Kategori
blog

Who Am I ?

Kawan baru saya ini namanya Eko, menurut saya dia adalah pejuang, terus bergerak di ranah – ranah keterbatasan ekosistem arsitektur sekitar dia. Dari mailing list AMI jaman 2000 sampai awal era facebook, ia memperhatikan dan menyenangi berbagi ilmu pengetahuan. Ia juga memiliki keahlian mensketsa, dan melakukan observasi arsitektur, seperti urban desain sampai ke arsitektur vernakular. Ia adalah orang yang memiliki talenta dan kalau diskusi bisa panjang, mbeleber kemana – mana, berjilid – jilid. lol

Mungkin sama seperti saya yang senang bercerita. Kami bertemu tidak sengaja setelah bertukar pesan online. Di dalam arsitektur saya berdiskusi dengan Eko mengenai fokus ini bisa dibentuk melaluipengetahuan dasar – dasar presentasi untuk mahasiswa. Dasar ini perlu dibentuk melalui dasar pengetahuan yang tidak autodidak, tapi runtun satu persatu. Mulai dari mengenali garis tangan, motorik tangan, kemampuan mensketsa dengan berbagai macam media. Media di dalam arsitektur bisa dimulai dari pensil, ballpoint, drawing pen, copic, cat air, cat akrilik, dan banyak sekali media digital yang bisa dipergunakan.

Semoga ada ilmu yang bisa dibagikan dari dirinya untuk para mahasiswa baru yang muncul dari talenta beliau. Hal ini bisa menjembatani arsitektur dengan proses gerak tangan, motorik, keahlian menggambar yang harmoni selaras dengan pikiran arsitektural yang semakin lama semakin dalam dan menyenangkan.
terus berkarya mas bro, dan tetaplah gelisah, galau, dan terus berwacana sambil guyon – guyon.

Menurut psikolog Rosen, otak kita tidak kapabel untuk melakukan multi task tapi otak bekerja dengan fokus dengan singkat yang dilakukan dengan pelatihan yang dalam. Ia melalukan studi dengan adanya social media fokus menjadi turun drastis per 3 menit, dan di menit ke delapan dan sembilan banyak orang membuka lebih banyak jendela di browsernya, dan distraksi yang paling buruk terjadi. Melatih diri untuk mengerjakan sesuatu lebih dalam dan lama akan membantu proses fokus yang terjadi.

Menariknya keterputusan antara kemampuan motorik dan kemampuan pikiran menangkap dan mengolah informasi menjadi penting sekarang di era sosial media. Saya ingat kuliah yang saya tonton dibawakan oleh Larry Rosen menjelaskan bahwa multitasking digital memiliki pengaruh terhadap kinerja kognitif (proses berpikir), terutama pada generasi muda. Salah satu karyanya yang terkenal adalah buku “iDisorder: Understanding Our Obsession with Technology and Overcoming Its Hold on Us” yang menyelidiki bagaimana penggunaan teknologi digital, termasuk media sosial, dapat memengaruhi gangguan kognitif dan emosional pada individu menjadi short tempered, ketidak sabaran, ketidak fokusan, dan bergantung pada alat – alat yang mengurangi proses berpikir substansial. Hal ini ditambahkan oleh Dr. Adam Gazzaley, seorang profesor neurologi di University of California, San Francisco, bahwa gangguan dan multitasking teknologi digital dapat memengaruhi rendahnya kinerja kognitif sekaligus kemampuan menyimpan memori.

Ia menambahkan “People have now become so dependent on their BlackBerrys, iPads, smartphones, and suchlike gadgets, if they are parted from their apparatus, if they can’t check e-mails every ten seconds or scan the internet’s 30 billion images, they experience ‘chest pain, heart palpitations, shortness of breath, or dizziness’.”

Menariknya ini adalah tentang kegelisahan menemukan siapa diriku (who am i?) dan kesulitan empati di dunia nyata/ Offline, seakan – akan kita semua tertarik dalam dunia online, tetapi pada kenyataannya tidak hanya di online, dunia offline juga kedua sama2 penting.

avatar Realrich Sjarief

Oleh Realrich Sjarief

Founder of RAW Architecture

Tinggalkan komentar