Terkenal

Diri ini merenung mengenai satu kata ” terkenal”, mbak Vivi, Avianti Armand, menulis satu tulisan disini. Kata “terkenal” adalah satu kata yang wajar, kalau seseorang tidak dikenal, maka ia tidak bisa mendapatkan penghidupan, seperti seorang arsitek yang semakin dikenal karena mungkin kapabilitasnya untuk menghasilkan bangunan yang disukai orang yang menunjuknya sebagai arsitek, sama seperti dokter yang semakin dikenal karena mungkin kapabilitasnya untuk mengobati penyakit sehingga banyak orang datang untuk diobati penyakitnya. Di tulisan mbak avianti sepertinya ada kerisauan  dengan fenomena cepatnya informasi,atau popularitas  sesaat dalam arsitektur, memang suatu alasan yang benar adanya dalam proses berarsitektur yang lebih baik. ini cerita lebih detail ,Screen shot 2013-12-08 at 10.12.16 PM

ia menulis lebih lanjut :

“Yang jelas, “sindrom terkenal” itu juga mewabah di sini. Terus terang, saya sedih melihat kecenderungan arsitek-arsitek muda tanah air, mangga-mangga mengkal dan umbi-umbi pejal yang belum siap panen,  buru-buru ingin jadi terkenal, sehingga rela membayar untuk dibuatkan buku tentang biro atau konsultannya. Padahal, kalau menilik karya-karyanya, saya percaya mereka masih harus menempuh perjalanan yang lebih jauh. Akhirnya kita melihat buku itu sebagai alat marketing belaka. Publikasi harusnya punya bobot berita, bukan sekedar alat pencitraan dan propaganda. Sindrom yang sama, saya duga, juga jadi bensin luar biasa yang mendorong arsitek-arsitek kita untuk berpameran ke luar negri. Dengan mengundang diri sendiri, dengan biaya sendiri, dengan tenaga sendiri. Saya sampai heran luar biasa. Saya tanya buat apa? Jawabannya: untuk menunjukkan pada dunia kondisi arsitektur di Indonesia. Saya tanya lagi, buat apa? Untuk membuka hubungan lintas negara dengan arsitek-arsitek manca negara. Saya tanya lagi, buat apa? Ternyata jawabannya berhenti di situ.” [Avianti]

Ada beberapa 3 hal penting menurut diri ini yang perlu direnungi, mungkin penulis merasa banyak buku – buku arsitektur yang tidak sesuai dengan ekspetasi beliau, mungkin juga penulis mengkritisi mengenai pameran tanpa agenda yang di bawah ekspektasi beliau yang dicetuskan beberapa saat yang lalu. Mungkin penulis hanya berharap mengenai muatan yang lebih baik untuk meningkatkan kualitas informasi terhadap karya arsitektur yang ada. Saya pikir tulisan ini akan membuat satu refleksi untuk berbuat yang lebih baik dalam meningkatkan standar kualitas meski ranah itu adalah subjektifitas orang per orang. Dimana Karya arsitektur memiliki perenungan yang panjang, dan proses yang panjang, yakni 1 tahun sampai karya tersebut selesai kemudian mulai ditempati, 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, 20 tahun, syukur apabila karya arsitektur dianggap begitu baiknya sampai dipertahankan di dalam era yang berubah, ia kemudian menjadi penanda jamannya dan kemudian memiliki pembuktiannya. Oleh karena itu, menjadi arsitek yang baik, membutuhkan kesabaran untuk menghadapi dunia.  Saya pikir tulisan ini seakan – akan menantikan keseimbangan yang wajar dimana definisi terkenal didudukkan sewajarnya, berbicara mengenai karya yang terbukti nyaman, terbukti indah, dan publik pun menanti dalam alegori desain yang ada, dalam pembuktian rentang waktu yang tidak sebentar. Oleh karena itu memang diperlukan suatu kesabaran dalam berkarya untuk selalu berbuat yang terbaik hari demi harinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s