Atika Almira – Pelita Gunadharma di titik 2016

“We fell in love, despite our differences, and once we did, something rare and beautiful was created. For me, love like that has only happened once, and that’s why every minute we spent together has been seared in my memory. I’ll never forget a single moment of it.”
― Nicholas Sparks, The Notebook

Lady mantan sekertaris jendral IMA G berkata sambil setengah bercanda, “Rich mimpi lo sudah tercapai, mezanine Ruang Gunadharma, sudah selesai dibuat sama anak – anak. ” pada waktu itu adalah pelantikan anggota madya, kelulusan sebagai anggota IMA G di tahun 2005 kira – kira sebelas tahun yang lalu . Terus terang sudah beberapa tahun ini, diri ini sibuk di ibu kota Jakarta, dan jarang bersentuhan dengan dunia kemahasiswaan. Tuntutan hidup di Jakarta yang mengukung dari hari Senin dan Jumat, briefing demi briefing, coretan demi coretan mewarnai keseharian. Di hari sabtu dan minggu, omah library juga beraktifitas untuk membuat orang di dalamnya belajar dan belajar menjadi arsitek yang lebih baik lagi.

Kira – kira 15 tahun yang lalu, sekre himpunan terkenal jorok dan bau, sampah plastik, rokok, dan sepeda yang dititipkan tanpa ada yang mengatur. Ruang Himpunan lebih mirip gudang daripada tempat untuk beraktifitas, ruangan ini terletak di dekat pintu keluar, di depan pos satpam dengan tidak memiliki pandangan, cahaya masuk bisa melalui bouvenlie, jendela tinggi, memang beraktifitas di dalam ruang himpunan ini seperti beraktifitas di dalam gudang. Ditambah dengan kotornya ruangan, minimnya program, dan rendahnya kekerabatan, keadaan ini memicu sulitnya mencari orang untuk beraktifitas, dan menjadi individualistis.

Keadaan kemudian berubah begitu banyaknya orang – orang yang aktif, positif, dan diterima di dalam himpunan sehingga pola pikir dari senioritas yang kental berubah menjadi kekerabatan, kekeluargaan dimanayang perantau, memiliki tempat, keluarga baru untuk mendapatkan memori yang manis.

Diri ini ingat bagaimana, menyayangi sekali adik – adik yang baru saja kenal, didalam ikatan kemahasiswaan, di dalam satu janji yang dilontarkan oleh satu junior saya namanya Reza Prima. ia berkata “apabila hanya satu orang yang tinggal, maka hanya aku orangnya, …. karena perubahan akan terjadi apabila kata – kata menjadi nyata.“ Air mata kami semua deras mengucur melihat kesungguhan hatinya ditengah udara dingin yang menusuk dan fisik yang ambruk akibat sudah beberapa hari ini tidak memiliki istirahat yang cukup. Cinta untuk beraktivitas  menjadi hal yang penting, tanpa adanya cinta, kehidupan kemahasiswaan menjadi hambar dan individualistis.

Baru saja sebulan yang lalu, diri ini pulang dari kampus Gajah. Terus terang, diri ini tidak merasakan kehangatan di suasana kampus. Kampus Gajah yang dulunya begitu hangat, kini nampak dingin, mungkin memorinya perlahan – lahan hilang, digantikan oleh memori – memori baru. Generasi sudah berubah.Hal ini dilihat dari banyaknya program – program jurusan yang ditampilkan group kemahasiswaan IMA G, dimana yang dibicarakan kebanyakan adalah soal administrasi perkuliahan, diri ini bertanya – tanya, apakah ini grup jurusan untuk menyebarkan informasi ataukah ini adalah grup kemahasiswaan tempat bersilahturahmi, bertukar gagasan, sharing dari adik – adik ke kakak – kakak dan sebaliknya, sebuah tempat untuk merayakan kegagalan, sebuah tempat untuk membuat memori baru, tanpa mengindahkan menjadi terkenal, menjadi sukses,yang dipikirkan hanyalah untuk kebersamaan. Setidaknya kemarin hanya dua tempat yang menawarkan kehangatan dan memori yang sama, kedai bang edi, dan perpustakaan ITB, tempat dimana terdapat bahan – bahan ilmu mengenai arsitektur tradisional, kuliah lapangan, dan buku – buku teori.

Diri ini teringat kira – kira 2 tahun yang lalu, kedatangan satu rombongan dari Bandung, dipimpin oleh satu orang wanita, sang ketua suku namanya Atika Almira. Ia seperti ibu bagi teman – temannya, mengayomi, duduk di tengah – tengah teman – temannya. Dari teman – temannya diri baru tahu ia adalah  seorang ketua himpunan. baru saja di minggu lalu ia baru saja menyelesaikan kuliahnya dan menunda kelulusannya. Atika menulis di dalam ceritanya :

screen-shot-2016-10-28-at-8-58-50-amscreen-shot-2016-10-28-at-8-58-58-amscreen-shot-2016-10-28-at-8-59-06-am

Diri ini lega, dan bahagia, ternyata tali silahturahmi masih terjaga di kemahasiswaan arsitektur ITB.

Dear Atika,  diri ini, merasakan kembali memori yang lama kembali muncul. Dari situlah adanya kehangatan di antara memori – memori itu meskipun kita tidak bertemu.
Kenaifan bahwa, kita semua bisa untuk berbuat lebih baik lagi untuk sesuatu yang tanpa pamrih,
kenaifan bahwa adanya perjuangan dimana sepertinya dunia memalingkan mukanya,
kenaifan bahwa memori akan kebersamaan itu sebegitu pentingnya untuk diingat dan dirayakan.

Dirimu sudah menjadi pelita Gunadharma bagi pelita – pelita lain yang sudah dan akan muncul !

vivat – vivat G IMA G tetap jaya.

Suasana Aula Barat desain dari Henri Maclaine Pont

Suasana Aula Barat desain dari Henri Maclaine Pont

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s