Apakah perlu arsitek asing ? kita belum mampu ya ? – Discussion

Elisa Sutanudjaja Tepat 1 bln lalu menulis soal kegemaran kota2 sok2an pny cultural district super wah … Kok mau kejadian ya hahaha smile emoticon
http://www.rappler.com/…/96046-potensi-kawasan-seni…

Membangun potensi kawasan seni dan budaya di Jakarta
Apa ‘resep’ terpenting untuk membangun Jakarta…
RAPPLER.COM
June 27 at 5:07pm · Like

Risca Surono Lebih ‘for show’ sepertinya..
June 27 at 6:27pm · Like

Vitex Grandis Walkot bdg pan arsitek kelas dunia , produk lokal kemampuan global #ea
June 27 at 6:39pm · Like

Cicies Palguno Zaha eta?
June 27 at 9:14pm · Like

Agus Ekomadyo Buat fans nya MU thn 2000an lbh kenal Louis Zaha….tag penggemar MU Ismail Al Anshori, ahhhh…😀
June 27 at 9:52pm · Like

Ismail Al Anshori MU itu klub divisi apa ya? Ga kenal tuh.
June 27 at 9:56pm · Like · 1

Agus Ekomadyo Wah, sorry Il, jamannya Louis Zaha berduet dgn Ruud van Nasgitelroy, kykny kamu belum lahir, ya…hi3x
June 27 at 9:58pm · Like

Dory Ardiantoko Purnawarman Duit siapa konstruksinya nanti?haha…
June 27 at 11:16pm · Like

Ismail Al Anshori Bisa minta ke Agung Podomoro. *ups!
June 27 at 11:17pm · Like · 1

Riko Arsiananta Bilbao effect..
June 28 at 3:39am · Like · 1

Muhammad Herryanto adakah arsitek indonesia yg pengalaman merancang gedung pertunjukan ?
June 28 at 5:54am · Like

Ismail Al Anshori Ada. Termasuk kita juga punya ahli2 akustik utk gedung pertunjukan.
June 28 at 9:53am · Like · 4

Muhammad Herryanto nah kalo gitu usulin ke pak gub/wagub/walkot biar dikerjain sendiri, supaya nilai2 dan khas budaya kita bisa mewarnai gedung tsb, mungkin utk teknologi terbaru audio, video, special effect tetep harus ada konsultan yg expert dibidangnya. inget di shenzen nonton pertunjukkan kolosal yg super amazing. ada efek visual & audio seolah ada tirai aur terjun dihadapan penonton persis, benar2 nyata. hanya contoh..
June 28 at 2:08pm · Like · 2

Muhammad Herryanto tirai air seperti air terjun besar.
June 28 at 2:08pm · Like

Aryani Murcahyani Mungkin memang diperlukan sebuah kenekatan besar untuk mengangkat Bandung menjadi salah satu kota dunia. Di china, kebanyakan masterplan dan bangunan dibuat oleh perusahaan-perusahaan besar asing. Seperti kata Riko Arsiananta, sepertinya mengharapkan adanya Bilbao effect. Hanya disayangkan jika arsitek-arsitek lokal sendiri tidak dilibatkan.
June 28 at 2:54pm · Like

Cicies Palguno Jangan sampai kayak China, seperti Guangzhou atau Shenzhen airport, tidak terkejar teknologinya, jadi jelek sekali hasilnya
June 28 at 3:04pm · Like · 1

Aryani Murcahyani Nah … Cicies Palguno kapan pulang? Banyak tantangan disini smile emoticon
June 28 at 3:05pm · Like

Ismail Al Anshori Kenapa Bandung terobsesi utk menjadi juara & tingkat dunia?
Kenapa kok ngga bikin saja kota yg vibrant & livable bagi warganya?
June 28 at 3:05pm · Like · 3

Cicies Palguno Ibu Aryani Murcahyani siapp!
June 28 at 3:22pm · Like

Robby Dwikojuliardi senengnya kok mbandingin dg luar … masalah pengadaan barang jasa saja blm terlihat jelas, ini kan indonesia … bisa bisa kasus dahlan iskan akan berulang … colek Dory Ardiantoko Purnawarman
June 28 at 8:17pm · Like · 1

Ismail Al Anshori dua hal yg bikin bandung saat ini masih menarik utk ditinggali: udaranya yang dingin & relatif belum terlalu macet. tp kondisi ini tidak bisa selamanya bertahan kalo tidak ada pembenahan tata ruang kota yang revolusioner. apalagi dari sisi lapangan kerja, bandung kalah jauh dibanding jakarta. mestinya slogan walkot itu: REVOLUSI BANDUNG. pacman emoticon
June 28 at 8:29pm · Edited · Like

Baskoro Tedjo Jangan ngiri ah
June 28 at 9:13pm · Like · 2

Robby Dwikojuliardi
June 28 at 9:47pm · Like

Dory Ardiantoko Purnawarman Saya cuma bingung dananya dr mana pak… kl saya ga peduli bentuknya dan didesain siapa… yg saya peduli cuma bangunannya jgn ngerusak suara… hahaha…
Saking blm nemu gedung pertunjukan yg sesuai standar akustik, saya punya sekian banyk setting di rack system gitar… haha.. jujur kl dinegara kita, saya lbh suka main di outdoor. Lbh gampang settingnya… hehe
June 28 at 11:21pm · Like · 1

Agus Ekomadyo Bandung sekarang aja sdh semakin nggak nyaman, apalagi kl semakin kedatangan banyak orang akibat bilbao effect. Ah, mulai nyari pesanggrahan di pucuk gunung…
20 hrs · Like

Gunar Maulana secara hukum gimana? sudah sesuai dengan prosedur pengadaan barang/jasa menurut undang-undang yang berlaku?
19 hrs · Like

Heri Sofian Bisa saja kok penunjukan langsung ke Zaha… Kan biaya perencanaannya gak nyampe 50jt… Wkwkwk…
19 hrs · Like · 6

Robby Dwikojuliardi wah nyindir nih kang Heri Sofian ;D
18 hrs · Like

Heri Sofian Lah, nyindir siapa toh Pak Robby Dwikojuliardi? Ha ha…
18 hrs · Like

Robby Dwikojuliardi nyindir yg sering dapet PL tuh grin emoticon … masak disandingkan dg zaha hadid euy …atau kebalik yak …
18 hrs · Like

M Jehansyah Siregar Tampaknya kok ada semacam keresahan di kalangan kawan-kawan arsitek di Bandung ya?
18 hrs · Like

Robby Dwikojuliardi bukan resah bang je … cuman gatel … grin emoticon
18 hrs · Like

M Jehansyah Siregar
18 hrs · Like

Robby Dwikojuliardi
18 hrs · Like

M Ichsan Harja Nugraha Saya malah penasaran, desain avant-garde-nya Zaha Hadid dikombinasikan dengan skill dari partner konsultan dan kontraktor lokal plus material pilihan klien pemerintah jadinya gimana. Bisa jadi benchmark.
17 hrs · Edited · Like

M Ridwan Kamil Bagi yg masih bertanya apakah pemerintah bdg/ jawa barat kurang percaya arsitek lokal. Nih Terlampir, partnership Pemkot Bandung dengan arsitek indonesia: 13 apartemen rakyat diserahkan ke mereka ( ada yu sing, deddy wahjudi, arsitek2 muda, psud dkk). 10 mixed use/pasar didesain oleh arsitek2 indonesia terpilih (andra matin, juhara, shau, real rich, ajie negara, budi pradono dkk). revitalisasi sudirman oleh Cici dkk. TABG ala TPAK diketuai bu Ririn. kurang apa?
16 hrs · Edited · Unlike · 4

M Ridwan Kamil sekalinya ada arsitek sekelas Zaha mau desain di Bandung kok pada gatel? Ada arsitek lokal ug pengalaman desain concert hall internasional? yg keren? yg kelas dunia? Ada?di Jakarta Timur, Norman Foster bareng SOM dan Frank Gehry ngedesain cultural center gak pada protes?
16 hrs · Unlike · 4

Rully Heriawan Saya sih suka… Kapan lagi liat karya hadid di bandung
16 hrs · Like

Ariko Andikabina Kang Emil,
mungkin di ranah pekerjaan swasta memang (sepertinya) jamak menggunakan arsitek asing. tidak dapat dipungkuri kita, para arsitek indonesia kalah bersaing.

oleh karenanya kita berharap di ranah bangunan publik yang dibiayai pemerintah. kita berharap banyak peluang dalam mengasah pengalaman, dan membangun portofolio arsitek indonesia.

dahulu ketika membangun istiqlal dan conefo, belum ada arsitek indonesia yang memiliki pengalaman dan portofolio pada pekerjaan serupa, namun bukan berarti kita tidak mampu. dan kita membuktikan mampu

keluh-kesah serta kritik agar bangunan publik yang didanai oleh negara sebaiknya dibuka seluas-luasnya kepada arsitek indonesia (mungkin dapat melalui sayembara), sebagai tambahan lahan pembuktian arsitek indonesia mampu bersaing, terlebih persaingan tersebut akan semakin terbuka tahun ini.

Rasanya kita tidak perlu arsitek ternama dunia untuk dapat mencuri perhatian. bukankah saat ini bandung juga telah berhasil mencuri perhatian padahal seluruhnya ditenagai oleh arsitek-arsitek indonesia?
16 hrs · Edited · Like · 3

M Ichsan Harja Nugraha Pemerintah Cina juga pake banyak arsitek asing, bukan karena arsitek lokal tidak mampu. Lokal ada bagiannya juga, kok. Kalau saya malah berharap ini bisa jadi pembelajaran buat kontraktor lokal yang sering tawar-menawar dengan desain si arsitek (mungkin karena arsiteknya kacangan seperti saya ya, kalau dengan rekan2 lain bisa beda lagi). Tapi kalau ketemu Zaha Hadid kan dijamin ‘neunggar cadas’.
15 hrs · Like · 2

M Ridwan Kamil itu yg apartmen rakyat dan sebagian mixed use juga dana pemrintah/publik. lain halnya kalo tidak ada sama sekali. Sy menduga karena masalah Zaha Hadid nya yg bagi sebagian yg tdk suka dijadikan isu asing tidak asing.
15 hrs · Unlike · 2

Ariko Andikabina betul kang,
tetapi untuk skala seperti sebesar balai konser apakah tertutup kesempatan arsitek indonesia untuk unjuk gigi dan memaparkan idenya?
15 hrs · Like

M Ichsan Harja Nugraha Banyak proyek yang lebih besar sudah dipegang oleh arsitek2 lokal kok, Kang Ariko. Bandara, misalnya: Kualanamu, Sepinggan, Kertajati.
15 hrs · Like

Ariko Andikabina kang ichsan,
kebetulan saya pernah ikut pekerjaan mendisain bandara. dan luar biasa tidak masuk akal. oleh karenanya saya mafhum bandara-bandara kita kondisinya hari ini seperti itu.

bayangkan waktu yang diberikan hanya 3-5 hari untuk merancang bandara sejak dinyatakan lulus prakualifikasi

arsitek kita sering kali terpasung oleh aturan pengadaan barang, waktu yang diberikan dalam merancang relatif sempit, dan ketika membangun tidak dilibatkan. yang berkuasa langsung kontraktor, arsitek dianggap sudah tunai tugasnya sejak DED diserahkan,

waktu membangun juga seringkali ajaib karena lelang kontraktor sering kali dilakukan bulan september dan bulan desember tanggal 15 harus sudah segera serah terima. oleh karena saya mafhum kualitasnya hanya segitu saja.

kang Ichsan juga memiliki pengalaman serupa khan?

Nah pertanyaannya apakah ketika zaha hadid dipercaya merancang balai konser apakah ia akan turut dalam skema waktu tersebut, atau ada keleluasaan bagi beliau. dan apakah pihaknya akan juga bertanggungjawab hingga bangunannya berdiri?

jikalau beliau diberikan keleluasaan, pertanyaan saya apakah tertutup kesempatan bagi arsitek indonesia untuk mendapatkan keleluasaan yang serupa?
15 hrs · Like

M Ichsan Harja Nugraha Nah justru itu, saya berharap Zaha Hadid bisa ‘mendobrak’ kondisi seperti itu. Tahu sendiri kan bagaimana alotnya beliau di Tokyo Stadium dan proyek2 lain, he he he. Semoga masukan beliau akan jadi pertimbangan, sehingga tidak ada lagi bandara seharga 4T harus selesai didesain dalam 4 bulan saja karena mengejar anggaran
15 hrs · Like

Ariko Andikabina yang terakhir saya mungkin kurang sefaham kang Ichsan, terkesan kita butuh orang asing untuk mendobrak kebiasaan kita. sehingga isu-nya akan bergeser dari esensi pertanyaan kita (setidaknya saya)

apakah tertutup peluang arsitek indonesia untuk bisa memberikan ide terbaiknya pada skala pekerjaan serupa itu dan keleluasaan serupa itu?
15 hrs · Like

Ariko Andikabina sekedar berbagi ide saja kang M Ridwan Kamil, menurut hemat saya akan jauh lebih baik apabila diadakan sayembara disain internasional, media serupa archdaily dapat digunakan untuk mensirkulasikan beritanya.

juri-juri dipilih dari kalangan dalam dan luar negeri guna memastikan bagaimana serius dan bergengsinya sayembara ini (serupa dengan sayembara gugeinheim helsinki tahun lalu).

dengan sayembara serupa ini kesempatan bagi kami arsitek indonesia tidak tertutup, kita bertarung terbuka, ide terbaiklah yang akan dibangun.

sentimen dalam dan luar negeri seyogya juga akan berlalu sendirinya. jikalau ternyata kita tidak terpilih, tidak berkurang kebanggaan kita karena telah turut di dalam prosesnya.

dengan jejaring yang kang Emil miliki, rasanya mudah menyelenggarakan sayembara serupa ini
15 hrs · Like · 1

M Ichsan Harja Nugraha Bukan terkesan, Bang Ariko. Memang begitu. Orang Cina, Korea Selatan dan Jepang pun baru mau ‘ngagugu’ kalau bule yang bilang.
15 hrs · Like

Risca Surono Brutally true: apa kota seperti Bandung butuh arsitek asing untuk mendobrak kebiasaan? Menurut saya iya. At least untuk mengangkat daya saing. It doesn’t only happen there in Bandung, but everywhere. Some people travel to the most remote parts of a for…See More
15 hrs · Like

Ariko Andikabina kang Ichsan,
cina saat ini “menyesal” menggunakan arsitek asing.

http://www.dezeen.com/…/no-more-weird-architecture-in…/

konon dipicu oleh sikap sang arsitek kenamaan yang dianggap sangat melecehkan cina melalui karya yang sudah terbangun, setelah “setengah mabuk” mengungkapkan ide dibalik rancangannya

demikian pula kekhawatiran serupa juga menyeruak di jepang, dubai dan negara-negara asia lainnya, termasuk kita pada saat ini.

“No more weird architecture” in China says Chinese president
Chinese president Xi Jinping has called for an end to…
DEZEEN.COM
14 hrs · Edited · Like · 1

Ariko Andikabina mbak Risca, beberapa hari yang lalu arsitek sekelas winny mass rela meninggalkan kesibukannya hanya untuk melihat secara langsung geliat bandung yang mencuri perhatian di banyak media.

jadi rasanya menggunakan arsitek seperti zaha hadid bukan satu-satunya cara.

lalu tertutupkah peluang arsitek indonesia untuk menunjukkan kelasnya?
14 hrs · Like

Yu Sing gapa2lah Ariko Andikabina Aryani Murcahyani kalau ada bangunan zaha di bandung. jadinya byk yg gak bisa jalan2 keluar negeri bisa lihat belajar di sini smile emoticon. lagian baru 1 aja. 10 aja juga sy sih gak keberatan kok. asal jgn semua. salah 1 percepatan belajar itu yah langsung lihat bagaimana bangunan itu digunakan sehari2nya kan…
gak usah dibawa ke isu kemampuan arsitek lokal…emang jauh kalau dikenal di dunia tongue emoticon
14 hrs · Like · 1

Ariko Andikabina Sing, saya tidak keberatan kalau zaha hadid punya bangunan di bandung. namun apakah tertutup peluang saya bersaing dengan zaha?

mungkin serupa dengan pertanyaan Yu Sing yang selalu digaungkan, sayembara harus ber-ska seperti menutup peluang bagi yang tidak ber-ska
14 hrs · Edited · Like

Andrea Peresthu work! work! buktikan arsitek indo bisa mendunia spt arsitek irak ini
14 hrs · Unlike · 1

Risca Surono Mas Ariko, Winy Maas bukan khalayak umum.. I don’t think Winy Maas would care whether/not a local architect or Zaha takes the job. I believe he was there for the city, not a certain structure(?) CMIIW.

Sayangnya publik – mostly Asians- ga cuma org Indonesia; Lebih appreciative dgn celebrity architects. Namanya jg celebrity.. Not everyone can appreciate a city without an icon, either.
If that is what it takes to kick start to elevate a city, then so be it. Mgkn bisa ikut mengangkat nama arsitek lokal nantinya juga eventually..
14 hrs · Like · 1

M Ridwan Kamil saya sering ikut sayembara dan sering pula jadi juri. kesimpulan saya: tidak semua proyek harus di sayembarakan. kembali tlg dijawab pertanyaan saya, ada gak concert hall yg kelas internasional yg baik/keren didesain arsitek lokal?
14 hrs · Like

Yu Sing coba lihat dalam konteks dunia: banyak negara2 penuh arsitek kelas dunia, tidak menutup pintu juga terhadap proyek2 yang dikerjakan arsitek asing.
Ariko Andikabina ibaratnya saya lawan mike tyson ya? grin emoticon
14 hrs · Like

Ariko Andikabina jawabannya sangat mudah kang Emil, tidak ada!

karena sangat minim arsitek indonesia yang diberi kesempatan.

tapi ketika bung karno memulai proyek conefo, beliau tidak memulai dengan pertanyaan apakah ada arsitek indonesia yang pernah merancang kantor pusat kekuatan dunia ketiga? karena kalau dimulai dari pertanyaan itu jawaban akan sama, tidak ada!

atau siapakah yang berpengalaman mendisain masjid terbesar se asia tenggara? kalau bisa nasrani juga? apakah ada yang pernah melakukan sebelumnya? jawabannya tidak,

kalau beranjak dari pertanyaan itu makanya jawabannya tidak ada.

namun jawaban yang tidak ada itu tidak serta merta menutup kesempatan kita para arsitek indonesia
14 hrs · Like · 2

M Ridwan Kamil karena konteks dan dimensi sikon politiknya berbeda, mhn maaf saya tidak bisa meniru Bung Karno nya bang Ariko.
14 hrs · Like

Sapto Nugroho arsitek lokal banyak yang mampu tapi belum ada kesempatan untuk menjadi besar, sangat berharap kasus ini bisa menjadikan lokal yang mampu menjadi lokal yang besar, sehingga kasus2 yg dialami Ichsan dan Ariko bisa diantisipasi, salam
13 hrs · Like · 1

Gito Tito Wibowo Zaha di Shenzhen aja jadinya berantakan, karena mungkin antara kemauan gambar, kemampuan kontraktor dan kemampuan duit ga balance….frown emoticon,…. bukan anti arsitek asingnya, tp ada kan selain Zaha?
13 hrs · Like · 3

Ariko Andikabina Baiklah makasih atas responnya kang Emil,
Jikalau nanti terbangun gedung pertunjukannya, dan kalau boleh kita tanyakan kembali kepada diri kita pada saatnya nanti,…See More
13 hrs · Edited · Like · 3

M Ichsan Harja Nugraha ‘Weird Architecture’ itu memang selera sono. Arsiteknya saja mungkin rada-rada ngilu ngedesainnya. lokal ataupun interlokal.

http://www.theguardian.com/…/-sp-chinas-strangest……See More

China’s strangest buildings, from pairs of pants to ping-pong bats
Chinese president Xi Jinping wants to put a stop to…
THEGUARDIAN.COM|BY OLIVER WAINWRIGHT
13 hrs · Edited · Like

Gito Tito Wibowo kalau nanti ga suka tinggal di hukum mati

http://news.okezone.com/…/kim-jong-un-eksekusi-arsitek…

Kim Jong-un Eksekusi Arsitek Bandara Pyongyang
Arsitek di balik proyek Bandara Pyongyang dikabarkan…
NEWS.OKEZONE.COM
13 hrs · Like · 1

Ariko Andikabina Kang Ichsan,

saya menggunakan kesempatan ini untuk bisa berdiskusi secara langsung dengan pak Wali, saya berterima kasih atas kemewahan tersebut.

walau sepertinya diskusi ini tidak menuju simpul yang sama, namun saya tetap menghargai pendapat teman-teman semua, seperti halnya saya menghargai sudut pandang orang lain yang berbeda. Walau berbeda, mudah-mudahan kita semua tergerak atas dasar kebaikan bersama.

rasanya semua kesempatan pantas diperjuangkan, kalau tidak kita mulai sekarang lalu kapan? terbayang bagi saya arsitek seperti kang Ichsan seharusnya bisa bersaing dengan arsitek dimanapun didunia. Stadion yang kang Ichsan rancang seharusnya juga bisa menjadi pusat perhatian dunia jikalau saat itu kang Ichsan diberi ruang yang baik dalam merancang, waktu yang cukup, penghargaan yang memadai, juga tetap awas pada fase pelaksanaannya. Namun sayang kepranataan kita belum menuju ke sana nampaknya.

saya tidak anti arsitek asing, pernah membantu menjadi arsitek lokal dalam beberapa pekerjaan yang menggunakan disain arsitek asing. dan bukankah kang Emil juga sudah mengutarakan jikalau sudah banyak pula arsitek asing yang berpraktek di Indonesia, termasuk Foster-Gehry-SOM yang di bekasi (kabarnya awalnya hadid turut di undang, entah kenapa menjadi batal).

Yah mungkin dari sekian banyak arsitek kita masih kurang belajar. memang tiada kata berhenti untuk belajar

kemewahan kesempatan ini saya gunakan untuk turut bersama memperjuangkan peluang yang sama bagi arsitek indonesia. terlebih apabila bangunan tersebut menggunakan dana publik hasil pajak kita. silahkan dibuka kepada arsitek asing namun jangan ditutup kesempatan bagi arsitek indonesia menunjukkan tajinya.

kecuali kalau proyek swasta atau menggunakan dana csr maka tiada lagi yang akan saya pertanyakan.

jikalau ada pertanyaan apakah ada arsitek indonesia sekelas zaha hadid, maka jawab tidak ada.

akankah ada? bisa saja tidak jikalau tertutup peluang untuk bersaing.

peluang memang selamanya dinanti, tetapi harus diperjuangkan, (bahkan harus diciptakan sendiri)

yang saya lakukan adalah memperjuangkan peluang itu. peluang saat ini memang bukan satu-satunya. saya yakin akan ada peluang yang lain.

tetapi kehilangan sebuah peluang juga bukan perkara mudah, oleh karenanya layal diperjuangkan.
12 hrs · Like · 5

Noval Iri @Ariko | perjuangan itu …… | heuheu
12 hrs · Like

Aryani Murcahyani Pertanyaan saya di awal postingan sebenarnya lebih kepada rasa miris terhadap profesi arsitek, urban desainer & planer kita yang saat ini hanya dapat berperan sebagai level kedua setelah konsultan-konsultan besar asing. Pengalaman pribadi mengawal kons…See More
12 hrs · Like · 1

Aryani Murcahyani Para arsitek Indonesia yang ada di luar sana ….. mari balik ke Indonesia, sudah waktunya praktek di negeri sendiri. Toh proyek yang kalian kerjakan juga adanya di Indonesia kan? ….. smile emoticon
12 hrs · Like · 1

Agus Ekomadyo Colek: pak Wahjuadhi Sulistyarso
11 hrs · Like

Aryani Murcahyani Catatan : saya tidak anti asing. Malah menjadikan mereka mitra, sejajar, punya kedudukan yang sama. Itu saja
11 hrs · Like · 5

Achmad Tardiyana Semakin ke bawah, diskusinya semakin dewasa smile emoticon
10 hrs · Like · 1

Risca Surono Aryani Murcahyani mba cici- merasa disepet nih 😬
10 hrs · Like

Gito Tito Wibowo Saya masih Imut pak Achmad Tardiyana
10 hrs · Like

Muhammad Herryanto sepengetahuan saya di Indonesia belum ada gedung pertunjukan yg bagus, apalagi ikonik. makanya di post saya sebelumnya saya bertanya (pasti banyak rekan arsitek disini) apalah ada arsitek yg punya kelas ini? bukan soal diberi/tidak kesempatan. Bukan soal asing / lokal. Kalau ada silakan meyakinkan pengambil keputusan dengan portfolionya.
10 hrs · Like · 2

Arifien Sutrisno Masalahnya di pendanaan, kalau gedung dibangun dgn pinjaman bank ada syarat sertifikasi kompetensi arsitek aesuai dgn kelas gedungnya. Informasi dr seorang arsitek, PTN/PTS Indonesia belum ada yg memiliki, shg lulusannya belum memenuhi syarat untuk bisa disetujui. Karena asuransi pasti tidak mau cover konstruksi maupun operasi gedung tersebut alias banknya tidak mau memberi kredit
9 hrs · Like

Muhammad Herryanto Proses seseorang menjadi spesialis atau expert dibidang tertentu, seperti halnya arsitek atau civil engineer, misal dalam desain airport, adalah akumulasi knowledge & experience yang masif, yang dikawinkan dengan ide kreatif, dalam rentang waktu panjang, melewati berbagai skala/ukuran atau kompleksitas proyek, perkembangan teknologi / material / metoda. Rossi bisa jadi contoh nyata smile emoticon
9 hrs · Unlike · 2

Muhammad Herryanto Bila saat ini ada arsitek yg konsisten mendalami spesialisasi tertentu, secara kontinyu, melewati proses belajar dengan senior2nya, worldwide, tentu suatu saat bisa sekelas Zaha Hadid (saya sih gak kenal dia smile emoticon Seorang ZH pun pasti mulai dari nol.
9 hrs · Like

Gunar Maulana Saya mah seneng ajah ada karya arsitek terkenal dunia di Bandung, yg saya khawatir mah kalo ada pelanggaran prosedur sedikit ajah pak Wali kan yg langsung kena. Tau kan gimana njelimetnya prosedur pengadaan barang/jasa di pemerintahan, belum lagi kalo ada lawan pulitik yg gak suka.
8 hrs · Edited · Like · 1

Deddy Wahjudi InsyaAllah siap turut jika Kompetisi Internasional untuk ini dilakukan
6 hrs · Like · 2

Ismail Al Anshori Buat saya yang mempelajari akustik serta sekarang juga mendalami development studies & STS, yang paling penting di Bandung ada gedung pertunjukan yang bener dulu deh. Gedung yang akustiknya bener, pengunaannya tepat, dan bisa memeriahkan pengembangan budaya kita. Soal tampilan bisa nomer dua. Terlalu sayang kalo bangun gedung mahal hanya untuk pamer, demi dikenal di luar negeri. Yang paling penting adalah pembelajaran kolektif melalui wahana gedung tersebut, dari desainer, acoustic engineer, lighting designer, seniman, sampe EO. Pembelajaran kolektif ngga selesai satu putaran dan selesai setelah bangunan berdiri. Perlu iterasi yang berulang-ulang, yang bahkan hingga lama setelah bangunan berdiri.

Sangat mungkin nanti akan ada modifikasi2 bangunan untuk bisa mengakomodasi perkembangan penggunaan. Pasalnya, pagelaran budaya tradisional kita memiliki karakter yang jauh berbeda dengan musik klasik misalnya, sehingga setingan gedungnya juga harus menyesuaikan.

Pertanyaan saya, kalau arsiteknya dari luar, apakah pembelajaran kolektifnya akan optimal? Kemungkinan besar tidak.
6 hrs · Edited · Like

Robby Dwikojuliardi jadi masalahnya ada dimana ? arsitek asing atau pengadaan barang & jasa ? kalo arsitek asing tak perlu indahkan regulasi & meknisme tsb, dan hanya arsitek lokal saja yg dibebankan spt yg sdg dijalankan selama ini ? atau mungkin sy salah keduanya ? jika tak indahkan mekanisme tsb ya silahkn saja mereka masuk berbondong-bondong abaikan eksistensi potensi lokal dan lembaga terkait. maka harusnya mudah saja dan tak perlu berpolemik. selamat sahur smile emoticon
2 hrs · Like · 1

Muhammad Herryanto then all architects who believes that they have the capacity, and all the resources (needs multi discipline experts), please raise up, do your marketing, convince your future clients.

 

Melihat pertanyaan di atas “Apakah perlu arsitek asing ? kita belum mampu ya ?” dimana yang dipermasalahkan adalah bukan siapa dia, namun terbukanya kesempatan yang luas. Namun Kenapa kita begitu antipatinya terhadap perubahan ? tertutupnya kita terhadap teknologi baru ? tertutupnya kita untuk belajar demi sebuah persaingan ?

Dan kalau mau dilihat secara positif, perjalanan menuju pagi sebenarnya sedang dibukakan oleh Mas Emil, Pak Ridwan Kamil, walikota Bandung, dengan meletakkan seseorang yang punya identitas, dan tentu saja kapabilitas desain di Bandung, untuk membuat kita belajar akan pentingnya penghargaan terhadap profesi arsitek, siapa pun dia, mau orang dari Zimbabwe, Uganda, Amerika Serikat, Eropa, Mars atau Venus sekalipun. Apalagi untuk orang sekelas Zaha Hadid yang pernah meraih pritzker prize, salah satu yang terbaik dari yang terbaik. Mungkin kita bisa anggap dengan sikap positif untuk mulai membenahi diri sendiri, bagaimana arsitek Indonesia, menjadi pemain di dalam globalisasi. Atau lagi – lagi proses berarsitektur Ridwan Kamil yang sedang dipertaruhkan disini, bagaimana keinginan baik beliau untuk mengangkat profesi arsitek, bisa dikomunikasikan dengan baik kepada rekan sejawatnya, dimana dua – duanya sama – sama benar.

Screen Shot 2014-03-16 at 1.58.37 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s