Kategori
blog

Boonserm Premthada

Beberapa bulan ini saya berusaha mencari teman untuk bisa berdiskusi mengenai arsitektur. Arsitektur di dalam pikiran saya adalah sebuah disiplin yang perlu untuk diperjuangkan dan dihayati yang dimulai dari hal yang kecil yang kemudian menjadi besar, merubah orang yang menempatinya termasuk merubah arsiteknya sendiri. satu karya menuju satu karya yang lainnya. Kualitas ditentukan bukan oleh berapa banyaknya kuantitas yang dikerjakan, kualitas diatas kuantitas. Kualitas pun tidak berbanding lurus dengan kepopuleran satu karya tersebut, penilaian satu karya terhadap yang lain muncul dari kekuatan proses pembuatannya. Hal tersebut yang seringkali membuat saya berdecak kagum karena semangat perubahan, semangat kejujuran, semangat untuk tampil dalam semangat eksperimen tanpa takut salah. Arsitek itu adalah manusia yang seharusnya tampil jujur, apa adanya.
.
Melalui Boonserm dan karyanya saya mendapatkan refleksi dari diskusi kita, saya berusaha merefleksikan pembicaraan kita, energi yang besar, keberanian yang besar, yang membuat refleksi terhadap proses untuk terus berbagi ke orang lain untuk menikmati karya yang mampu berbicara dari hati. Semua orang bisa berbicara banyak melalui kata, namun arsitek berbicara melalui karya. Karya yang dalam berbicara melalui dirinya sendiri, kemudian arsitek meletakkan dirinya di dalam sepatu orang lain. Begitu Ia melihat perbedaan violet le duc terhadap john ruskin. Seketika itulah manifestasi antara konteks, teori, metodologi, implementasi menjadi satu kesatuan. Sungguh sebuah titik yang saya apresiasi. Keterbukaan, semangat untuk berbagi, kejujuran dalam berbuat berpikir dan membentuk masa yang sekarang membuat boonserm ada di konteks yang sekarang.
.
Keesokan harinya kami berangkat ke Kantana untuk melihat karyanya. Di dalam karya Kantana ia mengkonstruksi axis yang merupakan jalan masuk dengan bebatuan kerikil, kerikil yang ada tidak basah dan kering. Jalan itu memiliki drainase yang baik. Vista diciptakan dari bentuk bata yang disusun menyerupai candi yang membelah zona – zona yang berbeda. Keesokan harinya, bersama Nantapon, kita menuju karyanya selanjutnya yaitu sebuah pavilion yang memiliki fungsi restaurant, bangunan disini memiliki komposisi tektonika yang meredefiniskan tektonika tangga dan tampak kotak – kotak yang terletak di dalam sebuah kubus yang tersusun di dalam rangka yang dibungkus material triplek. Tangga tersebut menghubungkan mezanine dengan lantai dasar.setelah itu kami berjalan kaki ke bangunan sebelahnya terdapat bangunan yang sedang dibangun konstruksi yang sedang berjalan yang juga didesain oleh Boonserm. Bangunan itu menggunakan konstruksi glasblock yang ditutup sisinya oleh kayu lokal. Antar glassblock di perkuat dengan sambungan besi. Konstruksinya seperti kertas yang dilipat dan duduk di atas konstruksi beton. Setiap massa dipecah yang dihubungkan dengan jembatan, didalam massa tersebut terdapat solid void plat lantai yang menhubungkan secara visual axis dari satu massa menuju massa yang lain, menghadap ke pepohonan dan sungai.
.
Di era sosial media yang begitu cepat, karya arsitektur bukanlah soal jumlah like dan follower tapi adalah soal totalitas menjalani hidup sabatikal yang penuh pengabdian. Seringkali jalannya adalah jalan yang sunyi dan apabila ia menjadi jalan yang ramai biarkan kita membagikan kebaikan untuk orang lain dengan jujur apa adanya. Satu kali ini saya akan berdoa untuk boonserm untuk kebaikan yang dibagikannya ,termasuk untuk saya sendiri yang melewati doa ruang dan waktu. Hidup hanya sementara jalani dengan sungguh- sungguh. Pertemuan kami ditutup dengan sebuah pelukan untuk pesan untuk jangan pernah menyerah.
.
Ekonomi, sosial, lingkungan, manusia membentuk konteks – lahir arsitektur. Pribadi yang sederhana, bertemu orang – orang yang sederhana membuat kembali belajar. Boomserm membuat komposisi kantana dan dua karya lain yang saya kunjungi . Pendekatannya adalah pendekatan yang apa adanya. Arsitektur adalah karya yang memberkati klien, pengguna.
.
Di akhir perjalanan, Nantapon mengundang saya ke Samsen Hotel karya dari Chat Pong. Disitu istri dari Boonserm akan menyajikan dansa Zumba. satu dibalik tarian zumba di satu sisi di depan bangunan hotel, saya melihat ada boonserm, ada nantapon disitu ada murid- murid ada teman2 mereka dan saya melihat ada semangat persaudaraan untuk saling mendukung. Kualitas yang jujur dan jarang ditemui. Boonserm mengajak saya berbicara ke satu sudut ruangan dan ia bercerita mengenai perjalanan hidupnya di dalam arsitektur. Satu diskusi tersebut merubah persepsi saya mengenai sebuah arti di dalam menjadi arsitek. Bahwa kita harus berjarak untuk bisa menilai, kita harus tekun untuk berproses, kita harus terus melayani sekitar kita. Ciptakanlah karya yang tumbuh dari tanah.
.
Photo of Boonserm’s work, I always touched by humbleness and openness, there come honesty and strong body of work.
.