Ini refleksi singkat, untuk saya sendiri yang perlu terus mendapatkan umpan balik terutama dari berbagai macam generasi, ataupun banyak orang- orang hebat yang ditemui setiap hari, ditambah foto dari iyok dulu di DP Architect, menunjukkan kalau perjuangan di dalam studio tidak pernah mudah, jam panjang, dan jatuh bangun, proses yang jauh dari musik klasik, lebih seperti dangdut. 🙂
.
Menarik kembali catatan dari bu Eileen Rachman bahwa “kesuksesan belajar berasal dari 10% dari wejangan satu arah 20% dari diskusi sejajar , 2 arah , 70% dari learning by doing ( apalagi kalau di koreksi secara positif) “ Pikiran positif menghasilkan berbagai macam sudut pandang yang menjalar, seperti prinsip Getok Tular, yang sambung menyambung.
.
Belajar arsitektur membutuhkan fleksibilitas tingkat tinggi, karena adakalanya proses internalisasi mendigest apapun yang dialami dalam proses praktik itu perlu waktu, sedangkan banyak permintaan – permintaan diluar dirinya membuat ia harus sabar untuk juga menjawab permintaan tersebut.
.
Proses ini membutuhkan pengolahan sikap untuk membuka diri, tidak marah, perlu sabar, dan juga yang terpenting.
Studio arsitektur perlu mengintrospeksi dirinya, dan membicarakan proses edukasi ini dengan terbuka, bahwa tantangan ada yang diluar kendali para leader, juga para desainer, apalagi klien, banyak permasalahan psikologis juga muncul berbarengan dengan permasalahan teknis. Gambar hanya representasi dari kualitas diri, tim, sekaligus quality control yang muncul dari banyak pihak yang membutuhkan konsistensi. Dan hal ini dicek terus menerus dalam kualitas yang memiliki standarisasi.
.
Sesederhananya ukuran, metodologi proses desain, dan bagaimana pengambilan – pengambilan keputusan itu ada yang memang membutuhkan kalkulasi presisi juga ada yang terkait bagaimana proses interview dengan klien itu dilakukan. Dan hal itu baik karena membuat kita semua jadi sadar, bahwa edukasi mengenai gambar pun harus terjadi. Dan memang banyak sekali talenta di studio itu hadir, dan cara untuk bisa bekerja bersama – sama adalah memiliki komunikasi yang baik, keterbukaan pikiran, dan contoh – contoh yang dibicarakan yang akan menjadi SOP.
