Kategori
lecture

Awal Masa Depan Berhuni


DWELLING dan WAKTU
Ketika manusia mulai menghuni dunia, maka berbagai tingkatan hubungan antara manusia dan dunia akan terjadi. Christian Norberg-Schulz dalam bukunya The Concept of Dwelling mengungkapkan bahwa, dwelling atau “hunian” mempunyai makna lebih mendalam dari sekadar atap yang menaungi di atas kepala kita dan sejumlah meter persegi ruang yang kita
miliki. Menurutnya, dwelling mempunyai tiga arti; Pertama, ruang di mana kita bertemu dengan orang lain untuk bertukar produk, ide, dan perasaan, pada makna ini kita akan mendapatkan pengalaman kehidupan sebanyak mungkin. Kedua, Dwelling mencapai kesepakatan dengan orang lain di mana kita akan dihadapkan untuk dapat menerima seperangkat nilai-nilai umum di masyarakat. Ketiga, mengandung arti ketika kita telah menjadi diri kita dengan memiliki dunia kecil pilihan kita sendiri. Kita dapat menyebut ketiga arti itu masing-masing sebagai dwelling / hunian secara kolektif, publik, dan pribadi. Ketiga tingkatan ini memiliki dimensi ke-ruangan yang kompleks dalam sebuah konsep dwelling, karena hunian dengan konsep berhuninya harus dapat memberikan kontribusi
menyeluruh dalam kehidupan manusia di bumi. Martin Heidegger menggunakan istilah dwelling sebagai sebuah konsep menghuni atau cara
khas ada (dasein) di dunia. Tinggal di rumah, tidak hanya berada di dalamnya secara spasial dalam arti hanya menyisir dan berputar dalam lingkungan rumah saja. Sebaliknya, rumah sebagai sesuatu yang ada adalah milik dunia, dan orang yang menghuni didalamnya harus keluar untuk melihat langit-langit dunia. Hunian pada awalnya tidak merujuk pada tinggal di suatu tempat, tetapi lebih pada berhenti dan berlama-lama di jalan, dengan keraguan tentang ke mana harus pergi. Kata dwelling dalam bahasa Inggris kunonya adalah dwellan yang berarti mengembara (to wander) dan bertahan hidup (to linger). Secara filosofis, kata dwelling memberikan makna bahwa :untuk bertahan hidup, tidak dapat dilakukan dengan berdiam diri atau menetap tetapi harus mengembara Maka dwelling sebagai konsepmenghuni dan ada di dunia berhubungan dengan menetap dan berkelana. Dengan menetap dan berkelana inilah manusia belajar tentang konsep menghuni (sebagai ada) di dunia. Dalam mengisi dunia dan berhuni atas dunia, maka sebuah dwelling akan dihadapkan dengan
konsep waktu, yang membungkus secara keseluruhan dalam cara hidup manusia di dunia. Seperti yang dikatakan Albert Einstein bahwa ruang bukanlah sesuatu yang biasa kita bicarakan seperti atas-bawah, kiri-kanan, depan- belakang dan terpisah dari waktu. Ruang dan Waktu adalah nyatanya, dan bukan hal yang terpisahkan. Ruang dan waktu saling erat
terhubung dan berpaut. Dalam melihat hubungan antara dwelling sebagai ruang berhuni dengan waktu, ada beberapa pertanyaan menarik dapat diajukan, seperti :

MASA DEPAN BERHUNI
Berbasis pada Hari Ini
“ Hunian yang ada, dimaksudkan terutama untuk mendukung aktivitas “hidup”. Jadi, ketika gaya hidup berubah, desain hunian juga berubah. “
Stefan Junestrand & Konrad Tollmar

(1) “ Bagaimana
konsep dwelling menjawab tantangan waktu, dalam cara berhuni di dunia ?”

(2) “Bagaimana melihat hubungan antara dwelling dengan kondisi hari ini ? dan apakah ada konsep ke-ruangan yang berubah dalam perjalanan waktunya ?”

(3) “ Bila dwelling berkaitan dengan waktu, bagaimana arsitektur menjawab tantangan ini ?” Berbagai contoh ada di hadapan kita, misalnya perbedaan antara konsep dwelling pada masyarakat pada tahun 1980-an sebelum teknologi internet menjadi bagian hidup kita dengan tahun 2000an di mana internet telah mempengaruhi sebagian aktivitas manusia. Bahkan kini 40 tahun kemudian teknologi ini telah menyatu dengan kehidupan kita. Contoh lain, dalam drama Korea berjudul “Replay 1988” dan “Replay 1994, kita pun dapat merasakan perbedaan konsep kehidupan antar keluarga, tetangga, teknologi, komunikasi dalam konsep jarak dan waktu yang mempengaruhi perubahan suasana dwelling atau konsep berhuni
dalam kurun waktu 6 tahun di film tersebut, bahkan inipun berhubungan dengan kehidupan yang kita alami sekarang. Ketika pada Awal tahun 2020 dunia mulai diguncang dengan berita virus “Covid 19” aktifitas
manusia perlahan berubah, bahkan para ahli memprediksi keberadaan virus ini akan mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia, dan akan berpengaruh dengan konsep dwelling dimasa depan. Dengan kejadian ini saja, kehidupan yang kita jalani sebelumnya berubah secara dramatis. Aktivitas rutin ke kantor, ke toko, belajar, merayakan ulang tahun
bersama teman-teman, liburan bersama keluarga, olahraga di gym, kelas olahraga, kunjungan keluarga, pelukan, dan berjabat tangan semuanya terhapuskan dari daftar harian kita. Meski pada awalnya kita masih mencoba mengelak, pada akhirnya kita dituntut untuk menyesuaikan dan hidup berdamai – berdampingan dengan virus ini, pada suatu babak kehidupan yang di sebut “New Normal COVID 19”. Kata COVID 19 sengaja dilekatkan, karena New Normal sendiri adalah tahap perubahan yang bisa kita alami berulang kali dalam satu siklus kehidupan. Berbagai kejadian penting lainnya, seperti pemanasan global, kemacetan dan segregasi, dan urbanisasi yang cepat juga merupakan tantangan terbesar yang dihadapi dunia di abad ke-21. Bagi kita dan kebanyakan orang, perubahan apa pun yang berkaitan dengan planet, manusia, dan tempat memiliki dampak besar terhadap konsep ke-ruangannya dan akan mempengaruhi cara manusia berhuni atas dunia ini. Dalam perkembangan arsitektur dwelling berkaitan erat dengan konsep waktu (time), konsep ruang (space), konsep tempat (place) dan konsep untuk hidup (to live). Konsep ruang dan waktu menjadi penting karena menandakan di mana (where), kapan (when), dan bagaimana (how) seseorang benar-benar melakukan sesuatu – dalam hal ini untuk ‘tinggal dan berhuni atas dunia’ . Dalam hal ini, Konsep ‘hidup‘ dalam perspektif arsitektur adalah suatu kondisi ke-ruangan di mana manusia harus dapat hidup dan berhuni dalam ruang dan
waktu yang ada serta yang dilaluinya.

Oleh Realrich Sjarief

Founder of RAW Architecture

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s