Zaha Hadid, Thames Gateway regeneration corridor to the east of Londonzaha_hadid

Banyak arsitek bertanya – Tanya. Apa itu parametric modeling. Dalam arsitektur kita sudah mengenal bagaimana software – software 3D bisa membuat model di dalam virtual 3D, kemudian model tersebut bisa dibuat menggunakan dasar – dasar pembuatan sederhana, yang dinamakan conventional modeling skill. Dasar – dasar pembuatan model ini terdiri dari beberapa tahap, bentuk – bentuk primitive, bentuk – bentuk modifikasi garis dan kurva, dan pemodifikasian bentuk primitive dengan bentuk garis. Kurva.

“Parametric modeling “ sendiri adalah termasuk advanced modeling, karena sudah menggunakan parameter dalam pembuatannya. Pembagiannya dibagi kedalam 4 bagian. Pertama eksplorasi dan konfigurasi bentuk global. Kedua pengembangan dan penggunaan parameter dalam pembangunan kerangka berpikir yang lebih detail. Ketiga pembuatan model – model secara repetisi , modularuntuk fabrikasi elemen – elemen. Dan yang keempat mengatur pengeluaran gambar – gambar konvensional, Dalam hal ini untuk pembuatan gambar – gambar 2 dimensi. Dalam hal ini setelah 4 tahap ini selesai. Maka perubahan model cukup hanya merubah parameter yang sudah di persiapkan.

“Generative components ” adalah salah satu elemen tambahan dari Bentley yang menggunakan system “parametric design”. untuk menggabungkan elemen desaign dalam hal intuitif dan logika dalam perhitungan matematis. Dengan Generative components kita bisa membuat model berdasarkan elemen yang terkecil dan hubungan antar elemen tersebut satu sama lain. Komponen itu bisa berupa satu garis [bentuk geometri primitif] atau bentuk kurva untuk fasade bangunan. Sebuah komponen bisa saja berupa angka numeric. Dan bisa saja. Menggunakan suatu rumusan [script tertentu]. Dengan semua parameter yang sudah disiapkan. Maka merubah satu parameter saja bisa merubah keseluruhan bentuk model. Tanpa harus secara satu persatu membangun model secara manual. Meskipun arsitek bekerja secara grafis berdasarkan intuisi, namun disini seluruh tahapan pekerjaan direkam dalam satu script.

Di dalam Foster and Partners sendiri, penggunaan “Generative components “ini menjadi hal – hal yang sangat fundamental. Sehingga sampai dibentuk specialist Modelling Group. Dimana “Generative components “menjadi salah satu andalan mereka untuk menciptakan “Parametric Modelling”. “Generative components “sendiri pada akhirnya adalah hanya salah satu alat bantu mendesain untuk arsitek yang mendesain berdasarkan intuisi dan logika. Ini salah satu lompatan lebih tinggi lagi dari para arsitek yang mampu menjawab perkembangan dunia design dan memanfaatkan teknologi secara lebih tinggi lagi.

9 thoughts on ““ Parametric Modelling “ di dalam arsitektur

  1. GC lebih ribet dibanding dengan grasshopper, tapi kerennya dia udah gabung dengan tools kaya bentley architecture dan struktur atau civilnya, jadi analisa atau bentuk keluaran nya udah bisa integrated sama project realitynya.. sayangnya gw masi di grasshopper nya rhino dan masih stuck resource yang baik di indonesia, ada lagi dari gehry digital project,atau semacam catia, karena ternyata semua toolsnya bisa di parametrikin dan digabung sama objek lain (saling terkait) terus update rich :) sukses!!

  2. mungkin ada dua hal yang cukup mendasar antara parametric modeling dengan script based modeling, rich…si script based modeling adalah salah satu aplikasi dari algorithmic modeling….

    parametric modeling n technique tepat sama yg rich bilang, di melalui teknik ini kita dapat membangun bentuk lewat mengatur, memodifikasi atau mengontrol informasi melalui parameter pendefinisi bentuk. Beberapa parametric tools tsb kini tersedia dalam interface dengan bentuk pictograph/diagram seperti pada GH, GC.
    @paskal , GH bisa dua arah..kita bisa membangun geometri baru dan/atau mengasosiasikannya dengan geometri yg sudah ada

    sementara algorithmic modeling n technique adalah teknik untuk membangun geometri dengan cara merangkai proses atau prosedur (dari command2 yg tersedia di applikasi) melalui bahasa programming/bahasa script yang dipergunakan oleh aplikasi tersebut, apa yang kita kontrol,atur atau modifikasi adalah kode2nya (melalui scripting)

    untuk saat ini memang menggabungkan parametric modeling dengan metoda algorithimic sudah sangat memungkinkan.

    Benar! bahwa dua hal tersebut adalah advanced tools atau teknik. Namun yang mesti kita sadari adalah pada saat kita mempergunakan tools tersebut, cara berpikir geometri dalam mendisain tentunya harus diubah.. ;)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s