Reflection Letter – RAW Architecture
Perkenalkan, saya Naufal Syarif Syafi’ul Umam, mahasiswa Program Studi Arsitektur Universitas Brawijaya yang saat ini berada pada semester 6.
What is Architecture?
A question that somehow always gives a different answer, depending on when and who you ask. Sebelum masuk jurusan arsitektur, definisiku sederhana: architecture is about drawing buildings. Setelah tiga semester kuliah, definisiku berubah. Arsitektur adalah cara merancang ruang yang menjawab kebutuhan user sekaligus kontekstual terhadap site, baik iklim, budaya, maupun lingkungan di sekitarnya.
Dan setiap orang punya definisinya sendiri. Suatu hari aku sempat bertanya ke teman intern dari India, “What is architecture?” Dia menjawab, “Shelter is a basic human need. We need water, air conditioning, shade. So the ability to design shelter means having the courage to be responsible for someone’s quality of life.” Jawaban itu sederhana, tapi membuatku sadar kalau architecture is never just about buildings. It’s about people.
Pada semester enam, aku mendapat kesempatan untuk internship di RAW Architecture. Di sana aku bertemu banyak sosok luar biasa, desainer yang inspiratif, penulis yang produktif, para tukang yang bisa merealisasikan banyak ide, bibi yang masakannya selalu enak, petugas kebersihan yang menjaga kenyamanan ruang setiap hari, kura-kura yang lucu, kelinci yang suka masuk ke kandang kambing, sampai ayam yang selalu berkokok jam sepuluh pagi. Semua menjadi bagian dari pengalaman yang membuat RAW terasa hidup.
Hari pertama masuk, Kak Rich menyambut para intern dengan hangat. Ada satu kalimat yang masih kuingat sampai sekarang: “Life is managing your expectations. By lowering your expectations, you create your own confidence.” Kalimat itu terasa relate buat aku yang cukup sering merasa insecure terhadap diri sendiri.
Beruntungnya semua senior di sini sangat supportive. Mereka selalu menyempatkan waktu di tengah kesibukan untuk membimbing, memberi ruang untuk salah, memberi ruang untuk bertanya, berdiskusi, bahkan sekadar bercerita tentang hal-hal di luar pekerjaan. Mereka juga memberi ruang untuk tersenyum, tertawa, dan menikmati proses setiap hari. Aku baru tau ternyata satu ruang kerja bisa menciptakan ruang lain sebanyak itu.
Selama internship, aku belajar bahwa mencari inspirasi gak harus jauh-jauh. Kadang jawabannya muncul dari percakapan sederhana dengan klien, teman, atau siapa pun yang kita temui. Kalau pun tidak langsung menemukan solusi, setidaknya kita pulang dengan perspektif baru. Aku juga belajar bahwa design is never an authority. Design is always adaptive. It keeps moving, even after it’s built. Sebuah desain tidak pernah benar-benar selesai karena kehidupan di dalamnya akan terus berubah.
Terima kasih banyak kepada Kak Rich yang selalu berbagi ilmu, pengalaman, dan insight baru setiap Hari Senin maupun saat meeting.
Terima kasih banyak kepada Kak Tyo, Kak Gaby, Kak Aul, Kak Ingrid, Kak Rizka, Kak Riyan, Kak Timothy, Kak Shafira, Kak Alya, Kak Edho, Kak Chai, Kak Yusrul, Kak Bambang, Kak Novi, Kak Kenn, Kak Joshi, Kak Zyadi, Kak Revi, dan Kak Ridwan Kamil yang selalu bersedia meluangkan waktu di tengah kesibukan yang padat untuk membimbing.
Terima kasih banyak kepada Kak Jalu yang mengajarkan cara membuat kusen serta daun pintu kawat nyamuk di hari terakhir.
Setelah internship di RAW Architecture, aku mendapat definisi baru tentang arsitektur. Architecture is a dynamic dialogue. Sebuah proses yang terus berlangsung, antara manusia, ruang, alam, budaya, waktu, dan semua orang yang terlibat di dalamnya. Design never happens alone. It grows through conversations, collaborations, and shared experiences. Tugas arsitek bukan mengendalikan semuanya, melainkan mendengarkan, memahami, lalu merespons berbagai kondisi yang selalu berubah.
Best Regards,
Naufal Syarif Syafi’ul Umam