Kategori
book writing

Buku Alvar Aalto – “Mati Sakjroning Urip”

Figur Alvar Aalto yang membumi terlihat seperti karyanya biasa – biasa saja atau ada perasaan familiar. Karya ini mengundang decak kagum justru karena terlalu biasanya sampai mudah untuk dicerna. Ini adalah satu karya yang saya cari – cari, keindahan adalah pancaran dan pantulan dari arsitektur yang bersahaja.

Kira – kira di akhir tahun 2018, saya dan Laurensia berkunjung ke Finlandia. Hal itu dilatarbelakangi satu kebetulan yang cukup aneh dan hal tersebut menjadi warna yang penuh kejutan dan spontan. Jadi waktu itu saya selalu meletakkan satu buku di samping tempat tidur, pada waktu itu saya sedang mau memulai membaca buku Space, Time and Architecture karya Siegfried Gideon. Sudah beberapa hari berlalu buku tersebut belum saya baca karena studio RAW sedang padat-padatnya. Tidak tau gimana ceritanya mungkin tersenggol, buku tersebut jatuh terbalik dan ada halaman yang terbuka, disitulah saya melihat sebuah gambar dan narasi mengenai Saynatsalo Townhall. Disitu diceritakan, bahwa ada teknik yang menggunakan komposisi berbagai material yang menimbulkan simfoni material yang mencengangkan. Siegfried Gideon begitu apiknya menyelipkan Aalto di tengah – tengah figur yang lain seperti Corbusier, Frank llyod Wright, dan Jorn Utzon. Figur Alvar Aalto yang membumi terlihat seperti karyanya biasa – biasa saja atau ada perasaan familiar. Karya ini mengundang decak kagum justru karena terlalu biasanya sampai mudah untuk dicerna. Ini adalah satu karya yang saya cari – cari, keindahan adalah pancaran dan pantulan dari arsitektur yang bersahaja. Dari situ saya langsung berbicara ke Laurensia, “kita perlu ke Finlandia akhir tahun ini.”

Akhirnya kami berkesempatan berkunjung ke karya Alvar Aalto, Saynatsalo Townhall, setelah tersesat di hutan pinus akibat diturunkan di perhentian yang jarang dilalui orang

Beberapa bulan kemudian, saya memutuskan untuk menuangkan pengalaman tersebut di dalam bentuk buku, dan mulai meriset mengenai karir kehidupan Alvar Aalto dan merefleksikan ulang apa yang saya dapatkan di dalam perjalanan melihat karya beliau, ada hal yang magis di dalam hidup Alvar Aalto, bahwa ia melakukan praksis, aksis reaksi penyelesaian masalah dan refleksi akan penyelesaian masalah tersebut, fakta – fakta dan arsip yang ada menjelaskan bahwa kehidupannya erat kaitannya dengan praksis – praksis besar di dunia seperti kejadian ketika ia tidak memiliki proyek, pandemi, perang dunia pertama, perang dunia kedua, pameran di Amerika, menulis, berkumpul dengan kawan – kawannya termasuk bertemu dengan Siegfried Gideon, Le Corbusier, dan Frank llyod Wright dan mempengaruhi cara dan bagaimana ia mendesain. Ini adalah praksis yang manusiawi sekali. Pertanyaannya apa formulanya ?

1 tahun setengah kemudian Buku itu selesai dan diterbitkan Omah library, dan kami dengan bangga mengeluarkan buku baru berjudul Alvar Aalto : The Magic of Architect’s life. Buku ini Berisi tentang bagaimana studio Alvar Aalto dan relasi dengan dirinya bekerja dan seperti apa di dalamnya. Buku ini adalah salah satu refleksi dari perjalanan karya Alvar Aalto yang mendesain dengan inklusif, sebuah pendekatan yang mampu menembus batas imajinasi. Alvar Aalto adalah seorang arsitek yang memanifestasikan totalitas desain dari arsitektur, interior, sampai produk desain di Paimio Sanatorium yang terelasi dengan pandemi TBC dan Viipuri Library. Buku ini berisi mengenai :

  1. Strategi arsitek di dalam menghadapi pandemik masa kini dan masa lalu.
  2. Metode mendesain dari Alvar Aalto yang mampu menembus batas kanon tren dengan 3 pendekatan : Gesamtkunstwerk, Free Curve, dan Arsitektur Monumental
  3. Pada akhirnya ini merujuk kepada kesimpulan : arsitek ini memulai karirnya dengan kegagalan, sifat mau belajar, berpikiran terbuka, berprinsip teguh, dan akhirnya kejeniusan itu datang sebagai buah dari kerja keras.

Saya dibantu oleh Johannes Adiyanto untuk penyuntingan. Ia membuka buku ini dengan definisi dirinya sebagai “Cantrik” dan buku ini ditutup oleh tulisan dari Jolanda Atmadja yang membahas “TAKSU-Dinamika Daya Hidup dalam Keutuhan”, cerita Jolanda membahas mengenai relasi Panca Skandha kedalam keutuhan karya dan bagaimana Taksu itu didapatkan sebagai refleksi penyelesaian terhadap masalah keseharian.

Jolanda Atmadja menulis

“Dinamika Taksu pada akhirnya bergerak dalam rentang yang lebar sesuai kapasitas dan peran kita masing-masing. Akan selalu ada batasan-batasan yang membedakan Taksu kita – sesuai pilihan jalan sebagai rohaniwan, politisi, tenaga medis, pekerja mandiri, akademisi, arsitek, desainer, seniman, petani dan tenaga profesi lain, aktivis sosial, maupun pilihan berkarya di ranah domestik. Pada kondisi optimalnya – Taksu dalam laku berarsitektur merujuk pada Totalitas – yang berproses kembali menjadi energi kehidupan dalam menghadapi konflik keseharian. Keberlanjutan yang ‘hidup’ dengan menjadikan kita bukan sebagai pemeran utama. Menjadikan kita ‘tiada’. Sebagai perantara, pembaca pesan-pesan yang disampaikan oleh semesta. Kenikmatan me’Rasa’ yang berujung pada upaya menjawab kebutuhan dan masalah dasar dalam berarsitektur. Tidak bertujuan utama untuk jadi tontonan, simbol status ataupun melulu komoditi. Kesunyian yang meniadakan, sekaligus melahirkan kekuatan diri. Mati sakjroning urip.”

Tulisan Jolanda menjadi penutup dari buku Alvar Aalto yang menekankan pentingnya menyadari pentingnya jujur di dalam menjalani tata laku yang menjauhkan diri dari kepentingan simbol status, kepentingan ataupun komodifikasi.

Menurut saya refleksi yang menggambarkan bagaimana sikap untuk menjalani tata laku tersebut disimpulkan oleh Johannes Adiyanto di dalam catatan editorial bagaimana bersikap tulus dengan cinta.

Johannes Adiyanto menulis “Ada dua hal —menurut saya— yang dapat dipelajari dari buku Alvar Aalto ini. Pertama, pembaca dapat menemukan proses kehidupan percintaan Aalto dengan arsitektur. Aalto tidak sekedar menempatkan arsitektur sebagai sebuah profesi semata (cinta agape), tapi proses kehidupannya pada setiap tahapnya selalu mengembangkan diri untuk mampu mencintai arsitektur (cinta Philautia), sehingga dapat dikatakan proses percintaan Aalto dengan arsitektur telah sampai pada titik cinta pragma, sebuah cinta yang teruji oleh ruang dan waktu. Cinta pragma ini dapat dicapai jika seseorang mampu menerima kehidupannya sebagai sebuah proses cinta agape, sebuah cinta yang tanpa pamrih. Apapun yang dilakukan demi hal yang dia cintai.”

Di balik ruang kerja saya dilapisi cermin, saya bisa melihat Alvar Aalto yang melihat dari belakang, disebelahnya ada Johannes Adiyanto dan Romo Mangunwijaya yang merangkulnya dan tersenyum.

Mereka berbisik – bisik,

“Mati sakjroning urip.”

Nglakoni Mati Sajroning Urip. Dalam falsafah Jawa ungkapan “nglakoni mati sakjroning urip” rasanya tidak terlalu asing. Ungkapan itu sendiri bermakna bahwa seyogyanya manusia bisa mematikan segenap hawa nafsunya dalam menjalani kehidupan.


Credit to the Team, It’s Collaborative work

Penulis: Realrich Sjarief

Realrich Sjarief mendirikan Realrich Architecture Workshop di tahun 2011. Ia juga aktif di DOT Workshop, yang berfokus pada penelitian tektonika, dan Perpustakaan OMAH, kelompok penelitian dan perpustakaan umum yang menampung sekitar 1.500 buku arsitektur dan menyelenggarakan publik berkala acara tentang wacana arsitektur kontemporer. Ia menulis
beberapa buku bersama dengan Johannes Adiyanto, bersama-sama menjadi cantrik yang haus akan ilmu. Realrich Sjarief aktif mengajar di beberapa universitas di Indonesia, dan kerap kali memberikan kuliah umum di Australia, Singapore, Filipina, India. Bersama RAW Architecture ia memenangkan beberapa kompetisi desain, termasuk Kompetisi Galeri Nasional Indonesia, finalis dari Museum Silaban, IAI Jakarta Award di tahun 2017 dengan karya Omah Library, Finalis World Architecture Festival Award 2018, Fibra Award 2019, dan Kohler Award 2018 untuk karya Sekolah Alfa Omega. RAW Architecture di tahun 2018-2019 adalah long listed world emerging architect. Baru-baru ini RAW Architecture juga mendapatkan nominasi Emerging Architect di Asia Pacific Design Award 2020.

Editor: Johannes Adiyanto

Johannes Adiyanto, lahir sebagai anak pertama pada bulan September 1974 beristri Veronica Dwi Yantina yang dinikahinya tahun 2005. Jo – biasa dia dipanggil – menyelesaikan studi doktoralnya di ITS dengan tema Konsekuensi Filsafat Jawa pada Arsitektur Jawa. Kecintaannya pada filsafat terjadi karena koleksi bacaan dari Bapaknya, Erasmus Prijotjahjono dan koleksi kaset wayang dari Eyang, Gerardus Soewandi yang kesemuanya menuju pada satu pemahaman tentang budaya Jawa dan filsafat masyarakat Jawa. Kecintaan akan filsafat juga ditunjang dengan kecintaan akan buku. Hal inilah yang menuntun Jo bertemu dengan ‘juragan buku’ dari gua Omah, Realrich Sjarief. Kecintaan mereka berdua akan buku dan arsitektur membawa mereka merangkai kata dalam beberapa buku yang diterbitkan oleh Omah Library. Dalam buku-buku mereka yang bertema arsitektur seringkali tidak berbicara teknis semata, namun menjelajah jauh mendalam seperti seorang penjelajah ilmu. Jo selalu menyebut dirinya sebagai cantrik, seorang murid yang tidak berhenti mencari dan mencari pengetahuan dan ilmu. Buku Alvar Aalto sebuah tapak pencahariannya.

Tim Omah Library : Penulisan, Riset, dan Layout

Amelia Mega Djaja

Amelia Mega Djaja adalah salah satu periset dan pustakawan OMAH Library, pernah terlibat dalam penulisan buku berjudul “Craftgram: Craft + Grammatology” dan “Alvar Aalto: The Magic of Architect’s Life,” dan juga sebagai koordinator Kri(s)tik Book Club 2019. Lulus dari S1 jurusan arsitektur pada tahun 2016 dari The University of Sheffield, dengan disertasi mengenai narasi arsitektur poskolonial di Jakarta tahun 1960an.

Sebelum bergabung di OMAH, Amel memiliki pengalaman bekerja selama 3 tahun sebagai desainer, antara lain dalam proyek Alun-Alun Cicendo Bandung (2017, di bawah Florian Heinzelmann), juga sebagai koordinator tim Sayembara Kantor Bupati Sleman yang mendapat juara 2 (IAI 2018, di bawah Ary Indra).

Menurutnya, arsitektur bisa menjadi medium dalam melakukan pembacaan dan analisis mengenai kultur, sejarah, lingkungan maupun dimensi sosial yang lebih luas. Karena ketertarikannya untuk mendalami hal tersebut, saat ini Amel juga merupakan salah satu pegiat ASF-Indonesia yang aktif dalam fasilitasi dan diskusi mengenai komunitas informal kota Jakarta.

Dimas Dwi Mukti P

Dimas Dwi Mukti Purwanto, lahir di Madiun 7 Maret 1996. Lulus dari Akademi Teknik Arsitektur YKPN Yogyakarta tahun 2018 dan sekarang sedang melanjutkan studi S1 di Universitas Mercu Buana Jakarta untuk melanjutkan cita – citanya.
 
Beberapa pengalaman yang mempengaruhi pemikiran Dimas adalah ketika menjadi volunteer yang bertugas sebagai tim riset Venice Architecture Biennale 2018 bersama tim pavillion Indonesia pada tahun 2017, ketika menjadi tim desain revitalisasi desa Krapyak di Pekalongan bersama Studio Akanoma dalam mendampingi World Bank pada tahun 2018, dan ketika mendapatkan kesempatan untuk menjadi juru gambar PT. Waskita Karya dalam proyek tol Pemalang – Batang pada tahun 2018. Kemudian Dimas juga pernah bekerja di PT. Kreasi Nusa Studio sebagai desainer interior dimana banyak mengerjakan proyek – proyek kantor, residensial hingga komersial sepanjang tahun 2019. Untuk saat ini Dimas sedang belajar dan bekerja sebagai pustakawan dan juga periset di Omah Library. Salah satu prestasi yang pernah Dimas raih adalah juara 3 dalam kompetisi desain ruang publik yang bertema Unexpected Space di tahun 2018.
 
Dimas adalah orang yang tidak pintar – pintar amat namun memiliki keinginan yang kuat untuk bisa membanggakan bangsa Indonesia sebagai arsitek yang baik sehingga hal itulah yang selalu membuatnya mendapatkan motivasi untuk terus belajar dan belajar lebih dalam lagi.

Kirana Ardya Garini

Lulus dari jurusan Teknik Arsitektur pada tahun 2017, Kirana A. Garini memiliki pengalaman bekerja di konsultan arsitektur PT Tripatra Konsultan di Yogyakarta yang khusus menangani proyek pemerintahan.

Kirana sempat bergabung dalam Housing Resource Center Yogyakarta dengan fokus penanganan kampung kota Kali Code Yogyakarta dengan output berupa profil kawasan.

Kirana senang bereksperimen dengan desain produk, khususnya yang dapat digunakan di ruang publik. Ia pernah membuat Pringgam (pring-gamelan), prototipe produk bermain bagi anak usia SD di taman kota Surabaya, berbahan bambu, memadukan sistem alat box musik dan gamelan. Produk tersebut sengaja didesain untuk beberapa penggunan sebagai tanggapan atas minim nya interaksi sosial anak di kota urban yang cenderung terikat pada gadget mereka. Karya tersebut mendapat penghargaan juara 1 pada sayembara Play MORPH yang diselenggarakan oleh Departemen Arsitektur ITS, Surabaya bersama dengan 2 orang dalam timnya.

Kirana sangat tertarik dengan arsitektur untuk publik, yang mengutamakan kesehatan dan kenyamanan masyarakat luas, desain universal, multi dimensi dan multi disiplin, serta bersinggungan dengan kebijakan publik, politik, dan ekonomi.

Oleh karena itu saat ini Kirana memilih bergabung sebagai Researcher Librarian di OMAH Library. Kirana berharap dapat melatih ketajaman observasi dan berpikir lebih dalam guna mengkoneksikan sejarah dan teori, mampu membuka wacana, membangun kritik, dan menakar kebijakan publik yang kontekstual.

Selama di OMAH Library, Kirana terlibat dalam berbagai riset yang diantaranya diterbitkan dalam bentuk buku, seperti: Methodgram, Craftgram, Sejarah Arsitektur untuk Mahasiswa, dan yang terbaru, buku Alvar Aalto: the magic of architects life.

Satria A. Permana

Satria A. Permana is currently working at OMAH Library, observing and researching architecture discourse in Indonesia. He graduated from the school of architecture in Universitas Islam Indonesia. His thesis about “Recoding the Code’s Urban Kampong”, has led him to put his concern on developing urban kampong design language, which also aided him to gain several prizes in architecture and urban design competition such as merit award in FuturArc Prize 2019 and nominated in Student Charrette World Architecture Festival 2016. Besides architecture and design, he spends half of his life observing the worlds in writings and photography which could be found at http://www.medium.com/@satriaap. In 2020, he co-authored with Realrich Sjarief a book titled The Secret of Architect’s Life. He is available to reach by email at satriaap@live.com or Instagram @satria__ap.

Epilog.

Jolanda Atmadjaja
Pemerhati permasalahan keseharian
.Lulusan desain interior Institut Seni Indonesia Yogyakarta
dan Institut Teknologi Bandung

Oleh Realrich Sjarief

Founder of RAW Architecture

One reply on “Buku Alvar Aalto – “Mati Sakjroning Urip””

[…] Di dalam alam profesi arsitek, ada dua buah kutub yang berseberangan dan saling melengkapi, keduanya berjalan beriringan tanpa meninggalkan satu sama lain. Alam pertama adalah Taksu, Taksu adalah sebuah bentuk dari keutuhan. Taksu sendiri ada karena proses repetisi terus menerus, berusaha melakukan evaluasi diri di dalam setiap tahap perancangan. Taksu ada karena proses belajar di dalam sisi seorang arsitek. (Lihat postingan mengenai Aalto) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s