Perkenalkan, nama saya Marvellyn Kimberly, mahasiswa arsitektur Universitas Indonesia. Selama 4,5 bulan, saya berkesempatan menjadi bagian dari RAW Architecture sebagai intern.
Ekspektasi saya sebelum masuk cukup sederhana, dimana internship adalah tempat belajar mengerjakan arsitektur dengan lebih benar, mengisi hal-hal yang belum sempat diajarkan di studio kampus. Yang saya dapatkan ternyata jauh lebih luas dari itu.
Perjalanan saya dimulai dari dalam studio. Saya belajar gambar detailing, mulai dari detail toilet (denah, potongan, finishing lantai dan dinding, sampai rencana ceiling) hingga detail tangga dan railing. Pelan-pelan saya sadar bahwa satu garis di gambar punya konsekuensi, ukuran, material, dan cara pemasangannya di lapangan. Detail-detail kecil itulah yang menentukan kualitas sebuah ruang.
Saya juga belajar mendesain dengan berangkat dari manusia penggunanya, memikirkan aktivitas yang akan terjadi di dalam ruang, lalu menerjemahkannya menjadi proporsi, pencahayaan, dan penghawaan yang nyaman. Dalam prosesnya, ada satu hal yang sering disampaikan Kak Rich dan terus saya ingat, design adalah sesuatu yang abstrak. Karena abstrak, desain membutuhkan parameter yang bisa dikunci, dan itu dimulai dari moodboard. Lewat moodboard, suasana, material, dan referensi yang tadinya hanya ada di kepala berubah menjadi acuan bersama yang bisa didiskusikan dan dikembangkan. Ide yang abstrak pun punya pijakan untuk menjadi desain yang nyata.
Setelah itu, saya berkesempatan lebih sering ke site untuk melihat proses pembangunan secara langsung. Di lapangan, gambar yang tadinya hanya garis di layar berubah menjadi keterbangunan yang nyata. Detail-detail kecil yang biasanya hanya saya gambar lalu bisa saya amati secara langsung, melihat bagaimana material bertemu, dan bagaimana para tukang menerjemahkan gambar kerja menjadi bangunan. Temuan-temuan di lapangan pun kembali menjadi latihan revisi di studio, dari lebar jalur pejalan kaki di area parkir sampai step nosing tangga. Ternyata keputusan kecil di gambar berpengaruh besar saat dibangun, dan semua itu memberi saya ilmu sekaligus pengalaman yang tidak akan saya dapatkan di kelas.
Di RAW, belajar bisa terjadi di mana saja. Dari diskusi di meja kerja, dari pertanyaan kecil yang dijawab panjang lebar oleh para senior, dari kesalahan yang diberi ruang untuk diperbaiki, sampai dari obrolan santai di sela pekerjaan. Kakak-kakak di sini tidak pelit ilmu. Di tengah kesibukan yang padat, mereka tetap menyempatkan diri untuk membimbing dan mengajak berpikir. Dari mereka saya belajar bahwa kemampuan menggambar hanyalah sebagian kecil dari menjadi arsitek. Sisanya adalah cara berpikir, cara berkomunikasi, dan cara menghargai proses.
Di luar pekerjaan arsitektur, saya juga mendapat pengalaman berbeda yang tidak kalah berharga yaitu menjadi volunteer di kelas OMAH. Saya belajar hal yang benar-benar baru, bagaimana mempersiapkan sebuah kelas, mulai dari menyiapkan materi dan kebutuhan acara sampai memastikan semuanya berjalan lancar. Dari sana saya melihat sisi lain RAW, bahwa studio RAW ini juga merawat ilmu dan membagikannya kepada lebih banyak orang. Terima kasih kepada Kak Ufi, Kak Fina, dan Kak Sisca atas kesempatan dan kepercayaannya.
Kalau ditanya pelajaran terbesar dari internship ini, jawaban saya adalah arsitektur dipelajari dari orang-orang yang mau berbagi. Dan di RAW, orang-orang seperti itu ada di mana-mana.
Terima kasih kepada Kak Rich atas ilmu dan kesempatan yang diberikan selama ini.
Terima kasih banyak kepada Kak Tyo, Kak Riyan, Kak Putra, Kak Ikhsan, Kak Vella, Mas Beng, Kak Novi, Kak Chai, Kak Joshi, Kak Revi, dan semua kakak-kakak yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Terima kasih atas bimbingan, kesabaran, dan kehangatannya selama ini.
Terima kasih juga untuk teman-teman magang seperjuangan atas bantuan, canda tawa, dan kebersamaan selama ini. Kalian membuat hari-hari di studio terasa lebih ringan dan menyenangkan.
Senang dan bangga pernah menjadi bagian kecil dari perjalanan RAW. Saya menantikan karya-karya RAW selanjutnya untuk arsitektur Indonesia.
Best Regards,
Marvellyn Kimberly