Adiwastra – Wastra adalah bahasa Sansekerta yang berarti “kain”; Adi berarti “super, luar biasa”. Sulit untuk tidak menggunakan kata superlatif ketika berbicara tentang tradisi tekstil Indonesia. Tidak hanya kainnya, tetapi keterampilan yang dimiliki oleh para pembuatnya juga luar biasa, terutama jika dikaitkan dengan kehidupan istana dan upacara keagamaan.
Adiwastra – Wastra is Sanskrit for ‘cloth’; Adi means ‘super, extraordinary’. It’s hard not to use superlatives when discussing Indonesia’s textile traditions. Not only the fabrics themselves, but also the craftsmanship of their makers is extraordinary, especially when associated with court life and religious ceremonies.
Pa’Doti Langi’ (Toraja, Sulawesi Selatan)
Pa’Doti Langi’ adalah motif ukiran utama dari Toraja, Sulawesi Selatan yang secara harfiah berarti “ilmu langit”. Motifnya berupa palang berjejer dengan bintang di tengah, seperti berasal dari langit. Motif ukiran ini sering ditemukan di rumah Tongkonan pusaka, atau pada usungan jenazah wanita bangsawan. Pa’Doti Langi’ menjadi simbol kepintaran atau prestasi, kearifan, ketenangan, serta cita-cita yang tinggi atau pemikiran yang jauh ke depan.
Sumber: Johana Tangirerung, Galeri Mamasa, Detikcom
Pa’Doti Langi’ is a principal Torajan carving motif from South Sulawesi, literally translated as “knowledge of the sky.” The composition typically features a sequence of cross forms with a central star, evoking a celestial origin. This motif is commonly found on ancestral Tongkonan houses and on the funeral biers of noblewomen. Pa’Doti Langi’ signifies intellectual attainment, wisdom, composure, and elevated aspirations or visionary thought.
Kain Timur (Papua Barat)
Berasal dari Papua Barat, Kain Timur dibuat menggunakan teknik ikat lungsi yang diperkenalkan oleh pendatang dari Timor dan Flores, di mana polanya dibuat dengan mewarnai benang vertikal (lungsi) sesuai motif akhir sebelum ditenun. Oleh karenanya, terdapat kemiripan motif dengan yang ditemukan di Nusa Tenggara. Warna merah biasanya melambangkan keberanian dan pengorbanan, warna hitam mengandung arti perlindungan dan kekuatan, sedangkan warna putih melambangkan kesucian dan niat baik. Kain Timur biasa digunakan sebagai ritus atau bagian dari alat upacara adat, mahar kawin, atau denda adat, menjadi lambang persatuan dan perdamaian. Di beberapa tempat digunakan juga sebagai alat pembayaran.
Sumber: Tenun Tradisional Indonesia, Thomas Wanggai, Papua Around
Originating from West Papua, Kain Timur is produced using the warp ikat technique introduced by migrants from Timor and Flores, in which the pattern is created by dyeing the vertical threads (warp) according to the intended motif prior to weaving. As a result, its motifs share similarities with those found in Nusa Tenggara. The color red typically symbolizes bravery and sacrifice, black signifies protection and strength, while white represents purity and good intentions. Kain Timur is commonly used in ritual contexts or as part of ceremonial regalia, as a bridewealth item, or as customary fines, serving as a symbol of unity and reconciliation. In some communities, it also functions as a medium of exchange.
Ulos Sadum (Taruntung, Tapanuli Utara)
Sadum adalah kain tenun atau ulos bercorak cerah dan meriah dari Batak Toba. Biasanya berlatar warna merah dengan motif alam seperti bunga yang melambangkan suka cita, kebahagiaan, dan kasih yang mengalir dari generasi ke generasi. Sering dikenakan sebagai pakaian pesta, disampirkan di bahu pria dan wanita, atau umum juga dipakai untuk menggendong bayi. Motif bunga ini diambil dari sebuah ulos sadum asal Tarutung, Tapanuli Utara yang diwarisi si pemilik dari ibunya pada tahun 1940.
Sumber: Adiwastra Nusantara (Achjadi & Waworuntu), Tobatenun, detikcom
Sadum is a brightly colored woven textile, or ulos, from the Batak Toba tradition. It typically features a red background with natural motifs such as flowers, symbolizing joy, happiness, and affection passed down through generations. Sadum is often worn for festive occasions, draped over the shoulders of both men and women, and is also commonly used to carry babies. The floral motif referenced here is derived from an ulos sadum from Tarutung, North Tapanuli, inherited by its owner from his mother in 1940.
Kain Kisar (Pulau Kisar, Maluku)
Berasal dari Pulau Kisar di Maluku, kain Kisar dibuat dengan teknik ikat lungsi. Coraknya berupa garis-garis halus diselingi jalur-jalur lebar berisi ornamen yang terinspirasi dari kain Patola dari India. Terkadang juga menampilkan adegan manusia berburu, naik kuda, burung berkepala dua dan ayam jago, seperti lukisan prasejarah yang ditemukan di dinding gua-gua cadas pulau tersebut. Warna merah merepresentasikan tanah Kisar, sementara hitam menjadi simbol kesatuan dengan bumi.
Sumber: Tenun Tradisional Indonesia, AB Leurima, Antara
Originating from Kisar Island in Maluku, Kain Kisar is woven using the warp ikat technique. Its design typically features fine stripes interspersed with broader bands containing ornaments inspired by Indian Patola textiles. Some examples also depict scenes of human figures hunting, horseback riding, double-headed birds, and roosters, reminiscent of prehistoric paintings found on the island’s rock cave walls. The color red represents the soil of Kisar, while black symbolizes unity with the earth.
Songket Siak Indrapura (Riau)
Songket adalah kain tenun dengan benang emas atau perak dari tradisi Melayu di Sumatra. Selain ditemukan di Riau, Palembang, dan Minang (Sumatra Barat), songket juga bisa ditemukan di Makassar, Sulawesi, Lombok, dan Kalimantan, terutama di tempat-tempat di mana kesultanan Islam berkembang. Dahulu songket umum dikenakan para bangsawan kerajaan sebagai sarung pendek untuk pria dipadu dengan celana panjang dan sebagai sarung panjang untuk wanita. Bermotif alam dan nilai Islam, kain songket umumnya melambangkan ketaqwaan, budi pekerti, kerukunan. Motif bunga cengkih secara khusus bermakna kasih sayang & lemah lembut. Songket dari Kesultanan Siak Indrapura ini dibuat pada awal abad ke-20 dengan bahan sutra.
Sumber: Adiwastra Nusantara (Achjadi & Waworuntu), Kajian Univ. Trisakti (Lestari & Riyanti)
Songket is a traditional Malay woven textile from Sumatra, characterized by the use of gold or silver threads. In addition to Riau, Palembang, and Minangkabau (West Sumatra), songket is also found in Makassar, Sulawesi, Lombok, and Kalimantan, particularly in regions where Islamic sultanates once flourished. Historically, songket was worn by royal nobility—styled as a short sarong paired with trousers for men, and as a long sarong for women. Its motifs, inspired by nature and Islamic values, generally symbolize piety, virtue, and harmony. The clove flower motif specifically signifies affection and gentleness. This particular songket from the Sultanate of Siak Indrapura was made in the early twentieth century using silk.
Songket Sambas (Kalimantan Barat)
Songket Sambas merupakan kain tenun dari Kalimantan Barat yang merupakan hasil perpaduan budaya Melayu, Tionghoa, India, dan Dayak pesisir. Seperti songket dari Sumatra, penggunaan benang emas atau perak menjadi ciri khas songket ini dengan pola yang terinspirasi dari nilai Islam dan alam, khususnya pola floral. Motif bunga melur/melati melambangkan kesucian, kesopanan, dan keanggunan. Selain di Sambas, songket dari Kalimantan bisa ditemukan juga di Ketapang dan Pontianak.
Sumber: Mahardika, Detikcom
Songket Sambas is a traditional woven textile from West Kalimantan, reflecting a confluence of Malay, Chinese, Indian, and coastal Dayak cultural influences. Similar to songket from Sumatra, it is distinguished by the use of gold or silver threads, with patterns inspired by Islamic values and the natural world, particularly floral motifs. The jasmine motif symbolizes purity, modesty, and elegance. Beyond Sambas, songket weaving traditions in Kalimantan can also be found in Ketapang and Pontianak.
Batik Nitik (Yogyakarta)
Berasal dari DIY, motif nitik termasuk motif tertua yang berkembang di lingkungan Keraton Kasultanan Yogyakarta. Batik Nitik digambar menggunakan canting cawang yang cucuknya dibelah menjadi empat dan saat dioleskan menghasilkan titik-titik persegi seperti pola piksel. Teknik ini awalnya diciptakan untuk meniru tenun patola dari India yang mahal. Motif geometris yang modular dan simetris bermakna keteraturan relasi manusia, Tuhan, dan alam semesta. Dengan teknik menitik alih-alih menggores, dibutuhkan kesabaran dan ketelitian tinggi untuk membuat batik nitik, apalagi seringkali dibuat tanpa gambar pola terlebih dahulu. Maka tak heran bila batik nitik sering dianggap sebagai simbol keuletan dan ketekunan. Motif yang serupa dengan batik nitik, terutama yang terinspirasi dari tenun patola juga bisa ditemukan di Sumatera, Sumba, Bali.
Sumber: Cerita Kain Nusantara, Complexion of Indonesia
Originating from the Special Region of Yogyakarta, the nitik motif is among the oldest patterns developed within the Yogyakarta Sultanate court. Batik nitik is created using a canting cawang, whose nib is split into four, producing small square dots resembling pixelated patterns when applied. The technique was originally devised to imitate the costly Indian patola textiles.Its modular and symmetrical geometric motifs signify the ordered relationship between humans, God, and the universe. Executed through a dotting rather than drawing technique, batik nitik requires exceptional patience and precision, often produced without a preliminary pattern sketch. For this reason, it is widely regarded as a symbol of perseverance and diligence. Similar motifs inspired by patola textiles can also be found in Sumatra, Sumba, and Bali.
Kalambi (Sintang, Kalimantan Barat)
Kalambi adalah pakaian adat dari Suku Dayak di Kalimantan berupa jaket atau rompi (tanpa lengan). Kalambi biasanya dikenakan oleh laki-laki untuk memimpin ritual, juga oleh perempuan penting di dalam suku. Material yang digunakan beragam: kalambi bisa terbuat dari kulit kayu, tenun, atau kain berhias manik-manik. Kalambi dari Suku Dayak Iban ini dibuat dengan menggunakan teknik tenun yang unik. Motifnya dibentuk dari tenunan dasar, sementara pakan tambahan berupa benang berwarna-warni justru mengisi latar belakang. Motif bunga sidan pada kalambi biasanya melambangkan keanggunan, keberanian, serta keselarasan manusia dan alam.
Sumber: Adiwastra Nusantara (Achjadi & Waworuntu), Beri, Disporapar Kalbar
Kalambi is a traditional garment of the Dayak people of Kalimantan, typically in the form of a jacket or sleeveless vest. It is commonly worn by men when leading rituals, as well as by women of high standing within the community. The materials vary; kalambi may be made from bark cloth, woven textiles, or fabric adorned with beads. This particular kalambi from the Dayak Iban is produced using a distinctive weaving technique. The motif is formed through the base weave, while supplementary weft threads in vibrant colors fill the background. The bunga sidan motif generally symbolizes elegance, courage, and the harmony between humans and nature.






















