Halo semuanya!
Perkenalkan saya Yoel Pratama Immanuel, dari Universitas Brawijaya. Selama kurang lebih 6 bulan ini saya mendapatkan kesempatan untuk belajar di RAW Architecture.
Pertama kali mengenal RAW dari percakapan singkat dengan seorang kakak tingkat di kampus. Sejak saat itu rasa penasaran terhadap RAW menjadi tumbuh dengan sendirinya. Penasaran akan cara berpikir, metode desain, serta sistem kerja yang dilakukan. Rasa penasaran tersebut mendorong saya untuk mencari tahu lebih jauh tentang RAW. Hingga pada awal tahun 2026 saya berkesempatan untuk melaksanakan program magang di RAW.
Saat pertama kali bergabung dengan RAW Architecture, saya cukup terkejut dengan dinamika yang ada. Pergerakan yang begitu cepat, proses berpikir yang cukup rumit serta berbagai hal yang belum saya dapatkan di bangku perkuliahan. Saya juga menyadari bahwa masih sangat banyak hal-hal yang belum saya ketahui. Namun, melalui masa adaptasi serta bimbingan dari kakak-kakak saya diajarkan untuk terus berkembang, tidak hanya dalam kemampuan teknis, tetapi juga dalam cara berpikir dan menyikapi setiap proses desain.
Seiring berjalannya waktu, saya mulai memahami bahwa proses desain tidak berhenti pada penyusunan konsep atau penyelesaian gambar kerja. Di balik setiap pekerjaan terdapat proses koordinasi yang intens, baik di dalam tim maupun dengan berbagai pihak yang terlibat dalam pelaksanaan. Melalui ini saya belajar bahwa komunikasi yang baik menjadi kunci agar gagasan yang telah dirancang dapat diterjemahkan dengan tepat di lapangan. Setiap diskusi, evaluasi, dan pertukaran pendapat merupakan bagian dari proses penyempurnaan desain. Pengalaman ini mengubah pandangan saya bahwa arsitektur bukanlah hasil kerja individu, melainkan sebuah proses kolaboratif yang dibangun melalui keterbukaan untuk mendengar, berdialog, dan belajar dari pengalaman orang lain.
Salah satu pelajaran yang paling membekas bagi saya adalah bagaimana RAW memandang para craftsmen sebagai rekan berdiskusi, bukan sekadar pelaksana pekerjaan. Saya melihat secara langsung bagaimana diskusi dilakukan dengan saling menghargai pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki masing-masing. Masukan dari para craftsmen tidak dipandang sebagai hambatan, melainkan sebagai bagian penting dalam menyempurnakan desain agar tetap realistis, efisien, dan dapat diwujudkan dengan baik. Bagi saya, cara pandang ini menunjukkan bahwa arsitektur bukan hanya tentang menghasilkan desain, tetapi juga tentang membangun dialog, mendengarkan, dan mencari solusi bersama. Pengalaman tersebut mengubah cara saya memandang proses pembangunan, bahwa kualitas sebuah karya lahir dari kolaborasi yang setara antara perancang dan mereka yang mewujudkannya di lapangan.
Enam bulan di RAW menjadi pengalaman yang sangat berarti dalam perjalanan saya. Selain memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru, saya juga belajar bahwa menjadi seorang arsitek berarti memiliki kemauan untuk terus belajar, terbuka terhadap kritik, serta mampu bekerja sama dengan berbagai pihak dan latar belakang. Saya menyadari bahwa setiap proyek selalu menghadirkan tantangan yang berbeda, sehingga tidak ada satu jawaban yang benar untuk semua persoalan. Justru melalui proses eksplorasi, diskusi, dan evaluasi yang berulang, sebuah solusi dapat ditemukan dan terus disempurnakan.
Akhir kata, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada keluarga besar RAW yang telah menerima, membimbing, menyadarkan, serta memberikan banyak pelajaran. Terimakasih kepada kak Rich, kakak-kakak desainer & librarian, tim RAW DOT OMAH serta teman-teman internship atas perhatian, kesabaran, kepercayaan, serta ruang belajar yang telah diberikan selama enam bulan terakhir. Setiap pengalaman, diskusi, maupun masukan yang saya terima akan menjadi bekal yang sangat berharga dalam perjalanan saya ke depan. Semoga saya dapat membawa nilai-nilai yang saya pelajari di RAW ke mana pun saya melangkah.