In this 2 weeks trip, I learned a lot from architect Wang Shu who lived and grew with craftsmen in the early 90s until the monetary crisis which made him work on many institutional projects. In a decade, he was economically dependent on his wife, Lu Wenyu, who eventually became his partner in founding the Amateur Architecture Studio which consisted of 10 people in 1997.
His early projects were renovations of old buildings. He studied architectural styles from India, Africa, and America, adapting these influences to fit the context of his work. His designs often feature elements like concrete-framed glass windows, reminiscent of Le Corbusier’s work. Wang Shu skillfully plays with the up and down of the lands, traditions, and new contexts in his architecture.
I learned many valuable lessons, particularly from the Ningbo Contemporary Art Museum which became a historical representation of the pier. It can be seen from the horizontal and vertical layers of its architecture. Through a journey that starts from wall to wall, we can observe the evolution of materials from ancient to modern like wood and copper, until finally we are taken to see works of art that are also always changing towards a view of the pier bridge which depicts a new era. The ground floor houses a children’s museum, with walls resembling the height of the Forbidden City’s walls. Interestingly, the walls of the museum’s upper floors are made of wood, taking inspiration from historical shophouses often found in Ningbo in the past. “Contemporary” in the context of this museum is defined as a journey to the pier.
I also explored the Ningbo Historic Museum which represents mountains and caves emerging from the rocky landscape of Ningbo, surrounded by water. Pier bridges connect the transition from outside to inside, with a linear circulation centered on the foyer and leading to the highest point, symbolizing heaven. At the top, a lecture hall surrounded by a wooden deck offers a space for children to play.
Next to the museum, is a park with a series of pavilions named the 5 Scattered Houses which illustrate Wang Shu and Lu Wenyu’s method of constructing new Chinese architecture based on historical and material contexts. These houses embody five different craftsmanship methods: roof, bridge, mass, courtyard, and shadow. Readings of their work are complex and bold. There is a radical fight to break through and a belief to integrate culture, everyday life, and materiality to realize their vision, by being amateurs and continuously learning.
Lastly, I visited the China Academy of Art, a manifestation of Wang Shu and Lu Wenyu’s beliefs. I see the consistency of the language replicated from their previous projects. Interestingly, Wang Shu drew an axis from the city towards the lake, surrounding the lake—which symbolizes heaven—with amorphous vistas forming mountains—which symbolize earth. It is a representation of Hangzhou City in a microcosm. There are many glimpses of the history of temples and people’s houses, as well as old materials and construction techniques. Each mass of the building is penetrated by a courtyard, connected by corridors that rise, fall and crisscross to the tiered auditorium, adapting to the natural contours and excavation fill. The knowledge is the philosophy of the artisans, simple logic in barefoot architecture—no wonder they call themselves amateurs. The architecture is flexible, aiming to reconstruct historical discourse. This is where art plays a role in making people attached, both personally and publicly, to have an inner bond that leads to a collective bond.
#rawinspiration #rawreflection #wangshu #ningbo #china
…
Dalam trip 2 minggu kali ini, saya banyak sekali belajar dari Wang Shu yang tinggal dan berkembang dengan para perajin di awal tahun 90-an hingga datangnya krisis moneter yang justru membuat dirinya banyak mengerjakan proyek dari institusi. Dalam rentang 1 dekade tersebut, ia pun bergantung secara ekonomi dari istrinya, Lu Wenyu, yang akhirnya juga menjadi rekannya dalam mendirikan Amateur Architecture Studio yang berisikan 10 orang pada tahun 1997.
Proyek-proyek yang ia kerjakan adalah renovasi bangunan tua. Ia belajar dari arsitektur India, Afrika, dan Amerika yang kemudian ia kontekstualisasikan dengan situasi tempatnya mendesain. Dalam karyanya, kita juga bisa melihat pancaran dari bingkai kaca yang terbuat dari beton sebagaimana yang terdapat di karya Le Corbusier. Wang Shu bermain-main dengan naik-turunnya lahan, tradisi, dan konteks-konteks baru.
Ada banyak hal yang saya dapatkan, khususnya dari Ningbo Contemporary Art Museum yang merupakan representasi sejarah dermaga. Pelabuhan dapat terlihat dari lapisan-lapisan horizontal dan vertikal arsitekturnya. Melalui perjalanan yang dimulai dari dinding demi dinding, kita dapat mengamati perubahan material dari material kuno menuju kayu dan tembaga, hingga akhirnya kita dibawa melihat karya seni yang juga selalu berubah menuju vista jembatan dermaga yang menggambarkan bingkai era baru. Area bawah merupakan museum anak. Ketinggian dinding pada tampak menyerupai ketinggian dinding Forbidden City. Menariknya, dinding museum ini terbuat dari kayu yang diambil dari sejarah rumah toko yang banyak terdapat di Ningbo pada masa lalu. Kontemporer dalam konteks museum ini didefinisikan sebagai sebuah perjalanan ke dermaga.
Saya juga sempat berkunjung dan belajar ke Ningbo Museum yang merepresentasikan gunung dan gua yang muncul dari lanskap bebatuan di Ningbo yang dikelilingi oleh air. Jembatan-jembatan dermaga menghubungkan transisi dari luar ke dalam bangunan dalam sirkulasi linear yang berpusat di foyer dan menuju ke titik tertinggi yang merepresentasikan surga. Di titik tertinggi tersebut, terdapat lecture hall yang dikelilingi dek kayu, tempat anak-anak bisa bermain.
Di sebelahnya, terdapat 5 Scattered Houses yang menjelaskan metode Wang Shu dan Lu Wenyu dalam mengonstruksi arsitektur Cina baru yang berbasis pada sejarah dan material yang berbasis pada ketukangan dengan 5 metode berbeda: cerita atap, jembatan, massa, courtyard, dan bayangan. Pembacaan karya mereka memang kompleks dan berani. Ada perjuangan dari akar untuk menerobos dan meyakini bahwa budaya, sesuatu yang sehari-hari, dan materialitas akan mampu menopang wujud dari mimpi mereka, yaitu menjadi amatir dan terus belajar.
Terakhir, saya berkunjung ke China Academy of Art yang merupakan sarang dari manifestasi keyakinan mereka. Saya melihat konsistensi bahasa yang direplikasi dari proyek mereka sebelumnya. Menariknya, ia menarik aksis dari kota menuju danau, mengelilingi danau yang melambangkan surga dengan vista-vista amorf membentuk gunung yang melambangkan bumi. Inilah representasi Hangzhou dalam mikrokosmos. Ada banyak cercahan sejarah kuil dan rumah-rumah penduduk yang terlihat, serta material-material lama dengan teknik konstruksinya. Setiap massa bangunan ditembus oleh courtyard-courtyard yang terhubung dengan koridor yang naik-turun dan bersilang-silang menuju auditorium yang berjenjang-jenjang, menyesuaikan kontur dan urugan tanah yang merupakan hasil dari penggalian pondasi. Ilmunya adalah ilmu filosofi tukang, logika sederhana dalam arsitektur kaki telanjang. Pantas mereka menyebut dirinya amatir. Arsitekturnya luwes dan berpijak pada upaya rekonstruksi diskursus sejarah. Di sinilah seni berperan untuk menjadikan lekat, personal sekaligus publik, memiliki ikatan batin yang menuju ikatan kolektif.
#rawinspirasi #refleksiraw #wangshu #ningbo #china









