Tulisan-tulisan berikut disusun berdasarkan riset mendalam dengan keyakinan bahwa di balik karya arsitektur terdapat proses kreativitas yang panjang, melampaui umur arsitektur itu sendiri. Energi dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya terus bergerak, melebihi kapasitas personal sang arsitek. Apa saja kebaikan dari nilai-nilai ini?
Hipotesis pertama menyatakan bahwa arsitek sebenarnya berada di tengah-tengah berbagai aktor yang menentukan lingkungan, dan daya kritisnya menjadi kunci untuk melihat potensi dalam keterbatasan Biaya, Mutu, dan Waktu. Hipotesis kedua adalah bagaimana kekayaan budaya, sejarah, teori, dan kritik di dalam lingkungan, termasuk konteks ekonomi dan geo-politik dari suatu tempat yang saling berkelindan pada setiap titik penting waktu, menghasilkan metode desain yang komprehensif.
Penelusuran yang berjalan juga dimaknai dari sudut pandang kemanusiaan, berkaitan dengan psikologi, pengembangan diri untuk menghadapi tantangan dunia, dan perjalanan menemukan tujuan hidup. Karenanya, refleksi tentang sikap, kultur, dan cara bekerja, serta kerangka berpikir yang dijalani sehari-hari di studio juga menjadi sorotan dalam tulisan-tulisan ini.
Dengan ini, harapannya pembahasan arsitektur tidak hanya dibahas dari sisi kreativitas atau ranah personal arsiteknya saja. Namun, juga mengeksplirasi manusia sebagai makhluk sosial, dengan energi yang bertaut-tautan dan disusun secara elaboratif. Proses penulisannya pun dijalin dari kolaborasi banyak orang dan banyaknya perspektif, sehingga menghasilkan narasi yang menunjukkan transformasi cara berpikir. Semoga ini bisa menjadi tulisan sastra yang panjang, sebuah epos cinta untuk arsitektur.
Eko Prawoto dan Desa, Metode Arsitektur Masa Depan untuk Indonesia
(English translation is available below) Sepuluh tahun terakhir sebelum wafat, arsitek Eko Prawoto memutuskan untuk menepi ke desa. Keseharian kota yang tak pernah luput dari pembangunan dan lahan subur proyek arsitektur itu ia tinggalkan. Beliau membangun rumah baru di desa, menciptakan “proyeknya sendiri” bersama tukang-tukang yang tidak selalu ada karena disambi bertani. Kami keheranan, kok…
Romo Mangun, Jejak-Jejak Arsitektur yang Memanusiakan
(English translation is available below) Selama proses penulisan artikel ini, seorang desainer di studio kami bertanya, “Kenapa sih Kak Rich menulis tentang Romo Mangun? Kenapa kami yang muda ini perlu untuk mengenal beliau?” Well, mempelajari sosok Romo Mangun bukanlah sekadar tanggung jawab sejarah. Dalam refleksi praktik penulis di Jakarta, di tengah hingar-bingarnya arsitektur yang provokatif…
Sikap Tangguh, Fleksibel, dan Efisien dalam Dunia Arsitektur Menuju 2030
Sikap Tangguh, Fleksibel, dan Efisien dalam dunia arsitektur menuju 2030. Arsitektur dipahami sebagai profesi yang sedemikian tertutup, bebas nilai, padahal desain bisa jadi sangat efisien, strategis dan kolaboratif. Sebagai refleksi terhadap beberapa kejadian di sekitar studio kami, dimana banyak kesalahpahaman terjadi karena ketidaktahuan. Tulisan oleh Realrich Sjarief dan Arlyn Keizia. Mulai dari klien, kontraktor, vendor,…
Carl Jung, Bollingen Tower, dan Refleksi Studio Kami
Bentuk massa yang organik, bertumpuk – tumpuk, dan bertahap – tahap dibangun, membuat kami mencari konsepsi Jung dalam membangun kediamannya, dibahas oleh Newport, bahwa inilah mesin eudomonia, sebuah konsep yang dibahas oleh David Dewane, bahwa ada kombinasi program, untuk bagaimana berinteraksi secara sosial sembari tempat melakukan refleksi mendalam, yang disebut Newport, Deep Work. Tulisan ini…
Work Hard, Work Smart, Work Heart
Refleksi singkat soal membangun sikap pantang menyerah dalam studio arsitektur. Tulisan oleh Realrich Sjarief dan Arlyn Keizia. Sudah hal yang biasa jika perbincangan tentang kerja di studio arsitektur sering dikaitkan dengan kultur kerja hingga larut malam. Kultur ini juga tercermin dalam karakter Moko di film 1 Kakak 7 Ponakan, dimana apa yang dialami oleh Moko…
Hemingway, Apurva and Metode Iceberg
Kemampuan literasi (membaca, menulis, dan berpikir kritis) sastra di dalam arsitektur seringkali dihubungkan dengan kemampuan mengatasi tantangan hidup. Mulai dari memahami situasi dalam pemecahan masalah, menganalisis kegagalan, hingga bangkit dari kegagalan tersebut. sebuah tulisan dari Realrich Sjarief + Jocelyn Emilia. Ernest Hemingway menulis “Kehidupan menghancurkan kita semua, tetapi beberapa di antara kita menjadi lebih kuat…
Mengejar Ekor Waktu, Proses De-Tailing
Tulisan kali ini adalah tentang bagaimana seorang arsitek bisa melihat metode melalui tahapan waktu dan observasi di lapangan secara menerus. Dalam refleksi singkat kami, seringkali saat menjalani proyek arsitektur, studio kami melakukan proses detailing yang membuat arsitektur bicara dengan skala yang kecil. Proses detailing ini memakan waktu yang tidak sebentar, dan merupakan cerminan jam terbang…
Jam Terbang Arsitek dalam Ekosistem yang Terbatas
Melihat arsitek-arsitek dengan jam terbang tinggi, kita bisa belajar sebenarnya hal-hal yang substansial justru ada di luar studio sang arsitek atau metode desainnya. Hal yang substansial tersebut terkait klien, komunikasi, dan bagaimana memposisikan diri. Refleksi ini membuahkan tulisan-tulisan, termasuk tulisan ini yang ditulis oleh kami, Realrich Sjarief + Hanifah Sausan. Dengan bingkai praktik Frank Gehry,…
Membangun Diskusi yang Substansial
Akhir-akhir ini, studio kami fokus pada hal-hal yang substansial dan penting. Hal ini bermula dari pengalaman menghadapi kritik, sanggahan, atau ajakan untuk berdiskusi dalam presentasi atau workshop yang kadang membuat kita merasa tidak percaya diri. Tidak jarang juga kata-kata yang dilontarkan mencerminkan frustrasi, kekesalan, dan keterbatasan dari pembicara, yang bisa menyebabkan perdebatan menjadi berputar-putar dan…
Overbudget, Kritis, dan Tumbuh
Ini adalah cerita soal satu dari 3 strategi desain yang mempertanyakan fenomena over-budget, Kritis, dan tumbuh dari diskusi sekitar kami, yang dikembangkan di Guha oleh Realrich Sjarief + Hanifah Sausan Refleksi singkat dari beberapa cerita di sekitar kami: sebuah karya arsitektur milik kawan kami yang bisa sampai over-budget berkali-kali lipat misalnya, merupakan hal yang jadi…
“Brothering” Geoffrey and Bevis Bawa, Perjalanan Dukung Mendukung dalam Bersaudara.
Di dalam praktek arsitektur, bagaimana memperlakukan klien dengan baik menentukan masa depan praktek arsitektur arsitek. Perlakuan seperti saudara, memperjuangkan klien seperti saudara, adalah komitmen yang membuat seseorang sukses. Berbahagialah apabila memiliki saudara / kawan yang selalu mendukung sepenuh hati, untuk meletakkan kepercayaannya ke tangan kita. Brothering, hal yang jarang dibahas di dalam literatur arsitektur, justru…