Kategori
blog

Adiwastra – Super Pattern

Wastra dalam bahasa Sansekerta berarti “kain”; sementara Adi berarti “super, luar biasa”. Sulit untuk tidak menggunakan kata superlatif ketika berbicara tentang tradisi tekstil Indonesia. Dalam diskusi mengenai wastra, estetika tidak hadir semata sebagai sesuatu yang indah untuk dipandang, melainkan sebagai pengetahuan yang bekerja secara intuitif dan sistematis, merepresentasikan nilai-nilai budaya yang mengakar.

Pertemuan kami dengan konsep Adiwastra dimulai pada proyek renovasi Balai Kartini. Kehadiran Ibu Uli Panjaitan sebagai pemilik proyek menjadi seperti benang awal yang merajut keseluruhan narasi ini. Beliau memiliki koleksi kain dari berbagai daerah yang menjadi sumber inspirasi dari proses perencanaan. Ibu Uli juga menghubungkan kami dengan pakar wastra dan perancang batik, Ibu Asmoro Damais, sebagai jalan menuju Adiwastra.

Sebuah spirit merangkai dan merajut kami pelajari dari R.A. Kartini: kemandirian, kreativitas, serta arketipe dasar jiwa seorang ibu yang merawat keluarga dan rumah, sembari menanti sang bapak yang sedang mencari penghidupan. Yang kami temukan adalah kecantikan yang tidak bersifat literal, melainkan kecantikan yang bersahaja, di mana kebersahajaan polanya lahir dari transformasi panjang yang dijalani hikmat dalam waktu-waktu penantian.

Nilai-nilai dan sistem pengetahuan yang terangkum dalam wastra Indonesia, umumnya terdiri dari 4 hal: manusia, tanaman, tumbuhan, dan perahu. Dari sana, proses adaptasi desain dari RAW Architecture merupakan sebuah proses berkesinambungan yang diteruskan dari masa lampau.

Kami harap, Adiwastra sebagai inspirasi awal bisa berlanjut dan terus menjadi energi yang dapat diturunkan dalam perumusan desain, serta ke depan dalam bidang apa pun.

– Realrich Sjarief

Wastra means “cloth” in Sanskrit, while Adi means “super, extraordinary.” It’s hard not to use superlatives when discussing Indonesian textile traditions. In discussions about wastra, aesthetics isn’t simply presented as something beautiful to look at, but rather as knowledge that works intuitively and systematically, representing deep-rooted cultural values.

Our encounter with the Adiwastra concept began during the renovation project for Balai Kartini. The presence of Ibu Uli Panjaitan, the project owner, was like the initial thread that weaved this entire narrative. She has a collection of fabrics from various regions that served as a source of inspiration for the planning process. Ibu Uli also connected us with wastra expert and batik designer, Ibu Asmoro Damais, as a pathway to Adiwastra.

We learned a spirit of weaving and knitting from R.A. Kartini: independence, creativity, and the basic archetype of a mother caring for her family and home while waiting for her father, who is earning a living. What we discovered was a beauty that wasn’t literal, but rather a beauty of simplicity, where the simplicity of the patterns emerged from a long transformation experienced by wisdom during times of waiting.

The values ​​and knowledge systems encapsulated in Indonesian textiles generally encompass four elements: humans, plants, vegetation, and boats. From there, RAW Architecture’s design adaptation process is a continuous process passed down from the past.

We hope that Adiwastra, as the initial inspiration, can continue to be a source of energy that can be passed down in design formulation, and in any field.

Realrich Sjarief

Adiwastra – Super Pattern

  1. Ulos Sadum (Batak Toba – Tapanuli Utama, Sumatera Utara)

Sadum adalah kain tenun atau ulos bercorak cerah dan meriah dari Batak Toba. Kain ini biasanya berlatar warna merah dengan motif alam seperti bunga berwarna yang melambangkan suka cita, kebahagiaan, dan kasih yang mengalir dari generasi ke generasi dalam tradisi keluarga Batak. Polanya berupa garis-garis memanjang yang dipengaruhi ornamen Eropa, serta terdapat bidang dekoratif lebar di bagian ujung dengan teknik tapestry weave. Sadum sering dikenakan sebagai pakaian pesta, disampirkan di bahu pria dan wanita, atau umum juga dipakai untuk menggendong bayi. Motif bunga ini diambil dari sebuah ulos sadum asal Tarutung, Tapanuli Utama yang diwarisi si pemilik dari ibunya pada tahun 1940. Dibuat menggunakan bahan katun, pewarna kimia, Sadum ini dikerjakan melalui teknik tenunan polos dan pakan tambahan yang menghasilkan tekstur kaya dan detail yang khas, dengan tambahan manik-manik pada bagian ujung kain.

Sadum is a bright and festive woven cloth or ulos from the Toba Batak. This cloth is usually red with natural motifs such as colored flowers that symbolize joy, happiness, and love that flows from generation to generation in Batak family traditions. The pattern is a long striped pattern influenced by European ornaments, and there is a wide decorative area at the end of the tapestry weave technique. Sadum is often worn as party attire, draped over the shoulders of men and women, or is also commonly used to carry babies. This floral motif is taken from an ulos sadum from Tarutung, Tapanuli Utama, which the owner inherited from his mother in 1940. Made from cotton, chemical dyes, this Sadum is worked using a plain weave technique and additional weft that produces a rich texture and distinctive details, with the addition of beads at the ends of the cloth.

2. Tumtuman (Batak Toba – Porsea, Tapanuli Utara, Sumatera Utara)

Tumtuman merupakan kain tenun tradisional Batak dari Porsea yang dikenal sebagai salah satu kain paling berharga karena seluruh permukaannya dipenuhi motif dari benang pakan yang rumit dan padat, menjadikan proses pembuatannya sangat kompleks dan bernilai tinggi. Dibuat dari benang katun dengan pewarna organik melalui teknik tenunan polos, pakan tambahan, dan ujung benang yang dipelintir, kain ini pada akhir abad ke-19 umumnya digunakan sebagai penutup kepala oleh laki-laki terpandang atau tokoh penting dalam masyarakat Batak. Secara visual, kepadatan motifnya merepresentasikan status, kehormatan, dan prestise sosial, sementara pewarisan kain ini secara turun-temurun menunjukkan perannya bukan hanya sebagai busana adat, tetapi juga sebagai arsip keluarga dan simbol penghormatan antargenerasi. Kini kain Tumtuman juga umum digunakan olah perempuan sebagai sarung dan selendang pada acara perayaan.

Tumtuman is a traditional Batak woven fabric from Porsea, known as one of the most valuable fabrics because its entire surface is covered with intricate and dense weft patterns, making its production process very complex and highly valued. Made from organically dyed cotton yarn through a technique of plain weave, supplementary weft, and twisted thread ends, this fabric in the late 19th century was commonly used as a head covering by prominent men or important figures in Batak society. Visually, the density of the motifs represents status, honor, and social prestige, while the inheritance of this cloth from generation to generation demonstrates its role not only as traditional clothing, but also as a family archive and a symbol of intergenerational respect. Today, Tumtuman cloth is also commonly worn by women as sarongs and shawls at celebratory events.

3. Songket Jambi Kuno (Melayu – Jambi)

Songket merupakan kain tenun tradisional Melayu yang dibuat menggunakan benang sutra berwarna alami dan benang emas, menghasilkan permukaan kain yang berkilau serta kaya tekstur. Berbeda dengan songket Palembang yang cenderung menampilkan pola penuh dan padat, Songket Jambi dikenal melalui susunan motif bunga yang ditempatkan secara individual di dalam bidang-bidang persegi hasil perpotongan garis diagonal. Komposisi ini menciptakan tampilan yang lebih teratur, ringan, dan elegan secara visual. Motif flora pada Songket Jambi melambangkan keindahan, kemakmuran, dan kesinambungan hidup, sementara penggunaan benang emas merepresentasikan kemuliaan dan status sosial dalam tradisi masyarakat Melayu. Kain ini ditenun secara manual melalui teknik pakan tambahan dengan benang dasar sutra, menjadikannya salah satu wastra penting yang banyak digunakan dalam upacara adat dan acara seremonial.

Songket is a traditional Malay woven fabric made using naturally colored silk and gold thread, resulting in a lustrous and richly textured surface. Unlike Palembang songket, which tends to feature full, dense patterns, Jambi songket is known for its arrangement of floral motifs placed individually within square areas resulting from the intersection of diagonal lines. This composition creates a more orderly, light, and visually elegant appearance. The floral motifs in Jambi songket symbolize beauty, prosperity, and the continuity of life, while the use of gold thread represents nobility and social status in Malay tradition. This fabric is hand-woven using a supplementary weft technique with a silk base thread, making it one of the important textiles widely used in traditional ceremonies and ceremonial events.

4. Sarung Songket Siak Indrapura (Melayu Siak Indrapura, Riau)

Songket adalah kain tenun dengan benang emas atau perak dari tradisi Melayu di Sumatra. Selain ditemukan di Riau, Palembang, dan Minang (Sumatra Barat), songket juga bisa ditemukan di Makassar, Sulawesi, Lombok, dan Kalimantan, terutama di tempat-tempat di mana kesultanan Islam berkembang. Dahulu songket umum dikenakan para bangsawan kerajaan sebagai sarung pendek untuk pria, dipadu dengan celana panjang, dan sebagai sarung panjang untuk wanita yang dipadukan blus panjang. Bermotif alam dan nilai Islam, kain songket umumnya melambangkan ketaqwaan, budi pekerti, kerukunan. Motif bunga cengkih secara khusus bermakna kasih sayang & lemah lembut. Sementara, motif Pucuk Rebung melambangkan pertumbuhan dan harapan. Songket dari Kesultanan Siak Indrapura ini dibuat pada awal abad ke-20 dengan bahan sutra.

Songket is a woven fabric with gold or silver thread from the Malay tradition in Sumatra. Besides being found in Riau, Palembang, and Minang (West Sumatra), songket can also be found in Makassar, Sulawesi, Lombok, and Kalimantan, especially in places where Islamic sultanates flourished. In the past, songket was commonly worn by royal nobles as a short sarong for men, combined with trousers, and as a long sarong for women combined with a long blouse. With natural motifs and Islamic values, songket cloth generally symbolizes piety, good character, and harmony. The clove flower motif in particular signifies compassion and gentleness. Meanwhile, the Pucuk Rebung motif symbolizes growth and hope. This songket from the Siak Indrapura Sultanate was made in the early 20th century from silk.

5. Batik Bangbangan (Batavia (Jakarta))

Kain Panjang Batik Bangbangan pada dasarnya merupakan motif batik khas dari pesisir utara Jawa, seperti Rembang dan Cirebon. Nama “bangbangan” berasal dari kata bang/abang yang berarti merah, sesuai warna yang mendominasi batik ini. Kain ini dibuat menggunakan katun pabrikan dengan pewarna organik melalui teknik batik tulis tangan dan pewarnaan celup (vat-dyed), menghasilkan warna merah hati gelap yang khas dengan penetrasi warna yang dalam dan halus. Secara visual, motifnya menampilkan pola dekoratif yang tidak umum dalam tradisi batik Jawa, menyerupai lambang heraldik atau coat-of-arms Eropa, menunjukkan pengaruh budaya Belanda dalam perkembangan batik Batavia. Komposisi motif yang simetris dan elegan menjadikan kain ini bukan hanya indah secara visual, tetapi juga merekam pertemuan antara tradisi lokal dan pengaruh kolonial dalam sejarah wastra Nusantara.

The Bangbangan Batik Long Cloth is essentially a typical batik motif from the north coast of Java, such as Rembang and Cirebon. The name “bangbangan” comes from the word bang/abang which means red, according to the color that dominates this batik. This cloth is made using manufactured cotton with organic dyes through hand-written batik and vat-dyed techniques, resulting in a distinctive dark red color with deep and subtle color penetration. Visually, the motif displays decorative patterns that are uncommon in the Javanese batik tradition, resembling European heraldic symbols or coats-of-arms, showing the influence of Dutch culture in the development of Batavia batik. The symmetrical and elegant composition of the motif makes this cloth not only visually beautiful, but also records the encounter between local traditions and colonial influences in the history of Indonesian textiles.

6. Batik Garut Merak Ngibing (Sunda – Garut, Jawa Barat)

Kain Panjang Batik dari Garut dikenal melalui karakter warnanya yang cerah, goresan motif yang ekspresif, serta komposisi yang hidup dan dinamis dibandingkan batik keraton Jawa. Salah satu motif yang paling populer adalah Merak Ngibing atau “burung merak menari”, yang menampilkan bentuk merak dengan garis-garis melengkung dan mengalir untuk menggambarkan keanggunan gerak dan keindahan alam. Batik ini dibuat menggunakan kain katun pabrikan dengan pewarna kimia melalui teknik batik tulis tangan, vat-dyed, dan direct-dyed, menghasilkan warna-warna kuat yang menjadi ciri khas batik Garut. Secara visual, motif Merak Ngibing melambangkan keindahan, kemegahan, dan vitalitas, sementara variasi pola yang terus berkembang menunjukkan kreativitas para perajin Garut dalam mempertahankan tradisi sekaligus menyesuaikan diri dengan selera pasar dari masa ke masa.

Kain Panjang Batik from Garut is known for its bright colors, expressive strokes, and lively and dynamic composition compared to Javanese palace batik. One of the most popular motifs is Merak Ngibing or “dancing peacock,” which features a peacock with curved and flowing lines to depict the elegance of movement and the beauty of nature. This batik is made using manufactured cotton fabric with chemical dyes through hand-drawn, vat-dyed, and direct-dyed batik techniques, resulting in the strong colors that are characteristic of Garut batik. Visually, the Merak Ngibing motif symbolizes beauty, splendor, and vitality, while the ever-evolving pattern variations demonstrate the creativity of Garut artisans in maintaining tradition while adapting to market tastes over time.

7. Sarong Batik, San Lok (Jawa, Tionghoa, dan Eropa – Pekalongan, Jawa Tengah)

Sarung Batik San Lok dari Pekalongan memperlihatkan percampuran budaya Jawa, Tionghoa, dan Eropa yang berkembang di kota pesisir tersebut pada masa kolonial. Dibuat menggunakan katun pabrikan dan pewarna kimia melalui teknik batik tulis tangan serta vat-dyed, kain ini didominasi nuansa biru dan hijau yang dalam tradisi Tionghoa-Indonesia digunakan para wanita sebagai warna berkabung setelah upacara pemakaman, menggantikan warna putih yang dipakai saat prosesi utama. Dalam tradisi tersebut, tahapan berkabung berlangsung hingga dua tahun melalui perubahan gradasi warna pakaian. Secara visual, kain ini menampilkan motif bunga bergaya Eropa yang lembut dan dekoratif, sehingga diperkirakan juga dibuat untuk perempuan Belanda pada masa kolonial sebagai busana berkabung. Kehadiran elemen flora Eropa pada komposisi batik pesisir ini menunjukkan bagaimana Pekalongan berkembang sebagai pusat pertemuan budaya dan eksperimen visual dalam sejarah batik Nusantara.

The San Lok Batik Sarong from Pekalongan showcases the blend of Javanese, Chinese, and European cultures that flourished in the coastal city during the colonial era. Made from manufactured cotton and chemical dyes through hand-drawn and vat-dyed batik techniques, the fabric is dominated by shades of blue and green, which in Chinese-Indonesian tradition are worn by women as mourning colors after funerals, replacing the white worn during the main procession. In this tradition, the mourning period lasts for up to two years, with the clothing changing in color. Visually, the fabric features soft, decorative European-style floral motifs, suggesting it was also designed for Dutch women during the colonial era as mourning attire. The presence of European floral elements in the composition of this coastal batik demonstrates how Pekalongan developed as a center of cultural confluence and visual experimentation in the history of Indonesian batik.

8. Songket Jembrana (Bali – Jembrana, Bali)

Wastra Songket dari Jembrana menampilkan komposisi motif yang kaya simbolisme melalui perpaduan naga kosmis bermahkota, bunga teratai, dan deretan “pohon kehidupan” geometris pada bagian ujung kain. Dibuat dari sutra dengan pewarna kimia serta benang emas dan perak melalui teknik tenun polos dan pakan tambahan, kain ini menghadirkan permukaan tekstil yang mewah dengan detail pola yang halus dan berlapis. Dalam tradisi visual Nusantara, naga melambangkan kekuatan kosmis dan perlindungan, sementara bunga teratai merepresentasikan kesucian dan keseimbangan spiritual. Deretan pohon kehidupan pada bagian tepi menjadi simbol kesinambungan hidup dan hubungan antara manusia, alam, dan dunia spiritual. Warna dasar merah anggur yang lembut memperkuat kilau benang emas, menciptakan kontras elegan yang menunjukkan kemegahan sekaligus kehalusan estetika songket Bali.

Jembrana’s Songket textiles feature a richly symbolized motif composition, featuring a crowned cosmic dragon, lotus flowers, and rows of geometric “trees of life” at the edges of the fabric. Crafted from chemically dyed silk and gold and silver threads using a plain weave and overweft technique, the fabric presents a luxurious textile surface with delicate, layered pattern details. In the Indonesian archipelago’s visual tradition, the dragon symbolizes cosmic power and protection, while the lotus flower represents purity and spiritual balance. Rows of trees of life at the edges symbolize the continuity of life and the connection between humans, nature, and the spiritual world. The soft burgundy base color enhances the shimmer of the gold threads, creating an elegant contrast that demonstrates the grandeur and subtle aesthetics of Balinese songket.

9. Dodot (Sasak – Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat)

Dodot dari West Lombok merupakan kain songket yang memperlihatkan kuatnya pengaruh budaya Bali dalam tradisi tekstil Lombok bagian barat. Dibuat dari katun dengan tambahan benang perak melalui teknik plain weave dan supplementary weft, kain ini dikenal melalui pola zigzag berlapis yang menyerupai aliran air, di antara rangkaian motif bunga yang tampak mengapung secara dekoratif. Dalam tradisi visual Jawa dan Bali, motif zigzag sering dimaknai sebagai representasi air, simbol kehidupan, kesuburan, dan aliran energi alam. Kilau benang perak pada permukaan kain memperkuat kesan dinamis dan elegan, sementara komposisi floralnya menghadirkan keseimbangan antara unsur alam dan simbol kosmologis yang menjadi ciri penting wastra di kawasan Nusantara bagian timur.

Dodot from West Lombok is a songket fabric that demonstrates the strong influence of Balinese culture in the textile traditions of western Lombok. Made from cotton with the addition of silver thread through a plain weave and supplementary weft technique, this fabric is known for its layered zigzag pattern that resembles flowing water, among a series of decorative floating floral motifs. In Javanese and Balinese visual traditions, the zigzag motif is often interpreted as a representation of water, a symbol of life, fertility, and the flow of natural energy. The shimmer of silver thread on the fabric’s surface enhances the dynamic and elegant impression, while its floral composition creates a balance between natural elements and cosmological symbols that is an important characteristic of textiles in the eastern Indonesian archipelago.

10. Sarung Perempuan Rote (Rote – Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur)

Wastra tenun dari Rote Island dan kawasan Timor memperlihatkan keragaman visual yang berkembang dari berbagai kelompok masyarakat di pulau tersebut, masing-masing dengan karakter motif dan teknik yang berbeda. Kain-kain ini umumnya dibuat menggunakan teknik ikat lungsi dan pakan tambahan untuk menghasilkan pola yang padat, rumit, dan kaya narasi visual. Secara komposisional, beberapa kain menampilkan garis-garis panjang yang membingkai bagian tengah berisi motif belah ketupat saling terhubung, sementara kain lain menghadirkan figur manusia menunggang kuda, duduk di kursi, hingga bentuk-bentuk hewan imajinatif yang disusun secara bebas dan dekoratif. Motif-motif tersebut tidak hanya berfungsi sebagai ornamen, tetapi juga merekam kehidupan sosial, status, hubungan dengan leluhur, dan pandangan kosmologis masyarakat Timor dan Rote. Dibuat dari benang kapas dengan proses tenun manual yang kompleks, wastra ini menunjukkan bagaimana tekstil di Nusa Tenggara menjadi medium penting untuk menyimpan cerita, identitas, dan ingatan budaya lintas generasi.

Woven textiles from Rote Island and the Timor region demonstrate the evolving visual diversity of the island’s diverse communities, each with distinctive motifs and techniques. These fabrics are typically made using warp and weft ikat techniques to produce dense, intricate patterns rich in visual narrative. Compositionally, some fabrics feature long lines framing a centerpiece containing interconnected rhombus motifs, while others depict human figures riding horses, sitting on chairs, and even imaginative animal forms arranged in a free and decorative manner. These motifs serve not only as ornaments but also capture the social life, status, relationships with ancestors, and cosmological views of the Timorese and Roteese peoples. Crafted from cotton yarn through a complex manual weaving process, these textiles demonstrate how textiles in Nusa Tenggara serve as a vital medium for preserving stories, identities, and cultural memories across generations.

11. Sarung Martapura (Kalimantan Selatan)

Sarung dari Martapura menampilkan karakter wastra yang kaya ornamen melalui perpaduan kain wol berwarna biru gelap dengan sulaman tangan menggunakan benang wol, benang emas, cakram logam perak, tali kulit kayu, dan lapisan katun di bagian dalam. Secara visual, cakram-cakram logam yang berkilau di atas permukaan kain menciptakan kesan menyerupai bintang di langit malam, memberikan dimensi cahaya yang kontras terhadap tekstur sulaman yang kasar dan padat. Kombinasi material tekstil dan elemen logam ini menunjukkan pengaruh estetika lokal Kalimantan yang dekat dengan simbol alam dan kemewahan dekoratif. Selain berfungsi sebagai busana adat, sarung ini juga merepresentasikan status sosial dan keterampilan kerajinan tangan yang tinggi melalui detail bordir manual dan penggunaan material yang beragam dalam satu komposisi kain.

The sarong from Martapura displays the richly ornamented character of traditional textiles through a combination of dark blue wool fabric with hand-embroidered wool thread, gold thread, silver metal discs, bark rope, and a cotton lining on the inside. Visually, the shiny metal discs on the surface of the fabric create the impression of stars in the night sky, providing a contrasting dimension of light against the rough and dense texture of the embroidery. This combination of textile materials and metal elements demonstrates the influence of local Kalimantan aesthetics that are close to symbols of nature and decorative luxury. Besides functioning as traditional clothing, this sarong also represents high social status and handicraft skills through detailed manual embroidery and the use of diverse materials in one fabric composition.

12. Kalambi (Dayak Iban – Sintang, Kalimantan Barat)

Kalambi adalah pakaian adat dari Suku Dayak di Kalimantan berupa jaket atau rompi (tanpa lengan). Kalambi biasanya dikenakan oleh laki-laki untuk memimpin ritual, juga oleh perempuan penting di dalam suku. Material yang digunakan beragam: kalambi bisa terbuat dari kulit kayu, tenun, atau kain berhias manik-manik. Kalambi dari Suku Dayak Iban ini dibuat dengan menggunakan teknik tenun yang unik. Motifnya dibentuk dari tenunan dasar, sementara pakan tambahan berupa benang berwarna-warni justru mengisi latar belakang. Motif bunga sidan pada kalambi biasanya melambangkan keanggunan, keberanian, serta keselarasan manusia dan alam.

Kalambi is the traditional clothing of the Dayak people of Kalimantan, consisting of a sleeveless jacket or vest. Kalambi is typically worn by men to lead rituals, as well as by important women within the tribe. Materials used vary: kalambi can be made from bark, woven fabric, or beaded fabric. The Iban Dayak kalambi is made using a unique weaving technique. The motif is formed from the base weave, while additional colored weft threads fill the background. The sidan flower motif on the kalambi typically symbolizes elegance, courage, and the harmony of humans and nature.

13. Kain Songket Sambas (Melayu – Sambas, Kalimantan Barat)

Songket Sambas adalah kain tenun dari Kalimantan Barat yang merupakan hasil perpaduan budaya Melayu, Tionghoa, India, dan Dayak pesisir. Seperti songket dari Sumatra, penggunaan benang emas atau perak menjadi ciri khas songket ini dengan pola yang terinspirasi dari nilai Islam dan alam, khususnya pola floral. Motif bunga melur/melati melambangkan kesucian, kesopanan, dan keanggunan. Selain di Sambas, songket dari Kalimantan bisa ditemukan juga di Ketapang dan Pontianak. Dalam tradisi tenun Sambas, benang emas lama sangat dihargai karena ringan, kuat, dan memiliki warna yang tahan lama tanpa mudah pudar, meskipun kini jenis benang tersebut sudah sulit ditemukan di pasaran. Saat ini para perajin umumnya menggunakan benang emas dari Jepang dan India, masing-masing dengan kualitas yang berbeda; benang Jepang dikenal lebih halus, tahan lama, dan stabil warnanya, sedangkan benang India memiliki tekstur lebih kasar dan warna yang lebih mudah berubah. Ditenun secara manual melalui teknik pakan tambahan di atas dasar kain sutra atau katun, kilau benang emas pada Songket Sambas tidak hanya menciptakan kesan mewah, tetapi juga merepresentasikan nilai prestise, keterampilan perajin, dan kesinambungan tradisi tekstil Melayu di Kalimantan Barat.

Sambas songket is a woven fabric from West Kalimantan that is a blend of Malay, Chinese, Indian, and coastal Dayak cultures. Like songket from Sumatra, the use of gold or silver thread is a characteristic of this songket, with patterns inspired by Islamic values ​​and nature, particularly floral patterns. The melur/jasmine flower motif symbolizes purity, modesty, and elegance. Besides Sambas, songket from Kalimantan can also be found in Ketapang and Pontianak. In the Sambas weaving tradition, old gold thread is highly valued for its lightness, strength, and long-lasting color that does not easily fade, although this type of thread is now difficult to find in the market. Today, artisans generally use gold thread from Japan and India, each with different qualities; Japanese thread is known to be smoother, more durable, and color-stable, while Indian thread has a coarser texture and color changes more easily. Hand-woven using an additional weft technique on a silk or cotton base, the sheen of gold thread on Sambas Songket not only creates a luxurious impression, but also represents the prestige, craftsmanship, and continuity of Malay textile traditions in West Kalimantan.

14. Kain Sekomandi (Kalumpang – Mamuju, Sulawesi Barat)

Kain Sekomandi dari Mamuju merupakan tenun tradisional yang digunakan dalam berbagai upacara adat masyarakat Kalumpang. Dipercaya telah hadir sejak lebih dari 400 hingga hampir 500 tahun lalu, menjadikannya salah satu tradisi tenun tertua di Sulawesi Barat. Kain ini dianggap memiliki kekuatan magis dan awalnya hanya dipakai untuk membatasi ruang upacara, menutupi mayat, membayar denda, atau seserahan pengantin. Nama “Sekomandi” ditafsirkan dari kata “seko” yang berarti persaudaraan atau kekeluargaan, dan “mandi” yang berarti kuat dan erat—membentuk makna tentang ikatan persaudaraan yang erat dalam kehidupan masyarakat adat Kalumpang. Dibuat menggunakan teknik ikat lungsi, ragam hiasnya yang terdiri dari jaringan belah ketupat (irisan wajik) berkait-kait relatif statis. Konon, untuk memperoleh warna merah khas kain sekomandi itu larutan pewarna merah dicampuri cabe yang telah digerus halus.

Sekomandi cloth from Mamuju is a traditional weaving used in various Kalumpang ceremonies. It is believed to have existed for over 400 to nearly 500 years, making it one of the oldest weaving traditions in West Sulawesi. This cloth is considered to have magical powers and was originally used only to demarcate ceremonial spaces, cover corpses, pay fines, or as a bridal gift. The name “Sekomandi” is interpreted from the words “seko,” meaning brotherhood or kinship, and “mandi,” meaning strong and close—conveying the meaning of the strong bonds of brotherhood in the lives of the Kalumpang indigenous people. Created using the ikat warp technique, its decorative motifs, consisting of a network of interlocking rhombuses (diamond-shaped slices), remain relatively static. It is said that to obtain the distinctive red color of sekomandi cloth, finely ground chili peppers are mixed with the red dye solution.

15. Kalimbu Gambara Subik (Bugis – Bira/Selayar, Sulawesi Selatan)

Kalimbu Gambara Subik dari Bira-Selayar merupakan kain tenun tradisional yang memiliki fungsi penting dalam siklus kehidupan masyarakat setempat, digunakan saat kelahiran, pernikahan, dan kematian. Kain ini dibuat dari benang kapas pintal tangan dan mesin dengan pewarna organik maupun kimia melalui teknik tenun polos dan pakan tambahan, menghasilkan permukaan tekstil dengan pola dekoratif yang sederhana namun sarat makna ritual. Secara tradisional, kain ini pertama kali digunakan sebagai selimut saat kelahiran, kemudian sebagai kain penutup pengantin, dan terakhir untuk menyelimuti jenazah. Setelah digunakan dalam prosesi kematian, bagian ujung kain dijahit kembali sehingga kain tersebut tidak boleh lagi dipakai untuk kelahiran maupun pernikahan. Tradisi ini menunjukkan bagaimana wastra di Sulawesi Selatan tidak hanya berfungsi sebagai pakaian atau benda seremonial, tetapi juga sebagai penanda perjalanan hidup manusia dari lahir hingga meninggal dunia. Filosofinya menekankan keseimbangan, religiusitas, dan hubungan harmonis antara manusia dengan sesama dan dengan Tuhan. Motif kotak-kotak atau garis horizontal-vertikal dibaca sebagai simbol keteraturan hidup dan keseimbangan kosmos.

Kalimbu Gambara Subik from Bira-Selayar is a traditional woven fabric that plays a vital role in the local life cycle, worn at births, weddings, and deaths. It is made from hand- and machine-spun cotton yarn with organic and chemical dyes through plain weaving and weft weaving techniques, resulting in a textile surface with simple decorative patterns yet rich in ritual meaning. Traditionally, this fabric was first used as a birth blanket, then as a bridal veil, and finally to shroud the body. After being used in a funeral procession, the edges of the fabric are sewn back together so that it can no longer be used for births or weddings. This tradition demonstrates how textiles in South Sulawesi serve not only as clothing or ceremonial objects, but also as markers of the human journey from birth to death. Its philosophy emphasizes balance, religiosity, and harmonious relationships between humans and God. Checkered or horizontal-vertical striped motifs are interpreted as symbols of order in life and cosmic balance.

16. Kain Koffo (Sangihe–Talaud – Sulawesi Utara)

Kain Koffo dari tradisi Sangihe dan Talaud merupakan tekstil tradisional yang dibuat dari serat Musa textilis atau serat koffo, sejenis tanaman pisang yang diolah menjadi benang tenun. Menggunakan pewarna organik serta teknik plain weave dan supplementary weft, kain ini menampilkan pola dekoratif yang rumit dan ornamental, yang diperkirakan terinspirasi dari buku bordir Eropa akibat pengaruh perdagangan dan pertemuan budaya di kawasan kepulauan tersebut. Secara visual, motifnya menghadirkan komposisi geometris dan floral yang padat dengan detail halus pada permukaan kain. Dalam tradisi berpakaian bangsawan, kain koffo digunakan sebagai penutup kepala atau busana adat oleh putra raja, sementara putri raja memakainya sebagai sarung atau selendang. Seiring berkembangnya waktu, warga menggunakannya sebagai tirai pembatas ruang dalam rumah tradisional masyarakat Sangihe-Talaud, menunjukkan bahwa wastra di wilayah ini tidak hanya berfungsi sebagai pakaian, tetapi juga menjadi bagian penting dari elemen interior dan kehidupan domestik masyarakat pesisir Nusantara.

Koffo cloth from the Sangihe and Talaud traditions is a traditional textile made from Musa textilis fiber or koffo fiber, a type of banana plant that is processed into woven yarn. Using organic dyes and plain weave and supplementary weft techniques, this cloth displays intricate and ornamental decorative patterns, which are thought to be inspired by European embroidery books due to the influence of trade and cultural encounters in the archipelago region. Visually, the motifs present dense geometric and floral compositions with fine details on the surface of the cloth. In the tradition of noble attire, koffo cloth is used as a head covering or traditional clothing by the king’s sons, while the king’s daughters wear it as a sarong or shawl. Over time, residents use it as a room divider curtain in the traditional houses of the Sangihe-Talaud people, showing that wastra in this region does not only function as clothing, but also becomes an important part of the interior elements and domestic life of the coastal communities of the archipelago.

17. Kain Tenun Tanimbar (Tanimbar – Kepulauan Maluku)

Kain Tenun Tanimbar dari dikenal melalui komposisi geometris yang ritmis dengan penggunaan teknik ikat lungsi yang menjadi ciri khas tekstil di kawasan Kepulauan Maluku. Secara visual, kain ini menampilkan susunan garis-garis tipis berisi motif geometris sederhana dan sulur dekoratif yang diselingi bidang lebih lebar dengan pola yang lebih kompleks, menciptakan keseimbangan antara keteraturan dan variasi ornamen. Pada umumnya kainnya berwarna gelap dengan ragam hias berwarna asli benang sebelum dicelup dengan sentuhan berupa garis-garis berwarna merah darah, biru batu pirus ataupun kuning. Dibuat melalui proses tenun manual yang membutuhkan ketelitian tinggi dalam pengikatan dan pewarnaan benang sebelum ditenun, motif-motif pada kain Tanimbar merepresentasikan keterhubungan masyarakat dengan alam, struktur sosial, dan tradisi leluhur yang diwariskan turun-temurun. Kesederhanaan bentuk geometrisnya sekaligus menunjukkan karakter estetika tekstil Maluku yang halus, terukur, dan dekat dengan pola-pola simbolik dalam kehidupan masyarakat kepulauan.

Tanimbar woven cloth is known for its rhythmic geometric compositions using the ikat warp technique, a characteristic of textiles in the Maluku Islands region. Visually, this cloth displays an arrangement of thin lines containing simple geometric motifs and decorative tendrils interspersed with wider areas with more complex patterns, creating a balance between regularity and ornamental variation. In general, the cloth is dark in color with decorative motifs that are the original color of the yarn before being dyed with touches of blood red, turquoise blue, or yellow stripes. Created through a manual weaving process that requires high precision in tying and dyeing the yarn before weaving, the motifs on Tanimbar cloth represent the community’s connection with nature, social structures, and ancestral traditions passed down from generation to generation. The simplicity of its geometric forms also demonstrates the aesthetic character of Maluku textiles which are refined, measured, and close to the symbolic patterns in the lives of island communities.

18. Kain Tenun Kisar (Suku Meher, Suku Oirata – Pulau Kisar, Kepulauan Maluku)

Berasal dari Pulau Kisar di Maluku, kain Kisar dibuat dengan teknik ikat lungsi. Coraknya berupa garis-garis halus diselingi jalur-jalur lebar berisi ornamen yang terinspirasi dari kain Patola dari India melalui pola geometris dan komposisi simetris. Terkadang juga menampilkan adegan manusia berburu, naik kuda, burung berkepala dua dan ayam jago, seperti lukisan prasejarah yang ditemukan di dinding gua-gua cadas pulau tersebut. Ragam simbol tersebut merepresentasikan keberanian, status sosial, perlindungan, serta hubungan spiritual masyarakat kepulauan dengan alam dan leluhur. Warna merah merepresentasikan tanah Kisar, sementara hitam menjadi simbol kesatuan dengan bumi. Dibuat melalui proses pengikatan dan pewarnaan benang sebelum ditenun, kain Kisar menunjukkan bagaimana jalur perdagangan antarpulau membentuk perkembangan visual wastra Maluku tanpa menghilangkan identitas budaya lokal yang kuat.

Originating from Kisar Island in Maluku, Kisar cloth is made using the ikat warp technique. Its pattern consists of fine lines interspersed with wide bands of ornamentation inspired by India’s Patola cloth through geometric patterns and symmetrical compositions. It sometimes also features scenes of humans hunting, riding horses, two-headed birds, and roosters, similar to prehistoric paintings found on the walls of the island’s rock caves. These symbols represent courage, social status, protection, and the islanders’ spiritual connection to nature and ancestors. Red represents the land of Kisar, while black symbolizes unity with the earth. Created through a process of tying and dyeing yarn before weaving, Kisar cloth demonstrates how inter-island trade routes shaped the visual development of Maluku textiles without diminishing their strong local cultural identity.

19. Kain Timur (Maybrat – Sorong, Papua Barat Daya)

Berasal dari Papua Barat, Kain Timur dibuat menggunakan teknik ikat lungsi yang diperkenalkan oleh pendatang dari Timor dan Flores, di mana polanya dibuat dengan mewarnai benang vertikal (lungsi) sesuai motif akhir sebelum ditenun oleh karenanya sering juga disebut sebagai Kain Ikat Lungsi. Oleh karenanya, terdapat kemiripan motif dengan yang ditemukan di Nusa Tenggara melalui pola geometris berulang dan susunan garis yang ritmis, menunjukkan adanya hubungan budaya dan jalur migrasi antarkepulauan di Indonesia timur. Warna merah biasanya melambangkan keberanian dan pengorbanan, warna hitam mengandung arti perlindungan dan kekuatan, sedangkan warna putih melambangkan kesucian dan niat baik. Kain Timur biasa digunakan sebagai ritus atau bagian dari alat upacara adat, mahar kawin, atau denda adat, menjadi lambang persatuan dan perdamaian. Di beberapa tempat digunakan juga sebagai alat pembayaran.

Originating from West Papua, Kain Timur is made using the ikat warp technique introduced by immigrants from Timor and Flores, where the pattern is created by dyeing vertical threads (warp) according to the final motif before being woven, therefore it is often also called Kain Ikat Lungsi. Therefore, there are similarities in motifs with those found in Nusa Tenggara through repetitive geometric patterns and rhythmic line arrangements, indicating cultural connections and migration routes between the islands of eastern Indonesia. The color red usually symbolizes courage and sacrifice, black contains the meaning of protection and strength, while white symbolizes purity and good intentions. Kain Timur is usually used as a ritual or part of traditional ceremonial tools, wedding dowries, or customary fines, becoming a symbol of unity and peace. In some places it is also used as a means of payment.

20. Kain Palepai (Saibatin/Peminggir – Lampung Selatan)

Kain Palepai merupakan wastra tradisional masyarakat pesisir Lampung. Dalam tradisi Lampung, motif perahu dan pohon hayat juga sering dibaca sebagai simbol perjalanan hidup manusia dan keterhubungan antara dunia nyata dan alam luhur. Pada masa awal, simbol kapal juga dipahami sebagai kendaraan roh; setelah pengaruh Islam menguat, maknanya bergeser menjadi simbol perjuangan, keteguhan iman, dan arah hidup. Figur-figur di sekitar kapal menegaskan keterhubungan masyarakat pesisir dengan alam, leluhur, dan tatanan sosial. Kain ini digunakan dalam berbagai upacara adat penting seperti pernikahan, kelahiran, hingga kematian, menjadikannya bagian penting dalam siklus kehidupan masyarakat Lampung. Palepai ditenun menggunakan teknik tradisional dengan pewarna alami seperti kayu sepang untuk merah, kunyit untuk kuning, dan indigo untuk biru, menghasilkan warna-warna hangat yang erat dengan alam dan tradisi lokal. Selain berfungsi sebagai kain seremonial, Palepai juga merepresentasikan status sosial dan nilai kosmologis dalam budaya Lampung.

Palepai cloth is a traditional textile of the coastal communities of Lampung. In Lampung tradition, the boat and tree of life motifs are often interpreted as symbols of the human journey and the connection between the real world and the sublime. In early times, the ship symbol was also understood as a vehicle for the spirit; after the influence of Islam strengthened, its meaning shifted to symbolize struggle, steadfastness of faith, and direction in life. The figures surrounding the ship emphasize the connection of coastal communities to nature, ancestors, and the social order. This cloth is used in various important traditional ceremonies such as weddings, births, and deaths, making it an essential part of the Lampung life cycle. Palepai is woven using traditional techniques with natural dyes such as sepang wood for red, turmeric for yellow, and indigo for blue, producing warm colors closely associated with nature and local traditions. In addition to its function as a ceremonial cloth, Palepai also represents social status and cosmological values ​​in Lampung culture.

21. Kain Tampan (Saibatin/Peminggir – Danau Ranau, Lampung)

Kain Tampan atau *Ship Cloth* dari Lampung merupakan kain seremonial tradisional yang memiliki fungsi penting dalam berbagai ritual adat masyarakat Lampung. Nama “tampan” berarti nampan atau alas sajian, karena kain ini dahulu digunakan untuk menutup hadiah, alas baki persembahan, hingga bagian dari ritual pernikahan, khitanan, kelahiran, pembangunan rumah adat, dan prosesi kematian. Dibuat dari kapas pintal tangan dengan pewarna organik melalui teknik plain weave dan supplementary weft, kain ini dikenal melalui motif kapal yang khas sebagai simbol perjalanan hidup, perjalanan spiritual, dan hubungan manusia dengan dunia leluhur. Kehadiran simbol kapal juga merefleksikan budaya maritim masyarakat Lampung yang erat dengan laut dan jalur perdagangan antarpulau. Secara visual, motif kapal biasanya dipadukan dengan susunan geometris dan ornamen simbolik lain yang tersusun simetris di permukaan kain. Kain Tampan tidak lagi diproduksi sejak awal abad ke-20, menjadikannya salah satu wastra penting yang menyimpan jejak kosmologi dan tradisi ritual masyarakat Lampung masa lalu.

Tampan Cloth or Ship Cloth from Lampung is a traditional ceremonial cloth that has an important function in various traditional rituals of the Lampung people. The name “tampan” means tray or serving mat, because this cloth was once used to cover gifts, place offering trays, and even as part of wedding rituals, circumcisions, births, traditional house construction, and death processions. Made from hand-spun cotton with organic dyes through plain weave and supplementary weft techniques, this cloth is known for its distinctive ship motif as a symbol of life’s journey, spiritual journey, and human connection with the ancestral world. The presence of the ship symbol also reflects the maritime culture of the Lampung people who are closely related to the sea and inter-island trade routes. Visually, the ship motif is usually combined with geometric arrangements and other symbolic ornaments arranged symmetrically on the surface of the cloth. Tampan cloth is no longer produced since the early 20th century, making it one of the important textiles that preserves traces of the cosmology and ritual traditions of the Lampung people of the past.

22. Batik Lokcan (Jawa Pesisir, Tionghoa – Lasem, Rembang, Jawa Tengah)

Motif Lokcan dari Lasem merupakan salah satu pola batik pesisir yang berkembang kuat di sepanjang pantai utara Jawa melalui pertemuan budaya Jawa dan Tionghoa. Secara visual, motif ini dikenal melalui susunan ornamen yang rumit dengan representasi stilisasi alam seperti bunga teratai, burung, awan, serta bentuk-bentuk dekoratif abstrak yang kaya detail. Pengaruh estetika Tionghoa terlihat jelas pada komposisi yang padat dan simbolik, sementara teknik dan struktur batiknya tetap berakar pada tradisi Jawa pesisir. Dalam maknanya, motif-motif Lokcan melambangkan keberuntungan, kemakmuran, umur panjang, dan harmoni hidup, nilai-nilai yang penting dalam budaya Jawa maupun Tionghoa. Dibuat menggunakan teknik batik tulis dengan warna-warna khas pesisir yang berani dan kontras seperti biru, putih, krem, dan merah, motif Lokcan menjadi salah satu contoh penting bagaimana perdagangan dan migrasi membentuk identitas visual batik Nusantara.

The Lokcan motif from Lasem is a coastal batik pattern that developed strongly along the north coast of Java through the intersection of Javanese and Chinese cultures. Visually, this motif is known for its intricate ornamental arrangements with stylized representations of nature such as lotus flowers, birds, and clouds, as well as richly detailed abstract decorative forms. The influence of Chinese aesthetics is evident in the dense and symbolic compositions, while the batik technique and structure remain rooted in coastal Javanese traditions. In their meaning, Lokcan motifs symbolize good luck, prosperity, longevity, and harmony—values ​​important in both Javanese and Chinese cultures. Created using the batik tulis technique with bold, contrasting coastal colors such as blue, white, cream, and red, the Lokcan motif serves as a key example of how trade and migration shaped the visual identity of Indonesian batik.

23. Peksi Jawata (Jawa – Surakarta, Jawa Tengah)

Motif Peksi Jawata dari Surakarta merupakan motif kontemporer yang berkembang dalam seni batik dan tenun Jawa dengan menghadirkan figur burung sebagai elemen utama. Dalam bahasa Jawa, “peksi” berarti burung, sedangkan “jawata” merujuk pada makhluk spiritual atau sosok berkekuatan luhur, sehingga motif ini melambangkan hubungan antara dunia manusia dan dunia spiritual. Secara visual, Peksi Jawata biasanya digambarkan melalui bentuk burung yang anggun dan dekoratif dengan detail sayap, ekor, serta ornamen tumbuhan yang kaya simbolisme. Dalam budaya Jawa, burung dipandang sebagai simbol kemuliaan, kebebasan jiwa, kesucian, dan kewibawaan, sementara keseluruhan motifnya juga dimaknai sebagai doa akan perlindungan, keselamatan, dan berkah bagi pemakainya. Umumnya digunakan dalam upacara adat dan ritual budaya, motif Peksi Jawata menunjukkan bagaimana tradisi visual Jawa terus berkembang melalui interpretasi baru tanpa melepaskan akar filosofis dan spiritualnya.

The Peksi Jawata motif from Surakarta is a contemporary motif that has developed in Javanese batik and weaving art, featuring the figure of a bird as a central element. In Javanese, “peksi” means bird, while “jawata” refers to a spiritual being or figure of great power, thus symbolizing the connection between the human world and the spiritual world. Visually, Peksi Jawata is usually depicted through the form of a graceful and decorative bird with detailed wings, tail, and plant ornaments rich in symbolism. In Javanese culture, birds are seen as symbols of nobility, freedom of the soul, purity, and authority, while the overall motif is also interpreted as a prayer for protection, safety, and blessings for the wearer. Commonly used in traditional ceremonies and cultural rituals, the Peksi Jawata motif demonstrates how Javanese visual traditions continue to evolve through new interpretations without abandoning their philosophical and spiritual roots.

24. Pakis (Jawa – Mangkunegara, Surakarta, Jawa Tengah)

Motif Pakis dari lingkungan Pura Mangkunegaran merupakan salah satu motif populer dalam tradisi batik dan tenun Jawa yang terinspirasi dari bentuk tanaman pakis dengan daun melingkar dan meruncing. Secara visual, motif ini menghadirkan susunan sulur dan lengkung daun yang ritmis, menciptakan komposisi yang lembut sekaligus dinamis. Dalam budaya Jawa, tanaman pakis melambangkan pertumbuhan, kesuburan, keberlanjutan, serta keseimbangan hidup, karena kemampuannya tumbuh subur di berbagai lingkungan. Motif ini juga merepresentasikan hubungan harmonis antara manusia dan alam, di mana alam dipandang sebagai sumber kehidupan dan kemakmuran. Dalam konteks batik Mangkunegaran, motif-motif baru seperti Buketan Pakis juga mencerminkan semangat pembaruan tanpa meninggalkan pakem. Warna yang digunakan lebih cerah dan berani—menunjukkan kekhawasan batik Mangkunegaran—seperti cokelat sogan, kuning keemasan, hijau, dan biru. Umumnya digunakan dalam berbagai upacara adat maupun busana sehari-hari, motif Pakis menunjukkan bagaimana unsur flora lokal diterjemahkan menjadi simbol filosofis dalam estetika wastra Jawa.

The Pakis motif from the Mangkunegaran Palace is a popular motif in Javanese batik and weaving traditions, inspired by the fern plant’s circular, tapering leaves. Visually, this motif presents a rhythmic arrangement of tendrils and curved leaves, creating a composition that is both soft and dynamic. In Javanese culture, the fern symbolizes growth, fertility, sustainability, and balance, due to its ability to thrive in various environments. This motif also represents the harmonious relationship between humans and nature, where nature is seen as a source of life and prosperity. In the context of Mangkunegaran batik, new motifs such as Buketan Pakis also reflect the spirit of renewal without abandoning the traditional style. The colors used are brighter and bolder—showing the distinctiveness of Mangkunegaran batik—such as sogan brown, golden yellow, green, and blue. Commonly used in various traditional ceremonies and everyday clothing, the Pakis motif demonstrates how local floral elements are translated into philosophical symbols within the aesthetics of Javanese textiles.

25. Tenun Iban (Dayak Iban – Kalimantan Barat)

Kain tenun Iban dari Kalimantan Barat merupakan wastra tradisional masyarakat Dayak Iban yang dikenal melalui motif-motif asimetris dengan representasi figur manusia, flora, dan fauna dari lingkungan alam sekitarnya. Secara visual, pola pada tenun ikat Iban tampil ekspresif dan dinamis, mencerminkan hubungan erat masyarakat Dayak dengan alam, leluhur, dan kehidupan spiritual. Warna merah, hitam, kuning, putih, dan hijau menjadi palet dominan yang masing-masing memiliki makna simbolik terkait keberanian, perlindungan, kesucian, kesuburan, dan keseimbangan hidup. Kain ini umumnya dibuat dari serat alami seperti kapas atau serat daun melalui teknik ikat, di mana benang diikat dan diwarnai terlebih dahulu sebelum ditenun menggunakan pewarna alami dari tumbuhan dan akar-akaran. Selain berfungsi sebagai pakaian adat, tenun Iban juga menjadi penanda identitas budaya dan bagian penting dari tradisi ritual masyarakat Dayak di Kalimantan.

Iban woven cloth from West Kalimantan is a traditional textile of the Iban Dayak people, known for its asymmetrical motifs depicting human figures, flora, and fauna from their natural surroundings. Visually, the patterns in Iban ikat weaving are expressive and dynamic, reflecting the Dayak people’s close relationship with nature, ancestors, and spiritual life. Red, black, yellow, white, and green are the dominant colors, each with symbolic meanings related to courage, protection, purity, fertility, and balance in life. This cloth is generally made from natural fibers such as cotton or leaf fibers through an ikat technique, where the threads are tied and dyed before being woven using natural dyes from plants and roots. In addition to serving as traditional clothing, Iban weaving also serves as a marker of cultural identity and an important part of the ritual traditions of the Dayak people in Kalimantan.

26. Batik Sekar Jagad (Jawa – Solo, Jawa Tengah)

Batik Sekar Jagad berasal dari Solo dan Yogyakarta, dikenal sejak abad ke-18 sebagai motif batik klasik yang melambangkan keindahan dan keberagaman dunia. Nama “Sekar Jagad” berasal dari kata “sekar” yang berarti bunga dan “jagad” yang berarti semesta, meski ada pula pendapat yang mengaitkannya dengan kata kaart (peta dalam bahasa Belanda) karena pola kainnya menyerupai susunan pulau atau mosaik dunia. Secara visual, motif ini ditandai oleh bidang-bidang lengkung yang diisi ragam ornamen seperti kawung, truntum, flora, dan fauna, menciptakan komposisi yang kaya namun harmonis. Filosofinya merepresentasikan keberagaman manusia dan alam yang hidup berdampingan dalam keseimbangan. Batik Sekar Jagad umumnya dibuat dengan teknik batik tulis menggunakan kain katun atau sutra, serta warna-warna tradisional seperti sogan coklat, hitam, dan biru tua yang melambangkan kebijaksanaan, ketenangan, dan kedekatan dengan alam. Warna merah dan biru pada beberapa varian menunjukkan pengaruh budaya Cina.

Sekar Jagad batik originates from Solo and Yogyakarta, and has been known since the 18th century as a classic batik motif symbolizing the beauty and diversity of the world. The name “Sekar Jagad” comes from the words “sekar” meaning flower and “jagad” meaning universe, although some believe it is related to the word “kaart” (map in Dutch), as the pattern resembles an arrangement of islands or a mosaic of the world. Visually, this motif is characterized by curved areas filled with various ornaments such as kawung, truntum, flora, and fauna, creating a rich yet harmonious composition. Its philosophy represents the diversity of humans and nature coexisting in balance. Sekar Jagad batik is generally made using the hand-drawn batik technique on cotton or silk fabric, and traditional colors such as brown sogan, black, and dark blue symbolize wisdom, serenity, and closeness to nature. The red and blue colors in some variants indicate Chinese cultural influences.

27. Sawunggaling Latar Banyumili (Jawa – Surabaya, Jawa Timur)

Batik Sawunggaling merupakan motif batik Jawa yang menampilkan figur ayam jago sebagai simbol keberanian, kekuatan, dan semangat hidup. Dalam budaya Jawa, “sawung” merujuk pada ayam jantan dan “galing” berarti merak jantan yang dianggap merepresentasikan keberanian dalam menghadapi tantangan, daya hidup yang tidak mudah padam, serta keindahan. Pada varian Sawunggaling dengan latar Banyumili, figur ayam-merak biasanya dipadukan dengan ornamen alam seperti daun, bunga, dan elemen tumbuhan yang melambangkan harmoni antara manusia dan alam. Secara visual, motif ini dikenal sangat rinci dengan susunan pola yang padat dan dekoratif, sehingga proses pembuatannya melalui teknik batik tulis dapat memakan waktu hingga 6–7 bulan. Umumnya menggunakan kain katun atau sutra dengan warna-warna tradisional Jawa, Batik Sawunggaling banyak dipakai dalam upacara adat dan momen penting seperti pernikahan sebagai simbol harapan akan keberuntungan, keteguhan, dan kesejahteraan bagi pemakainya.

Sawunggaling batik is a Javanese batik motif featuring a rooster as a symbol of courage, strength, and zest for life. In Javanese culture, “sawung” refers to a rooster and “galing” means a peacock, which is considered to represent courage in facing challenges, an undying vitality, and beauty. In the Sawunggaling variant with a Banyumili background, the rooster and peacock figures are usually combined with natural ornaments such as leaves, flowers, and plant elements that symbolize harmony between humans and nature. Visually, this motif is known for its high detail with dense and decorative patterns, so the process of making it using the hand-drawn batik technique can take up to 6–7 months. Generally using cotton or silk fabric in traditional Javanese colors, Sawunggaling batik is often worn in traditional ceremonies and important moments such as weddings as a symbol of hope for good luck, steadfastness, and prosperity for the wearer.

28. Batik Nitik (Jawa – DI Yogyakarta)

Berasal dari DIY, motif nitik termasuk motif tertua yang berkembang di lingkungan Keraton Kasultanan Yogyakarta. Batik Nitik digambar menggunakan canting cawang yang cucuknya dibelah menjadi empat dan saat dioleskan menghasilkan titik-titik persegi seperti pola piksel. Teknik ini awalnya diciptakan untuk meniru tenun patola dari India yang mahal. Motif geometris yang modular dan simetris bermakna keteraturan relasi manusia, Tuhan, dan alam semesta. Dengan teknik menitik alih-alih menggores, dibutuhkan kesabaran dan ketelitian tinggi untuk membuat batik nitik, apalagi seringkali dibuat tanpa gambar pola terlebih dahulu. Maka tak heran bila batik nitik sering dianggap sebagai simbol keuletan dan ketekunan. Motif yang serupa dengan batik nitik, terutama yang terinspirasi dari tenun patola juga bisa ditemukan di Sumatera, Sumba, Bali

Originating from the Special Region of Yogyakarta (DIY), the nitik motif is one of the oldest motifs developed within the Yogyakarta Sultanate Palace. Nitik batik is drawn using a canting cawang (a type of hand-held pen) whose tip is split into four, creating square dots that resemble pixelated patterns. This technique was originally created to imitate the expensive patola weaving from India. The modular and symmetrical geometric motifs symbolize the orderly relationship between humans, God, and the universe. Using a dotting technique rather than a scratching technique, nitik batik requires great patience and precision, especially since it is often made without a prior pattern. It’s no wonder, then, that nitik batik is often seen as a symbol of tenacity and perseverance. Similar motifs to nitik batik, particularly those inspired by patola weaving, can also be found in Sumatra, Sumba, and Bali.

29. Pa’Doti Langi’ (Toraja – Sulawesi Selatan)

Pa’Doti Langi’ adalah motif ukiran utama dari Toraja, Sulawesi Selatan yang secara harfiah berarti “ilmu langit”. Motifnya berupa palang berjejer dengan bintang di tengah, seperti berasal dari langit. Motif ukiran ini sering ditemukan di rumah Tongkonan pusaka, atau pada usungan jenazah wanita bangsawan. Pa’Doti Langi’ menjadi simbol kepintaran atau prestasi, kearifan, ketenangan, serta cita-cita yang tinggi atau pemikiran yang jauh ke depan

Pa’Doti Langi’ is a primary carving motif from Toraja, South Sulawesi, which literally means “celestial knowledge.” The motif features a line of bars with a star in the center, as if originating from the heavens. This carving motif is often found in heirloom Tongkonan houses, or on the biers of noblewomen. Pa’Doti Langi’ symbolizes intelligence or achievement, wisdom, serenity, and lofty ideals or forward-thinking.

Reference:
[1] Judy Achjadi and Mariah Waworuntu, Adiwastra Nusantara: Masterpieces of the Islands, Jakarta: Himpunan Wastraprema & Dian Rakyat, 2010.
[2] Dhorifi Zumar, Tenun Tradisional Indonesia, Jakarta: Dewan Kerajinan Nasional bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah Departemen Perindustrian, 2009.
[3] Irawati Suroyo Bambang As., Isen-Isen: Dalam Batik Tati Suroyo – The Passion of Tati Suroyo, Jakarta: Ciriajasa Rancang Bangun, 2012.
[4] Fiona Kerlogue, The Book of Batik, Singapore: Archipelago Press, 2004.
[5] KRT Dr. H. Kalinggo Honggopuro (Prof. Kusnin Asa), Mosaic of Indonesian Batik, Jakarta: Danar Hadi, 1997.
[6] Damais, Asmoro. Wawancara oleh Realrich Sjarief. Wawancara pribadi. Jakarta, 31 Juli 2024.

Asmoro Damais

Asmoro Damais lahir dari pasangan pria prancis dan wanita Jawa pada 20 Mei 1948 di Amsterdam. Bernama asli Tatyana Griselidis Asmorodewi, ia tumbuh besar dalam lingkungan yang sarat dengan sejarah, seni, dan budaya. Ayahnya seorang sejarawan dan ibunya merupakan keturunan Keraton Yogyakarta. Ia sendiri belajar Bahasa Perancis di Paris sebelum akhirnya kembali ke Indonesia. Koleksi batik yang dikumpulkan kakaknya menjadi pemantik baginya untuk memulai penulusuran terhadap sejarah dari kain batik. Asmoro juga menunjukkan ketertarikan pada kebaya yang pada akhirnya turut mengantarkannya pada keberagaman wastra yang ada di penjuru nusantara. Sejak tahun 1970-an, ia sudah mulai merancang motif batik dan kini telah menghasilkan ratusan karya. Asmoro juga menulis banyak buku tentang batik dan tekstil Indonesia, seperti Tenun Nusantara (2009); Sulam & Bordir Nusantara, Dekranas Pusat (2009); Katalogis Hardjono Go Tik Swan, Wastra & Busana Indonesia (2009); Filigri, Yayasan Canisius Yogjakarta (2008); Museum Pekalongan Project Documentation (2006). Paranq Aqiq menjadi anak usaha yang ia dirikan untuk mengembangkan batik dan wastra lokal ke dalam berbagai kerajinan tangan dan fashion.

Asmoro Damais was born to a French man and a Javanese woman on May 20, 1948, in Amsterdam. Her real name is Tatyana Griselidis Asmorodewi. She grew up in an environment steeped in history, art, and culture. Her father is a historian and her mother is a descendant of the Yogyakarta Palace. She herself studied French in Paris before finally returning to Indonesia. The batik collection amassed by her brother became the spark for her to begin exploring the history of batik cloth. Asmoro also showed an interest in kebaya which ultimately led her to explore the diversity of textiles found throughout the archipelago. Since the 1970s, she has begun designing batik motifs and has now produced hundreds of works. Asmoro has also written many books on batik and Indonesian textiles, such as Tenun Nusantara (2009); Sulam & Bordir Nusantara, Dekranas Pusat (2009); Katalogis Hardjono Go Tik Swan, Wastra & Busana Indonesia (2009); Filigri, Canisius Foundation Yogyakarta (2008); Pekalongan Museum Project Documentation (2006). Paranq Aqiq is a subsidiary he founded to develop local batik and textiles into various handicrafts and fashion items.

Tinggalkan komentar