Kategori
blog

to re-inventing and start working hard

the office is really busy at the moment, we’ve got numeruous commissions from several clients. They have been supporting the office so far. But in terms of architecture, I was thinking our design should be fresh. it refers to idea. yes, the idea should be fresh. what is fresh, fresh is innovations, dare to change, dare to lose, dare to invest. I was thinking about the the rational of Murcutt’s idea of responding the climate to architecture, one that shouldn’t be missed that is the inspiring space within. I think every people deserved for a great place to do anything in any circumstances. And I think it’s our obligation, to rethink, to inspire people not only by words but also fundamentally by real works.

we are working on two resort at Bali at the moment. If we look at Bali, the place has deep culture laid among the people.  Even though we are now in the present colored by rationalism and modernism which has generic quality, and faceless culture, in Bali we feel the spirit of the place which make we love the place, and the culture preserved.

we just won 1st prize of limited competition office of Bank Indonesia at Mataram. Working with such creative people in the office creates the incredible happens.

Kategori
blog

Pameran Rumah – Rumah Tanpa Pintu

Rumah Tanpa Pintu

“Rumah tanpa pintu adalah sebuah kenyataan.”

>>
pameran Rumah Tanpa pintu -initial definitionKami mencoba melihat realitas yang ada, pencarian sebuah kondisi dan pertanyaan, di manakah klien yang mau untuk dibuatkan rumah tanpa pintu, dan yang memang tidak mempunyai pintu di dalam rumahnya.
Melalui diskusi yang intensif dalam iterasi desain kami menduga bahwa pasti ada rumah yang secara harfiah tidak menggunakan dan mempunyai pintu. Bahwa kemungkinan rumah tanpa pintu tersebut ada di daerah informal karena mereka ada di daerah ruang publik, tanah yang tidak mereka punyai.
Kami melakukan penelusuran ke kawasan informal di daerah Jakarta. Penelusuran mencakup daerah jembatan, daerah pembuangan sampah, dan daerah pinggir rel kereta api. Setelah observasi yang dilakukan dan wewancara. Kami menarik kesimpulan bahwa memang sudah ada rumah tanpa pintu, yaitu rumah yang dekat dengan kemiskinan. Memang ia tidak memiliki pintu tapi ia juga memiliki salah satu syarat untuk tidak memiliki pintu yaitu memiliki aspek kemiskinan.
Menurut Oscar Lewis  “Kemiskinan  didefinisikan sebagai gaya hidup yang bersifat integral, di mana terjadi bentuk-bentuk tertentu dari penyesuaian dan partisipasi terhadap dunia yang ada di sekelilingnya.” (Oscar Lewis). Oleh karena itu kami meyakini bahwa masyarakat miskin adalah masyarakat yang kreatif, dalam keterbatasannya mereka tetap mampu menginterpretasikan lingkungannya. Mereka bisa tinggal di tempat-tempat yang tidak terpikirkan sebelumnya, atau di tempat-tempat berbahaya. Mereka memanfaatkan berbagai hal yang mudah mereka dapatkan untuk membantu kehidupannya. Pola ide bertahan hidup seperti inilah yang menjadikan kemiskinan adalah sebuah kebudayaan, yang banyak berkembang di perkotaan.
Kita ambil contoh kota Jakarta, kota yang menjadi tujuan banyak orang dari desa untuk mengadu nasib. Sebagian besar penyebab kemiskinan di Jakarta adalah urbanisasi. Karena keterbatasan modal dan mahalnya biaya hidup di ibukota, mereka akhirnya menempati rumah, jika-boleh-dikatakan-rumah, temporer di sudut-sudut kota. Tempat huni ini biasa berada dekat dengan air, dekat dengan sumber pencaharian, atau di ruang-ruang sisa.
Melalui berbagai observasi, kami menemukan rumah tanpa pintu. Rumah dimana mereka benar – benar tidak memiliki pintu. Mereka tidak memiliki kuasa untuk mempunyai pintu. Ruang itu terjadi begitu saja. Terbentuk dari barang yang ada. Sebagai potret realitas kota besar Jakarta.
Bahkan eksistensi mereka pun dipertanyakan, Inilah proyek yang akan kami buat, kami menemukan klien. Sebutlah nama mereka Pak Ari dan Bu Sri. Mereka punya dua orang anak, dengan penghasilan dibawah 50000 rupiah satu hari, mereka tidak mendapatkan tunjangan dari pemerintah, dan mereka mencoba bertahan hidup untuk bisa makan setiap hari.
Yang penting bagi mereka adalah rumahnya murah, mudah dibangun, dan hemat energi. Lahan mereka cukup besar karena merupakan lahan bersama dengan kerabat yang lain.  Mereka ingin rumahnya dapat digunakan oleh kegiatan bermain anak-anak kerabat atau tetangganya. Untuk itu tanpa pintu menjadikannya mudah dimasuki dan memberi kesan “mempersilakan”. Bagi mereka, dunia publik dan privat hanya ada pada waktu buang air.
Proposal ini menciptakan kondisi dari  beberapa opsi desain dan kondisi dimana ruang yang sangat efisien, dan hanya 1 tipe studio dengan 1 kamar tidur dengan beberapa akses. Penghuni rumah ini bertindak sebagai penjaga rumah dimana tidak ada ruang tamu. Hanya 1 buah kamar tidur. Tidak ada isu keamanan.
Proses pencarian ini membuat kami untuk melakukan refleksi mengenai kehidupan dan pesan moral terhadap proses hidup kita sebagai manusia.
Credit to the team 
Leader :  Realrich Sjarief
Anastasia Widyaningsih
Andhang Trihamdhani
Bayu Prayudhi
David Sampoerna
Indra Dwi Nugraha
Morian Saspriatnadi
Silvanus Prima
Apriani Kurnia Sarashayu
Endy
Liana Sastro
Silvia Adityavarna
William steviene
Vincent Edson Ho
Photographer  :
Anastasia Widyaningsih (all photos except mentioned belom)
Credit to    :
Immanuel Antonius  (photo slide 7)
Antyo Rentjoko  (photo slide 5)
Adhi Wicaksono  (photo slide 11)
Hino (editing photo and uploading)
Kategori
publication

Lobang Kayu is in Archinesia 3rd Edition : Does Architecture shape the city or vise versa ?

Lobang Kayu is in Archinesia 3rd Edition : Does Architecture shape the city or vise versa ?

Does Architecture Shape the City or Vice Versa ?

When we first set foot on a city, the first objects we are aware of are the buildings standing on it, because architecture is a visual object that most strongly shape the face of any city. Then, inevitably, the question arises in our minds: “Does architecture shape the city, or vice versa?” We asked the question to several urban experts and they all said that a city is not only shaped by its architecture, but also by its government policies, politics, economy, capital, people, transportation, and even by events held inside it. Although—undoubtedly—architecture is often used and exploited in pursuit of the ambition to create a memorable city, so much so that many cities in the world race to invite world renowned architects—or star architects, if you will—to design a number of awe inspiring urban objects or architecture. And oftentimes these constructions are nothing more than display ‘objects’, or will someday become one.

In this volume, ARCHINESIA Bookgazine observes and discusses cities in their relation to architecture. Jakarta is recently criticized by its own governor as a city bereft of identity with ‘faceless’ and generic buildings standing on it, making it identical with thousands of other cities in the world. But is identity truly the most important thing to develop in a city that is often considered grievously ill by its own citizens? We invited seven experts to give an answer about the architecture of Jakarta. Post-war Cambodia is also interesting to peruse. This Southeast Asia country is currently rebuilding its cities in the aftermath of a long fought war. On the other hand, London is changing the face of its eastern parts after the Olympic Games. Melaka, a city recognized as a world heritage city, is struggling to conserve its old architecture. Singapore, on the other hand, invited world renowned architect to design and construct a new iconic building on the Marina Bay Sands area in an attempt to fulfill the ambition to be among the top cities in the world. Almere, a small town in the Netherlands built several eye-catching buildings to grab the attention of not only the world, but also its own citizens.

The minuscule observations of the abovementioned cities are of course insufficient to answer all our questions about cities and architecture. But they will at least try to give you an idea of how the relation between a city and its architecture can affect each other, how architecture may fill a void, or even have its functions questioned and contested, since, in essence, architecture is meant to improve the quality of the people that conducted their activities inside it.

Bibliography

http://archinesia.com/backissue/2

Preview

Kategori
blog

I love her

this is my domain, let me express my feeling…I love HER.

our marriage is on 25th September, hardly can’t wait for the big day…