Kategori
blog

Terlena Dalam Khayalan by Rezki Dikaputra

Curahan pribadi…

Pembicaraan mengenai 1% ini lebih kepada persepsi saya ketika berkunjung di open house karya Realrich Sjarief yang dijuluki “The Guild”.

Tema yang dipakai pada acara tersebut adalah 99% dan 1%, berbicara mengenai pencapaian seorang arsitek terhadap karyanya.

Dalam konteks ini, The Guild diasumsikan merupakan hasil tempa para perancang dan pembangunnya, di bawah naungan visi sang arsiteknya yang “seakan” belum selesai, dianalogikan dengan angka 99% dan dengan serta merta menyerahkan nasib keberhasilannya kepada sesuatu yang tidak terukur, yakni perasaan si klien, penataran para pengunjung, dan juga kemungkinan untuk kembali dikembangkan; 1% yang tersisa merupakan toleransi atau juga bentuk keterbukaan terhadap pandangan persepsi orang yang luar maupun dalam.

1% merupakan kesempatan, begitu saya mendengar mengenai konsep tersebut, saya merasa 1% ini sebuah wadah yang terasa sangat luas untuk saya, sebagai orang di luar untuk dapat mengkritisi sekaligus bertanya secara bebas terhadap sang pembuatnya., yang pertama kali terngiang adalah bahwa saya tidak merasakan apapun mengenai value “1” tersebut. Namun, rasio yang terkesan dramatik tersebut sempat membuat saya bertanya-tanya; 1% yang melambangkan langkah akhir menuju nilai sempurna apakah yang sufficient.

Perihal mengenai rasio ini pun rasanya bersambung hingga puncak acara, banyak audiensi yang merasa perbandingan 99% dan 1% ini merupakan sebuah takaran yang tidak normal, sebuah analogi yang mungkin kurang cocok ketika profesi mereka (mayoritas arsitektur) hanya dituliskan atau diberi nilai sesuai value tersebut. Sebuah perdebatan terjadi, yang beradu hanyalah persepsi, digerakkan oleh perspektif masing-masing individual.

Pembicaraan lambat-laun berubah arah, dari value 1% seperti apa yang dinanti menjadi suatu hal yang sensitif mengenai profesi arsitek.

Friksi yang terjadi dimungkinkan ketika kesempatan 1% itu justru muncul sehingga memancing daya tarik bagi audiens untuk kemudian bertanya-tanya dan memperdebatkan apa sebetulnya yang dinanti, dan mungkin 5-10 tahun lagi kita akan mendengar perdebatan yang berbeda lagi, sebuah notion yang baru dari obyek yang sama.

Saya adalah seorang yang selalu merasa bersemangat ketika mengerjakan sesuatu, terutama pada fase-fase awal. Merencanakan, memimpikan dan mengkhayal tentang hal-hal indah ketika pekerjaan tersebut selesai dengan baik. Ironisnya, seringkali saya tidak berhasil mewujudkan hal-hal indah tersebut sesuai dengan apa yang saya harapkan, saya kadang lupa dengan hasil akhir yang dibayangkan di awal, terlalu seibuk mengulik hal-hal kecil yang mungkin tidak begitu berpengaruh pada gambaran besar

Sulit untuk beranjak fokus pada hal yang lebih penting karena takut “tidak sempurna”, paham yang rasanya semakin saya yakin bahwa itu tidak sepenuhnya benar.

Saya rasa 1% melambangkan sebuah value yang tadi terjadi ketika saya sedang bekerja menuju sebuah target, 1% adalah value yang harus saya berikan pada persepsi di luar “saya” sebagai inisiator. Sebuah kerelaan untuk dapat menyelesaikan pekerjaan dengan tepat waktu namun tetap percaya pada gambaran besar.

Analogi tersebut membuat saya merasa memiliki harapan. 1% bagi saya adalah harapan, realitas yang harus diberikan kepada orang lain, dalam hal ini bisa saja pengguna rumah,dll. Berapa pun angkanya sebetulnya tidak menjadi masalah, tapi notion yang terus berkembang datang dari perspektif yang berbeda-beda ini yang memang sufficient untuk saya, hal ini yang mungkin akan membuat sebuah mimpi tetap hidup.

Menapak, 1% membuat saya lebih bersemangat, membuat saya harus sadar saya harus keluar dari khayalan yang menyenangkan tersebut, bukan untuk membuangnya, melainkan kesadaran akan ada ranah publik yang akan masuk ke dalam mimpi tersebut, akan ada friksi yang akan membuat gambaran besar visi/ karya menjadi relevan, tidak subyektif.

Saya rasa ketika friksi yang dinanti itu terjadi, mimpi tersebut bisa menjadi sempurna layaknya angka 100%, khayalan yang menjadi realita.

Pak Anas Hidayat menganalogikan value 1% seperti ini, “Jika anda sudah menargetkan akan mencoba dicium oleh 100 wanita dan ketika sampai di titik dimana 99 wanita sudah menampar anda, anda belum gagal. Semua ditentukan dengan yang 1 wanita tersisa. Apabila anda berhasil dicium oleh 1 wanita dari 100, anda tetap berhasil”.

Seperti halnya semua orang termasuk Pak Anas Hidayat dan juga Pak Realrich Sjarief sang pembuat rumah tersebut. Jangan pernah menyerah dalam usaha mewujudkan mimpi walau hanya 1% tersisa, well, angka yang tetap terasa penuh harapan untuk saya, yang sedang menuju khayalan indah tersebut.

RZ

Oleh Realrich Sjarief

Founder of RAW Architecture

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s