Kategori
blog

Dialog Arsitektur: Kebersamaan dalam Kecintaan, Refleksi bersama Michael van Bergen?

Satu kawan saya ini namanya @michaelvanbergen, seorang arsitek dari Belanda datang kira-kira dari satu tahun yang lalu ke GUHA dan penasaran dengan apa yang ada disekitar kami. Kami berdiskusi sangat panjang dari hal-hal yang personal sampai hal-hal yang sifatnya kecintaan kami pada arsitektur. Thesisnya mengangkat tema “Architecture for the Dead”, tentang sebuah hal yang transendental yang dimana kehidupan ini dimaksudkan untuk memberikan yang terbaik untuk arsitektur itu sendiri. Saya melihat hal ini jarang terjadi diantar teman-teman saya yang ada di belahan dunia bagian barat, pembicaraan seperti ini jarang terjadi. Saya teringat pembicaraan dengan para guru-guru yang ada di Indonesia hal itu justru sering dibicarakan, tentang hidup dan mati, tentang passion, juga kecintaan pada arsitektur. Dari situ saya tau bahwa ia sedang mencari sesuatu.Saya mendapat kabar bahwa ia mendapat “Best Instalation” di BDD (Bintaro Design Distric), saya mengucapkan congratulation, hasil kerjakerasnya datang ke Indonesia dengan menggunakan modal pribadi untuk membiayai seluruh instalasi dan menunjukkan eksistensinya, kecintaannya pada arsitektur patut diacungi jempol. Saya sendiri melihat dan mengamati, dari situ saya melihat bahwa instalasi yang dia buat memang layak, instalasi ruang yang sederhana, proses pembuatannya yang begitu sulit, seperti rajutan tulangan bambu yang ditumpuk dengan tanah liat yang dilemparkan ke dinding bedeng, dia sendiri juga ikut dalam proses pembangunannya. Paviliunnya dibangun hanya dalam beberapa hari saja, pada waktu dia datang ke Jakartapun juga paviliun itu belum dimulai, dan dia mendorong supaya dalam prosesnya bisa bekerjasama dengan ketukangan lokal. Hal ini tidak terlepas dari pertemanannya juga dengan mas @budi.pradono_real banyak memberikan influence ke Michael, jadi ini memang sebuah kerja-kerja yang luar biasa untuk ekosistem arsitektur di Indonesia, congratulation semua curator BDD, ada mas @andramatin, mas @budi.pradono_real, @dnnywcksn, dan juga Hermawan Tanzil.

Di lain itu, kita sendiri juga punya janji untuk bisa jalan-jalan bersama ke sebuah karya arsitektur yang luar biasa. Michael menemukan kerang yang namanya Holy Shell, pertumbuhan kerang ini setiap 1cm pertumbuhannya membutuhkan waktu 1 tahun, lebarnya kira-kira satu meter. Jadi kerang ini sudah berusia 1 tahun dan sebenarnya dia dari daerah eropa yang tersapu sampai ke Indonesia dan ada di sebuah tempat sampah.

Michael menemukan itu dan menelfon saya “Realrich i have a present for you”, dia menemukannya di tempat sampah. Saya ingat Paul Velery dan Le Corbusier, sebuah dialog yang ada dibuku Eupalinos bahwa ada seorang arsitek menemukan sebuah poetic object kemudian membawanya pulang, ia kemudian mempelajarinya, dan terjadilah hal yang luar biasa. Seorang filosofer menemukan poetic object, mengapresi, dan kemudian membuangnya.

Dari Michael saya jadi tau bahwa ada seorang arsitek yang bernama Sigurd Lewerentz, sekarang diletakkan di sebuah wadah air suci didalam sebuah gereja. Itu menandakan fasenya didalam berpraktik, ia memulai praktik sebagai seseorang yang percaya pada datum, ritme, dan sifatnya adalah sebuah pendekatan yang klasik. Tapi didalam perjalanannya seseorang bisa berubah, dan kemudian ia menemukan dasar-dasar klasikisme dan kemudian mereduksinya dalam sebuah pergerakan yang namanya critical modernism.

Ia adalah orang yang ada di peri-feri, dizaman itu ada Adolf Loos, Le Corbusier, ada Alvar Aalto, dimana mereka tidak ada ditengah-tengah keramaian, tapi mereka ada di pinggir. Nah menurut saya itulah esensinya, jadi memang perjuangan menjadi arsitek itu transformasional, jadi tergantung dari pemahaman masing-masing.

Kerang ini melambangkan bagaimana sesuatu yang sifatnya pengetahuan atau episteme itu bisa membuat apresiasi kita terhadap sebuah things itu didalam tingkatan yang berbeda dari sebelumnya dan yang sekarang saya lihat itu menjadi begitu berharganya, karena ada sebuah perjuangan dari seorang Sigurd Lewerentz. Dan Michael membawakan itu jauh-jauh dari Belanda ke GUHA, didalam sebuah pengetahuan we’re brothers.

Saya seseorang yang sangat mengapresiasi dari timbunan dan sampah, sama seperti kita semua dalam hidup. Saya sendiri juga banyak kesulitannya dan kadang-kadang merasa ada didalam ditumbunan sampah, tapi begitu kita memahami bahwa sampah itu juga berharga, bahwa didalam timbunan itu ada sesuatu yang berharga, dan itu menurut saya adalah sebuah kecintaan didalam hidup, terutama di arsitektur. Didalam sebuah pressure berpraktik di Jakarta, di Indonesia, itu tidak mudah, dan apresiasi tidak hanya di arsitektur, tetapi didalam dunia kita semua sama-sama berjuang.

Mungkin suatu saat kita akan bertemu lagi didalam sebuah semangat kekerabatan dan persaudaraan yang kita rajut bersama. Sampai bertemu kembali.

avatar Realrich Sjarief

Oleh Realrich Sjarief

Founder of RAW Architecture

Tinggalkan komentar