Timur (Maybrat – Sorong, Papua Barat Daya)

Berasal dari Papua Barat, Kain Timur dibuat menggunakan teknik ikat lungsi yang diperkenalkan oleh pendatang dari Timor dan Flores, di mana polanya dibuat dengan mewarnai benang vertikal (lungsi) sesuai motif akhir sebelum ditenun oleh karenanya sering juga disebut sebagai Kain Ikat Lungsi. Oleh karenanya, terdapat kemiripan motif dengan yang ditemukan di Nusa Tenggara melalui pola geometris berulang dan susunan garis yang ritmis, menunjukkan adanya hubungan budaya dan jalur migrasi antarkepulauan di Indonesia timur. Warna merah biasanya melambangkan keberanian dan pengorbanan, warna hitam mengandung arti perlindungan dan kekuatan, sedangkan warna putih melambangkan kesucian dan niat baik. Kain Timur biasa digunakan sebagai ritus atau bagian dari alat upacara adat, mahar kawin, atau denda adat, menjadi lambang persatuan dan perdamaian. Di beberapa tempat digunakan juga sebagai alat pembayaran.

Originating from West Papua, Kain Timur is made using the ikat warp technique introduced by immigrants from Timor and Flores, where the pattern is created by dyeing vertical threads (warp) according to the final motif before being woven, therefore it is often also called Kain Ikat Lungsi. Therefore, there are similarities in motifs with those found in Nusa Tenggara through repetitive geometric patterns and rhythmic line arrangements, indicating cultural connections and migration routes between the islands of eastern Indonesia. The color red usually symbolizes courage and sacrifice, black contains the meaning of protection and strength, while white symbolizes purity and good intentions. Kain Timur is usually used as a ritual or part of traditional ceremonial tools, wedding dowries, or customary fines, becoming a symbol of unity and peace. In some places it is also used as a means of payment.

20. Kain Palepai (Saibatin/Peminggir – Lampung Selatan)

Kain Palepai merupakan wastra tradisional masyarakat pesisir Lampung. Dalam tradisi Lampung, motif perahu dan pohon hayat juga sering dibaca sebagai simbol perjalanan hidup manusia dan keterhubungan antara dunia nyata dan alam luhur. Pada masa awal, simbol kapal juga dipahami sebagai kendaraan roh; setelah pengaruh Islam menguat, maknanya bergeser menjadi simbol perjuangan, keteguhan iman, dan arah hidup. Figur-figur di sekitar kapal menegaskan keterhubungan masyarakat pesisir dengan alam, leluhur, dan tatanan sosial. Kain ini digunakan dalam berbagai upacara adat penting seperti pernikahan, kelahiran, hingga kematian, menjadikannya bagian penting dalam siklus kehidupan masyarakat Lampung. Palepai ditenun menggunakan teknik tradisional dengan pewarna alami seperti kayu sepang untuk merah, kunyit untuk kuning, dan indigo untuk biru, menghasilkan warna-warna hangat yang erat dengan alam dan tradisi lokal. Selain berfungsi sebagai kain seremonial, Palepai juga merepresentasikan status sosial dan nilai kosmologis dalam budaya Lampung.

Palepai cloth is a traditional textile of the coastal communities of Lampung. In Lampung tradition, the boat and tree of life motifs are often interpreted as symbols of the human journey and the connection between the real world and the sublime. In early times, the ship symbol was also understood as a vehicle for the spirit; after the influence of Islam strengthened, its meaning shifted to symbolize struggle, steadfastness of faith, and direction in life. The figures surrounding the ship emphasize the connection of coastal communities to nature, ancestors, and the social order. This cloth is used in various important traditional ceremonies such as weddings, births, and deaths, making it an essential part of the Lampung life cycle. Palepai is woven using traditional techniques with natural dyes such as sepang wood for red, turmeric for yellow, and indigo for blue, producing warm colors closely associated with nature and local traditions. In addition to its function as a ceremonial cloth, Palepai also represents social status and cosmological values ​​in Lampung culture.

21. Kain Tampan (Saibatin/Peminggir – Danau Ranau, Lampung)

Kain Tampan atau *Ship Cloth* dari Lampung merupakan kain seremonial tradisional yang memiliki fungsi penting dalam berbagai ritual adat masyarakat Lampung. Nama “tampan” berarti nampan atau alas sajian, karena kain ini dahulu digunakan untuk menutup hadiah, alas baki persembahan, hingga bagian dari ritual pernikahan, khitanan, kelahiran, pembangunan rumah adat, dan prosesi kematian. Dibuat dari kapas pintal tangan dengan pewarna organik melalui teknik plain weave dan supplementary weft, kain ini dikenal melalui motif kapal yang khas sebagai simbol perjalanan hidup, perjalanan spiritual, dan hubungan manusia dengan dunia leluhur. Kehadiran simbol kapal juga merefleksikan budaya maritim masyarakat Lampung yang erat dengan laut dan jalur perdagangan antarpulau. Secara visual, motif kapal biasanya dipadukan dengan susunan geometris dan ornamen simbolik lain yang tersusun simetris di permukaan kain. Kain Tampan tidak lagi diproduksi sejak awal abad ke-20, menjadikannya salah satu wastra penting yang menyimpan jejak kosmologi dan tradisi ritual masyarakat Lampung masa lalu.

Tampan Cloth or Ship Cloth from Lampung is a traditional ceremonial cloth that has an important function in various traditional rituals of the Lampung people. The name “tampan” means tray or serving mat, because this cloth was once used to cover gifts, place offering trays, and even as part of wedding rituals, circumcisions, births, traditional house construction, and death processions. Made from hand-spun cotton with organic dyes through plain weave and supplementary weft techniques, this cloth is known for its distinctive ship motif as a symbol of life’s journey, spiritual journey, and human connection with the ancestral world. The presence of the ship symbol also reflects the maritime culture of the Lampung people who are closely related to the sea and inter-island trade routes. Visually, the ship motif is usually combined with geometric arrangements and other symbolic ornaments arranged symmetrically on the surface of the cloth. Tampan cloth is no longer produced since the early 20th century, making it one of the important textiles that preserves traces of the cosmology and ritual traditions of the Lampung people of the past.

22. Batik Lokcan (Jawa Pesisir, Tionghoa – Lasem, Rembang, Jawa Tengah)

Motif Lokcan dari Lasem merupakan salah satu pola batik pesisir yang berkembang kuat di sepanjang pantai utara Jawa melalui pertemuan budaya Jawa dan Tionghoa. Secara visual, motif ini dikenal melalui susunan ornamen yang rumit dengan representasi stilisasi alam seperti bunga teratai, burung, awan, serta bentuk-bentuk dekoratif abstrak yang kaya detail. Pengaruh estetika Tionghoa terlihat jelas pada komposisi yang padat dan simbolik, sementara teknik dan struktur batiknya tetap berakar pada tradisi Jawa pesisir. Dalam maknanya, motif-motif Lokcan melambangkan keberuntungan, kemakmuran, umur panjang, dan harmoni hidup, nilai-nilai yang penting dalam budaya Jawa maupun Tionghoa. Dibuat menggunakan teknik batik tulis dengan warna-warna khas pesisir yang berani dan kontras seperti biru, putih, krem, dan merah, motif Lokcan menjadi salah satu contoh penting bagaimana perdagangan dan migrasi membentuk identitas visual batik Nusantara.

The Lokcan motif from Lasem is a coastal batik pattern that developed strongly along the north coast of Java through the intersection of Javanese and Chinese cultures. Visually, this motif is known for its intricate ornamental arrangements with stylized representations of nature such as lotus flowers, birds, and clouds, as well as richly detailed abstract decorative forms. The influence of Chinese aesthetics is evident in the dense and symbolic compositions, while the batik technique and structure remain rooted in coastal Javanese traditions. In their meaning, Lokcan motifs symbolize good luck, prosperity, longevity, and harmony—values ​​important in both Javanese and Chinese cultures. Created using the batik tulis technique with bold, contrasting coastal colors such as blue, white, cream, and red, the Lokcan motif serves as a key example of how trade and migration shaped the visual identity of Indonesian batik.

23. Peksi Jawata (Jawa – Surakarta, Jawa Tengah)

Motif Peksi Jawata dari Surakarta merupakan motif kontemporer yang berkembang dalam seni batik dan tenun Jawa dengan menghadirkan figur burung sebagai elemen utama. Dalam bahasa Jawa, “peksi” berarti burung, sedangkan “jawata” merujuk pada makhluk spiritual atau sosok berkekuatan luhur, sehingga motif ini melambangkan hubungan antara dunia manusia dan dunia spiritual. Secara visual, Peksi Jawata biasanya digambarkan melalui bentuk burung yang anggun dan dekoratif dengan detail sayap, ekor, serta ornamen tumbuhan yang kaya simbolisme. Dalam budaya Jawa, burung dipandang sebagai simbol kemuliaan, kebebasan jiwa, kesucian, dan kewibawaan, sementara keseluruhan motifnya juga dimaknai sebagai doa akan perlindungan, keselamatan, dan berkah bagi pemakainya. Umumnya digunakan dalam upacara adat dan ritual budaya, motif Peksi Jawata menunjukkan bagaimana tradisi visual Jawa terus berkembang melalui interpretasi baru tanpa melepaskan akar filosofis dan spiritualnya.

The Peksi Jawata motif from Surakarta is a contemporary motif that has developed in Javanese batik and weaving art, featuring the figure of a bird as a central element. In Javanese, “peksi” means bird, while “jawata” refers to a spiritual being or figure of great power, thus symbolizing the connection between the human world and the spiritual world. Visually, Peksi Jawata is usually depicted through the form of a graceful and decorative bird with detailed wings, tail, and plant ornaments rich in symbolism. In Javanese culture, birds are seen as symbols of nobility, freedom of the soul, purity, and authority, while the overall motif is also interpreted as a prayer for protection, safety, and blessings for the wearer. Commonly used in traditional ceremonies and cultural rituals, the Peksi Jawata motif demonstrates how Javanese visual traditions continue to evolve through new interpretations without abandoning their philosophical and spiritual roots.

24. Pakis (Jawa – Mangkunegara, Surakarta, Jawa Tengah)

Motif Pakis dari lingkungan Pura Mangkunegaran merupakan salah satu motif populer dalam tradisi batik dan tenun Jawa yang terinspirasi dari bentuk tanaman pakis dengan daun melingkar dan meruncing. Secara visual, motif ini menghadirkan susunan sulur dan lengkung daun yang ritmis, menciptakan komposisi yang lembut sekaligus dinamis. Dalam budaya Jawa, tanaman pakis melambangkan pertumbuhan, kesuburan, keberlanjutan, serta keseimbangan hidup, karena kemampuannya tumbuh subur di berbagai lingkungan. Motif ini juga merepresentasikan hubungan harmonis antara manusia dan alam, di mana alam dipandang sebagai sumber kehidupan dan kemakmuran. Dalam konteks batik Mangkunegaran, motif-motif baru seperti Buketan Pakis juga mencerminkan semangat pembaruan tanpa meninggalkan pakem. Warna yang digunakan lebih cerah dan berani—menunjukkan kekhawasan batik Mangkunegaran—seperti cokelat sogan, kuning keemasan, hijau, dan biru. Umumnya digunakan dalam berbagai upacara adat maupun busana sehari-hari, motif Pakis menunjukkan bagaimana unsur flora lokal diterjemahkan menjadi simbol filosofis dalam estetika wastra Jawa.

The Pakis motif from the Mangkunegaran Palace is a popular motif in Javanese batik and weaving traditions, inspired by the fern plant’s circular, tapering leaves. Visually, this motif presents a rhythmic arrangement of tendrils and curved leaves, creating a composition that is both soft and dynamic. In Javanese culture, the fern symbolizes growth, fertility, sustainability, and balance, due to its ability to thrive in various environments. This motif also represents the harmonious relationship between humans and nature, where nature is seen as a source of life and prosperity. In the context of Mangkunegaran batik, new motifs such as Buketan Pakis also reflect the spirit of renewal without abandoning the traditional style. The colors used are brighter and bolder—showing the distinctiveness of Mangkunegaran batik—such as sogan brown, golden yellow, green, and blue. Commonly used in various traditional ceremonies and everyday clothing, the Pakis motif demonstrates how local floral elements are translated into philosophical symbols within the aesthetics of Javanese textiles.

25. Tenun Iban (Dayak Iban – Kalimantan Barat)

Kain tenun Iban dari Kalimantan Barat merupakan wastra tradisional masyarakat Dayak Iban yang dikenal melalui motif-motif asimetris dengan representasi figur manusia, flora, dan fauna dari lingkungan alam sekitarnya. Secara visual, pola pada tenun ikat Iban tampil ekspresif dan dinamis, mencerminkan hubungan erat masyarakat Dayak dengan alam, leluhur, dan kehidupan spiritual. Warna merah, hitam, kuning, putih, dan hijau menjadi palet dominan yang masing-masing memiliki makna simbolik terkait keberanian, perlindungan, kesucian, kesuburan, dan keseimbangan hidup. Kain ini umumnya dibuat dari serat alami seperti kapas atau serat daun melalui teknik ikat, di mana benang diikat dan diwarnai terlebih dahulu sebelum ditenun menggunakan pewarna alami dari tumbuhan dan akar-akaran. Selain berfungsi sebagai pakaian adat, tenun Iban juga menjadi penanda identitas budaya dan bagian penting dari tradisi ritual masyarakat Dayak di Kalimantan.

Iban woven cloth from West Kalimantan is a traditional textile of the Iban Dayak people, known for its asymmetrical motifs depicting human figures, flora, and fauna from their natural surroundings. Visually, the patterns in Iban ikat weaving are expressive and dynamic, reflecting the Dayak people’s close relationship with nature, ancestors, and spiritual life. Red, black, yellow, white, and green are the dominant colors, each with symbolic meanings related to courage, protection, purity, fertility, and balance in life. This cloth is generally made from natural fibers such as cotton or leaf fibers through an ikat technique, where the threads are tied and dyed before being woven using natural dyes from plants and roots. In addition to serving as traditional clothing, Iban weaving also serves as a marker of cultural identity and an important part of the ritual traditions of the Dayak people in Kalimantan.

26. Batik Sekar Jagad (Jawa – Solo, Jawa Tengah)

Batik Sekar Jagad berasal dari Solo dan Yogyakarta, dikenal sejak abad ke-18 sebagai motif batik klasik yang melambangkan keindahan dan keberagaman dunia. Nama “Sekar Jagad” berasal dari kata “sekar” yang berarti bunga dan “jagad” yang berarti semesta, meski ada pula pendapat yang mengaitkannya dengan kata kaart (peta dalam bahasa Belanda) karena pola kainnya menyerupai susunan pulau atau mosaik dunia. Secara visual, motif ini ditandai oleh bidang-bidang lengkung yang diisi ragam ornamen seperti kawung, truntum, flora, dan fauna, menciptakan komposisi yang kaya namun harmonis. Filosofinya merepresentasikan keberagaman manusia dan alam yang hidup berdampingan dalam keseimbangan. Batik Sekar Jagad umumnya dibuat dengan teknik batik tulis menggunakan kain katun atau sutra, serta warna-warna tradisional seperti sogan coklat, hitam, dan biru tua yang melambangkan kebijaksanaan, ketenangan, dan kedekatan dengan alam. Warna merah dan biru pada beberapa varian menunjukkan pengaruh budaya Cina.

Sekar Jagad batik originates from Solo and Yogyakarta, and has been known since the 18th century as a classic batik motif symbolizing the beauty and diversity of the world. The name “Sekar Jagad” comes from the words “sekar” meaning flower and “jagad” meaning universe, although some believe it is related to the word “kaart” (map in Dutch), as the pattern resembles an arrangement of islands or a mosaic of the world. Visually, this motif is characterized by curved areas filled with various ornaments such as kawung, truntum, flora, and fauna, creating a rich yet harmonious composition. Its philosophy represents the diversity of humans and nature coexisting in balance. Sekar Jagad batik is generally made using the hand-drawn batik technique on cotton or silk fabric, and traditional colors such as brown sogan, black, and dark blue symbolize wisdom, serenity, and closeness to nature. The red and blue colors in some variants indicate Chinese cultural influences.

27. Sawunggaling Latar Banyumili (Jawa – Surabaya, Jawa Timur)

Batik Sawunggaling merupakan motif batik Jawa yang menampilkan figur ayam jago sebagai simbol keberanian, kekuatan, dan semangat hidup. Dalam budaya Jawa, “sawung” merujuk pada ayam jantan dan “galing” berarti merak jantan yang dianggap merepresentasikan keberanian dalam menghadapi tantangan, daya hidup yang tidak mudah padam, serta keindahan. Pada varian Sawunggaling dengan latar Banyumili, figur ayam-merak biasanya dipadukan dengan ornamen alam seperti daun, bunga, dan elemen tumbuhan yang melambangkan harmoni antara manusia dan alam. Secara visual, motif ini dikenal sangat rinci dengan susunan pola yang padat dan dekoratif, sehingga proses pembuatannya melalui teknik batik tulis dapat memakan waktu hingga 6–7 bulan. Umumnya menggunakan kain katun atau sutra dengan warna-warna tradisional Jawa, Batik Sawunggaling banyak dipakai dalam upacara adat dan momen penting seperti pernikahan sebagai simbol harapan akan keberuntungan, keteguhan, dan kesejahteraan bagi pemakainya.

Sawunggaling batik is a Javanese batik motif featuring a rooster as a symbol of courage, strength, and zest for life. In Javanese culture, “sawung” refers to a rooster and “galing” means a peacock, which is considered to represent courage in facing challenges, an undying vitality, and beauty. In the Sawunggaling variant with a Banyumili background, the rooster and peacock figures are usually combined with natural ornaments such as leaves, flowers, and plant elements that symbolize harmony between humans and nature. Visually, this motif is known for its high detail with dense and decorative patterns, so the process of making it using the hand-drawn batik technique can take up to 6–7 months. Generally using cotton or silk fabric in traditional Javanese colors, Sawunggaling batik is often worn in traditional ceremonies and important moments such as weddings as a symbol of hope for good luck, steadfastness, and prosperity for the wearer.

28. Batik Nitik (Jawa – DI Yogyakarta)

Berasal dari DIY, motif nitik termasuk motif tertua yang berkembang di lingkungan Keraton Kasultanan Yogyakarta. Batik Nitik digambar menggunakan canting cawang yang cucuknya dibelah menjadi empat dan saat dioleskan menghasilkan titik-titik persegi seperti pola piksel. Teknik ini awalnya diciptakan untuk meniru tenun patola dari India yang mahal. Motif geometris yang modular dan simetris bermakna keteraturan relasi manusia, Tuhan, dan alam semesta. Dengan teknik menitik alih-alih menggores, dibutuhkan kesabaran dan ketelitian tinggi untuk membuat batik nitik, apalagi seringkali dibuat tanpa gambar pola terlebih dahulu. Maka tak heran bila batik nitik sering dianggap sebagai simbol keuletan dan ketekunan. Motif yang serupa dengan batik nitik, terutama yang terinspirasi dari tenun patola juga bisa ditemukan di Sumatera, Sumba, Bali

Originating from the Special Region of Yogyakarta (DIY), the nitik motif is one of the oldest motifs developed within the Yogyakarta Sultanate Palace. Nitik batik is drawn using a canting cawang (a type of hand-held pen) whose tip is split into four, creating square dots that resemble pixelated patterns. This technique was originally created to imitate the expensive patola weaving from India. The modular and symmetrical geometric motifs symbolize the orderly relationship between humans, God, and the universe. Using a dotting technique rather than a scratching technique, nitik batik requires great patience and precision, especially since it is often made without a prior pattern. It’s no wonder, then, that nitik batik is often seen as a symbol of tenacity and perseverance. Similar motifs to nitik batik, particularly those inspired by patola weaving, can also be found in Sumatra, Sumba, and Bali.

29. Pa’Doti Langi’ (Toraja – Sulawesi Selatan)

Pa’Doti Langi’ adalah motif ukiran utama dari Toraja, Sulawesi Selatan yang secara harfiah berarti “ilmu langit”. Motifnya berupa palang berjejer dengan bintang di tengah, seperti berasal dari langit. Motif ukiran ini sering ditemukan di rumah Tongkonan pusaka, atau pada usungan jenazah wanita bangsawan. Pa’Doti Langi’ menjadi simbol kepintaran atau prestasi, kearifan, ketenangan, serta cita-cita yang tinggi atau pemikiran yang jauh ke depan

Pa’Doti Langi’ is a primary carving motif from Toraja, South Sulawesi, which literally means “celestial knowledge.” The motif features a line of bars with a star in the center, as if originating from the heavens. This carving motif is often found in heirloom Tongkonan houses, or on the biers of noblewomen. Pa’Doti Langi’ symbolizes intelligence or achievement, wisdom, serenity, and lofty ideals or forward-thinking.

Reference:
[1] Judy Achjadi and Mariah Waworuntu, Adiwastra Nusantara: Masterpieces of the Islands, Jakarta: Himpunan Wastraprema & Dian Rakyat, 2010.
[2] Dhorifi Zumar, Tenun Tradisional Indonesia, Jakarta: Dewan Kerajinan Nasional bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah Departemen Perindustrian, 2009.
[3] Irawati Suroyo Bambang As., Isen-Isen: Dalam Batik Tati Suroyo – The Passion of Tati Suroyo, Jakarta: Ciriajasa Rancang Bangun, 2012.
[4] Fiona Kerlogue, The Book of Batik, Singapore: Archipelago Press, 2004.
[5] KRT Dr. H. Kalinggo Honggopuro (Prof. Kusnin Asa), Mosaic of Indonesian Batik, Jakarta: Danar Hadi, 1997.
[6] Damais, Asmoro. Wawancara oleh Realrich Sjarief. Wawancara pribadi. Jakarta, 31 Juli 2024.

Asmoro Damais

Asmoro Damais lahir dari pasangan pria prancis dan wanita Jawa pada 20 Mei 1948 di Amsterdam. Bernama asli Tatyana Griselidis Asmorodewi, ia tumbuh besar dalam lingkungan yang sarat dengan sejarah, seni, dan budaya. Ayahnya seorang sejarawan dan ibunya merupakan keturunan Keraton Yogyakarta. Ia sendiri belajar Bahasa Perancis di Paris sebelum akhirnya kembali ke Indonesia. Koleksi batik yang dikumpulkan kakaknya menjadi pemantik baginya untuk memulai penulusuran terhadap sejarah dari kain batik. Asmoro juga menunjukkan ketertarikan pada kebaya yang pada akhirnya turut mengantarkannya pada keberagaman wastra yang ada di penjuru nusantara. Sejak tahun 1970-an, ia sudah mulai merancang motif batik dan kini telah menghasilkan ratusan karya. Asmoro juga menulis banyak buku tentang batik dan tekstil Indonesia, seperti Tenun Nusantara (2009); Sulam & Bordir Nusantara, Dekranas Pusat (2009); Katalogis Hardjono Go Tik Swan, Wastra & Busana Indonesia (2009); Filigri, Yayasan Canisius Yogjakarta (2008); Museum Pekalongan Project Documentation (2006). Paranq Aqiq menjadi anak usaha yang ia dirikan untuk mengembangkan batik dan wastra lokal ke dalam berbagai kerajinan tangan dan fashion.

Asmoro Damais was born to a French man and a Javanese woman on May 20, 1948, in Amsterdam. Her real name is Tatyana Griselidis Asmorodewi. She grew up in an environment steeped in history, art, and culture. Her father is a historian and her mother is a descendant of the Yogyakarta Palace. She herself studied French in Paris before finally returning to Indonesia. The batik collection amassed by her brother became the spark for her to begin exploring the history of batik cloth. Asmoro also showed an interest in kebaya which ultimately led her to explore the diversity of textiles found throughout the archipelago. Since the 1970s, she has begun designing batik motifs and has now produced hundreds of works. Asmoro has also written many books on batik and Indonesian textiles, such as Tenun Nusantara (2009); Sulam & Bordir Nusantara, Dekranas Pusat (2009); Katalogis Hardjono Go Tik Swan, Wastra & Busana Indonesia (2009); Filigri, Canisius Foundation Yogyakarta (2008); Pekalongan Museum Project Documentation (2006). Paranq Aqiq is a subsidiary he founded to develop local batik and textiles into various handicrafts and fashion items.

Kategori
blog

Budi Sukada – Pentingnya Sejarah dalam Refleksi Perancangan Strukturalis

Terima kasih Pak Budi Sukada @budisukada, telah memberikan salah satu kelas terbaik di OMAH Library @omahlibrary. Beliau mengajarkan pentingnya sejarah dan bagaimana menggunakannya dalam refleksi perancangan yang strukturalis. Ia mengandalkan referensi, dan menggali satu persatu melalui kejadian yang spesifik, aktor yang spesifik, serta tahun yang spesifik.

Ia membahas orang-orang yang berpengaruh menggeser pranata arsitektur saat itu seperti William Morris, Philip Webb, juga Violet-Le-Duc dengan penemuan gramatika, Peter Behrens dengan gagasan gestalt, penggunaan beton, dan bahasa inovasi yang semakin jujur, menekuk tajam, serta sesuai dengan konteks dan problematika yang kritikal. Ia menggarisbawahi Art and Craft Movement yang bergeser peruntukannya dari kelas ekonomi atas ke kelas menengah sehingga mendorong kepraktisan olah material, produksi yang lebih banyak, dan lebih merepresentasikan budaya modern masyarakat. Ini dibahas dalam buku Herman Muthesius, Style-Architecture and Building-Art (1902) yang memperkenalkan semangat masa kini (Zeitgeist). Mesin hanyalah alat yang mempermudah produksi, yang terpenting adalah alam pikiran manusia yang mampu membayangkan bentuk yang dapat dibuat dengan mesin, yaitu Sachform (undercorated parctical form).

Banyak istilah yang muncul di kelas ini membantu menjembatani alam pemikiran dan realitas, menggali apa yang masih di angan-angan menjadi dalam dan bermakna. Pada akhirnya, Pak Budi menggarisbawahi pentingnya kejujuran, kelugasan (Sachlichkeit) dan kepekaan artistik yang murni, yang partikular dan beralasan. Atau keluagasan ini digarisbawahi sebagai gaya bahasa desain.

Terima kasih Pak Budi Sukada akan kelas yang bernas!

Kategori
Team - Studio Culture

Ezra Birthday

Beberapa hari yang lalu, terjadi momen hangat yang mengisi studio kami. Hari di mana @k.ezraa salah satu anggota tim Techne merayakan ulang tahunnya. Di hari itu, kami berhenti sejenak, tertawa bersama, dan bersyukur atas kehadiran Ezra yang kurang lebih dua tahun ini tumbuh bersama kami di @guhatheguild

Bagi kami, Ezra adalah contoh kecil bagaimana bekerja dan tawa bisa berjalan beriringan, presisi dan cekatan dalam bekerja namun tetap berbagi humor dalam satu napas yang sama. Dalam setiap gambar yang ia buat, terlihat kesungguhan yang tidak bising dan selalu ada niat baiknya untuk membuat suasana di studio terasa hidup.

Di hari ulang tahunnya, Ezra datang dengan niat baiknya berbagi kebab untuk kami semua, tentu tidak ketinggalan juga pose mewing-nya yang legendaris yang menjadi gaya khasnya yang tak dibuat-buat. Di balik wajah iseng dan gurauan yang sering muncul, ada ketekunan dan ketulusan yang terus tumbuh bersama dengan dirinya.

Terima kasih Ezra, untuk setiap tawa dan energi positif yang kamu sebar bagi kami semua. Semoga tahun ini dan seterusnya langkahmu selalu dikelilingi cahaya yang menuntun, desain yang semakin keren, dan tentu tetap membawa tawa yang menjaga semangat semua orang di sekitarmu.

Sekali lagi, Selamat Ulang Tahun Ezra!

Kategori
Press

Eko Prawoto: The Voice of the Village

Amanda Karina Dwipayana
Soft cover | Monochrome | English & Indonesia | 14,8cm × 21cm |
318 halaman | Release Date: September 2026
OMAH Code: OL-202509-51

Synopsis

The Voice of the Village portrays Eko Agus Prawoto, who lived and thrived in the village, observing how its people coexist with nature—a learning process about an architectural language more rooted in rural life. He was a Knight, an agent of change who fought through movements in the village, touching not only the body and mind but also the hearts of those he encountered. In every work, he sought to dialogue with nature as he did with people, sometimes requiring multiple meetings in different settings. Eko Prawoto strove to design a shift of paradigm, redirecting Indonesian architecture from the city to the village. An idea of frugal architecture, simple yet heartfelt, reaf rming the village as a source of values, energy, and inspiration. This book is an invitation to rediscover that the village is not a periphery but a pulse, an integral part of the dynamics of Indonesian architecture.

Pre-Order Price: Rp 150.000,-

ORDER THIS BOOK

Kategori
Press

Perjalanan Malam Hari

Yuswadi Saliya, Realrich Sjarief, Abidin Kusno, Undi Gunawan, Anas Hidayat, I Nyoman Gede Mahaputra, Johannes Adiyanto, M. Nanda Widyarta, M. Cahyo Novianto, Altrerosje A. Ngastowo, Eka Swadiansa, Revianto B. Santosa, Indah Widiastuti
Soft cover | Monochrome | Bilingual (English & Bahasa Indonesia) | 14,8cm × 21cm | 369 halaman | Release Date: (coming soon)
ISBN: dalam proses pengajuan ISBN

Synopsis

Oleh senyap dingin pun rebah ke pangkuan, kemudian
seperti kekasih sesuatu pun mengendap ke haribaan,
mencari pegangan saling menghangatkan.
Jalan sudah lengang, menggamang: semakin menghampiri sifat tepiannya
samar oleh ketidakpastian

Alam semesta sudah uzur luruh tertidur
waktu pun mengendur membebaskan rentangnya
melarutkan penat siang hari perlahan-lahan
ke dalam berbagai sifat temaram perbatasan.
Daun-daun pun merunduk menganggukkan wajah tua,
berkerisik pelan oleh tiupan angin purba,
melagukan madah perjalanan yang volumetrik.
Daging satai yang terlepas dari tusuknya
semakin menyodorkan sifat bangkainya
bergeletakan mendekati sifat-sifat tanah;
bungkah arang pun kian enggan membara
kawahnya keriput oleh susut semangatnya
terselaput abu malam mengaburkan bentuk.

Masih adakah yang terjaga saat ini?
saat kata-kata mulai terlepas dari tangkainya:
saat gelap lebur ke dalam suasana:
saat gerak menghablur membentuk tamasya:
saat bunyi berubah menjadi suara:
saat desir angin menaburkan bunga-bunga.
…………..
Semenjak temaram mulai membangkitkan perangkat indra
menyambut pencerahan apa pun di ufuk mana pun, iqra
Dengar!

Ya Allah,
Rupanya kisi-kisi jendela pun mulai berbisik
bahwa usia memang berjalan pada malam hari.

Pre-Order Price: Rp250.000,-

ORDER THIS BOOK

Kategori
Arsitek dan Arsitektur dalam Ruang dan Waktu? blog inspiring people struggles tulisan-wacana

Romo Mangun, Jejak-Jejak Arsitektur yang Memanusiakan

(English translation is available below)

[Diterbitkan pertama kali pada 25 Mei 2025]

Selama proses penulisan artikel ini, seorang desainer di studio kami bertanya, “Kenapa sih Kak Rich menulis tentang Romo Mangun? Kenapa kami yang muda ini perlu untuk mengenal beliau?”

Well, mempelajari sosok Romo Mangun bukanlah sekadar tanggung jawab sejarah. Dalam refleksi praktik penulis di Jakarta, di tengah hingar-bingarnya arsitektur yang provokatif dan berorientasi bisnis di Jakarta, Romo Mangun melalui praktiknya menunjukkan ada banyak kalangan masyarakat yang membutuhkan pendekatan lebih terjangkau. Indonesia bukan cuma soal Jakarta, dan sepak terjang beliau secara strategis merespons dilema tersebut dengan berbagai perannya, menembus batas-batas keprofesian arsitektur yang dilematis.

Father Y. B. Mangunwijaya (right) receives guests in his house on the slopes of Kali Code, Yogyakarta, 1986 Photo: TEMPO/Yuyuk Sugarman.

Sebuah tulisan oleh Realrich Sjarief dan Hanifah Sausan

Dalam sebuah pertemuan kami dengan alm. Adhi Moersid, beliau bercerita sempat merasakan kuliah bersama Y.B. Mangunwijaya di ITB tahun 1959-1960. Menurut beliau, Mangunwijaya sering berangkat ke kampus mengenakan baju pastor. Sebuah potongan memori yang cukup menggelitik mungkin bagi kita yang lebih familiar dengan Mangunwijaya lewat karya-karya terbangunnya—meski kita tahu ia sering dipanggil dengan sebutan “Romo” yang menunjukkan perannya sebagai imam Katolik, juga karya-karyanya yang sebagian besar merupakan fasilitas keagamaan Katolik.

Berkaca pada sosok Antoni Gaudi yang kita bahas sebelumnya, Mangunwijaya ini adalah “spesies” arsitek yang karya-karyanya tak tersekat pada profesi perancangan, tetapi juga dalam pengajaran, penulisan, aktivisme, dan pelayanan. Dari jubah pastor, kisah burung manyar, hingga anyaman bambu di tepi Kali Code, apa yang membuat Mangunwijaya memilih jalur multi-spektrum ini? Visi apa yang beliau perjuangkan?

Lahir pada 6 Mei 1929 di Ambarawa, Jawa Tengah di tengah keluarga Katolik dengan ayah dan ibu yang keduanya guru, Yulianus Sumadi Mangunwijaya tumbuh dalam lingkungan religius dan terpelajar. Sejak kecil ia sudah berkeinginan menjadi arsitek, tetapi belum juga tamat sekolah, ia harus turut memperjuangkan kemerdekaan sebagai Tentara Pelajar sepanjang 1945–1948. Dalam prosesnya, ia menyaksikan bagaimana warga desa telah banyak membantu tentara, sekaligus juga menjadi korban dari kekejaman penjajah. Menyaksikan kawan-kawannya gugur juga sudah pasti, dan bukan tak mungkin bahwa ia sendiri merasakan momen-momen antara hidup dan mati.

Di titik itu, barangkali muncul kesadaran bahwa selamat dari peristiwa itu merupakan sebuah anugerah tersendiri, dan kehidupan ini terlalu berharga untuk dihabiskan ala kadarnya. Mangunwijaya pun terdorong untuk “membayar utang kepada rakyat”, dan jalan yang ia pilih adalah pelayanan sebagai pastor. Di umur 21, beliau masuk sekolah pastor St. Paulus di Yogyakarta, terlepas usianya yang lebih tua dibanding calon pastor lain.

Seminari Tinggi St. Paulus Yogyakarta

Buku The Altruism of Romo Mangun yang ditulis Darwis Khudori menjelaskan bahwa selepas lulus dari Sancti Pauli, Mangunwijaya ditahbiskan sebagai pastor oleh Uskup Albertus Soegijapranata. Ia menggunakan nama resmi yang sudah tak asing di telinga kita, Yusuf Bilyarta Mangunwijaya. Namun, baru sehari menjadi pastor, Soegija memintanya untuk belajar arsitektur, supaya bisa membangun rumah-rumah ibadah di berbagai tempat dengan bahasa yang lokal alih-alih ala kolonial. Di situlah ia belajar di ITB dan bertemu Adhi Moersid pada 1959-1960, sebelum akhirnya beliau pindah ke Rhein Westfalen Technical School di Jerman dan meraih gelarnya di sana.

Mangunwijaya Muda

Sekembalinya ke Indonesia, Romo Mangun mulai membangun banyak gereja dan wisma di DIY dan Jateng. Beliau juga merancang untuk kalangan di luar lingkup gereja, berupa rumah tinggal, kos-kosan, komplek pemukiman, dan sekolah. Beberapa karya beliau di antaranya adalah Gereja Maria Asumpta (1967-1969), Sendang Sono (1972-1991), Permukiman Tepi Kali Code (1983-1987), Rumah Arief Budiman (1986-1987), Wisma Kuwera (1986-1999), Seminari Tinggi Fermentum (1996), dan masih banyak lagi.

Bila melihat perkembangan arsitektur Indonesia pasca-kemerdekaan, terlihat selalu ada urgensi untuk mendefinisikan arsitektur Indonesia. Arsitektur modern ala Barat saat itu menjadi preferensi untuk membangun identitas nasional yang baru dan kuat, diinisiasi oleh Soekarno dan dilanjutkan saat kepemimpinan Soeharto lewat proyek-proyek monumental dan penataan urban.

Proyek Mercusuar Orde Lama

Namun, yang disayangkan Romo Mangun adalah aplikasi arsitektur tanpa penyesuaian terhadap iklim tropis dan budaya Indonesia, seperti yang banyak terjadi di Jakarta saat itu dengan gedung-gedung beton berlapis kaca. Selain itu, arsitektur yang membutuhkan material industri dengan teknik membangun yang canggih akan sulit diterapkan untuk rakyat biasa yang mayoritas tinggal di kota kecil atau desa-desa, sesuatu yang menjadi realitasnya selama masa kecil dan dalam kesehariannya sebagai pastor. Jadi, selain kebutuhan untuk mendefinisikan identitas nasional lewat arsitektur, di saat yang sama timbullah keresahan tentang arsitektur Indonesia yang relevan dengan iklim, sumber daya alam, dan keseharian masyarakat pada umumnya.

Generasi arsitek yang aktif saat itu, seperti Friedrich Silaban, Soejoedi, dan Romo Mangun sendiri rata-rata belajar arsitektur di luar negeri, khususnya Jerman. Wajar saja bila kemudian bahasa arsitektur yang digunakan banyak terpengaruh arsitektur modern. Namun, setiap arsitek punya caranya masing-masing dalam menerjemahkan kondisi iklim setempat dan masyarakat Indonesia dalam karya-karyanya.

Friedrich Silaban (1912-1984), meski mengerjakan proyek-proyek berskala monumental dengan gubahan massa modern, ia selalu mengupayakan bukaan yang lebar dan kisi-kisi untuk menghalau sinar matahari langsung. Soejoedi Wirjoatmodjo (1928-1981) lebih memilih menggunakan tritisan yang lebar alih-alih kisi-kisi untuk merespons iklim. Sementara, secara budaya, beliau mengambil konsep ruang dalam dan luar pada arsitektur Jawa sebagai inspirasi program ruang yang seimbang, meski gubahan massanya benar-benar baru dan bercitra independen. 

Sementara, Adhi Moersid, teman sejawatnya yang bersekolah di dalam negeri, punya pendekatan yang lebih lokal dengan konsep Arsitektur Papan Kayu yang terangkum dalam buku Kagunan. Prinsipnya adalah menggabungkan dua papan kayu pipih untuk membentuk bilah usuk yang lebih kokoh, sehingga memungkinkan konstruksi atap tanpa gording. Konsep ini pun membuka lompatan dari struktur rangka menjadi struktur bidang. Susunan papan kayu ini juga menghasilkan visual yang lebih rapi dan indah ketika diekspos sehingga menjadi wujud “langit-langit yang baru”.

Ketiganya punya cara-cara tersendiri untuk meramu ruang dan material. Dengan skala yang monumental, material beton dan teknik fabrikasi jadi relevan untuk karya-karya Silaban dan Soejoedi. Visual yang sederhana pun membutuhkan tektonika tersendiri yang membuat hubungan antarmaterial jadi seamless. Pendekatan Adhi Moersid sifatnya lebih teknokratik, fokus pada ilmu itu sendiri dan konteks biaya-mutu-waktu dari suatu proyek. Ia mencoba menembus batas dengan material kayu yang natural dan lokal, tetapi masih perlu dibeli dari “pasar” dengan spesifikasi yang seragam.

Begitu bicara sosok Romo Mangun, segala aspek dieksplorasi. Dari bentuk atap, susunan bata, corak tekstur beton, hingga detail sambungan, semua diolah total tiada luput. Yuswadi Saliya pernah menggambarkan Sendang Sono dengan ekspresi, “Keinginannya untuk berbuat membekas di mana-mana. Menyaksikannya boleh jadi melelahkan, detail itu bercerita tanpa putus, menyapa pada setiap lekuk dan liku. Segi-tiga dan segi-empat membentuk bidang dan ruang yang bergema bersahut-sahutan, turun naik berundak-undak, semuanya membentuk tamasya buatan manusia yang lebur dengan kelok alur sungai dan punuk palung bukit. Sangat kompleks. Majemuk.” Keberagaman teknik menjadi kata kunci arsitektur Romo Mangun. Konsepnya adalah variatif atau hibrida yang menggambarkan konteks lokasi tempat arsitekturnya hadir.

Secara gubahan massa, beliau banyak mengeksplorasi bentuk atap miring dengan pertimbangan material genteng sebagai penutup yang mudah didapat dan relatif murah dibanding instalasi atap beton, apalagi bila harus menghadapi curah hujan Indonesia yang tinggi. Atap-atap Romo Mangun membentang lebar, tak jarang mendominasi citra bangunan. Terlebih dengan proporsi badan yang rendah, terkesan ada upaya untuk membuat skalanya tetap manusiawi agar perawatan menjadi mudah.

Untuk menopang atap-atap ini, beragam material digunakan. Dari sekitar 30 karya terbangunnya, terdapat belasan gereja yang mayoritas menggunakan beton sebagai elemen struktur. Kadang ia cukup menjadi kolom ketika bentang atap masih bisa ditopang oleh struktur kayu, terkadang ia juga hadir sebagai balok bila kapasitas gereja terlampau besar. Sementara, pada gereja-gereja kecil, wisma, sekolah, atau hunian dengan luasan yang tak seberapa, peran struktur utama biasanya dipegang oleh kayu.

Namun, sekalipun beton digunakan, Romo Mangun tak terbiasa meninggalkannya polos begitu saja. Motif-motif digoreskan, kadang dalam pola yang teratur, kadang menggunakan cetakan bambu atau kayu bekas, memberi kesan organik seperti pohon di dalam bangunan. Dimensi beton juga dijaga agar tetap ramping dan ditata dalam pengulangan berirama untuk menekan karakter kasar dan beratnya (Tjahjono, 1995). Kadang balok konsol dicetak sedemikian rupa menyerupai ranting. Beton di tangan Romo Mangun menjadi lebih lembut dan kadang terkesan organik.

Lanjut ke bagian badan, Romo Mangun sering membuat ruang-ruang publiknya, terutama gereja, tampil terbuka tanpa dinding penutup, kecuali hanya sebaris yang melatari altar. Pertama, untuk memasukkan udara secara maksimal—seperti gagasan Silaban yang lebih meyakini Indonesia butuh atap lebar untuk menghalau panas matahari daripada dinding yang menghalangi angin ekuator dengan kecepatan tak seberapa. Kedua, karena konsep “gereja pasar”. Romo pernah berpesan, “Ketika religiositas semakin mengakar dalam terang Tuhan, maka manusia sejati adalah cerminan bayang-bayang Tuhan sendiri,” (Mudji Sutrisno, 2001). Tidak ada urgensi untuk memisahkan ruang suci gereja dengan “pasar” kehidupan sehari-hari. Justru batas itu dibuka untuk menjembatani jiwa-jiwa yang mencari cahaya Tuhan.

Ketika sebuah dinding diperlukan, wujudnya hadir dalam berbagai bentuk: dari batu bata, kayu, bambu, batuan alam, beton, atau kombinasi dari semuanya. Parameternya tak jauh-jauh dari batasan anggaran, kesediaan material di lokasi, kreativitas ketukangan, dan pemberdayaan komunitas. Pertapaan Suster Bunda Pemersatu di Gedono, Salatiga misalnya, awalnya dirancang menggunakan dinding batu bata. Namun, ketika Romo Mangun survei ke Gedono, beliau melihat warga setempat banyak yang berprofesi sebagai pemotong batu kricak. Ia mendapat ide untuk menggunakan jasa warga setempat untuk memotong batu yang lebih besar dari daerah Banaran, lebih dekat daripada harus mendatangkan batu bata dari Klaten. Akhirnya, biaya yang dikeluarkan pun lebih kecil, dan warga pun belajar keterampilan baru untuk memecah batu besar dengan potongan yang rapi. Material yang terkesan biasa-biasa saja pun bertransformasi dengan cara yang istimewa.

Pertapaan Suster Bunda Pemersatu di Gedono

Untuk lantai, pada beberapa karyanya yang dikonstruksi menggunakan kayu, khususnya yang berfungsi sebagai hunian, Romo Mangun banyak menerapkan struktur lantai panggung. Misalnya pada sebagian massa di Wisma Salam, Sendang Sono, Rumah Arief Budiman, Kampung Code, dan Wisma Kuwera. Ini merupakan respons penggunaan kayu terhadap iklim tropis Indonesia yang lembab. Akan tetapi, lebih dari itu, kombinasi struktur panggung dengan struktur lantai konvensional dalam satu karya sekaligus menciptakan permainan ketinggian yang dinamis, membuat ruang-ruang di dalamnya terasa menyenangkan!

Arsitektur Romo Mangun menjadi salah satu preseden utama dalam hal kolaborasi antara low technology dengan high technology. Julia Watson di bukunya Lo-TEK (2019) menjelaskan bahwa low technology atau lo-tech sering diasosiasikan dengan sistem atau mesin yang sederhana, tidak canggih, tidak rumit, dan berasal dari masa sebelum revolusi industri. Kami juga melihatnya sebagai metode yang intuitif dan impulsif dengan penyelesaian yang terjadi secara impromtu di lapangan. Sebaliknya, high technology (high-tech) sifatnya baru, berfitur canggih, dan memberi kesan seakan jadi pilihan yang lebih baik. Watson mengungkapkan, sistem high-tech yang mencoba menjadi solusi untuk semua permasalahan justru bertentangan dengan heterogenitas atau kemajemukan yang ada dalam kompleksitas ekosistem.

Oleh karenanya, high-tech tidak selalu bisa menjadi solusi. Kombinasi lo-tech dan high-tech pun menjadi titik tengah yang diambil Romo Mangun dalam merespons gap antara arsitektur barat yang mutakhir dan mendominasi dunia, dengan arsitektur lokal yang jadi keseharian masyarakat Indonesia saat itu. Refleksi atas keresahan ini akhirnya menelurkan buku Pasal-Pasal Pengantar Fisika Bangunan dan Wastu Citra.

Pasal-Pasal Pengantar Fisika Bangunan (1980) lebih fokus pada aspek teknis dan respons terhadap iklim tropis Indonesia, juga fenomena alam yang khas seperti gempa bumi. Di dalamnya terdapat bab khusus yang membahas aplikasi material lokal bambu, kayu, dan bata yang cocok dengan kondisi Indonesia. Ditujukan untuk pelajar dan praktisi non-akademik, buku ini dikemas dengan bahasa dan diagram yang sederhana, dilengkapi dengan contoh-contoh praktis. Ada pemahaman bahwa masyarakat memiliki keterbatasan akses terhadap high technology, maka pendidikan berbasis arsitektur barat perlu diimbangi dengan pengetahuan tentang cara membangun yang relevan dengan kondisi setempat.

Pasal-Pasal Pengantar Fisika Bangunan (1980)

Sementara itu, Wastu Citra (1988) lebih mengambil sudut pandang diskursus. Dirilis pada masa di mana Romo Mangun sudah tidak ingin bertugas menjadi pastor dan lebih sering berkutat dengan kegiatan aktivisme bersama masyarakat kelas bawah, barangkali Romo Mangun melihat bagaimana kebiasaan membangun tradisional dan yang berkembang di keseharian masyarakat seringkali tidak dianggap sebagai bagian dari arsitektur juga. Oleh karena itu, digunakanlah istilah “wastu” yang mencakup segala bentuk kegiatan membangun untuk menyetarakan semuanya. 

Wastu Citra

Revianto B. Santosa di dalam film Wastu mengamati bagaimana Romo Mangun bersikap “universal” di buku ini: tidak hanya membahas keunggulan arsitektur Indonesia dengan iklim tropis dan budaya vernakularnya, tetapi juga mencantumkan bab tentang arsitektur barat dan filsafatnya serta inspirasi mancanegara seperti dari Yunani, Jepang, dan India. Ketika membahas makna-makna kosmologis yang lebih dalam dari sekadar wujud fisik wastu, Romo Mangun pun menarik studi dari berbagai adat budaya serta agama di dunia. Namun, pada akhirnya, beliau menutup buku ini lagi-lagi dengan ajakan untuk meramu hal-hal baik dari masing-masing kutub untuk membawa kesejahteraan bagi semua, termasuk kaum marjinal.

Menurut kami, lebih dari sekadar kombinasi low and high technology, keberpihakan Romo Mangun terhadap rakyat kecil bisa diturunkan hingga dimensi material yang digunakan. Katakanlah sebuah joglo yang datang dari tradisi low technology, penggunaannya tidak lagi relevan untuk masyarakat kecil karena balok-balok kayu yang besar, panjang, dan utuh tidak mungkin terbeli. Romo Mangun mau tak mau harus bekerja dengan kayu-kayu yang pendek ukurannya—dan material apa pun yang tersedia, sekalipun itu sisa-sisa atau bahkan sudah menjadi sampah. Dari wawancara kami dengan Rina Eko Prawoto, adalah hal yang biasa ketika Romo Mangun meminta para tukang untuk mencabut paku-paku dari sebilah balok kayu. Baik kayu maupun pakunya, keduanya akan sama-sama digunakan lagi untuk kebutuhan lain.

Kami sempat berkunjung ke Wisma Kuwera. Sekilas bangunan ini seperti mencoba merespons konteks urban Yogyakarta dengan menciptakan kepadatan program ruang di dalamnya. Dimensi modulnya tidak lebih besar dari 3 meter, dengan komposisi vertikal yang saling saut, dengan variasi ketinggian lantai antara 1-1,5 meter. Pengalaman ruang yang tercipta sungguh sangat menarik, memantik pertanyaan, “Kok Romo kepikiran membuat sesuatu seperti ini?” Setelah dipikir-pikir lagi, dimensi yang kecil-kecil itu adalah respons dari terbatasnya akses terhadap material-material masif, hanya saja dikreasikan sedemikian rupa membentuk susunan ruang yang kreatif.

Keterbatasan material juga mendorong munculnya elemen-elemen multifungsi. Salah satunya adalah kerangka A yang banyak digunakan kemudian di Sendang Sono, Rumah Arief Budiman, Kampung Code, dan Pertapaan Gedono. Di sini, atap juga menjadi dinding, kolom sekaligus menjadi rangka atap. Seperti sebuah loteng, tetapi justru digunakan sebagai ruang primer. Hadirnya dinding sejati atau elemen lainnya pun tumbuh sesuai kebutuhan, membuat bangunan bertransformasi secara elegan.

Ketika akses terhadap material begitu terbatas, mau tak mau seseorang harus mengerti bagaimana memaksimalkan material tersebut. Mungkin dari sini muncullah benih-benih yang menghasilkan tektonika seorang Mangunwijaya. Mengutip Mahatmanto (2001, Tektonika YB, Mangunwijaya), “Mengenali bahan adalah titik tolak dalam membangun, dan itu hanya bisa dilakukan dengan langsung memegang dan merasakan kualitas yang termuat di dalamnya.” 

Yuswadi Saliya pernah berkesempatan mengamati Romo Mangun saat hendak membangun dinding pembatas dari kerawang/roster. Beliau membolak-balik balok roster tersebut cukup lama. “Ditumpuk, dideretkan, diserongkan … Dibidiknya dari sisi, dari bawah, menjauh kemudian menyimpang … Mencari posisi yang paling serasi, memadu lagu yang paling merdu.” Elaborasi dilakukan tanpa gambar, mengandalkan kepekaan indrawi ketika manusia berinteraksi dengan ruang bentuk. Yuswadi melihatnya sebagai sebuah bentuk kemerdekaan.

Dalam prosesnya Romo Mangun bergerak sangat erat dengan para tukang. Tak sebatas mengawasi, beliau mendidik, dan tak jarang beliau pun belajar hal baru dari mereka. Kedudukannya begitu tinggi hingga dituliskan dalam halaman persembahan buku Wastu Citra, “Buku ini ditulis untuk menghormati para tukang dan karyawan-karyawati lapangan, yang dalam cara-cara mereka tertentu telah menjadi mahaguru arsitektur yang ulung bagiku.” Merekalah sosok-sosok yang oleh Romo Mangun ingin diajak untuk merdeka bersama-sama.

Romo Mangun fokus pada proses berkarya, tidak hanya untuk menghasilkan uang secara pendekatan kapitalisme, tetapi uang yang didapat untuk mensejahterakan. Eko Prawoto pernah bercerita tentang gurunya ini, “Romo membuat detail-detail itu bukan pertimbangan estetika, tapi sebenarnya untuk menyerap lebih lama, agar tukangnya bekerja lebih lama di tempat itu.” Bisa jadi biaya yang dikeluarkan untuk tukang menjadi lebih tinggi dibanding biaya yang dikeluarkan untuk belanja material. 

Di titik ini kami teringat arsitek Louis Kahn saat mendesain Gedung Parlemen Bangladesh di Dhaka. Proyeknya membuka banyak lapangan kerja baru dan menjadi sarana pengembangan keterampilan tukang lokal. Yang membuat berbeda adalah pilihan material dari kedua arsitek ini. Untuk sebuah proyek sebesar Gedung Parlemen Bangladesh, penggunaan beton dan marmer menimbulkan gap ketukangan di tengah masyarakat yang terbiasa membangun menggunakan tanah, bambu, kayu, dan bata.

Di sinilah pilihan Romo Mangun untuk mengkombinasikan low dan high technology menjadi penting. Karenanya, para tukang tetap mengerjakan sesuatu yang masih dekat dengan kesehariannya, tetapi juga sembari bersama-sama mempelajari material atau teknik baru. Circular resource pun terjadi dengan bahan sisa atau bekas yang masuk kembali dalam siklus dibarengi para tukang yang kembali berdaya. Mahatmanto dalam dokumenter Wastu menyampaikan bagaimana Romo Mangun menyadari kualitas masyarakat yang heterogen. “Sehingga dia mengambil ambang bawah supaya semua bahan, semua ketukangan atau keterampilan yang dimiliki oleh para tukang itu bisa dimanfaatkan secara optimal.”

Namun, teknik yang sederhana bukan berarti hasilnya biasa-biasa saja. Justru pendekatan ambang bawah membuka kesempatan bagi semua orang untuk berpartisipasi. Tak jarang para tukang mengusulkan hal baru yang tak terpikirkan Romo Mangun sebelumnya. Gunawan Tjahjono menggambarkan proses ini seperti permainan musik Jazz di mana tiap pemain punya kebebasan untuk memperkaya sebuah lagu. “Dari tukang ke pemakai, semua terlibat dan berpeluang menafsirkan. Para pelaku memiliki ruang berekspresi atas bagian-bagian bangunan yang mungkin akan seumur hidup dihuninya.” Pada akhirnya, setelah Romo Mangun sudah tak lagi bisa mendampingi, diharapkan pengguna dan para tukang nantinya bisa melanjutkan atau merawat secara mandiri.

Performa bangunannya sendiri juga dirancang untuk mendidik. Di Seminari Tinggi Fermentum Bandung misalnya, Romo Mangun membagi wisma untuk para frater (calon pastor) dalam unit-unit kecil berisikan 5-6 orang saja untuk membentuk komunitas-komunitas kecil seperti keluarga yang saling mengenal. Kombinasi low and high technology lagi-lagi diterapkan, memberikan unsur kesementaraan yang membutuhkan perawatan berkala. “Romo Mangun bilang biarin aja, supaya nanti para frater di setiap unit berlomba mana unit yang paling terawat,” tutur Pastor William. Romo Mangun seakan memberi penekanan bahwa menjadi imam bukanlah sebuah keistimewaan, melainkan untuk melayani komunitas. Kesadaran ini dibentuk dari kebiasaan sehari-hari, menggunakan fasilitas selayaknya dan memperbaiki titik-titik yang rusak.

Nilai-nilai keseharian menjadi salah satu hikmah yang kami temukan pada sosok Romo Mangun. Selain diterjemahkan pada program ruang dan garis besar rancangan, beliau seakan mencoba menangkap hal-hal baik dari keseharian masyarakat dan merayakannya dalam simbolisme. Bentuknya bisa bermacam-macam, dari massa unik yang menjadi vocal point, pengulangan struktur, pola susunan material, hingga elemen-elemen dekoratif. 

Penggunaan simbolisme mungkin terkesan dangkal bagi sosok dengan kedalaman berpikir seperti Romo Mangun. Namun, barangkali ini adalah cara paling sederhana untuk menimbulkan kebanggaan pada masyarakat kecil yang beliau dampingi—bahwa setiap kehidupan itu berharga, bahwa keindahan hadir dalam berbagai keadaan. Di lembah Kali Code misalnya, yang diharapkan Romo Mangun adalah kebangkitan harga diri warganya. Dari sana akan timbul semangat untuk berjuang, untuk menempuh setiap proses tanpa harus selalu disuapi. Ia menyadari bahwa pengembangan diri setiap orang sebaiknya berangkat dari apa yang dia punya dan diupayakan sendiri, sehingga buah kesejahteraan yang dipanen tidak tercabut dari akar identitasnya.

Eksplorasi arsitektur Romo Mangun menunjukkan keseimbangan antara aspek ontologi tentang hakikat dari sesuatu, epistemologi terkait cara mengetahui informasi tersebut, dan aksiologi yang membahas keberpihakan. Di ontologi, Romo Mangun berada dalam situasi di mana ia harus memahami karakter material secara mendalam hingga akhirnya menelurkan tektonika. Di epistemologi, beliau dibayangi arsitektur barat, tetapi di saat yang bersamaan menghadapi realita yang kontras, sehingga lahirlah metode mendesain yang mengkombinasikan low dan high technology. Pada aksiologi, keberpihakan Romo Mangun terhadap masyarakat marjinal menghasilkan elaborasi ketukangan yang menjadi bahasa estetika baru dan bisa dilanjutkan meski Romo Mangun sudah tidak ada. Setiap individu pasti memiliki tiga aspek ini dalam perjuangannya, hanya saja tidak banyak yang bisa menunjukkan totalitas di ketiganya, apalagi di titik aksiologi yang memerlukan empati dan keteguhan prinsip.

Ketika ditanya pendapatnya tentang Pameran Arus Silang AMI (Arsitek Muda Indonesia) di Jakarta (1992) yang mengangkat pendekatan ala dekonstruksi, Romo Mangun merasa apa yang mereka lakukan adalah cara yang ketinggalan zaman. Dalam artian, apabila arsitektur dikembangkan demi arsitektur itu sendiri—apabila fokusnya pada fungsi, ruang, dan permainan bentuk saja—kapan arsitektur bisa hadir untuk menanggapi permasalahan yang ada di Indonesia? Pada akhirnya, arsitektur bagi Romo Mangun bukanlah tujuan akhir. Ia adalah salah satu kendaraan yang dipakai untuk mendukung keberpihakannya.

Selain berarsitektur, menulis menjadi kelihaian lain Romo Mangun dalam mengkomunikasikan pemikirannya. Pasal-Pasal Pengantar Fisika Bangunan dan Wastu Citra hanya segelintir dari 35 judul buku yang pernah beliau tulis. Tidak hanya tema arsitektur, beliau justru banyak menulis esai kritik sosial tentang kesejahteraan rakyat dan pendidikan, selain juga menulis soal spiritualisme dan kemanusiaan. Beliau juga menelurkan puluhan artikel yang diterbitkan dalam antologi dan berbagai media massa sepanjang 1978-1998. Kekuatan Romo Mangun ada pada gaya menulisnya. Tidak kaku dengan diksi intelek seperti tulisan akademik, tetapi justru terkesan lebih amatir dengan pendekatan yang menyentuh. Tidak dengan teori yang mendakik-dakik, tetapi berdasarkan pengalamannya langsung sebagai praktisi dan pendidik. Refleksinya memberikan interpretasi baru pada fenomena yang selama ini ada dan membuka alternatif praktik atau penyelesaian masalah. (Darwis Khudori, 2001)

Namun, di antara banyak jenis tulisan yang pernah dibuat Romo Mangun, karya fiksi menjadi kendaraan terkuatnya. Esai-esai mungkin hanya akan dibaca oleh orang-orang terpelajar, sedangkan kalangan yang menjadi targetnya seringkali tidak memiliki akses pendidikan yang memadai. Fiksi pun menjadi media yang mampu menyentuh lebih banyak audiens, dan dengan adanya karakter, Romo Mangun dapat menggambarkan kompleksitas kehidupan yang selama ini beliau renungkan. Beberapa karya fiksi yang beliau tulis antara lain: Trilogi Roro Mendut, Rumah Bambu, Pohon-Pohon Sesawi, dan tentunya yang paling dikenal Burung-Burung Manyar.

Sama dengan karya-karya Romo Mangun dalam media lain, keberpihakan terhadap rakyat kecil masih menjadi tema utama dalam karya fiksinya, dielaborasi dengan nilai-nilai filosofis dalam menghadapi ekosistem pasca-kolonialisme yang rentan di berbagai bidang (lingkungan hidup, sosio-politik, budaya, sejarah). Akan tetapi, itu semua dibalut dalam metafora yang menyembunyikan kritik tajam yang sesungguhnya. Lagi-lagi Romo Mangun bermain dengan simbolisme. Selain agar pesan lebih mudah dicerna, faktor rezim Orde Baru yang ketat sensor dan antikritik membuatnya harus mencari jalur komunikasi alternatif. Strategi ini mengingatkan pada penulis Amerika, Ernest Hemingway (1899-1961) yang juga menggunakan metafora keseharian yang interpretatif untuk mengkritik peperangan, materialisme di dunia modern, dan isu sosial lainnya.

Burung-Burung Manyar

Romo Mangun di Burung-Burung Manyar, mengajak kita menyelami kehidupan masyarakat biasa di Indonesia pada rentang masa 1934-1978. Novelnya berkisah tentang Teto, pemuda keturunan campuran Indo-Jawa pro-Belanda yang kemudian berubah setelah bertemu Atik, gadis pribumi yang cerdas dan berani, tetapi juga punya sisi feminin dan hangat. Atik diceritakan menulis disertasi tentang “Jati Diri dan Bahasa Citra dalam Struktur Komunikasi Varietas Burung Ploceus Manyar”. Dari situ pembaca bisa menarik makna lebih dalam dari karakter Burung Manyar yang dikenal dengan kemampuan menganyam sarang. 

Burung Manyar

Teto tak ubahnya manyar jantan yang sedang berusaha membangun “sarang” untuk betinanya, tetapi ia harus lebih dahulu menghadapi krisis identitas dan pencarian “tempat” di tengah negara yang bergejolak. Sementara, Atik si manyar betina baru bersedia dipinang setelah memastikan bahwa sarangnya aman untuk bertelur. Metafora burung manyar memberikan pelajaran bahwa yang terpenting bukanlah rasa cinta terhadap pasangan, tetapi bagaimana pasangan ini bisa menyiapkan lingkungan yang kondusif untuk bertelur dan membesarkan generasi baru burung manyar. 

Masuk era 1980-an, kondisi sosial yang kritis nampaknya membuat Romo Mangun tak lagi bisa tenang di balik jubah pastur, arsitek, ataupun penulisnya. Visi pembangunan Orde Baru yang berorientasi pada modernisme dan keindahan kota berujung pada tergusurnya kaum-kaum marjinal. 

Salah satu yang menjadi korban adalah warga bantaran Kali Code di Yogyakarta. Rata-rata mereka adalah warga desa yang tidak lagi bisa sejahtera sebagai petani dan mencoba mencari peruntungan dengan merantau, tetapi justru tidak menemukan tempat di kota. Akhirnya, mereka bermukim di “ruang-ruang negatif” dan bekerja di sektor buangan, bahkan waktu itu Kampung Code sering dicap sarang preman dan PSK. Upaya penggusuran pada pemukiman ilegal ini sudah dilakukan berkali-kali sejak 1960-an dan aliran lahar Gunung Merapi pun turut mengancam kelangsungan kampung, tetapi warga selalu berhasil untuk kembali bermukim di sana lagi.

Prihatin melihat kondisi yang kurang kondusif bagi mental masyarakat dan pembelajaran anak-anak di sana, pada 1981 Romo Mangun mulai meninggalkan kesehariannya sebagai pastor dan tinggal bersama warga di Kali Code. Romo Mangun bernegosiasi untuk merevitalisasi kampung agar lebih aman, bersih, dan tertata. Pembangunan sepanjang tahun 1983-1987 menggunakan bambu, kayu, dan material murah lainnya, ternyata berhasil meningkatkan kualitas fisik kampung ini. Simbolisme terbentuk dari bahasa arsitektur yang sederhana ini, ditambah dekorasi warna-warni dari goresan cat yang membuat suasana lebih hidup. Revitalisasi ini menumbuhkan kebanggaan pada diri warga serta mengangkat nilai Kampung Kali Code di mata masyarakat umum. Kesejahteraan sosio-ekonomi warga Code pun turut membaik seiring waktu. Pada 1992, proyek ini mendapat penghargaan Aga Khan Award for Architecture.

Perjuangan Romo Mangun masih belum berhenti di sini. Seperti pada novel Burung-Burung Manyar yang ia tulis, generasi muda selalu jadi perhatian Romo Mangun. Satu dekade terakhir hidupnya didedikasikan untuk menciptakan ekosistem pendidikan dasar yang menyenangkan dan memerdekakan. Namun, biar cerita itu kita simpan untuk lain waktu. 

Di titik ini, kita cukup tahu bahwa empati dan keinginan Romo Mangun untuk bertindak amatlah besar hingga satu cara pun tak cukup untuk menyalurkan kehendaknya. Biasanya, orang yang empatinya begitu dalam memiliki daya yang terbatas karena emosi yang menguras energi. Namun, Romo Mangun justru bisa merdeka dari jebakan ini. Jolanda Atmadjaja melihat ini sebagai respons yang matang terhadap kondisi “Split Subject”. Psikoanalis Jacques Lacan (1901–1981) mengemukakan teori ini di 1960-an, menyatakan bahwa manusia tidak pernah memiliki identitas yang utuh, melainkan selalu terpecah—di antaranya karena simbol/label/peran sosial yang tersemat pada diri dan juga gap antara kondisi ideal yang kita impikan dengan realita yang terjadi. Seyogianya, manusia akan terus mencari titik seimbang, mengejar sesuatu yang membuat dirinya merasa utuh, mengembangkan perannya terus menerus. Kebanyakan orang, terutama yang baru memulai perjalanan menemukan jati diri, mungkin akan terjebak dalam ilusi satu peran/label saja, mengiranya sebagai kondisi utuh. 

Pengalaman menghadapi realita yang ekstrem sejak muda barangkali membuat Mangunwijaya begitu cepat merespons kondisi split dan pandai memposisikan ulang dirinya dalam peran lain lantaran menyadari adanya batasan dalam peran yang sebelumnya. Ia menyadari bahwa tidak semuanya bisa diselesaikan dari satu perspektif. Ia juga menyadari bahwa tidak semua bisa diselesaikan sendirian, sehingga ia senantiasa mengajak orang lain untuk ikut bergerak. Di titik ini ia mampu merubah konstruk dengan produktivitas di banyak lini dan berkonstelasi. Ini hanya bisa dilakukan oleh seorang yang sudah terjun total dan menyadari bahwa batas-batas ilmu itu sebenarnya bisa dirangkai ulang.

Berkaca pada Kampung Code, hingga saat ini ia masih berdiri, sebagian bangunan yang seharusnya temporer sudah berubah menjadi lebih permanen. Memang, ini menyalahi visi dasar Romo Mangun untuk Code sebagai shelter sementara bagi warganya sampai mereka berangsur mandiri dan pindah ke tempat yang lebih baik. Hanya saja perubahan sosial yang terjadi ternyata tidak secepat yang diimpikan Romo Mangun. Meski patut disyukuri bahwa generasi mudanya saat ini sudah banyak yang berpendidikan tinggi dan punya prospek yang lebih baik daripada orangtuanya.

Melihat apa yang hadir, pertanyaannya bukan sejauh mana Romo Mangun bisa berjuang untuk Kampung Code, tetapi bagaimana visi tersebut bisa terus mengudara jauh di atas bentuk arsitektural, bagaimana memperjuangkan tempat yang membumi, dan sejauh mana kata kemerdekaan itu bisa direnungi dan dihidupkan oleh generasi penerus Romo Mangun.

Romomangun bersama anak-anak Code

English translation

Romo Mangun: Footprints of Architecture That Humanizes

During the process of writing this article, a designer at our studio asked, “Why does Kak Rich write about Romo Mangun? Why do we, the younger generation, need to know about him?”

Well, studying the figure of Romo Mangun is not merely a historical responsibility. Reflecting on the author’s practice in Jakarta, amid the hustle and bustle of provocative, business-oriented architecture in the capital, Romo Mangun, through his work, demonstrated that many segments of society need a more accessible approach. Indonesia is not just about Jakarta, and his endeavors strategically addressed this dilemma through his multifaceted roles, breaking through the often contradictory boundaries of the architectural profession.

An essay by Realrich Sjarief and Hanifah Sausan

In a meeting with the late Adhi Moersid, he shared his experience of studying alongside Y.B. Mangunwijaya at ITB (Bandung Institute of Technology) in 1959–1960. According to him, Mangunwijaya often came to campus wearing his priestly robes. This snippet of memory might seem amusing to those of us more familiar with Mangunwijaya through his built works—though we know he was often called “Romo” (a Javanese term for a Catholic priest), and many of his projects were Catholic religious facilities.

Drawing a parallel with Antoni Gaudí, whom we discussed previously, Mangunwijaya was a “species” of architect whose work transcended the boundaries of design, extending into teaching, writing, activism, and service. From his priestly robes to the tales of weaverbirds and bamboo weaving along the banks of Kali Code, what drove Mangunwijaya to pursue this multispectral path? What vision did he champion?

Born on May 6, 1929, in Ambarawa, Central Java, into a Catholic family with both parents as teachers, Yulianus Sumadi Mangunwijaya grew up in a religious and educated environment. From a young age, he aspired to become an architect, but before he could finish school, he joined the struggle for independence as a student soldier from 1945 to 1948. During this time, he witnessed how villagers supported the soldiers while also becoming victims of colonial brutality. He saw his comrades fall, and it’s likely he himself experienced moments on the brink of life and death.

At that point, he may have realized that surviving such events was a blessing in itself, and that life was too precious to live halfheartedly. Mangunwijaya felt compelled to “repay a debt to the people,” and the path he chose was service as a priest. At the age of 21, he enrolled in St. Paulus Seminary in Yogyakarta, despite being older than most of the other aspiring priests.

In the book The Altruism of Romo Mangun by Darwis Khudori, it is explained that after graduating from Sancti Pauli, Mangunwijaya was ordained as a priest by Bishop Albertus Soegijapranata. He took on the official name we now know well: Yusuf Bilyarta Mangunwijaya. However, just one day after becoming a priest, Bishop Soegija requested that he study architecture, so he could build places of worship in various regions with a local architectural language rather than a colonial one. This led him to study at ITB, where he met Adhi Moersid in 1959–1960, before later continuing his education at the Rhein Westfalen Technical School in Germany, where he earned his degree.

Upon returning to Indonesia, Romo Mangun began constructing numerous churches and retreat houses in Yogyakarta (DIY) and Central Java (Jateng). He also designed projects beyond the church’s scope, including residences, boarding houses, housing complexes, and schools. Some of his notable works include the Maria Assumpta Church (1967–1969), Sendang Sono (1972–1991), the Kali Code Riverside Settlement (1983–1987), Arief Budiman House (1986–1987), Wisma Kuwera (1986–1999), Fermentum Seminary (1996), and many others.

Looking at the development of Indonesian architecture post-independence, there was always an urgency to define what Indonesian architecture should be. At the time, Western modern architecture was the preferred style to build a new, strong national identity, initiated by President Soekarno and continued under President Soeharto through monumental projects and urban planning.

However, Romo Mangun lamented the application of architecture without consideration for Indonesia’s tropical climate and culture, as seen in Jakarta with its concrete-and-glass buildings. Moreover, architecture that required industrial materials and advanced construction techniques was difficult to implement for ordinary people, most of whom lived in small towns or villages—a reality Mangunwijaya knew well from his childhood and his daily life as a priest. Thus, alongside the need to define a national identity through architecture, there arose a concern for an Indonesian architecture that was relevant to the climate, natural resources, and daily lives of the general populace.

The generation of architects active at the time, such as Friedrich Silaban, Soejoedi, and Romo Mangun himself, mostly studied architecture abroad, particularly in Germany. It’s no surprise, then, that the architectural language they used was heavily influenced by modernism. However, each architect had their own way of interpreting local climate conditions and Indonesian society in their works.

Friedrich Silaban (1912–1984), despite working on monumental projects with modern mass compositions, always incorporated wide openings and louvers to block direct sunlight. Soejoedi Wirjoatmodjo (1928–1981) preferred using wide eaves instead of louvers to respond to the climate. Culturally, he drew inspiration from the Javanese concept of inner and outer spaces as a basis for balanced spatial programming, even though his mass compositions were entirely new and conveyed an independent image.

Meanwhile, Adhi Moersid, a peer who studied locally, took a more localized approach with his concept of Wooden Board Architecture, as outlined in his book Kagunan. The principle involved combining two flat wooden boards to form a stronger rafter, enabling roof construction without purlins. This concept marked a leap from frame structures to planar structures. The arrangement of wooden boards also produced a neater and more aesthetically pleasing visual when exposed, creating a “new ceiling.”

Each of these architects had their own methods for working with space and materials. For the monumental scale of Silaban and Soejoedi’s works, concrete and fabrication techniques were relevant. Even simple visuals required a specific tectonic approach to ensure seamless connections between materials. Adhi Moersid’s approach was more technocratic, focusing on the science itself and the context of cost, quality, and time in a project. He pushed boundaries with natural, local wood materials, though these still needed to be sourced from the “market” with uniform specifications.

When it comes to Romo Mangun, every aspect was thoroughly explored. From the shape of the roof to the arrangement of bricks, the texture of concrete, and the details of joints—nothing was overlooked. Yuswadi Saliya once described Sendang Sono with the expression, “His desire to create left its mark everywhere. Witnessing it can be exhausting; the details tell an unending story, greeting you at every curve and turn. Triangles and rectangles form planes and spaces that echo and resonate, rising and falling in tiers, creating a human-made spectacle that blends with the winding river and the ridges and valleys of the hills. It’s incredibly complex. Diverse.” Diversity in technique became the hallmark of Romo Mangun’s architecture. His concept was variational or hybrid, reflecting the context of the location where his architecture stood.

In terms of mass composition, he often explored sloped roof forms, considering the use of tiles as a covering that was easily available and relatively affordable compared to concrete roof installations, especially given Indonesia’s high rainfall. Romo Mangun’s roofs spanned wide, often dominating the building’s image. With low body proportions, there seemed to be an effort to keep the scale humane, making maintenance easier.

To support these roofs, a variety of materials were used. Out of his roughly 30 built works, more than a dozen churches primarily used concrete as a structural element. Sometimes it served merely as columns when the roof span could still be supported by wooden structures; other times, it appeared as beams when the church’s capacity was too large. Meanwhile, in smaller churches, retreat houses, schools, or residences with modest areas, the primary structural role was typically taken by wood.

However, even when concrete was used, Romo Mangun was not accustomed to leaving it plain. Patterns were etched into it—sometimes in regular designs, sometimes using molds made from bamboo or reclaimed wood—giving an organic impression, like a tree within the building. The dimensions of the concrete were kept slender and arranged in rhythmic repetition to soften its rough, heavy character (Tjahjono, 1995). Sometimes, cantilever beams were molded to resemble branches. In Romo Mangun’s hands, concrete became softer and often felt organic.

Moving to the body of the building, Romo Mangun often designed his public spaces, especially churches, to be open without enclosing walls, except for a single row behind the altar. First, this maximized airflow—similar to Silaban’s belief that Indonesia needed wide roofs to shield from the sun’s heat rather than walls that block the equatorial breeze, which moves at a modest speed. Second, this was due to his concept of the “market church.” Romo once advised, “When religiosity becomes more deeply rooted in the light of God, then the true human being is a reflection of God’s own shadow” (Mudji Sutrisno, 2001). There was no urgency to separate the sacred space of the church from the “market” of daily life. Instead, that boundary was opened to bridge the souls seeking God’s light.

When a wall was needed, it took various forms: brick, wood, bamboo, natural stone, concrete, or a combination of them all. The parameters were not far from budget constraints, material availability on-site, the creativity of craftsmanship, and community empowerment. For example, the Convent of the Sisters of the Mother of Unity in Gedono, Salatiga, was initially designed with brick walls. However, when Romo Mangun surveyed Gedono, he noticed that many locals worked as gravel stone cutters. He had the idea to employ them to cut larger stones from the nearby Banaran area, which was closer than sourcing bricks from Klaten. This reduced costs, and the locals learned new skills in cutting large stones neatly. Materials that seemed ordinary were transformed in an extraordinary way.

For the floors, in some of his works constructed with wood—particularly residences—Romo Mangun often applied a raised floor structure. Examples include parts of Wisma Salam, Sendang Sono, Arief Budiman House, Kampung Code, and Wisma Kuwera. This was a response to Indonesia’s humid tropical climate, which can affect wood. But beyond that, the combination of raised and conventional floor structures within a single work created a dynamic play of heights, making the spaces within feel delightful!

Romo Mangun’s architecture became a key precedent in the collaboration between low technology and high technology. Julia Watson, in her book Lo-TEK (2019), explains that low technology, or lo-tech, is often associated with simple, unsophisticated, uncomplicated systems or machines from before the industrial revolution. We also see it as an intuitive and impulsive method, with solutions that emerge spontaneously on-site. Conversely, high technology (high-tech) is new, advanced, and gives the impression of being a better option. Watson reveals that high-tech systems, which attempt to be a solution for all problems, often contradict the heterogeneity or diversity within the complexity of ecosystems.

Therefore, high-tech isn’t always the answer. The combination of lo-tech and high-tech became the middle ground Romo Mangun adopted to address the gap between cutting-edge Western architecture, which dominated the world, and the local architecture that was part of Indonesian daily life at the time. This reflection on his concerns eventually led to the creation of the books Pasal-Pasal Pengantar Fisika Bangunan (Introduction to Building Physics) and Wastu Citra (The Image of Building).

Pasal-Pasal Pengantar Fisika Bangunan (1980) focused more on technical aspects and responses to Indonesia’s tropical climate, as well as natural phenomena like earthquakes. It included a special chapter discussing the application of local materials such as bamboo, wood, and brick, which were suitable for Indonesian conditions. Aimed at students and non-academic practitioners, the book was written in simple language with diagrams and practical examples. There was an understanding that society had limited access to high technology, so Western-based architectural education needed to be balanced with knowledge of building methods relevant to local conditions.

Meanwhile, Wastu Citra (1988) took a more discursive perspective. Published at a time when Romo Mangun no longer wished to serve as a priest and was more involved in activism with the lower classes, he likely saw how traditional building practices and those developed in daily life were often not considered part of architecture. Thus, he used the term “wastu,” which encompasses all forms of building activities, to level the playing field.

Revianto B. Santosa, in the documentary Wastu, observed how Romo Mangun took a “universal” approach in this book: not only discussing the strengths of Indonesian architecture with its tropical climate and vernacular culture but also including chapters on Western architecture and its philosophy, as well as international inspirations from Greece, Japan, and India. When discussing deeper cosmological meanings beyond the physical form of wastu, Romo Mangun drew on studies from various cultural and religious traditions around the world. However, he ultimately concluded the book with a call to blend the best elements from each pole to bring prosperity to all, including the marginalized.

In our view, beyond just combining low and high technology, Romo Mangun’s commitment to the common people extended to the very dimensions of the materials he used. Take a joglo—a traditional Javanese house from the low-tech tradition; its use was no longer relevant for the lower classes because large, long, and solid wooden beams were unaffordable. Romo Mangun had to work with shorter pieces of wood—and whatever materials were available, even if they were scraps or what others might consider trash. From our interview with Rina Eko Prawoto, it was common for Romo Mangun to ask workers to remove nails from a piece of wood. Both the wood and the nails would be reused for other needs.

We had the chance to visit Wisma Kuwera. At first glance, the building seems to respond to Yogyakarta’s urban context by creating a dense program of spaces within. Its modular dimensions are no larger than 3 meters, with a vertical composition that interlocks, featuring floor height variations between 1 and 1.5 meters. The spatial experience it creates is truly fascinating, prompting the question, “How did Romo come up with something like this?” Upon further reflection, those small dimensions were a response to limited access to massive materials, creatively arranged to form an innovative spatial composition.

Material limitations also gave rise to multifunctional elements. One example is the A-frame structure, which was later widely used in Sendang Sono, Arief Budiman House, Kampung Code, and the Gedono Convent. Here, the roof also served as a wall, and the columns doubled as the roof frame. It was like an attic but used as a primary space. The presence of actual walls or other elements grew as needed, allowing the building to transform elegantly.

When access to materials was so limited, one had to understand how to maximize what was available. Perhaps this was the seed that produced Mangunwijaya’s tectonics. Quoting Mahatmanto (2001, Tectonics of YB Mangunwijaya), “Understanding the material is the starting point in building, and that can only be done by directly touching and feeling the qualities it holds.”

Yuswadi Saliya once had the chance to observe Romo Mangun while he was about to build a partition wall from lattice blocks. He spent a long time turning the blocks over. “Stacking them, lining them up, angling them… He examined them from the side, from below, stepping back and then shifting… Searching for the most harmonious position, composing the most melodious tune.” The elaboration was done without drawings, relying on sensory sensitivity as a human interacts with the form of space. Yuswadi saw this as a form of freedom.

In his process, Romo Mangun worked closely with the workers. He didn’t just oversee them—he educated them, and often, he learned new things from them as well. Their significance was so great that he dedicated a page in Wastu Citra to them: “This book is written to honor the workers and field laborers who, in their own way, have become master teachers of architecture to me.” They were the ones Romo Mangun wanted to invite to achieve freedom together.

Romo Mangun focused on the creative process, not just to make money through a capitalist approach, but to use the money earned to bring prosperity. Eko Prawoto once shared a story about his teacher: “Romo created those details not for aesthetic reasons, but to prolong the work, so the workers could stay employed longer at the site.” It’s possible that the cost spent on labor exceeded the cost of materials.

This reminds us of the architect Louis Kahn when he designed the National Parliament Building in Dhaka, Bangladesh. His project created many new jobs and became a means of skill development for local workers. What sets them apart is their choice of materials. For a project as large as the Parliament Building, the use of concrete and marble created a craftsmanship gap in a society accustomed to building with earth, bamboo, wood, and brick.

This is where Romo Mangun’s choice to combine low and high technology becomes significant. As a result, the workers could continue working on something familiar to their daily lives while also learning new materials or techniques together. A circular resource system emerged, with leftover or used materials reentering the cycle alongside workers who were re-empowered. Mahatmanto, in the documentary Wastu, explained how Romo Mangun recognized the heterogeneous quality of society: “So he took the lowest threshold to ensure that all materials, craftsmanship, and skills possessed by the workers could be utilized optimally.”

However, simple techniques didn’t mean ordinary results. On the contrary, the low-threshold approach opened opportunities for everyone to participate. Often, the workers proposed new ideas that Romo Mangun hadn’t thought of before. Gunawan Tjahjono described this process as a jazz performance, where each player has the freedom to enrich the song: “From the workers to the users, everyone was involved and had the chance to interpret. The participants had the space to express themselves through parts of the building they might inhabit for a lifetime.” Ultimately, after Romo Mangun was no longer there to guide them, it was hoped that the users and workers could continue or maintain the buildings independently.

The buildings’ performance was also designed to educate. At the Fermentum Seminary in Bandung, for instance, Romo Mangun divided the residence for the fraters (priest candidates) into small units of 5–6 people to form small, family-like communities that knew each other well. The combination of low and high technology was again applied, introducing a sense of temporariness that required regular maintenance. “Romo Mangun said, ‘Let it be, so the fraters in each unit can compete to see which unit is the best maintained,’” said Father William. Romo Mangun seemed to emphasize that being a priest is not a privilege but a role to serve the community. This awareness was cultivated through daily habits—using facilities appropriately and repairing any damaged parts.

The values of everyday life were one of the lessons we found in Romo Mangun’s figure. Beyond being translated into spatial programs and overall designs, he seemed to capture the good aspects of society’s daily life and celebrate them through symbolism. This could take various forms, from unique masses as focal points to repetitive structures, material arrangement patterns, and decorative elements.

The use of symbolism might seem superficial for a thinker as profound as Romo Mangun. However, this might have been the simplest way to instill pride in the small communities he served—that every life is valuable, that beauty exists in all circumstances. At the Kali Code valley, for example, what Romo Mangun hoped for was the revival of the residents’ self-esteem. From there, a spirit to strive would emerge, to go through every process without always being spoon-fed. He realized that personal development should stem from what one has and be achieved independently, so the fruits of prosperity reaped are not uprooted from their identity.

Romo Mangun’s architectural exploration demonstrates a balance between ontology (the essence of something), epistemology (the way of knowing that information), and axiology (the study of values and biases). In ontology, Romo Mangun was in a position where he had to deeply understand the character of materials, ultimately giving birth to his tectonics. In epistemology, he was overshadowed by Western architecture but simultaneously faced a contrasting reality, leading to a design method that combined low and high technology. In axiology, Romo Mangun’s commitment to the marginalized produced a craftsmanship elaboration that became a new aesthetic language, one that could continue even after he was gone. Every individual undoubtedly has these three aspects in their struggle, but few can demonstrate totality across all three, especially in axiology, which requires empathy and steadfast principles.

When asked his opinion on the 1992 Arus Silang AMI (Young Indonesian Architects) Exhibition in Jakarta, which promoted a deconstructivist approach, Romo Mangun felt that what they were doing was outdated. In the sense that if architecture is developed for architecture’s sake—if the focus is only on function, space, and form—when will architecture address the real issues in Indonesia? Ultimately, for Romo Mangun, architecture was not the end goal. It was merely one vehicle he used to support his advocacy.

Beyond architecture, writing became another skill Romo Mangun used to communicate his thoughts. Pasal-Pasal Pengantar Fisika Bangunan and Wastu Citra are just a few of the 35 books he authored. His works weren’t limited to architecture; he wrote extensively on social critique regarding people’s welfare and education, as well as on spirituality and humanity. He also produced dozens of articles published in anthologies and various mass media from 1978 to 1998. Romo Mangun’s strength lay in his writing style. It wasn’t rigid with intellectual diction like academic writing but felt more amateurish in an approachable way. It wasn’t laden with lofty theories but was based on his direct experience as a practitioner and educator. His reflections offered new interpretations of existing phenomena and opened alternative practices or solutions to problems (Darwis Khudori, 2001).

However, among the many types of writing Romo Mangun produced, fiction became his most powerful medium. Essays might only be read by the educated, while his target audience often lacked access to adequate education. Fiction became a medium that could reach a broader audience, and through characters, Romo Mangun could depict the complexities of life he had long contemplated. Some of his fictional works include the Roro Mendut Trilogy, Rumah Bambu (Bamboo House), Pohon-Pohon Sesawi (Mustard Trees), and, of course, the most well-known, Burung-Burung Manyar (The Weaverbirds).

As with his works in other media, his commitment to the common people remained the central theme in his fiction, elaborated with philosophical values in facing the fragile post-colonial ecosystem across various fields (environment, socio-politics, culture, history). However, this was all wrapped in metaphors that concealed his sharp critiques. Once again, Romo Mangun played with symbolism. Besides making the message more digestible, the strict censorship and anti-criticism stance of the New Order regime forced him to find alternative communication channels. This strategy is reminiscent of the American writer Ernest Hemingway (1899–1961), who also used interpretive metaphors of daily life to critique war, materialism in the modern world, and other social issues.

In Burung-Burung Manyar, Romo Mangun invites us to delve into the lives of ordinary Indonesians from 1934 to 1978. The novel tells the story of Teto, a young man of mixed Indo-Javanese descent who initially sided with the Dutch but changed after meeting Atik, a smart and brave indigenous girl with a feminine and warm side. Atik is depicted as writing a dissertation on “Identity and Visual Language in the Communication Structure of the Weaverbird (Ploceus Manyar) Variety.” From this, readers can draw deeper meanings from the weaverbird’s character, known for its nest-weaving ability.

Teto is akin to a male weaverbird trying to build a “nest” for his mate, but he must first confront an identity crisis and a search for his “place” in a turbulent nation. Meanwhile, Atik, the female weaverbird, is only willing to be courted after ensuring the nest is safe for laying eggs. The weaverbird metaphor teaches that the most important thing is not the love for one’s partner but how the couple can create a conducive environment for laying eggs and raising the next generation of weaverbirds.

Entering the 1980s, the critical social conditions seemed to make Romo Mangun unable to remain at ease behind his roles as a priest, architect, or writer. The New Order’s development vision, which prioritized modernism and urban beautification, led to the displacement of marginalized communities.

One group affected was the residents along the banks of Kali Code in Yogyakarta. Most of them were villagers who could no longer prosper as farmers and sought better fortunes by migrating to the city, only to find no place for themselves. They ended up settling in “negative spaces” and working in discarded sectors, with Kampung Code often labeled at the time as a den of thugs and sex workers. Eviction attempts on this illegal settlement had been made multiple times since the 1960s, and the lava flows from Mount Merapi further threatened the village’s survival, but the residents always managed to return and resettle.

Concerned about the conditions that were detrimental to the community’s mental well-being and children’s education, in 1981, Romo Mangun left his daily life as a priest and began living with the residents of Kali Code. He negotiated to revitalize the village to make it safer, cleaner, and better organized. Construction from 1983 to 1987, using bamboo, wood, and other affordable materials, successfully improved the physical quality of the village. Symbolism emerged from this simple architectural language, enhanced by colorful decorations from painted strokes that brought the atmosphere to life. This revitalization fostered pride among the residents and elevated the value of Kampung Kali Code in the eyes of the wider community. The socio-economic welfare of the Code residents also improved over time. In 1992, this project received the Aga Khan Award for Architecture.

Romo Mangun’s struggle didn’t stop there. As in his novel Burung-Burung Manyar, the younger generation was always a focus for him. The last decade of his life was dedicated to creating a joyful and liberating elementary education ecosystem. But let’s save that story for another time.

At this point, it’s enough to know that Romo Mangun’s empathy and desire to act were immense, to the extent that a single medium was not enough to channel his will. Typically, people with such deep empathy have limited capacity due to the emotional toll it takes. However, Romo Mangun managed to break free from this trap. Jolanda Atmadjaja sees this as a mature response to the “split subject” condition. Psychoanalyst Jacques Lacan (1901–1981) introduced this theory in the 1960s, stating that humans never have a whole identity but are always fragmented—partly due to the symbols, labels, or social roles attached to them, and the gap between the ideal conditions we dream of and the reality we face. Ideally, humans will continually seek balance, chasing something that makes them feel whole, constantly evolving their roles. Most people, especially those just beginning their journey of self-discovery, might get trapped in the illusion of a single role or label, mistaking it for wholeness.

Perhaps Mangunwijaya’s experiences facing extreme realities from a young age allowed him to quickly respond to this split condition and adeptly reposition himself in other roles, recognizing the limitations of his previous ones. He understood that not everything could be resolved from a single perspective. He also realized that not everything could be solved alone, so he consistently invited others to join the movement. At this point, he was able to reconstruct frameworks, being productive across multiple domains and forming constellations with others. This can only be achieved by someone who has fully immersed themselves and realized that the boundaries of knowledge can be reimagined.

Looking at Kampung Code, it still stands to this day, though some buildings meant to be temporary have become more permanent. This does go against Romo Mangun’s original vision for Code as a temporary shelter for its residents until they could become independent and move to better places. However, the social changes that occurred were not as rapid as he had hoped. Still, it’s worth celebrating that many of the younger generation there now have higher education and better prospects than their parents.

Given what remains, the question is not how far Romo Mangun could fight for Kampung Code, but how his vision can continue to soar far beyond its architectural form, how to advocate for a grounded place, and to what extent the concept of freedom can be contemplated and brought to life by Romo Mangun’s successors.

Kategori
Arsitek dan Arsitektur dalam Ruang dan Waktu? blog inspiring people struggles tulisan-wacana

Great Teacher – Ryadi Adityavarman

Tidak banyak orang yang mampu membuat kita tersentuh dengan seluruh pengalaman hidupnya. Orang semacam itu seakan tidak hanya menjalani hidup untuk dirinya sendiri; ia mengamati untuk kita, menyimpan pelajaran-pelajaran dari jalannya untuk suatu saat dibagikan. Dan begitu kita bertemu satu, kita mulai penasaran bagaimana jalan hidupnya, karena empati sedalam itu biasanya lahir dari pelajaran tentang kesulitan, kadang tentang kesengsaraan. Saya beruntung mengenal satu orang seperti itu. Namanya Pak Ryadi Adityavarman, dan tulisan ini adalah catatan syukur saya tentang beliau.

Di atas kertas, riwayatnya sudah cukup untuk membuat orang hormat: puluhan tahun mengajar arsitektur di Amerika, berpindah dari universitas ke universitas di berbagai penjuru, dari negara bagian yang konservatif sampai yang paling liberal. Tetapi bukan itu yang membuat saya mengklasifikasikannya sebagai guru. Yang membuat saya belajar banyak justru hal yang tidak tertulis di riwayat mana pun: kepekaan interpersonalnya yang luar biasa. Beliau hadir di open house kami, datang ke pameran studio, mendukung di banyak hal sekaligus, dan setiap kali berbicara dengannya, saya merasa sedang didengarkan oleh seseorang yang sungguh-sungguh memperhatikan, bukan sekadar menunggu giliran bicara.

Empati itu ternyata bukan bawaan yang jatuh dari langit. Ia ditempa oleh jalan hidup yang tidak mudah. Beliau pernah bercerita, dan cerita ini terus saya ingat, bahwa ketika pertama kali merantau ke Amerika di awal tahun sembilan puluhan, sebagai mahasiswa asing dengan keluarga muda, pekerjaan pertamanya adalah mencuci piring di kafetaria kampus. Kawan-kawannya sesama mahasiswa menggerutu, merasa terlalu terpelajar untuk pekerjaan itu. Beliau memilih cara lain: ia jadikan cucian piring itu permainan, hari ini sepuluh piring semenit, besok dua puluh lima. Lalu ia pindah bekerja di perpustakaan, dan alih-alih sekadar membereskan buku, ia hafalkan seluruh isinya, sampai seorang profesor yang sering mencari bahan riset akhirnya bertanya siapa namanya, dan mengangkatnya menjadi asisten riset. Dari titik itulah jalan mengajarnya terbuka.

Dari kisah itu beliau menyuling satu prinsip yang kemudian ia wariskan ke murid-muridnya: untuk menjadi luar biasa, tambahkan sedikit saja yang lebih pada setiap hal biasa yang kau kerjakan. Kata luar biasa, kalau dipikir, memang hanya kata biasa yang diberi awalan. Mencuci piring, membereskan buku, menyusun resume, semuanya hal biasa, dan semuanya bisa diberi sedikit lebih. Saya kira tidak banyak filosofi pendidikan yang lebih jujur dari itu.

Cara beliau mengajar pun mencerminkan jalan hidupnya. Ia menekankan proses, bukan hasil. Kepada mahasiswa yang terobsesi nilai, ia pernah menawarkan dengan jenaka: kamu mau nilai A, saya kasih sekarang, seperti uang monopoli, mau kamu pakai apa? Ia bercerita sudah mengajar di banyak universitas dan tidak pernah sekali pun ada yang meminta transkrip nilainya, bukti kecil bahwa yang membawa orang melangkah jauh bukan angka, melainkan kemampuan yang nyata. Dan ia jujur soal dirinya: kalau dibangunkan hanya untuk uang, katanya, ia memilih tidur lagi. Yang membangunkannya adalah pekerjaan yang bermakna.

Sikap itu bukan pose. Ia pernah berkata bahwa sejak muda ia emoh dengan perangkat luar yang mentereng dan segala perisai aturan sosial yang cenderung cepat luntur; ia lebih tertarik pada isi yang sederhana tetapi langgeng. Ia berlatih tidak peduli pada gelar: wisudanya sendiri tidak ia hadiri, dan ijazahnya, katanya sambil tertawa, entah tersimpan di mana. Ketika ditawari pekerjaan, ia tidak menawar gaji. Ketika gajinya datang, ia tidak pernah melihat slipnya; semuanya ia serahkan kepada ibunya anak-anak. Dan dengan mahasiswanya pun ia hidup dengan cara yang sama, tanpa jarak atribut, seperti semboyan tiga musketri yang suka ia kutip sambil tersenyum: satu untuk semua, semua untuk satu.

Bahwa cara hidup itu sampai ke murid-muridnya, saya tahu bukan dari cerita beliau, melainkan dari surat-surat yang mereka tulis untuknya. Saya sempat membaca beberapa, dan sulit tidak ikut hanyut. Ada murid yang menulis bahwa ia belum pernah menjumpai pengajar yang hatinya sepenuh itu untuk murid-muridnya. Ada yang mengaku ikatan di kelasnya terasa seperti keluarga, dan justru itulah yang menolongnya melewati tahun-tahun akademik yang paling berat. Ada yang bercerita bahwa banyak dari mereka pernah menangis tersentuh oleh kebaikan dan welas asihnya. Bahkan satu angkatan, dalam kelakar yang hangat, berandai-andai punya versi saku dari beliau untuk dibawa ke mana-mana, supaya hari-hari mereka lebih terang. Murid-murid di seberang samudra itu ternyata merasakan hal yang sama dengan yang saya rasakan di sini.

Yang juga membuat saya kagum adalah bagaimana beliau mengajarkan empati bukan sebagai slogan, melainkan sebagai metode kerja. Ketika mahasiswanya merancang toko gaun pengantin, beliau mengajak mereka membayangkan calon pengantin yang sedang tegang, sampai ke soal ruang untuk berpatut diri. Ketika merancang ruang layanan sosial, beliau mengajak membayangkan perempuan yang datang dalam keadaan terluka, lalu bertanya: dengan pencahayaan seterang itu, dengan ruang tunggu seramai itu, apa yang ia rasakan selama satu jam menunggu? Bagi beliau, kepekaan pada manusia bukan pelengkap desain; ia titik berangkatnya.

Dan beliau murah hati dengan gagasan. Dalam percakapan-percakapan kami, ide-idenya berdatangan seperti oleh-oleh. Ia bercerita tentang pameran arsitektur di Meksiko yang mempertemukan konsultan raksasa berteknologi canggih dengan praktisi lokal kecil yang bekerja dengan metode tradisional, dan keduanya dipajang setara, saling melengkapi justru karena kontrasnya. Ia melempar gagasan tentang keberanian arsitek menjelajah ke luar ranah desain, ke ekonomi, sosial, politik, hukum, karena baginya keadilan sosial kini bagian tak terpisahkan dari keberlanjutan yang utuh: planet, manusia, dan penghidupan. Ia bahkan mengusulkan sebuah kerangka untuk kami yang ia sebut sambil tertawa sebagai nasi rames: praxis, poiesis, theoria, tindakan, penciptaan, pemikiran, dilengkapi etika. Filsafat Yunani disajikan seperti piring nasi campur, dan justru karena itu ia mudah dicerna.

Ada satu gagasannya yang membuat saya tersipu dan tidak bisa saya tuliskan tanpa rasa segan. Beliau pernah menyandingkan tiga model kerja sosial dalam arsitektur untuk sebuah rencana studi banding: studio pedesaan di Alabama yang dua dekade lalu mempelopori arsitektur bagi masyarakat berpenghasilan rendah, kerja Romo Mangun di Kali Code, dan perpustakaan kecil kami. Saya merasa belum pantas berada di kalimat yang sama dengan dua nama itu. Tetapi saya mengerti maksud beliau, dan justru di situ letak kebesarannya sebagai guru: ia sedang menunjukkan sebuah garis silsilah, bahwa arsitektur yang melayani punya tradisi panjang di berbagai benua, dan ia ingin kami merasa menjadi bagian dari tradisi itu supaya kami menjaganya. Seorang guru yang baik memang begitu: ia tidak memuji untuk membesarkan kepala, ia memuji untuk membesarkan tanggung jawab.

Beliau pernah menggambarkan dirinya sebagai ikan air tawar yang harus berenang di laut yang dingin bersama ikan-ikan hiu besar. Puluhan tahun di negeri orang, ia belajar aturan mainnya, menguasainya, bahkan dihormati di dalamnya, tetapi ia tidak pernah membiarkan lautnya mengganti air tawarnya. Menerima ajakan menari, katanya, tanpa kehilangan jati diri. Kalimat itu, bagi saya, adalah pelajaran pasca-kolonial yang paling padat yang pernah saya dengar, jauh lebih hidup dari banyak teori: belajarlah dari mana saja, berenanglah di laut mana pun, tetapi jangan tukarkan airmu.

Tidak banyak orang yang membuat kita tersentuh dengan seluruh pengalaman hidupnya, dan saya harus jujur: beliau menyentuh saya sedalam itu. Ada kalanya, mendengar kisah-kisahnya, mata saya basah tanpa saya rencanakan. Dan sesuatu yang menyentuh sedalam itu rasanya tidak pantas disimpan sendirian. Maka saya menulis ini dengan satu harapan yang sederhana: semoga beliau tidak berhenti menjadi guru saya, melainkan tumbuh menjadi guru kami, guru banyak orang, di studio, di perpustakaan kecil kami, dan di mana pun gagasannya sampai. Langkah pertamanya sesungguhnya sudah terjadi: ia duduk di antara kami saat open house, memperhatikan dengan sungguh-sungguh, lalu pulang meninggalkan gagasan yang membuat kami bermimpi lebih berani sekaligus berpijak lebih rendah. Beliau suka berkata bahwa arsitek adalah para pemimpi. Barangkali memang begitu tugas seorang guru: menjaga agar mimpi kami tetap menyala, sambil diam-diam memastikan kaki kami tetap menyentuh tanah.

Setiap tulisan dan kehadirannya membuat kami bersyukur menjadi bagian dari desain yang hidup, yang menyeluruh sekaligus meluruh dengan kehidupan di mana pun kami berada. Bersama beliau, kami belajar hadir pada sebuah kasunyatan: keheningan yang memuncak, meskipun di sekitar kami dunia sedang sibuk dan ribut. Dan kasunyatan itu bukan keheningan yang kosong. Ia keheningan yang tersentuh oleh alam dan oleh rasa, oleh jiwa yang bergolak di kedalaman, oleh kekuatan kasih yang dahsyat, yang membuat kami hanya bisa menunduk dan mengakui: Tuhan Maha Besar. Maka untuk beliau, guru yang mengamati untuk kami, dan untuk semua guru kami di mana pun berada, catatan ini kami tutup dengan satu doa yang tenang: semoga Tuhan menjaga jiwa guru-guru kami, sebagaimana mereka selama ini menjaga jiwa kami. Yang Maha Kuasa sungguh besar. Rahayu, rahayu, rahayu.

Kategori
blog lecture

Event Session: Design Perspective – Kolkata Edition

[Repost from instagram @designperspective_]

A full house and an inspired audience

@rawarchitecture_best (@realricharchitectureworkshop session at Design Perspective – Kolkata Edition was nothing short of transformative. 🌿✨

With his signature philosophy rooted in simplicity, humility, and craftsmanship, he walked us through a series of soulful projects that celebrated local materials and honest architecture.
Every story he shared, every detail he revealed, reminded us that design is at its best when it’s grounded, sustainable, and deeply human.

(Design, Perspective, Kolkata, Success, Event, Architecture, Keynote, Speakers, International architects, Showcase, Inspiration, Audience, Highlights.)

#designperspective#kolkata#cityplanning#sustainablecities#futureofdesign#urbandevelopment#architectureinsights#foaid2025#designleaders#keynotespeaker#eventhighlights

Kategori
blog publication

Culture by Design featuring Guha the Guild

“An architect shouldn’t just tell their own story, they should listen, comprehend, and gather the stories. That’s how we create not a single narrative, but thousands of stories. Architecture is a mission, not only just a business.” – Realrich Sjarief for Culture by Design on ABS Australia

Tune in to Episode 5 – SUSTAINABLE also featuring Britta Knobel Gupta, Amit Gupta, and Alvin Tjitrowirjo on ABC Australia, Sunday, 18th May 2025.

Culture by Design is a architecture cultural journey across Asia with Australian presenter and international design expert Anthony Burke featuring the creative visionaries shaping the future of design.

Berbicara tentang kultur bukanlah hal yang mudah, ini seperti proses melintasi ruang dan waktu. Studio RAW memulainya dari bawah, termasuk praktik dari garasi, mendapatkan dukungan dari klien-klien kami, rumah tinggal pribadi, renovasi, proyek publik, komersial sampai sekarang meneruskan energi positif dari banyak orang.

Di tahun 2016 kami menyusun bagaimana perpustakaan OMAH, buku, dan literasi dapat menjadi perjuangan yang nyata sekaligus menjadi fondasi dari arsitektur yang edukatif bersama begitu banyak kontribusi. Bagi kami, arsitektur mencerminkan semangat untuk terus belajar dan bertumbuh.

Dalam film dokumenter Culture by Design yang dibuat oleh ABC Australia oleh Anthony Burke, Justine May, Claudine Ryan, Mim Stacey, Andrew Dorn, Alan Stalich, Frank Lotito, Rachel McLaunghlin, Christos Agripoulous dan Tim Smith. ABC Australia memberikan begitu banyak pertanyaan mengenai Nest House atau Guha. Guha atau Nest House ini tempat di mana begitu banyak hal terjadi: tempat tinggal, tempat belajar, tempat menulis. Guha the Guild sendiri adalah rumah petak, gua yang mencerminkan kepadatan penduduk Jakarta yang tinggi. Ketika tempat tinggal menjadi mahal, kami berkumpul dan menciptakan ruang yang lebih terjangkau, lebih padat, namun tetap nyaman.

Seperti panasnya matahari yang kita atasi secara arsitektur dengan cara sederhana: menciptakan kenyamanan tanpa biaya tinggi. Arsitektur, menurut kami, seharusnya ekonomis dan memiliki fungsi yang baik — melampaui sekadar gaya atau estetika.

Tak lupa, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Almarhum Pak Eko Prawoto dan juga tim RAW, ada begitu banyak orang hebat di balik proses kebersamaan ini melintasi ruang dan waktu melalui tulisan, buku, teori, dan diskursus arsitektur, dan kami sangat berterima kasih atas setiap dukungan. Terutama kepada ABC Australia, yang telah mengangkat cerita Design by Culture. Kami merasa sangat terhormat. Semoga film ini apa yang dikerjakan oleh tim ABC Australia dapat menjadi berkat bagi banyak orang.

#culturebydesign #realricharchitectureworkshop #abcdesignseries #realrichsjarief #designfuture #sustainabledesign #creativevisions #designasia #indonesiandesign #jakartadesign #indonesianarchitecture #designleaders #regenerativedesign #designvisionaries #designforgood #designinspo #asiancreatives #futurebydesign #designinspiration #designculture #anthonyburke

Kategori
blog lecture

Design Perspective – Kolkata Edition

[Repost from instagram @designperspective_]


We are honoured to welcome @rawarchitecture_best, Founder of @realricharchitectureworkshop, Indonesia , as a keynote speaker at Design Perspective – Kolkata Edition, an initiative by FOAID.

Known for his philosophy rooted in simplicity, humility, and craftsmanship, Realrich creates architecture that is both soulful and timeless. His work with local materials and honest forms defines a unique approach that is grounded, sustainable, and deeply human.

🗓️ 23rd May 2025
📍Taj Taal Kutir
🕕 5:00 PM Onwards

Join us for an inspiring evening as he shares the RAW way of building — where emotion, context, and intention come together in the purest form.

[Event, Architecture, Architect, Architecture event, interior design, Speaker, Brand, Indian Architects, Networking]

#designperspective#kolkatacity#kolkata#interiorstyling#luxurydesign#moderndesign#architects#kolkataarchitects#architecture#architecturelovers

Kategori
blog

Ulang tahun yang ke-43

Hari ini saya berulang tahun, ke 43. Umur yang saya syukuri karena bisa punya waktu foto bareng sama keluarga kecil kami. Laurensia yang selalu hadir untuk menyemangati dan menemani kesibukan. Hari ini juga kami sibuk sepanjang hari, rapat, lapangan, workshop-workshop desain. Akhirnya bisa pulang di rumah jam 17:00 untuk sedikit mengabadikan foto yang diambil oleh @luil_mn, yang punya talenta untuk mengambil momen – momen menyentuh hati, cukup foto ini kado ultah saya yang berkesan.

Kalau ada harapan di tahun 2025 ini, saya ingin kehidupan lebih bahagia untuk keluarga, studio, klien, masyarakat. Banyak penyadaran yang saya pelajari justru dari istri saya, supaya saya lebih sabar dan semangat. Doanya setiap hari ketika saya mau kerja ataupun anak – anak yang memeluk setiap kali saya pulang. Ada cerita dimana Heaven menyapa kakaknya dan meminta diajarin piano lagu Million Dream, padahal sebelumnya sulit berkomunikasi. Ataupun Miracle yang mengintip satu kakak di studio yang sedang main piano dan memberikan apresiasi bahwa ia suka akan permainannya. Kejujuran untuk memberikan apresiasi dan keinginan belajar yang tulus dari mereka membuat kami tersenyum.

Kami dikaruniai putra – putra yang baik dimana Heaven yang sudah bisa pose bareng Miracle menunjukkan pertumbuhannya yang bisa saya syukuri menjadi pribadi yang lebih terbuka.Ya Tuhan, Terima kasih ya yang sudah mengirimkan malaikat – malaikatnya menjadi keluarga, sahabat, dan inspirasi selamat ini dan di masa depan.

Hal – hal kecil itu kado terindah untuk ulang tahun saya kali ini akhirnya bisa foto bareng sekeluarga, Thank you ya lu buat foto2nya , @wiwidun dan @hendrick_tanu yang sudah sharing hari ini, juga guru-guru saya, kawan- kawan di raw, dot, omah, teman – sahabat, keluarga terkasih yang mendoakan.

Photograph by @luil_mn

Kategori
blog

Jeda sejenak di akhir tahun 2024 dengan bertemu sahabat lama

Ini sebagai refleksi singkat untuk saya yang sering bekerja terus yang kadang2 lupa perlu pengingat. Saat – saat kemarin bertemu sahabat jd jeda yang menyisakan banyak kenangan,

Belajar dari 4 hal yang dibagi Nita pada waktu jalan kaki menyambangi teman yang ternyata tetangga kami, ia bercerita tentang cerita dari Brian Dyson CEO Coca Cola. Cerita itu sangat berkesan dan akan saya ingat terus,

“Bayangkan hidup sebagai sebuah permainan seperti pemain sirkus di mana Anda menyulap lima bola di udara bernama pekerjaan, keluarga, teman, kesehatan, dan semangat.

Ketika Anda berusaha untuk menjaga semuanya tetap di udara, Anda segera menyadari bahwa pekerjaan itu adalah bola karet, dan jika Anda menjatuhkannya, ia akan memantul kembali. Namun empat bola lainnya, keluarga, kesehatan, teman, dan semangat terbuat dari kaca.

Jatuhkan salah satu dari mereka, dan bola akan lecet, tertanda, tergores, rusak, atau bahkan hancur, dan tidak akan pernah sama lagi.”

Thank you ya Nita untuk refleksinya dan perjalanan hidup yang luar biasa untuk terus kuat, juga ada Tisa, teman jalan2 ke zoo, cerita lucu2, keren, jenius tak terduga dan suaminya Andhie yang kepala ong and ong Indonesia, jg Ririe dan Acha yang super baik dan care sama teman-temannya dari dulu sampai sekarang dan kenal sama Dhisti jg , mereka orang yang rendah hati yang observant. Terakhir ada Aulia yang partner main musik dengan suaranya yang bagus, andalan singing telegram pada zamannya, suaminya Norman adalah satu role model yang mengajarkan saya banyak hal di arsitektur jg kawan serumah di Singapore.

Semua berkembang menjadi pribadi yang tidak akan terlupakan, akhir Desember ini menjadi refleksi untuk terus kuat, dan bersyukur akan kenangan dan pertemanan yang baik. Hari ini adalah hari penuh rasa syukur bisa mengingat persahabatan, kenangan. Hidup tidak mudah untuk kita. tapi masih bisa tertawa dan tersenyum. Banyak cerita yang jadi doa untuk ke depan, untuk selalu kuat dan bersyukur akan kenangan yang ada.

Selamat tahun baru 2025

Kategori
blog

Platonic Bioclimatic Home

Located on Ciasem Street, this Platonic Bioclimatic Home is situated in 17 x 28 m land area surrounded by dense trees in South Jakarta. For this reason, we focused on a bioclimatic design principles that contributes to reducing the urban heat island effect while creating a sustainable oasis for the homeowners.

The concept of the house is to have a 4-sided design, with most of the private and public spaces oriented to face multiple sides. This allows indirect sunlight to reach the interior throughout the day, creating dynamic shadow patterns and air corridors that break up the mass of the building.

The west side of the building is remains solid for thermal comfort, while the east side features an artistic brise soleil wall that provides privacy and also functions as a sunlight blocker. This wall consists of about 40 patterns made of lightweight concrete block and has been refined through several experiments, concerning structure, strength, composition, and how the materiality is designed to ensure long-lasting durability.

On the south side, wooden-patterned lattices made of concrete are placed. These lattices create poetic spaces that highlight the grain of the wood and offering a timeless quality, akin to the durability of concrete. As homeowners enter from the ramp, they will experience a sequence of light-filled corridors that lead them through dynamic vistas.

The lower spaces are designed to be open, with the library and workspace located at the far end of the mass. On the first floor, an open family room is positioned, accessible via an exterior ramp. The access route curves around the side, and an open void allows light to penetrate from all four sides of the building. The second floor is designated as the bedroom zone, which also includes a shared gathering space. It is also designed with by considering the client’s domestic space needs, including communal areas for activities such as religious study, which can be held in various spaces and on different floors. The house is also designed with a zero-water runoff concept, utilizing recycled water to minimize its environmental impact.

design by #realricharchitectureworkshop
photograph by @bacteria.archphotography

Kategori
blog

Terima kasih untuk seluruh rekan-rekan yang hadir dalam diskusi 8 jam 99% Abstraksi di Ruang Guha Plato

Terima kasih untuk seluruh rekan-rekan dan semua yang hadir dalam diskusi 8 jam di Ruang Guha Plato, yang gelap seperti lubang hitam. Kami duduk bersila, sejajar, dari pribadi menuju komunitas. Di sini saya mendapat kawan, teman berdiskusi, sehingga perjuangan terasa tidak sendirian. Dari topik abstraksi, tafsir, post-colonial, hingga utopia, dibahas dari berbagai sudut pandang oleh orang-orang yang mencurahkan hidupnya untuk arsitektur. Mereka yang hadir adalah orang-orang yang cinta pada pengetahuan, dan dari merekalah kami belajar tentang menjadi manusia pembelajar, penuh kasih sayang, bahwa masa depan adalah mimpi untuk membangun dan meneruskan tongkat estafet ke generasi muda.

Dari Mas Anas, kami belajar tafsir yang merdeka melalui mendengarkan. Dari Pak Ryadi, kami belajar kultur studio yang melihat kelemahan sebagai kekuatan. Pak Abidin mengajarkan kami bahwa tujuan post-colonial adalah membela yang lemah. Juga Gede yang mengajarkan bahwa isolasi adalah cara untuk keluhuran, perlu sikap kritis dan keberanian untuk membangun sistem yang terhubung secara global, hingga membentuk budaya luhur. Cahyo mengajarkan variasi pengajaran melalui rangka dan solid, memberi pilihan dalam membentuk karakter yang adaptif. Nanda mengingatkan kami bahwa identitas bukan hanya ideologi, tetapi juga strategi bermanuver. Jo Adiyanto mengajarkan pentingnya jejaring sejarah, keseimbangan kampung-kota, dan desa.

Kategori
blog

Ngumpar Bioclimatic Home

Ngumpar Bioclimatic house is located at the end of the street, with a land area of approximately 300 sqm. The 12 x 17 m layout was designed to create thermal performance and foster a natural atmosphere, creating a comfortable microclimate. Upon entering the building, the entrance access is set back through a foyer ramp, which is covered by a tropical garden, endemic trees, and bushes that serve as a way to provide thermal comfort. This setback strategy covers access to the building from the west side sun. It leads to a swimming pool that also cools the microclimate. The circulation then ended in a wooden deck through the main entrance of the living area on the 1st floor.

The first floor is a spacious main living area with a large void and skylights in the form of a ‘tumpang sari ‘, a traditional Javanese architectural element that allows for natural light penetration, inspired by a traditional joglo house, allowing sunlight to flood by side gaps. On this level, we can see a visual connection to the master bedroom in the void. This level also includes a shared workspace, private areas, and an atrium as a long foyer, linking the more prominent spaces with utility areas.

The second floor features a void that connects the master bedroom with the children’s rooms, while the upper level includes a gym and social spaces. The roof is designed to provide thermal insulation and air flow by tumpang sari skylight, wooden deck, and canopy, and is enhanced with greenery, providing insulation for the bedrooms below. This approach effectively lowers ambient temperatures by 3-5 degrees.

While on the ground floor, the service area and living area encircle a 2 central staircase, which acts as the house’s spine, featuring openings on its sides for natural light and airflow. The gap between the building and the neighbor’s house facilitates airflow and enhances natural light.

The house has an exploration of forms of opposing curves, creating an expansive feel despite the site’s limited size. This design also offers a flowing aesthetic. The recurring curves extend to the finer details of the home, including the curved railings made from a blend of iron and local ulin wood, as well as arched doorways made by local craftsmen.

design by #realricharchitectureworkshop
photograph by @sonnysandjaya

Kategori
blog

Morahai Bioclimatic Home

The Morahai House is located on a 17.5 x 24.5 meter plot of land at the corner of Jalan Damai II, South Jakarta, directly adjacent to RPTRA Taman Sawo at the north. The northern, eastern, and southern sides of the house are surrounded by community activities and street vendors, while the western side is quieter, bordered by shophouse and formal residences.

The goal of designing this house was to reduce the indoor temperature to 28°C through a bioclimatic approach. This involves strategically placing trees and plants both inside and outside the perimeter to create a natural cooling effect. Additionally, we aimed to achieve a PM2.5 concentration of under 30 µg/m³ to ensure the house remains free from air pollution.

The exploration of combining curved and rectangular shapes in the building’s form and facade aims to facilitate healthy airflow and natural light into the interior spaces. The design features carefully selected materials that are cost-effective yet still provide a unique character. We used a mix of materials, including cement plaster and ulin wood. The western side of the house is designed to be more enclosed, complemented by lush trees to block excess sunlight, while still offering views of the RPTRA. A rooftop garden serves as insulation for the rooms beneath it.

The surrounding context, which blends both formal and informal characteristics, inspired us to create a design that is not only environmentally friendly but also provides space for the local community. Interestingly, the house features a social area with a newspaper corner on one side, creating an informal social space that can facilitate activities for the surrounding community. Through this approach, the Morahai House becomes a home that not only offers comfort to its occupants but also contributes positively to the environment and the surrounding community.

design by #realricharchitectureworkshop
photograph by @ernesttheofilus

Kategori
blog

Bamboo Detailing at Piyandeling

Di bangunan ini berukuran diameter 9 m, terbuat dari material bambu dan plastik poly carbonat. Pemetaan masalah-masalah arsitektur penting untuk memberikan analisa apa saja yang perlu dilakukan untuk mempermudah pekerjaan di lapangan sekaligus menambah nilai positif budaya. Dalam kasus ini apa yang kami lakukan di Bandung, khususnya di dalam bangunan 3 lantai yang terbuat dari bambu ini membantu menyelesaikan permasalahan angin sehingga bentuk yang tercipta yaitu silinder adalah hasil kompromi termudah, tersederhana sesuai dengan namanya saderhana.

Poly carbonat dengan frame bambu ditujukan untuk memberikan lapisan pelindung pertama, sekaligus plastik dengan ketahanannya akan baik untuk mempreservasi bambu dengan maksimal. Seluruh engsel menggunakan bambu. Gridnya 3.00 m, dengan akses tangga ada diantara lapisan pertama dan kedua. Bangunan ini dijangkar dengan kamar mandi di belakang menyerupai bentuk konde. Bangunan ini tidak mahal tetapi juga eksperimental, dengan tujuan membuktikan bahwa arsitektur bambu bisa didekati dalam intensi yang analitik juga intuitif yang terlihat dari komposisi detailing di sekujur ruang-ruang, pintu, jendela, langit-langit. Dari luar ia platonis dari dalam ia penuh pola matra dari berbagai sudut pandang dan wastra keberagaman pola nusantara yang begitu banyak dan kaya dalam sebuah komposisi

Detailing by
#dotworkshop
.
#realricharchitectureworkshop

Kategori
blog

Bioclimatic Tube House

Located in Alam Sutera, this three-story house features a compact, modern design with a focus on sustainability. The 17 x 7 meters site is relatively narrow, which poses unique challenges in optimizing space while ensuring the home remains functional and comfortable.

The design focuses on integrating key sustainability features, such as solar panels and a north-south orientation, to optimize natural light and ventilation. The layout uses three simple grids, which structure the space efficiently while allowing for a fluid and dynamic spatial experience.

The design process begins by considering the overall organizational framework of the space. Each section is rearranged based on several criteria, such as the proportion of space, views, and the potential for creating interesting spatial experiences. By placing the most important areas, such as the living room and bedroom, in the center, the design ensures transparency through the core of the building. This central area provides the best views and natural light in the limited space. This iterative process continues with carefully selecting materials, ultimately achieving an optimal composition that balances functionality, aesthetics, and sustainability.

The final form of the house is tubular in shape, with a central “bridge” element. This “bridge” serves as a strategic feature, enhancing the flow of air and light throughout key areas like the bedroom and living room, ensuring a comfortable living and microclimate to the inner space.

design by #realricharchitectureworkshop
photograph by @bacteria.archphotography

Kategori
blog

Artisanal Bioclimatic Home

This project is located in Taman Permata Buana, Jakarta. The location faces the east side and is opposite a residential park. This project uses 80% of the old walls and structures to reduce construction costs optimally. The renovation is designed with a unique shape with simple exposed concrete materials and is equipped with balconies and canopies to protect the building from excessive sunlight.

The client dreamed of a house with natural light, passive cooling, aesthetics, and affordable costs and maintenance. To fulfill these desires, this project carries an open-plan concept combining indoor and outdoor spaces, providing an intimate space experience with wide gaps between spaces to maximize natural lighting.

The continuity of the design from inside and outside helps maximize the quality of the ground floor space. The living room facing the yard or small garden creates a more private and intimate space. The design of this house also has a unique shape that responds to the angle of sunlight from the east side, which is maximum at 10 am. The shape is formed by cavities that allow light to enter and can be used for cross-ventilation.

Natural light enters from the north and south through skylights and from the front and back through openings, ensuring that all rooms are exposed to natural sunlight and have good air circulation. The building uses raw materials, such as cement, brick, steel, wood, rough tiles, and terrazzo, showing layers of Javanese craftsmanship, where everything combines to create unity but also diversity in its interior and architecture.

This project illustrates a bioclimatic design by utilizing small gardens, natural light, passive cooling, diversity of materials, but still with easy maintenance to improve the quality of life indoors and outdoors. This design is also suitable for dense urban areas, with construction that can be done at a minimal cost and simple craftsmanship techniques, and all of these approaches underline the approach in our studio to create an earthy, environmentally friendly beauty in residential design in Jakarta.

design by #realricharchitectureworkshop
photograph by @luil_mn @_yophrm

Kategori
Press

Proyek Pertama – First Project : RAW DOT OMAH

Realrich Sjarief, Anas Hidayat, Johannes Adiyanto, Jolanda Atmadjaja
Soft cover | Monochrome | Bilingual (English & Bahasa Indonesia) | 14,8cm × 21cm | 410 halaman | Release Date: (coming soon)
ISBN: dalam proses pengajuan ISBN

Synopsis

The process leading up to the formation of RAW, DOT, and OMAH was like a game of blending various aspects of personal identity and skills as an architect to reach a single point. This process involves an effort to balance the right and left sides of the brain. It includes long periods of practice and intense interaction with the team in the studio.

The presence of Bare Minimalist as our first completed project marked the beginning of enriching this process with the involvement of clients, engineers, and craftsmen, further complementing the existing network of relationships. Formulating a genesis that underlies an established practice pattern is certainly not an easy task. This explains the lengthy time required to publish Bare Minimalist in the form of a book. Proyek Pertama – First Project : RAW DOT OMAH could perhaps serve as a reference for newly-founded studios in experiencing the journey of a project for the first time, which also acts as an initial prototype, with the note that this reference needs to be refined to suit the most appropriate context for the reader.

Price: Rp150.000,-

ORDER THIS BOOK

Kategori
blog

Refleksi singkat dari perjalanan bersama Carlos Betancur dan Sophie Paviol

Sedikit refleksi singkat, Ini adalah foto-foto diambil oleh Carlos Betancur adalah seorang desainer yang sangat berbakat, artis, dan fotografer jg kawan yang memiliki kerendahan hari dan kualitas spiritual yang bisa saya baca. Ia mengambil beberapa gambar dan mengirimkannya, foto – foto yang tidak akan pernah saya lupakan.

Juga bagaimana ia bercerita tentang pemahamannya belajar dari buku Harvard Business Review. Ia menceritakan soal Paul Nakazawa soal preposisi nilai, yang perlu dijawab justru oleh studio arsitektur yang akhirnya merubah studio opus secara fundamental dalam diagram produk dan klien.

Sophie Paviol adalah seorang pengajar yang menginspirasi kedekatan alam, proses dalam waktu yang sesingkatnya perlu dijalani. Ia belajar dari muridnya, ia mendengarkan apa saran muridnya, termasuk perjalanan kami yang sebenarnya adalah ide dari Claire murid disertasinya. Donald miller menulis bagaimana ide eksistensi manusia sebenarnya ada di dalam citra dirinya yang membutuhkan role model, figur. Disini proses mencari guru membutuhkan patahnya ego dan mengakui bahwa masalah yang kita hadapi tidak bisa kita selesaikan. Ego harus dijatuhkan sampai seseorang berlutut sebelum ia dapat bangkit kembali, serendah – rendahnya sampai tiarap menangis dalam derai air mata. Ego perlu dijatuhkan sampai titik terendah anda, kalau anda tidak siap, semesta akan mempersiapkan untuk anda, suka atau tidak suka.

Paradoksnya ketika kita terinspirasi, kita harus menahan keinginan untuk merekayasa balik kisah sukses seseorang. Dan bahkan ketika kita ada di atas awan dengan semua euforia kemenangan , menurut Ryan Gold dalam penaklukan ego kita harus menahan keinginan untuk menganggap semua hal terjadi sesuai dengan rencana kita. Ia melanjutkan bahwa Tidak ada cerita besar di balik semua cerita kehidupan. Tidak ada yang istimewa, semua terjadi bukan hanya karena anda namun orang lain. Nama besar dimulai bukan karena mereka berpikir untuk mengubah dunia namun bagaimana mereka dengan riang hati berkerja sesuai kata hati, jiwa yang berjalan tulus.

Disitulah persahabatan muncul cerita bahwa desain perlu jadi pengobat rasa takut dan sakit juga meraih nilai tambah.

Kategori
blog

Jalan-jalan sekitar St. Denis

“Ini jalan-jalan sekitar St. Denis”,

ada satu jalan memanjang yang işin ya bangunan – bangunan lama yang direstorasi ataupun di tutup fasadenya, ataupun diperbaiki eksterior, dan interior supaya bisa representatif untuk dijual. Langit- langit rendah, sumber daya terbatas, banyak ruang – ruang luar yang tertutup bayangan. Es krimnya enak, setara dengan Kochi India (salah satu es krim terenak yang pernah saya coba) di dekat kedai eskrim yang tidak perlu ada si jalan utama karena rasanya yang enak ada juga bisnis parkir mobil bertebaran di belakang jalan utama. Es krim membuat waktu berhenti selama beberapa menit harus habis. Suhu sekitar kira – kira 29-30 derajat celcius. Ada banyak landscape tropis dijejer padat di beberapa rumah penduduk, memberikan bayangan.
.
Daerah pulau ini dramatis, ada dua area, pantai dan gunung, dikelilingi oleh laut yang terkenal akan hiu dan larangan berenang. Koridor jalan disini sangat nyaman, drainase, kemiringan, materialnya sederhana tapi durable perpaduan semen dan batu. Arsitekturnya dua lantai mirip di kota gede, tapi ada pedestrian besar, mirip juga seperti di Dili, banyak bangunan putih, fungsional. Ada juga seperti arsitektur Jengki ngingetin sama mas Cahyo dkk dengan risetnya.

Di akhir jalan – jalan, saya tetap nyari nasi, pinginnya nasi padang tapi dapetnya chinese food ^^ lumayan, isi perut sebelum besoknya acara padat maklum dari tadi bunyi – bunyi seperti alarm nyala terus, perut adalah kunci ^^

Kategori
blog

Akhirnya, Biennale Internationale d’Architecture Tropicale (BIAT 2024) selesai dan berjalan dengan baik!

“Capek hilang ^^ !”

Akhirnya ! Biennale Internationale d’Architecture Tropicale (BIAT 2024) kali ini selesai, berjalan dengan baik, saya belajar banyak tentang arsitektur tropis dan performanya dari panitia dan presenter yang lain Prof Hao, Anthony, Carlos, Javier, Kevin, Anne, Alfredo, Juan, Maria, Rafael, David, sebastien, Javier, dan lain-lain. Tq untuk Panitia menghabiskan banyak waktu untuk mengkurasi , memilih materi berbulan – bulan dan akhirnya kami semua datang untuk berkumpul di La Reunion, saya bertemu banyak sahabat baru. Di tpt ini kami saling bertukar pikiran, dan saya tidak pernah bisa membayangkan kok bisa ada disini. “Tuhan punya kuasa atas apapun yang akan terjadi“ kata Bu Lisa Sanusi.

Kami juga belajar dari banyak biro, banyak professor, juga banyak kerja keras dari tim RAW DOT OMAH yang terus berjuang, saya menamakan tim kami the underdog studio, dengan semangat untuk terus belajar dengan keterbatasan, dan kesederhanaan praktek seperti di studio garasi. Semoga semua ilmu, jaringan kesetiakawanan teringat terus sampai jangka waktu yang lama. Sampai kemarin pun setiap presentasi selalu deg-degan, masih perlu doa, masih perlu geladi resik, masih perlu nulis sebelum presentasi.

La Reunion, bertemu saudara baru, pengetahuan baru. “I learn during talk with about our teacher and all Indonesian brothers that tolerance and solidarity teaches about coexistence that we share the same moon, the same sun, and the same earth. We are closer than ever, by inheritance and by such a fate. It’s a deep connection, and resonance about this beautiful world. I think it is meaning of reunion.” Satu catatan yang kami bacakan di awal penjelasan yang terinspirasi dari pertemuan dengan Pak Eko Prawoto.

Semoga Tuhan panitia, mahasiswa yang bertemu, semua yang mengajarkan pentingnya arsitektur bioklimatik dan berjejaring. Sampai jumpa lagi 👍 sukses untuk Biennale Internationale d’Architecture Tropicale (BIAT 2025) dan ke depannya.

Inilah pentingnya simposium, konferensi, sharing, diskusi yang adalah soal abstraksi yang bisa dibawa pulang, jg pentingnya perjuangan orang lain yang kita dapatkan semangatnya. “Menular !!^^ mari capek lagi”

Kategori
blog

Perjalanan menuju konferensi BIAT di La Reunion

“Capek!!!”

Beberapa bulan yang lalu kami mendapatkan undangan dari panitia BIAT, tentang jadi speaker “sebutnya diskusi ”Karena senangnya banyak belajarnya dari pembicara lain secara gratis, ini konferensi di La Reunion, sempat ragu – ragu karena ini memang di perancis tapi di daerah kepulauan dekat benua Afrika. Kaya kata Jon Lang “to learn is to teach to teach is to learn, and you please dont give me that blank face!” Haha

Senengnya juga bisa ketemu Tony, adik kelas saya dulu kerja bareng di DOT ngurusin pedestrian sampai desain Bank Indonesia yang saking kerennya atau jeleknya sampai ditolak ha ha. Ia l sekolah lagi di Cornell Amerika sekarang jadi urban transformation leader, ternyata ilmu analitik arsitekturnya terpakai sampai jadi planner, ekonom, dan strategis. Kita satu flight bareng ke Doha ia pisah untuk ke World Economic Forum di Mesir.

Dan perjalanan yang jauh 48 jama kadang membuat saya mengeluh dalam hati dan menelan ludah, kapan sampainya. “Kok ngga sampai – sampai?” Sesampainya transit di Paris, Begitupun hawa dingin, yang membuat harus cepat beradaptasi. Perut yang kosong, gemetarnya badan, membuat sadar juga musim dingin tidak menyenangkan untuk tubuh. Adaptasi badan, adaptasi pikiran, adaptasi ego. Bahwa proses yang tidak nyaman itu malah buat kita belajar lagi, jadi underdog lagi, dari situ malah buat saya jd tidak berjarak dengan perubahan positif untuk lebih sabar.

Sekarang masih 11 jam lagi perjalanan. Mimpi saya ya bisa belajar kualitas studio dari situ, pemahaman diri, desain tropis yang ilmunya bisa dibawa pulang. Prosesnya ya kok berat, Semoga kita semua bisa lebih kuat dalam perjalanan hidup kita yang membutuhkan adaptasi dalam belajar.

Ngomong dalam hati “Semoga makin kuat”

Kategori
blog struggles

Refleksi singkat untuk saya sendiri

Ini refleksi singkat, untuk saya sendiri yang perlu terus mendapatkan umpan balik terutama dari berbagai macam generasi, ataupun banyak orang- orang hebat yang ditemui setiap hari, ditambah foto dari iyok dulu di DP Architect, menunjukkan kalau perjuangan di dalam studio tidak pernah mudah, jam panjang, dan jatuh bangun, proses yang jauh dari musik klasik, lebih seperti dangdut. 🙂
.
Menarik kembali catatan dari bu Eileen Rachman bahwa “kesuksesan belajar berasal dari 10% dari wejangan satu arah 20% dari diskusi sejajar , 2 arah , 70% dari learning by doing ( apalagi kalau di koreksi secara positif) “ Pikiran positif menghasilkan berbagai macam sudut pandang yang menjalar, seperti prinsip Getok Tular, yang sambung menyambung.
.
Belajar arsitektur membutuhkan fleksibilitas tingkat tinggi, karena adakalanya proses internalisasi mendigest apapun yang dialami dalam proses praktik itu perlu waktu, sedangkan banyak permintaan – permintaan diluar dirinya membuat ia harus sabar untuk juga menjawab permintaan tersebut.
.
Proses ini membutuhkan pengolahan sikap untuk membuka diri, tidak marah, perlu sabar, dan juga yang terpenting.
Studio arsitektur perlu mengintrospeksi dirinya, dan membicarakan proses edukasi ini dengan terbuka, bahwa tantangan ada yang diluar kendali para leader, juga para desainer, apalagi klien, banyak permasalahan psikologis juga muncul berbarengan dengan permasalahan teknis. Gambar hanya representasi dari kualitas diri, tim, sekaligus quality control yang muncul dari banyak pihak yang membutuhkan konsistensi. Dan hal ini dicek terus menerus dalam kualitas yang memiliki standarisasi.
.
Sesederhananya ukuran, metodologi proses desain, dan bagaimana pengambilan – pengambilan keputusan itu ada yang memang membutuhkan kalkulasi presisi juga ada yang terkait bagaimana proses interview dengan klien itu dilakukan. Dan hal itu baik karena membuat kita semua jadi sadar, bahwa edukasi mengenai gambar pun harus terjadi. Dan memang banyak sekali talenta di studio itu hadir, dan cara untuk bisa bekerja bersama – sama adalah memiliki komunikasi yang baik, keterbukaan pikiran, dan contoh – contoh yang dibicarakan yang akan menjadi SOP.

Kategori
blog

Morahai Bioclimatic Home

Building a house is never easy; it’s a lengthy process that requires significant refinement and resources from the client, all focused on the client’s needs. This house took considerable time to complete, as the design and construction began during the COVID-19 pandemic. It was an unique opportunity for us, and the clients were supportive throughout the critical design process also open to exploring new possibilities as long as they remained functional.

Our goal in designing this house was to reduce the indoor temperature to 28°C through a bioclimatic approach. This involved strategically placing trees and plants both inside and outside the perimeter to create a natural cooling effect. Additionally, we aimed to achieve a PM2.5 concentration of below 30 µg/m³ to ensure that the house is free from air pollution.

The design features a thoughtful selection of materials that are not costly but still give a unique character. We utilized a mix of material, including cement plaster and ulin wood. The west side of the house is more enclosed, offering a view of the nearby RPTRA (children’s playground). Interestingly, the house features a social area where newspapers are placed, allowing people to read them. This creates an informal social space, making the house a neighborhood activity hub.

The layout of the house comprises two zones: public and private. This design was inspired by the clients’ desire for visiting relatives to feel at home. In the private zones, functional living spaces like the family room and bedrooms are designed with unique curved forms. The bedroom area features a series of continuous curves resembling terracing, echoing the natural language of curves. The staircase is prominently located on the west side, serving as a central element that enhances spatial efficiency and circulation.

The exploration of combining curved and rectangular forms in both the shape and façade of the building is intended to facilitate healthy airflow and introduce natural light into the interior spaces. To minimize the load on air conditioning, a rooftop garden serves as insulation.

design by #realricharchitectureworkshop

photograph by
1, 3, 5, 6, 8, 9: @_yophrm @luil_mn

Kategori
blog

Bertemu Bu Eileen Rachman yang menginspirasi saya dalam melihat dunia mentorship yang baik di studio arsitektur

Bu Eileen Rachman adalah guide, inspirator saya dalam melihat cara untuk melihat dunia mentorship yang baik ke studio arsitektur kami. Bu Eileen sendiri adalah pemimpin dari Decorous, Kemang 89. Ia kesini bersama dengan bu Widarti Gunawan yang adalah mantan CEO Femina grup. Keduanya adalah mindfull soul sehingga saya merasakan bertemu keluarga yang saling terhubung, rasa, jiwa bertemu menjadi jalinan yang mengakar.
.
Apa yang disampaikan Bu Eileen dalam Salah satu TED talknya sangat menginspirasi, Beliau melihat bahwa ada 4 cara berpikir yang kami adopsi dan turunkan di dalam prinsip mentorship, dan cara mengajar. Pertama adalah berpikir kritis yaitu tidak ada yang original di dunia ini, kita harus belajar mendengarkan dari sekitar, dan arsitektur adalah sebuah ilmu yang majemuk. Kita sebagai arsitek mendapatkan inspirasi dari mana – mana. Kedua adalah berpikir kritis yaitu belajar berpikir kenapa , apa, dan mempertanyakan banyak hal bertahun – tahun. Ketiga adalah bepikir fleksibel, yang diilustrasikan dengan pertemuan beberapa great minds di dalam diskusi, tempat, yang memancing kreatiftias sehingga melahirkan neo klasik. Yang keempat adalah berpikir lateral, yakni bisa saja yang kita bahas arsitektur tapi tidak harus mulai dari ilmu yang sama, karena praktik bisa mulai dari mana saja, bisa dari biologi, kimia, psikologi, ataupun manapun. Dan hal ini adalah sebuah runtunan proses bahwa berpikir itu menyenangkan.

kami percaya bahwa bertemu great minds merubah cara pandang, menjalin rasa, merangkai hal yang terlihat baru sebenernya ada dalam relasi yang lama dan begitu panjang. Kami sangat terhibur ketika ia bercerita tentang relasi pak Adhi Moersid dan Pak Tan Tjiang Ay. Decorous Kemang 89 didesain oleh Tan Tjiang Ay, dengan bahasa yang modernist, sebuah kesederhanaan di pojok Kemang. Saya terkejut juga menemukan bahwa rumahnya didesain almarhum Adhi Moersid. Mereka semua orang yang saya rindukan abstraksi kebersahajaannya, pemandu yang rasa persahabatannya yang mengakar dalam arsitektur. Tidak jauh – jauh mereka berkumpul dalam lingkaran yang terus menjemput dalam masa lalu dan masa depan.

 #guhatheguild#realrichsjarief .

Kategori
blog

Guha Boboto

Guha Boboto is a building that has various functions that can also help reduce the operational expenditure of the building and maintain economic independence for families living in Boboto. Guha Boboto consists of four key components: a boarding house and a family-operated stall to support a family home while sustaining the community efforts in literacy with the library concept.

The boarding house itself is divided into 2 types: the first is a boarding house and a temporary boarding house for staffs and craftsmen. This setup allows flexibility to meet the needs of the Boboto family and provides space for visiting family members when needed. The family-operated stall has been part of the Guha Boboto since the 1990s. The library and the boarding house are open in 2024.

Originally the structure built in the 1990s with a basic plywood structure, the building has been upgraded with repurposed plywood transformed into glulam, and recently reinforced with lightweight steel and locally sourced glulam. Most materials used are recycled, including roof coverings, steel rods, bricks, aluminum, and glass.

The library within Guha Boboto plays a crucial role as a guardian and functions as a community activity center. Its goal is to support literacy in Indonesia by offering a space for communal learning and activities. The building is also designed to be easily constructed by anyone without requiring specialized skills, using local and low-cost materials. This also aligns with our studio’s vision that architecture does not need to look luxurious or glamorous; even simple and locally sourced materials can create aesthetically pleasing designs.

Design by #realricharchitectureworkshop
Detailing by #dotworkshop

#GuhaBoboto #jakarta #architecture #details #architectureproject #archdaily #dezeen #indonesia

Kategori
blog

Thank you Alim, Keep on exploring further

Sesuatu menjadi terang karena kita melihatnya dengan terang, sesuatu menjadi dekat karena kita mendekatinya, sesuatu menjadi terwujud karena kita mau mewujudkannya. Manusia awalnya tidak saling mengenal, tetapi kemudian ada hal yang membuat mereka terhubung, salah satunya melalui kenangan. Dan koneksi yang tercipta akibat kenangan ini juga tak jarang menjadi pendorong bagi seseorang untuk maju.

Dari semua hal tersebut, dibutuhkan kekuatan kesabaran untuk percaya pada sesuatu yang hasilnya mungkin belum terlihat di awal. Di Guha, proses ini kami alami dalam keseharian di studio. Kami fokus untuk berpikir dan berproduksi membuat karya yang baik, namun ikatan batin tetap menjadi oase yang kami butuhkan di tengah-tengah rutinitas kami.

Kehadiran Alim di Studio kami membuat suasana paguyuban di Guha terasa begitu kental. Alim adalah sosok yang sering dikerumuni adik-adiknya dan banyak bercerita tentang hal-hal dan nilai-nilai yang ia pelajari selama di Guha serta kesabaran dalam menggawangi proyek. Jika kita dapat mengajar dan memiliki semangat berbagi ke teman-teman lain, hal ini tentu menjadi sesuatu yang bermanfaat. Di samping melewati berbagai pengalaman, kita juga sekaligus memberi dampak bagi orang lain.

Di tengah-tengah kesibukannya, Alim juga tetap berusaha untuk membagi-bagi peran dan memposisikan dirinya. Ini adalah ciri khas dari seseorang dengan attitude yang sangat baik. Di samping itu, Alim juga seseorang yang bertanggung jawab. Ia pernah terlibat dalam salah satu proyek tersulit di RAW dimana ia tetap bertahan hingga proyek tersebut selesai.

Kami senang pernah melalui hari-hari bersamamu serta berjuang bersama, Lim. Semoga seluruh potensi dan hati yang dimiliki Alim bisa terus bermanfaat. Selamat mengembara lebih jauh dan lebih dalam lagi.

@realricharchitectureworkshop
@alimhanz
@rawarchitecture_best

guhatheguild #realricharchitectureworkshop #studioculture #arsitekindonesia #arsitekmuda #architecturestudentlife #architecturestudio #jakarta #indonesia

Kategori
blog

Ketemu dan ngobrol – ngobrol sama temen SMA Sang Timur, Nina dan Dafik

Ketemu dan ngobrol – ngobrol sama temen SMA Sang Timur while we are in Omah library , Nina with her kind, simple, and humble hubby, take care ya. Good memories since elementary school, sudah lama ngga ketemu 24 years ya. Kalo dihitung temenan sudah dari sd umur 10 aja sudah 32 tahun yaa.

Kategori
blog

Menghargai setiap momen Miracle dan Heaven

Yang menarik dari pengalaman kami dalam mendidik anak adalah bagaimana peran kami adalah sebagai mediator untuk dirinya membuka banyak hal yang ia suka. Ellen Kristi dalam buku cinta yang berpikir menulis bahwa anak harus mendengar dengan telinga, membaca dengan matanya, dan menyentuh dengan tangannya sendiri.

Terkadang saya mengambil foto Heaven dan Miracle , untuk supaya mereka tau dulu mereka tumbuh dari tidak mengerti apa – apa menjadi dewasa. “Pa kamu foto aku ya ?” kata Heaven,
.
saya menjawab “Iya, papa suka foto kamu sama koko, karena waktu tidak akan kembali, dan ini untuk kalian semua nanti akan ingat foto – foto kamu waktu kecil, makanya kalau kamu sadar kalau difoto, kamu senyum ya.” Anak – anak seperti mempertanyakan kenapa saya mengambil gambar dirinya, ia juga mempertanyakan seberapa dirinya itu penting untuk kami. Setelah saya menjelaskan, barulah ia bisa tersenyum dan difoto dengan lepas, penjelasan saya itu sedemikian penting untuk menjelaskan kenapa, apa, bagaimana, siapa, dan dimana dirinya menjadi penting.
.
Belajar setiap hari itu terkait dengan pelajaran mengenai membaca kata – kata yang mulia, seperti juga kita semua membaca kitab suci dari berbagai banyak kebaikan agama dan nilai moral yang awalnya hanya bisa dipahami samar – samar. Kalimat yang muncul akan mengeluarkan pesona rohaninya, menyuburkan perilaku. Begitupun dengan belajar tentang sejarah, yang dimulai dengan mengerti, dan mengapresiasi sejarah dirinya. Begitupun dengan Miracle yang mendokumentasikan progress-progress dirinya setiap hari apa yang ia bisa, dari menyanyi atau main drum, ia sedang memperkaya galeri hidupnya di dalam formasi yang paling berharga dalam hidup manusia, mengingat bahwa saat – saat ia belajar dari awal. Hal itu mengingatkan kami, orang tuanya akan masa – masa kami kecil, akan ketidaksukaan kami dulu waktu kami tidak dianggap, tidak diakui, tidak didengarkan. Dan bagaimana ketika kami berusaha memutar balikkan waktu dan memberikan anak kita, momen terbaik di hidupnya.
.

#realrichsjarief#miracleheavenrich

Kategori
blog

Ngumpar Bioclimatic Home

Sudah lama saya tidak cerita tentang proyek – proyek kami di RAW DOT OMAH. Kali ini saya bercerita mengenai Rumah Ngumpar terletak di ujung belokan jalan sehingga memberikan kesan memeluk lahan dan menyambut setiap orang yang akan masuk. Desain rumah ini memanfaatkan posisi strategisnya untuk menciptakan pengalaman penuh kehangatan dan keteduhan. Dari entrance, penghuni disambut oleh taman kecil di entrance sebagai barrier, memberikan nuansa adem sebelum memasuki rumah. Sequence rumah ini berjenjang dengan shading alami dari tanaman dan air, berlanjut ke dek kayu, sebelum memasuki area utama.

Di lantai dasar, area servis terletak di sekeliling tangga yang berfungsi sebagai batang tubuh rumah, dengan bukaan di sisi-sisinya untuk cahaya, sementara celah antara bangunan dan tetangga memfasilitasi aliran udara dan cahaya alami. Di lantai satu, ruang keluarga utama memiliki void besar dan bukaan atap, memungkinkan cahaya matahari masuk dan menciptakan koneksi visual antara penghuni dengan privasi masing-masing. Lantai ini juga menampung tempat kerja bersama, area pribadi, dan atrium sebagai foyer panjang yang menghubungkan ruang-ruang, membelah sisi yang lebih utama dan ruang yang supporting.

Di lantai dua, void menghubungkan ruang kamar utama dengan kamar anak, sementara lantai atas mencakup area gym dan ruang untuk bersosialisasi. Atap dirancang untuk melindungi dak beton, dan ditambahkan dengan tanaman sehingga memberikan insulasi bagi lantai kamar di bawahnya. Pendekatan ini menurunkan suhu udara 3-5 derajat di seluruh area rumah.

Secara bentuk, rumah ini mengambil bentuk kurva yang saling yang berlawanan seperti magnet. Sisi maskulin berwujud pada bentuk tegas dan ujung-ujungnya, sementara sisi feminim muncul melalui kurva yang mengalir, menciptakan ruang yang terasa luas meskipun ukuran lahannya terbatas. Bentuk ini juga menciptakan kesan plastis yang kontras dengan beton yang kaku. Kurva berulang terus hadir hingga ke detail rumah, bahkan dalam raiiling melengkung dengan perpaduan material besi dan kayu, hingga pintu yang memiliki lengkungan. Kayu ulin dipilih untuk menambah konektivitas dengan alam dan memberikan sentuhan yang alami.

Kategori
blog

Miracle yang senang mencoba banyak hal

Dari pingpong Miracle mencoba banyak hal, jujurnya apa yang kami harap sama Miracle adalah bagaimana ia menikmati hari – harinya yang berharga, dengan waktu yang tidak bisa kembali. Daya becandanya ala srimulat seringkali muncul seperti ketika pura2 naik meja, ia bercanda terus dengan gurunya.
.
Termasuk dengan gurunya yang di kelas robotika, ia kemarin diajari catur sederhana dan langsung minta les catur. Begitulah anak – anak ini tergantung dari guru – gurunya yang membimbing menuju pelatihan yang majemuk.
.
Impulsnya yang tinggi tergantung dari mana ia dapat pengaruh. Ia baru saja mendapatkan teknik bernyanyi mendayu-dayu dengan alat olahraga yang bergetar-getar yang ia temukan. Kalau dilihat – lihat sudah mirip dengan penyanyi opera genre baru ha ha.
.
Ping pong video by jedi master @putrakhairus

#realrichsjarief#miracleheavenrich

Kategori
Press

Dayak Architectural Heritage: The Diversity of Architecture and Historical Traces

Yoris Mangenda, Alef Essperancio X. Dasilelo, Andi Ilham Badawi, Axel Tobias Imat Gamaliel, Bani Noor Muchamad, Indrabakti Sangalang, Mandarin Guntur, Noor Hamidah, Tari Budayanti Usop, Hardiyanti, Syahrozi, Sheila Nurfajrina, Susanto, Tatu Wijaya, Yunitha
Soft cover | Monochrome | English| 14,8cm × 21cm | 286 page | Release Date: (coming soon)
ISBN: dalam proses pengajuan ISBN

Synopsis

This book aims to showcase the diverse architectural heritage of the Dayak people in Kalimantan. Compiled through a collaborative effort of 14 authors from various backgrounds, this book serves a simple purpose: to fill the gap in comprehensive archival and documentation of the diverse Dayak architecture that still stands today. I believe that with a solid foundation of documented knowledge from the past, we can certainly strengthen efforts to develop knowledge for the future.

This book is organized into 14 chapters. The first chapter serves as a prologue, providing a brief overview of the historical implications of the diversity of Dayak architecture. The second chapter presents a concise historical mapping of the Dayak people. The subsequent 11 chapters delve into 11 categories of architectural objects drawn from 64 case studies. The final chapter, an epilogue, summarizes the diversity of architectural objects inventoried in this book. Each architectural object is written using a standardized format that balances textual and visual elements. Furthermore, the writing structure of each object extends beyond architectural aspects to include historical and cultural dimensions, aiming to provide a comprehensive and encyclopedic overview.

Price: Rp120.000,-

ORDER THIS BOOK

Kategori
Press

Khazanah Arsitektur Dayak: Keberagaman Arsitektur dan Jejak Sejarahnya

Yoris Mangenda, Alef Essperancio X. Dasilelo, Andi Ilham Badawi, Axel Tobias Imat Gamaliel, Bani Noor Muchamad, Indrabakti Sangalang, Mandarin Guntur, Noor Hamidah, Tari Budayanti Usop, Hardiyanti, Syahrozi, Sheila Nurfajrina, Susanto, Tatu Wijaya, Yunitha
Soft cover | Monochrome | Bahasa Indonesia | 14,8cm × 21cm | 286 page | Release Date: (coming soon)
ISBN: dalam proses pengajuan ISBN

Sinopsis

Buku ini hendak menampilkan keberagaman khazanah arsitektur yang dimiliki oleh masyarakat Suku Dayak di Kalimantan. Disusun dengan semangat kolegia oleh 14 penulis dengan latar belakang berbeda, buku ini hadir dengan mengemban tujuan yang sederhana yaitu untuk mengisi celah kekosongan arsip dan pendokumentasian yang komprehensif terhadap keberagaman arsitektur Suku Dayak yang masih berdiri saat ini. Karena saya percaya, dengan adanya fondasi pendokumentasian pengetahuan yang baik dari masa lalu, tentu akan dapat memperkukuh upaya-upaya pengembangan pengetahuan untuk masa depan.

Buku ini tersusun atas 14 bab, dengan komposisi 1 bab awal sebagai prolog yang mengulas secara singkat mengenai implikasi sejarah dengan keberagaman arsitektur Suku Dayak, bab ke 2 mengulas pemetaan kesejarahaan Suku Dayak secara singkat, 11 bab berikutnya mengulas 11 kategori objek arsitektur Suku Dayak yang di inkorporasi dari 64 objek atau studi kasus, dan 1 bab terakhir yaitu epilog yang coba merangkum keragaman objek-objek arsitektur yang diinventarisasi pada buku ini. Setiap objek arsitektur pada buku dibahas menggunakan format seragam dengan mengutamakan keberimbangan antara aspek tekstual maupun visual. Selain itu, struktur ulasan setiap objek juga tidak hanya terbatas pada aspek arsitektural saja, tetapi juga mencakup aspek kesejarahan maupun kebudayaan. Hal ini dilakukan agar ulasan setiap objek atau pendokumentasian yang dilakukan ini dapat bersifat akseptabel dan memiliki spektrum yang lebih ensiklopedis.

Price: Rp120.000,-

ORDER THIS BOOK

Kategori
blog

Bertemu dan Belajar dari Mirza dan Dhisty


Hari ini saya belajar bahwa tiap jiwa akan bertumbuh dan menemukan lingkarannya sendiri seperti setiap saat bertemu Mirza dan Dhisti. Satu hal yang saya tidak pernah lupakan adalah asal darimana beton bisa melengkung membentuk tangan yang menari, membentuk doa, membentuk banyak asa dan rasa. Lengkungan itu juga membentuk jalan masa depan yang memisahkan dan menyatukan jiwa -jiwa yang sejalan.
.
Di balik waktu, rumah tumbuh dan penghuni tumbuh dalam harapan adanya grand piano, gamelan, cerita anak – anak, pekerjaan, rekonsiliasi banyak energi baik dalam hidup yang berserah yang ada di dalam dua ranah. Satu ranah abstraksi yang merupakan akar terdalam menggali kemauan jiwa yang baik. Charlote Mason, seseorang pendidik keluarga yang saya dapat pengetahuannya dari kawan lama saya percaya bahwa setiap anak dikaruniai jiwa yang baik dan mulia. Abstraksi itu ditandai dengan latihan jiwa keseharian yang natural untuk percaya dengan abstraksi bahwa hidup ini baik apa adanya.
.
Lain hal abstraksi ada juga implementasi dan fisik yang nyata, ia adalah 3 dunia, manusia yang berkembang, keuangan, dan juga operasional. 3 hal itu tertuang dalam bagian usaha, HRD, finance, dan juga manajemen. Dialog – dialog kami di rumah Kampono ini sampai 3 jam lebih mengalir, masukan, pengalaman, cerita, sambung menyambung memberikan benih yang tumbuh. Sejatinya benih disitulah ada harapan kita menyebarkan kebaikan dari semesta.

Tidak banyak arsitek dapat kesempatan belajar dari klien berulang – ulang kali, keduanya saling melengkapi, Sudah dua tahun terakhir kami tidak bertemu, mereka teman baik saya, klien, dan juga saudara seperjalanan, orang yang saya jaga dan juga saya sayangi sebagai jenderal mereka, di atas rumah yang menari, ada akar yang kuat doa untuk rahmat semesta yang mulia.
.
Terima kasih always for inspirations, dan semoga ya minggu depan bisa bertemu belajar bersama kembali.
.
@mirza_kampono@adhistykampono
.
#realrichsjarief

Kategori
blog

Hari gym bersama anak-anak

Hari ini adalah hari gym bersama anak – anak, mereka kreatif dan mengikuti termasuk Heaven dengan cobra yoga mamanya, dan Miracle yang ngga mau kalah lari di Treadmill seperti idolanya Usain Bolt, terakhir juga begitu liat barbel “pa aku bisa angkat barbel.” Mereka mudah sekali meniru dari sekitar.

Akhirnya tempat ini selesai, juga sebagai tempat main kita semua, saya meleng sedikit, treadmill ini langsung jadi landasan pacu mobil – mobil mainan mereka.
.
Termasuk gaya khas chameleon legendaris Miracle di atas struktur diagonal yang menopang kanopi atap.
.
“Can u go higher ?” tanya saya.
“Only if somebody carry me.” Jawabnya
.
Ha ha ha, saya hanya mesem – mesem aja sambil ragu – ragu. wajar sekali jawaban yang jenius. Belajar dari anak – anak ini ternyata sederhana, masalahnya badan Miracle berat sekarang, membuat saya harus latihan otot biar kuat haha.
.

#realrichsjarief #miracleheavenrich

Kategori
blog

Miracle dan Heaven yang saling belajar satu sama lain

Miracle dan Heaven hampir tiap saat bersama, keduanya saling belajar satu sama lain. Kalau Miracle disiplin, Heaven akan ikut disiplin, malau Miracle belajar, Heaven akan ikut belajar. Ada sebuah tren ikut – ikutan dari anak kedua ke pertama. Saya tanya ke laurensia itu heaven lg ngapain sih di video ini, bisa joget2 goyang pinggul seperti itu, “dia lagi ngikutin micky waktu di depan film Disney kan ada.” Sebegitu cepatnya Heaven bisa menyerap tiap informasi sekitarnya.

Menariknya role model Heaven adalah kakaknya juga, begitupun juga pertengkaran yang dipantik hal – hal sepele, berebut mainan. Yang didasarkan pada keisengan yang tidak disadari dari sang adik, yang mendorong kakaknya sampai batas kesabaran. Kakak yang sepantasnya lebih tua menjadi contoh, begitupun Miracle yang mencontoh kami berdua seperti kereta api yang sambung menyambung, ada satu rel yang menyatukan menuju tua bersama kami orang tuanya. Termasuk rel supaya perut kami lebih terkendali dan tidak membuncit supaya terus lebih bahagia, haha.
.
#miracleheavenrichsjarief

Kategori
blog

Heaven’s and dad’s activity time at Tunas Muda school

Heaven’s and dad’s activity time at Tunas Muda school. And off course with mama. No more papa sibuk-sibuk, hari ini untuk Heaven, “pa ayo nanti terlambat !” Heaven sudah mengingatkan sejak pagi. Anak kedua adalah anak yang sangat pintar, ia belajar dari kakaknya dan ia berlimpah kasih sayang dari sekitarnya, ia akan punya titik tolak yang membuat dirinya selalu berarti dan lebih baik lagi. Sikap yang kritis, hati – hati membuatnya lebih teliti, santai, dan serius.
.
Hari ini kita main game, kerja sama yang menyenangkan,kayanya perlu sering – sering supaya awet muda. Haha
.
#realrichsjarief #miracleheavenrich

Kategori
blog

Miracle discusses about Metabolism with His Teacher

Miracle is discussing with his teacher, about metabolism. The way that he explained the concept to the teacher is really authentic, and really come from his heart. I really love his explanation, about what you eat, is what’s out from your body. He is improving in many aspect, including his drum with coach Adi, and care about his brother, We are fortunate to be blessed by him and his brother heaven. We hope that both of the brothers will be in harmony, brother is always brother, sister is always sister. Learning from my best friend, Hugo that relationship he told us, is the most important part to form happy life.

so many things happened in our life. Like your life, like my life, whatever happens, one thing i sure that it’s beautiful because the abstraction is a motive to bring kindness in this life. This abstraction is important to walk everyday life, for me it’s architecture, thinking, and sharing in family which is so important, for others maybe their business, their life and family. Those work and life balance is very important, let’s cherish both of it.

Happy weekend all.
#realrichsjarief

Kategori
blog

Merayakan Hari Kemerdekaan

Merdeka 17 Agustus 1945 bersama ketua RT tercinta, ibu kita semua. Tanggal 17 Agustus kita merayakan hari kemerdekaan Indonesia. Di dalam usaha menyeimbangkan kehidupan studio dan keluarga yang berputar – putar tanpa henti, akhirnya hari ini bisa beristirahat dan menonton anak-anak ikut lomba. Dari satu hari sebelumnya ibu sudah telp kalau akan ada acara di RT, rumah Pulau Ayer. Miracle dan Heaven sangat antusias, dengan persiapan yang matang, ia berlatih makan pisang waktu pulang sekolah dengan bekalnya, ia bisa melahap satu pisang utuh langsung, dan alhasil dari latihannya dalam mukbang membuat ia menjuarai klasifikasi makan pisang.

Lain Miracle lain juga Heaven yang pun juga mendapatkan juara untuk memasukkan sedotan ke botol. Saya juga banyak bertemu teman-teman ibu dan ayah saya untuk bersilahturahmi, seakan-akan waktu berhenti dan kita bisa mengenang seberapa jauh kita sudah berjalan. Momen kemerdekaan jadi salah satu contoh bagaimana hal-hal kecil bisa membuat kita ingat momentum kebersamaan, menjadi satu dalam kemajemukan.

Dalam deru-deru kesibukan, dan keinginan untuk bisa seimbang dalam studio kami yang penuh dengan rasa panik, tidak nyaman, ketakutan. Tidak pernah menyerah untuk menggapai kesempurnaan dalam pekerjaan menjadi hal yang kami perjuangkan karena kami jauh dari kata sempurna. Kehidupan di belakang layar pekerjaan, keluarga, menjadi lapisan yang menyatukan dan membuat momentum ini justru bermakna dalam banyak kegiatan, relasi, dan harapan baru.

Saya senang bertemu lagi dengan guru saya Pak Apep dan juga bertemu kawan-kawan baru Gathi Subekti, Ivan Priatman, dan Irfan Fauzie dalam momen penjurian di Steel Architecture Award (IAI dan Bluescope). Hal ini membuat saya banyak belajar dari banyaknya variasi nominasi yang masuk.

Dalam kenangan panjang soal siapa kita, siapa saya, dan siapa yang masuk dalam kenangan. Kita semua merayakan doa kemerdekaan dalam satu kesatuan.

1 Ibu dan kami sekeluarga
2 Miracle mukbang pisang
3 Studio turbulensi
4 Rapat – Rapat, ketika hasil tidak sempurna
5 – 6 Studio hedon – hedon
7 Penjurian Bluescope
8 Presentasi kuliah di Mercubuana
9 – 10 Tanam – tanam lagi di Guha
.
#realrichsjarief

Kategori
blog

Hello Again, Farhan

Perjalanan memahami arsitektur bukanlah hal yang instan, dibutuhkan kesabaran untuk bisa mengerti lapisan demi lapisan. Proses memahami arsitektur dan apa yang kami lakukan di Guha merupakan perjalanan panjang yang terus kami refleksikan dalam keseharian, dan bersama orang-orang yang silih berganti.

Proses kami memahami apa yang terjadi di Guha dengan seluruh dinamikanya melatih kami memiliki penglihatan yang menyelam kebelakang, melesat jauh kedepan, tapi berpijak pada keseharian. Sama halnya seperti proses berarsitektur, perlu memahami konteks dan memanfaatkan eksisting sebelum membuat sebuah karya arsitektur. Apa yang terjadi dalam keseharian adalah fondasi bagi kami, seperti sebuah fondasi didalam sebuah bangunan.

Fondasi merupakan hal yang penting, begitu juga diranah videografi. Ada sebuah quotes yang mengingatkan kami pada perjuangan @farhannash dalam memahami arsitektur dan Guha, “A video without a storyboard is like a house without a foundation” Han Lung. Farhan pernah menjadi videografer beberapa tahun di Guha, dengan background skill broadcasting yang ia miliki, sangat membantu kami merekam hari-hari yang terjadi di Guha, momen-momen penting yang tidak akan terulang kembali, kelas-kelas yang ada di OMAH, hingga mendokumentasikan beberapa proyek di RAW Architecture. Usahanya dalam memahami arsitektur ia tuangkan kedalam storyboard yang kami buat bersama-sama, yang kemudian menghasilkan karya-karya video dan foto-foto tentang integrasi antara manusia, studio dan arsitektur.

Terimaksih sudah pulang kembali ke Guha @farhannash, bersama @ismipradina yang juga mencintai dunia arsitektur. Kami percaya bahwa dimana kita mencurahkan upaya terbaik kita, disitu kita dapat meraih keberhasilan. Semoga jalan yang kamu tempuh menjadi fotografer dan videografer arsitektur mengantarkanmu menjadi orang punya semangat belajar dengan hati dan terus bermanfaat bagi sesama. Kami menantikan cerita perjuanganmu selanjutnya.

@rawarchitecture_best

guhatheguild #realricharchitectureworkshop #studioculture #arsitekmuda #architecturestudentlife #architecturestudio #jakarta #indonesia

Kategori
blog

Trip to Malaysia – Heavenrich vs the monkey 😆

Really enjoy this trip to Malaysia as we can see how my second son Heavenrich fought with monkey to defend his water bottle. Btw Heaven yang topi kuning ya bukan yang biru 😆


#realrichsjarief

Kategori
blog

DATUM+PLUS: PAM International Design Forum

We thank PAM, PAM President Prof. Ar. Adrianta Aziz and the team for making DATUM part of KLAF2024. We would also like to thank Ar. Dr. Lim Teng Ngiom, the director of KLAF2024, and all of the committees. Thank you for inviting us to be present in Kuala Lumpur to share with brothers and sisters who have unique works, perspectives, and breakthroughs. The venue was very discursive and open for discussion. There are so many multi-perspectives that we, as RAW Architecture, learn so much in the process.
.
Ar. Realrich, along Ar. Ho Chin Keng, Shin Tseng, and Fadzlan Rizan Johari, in the DATUM+PLUS class, discuss architecture and its discourses of multi disciplinary, materiality, collaborations in the whole.

Ar. Realrich presented daily and simple works many people have done in Indonesia, in our studio, working hand to hand with craftsmen, designers, and so many personal realities in daily life. However, from all these fragments, one common line unites us all: tropics, energy for diversity, and close respect for each other, with words and actions without pretension in the spirit of continuing to learn.
.
We also celebrated the other speakers’ presentations at the DATUM:GREEN and DATUM:KL, who had such positive energy and a heartwarming story. There was so much complexity in their own territory.
DATUM:GREEN: Chatpong Chuenrudeemol, Lucas Loo, Azman Zainal, and Mior Aizuddin
Datum:KL : Dr. Yu Kong Jian, Dato’Sri Ar. John Lau Kah Sieng, Prasanna Morey, Praveen Bavadekar, Bayejid M. Khondoker, Jo Nagasaka, Chen Xi, Rasem Badran, Jim Cumeron, and Kun Lim & Kun Sam.
.
We need to learn from so many people to show positive energy in the ups and downs process. We need so many dreams and hopes, personas and selves, and collaboration and community. Therefore, we do all the best for all of the restless spirit
.
@shin.tseng @ckho.architect @ezmenzainal @garyeow @fadzlan_rizan @seadbuild @bungaateelierdesign @lucasloozexian @chatarchitect

#rawreflection #pam #klaf2024 #datum #datum+plus #datum:kl #datum:green #archidex #kualalumpur #malaysia

Kategori
Press

Nusantara: Reposisi

Penulis: Abidin Kusno
Soft cover | Monochrome | Bahasa
Indonesia
14.8cm × 21cm | 108 hlm. | Release Date: August, 2020
ISBN: 978-602-5615-94-8

Sinopsis

Kata “nusantara” cukup populer. Tidak asing juga bagi dunia arsitektur. Ia pernah menjadi topik yang hangat dalam upaya “mencari” arsitektur Indonesia. Ada yang bilang arsitektur tradisional itu bagian dari arsitektur nusantara. Ada juga yang bilang “arsitektur tradisional nusantara” itu salah kaprah, karena tidak ada arsitektur semacam itu.” Meskipun suka dipakai dan sering diperdebatkan di dunia arsitektur, asal dan arti nusantara itu belum banyak kita ketahui, terutama penggunaannya di bidang ilmu di luar arsitektur. Dalam diskusi ini kita akan mencoba memperluas wawasan sambil mencari posisi yang baik untuk meletakkan “nusantara” dalam perdebatan arsitektur. Kita akan menelusuri pengertian dan penggunaan “nusantara” dalam lima posisi: sebagi ruang 1) Periferi; 2) Geo-body; 3) Bahari; 4) Hibrida; dan 5) Resistensi.

Price: Rp75.000,-

ORDER THIS BOOK

Kategori
Press

Nusantara: Reposisi

Penulis: Abidin Kusno
Soft cover | Monochrome | Bahasa
Indonesia
14.8cm × 21cm | 108 hlm. | Release Date: August, 2020
ISBN: 978-602-5615-94-8

Sinopsis

Kata “nusantara” cukup populer. Tidak asing juga bagi dunia arsitektur. Ia pernah menjadi topik yang hangat dalam upaya “mencari” arsitektur Indonesia. Ada yang bilang arsitektur tradisional itu bagian dari arsitektur nusantara. Ada juga yang bilang “arsitektur tradisional nusantara” itu salah kaprah, karena tidak ada arsitektur semacam itu.” Meskipun suka dipakai dan sering diperdebatkan di dunia arsitektur, asal dan arti nusantara itu belum banyak kita ketahui, terutama penggunaannya di bidang ilmu di luar arsitektur. Dalam diskusi ini kita akan mencoba memperluas wawasan sambil mencari posisi yang baik untuk meletakkan “nusantara” dalam perdebatan arsitektur. Kita akan menelusuri pengertian dan penggunaan “nusantara” dalam lima posisi: sebagi ruang 1) Periferi; 2) Geo-body; 3) Bahari; 4) Hibrida; dan 5) Resistensi.

Price: Rp75.000,-

ORDER THIS BOOK

Kategori
blog

Perjalanan kami ke China

China dan pecahan- pecahan nya memang merupakan salah satu negara dengan kemampuan berhitung, membaca tertinggi di dunia bersama-sama Finlandia. Kedua regional ini ada di 10 teratas dunia, menjadi sebuah refleksi apa saja yang mereka lakukan dengan kerja keras, kritis, dan kolaboratif tentunya. Pendidikan karakter akan jadi kunci untuk tantangan ke depan padahal 1950 an dulu membaca dan menulis menjadi sebuah hal yang langka. Kemauan belajar, kerja keras dan kesederhanaan menjadi banyak hal yang bisa dipelajari.
.
Shanghai, Beijing, Ningbo, Hangzhou, perjalanan belajar bersama kami, satu keluarga, arsitektur, menghargai waktu, proses belajar, dan membuka mata. Laurensia berangkat di hari yang berbeda, saya ke Hohhot dulu karena ada lecture disitu. Sempet deg-degan karena ini kali pertama bawa anak – anak, dan Laurensia and kids doing it very well, eksplore budaya dan kota yang majemuk.
.
Dari taman Yu milik keluarga Pan, 1001 pohon, 1001 toples di Shanghai kami belajar filosofi kehidupan dari budaya China, dari Forbidden City, Temple of Heaven, dan Summer Palace kami belajar tidak mengeluh jalan berkilometer, mendapatkan sejarah yang dulu dijalani dalam abad – abad yang lalu. Kami juga belajar diajak oleh tim prof Yehao SUp Atelier untuk keliling Tsinghua untuk merasakan suasana salah satu kampus yang sungguh bagus.

.
Dari cara makan, cara berpikir kita perlu belajar untuk membuka mata, banyak cara pandang yang berbeda dengan apa yang dipikirkan, perjalanan selalu menjadi alat untuk refleksi. Kami belajar kekayaan seni, filosofi, kemanusiaan, sejarah, dan juga ekonomi. Musik dipilih oleh Miracle, tentang kebahagiaan, friendship in new year, new adventure. Tuhan berkati semua yang baik untuk kita semua.
.

#realrichsjarief

Kategori
Press

Alvar Aalto – The Magic of Architect’s Life

Penulis: Realrich Sjarief
Soft cover | Monochrome  | Bahasa
Indonesia
14.8cm × 21cm | 390 hlm. | Release Date: August, 2020
ISBN: 978-602-5615-93

Sinopsis

Buku Alvar Aalto adalah hasil riset OMAH Library tentang karya beliau dengan kunjungan langsung di 13 karya beliau beserta 300+ foto dengan analisa eksperensial dan metode yang beliau kerjakan. Keajaiban Alvar Aalto menjadi contoh pandemi dalam dunia desain dalam artian positif. Dimana kerja kerasnya telah menyebar di seluruh dunia dari arsitektur hingga desain produk bersama Arteknya.

Masa pandemi ini menjadi perenungan panjang dalam penyelesaian buku ini. Sehingga kami melengkapinya dengan investigasi terhadap pandemi itu sendiri, dan bagaimana proses kreatif melampaui pandemi-pandemi yang sudah pernah ada hingga yang dilakukan saat ini di pandemi COVID-19.

Price: Rp300.000,-

ORDER THIS BOOK

Kategori
Press

TADAO ANDO: Let There be Light

Penulis: Eka Swadiansa
Soft cover | Monochrome  | Bahasa
Indonesia
14.8cm × 21cm | 401 hlm. | Release Date: April, 2021
ISBN: 978-623-96215-1-3

Sinopsis

Buku ini adalah buku desain. Semacam ‘reporting from the front’ dari ‘Ziarah Ando’ yang dilakukan hampir 12 tahun yang lalu ketika penulis memenangkan 2009 OFIX-Ando Programme. Namun sebagai buku desain, buku ini tidak beroperasi seperti layaknya monograf arsitektur pada umumnya.

Badan tubuh buku ini ditulis dalam 10 bab, untuk membahas 7 karya yang meliputi: Galleria Akka, The Time’s I & II, Church of the Light (and Sunday School), Honpuku-Ji (atau Water Temple), Chikatsu Asuka Museum, Sayamaike Museum dan Awaji Yumebutai. Bersama beberapa karya lainnya, ketujuh proyek tersebut seringkali diidentifikasi sebagai proyek-proyek ‘klasik Ando’ – yakni proyek-proyek yang dibangun ‘di era sekitar penerimaan Pritzker Architecture Prize (1995)’ antara akhir dekade 80an hingga awal 2000an.

Price: Rp198.000,-

ORDER THIS BOOK

Kategori
Press

Omah: Membaca Makna Rumah Jawa

Penulis: Revianto Budi Santosa
Soft cover | Monochrome  | Bahasa
Indonesia
14.8cm × 21cm | 160 hlm. | Release Date: July, 2019
ISBN: 978-602-5615-78-8

Sinopsis

Rumah Jawa adalah tempat untuk membina, mengembangkan, dan mentransformasikan budaya melalui praktik berkehidupan yang diselenggarakan di dalamnya. Buku ini memaparkan secara rinci rumah sebagai tempat untuk aktivitas keseharian, untuk pelaksanaan upacara dan perhelatan, serta untuk panggung seni pertunjukan. Dalam ketiga praktik tersebut rumah dimaknai dan dihayati oleh warganya. Berusaha untuk menyajikan spektrum yang luar, buku in mengkaji empat rumah Jawa di Yogyakarta dalam berbagai skala, dari bangunan tunggal yang kecil, hingga rumah pengusaha, dalem pangeran, dan Kraton yang terdiri atas lebih dari seratus bangunan. Melibatkan diri pada sejumlah peristiwa di rumah-rumah tersebut, penulis sangat akrab dengan kehidupan didalamnya sehingga mampu menyajikan rinci kehidupan dan praktik di dalamnya untuk kemudian diangkat dalam wacana budaya meruang yang luas. Diterbitkan pertama kali hampir 20 tahun yang lalu, Omah adalah referensi yang tersaji sederhana namun mampu mengungkapkan kekayaan makna dalam hidup meruang.

Price: Rp150.000,-

ORDER THIS BOOK

Kategori
Press

Antologi Kota Indonesia 2

Penulis: Warmadewa Research Center
Soft cover | Monochrome  | Bahasa
Indonesia
14.8cm × 21cm | 380 hlm. | Release Date: October, 2019
ISBN: 978-602-5615-83-5

Sinopsis

AKI dan OMAH Library kembali meluncurkan sebuah buku serial yang bertajuk “Antologi Kota Indonesia” seri 1 dan 2.

Kota-kota terus tumbuh sebagai fenomena karya manusia. Pertumbuhan ini terus melahirkan pemikiran-pemikiran baru dan tindakan-tindakan baru. Pemikiran dan tindakan akan terus menghasilkan kajian-kajian perkotaan terintegrasi sehingga studi tentang perkotaan akan terus dikembangkan dengan diskursus intelektual yang lebih dalam. Buku ini adalah upaya untuk terus menghadirkan kajian-kajian perkotaan dengan latar belakang multi-disiplin dan multi-perspektif.

Price: Rp150.000,-

ORDER THIS BOOK

Kategori
Press

Antologi Kota Indonesia 1

Penulis: Warmadewa Research Center
Soft cover | Monochrome  | Bahasa
Indonesia
14.8cm × 21cm | 290 hlm. | Release Date: October, 2019
ISBN: 978-602-5615-82-5

Sinopsis

AKI dan OMAH Library kembali meluncurkan sebuah buku serial yang bertajuk “Antologi Kota Indonesia” seri 1 dan 2.

Kota-kota terus tumbuh sebagai fenomena karya manusia. Pertumbuhan ini terus melahirkan pemikiran-pemikiran baru dan tindakan-tindakan baru. Pemikiran dan tindakan akan terus menghasilkan kajian-kajian perkotaan terintegrasi sehingga studi tentang perkotaan akan terus dikembangkan dengan diskursus intelektual yang lebih dalam. Buku ini adalah upaya untuk terus menghadirkan kajian-kajian perkotaan dengan latar belakang multi-disiplin dan multi-perspektif.

Price: Rp150.000,-

ORDER THIS BOOK

Kategori
Press

Arsitektur Radakng

Penulis: Yoris Mangenda
Soft cover | Monochrome  | Bahasa
Indonesia
14.8cm × 21cm | Release Date: October, 2020
ISBN: 978-602-5615-95-5

Sinopsis

Buku ini memaparkan bagaimana pengaruh perkembangan budaya kehidupan komunal masyarakat Dayak Kanayatn, Desa Saham, terhadap morfologi bentuk dan ruang hunian mereka yang masih eksis hingga sekarang. Studi dan dokumentasi Radakng desa Saham mengkaji sisi arsitektural terkait tatanan ruang, filosofi, bentuk, struktur, dan konstruksi yang merupakan kemewahan warisan arsitektur leluhur Dayak Kanayatn, masih berdiri kokoh dan senantiasa dijaga serta dilestarikan hingga kini. Radakng sejatinya adalah sebuah wadah komunal tempat mereka bernaung, berlindung, membangun peradaban, dan melepaskan jubah individualisme untuk membangun sebuah antusiasme yang menjadi landasan utama budaya hidup komunal yang mereka jalani.

Price: Rp120.000,-

ORDER THIS BOOK

Kategori
Press

Arsitektur Lobo Melintas Waktu 1: Lobo Ngata Toro

Penulis: Komunitas Tadulako Tradisional
Soft cover | Monochrome  | Bahasa
Indonesia
14.8cm × 21cm | 250 page | Release Date: September, 2019
ISBN: 978-602-5615-79-5

Sinopsis

Arsitektur Lobo Melintas Waktu seri kesatu berjudul “Lobo Ngata Toro” bekerjasama dengan JAAI (Jaringan Arsip Arsitektur Indonesia) yang ditulis oleh Komunitas Tadulako Tradisional. Di Ngata Toro, adat tumbuh dari tempat (mungki). Arsitektur Lobo adalah hasil dari pemikiran orang tua dan tetua adat untuk mendirikan tempat bermusyawarah. Dengan demikian maka Lobo merupakan bagian dari sarana dan prasarana dadat untuk menemukan, merembugkan, dan meutuskan ketentuan-ketentuan yang menjadi dasar hidup manusia, sebagai pembimbing, sebagai pembina dalam berkehidupan.

Sehingga dapat dikatakan tujuan pertama kali berdirinya Lobo adalah sebagai wadah berlangsunganya adat dan untuk merumuskan adat, fungsinya saat ini merupakan bagian dari adat itu sendiri. Selain daripada itu, Lobo yang berada disini merupakan salah satu kekayaan masyarakat adat Ngata Toro yang bertahan dan berkesinambungan hingga saat ini.

Price: Rp120.000,-

ORDER THIS BOOK

Kategori
Press

MAMASA: Ekspedisi Lima Banua

Penulis: Arsitektur Hijau
Soft cover | Full Colour | Bahasa
Indonesia
14.8cm × 21cm | 170 page | Release Date: April, 2021
ISBN: 978-602-5615-96-2

Sinopsis

Meski sistem strata sosial sudah ditinggalkan, jejak cara hidup warga Mamasa zaman dulu masih tercermin pada perbedaan wujud fisik Banua seperti pada warna, ornamen, elemen struktur, dan ukuran bangunan. 5 jenis banua berdasarkan tingkat strata sosial tinggi-rendah suku To Mamasa masa lampau yaitu: Banua Layuk, Banua Sura, Banua Bolong, Banua Rapa, Banua Longkarin. Pembangunannya adalah hasil runtutan trial-eror yang panjang, menggunakan material alam lokal, proses membangunnya sarat makna, gotong royong dan telah menjadi tradisi antar generasi.

Dalam buku ini, kami ajak pembaca menikmati keindahan arsitektur Mamasa melalui beragam sketsa, foto, dan penggambaran observasi yang menyentuh hati. Buku ini menggarisbawahi pentingnya mengalami berbagai macam khasanah akar budaya Indonesia sebagai sumber inspirasi yang maha dahsyat.

Price: Rp150.000,-

ORDER THIS BOOK

Kategori
Press

SPIRIT_45: Cultural Hypnosis and an Unfinished Manisfesto

Writer: Andy Rahman, Eka Swadiansa, Realrich Sjarief
Soft cover | Monochrome | English

14.8cm × 21cm | 208 page | Release Date: July, 2018
ISBN: 978-602-5615-45-0

Synopsis

SPIRIT_45 is numerous sessions of dialogue, expansive moments of discourses, and odes to past architectural marvels. Andy Rahman, Eka Swadiansa, and Realrich Sjarief -3 young Indonesian architects- gathered and collided, drowned in endless discussions, to continuously reflect the Indonesian architecture scenery in the perspective of their daily practices. Of concepts and reality, of abstracts and details, of scale and magnitude, of time and space, of simplicity and complexity, of design visions and construction strategies –of all the oxymoron culminated within the limitation of their young practices- SPIRIT_45 is an attempt to understand the spirit of our time. To go beyond the mainstream popular cults, and be freed from hegemonic status quo of ‘formal’ history. A struggle to define new informality, a paradigm shift possibly of the spirits from the distant past. A journey among friends in search of collective identities.

Price: Rp150.000,-

ORDER THIS BOOK

Kategori
blog

Studio Garasi, a Canvas for Creativity

From the very beginning of our practice, experimenting with materials has been a part of our process. This ethos is deeply rooted in our early days at the Garage Studio. Our front facade was a product of experimentation with plywood wrapped in teak wood and punctuated with circular perforations. This facade served as both cover and door, adaptable to our needs.

The garage’s front space was a canvas of creativity, with black-painted walls adorned with chalk and marker scribbles alongside sketches portraying an aerial city view. Einstein’s words, “If at first, the idea is not absurd, then there is no hope for it,” were engraved on the floor, reminding us to be brave enough to take a step and be willing to innovate.

Despite its modest dimensions, the front terrace was versatile, transforming from a gathering space to a reception or seating area as required. More than just a workplace, this Garage Studio had also become a home for those inside, fostering leisure alongside focused work and learning.

#refleksiraw #kilasbalikraw #studiogarasi #realricharchitectureworkshop #architecture #details #architectureproject #jakarta #indonesia

Kategori
Press

Soul of Borobudur: Filosofi Mandala Chakrawartiin

Penulis: Hendrick Tanuwidjaja
Soft cover | Monochrome | Bahasa
Indonesia
21cm × 29.7cm | 371 page | Release Date: November, 2023
ISBN: 978-623-96215-9-9

Sinopsis

Buku Soul of Borobudur, Filosofi Mandala Chakravartin bercerita mengenai nilai-nilai atau esensi dari Candi Borobudur, bahwa ia bukanlah sekadar monumen mati, melainkan monumen hidup yang relevan dengan kehidupan bangsa Indonesia. Di dalam buku ini, penulis berusaha menyadarkan pembaca mengenai betapa hebatnya bangsa Indonesia. Pada era pembangunan Candi Borobudur, peradaban Nusantara banyak dibawa jauh ke Jepang, Cina, Korea, dan negara-negara Asia Tenggara lainnya, bahkan hingga ke Tibet. Penyebaran peradaban tersebut kemudian memantik munculnya peradaban-peradaban baru di negara-negara tersebut.

Bagi penulis, Borobudur bukan sekadar cerita perjalanan masa lampau. Borobudur menjadi mandala dalam diri setiap manusia yang direpresentasikan secara monumental. Borobudur menggambarkan kehidupan keseharian yang mengajak kita untuk lebih mengenal dan menggali diri sendiri.

Harapannya, dengan menghayati isi dari buku ini, pembaca juga dapat terinspirasi untuk lebih mencintai Indonesia dan turut berkontribusi membawa Indonesia maju ke depan dengan menengok kisah dari masa lalu.

Pembuatan buku ini didukung oleh banyak sekali mandala yang membantu penulis. Di antaranya ada Ivan Chen dan Ninoi Kiling, CEO dan kepala pengembang dari studio yang membuat game moba pertama di Indonesia. Merekalah yang membantu penulis menetapkan Borobudur sebagai titik awal sudut pandang buku ini. Setelah naskah selesai ditulis, tantangan belum berhenti. Di sanalah dukungan OMAH Library masuk dengan segala naik-turun, suka-duka, yang membuat penulis masih merasa menjadi manusia di dalam prosesnya.

Pada akhirnya, walaupun buku ini lebih banyak menekankan kecintaan kepada Indonesia, ia tetap membebaskan pembaca untuk menyukai sesuatu yang berasal dari luar. Namun, sama halnya dengan mandala diri, kita perlu mencintai diri sendiri terlebih dahulu untuk dapat mencintai orang lain.

Dengan demikian, kita akan menjadi mandala yang utuh dan kaya.

Price: Rp400.000,-

ORDER THIS BOOK

Kategori
blog

Laurensia’s Birthday

Hari ini Laurensia ulang tahun ke 42, senang sekali melihat keceriaannya setelah selesai sakit kami. Ia adalah wanita yang sangat sederhana, ngga banyak keinginan, kemauan yang berlebih-lebihan dan hal itu mewarnai kesederhanaan keluarga kami. Ia adalah partner kehidupan, keluarga, dan memegang banyak pintu, kunci dari keluarga dan juga studio. Dokter gigi yang juga membantu mengorganisasi studio sehingga anak- anak studio bisa lebih bahagia.
.
Anak – anak kami sudah cukup besar, ada Miracle dan Heaven yang memiliki sifat – sifat unik. Kami percaya bahwa setiap anak memiliki jiwa yang baik dan bersahaja, seringkali pada saat ia dewasa ia menjadi terpapar dengan jiwa orang tuanya yang memiliki kebaikan dan juga berbagai macam trauma/rasa kenangan yang perlu diselesaikan. Laurensia dari dulu kami bersama dari tahun 2008 banyak membantu saya untuk arsitektur juga pribadi, sisi trauma saya, ia mengerti, memaafkan, dan menyabarkan saya pribadi. Bahkan untuk nonton bioskop senang-senang, dulu ia yang mensupport saya dengan praktiknya ketika uang saya habis karena memulai karir tidak pernah mudah.
.
Laurensia adalah orang yang perasa dan halus, ia mampu merasakan, mencium hal – hal yang tidak bisa dirasa oleh orang biasa, dan menajamkan intuisi saya pribadi sehingga bisa merasakan energi baik, niat baik, proses yang selalu berputar dalam keluarga kami.
.
Dari dirinya saya mendapatkan karunia 2 anak yang baik – baik. Seiring dengan kehidupan waktu kami yang berhitung mundur, saya ingin dia bahagia. Di balik ketidak sempurnaan kami semua, bagi saya inilah kesempurnaan yang layak dijalani. Berhitung mundur di balik rambut putih saya yang mulai muncul sehingga kehidupan ini akan mulia dan sempurna demi Tuhan yang kami pegang teguh. Semesta ini begitu luas dan indah dan ini bermula dari ibu sebagai pusat galaksi kecil, yaitu keluarga kita masing – masing.
.
Photograph @_yophrm
#realrichsjarief #miracleheavenrich

Kategori
blog inspiring people

Gunawan Tjahjono, Cahaya yang Berguna

Pak Gunawan Tjahjono, seperti namanya “cahaya yang berguna”, adalah seorang professor yang saya selalu rindukan karena pengetahuan arsitekturnya yang berlimpah, dan banyaknya buku yang dibacanya.

Saya banyak menanyakan hal-hal terkait perjalanan hidupnya, sampai ke bagaimana seorang praktisi dididik, mengenal pola dan bagaimana melatih bahasa pola. Saya yang dulu berada dalam praktik kecil yang terbatas di ruang garasi, sekarang tersadar bahwa dalam praktik, bahasa pola perlu dilatih dalam ruang-ruang imajinasi & teori.

Dari diskusi ini saya belajar relasi antara 3 dunia: 1) grammar (pola), 2) rasa, dan 3) spiritual. Saya ingat grammar dipelajari melalui kekayaan wawasan, bercerita melalui kekuatan analitis.

Hal itu saya dapatkan ketika Pak Gun bercerita kembali tentang kekuatan story-telling Charles Moore dan metode analitik berpikir kritis Horst Rittel.

Cerita kedua adalah bagaimana menajamkan rasa melalui prinsip RSVP (resources, score, value, perform): sebuah perjalanan mengenal diri, menghidupkan kembali kepekaaan dengan merasakan kehilangan indra, membangun sistem diri yang definitif & terukur, bertindak secara kolektif, hingga pada akhirnya kita bisa menemukan makna dari aksi kolektif ini dalam sebuah proses kreatif.

Ia membahas pentingnya rasa melalui pengalaman arsitektur yang tidak hanya analitis, tetapi menembus kualitas atmosferik. Bukan hanya soal bentuk, tetapi perpaduan indra, teknik, cerita, dan kesadaran, yang layaknya beliau alami pada karya-karya Louis Kahn seperti Kimbell Art Museum & Salk Institute, ataupun figur Eko Prawoto.

Pak Gun cerita beliau sedang menyusun tulisan tentang domestifikasi arsitektur, sebuah titik di mana ia mencari definisi demi definisi kehidupan manusia & arsitekturnya.

Saya ingat beliau berkata, “Seorang pengajar tidak perlu merasa bisa memiliki semua jawaban dari pertanyaan murid-muridnya, tapi ia perlu menjawab ‘mari kita cari bersama-sama’.” Dari sini saya merasa relasi arsitektur Indonesia ada di 3 antara: antara pola, antara rasa, dan antara jiwa yang membentuk ikatan batin untuk pulang.

Terima kasih Pak Gun sudah menemani kami semua untuk mencari jawaban & juga pertanyaan-pertanyaan baru.

Pulangnya beliau mau membeli buku. Saya tanya, “Yang mana, Pak?”

Beliau jawab, “Yang dua ini, Alvar Aalto dan Methodgram.”

“Pak, ini ditulis sama saya dan Anas Hidayat, disunting sama Johannes Adiyanto. Buku Methodgram inget ngga, Pak? Saya ditantang sama Agustinus Sutanto, ‘Kalau kamu tidak bisa menemukan metodemu sendiri, kamu ngga akan bisa berkembang. Lihat Bjarke Ingels, Vo Trong Nghia.’ Setelah itu saya tulis buku ini, yang kadang saya ngga ngerti apa yang saya tulis sekarang.”

“Ya, semua bertumbuh kembang,” jawabnya. “Bagusnya begitu.”

“Kamu tau Alvar Aalto? Dulu Pak Wondo pernah cerita ke saya kalau gedung konsernya didesain supaya jari jemari pianisnya terlihat dari tempat duduk. Saya mau baca buku itu.”

Terakhir saya bilang, “Pak, Antologi Kota 1 & 2 ini dibuat oleh Mas Cahyo, Mas Gede, Mas Fritz, dan teman-teman.”

“Oooh iya. Oke, saya mau bayar semua.”

“Ngga usah, Pak. Ini semua sudah dibayar, saya tambahin beberapa buku ya, Pak. Kan untuk perpustakaan Bapak juga. Kita berbagi ilmu.”

Lima tahun setelah perjumpaan saya dengan Pak Gun di Bintaro Exchange—beliau menjelaskan relasi Jung, Archetype, dan kekuatan metode Rittel—beberapa buku, diskusi tentang arsitek & arsitektur mumpuni sudah terbit, dan cakrawala baru yang saya dapatkan dulu tidak ada habis-habisnya sampai sekarang, dan saya selalu menunggu apa yang akan saya lakukan besok pagi. Saya sebut itu “The Night Flame”, malam yang membara. Sebuah pantikan api yang dinyalakan di lubuk hati, yang saya perlu banyak berterima kasih pada beliau atas pencerahan dan penemanannya sampai sekarang.

#rawinspirasi


Kategori
Press

Pamflet OMAH : Gerak dan Sentuhan Tari Arsitektur Berkelanjutan

Realrich Sjarief, Hanifah Sausan N., Imega Reski, Jocelyn Emilia, Arlyn Keizia, Lu’luil Ma’nun, M. Nanda Widyarta
Soft cover | Monochrome | Bahasa | 14,8cm × 21cm | 243 page | Release Date: (coming soon)
ISBN: dalam proses pengajuan ISBN

Sinopsis

Setelah terbitnya #1 Alpha: Never-ending Dialogue in the Strange Architecture Library pada tahun 2016, OMAH Library kembali mempublikasikan Pamflet: Gerak dan Sentuhan Tari Arsitektur Berkelanjutan. Volume ini diterbitkan dalam bentuk pamphlet sebagai alat berdiskusi bagi kami. Dalam ranah global, ide mengenai pamflet ini kami dapatkan dari publikasi Pamphlet Architecture yang diprakarsai oleh Steven Holl dan William Stout pada tahun 1977. Dalam ranah Indonesia, publikasi semacam ini juga pernah dilakukan oleh AMI (Arsitek Muda Indonesia) melalui pameran dan publikasi yang bertajuk “Penjelajahan 1990-1995”. Menurut kami, pamflet menjadi media yang menyuarakan sudut pandang berbagai individu terhadap isu yang sedang berkembang. Mereka menggunakan pamflet untuk membuat anak-anak muda sadar, mempertanyakan banyak hal, dan membuat perubahan.

Di dalam pamflet kali ini, OMAH Library menyajikan berbagai realitas mengenai permasalahan lingkungan yang sedang kita hadapi bersama. Kita hidup di satu dunia yang sama dengan bentangan geografis dan dinamika di dalamnya. Pandemi COVID-19 dan krisis udara bersih telah menyadarkan kita untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Kami memulai dengan hipotesis bahwa ide arsitektur yang dibangun di atas pemikiran yang kritis akan berkelanjutan, menerus, dan dapat diturunkan hingga ke generasi selanjutnya, serta menjadi cerminan kegeniusan lokal masa kini untuk masa depan.

Beberapa contoh penerapan arsitektur yang demikian dibahas di pamflet ini, mulai dari teknologi vernakular perkotaan Iran dengan bentuknya yang memukau hingga ide pembuatan brise soleil oleh Le Corbusier di Perancis yang terinspirasi dari India dengan pola-pola dinding, seperti kerawang, kisi-kisi, dan berbagai macam ornamen tampak lainnya. Hal tersebut juga muncul di Indonesia, seperti di Masjid Turen dengan karakteristik humanistiknya dan pandangan Silaban dalam praktiknya di Jakarta ataupun di kota-kota besar lainnya yang merujuk ke arah modernisme dengan tetap memperhatikan konteks.

Artikel-artikel pada pampflet ini kami lengkapi dengan materi kelas yang pernah disampaikan oleh Andhang R. Trihamdani, tulisan M. Nanda Widyarta, dan narasi wawancara dengan tokoh arsitek mumpuni seperti Eko Prawoto, serta kontributor-kontributor lainnya: Eka Swadiansa, Rezki Dikaputera, M. Cahyo Novianto, Eko S. Darmansyah, I Nyoman Gede Mahaputra, Prasetyoadi, Dian Fitria, Doti Windajani, Adli Nadia, Mitu M. Prie, Hugo Diba. Meskipun dengan latar belakang yang beragam, para kontributor ini dan teman-teman OMAH Library bergerak menuju satu visi yang sama, menuju ekosistem arsitektur Indonesia yang lebih baik. Pamflet ini kami tutup dengan semangat untuk tidak pernah menyerah dalam menyongsong harapan di tengah dinamika kondisi lingkungan di masa kini dan masa depan.

Normal Price: Rp400.000,-
Student Price: Rp200.000,-

ORDER THIS BOOK

Kategori
blog

My 3 best person

My 3 best person, musketeer that I love most, Laurensia, mother of Miracle and Heaven.

Waktu berjalan dengan cepat, di balik keseharian yang menderu-deru, letih,mereka yang menemani keseharian dalam cinta, saya bener2 bersyukur bisa bersama – sama keluarga kecil ini ditambah sun, moon, star (3 marmut) Love u mom and kids.
.

#realrichsjarief#miracleheavenrich

Kategori
blog

Holiday bersama Singa Laut

Pagi – pagi, anak – anak sudah bangun ya wis kami kenalin temen baru namanya jessica si singa laut ❤️ ngerasain dikilik2 sama kumisnya, kata orang kalau dikilik sama kumis singa laut bawa ke keberuntungan beberapa tahun ke depan. Selamat Lebaran lagi ya happy holiday all.

#realrichsjarief#miracleheavenrich

Kategori
blog

Heaven Belajar Gambar

Heaven mulai belajar gambar, dunianya berkisar antara bermain – main sama kakaknya, mukanya yang lucu dan menggemaskan, apalagi ketika ia nanya “whyyy, whyy ?” Siap2 jawab terus dan disambut dengan “whyy , whhy lagi”

#realrichsjarief#miracleheavenrich

Kategori
blog

Anniversary Kami yang ke 12

Terima kasih untuk 12 tahun yang indah @laurensiayudith

Tgl 25 september kemarin hari anniversary kami yang ke 12, 12 tahun merupakan saat-saat yang tidak mudah tetapi selalu saya syukuri. Dibalik 4x rasa kehilangan calon buah hati kami, sekarang ada dua malaikat yang selalu menemani kami setiap harinya. Keduanya lucu-lucu, yang satu jenaka dan ceria, yang kedua serius dan brilliant. Dibalik perbedaan keduanya, mereka saling belajar satu sama lain. Banyak orang bilang bahwa cerminan kejeniusan anaknya berasal dari kejeniusan ibunya, dan saya sangat percaya akan hal itu.

Dibalik canda tawa yang terjadi diantara kami, saya percaya bahwa yang terbaik itu baru akan terjadi. Dibalik seluruh kesuksesan dan kebagiaan, itu ada penghayatan akan rasa kehilangan, duka, serta progress yang tidak mudah dalam menjadi ini semua. Saya bersyukur dibalik seluruh kesibukan saya yang tidur kadang-kadang hanya 4-6 jam sehari, Laurensia selalu menyediakan saya multi vitamin sampai obat sensei, mulai dari suplemen-suplemen yang tradisional hingga yang futuristik. Tapi yang terpenting dari saya adalah dibalik semua yang tersuguh di meja makan, baik itu vitamin, makan dan minuman yang luar biasa enak, ada vitamin “C” cinta yang tidak ternilai.

Saat-saat anniversary kami dihabiskan dengan makan makanan yang sederhana saja di sebuah Food Court yang enak menurut kami. Itu adalah hal-hal biasa yang kami syukuri setiap harinya.

Rasa nyaman, rasa aman, kebiasaan yang membekas, itu adalah surga dan mujizat itu hadir dan nyata didalam hidup saya. Dan itulah keadaan Laurensia yang memberikan saya dua anak yang luar biasa, @miraclerichsjarief dan Heavenrich. Laurensia, terimakasih untuk segenap hati yang sudah diberikan untuk saya. Saya sangat bersyukur bertemu dirimu di kehidupan sekarang. Semoga Tuhan memberkati seluruh hati, kebaikan, dan semua yang kamu punya di dalam waktu yang terbatas ini.

Happy anniversary yang ke 12 Laurensia, love u to the Moon, terima kasih Tuhan sudah memberikan malaikat yang menemani hidup saya sampai saya sampai saya bertemu diriMu satu saat nanti.

Saya sudah mengenal @laurensiayudith istri saya sejak kelas 4 SD, pada waktu saya baru pindah dari Surabaya ke Jakarta. Saya masuk di SDK Sangtimur, pindahan dari SD Petra Surabaya. Ia duduk di samping saya, perawakannya ketus dan suka iseng pada saya yang logatnya Suroboyo-an.

Waktu di Surabaya saya terbiasa melontarkan pertanyaan-pertanyaan di waktu guru bertanya “Apakah ada pertanyaan?”, dan juga menjawab ketika guru bertanya ” Siapakah yang mau menjawab? “, Saya pasti akan mengacungkan tangantangan. Dia dalam hati mungkin Laurensia bertanya-tanya “Siapa ini anak kok tunjuk tangan terus? “, sampai-sampai guru saya bilang ” sudah-sudah, kamu jangan menjawab-jawab lagi, kamu terlalu sering mengangkat tangan.

Pertemanan kami berlanjut sampai ke bangku SMA dan kami ada di satu kelas yang sama, kelas IPA 1 kumpulan anak-anak yang kutu buku. Saya sendiri waktu itu senang bermain pingpong dan selalu pulang sore, sangat berbeda dengan Laurensia dulu yang selalu pulang telat waktu. Kami ada di dua buah dunia yang berbeda. Dunia Laurensia adalah dunia kepastian, sedangkan dunia saya adalah dunia bagaimana saya bisa menikmati setiap harinya secara maksimal.

Saya suka berkeliling berjalan-jalan . Tapi hobi saya yang saya suka adalah saya terlalu terlambat datang ke sekolah, karena saya bisa menikmati pagi dulu dan bertegur sapa dengan orang-orang orang di luar sekolah. Dan kadang-kadang sudah tau terlambat, tapi saya masih berdo’a dulu di gereja, dan banyak yang bertanya saya sedang apa. Kemudian saya bilang “Saya berdoa”.

Waktu itu status kami adalah sebagai teman biasa, hingga kemudian kami berpisah dan tidak bertemu lagi, karena saya melanjutkan kuliah ke Bandung, dan Laurensia berkuliah di Jakarta i tahun 2000.

Suatu saat di tahun 2008, ada satu email yang saya kirim ke Laurensia dijawab. Padahal email tersebut sudah saya kirim sejak 2 tahun yang lalu. Isinya adalah balasan dari Laurensia dan saya sangat senang. Di email tersebut kami bertegur sapa dan saya baru tau kalau dia baru bisa membalas email tersebut karena dia sedang tidak punya pacar.

Yang saya syukuri pada saat itu adalah saya merasa nyaman, sebagai teman berbicara, berdiskusi, hingga mendiskusikan masa lalu dan masa kini, untungnya saya juga jomblo. Indahnya masa lalu waktu bersama-sama di bangku SMA, kemudian di masa kini dimana situasi sudah tidak sama lagi. Dia sudah menjadi seorang dokter gigi, dan saya adalah seorang calon arsitek pada waktu itu. Kemudian saya baru tahu kalau dia sudah tidak punya pacar, padahal dulunya dia berpacaran sudah cukup lama dengan pacar yang sebelumnya, sampai pada akhirnya bertemu dengan saya. Saya meyakini bahwa yang terpenting dalam cinta adalah garis finishnya. Hasil akhir dari penantian yang panjang.

Saya berusaha jujur ke Laurensia bahwa saya menyukainya, mengajaknya makan malam dan kemudian saya menyadari bahwa memang pribadinya sangatlah menenangkan dan menyenangkan. Karena kita berada di dalamdunia yang berbeda, dia tidak tahu dan mau mengerti dunia arsitektur. Saya melihat juga dunia dokter gigi mirip dengan dunia arsitektur, bahwa pondasi bangunan adalah akar gigi, ada mahkota, dan ada batang giginya. Itu adalah sebuah cara untuk merawat sebuah bangunan yang namanya gigi.

Suksesnya hari pertama saya meresmikan status, saya di interogasi oleh calon mertua saya, “Kamu itu mau serius?”. Pertanyaan itu muncul karena pada waktu itu usia kamk sudah tidak muda lagi, bagitu sudah umur 26, saya harus serius. Kemudian saya menjawab ” Saya serius, tetapi saya membutuhkan waktu untuk menyelesaikan profesionalitas saya, pekerjaan saya di London.

Kalau ada hal yang membuat saya pulang, Laurensialah orangnya, karena saya tau bahwa dia orang yang sangat layak untuk diperjuangkan dan saya menginginkan hidup bersama-sama dengan dia. Hidup bersama Laurensia adalah hidup penuh dengan ketenangan, dimana kita sendiri memiliki cara pandang dan perspektif sendiri, kita memiliki apa yang kita suka sekaligus tidak suka di dalam sebuah frekuensi yang ternyata hampir sama.

Banyak orang bilang bahwa perempuan terbuat dari tulang rusuk laki-laki, menurut saya tidaklah demikian. Bagi saya kita sendiri memiliki sisi-sisi yang justru apabila kita mengerti pribadi pasangan kita, kita akan merasa sangat kecil dibandingkan pasangan kita.

Ketika kita sudah sangat yakin bahwa dialah pasangan kita, kita tidak perlu sejuta alasan, karena kita akan merasa sangat kecil dibangdingkan dia. Karena itulah saya merasa kehadiran Laurensia membuat saya sempurna. Di dalam perjalanannya memang tidaklah mudah, kami menikah tahun 2011 dan sejak saat itu saya sangat bersyukur.

Hari ini adalah hari anniversary kami yang ke 12, 12 tahun merupakan saat-saat yang tidak mudah tetapi selalu saya syukuri. Dibalik 4x rasa kehilangan calon buah hati kami, sekarang ada dua malaikat yang selalu menemani kami setiap harinya. Keduanya lucu-lucu, yang satu jenaka dan ceria, yang kedua serius dan brilliant. Dibalik perbedaan keduanya, mereka saling belajar satu sama lain. Banyak orang bilang bahwa cerminan kejeniusan anaknya berasal dari kejeniusan ibunya, dan saya sangat percaya akan hal itu.

Di balik kesibukan saya, Laurensia setiap harinya menemani anak-anak. Saya sendiri sangat bersyukur bahwa laurensia bisa menjadi seorang ibu yang sangat baik dan memiliki rasa mengayomi. Sampai-sampai saya kadang-kadang takut, “Apakah anak-anak saya bisa berkembang mandiri?”. Tapi saya percaya bahwa niatnya adalah rasa sayang yang tidak berlebihan, saya percaya bahwa kemandirian anak – anak akan muncul seiring kedewasaan kami mendidik anak – anak, mengayomi juga mendisiplinkan. Menghayati anak – anak yang menjadi dewasa matang sesuai waktunya.

Di balik kesibukan saya juga, Laurensia membantu mengatur banyak hal di studio kami. Bagi saya dialah sebenarnya ratu dari studio dan kehidupan saya. Bagi saya posisinya sangat penting, karena apapun yang saya lakukan membutuhkan keterlibatan dia. Saya yakin bahwa arsitektur itu inklusif juga, sama seperti suami takut istri, istri tidak perlu takut suami. Karena inklusif itu berarti takut kehilangan bersama jadi selalu melibatkan dalam keputusan bersama.

Dibalik canda tawa yang terjadi diantara kami, saya percaya bahwa yang terbaik itu baru akan terjadi. Dibalik seluruh kesuksesan dan kebagiaan, itu ada penghayatan akan rasa kehilangan, duka, serta progress yang tidak mudah dalam menjadi ini semua. Saya bersyukur dibalik seluruh kesibukan saya yang tidur kadang-kadang hanya 4-6 jam sehari, Laurensia selalu menyediakan saya multi vitamin sampai obat sensei, mulai dari suplemen-suplemen yang tradisional hingga yang futuristik. Tapi yang terpenting dari saya adalah dibalik semua yang tersuguh di meja makan, baik itu vitamin, makan dan minuman yang luar biasa enak, ada vitamin “C” cinta yang tidak ternilai.

Dalam langkah-langkah dalam pribadi, didalam arsitektur yang saya jalani sebagai laku kehidupan. Saya yakin semua perlu tau bahwa didalam laku kehidupan saya semuanya berbasis atas nama Tuhan dan dia hadir untuk melengkapi saya yang tidak sempurna.

Terimakasih Laurensia sudah menemani saya. Mulai dari saat-saat kita menghabiskan waktu LDR, dimana waktu terbalik, saat di Landon pagi hari di Jakarta subuh, malam di Jakarta makan siang di London. Didalam puluhan ribu jam yang sudah kita jalani bersama, ada sebuah cerita tentang saat-saat menuju pernikahan. Dimana kita mengadakan foto prewedding di jalanan rumah kita, menggunakan sepeda pinjaman dari ibu kita. Sepedanya sebenarnya biasa-biasa saja tapi dikombinasikan dengan setting ruang yang sederhana dan di sekitar kita itu yang kami inginkan.

Hal-hal tersebut mewarnai keseharian kita yang biasanya kami berjalanan-jalan disana, setting didepan studio garasi, dan hal-hal seperti kita bersepeda saat di Cambridge, dimana sepeda yang kami gunakan sebenarnya tidak untuk boncengan, melainkan untuk menaruh barang. Dan saya baru tau ketika saya selesai menyewa sepeda tersebut.Laurensia, terimakasih untuk kesabarannya ketika dibonceng dan juga ketika sudah berpindah ke Guha, tatap mau menikmati saat-saat yang sulit, sederhana, penuh rasa syukur menjalani kehidupan kita seperti sekarang.

Sampai saat-saat anniversary kami dihabiskan dengan makan makanan yang sederhana saja di sebuah Food Court yang enak menurut kami. Itu adalah hal-hal biasa yang kami syukuri setiap harinya.

Rasa nyaman, rasa aman, kebiasaan yang membekas, itu adalah surga dan mujizat itu hadir dan nyata didalam hidup saya. Dan itulah keadaan Laurensia yang memberikan saya dua anak yang luar biasa, @miraclerichsjarief dan Heavenrich. Laurensia, terimakasih untuk segenap hati yang sudah diberikan untuk saya. Saya sangat bersyukur bertemu dirimu di kehidupan sekarang. Semoga Tuhan memberkati seluruh hati, kebaikan, dan semua yang kamu punya di dalam waktu yang terbatas ini.

Happy anniversary yang ke 12 Laurensia, love u to the Moon, terima kasih Tuhan sudah memberikan malaikat yang menemani hidup saya sampai saya sampai saya bertemu diriMu satu saat nanti.

Kategori
blog inspiring people struggles

Josef Prijotomo – Ayah Arsitektur Nusantara

Saya mengenal pak Josef Prijotomo kira-kira 10 tahun yang lalu pada waktu itu saya datang ke ITS. Ia masuk ruangan dan duduk disamping saya dan bercerita tentang bagaimana ia mendambakan bahwa Indonesiaan itu seharusnya muncul dan dibahas di dalam tugas akhir. Dia menyebut konsep ini sebagai “Arsitektur Nusantara”.

Pertanyaan dan pernyataannya selalu menohok tajam, dan memantik emosi kami. Satu saat ia berseloroh “Bohong besar kalau Anda tidak mampu, paling-paling Anda tidak mau!” ketika saya menolak untuk hadir di grup beliau karena kesibukan kami, ia mengirimkan pesan-pesan berisi apa saja yang dibicarakan di grup. Ia terus memaksa kami untuk mau ikut berdiskusi dan ia terus berjuang supaya banyak orang di dunia mengetahui uniknya bumi Indonesia ke seluruh penjuru dunia. Pak Josef Prijotomo menjelaskan hal tersebut didalam konsep kesamaan, perbedaan berdasarkan ciri seismik, iklim dan budaya yang kaya raya di indonesia.

Saya mendapatkan matahari saya, ketika saya mengutarakan ketakutan saya pada simbol tersebut, justru Pak Josef tidak pernah merubah persepsinya terhadap saya kapanpun itu, padahal siapa sih saya, saya bukan siapa-siapa. Beliau dari Surabaya saya sekolah di Bandung dan juga praktik ada di Jakarta, kami jarang bertemu karena lokasi kita berjauhan, Dia bilang ke saya, “Yessss, Realrich apa yang kamu pikirkan gak masalah, berada di luar sistem memang tak harus, tapi bukan berarti tak mau peduli. Maju terus, saya akan dukung dan selalu kompori !!!”.

Pondasi ideologi atas gerakan modernis dunia diturunkan pada akhir abad ke-19 dan di awal abad 20. Dalam revolusi industri sampai terjadinya tremor, perang, bencana kemanusiaan yang pada dasarnya adalah soal kekuasaan, yang dimana konsepitu telah diperkenalkan jauh lebih awal oleh Herder, yang telah kita ketahui menulis istilah Zeitgeist atau semangat jaman.

Pertemuan tatap muka saya terakhir dengan beliau juga ketika tanggal 7 Februari 2020 ketika saya berbagi dengan mas @anashiday mengenai buku 3 gram: Tectogram, Methodgram, dan Craftgram yang kami tulis dan tanggapi bersama mas @jo_adiyanto yang berhalangan hadir. Saya dan @satriaapermana membuat wayang pada waktu itu, ibaratnya Pak Josef adalah semar yang bijak, ia akan memaksa kami untuk maju dan mau mengikuti konsepsinya.

“Kamu harus mau bukan tidak mau.” Ia selalu memaksa dengan konsep arsitektur nusantara. Siap tidak siap saya, ia akan mempertanyakan hal-hal yang sederhana dan mengingatkan kami, seberapa Indonesia arsitekturmu?. Hal-hal itu sebenarnya mempertanyakan keakuan apakah perlu mengangkat Norberg Schulz dari Norwegia padahal khasanah budaya Indonesia pun sudah ada didepan mata, menunggu untuk digali.

Sesuatu yang genius itu dalam pergulatan arsitektur Indonesia, digaungkan oleh Josef Prijotomo yang sejak tahun 1990 aktif menggelorakan arsitektur nusantara. Ia mendefinisikan arsitektur nusantara sebagai “cerlang-tara” atau kecemerlangan nusantara, sebuah genius yang spesifik untuk bumi nusantara. Orisinil dan memiliki aspek fungsional-kultural yang sudah diolah sejak jaman dahulu, dan selalu dikembangkan untuk masa depan. Sudah sedemikian aktif ia bergerak di dalam dan di luar sistem pendidikan melalui seminar-seminar, namun belum adanya dampak signifikan yang terjadi. Padahal, apa yang digaungkan oleh beliau adalah hal yang mendasar, fungsional, dan lekat dengan budaya nusantara [1]. Josef Prijotomo menjelaskan hal tersebut di dalam enam butir dasar: Pertama, ia melihat beberapa aspek yang menjadikan lanskap kriteria nusantara pertama seperti hubungan terbuka yang dihubungkan oleh konsep pelayaran sehingga tipe-tipe bangunan bisa dilihat kesamaan bentuk-bentuknya, mulai dari Madagaskar hingga Pasifik dan Cina. Kedua, kelembaban yang menyebabkan perbedaan cara berpakaian. Ketiga, kondisi angin yang menyebabkan sirkulasi udara silang diperlukan. Angin sebagai sumber utama bagi penyejukan udara melalui konstruksi kolom, serambi, dan beranda. Keempat, kondisi dua musim, yakni kemarau dan penghujan. Hal ini menyebabkan arsitektur nusantara bersifat terbuka dan tidak isolatif, berbeda di negara empat musim. Kelima, bangunan tahan gempa yang ditandai dengan penggunaan bangunan kayu atau konstruksi ikat di masa lalu dengan penekanan pada konstruksi goyang. Keenam, Ia menekankan variable kultur dan ekonomi yang disatukan seperti upacara pemasangan kuda-kuda yang didahului wujud pengupahan tenaga kerja yang merupakan barter antara tenaga dengan makanan yang disajikan. Josef Prijotomo adalah pengajar murni dimana ia memberikan narasi yang ideal tentang bumi nusantara, seorang pembawa kabar Genius Loci untuk arsitektur Indonesia yang disebutnya bumi nusantara.

Menariknya pada waktu itu, yang ikut menanggapi materi kami adalah pak Eko Prawoto, yang justru membawakan metode, ketukangan, dan tektonika dalam ranah keseharian. Saya melihat figur Pak Josef dan Pak Eko seperti yin dan yang, keras dan lembut, teori dan praktik, praktik yang teoritis dan teori yang praktis. Kedua orang ini saling tarik menarik menciptakan benih benih perubahan di dalam arsitektur Indonesia. Pak Josef dan murid-muridnya menulis banyak buku, dan pak Eko berpraktek dengan lentur. Kita semua adalah murid-murid beliau, Pak Josef dan Pak Eko, keduanya saling mengisi dua pondasi arsitektur yang berbeda.

Pak Josep dan Pak Eko berperan memiliki pemahaman arsitek kaki telanjang, berjalan tanpa alas kaki, diatas kerikil, tanah, ataupun beling sekalipun, ia mantap berjalan dengan berpihak. Kedua adalah mereka ibaratnya seorang pertapa yang menyendiri sembari terkadang memberikan intuisinya, pemahamannya dari perenungan terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Menurut keduanya sisi arsitektur perlu lekat dengan manusia kreatif, meluruhnya ego, membuka hati, dan peduli dengan tukang-tukangnya, ia hidup dari tukangnya, tukangnya juga hidup dari hasil kriyanya, ia adalah orang yang mampu mendengar apa keluhan sekitarnya dan membuat solusi yang sederhana dari masalah-masalah yang ada, masalah perut, masalah keteknikan ataupun masalah-masalah personal yang dihadapi sekitarnya. Arsitektur itu personal dan berkembang ke hal-hal yang lebih besar.

Di Pesantren Turen Malang, saya mendapatkan cerita dari Anas, yang kemudian saya datangi, saya melihat dimana arsitek melebur dengan tukang-tukangnya menjadi satu untuk merajut ornamentasi ruang. Mereka berusaha memberikan ruang gerak untuk tukang agar bisa mengaktualisasikan diri dengan dialog tanpa henti akan dirinya terhadap karya. Usahanya adalah usaha untuk menanyakan kepada semesta dengan keinginan yang tulus untuk menggali dirinya sendiri.

Saya mungkin angkuh dengan mencoba mengambil Norwegia dan Norberg Schulz sebagai barometer. Hal ini juga lekat dengan apa yang dilontarkan para rasionalis di sekitar 40 tahun yang lalu oleh “Vienna Circle” bahwa, kebenaran itu perlu diacu secara rasionalis, perlu referensi, perlu pembenaran dimana seperti sebuah kemandekan yang disumbat lubangnya dan menimbulkan peradangan.

Keangkuhan juga perlu dilunturkan seperti sumbat yang perlu dibuka dengan keberanian, sehingga dialektika antara pembuat dan pembaca bisa terjadi begitu intensif, bolak-balik dan terbaca secara lugas. Hal-hal itulah yang bisa membuat kita bisa mengapresiasi kehidupan untuk bisa dibagikan dengan orang lain.

Di dalam keseharian kita bersama, tidak mudah untuk kita bisa bersama-sama dengan Pak Josef atau Pak Eko yang berbeda dan terkadang berbeda pendapat. Justru dari keduanya, saya menemukan tempat untuk saling berkaca dan bercermin bahwa ada cara lain dalam bersikap, ada yang memaksa ada yang melepaskan interpretasi bahwa keduanya baik dan saling menyeimbangkan.

Saya memiliki teman beberapa murid murid beliau yang saya kenal di praktik, penulis, dan intelektual. Ada mas @madcahyo, mas @eka_swadiansa, mas @gayuhbudi, dan @andyrahman, mas @anashiday, mas @jo_adiyanto, Mas @reviantosantosa, Bu @altrerosje, Bu @akunnya_yolanda, dan Bli @gmahaputra juga banyak lagi ribuan orang lainnya. Pak Pak Josef dan Pak Eko ibaratnya seperti ayah bagi mereka. Ada juga Pak Ardi Pardiman, Pak Galih Widjil, Pak Adhi Mursyid, dan Romo Mangun yang juga seperti ayah yang meski bahkan belum pernah bertemu.

Kasih ayah dan anak tidak selamanya ada di temu fisik, namun menembus batas jarak, waktu, dan pertemuan.Dulu kami ada di sebuah grup yang senang memakai sarung. Sarung dipergunakan sebagai simbol keberpihakan dan kesetaraan. Di dalam grup itu, terkadang saya mempertanyakan ke Pak Josep sendiri, untuk apa perjuangan itu apakah hanya untuk bergerak sebatas representasi luar?.

Pada waktu itu saya marah dengan diri saya sendiri, karena ketidak berdayaan saya terhadap problematika simbol kesetaraan, karena banyak momen di hidup saya berada di pihak yang lemah, tertindas, dan minoritas. Dan puncaknya dari situ saya mulai bertahap memutuskan diri dengan dunia luar. Di titik itu dunia menjadi gelap dan “I have my own shadow”. Bayangan saya sebenarnya adalah ketakutan saya sendiri, semakin saya menghindari semakin cepat dia datang dan tidak pernah lepas.

Dari Pak Josef dan Pak Eko saya mendapatkan keberanian dan kejujuran untuk membicarakan ketakutan tersebut. Dari pak Eko saya mendapatkan benih bagaimana bertujuan baik, menerima kenyataan sebagai hal yang baik dan perlu ada, termasuk membicarakan ketakutan, kesakitan sekaligus makna pencapaian secara lugas.

Saya mendapatkan matahari saya, ketika saya mengutarakan ketakutan saya pada simbol tersebut, justru Pak Josef tidak pernah merubah persepsinya terhadap saya kapanpun itu, padahal siapa sih saya, saya bukan siapa-siapa. Beliau dari Surabaya saya sekolah di Bandung dan juga praktik ada di Jakarta, kami jarang bertemu karena lokasi kita berjauhan, Dia bilang ke saya, “Yessss, Realrich apa yang kamu pikirkan gak masalah, berada di luar sistem memang tak harus, tapi bukan berarti tak mau peduli. Maju terus, saya akan dukung dan selalu kompori !!!!”. Dia berbicara bahwa sarung itu jiwa bukan hanya simbol. Melalui pertanyaan-pernyataannya, ia mendobrak sisi-sisi kritis, dan itu yang menunjukkan kasih sayang sebagai ayah tidak hanya dengan pujian, tapi juga dengan kritik yang membangun yang ia ibaratkan kompor.

Ada satu kalimat yang saya ingat untuk menutup cerita ini. Pak Josef berkata, “Arsitektur Nusantara ada di tangan anda. Mau dilepaskan, dibanting, ataupun dimatikan, boleh saja. Sebaliknya, dikedepankan dan menggeser kebaratan, juga bisa. Ini tantangan buat anda. Saya siap membantu dan mendampingi langkah Anda bila mau menjadikan arsitektur Nusantara sebagai tuan di negeri sendiri.”

Suatu saat ia menghampiri saya di dalam sebuah acara seminar di Bali yang kami bawakan bersama. Pak Josef menyenggol saya sambil tertawa, ia bilang sembari berbisik-bisik, “Kamu bawa sarung enggak?! hari ini saya bawa!” Saya bilang “Bawa pak kan kita sudah janjian ha ha ha”. Ia lalu lanjut bertanya “Jadi mau apa kita pake sarung hari ini?”.

Melihat wajahnya, saya seperti melihat wajah seseorang yang saya rindukan dengan kenakalannya dan juga keluguannya, saya ingat ayah saya, lalu saya jawab dengan senyuman dan tertawa, “Hayuk pak”.

Beliau mengatakan bahwa sarung itu jiwa bukan hanya simbol. Melalui pertanyaan-pernyataannya, ia mendobrak sisi-sisi kritis, dan itu yang menunjukkan kasih sayang sebagai ayah tidak hanya dengan pujian, tapi juga dengan kritik yang membangun yang ia ibaratkan kompor.
.
Suatu saat ia menghampiri saya di dalam sebuah acara seminar di Bali yang kami bawakan bersama. Pak Josef menyenggol saya sambil tertawa, ia bilang sembari berbisik-bisik, “Kamu bawa sarung enggak?! hari ini saya bawa!” Saya bilang “Bawa pak kan kita sudah janjian ha ha ha”. Ia lalu lanjut bertanya “Jadi mau apa kita pake sarung hari ini?”.

Saya seperti melihat wajah seseorang yang saya rindukan dengan kenakalannya dan juga keluguannya, saya ingat ayah saya, lalu saya jawab, “Hayuk pak”.

Sekarang sarung itu saya gantung di pintu masuk sebagai pembatas ruang dalam – ruang luar, pertanda sebagai tanda kasih bagaimana perjuangan melawan ketakutan saya sendiri saat hidup di keseharian kami di studio yang diawali dengan pertemuan dengan Pak Josef Prijotomo di Bali. Terima kasih Pak Josef sudah menemani kami semua.

[1] Prijotomo, Josef. (ed. 2018). Prijotomo Membenahi Arsitektur Nusantara. (hlm. 42) Surabaya: Wastu Lanas grafika.

Kategori
blog inspiring people

Figur ayah itu juga kontradiktif

Apa yang saya syukuri dari perjalanan saya dibimbing ayah adalah bagaimana saya merasa utuh mendapatkan contoh menjadi bapak yang mungkin sungguh sempurna. Ia hadir di masa-masa terbaik saya. Ia juga hadir di masa terkelam saya. Ia hadir justru ketika saya membutuhkan bantuan—dan secara tidak langsung saya terus mencari figur ayah saya di dalam pertemuan saya dengan siapa pun. Ia hadir untuk memberikan harapan bahwa setiap masalah bisa diselesaikan. Dan kamu yang perlu membantu untuk menyelesaikan masalah itu. Janganlah pernah lelah berharap bahwa kamu bisa terus kuat dan menjadi contoh bahwa ini bisa diselesaikan.

Figur ayah itu juga kontradiktif. Dengan seluruh kekuatan dia juga penuh dengan kelemahan. Tapi saya ingat bahwa di hadapan anaknya ia tidak pernah lemah karena ia tahu dia adalah pribadi yang bisa diharapkan. Tidak pernah ia menunjukkan bahwa ia lemah dan patut untuk dikasihani. Di masa-masa terakhirnya ia justru bilang kepada kami bahwa ia tidak ingin dioperasi. Dia ingin semua berjalan baik. Dia tidak ingin mempersulit hidup kami, meskipun kami bisa setuju atau tidak setuju, tapi ia sudah memiliki pilihannya.

Dari ayah saya belajar untuk selalu berharap, kekuatan harapan utnuk menjadi sosok yang kuat, bersahaja, dan bisa memberikan harapan juga untuk orang lain. Dari beliau saya percaya bahwa hidup terpancar sesuai namanya, yang berarti “bisa”. Ia dengan badannya yang kecil bisa memberikan jumping smash yang tinggi. Ia memberikan lompatan-lompatan termasuk 3 buah nilai seratus di ijazahnya. Ia adalah orang yang jenius, meskipun Bahasanya mendapat nilai 40. Ia memang tidak sempurna tetapi ia justru menghargai ketidaksempurnaan itu dan tertawa-tawa di balik nilainya yang sempurna dan tidak sempurna. Di balik hidupnya tidak ada yang pernah sempurna, tapi justru itu menjadi sempurna karena hidup ini sebenarnya adalah tuntunan.

#RAWinspirasi

Sudah satu tahun ayah saya berpulang. Kepulangannya menyisakan banyak sekali kenangan yang manis. Kadang-kadang saya berpikir bahwa, saya merasa kehilangan. Di balik kesendirian, terkadang saya merasa masih membutuhkan kehadiran seorang Bapak. Itulah arti seorang ayah bagi anaknya. Dia tidak akan pernah hilang karena bagi saya sosok ayah adalah seorang role model.

Di tahun 2010, ayah saya menemani saya rapat di mana-mana dan saya dikenalkan ke teman-temannya yang banyak ahli manajemen konstruksi. Saya diajari oleh teman-temannya yang pada waktu umur 70-an tahun mengenai basis-basis dasar sikap, etika, teknik, dan engineering dalam sebuah proyek di mana service dan ketepatan kualitas itu penting. Saya juga belajar bagaimana proyek itu penuh dengan konsensus yang terbaca dan tidak terbaca. Ayah saya pada waktu itu juga setiap hari menutup pintu kantor. Mengecek, kadang-kadang jam 1, kadang-kadang jam 2, jam 3 pagi. Dan beliau pasti bangun jam 4 atau jam 5 pagi.

Pada saat di studio garasi juga ayah kadang-kadang melihat bagaimana gambar-gambar yang terpampang di dinding-dinding studio garasi. Beliau tidak pernah memuji langsung tetapi ia menitipkan rasa bangganya melalui istri saya. Begitulah ayah, tidak pernah memuji langsung. Ia hanya ingin menjadi tidak sombong. Ia selalu memberikan tantangan, pertanyaan-pertanyaan, supaya saya bisa berkembang lebih baik.

Kemudian ditahun 2015 saya mulai membangun the guild (Yang sekarang menjadi Guha the Guild), karena diminta oleh ayah saya. Sebenarnya saya tidak pernah mau keluar dari rumah itu. Tapi kalau sudah ayah saya meminta, saya punya prinsip bahwa apa kata ayah saya pasti akan saya laksanakan. Mungkin ini karena saya anak ketiga, anak tengah yang sebenarnya sangat mendambakan rasa sayang dari ayah. Anak tengah penuh dengan problematika yang justru menjadi punya potensi apabila ia menyadari bahwa dirinya menjadi jembatan untuk begitu banyak jalinan kasih di antara keluarga.

Di tahun 2016 saya pindah ke the guild bersama istri. Setahun kemudian saya mendapat kabar bahwa ayah saya terkena parkinson. Kadang-kadang pak Misnu bicara soal bagaimana ayah rutinitas studio garasi kami di rumahnya. Rutinitas itu menjadi penting karena ada harapan untuk berdiskusi. Saya yang semakin sibuk kadang-kadang menyempatkan diri untuk bertemu ayah saya tetapi tidak bisa sesering dulu lagi di mana saya setiap siang adalah momen-momen saya bisa makan siang dan ada momen makan pagi juga bersama ayah saya.

Di dalam perjalanannya beliau terus menjadi pribadi yang tangguh, tidak pernah merasa sakit. Begitu beliau sakit, saya menemani beliau sampai saat-saat terakhirnya dan merasa begitu bangga menjadi anaknya di mana ia selalu berpegang teguh pada prinsip bahwa melayani orang lain adalah yang terutama tanpa pernah kehilangan prinsip dasar bahwa melayani itu butuh kemampuan teknis yang baik.

Di saat-saat terakhirnya, ia sendiri berkata pada saya. Kira-kira dua hari sebelum dia meninggal. Pada waktu itu saya sudah mendoakan beliau. Di satu titik saya kira beliau sudah tidur, saya keluar kamar, beliau memanggil.

“Real jangan pulang. Sini, saya pengen peluk kamu.” dan kemudian saya mendekat, saya memeluk dan dia mencium pipi saya.

Dia bilang, “maafkan dad karena dad kadang-kadang tidak bisa berpikir jernih. Penyakit ini membuat saya tidak bisa mengontrol apa yang saya pikirkan. Dad bangga terhadap kamu dan jaga mami.” gitu.

Saya tahu bahwa itulah waktunya sudah dekat. Saya menghitung jumlah kalori makanan, makin lama makin sedikit, dan nafasnya pun makin pendek. Ada kalanya beliau membutuhkan oksigen lebih banyak dan saya menghitung waktu. Saya menghubungi beberapa kawan saya yang dokter dan mereka menitip pesan bahwa perlu untuk bersiap-siap. Di saat yang dua hari lalu itu saya sudah mempersiapkan diri dan saya memeluk beliau erat dan saya berkata, “dad if you think it’s about time, then i think saya siap dan rela.” jadi di situlah saya sudah mempersiapkan diri bahwa the worst thing will come. Kemudian saya mempersiapkan diri… mental, untuk menghadapi keluarga, ibu dan saudara-saudara bahwa setidaknya saya sudah melepaskan diri dari semua ekspektasi dan menerima apa pun yang terjadi di masa depan. Saya percaya bahwa he has done the best for the best and we have.. Kita sudah jadi yang terbaik. Dan saya sudah percaya bahwa ia sudah bersiap untuk berpulang.

Dua hari kemudian beliau berpulang.

Saya belajar dari Pak Wondo dan Pak Ary Murthy di dalam dialognya dengan Laura (Sumarah), bahwa hidup ini adalah tuntunan. Kita sama sekali tidak pernah memprediksi di mana kita lahir, kapan kita lahir. Tetapi beliau berkata bahwa hidup ini tuntutan dan tuntunan itu adalah bagaimana kita bisa semua belajar menjadi seorang pamong. Dari pamong pribadi sampai ke pamong yang lebih besar. Dan saya benar-benar bersyukur bahwa ayah saya memberikan saya sebuah contoh. Ia adalah sebuah pamong hidup yang menerangi kita sekeluarga. Sebuah matahari yang bisa, karena ia memang bertanggung jawab. Dari tanggung jawabnya muncullah reputasi. Dan kami benar-benar beruntung bisa meneruskan reputasi yang dimiliki oleh beliau untuk membawa nama baik keluarga.

Kenangan ini membawa sejuta makna, sejuta persaan, sejuta rasa kehilangan, dan juga rasa kelahiran kembali. Saya cuma sadar bahwa proses di sini yang dalami adalah sebuah proses di mana nanti, suatu saat nanti, adalah saat yang saya rindukan begitu saya bisa bertemu ayah saya kembali.

Saya berpikir hal-hal tersebut menjadi komplit. Melihat sebuah circle yang sangat menerus, dan menurut saya itu kan arsitektur juga seperti itu. Banyak orang yang tidak percaya sama kekuatannya. Tapi saya sendiri tahu bahwa arsitektur itu sedemikian kuat dan representasi hidup ayah saya itu tergambar dalam arsitektur yang saya hidupi dan saya lakoni sehari-hari. Jadi saya adalah wujud saksi hidup wujud kekuatan seorang ayah di dalam daya arsitektural yang maha dahsyat. Jadi terima kasih semesta sudah mempertemukan saya dengan role model saya yang luar biasa.

#RAWinspirasi

Kategori
blog

Home of Atlantis

.

Saya bertemu dengan client kami ini Anggit, kira-kira ditahun 2008 ketika saya masih ada di London. Saya tidak pernah menyangka bahwa kami bisa bekerja bersama sebagai arsitek & client. Anggit adalah pribadi yang menyenangkan & pikirannya terbuka akan berbagai macam kemungkinan. Ia dilatih oleh ayahnya dengan berbagai macam sudut pandang untuk bisa mempertanyakan “Kenapa sebuah hal itu bisa muncul?”

Di dalam interaksi desain kami menghabiskan waktu 4 tahun. Saya menemani Anggit didalam proses panjangnya untuk menggali nilai lebih tentang kehidupan. Dari dia & orang tuanya saya mengenal banyak pribadi & konsepsi tentang kebersahajaan. Saya sungguh berterimakasih karena konsep tersebut yang menggarisbawahi apa yang kami sedang perjuangkan didalam studio yaitu sebuah konsep mengenai “Understated Beauty”. Sebuah kecantikan yang bersahaja, tidak berlebihan & memiliki akar yang kuat.

Perbincangan dengan Anggit berlanjut dengan dikusi lebih dalam dengan pak Heru, ayahnya Anggit. Dari pak Heru saya mendapatkan cerita bahwa energi di dalam alam ini selalu berputar, cerita tentang bumi, air, dan udara akan terus menghiasi & menghayati arsitektur, & selalu hadir untuk mengisi kehidupan. Diantara serpihan memory, kenangan yang begitu dalam tentang rasa trauma, suka & duka didalam setiap keluarga.

Di satu waktu, Pak Heru menambahkan satu elemen lagi sebelum proyek ini dimulai dengan menambahkan kata tetangga. Hal ini menujukkan kepeduliannya dengan sekitar. Sama seperti cerita petugas keamanan yang begitu bersyukur mendapatkan beras beberapa kilogram perbulan dari dirinya. Arsitektur itu bisa saja sangat rumit, tetapi bisa juga sangat sederhana. Karena cerita-cerita arsitektur ini membuat saya bisa mengenal banyak kebaikan diantara serpihan rekonstruksi kenangan. Dan rumah ini adalah sebuah rekonstruksi kata pak Heru.

Rekonstruksi ini adalah bagaimana kita bisa saling meningkatkan kehidupan orang lain dengan cara apapun yang kita bisa termasuk arsitektur.
.
Terimakasih Anggit + Pak Heru tim @realricharchitectureworkshop: Haikal, Evan dan Adriyan, sudah mengawal project ini, Pandu, Alifian, Thomas dan Anthony juga, serta banyak orang yang lain.

.

Kategori
blog publication

RAW Architecture shares studio culture in Design Anthology Issue 32 | March 2022

Realrich Architecture Workshop featured on Design Anthology

We see architecture as an act of collaboration and deep connection. Enjoying the architectural process filled with memories of all our happiness and struggles. We love being able to share our studio process with lots of people. Luckily in 2022 Simone Schultz, Managing Editor of Design Anthology contacted us and gave us the opportunity to talk about the culture in our studio.

In Design Anthology Issue 32/March 2022 we share how our studio in Guha, has become a broad ecosystem with the presence of the OMAH Library and our experimental workshops in it. Having a wide cross-discipline in Guha from designers, writers, administrators and craftsmen makes our studio more like a campus with many individuals playing various roles, but they can all also be involved in the process of creative exploration and experimentation.

Kategori
Team - Reflection Letter

Aulia Gema Alfaatihah – Universitas Pradita

Memiliki kesempatan untuk bekerja praktik di OMAH LIBRARY merupakan pengalaman yang sangat berharga, walau memang saya pun belum tahu pasti dan tidak dapat membandingkan dengan tempat-tempat lainnya, tetapi apa yang telah saya rasakan, keuntungan dan kelebihan yang didapat, hingga dapat menyadarkan saya atas kelemahan yang saya miliki lebih dari cukup untuk mengatakan ini adalah pengalaman berharga. Atmosfer kekeluargaan yang kuat, keceriaan, aura positif memberikan sebuah rumah yang harmonis. Membuat saya teringat sebuah perusahaan yang hampir bangkrut, alih alih merumahkan pekerjanya, malah membuat sistem cuti untuk dapat mempertahankan pekerjanya. Mengandalkan kekeluargaan dan saling toleran tidak disangka keuntungan yang didapat melampaui perkiraan bahkan lebih dari jika merumahkan pekerja. Mungkin sedikit lancang jika dalam 4 bulan menyimpulkan hal ini tapi saya hanya tidak bisa berhenti kagum dengan pengalaman di OMAH LIBRARY ini. Awal saya masuk sudah mendapat sambutan hangat, saya ingat tugas pertama saya manuskrip wawancara arsitek untuk buku arsitektur partisipatoris untuk mahasiswa. Belajar mengenal arsitektur dari sudut pandang seorang arsitek profesional membuat tamparan atas saya yang merasa beban sks studio yang besar sedang tidak ada apa-apanya dengan kenyataan yang terjadi di lapangan. Menyadarkan saya betapa banyak yang harus dikejar untuk menjadi seorang arsitek. Namun tidak hanya tamparan, cerita itu juga sebagai kawan, karena apa yang saya rasakan itu adalah masa yang telah beliau-beliau lalui dan menenangkan karena ini memang hal yang wajar dirasakan mahasiswa arsitektur. Ini adalah salah satu pengalaman yang sangat berharga, seperti mendapat bocoran dari cenayang secara cuma-cuma. Selanjutnya adalah tugas-tugas yang membutuhkan ide liar. Menemukan poin, mengembangkannya, membungkusnya dalam wajah yang berbeda tetapi tidak kehilangan poin itu. Substansi, substansi, substansi. Pengalaman ini bagaikan perlombaan lari tanpa kaki bagi saya. Dipaksa menyerah dengan keadaan. Tapi tidak lama para pelari lainnya dan berbalik menopang saya dan kita berlari bersama menuju garis finish. Ya, pelari yang berbalik tidak lain adalah kakak-kakak mentor serta teman-teman seperjuangan. Walaupun sebenarnya mereka juga berada dalam kesulitan dan tekanan yang lebih besar. Pengalaman akhir di OMAH LIBRARY, menata perpustakaan baru, mengatur buku-buku yang banyak dan mengurutkannya satu persatu. Pengalaman yang sangat lucu dan sangat berbeda karena ini satu-satunya pekerjaan yang terlepas dari duduk dan mencari inspirasi. Komunikasi dan koordinasi sangat penting, terutama kepercayaan pada rekan satu tim. Saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas pengalaman yang diberikan baik yang tertulis maupun tidak, semuanya tetap menjadi pelajaran, bekal masa depan saya. Digembleng untuk tidak melek walang, membuka indera yang sudah lama tertidur.

24-05-2022

Dear Aulia, Maria

Thank you for everything your passion, your soul, and have cherished OMAH Library + people inside, hopefully, this sunshine will go brighter to shine on Architecture Literacy.

You guys one word is a fight for and be the one who can contribute to the appreciation of great Indonesia Architecture.

Regrads
Realrich Sjarief

Kategori
Team - Reflection Letter

Maria Angela Rowa – Universitas Pradita

Mat pagi kak!””, ucapan wajib saya, Maria, memasuki Perpus Omah menyapa umi-umi Omah Library. Akhir semester 7, saya sempat bingung ingin mengajukan magang, selain karena saya mengulang Studio 6, saya juga meragukan apakah saya mencintai arsitektur, dan apakah saya bisa mengerjakannya. Beruntung dosen pembimbing mengizinkan saya untuk magang dibidang penulisan arsitektur.

Selanjutnya adalah . . . cari tempat magang di mana? Waktu semakin mepet, saya baru mengirim surat lamaran magang terakhir tanggal 30 Desember 2021, dan sepertinya sudah tidak ada harapan untuk mendapat tempat magang. 2 Januari 2022 malam Kak Yudith menghubungi saya dan menawarkan apakah bisa mulai magang di Omah besok. Ini kesempatan yang jelas tidak saya tolak.

Lalu, muncul lagi pertanyaan, apakah bekerja di perpus akan sekaku itu? Satu bulan awal magang, saya masih menyesuikan diri saya dengan pekerjaan magang dan menyesuaikan dengan lingkungan Guha. Ternyata seru juga, selain ngetik-ngetik, ada pekerjaan lain seperti sketsa atau buat ilustrasi dan jalan-jalan (ke Otten Coffee dan Piyandeling Bandung). Melihat detail bambunya Piyandeling yang disusun satu-satu keren banget, para bapak pengrajinnya niat sekali mengerjakannya, berasa dikerjakan dengan hati.

Setelah 4 bulan magang, banyak pembelajaran dari Kak Rich dan kakak-kakak Omah mengenai penulisan, ilustrasi, serta berbagi pengalaman arsitektur dan kehidupan melalui wawancara. Sisi lain yang tidak hanya sekedar pekerjaan, tapi bagaimana kita bisa berkontribusi untuk orang banyak.

Sebagai penutup, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada -Kak Rich dan Kak Yudith yang telah menerima maria magang di Omah Library, -Kak Nirma, Kak Ufi, Kak Luluk, dan Kak Farhan yang sudah menjadi mentor dan membimbing maria untuk mengembangan potensi yang ada, *maaf juga maria sering main jadi kadang kurang fokus :)) -Kakak-kakak di RAW dan Admin yang sering becanda saat jam makan, terima kasih sudah menerima maria dengan baik -dan teman-teman magang pejuang TA: Aulia, Aryo, Gaby, Angel, dan Evan, suatu kolaborasi yag keren antara penulisan dan desain di studio arsitektur.

Tetaplah bahagia, :) Salam, M.A.R “

24-05-2022

Dear Aulia, Maria

Thank you for everything your passion, your soul, and have cherished OMAH Library + people inside, hopefully, this sunshine will go brighter to shine on Architecture Literacy.

You guys one word is a fight for and be the one who can contribute to the appreciation of great Indonesia Architecture.

Regrads
Realrich Sjarief

Kategori
projects

Project 27 – Kofuse

Kofuse Coffee & Dine is an F&B project made for the brand of Kofuse Retro Fit Artisan Fine Dining, located on Cikajang Street, Kebayoran Baru, South Jakarta. It is a renovation project from a previous nail art and spa building. Almost 75% of the existing structure is re-used. Some structural columns with an arch shape are added to strengthen the roof structure. The arch columns are also applied to the facade as an additional structure to support the canopy we made to shade the inner building from direct sunlight and heavy rainfall, considering its context in the tropical climate of Indonesia. The arch shape of the columns is then mirrored to the top, making the impression of minarets. The facade is illuminated by the lighting path, giving a dramatic effect once we enter the site at night and standing out the minarets as an anchor point on the face of the T-section.

The canopy grille which is refracted by light displays an artistic side that is emphasized by dynamic lighting lines and is framed by curved walls showing the beautiful side of this building.

After the pandemic of COVID-19, people get used to do activities from home. Therefore, we tend to provide a space that can stimulate the imagination and give a home vibe, with an intimate feeling and a familiarity of a poetic space. We divide the Kofuse Cafe & Dining area into 3 zones, including the main room, the private space, and the front yard. The private space results in a group of micro-rooms that imitate several adjacent islands, private enough for discussion activities but still can look outside through the vista.

In the indoor dining area, there is an existing building column in the middle, this column is then covered with a new curved structure that is in harmony with the other designs and is used as a dining area as well.

The walls are made from exposed concrete and masonry, with wood as a list to give a transition effect. The ceiling is covered by bamboo woven and layered with UV plastic behind it to keep the cool air from AC from flowing out through the ceiling. It gives the cafe the nuance of an unpretentious and aesthetic museum or gallery. All the materials used in this project can be easily found in nearby areas, even the andesite used for the front yard, promoting local craftsmanship. However, the localized approach is taken as a method to adjust the after-pandemic condition.

Finally, the era of COVID-19 really teaches us that something valuable in the future doesn’t always have to be expensive. The localized and adaptive reuse approach can always be a choice we offer to the client. Moreover, it gives us the spirit to be optimistic and always rise after the critical condition.

There seems to be a unity of the various materials that exist in this cafe bar area, wooden floors combined with hexagon tiles, bricks rubbed with white paint, and woven bamboo ceilings look harmonious with all the elements in the building.

Project Credit :

Completion Year: 2022
Gross Built Area (m2/ ft2): 255,96 sqm
Project Location: South Jakarta, Indonesia

Lead Architect : Realrich Sjarief

Design Team : Realrich Sjarief, Andriyansyah Muhammad Ramadhan, Melisa Akma Sari, Agustin
Support Team : Avinsa Haykal, Prasetyo Adi Nugroho, Sharfina Nur Dini
Supervisor : Muhammad Eno

.

Photographer | Photo Credits: Nilai Asia, Aryo Phramudhito
Plan, Curatorial, and Illustration Team : Alya Hasna Rizky Riandita, Lu’luil Ma’nun, Imega Reski