Halo! Saya Faisol Yazid, biasanya orang-orang memanggil saya Faisol. Alih-alih memanggil dengan panggilan itu, sebagian teman-teman di RAW memanggil saya dengan “Icoll”. Hahaha, sungguh lucu ketika nama itu terdengar ke telinga saya. Saat ini, saya sedang menempuh studi Arsitektur di Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Saya ingin berbagi sedikit tentang petualangan saya pertama kali mengenal hingga sampai pada akhirnya memiliki kesempatan untuk internship di RAW. Buku Titik Awal #1: Catatan Tugas Akhir 18 Arsitek Indonesia, menjadi pengantar yang menakjubkan bagi saya untuk mengetahui RAW. Dengan rasa penasaran dan keingintahuan yang memutar di kepala saya, siapa, dimana, dan apa yang dilakukan RAW, menuntun saya untuk membuka dan membaca situs web yang disuguhkan. Hingga sampai pada waktu di mana saya telah menjadi seorang mahasiswa, yang memiliki kewajiban untuk menjalani Kerja Praktik, momen inilah yang mengetuk saya untuk menentukan petualangan saya dalam ber-arsitektur dan kembali mengenal lebih dalam tentang RAW Architecture.
Saya rasa, ada kesan unik dan sedikit berbeda dari teman-teman lainnya. Dimulai dari hari pertama internship di RAW, saya memulainya pada hari Jum’at, tepatnya 30 Agustus 2024. Suasana hari Jum’at yang terasa damai, hari terakhir menuju weekend. Di hari pertama, Kak Revi dan Tim Techne menjadi aktor pertama yang saya kenal dalam belajar dan membantu pekerjaan di RAW. Proyek Rumah Yoga Atrina, lebih khususnya membantu dalam menyusun dan merapikan pekerjaan Plot Slab dan Ukuran Kamar Mandi, menjadi buah pertama yang saya petik dalam berproses dan berprogres di RAW. Namun pada awalnya berada di tim tersebut hanya selama satu hari, karena setelahnya, mulai hari Senin pekan depan dan seterusnya saya bergabung ke Tim Sophia.
Berada di Tim Sophia, menjadi tim terlama dalam petualangan saya selama internship. Tak terasa sekitar 8 pekan lamanya, saya diajarkan dan disadarkan bagaimana untuk menanam, menumbuhkan, dan memanen imajinasi, daya kritis, serta rasa dalam ber-arsitektur. Di sini saya mulai diperkenalkan dan mengenal wajah RAW di dalam proyek-proyeknya. Rasanya sangat takjub ketika melihat papan tulis yang berisi goresan list proyek yang akan diarungi bersama-sama.
Setelahnya menimba banyak hal di Tim Sophia, saya kembali bergabung bersama Tim Techne. Hal yang lebih detail menjadi topik utama yang kembali saya hadapi dan pelajari. Berada dalam lingkaran detail keteknisan, pikiran saya seolah terbuka sangat lebar dan diajak untuk berputar lebih kencang. Dibumbui dengan suasana “Sky” dengan orang-orangnya yang sangat ekspresif, rasa pada setiap harinya selama 6 pekan berkesan selalu berbeda dan terus mengalir hal baru bagaikan nano-nano.
Tim Episteme, juga menjadi bagian proses saya di RAW. Saya diajarkan terkait detail gambar potongan, rencana, dan produk gambar lainnya, begitu pun proses menghasilkannya. Diiringi dengan mindset bahwa keceriaan perlu senantiasa kita bawa dalam setiap perjalanannya, 4 pekan berlalu memantik saya menjadi terus menanti, makna apa yang akan saya dapatkan di setiap harinya. Pada momen berproses di tim ini, bersamaan pula dengan bertumbuhnya RAW dengan perubahan ruang kerja yang digabung dalam 1 ruang.
Pada awalnya saya mengira Tim Episteme menjadi pelabuhan terakhir saya selama internship, rupanya saya mendapatkan kesempatan untuk terlibat di Tim Branding dan Strategic. Bagaimana arsitektur bercerita untuk dapat dirasakan juga oleh orang lain, menjadi bagian yang membentuk saya untuk terus menyadari bahwa rasa yang positif perlu untuk terus dibagikan. Waktu yang tersisa selama 2 pekan untuk saya berperan di RAW, rasanya ditutup dengan momen yang sangat mengesankan ketika saya membantu menjadi bagian dalam cerita yang akan dibagikan.
Bukan hanya perihal desain dan teknis dalam ber-arsitektur, mengenai pelajaran-pelajaran, pola pikir, kemampuan untuk berkembang, dan banyak hal lain mengenai kehidupan juga saya dapatkan di ruang yang sangat hangat, RAW Architecture. Bagi saya, belajar arsitektur merupakan sebuah petualangan mencari ruang kehidupan yang ideal bagi semua makhluk. Petualangan ini memberikan saya banyak inspirasi, relasi, serta pelajaran kehidupan untuk mempertahankan komunikasi tertulis dan verbal serta berbagi ide dalam kolaborasi desain. Membangun ruang kehidupan ideal bukan hanya tugas arsitek sebagai perancang, namun juga jiwa arsitek sebagai manusia.
Dimulai dengan hari yang damai, diakhiri pula dengan momen yang mendamaikan. Kak Realrich Sjarief, selaku prinsipal arsitek RAW Architecture serta nakhoda kapal, memberikan dessert yang sangat manis berupa pelajaran singkat yang sangat bermakna dalam hidup saya. Disambung dengan dialog hangat dari teman-teman lainnya seraya saling mendoakan atas keberlangsungan kita masing-masing ke depannya. Ucapan permintaan maaf, terima kasih, dan rasa cinta menjadi garis finish saya dalam berproses dan berprogres di RAW Architecture.
Rasa bangga dan syukur menyelimuti atas kesempatan saya untuk berproses dan berprogres di RAW Architecture. Terima kasih Kak Rich, sudah menjadi mentor, memberikan pelukan dan wadah yang hangat dalam petualangan saya untuk ber-arsitektur.
Saya berharap bisa bertemu dengan kalian kembali di kesempatan yang indah!
Salam hangat,
Faisol Yazid