Frame – Reflection of Tectonics

Our lovely home -the follies are almost finished.

A photo posted by RAW Architecture (@rawarchitecture_best) on

Kita perlu mempertanyakan apakah kotak itu harus selalu tegak lurus menghadap lot jalan yang biasa berbentuk tegak lurus, atau apakah ia bisa merepresentasikan keinginan untuk manusia untuk hidup, berkreasi, dan tinggal didalamnya. Ketika satu bentuk itu ada, ia ada berdasarkan coretan garis diantara dua kerangka, garis- garis penuh pertimbangan yang taktis, terukur juga garis – garis emosional, dimana ada ketakutan kekuatan di dalam diri. 2 garis itu bersatu dalam satu pertunjukkan yang hidup ketika manusia mulai mendesain, manusia mulai berpikir tentang nalar, dimana ada kebutuhan, ada pemahaman mengenai karakter, ada visi mengenai bagaimana bangunan itu akan dibangun, bagaimana kehidupan itu akan dibangun.

Saat yang lalu bertemu dengan beberapa klien, beberapa dari mereka adalah satu keluarga yang ingin hidup bersama tinggal di dalam satu rumah yang terpecah – pecah menjadi beberapa kelompok bangunan namun ingin tetap terhubung satu dengan yang lain. Ada satu prinsip keterdekatan dan keterjauhan, ingin ada jarak namun tetap dekat, terhubung, seperti hubungan manusia, paradoks yang dimainkan. Arsitektur pun seperti itu, satu buah ruang besar dengan ketinggian 2 lantai  tanpa kolom, disinilah mereka bisa berkumpul, menonton TV, makan bersama, memasak bersama, bersosialisasi bersama. Ruang – ruang tidur di sebarkan di sekitar ruang keluarga dengan menghadap ke taman. Kemudian saya bertanya pada diri saya sendiri, apa bentuk dasar yang dipakai ? saya berpikir susunan beberapa kerangka yang memiliki keterdekatan dan keterjauhan yang dipisahkan oleh taman akan baik, tarian beberapa buah kotak.

Didalam satu kerangka yang ada, terdapat keterdekatan dan keterjauhan, terdapat ledakan kreatifitas tanpa batas, yang diselami lebih dalam dan lebih dalam lagi setiap harinya bangunan itu didesain menjadi lebih baik dan lebih baik lagi oleh manusia. Hal ini wajar terjadi dalam relasi  manusia, begitupun juga relasi tarian yang ada dalam ledakan – ledakan di dalam bangunan. Apabila bangunan membentuk manusia didalamnya, begitupun arti satu bangunan dalam kehidupan manusia atau lebih dalam disinilah hidup seorang manusia baru saja dimulai untuk belajar hidup yang lebih baik. Apakah kita perlu terkungkung dalam satu garis yang tegas, dengan perencanaan yang axial. Karena kita hidup dalam sistem, dimana ada satu keteraturan yang mengatur dengan pola – pola  yang tegas di dalam kerangka yang ada, setiap orang begitupun bangunan berhak untuk hidup dalam ledakan emosinya, ledakan kreatifitasannya. Begitulah hidup saya pikir, hidup dalam kerangka dan keinginan manusia adalah lepas dari kerangka itu. Sebuah keinginan yang terus berujung dari awal hidup sampai kematian, begitupun juga manusia, begitupun juga bangunan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s