Kategori
blog

Tat Twam Asi | Dia adalah Aku, dan Aku adalah Dia.

“Arsitek mungkin bisa diibaratkan memberikan cerita awal. Barulah dari cerita awal tersebut masukan2 muncul terkait cerita itu. Tanpa cerita itu mungkin tidak ada dialog dan masukan. Seperti ngobrol di angkringan itu. Arsitek bisa menjadi “pemantik” obrolan. Arsitektur tidak mendominasi tapi justru membuka obrolan. cair sifatnya kalau digital saya bayangkan mirip wikipedia. cair. terbuka. semua boleh ikut …”-Nurudin


“Dalam tradisi lisan, Arsitek melibatkan semua entitas yg [di]hadir[kan]. Arsitek sbg koordinator atas semua entitas yg hadir.
Pdhl masing2 entitas punya tingkat pemahaman yg beda2 satu sama lain dalam menafsir (cerita) arsitektur yg sama. Bagaimana menghadirkan keutuhan & kesatuan arsitektur, shg arsitektur bs diibaratkan sebagai orkestrasi yg terpadu antar masing2 entitas … memainkan improvisasinya masing2.” – Pudji P Wismantara

Kalimat di atas di atas dilontakan dari Pak Pudji P Wismantara mengenai cerita di dalam sesi presentasi mengenai Cerita Nusantara yang dibawakan oleh Anas Hidayat.

Dari diskusi yang terjadi sebenarnya yang dibahas adalah adalah soal dialog di dalam melihat berbagai pandangan, Arsitektur seperti karya sastra, bukan menulis karya ilmiah, menulis hal – hal yang konotatif ataupun denotatif, menulis simbol – simbol yang harus diisi, dan menjadi proses berkarya yang hidup. Hal inilah yang kemarin dibicarakan oleh Johannes Adiyanto soal dialog, ia mengelaborasi ini kedalam bentuk Trialog.

Cerita Pak Eddy Bahtiar tentang prosesnya di dalam The Guild, Guha, dan Mekarwangi

Pak Edy Bahtiar yang saya kenal adalah seseorang yang telah banyak membantu saya sejak pembangunan rumah Istakagrha, Mekarwangi, sampai ke proyek The Guild – Guha. Video ini adalah arsip untuk proses ketukangan yang sedang dijalankan di dalam studio di rentang tahun 2016 – 2017 – 2018 (tengah). Sekarang proses ini masih berjalan.

Data ini sebenarnya bertujuan untuk mendengarkan suara langsung dari dimensi tukang. Ada persepsi – persepsi yang khas dengan persepsi langsung dari Edy. Di dalam proses pembangunan, seluruh hasil memerlukan pertimbangan matang, terukur, dan pertimbangan dari insinyur struktur, MEP, dan saya sendiri untuk sebuah eksperimen arsitektur. Sebagai arsip data – data ini dibutuhkan oleh kawan saya Johannes Adiyanto yang menyusun sebuah konstelasi yang dinamakan Alfa menuju Omega, sebuah Trialogi Praksis.

Ini babak – babak yang ada di dalam video :

00.10 – Sebelum pak Eddy bergabung

07.30 – Cerita membuat 3 bentuk piramida – tumpang sari

12.20 – Tantangan demi tantangan

19.30 – Clue Catenary (membentuk pintu lengkung)

24.30 – Proses hampir selesai – 99 % proses bersama – sama 3

3.50 – Sebuah kemungkinan

Kita kembali ke diskusi Cerita Nusantara, saya ingat, Mas Nurudin pun menyambut dengan pernyataan tentang dialog di diskusi tersebut

“Arsitek mungkin bisa diibaratkan memberikan cerita awal. Barulah dari cerita awal tersebut masukan2 muncul terkait cerita itu. Tanpa cerita itu mungkin tidak ada dialog dan masukan. Seperti ngobrol di angkringan itu. Arsitek bisa menjadi “pemantik” obrolan. Arsitektur tidak mendominasi tapi justru membuka obrolan. cair sifatnya
kalau digital saya bayangkan mirip wikipedia. cair. terbuka. semua boleh ikut edit. Hanya saja mungkin yang perlu dipikirkan bagaimana menjaga akurasi informasi di era digital yang sangat masif arus informasinya (?)” – Nurudin

Kehidupan di dalam proyek cukup kompleks, dengan setiap orang memiliki posisi masing – masing, posisi arsitek, tukang, klien, kritikus, tukang, tetangga, dan begitu banyak posisi – posisi yang lain.

Aku adalah dia dia adalah aku, Prof. Oka Sarasvati membahas ini di dalam dialog di dalam bentuk tattwamasi. Tat twam asi berarti “itu adalah kau”. “Kau” di sini mengacu pada substrat yang tak lepas dari setiap individu. Hal tersebut bukanlah tubuh, pikiran, pancaindra, atau sesuatu yang dapat teramati. Hal tersebut adalah sesuatu yang paling dasar, jauh dari segala sifat keakuan. Dalam pengertian ini, “kau” berarti atman. Entitas yang dimaksud dengan kata “itu”, menurut Weda, adalah Brahman, realitas yang melampaui segala sesuatu yang terbatas. Intinya Tat twam asi adalah dia adalah aku, dan aku adalah dia.

Titik utamanya adalah adalah bagaimana membangun dialog yang saling merajut, seperti air yang mengalir.

Kemudian saya terkejut, ketika merasakan air mandi di satu hari di Mekarwangi-Piyandeling.

“dinginnnn”

Oleh Realrich Sjarief

Founder of RAW Architecture

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s